Life Taught Me | CREAMENO

Pages

Life Taught Me


Di post gue sebelumnya, Walk Around Central, gue bercerita soal pertemuan (secara nggak sengaja) dengan seorang mba bule yang membuat gue banyak belajar soal kehidupan 😬 dan ternyata, post tersebut cukup menarik banyak perhatian teman-teman gue yang penasaran, apakah gue punya pengalaman seru lain yang bisa gue ceritakan. Karena menurut mereka yang tau banget karakter gue seperti apa, susah untuk gue bisa dengan mudah terbuka 🀣

Gue ini memang orangnya agak tertutup gaes, bukan agak lagi sih sebenarnya tapi super sangat tertutup πŸ˜… jadi gue in real life pun nggak sering mengobrol dengan orang kalau nggak penting-penting bangats. Bahkan, bisa dibilang, 90% percakapan harian gue itu hanya soal pekerjaan. Sisanya 10% nggak jauh dari menanggapi curhatan sahabat maupun menjawab pertanyaan orang-orang di sekitar 🀣

That's why, terlalu jarangnya gue berbicara, gue bahkan sampai membuat blog ini biar orang-orang di sekitar gue bisa tau apa saja yang gue lakukan atau pikirkan 😁✌ Apa gue nggak punya teman? Hmmmm, kalau soal teman, gue punya banyak teman dan gue berhubungan dengan banyak orang dari mulai partners dan clients, sampai ke keluarga gue yang terbilang besar plus sohibal-sohibul yang jumlahnya bisa memenuhi stadion sepak bola (lebay, ya!) πŸ˜‚

Intinya, gue jarang bicara bukan berarti gue anti sosial, gue hanya nggak mudah berinteraksi saja dan untungnya orang-orang di sekitar gue sudah tau karakter gue seperti apa, jadi mereka nggak menuntut gue untuk berubah (atau sudah menyerah?) πŸ€ͺπŸ˜‚✌ Albeit karena karakter gue ini juga, hidup gue kadang susah HAHAHA. Contoh, gue lebih memilih nggak minum selama di pesawat biar gue nggak perlu buang air kecil karena kalau gue harus buang air kecil, means gue akan bilang, 'permisi' ke orang yang duduk di sebelah dan untuk mengucapkan kata 'permisi' itu buat gue nggak mudah πŸ˜‘

Padahal, dulunya saat usia remaja dan awal 20 tahunan, gue itu orang yang sangat aktif berinteraksi dan berbicara bahkan mudah untuk mengobrol dengan orang yang nggak gue kenal. Tapi nggak tau kenapa, semakin bertambah umur, gue jadi semakin tertutup saja πŸ˜… gue sampai pada tahap harus berpikir ribuan kali dulu lhooo gaes, sebelum berbicara dan menanggapi curhatan teman-teman gue, alhasil beginilah gue sekarang 😁 people do changes memang, apa ini hanya gue doang yang berlebihan? πŸ˜‚

---

By the way, back to topic, saat penerbangan gue ke Hong Kong, gue punya satu pengalaman berkesan di pesawat. Waktu itu gue ke Hong Kong sendirian karena my man berangkat dari Korea. Di perjalanan itu, gue duduk di sebelah bapak bule cukup tua usia 50'an yang mana bapak tersebut duduk di kursi tengah sedangkan gue as usual duduk di dekat jendela 😬 dari awal, gue sudah merasa nggak enak sama bapak itu karena gue harus bilang 'permisi' saat ingin duduk di tempat gue, dan bapak itu pun berdiri dengan wajah masam πŸ˜…

Gue sampai deg-degan dan berpikir bagaimana nasib gue 5 jam ke depan kalau harus duduk di samping bapak itu yang nggak ada senyum-senyumnya πŸ€ͺ jujur gue tegang gaes HAHAHAHA, gue pun nggak berkutik selama di penerbangan karena takut kalau gue gerak dan menyenggol bapak itu, maka bapak itu akan marah atau melotot sebab gue mengganggu ketenangannya. Sumpah, itu adalah salah satu penerbangan paling menegangkan dalam hidup gue dengan semua bayangan-bayangan buruk soal si bapak πŸ˜‚ gue pun sempat menggerutu (dalam hati cencunyaaaa) sepanjang perjalanan hingga akhirnya, 2 jam sebelum landing, bapak itu berkata...

  "Do you have a pen?"  

AHAAAA! Beliau mau pinjam pena untuk mengisi arrival card, dan dengan takut-takut gue menjawab, "Yes. I have." lalu gue ambil pena yang gue punya di dalam tas 🀣 padahal arrival card gue sendiri belum gue isi karena takut berisik waktu ambil pena yang gue taruh di tas (iyes, segitu takutnya!) πŸ˜… gue pun memberikan pena gue kepada bapak itu dan bapak itu mulai mengisi arrival card yang beliau punya. Selang beberapa menit, bapak itu mengembalikan pena gue kemudian bertanya, "Go alone to Hong Kong? Holiday?"

Gue mengangguk masih dengan rasa takut dan was-was karena mukanya seriously nggak ada senyum-senyumnya πŸ€ͺ "Yes alone, I will meet my man in Hong Kong. His flight is from Korea." -- dan bapak itu merespon, "I wish you have a good time in Hong Kong." yang gue jawab dengan senyuman meski kawatir juga untuk senyum, kawatir dikira gila πŸ˜‚✌ setelah itu, karena gue merasa nggak sopan kalau cuma menjawab pertanyaan beliau saja, gue pun dengan nekat bertanya, "How about you?" ciaaaahhh, maafkan english gue yang mendadak tiarap karena cuma bisa bertanya demikian 🀣

Si bapak masih dengan wajah serius menjawab, "I go home, because my wife called me. My kid is sick and now in the hospital. Bla bla bla." -- bapak itu bercerita cukup panjang, kalau beliau kaget karena istrinya mendadak telepon dan memintanya untuk segera pulang ke negaranya padahal beliau masih ada urusan di Indonesia. Alhasil beliau buru-buru cari tiket pesawat dan langsung berangkat tanpa tukar pakaian. Pantas baju yang dipakai masih kemeja dan celana kain hitam, plus saat gue lihat sepatunya juga bukan tipe sepatu yang nyaman untuk digunakan saat penerbangan πŸ˜•

Gue yang tadinya berpikiran buruk sama bapak itu bahkan sempat menggerutu dalam hati, jadi merasa bersalah. Karena terlalu mudah men-judge bapak itu hanya sebatas dari melihat wajahnya yang masam dan suram πŸ˜” padahal yang gue nggak tau, wajah beliau bisa sebegitu masam dan suramnya karena beliau lelah harus buru-buru mencari tiket pesawat dan berangkat ke bandara tanpa ada waktu untuk beristirahat dan bersiap-siap. Dan yang gue nggak tau juga, wajah beliau bisa sebegitu masam dan suramnya karena beliau sedih dan punya pikiran berat soal kesehatan anaknya πŸ˜–

