Became a Host #1 | CREAMENO

Pages

Became a Host #1

Hola manteman, hari ini gue mau berbagi pengalaman gue sebagai HOST AIRBNB 😁 Buat yang penasaran AIRBNB itu apa, AIRBNB merupakan web-app yang membantu kita sewakan rumah kita, kamar kita, villa kita, atau hotel kita pada tamu yang ingin berlibur ke kota kita πŸ˜‰ Dan yang bisa submit di AIRBNB bukan hanya pemilik villa / hotel saja ~ Teman-teman yang punya rumah kosong atau kamar kosong (iya, kamar kosong) pun bisa submit di sana πŸ˜„

Nah, salah satu lini usaha gue itu menyewakan villa-villa pada turis yang datang ke Bali untuk liburan πŸ˜† Jadi pada post kali ini, gue mau berbagi tips and trick bagaimana jadi SUPER HOST (istilah yang digunakan oleh AIRBNB untuk para pemilik unit dengan rating lebih dari 4,8), yang artinya hampir mendekati sempurna 😁 By the way, sebelum gue bercerita, gue mau kasih tau dulu alasan mendasar gue kenapa akhirnya membuka usaha villa ~ 🀣

Hospitality is my priority

Gue dari dulu suka bidang hospitality, buat gue, service dan kenyamanan itu numero uno, dan semakin sering gue menginap di hotel, semakin gue belajar bagaimana cara membuat service system yang baik 😍 Pluuus gue sangat menikmati dunia home and decor, alhasil, gue bercita-cita punya resort agar bisa keluarkan energi dan rasa cinta gue di sana. Cumaaaaa... berhubung modal buat membangun resort itu nggak murah (yaiyalah, menurut ngana? πŸ€ͺ), gue akhirnya memutuskan buka villa, seenggaknya gue bisa dekor villa sesuai dengan keinginan, dan bisa gue sewakan pada tamu dengan service system dan kenyamanan yang gue punya 😬

Meet new people

Sebenarnya alasan lain gue ketika memutuskan buka villa adalah agar gue bisa ketemu orang baru dan belajar banyak hal dari mereka 😍 Meski realitanya, gue sibuk dengan bisnis gue yang lain dan gue ended up serahkan seluruh urusan villa kepada para staff πŸ˜‚ Wk. Dengan kata lain, gue jadi nggak bisa ketemu orang baru sesuai rencana awal hahahahaha, dan akhirnya gue bisa merasa cukup hanya dengan mendengar cerita dari para staff di lapangan. Minimal gue tau hal-hal yang sebelumnya nggak gue tau dari mereka, even bukan sebagai pihak pertama πŸ˜†

🐰🐰🐰


Eniwei, berkat dua alasan di atas, gue finally buka villa di AIRBNB dan ternyata prosesnya sangat cepat πŸ˜‚ Sebab, diawal gue kira akan ribet seperti waktu gue mau listing villa di website lainnya. Dan seingat gue, saat itu gue hanya butuh beberapa jam hingga akhirnya listing villa gue muncul dan siap disewa oleh turis yang datang untuk liburan 😍 So, apa saja hal-hal penting yang perlu dipersiapkan apabila teman-teman berniat menyewakan unit teman-teman? πŸ‘‡πŸ‘‡

Foto detail ruangan

Buat gue, foto berperan penting dalam membuat unit kita diminati oleh para turis, karena foto bagus akan membuat turis ingin 'click' dan baca lebih lanjut soal unit kita ~ while foto blur akan membuat turis langsung skip listing unit kita πŸ˜‚ Jadi pastikan foto-foto yang kita hadirkan pada page kita adalah foto terbaik yang kita punya. Lantas kalau kita nggak jago fotografi bagaimana? Well, jangan kawatir, kita bisa pakai jasa fotografer yang disediakan oleh pihak mereka 😍

