When I Get Mad | CREAMENO

Pages

When I Get Mad




Meng-ngemeng, teman-teman di sini kalau lagi kesal sama pasangan biasanya bagaimana cara menyikapinya? 😁 gue pribadi memang sering berdebat, tapi biasanya masalah sepele seperti hari ini kira-kira mau makan apa atau besok mau menonton film apa 🀣 selain itu paling ribut-ribut kecil karena bercanda yang seringnya kelewatan πŸ€ͺ cuma meski begitu, bukan berarti gue sama dia nggak pernah kesal, namanya manusia pasti pernah~lah merasa esmosi jiwa.

Nah, bedanya gue sama dia itu, kalau dia kesal, pasti langsung to the point bilang ke gue nggak pakai basa basi busuk, brebet brebet brebet (mengoceh) panjanggggg dan anehnya setiap dia marah pasti dia punya alasan jelas plus masuk logika 🀣✌ Sedangkan gue kalau kesal alasannya lebih sering karena baper semata 🀣 sudah begitu, gue bukan tipe orang yang gampang bercerita soal apa yang gue rasakan. Entah kenapa susah banget mulut ini bicara, ditambah gue selalu bingung kalau cerita itu harus mulai dari mana. That's why, gue lebih banyak diam ketika kesal daripada pusing berkepanjangan πŸ˜‚

Masalahnya, wajah gue ini kebaca banget ekspresinya jadi dia bisa tau mood gue hanya dari ekspresi wajah πŸ™„πŸ˜‘ padahal gue sudah berusaha membuat wajah gue se-poker alias se-flat mungkin agar dia nggak tau kalau gue sedang kesal, tapi kata dia, wajah gue ketika kesal itu beda dari wajah gue ketika senang, sedih dan lainnya. Ibarat banteng marah, hidung gue mungkin sudah keluar napas panjang bersiap untuk menyeruduk orang 🀣 alhasil dia akan bertanya, "Hon, something wrong?" yang gue jawab dengan, "No, I'm fine." Hahahaha.

Jujur gaes, gue ini kalau ditanya kenapa, selalu susah jawabnya πŸ€ͺ kadang gue nggak tau bagaimana cara menjabarkan apa yang gue rasakan. Sampai akhirnya dia bilang ke gue kalau gue marah atau kesal, gue harus menuliskan alasan apa yang melatarbelakanginya. Iya, MENULISKAN πŸ˜‚ bebas di mana, mau di notes boleh, di buku boleh, di email boleh, atau di words pun boleh. Yang penting gue harus jabarkan apa yang gue rasakan karena menurut dia, gue ini lebih lancar kalau menulis ketimbang bicara πŸ˜‘

And since then, setiap kali gue lagi essmosiiii jiwa, gue akan menulis apa yang gue rasakan dengan sedetail-detailnya 🀣 bahkan kadang bisa lebih panjang dari post yang gue tulis sekarang πŸ€ͺπŸ˜‘ namun herannya, setelah gue menulis panjang lebar, emosi gue pun hilang secara perlahan-lahan AHAHAHAHAHAHAHA. Memanglah, kekuatan menulis jangan dipandang sebelah mata πŸ˜‚ karena menulis itu salah satu program healing yang paling gue suka 😁✌

Meanwhile, setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama dia, tumpahan emosi gue dalam bentuk tulisan hanya berjumlah sedikit saja, dan gue jadi sadar kalau nggak semua hal harus gue permasalahkan 🀣 ohya, gue ini kan tipe yang susah mendengarkan pasangan (padahal rajin mendengarkan curhatan orang), jadi kalau diajak bicara biasanya semua omongan dia langsung mental alias masuk telinga kiri ke luar telinga kanan πŸ€ͺ so, cara dia membuat gue paham atas apa yang salah atau membuat gue mau mendengar dan memahami kata-katanya adalah dengan tulisan πŸ˜…

Read: Thousands Miles Away

Jadi semisal dia ada sesuatu yang mengganjal, dia pun akan menulis panjang lebar untuk gue baca. Karena gue memang lebih bisa memahami tulisan ketimbang lisan (ucapan). Sedangkan dia tipe yang bisa ke duanya, memahami tulisan bisa, memahami lisan pun bisa 😁 kenapa gue nggak bisa mendengarkan pasangan padahal sering mendengarkan curhatan orang? Karena kalau dengar curhat orang, gue tau orang-orang yang curhat itu biasanya hanya butuh didengarkan, sedangkan pasangan gue ini bukan mau curhat gaes, melainkan mau menasehati gue karena gue anaknya susah diajak bicara makanya gue ended up jadi nggak mau mendengarkan dia 🀣