Dari perjalanan ke Hong Kong itu gue belajar lagi soal pentingnya untuk nggak menilai seseorang dari apa yang gue lihat karena apa yang gue lihat belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan seseorang. Seperti yang mas Agus bilang di kolom komentar post Walk Around Central, "Bisa saja orang yang terlihat bahagia jalan kaki, ternyata lagi pusing memikirkan keluarga dan kebutuhannya." -- dan seperti yang om Paulo Coelho bilang,

  "We can never judge the lives of others, because each  
  person knows only their own pain and renunciation." 😊  

Gue memang orang yang agak susah berinteraksi dan berbicara, dan kadang nggak bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitar. Tapi, dari setiap perjalanan yang ada, gue kembali belajar dan diingatkan, untuk lebih peka dan nggak sembarangan dalam menilai seseorang. Dan juga, untuk lebih rajin berinteraksi dengan handai taulan karena dari interaksi tersebut, ada banyak ilmu yang bisa gue dapatkan atau minimal, ada kehangatan yang bisa gue rasakan πŸ˜†πŸ’•

Tapi genks, jangan berharap banyak ya 😝🀣✌πŸ’• 
In my previous post, Walk Around Central, I talked about meeting (accidentally) with a foreigner who made me learn a lot about life 😬 and it turned out that the post attracted quite a lot of attention from my friends, and they asked, do I have another exciting experience that I can tell. Because according to those who really know what my character is like, it's hard for me to be able to open easily 🀣

I am indeed an introvert person, and I could say that I am super introvert so I don't really talk a lot to people in real life if it's not very important. And in fact, I could say that 90% of my daily conversation was just a matter of work. Plus the remaining 10% was related to give a response to my friend's story and answering some questions 🀣

That's why, I rarely talk, I even make this blog so that people around me can know what I'm doing or thinking without talking 😁✌ Do I have friends? Hmmmmm, when it comes to friends, I have a lot of friends and I deal with many people in my life from partners and clients, to my family which is quite large plus the number of friends who can fill up the football stadium (too much, huh!) πŸ˜‚

Means, I rarely talk doesn't mean I'm an anti social. I just don't easily interact and fortunately the people around me already know what my character is like, so they don't demand me to change (or have given up?) πŸ€ͺ Albeit because this character, my life sometimes hard. For example, I prefer not drink water while on airplane so I don't need to pee because if I have to pee, I need to say, 'excuse me' to the person beside me and to say the word 'excuse me' is not easy πŸ˜‘

It's weird, because when I was in my teens and early 20s, I was a person who was very active in interacting and talking, and it was even easy to chat with people I didn't know (strangers). But I don't know why, as I get older, I become more and more introvert πŸ˜… I got to the level of having to think thousands of times first before talking and responding to my other's story, as a result this is how I am now 😁 people do changes indeed, or am I just overdoing it? πŸ˜‚

---

Back to topic, when my flight to Hong Kong, I had a memorable experience on the plane. At that time I went to Hong Kong alone because my man departed from Korea. On that trip, I sat next to a Caucasian man who was quite old in his 50s, and he sat in the middle seat while I as usual sat near the window 😬 from the start, I already felt uneasy with him because I had to say 'excuse me' when I want to sit in my place, and the man also stands with a gloomy face πŸ˜…

I worried and thought about what my fate would be in the next 5 hours if I had to sit next to that man who had no smiles πŸ€ͺ honestly I was tense, I did not do anything during the flight because I scare that if I move and nudge him, then he will be angry or glaring to me (if I disturb him). I swear, it was one of the most tense flights in my life with all the bad imagination about him 🀣 I also grumble a lot (in heart) along the way until finally, 2 hours before landing, he asked...

  "Do you have a pen?"  

AHAAAA! He wanted to borrow a pen to fill in the arrival card, and timidly I answered, "Yes. I have." then I take the pen that I have in my bag 🀣 even though my own arrival card wasn't filled because I was scare of being noisy when I took the pen that I put in the bag (yes, I was too scare!) πŸ˜… I also gave my pen to him and he started fill in the arrival card that he had. After a few minutes, he returned my pen and then asked, "Go alone to Hong Kong? Holiday?"

I nodded still with fear and anxiety because his face seriously had no smiles, "Yes alone, I will meet my man in Hong Kong. His flight is from Korea." -- and he responded, "I wish you have a good time in Hong Kong." and I answered with a smile even though I was worried, if I might look like crazy woman because of my awkward smile πŸ˜‚ after that, I felt it was rude to just answer his question, so I determined to ask, "How about you?" oh gosh, forgive my english which suddenly lies down because it can only ask such a question 🀣

He still with a serious face answered, "I go home, because my wife is called me. My kid is sick and now in the hospital. Blah blah blah." -- he told a long story that he was shocked because his wife suddenly called and asked him to immediately return to his country even though he still had business in Indonesia. As a result he hurriedly looked for a plane ticket and immediately left without changing clothes. No wonder the clothes that he worn were still shirts and black working pants, plus when I saw his shoes were also not the type of shoes that comfortable to use for long flight πŸ˜•

I, who used to think badly of that man, even had a chance to grumble in my heart, suddenly felt guilty. Because I was too easy to judge, just because of his gloomy face πŸ˜” even though I didn't know, his face could be so gloomy because he was tired of having to rush to find a plane ticket and leave for the airport without any time to rest and get ready. And what I didn't know, his face can be so gloomy because he was sad and had heavy thoughts about his kid's health πŸ˜–

From the trip, I learned again the importance of not judging someone by what I see because what I see is not necessarily in accordance with what actually happens in someone's life. As Agus said in the Walk Around Central post comments, "People who look happy outside (walking or doing something), they could be dizzy thinking about their families and needs." - and as Paulo Coelho said,

  "We can never judge the lives of others, because each  
  person knows only their own pain and renunciation. "😊  

I am indeed a person who is rather difficult to interact and talk, and sometimes can not understand the feelings of people around. But, from each trip that I had, I went back to learning and being reminded, to be more sensitive and not careless in judging someone. Also, to be more diligent in interacting with people around me because of these interactions, there will be a lot of knowledge that I can get or at a minimum, there will be a warmth that I can feel πŸ˜†πŸ’•

But genks, don't expect too much 😝🀣✌πŸ’•
Walk Around Central ν¬μŠ€νŠΈμ—μ„œ 인생에 λŒ€ν•΄μ„œ λ§Žμ€κ±Έ 배우게된 외ꡭ인과(μš°μ—°νžˆ) λ§Œλ‚¬μ—ˆμ–΄μš” 😬 κ·Έ 이야기에 μ—¬λŸ¬ μΉœκ΅¬λ“€μ˜ 관심을 κ°€μ‘Œκ³  말해쀄 수 μžˆλŠ” λ‹€λ₯Έ ν₯미둜운 κ²½ν—˜μ€ μ—†λŠ”μ§€ λ¬Όμ—ˆμ–΄μš”. 제 성격을 μ•„λŠ” μ‚¬λžŒμ΄λΌλ©΄ μ œκ°€ 뭐든 μ‰½κ²Œ κ³΅κ°œν•˜μ§€ μ•ŠλŠ”λ‹€λŠ”κ±Έ μ•Œκ±°λ“ μš” 🀣

