All About Myanmar | CREAMENO

Pages

All About Myanmar


Eniho, seperti yang terlihat di foto, mayoritas masyarakat Myanmar menggunakan sarung atau dalam bahasa Myanmar disebut 'Longyi' untuk keseharian 😄 Longyi yang dikenakan laki-laki disebut 'paso' sedangkan Longyi untuk perempuan disebut 'htamein'. Bedanya dengan negara ASEAN lain yang pakai sarung khusus momen tertentu, di Myanmar sarung selalu dipakai pada setiap kesempatan. Mau itu saat kerja, atau saat bermain bola pun saat bersama teman.

However, semakin ke sini, semakin banyak anak muda yang pakai celana jeans untuk keseharian dan tetap memiliki sarung untuk acara formal 😄 By the way, kebanyakan perempuan Myanmar menggunakan bubuk organik yang disebut Thanakha pada wajah mereka ~ Bubuk ini berfungsi untuk menjaga kulit dan beauty purpose tentunya 😄 Ohya dalam bahasa Myanmar, Thanakha berarti 'membersihkan' dan mereka percaya bahwa Thanakha bisa menjaga wajah mereka.


Makanya, nggak heran kalau jalan di Myanmar, kita akan sering lihat perempuan Myanmar (dan laki-laki) pakai Thanakha di pipi mereka 😍 Dan karena budaya Thanakha, gue jadi penasaran mau lihat seperti apa perempuan Myanmar ketika dandan. Though, gue sudah lihat saat gue di bandara dan di resepsionis hotel tempat gue menginap, tapi gue ingin melihat pada keseharian mereka bukan saat mereka bekerja 😆 *banyak maunya* hahahahahahaha.

Read: Maha Bandula Park


Lalu berangkatlah gue ke mall 😂 Iya MALL, soalnya kata sohibul gue, kalau mau lihat fashion di belahan dunia manapun paling gampang di mall. Dia yakin siapa saja yang ke mall pasti dandan, "Lu harus tau, buat cewek, mall adalah tempat terbaik untuk unjuk fashion kita." Betulkah? 😄

Lantas terpilihlah Junction City Mall yang letaknya di central Yangon, Myanmar. Junction City jadi satu sama Hotel Pan Pacific dan bisa dibilang one of the best mall 😄 Berhubung Myanmar sedang ada pembangunan besar-besaran jadi banyak bangunan baru tinggi menjulang 😆 So, bagaimana kesan pertama masuk Junction City Mall? Keren bangats!! 😍


Suasana terlihat kontras bahkan dalam jarak 500 meter dari mall, di mana gue melihat banyak warga lokal masih pakai sarung dan Thanakha. Sedangkan di dalam mall, gue disambut dengan pemandangan anak muda dan orang tua yang fashion-nya oke punya 😍 Ada beberapa tetap pakai sarung, namun mayoritas anak muda pakai celana jeans maupun terusan. Terus di dalam mall ada banyak toko skincare dan fashion ternama yang penuh oleh warga lokal. Pokoknya apa yang dipikirkan oleh teman-teman gue soal Myanmar jauh total dari bayangan 😆

Terus apakah orang lokal Myanmar 100% homogen atau heterogen alias berbeda-beda seperti Indonesia atau Amerika? Umm.. sepengamatan gue, ketika lihat orang lokal sekaligus saat baca informasi sejarah, walau nggak 100% homogen, namun mayoritas lebih mirip orang Asia Selatan (Bangladesh, India) atau kalau kata teman gue, "Mirip orang Padang." 😆


Next, makanan di Myanmar agak mirip dengan makanan di India plus di Malaysia, bahkan ada beberapa yang mirip rasanya dengan makanan Indonesia 😁 Seperti nasi, mereka sering makan nasi biryani dan sayurnya sendiri agak mirip sayur tumis capcay kalau di Indonesia 😍 So, gue nggak ada masalah sama sekali ketika makan di Myanmar, karena rasanya enak hahaha.


Gue punya catatan penting guys, nggak semua resto di Myanmar bisa terima pembayaran pakai kartu bahkan resto sekelas KFC masih harus cash bayarnya 😆 Dan beberapa hotel belum pakai kartu jadi ketika pesan hotel, make sure hotel tersebut menerima pembayaran kartu, dan saat pesan makanan, pastikan bawa uang cash 😂 Sekedar info, Myanmar sendiri 7 tahun lalu nggak punya ATM, jadi segala sesuatu yang dibeli memang harus dibayar cash.