Gue bukannya nggak mau berusaha, tapi memang nggak bisa dan nggak masuk ke otak πŸ™„ dulu gue sempat frustrasi karena gue nggak bisa mengekspresikan apa yang gue rasakan melalui mulut padahal fungsi mulut itu untuk bicara dan mengeluarkan kata-kata. Bahkan gue lebih sering tercekat di tenggorokan, seperti ada kata-kata yang mau ke luar tapi nggak bisa ke luar. Jadi sesak di dada 🀧 usut punya usut, gue bisa sebegitunya karena gue takut sekali salah mengucap.

Lho, terus kenapa lebih suka telepon daripada messenger kalau sama teman, rekan kerja dan keluarga? Karena balik lagi ke poin di atas, most of the time, orang-orang yang telepon gue itu kalau nggak urusan pekerjaan yaaa urusan mau curhat (ini pun cuma sohibal-sohibul saja dan bisa dihitung jari dalam setahun berapa kali mereka kontak). Gue memang pasif orangnya, lebih banyak dengar curhatan orang dan berikan support moril bila diminta. While di area pekerjaan, gue bisa profesional karena bahasannya teknis dan praktikal. Jadi saat gue diminta bercerita masalah personal, gue pun jadi kesulitan karena nggak tau caranya dan akhirnya lebih banyak diam πŸ˜…

---

Sekarang sih untungnya gue sudah punya media untuk bercerita 🀣 dan gue sudah menemukan cara berkomunikasi paling tepat pada pasangan ketika gue punya masalah ~ gue nggak perlu lagi stres memikirkan bagaimana harus bicara dan nggak salah penyampaian. Karena menurut gue, ketika gue berkomunikasi dengan seseorang tapi seseorang itu nggak paham apa yang gue maksudkan, maka kesalahan ada di gue bukan di-orang yang gue ajak bicara. Kenapa? Karena itu artinyaaaaa, gue nggak mampu menyampaikan sesuatu dengan bahasa mudah agar bisa dipahami mereka 😁

Mana gue kalau sama pasangan harus pakai bahasa Inggris setiap harinya, jadi kalau mau kesal berasa kurang afdol bawaannya πŸ˜‚ nggak bisa 'nyerocos' pakai bahasa Indonesia itu kadang membuat mood gue untuk marah atau kesal jadi hilang, semacam merasa sia-sia kalau dia nggak paham apa artinya, nanti buang energi gue doang dong ujungnya πŸ€ͺ mau marah saja pakai hitung energi segala 🀣✌

Teman-teman sendiri bagaimana biasanya kalau kesal? πŸ˜†
Guys, I wanna ask something, when you guys are upset or annoyed with your partner, how do you react? I personally often argue with my man, but usually about trivial matters like what do we want to eat today or what kind of movie that we want to watch tomorrow 🀣 other than that, the most noisy fuss normally because of jokes which sometimes went too far πŸ€ͺ but even so, it does not mean that I never feel upset or annoyed to him because I am a human after all ~

By the way, there is a difference way to solve the matters between me and him. When he is upset, he will immediately talk me and every time he gets upset he always have a clear reason and logic 🀣✌ While when I am upset, the reason is more often because I'm overly sensitive 🀣 and, I'm not the type of person who easily talk about my feeling. I don't know why it's so hard to talk, and I'm always confused about where to start. That's why, I become silent when upset πŸ˜‚

The problem is, he can read my feeling from my facial expressions. Even though I've tried to make my face as poker (flat) as possible so he doesn't know that I'm upset, but still he knows that my face when upset is different from my face when happy, sad and others. Like an angry bull, my nose might have gotten out of deep breath while getting ready to butting people πŸ˜‚ as a result he would ask, "Hon, something wrong?" which I answered with, "No, I'm fine." Hahahaha.

