Am I Kim Ji Young? | CREAMENO

Pages

Am I Kim Ji Young?


Beberapa bulan lalu, film Kim Ji Young ramai diberitakan di mana-mana. Di Korea pun tembus jutaan penonton walaupun mostly penontonnya kaum perempuan ๐Ÿ˜‚ dan karena itu juga, banyak teman yang bertanya sama gue, "Oy, nasib lo kayak Kim Ji Young juga nggak?" HAHAHA. Mungkin teman gue mengira siapapun yang punya in-law orang Korea nasibnya seperti Kim Ji Young juga, padahal nggak semua orang bernasib demikian genks, salah satunya gue ๐Ÿ˜†

By the way, gue kemarin menonton film ini di Korea sama soulmate gue. Aslinya doi nggak mau dan doi juga bilang kalau hampir semua laki Korea (termasuk doi) nggak suka film ini (nggak heran dapat rating rendah dari mereka)~ doi bilang, "Itu film mendiskreditkan kaum gue. Nggak semua anak laki di Korea di-anakemaskan sama bapak ibunya. Dan nggak semua laki di Korea memandang rendah perempuan, apalagi sampai menonton atau pasang hidden camera." 
A few months ago, Kim Ji Young movie was widely reported around the world. In Korea too, millions of viewers watched it even though most of the audience are women ๐Ÿ˜‚ and because of that, many of friends ask me, "Oy, is your fate similiar with Kim Ji Young or not?" HAHAHAHAHAHA. Maybe my friends thinking that anyone who has Korean in-law has the same fate with Kim Ji Young, even though not everyone (probably) has the same fate (for real!) ๐Ÿ˜†

By the way, I also watched the movie in Korea with my soulmate. He originally did not want to watch it and he also told me that almost all Korean men (including him) do not like the movie (no wonder the movie got really low ratings from them). He said, "That film discredits my gender. Not all men in Korea got such a privilege from their mom and dad. And not all men in Korea look down on women, especially to the point where they are watching or installing a hidden camera." 
๋ช‡ ๋‹ฌ ์ „, ๊น€์ง€์˜ ์˜ํ™”๊ฐ€ ์ „ ์„ธ๊ณ„์—์„œ ๊ฐœ๋ด‰ํ–ˆ์–ด์š”. ํ•œ๊ตญ์—์„œ๋„ ๋Œ€๋ถ€๋ถ„์ด ์—ฌ์„ฑ๊ด€์ค‘์ด์—ˆ์ง€๋งŒ ์ˆ˜๋ฐฑ๋งŒ๋ช…์ด ์‹œ์ฒญํ–ˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜‚ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ทธ๊ฒƒ๋•Œ๋ฌธ์— ์ œ์นœ๊ตฌ๊ฐ€ "์˜ค, ๋‹ˆ ์šด๋ช…๋„ ๊น€์ง€์˜๊ณผ ๋น„์Šทํ•œ๊ฒƒ ์•„๋‹ˆ์•ผ??" HAHAHAHAHAHA. ์•„๋งˆ ์ œ ์นœ๊ตฌ๋“ค์€ ํ•œ๊ตญ ์‹œ์–ด๋จธ๋‹ˆ๋ฅผ ๊ฐ€์ง„ ๋ชจ๋‘๊ฐ€ ๊ฐ™์€ ์šด๋ช…์ด๋ผ๊ณ  ์ƒ๊ฐํ–ˆ๋‚˜๋ด์š”. ๐Ÿ˜†

