Life Taught Me | CREAMENO

Pages

Life Taught Me


Di post gue sebelumnya, Walk Around Central, gue bercerita soal pertemuan (nggak sengaja) dengan mba bule yang membuat gue belajar soal kehidupan. Dan ternyata, post tersebut cukup menarik perhatian teman-teman gue yang penasaran, apakah gue punya pengalaman seru lain yang bisa gue ceritakan. Karena menurut mereka, susah untuk gue bisa terbuka ðŸĪĢ

Gue ini orangnya agak tertutup gaes, bukan agak lagi sih tapi super sangat tertutup 😅 Jadi gue in real life pun nggak sering berbicara kalau nggak penting-penting amat. Bahkan, bisa dibilang, 90% percakapan harian gue itu hanya soal pekerjaan ~ Sisanya 10% nggak jauh dari menanggapi curhat sahabat maupun menjawab pertanyaan orang-orang di sekitar ðŸĪĢ

That's why, terlalu jarangnya gue berbicara, gue sampai membuat blog ini biar orang-orang bisa tau apa yang gue lakukan atau pikirkan 😁 Apa gue nggak punya teman? Hm, kalau soal teman, gue punya banyak teman dan gue berhubungan dengan banyak orang from partners to clients, sampai keluarga plus sohibal-sohibul yang jumlahnya bisa memenuhi stadion bola 😂

Intinya, gue jarang bicara bukan berarti gue anti sosial, gue hanya nggak berinteraksi saja dan untungnya orang-orang di sekitar gue sudah tau karakter gue, jadi mereka nggak menuntut gue untuk berubah (atau sudah menyerah?) ðŸĪŠðŸ˜‚✌ Albeit karena karakter gue ini pula, hidup gue kadang susah. Contoh, gue lebih memilih nggak minum selama di pesawat biar gue nggak perlu buang air kecil karena kalau gue harus buang air kecil, means gue akan bilang, 'permisi' ke orang yang duduk di sebelah dan untuk mengucapkan kata 'permisi' itu buat gue nggak mudah 😑

Padahal, dulu saat remaja dan awal 20 tahunan, gue termasuk anak yang aktif berinteraksi dan berbicara. Sangat mudah untuk mengobrol dengan orang yang nggak gue kenal. Tapi nggak tau kenapa, semakin bertambah umur, gue jadi semakin tertutup karakternya 😅 Gue sampai pada tahap harus berpikir ribuan kali sebelum berbicara dan menanggapi curhatan, alhasil beginilah gue sekarang 😁 People do change yah, apa ini hanya gue doang yang berlebihan? 😂

🐰🐰🐰

By the way, back to topic, saat penerbangan ke Hong Kong, gue punya pengalaman berkesan di pesawat. Waktu itu gue ke Hong Kong sendirian karena si kesayangan berangkat dari Korea ~ Di perjalanan, gue duduk di sebelah bapak bule tua usia 50'an yang mana bapak tersebut duduk di kursi tengah sedangkan gue duduk di dekat jendela 😎 Dari awal, gue sudah merasa nggak enak karena gue perlu bilang 'excuse me', dan bapak itu berdiri dengan wajah masam 😅

Gue deg-degan dan berpikir bagaimana nasib gue 5 jam ke depan kalau harus duduk di samping bapak itu yang nggak ada senyum-senyumnya ðŸĪŠ Jujur gue tegang gaes hahaha, gue nggak bisa berkutik selama di penerbangan karena takut kalau gue gerak, bapak itu akan marah sebab gue ganggu ketenangannya. Sumpah, itu salah satu penerbangan paling menegangkan dalam hidup gue dengan semua bayangan buruk soal si bapak 😂 Gue pun sempat menggerutu (dalam hati cencunya) sepanjang perjalanan hingga akhirnya, 2 jam sebelum landing, bapak itu berkata...

"Do you have a pen?"

AHAAAAA! Beliau mau pinjam pena untuk mengisi arrival card, dan dengan takut gue menjawab, "Yes. I have." lalu gue ambil pena di dalam tas ðŸĪĢ Padahal arrival card gue belum gue isi karena takut berisik waktu ambil pena yang gue taruh di tas (iya, segitu takutnya!) 😅 Gue berikan pena gue dan bapak itu mulai mengisi arrival card yang beliau punya ~ Selang beberapa menit, bapak itu mengembalikan pena gue kemudian bertanya, "Go alone to Hong Kong? Holiday?"

