Wedding Envelopes | CREAMENO

Pages

Wedding Envelopes


Belakangan ini, sedang banyak teman Korea yang menikah. Means, harus ada budget untuk kasih amplop uang ke mereka. Masalahnya, mereka menikah dalam waktu berdekatan, alhasil kantong jebol pun nggak bisa ditolak ๐Ÿ˜‚ *Gue sepertinya harus kerja lebih giat!* ๐Ÿ˜

Dan angkanya pun ada minimal berdasarkan level pertemanan kita ~ kalau hanya teman biasa, minimal kasih 70.000 KRW (800.000 IDR), nah kalau temannya agak lebih dekat, semisal teman kampus, teman kantor, itu minimal kasih 100.000 KRW (1.150.000 IDR) sedangkan untuk sahabat baik minimal kasih 150.000 KRW (1.750.000 IDR) ๐Ÿ˜†✌

Read: Minimize Miscommunication

Kebayang kan kalau dalam satu bulan ada 5 orang teman menikah berbarengan? ๐Ÿ˜‚ makanya, ada beberapa orang yang sampai nggak datang kalau lagi nggak punya uang, meski biasanya yang menikah bisa mengerti semisal teman yang ini belum kerja, yang itu masih kuliah, dan mereka nggak akan menuntut apa-apa. Tapi sepertinya sudah jadi kebiasaan di Korea untuk memberi amplop berdasarkan level-an di atas. Kalau nggak ada uang better nggak datang dan kasih ucapan by messenger saja, daripada merepotkan mereka ๐Ÿ˜„

Ohya, uang amplop yang kita berikan itu dicatat namanya. Dan nanti akan ditukar dengan voucher buffet. Nggak seperti di Indonesia yang kasih amplop satu orang tapi yang datang dan makan bisa jadi empat orang, di Korea itu semisal kita datang bersama pasangan (berdua) harus kasih amplopnya dua (as a manner) ๐Ÿ˜† unik yaaaaa? Psst, bulan depan ada 2 orang teman lagi yang menikah, dan gue harus siapkan amplop dari sekarang. Semoga bahagia ๐Ÿ˜
Lately, many Korean friends are getting married. Means, there must be a budget to give them envelopes with money inside. The problem is, all of them getting married in a close shcedule, as a result my pocket became empty right away ๐Ÿ˜‚ *I need to work hard!* ๐Ÿ˜

And fyi, the money that we put inside the envelopes also has a minimum amount based on our level of friendship ~ if they are just our ordinary friend, at least we give them 70,000 KRW (60 USD), and, if they are a bit closer with us, such as college friends, office friends, then we should give them 100,000 KRW (85 USD), while for our bestfriends, it could be 150,000 KRW (130 USD) ๐Ÿ˜†✌

Read: Minimize Miscommunication

Can you imagine if in one month there are 5 friends getting married? ๐Ÿ˜‚ so, there are some people who chose to not come because sometimes they don't have money, although usually those who get married can understand and won't demand anything, if friend cannot giving money because not working, or still students. But as it has become customary in Korea to provide envelopes with money based on the level, so if we don't have money, better not come and just give a blessing by messanger, rather than bothering them ๐Ÿ˜„

Oh yeah, we should write our name on the envelope. And later, it will be exchanged to buffet vouchers. Unlike in Indonesia, where we can give only one envelope but come with four people, in Korea when we come as a couple we have to give them two envelopes (as a manner) ๐Ÿ˜† so unique, huh? Pssst, next month there are 2 friends will getting married, so I have to prepare an envelope from now on.