์ € ๋˜ํ•œ ํ•œ๊ตญ์—์„œ ์ œ ์†Œ์šธ๋ฉ”์ดํŠธ์™€ ์˜ํ™”๋ฅผ ๋ดค๋Š”๋ฐ์š”. ๊ทธ๋Š” ์ฒ˜์Œ์—๋Š” ๋ณด๊ณ ์‹ถ์ง€ ์•Š๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ๊ณ  ๊ฑฐ์˜ ๋ชจ๋“  ํ•œ๊ตญ๋‚จ์ž(๊ทธ ํฌํ•จ)๋Š” ์˜ํ™”์—์„œ ๋‚˜์˜ค๋Š”๊ฑฐ์™€ ๊ฐ™์ง€ ์•Š๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”(์˜ํ™” ํ‰์ ์ด ๋‚ฎ์€๊ฑด ๋†€๋ž„์ผ์ด ์•„๋‹ˆ์ฃ ). ๊ทธ๋Š” "์˜ํ™”๋Š” ๋‚ด ์„ฑ๋ณ„์„ ๋น„ํ•˜ํ•˜๊ณ ์žˆ๋‹ค. ํ•œ๊ตญ์˜ ๋ชจ๋“  ๋‚จ์ž๋“ค์ด ๊ทธ๋Ÿฐ ํŠน๊ถŒ์„ ๊ฐ€์ง€๋Š”๊ฑด ์•„๋‹ˆ๋‹ค ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ชจ๋“  ํ•œ๊ตญ๋‚จ์ž๊ฐ€ ์—ฌ์ž๋ฅผ ๊น”๋ณด๊ณ  ํŠนํžˆ ๋ชฐ๋ž˜์นด๋ฉ”๋ผ๋ฅผ ์„ค์น˜ํ•˜์ง€๋„ ์•Š๋Š”๋‹ค" ๋ผ๊ณ  ๋งํ–ˆ์–ด์š”


Film ini mentitik beratkan stresnya hidup Kim Ji Young selepas punya anak dan nggak lagi bekerja. Ditambah mertuanya yang membuat emosi jiwa sehingga membuat Kim Ji Young seperti kehilangan jati dirinya ๐Ÿ˜ tapi tetap saja, banyak laki-laki Korea yang nggak suka sama film ini, mungkin karena ada cerita-cerita tambahan seperti hidden camera yang menjatuhkan nama baik mereka ๐Ÿ˜Š ditambah fakta bahwa sebenarnya nggak banyak hidden camera di toilet Korea, plus nggak semua laki-laki interest sama hidden camera, jadi mereka tersinggung karena serasa di-judge oleh jalan cerita filmnya ๐Ÿ˜†

Read: Sorry Not Sorry

Budaya Korea memang sedikit banyak masih berpaku pada patriarki, dari mulai anak laki-laki yang paling utama daripada perempuan, sampai senioritas dan usia yang dianggap sebagai patokan. Tapi gue rasa, semakin ke sini, budaya Korea sudah semakin fleksibel meski untuk beberapa bagian tetap dipertahankan ๐Ÿ˜„

In the end, kita cukup ambil sisi positif dari apa yang kita lihat dan buang sisi negatifnya. Karena yang namanya film walau diangkat dari kisah nyata tetap harus kita saring informasinya. Dan menurut gue, masih banyak kok laki-laki baik di Korea dan satu yang terpenting, nggak semua in-laws semenyeramkan yang dibayangkan. Semua kembali lagi pada karakter dan sifat masing-masing personal ๐Ÿ˜„
Furthermore, the movie mostly talked about Kim Ji Young's stressful life after having a baby and because she no longer working. Plus her in-laws always make her emotions goes ups and downs so she feels like she lost herself ๐Ÿ˜ but I guess, many Korean men still don't like the movie maybe because there are additional stories like hidden cameras that bring down their gender ๐Ÿ˜Š well, the fact is.. there are not many hidden cameras in toilets, and not all Korean men having interest with hidden cameras. So, they feel offended and worry people judge them based on the movie alone ~

Read: Sorry Not Sorry

Korean culture was more or less still based on patriarchy, starting from son which in most case is more important than daughter, to seniority and age are considered as a benchmark. But I feel like Korea in general became more flexible. Albeit some of their cultures are still maintained, but I believe they are more open minded than before ๐Ÿ˜„