Gue mengangguk masih dengan rasa takut karena mukanya seriously nggak ada senyumnya ðŸĪŠ "Yes alone, I will meet my man in Hong Kong. His flight is from Korea." -- dan bapak itu respon, "I wish you have a good time in Hong Kong." yang gue jawab dengan senyum sok manis gue meski kawatir dikira gila karena senyumnya terpaksa 😂 Setelah itu, karena gue merasa nggak sopan kalau cuma jawab pertanyaan, gue pun balik bertanya, "How about you?" jiakh, maafkan english gue yang mendadak tiarap karena cuma bisa bertanya demikian ðŸĪĢ

Dan jawaban si bapak, "I go home, because my wife called me. My kid is sick and now in hospital. Bla bla bla." Bapak itu cerita cukup panjang yang intinya beliau kaget karena istrinya mendadak telepon dan memintanya untuk segera pulang ke negaranya padahal beliau masih ada urusan di Indonesia. Alhasil beliau langsung cari tiket pesawat dan berangkat tanpa tukar pakaian. Pantas baju yang dipakai masih kemeja dan celana kain hitam, plus saat gue lihat sepatunya juga bukan tipe sepatu yang nyaman untuk digunakan saat penerbangan 😕

Gue yang tadinya berpikiran buruk sama bapak itu bahkan sempat menggerutu dalam hati, jadi merasa bersalah. Karena terlalu mudah judge bapak itu hanya dari wajahnya yang masam dan suram 😔 Padahal yang gue nggak tau, wajah beliau bisa sebegitu masam dan suramnya karena beliau lelah harus buru-buru mencari tiket pesawat dan berangkat ke bandara tanpa ada waktu untuk istirahat dan siap-siap ~ Dan yang nggak pernah gue tau, wajah beliau masam dan suram karena ternyata beliau sedih dan punya pikiran berat soal kesehatan anaknya 😖

Dari perjalanan ke Hong Kong, gue belajar lagi soal pentingnya nggak menilai seseorang dengan mudah karena apa yang gue lihat belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan seseorang. Seperti kata mas Agus di kolom komentar post Walk Around Central, "Bisa jadi.. orang yang terlihat bahagia jalan kaki, ternyata lagi pusing memikirkan keluarga dan kebutuhannya." -- dan seperti yang om Paulo Coelho bilang, "We can never judge the lives of others, because each person knows only their own pain and renunciation." 😊

Gue memang agak susah berinteraksi dan berbicara, dan kadang nggak bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitar ~ Tapi dari setiap perjalanan, gue diingatkan untuk lebih peka dan nggak asal menilai seseorang. Dan, untuk lebih rajin interaksi karena dari interaksi itu, ada banyak ilmu yang bisa gue dapat atau minimal, ada kehangatan yang bisa gue rasakan 😆💕

Tapi genks, jangan berharap banyak ya 😝ðŸĪĢ✌💕

38 comments:

  1. Wah sebetulnya sy juga introvert lo mbak.. Smaa kaya tulisan sy di blog ini "comfort zone ".kalo ketemu orang baru atau berada dilingkungan yg cukup ramai kayak pesta ato kumpulan apa gitu saya ga nyaman aja, gak tau kenapa, susah bangeet buat ngilanginnya, alhasil sy lbh banyak dirumah krna yg ibu rumh tangga murni, kalopun keluar kalo ada perlu aja, temen sy juga ga banyak, tapi sy ga sombong sih, hanya susah aja buat memulai percakapan dengan orang baru, apalagi sama"diem,duh rasanya saya pingin kabur ajaa, di blog aja saya baru bisa leluasa karena hanya tulisan, kalo ketemu langsung mah blom tentu, waah jadi curhat saya 😁, kadang kita salah menilai orang, termasuk si bapak yg wajahnya masam itu, pdhal dia lagi banyak fikiran yaa... Tapi saya pernah baca tulisan, orang yg introvert itu biasanya lebih memahami perasaan orang lain, tpi ga tau juga sih :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya sebenarnya masih bisa have fun semisal pergi ke lingkungan ramai atau ketemu banyak teman, cuma ada time limitnya 😂 biasa 2 jam saya sudah merasa exhausted, alhasil saya lebih sering semisal ingin ketemu teman di jam-jam makan biar sekalian makan dan nggak memakai waktu lama 😎

      Dan saya juga sering ketemu orang baru, hanya saja saya ini nggak jago basa basi alhasil lebih banyak diam dan menjawab seperlunya ~ lucky me, mostly orang baru yang saya temukan itu related to pekerjaan jadi pembicaraan nggak jauh dari urusan kerja, that's the time saya menggunakan 90% suara saya untuk bicara 😅

      Memang akan susah kalau se-introvert mba, pasti akan berat ya mba. Karena yang saya rasakan pun sebenarnya menyusahkan saya kadang 😂 however, it's okay mba, just do yang membuat mba nyaman 😍

      Saya rasa kalau ada tulisan yang bilang orang introvert itu lebih memahami perasaan orang lain, mungkin karena orang introvert juga agak perasa jadi secara langsung bisa memahami perasaan orang sekitar. Tapi kadang, terlalu perasanya jadi overthinking juga ahahaha 😎 CMIIW ~

      Delete
  2. Pada akhirnya, sesibuk dan seindividualnya sebuah kota dan masyarakatnya, akan tetap hidup jika kita berkomunikasi secara langsung antara kita dengan yang lain ya Mba?