Honestly, when someone ask about 'what happens', it's always hard to answer πŸ€ͺ sometimes I don't know how to describe my feeling. Until finally he said that if I feel upset, I had to write the reasons behind it. Yes, WRITE IT πŸ˜‚ and I'm free to write wherever I want, I can write in a notebook, in an email, or in Ms. Words. The important thing is I have to describe about what I feel because according to him, I am more fluent when it comes to write than speak πŸ˜‘

And since then, every time I feel upset or annoyed, I will write about my feeling as much detail as possible 🀣 it can even be longer than the post that I write now πŸ€ͺπŸ˜‘ but surprisingly, after I write a bit, my emotions started to disappear completely AHAHAHAHA. Indeed, the power of writing should not be underestimated πŸ˜‚ because writing is one of the healing programs that I like the most 😁✌

Meanwhile after years, my emotional rambling was not that much in number, and I became aware that not everything is a problem 🀣 oh and I'm also the type of person that really hard to listen to my man (even though I listen diligently to other people ), so when he talked, usually all of his words immediately entered my left ear and out from the right ear πŸ€ͺ so, the way he made me understand about what was wrong and understand his words is by writing on notes πŸ˜…

Read: Thousands Miles Away

When he feels stuck, he will write for me to read. Because I am more able to understand such a writing rather than verbal (speech). While he's the type that can be both, understand a writing and understand verbal (speech) 😁 why can't I listen to my man even though I often listen to people's story? Because when I listen people's story usually they only wanted to be listened to, while my man does not want to only tell a story, but he wants to advise me 🀣

Anyway, it's not like I don't wanna try to talk, I just can't and words don't get into my brain πŸ™„ I used to get frustrated because I couldn't express what I felt through my mouth when the function of mouth was to speak out words. And in fact, the words often stopped in my throat, like there are words that want to get out but can't get out and it makes me feel suffocated 🀧 so I guess, it happens because I'm afraid to say something that might wrong or hurting people.

Then why would I prefer a phone call than a messenger with friends, coworkers and family? Because back to the point above, most of the time, people who call me always talks related to works or they want to tell me about their problems and I (most of the time too) just listening them. I am indeed a passive person, I will talk when they need supports. While in working area, I can be professional because the discussion is always technical and practical. So, when I was asked to talk about my personal problem, I got into trouble because I didn't know how to do it and I became more silent πŸ˜…

---

Now luckily, I already have the media to tell my stories 🀣✌ and I've found the most appropriate way to communicate with my man if I have a problem ~ I no longer need to stress thinking about how to talk and worry if I cannot delivery my words properly. Why worry? Because in my opinion, when I try to communicate with someone but someone does not understand what I mean, then the error is in me not in the people that I talk to. And it means, I'm not able to convey my words with easy language to make them understood 😁

And on top of that, I have to use English every day with my man, so if I feel upset or annoyed, sometimes I need to think first what words need to use πŸ˜‚ because I can't just 'blurt out' using Indonesian, so that's when my annoyed mood disappears. Because I don't wanna waste my energy if he doesn't understand about what I mean πŸ€ͺ

How about you, guys? πŸ˜†

28 comments:

  1. Saya dari dulu kalau marah pasti tidur. Pasti. Sejak gadis, hehehe. Sampai nikah juga gitu, Mba. Karena saya pikir, marah bikin capek. Padahal tiap hari saya bawel dan mayan emosian, hehehe. Tapi kalau marah banget ya tidur aja.

    Setelah tidur biasanya saya ngomong yang bikin marah, cari solusi bareng. Untungnya pasangan saya orangnya sabar banget, hehehe.

    Tiap orang beda2 dalam menyalurkan kemarahan. Yang penting plong.

    Oia, bener juga ya, pengen marah kalau pakai bahasa Inggris jadi kurang afdol yak, hahaha.

    Nggak dicoba untuk marah pakai bahasa Indo dulu mba? Hehehe. Terus nantinya ditulis pake Inggris kayak biasanya. Meski dia bingung yang penting plong dulu, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang marah itu buat cape mba, makanya saya jarang marah soalnya nggak mau buang tenaga (juarak malasnya) πŸ˜‚ saya semisal kesal lebih banyak diam, tapi habis itu lupa. Nggak lama pula lupanya 🀣 terus alasan saya kesal sebenarnya kebanyakan sangat sangat sepele mba. Namun meski sepele, tetap susah diungkapkan, makanya saya disuruh menulis di notes kalau sedang kesal πŸ˜‘

      One day saya pernah kesaaaaaal sekali, jadi dengan berapi-api saya ketik di notes laptop alasan kenapa saya kesal, tapi habis itu saya cape sendiri mengetiknya dan rasa kesal saya pun hilang πŸ˜‚ mana kadang kalau saya kesal tapi alasannya nggak masuk akal, justru kena ceramah sama dia. Kan kalau dikasih ceramah begitu, saya jadi lupa tadi kesal karena apa πŸ™„ hahaha.

