Show It With Emoticon | CREAMENO

Pages

Show It With Emoticon


Kata Albert Mehrabian dalam Rules of Personal Communication, elemen komunikasi itu dibagi menjadi tiga bagian yaitu 7% kata-kata, 38% intonasi dan 55% body language 😁✌ so nggak heran, sangat sering miskom terjadi hanya karena salah intonasi saat membaca sebuah tulisan 😂 yang menulis mungkin santai kayak di pantai, tapi kalau yang baca lagi emosional yaaa tulisan itu pun akan jadi berasa 'ngegas' padahal orang yang menulisnya biasa saja ðŸĪŠ

Akhirnya apa? Salah paham. Especially era sosmed seperti sekarang, kemungkinan salah paham itu banyak dan gampang. Tinggal lihat story atau caption teman lainnya dalam bentuk tulisan, akan ada kemungkinan besar kita kadang (atau sering) salah paham 😆 that's why, dalam komunikasi dengan orang yang gue kenal, gue lebih memilih phone call atau tatap muka. Karena yaitu tadi, tulisan punya chance besar untuk membuat si penerima pesan salah paham 😁

Nah tapi, kalau ketemu nggak bisa dan phone call juga nggak bisa, bagaimana agar lawan bicara kita nggak salah paham? Well, menurut gue, show emosi kita dalam tulisan yang kita kirimkan dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan emoticon yang ada di ponsel atau laptop kita 😍 karena emoticon itu ada fungsinya, bukan cuma buat pajangan doang ðŸĪĢ jadi gunakan~lah sebagaimana mestinya untuk mengurangi kemungkinan salah paham dengan lawan bicara.

Dan ini bukan masalah baper-baperan semata, "Aahhh, kalau lawan bicara kita bisa sampai salah paham atau emosional, itu dia-nya saja yang baperan." -- while nggak begitu gaes cara berpikirnya karena komunikasi yang baik adalah saat dimana kita bisa membuat orang lain paham maksud kita. Kalau orang itu nggak paham, bukan orang itu yang salah, tapi cara penyampaian kita yang salah karena kita gagal mengkomunikasikan apa maksud kita 😁✌

---

By the way, belajar komunikasi dasar itu perlu walaupun kita nggak kerja atau nggak sering ketemu orang, karena ilmu komunikasi dasar masih bisa kita gunakan ketika kita berkomunikasi dengan pasangan, anak, orang tua maupun handai taulan 😁 nggak mau kan, hanya karena kita nggak bisa berkomunikasi akhirnya jadi diam-diaman 😆 gue pun masih belajar karena komunikasi gue sangat berantakan. Tau sendiri gue orangnya susah diajak bicara sama pasangan ðŸĪŠ

Lantas sekarang gue menerka-nerka...
Apakah selama ini, tulisan gue mudah dicerna? ðŸĪ”

22 comments:

  1. Dulu waktu pertama ada emoticon, teman saya satria kalo komentar di Facebook itu sukanya pakai emot saja,

    Baik tertawa.😁
    Marah. 😠
    Kaget. ðŸ˜ą
    Bete. 😑
    Ngeledek. ðŸĪŠ

    Pokoknya pakai emot saja pembicaraan, sampai aku kira dia itu ngga bisa nulis gitu.

    Eh, sekalinya bisa menulis, yang ditulis itu kalimat sakti yaitu Sueee.😂😂😂

    Btw, tulisan mbak Eno jelas banget mudah dicerna kok, gampang dipahami menurutku.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha, persis saya teman saya ada yang malas sekali menulis lebih parah dari saya malasnya, jadi kalau dapat pesan messenger pasti dibalas dengan emoticon saja 😂 apalagi sekarang bisa buat imoji sendiri, semakin menjadi-jadi malasnya ðŸĪĢ

      Thank you mas Agus, for understanding my words 😍

      Delete
  2. Sebenernya aku kalau nulis malah bisa dikatakan jarang nyematin emoticon mb eno, sebabnya kadang agak rempong gitu huhu, eh ga gitu juga sih, kadang aku ngga apal juga klo pas ga kliatan simbol smileynya...jadi yang pake simbol tanda huruf nya itu loh yg aku ga apal,

    Tapi klo nimpalin komen orang yang baca tulisanku ya paling takkasih hehehe, atau hihihi, atau huhuhu, atau tertawa kalau balas balasannya menghibur bin lucu2, selama ini aku jarang nemu kesalahpahaman sih sm yg baca tulisanku, maksudnya yg komen langsung gitu, soalnya kbanyakan juga orangnya uda kenal, sering mampir, dan santai2 juga sih, ga terlalu serius atau kaku, jadi uda paham...