    Kalau di desa mah, papasan sama orang terus nggak tanya atau menyapa dianggap sombong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, karena manusia adalah makhluk sosial jadi dibutuhkan komunikasi dan interaksi di dalamnya ~ cuma mungkin semakin bertambah usia, interaksi tersebut tersortir dengan sendirinya sesuai kadar prioritas 😁

      Delete
  3. Sepakat, Mbak. Kita nggak bisa menilai orang dari permukaannya saja. Sekali waktu, saya pernah menginap di hostel kecil di Khao San Road. Ada seorang pejalan yang selama beberapa hari di kamar saja. Mukanya murung. Pas malam terakhir di sana, pas ngobrol, barulah dia cerita kalau dia mau pulang setelah mengembara hampir satu tahun. Mukanya ternyata murung karena lagi mellow. Susah baginya buat pulang setelah melanglang lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh bisa kebayang perasaannya, pasti sedih banget harus pulang setelah mengembara 1 tahun lamanya ~ karena biasanya, orang-orang yang sudah mengembara terlalu lama, akan susah untuk stay di satu tempat saja 😎

      Kalau kata simbah, gatal kakinya mau jalan 😂

      Delete
  4. Kadang aku sebenarnya tidak terlalu ngerti kalo mbak Eno posting sambil diselipi bahasa Inggris, karena memang bahasa Inggris aku tuh tiarap, paling bisanya yes no gitu aja.ðŸĪĢ

    Memang sih ada google translate, tapi kan artikel mbak Eno ngga bisa dicopas jadinya ya paling manggut manggut saja kalo ada bahasa Inggrisnya.😂

    Memang sih jangan menilai buku dari sampulnya, bisa saja dia mukanya galak seperti preman tapi hatinya baik, bisa juga mukanya masam bukan karena dia suka cemberut tapi lagi ada masalah di hatinya.

    Tetap semangat ya mbak, dan juga jaga kesehatan karena kabarnya di Korea Selatan keadaan makin mengkhawatirkan.ðŸ˜ą

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aahahaha, maaf ya mas kalau tulisan saya kadang terselip bahasa Inggris 😁 semisal mas ada dua handphone bisa pakai google translate yang camera, jadi itu akan translate bahasa Inggris dalam sebuah gambar dan nggak perlu mengetik atau copas 😆👌

      Siap mas, semoga di Indonesia juga aman 😁 saya kebetulan lagi nggak di Korea sekarang mas, sedang di negara lain hehehe. Terima kasih mas, semangat~!

      Delete
  5. Pengalaman pengalaman kecil terkadang memiliki konstribusi besar pada keseluruhan hidup kita.

    Yang penting tetap seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, setiap pengalaman membentuk lapisan baru dalam hidup kita. Karena pengalaman adalah guru terbesar 😊

      Delete
  6. Mbaaa, saya juga merasa bahwa semakin bertambah umur, makin anteng dan pendiam.

    Kadang di manapun apalagi di perjalanan kalau ada yang ngajak ngobrol saya seneng. Meski cuma obrolan sederhana dan sebentar aja. Mungkin karena kita makhluk sosial kali ya, hehehe.

    Dulu pas di Jepang saya sering banget diajakin ngobrol sama orang yg ga dikenal. Menyenangkan sih. Tapi kalau hal ini terjadi di negeri sendiri kok kadang saya takut ya, misal dihipnotis gitu. Hahaha, takut kejadian yang serem2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya karena energi kita semakin habis ya, mba? 😂

      Iya, saya itu nggak pandai membuka obrolan ke orang yang bukan di dunia pekerjaan. Jadi kadang kesulitan dan lebih memilih diam. Nah, tapi kalau sudah diajak bicara duluan ya senang juga berbincang-bincang 😁

      Ahahaha, jadi parno kah mba? Semoga mba selalu ketemu dengan orang-orang baik ya, meski itu adalah yang nggak dikenal atau ketemu di jalan. Yang terpenting tetap selalu waspada 😊💕

      Delete
  7. Mbaaa, kita samaan banget deh. Aku tuh juga agak males basa basi dengan orang lain, makanya kalo diajak reunian gitu mendadak panik karena ya itu... males ditanya-tanya atau sebaliknya 😅 Lebih nyaman ngumpul dengan beberapa orang dekat jadi sharing-nya pun lebih ngalir.

    Tapi aku tau nggak boleh terlalu menutup diri. That's why dulu aku nekad ngelamar kerja jadi barista kafe dan selama bekerja aku belajar interaksi dengan orang-orang asing. Seru juga sih dengar cerita sambil aku bikinkan kopi pesanan mereka. Dari situ aku ngeh, ternyata dunia tuh luas banget. Terkadang kalo lagi ada masalah pribadi, mendadak merasa masalahku sepele banget dibandingkan apa yang aku dengar dari orang lain. Intinya, belajar bersyukur aja sih ya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun nggak ikut reunian akbar mba, yang satu sekolah itu ahahaha. Tapi kalau kumpul sama teman baik dari kecil masih saya lakukan kadang disaat bisa, walau dengan bertambahnya umur cencu intensitas pertemuan berkurang 😁 memang tinggal bagaimana kitanya saja, cari prioritas terbaik untuk hidup kita 😆

