Talking About Graves | CREAMENO

Pages

Talking About Graves




Hi, gue kembali dengan cerita dalam series MOONLIGHT 😂 mohon maaf gaes, sebenarnya dari kemarin mau lanjut cerita Hong Kong tapi gue belum sempat edit foto yang gue punya. Terus gue lagi agak sibuk karena harus mobile ke banyak tempat, jadilah gue update blog dengan cerita keseharian agar blog gue nggak dianggap mati total 😆

Ohyaaa sebelumnya, teman-teman jangan kaget kalau ke-depannya akan sering lihat foto doi dengan pakaian yang sama karena faktanya doi cuma punya baju beberapa lembar doang ðŸĪŠðŸ˜‚ doi memang hampir sama seperti gue, bajunya sistem 'cuci - kering - pakai' sampai bulukan, dan biasanya gue baru belikan baju lagi apabila baju yang lama sudah dirasa nggak layak 😂✌ karena selama ini yang bertugas beli baju itu gue, maka doi akan pakai kaos 6 lembar yang doi punya untuk kegiatan sehari-harinya sampai gue belikan baju baru yang biasanya baru gue lakukan 6 bulan kemudian 😁

Bagaimana soal baju kerja? Berhubung doi kerja di perusahaan IT dan nggak wajib pakai seragam atau setelan baju formal lainnya, alhasil baju 6 lembar itulah yang doi pakai saat kerja dan dirotasi berdasarkan hari kerjanya 😆 untungggggg isi kantor doi itu laki-laki semua, jadi nggak ada yang peduli kalau doi kerja pakai baju yang sama HAHAHAHAHAHA ~ eh, kok jadi bahas baju, ya? 😅

---

Eniho, kali ini gue mau bahas soal kuburan ðŸ˜ą jadi dulu, sebelum gue memutuskan akan sehidup semati sama doi, kita berdua pernah punya percakapan soal kuburan karena sistem kuburan di Indonesia dan Korea itu berbeda. Kalau di Indonesia kan mayoritas dari kita dikubur ke tanah, sedangkan di Korea itu sistemnya dikremasi alias dibakar. While gue nggak mau kalau dibakar, jadilah gue bahas sama doi soal apa yang harus dilakukan apabila gue meninggal duluan 😁

Long story short, gue dan doi memutuskan apabila gue meninggal di Korea, maka doi harus kirim jenazah gue ke Indonesia dan ternyata biaya kirim jenazah dari Korea ke Indonesia itu nggak murah 😑 dari beberapa info yang gue dapatkan, minimal gue harus persiapkan biaya sekitar 200 juta untuk kirim jenazah gue ke Indonesia *hadeh, sudah meninggal masih buat keluarga susah kok sedih banget yaaa rasanya* dan gue pun berpikir, apa sebaiknya kalau gue memang sudah merasa sakit, better menghabiskan usia di Indonesia saja?

Read: Introduction

Doi pribadi nggak masalah mau dikubur atau dibakar, jadi semisal meninggal di Indonesia pun nggak perlu sampai dikirim balik ke Korea jenazahnya. Buat doi, di manapun akan sama yang penting dekat dan ada gue di sana. *Ecieeeeh so sweet banget yaaa, gue jadi merasa egois sendirian* 😂 tapi masalahnya, setelah gue cari info, kalau mau urus pemakaman jenazah WNA, nggak bisa disembarang tempat seperti pemakaman umum misalnya. Means, gue harus beli kavling kuburan di tempat-tempat seperti San Diego Hills yang harganya cukup untuk membuat kepala gue nyut-nyutan ðŸĪĢ

Memang gaes, hidup itu harus selalu direncanakan, sudahlah pusing harus pikir soal dana darurat dan biaya pendidikan anak, sekarang harus stres juga memikirkan biaya kalau meninggal ke depannya bagaimana 😆 ini mungkin definisi sesungguhnya dari mati segan hidup pun susah kalau kata Om Somad 😁✌ tapi dari situ, gue jadi belajar untuk lebih pintar mengatur keuangan demi saat meninggal dunia nggak sampai menyusahkan keluarga besar 😅

---

By the way, suatu hari gue pernah bertanya ke doi, kalau misal gue meninggal duluan di Indonesia, dan doi harus besarkan anak-anak sendirian, apakah doi akan pulang ke Korea? Karena menurut gue akan susah untuk doi tetap hidup dan membesarkan anak-anak di Indonesia, especially doi laki-laki dan keluarga doi yang mungkin bisa bantu adanya di Korea. Gue pribadi sepertinya nggak akan sanggup besarkan anak di Korea semisal doi meninggal dunia duluan, karena bagaimana pun juga negara sendiri akan terasa lebih nyaman.

