Neighborly Life | CREAMENO

Pages

Neighborly Life




Kadang, kalau lagi melamun, gue sering sekali flashback ke hidup gue saat masih anak-anak, yang menurut gue sangat menyenangkan dan nggak ada beban πŸ˜‚ ditambah, jaman bocah, konsep hidup mostly masyarakat Indonesia adalah bertetangga, yang saling membantu dan bergotong royong satu sama lainnya. Meski gue yakin, sekarang pun nggak jauh beda, tapi entah kenapa, semenjak gue pindah dari rumah orang tua, gue jadi nggak kenal siapa-siapa πŸ˜…
Sometimes, when I'm daydreaming, I often flashback to my life as a child, which I think was very fun and there was no burden πŸ˜‚ and when I was a kid, the life concept of most people is neighborly life, who help each other and works together 😁 Even though I'm sure now it's not much different, but somehow, since I moved from my parents' house, I don't know my new neighbors anymore πŸ˜…
가끔 λ©λ•Œλ¦¬κ³ μžˆμ„ λ•Œ μ €λŠ” μ’…μ’… μ–΄λ Έμ„λ•Œ 뢀담없이 κ·Έλƒ₯ μ¦κ±°μ› λ˜ μ–΄λ¦°μ‹œμ ˆμ„ λŒμ•„λ³΄κ³€ν•΄μš” πŸ˜‚ μ œκ°€ 어렸을 λ•Œ λŒ€λΆ€λΆ„μ˜ μ‚¬λžŒλ“€μ€ μ„œλ‘œ 돕고 같이 μΌν•˜λŠ” μ΄μ›ƒμ˜ μ‚Άμ΄μžˆμ—ˆμ–΄μš” 😁 μ§€κΈˆλ„ λ‹€λ₯΄μ§€ μ•Šμ„μ§€λ„ λͺ¨λ₯΄μ§€λ§Œ μ €λŠ” λΆ€λͺ¨λ‹˜ 집을 λ‚˜μ˜€κ³ λΆ€ν„° 이웃 μ‚¬λžŒλ“€μ„ λͺ°λΌμš” πŸ˜…



Jikalau dulu, gue bisa sebut semua nama tetangga rumah orang tua gue dari ujung jalan utara sampai ujung jalan selatan, sekarang, gue bahkan nggak tau nama tetangga yang tinggal di sebelah rumah gue karena kami memang nggak pernah bersisian πŸ˜‚ setiap kali ke luar dari rumah, kami sudah berada di dalam mobil masing-masing, pun saat tinggal di apartment, bisa dibilang gue jarang sekali pas-pasan sama tetangga, dalam setahun mungkin hanya dua kali saja πŸ€ͺ
If in the past, I could remember all of my parents neighbors from the north to the south, now, I don't even know the name of the neighbor who lives next to my house because we have never crossed or met each other πŸ˜‚ and each time we went out from our house, we were already in our own car πŸ˜… while when I live in an apartment, I rarely meet my neighbors too (in a year maybe only twice) πŸ€ͺ
과거에 μ €λŠ” λΆ€λͺ¨λ‹˜μ˜ μ•ž 뒷집 이웃을 μ „λΆ€ μ•Œμ•˜μ–΄μš”. μ§€κΈˆμ€ λ§Œλ‚œμ λ„ λͺ¨μΈμ λ„ μ—†μ–΄μ„œ 이름쑰차 λͺ°λΌμš” πŸ˜‚ 그리고 집을 λ‚˜μ„œλ©΄ λ°”λ‘œ 차에 타죠 πŸ˜… μ•„νŒŒνŠΈμ— μ‚΄μ•˜μ„ λ•Œλ„ 이웃을 거의 λͺ»λ§Œλ‚¬μ–΄μš”(일년에 ν•œλ‘λ²ˆμ •λ„) πŸ€ͺ



Gara-gara ini juga, gue jadi ingat masa kanak-kanak gue yang setiap habis mandi jam empat sore langsung 'ngacir' ke rumah tetangga untuk main sama anak lainnya, lalu jam setengah enam sore nyokap akan berteriak memanggil gue untuk pulang ke rumah, sudah magrib katanya 😁 dan gue masih ingat masa di mana nyokap menyuruh gue untuk antar makanan ke depan rumah, kemudian sama tetangga tersebut diberi makanan pengganti untuk dibawa pulang 🀣
Because of this, I got remind about my childhood, which after shower at 4 p.m, normally I went to my neighbor's house to play with other kids, then around 5.30 p.m my mom would shout out to tell me to go home, "Already evening!" she said 😁 and I still remember the time when my mom told me to bring some food to the house in front of us, then the front neighbor gave another food for us 🀣
이런점 λ•Œλ¬Έμ— μ €λŠ” μƒ€μ›Œλ₯Όν•˜κ³  μ˜€ν›„ 4μ‹œμ— λ‚˜κ°€μ„œ 동넀 μΉœκ΅¬λ“€κ³Ό 놀고 5μ‹œ 반이 되면 μ—„λ§ˆκ°€ "저녁이닀!"라고 ν•˜μ‹œλ©΄μ„œ μ†Œλ¦¬μΉ˜μ…¨λ˜κ±Έ νšŒμƒν•΄μš” 😁 그리고 아직도 μ—„λ§ˆκ°€ μ˜†μ§‘μ— μŒμ‹μ„ κ°€μ Έλ‹€ 주라고 κ°€μ Έκ°€λ©΄ μ΄μ›ƒμ§‘μ—μ„œ λ‹€λ₯Έ μŒμ‹μ„ μ£Όκ³  ν–ˆμ—ˆλ˜κ²Œ κΈ°μ–΅μ΄λ‚˜μš” 🀣