      Iya mba, tiap orang punya caranya sendiri untuk menunjukkan emosinya. Ada yang lebih memilih tidur dulu seperti mba, ada yang cenderung diam lalu menulis seperti saya, atau ada juga yang ceramah panjang lebar seperti pasangan saya 🀣 yang terpenting, emosi memang sudah seharusnya disalurkan dengan cara yang tepat 😁

      Delete
  2. Sama bgt itu kyk saya ternyata mba, sebelas dua belasπŸ˜‚. Tapi tetep, abis kesel itu masih ada juga strategi yang harus dilakukan biar kekeselan kita tersalurkan dgn benar πŸ˜…. Karena saya tipe blak blakan kalo ngomong, jd pas lagi marah sm pasangan itu, berusaha di tahan dulu (di pause) biar gak memancing keributan πŸ˜‚, nah setelah udah selesai berantemnya, baru dah di bombardir sama tulisan2 yg saya kirim via wa yang udah saya tulis sejak hari pertama kesel, (biar gak di denger dan diliat anak jg) walopun lagi2 harus dipikirin dulu kata2 yg bagus biar dia gak tersinggung. Walopun dia jarang bales, tapi setelah baca biasanya dia langsung ngerti (langsung nurut) maunya saya apa dan mo ngapain apa aja selanjutnya, biar saya gak kesel lagi πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata saya ada temannya 🀣

      Memang lebih afdol kalau ditulis ya mba, jadi lebih terperinci dan jelas. Terus kita juga jadi lebih hati-hati dalam mengungkapkan emosi kita 😁 salah satu alasan saya susah bicara kalau lagi kesal itu juga karena saya takut salah dalam mengungkapkan dan ujungnya menyakiti pasangan πŸ˜…

      Terus kalau ditulis biasanya lebih detail, dari mulai sebab akibat meski sebenarnya sepele tapi merasa plong saja kalau sudah dituliskan. Cuma kalau saya, kadang belum selesai menulis semua kekesalan, sudah keburu hilang rasa kesalnya karena cape duluan 🀣 cape mengetik panjang lebar hahahaha. Terus biasanya sebelum dikasih ke dia, saya baca ulang, habis itu malu sendiri kadang, 'Duh begini saja kok sampai kesal.' dan ended up nggak jadi saya kasih notes-nya πŸ˜‚

      Delete
  3. Saya kesal sama pasangan?
    Ya kadang kesal sih, namanya juga manusia. Tapi jarang juga sih, soalnya kalo aku sedang kesal sama orang lalu memandang istri kok rasa kesalnya jadi ilang.🀣

    Tapi kalo kesal sama istri biasanya aku omongkan langsung karena memang sebaiknya bicara agar lebih plong. Tapi untuk bicara biasanya aku pikir dan pilih pilih dulu omongan apa yang sebaiknya dikeluarkan, bahkan kadang aku mikirnya sampai lama bisa sampai sejam agar tidak menyakiti istri, padahal yang mau diomongin cuma semenit doang. Alhamdulillah Istri biasanya juga langsung paham.😊

    Kalo istri kesal juga biasanya dia langsung ngomong dan harus aku tanggapi. Tapi kalo kesal sekali bahkan marah (😱) biasanya dia malah menulis di kertas agar bisa aku baca, sebab katanya omongan mungkin ngga berguna.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. So sweet bangetttt mas Aguuus πŸ˜‚

      Bagus dong mas, menjaga perasaan pasangan, hehe, pasangan pun tambah cinta kalau diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang 😍 memang sebaiknya kalau bicara harus dipikir dulu matang-matang, cuma saya biasanya terlalu kematangan alhasil nggak jadi bicara karena sudah hilang rasa kesalnya 🀣

      Ahahaha, berarti mba Sari nggak beda jauh sama saya, harus ditulis dulu di kertas biar pasangan lebih paham πŸ˜‚

      Delete
  4. Wakakaka mb eno, kita berkebalikan
    Kalau aku, pas lagi ngambeg itu pasti selalu aku omongkan secara langsung sedetail-detailnya kayak apa...biar ga jadi jerawat, hahahha

    Klo diem-diem bae jujur aku malah ga bisa. Harus aku ekspresikan. Memang lebih manjur begitu dan malah cepat reda marahnya.