In the end, we just need to take the positive side of what we see and get rid of the negative one. Because, even though movie can be based on a true story, we still have to filter the information. And in my opinion, there are still many good men in Korea and the most important thing, not all in-laws are as scary as imagined. Because all returned to the character and nature of each personal ๐Ÿ˜„
๋˜ํ•œ ์˜ํ™”๋Š” ์ „๋ฐ˜์ ์œผ๋กœ ๊น€์ง€์˜์˜ ์œก์•„ ์ดํ›„ ๋” ์ด์ƒ ์ผ์„ ํ•˜์ง€ ๋ชปํ•˜๊ณ  ์ŠคํŠธ๋ ˆ์Šค ๋ฐ›๋Š” ์‚ถ์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์ด์•ผ๊ธฐํ•˜๊ณ  ์žˆ์–ด์š”. ๊ฑฐ๊ธฐ์— ์‹œ์–ด๋จธ๋‹ˆ๋Š” ํ•ญ์ƒ ๊ฐ์ •์„ ์˜ค๋ฝ๊ฐ€๋ฝํ•˜๊ฒŒ ๋งŒ๋“ค์–ด์„œ ๊ทธ๋…€๋Š” ๋Œ์•„๋ฒ„๋ฆด ๊ฒƒ์ฒ˜๋Ÿผ ๋Š๊ปด์š” ๐Ÿ˜ ํ•˜์ง€๋งŒ ์ œ ์ถ”์ธก์œผ๋กœ ๋งŽ์€ ํ•œ๊ตญ ๋‚จ์ž๋“ค์€ ๋ชฐ๋ž˜์นด๋ฉ”๋ผ ๊ฐ™์€ ๋ถ€๊ฐ€์ ์ธ ์ด์•ผ๊ธฐ๊ฐ€ ์žˆ๊ธฐ๋•Œ๋ฌธ์— ์ข‹์•„ํ•˜์ง€ ์•Š๋Š”๊ฒƒ ๊ฐ™์•„์š” ๐Ÿ˜Š ์Œ, ํŒฉํŠธ๋Š”.. ํ™”์žฅ์‹ค์— ๋ชฐ๋ž˜์นด๋ฉ”๋ผ๊ฐ€ ๋งŽ์€๊ฑด ์•„๋‹ˆ์—์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ชจ๋“  ํ•œ๊ตญ๋‚จ์ž๊ฐ€ ๋ชฐ๋ž˜์นด๋ฉ”๋ผ์— ๊ด€์‹ฌ์ด ์žˆ๋Š”๊ฒƒ๋„ ์•„๋‹ˆ์—์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ๊ทธ๋“ค์€ ๊ธฐ๋ถ„์ด ์ƒํ–ˆ๊ณ  ์˜ํ™”๋งŒ์œผ๋กœ ์‚ฌ๋žŒ์„ ํŒ๋‹จํ• ๊นŒ ๊ฑฑ์ •ํ•ด์š”~

Read: Sorry Not Sorry

ํ•œ๊ตญ ๋ฌธํ™”๋Š” ๊ฐ€๋ถ€์žฅ์ œ๋ฅผ ๊ธฐ๋ฐ˜์œผ๋กœ ํ–ˆ์—ˆ์–ด์š”. ๋Œ€๋ถ€๋ถ„ ๋”ธ๋ณด๋‹ค ์ค‘์š”ํ•œ ์•„๋“ค๋“ค์„ ์–ด๋ฅธ๋“ค์ด ์ผ€์–ดํ–ˆ์—ˆ์ฃ . ํ•˜์ง€๋งŒ ์ง€๊ธˆ์€ ์ „๋ฐ˜์ ์œผ๋กœ ์œ ์—ฐํ•ด์กŒ๋‹ค๊ณ  ์ƒ๊ฐํ•ด์š”. ์ผ๋ถ€๋Š” ์—ฌ์ „ํžˆ ์œ ์ง€๋˜๊ณ  ์žˆ์ง€๋งŒ ๋” ๋‚˜์•„์งˆ ๊ฑฐ๋ผ๊ณ  ๋ฏฟ์–ด์š” ๐Ÿ˜„

๊ฒฐ๋ก ์€, ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ๋ณด๊ณ ์žˆ๋Š” ๊ฒƒ์˜ ๊ธ์ •์ ์ธ ๋ถ€๋ถ„์„ ์ทจํ•˜๊ณ  ๋ถ€์ •์ ์ธ ๋ถ€๋ถ„์„ ์ œ๊ฑฐํ•˜๋ฉด ๋˜์š”. ์˜ํ™”๊ฐ€ ์‹คํ™”๋ฅผ ๊ธฐ๋ฐ˜์œผ๋กœ ํ•  ์ˆ˜๋Š” ์žˆ์ง€๋งŒ ์ •๋ณด๋ฅผ ํ•„ํ„ฐ๋ง ํ•ด์•ผํ•˜๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ œ ์˜๊ฒฌ์€ ํ•œ๊ตญ์— ์ข‹์€ ๋‚จ์ž๋“ค๋„ ๋งŽ์ด ์žˆ๊ณ  ๋ชจ๋“  ์‹œ์–ด๋จธ๋‹ˆ๊ฐ€ ์ƒ๊ฐ๋งŒํผ ๋ฌด์„œ์šด๊ฑด ์•„๋‹ˆ๋ผ๋Š” ์ ์ด์—์š”. ๋ชจ๋“  ๊ฐœ๊ฐœ์ธ์€ ๊ฐ์ž์˜ ์„ฑ๊ฒฉ์ด ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š” ๐Ÿ˜„