μ €λŠ” 내성적인 μ‚¬λžŒμ΄κ³  μŠˆνΌλ‚΄μ„±μ μ΄λΌκ³  ν•  수 μžˆμ–΄μ„œ 정말 μ€‘μš”ν•œκ²Œ μ•„λ‹ˆλ©΄ μ‚¬λžŒλ“€μ—κ²Œ μ‹€μ œ μƒν™œμ— λŒ€ν•΄μ„œ 많이 μ΄μ•ΌκΈ°ν•˜μ§€ μ•Šμ•„μš”. 그리고 사싀, μΌμƒμ˜ 90% λŒ€ν™”κ°€ μΌλ¬Έμ œμ—μš”.λ‚˜λ¨Έμ§€ 10%λŠ” μΉœκ΅¬λ“€ μŠ€ν† λ¦¬μ— μ‘λ‹΅ν•˜λŠ” 것, 그리고 μ§ˆλ¬Έμ— λ‹΅λ³€ν•˜λŠ”κ²ƒλ“€μ΄μ—μš” 🀣

κ·Έλž˜μ„œ μ–˜κΈ°λ₯Ό 잘 μ•ˆν•΄μš”. 이 λΈ”λ‘œκ·Έλ₯Ό λ§Œλ“€μ–΄μ„œ λ­˜ν•˜λŠ”μ§€ 무슨 생각을 ν•˜λŠ”μ§€ μ£Όμœ„μ‚¬λžŒλ“€μ—κ²Œ μ•Œλ¦¬λŠ” 정도죠 😁✌ μΉœκ΅¬κ°€ μžˆλƒκ³ μš”? 음... μΉœκ΅¬λŠ” 많고 좕ꡬμž₯을 가득 맀울만큼 νŒŒνŠΈλ„ˆ, 고객, κ°€μ‘±λ“€κ³Ό 관계λ₯Ό λ§Ίκ³ μžˆμ–΄μš”(λ„ˆλ¬΄λ§Žμ•„μš”, huh!) πŸ˜‚

λŒ€ν™”λ₯Ό κ±°μ˜ν•˜μ§€ μ•ŠλŠ”κ²Œ 반 μ‚¬νšŒμ μ΄λΌλŠ”κ±Έ μ˜λ―Έν•˜λŠ”κ²Œ μ•„λ‹ˆλΌλŠ”κ±°μ—μš”. κ·Έλƒ₯ μ‰½κ²Œ 관계λ₯Ό 맺지 μ•Šμ„ 뿐이고 μ£Όμœ„μ‚¬λžŒλ“€μ΄ 성격을 μ•Œκ³ μžˆμ–΄μ„œ 바꾸라고 μš”κ΅¬ν•˜μ§€λ„ μ•Šμ•„μš”(ν˜Ήμ€ ν¬κΈ°ν–ˆμ„μˆ˜λ„?) πŸ€ͺ 이런 성격 λ•Œλ¬Έμ— 가끔은 인생이 νž˜λ“€μ–΄μ§€κΈ°λ„ ν•΄μš”. 예λ₯Όλ“€μ–΄ μ €λŠ” λΉ„ν–‰κΈ°μ—μ„œ 물을 잘 μ•ˆλ§ˆμ‹œλŠ”λ° 그게 ν™”μž₯μ‹€ κ°€λ €λ©΄ μ˜†μ‚¬λžŒμ—κ²Œ 'excuse me'라고 λ§μ„ν•΄μ•Όν•˜κΈ° λ•Œλ¬Έμ΄μ—μš” κ·Έ 말을 ν•˜κΈ°κ°€ 쉽지 μ•Šμ•„μš” πŸ˜‘

그건 μ œκ°€ 20λŒ€ 초반일 λ•ŒλŠ” ν™œλ°œν•˜κ²Œ λŒ€ν™”λ₯Ό ν•˜κ³  λͺ¨λ₯΄λŠ” μ‚¬λžŒλ“€κ³Ό μ‰½κ²Œ μ±„νŒ…μ„ ν–ˆμ—ˆκΈ° λ•Œλ¬Έμ— μ΄μƒν•΄μš”. λ‚˜μ΄κ°€ λ“€λ©΄μ„œ μ™œ 자꾸 λ‚΄ν–₯적으둜 λ°”λ€ŒλŠ”μ§€ 이유λ₯Ό λͺ¨λ₯΄κ² μ–΄μš” πŸ˜… λ‹€λ₯Έμ‚¬λžŒμ—κ²Œ λ¬»κ±°λ‚˜ λ‹΅ν• λ•Œ μˆ˜μ²œλ²ˆμ€ μƒκ°ν•˜λŠ” 지경에 이λ₯΄κ²Œλ¬μ–΄μš” 😁 μ‚¬λžŒμ΄ κ³Όμ—° λ³€ν• κΉŒμš”? μ•„λ‹ˆλ©΄ μ œκ°€ μ˜€λ²„ν•˜λŠ”κ±ΈκΉŒμš”? πŸ˜‚

---

주제둜 λŒμ•„μ™€μ„œ, 홍콩 비행쀑에 μΈμƒκΉŠμ€ κ²½ν—˜μ΄ μžˆμ–΄μš”. λ‹Ήμ‹œμ— λ‚¨μžμΉœκ΅¬κ°€ ν•œκ΅­μ—μ„œ λΆ€ν„° 였기 λ•Œλ¬Έμ— ν˜Όμžμžˆμ—ˆμ–΄μš”. 제 μ˜†μžλ¦¬μ—λŠ” 50λŒ€μ˜ λ‚˜μ΄κ°€ μ—„μ²­ λ§Žμ€ λ°±μΈλ‚¨μžκ°€ μ•‰μ•„μžˆμ—ˆλŠ”λ° μ €λŠ” ν‰μ†Œμ²˜λŸΌ 창가에 μ•‰μ•„μžˆκ³  그뢄은 쀑간에 μ•‰μ•„μžˆμ—ˆμ–΄μš” 😬 μ €λŠ” 제 자리둜 갈렀고 'excuse me'라고 ν–ˆκ³  κ·Έ λ‚¨μžλŠ” μ–΄λ‘μš΄ μ–Όκ΅΄λ‘œ 자리λ₯Ό λΉ„μΌœμ€¬κΈ° λ•Œλ¬Έμ— μ‹œμž‘λΆ€ν„° μ‰½μ§€μ•Šμ€κ±Έ λŠκΌˆμ–΄μš” πŸ˜…