Jadi AIRBNB sediakan fotografer untuk kita yang ingin memiliki foto dengan kualitas bagus dan menarik perhatian calon tamu kita ~ Gue pun pakai jasa fotografer ini, karena bisa dibayar nanti after gue dapat income (mereka akan potong income kita untuk bayar fotografer sebelum kirim sisa uangnya ke kita) πŸ˜‰ Biasanya, fotografer yang disewa pihak AIRBNB adalah fotografer lokal / foreigner yang memang stay di kota kita 😁 Siapa fotografernya? Pihak AIRBNB yang pilihkan. Kita tinggal terima beres dan atur tanggal untuk si fotografer datang 😍

Deskripsi jelas

Gue pribadi as traveller selalu baca deskripsi yang disediakan oleh pihak hotel / resort maupun AIRBNB yang ingin gue gunakan. Jadi menurut gue dari kacamata host, deskripsi yang jelas itu sangat penting karena di situlah tempat untuk kita menjabarkan poin plus dari unit yang kita punya πŸ˜„ Dan kalau bisa, tulis deskripsi sedetail mungkin, tentu dengan penekanan di sana sini menggunakan huruf besar agar turis bisa melihat maksud dan tujuan kita 😍

Berdasarkan pengalaman gue, deskripsi lebih ke penekanan terhadap view villa dan fasilitas apa saja yang ada di villa. Contoh, berhubung view villa gue adalah laut lepas dan Gunung Agung jadi gue tulis kalau para turis bisa menikmati ke dua view tersebut dari villa gue yang memang hanya berjarak 1 menit dari bibir pantai, dan gue menekankan fasilitas kolam renang villa gue yang letaknya di lantai dua, which is hadap laut, jadi sambil berenang bisa sambil lihat lautan 🀣

5-star rating 😍

Nggak lupa gue jabarkan detail lain seperti berapa kekuatan WIFI di villa, channel apa saja yang tersedia pada TV di ruang keluarga, dan lain sebagainya 😬 Sambil gue cari tau, kira-kira fasilitas tambahan apa yang penting untuk tamu dan bisa gue sediakan. Contoh, alat BBQ yang selalu di-request untuk bebakaran dan floaties yang di-request demi konten Instagram 🀣 Sampai gue harus beli berkali-kali karena berbagai alasan, entah sobek~lah, kempes~lah, pusing awak! πŸ€ͺ

Harga tepat

Jujur, menentukan harga itu nggak mudah πŸ˜… Gue harus ceki-ceki villa lain untuk tau gambaran harga yang pantas agar nggak kemurahan atau kemahalan πŸ˜† Kadang, ketika lagi sepi beberapa hari, gue merasa kemahalan, tapi giliran ramai, gue langsung merasa kemurahan πŸ€ͺ Wk. Susah pokoknya cari harga yang bisa buat gue puas hahaha. Dan gue dapat harga pas itu butuh proses berbulan-bulan πŸ™ˆ So, jika teman-teman merasa bingung, no worries, nanti pasti teman-teman akan ketemu harga pas setelah beberapa kali menaik-turunkannya 😬

How we interact with our guest πŸ˜†

Responsif dan smiley

Gue menekankan ini pada staff gue, dengan kita selalu responsif pada setiap pesan dan request yang diberikan, serta nggak lupa untuk menyematkan smiley a.k.a emoticon, itu akan membuat tamu merasa disayang 😁 Kita kadang lupa memberikan emoticon, ketika komunikasi dilakukan di-message board padahal menurut gue ini sama pentingnya dengan senyum di hadapan tamu kita πŸ˜† That's why gue selalu ingatkan staff, "Jangan lupa emoticon-nyah." sampai berbusa 🀣

Always call their name 😬

Sebut nama tamu kita

Ini nggak kalah penting karena dengan kita memanggil nama tamu kita, itu akan membuat tamu kita senang 😍 Jadi instead of only MISTER atau MISS, gue minta staff gue sebut nama tamunya. Semisal Mister Dave, atau kalau si tamu nggak mau pakai Mister berarti panggil Dave. Ohyaa, ini salah satu poin yang paling sering dipuji oleh tamu-tamu gue karena staff villa memperlakukan mereka selayaknya saudara, tentu sesuai batasan yang ada 😁