Tapi jawaban doi kala itu membuat gue tertegun sejenak, "Kalau kamu meninggal duluan saat kita di Indonesia, aku akan tetap di Indonesia. Agar aku dan anak-anak bisa lebih mudah ketemu kamu kapanpun kita inginkan. Nanti siapa yang bersihkan kuburan kamu kalau aku pulang ke Korea? Terus kalau aku rindu bagaimana?" -- HUAAAAAA! Kok kamu baik banget sih sayang. Gue jadi betul-betul kelihatan seperti mak lampir yang egois kalau begini ceritanyaaah 😂

Psstt, teman-teman harus tau kalau kita memutuskan sehidup semati sama foreigner itu nggak mudah kecuali kita pindah status warga negara. Beberapa orang mungkin beruntung kalau bisa punya visa non-sponsorship alias (F-2 / F-5) yang memang berdiri sendiri visanya. Tapi ada banyak teman gue yang menggunakan visa spouse (F-6) yang mana kalau pasangannya meninggal, hanya bisa stay di Korea sampai anak usia 18 dan setelah itu harus ke luar dari Korea sambil menunggu visa sponsorship dari anak yang half Korean karena suami yang meninggal nggak bisa lagi jadi sponsor visa ðŸ˜Ĩ

Nah, kalau anak ambil kewarganegaraan Indonesia, itu artinya sudah lepas dari hak warga negara Korea. Dan nggak bisa stay di Korea dalam waktu yang lama. CMIIW. Nggak kebayang kan kalau pasangan dikubur di Korea dan kita sama anak-anak harus terbang ke Korea setiap kali merasa rindu dan mau 'bertemu' dengannya 😔 that's why, perkara kuburan ini berhasil membuat gue kepikiran, bahkan sempat berencana baiknya menghabiskan sisa hidup di mana 😂

---

Nonetheless, terlepas dari pembahasan soal kuburan yang memang menakutkan tapi mau nggak mau harus gue persiapkan, gue pun jadi belajar untuk menghargai waktu yang gue punya bersama pasangan karena ternyata betul adanya, kematian itu sangat dekat dengan kita dan sebisa mungkin, selagi kita masih diberi kesempatan, kita harus selalu memberikan usaha terbaik yang kita punya untuk pasangan. Kalau kata simbah, never take things for granted dan selalu berterima kasih pada pasangan karena telah memilih kita 😍

Eniwei, teman-teman ada yang pernah berpikir soal kuburan juga? 😆 kalau pernah, share dong apa saja yang dibahas bersama pasangan, mungkin gue jadi bisa tau lebih banyak informasi lagi dari cerita teman-teman karena sejujurnya gue pun masih buta 😎 plus, apabila ada teman-teman yang mau berbagi kisah, silakan tulis langsung di kolom komentar. Gue akan dengan senang hati membacanya 😄 for the last, semoga kita selalu sehat dan diberikan umur panjang 💕
Hi, I'm back with MOONLIGHT series 😂✌ I'm sorry, actually from yesterday I wanted to continue my Hong Kong trip story but I haven't had time to edit the photos I have. And I'm a bit busy because I need to mobile to many places, so I decide to update my blog with daily stories wishing my blog is not considered dead completely 😆

Oh yeah, please don't be surprised if in the future you will often see photos of my man in the same clothes because in fact he only has a few pieces of clothes ðŸĪŠðŸ˜‚ because his clothes wearing system is 'wash - dry - wear' until the clothes reed, and usually I only buy new clothes if the old clothes are deemed unfeasible 😂✌ because all this time I have been in charge of buying his clothes, so he will use his 6-sheet T-shirt that he has for his daily activities until I buy new clothes for him which normally I did every 6 months 😁

How about working clothes? Since he works at an IT company and is not obliged to wear uniforms or other formal clothes, so he wears only his 6-sheet T-shirt that he has at work and is rotated based on his working day 😆 and luckily, every workers in his office are all men, so no one cares if he works wearing the same clothes every week HAHAHAHA ~ eh, why suddenly talk about clothes? 😅