    Pernah nyoba diem selayaknya cewe yang lagi pms aka period, biar sananya pekaaaa gitu, e ternyata malah tambah bebal, misalnya urusan kebersihan, aku kan orangnya bersihan banget ya. Aku maunya deseu tuh disiplin juga urusan kebersihan rumah (kayak aku)... tapi beliau sukanya menunda nunda pekerjaan, jadinya yang ngerjain aku juga. Tukang sampah kan datangnya per 2 hari sekali, klo sampai kelewatan tu tukang sampah, pasti ngalamat ga bakal keangkut dan itu bikin badmood seharian karena bakal ngejogrok sampai 2 hari berikutnya. Masalahnya kantong sampah yang biasanya akan diambilin secara rutin itu kan posisinya kudu dicantelin di jeruji luar pagar...nah kantongnya itu berat, aku kadang sampai bilang, pi ini aku uda sesar 2 kali loh, akutu ga bisa klo disuruh ngangkat berat berat mulu huuuh, e dianya cuma iya iya doang : "Santai mama....santai, ntar papa cantelin, tapi nunggu pagi". Abis itu besokannya belom dicantelin dong itu sampah ke pagar dan akhirnya kelewat ga diangkut tukang sampahnya (lagi dan lagi) hahhaha, ini seriiing banget kejadian. Jadi biar aku uda ngecuprus sampai berbusa tapi doinya nunda2 mulu, ya akhirnya yang ngerjain aku juga hahha

    Tapi lucunya adalah aku kalo lagi bete malah pengennya ga deket2 baby dulu, biar ga ngefek ke anak kan, kecipratan mood swing mamahnha. Jadi pas aku ngambek, silakan pak su jagain beby bentar...

    Aku minta tulung buat dipahami dulu entah melipir entah ke sudut rumah yang mana, tapi jatohnya malah bersih2 rumah dong akunya

    Iyaaa... bersih bersih dapur kek, kamar kek, kamar mandi kek sampai kinclong baru abis itu marahnya reda, terus diladak ledek lagi ama pak suami (soalnya dia juga kewalahan sih klo harus ngurus 2 bayi sekaligus, jadinya mau ga mau harus ngrayu aku biar ada yang bantuin pegang baby hahahah).

    Atau yang bikin marah itu aku kan protektif banget ama anak, pokoknya kuawasin betul anak jangan sampe jatohlah, kejedot lah, kepentok lah, e klo ama pak su kadang sante, jadi klo tetiba ada suara tangisan karena anak kejedot, jatoh, aku langsung ngomel ngomel hahahah

    Sedangkan pak su kalau pas lagi marah biasanya dia malah tidur dulu, tar klo uda bangun moodnya sih biasanya langsung cerah lagi. Ga pernah lama sih biasanya klo marahan tuh..., soalnya kami berdua termasuk orang yang apa apa langsung komunikasi..yang ga sreg diomongin saat itu juga, jadi sama sama saling ngerti. Klo marah selalu cuma bertahan beberapa menit doang abis itu ya ketawa ketawa lagi, santai sebenarnya kami berdua tuh...

    Klo nulis, justruuuu aku bisa nulis kalau pas falam keadaan heppy banget. Malah kalau pas lagi dalam keadaan badmood aku sama sekali ga mau nulis, blog ga aku buka, medsos apalagi hahahha...nulis di buku yang ga kebaca orang juga ga bisa, wong hati pengennya tenang dulu. Klo nulis pas dalam keadaan bete justru aku ngerasa makin melasi. Jadi nunggu ceria lagi baru aku bisa nulis panjang lebar karena hati uda ga ada beban.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seram juga mba kalau sampai jadi jerawat πŸ˜‚

      Iya memang sebaiknya dibicarakan, jangan dipendam 😁 beruntungnya mba Nita bisa mengekspresikan perasaan dengan mudah melalui bicara langsung empat mata. Salah satu yang menurut saya merupakan kelemahan saya 🀣