Selain itu, di Yangon, motor itu dilarang! Alasannya kalau dari yang gue baca, karena dulu setiap bulannya sering terjadi kecelakaan akibat pengendara motor sembarangan. So, sekarang jangan heran kalau motor betul-betul nggak ada di jalanan Yangon, Myanmar 😍 Kalaupun ada mirip motor, itu sebetulnya e-bikes dan nggak begitu banyak penggunanya 😉 jujur ini membuat jalan di Myanmar terlihat bersih, teratur dan nyaman ~ gue syukaaaaaaaa. Lav 💕


Another fun fact, walaupun letak setir mobil di Myanmar berada di sebelah kanan (sama seperti Indonesia), tapi jalur kendaraannya juga di kanan (seperti Korea) - bingung? 😂 Dan perbedaan waktu mereka adalah GMT +6.30 (as you know sangat sedikit negara yang memiliki perbedaan waktu 0.30), jadi kalau di Bali jam 11 maka di Myanmar masih jam 9.30 (beda -1.30) 😆

For the last, pertanyaan paling mendasar yang gue dapat dari teman-teman gue, 'apakah worth it untuk liburan ke Myanmar?' well, gue rasa worth it. Lagipula harganya nggak begitu mahal 😂 Buat gue, Myanmar bisa dijadikan contoh negara yang walau baru 7 tahun mulai berkembang, tapi perkembangannya signifikan. Mereka bisa membuat aturan tanpa motor dan meningkatkan moda transportasi publik sedikit demi sedikit. Jalanan di Myanmar bersih! Bahkan bandaranya saja bagus dan besar, mungkin 20 tahun dari sekarang, Myanmar bisa maju pesat.

Who knows, kan? 😄👍

32 comments:

  1. Sampai serius saya bacanya. Sebentar2 mbak... Saya mau ngebayangin pake Longyi setiap hari, Main bola atau ngumpul keseharian pake Longyi..???? Apa enak yaa..Haahaaa..

    Kecuali acara kemall atau jumpa pacar mungkin baru bergaya pake jeans atau celana bahan kali yaa.

    Kalau masalah wajah menurut saya mah mirip orang Vietnam. Mungkin kalau dipedalamannya iya kali yaa mirip orang india atau orang padang pesisir yang berkulit hitam. Heehee..

    Uang cash lebih dominan ternyata ketimbang Atm atau kartu kredit lainnya. Repot juga yaa harus bawa uang cash.


    Kalau Yangon itu kota kecil apa Metropolitannya mbak.? Hebat kalau motor sampai dilarang setidaknya bisa mengurangi polusi jalan ketimbang indonesia parah.

    Mobil stirnya sama, Cuma aneh kalau naik angkutan umum turunnya. "Yangon Kanan bang"..Haahaaa!!..Nggak enak banget dengarnya yaa.

    Mungkin posisi jalannya sudah diatur kali yaa sama pemerintah Myanmar.

    Oiya 1Kyat Myanmar berapa sekarang mbak.

    Kalau 9000Kyat 84 ribu berapa lupa saya juga Wuueehheee...Mantap kisahnya mbak laanjuutt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru kata teman saya yang laki-laki lebih enak main bola pakai sarung mas HAHAHAHA entahlah, tapi di Indonesia sendiri saya pernah beberapa kali lihat orang main bola pakai sarung kalau sedang pergi ke rumah simbah 😂

      Sepertinya, kalau anak muda yang modernnya sudah banyak yang pakai jeans pada keseharian mereka ~ tapi memang agak kontras pemandangannya karena saat ke luar dari area shopping mall, saya lihat banyak sekali yang masih pakai Longyi 😁 menarik yaaa.

      Mungkin ada beberapa yang mirip Vietnam, tapi mostly yang ketemu sama saya mukanya mayoritas mirip Bangla sama India hihi even supir GRAB dan resepsionis di hotel juga ~ tapi bisa in general can be mirip Vietnam, karena sepertinya memang area Indochine mirip-mirip semua 😍

      Di Myanmar masih jarang yang terima pembayaran pakai kartu, bahkan sistem ATM mereka juga masih susah untuk terima kartu dari luar negeri. Meski beberapa sudah pakai jaringan VISA / Mastercard. So, better bawa cash saja daripada kerepotan hehe. Karena Myanmar baru mulai buka untuk internasional sejak kurang lebih 7-8 tahun silam, di mana tadinya bahkan VISA / Mastercard pun nggak mau buka jaringan di sana karena history-nya, bank-bank besar di Myanmar dimiliki oleh militer ~ thanks to ASEAN GAMES, Myanmar jadi lebih terbuka dan mulai merubah banyak sistem di dalamnya however mereka masih butuh proses sampai betul-betul bisa memiliki standar 😬