Dan ada masa di mana nyokap menyuruh gue untuk beli sembako di warung Engko gang sebelah, lalu pulangnya gue lihat teman gue sedang main Congklak di depan rumahnya kemudian gue ikutan main sampai lupa kalau nyokap menunggu sembakonya di rumah πŸ˜‚ lantas nyokap pun pernah dengan semena-menanya menitipkan gue ke tetangga karena ada urusan, dan gue ditinggalkan begitu saja di rumah tetangga hanya atas dasar percaya πŸ™„πŸ€£
And there were a time when my mom told me to buy groceries at Engko (chinese shop) nearby, and on my way to go back home, I saw my friend playing Congklak in front of her house, so I went along to play until I forgot that my mom was waiting at home πŸ˜‚ and my mom also sometimes arbitrarily leave me to the neighbors because she had something to do, and I just left in the neighbor's house only on the basis of trust (how can she trust someone easily?) πŸ™„
그리고 μ—„λ§ˆκ°€ Engko(쀑ꡭ상점)μ—μ„œ μž₯봐였라고 μ‹œν‚€λ©΄ μ˜€λŠ” 도쀑에 μΉœκ΅¬λ“€μ΄ μ§‘μ•žμ—μ„œ Congklakλ₯Ό ν•˜λŠ”κ±Έ 보고 μ—„λ§ˆκ°€ μ§‘μ—μ„œ κΈ°λ‹€λ¦¬λŠ” 것도 μžŠμ–΄λ²„λ¦¬κ³ λŠ” λ†€κ³€ν–ˆμ–΄μš” πŸ˜‚ 그리고 μ—„λ§ˆλŠ” λ°”μœμΌμ΄ 있으면 이웃집에 μ €λ₯Ό λ§‘κ²Όμ–΄μš”. μ„œλ‘œ λ―ΏκΈ° λ•Œλ¬Έμ— 맑기고 갈 수 μžˆμ—ˆμ–΄μš”(μ–΄λ–»κ²Œ λˆ„κ΅°κ°€λ₯Ό μ‰½κ²Œ λ―Ώμ„μˆ˜ μžˆμ„κΉŒμš”?) πŸ™„


Kadang bisa dibilang, gue rindu bersosialisasi sama para tetangga dan berteriak memanggil nama teman gue dari gerbang rumah πŸ˜† tapi memang sekarang sudah nggak bisa, karena area tempat gue tinggal di Bali kebanyakan adalah villa-villa foreigners yang hidupnya sangat individual ~ while di Korea, gue di apartment dan seperti yang gue ceritakan pada paragraf awal, gue sangat jarang ketemu sama tetangga sebelah πŸ˜‚ jadi sosialisasi gue pun terbatas hanya dengan sahabat, teman lama, keluarga ataupun rekan kerja πŸ˜†
Sometimes I could say that I miss socializing with my neighbors and shouting my friend's name from the gate of their house πŸ˜† but now I can't, because the areas where I live in Bali are mostly foreigners' villas whose lives are very individual ~ while in Korea, I stay in an apartment and as I told you in the first paragraph, I rarely see my next door neighbors πŸ˜‚ so my socialization is limited only with my friends, my bestfriends, my family and my colleagues πŸ˜†
μ €λŠ” 가끔 이웃듀과 μΉœν•΄μ§€κ³  μΉœκ΅¬μ§‘ λŒ€λ¬Έμ•žμ—μ„œ μΉœκ΅¬μ΄λ¦„μ„ μ†Œλ¦¬μΉ˜λ˜ λ•Œκ°€ κ·Έλ¦¬μ›Œμš” πŸ˜† ν•˜μ§€λ§Œ λ°œλ¦¬μ—μ„œ μ§€κΈˆ μ‚¬λŠ”κ³³μ€ 개인의 삢을 μ‚¬λŠ” 외ꡭ인 λΉŒλΌκ΅¬μ—­μ΄λΌ 그럴 수 μ—†μ–΄μš” ~ 첫 μ‚¬μ§„μ—μ„œ λ§μ”€λ“œλ¦°κ²ƒ 처럼 ν•œκ΅­μ—μ„œ μ•„νŒŒνŠΈμ— μžˆμ„ λ•Œλ„ μ˜†μ§‘ μ‚¬λžŒμ„ 거의 보지 λͺ»ν–ˆμ–΄μš” πŸ˜‚ κ·Έλž˜μ„œ 제 μ‚¬κ΅ν™œλ™μ€ 친ꡬ, λ² ν”„, κ°€μ‘± 그리고 λ™λ£Œλ“€λ‘œ μ œν•œλ˜μžˆμ–΄μš” πŸ˜†