12 comments:

  1. Hahaha
    GIRL POWER yaaaakk
    Aku belum nonton ini, tapi beberapa teman mereview namun reviewnya ga mengenai sudut pandang budaya orang Korea terhadap anak lelaki.
    You know, Mbak kenapa aku suka Drakor genre famili? kaerna genre Family ini bikin aku tahu bagaimana budaya orang sana, terutama mengenai mennatu perempuan (walaupun seperti mbak bilang, ada pergeseran budaya-lah) which is ini aku bisa dapetin di Drakor Unasked Family. Good daughter in law met good mother in law. Keknya ini bikin beda dari drakor lain gitu, hahaha.

    Awalnya hal-hal beginian suamiku ini. Dulu 2013 apa di KBS ada Wang Familiy, dari situ dia ngebahas sudut pandang budaya bukan ceirta. Kok kayanya menarik gitu.

    At least, kita tahu bahwa ga semua mertua itu jahat ke menantu kasarannya kalau orang Indonesia. Budaya Patriarki kan juga dianut orang kita, Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, budaya patriarki masih banyak digunakan oleh negara-negara timur termasuk negara kita meski konteksnya berbeda-beda :D Sebenarnya nggak di Korea, nggak di Indonesia, sama sih, ada saja cerita mengenai menantu perempuan dan ibu mertuanya hehehehe.

      Filmnya sendiri sebenarnya mengangkat issue-issue general yang banyak terjadi di mana-mana, soal peranan perempuan di tengah masyarakat dan keluarga. Dan kesulitan kaum perempuan untuk survive di antara semua hal yang ada di depan mata. Tapi ya begitu, karena kaum laki-laki merasa film ini terkesan memojokkan kaum mereka jadi mereka nggak terima :D

      Jadilah saya tulis dari sudut pandang laki-lakinya :3

      Delete
    2. Sesuatu yang biasa terjadi.
      Habis ini bikin film tandingan yang mojokin kaum perempuan, hahaha.
      Dan aku termasuk netizen nyinyir yang nyinyirin netizen nyinyir hahahah

      Delete
    3. Pernah baca memang, di salah satu kolom komentar, kalau kaum laki-lakinya mau buat film tandingan. Judulnya Kim Ji Hoon 1990 HAHAHAHA :d

      Kim Ji Young dijadikan judul karena tahun 1982, banyak anak perempuan lahir diberi nama Kim Ji Young. Dan pada tahun 1990, anak laki-laki paling banyak diberi nama Kim Ji Hoon :D unik ya hihihi~

      Delete
  2. Saya belum nonton filmnya. Kayaknya pernah baca reviewnya di blognya Mba Rey deh.

    Budaya patriarki ada di mana-mana termasuk Indonesia. Tapi anak zaman now udah berubah juga cara pandangnya.

    Oia, soal maternity leave, iya ya kenapa cowok cenderung ga bisa ambil banyak cuti ya. Di Jepang saya baru baca berita soal ini. Menteri ambil cuti setelah istrinya melahirkan. Konon ini jadi rame, ada yang pro dan kontra. Maklum, orang Jepang gila kerja jadi mereka banyak yang cuek ama cuti. Padahal itu hak mereka juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, banyak pergeseran budaya di generasi yang sekarang hehehe. Mungkin karena pengaruh digital juga, sehingga informasi lebih mudah menyebar ke penjuru dunia sehingga membuat generasi sekarang mudah bergonta-ganti sudut pandang :D

      Kalau di Korea sebenarnya ada maternity leave juga mba, tapi nggak semua mau ambil meski diijinkan. Karena takut ketika kembali, posisinya sudah diambil oleh rekan kerja lainnya hehehe. Korean sendiri memang in general hardworking semua, dan kompetisi buat mereka itu yang utama. Mereka takut ketinggalan atau pahit-pahitnya yaaa di-depak perusahaan, dan jadi omongan rekan kerja :<

      Delete
  3. Saya suka reviewnya nih, saya heran, mengapa semua pada bahas patriarki saja sih?
    Padahal ya sebenarnya masalah utamanya mah depresinya si Kim Ji-Young, dan itu bukan semata karena dia merasa ditindas oleh patriarki tersebut.