      Yangon adalah mantan ibu kota Myanmar, yang sekarang ibu kota barunya sudah dipindah ke kota lainnya hehehe. Bisa dibilang, Yangon itu kota besar kalau di Myanmar. Dan senangnya karena motor dilarang, jadi jalanan pun lebih rapi dan terarah 😍

      1 MMK = 10 IDR gampangnya mas. Jadi tinggal dikali 10 saja kalau mau convert harga-harga di Myanmar agar nggak pusing 😂 soalnya kalau nggak genap, saya susah hitungnya hahahaha. So, 9000 MMK saya anggap 90.000 IDR 😁✌

      Delete
  2. Menarik sekali postingannya. Hehehe, berkali-kali saya bilang kalau saya suka membaca budaya dan kebiasaan di negeri orang. Jangan bosen ya, Mba.

    Iya, orang Myanmar masih pakai sarung di keseharian mereka. Dan saya pernah dikasih teman thanaka. Kalau saya bilang kayak bedak adem di Jawa. Tapi thanaka ini bikin wajah kencang, lho. Setelah dibasuh, muka juga jadi bersih. Saya pernah menulis tentang thanaka tapi udah lama.

    Sempat nyari thanaka di olshop Indo tapi ga ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak bosan dong mbaaa 😂

      Too bad saya belum pernah coba Thanaka, hanya melihat saja hihihi. Tapi memang sepenglihatan saya seperti bedak dingin yang suka dipakai mbah-mbah di kampung Jawa ya, mba. Pernah lihat soalnya beberapa mbah pakai bedak dingin di pipi tapi warnanya putih, while Thanaka kan agak kekuning-kuningan 😍

      Delete
  3. Baru tahu saya kalo orang Myanmar itu suka pakai sarung, baik perempuan ataupun laki-laki. Ngga kalah sama anak pesantren di Indonesia ya.😁

    Eh, beneran tuh motor dilarang di Myanmar?? Apa cuma di Yangon aja ya mbak?

    Tapi memang betul sih, motor itu banyak yang mengalami kecelakaan, dari 10 kecelakaan, kayaknya 8 diantaranya dialami motor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hihi, bedanya cuma mereka pakai dalam setiap keadaan, kalau orang Indonesia mostly pakai sarung saat ibadah saja sepertinya. Nggak sampai ke kantor pakai sarung juga 😬

      Dilarang hanya untuk area Yangon mas, di kota lain masih bisa sewa motor atau kendarakan motor hehehe. Mungkin karena Yangon kota besarnya, jadi chance untuk terjadi kecelakaan pun lebih besar dari kota lain yang ada 😄

      Delete
    2. Ya ngga ibadah saja sih pakai sarung. Di daerah sini masih ada orang ngerongdo pakai sarung, mau tahlilan pakai sarung, bahkan mau ke sawah juga pakai sarung.

      Bukan ke sawah sih aslinya, tapi ke kali Deket sawah buat...

      Lha, kalo orang Yangon dilarang pakai motor berarti banyak yang pakai mobil ya kalo mau kemana-mana??

      Delete
    3. Ohiya, kalau di kampung simbah masih sering lihat bapak bapak pakai sarung pergi ke sawah sama kalau lagi ronda 😆 betul betuuul, saya lupa soalnya ditempat saya lihatnya waktu lagi ibadah saja 😬

      Kebanyakan naik transportasi publik mas, atau sepeda dan banyak juga sih yang naik mobil ehehehe 😁👍

      Delete
  4. suka sekali baca catatan perjalanan disini :D walaupun ditulis dalam full english tapi mudah dicerna orang awam seperti saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba, ada versi bahasa Indonesianya kok. Bisa dipilih pada menu setelah judul (saya sediakan tiga bahasa untuk pembaca, ada Indonesian, English dan Korean) 😁

      Salam.