걱정이 됬고 λ―Έμ†Œμ—†μ΄ μ˜†μ— μ•‰μ•„μžˆλŠ” λ‚¨μžμ™€ μ•žμœΌλ‘œ 5μ‹œκ°„ λ™μ•ˆμ˜ 제 운λͺ…에 λŒ€ν•΄μ„œ μƒκ°ν–ˆμ–΄μš” πŸ€ͺ 사싀 κΈ°μž₯ν–ˆκ³  μ œκ°€ μ›€μ§μ—¬μ„œ λ‹ΏμœΌλ©΄ ν™”λ‚΄κ±°λ‚˜ λ…Έλ €λ³ΌκΉŒλ΄(λ°©ν•΄ν•΄μ„œ) 비행쀑 μ•„~무것도 μ•ˆν–ˆμ–΄μš”. κ·Έ 비행은 제 인생 졜고의 κΈ΄μž₯된 비행쀑 ν•˜λ‚˜μ˜€μ–΄μš” 🀣 μ €λŠ” μ°©λ₯™ 2μ‹œκ°„ μ „ μ―€ κ·Έκ°€ 물어보기 μ „κΉŒμ§€ νˆ¬λœκ±°λ Έμ–΄μš”(마음 μ†μœΌλ‘œ)...

  "펜 가지고 μžˆμ–΄μš”?"  

AHAAAA! λ„μ°©μΉ΄λ“œ μž‘μ„±μ„ ν•˜λ €κ³  νŽœμ„ λΉŒλ¦¬λ €λŠ”κ±°μ—μš”. κ·Έλž˜μ„œ κ°€λ°©μ˜ νŽœμ„ λ“œλ¦¬κ³  "μ—¬κΈ°μžˆμ–΄μš”" 라고 ν–ˆμ–΄μš” 🀣 νŽœμ„ κ°€λ°©μ—μ„œ λΉΌκ³  넣을 λ•Œ μ‹œλ„λŸ¬μšΈκΉŒλ΄ λ¬΄μ„œμ›Œμ„œ 아직 제 λ„μ°©μΉ΄λ“œ μž‘μ„±μ€ λλ‚˜μ§€ μ•Šμ•˜μ§€λ§Œμš”.(λ„€, λ„ˆλ¬΄ λ¬΄μ„œμ› μ–΄μš”!) πŸ˜… κ·Έκ°€ νŽœμ„ λΉŒλ €κ°€κ³  λ‹€μ“΄ ν›„ λŒλ €μ£Όλ©΄μ„œ λ¬Όμ—ˆμ–΄μš”"홍콩에 ν˜Όμžκ°€μš”? νœ΄κ°€?"

μ €λŠ” λ„λ•μ˜€κ³  λ―Έμ†Œμ—†μ΄ μ‹¬κ°ν•˜κ²Œ λ¬Όμ–΄λ³΄λŠ” 얼꡴에 λ‹Ήν™©ν–ˆμ–΄μš”. "λ„€ ν˜Όμžμš”, ν™μ½©μ—μ„œ λ‚¨μžμΉœκ΅¬λ₯Ό λ§Œλ‚ κ±°μ—μš” λ‚¨μžμΉœκ΅¬λŠ” ν•œκ΅­μ—μ„œ μ™€μš”" -- 그리고 κ·Έκ°€ λŒ€λ‹΅ν–ˆμ–΄μš” "ν™μ½©μ—μ„œ μ’‹μ€μ‹œκ°„ λ³΄λ‚΄μ‹œκΈ° λ°”λž˜μš”" μ–΄μƒ‰ν•œ μ›ƒμŒμ— λ―ΈμΉœμ—¬μžμ²˜λŸΌ 보일까봐 κ±±μ •λ˜μ§€λ§Œ μ›ƒμœΌλ©΄μ„œ λŒ€λ‹΅ν–ˆμ–΄μš” πŸ˜‚ κ·ΈλŸ¬λ‹€λ³΄λ‹ˆ 그의 질문이 λ¬΄λ‘€ν•˜κ²Œ λŠκ»΄μ Έμ„œ μ €λŠ” λ˜λ¬Όμ—ˆμ–΄μš” "λ‹Ήμ‹ μ€μš”?" oh gosh, 이런 μ§ˆλ¬Έλ°–μ— ν•  수 μ—†λŠ” ν—ˆμ ‘ν•œ λ‚΄ μ˜μ–΄μ‹€λ ₯. 🀣

κ·ΈλŠ” μ—¬μ „νžˆ μ‹¬κ°ν•œ μ–Όκ΅΄λ‘œ λŒ€λ‹΅ν–ˆμ–΄μš” "제 μ•„λ‚΄κ°€ μ „ν™”λ₯Ό ν•΄μ„œ μ§‘μ—κ°€μš”. μžμ‹μ΄ μ•„νŒŒμ„œ 병원에 μžˆμ–΄μš” blah blah blah"-- κ·ΈλŠ” μΈλ„λ„€μ‹œμ•„μ—μ„œ 사업을 ν•˜κ³  μžˆμŒμ—λ„ μ•„λ‚΄κ°€ κ°‘μžκΈ° μ „ν™”ν•΄μ„œ λ‹Ήμž₯ 였라고 ν•΄μ„œ λ†€λžλ‹€λŠ” κΈ΄ 이야기λ₯Ό ν–ˆμ–΄μš”. 결과적으둜 κ·ΈλŠ” κΈ‰ν•˜κ²Œ λΉ„ν–‰κΈ° 티켓을 μ°Ύμ•˜κ³  μ˜·λ„ λͺ» κ°ˆμ•„μž…κ³  μ™”λ‹€κ³  ν•΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ 그의 μ˜·μ€ 셔츠와 검은색 λ°”μ§€μ˜€κ³  κ²Œλ‹€κ°€ μ‹ λ°œλ„ λΉ„ν–‰κΈ°μ—μ„œ μ‹ κΈ° λΆˆνŽΈν•œ νƒ€μž…μ΄μ—ˆμ–΄μš” πŸ˜•

κ·Έ μ‚¬λžŒμ— λŒ€ν•΄μ„œ μ†μœΌλ‘œ νˆ¬λœλŒ€λ˜ μ €λŠ” μ–΄λ‘μš΄ μ–Όκ΅΄ λ•Œλ¬Έμ— λ„ˆλ¬΄ μ‰½κ²Œ νŒλ‹¨ν•œκ²ƒ κ°™μ•„ 죄책감이 λ“€μ—ˆμ–΄μš” πŸ˜” μ €λŠ” λͺ°λžμ§€λ§Œ 그의 얼꡴은 티켓을 μ°Ύκ³  μ„œλ‘λ₯΄κΈ°μœ„ν•΄ 쉬지도 λͺ»ν•˜κ³  μ€€λΉ„ν•΄μ„œ κ³΅ν•­μœΌλ‘œ μ™€μ„œ μ–΄λ‘μ› λ˜κ±°μ—μš”. 그리고 μ œκ°€ λͺ°λžλ˜ λ‹€λ₯Έν•˜λ‚˜λŠ” μžμ‹μ˜ κ±΄κ°•λ•Œλ¬Έμ— 걱정이 λ˜μ„œ 마음이 λ¬΄κ±°μ›Œμ„œ κ·Έλž¬λ˜κ±°μ—μš” πŸ˜–