---

Anyhow, this time I want to talk about the grave ðŸ˜ą so first, before I decide that I will live with my man, we both had a conversation about the grave because the grave systems in Indonesia and Korea are different. In Indonesia, the majority of us are buried in the ground, while in Korea the system is cremated. And because I don't want to be burned, so I discuss with him about what to do if I die first 😁

Long story short, we decided if I died in Korea, then he had to send my body to Indonesia and it turned out that the cost of sending the body from Korea to Indonesia was not cheap 😑 from some of the info that I got, at least I had to prepare a fee around USD 14.000 to send my corpse to Indonesia *fyuh, how can I die and still makes thing difficult for my family, it sad to think about it* and I also think, what should I do if I really sick, is it better to spend my time in Indonesia?

Read: Introduction

How about him? Well, he said it does not matter if in the end he got buried or burned, so if he die in Indonesia, I don't need to send his corpse back to Korea. For him, everywhere will be the same because the important thing is being close with me *Ahem, why he sound too sweet? Now I feel like I'm a selfish person* 😂 but the problem is, after looking for infos, if I want to do the funeral for foreigner spouse, it can't be in public cemeteries. Means, I've to buy grave lots in places like San Diego Hills that cost enough to make my head twitch ðŸĪĢ

Indeed guys, our life should be planned, even I already dizzy because I need to think about emergency funds and children's education costs, now I also feel stress because I need to think about the cost of 'dying' in the future 😆 this might be the true definition of life is hard, but dying is more harder as Om Somad said 😁✌ but From there, I learned to be smarter in managing finances so that when I die, I will not giving trouble to my big family 😅 *finger crossed*

---

By the way, one day I once asked him, if I die first in Indonesia, and he had to raise our children alone, would he go home to Korea? Because in my opinion, it would be hard to stay and raise children in Indonesia, especially because he is a man and his families who might be able to help him is stay in Korea. I personally don't seem to be able to raise our children in Korea if he die first, because after all, our own country will feel more comfortable for us. Isn't it?

But his answer at that time made me stunned for a moment, "If you die first when we are in Indonesia, I will remain in Indonesia. So that me and the children can be more easily meet you whenever we want. Later who will clean your grave when I go home to Korea? And what if I miss you? " - HUUUUAAAAAAAAAA! How come you're so kind, honey. I really look like a selfish person in this story 😂

Psstt, you should know that if we decide to live with a foreigner, it will be not easy unless we move our citizen status. Some people might be fortunate if they can have a non-sponsorship visa such as F-2 / F-5, which the visa does stand on their own. But there are many of my friends who use a spouse visa (F-6) and if their spouse dies, they can only stay in Korea until their kid's age is 18 and after that, they must leave Korea while waiting for sponsor visa from their half Korean child due to a deceased husband no longer can be their sponsor ðŸ˜Ĩ

And, if the children takes Indonesian citizenship, means they will be freed from the rights of Korean citizens. And can't stay in Korea for a long time period without new visa. CMIIW. So, I cannot imagined if our spouse is buried in Korea and we have to fly to Korea every time we feel like wanna meet our husband / wife 😔 that's why, this grave case succeeded makes me feel a lilbit dizzy, even I do have thoughts about where should I spend the rest of my life in the future.

---

Nonetheless, apart from discussion about the grave which is indeed scary but inevitably need to prepare, I also learned to appreciate the time I have with my man because it turns out to be true, death is very close to us, and while we are still given the opportunity, we should always give the best effort that we have for our partner as much as possible. As my grandma said, never take things for granted and always thank our man / woman for choosing us 😍

Anyway, have you ever thought about the grave? 😆 If ever, please share anything you discussed with your partner, maybe I can find out more information from your stories because honestly I'm still don't know much about it 😎 Plus, if you wanna share your stories, please write directly on the comment column. I will be happy to read it 😄 for the last, hopefully we are always healthy and given a long life 💕

29 comments:

  1. Saya sudah .. ikut program di mesjid terdekat dimana kita setiap bulan membayar nilai yang murah. Saat meninggal nanti, pengurusan terhadap jenazah hingga pemakaman akan diurus oleh mesjid itu.

    Jadi, kalau saya pergi duluan, setidaknya, si yayang tidak akan terlalu repot. Dia hanya perlu berbicara dengan pengurus mesjid dan mereka akan handel pemakaman.