I wish them happy ๐Ÿ˜
์ตœ๊ทผ, ๋งŽ์€ ํ•œ๊ตญ์นœ๊ตฌ๋“ค์ด ๊ฒฐํ˜ผ์„ ํ•˜๊ณ  ์žˆ์–ด์š”. ๊ทธ๊ฑด ์ถ•์˜๊ธˆ ์˜ˆ์‚ฐ์ด ์žกํžŒ๋‹ค๋Š” ์˜๋ฏธ๊ฐ€ ๋˜์š”. ๋ฌธ์ œ๋Š” ๊ฒฐํ˜ผ์ผ์ •์ด ๊ฐ€๊น๊ฒŒ ์žˆ๋‹ค๋Š”๊ฑฐ์—์š”. ๊ฒฐ๊ณผ์ ์œผ๋กœ ์ฃผ๋จธ๋‹ˆ๊ฐ€ ํ……ํ…… ๋น„๊ฒŒ๋ฌ์–ด์š” ๐Ÿ˜‚ *์ผ ์—ด์‹ฌํžˆ ํ•ด์•ผ๊ฒ ๋‹น!* ๐Ÿ˜

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์นœ๋ฐ€๋„์— ๋”ฐ๋ผ์„œ ์ตœ์†Œ๊ธˆ์•ก๋„ ์žˆ์–ด์š” ~ ๊ทธ๋ƒฅ ๊ทธ๋Ÿฐ ์นœ๊ตฌ๋ผ๋ฉด 70,000์›์ •๋„๊ฐ€ ๋˜๊ฒ ์ฃ . ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ข€๋” ๊ฐ€๊นŒ์šด ์นœ๊ตฌ๋ผ๋ฉด 100,000์›์€ ํ•ด์•ผ๋˜๊ณ  ์นœํ•œ์นœ๊ตฌ๋ผ๋ฉด 150,000์›์€ ํ•ด์•ผ๋˜์š” ๐Ÿ˜†✌

Read: Minimize Miscommunication

ํ•œ ๋‹ฌ์— 5๋ช…์˜ ์นœ๊ตฌ๊ฐ€ ๊ฒฐํ˜ผํ•œ๋‹ค๊ณ  ํ•˜๋ฉด ์ƒ์ƒ์ด๋‚˜ ๊ฐ€์„ธ์š”? ๐Ÿ˜‚ ๊ทธ๋ž˜์„œ ์ผ์„ ์•ˆํ•˜๊ฑฐ๋‚˜ ์•„์ง ํ•™์ƒ์ด๋ผ ๋ˆ์—†์„ ๋•Œ ๊ฒฐํ˜ผ ๋‹น์‚ฌ์ž๊ฐ€ ๊ดœ์ฐฎ๋‹ค๊ณ  ํ•ด๋„ ๋ช‡๋ช‡ ์นœ๊ตฌ๋“ค์€ ์•ˆ๊ฐ€๊ธฐ๋กœ ๊ฒฐ์ •ํ•˜๊ธฐ๋„ ํ•ด์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ํ•œ๊ตญ์—์„œ ์ถ•์˜๊ธˆ์€ ๊ฑฐ์˜ ์ •ํ•ด์ง„๊ฑฐ๋ผ ๋ˆ์ด ์—†๋‹ค๋ฉด ์ถ•ํ•˜ ๋ฉ”์‹œ์ง€๋ฅผ ๋ณด๋‚ด๊ณ  ์•ˆ๊ฐ€๋Š”๊ฒŒ ๋” ๋‚˜์„ ์ˆ˜ ์žˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜„

๋„ค ๋ˆ๋ด‰ํˆฌ์— ์ด๋ฆ„์„ ์จ์„œ ๋‚ด์•ผ๋˜์š”. ๊ทธ๋Ÿฌ๋ฉด ์‹๊ถŒ์œผ๋กœ ๋ฐ”๊ฟ”์ค˜์š”. ์ธ๋„๋„ค์‹œ์•„์™€ ๋‹ค๋ฅด๊ฒŒ ๋‘๋ช…์ด์„œ ๊ฐ€๋ฉด ๋‘๋ช…๋‹ค ๋ด‰ํˆฌ๋ฅผ ์ฃผ์•ผํ•ด์š”(๋งค๋„ˆ๋กœ) ๐Ÿ˜† ๋„ˆ๋ฌด ๋…ํŠนํ•œ๊ฐ€์š”? Pssst, ๋‹ค์Œ๋‹ฌ์— ๋‘๋ช…์ด ๋” ๊ฒฐํ˜ผํ•ด์š” ๊ทธ๋ž˜์„œ ์ง€๊ธˆ๋ถ€ํ„ฐ ๋ด‰ํˆฌ๋ฅผ ์ค€๋น„ํ• ๊ฑฐ์—์š”.