이 μ—¬ν–‰μ—μ„œ μ œκ°€ λ³Έ κ²ƒλ“€λ‘œ λˆ„κ΅°κ°€λ₯Ό νŒλ‹¨ν•˜μ§€ μ•ŠλŠ”κ²Œ μ€‘μš”ν•˜λ‹€λŠ”κ±Έ λ‹€μ‹œν•œλ²ˆ λ°°μ› μ–΄μš”. μ™œλƒλ©΄ μ œκ°€ 본게 λˆ„κ΅°κ°€μ˜ μ‚Άμ—μ„œ μ‹€μ œλ‘œ μΌμ–΄λ‚˜κ³  μžˆλŠ” 일과 λ°˜λ“œμ‹œ μΌμΉ˜ν•˜λŠ”κ±΄ μ•„λ‹ˆκΈ° λ•Œλ¬Έμ΄μ—μš”. Walk Around Central의 λŒ“κΈ€μ—μ„œ λ§ν–ˆλ“― Agus λŠ” "κ²‰μœΌλ‘œ ν–‰λ³΅ν•΄λ³΄μ΄λŠ” μ‚¬λžŒ λ˜ν•œ κ°€μ‘± λ“±μ˜ μƒκ°μœΌλ‘œ μ–΄λ–»κ²Œλ“ μ§€ κ³¨μΉ˜κ°€ μ•„ν”Œ 수 μžˆλ‹€" 라고 λ§ν–ˆμ£ . 그리고 Paulo CoelhoλŠ”

  "μš°λ¦¬λŠ” λ‹€λ₯Έ μ‚¬λžŒμ˜ 삢을 μ ˆλŒ€ νŒλ‹¨ν•˜λ©΄ μ•ˆλœλ‹€, κ° μ‚¬λžŒλ“€μ€  
  κ·Έμ € μžμ‹ μ˜ κ³ ν†΅λ§Œ μ•ŒκΈ° λ•Œλ¬Έμ΄λ‹€"라고도 ν–ˆμ–΄μš”" 😊  

μ €λŠ” μƒν˜Έμž‘μš©μ΄λ‚˜ λŒ€ν™”κ°€ μ’€ μ–΄λ €μš΄ μ‚¬λžŒμ΄κ³  가끔 μ£Όμœ„ μ‚¬λžŒλ“€μ˜ 기뢄을 μ΄ν•΄ν•˜μ§€ λͺ»ν•  수 μžˆμ–΄μš”. ν•˜μ§€λ§Œ μ œκ°€ ν•œ μ—¬ν–‰λ“€ μ†μ—μ„œ λˆ„κ΅°κ°€λ₯Ό νŒλ‹¨ν•˜λŠ”λ° 주의λ₯Ό ν•  수 있게 λ¬μ–΄μš”. λ˜ν•œ 이번일둜 μ£Όλ³€μ‚¬λžŒλ“€κ³Ό 이런 μƒν˜Έμž‘μš©μ„ 더 λΆ€μ§€λŸ°νžˆ ν•˜κ²Œ λ¬μ–΄μš”. μ•„λ§ˆ μ œκ°€ λ”°λœ»ν•¨μ„ λŠλ‚„ 수 μžˆλŠ” μ΄λŸ¬ν•œ ꡐλ₯˜λ₯Ό μœ„ν•œ 지식듀이 많이 μžˆμ„κ±°μ—μš” πŸ˜†πŸ’•

ν•˜μ§€λ§Œ λ„ˆλ¬΄ κΈ°λŒ€ν•˜μ§€λŠ” λ§ˆμ„Έμš” 😝🀣✌πŸ’•

28 comments:

  1. Wah sebetulnya sy juga introvert lo mbak.. Smaa kaya tulisan sy di blog ini "comfort zone ".kalo ketemu orang baru atau berada dilingkungan yg cukup ramai kayak pesta ato kumpulan apa gitu saya ga nyaman aja, gak tau kenapa, susah bangeet buat ngilanginnya, alhasil sy lbh banyak dirumah krna yg ibu rumh tangga murni, kalopun keluar kalo ada perlu aja, temen sy juga ga banyak, tapi sy ga sombong sih, hanya susah aja buat memulai percakapan dengan orang baru, apalagi sama"diem,duh rasanya saya pingin kabur ajaa, di blog aja saya baru bisa leluasa karena hanya tulisan, kalo ketemu langsung mah blom tentu, waah jadi curhat saya 😁, kadang kita salah menilai orang, termasuk si bapak yg wajahnya masam itu, pdhal dia lagi banyak fikiran yaa... Tapi saya pernah baca tulisan, orang yg introvert itu biasanya lebih memahami perasaan orang lain, tpi ga tau juga sih :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya sebenarnya masih bisa have fun semisal pergi ke lingkungan ramai atau ketemu banyak teman, cuma ada time limitnya πŸ˜‚ biasa 2 jam saya sudah merasa exhausted, alhasil saya lebih sering semisal ingin ketemu teman di jam-jam makan biar sekalian makan dan nggak memakai waktu lama 😬

      Dan saya juga sering ketemu orang baru, hanya saja saya ini nggak jago basa basi alhasil lebih banyak diam dan menjawab seperlunya ~ lucky me, mostly orang baru yang saya temukan itu related to pekerjaan jadi pembicaraan nggak jauh dari urusan kerja, that's the time saya menggunakan 90% suara saya untuk bicara πŸ˜…

      Memang akan susah kalau se-introvert mba, pasti akan berat ya mba. Karena yang saya rasakan pun sebenarnya menyusahkan saya kadang πŸ˜‚ however, it's okay mba, just do yang membuat mba nyaman 😍

      Saya rasa kalau ada tulisan yang bilang orang introvert itu lebih memahami perasaan orang lain, mungkin karena orang introvert juga agak perasa jadi secara langsung bisa memahami perasaan orang sekitar. Tapi kadang, terlalu perasanya jadi overthinking juga ahahaha 😬 CMIIW ~

      Delete
  2. Pada akhirnya, sesibuk dan seindividualnya sebuah kota dan masyarakatnya, akan tetap hidup jika kita berkomunikasi secara langsung antara kita dengan yang lain ya Mba?