    Pemikiran soal kematian juga yang membuat saya malas pergi-pergi lagi kalau cuma sendirian. Saya pengen perginya barengan dengan si yayang. Kalau si kribo cilik kan sudah susah diajak pergi bareng.

    Jadi, kemana-mana sekarang saya sering pergi berdua, baik sekedar jalan atau nongkrong. Bahkan, saya yang males nganter belanja, sekarang mah sering nawarin.

    Bukan apa-apa, waktu saya sebagai manusia, kalau menurut logika tinggal beberapa tahun lagi. Jadi, saya mau menghabiskannya sesering mungkin dengan orang yang saya sayangi.

    Itu saja.

    Maaf, jadi agak panjang..:-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, ternyata ada yang bisa lewat masjid ya mas. Sepertinya simbah saya dulu demikian cuma saya waktu itu kurang paham, tapi memang dimakamkannya di pemakaman warga yang ada di area kampung simbah 😄 enaknya kalau sudah ada sistem yang terarah, jadi tenang ~

      Sama mas Anton, saya juga sekarang lebih ingin menghargai waktu yang saya punya bersama orang-orang yang saya sayang. Karena nggak mau menyesal dihari kemudian dan ingin bisa hidup lebih sehat agar diberi kesempatan hidup lebih panjang 😆

      Semoga mas Anton sekeluarga selalu diberikan kesehatan, dan umur panjang ya mas. Biar bisa terus menginspirasi banyak orang melalui tulisan-tulisan mas 😎🙌

      Delete
    2. Orang kayak Pak Anton ini, sekilas arogan banget, keras, egois banget.

      Akan tetapi justru yang lebih manis dari gula manapun :D

      Jarang loh ada suami yang memikirkan hal seperti ini, semoga para lelaki lain, bisa belajar dari Pak Anton :D

      Delete
    3. Hihi, biasanya yang keras dan tegas di luar, manis di dalam mba 😎 manisnya hanya untuk keluarga tercintaaa 😆

      Delete
  2. Waktu masih di Jepang, saya pernah menulis tentang pemakaman muslim di sana. Karena ada orang Indonesia yang terkena musibah.

    Dari peristiwa tersebut saya banyak belajar kalau menjadi migran memang tidak mudah dan harus benar2 siap mental karena di negeri orang nggak hanya ada cerita yang enak2 aja.

    Karena sekarang udah balik ke Depok kadang mikir juga nanti mau dikubur di Depok atau Semarang. Karena saya dan keluarga udah KTP Depok tapi keluarga besar di Semarang semua.

    Wah, moonlightnya baik banget, mba. Nggak nyangka beliau punya pemikiran seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pernah baca sepertinya post mba 😆

      Memang susah mba kalau kita meninggal bukan di negara kita, karena proseduralnya berbeda, dan terkadang, kita lebih ingin dikubur di negara kita atau bahkan kampung halaman tercinta 😁 seperti mba yang masih memikirkan, baiknya di Depok atau kampung halaman Semarang saja.

      Iya, dia berpikir kalau dikubur di tanah berarti harus selalu dibersihkan, while di Korea, kita nggak perlu bersihkan rumah abunya mbaa. Hehehe. Cuma saya kaget waktu dia bilang, kalau rindu bagaimana 😂 iya juga yaaa, saya jadi berpikir semisal saya rindu tapi nggak stay di satu negara, pasti akan susah untuk bolak-balik apabila ingin berkunjung dan bertemu dengan pasangan.

      Yang di satu negara tapi beda kota saja juga terkadang susah kalau ingin visit ke kuburan, pasti inginnya dikubur di kota yang sama tempat kita tinggal agar mudah mengunjunginya ya mbaaa (seperti simbah saya). Well, apapun itu, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan panjang umur agar bisa hidup lebih lama 😍💕

      Delete
  3. Wow, romantis sekali suami mbak Eno, kalo misalnya di Indonesia dia tetap mau disini agar bisa mengunjungi mbak setiap saat, hiks, bacanya jadi terharu.😭

    Saya sebagai orang perantauan juga kadang bingung. Saya asli Tegal tapi merantau di Banten, sudah lama menetap disini bahkan sering nya disini. Dalam setahun, 11 bulan lebih saya di Banten mbak, 1 bulan di Tegal doang dan itupun kalo lebaran idul Fitri.

    Kalo menurut keinginan keluarga besar sih memang penginnya di makamkan di Tegal saja, soalnya keluarga besar dari kakek buyut, kakek, nenek dan lainnya di Tegal.