      Duuuh, saya paham banget rasanya kalau sampai lupa buang sampah πŸ˜† soalnya dulu ibu saya sering kesal kalau saya lupa taruh sampah di pagar rumah ahahaha. Jaman saya kecil, tukang sampah ambilnya sama seperti di area rumah mba Nita, hanya setiap 2 hari sekali saja πŸ€ͺ jadi kalau sampai lupa, ibu akan meminta saya buang langsung ke TPU sampah πŸ˜‚

      Paling benar kalau sedang kesal nggak perlu lama-lama 😁 karena kalau terlalu lama, nanti jadi awkward dan susah mengembalikan mood-nya πŸ˜† apalagi saya, kalau kesal-kesalan terlalu lama jadi gelisah hahaha. Akhirnya langsung minta maaf karena nggak mau kesal terlalu lama. Si dia juga sama adanya πŸ˜‚

      Delete
  5. kalo gue kesel biasanya diem aja, kadang dikeluarin juga wkwk, tapi lebih seringnya diem sih, cuman kata orang jadi lebih serem kalo gue kesel terus diem aja hahah

    ya sekesel-keselnya kita, ada baiknya gak usahlah, capek, iya gak sih? hihi mending bodo amatan lah, daripada buang-buang energy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dipendam mas Rizki, nanti jadi penyakit πŸ˜‚ kalau memang perlu diungkapkan, langsung ungkapkan saja. Semisal sulit pakai lisan, bisa coba pakai tulisan 😁✌

      Memang sebaiknya jangan kesal hahaha apalagi kalau alasannya nggak jelas 🀣 tapi yang namanya manusia, pasti ada saja alasan kesalnya ahahaha πŸ€ͺ

      Delete
  6. Kok aku bisa ngerasain banget ya, haha. Aku juga dulu pernah punya pasangan yang kalau mau marah tuh justru susah diobrolinnya karena mesti bahasa inggris. Wkwkwk. Tapi setelah dipikir-pikir marah yang kayak gitu tuh ngga sehat karena bisa jadi penyakit dan tinggal nunggu waktu aja baru bisa meledak. Hehe kok jadi curhat sih. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya saya gampang lupa mba 🀣 jadi nggak sampai dipendam dan biasanya kalau sudah beberapa menit jadi baik-baik saja 😁 mungkin karena alasan kesalnya juga bukan yang terlalu serius dan jadi beban pikiran πŸ˜†

      Ayo mbaa kalau sulit diungkapkan mungkin bisa pakai cara menuliskannya, jangan sampai meledak yaaaa πŸ’•

      Delete
  7. Waaah apakah kita berkebalikan? Kl aku kesel nyrocos nggak selesai2, kl nyrocosnya lewat tulisan kurang greget. Paling doi cuma iya iya. Udah marahnya nih? Gitu2 doang. Tp kl dia marah uhuy, takut juga. Karena sama kaya doimu mbak, kl marah pasti ada alasannya. Tp kl aku marah, nggak jelas alasannya apaan. Wkwkwk
    Mungkin karena kalian pke bahasa inggris kali ya jd lebih enak menyampaikan unek2 pakai tulisan. Hhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia mba Ella, saya juga kalau kesal kadang nggak jelas masalahnya apa hahahaha. Tau-tau kesal saja, dengan alasan yang sangat remeh πŸ˜‚ tapi saya nggak bisa 'nyerocos' orangnya, karena takut jadi belibet saat menceritakan apa yang saya rasakan πŸ€ͺ

      Saya pakai tulisan karena lebih mudah paham daripada lisan mba 😁 kan ada tuh dua jenis manusia, yang memang lisan dan bisa memahami kata-kata dari mulut, dengar musik dan lain sebagainya, atau tulisan yang baru paham sesuatu setelah baca. Nah, saya tipe yang tulisan πŸ˜‚

      Delete
  8. when i get mad, biasanya diem aja wkwkwk.. bukannya gak bisa mengungkapkan lewat kata-kata, tapi kalau saling adu argumen yg ada makin berantem.. jadi diem dulu trs lama2 reda sendiri, baru deh mulai membahas dan baikan.. unik juga yah kalau harus ditulis dulu, bisa panjang lebar tuh. :D

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling enak dibawa diam memang πŸ˜‚ tapi buat pasangan saya, diam itu nggak cukup, dia harus tau kenapa saya kesal. Hahaha. Alhasil saya seperti harus membuat essay kalau sedang kesal. Sebab musababnya apa, detailnya bagaimana dan lain sebagainya 🀣 gara-gara menulis itu, rasa kesal saya jadi hilang karena sadar ternyata sebab musabab saya kesal sangat kekanak-kanakan 😁