    Kalau di desa mah, papasan sama orang terus nggak tanya atau menyapa dianggap sombong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, karena manusia adalah makhluk sosial jadi dibutuhkan komunikasi dan interaksi di dalamnya ~ cuma mungkin semakin bertambah usia, interaksi tersebut tersortir dengan sendirinya sesuai kadar prioritas 😁

      Delete
  3. Sepakat, Mbak. Kita nggak bisa menilai orang dari permukaannya saja. Sekali waktu, saya pernah menginap di hostel kecil di Khao San Road. Ada seorang pejalan yang selama beberapa hari di kamar saja. Mukanya murung. Pas malam terakhir di sana, pas ngobrol, barulah dia cerita kalau dia mau pulang setelah mengembara hampir satu tahun. Mukanya ternyata murung karena lagi mellow. Susah baginya buat pulang setelah melanglang lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh bisa kebayang perasaannya, pasti sedih banget harus pulang setelah mengembara 1 tahun lamanya ~ karena biasanya, orang-orang yang sudah mengembara terlalu lama, akan susah untuk stay di satu tempat saja 😬

      Kalau kata simbah, gatal kakinya mau jalan πŸ˜‚

      Delete
  4. Kadang aku sebenarnya tidak terlalu ngerti kalo mbak Eno posting sambil diselipi bahasa Inggris, karena memang bahasa Inggris aku tuh tiarap, paling bisanya yes no gitu aja.🀣

    Memang sih ada google translate, tapi kan artikel mbak Eno ngga bisa dicopas jadinya ya paling manggut manggut saja kalo ada bahasa Inggrisnya.πŸ˜‚

    Memang sih jangan menilai buku dari sampulnya, bisa saja dia mukanya galak seperti preman tapi hatinya baik, bisa juga mukanya masam bukan karena dia suka cemberut tapi lagi ada masalah di hatinya.

    Tetap semangat ya mbak, dan juga jaga kesehatan karena kabarnya di Korea Selatan keadaan makin mengkhawatirkan.😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aahahaha, maaf ya mas kalau tulisan saya kadang terselip bahasa Inggris 😁 semisal mas ada dua handphone bisa pakai google translate yang camera, jadi itu akan translate bahasa Inggris dalam sebuah gambar dan nggak perlu mengetik atau copas πŸ˜†πŸ‘Œ

      Siap mas, semoga di Indonesia juga aman 😁 saya kebetulan lagi nggak di Korea sekarang mas, sedang di negara lain hehehe. Terima kasih mas, semangat~!

      Delete
  5. Pengalaman pengalaman kecil terkadang memiliki konstribusi besar pada keseluruhan hidup kita.

    Yang penting tetap seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, setiap pengalaman membentuk lapisan baru dalam hidup kita. Karena pengalaman adalah guru terbesar 😊

      Delete
  6. Mbaaa, saya juga merasa bahwa semakin bertambah umur, makin anteng dan pendiam.

    Kadang di manapun apalagi di perjalanan kalau ada yang ngajak ngobrol saya seneng. Meski cuma obrolan sederhana dan sebentar aja. Mungkin karena kita makhluk sosial kali ya, hehehe.

    Dulu pas di Jepang saya sering banget diajakin ngobrol sama orang yg ga dikenal. Menyenangkan sih. Tapi kalau hal ini terjadi di negeri sendiri kok kadang saya takut ya, misal dihipnotis gitu. Hahaha, takut kejadian yang serem2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya karena energi kita semakin habis ya, mba? πŸ˜‚

      Iya, saya itu nggak pandai membuka obrolan ke orang yang bukan di dunia pekerjaan. Jadi kadang kesulitan dan lebih memilih diam. Nah, tapi kalau sudah diajak bicara duluan ya senang juga berbincang-bincang 😁

      Ahahaha, jadi parno kah mba? Semoga mba selalu ketemu dengan orang-orang baik ya, meski itu adalah yang nggak dikenal atau ketemu di jalan. Yang terpenting tetap selalu waspada πŸ˜ŠπŸ’•

      Delete
  7. Mbaaa, kita samaan banget deh. Aku tuh juga agak males basa basi dengan orang lain, makanya kalo diajak reunian gitu mendadak panik karena ya itu... males ditanya-tanya atau sebaliknya πŸ˜… Lebih nyaman ngumpul dengan beberapa orang dekat jadi sharing-nya pun lebih ngalir.

    Tapi aku tau nggak boleh terlalu menutup diri. That's why dulu aku nekad ngelamar kerja jadi barista kafe dan selama bekerja aku belajar interaksi dengan orang-orang asing. Seru juga sih dengar cerita sambil aku bikinkan kopi pesanan mereka. Dari situ aku ngeh, ternyata dunia tuh luas banget. Terkadang kalo lagi ada masalah pribadi, mendadak merasa masalahku sepele banget dibandingkan apa yang aku dengar dari orang lain. Intinya, belajar bersyukur aja sih ya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun nggak ikut reunian akbar mba, yang satu sekolah itu ahahaha. Tapi kalau kumpul sama teman baik dari kecil masih saya lakukan kadang disaat bisa, walau dengan bertambahnya umur cencu intensitas pertemuan berkurang 😁 memang tinggal bagaimana kitanya saja, cari prioritas terbaik untuk hidup kita πŸ˜†

      Nah, kalau soal menutup diri, saya mungkin lebih ke menjaga privacy dan betul-betul memilah isi percakapan dengan baik. That's why saya tetap aktif berkomunikasi dan berinteraksi meski 90% itu di area kerja saya sendiri hihihi, sama seperti mba yang memutuskan kerja jadi barista cafe agar bisa berinteraksi dengan orang lain, saya pun prefer berinteraksi dalam ranah kerja karena base percakapannya lebih membuat saya nyaman dengan diri pribadi 😁

      Dan setuju sama mba, yuk kita terus bersyukur atas jalan hidup yang kita punya. SEMANGAT!! 😍

      Delete
  8. Aku kalau di pesawat juga gitu, Mbak. Termasuk malas pakai tioliet pesawat meskipun di sampingku orang yang aku kenal, malas banget pas sampai di pintu toilet eh ada yang sudah antri.

    Aslinya aku kurleb sama sama, Mbak. Jarang bicara, cuma kalau sama yang udah kenal dan nemu topik okay ya nyerocos juga, hahaha.

    Kalau di satu ruang tunggu misalnya, aku selalu dinasehatin buat buka percakapan dengan orang asing cuman aku seringnya pasif, baru buka suara kalau ada yang mulai. Bukan takut atau malu, tapi malas, hahaha. Ini penyakit sih harus dibasmi :D

    Betul adanya tentang apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan yang kita pikirkan. Preasumption itu bahaya, kayanya ini tulisan Mbak sendiri saat lalu, ya? Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha, kadang kalau antri harus berdiri dulu dekat toilet sambil menunggu orang yang di dalam toilet ke luar. Lalu beberapa orang yang duduk di seat depan pun kadang melihat apa yang kita lakukan sambil mengantri di depan mereka 😁 itu yang saya perhatikan ~

      Saya sepertinya memang pasif speaker mba, karena even though berbincang dengan orang yang saya kenal, saya tipe yang lebih sering mendengarkan. Jadi teman atau keluarga bisa bicara 100 kata, nanti saya respon 5 kata. Dan begitu seterusnya πŸ˜…

      Saya seriously nggak pernah buka obrolan dengan orang asing especially di bandara. Mungkin karena saya sibuk sendiri dengan team saya atau pasangan dan keluarga saya misalnya, dan bisa jadi juga karena saya malas ahahahaha πŸ˜‚

      Iya mba, saya pernah menulis soal asumsi dan sampai sekarang ini masih belajar lagi dan lagi untuk mengendalikan diri agar nggak mudah mengambil kesimpulan sendiri. Semoga saya bisa menjadi lebih baik πŸ˜†

      Delete
    2. Sebenarnya kemampuan mendengar itu lebih penting dari berbicara, karena dari mendengar kita bisa develop empathy.