    Memang ongkos meninggal itu mahal. Ada paman saya meninggal di Banten karena memang merantau juga, biaya ambulans dari Banten ke Tegal itu 5 juta, belum biaya lainnya.😔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya memang begitu ya mas, keluarga besar minta kita satu area kuburan biar lebih mudah ~ keluarga ayah dan ibu saya pun demikian. Cuma saya sepertinya nggak join makam keluarga, karena berencana ambil kavling sendiri bersama pasangan agar bisa berdekatan terus sampai liang lahat.

      Huhu, itu dia ternyata ongkos meninggal nggak murah. Dan harus direncanakan juga biar nggak menyusahkan keluarga yang ditinggalkan. Saya jadi paham kenapa simbah saya dulu selalu simpan uang di bawah kasur, dan saat ditanya jawabannya, "Untuk biaya meninggal." -- ternyata simbah nggak mau menyusahkan anak cucunya ðŸ˜Ē padahal simbah meninggal dan dikuburnya di kampung halaman.

      Apalagi kita yang mungkin akan perlu menempuh jarak jauh dan butuh angkutan seperti pesawat atau mobil ambulans antar kota 😕 semangat mas menabungnya, dan semoga mas Agus selalu sehat serta diberikan umur panjang 😍🙌

      Delete
    2. Iya mbak, ibu saya juga sudah menabung buat nanti katanya kalo meninggal, itu bukan tahun ini tapi sejak lima tahun lalu

      Padahal dengar kata meninggal saja aku sudah sedih, soal biaya menurutku ngga usah terlalu dipikirkan, insya Allah aku dan saudara saudara aku akan berusaha yang terbaik. Yang penting orang tua sehat selalu, itu udah cukup.

      Dulu kalo ngga kakek aku juga gitu, ada sepetak sawah yang tidak dijual, khusus buat biaya penguburan dirinya.

      Semoga mbak Eno juga selalu sehat.😊

      Delete
    3. Rata-rata orang tua begitu ya mas, nggak mau menyusahkan anak sampai dipersiapkan semuanya. Padahal anak-anak juga nggak masalah pasti akan memberikan yang terbaik untuk orang tuanya 😊

      Semoga ibu mas Agus sehat dan diberikan umur panjang 😍

      Delete
  4. Ngomong-ngomong San Diego Hills, kemarin ini di grup wassap sempat rame soal daftar harga paket kuburan di sana. Aku spontan ngomong ke suami, harga DP kuburan aja udah seharga DP rumah 😅😅😅

    Aku belum pernah bahas soal ini sama suami Mba, sejujurnya aku yang takut karena langsung sedih ngebayanginnya 😭 Tapi memang obrolan ini harus ada ya. Karena kita nggak pernah tahu usia seseorang itu sampai kapan. Tapi semoga kita semua sehat selalu dan diberi umur panjang.

    Bener banget soal waktu yang ada ini harus dipakai dengan baik untuk dihabiskan dengan orang-orang tercinta yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sempat check harganya juga mba Jane, dan memang mahal bangetttt. Ada yang sampai seharga rumah betulan juga 😅 langsung sakit kepala lihatnya 😂

      Saya juga awalnya ragu mau bahas apa nggak mba, tapi saya pikir lebih baik dibahas dari awal karena umur nggak ada yang tau kan. Jadi biar bisa ancang-ancang dan tau apa yang harus dilakukan ke depannya 😕

      Amiiin, semoga mba Jane dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang agar bisa menikmati waktu kebersamaan dengan orang tercinta lebih lama 😍💕

      Delete
  5. huhu.. sulit juga ya mba kalo beda kewarganegaraan, bahkan urusan kematian pun jadi repot dan butuh modal banyak. 200 juta itu angka yg besar bgt. bisa buat beli rumah ukuran 60m2 di daerah kabupaten tangerang. hehe..

    Mbaa, kalo aku belum pernah membicarakan soal kematian sama suami. gak berani bayanginnya.. huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, apalagi yang jauh-jauh tinggalnya seperti di USA dan lainnya mungkin akan lebih mahal lagi biayanya 😔 semoga info yang saya baca salah dan harga sebenarnya nggak sebesar itu semisal harus kirim ke Indonesia 😑

      Nggak apa-apa mba, memang butuh waktu untuk membahasnya, saya juga sempat pikir panjang 😁🙌

      Delete

  6. Is not life is only a moment, for what despair
    It's a waste of time, doesn't everyone have problems
    What we have to go through, With a brave heart


    Forget the gray past, We make a new step
    Don't just wait, hope, opportunity, and also time
    Will not always come, over to our lives


    Be thankful today, we can still meet
    And don't forget, He is up there.