      Nah, kalau soal menutup diri, saya mungkin lebih ke menjaga privacy dan betul-betul memilah isi percakapan dengan baik. That's why saya tetap aktif berkomunikasi dan berinteraksi meski 90% itu di area kerja saya sendiri hihihi, sama seperti mba yang memutuskan kerja jadi barista cafe agar bisa berinteraksi dengan orang lain, saya pun prefer berinteraksi dalam ranah kerja karena base percakapannya lebih membuat saya nyaman dengan diri pribadi 😁

      Dan setuju sama mba, yuk kita terus bersyukur atas jalan hidup yang kita punya. SEMANGAT!! 😍

      Delete
  8. Aku kalau di pesawat juga gitu, Mbak. Termasuk malas pakai tioliet pesawat meskipun di sampingku orang yang aku kenal, malas banget pas sampai di pintu toilet eh ada yang sudah antri.

    Aslinya aku kurleb sama sama, Mbak. Jarang bicara, cuma kalau sama yang udah kenal dan nemu topik okay ya nyerocos juga, hahaha.

    Kalau di satu ruang tunggu misalnya, aku selalu dinasehatin buat buka percakapan dengan orang asing cuman aku seringnya pasif, baru buka suara kalau ada yang mulai. Bukan takut atau malu, tapi malas, hahaha. Ini penyakit sih harus dibasmi :D

    Betul adanya tentang apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan yang kita pikirkan. Preasumption itu bahaya, kayanya ini tulisan Mbak sendiri saat lalu, ya? Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha, kadang kalau antri harus berdiri dulu dekat toilet sambil menunggu orang yang di dalam toilet ke luar. Lalu beberapa orang yang duduk di seat depan pun kadang melihat apa yang kita lakukan sambil mengantri di depan mereka 😁 itu yang saya perhatikan ~

      Saya sepertinya memang pasif speaker mba, karena even though berbincang dengan orang yang saya kenal, saya tipe yang lebih sering mendengarkan. Jadi teman atau keluarga bisa bicara 100 kata, nanti saya respon 5 kata. Dan begitu seterusnya 😅

      Saya seriously nggak pernah buka obrolan dengan orang asing especially di bandara. Mungkin karena saya sibuk sendiri dengan team saya atau pasangan dan keluarga saya misalnya, dan bisa jadi juga karena saya malas ahahahaha 😂

      Iya mba, saya pernah menulis soal asumsi dan sampai sekarang ini masih belajar lagi dan lagi untuk mengendalikan diri agar nggak mudah mengambil kesimpulan sendiri. Semoga saya bisa menjadi lebih baik 😆

      Delete
    2. Sebenarnya kemampuan mendengar itu lebih penting dari berbicara, karena dari mendengar kita bisa develop empathy.

      Aku saja melatih Zafa buat latihan mendengarkan, lho. Karena dia cenderung nyerocos gitu :D

      Delete
    3. Hihihi, Zafa pintar speaking ya mba. Anak kecil kalau lagi 'nyerocos' terus pasti lucu, apalagi kalau baru paham kata-kata baru 😁 semoga kemampuan mendengarkan Zafa juga akan terasah dan Zafa bisa jadi pendengar yang baik 😍

      Delete
  9. Baca paragraf 2,3,4 berasa kayak relate banget sama aku mbak wkwkwk. Apalagi bagian pesawat, ku juga selalu request buat di samping jendela, tapi misalnya kalo kebelet suka ga enak ama yang lain, dan mikir buat bilang permisi itu bisa ngabisin banyak waktu.
    Beda tipis sih sebenernya antara males ngomong atau gak enakan.
    Tapi sekarang sebenernya juga masih sama sih kelakuanku, ngomong juga sepatah2 dan seperlunya. Gak mendukung pekerjaan ku sbg pengajar di universitas. Gak bisa basa basi, jadinya ya gitu. Krik krik wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHA untung bukan saya doang yang begitu ya mas, saya kira saya ini aneh karena susah banget bilang 'permisi' ke orang yang duduk di samping 😂

      Saya juga heran, saya ini malas atau memang nggak enakan. Tapi sepertinya lebih ke arah malas, karena meski yang duduk di samping saya itu orang yang saya kenal, saya tetap nggak mau pergi ke toilet dan lebih memilih nggak minum saja sampai nanti tiba di bandara 😅

      By the way, beberapa kenalan saya yang notabene pengajar di universitas dan sekolah pun banyak yang bicaranya hanya sepatah dua patah kata mas. Bukan tipe yang aktif tapi seenggaknya, dari yang saya lihat, mereka tetap berusaha mengajar dengan baik sesuai skill mereka masing-masing. Dan saya yakin mas Rahmat pun demikian 😁

      Delete
  10. Hahahaha, karena saya dalam dunia nyata adalah sosok yang pendiam, pemalu, nggak enakan, selalu mengalah, selalu sedekah kuping hanya karena nggak enakan, sementara kalau di blog atau di manapun tulisan saya (terkesan) blak-blakan.