      Aku saja melatih Zafa buat latihan mendengarkan, lho. Karena dia cenderung nyerocos gitu :D

      Delete
    3. Hihihi, Zafa pintar speaking ya mba. Anak kecil kalau lagi 'nyerocos' terus pasti lucu, apalagi kalau baru paham kata-kata baru 😁 semoga kemampuan mendengarkan Zafa juga akan terasah dan Zafa bisa jadi pendengar yang baik 😍

      Delete
  9. Baca paragraf 2,3,4 berasa kayak relate banget sama aku mbak wkwkwk. Apalagi bagian pesawat, ku juga selalu request buat di samping jendela, tapi misalnya kalo kebelet suka ga enak ama yang lain, dan mikir buat bilang permisi itu bisa ngabisin banyak waktu.
    Beda tipis sih sebenernya antara males ngomong atau gak enakan.
    Tapi sekarang sebenernya juga masih sama sih kelakuanku, ngomong juga sepatah2 dan seperlunya. Gak mendukung pekerjaan ku sbg pengajar di universitas. Gak bisa basa basi, jadinya ya gitu. Krik krik wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHA untung bukan saya doang yang begitu ya mas, saya kira saya ini aneh karena susah banget bilang 'permisi' ke orang yang duduk di samping πŸ˜‚

      Saya juga heran, saya ini malas atau memang nggak enakan. Tapi sepertinya lebih ke arah malas, karena meski yang duduk di samping saya itu orang yang saya kenal, saya tetap nggak mau pergi ke toilet dan lebih memilih nggak minum saja sampai nanti tiba di bandara πŸ˜…

      By the way, beberapa kenalan saya yang notabene pengajar di universitas dan sekolah pun banyak yang bicaranya hanya sepatah dua patah kata mas. Bukan tipe yang aktif tapi seenggaknya, dari yang saya lihat, mereka tetap berusaha mengajar dengan baik sesuai skill mereka masing-masing. Dan saya yakin mas Rahmat pun demikian 😁

      Delete
  10. Hahahaha, karena saya dalam dunia nyata adalah sosok yang pendiam, pemalu, nggak enakan, selalu mengalah, selalu sedekah kuping hanya karena nggak enakan, sementara kalau di blog atau di manapun tulisan saya (terkesan) blak-blakan.

    Jadi, sejak awal saya ke sini dan membaca hampir semua tulisan di blog ini, saya bisa menilai dengan jelas, kalau pemilik blog ini seseorang yang tertutup.

    Tapi memang kebanyakan penulis atau blogger atau siapapun yang suka menulis, kebanyakan sifatnya pendiam, tertutup.
    Makanya mereka menulis, karena sulit untuk mengungkapkan maksudnya.

    Entah memang nggak ada tempat membuka pembicaraan (itu sayaahh! hahahaha), atau memang nggak nyaman karena nggak terbiasa atau memang udah karakternya :D

    Bukan cuman aslinya pendiam, tapi sebenarnya saya itu pemalu.
    Saya melawan malu itu dengan berani majang foto di mana-mana, meski jujur saya geli sendiri kadang kalau liat foto sendiri bahahahahahaa.

    Btw juga.. suka banget kisahnya.
    Mengingatkan saya juga nih untuk lebih peka.
    Kadang saya kesal liat orang berwajah bete, padahal belum tentu dia nggak asyik, cuman saja dia sedang banyak pikiran.

    Tidak menjudge orang dari kesan dan penglihatan pertama kita memang yang terbijak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh baru dengar istilah sedekah kuping nih saya πŸ˜‚

      Saya pun sepertinya lebih blak-blakan saat menulis mungkin karena energi yang digunakan juga nggak sebanyak saat berbicara langsung dengan orang lain. Entah kenapa saya suka cape kalau kebanyakan bicara, jadi exhausted sendiri πŸ˜…

      Idenya menarik juga mba, melawan malu dengan memajang foto mba di mana-mana πŸ˜† jadi sekarang sudah nggak malu lagi kah mba? Ehehehe.

      Setuju mba, kita memang seharusnya bisa lebih peka terhadap sekitar dan belajar untuk nggak asumsi sendiri hanya karena melihat raut muka seseorang yang bahkan nggak kita kenal πŸ˜… even itu orang yang kita kenal sekalipun, sebaiknya juga nggak asal asumsi karena takutnya salah. Semangat terus untuk kita belajar lagi dan lagi ya, mbaaa πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. hahahaha sedekah kuping :D
      Iyaaa, jujur di dalam real life, saya nggak pernah punya kesempatan curhat dengan puas, enggak kayak nulis gitu, rasanya bebaaassssss, semacam semua orang diam mendengarkan keluh kesah saya.

      Dalam dunia nyata, kebanyakan teman, keluarga semua hanya minta didengarkan, dan kekurangan saya sulit berkata tidak menjadikan saya suka sedekah kuping alias mendengarkan keluhan orang.

      Suami sebenarnya tipe orang yang diam mendengarkan keluah kesah saya, tapi terlalu diam, sampai kek curhat ama tembok hahaha.

      Satu-satunya tempat curhat yang enak ya psikolog, tapi stres juga kalau keseringan entar bangkrut :D

      Makanya saya suka menulis, rasanya bebaaaasss, semua orang bisa diam sejenak mendengarkan saya hahaha

      Iyaaa, ternyata lama-kelamaan saya bisa beradaptasi.
      Saya jadi berani pose meski banyak orang, meski mukanya jadi kek orang nahan mau ke belakang hahaha.

      Yang paling keliatan progresnya itu video.
      Dulu, bahkan dengar suara sendiri saja saya mual rasanya, sekarang udah lebih berani lah ambil project video di IG :D

      Btw, saya mau mengucapkan selamaaattt dan terimakasih udah menuliskan label moonlight itu, sumpah yeee.. dari semua topik yang menarik dari kancah perblog an.
      Topik relationship in real life itu amat sangat menarik buat saya.

      Bukan untuk membandingkan sih, tapi semacam pengingat agar saya bersyukur dengan hal-hal remeh yang dilakukan pasangan saya.

      Perlahan bisa jadi healing buat saya, untuk lebih menerima pasangan, berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa saya ubah dari pasangan.

      Ya karena kisah-kisah relationship dari pasangan lain, baik manis maupun pahit, rasanya tuh semacam healing banget buat saya menumbuhka rasa cinta ke pasangan.