๊ทธ๋“ค์ด ํ–‰๋ณตํ•˜๊ธธ ๋ฐ”๋ž˜์š” ๐Ÿ˜

24 comments:

  1. Mbaaa, saya suka banget baca pengalaman di negeri orang, benar2 menambah wawasan. Jadi tahu kebiasaan dan budayanya.

    Menarik banget ceritanya. Btw, ketawa waktu baca di Indo satu amplop yg datang banyak, hehe.

    Mba, maaf, nanya. Kalau di Korea, misal mau datang kondangan gitu, kudu reserve dulu ga sih? Kalau baca blog orang di negara lain ada yg begitu. Terus misal udah reserve tapi ga datang, ya kudu bayar.

    Ah, kondangan datang berdua, amplopnya juga 2. Adil ya utk konsumsinya, hehe.

    Lha kalau misal bawa anak kecil, anaknya ngasih amplop juga ga mba? Maaf mba, banyak nanya, hahaha.

    ReplyDelete
  2. Hihi, yang saya tau disekitar saya begitu soalnya mba. Kasih amplopnya cuma satu tapi bisa datang berempat (ayah ibu anak dua) ๐Ÿ˜ dan di Indonesia nggak ada minimal harus kasih berapa kan. Mau 20 ribu boleh, sejuta juga boleh. Bahkan ada yang nggak kasih pun nggak apa-apa, asal datang dan memberikan doanya ๐Ÿ˜†

    Nggak semua reserve mba kalau di Korea, ada beberapa tapi banyak juga yang nggak ๐Ÿ˜„ semisal memang kita reserve terus mendadak nggak bisa datang, mannernya sih kalau bisa transfer sebagai hadiah pernikahan dan permintaan maaf akibat batal datang. Karena biasanya kalau pestanya pakai sistem reservasi itu artinya si mempelai bayar kursi, jadi as a manner saja mba biar sama-sama enak. Meski nggak ada keharusan sebenarnya ๐Ÿ˜

    Nah yang kondangan berdua, terus amplop dua juga manner hahahaha. Apalagi kalau dua-duanya adult. Soalnya amplop itu kan ditukar ke kupon buffet. Nah, buffet di Korea itu ada minimal price-nya kan~ jadi seperti bayar makan buffet saja. Cuma ditambah sedikit uang untuk si mempelai yang menikah ๐Ÿ˜„ tapi isi uangnya bisa berbeda. Misal kita datang ke pernikahan teman akrabnya pasangan kita, tapi kita nggak akrab. Ya pasangan kita bisa kasih 100.000 KRW, tapi kitanya 70.000 KRW saja ๐Ÿ˜‚

    Kalau bawa anak kecil biasanya ortunya yang amplopnya double mba, anaknya nggak. Karena anak kecil kalau di buffet juga kadang digratiskan semisal under 10 tahunan ๐Ÿ˜‚ kalaupun nggak gratis, anak kecil biasanya makannya nggak sebanyak orang dewasa ~

    Honestly semisal kita datang berdua tapi kasih amplop satu pun nggak apa-apa. Cukup bilang waktu kasih amplop itu kalau kita datang berdua sama pasangan. Masalahnya, meski nggak ada aturan tertulis harus kasih dua amplop, tapi mannernya harus dua. Gara-gara si manner itulah jadinya ended up kasih dua ๐Ÿคฃ

    That's why saya dan pasangan kalau datang ke pernikahan kadang sendiri-sendiri saja. Semisal nggak kenal dengan yang mengundang pasangan saya, yaa saya nggak datang. Begitu juga semisal teman saya menikah dan pasangan saya nggak kenal, yaa dia nggak datang ๐Ÿ˜‚ tapi kalau kami berdua kenal sama yang menikah, yaa kami datang berdua ๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
  3. Ya ampun, beneran bikin kantong jebol ya?
    Kalau di Indoensia kan sekarang udah biasa satu amplop buat satu pasangan, lebih irit. Tapi, nilainya ga sebesar itu pastinya, hahahaha.