Kalau teman-teman bagaimana? Apakah masih bisa bersosialisasi dengan tetangga atau seperti gue nasibnya? πŸ˜… dan adakah kegiatan masa kecil yang teman-teman rindukan? Seperti gue yang rindu mau belanja di warung Engko tapi nggak bisa karena nggak ada warung kelontong di area rumah gue sekarang, plus seperti gue yang rindu memanggil nama teman gue, "Tia, main yuuuuk!" dari depan gerbang rumahnya karena sekarang kalau berkunjung ke rumah teman, gue pasti phone call untuk info kalau gue sudah di depan rumah 🀣

Ceritakan pengalaman menarik teman-teman, dan akan ada saldo Go-pay sebesar IDR 200.000 untuk satu teman yang berbagi cerita di kolom komentar 😍 saldo bisa diuangkan melalui pilihan withdraw di-aplikasi Go-pay teman-teman πŸ˜‰ ps: pengumuman akan gue info pada post gue mendatang. So, mari berbagi cerita bersama πŸ˜†πŸ’•
How about you guys? Can you still socialize with neighbors or live like me? πŸ˜… and are there any childhood activities that you guys miss? Like me who wants to shop at Engko's shop but can not because there is no small shop in my area now, plus like me who miss calling my friend's name, "Tia, let's play!" from the front gate of her house because now when I visit my friend's house, I will definitely call her to inform her that I already in front of her house 🀣
μ—¬λŸ¬λΆ„μ€ μ–΄λ– μ‹ κ°€μš”? 이웃듀과 아직도 κ΄€κ³„ν•˜λ©° μ§€λ‚΄μ„Έμš”? μ•„λ‹ˆλ©΄ μ €μ²˜λŸΌ? πŸ˜… 또 μ–΄λ¦°μ‹œμ ˆ ν–ˆμ—ˆλ˜ 그리운 ν™œλ™λ“€μ€ μ—†μœΌμ‹ κ°€μš”? Engko's μ—μ„œ μ‡Όν•‘ν•˜κ³  μ‹Άμ§€λ§Œ μ§€κΈˆμ‚¬λŠ”κ³³μ€ 상점이 μ—†μ–΄μ„œ ν•  수 μ—†κ³  "Tia λ†€μž!"라며 λŒ€λ¬Έμ•žμ—μ„œ μ œκ°€ λ„μ°©ν–ˆμŒμ„ μ•Œλ¦¬λ˜κ²Œ 그리운 μ €μ²˜λŸΌμš” 🀣

17 comments:

  1. Menurutku memang beda mbak zaman dahulu sama sekarang. Dulu aku juga sering main sama teman waktu kecil, mainnya apa saja, dari gelatik, gobak sodor ataupun kartu wayang.

    Kalo main ya gitu, kadang suka lupa waktu. Baru berhenti bermain setelah ibu atau bapak datang, biasanya itu juga karena udah mau Maghrib tapi belum mandi karena keasyikan bermain.😁

    Soal dititipkan, aku pernah mengalami, bukan cuma sejam atau sehari bahkan berbulan-bulan mbak. Jadi ceritanya bapak sama ibu itu usaha warteg di Jakarta, tapi aku sama adikku dan kakakku itu masih kecil, repot kalo dibawa di warteg karena sempit sekali warungnya.

    Jadi aku dititipkan ke teman baik bapak saya, biarpun cuma teman baik tapi sudah seperti saudara. Kalo saya potong rambut juga gratis. Makanya bapak saya percaya saja sama dia. Alhamdulillah biarpun begitu saya dan kakak adik diurus seperti anak sendiri. Dikasih makan, kalo pagi kadang malah dikasih kue lemper.

    Tapi tetap saja, kalo bapak ibu pulang ya ke rumah sendiri.

    Kalo sekarang memang jarang ya, tapi di kampung sini masih ada kok, teman kuli saya kadang nitip anaknya sama tetangga, soalnya suami istri kerja semua.😊

    ReplyDelete
  2. Tuh kan Mba, aku baru pagi ngecek blognya Mba Eno ada tiga postingan baru yang belum kubaca, pikirnya ah nanti siangan mau baca. Pas buka blog ini lagi, busyeeet udah ada 3 postingam baru lagi! πŸ˜‚

    Ngomongin masa kecil, aku juga mengalami momen main bareng teman tetangga (yang kebetulan murid les mamaku juga 😁), plus saudara sepupu juga yang rumahnya nggak jauh dari tempat tinggalku dulu. Sehabis bobo siang, aku sama adikku pasti main sepeda keliling komplek ditemenin ART. Kalau tiba-tiba lagi main terus ada tukang bakso lewat, langsung pulang manggilin mama biar makan bareng hahahaha

    Pas tinggal di Bali aku juga masih sempat bertukar sapa dengan tetangga. Kebetulan gang tempat tinggal orangtuaku itu semuanya pendatang, bukan asli Bali. Hanya mereka udah di Bali selama 20 tahunan gitu. Waktu kami pindah ke sana, mereka ramah sekali saling bantu dan memberikan informasi. Bahkan pernah waktu mereka merayakan Idul Adha, ada acara potong sapi kan tuh di lapangan kosong sebrang rumah, ehh kami kebagian jatah daging lho, padahal mereka tau kami non Muslim tapi tetap kebagian hihi. Bersyukur banget disayang tetangga πŸ˜‚