      Delete
  5. daripada negara2 populer di asean, aku lebih suka yg kurang populer macam myanmar ini.. masih banyak kearifan lokal yang bisa diamati.. bangunan dan suasananya juga unik, terkesan klasik..

    itu wajah ditaburi putih2 gitu kaya di Indonesia juga ya, di kampung2 masih ada yg kek gitu hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Myanmar ini menjadi salah satu destinasi populer dua tahun terakhir, dengan jumlah turis masuk yang signifikan (kalau dari berita yang saya baca) hehe. Mostly karena penasaran sebab dulunya Myanmar cukup tertutup dari mata dunia 😬

      Iya mas, memang agak mirip bedak dingin yang dipakai simbah simbah di kampung. Saya juga pernah lihat 😆

      Delete
  6. I knew about the streering issue of Myanmar after watching a Top Gear Special episode. They guys were trapped in the traffic jam and one of them found out the bizarre fact about the steering position. Jeremy Clarkson guessed that perhaps they changed the lane from the left to the right because they wanted to get rid of the British influence... since people in the UK driving on the left side of the road LOL.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Even though I've never watched Top Gear Special, but I understand what you mean 😂 it seems what Jeremy Clarkson guessed was true ~ but it still interesting because Myanmar only changed the lane, why not steering too? Then it would be more comfortable, isn't it? 😬

      Delete
    2. Yeah... Perhaps they should import cars from the US instead of Japan. But, you know, they're still dealing with problems. And I believe they are still embargoed by many countries.

      Delete
    3. Yeah, I wish the situation will be better in the future. Let's hoping for the best 😁🙌

      Delete
  7. Setahuku Myanmar ini di tahun 70an memindahkan posisi mengemudinya dari LHT ke RHT - tapi transisinya ga berjalan mulus, salah satunya adalah mereka masih banyak impor kendaraan RHD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah baru tauuuu 😍 thanks mas infonya, hehe terjawab sudah kebingungan saya kenapa setirnya sama lane-nya bisa sama 😁✌

      Delete
  8. Ya ampuuunn, ini mah kayak sedang menceritakan daerah saya tumbuh besar dulu.
    Jadi, mama saya itu tugasnya di sebuah puskesmas yang ada di desa.

    Alhasil, sepanjang saya tumbuh besar, kondisi seperti yang diceritakan itu sering banget saya lihat, bahkan saya dulu sering dipakaikan tanakha itu, kalau di Buton namanya bedak dingin.

    Biasanya dibuat dari tepung beras yang dikasih campuran macam-macam, ada daun kapas yang konon bisa memudarkan bekas luka, juga kunyit dan bumbu lainnya yang konon menyehatkan kulit.

    Terlebih di Buton itu panas banget, jadi hampir tiap hari kita lihat cewek-cewek make bedak gitu, bukan cuman di wajahnya, tapi di tangan dan kaki.

    Saya dulu seringnya di tangan, karena pas kelas 2 SD, saya ditinggal mama sekolah, sampai akhirnya tangan kiri saya itu awalnya alergi, nggak diobatin dan sampai infeksi meninggalkan bekas, dan ajaib memang, bekasnya jadi sedikit berkurang karena dikasih bedak gitu.

    Kalau wajah dipaksa sih sama bibi saya (kakak bapak saya, minta dipanggil bibi, hahaha), karena saking panasnya, wajah saya hitam dan ada bercak putih gitu, dipakein bedak gitu jadi berkurang gosongnya :D

    Terus mengenai sarung, bahkan bapak saya seringnya dulu pakai sarung, kakek saya malah kayaknya memang punya ilmu apa gitu, sampai dia hanya boleh pakai sarung. seumur hidup nggak pernah liat kakek saya pakai celana.
    dan orang-orang kebanyakan pakai sarung sih, baik bapak-bapak, ibu-ibu sampai gadis-gadis, tentu exclude saya, karena nggak betah hahaha.

    Itu foto 2 cewek pakai sarung ya? persis kayak orang-orang di sana dulu.

    Tapi sayangnya sekarang udah jarang sih, kalau nggak salah sejak tahun 2000an dulu, banyak orang luar masuk ke daerah tersebut buat mengolah aspal, alhasil budaya-budaya asli semakin ditinggalkan.