    Jadi, sejak awal saya ke sini dan membaca hampir semua tulisan di blog ini, saya bisa menilai dengan jelas, kalau pemilik blog ini seseorang yang tertutup.

    Tapi memang kebanyakan penulis atau blogger atau siapapun yang suka menulis, kebanyakan sifatnya pendiam, tertutup.
    Makanya mereka menulis, karena sulit untuk mengungkapkan maksudnya.

    Entah memang nggak ada tempat membuka pembicaraan (itu sayaahh! hahahaha), atau memang nggak nyaman karena nggak terbiasa atau memang udah karakternya :D

    Bukan cuman aslinya pendiam, tapi sebenarnya saya itu pemalu.
    Saya melawan malu itu dengan berani majang foto di mana-mana, meski jujur saya geli sendiri kadang kalau liat foto sendiri bahahahahahaa.

    Btw juga.. suka banget kisahnya.
    Mengingatkan saya juga nih untuk lebih peka.
    Kadang saya kesal liat orang berwajah bete, padahal belum tentu dia nggak asyik, cuman saja dia sedang banyak pikiran.

    Tidak menjudge orang dari kesan dan penglihatan pertama kita memang yang terbijak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh baru dengar istilah sedekah kuping nih saya 😂

      Saya pun sepertinya lebih blak-blakan saat menulis mungkin karena energi yang digunakan juga nggak sebanyak saat berbicara langsung dengan orang lain. Entah kenapa saya suka cape kalau kebanyakan bicara, jadi exhausted sendiri 😅

      Idenya menarik juga mba, melawan malu dengan memajang foto mba di mana-mana 😆 jadi sekarang sudah nggak malu lagi kah mba? Ehehehe.

      Setuju mba, kita memang seharusnya bisa lebih peka terhadap sekitar dan belajar untuk nggak asumsi sendiri hanya karena melihat raut muka seseorang yang bahkan nggak kita kenal 😅 even itu orang yang kita kenal sekalipun, sebaiknya juga nggak asal asumsi karena takutnya salah. Semangat terus untuk kita belajar lagi dan lagi ya, mbaaa 😍💕

      Delete
    2. hahahaha sedekah kuping :D
      Iyaaa, jujur di dalam real life, saya nggak pernah punya kesempatan curhat dengan puas, enggak kayak nulis gitu, rasanya bebaaassssss, semacam semua orang diam mendengarkan keluh kesah saya.

      Dalam dunia nyata, kebanyakan teman, keluarga semua hanya minta didengarkan, dan kekurangan saya sulit berkata tidak menjadikan saya suka sedekah kuping alias mendengarkan keluhan orang.

      Suami sebenarnya tipe orang yang diam mendengarkan keluah kesah saya, tapi terlalu diam, sampai kek curhat ama tembok hahaha.

      Satu-satunya tempat curhat yang enak ya psikolog, tapi stres juga kalau keseringan entar bangkrut :D

      Makanya saya suka menulis, rasanya bebaaaasss, semua orang bisa diam sejenak mendengarkan saya hahaha

      Iyaaa, ternyata lama-kelamaan saya bisa beradaptasi.
      Saya jadi berani pose meski banyak orang, meski mukanya jadi kek orang nahan mau ke belakang hahaha.

      Yang paling keliatan progresnya itu video.
      Dulu, bahkan dengar suara sendiri saja saya mual rasanya, sekarang udah lebih berani lah ambil project video di IG :D

      Btw, saya mau mengucapkan selamaaattt dan terimakasih udah menuliskan label moonlight itu, sumpah yeee.. dari semua topik yang menarik dari kancah perblog an.
      Topik relationship in real life itu amat sangat menarik buat saya.

      Bukan untuk membandingkan sih, tapi semacam pengingat agar saya bersyukur dengan hal-hal remeh yang dilakukan pasangan saya.

      Perlahan bisa jadi healing buat saya, untuk lebih menerima pasangan, berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa saya ubah dari pasangan.

      Ya karena kisah-kisah relationship dari pasangan lain, baik manis maupun pahit, rasanya tuh semacam healing banget buat saya menumbuhka rasa cinta ke pasangan.

      Ah ditungguh selalu postingan label Moonlight nya ya.
      Kayaknya bakal jadi label terfavorit pertama deh di blog ini, setelahnya ada Thoughts dan lainnya :D

      Ah ga sabar menanti ksiah selanjutnya :D

      Delete
    3. Memang susah ya mba untuk berkata 'tidak' 😂

      Saya sering menghadapi case kesulitan berkata 'tidak' dulunya, tapi sekarang semakin tambah umur, semakin selfish sepertinya jadi belajar bilang 'tidak' kalau memang bukan prioritas saya 😁 itupun harus deg-degan dulu karena nggak enak, tapi tetap saya paksakan diri saya demi kebaikan bersama 😎

      Dan sejujurnya, menulis itu betulan bisa jadi healing karena kita bisa mengekspresikan apa yang kita rasa. Saya pun kalau sedang marah, senang, dan lainnya, pasti berusaha untuk mengekspresikan perasaan tersebut ke dalam tulisan agar lebih plonggg setelahnya ðŸĪĢ cuma in the end, yang terpublish yang bagus bagus saja, dan yang isinya amarah hanya berlabuh di draft atau di tong sampah ðŸĪŠ