      Ah ditungguh selalu postingan label Moonlight nya ya.
      Kayaknya bakal jadi label terfavorit pertama deh di blog ini, setelahnya ada Thoughts dan lainnya :D

      Ah ga sabar menanti ksiah selanjutnya :D

      Delete
    3. Memang susah ya mba untuk berkata 'tidak' πŸ˜‚

      Saya sering menghadapi case kesulitan berkata 'tidak' dulunya, tapi sekarang semakin tambah umur, semakin selfish sepertinya jadi belajar bilang 'tidak' kalau memang bukan prioritas saya 😁 itupun harus deg-degan dulu karena nggak enak, tapi tetap saya paksakan diri saya demi kebaikan bersama 😬

      Dan sejujurnya, menulis itu betulan bisa jadi healing karena kita bisa mengekspresikan apa yang kita rasa. Saya pun kalau sedang marah, senang, dan lainnya, pasti berusaha untuk mengekspresikan perasaan tersebut ke dalam tulisan agar lebih plonggg setelahnya 🀣 cuma in the end, yang terpublish yang bagus bagus saja, dan yang isinya amarah hanya berlabuh di draft atau di tong sampah πŸ€ͺ

      Eniho, foto-foto mba bagus kooook nggak terlihat awkward, mungkin karena sudah terbiasa pose ya mba sekarang πŸ˜† saya pribadi juga nggak terbiasa di depan camera, kalau pun ada foto saya itu biasanya candid. Karena saya nggak merasa diri saya photogenic hahaha. Alhasil, saya jarang punya foto personal. Tapi biar begini, sometimes saya doing selca (selfie juga) sama pasangan, buat kenang-kenangan meski mungkin koleksinya nggak sebanyak pasangan lainnya 🀣

      Wah mba sampai komen di post ini soal moonlight karena saya tutup komennya di post itu ya? Hahaha πŸ˜‚ kemarin sempat bingung mau buka atau tutup saja, tapi saya decided untuk buka sekarang. Thank you so much mba Rey atas apresiasinya, semoga post-post di label moonlight bisa menemani hari-hari mba ke depan *ecieeh* 🀣

      Saya pun akan menunggu kisah-kisah mba di label relationship yang selalu saya suka karena bisa belajar banyak juga di sana 😍 once again, thank you mba~

      Delete
  11. ibaratnya sama aja kayak "don't expect too much".

    kak, awkwardnya kak creameno saat di pesawat persis kayak aku kalau lagi terjebak karena hal gak terduga. Aku pun termasuk introvert, dan paling susah sama yang namanya "ajak ngobrol duluan", sama saudara (misal sepupu, keponakan) aja masih bingung mau membuka awal percakapan yang bagaimana.

    Tapi memang iya sih, kita hanya bisa menerka dan tanpa menilai seseorang siapapun itu hanya dari mimik muka beberapa saat saja, karena manusia punya persona masing2 untuk mengcover perasaan. /// teori dari mana

    btw kak creameno ini menetap di korea kah? dan cerita yang menarik kak, aku tunggu cerita cerita berikutnya! :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, we should not expect too much 😊

      Hehehe, mungkin karena semakin kita bertambah usia, kita semakin berhati-hati dalam berbicara dan lebih menjaga tutur kata kita. Lantas kita ended up hanya berbicara apabila itu penting untuk dibicarakan 😁

      Memang seharusnya kita nggak boleh gampang menilai seseorang ya mba Reka ~ semoga kita bisa lebih banyak belajar dalam mengontrol pikiran kita πŸ˜†

      Saya pulang pergi Indonesia Korea diselingi dengan kunjungan ke beberapa negara lainnya mba. Jadi dibilang menetap ya nggak, tapi dibilang cuma liburan pun nggak karena lumayan sering ke Koreanya 😬

      Terima kasih, semoga kita bisa terus menulis ya πŸ˜πŸ™Œ

      Delete
  12. Lhak kok sama ya, gimana ya, kadang tuh aku orangnya terlalu mikirr banget...ke orang lain, maksudnya jand sampe aku berbuat nyebelin ke orang, makanya aku klo berinteraksi ama orang tu atiiii ati bener, bahkan kadang mending lebih baik ga usah diajak ngobrol sekalian aja deh kalau sedang duduk jejeran ma orang asing...

    Maybe karena saking kikuknya, susah berbasa basi sih aslinya akutuh ahahahha, apalagi sama orang yang bertemu untuk for the first time

    Aku milih diem, ga banyak pecicilan atau sesuatu yang bikin orang akhirnya kepo tanya tanya wakkaka, makanya kadang aku ngerasa klo di dunia real aku flat banget, jarang bisa basa basi atau ngobrol panjang....kurang luwes sih huhuhu

    Dari situ aku juga akhirnya aku bikin blog, supaya bisa nyalurin kebutuhan 2000 kata per harinya, supaya plong aja akan pemikiran dan uneg2 sendiri yang biasanya terpendam tanpa bisa disuarakan

    Dan yes...perkara nggak gampang menilai seseorang sebelum tau personality aslinya kayak apa, background dia dsb itu bener banget...setuju ma kata2 kuotenya paulo coelho, tiap orang punya every painnya sendiri yang menjadikan dia akhirnya bersikap seperti yang ditunjukkan pada tampilan luarnya....jadi ga gampang ngejudge adalah penting adanya. Minimal kalau ga sreg ama seseorang lebih baik ga usah diungkapkan yekan, soalnya kita ga tau seberapa sulit dia bergelut dengan hidupnya sampai akhirnya kadang seseorang bisa tampak begitu penuh dengan berbagai aura yang kurang segembira orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, saya juga selalu berharap nggak ada orang asing yang ajak saya bicara karena saya kawatir takut salah πŸ˜‚ terus kalau baru pertama kali ketemu orang, sering salah tingkah. Herannya ini nggak kejadian kalau di dunia kerja, meski baru pertama kali, langsung bisa profesional. Mungkin ini perkara mindset juga, saya selalu nggak nyaman kalau ditanya-tanya hal personal πŸ€ͺ

      Senang ternyata banyak teman yang merasakan hal yang sama, awalnya saya pikir saya aneh karena sebegitunya. Tapi sekarang mulai menerima kalau karakter saya memang demikian 😁 that's why saya senang menulis, bisa menyalurkan apa yang ada di kepala dan saat membalas komentar pun bisa berpikir dulu dan menyusun kata semaksimal yang saya bisa agar nggak salah πŸ˜†

      Betul mba, kadang kita nggak tau alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang berlaku atau bersikap ~ semua pasti punya masalah, cuma berbeda-beda jenis dan kadarnya. Jadi sebisa mungkin kita harus jaga bicara kita dan saya pun berusaha untuk nggak mudah berpikiran aneh soal seseorang. Jujur waktu itu saya cuma parno takut kena marah 😬

      Delete