    Btw Mba Eno, kapan-kapan kalau aku pulang Bali dan kebetulan Mba Eno lagi di sana juga, kita bersapa yok. Harusnya setelah Lebaran ini aku pulang tapi gara-gara si korona batal deh hiks

    ReplyDelete
  3. Kalo inget masa kecil, kayaknya dulu aku lebih bisa bersosialisasi, apalagi kompl rumah dulu deketan dan kayak cluster zaman skr. Paling sering ya main dengan temen tetangga yg kebetulan seumuran. Paling inget Ampe skr, diajakin temen untuk nyicipin buah Jarak, yg menurut dia itu sodaranya kacang :p. Pas dicoba, iya siiih mirip kacang, dan aku dengan semangat makan banyak. Malamnya, kita berdua sakit perut, dan 2-2, nya dibawa ke UGD Ama papa hahahaha.. sampe akhirnya diinterogasi makan apaan kami berdua.

    Kalo dititipin ke tetangga, aku sih blm pernah, Krn dulu ada babysitter yang ngajagain. Tapi tetanggaku sering nitipin anaknya ke rumah mama :D. Malah seneng akunya, Krn ada temen main berarti. Beda sih yaaa, kalo dulu mah tetangga udh kayak sodara. Apalagi mereka pasti tempat kita minta pertolongan pertama kalo ada apa2.

    Yang paling terekam di otakku, pernah tuh, mama ribut Ama adik iparnya, sampe teriak2, dan aku yg ketakutan setengah mati. Papa LG dinas ke LN. Untungnya tetangga sebelah yg akhirnya kluar nenangin mama :(. Mungkin saking takutnya aku dulu, sampe keinget segala.

    Setelah besar gini, jujur aja aku bisa dibilang ga prnh sosialisasi Ama tetangga. Suasananya udah beda, dan kayak susah banget bisa beramah tamah dgn mereka. Yg ada, cuma pas lebaran doang kami sekeluarga nyempetin ke tetangga, salam2an, trus juga pulang :D.

    Kenapa zaman itu semakin modern, tapi membuat kita semakin jauh dan individual yaaa...

    ReplyDelete
  4. Jaman dulu abis mandi, pakai bedak, celana jeans, dan minyak rambut langsung main bola lagi. Pulang magrib dimarah ibu. Seru. Jaman now anak-anak jarang ada yang keluar.

    ReplyDelete
  5. Ngomong-ngomong, foto-foto keren diatas mengingatkan saya dengan masa kecil di hari minggu. Dulu pernah tayang di tv, cerita-cerita dongeng dari jepang dengan karakter seperti itu. Salah satu hal yang bikin saya kangen dengan masa lalu πŸ˜…

    Kalo disini mah, paling gampang soal bersosialisasi. Karena emang jarak rumah satu dengan yang lainnya gak ada yang mewah (mepet sawah maksudnya) dempet-dempet semua hanya di pisah halaman kecil saja dan banyak yang masih keluarga.

    Setiap sore, kalo si kk blom pulang, emaknya bakal patroli keliling kampung ato nyari ke rumah tetangga satu-satu, kalo blom ketemu, baru dah teriak-teriak berapa oktaf, dah gak pake jaim-jaiman lagi. πŸ˜‚

    Kenapa saya cerita tentang si kk ? Karena sepertinya, kelakuannya itu nurun dari emaknya, πŸ˜‚. Ternyata begitu ya, perasaan ibu saya dulu, waktu nyariin anaknya yang gak pulang-pulang πŸ˜‚.

    Dulu waktu SD, saya suka main ke tetangga depan rumah. Usianya sebaya dengan saya, mba. Hanya saja dia bukan orang mampu, karena ayahnya pengangguran tapi kadang suka nguli. Jadi ibunya juga terpaksa bantu nyari nafkah sebagai tukang cuci, sorenya jual gorengan di depan rumah. Kalo pagi-pagi ibunya kan kerja, bapaknya nongkrong di tmpt nguli. Jadi saya selalu maen ke rumahnya. Karena dia anak paling tua jadi dia juga yang ngerjain seluruh kerjaan rumah. Dia anak yang gak pernah ngeluh dan orangnya rajin, sayapun jadi tambah rajin ke rumahnya. Bantuin? Gak. Cuman ngeliatin aja πŸ˜… dan itu bikin saya termotivasi terus, biar rajin bantuin ibu saya di rumah (niatnya) walo kenyataannya gak pernah ada di rumah πŸ˜‚, kalo mood saya lagi gak bagus, suntuk ato lagi kasian sama ibu saya tapi saya malah stuck, gak tau mo ngapain karena belum bisa bantu kalo urusan nyari duit. Maka saya bakal nyari inspirasi ke rumahnya, kalo temen2 bapaknya pesen kopi beberapa gelas, saya ikut tapi cuma ngeliatin aja. Kalo pas dia lagi masak gorengan buat dijual sore nya saya juga masih tetep cuma ngeliatin doang πŸ˜‚. Kenapa saya gak mau bantu? soalnya dia itu suka marah-marah sih kalo dibantuin. Daripada kerjaannya tambah kacau. Mending saya jadi patung aja.πŸ˜‚ Lucunya, kalo dia marah-marah saya gak pernah tersinggung atopun musuhan. Dari hasil jadi patung itu, akhirnya saya bisa masak nasi, bikin kopi item, bikin bakwan sama tahu goreng. (Walopun gak sampe bercita-cita jadi tukang gorengan.) πŸ˜…
    Tapi saya banyak banget ketularan hal-hal yang menurut saya baik dari temen saya itu. Salah satunya adalah langsung beres-beres rumah, biar ibu saya gak jadi marah-marah. Karena lebih betah di rumah orang daripada di rumah sendiri. πŸ˜‚





    ReplyDelete
  6. As usual, fotonya keren paraaaaaah, fotonya bisa bercerita gitu ya mb eno

    Hmmmm kok sama yah, huhu

    Tapi agak sedikit berbeda di bagian individualis atau ga nya..