    Haaahaaa Suuueee..ðŸĪĢðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas, nggak salah lapak kan?
      Ini bukan blog mas Agus 😂

      Delete
    2. Emang dia komentar apa sih mbak, ngga paham.😂

      Delete
    3. Mau di kopas komentarnya buat diterjemahkan ngga bisa.😂

      Delete
    4. Saya lupa balas komentar mas Agus rupanya 😂 si mas Satria komentar semacam puisi gituuuu, makanya saya tanya, salah lapak atau nggak ðŸĪĢ biasanya kan mas Satria tulis yang aneh-aneh di blognya mas Agus 😁✌

      Delete
  7. Mahal juga ya ternyata biaya mengirimkan jenazah dari Korea ke Indonesia...

    Btw, tuntutan buat kita yang hidup zaman kiwari ini, ketika hampir semua urusan mesti diselesaikan dengan uang, memang benar-benar, deh, Mbak. Sudahlah tanah atau harga rumah mahal, sebelum meninggal pun mesti meluangkan masa buat menabung demi pemakaman. :D



    ReplyDelete
    Replies
    1. Cukup mahal mas, mungkin prosedurnya banyak 😔

      Betul mas, apa-apa semua harus pakai uang. Sudahlah harus berpikir untuk hidup, harus berpikir juga nanti saat meninggal agar nggak menyusahkan orang banyak. Terus kalau pakai asuransi pun nggak bisa langsung cair di hari kita meninggal, mau nggak mau harus punya dana khusus yang memang disimpan sebagai dana darurat / dana meninggal 😅

      Semoga kita semua diberi umur panjang ya, mas 😍

      Delete
  8. Bicara ttg kematian... Sereem ya, tpi yg namanya ajal itu pasti datangnya, biasanya buat urusan dan biaya pemakaman kalo buat yg muslim kebanyakan di Indo ada iuran dari petugas masjid ...jadi keluarga yg ditinggalkan tinggal mengikuti saja, dan dikuburkan ,tapi bisa juga atas permintaan keluarga agar jenazah dikuburkan ditempat dimana dia dilahirkan...sy bru ngeh kalo mba Eno beda kewarga negaraan sama suami nya ya mbak... Mahaal banget yaaa ternyata... Lahir, hidup, sampai kita meninggal pun ga lepas dari duit 😑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seraaam mbaaa 😕

      Iya di Indo enaknya ada yang iuran ke masjid jadi dipermudah, apalagi masih banyak sistem gotong royong warga. Cuma kalau yang tinggal di kota besar atau apartment begitu saya belum tau sistemnya bagaimana, sepertinya tetap harus beli meski di pemakaman umum ya mba? CMIIW ~

      Mahal memang mba, semua selalu ada sangkut pautnya sama uang. Memang harus rajin menabung sedari muda, biar bisa hidup tenang ketika tua. Sehat-sehat untuk kita mbaaaaa, semoga rejeki kita dilancarkan, dan diberika umur panjangggg 😍💕

      Delete
  9. Terimakasih say sudah berani menuliskan hal ini, jujur ini topik yang jarang banget mau dibahas karena bikin baper.

    Jujur, saya dulu pernah berpikir seperti ini, tapi hanya sebatas berpikir, dan sempat mengutarakan ke pak suami, kalau saya meninggal, saya mau dimakamkan di dekat ortu saya.

    Terus sekarang semua berubah, bukan berubah nggak mau gitu lagi sih, cuman mungkin udah pasrah aja karena tahu biaya kirim jenazah itu nggak murah.

    Btw, mama saya nih yang sudah siap-siap kayak gini, mengingat adat di Buton itu rempong berat.

    Dulu waktu adik saya meninggal, kami kelimpungan dengan syarat-syaratnya, harus ada sarung motif gini, harus ada ini itu, duh ribet.

    Alhasil mama saya sekarang sudah siapin semuanya.
    Saya sedih kalau mama ngingatin kami, di mana dia simpan sarungnya, di mana dia simpan ininya, sekalian ama duitnya loh, karena di sana itu mahal dah kalau meninggal.