      Eniho, foto-foto mba bagus kooook nggak terlihat awkward, mungkin karena sudah terbiasa pose ya mba sekarang 😆 saya pribadi juga nggak terbiasa di depan camera, kalau pun ada foto saya itu biasanya candid. Karena saya nggak merasa diri saya photogenic hahaha. Alhasil, saya jarang punya foto personal. Tapi biar begini, sometimes saya doing selca (selfie juga) sama pasangan, buat kenang-kenangan meski mungkin koleksinya nggak sebanyak pasangan lainnya ðŸĪĢ

      Wah mba sampai komen di post ini soal moonlight karena saya tutup komennya di post itu ya? Hahaha 😂 kemarin sempat bingung mau buka atau tutup saja, tapi saya decided untuk buka sekarang. Thank you so much mba Rey atas apresiasinya, semoga post-post di label moonlight bisa menemani hari-hari mba ke depan *ecieeh* ðŸĪĢ

      Saya pun akan menunggu kisah-kisah mba di label relationship yang selalu saya suka karena bisa belajar banyak juga di sana 😍 once again, thank you mba~

      Delete
  11. ibaratnya sama aja kayak "don't expect too much".

    kak, awkwardnya kak creameno saat di pesawat persis kayak aku kalau lagi terjebak karena hal gak terduga. Aku pun termasuk introvert, dan paling susah sama yang namanya "ajak ngobrol duluan", sama saudara (misal sepupu, keponakan) aja masih bingung mau membuka awal percakapan yang bagaimana.

    Tapi memang iya sih, kita hanya bisa menerka dan tanpa menilai seseorang siapapun itu hanya dari mimik muka beberapa saat saja, karena manusia punya persona masing2 untuk mengcover perasaan. /// teori dari mana

    btw kak creameno ini menetap di korea kah? dan cerita yang menarik kak, aku tunggu cerita cerita berikutnya! :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, we should not expect too much 😊

      Hehehe, mungkin karena semakin kita bertambah usia, kita semakin berhati-hati dalam berbicara dan lebih menjaga tutur kata kita. Lantas kita ended up hanya berbicara apabila itu penting untuk dibicarakan 😁

      Memang seharusnya kita nggak boleh gampang menilai seseorang ya mba Reka ~ semoga kita bisa lebih banyak belajar dalam mengontrol pikiran kita 😆

      Saya pulang pergi Indonesia Korea diselingi dengan kunjungan ke beberapa negara lainnya mba. Jadi dibilang menetap ya nggak, tapi dibilang cuma liburan pun nggak karena lumayan sering ke Koreanya 😎

      Terima kasih, semoga kita bisa terus menulis ya 😍🙌

      Delete
  12. Lhak kok sama ya, gimana ya, kadang tuh aku orangnya terlalu mikirr banget...ke orang lain, maksudnya jand sampe aku berbuat nyebelin ke orang, makanya aku klo berinteraksi ama orang tu atiiii ati bener, bahkan kadang mending lebih baik ga usah diajak ngobrol sekalian aja deh kalau sedang duduk jejeran ma orang asing...

    Maybe karena saking kikuknya, susah berbasa basi sih aslinya akutuh ahahahha, apalagi sama orang yang bertemu untuk for the first time

    Aku milih diem, ga banyak pecicilan atau sesuatu yang bikin orang akhirnya kepo tanya tanya wakkaka, makanya kadang aku ngerasa klo di dunia real aku flat banget, jarang bisa basa basi atau ngobrol panjang....kurang luwes sih huhuhu

    Dari situ aku juga akhirnya aku bikin blog, supaya bisa nyalurin kebutuhan 2000 kata per harinya, supaya plong aja akan pemikiran dan uneg2 sendiri yang biasanya terpendam tanpa bisa disuarakan

    Dan yes...perkara nggak gampang menilai seseorang sebelum tau personality aslinya kayak apa, background dia dsb itu bener banget...setuju ma kata2 kuotenya paulo coelho, tiap orang punya every painnya sendiri yang menjadikan dia akhirnya bersikap seperti yang ditunjukkan pada tampilan luarnya....jadi ga gampang ngejudge adalah penting adanya. Minimal kalau ga sreg ama seseorang lebih baik ga usah diungkapkan yekan, soalnya kita ga tau seberapa sulit dia bergelut dengan hidupnya sampai akhirnya kadang seseorang bisa tampak begitu penuh dengan berbagai aura yang kurang segembira orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, saya juga selalu berharap nggak ada orang asing yang ajak saya bicara karena saya kawatir takut salah 😂 terus kalau baru pertama kali ketemu orang, sering salah tingkah. Herannya ini nggak kejadian kalau di dunia kerja, meski baru pertama kali, langsung bisa profesional. Mungkin ini perkara mindset juga, saya selalu nggak nyaman kalau ditanya-tanya hal personal ðŸĪŠ