    Di blok tempat tinggalku, masih mending sih sebenernya. Para bapak-bapaknya masih pada guyub dan rukun, kegiatan komplek pun selalu kompak. Masih sering rapat2 macam bahas untuk kegiatan rt rw gitu. Tapi, klo ibu-ibunya agak berbeda. Ga sengakrab bapak-bapaknya. Ya, termasuk aku juga sih, kadang ada rasa sungkan gimana gitu, soalnya kebetulan di deret komplekku memang aku paling muda, sedangkan ibu-ibu yang lain usianya uda jauh di atasku. Juga mungkin karena uda sibuk sendiri-sendiri dengan urusan rumah ataupun anak. Kenal sih kenal. Tapi paling dengan sebutan nama bapaknya aja. Jadi klo misal istrinya pak x, ya kita nyebute bu x, nama aslinya ga tau, meski klo ketemu ya sapaan juga, basa basi dikit gitu, hihi

    Klo perbedaan antara dulu dan sekarang, jelas beda bianget ,b eno

    Bener...dulu serasa tanpa beban. Ya namanya juga anak kecil. Belum mikirin yang berat-berat. Masalah sosialisasi juga.

    Aku yang sekarang berbeda dengan aku pas masih kecil dulu ketika masih tinggal di desa yang which is antar tetangganya aja sampai apal nama dan kadang dipasrahi acara titip-menitip...

    iya soale dulu ibu bapakku kan bekerja sebagai pns, tapi yang baru diangkat,

    jadi pas aku uda tk, langsung begitu pulang school aku dititipin ama tetangga, dijemputnya pun pake sepeda. Sepedanya sepeda jadoel, kalau tempatku disebute pit unta....nah aku dibonceng di dudukan buat anak-anak yang dijiret atau diiket pake jarik biar ga lepas. Terus jangan sampai kakiku masuk jeruji. Nah mbak tetangga ini kerja di tempat beberapa ibu penjahit yang mana siang aku ikut ke tempat jahitannya. Rumahnya aku masih inget banget. Ada yang di halamannya ada kandang ayam burasnya, yang serius waktu itu aku sampai terkagum2 ngeliat penampakan ayam buras soalnya biasanya kan tahunya ayam kampung. Kalau di tempat ibu jahitan yang satunya lagi halaman depannya ada pohon jambu metenya. Rumahnya juga model jawa klasik, masih pake pintu yang dari kayu bisa dicopot-copot itu loh.

    Sementara mba yg momong mbantuin ibunya njahit, aku dibiarin nonton tipi dong yang layarnya masih item putih, tipi jadoel gitu--serial drama thailand yang mana aku masih ingat betul para pemain dan theme songnya apa. Kalau pas jam makan siang, makannya ya apa yang disayurin ama si Mbak yang momong. Biasanya malah aku ditawarin kecrek, yaitu semacam karbo pengganti nasi yang emang dikonsumsi keluarga si Mbak. Juga pakenya piring seng ayau piring plastik yang masih aku inget banget bentuknya kayak apa. Tapi biar begitu....biar makannya terasa sederhana, tapi rasanya kok memorable banget ya.
    Kadang kalau lagi beruntung, dari tempat ibu penjahit itu aku juga pernah dihadiahi sekresek kain perca sisa jahitan yang bahannya macem-macem. Ada brukat, katun, thile, atau lainnya yang bisa kupake buat ganti-ganti baju boneka barbieku hehehhe...

    Bisa dikatakan emang masa kecilku dari TK sampai SD kelas 3 an aku ngikuuut aja ke si mbak yang momong ini ke tempat jahitan satu ke jahitan lainnya. Nebeng nonton tv dari rumah satu ke rumah lainnya. Nonton yang tadinya drama thailand sampai seri china klasik yang dulu tayang di indosiar jam 1 siang. Nanti kalau udah jam 2 siangan baru deh aku diantar pulang, soalnya ibu juga uda balik dari kantor bawa snack kotakan yang ga beliau makan karena sengaja buat dikasih ke anak-anaknya.

    Wah ga terasa panjang amat aku komen, maap ya mb eno, terlanjur nostalgia akunya hehehhe

    ReplyDelete
  7. Mba, itu foto2nya di museum kah?

    Mbaaaa, saya kaget baca ini karena saya juga mau cerita di blog tentang tetangga komplek.

    Kalau soal tetangga, saya dulu tinggal di kampung padat penduduk di Semarang. Tapi guyubnya minta ampun. Pernah saya ceritain soal hajatan di kampung tersebut.