Membalas review

Ini hal kecil sebenarnya, tapi penting untuk bentuk image yang ingin kita tampilkan pada turis yang lihat-lihat page kita. Saat mereka tau kita aktif balas review dan saat mereka lihat cara kita merespon review tersebut, otomatis mereka jadi bisa membayangkan bagaimana kira-kira style kita πŸ˜† Apakah tipe cuek atau tipe friendly? Karena di AIRBNB sendiri ada banyak tipe host, dari yang balas singkat sampai membuat gue as traveller nggak nyaman untuk booking unit mereka, sampai yang hangat dan membuat gue as traveller mau cepat-cepat berangkat liburan 🀣

Review from Mrs. Sisca 😍

Review from Ms. Wie Siu πŸ˜

Review from Mr. Muh πŸ˜

Review from Mr. Paul 😍

Ibaratnya, review ini muka kita. Sebelum para turis mengkontak kita via message board, mereka akan check page kita, dan baca reviews yang diberikan oleh tamu lainnya. That's why membalas review penting untuk branding image villa kita, apalagi kalau ada komplain melalui review yang diberikan oleh tamu, disitu akan jadi kesempatan kita untuk menjelaskan dan cencuuu meminta maaf dengan harapan kita bisa upgrade kualitas villa dimasa depan πŸ’ƒ

SARAPAAAAN!

Wew, dari kacamata gue, fasilitas sarapan ini sangat sangat sangat penting gaes hahaha. Karena dari 90% reviews yang masuk pasti isinya pujian pada sarapan yang disediakan staff πŸ˜‚ Awalnya saat baru mau running, staff gue sempat kasih ide kasih sarapan yang gampang-gampang saja seperti nasi goreng, mie goreng atau roti-rotian ~ Dan berhubung gue cinta masakan Indonesia, gue jadi nggak ikhlas apabila tamu gue nggak dikasih makanan ala rumahan Indonesia. Alhasil, gue minta staff gue untuk menyiapkan homemade food dengan variasi berbeda setiap harinya, yang mana berhasil memikat hati para tamu kebanyakan 🀣 hahahahaha.

Free snacks and beverages πŸ’ƒ

Dari mulai Ayam Geprek, Ayam Rica, Ayam Balado, Ayam Penyet semua pernah dibuat. Belum lagi Daging Rendang, Daging Empal, dan daging-daging lainnya πŸ™ˆ Plus berbagai macam variasi sayur, kerupuk, nasi (kuning, liwet, uduk), dan gorengan (tahu isi, bakwan, etc). Beberapa tamu bahkan minta dibelikan ulekan buat dibawa balik ke negaranya setelah jatuh cinta sama sambal ulek salah satu staff villa hahahahaha. Mantap! Dan bagi gue, memberikan sarapan homemade yang dimasak fresh merupakan keputusan yang nggak akan gue sesali selamanya 😍

🐰🐰🐰

Setelah ini, pasti ada pertanyaan masuk, sebagus apa efek AIRBNB pada villa yang disewakan? Hmmm, jujur gue bisa bilang AIRBNB ini baguuuuus bangetsss! Jadi teman-teman yang punya kamar atau rumah menganggur, yang mungkin lokasinya strategis, bisa mulai coba mempelajari AIRBNB. Nggak harus di tempat wisata seperti Bali gaes, karena di Jakarta dan kota-kota besar lainnya pun banyak yang buka AIRBNB sebab turis akan selalu ada di mana-mana πŸ˜†

Payment from one of our guests πŸ™ˆ

Dan soal pendapatan bisa dibilang lumayan, sebab villa gue nggak pernah kosong melompong sampai satu bulan 🀣 Seenggaknya, selama sebulan, minimal 20 hari ada tamu reservasi di villa. Berhubung villa gue termasuk murah, sekitar 1.750.000 / malam, itu menyebabkan banyak tamu mem-booking villa gue untuk jangka waktu lama. Mostly 5 hari hingga 2-3 mingguan πŸ˜‚