      Senang ternyata banyak teman yang merasakan hal yang sama, awalnya saya pikir saya aneh karena sebegitunya. Tapi sekarang mulai menerima kalau karakter saya memang demikian 😁 that's why saya senang menulis, bisa menyalurkan apa yang ada di kepala dan saat membalas komentar pun bisa berpikir dulu dan menyusun kata semaksimal yang saya bisa agar nggak salah 😆

      Betul mba, kadang kita nggak tau alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang berlaku atau bersikap ~ semua pasti punya masalah, cuma berbeda-beda jenis dan kadarnya. Jadi sebisa mungkin kita harus jaga bicara kita dan saya pun berusaha untuk nggak mudah berpikiran aneh soal seseorang. Jujur waktu itu saya cuma parno takut kena marah 😎

      Delete
  13. iya sih ya, kadang kesan pertama suka menipu mata kita. ga tau nya kan, wew ya....
    btw, saya dulu itu extrovert parah. sampai kadang ngerasa kaya udah ilang malah urat malu saya, hihihi.

    tapi sekarang, sejak hamil dan hamil lagi anak kedua dan membesarkan mereka dengan susah payah, keringat bercucuran dan derai air mata mengalir karena sulitnya punya waktu me time selama 6 tahun, malah bikin saya jadi ambivert dengan persentase 70% introvert.

    sebel sih sama diri sendiri, kok jadi kaya gini. apa karena langkanya bersosialisasi? apa karena udah gak pernah ketemu temen satu geng lagi yang bahkan acara reunian aja gak pernah ikut sekalipun??

    nyaman gak? kadang butuh sih jadi ambivert, soalnya sekarang saya gaulnya sama emak-emak sekolahan anak saya yang kadang saya suka ga nyaman kalo udah pada ghibah berjamaah. yah mending milih mundur alon-alon lalu duduk dipojokan sambil nonton video donlotan drakor terbaru. tapi kalo giliran diajok mamam baso atau botram sih, saya hayu hayu ajah, urusan perut mah penting! hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kadang kita menilai seseorang terlalu mudah, padahal belum tentu penilaian kita benar 🙈 hehehehe.

      Sepertinya dengan bertambahnya usia kita, kita jadi semakin tertutup yah, saya pun dulunya extrovert hehehe dan lebih suka mencari energi dari berkumpul dengan teman-teman 😂 tapi sekarang kalau mau cari energi sukanya tidur seharian hahahahaha ðŸĪĢ

      Mungkin karena mba Eka sudah jadi ambivert, ada baiknya sekarang lebih menerima instead of merasa kesal dengan diri sendiri 😆 menurut saya, diri mba selama 6 tahun membesarkan anak itu sangat cool, jadi jangan kesal ke diri sendiri yah mba, kasian kalau diri sendiri dikesali terus-terusan 🙈 hehehehe. Dan bisa jadi, perubahan terjadi karena frekuensi hidup dan tujuan hidup mba sudah berbeda, which is bisa jadi lebih fokus pada keluarga 😍

      By the way, saya juga suka bangettt kalau diajak mamam bakso, hahahaha saat lapar bisa minta bakso 2 mangkok ðŸĪĢ

      Delete
  14. kalo menurutku sih, kak Eno nih asik lho orangnya,di blog aja asik, apalagi kalo ketemu, palingan aku yg kebanyakan nggak asiknya, wkwk..

    duh, so sad denger cerita bapak-bapak bule itu, dankalo aku jadi kak Eno, mungkin akan bertingkah yang sama. dan diakhir cerita juga bakal diem aja, nggak nanya balik lagi, haha..

    aku juga jadi inget bapak di rumah deh kak, sebagai pemilik wajah seram, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha saya tipe yang lebih sering dengar, mba. For some people mungkin asik, tapi bisa jadi untuk yang lainnya kurang asiiiik hihi ðŸĪĢ And no worries, saya yakin mba Rizky nggak kalah asiiiik 😍

      Naaah kan, ternyata bukan saya yang berlebihan 😂 Bapaknya terlalu seram, makanya saya kawatir duduk di samping dia. Tapi ternyata setelah mengobrol sebentar jadi tau kalau bapak itu ramah, hanya wajahnya saja yang terlalu 'keras' 😆

      Mungkin feelnya seperti bapaknya mba Rizky, yang meskipun berwajah seram namun hatinya hangat sekali 😍💕

      Delete
  15. wow in real life kak Eno malah jarang ngomong?? Padahal dari tulisan kakak sepertinya sering kasih nasihat dan celoteh yang bikin wawasan terbuka gitu. Tapi aku berasumsi kak Eno ini tipe orang yang bisa curahin isi kepala pakai tulisan bukan pakai mulut karena aku pun begitu hahah Tipe yang ga bisa kalau ditelpon, pengennya dichat aja...Kalo di telpon bakal diem gtw mau ngomong apa hehehe