    Tapi, kalau masalah peraturan tidak tertulis tentang isi amplop ini keknya Bali dan Malang pun beda. Kami di Malang 50rb itu sedikit dan biasa, Di Bali keknya segitu udah banyak kalau hanya kenalan biasa. Aku kemarin ada dua undangan mantan teman kantor ga datang karena rumahnya jauh di Karang Asem dan acara nikahan pas hari kerja, ga ada yg anter rencananya kalau dia punya anak aja kusamperin ke rumahnya di Denpasar hahahaha.

    Aku bilang ke Mama mertuaku kalau siapin amplop isi 200rb saja beliau bilang "banyak banget, di sini 100rb saja" aku ga enak saja sih kalau acaranya digedung gitu kalau amplop sedikit, Kalau kawan dekat malah kadang aku ga kasih duit, lebih ke barang, hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangettts mba, kalau diconvert ke rupiah lumayan juga angkanya ๐Ÿคฃ makanya saya harus belajar untuk nggak apa-apa convert ke rupiah biar nggak kepikiran ๐Ÿ˜

      Kalau di Indonesia sampai sekarang saya taunya 1 amplop masih bisa kok untuk berdua, bahkan berempat juga bisa kalau bawa anak-anak. Nggak ada patokan harus bawa amplop banyak, mungkin isinya saja yang agak banyak semisal nggak enak sama yang punya hajat ๐Ÿ˜‚ sebenarnya di Korea juga sama, bisa bawa 1 amplop saja, cuma manner itu yang memberikan burden (alias budam kalau orang Korea bilang) ๐Ÿคฃ

      Nah iya, di Indonesia sebenarnya beda-beda juga mba tergantung kotanya. Saya so far kondangan di Indonesia itu baru pernah di Jakarta, Padang, Yogya, dan Bali ๐Ÿ˜‚ semuanya beda~ tapi memang nggak ada patokannya. Cuma berdasarkan perkiraan dan kesanggupan kita saja. While di Korea, angkanya sudah jadi rahasia umum mba. Seperti sudah dipatok meski nggak ada undang-undangnya ๐Ÿ˜

      Terus kalau di Indonesia enaknya kan kita bisa kasih barang juga ya untuk teman atau keluarga yang menikah, nah kalau di Korea jarang ada yang kasih barang. Selalu pasti kasih uang. Nanti kasih barangnya pas ada undangan housewarming party biasa untuk teman-teman akrab, diundang ke rumah makan-makan. Baru deh bisa bawa hadiah barang ๐Ÿ˜

      Delete
    2. Ini komentar mbak Pipit dan mbak Hanila digabungkan sama mbak creamemo lebih panjang dari artikelnya..๐Ÿ˜

      Delete
    3. Hahaha, betul jugaaa mas ๐Ÿคฃ

      Delete
  4. Waduh, bisa jebol memang kalo dalam sebulan ada 5 orang teman yang menikah dan semuanya teman dekat yang spesial. Bisa habis sejuta won Korea kali ya.

    Ini yang aku suka, jadinya bisa tahu adat istiadat dari daerah Korea Selatan. Makasih ya mbak.๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau 5 orang bestfriend menikah, ada kemungkinan tembus 1 juta won ๐Ÿ˜‚ untungnya bestfriend saya nggak banyak di Korea ahahahahaah, dan menikahnya juga nggak berdekatan.

      Rata-rata yang berdekatan itu seperti 1 bestfriend, 1 teman dekat, 1 teman biasa atau 2 teman biasa. Karena mostly kalau bestfriend jumlahnya nggak sebanyak teman dekat ataupun teman biasa ๐Ÿ˜ mungkin karena orang Korea juga lebih tertutup daripada orang kita. Jadi sohib alias bestfriend itu bisa dihitung jari ๐Ÿ˜„

      Nah kalau teman biasa itu masih agak banyak. Karena teman sekolah, teman kuliah, atau teman saat army, dan lain-lain itu bisa masuk kategori ke teman biasa. Sedangkan teman akrab tuh bisa juga teman kuliah, sekolah, kantor cuma bedanya sering makan bareng, atau ketemu beberapa kali. Baru deh masuk kategori teman dekat ๐Ÿ˜

      Delete
    2. Oh orang Korea lebih tertutup dari orang Indonesia? Tertutup dalam hal sosial apa pergaulan mbak?