      Ini semacam intropeksi dengan tulisan sepertinya 🀣

      Delete
  9. Hehehe kalau cewek begini ya ternyata kalau bad mood. Bisa jadi singa kalau gak ada pelampiasannya. Tapi caranya elegan banget ya, dipakai buat nulis. Emang sih, nulis bisa jadi semacam stress release. Tapi agak ribet juga kalau di dunia cowok. Ya mungkin ada juga cowok yang kalau stres atau lagi emosi jiwa, obatnya dengan nulis. Tapi kalau gw ya jalan-jalan, makan-makan, atau nonton gitu misalnya.

    Tapi ada untungnya juga lho itu klo pasangannya bule. Mau mere-mere harus inget grammar dulu. Walhasil, gak jadi mere-mere dong karena belibet. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Adie kalau lagi kesal jadi impulsif belanja belanja? πŸ˜‚ persis salah satu teman baik saya. DIa kalau kesal pasti dilampiaskan dengan belanja. Habis itu pulang pulang tambah kesal dan menyesal karena sudah hambur hamburkan uang 🀣 tapi memang belanja, jalan jalan, makan itu stress release bangetttt mas 😍

      Iya saya kalau lagi kesal harus memikirkan bahasa Inggrisnya dulu, kadang karena itu jadi berpikir, 'Aduuuh ini sebenarnya nggak penting penting amat ternyata.' πŸ˜‚ berjalan dengan waktu, saya lebih chill sekarang, karena betul betul memilih mana yang layak untuk dibawa perasaan, mana yang sebenarnya hal sepele dan nggak perlu sampai dipikirkan πŸ€ͺ

      Delete
  10. Saya juga agak susah gitu mbak mengekspresikan rasa marah secara runut dan jelas. Adanya ngegas dulu marah nggak beraturan kemudian sadar kalau ini nggak sehat wkwk:( soalnya saya sendiri juga males ngadepin orang yang nyembur sembarangan. Jadi semakin lama rasanya mending milih mendem ajalah kalo enggak ngomel-ngomel sendiri di kamar lol. Saya akhir-akhir ini juga nyoba lebih jujur waktu nulis, nggak pake filter gitu curhatnya biar lega mbak Eno. Efeknya lumayan, saya bisa sharing sedikit demi sedikit sama temen karena saya tau saya mau cerita apa ke dia. Masalah apa yang mengganggu saya. Tapi saya tetep prefer nulis sendiri terus saya keep di jurnal biar nanti bisa dibaca lagi dan jadi reminder atau bahan ketawaan wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, kadang kita kesal tapi nggak jelas ya kesal karena apa. Ketika ditanya pun bingung sendiri bagaimana menjelaskannya karena kita pribadi juga nggak paham sama perasaan kita πŸ˜‚ eh ketika dirunut ternyata kita kesal hanya karena baper semata πŸ˜… apa ini saya doang, ya? 🀣

      Delete
  11. Aku jadi ngerti kenapa beberapa temenku kalo ada masalah selalu diem dulu. Setelah beberapa abat baru cerita kalo dia dulu ini itu gono gini, ya masalahnya karna gak bisa menyampaikan langsung gitu ya, takut kata kata yang keluar nyakitin. Beda banget sama aku yang ceplas ceplos. Yang penting hatiku plong wkwkw. Tidak patut untuk ditiru.

    Kalo aku mah beda kenapa ya, kalo nulis disaat tenang, tapi menceritain hal yang nyakitin. Kebawa perasaan. Malah jadi emosi abis nulis, apa itu karna belum move on. Atau karna tulisannya memicu banget. Kayaknya harus banyak nulis hal yang lebih menenangkan ya seperti mengenang kebahagiaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang paling asik menulis yang happy happy mas, makanya saya sering kali ketika kesal lalu berusaha menuliskan kekesalan saya, selalu nggak selesai karena berujung malas dan perasaan kesalnya meluap begitu saja πŸ˜‚

      Dan memang paling baik untuk mengungkapkan perasaan kita ketika kesal, jangan dipendam. Tinggal cari media yang tepat, bisa lisan atau tulisan 😁

      Delete
  12. saia tyda punya pacar T___T ngambeknya ke tiang listrik saja.