    Sampai sekarang saya masih berhubungan baik dengan tetangga yang merantau juga. Dia dulu teman lari saya. Kami suka jogging sampai ke Simpang Lima. Alhamdulillah, hubungan silaturahmi masih baik sampai sekarang. Dia tinggal di Cilandak. Lumayan dekat sama Depok.

    Saya selalu ingat pesan bapak saya untuk menjaga silaturahmi dengan teman tersebut karena almarhumah ibunya sangat baik kepada keluarga saya.

    Sejak orangtua saya pindah rumah ke daerah atas, saya nggak kenal tetangga. Hanya beberapa saja yang kenal baik. Karena pindahan pas saya dan adik2 saya sudah besar.

    Mungkin kita akrab dengan tetangga karena dari kecil udah tinggal di sana ya. Anak kecil kan gampang akrab. Jadi terbawa sampai besar.

    Kalau di komplek sekarang, alhamdulillah tetangga saya pada seumuran. Jadi kalau ngobrol masih enak dan nyambung. Gapnya nggak terlalu tinggi. Tiap pagi anak2 suka main bareng di taman, bapak2 juga main badminton, futsal. Ibu2nya arisan online, hahaha.

    Tapi kayaknya kalau gosip mereka bikin grup WA sendiri. Gosip pun online, mba. Hehehe. Untung saya nggak terlibat grup tersebut.

    Antartetangga minta garam, daun pandan, daun salam, air panas karena kehabisan gas juga pernah. Bahkan tetangga depan pernah nunut ngukus di tempat saya. Nitip anak ke saya juga sering.

    Masih enak sih suasana kekeluargaan di sini.

    Tapi akhir2 ini saya memang agak membatasi diri. Menjaga omongan. Apalagi setelah balik dari dinas paksu. Silaturahmi masih baik tapi tetap saya jaga supaya nggak kebablasan. Terutama saya sendiri biar nggak menyakiti orang lain. Takut salah paham karena saya orangnya kalau ngomong apa adanya.

    Di Jepang, saya juga sama kayak Mba Eno. Nggak kenal tetangga sama sekali kecuali teman kerja paksu yang satu apartemen. Biar tambah akrab, seringnya saya bikinkan camilan buat mereka.

    Jujur mba, sewaktu di Jepang saya agak sungkan ngumpul sama orang Indo dalam jumlah besar, misal pengajian atau apa. Kikuk banget rasanya. Panjang sih kalau mau diceritain mah. Hehe.

    Tapi saya punya satu teman Indo yang baik dan dekat. Meski baru kenal tapi kami bisa dekat.

    Maaf, mba, saya mau nanya. Mba Eno suka ikut ngumpul orang2 Indo gitu ga? Kalau di Jepang kayaknya terkotak2 mba grupnya. Tahu kan maksudnya saya? Pasti Mba Eno lebih paham daripada saya, hehe.

    Maaf, komen saya kepanjangan.πŸ™

    ReplyDelete
  8. Qiqiqiqiqi, gagal fokus dengan foto yang paling atas, meski ada tulisan Koreanya, foto itu semacam familier bagi saya.

    Dulu sewaktu baru datang ke Buton dari Minahasa, kami tinggal di rumah kakaknya mama, dan kakaknya mama itu tinggal di rumah nenek mertuanya.
    Yang lokasi geografisnya mirip gambar itu, semacam rumah-rumah yang dibangun di sebuah bukit, lalu di bawahnya jalan lalu pinggir laut :D

    Btw, kalau ngomongin tetanggaan di masa kecil, sayangnya saya tidak seberuntung anak-anak lainnya huhuhu.

    Waktu usia di bawah 5 tahun, saya malah sama sekali nggak punya teman main selain kakak saya.
    Dan memang dulu seingat saya kami nggak punya tetangga, alias tetangganya agak jauhan gitu.

    Pas di Buton, tetangganya banyak sebenarnya, dekat-dekatan gitu, tapi ya gitu deehh, anak pingit manalah tahu bertetangga.

    Hanya saja, waktu adik saya masih hidup dan kira-kira usianya 3-4 tahun, sayanya 10 tahunan.
    Saya ingat setiap pukul 3 sore, kami sudah heboh mandi, saya belum bisa mandiin adik, jadi mama saya paksa mandiin adik segera.

    Setelah itu, ada bagian kami boleh keluar ajak adik jalan-jalan.
    Saya masih merasakan bagaimana adik saya memegang jari kelingking saya, huhuhu. kan jadi baper!

    Kami biasanya berkeliling kampung, seringnya ke lapangan yang jaraknya lumayan dari rumah, lalu saya dan adik akan duduk agak jauhan dari lapangan bola untuk menonton orang dewasa berlatih main bola.

    Jarang banget kami jalan-jalan ke rumah teman, dan tidak pernah ada teman yang main ke rumah kami karena takut bapak saya galak dan beliau nggak suka ada teman yang bikin rumah berantakan.

    Kalau disuruh ke warung mah sering, bahkan kadang kalau lagi marah, bapak suka semena-mena nyuruh saya sendirian ke warung, malam-malam dan gelap pula.
    Saya hanya bisa terpaksa berangkat sambil nangis ketakutan.

    Sungguh masa kecil yang ngenes yak hahahaha.