      Tapi memang benar sih jarang ada yang best friend, aku juga disini teman terbaik bisa dihitung jari. Kalo kondangan juga biasanya ngga terlalu banyak, yang penting sesuaikan dengan isi dompet aja..๐Ÿ˜‚

      Delete
    3. Tertutup dalam hal sosial iya, dalam pergaulan juga iya. Jadi memang punya circle masing-masing dan biasanya circlenya kecil. Sudah begitu, orang Korea kan biasanya berteman hanya yang sama umurnya. Disebut cingu, jadi dari circle cingu itu sendiri pun sudah kecil. Semakin diperkecil dengan yang ini bestfriend, yang itu teman biasa, yang sana agak akrab sedikit. Kurang lebih begitulaaaah ๐Ÿ˜

      Sama saja sama kita sih, sekarang ini kan kita juga lebih individualis bisa dibilang. Punya sahabat tapi nggak banyak, semakin tambah tua pun circle kita mengecil. Jadi kemungkinan besar bestfriend kita pun bisa dihitung jari, hihihi~ bestfriend itu kan ibarat yang tau banget luar dalamnya kita, jadi memang nggak banyak jumlahnya ๐Ÿ˜„

      Delete
    4. Hiks, jadi kaya sindiran ya mbak.

      Kadang aku iri sama orang dulu. Ibu saya sering cerita kalo dulu desa saya itu orangnya ramah tamah dan baik. Soalnya hampir semua orang itu jarang yang kaya atau berkecukupan, tapi hampir semua penduduknya rukun. Tiap malam ibu keluar untuk ngobrol sama tetangga atau gendu gendu rasa (kalo jaman sekarang namanya curhat). Makanya jaman dulu kalo malam itu selalu rame diluar rumah, walaupun penerangan cuma lampu templok.

      Kalo sekarang mah habis Maghrib saja udah sepi, pada masuk rumah dan nonton tv masing-masing.

      Ealah kepanjangan, mendingan aku buat artikel saja ya..๐Ÿ˜๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Delete
    5. Memang sepertinya generasi kita dan orang tua kita agak berbeda mas, kalau jaman ortu dulu bisa dengan mudah berbaur ke tetangga. Bahkan sering saling kasih makan satu sama lain, misal ibu saya masak ini lalu bagi ke tetangga. Terus tetangga masak ini lalu bagi ke ibu saya. Selain itu, sebelum magrib atau kadang ibu-ibu suka kumpul di depan rumah istirahat habis memandikan anak atau bersih-bersih rumah sambil tunggu suami pulang kerja ๐Ÿ˜

      cuma jaman sekarang, kegiatan seperti itu sudah jarang terlihat kalau di kota karena sudah individualis. Kalau di kampung sepertinya masih ada tapi juga nggak banyak~ Mungkin karena sekarang sudah era teknologi juga, jadi yang biasa kumpul di depan rumah langsung pindah haluan berkumpul di group chat contohnya ๐Ÿ˜‚

      Dulu pas saya kecil, biasa habis magrib bisa main ke luar apalagi kalau weekend. Duh pasti deh ke depan rumah untuk main sama anak-anak lainnya. Tapi sekarang nggak pernah kayak gitu hahahaha. Mainannya kan juga sudah beda, anak sekarang lebih banyak main youtube bukan petak umpet atau sejenisnya ๐Ÿ˜