    Btw lagi, kayaknya memang Myanmar ini mirip Malaysia ya, atau Melayu. Btw lagi bahasanya Upin Ipin itu loh mirip dengan bahasa di Buton :D

    Etapi bahasa Myanmar bukan Melayu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kalau di Indonesia memang lebih dikenal as bedak dingin ya mba 😁 saya juga ingat bedak dingin itu karena dulu sering lihat simbah pakai hihi ~ dan saya pernah coba, memang rasanya dingin. Sama kayak Thanaka yang juga terasa dingin saat digunakan katanya 😆

      Waaaah seruuuu, budaya Buton menarik juga untuk dipelajari ternyata 😍 kakek mba hebat banget bisa bertahan pakai sarung setiap hari. Saya juga sama kayak Mba Rey, nggak betah dipakaikan sarung 🤣 entah kenapa, celana lebih comfortable hehehehe. Dan foto dua cewek itu, mereka pakai longyi a.k.a sarung mba 😬

      Semoga budaya-budaya asli di Indonesia pun tetap terjaga ya mba, meski banyaknya pendatang maupun besar kemungkinan penduduk aslinya justru bermigrasi ke kota lain. Tapi semoga budaya lokal, tetap terpelihara dengan baik 😍🙌

      Sepertinya Myanmar bukan Melayu mba CMIIW 😆

      Delete
    2. wkwkwkk iya kah? Bahasanya beda ya nggak kayak Melayu.
      Saya agak lupa-lupa ingat, waktu SD saya pernah baca buku tentang negara-negara di Asia, sayang saya udah lupa sih, udah lama banget hahaha.

      Betul banget, budaya modern benar-benar melibas budaya asli, ditambah dengan dahsyatnya medsos bikin jadi lebih tenggelam deh budaya aslinya.

      Padahal kayak bedak dingin itu ya, itu mah sebenarnya sama aja kayak masker, tapi lebih alami dan lebih berkhasiat karena kebanyakan di bikin sendiri dari tepung beras dikasih campuran bahan lainnya sesuai kebutuhan :)

      Delete
    3. Sependengaran saya agak beda bahasanya 😂 apa telinga saya yang error yaaaa hahahahahaha 🤣

      Betul mba, sekarang budayanya betul-betul bergeser, tapi semoga tetap ke arah positif. Karena memang yang namanya dunia itu pasti akan terus mengalami perubahan, jadi tinggal bagaimana kitanya siap atau nggak menghadapinya 😁 dan yang terpenting, nggak lupa akan budaya yang kita punya ~

      Saya pernah coba bedak dingin waktu kecil, masih ingat karena dulu sempat penasaran sama yang simbah pakai di pipinya terus ingin pakai juga akhirnya dikasih 😂

      Delete
  9. Wait, what? Gimana ceritanya setir di kanan tapi jalurnya di kanan juga. Ntar repot ga tuh kalo mau naik mobil hehehehe

    Tapi keputusan untuk melarang motor bagus juga ya. Bisa bikin jalanan bersih gitu. Coba deh, bandingin sama pulau jawa

    -Fajarwalker.com-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unik ya? Hehehe. Kayaknya sih nggak ribet, mungkin karena sudah terbiasa 😁👍 betul, setuju, keputusan melarang motor itu bagus banget, jadi lumayan bersih jalannya nggak begitu semrawut 😆

      Delete
  10. Aku kalau baca pasti sambil ngebayangin gitu, di kepalaku kaya ada layar besar dan bergerak.

    Nah, paling seru pas di Mall, lha pas product skin care kenapa yang muncul Wardah dan Maybelinne hahahaha!

    APa-apa serba cash, jadi saat mendarat apa kita harus siap cash yang ditukar dengan mata uang sana dalam jumlah cukup, Mbak? Agak ribet ya? tapi, dengan demikian kit aga bergantung bank juga, sih.

    Aku tuh berharap Indonesia kalau ewallet/emoney Indoensia kelak bisa juga dipakai transaksi di luar negeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalau baca cerita juga sering sambil membayangkan mba 🤣 tapi lucu juga kalau yang kebayang Wardah haha, mungkin karena mba orang Indonesia jadi yang terbayang produk-produk lokal Indonesia 😁

      Iya mba bisa bawa dollar untuk tukar cash di money changer, atau tarik cash di ATM cuma beberapa ATM masih nggak bisa tarik cash. Waktu itu saya harus coba beberapa ATM baru bisa 😅 terus banyak resto masih belum terima pembayaran gesek kalau di Myanmar, so cash is a king 😬

      Kalau ewallet / emoney masih agak susah mba, karena di dunia ini yang bisa digunakan untuk pembayaran dan diterima dibanyak negara mostly baru jaringan VISA / Mastercard 😁 bahkan Alipay saja belum bisa diterima dibanyak negara, cuma bukan nggak mungkin one day, seluruh dunia bisa menerima pembayaran by Go-pay 😍

      Delete
  11. Thanaka ini mungkin semacam tabir surya gitu ya mb, atau masker hahahahha, tapi ya udah udaya sih ya, jadi even jalan2 di tempat umum pake itu adalah biasa bagi mereka