    Etapi sesungguhnya klo disangkutpautin ma ilmu sih aku mlh kyknya masih cetek nih urusan komunikasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalau komentar di blog teman-teman lain juga hanya pakai dua emoticon mba 😂 kalau nggak :D pasti :)) 😆

      Dan iya, saya pun semisal komentar pasti ada haha hehe hihi biar serasa lebih hidup saja ðŸĪĢ cuma jujur sampai sekarang, saya kalau mau komentar di blog teman-teman pasti butuh berpikir panjang, pertama saya makesure untuk baca semua tulisannya, lalu ke dua saya juga harus yakin kalau komentar saya nggak membuat salah paham 😁 jadi kadang saya kalau komentar bisa lama ~

      However tulisan saya di atas bukan hanya persoalan komentar dan bersosial media, tapi juga persoalan messenger in general dimana sering riskan untuk salah paham 😂 that's why saya share berdasarkan informasi yang pernah saya baca 😆

      Delete
  3. Tentang emosi dalam tulisan ini memang menarik banget untuk dibahas, Mbak Eno. Hal-hal kecil, seperti tulisan yang ditulis kapital semua dan lupa memberi tanda baca di akhir kalimat, bisa bikin salah paham di media sosial atau di WAG. Makanya kalau chat saya lebih nyaman pakai laptop. Lebih leluasa untuk "mengekspresikan" diri, soalnya. :D

    Tulisan Mbak Eno buat saya jelas banget. Emosi yang hendak diungkapkan juga dapet banget. Saya kayaknya perlu belajar buat menulis dengan gaya santai juga ke Mbak Eno. Komentar saya kalau dilihat-lihat sering kaku soalnya. Hehehe.

    Btw, Mbak Eno saya mention di blog award yang diberikan kawan tadi pagi. Sungkan juga sebenarnya ngasih PR ke kawan-kawan blogger, tapi kayaknya lumayan juga buat mengisi waktu, dan sebagai penanda masa-masa ngeblog pas COVID-19 merebak. Nggak mesti dikerjakan juga, Kok. Yang penting saya sudah mention Mbak Eno dan kawan-kawan blogger lain yang saya rasa akrab dengan saya di dunia blog. :D

    Karena link hidup mungkin bisa bikin postingan ini masuk spam, monggo Mbak Eno mampir ke postingan Liebster Award di jejaka petualang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, tanda baca dan huruf kapital kadang bisa buat salah paham kalau lewat messenger 😂 contohnya, pasangan saya ternyata nggak suka kalau saya tulis pesan pakai titik tiga biji di belakang (contoh: iya, okay...) karena menurut dia dan kultur di Korea sendiri, banyak titik di belakang itu menandakan seseorang sedang lesu, suram, bermasalah ðŸĪĢ padahal menurut saya titik tiga itu artinya panjang semacam okaaaaayyyyy begitu cuma saya singkat jadi okay... dan itu membuat dia salah paham dikira saya kenapa-kenapa ðŸĪŠ

      Terus saya sering ketawa pakai huruf besar ala komik, seperti HAHAHA! tapi pasangan saya pas baru pertama kali baca tulisan itu dikira saya meledek dia 😂 hahaha. Serba salah kan jadinya ðŸĪĢ that's why saya masih belajar menggunakan huruf dan emoticon dengan baik dan benar 😁

      Kalau menurut saya, komentar mas sangat khas dan nggak begitu kaku 😄 masih renyah untuk dibaca dan mudah untuk dipahami oleh saya 😆 lagipula saya sadar gaya kepenulisan mas memang begitu, nyentrik kalau kata orang, semacam pujangga kali ya 😁✌

      Terima kasih mas award-nya sudah saya check, nanti kalau sudah punya cover foto yang cocok akan saya upload di blog saya 😍

      Delete
  4. kayaknya kalo saya nulis, sebanding jumlahnya sama emoticon mba 😂 karena menurut saya kurang ekspresif kalo nulis tanpa emoticon 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip-mirip berarti kita mba 😂😂😂

      Delete
  5. Tulisan Mba Eno mudah dipahami kok. Ngalir penulisannya. Meski kadang saya menemukan bahasa yang kayaknya sedikit formal, jadi kebawa juga ke komen, hehehe.

    Betul banget yang mba tulis. Kata2, intonasi, bahasa tubuh.

    Meski sudah menikah, komunikasi yang baik sama pasangan juga masih diperlukan. Kadang kalau kebablasan sama pasangan malah bikin dia marah. Padahal niatnya cuma bercanda. Lha kok malah curhat, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kah mba? 😆 saya nggak sadar kalau pakai bahasa sedikit formal. Saya kira ini sudah sangat informal 😂 mana saya pakai gue-guean kan 😅

      Duuuh mba Pipit, saya juga sering begitu, becanda kelewatan jadi buat pasangan jengkel 😂 makanya saya sering dikasih kultum sama dia karena suka semena-mena becandanya ðŸĪĢ *lho kok jadi curhat juga* 😆✌

      Delete
  6. Akooooohhhhh banget ini mah!

    Waktu masih aktif jadi leader Oriflame, saya nggak pernah berhenti kasih edukasi kepada para downline saya agar "ITU EMOTICON MBOK YA DIPAKE!" :D :D :D

    Kita ngobrol biasa dan santai via chat saja bisa menimbulkan miss communication, apalagi kalau ngobrolin bisnis jaringan yang ada upline donlen itu?
    Duuuh baper-baper berjamaah selaluuuu terjadi.