    Hal itu akhirnya kebawa sampai saya dewasa, saya jadi nggak suka keluyuran, nggak suka bertetangga, dan kebetulan semacam di support oleh keadaan, kami sekarang tinggal di sudut kompleks yang tetangganya tuh cuman 1 aja.
    Pun juga tetangganya keturunan chinese. di mana mereka memang lebih suka ngendon di rumah aja.

    Jadi selama bertahun-tahun, saya dong hanya tahu nama anaknya doang.
    Itupun saya cuman hafal 2 wajah anaknya yang bungsu sama yang cewek.

    2 lainnya, meski ketemu di jalan kayaknya juga nggak bakal nyapa saking nggak hafal mukanya hahahah *paraaahhhh...

    Bukan hanya karena tetangganya cuman 1 sih, memang saya merasa nyaman dengan ngendon di rumah saja, terlebih saya kan berjilbab dan saya itu aslinya malaaaaasssss banget pakai jilbab, bahkan di rumah ya pakai kaos dan celana pendek.

    Makanya bahkan ada paket saja saya malas keluar.
    Buang sampah di luar pagarpun nunggu malam dan pastikan nggak ada orang sama sekali di depan pagar, soalnya saya malas pakai baju panjang hahaha.

    Sungguh parah ya.
    Tapi demikianlah karena memang terbentuk sejak kecil :D

    Oh ya, satu lagi.
    Semacam anti sosial kayak saya ada keuntungannya sebenarnya.
    Yaitu bebas acara rumpi-rumpi berjamaah hahahaha

    ReplyDelete
  9. Lingkungan dimana saya tinggal sekarang sering saya sebut masih "kampung". Jadul mungkin lebih tepatnya.

    Semua itu karena warganya, meski di kota, kelakuannya mendekati orang "kampung" yang ikatan persaudaraannya masih erat.

    Bukan cuma anak-anak yang masih saling tereak di depan pagar ngajak bermain, bapak-bapak dan ibu-ibunya pun begitu. Kalau tidak ada yang bisa diajak ngobrol mereka akan kirim wa nyuruh keluar dan duduk di tengah jalan untuk ngoobrol, kadang sampai pagi.

    Kirim-kiriman makanan juga masih sering dilakukan. Di masa Corona ini juga masih ada yang kirim-kiriman makanan atau sembako buat yang membutuhkan.

    Memang di banyak kota besar yang seperti ini sudah menghilang. Oleh karena itu saya bersyukur bahwa keakraban antar manusia yang seperti ini masih ada.

    Cuma, semua itu tidak terjadi dengan sendirinya.

    Lingkungan dimana saya tinggal sekarang dibangun oleh warganya sejak awal. Ketika pertama kali ditempati, semua orang masih baru, jadi kami berinisiatif untuk mencoba membangun masyarakat yang rumahnya bukan sekedar sebagai tempat tinggal, tetapi menjagi rumah yang memungkinkan interaksi antar manusia lebih akrab.

    Mirip kampung, gitu.

    Setelah bertahun-tahun, perlahan memang prosesnya, hasilnya terlihat. Meski kalau disebut belum seakrab kehidupan di masa lalu, tetapi setidaknya tradisi yang seperti ini tidak hilang 100%. Masih cukup kental suasananya dan warga berinteraksi dalam nuansa kekeluargaan yang tidak individual.

    Buktinya, titip-titipan anak masih ada. Tidak jarang kalau ada warga yang keluar dan tidak bisa membawa anak, mereka meminta tolong pada tetangga. Dan, diterima dengan baik.

    Nggak jarang juga ada anak kecil "diculik" tetangga lain yang anaknya sudah besar untuk diajak bermain.

    Saya pikir tradisi itu harus dimulai dari diri sendiri. Kalau tidak, ya maka tradisi keakraban seperti ini tidak akan pernah ada.

    Harus ada yang mau memulai dan berkorban untuk membangun keakraban agar tidak hilang.

    ReplyDelete
  10. Eniho πŸ˜€...sampai saat ini Alhamdullilah masih bisa ngerasain hidup bertetangga mbakπŸ˜„soalnya lingkungan rumahku adalah lingkungan rumah biasa, bukan seperti kompleks apalagi apartmen gitu, jadi msh bisa bersapa ria, dan msh sering kumpul" kalo ada acara kyk kawinan, syukuran sblm ada covid ini, walopun sy ga juga terlalu sering kumpul, tpi kebersamaan msh adalah, masih bertegur
    sapa. Kalo tinggal di komplek apalagi apartmen, mungkin susah juga mau sering" ketemu karena kesibukan masing" ya, pagi" udah berangkat kerja dan pulang juga udah malem, mungkin hanya saat tertentu aja bisa ketemu, itupun blom tentu kenal, sedih aja kayaknya ya pas saat kita lagi sakit atau kesusahan gak ada tetangga yg jenguk, hanya bisa vicall atau kirim pesan aja ke keluarga, btw saat kecil mah saya sering banget main bareng tetangga, maklum jaman itu ibu sy kerja juga, otomatis sy kalo dirumah diasuh nenek, dan kalo siang pulang sekolah suka ngilang main ke tetangga, dan sore hari baru pulang, atau nenek yg nyusul, soalnya kalo main saya suka jauh" 😁 bareng temen" sekitar