    kalo kesal biasanya dipendam sendiri trus mewek sampe ketiduran. Bukan tipe orang yang berani konfrontasi haha. Maybe one day I hope I will be brave enough to speak up rather than keeping whatever bugging me to myself. Paling nulis di blog... haha. Dulu pernah tuh makan di burger king di GI. Kan nyontoh orang-orang luar yak bersihin mejanya sendiri. Lah aku ikutan, selesai makan buang bawa nampannya ke tempat pembuangan yg udah disediain. Pas buang sampah tuh, meja deket pembuangan itu yang di deket tempat cuci tangan, ada 6 orang... ada satu orang ngomong, "yelah mbak rajin amat. Bekas waitress ya? sekalian bersihin meja gua nih." aku nengok.. pada ketawa. And I ended up crying at the restroom yang di deket auntie anne's.

    Yaaaa I am that weak... such a crybaby. Diapain dikit udah nangis kayak seakan ditampol bolak-balik. Ga tau ya, mungkin mereka maksudnya bercanda. Maybe I was being over sensitive...

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's okay untuk menangis karena memang apa yang mereka lakukan itu nggak baik dan nggak seharusnya dilakukan apalagi ke orang yang nggak dikenal πŸ˜‰

      Kita nggak perlu selalu menutupi apa yang kita rasakan, kalau menyakitkan, ya nggak apa-apa untuk menangis sejenak 😁 it's not about being over sensitive ~ hehe. tapi semoga walau ada kejadian yang kurang mengenakkan seperti cerita Ran di atas, Ran tetap berusaha untuk berbuat baik dan melakukan hal-hal positif yang biasa Ran lakukan. Jangan jadi give up. Hehe.

      Semangat, Ran! πŸ’•

      Delete
  13. hahaha, saya kok jadi pengen belajar bahasa Inggris ya, jadi aturannya kalau marah wajib pakai bahasa inggris, bukan hanya ke pasangan, tapi juga ke anak-anak.

    Jadi kan marahnya lewat tuh, soalnya masih sibuk memikirkan kata apa yang harus dikeluarkan.

    Selain itu, kalau keseringan marah kan lama-lama saya makin mahir berbahasa Inggris hahahahaha.

    Kalau saya marah itu nggak bisa disembunyikan, wajahnya langsung kusut hahahaha.
    Dan kalau didiamin, mulut langsung auto bocor, ngomoooonggg nggak jelas dan panjang, setelah itu langsung to the poin, masalahnya udah to the poin pun kadang dipikir nggak serius, hadeh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu alasan saya jadi jarang bete dan kesal itu karena bahasa Inggris mba 🀣 entah kenapa langsung hilang saja rasa kesalnya kadang kalau nggak terlalu parah, saya memilih untuk melupakannya saja 😁

      Tapi karena itu juga, saya jadi sadar kalau ada banyak hal yang sebenarnya nggak melulu harus dipermasalahkan dan dipusingkan. Semacam belajar untuk berkompromi dengan keadaan, dan memahami pasangan πŸ˜‚

      Saya pun sama seperti mba, kalau kesal pasti mukanya langsung kusut, jadi dia bisa lihat langsung dari ekspresi saya meski kadang saya berusaha menutupinya dengan poker face (which is selalu gagal) πŸ€ͺ hehehe.

      Mungkin pasangan mba karakternya mirip saya yang kalau dikasih ceramah panjang lebar justru memilih diam 🀣 karena nggak bisa betul-betul 100% mencerna hanya dari apa yang didengar ~ soalnya saya pribadi lebih bisa paham kalau membaca tulisan mba, while saat diajak bicara, pasti otak saya lama sekali memproses satu persatu kalimat yang pasangan bicarakan karena saya ingin berusaha memahami dulu maksud dari kata-katanya dan itu butuh waktu lama 😁

      Delete
  14. hehehe lucu juga ya.. aku senyum senyum baca ini, lahh kok mirip lah sebelas dua belas sama aku, kadang aku nggak bisa ngomong juga tapi bukan ke pasangan melainkan ke atasan.Mau ngomong tapi udah ketahan di tenggorokan, kalau ngomong ntar malah panjang lebar jadinya, yawes milih diam hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalau ke atasan jelas nggak mudah mba, harus dipikirkan dengan matang apa yang ingin dibicarakan πŸ˜‚ kalah salah bisa gaswat 😁

      Delete