    Penyebabnya ya apalagi kalau bukan koordinasi lewat tulisan yang akhirnya terbaca boosy dan sok, hanya karena kita nggak lihat, dia ngomongnya kayak gimana nih, mimik wajahnya kayak gimana?

    Menurut saya, ya emo itulah yang bisa mewakili apa yang kita tampilkan, bahkan lebih dari sekadar kata-kata, macam 'hahaha' dan semacamnya itu :D

    Makanya emang paling enak ngeblog dari hape kalau menurut saya, soalnya bisa selipin emo yang bener-bener merepresentasikan mimik kita saat menulis.

    hanya saja saya sering ngeblog di laptop, jadinya emonya agak kaku, palingan ya pakai, hahaha itu atau :D

    Dan satu lagi, dulu waktu masih aktif Oriflame-an, saya dikasih julukan upline berhati sabar, nggak pernah marah.

    belom tahu mereka, saya itu aslinya marah, cuman kan nggak keliatan, karena saya selipin emoticon hahahahahahaha.

    Dan yup!
    Saya heran, mengapa ya orang-orang begitu pelit pakai emo? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul nih mba, kalau sudah urusan pekerjaan kadang bisa sound bossy kalau sampai salah penggunaan tanda baca dan kelola bahasa yang digunakan. That's why, saya merasa emoticon sangat penting buat saya meski saya tetap memilih better phone call kalau urusan kerja 😆

      Ngomong-ngomong, saya juga kalau sedang kesal sama pasangan tapi biasanya, saya tetap selipkan 'hahahaha' di dalam text saya mba ðŸĪĢ cuma bedanya kalau mba dianggap berhati sabar karena nggak kelihatan waktu sedang kesal, while saya meski sudah ketawa 'hahahaha' tetap kelihatan sedang kesalnya 😂

      Delete
    2. qiqiqiqi, keren banget dong, itu berarti pasangannya memahami banget karakternya Eno.

      Even udah ketawapun masih ketahuan kalau ada yang salah.

      Kalau saya mah, marah mending diam aja :D

      Tapi kalau ke jaringan dulu tetep dijawab sih dengan manis, padahal aslinya esmosi jiwaahh hahahah

      Delete
    3. Iya mba, cuma saya-nya yang masih payah untuk betul-betul paham karakter orang (siapapun) 😅 masih harus belajar lebih banyak untuk bisa paham ~ hehehe.

      Mba rey baik banget, meski esmosi jiwa tetap jawab dengan manis ke mereka. Hihi. That's why nggak heran dianggap yang tersabarrrr 😆

      Delete
  7. Kalau soal tulisan Mba Eno sendiriah sangat mudah dipahami kok 😁 Bacanya enak, ngalir, ya kayak cerita sama teman aja. Apalagi memang didukung emoticons jadi makin nyaman bacanya hahaha

    Aku sendiri mengusahakan mungkin menyamakan gaya komunikasi non verbal (menulis/chat) dan verbal. Emoticon itu memang amat sangat membantuku dalam komunikas via chat, karena bisa menyampaikan emosiku seperti apa.

    Soal miskom, itu sering terjadi antara aku dan suami kalo lagi sama-sama 'panas' 🙈 apalagi kalau 'debatnya' waktu di jam suami kerja. Makanya sekarang kalau mau ngobrol serius, lebih baik tunggu sampai tatap muka deh biar aman 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Jane 😍 lavvvv ~

      Betul, buat saya juga emoticon ini cukup banyak membantu saya dalam menyampaikan emosi yang ingin saya sampaikan 😁 biar lebih greget istilahnya. That's why, tulisan saya penuh emoticon di mana-mana ðŸĪĢ

      Waduh kalau debat saat jam kerja, terus lewat messenger pasti kemungkinan salah pahamnya besar ya mba 😂 saya juga pernah salah paham waktu kirim text tapi dibalas singkat padat jelas sama pasangan ~ padahal tau itu jam kerja (memang suka cari penyakit orangnya) ðŸĪĢ

      Delete
  8. Mudah.... walau sebenarnya kalau dipikir tulisan mbakyu Eno itu mendalam, tetapi dikemas dalam bahasa ringan dan mudah dicerna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much mas Anton, jadi lebih pede sayanya 😍

      Delete
  9. samaan mba, aku kok kurang suka ngomongin hal penting melalui chat, kita nulis biasa, tapi orang lain bacanya 'beda'.
    lebih milih telpon sebenernya, kecuali kalo orang yang mau dihubungi lagi sibuk, baru lewat chat

    ini malah sering terjadi ke aku hal hal kyak gini, biasanya sama atasan hahaha. dia nulis apa, aku nanggapnya kayak dia yang marah-marah. baper mode on wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, berarti mba Ainun harus lebih relax saat baca text dari atasan karena bisa jadi atasan sebetulnya biasa saja 😆

      Delete
    2. nah ya itu mbak, makanya aku nggak seneng kalo disuruh chat. apalagi aku bacanya cepet, was wus was wus, dan kalo agak kesel langsung clear chat ke atasan hahaha

      Delete
    3. Wahahaha langsung diclear chat, nggak dibalas dulu mba? ðŸĪĢ

      Delete