    ReplyDelete
  11. Eniho artinya apa yo mbak, soale sy ikutan mbak Eno aja ,takutnya mlh salah penggunanya 😁 maafkeun πŸ™

    ReplyDelete
  12. Saya dulu punya rirual nobar dunia lain mbak Eno xD tau nggak yang hostnya harry panca itu? Jadi setiap ada edisi khusus saya sama temen-temen duduk manis nunggu kehadiran om kepala pelontos itu, cuma pas yang kita tonton itu nggak ada penampakan seremnya *suara penonton kecewa* adanya yang edisi malem doang, pada seru gitu deh kalo bahas acara satu itu. Oh ya saya dulu juga pernah ikutan nobar jelangkung gara-gara ada om panca juga lol. Walaupun doyan cari horror gitu sekarang udah cemen sih liat program yang isinya penampakan, orang nonton film horror di bioskop aja enggak, parno liat penampakan setannya segede gaban hahaha.

    Kayanya masa kecil anak-anak dulu nggak lengkap tanpa adanya acara titip menitip ya mbak? Dulu saking akrabnya ma temen orang tua jadi santai aja kalau anaknya nginep. Sekarang pulang telat aja diuber kemana-mana wk

    ReplyDelete
  13. kok kebetulan baca ini, sebelumnya pikiranku melayang layang jaman masih kecil dulu.
    kayaknya udah SD, mungkin kelas 1, nangis sampe ngejar ngejar sepeda gowes ibuku, kayaknya ibuku mau brangkat krja padahal. seperti biasa aku dititipin ke tetangga, dulu jaman masih kecil kluar masuk rumah tetangga kayak biasa aja. nggak ada sungkan sungkannya.

    disuruh mandi sore malah asik main sampe dikejar kejar hahaha

    semakin gede, lahh kok lupa sama nama tetangga, karena ada 2 rumah, dan rumah masa kecil ini jarang aku sambangi, jadi hanya tetangga tetangga tertentu saja yang masih aku ingat namanya.

    dan rumah yang sekarang pun hanya tetangga-tetangga yang udah netap lama yang aku tau namanya, kalau yang pendatang malah nggak ngerti namanya, parah banget rasanya

    ReplyDelete
  14. Mbak ini pinter mengolah kalimat sehingga dengan membacanya tergambar masa kecil saya yang demikian akrab berteman dengan anak dari rumah tetangga. Kenal banyak dengan teman-teman karena sering bersama dalam pengajian seusai shalat ashar, selalu bersama juga ramai-ramai nebeng nonton tv di rumah tetangga yang berada.

    Saya sempat sepi bertetangga ketika tinggal di satu perumahan di Bekasi. Saat itu hanya sedikit tetangga yang saya kenal. Makanya waktu eksodus ke Sukabumi, istri saya kapok gak lagi mau tinggal di perumahan, malah ia pilih rumah yang hanya dilewati gang kecil di tengah perkampungan. Jadilah kini saya kembali bertetangga.

    Hanya sedikit pengalaman saya dalam bertetangga saja Mbak.

    Salam,

    ReplyDelete
  15. Waktu kecil saya sering juga itu Mbak diutus buat ngirim makanan ke tetangga. Deg-degan sih awal-awalnya. Tapi pas sudah terbiasa asyik-asyik aja. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin cara masyarakat kita (zaman dulu, setidaknya) buat mengajarkan anak-anak cara bersosialisasi. Jadi nggak kagok lagi kalau mesti memulai percakapan atau berbasa-basi dengan orang.

    Dititipkan ke tetangga saya juga pernah, Mbak. Tapi titip-menitip ini paling cuma sampai kelas 2. Setelahnya saya sudah bisa cari cara sendiri buat melewatkan waktu (main sama temen, maksudnya). Yang paling berkesan itu waktu saya sering dititipkan ke seorang nenek baik hati yang senang sekali kedatangan bocah seperti saya. Dulu saja, sekitar 24 tahun lalu, umur beliau sudah 70 lebih kayaknya. Sudah lama nggak dengar kabar juga, sih.

    Menurut saya, paling enak itu tetanggaan dengan teman sekolah. Bondingnya lebih cepet dan dia bisa ngenalin kita ke temen-temen baru juga. Hehehe..

    Btw, dioramanya bagus, Mbak. Itu di museum di Korsel, kah?

    ReplyDelete
  16. aku dulu waktu kecil termasuk kuper, seringnya di rumah, tapi ya tau2 aja gitu nama2 tetangga sampe berapa rumah kesana, kesitu.. dan permainan2 tradisional juga masih banyak dilakukan jaman itu..

    sekarang, udah ngga tinggal sama ortu, udah punya keluarga sendiri, tinggal di kompleks, hanya 1 atau 2 orang aja yg masih sering nyapa, itu pun gak tau nama aslinya.. kebanyakan memang kami #stayathome terus walaupun bukan masa corona..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
  17. Gambar pertama mirip satu pojok kampung di Bogor, hanya beda aksara aja.

    Masa indah main seharian pergi sama teman2, mandi di sungai or laut trs sorenya dikejar ayah pake sapu.
    Besok ya gitu lagi.

    Kebalika kayak sekarang ya, kita ngusir anak2 pake sapu biar pergi main keluar rumah :D

    ReplyDelete