      Delete
  5. Waah lumyan mahal juga ya ksh amplop buat yg mau menikah, kalo ada tiga atau 4 org aja udah ngelebihin umr di Indo yaak ๐Ÿ˜, tpi namanya tiap negara berbeda" ya tradisinya, mudah"an rezekinya mba Eno tmbh lancar dan buanyaaak aja.. Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Heni, kalau di-convert ke rupiah memang mahal. Makanya sebisa mungkin saya tutup mata saja kalau harus 'ngamplop' di Korea ๐Ÿ˜ daripada kepikiran bakso 3 baskom hahaha~ kata teman saya, amplop di Korea seharga bakso 3 baskom soalnya ๐Ÿ˜

      Terima kasih atas doanya mba Heni, doa yang sama untuk mba Heni juga. Semoga rejekinya dilancarkan, sehat dan bahagia. Amiiin ๐Ÿ’•

      Delete
  6. Wow aku salto ngeliat amplopan orang sana mbaaa...ampuni baim ya Alloh ahahhah

    Hmmm, bener banget nih, aku dan pak suami juga kadang kudu puter otak semisal dapat undangan dari rekan kerja atau klien kantornya suami. Paling mumet tuh kalau sekals direktur yang mantu deh aduh idah kita bingung bangat mau ngamplopnya seberapa biar ga keliatan sedikit2 banget, ya masih pantes lah buat ditandai o dia ngamplop saya segini toh hahahha #lyfe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya awal tau juga kaget mba, sampai saya makesure berkali-kali hahahaha takut salah dengar ๐Ÿ˜‚

      Nah, itu juga berlaku di Korea mba, kalau semisal yang punya hajat orang besar, terus biasanya hajatannya di hotel mahaaaal yang bayar valet parkingnya sendiri sudah 250.000 rupiah ๐Ÿคฃ mau menangis rasanya hahahahaha~ untungnya di Indonesia kalau kasih amplop nggak harus pakai nama kan, mba? Hanya beberapa kota saja yang mewajibkan tulis nama. Atau sudah berubah? ๐Ÿ˜

      Delete
  7. Karena sudah culture-nya ya, Mbak?
    Hahahaha.
    Hidup di kampung kalau kata Ibuku meski katakanlah kita amplopnya ga banyak isinya tapi dengan kuantitas yang banyak ini kadang yang emang bikin kantong jebol.
    Belum nanti ada selametan, khitanan, ulang tahun. :D

    Tapi, kalau kata ibuku namanya juga kita hidup bersosial ya harus begitu, hahahha

    Jadi, meski aku udah netap di Bali ibuku sering ngabarin si A nikah, si B nikah, mau ga mau aku minta diamplo[pin entar sekalian trasnfer gitu. Kalau aku pribadi ga mau ngebebani orang lain, misal ulang tahunan gitu aku akan bikin rules "no kado" jadi beneran biar Zafa kenalan sama teman-temannya di sana. Toh kado udah dapat dari kami dan keluarga inti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, kuantitasnya itu yang kadang membuat empot-empotan hahaha. Kalau di Indonesia mungkin yang lebih sering buat empot-empotan saat harus jahit baju ๐Ÿ˜‚

      Ohya, di Korea pun sama mba, apalagi ulang tahun anak pertama itu special dan hampir semua orang Korea melakukannya. Kecuali yang betul-betul nggak punya uang. Jadi seperti hampir wajib untuk merayakan ultah anak yang pertama. Nah, biasanya ortu akan undang kerabat handai taulan untuk ultah anak, dan disitu pun rata-rata kasih amplop juga, jarang yang kasih hadiah. Kalaupun ada itu biasanya cincin emas ๐Ÿ˜† dan nominalnya nggak jauh beda sama amplop pernikahan~

      Tapi saya setuju dengan ibunya mba Nila, memang yang namanya kita hidup bersosial mau nggak mau harus siapkan budget untuk sosial juga ๐Ÿ˜ saya pun meski sudah nggak di hometown, tetap harus transfer semisal ada info dari keluarga kalau si ini or si itu menikah ~

      Memang paling enak kalau ada rules no kado ya mba, jadi semua bisa senang-senang. Semakin ke sini juga bingung mau kasih kado apa sebenarnya untuk orang-orang, termasuk anak-anak maupun keponakan ๐Ÿ˜†

      Delete
  8. Uwowwwww, qiqiqiqiq.
    Beneran mah itu bikin bangkrut.
    Tapi demi teman ya.
    Ya mau nggak mau nabung dong ya.