    Pas baca cerita bapak bule, aku bayanginnya si bapak bertubuh gempal dengan muka judes kaya pamannya Harry Potter 😂😂😂 Tapi ternyata di balik itu dia lagi stress kepikiran anak istri di rumah yaa huhuhu
    emang pepatah don't judge book by its cover tuh berlaku yaa

    btw, aku juga sama kaya kak Eno. Kalau blg 'excuse me' ke orang di sebelah itu rasanya "aaaargggh" lebih baik kaga usa ngomong. Tapi aku ga pernah sih duduk sendirian di kursi pesawat, pasti sebelahku ada orang yang aku kenal hehehe dan ga sampe perjalanan panjang yang harus nahan pipis demi ga bilang excuse me juga hehehe

    Thanks for your sharing ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jarang bicara yang haha hihi mba, lebih sering jadi pendengar 😂 Tapi kalau bicara pekerjaan, atau bicara bisnis, etc, ya bisa panjang kali lebarrrr hehehe. Jadi tergantung topik sebenarnya 🙈

      Nah soal curahkan isi hati, saya prefer pakai tulisan agar bisa disusun dengan jelas. Sebab kalau pakai mulut biasanya jadi berputar-putar dan nggak tau duduk masalahnya di mana ðŸĪĢ Ini pernah saya bahas di salah satu post hanya saja saya lupa post yang mana 😅 Eeee tapi, saya justru suka di telepon daripada chat, mba hahahaha. Sebab kalau telepon gampang tek toknya, jelas intonasinya, dan bisa cut lebih cepat, jadi to the point pembahasannya 😁

      Wahahahaha, mba Frisca imajinasinya sampai ke Harry Potter cobaaak 😆 Iya mba, salah banget deh waktu itu saya mengira bapaknya judes, padahal bapak itu mukanya ketekuk karena stres dan pusing memikirkan anaknya. Dia pulang buru-buru, cari tiket go-show means anaknya sakit parah sepertinya mba ðŸĪ§

      Mbaaa kita sama dooong hahaha, malas ya, entah kenapa ðŸĪĢ Kalau bisa nggak usah bicara jika nggak penting-penting amat 🙄 Too bad, saya sering bepergian naik pesawat sendirian, jadi duduk sebelahan sama stranger sudah biasa 😄 Cuma yaituuuu permasalahannya, kalau judes jadi serba salah saya ðŸĪŠ

      Delete
  16. Ternyataaa si bapak Krn mikirin anaknya ya mbaaa . Walo udah telaaat banget, tapi aku berharap anaknya baik2 aja saat dia bisa nemuin :).

    Agak kocak baca yg mba sampe segitu takutnya mau bilang permisi wkwkwkwkwkw. Eh ada sedikiiit kesamaan ttg kebiasaan kita yg sebisa mungkin ga mau banyak minum di pesawat :p

    Aku jg gitu. Tapiiii bukan Krn aku ga enakan mau bilang permisi ke orang sebelah, melainkan Krn aku super ga PD jalan di aisle pesawat menuju toilet. Berasa semua orang melihat dan berfikir, "gilaaa berantakan bgt tuh cewe, mentang2 penerbangan panjang, muka kok kilang minyak bener" dan berbagaaaaaai pikiran jelek lainnya. Padahal aku juga tau itu orang2 ga mungkin jg merhatiin penumpang mau ke toilet hahahahahah. Dasar akunya yg selalu insecure kalo ditempat yg rame orang.

    Alasan kedua, kenapa aku ga mau terlalu banyak minum, padahal aslinya aku onta bangetttt, Krn aku suka jijik Ama toilet di kendaraan umum mba. So far aku cm tenang kalo masuk toilet di maskapai Jepang ato Shinkansen dan segala macam transportasi umum di Jepang :D. Krn aku tau pasti bersih tanpa bau hahahahha. Tapi utk lainnya, duuuh, sebisa mungkin aku tahan dulu deh :p. Makanya mending minum sesedikit mungkin kalo udh di transportasi umum gitu. Ntr aja minumnya pas udh sampe hotel ato tujuan :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin mba Fanny, saya pun berharap hal yang sama 💕

      Iyaaa saya takut bilang permisi karena wajah bapaknya nggak enak banget, kayak bersiap mau marah. Hehe, makanya saya was-was ðŸĪĢ

      Wuahahaha mba Fanny imajinasinya liar jugaaaa, sampai berpikir jauh ke sana. But I know dan bisa bayangkan bagaimana parnonya mba. Saya pribadi selain malas bilang permisi, alasan lainnya serupa dengan mba, nggak begitu suka pakai fasilitas toilet umum, takut kena jackpot melihat sesuatu yang nggak seharusnya saya lihat 😂

      Kawatir habis lihat itu, mood saya jadi berantakan. That's why selagi bisa ditahan better saya tahan, hahahaha daripada rusak hari saya ðŸĪŠ Eniho, Jepang untuk urusan publik sangat bersih ya 😍

      Delete
  17. From your story I also get a little insight about how life taught us. Thanks to you to share your experience so I can learn from it as well :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. My pleasure mba Intan 😍💕

      Delete