    Adatnya masih kental banget, meski sekarang udah mulai ada beberapa orang yang lebih modern.

    Btw memang rempong ya menikah beda negara, jangankan beda negara, beda pulau aja rempong.

    Dan, saya mau berterimakasih juga, tulisan ini semacam mengingatkan lagi, bahwa kita ini cuman sementara di dunia, dan suami, anak-anak. semua itu cuman titipan dari Tuhan buat nemanin kita.

    Hiks jadi baper kan, pengen peluk anak-anak dan suami, mau bilang terimakasih, mumpung masih diberi waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan memang lebih enak kalau dimakamkan dekat dengan keluarga atau orang tua ya mbaaaa ~

      Mamanya mba sama seperti simbah saya, semua sudah dipersiapkan sampai dikasih tau, letak kainnya di mana dan lain sebagainya 😔 kadang kalau sudah dibilang begitu jadi sedih anak-anak dan cucu-cucunya. Huhuhuhu.

      Semoga mba Rey sekeluarga diberikan kesehatan dan umur panjang, bahagia sejahtera, dan rejeki yang lancar. Amiiiiiin. Sehat-sehat selalu mba, dan semoga kita selalu diingatkan bahwa hidup hanya sementara 💕

      Delete
  10. Dulu saat aku ambil S2 di Rusia, sebelum berangkat keluarga/wali kami diharuskan menandatangani perjanjian bahwa jika saya meninggal jenazah-nya wajib dibawa ke Indonesia, saat kenal pacar, dulu dia cengengesan baca surat perjanjian itu, karena saat itu di Rusia kalau ada yang meninggal prosesnya simpel sekali, kantor catatan sipil akan membuat surat kalau ybs meninggal, selanjutnya terserah mau dikremasi atau dimakamkan itu terserah - bahkan mereka ga memandang warna negara setempat atau asing.

    Masalah mau dimakamkan di mana, kami ga terlalu ambil pusing sih, yang penting saat meninggal itu tidak terlalu banyak merepotkan orang yang masih hidup saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, padahal orang Rusianya juga nggak ambil pusing ya mau diapakan kalau sudah meninggal. Mungkin yang meminta pembuatan surat perjanjian nggak begitu paham sistem di Rusia bagaimana. Tapi saya yakin, keluarga mas Anggie setuju dibawa pulang ke Indonesia karena akan lebih baik untuk keluarga agar bisa selalu tengok kapan saja 😁

      Iya mas, yang penting memang jangan sampai merepotkan keluarga yang ditinggalkan 🙌 sehat selalu untuk kita ya, mas 😄

      Delete
  11. Perlu dipikirin sih emang.
    Aku pun sempat memikirkan meski ga serumit kalau misal aku ada di luar negeri. REquest Bunda, aku harus menghabiskan masa tua di kampung. Karena aku punya rumah. Kalaupun tidak mau tinggal di sana ya harus tetep bangun rumah di sana.

    Tapi, orang Jawa itu punya satu kepercayaan seperti ini. Cerita sedikit, sepupuku masih mudah, usia 30an meninggal beberapa tahun lalu, dia meninggal di rumah istrinya di kampung sebelah yang sebenarnya ga jauh banget dari rumah aslinya. Tapi, entah kenapa kok dikubur di kampung sang istri.

    Nah, kata orang Jawa hal itu karena dulu tubuh dia diambil dari tanah di kampung itu (manusia berasal dari tanah).

    Jadi, meski aku berencana pulang kampung dan aku berpikri kalau suamiku berasal dari tanah di kampungku aku tetep pasrah saja kelak bagaimana. Apakah tetap di Bali atau Malang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan memang rata-rata ingin dikuburkan di kampung atau tempat di mana orang tua berada ~ kalau dari komentar komentar teman lain termasuk teman saya in real life yang baca postingan saya, mostly pada berpikir untuk dikubur di kampung halaman especially kalau merantau jauh ke kota lainnya 😁

      Tapi, beberapa teman ada juga yang bilang kalau memang kemungkinan besar anak dan suami / istri akan menetap di kota yang sekarang (seperti mba di Bali), maka mereka mau dikubur di Bali saja agar lebih dekat dengan suami / istri dan anak-anak 😎 mungkin baru bisa memutuskan kalau sudah menetap di kota baru dalam hitungan lebih dari 10-20 tahun kali yaaa mba 😆

      Delete