    Kalau nggak dekat sih, bisa pakai opsi nggak datang aja hihihi.

    Btw beneran unik tuh, 1 orang 1 amplop dan dicatat, wahh..
    Dijamin nggak ada drama amplop kosong :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba demi teman, mau nggak mau harus siapkan budget, mana kalau di Korea tuh info pernikahan datangnya sering mendadak. Nggak seperti di Indonesia yang ada acara tunangan dulu, atau semisal nggak pakai tunangan pun kita sebagai teman sudah diinfo 3 bulan or 6 bulan sebelumnya. Nah di Korea rata-rata baru info sebulan sebelum acara. Nggak ada angin nggak ada hujan tau-tau info mau menikah ๐Ÿ˜‚

      So far saya belum pernah nggak datang ke acara pernikahan teman, especially karena di Korea itu yang diundang nggak banyak, jadi kalau sudah diundang means kita dianggap teman sama mereka meski mungkin levelnya paling bawah ๐Ÿ˜ jadi saya selalu sempatkan untuk datang ~

      Iya mba, nggak ada drama amplop kosong hahaha. amplop isinya di bawah rata-rata juga jarang, kayaknya 0,01% yang kasih di bawah batasan ๐Ÿ˜†

      Delete
  9. Tapi Di Indonesia juga gitu, meskipun gak ada aturan tertulisnya. (Eh, apa ini cuma saya aja ?).

    Misalnya jumlah buat tetangga, yang kenal bisa, teman dekan sama keluarga jumlahnya suka saya bedain. Hahhaa..

    Masalahnya tuh kalo di daerah saya, kadang satu RT/RW meski gak kenal dekat, atau cuma tahu sekedarnya suka diundang. ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ ..

    Parahnya, kadang gak tahu orangnya pun sering diundang. Hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Indonesia memang nggak ada aturan tertulisnya, dan kita bisa tentukan batasan-batasannya sesuai kemampuan kita. Tapi di Korea semacam dipukul rata patokannya, hahahaha. Dan patokan di atas itu yang paling standar banget. So, semisal kita tajir melintir punya banyak building bisa kasih lebih dari patokan minimal ituuuu ๐Ÿ˜

      Nah kalau di Indonesia juga kadang nggak kenal selama 1 RW bakal diundang, pengalaman jaman kecil dulu, bahkan nggak pernah pas-pasan tapi karena 1 RW ya tetap dapat undangan. Cuma semakin ke sini, karena tinggal nggak di komplekan besar lagi, jadi yang undang memang cuma yang kenal-kenal saja ๐Ÿ˜†

      Delete
  10. wadooow itu kantong jebol banget yaak! Tapi emang ga bisa sih bandingin sama rupiah. Soalnya kan lain...secara nilai rupiah itu nilai yang lebih kecil daripada mata uang Korea >.<

    Kalau aku selama ini selalu kondangannya di Jakarta, Bandung, Solo, ato ga Bali.

    Dan yes, satu amplop bisa buat banyakan hihihihi. Kadang malah ada yang kasih kado gitu hasil patungan rame-rame. Meski sebenarnya udah jarang sih sekarang karena biasanya di undangannya dikasih tanda ga boleh kasih bunga ato kado, tapi terimanya amplop aja. Hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha iya, memang buat kantong jebol ๐Ÿ™ˆ tapi kalau sudah terbiasa dengan nilai mata uang won, sebenarnya jadi nggak terlihat too much ๐Ÿ˜„

      Nah enaknya di Indonesia itu satu amplop masih bisa untuk sekeluarga ๐Ÿคฃ hahahaha. Meski kadang kalau keluarga besar yaaa harus agak sadar diri dengan kasih amplop tebalan ๐Ÿคญ dan iya sepertinya lately kebanyakan lebih pilih terima cash daripada barang, mungkin ribet juga bawanya kalau acara di gedung dan jauh dari rumah ๐Ÿ˜†

      Delete