    Banyak faktor yang bikin dia depresi gitu.
    Mungkin karena memang sejak awal yang di booming kan masalah patriarki, jadinya ya semua pada fokus ke patriarki.

    Padahal ya kehidupan Ji-Young itu sama sekali depresi bukan patriarki langsung, jadi sikon yang tidak memungkinkan dia kerja.

    Suaminya malah baik dan teramat manis bikin baper *eh hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, konflik utama yang dirasakan Kim Ji Young itu adalah depresi setelah punya anak, nggak kerja jadi merasa mungkin hilang jati dirinya, ditambah percikan-percikan kecil dari keluarga mertua, alhasil jadi~lah Kim Ji Young seperti yang diceritakan. While cerita patriarkinya justru lebih ke bumbu cerita, meski itu salah satu alasan yang membuat Kim Ji Young stres juga (akibat ayah dan neneknya lebih mementingkan adik laki-lakinya) :3

      Tapi memang dari spoiler dan review bukunya mostly yang dibahas sisi gelap patriarki di Korea, padahal itu bukan yang utama. That's why membuat kaum laki-lakinya nggak suka, karena jadi salah arah dan jatuhnya memojokkan kaum mereka :>

      Kalau dilihat-lihat justru tokoh cowoknya di film kan yang baik, manis dan pengertian hehehe. Begitulah mba, kadang ada saja yang salfok. Tapi sukses membuat penonton penasaran :P

      Delete
  4. Aku tau film ini, tp blm pernah nonton. Cm sempet baca review yg prnh ditulis mba Rey waktu itu :D. Blm bisa komen dari sisi cerita filmnya sih.

    Tapi aku ga nyangka, laki2 di sana sampe segitunya bisa kompakan memandang 1 film dan menganggap itu diskriminatif terhadap kaum mereka ya :D. Kalo aku kayaknya ga prnh sampe segitunya menilai suatu film. Buatku film ya film. Utk hiburan ditonton. Tapi kalo ada sesuatu yg agak menyimpang, ya sudah, ga bakal bikin aku tersinggung juga :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka kompak banget mba, hahahaha :D

      Saya juga kaget, karena sampai sebegitunya membenci film padahal yang namanya film pasti ada~lah penambahan bumbu-bumbu cerita biar sedap. Tapi alasan mendasar dari sisi mereka adalah karena film Korea kan sekarang banyak yang tersebar luas ke mancanegara, mereka kawatir itu akan mempengaruhi sudut pandang orang terhadap laki-laki di Korea :D

      Mungkin kita akan bereaksi yang sama kalau ada film Indonesia, terkenal di dunia, dan diputar di banyak bioskop mancanegara, tapi ceritanya justru bukan hal yang menurut kita bagus untuk image kita. Jadi meski agak disayangkan kenapa mereka sampai sebegitunya, tapi saya bisa paham latar belakang pemikiran mereka :>

      Delete
  5. hahaha menarik ini, baru kali ini baca mengenai sudut pandang laki2 Korea ya. kasian juga yak wkkw


    kalau aku suka banget film ini karena ada Gong Yoo!! hahaha gak ding, karena film ini sebenarnya temanya universal, bisa menimpa ke kita semua, di belahan bumi manapun. Penuturannya juga gak berasa lebai ya, macam film Indonesia, upss jujur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kasian tapi yaa mau bagaimana lagi, masalah perbedaan gender akan selalu ada memang di manapun negaranya :/

      Iya, yang saya suka juga dari film ini karena issue yang diangkat adalah issue general jadi siapapun bisa merasakannya kalau memang pernah ada di-situasi dan kondisi yang sama. Hehehe. Semoga Indonesia sendiri dapat memproduksi banyak film yang nggak kalah bagus ke depannya :D

      Delete