    #terpenting kulitnya jadi pada mulus-mulus

    Btw aku kok agak ngeri ya yang liat rute setir kanan, tapi jalur jalanannya juga kanan, waaakkkk #blum bisa ngebayangin

    Trus hebat juga ya, meski baru mulai merangkak untuk berkembang mengejar negara asia tenggara lainnya, di rule yang ga memberlakukan motor itu menurutku keren. Maksudnya meminimalkan kadar polutan kendaraan bermotor dan kasih opsi lain yaitu kendaraan umum yang which is bagus dong yekan hihi

    Etapi aku mah ke mall ga fesyeneble jugah mba...maklum ku orange ga andal bermecing2 ria sama outfit. Antara outfit dolan ama outfit di rumah sai mawon alias sama aja hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, mirip tabir surya buat anti panas 😁 sunblock bahasa kerennya ehehehe. That's why tetap dipakai di tempat umum, karena itu kultur untuk mereka ~

      Saya juga awalnya bingung karena jalurnya di kanan tapi setirnya juga di kanan, alhasil agak keder waktu lihat mobil-mobil di jalan, sambil berpikir, eh kok mobilnya di jalur ini? 🤣 baru deh setelah itu sadar kalau memang jalurnya berbeda dari jalur pada umumnya 😬✌

      Eniho, itu kata-kata teman saya memang sejujurnya asal ceplos saja 😂 tapi memang menurut saya paling gampang kalau mau lihat fashion orang lokal tinggal ke mall, karena kemungkinan besar, minimal ada 10% yang berusaha fashionable di sana 😁 jadi bisa kelihatan tuuuh gaya ibu-ibu, bapak-bapak sampai anak mudanya Yangon yang mungkin agak beda dengan style keseharian 😆

      Delete
  12. Thanaka memang jadi ciri khas warga Myanmar banget. Bedak ini katanya berfungsi buat melindungi kulit biar ga kebakar matahari sekaligus mendinginkan juga. Dan menariknya, mereka ga pakai thanaka ini malam-malam doang pas mau tidur, justru dipakai seharian sambil beraktivitas. Ga ada tuh ceritanya malu karena terlihat cemong hehe.

    Anyway, did you write every post in 3 different languages? Wow, amazing persistency u got there!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Ikhwan, banyak yang bilang bedaknya mirip bedak dingin versi simbah-simbah di tanah air 😍 hehehehe. Dan sepertinya mereka nggak malu karena mereka menganggap itu bagian dari skincare / make up mereka 😁

      Iya mas saya tulis post pakai bahasa Indonesia, Inggris dan Korea. Cuma biasanya yang Inggris dan Korea update-nya lebih lama daripada yang Indonesia karena butuh waktu untuk penulisan, editing dan pengecekan grammar yang kadang setelah rilis pun masih banyak salahnya 😂 terima kasih atas apresiasinya 😄

      Delete
  13. Heee?? Iya Kak Eno? Betulan pakai sarung? Aku shock 😲 Memangnya ada filosofi tersendirikah sampai pakai longyi seperti itu Kak Eno? Susah juga ya Kak Eno kalau ngebayangin harus pakai sarung kemana-mana, mungkin aku tidak kuat 😂

    Aku terkesan sekali sama Yangon yang Kak Eno ceritakan. Beda banget ya sama Indonesia, hft 🙄 Motor dimana-mana banyak, parkir juga suka sembarangan. Kadang sampe mikir, di Indonesia yang nggak ada motor di mana ya? Karena aku tinggal di kota, aku suka sebel sendiri Kak Eno sama motor yang suara knalpotnya bikin telinga sakit 😂 Jadi ya gitu deh, suka ngdumel sendiri kalau ada motor yang bisingnya akut 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Syifana, sudah kultur mereka untuk selalu pakai sarung, jadi jangan heran saat jalan di luar, bisa ketemu banyak cewek cowok pakai sarung meski setelan atasnya baju formal untuk berangkat kerja hehehehe. Unik, yaaa 😍

      Well, Indonesia masyarakatnya banyak, jadi butuh motor untuk runititas sehari-hari di luar rumah. Nggak kebayang jika semua pakai mobil, justru lebih parah mungkin macetnya. Hahaha. Too bad, transportasi publik belum merata tersedia di setiap kota, semoga ke depannya, semakin bagus perkembangan transportasi kita, mba 😆

      Delete