Alhasil dalam sebulan gue bisa mengantongi 35 jutaan / 1 villa saat sepi, dan lebih dari 40 juta / 1 villa saat peak season 😍 Cukup banyak, kan? Especially kalau villanya ada beberapa hehehe. So, jika teman-teman punya unit (nggak harus villa, bisa apartment, rumah, kamar, etc) daripada unit yang dipunya menganggur lebih baik berdayakan dan sewakan πŸ˜†

Dan jangan kawatir takut nggak ada yang sewa, selama masih di area strategis dan fasilitas yang ditawarkan OK maka akan ada kemungkinan kita dapat penyewa. Villa gue lokasinya di pelosok, masuk ke area lokal tapi tetap banyak yang booking thanks to good reviews yang diberikan πŸ˜† Walau kebanyakan good review ditujukan pada staff yang skill hospitality-nya bintang lima 🀣

🐰🐰🐰

Eniho, karena tulisan ini sudah panjang, gue akan sambung Became a Host #2 di kesempatan mendatang 😁 Pada part #2, gue akan kasih tips and trick bagaimana caranya training staff kita agar jadi yang terbaik dan loyal (so far, belum ada staff minta resign dan semuanya betah kerja sampai sekarang) πŸ˜† Gue juga ingin bahas soal kerikil tajam ketika jalani usaha villa ~ πŸ€ͺ

Dari mulai air yang tiba-tiba mati saat tamu sedang mandi, hingga masalah water heater atau AC yang rusak akibat hembusan angin laut yang mengandung garam. Gara-gara ini gue harus beli AC setiap 6 bulan (siwalan!) hahaha. Belum lagi gue dipusingkan dengan timer air kolam renang, lampu dasar kolam, endeblabla. Asli deeh, masalah-masalah ini buat gue stres berkepanjangan. In the end dari masalah tersebut gue jadi belajar banyak hal 🀣 hahahaha.

I know, semua masalah di-handle oleh para staff, tapi seenggaknya gue jadi ikut belajar walau kadang gue pernah mau matikan handphone seharian karena lelah hamba mendengar masalah demi masalah yang datang 🀣 Semacam, "Kok adaaa saja." hahaha. However, disitulah seninya, karena gue dan para staff dituntut untuk gerak cepat, mencari solusi dari setiap masalah. Which is membuat para staff kenal banyak orang. Dari pegawai PLN, teknisi kolam, AC, dan lainnya 😁

Ps: sekarang villa harian gue sudah tutup karena virus Corona (gue prefer sewakan tahunan hingga waktu kondusif seperti sedia kala). Tapi pengalaman berharga gue selama running villa-villa harian gue... ingin gue bagikan siapa tau bisa bermanfaat untuk teman-teman yang tertarik menyewakan unit yang dipunya 😁 Stay healthy and safe everyone πŸ’•

38 comments:

  1. Wow, pengalaman Mba Eno bagus banget. Keren. Banyak hal yang bisa dipelajari.

    Saya dulu kan kerja di wisma milik pemrov yang ada di ibukota, Mba. Jadi tahu banget hal2 kayak gini. Apalagi dulu saya bagian perawatan barang. Jadi ngurusin barang wisma dan orang2 kantor. Hampir tiap hari ada laporan masuk, hahaha. Pusing tapi ada pegawai berpengalaman yang handle. Saya bagian admin aja, hahaha.

    Saya juga ada properti yang disewakan termasuk rumah pas dulu ditinggal dinas. Cuma bedanya saya dan suami pilih2 penyewa. Jadi kalau sekiranya orangnya kotor, barang dan keluarga yg dibawa banyak, kami tolak.

    Ada juga laporan dari tukang saya soal penyewa yang bikin wiw. Akhirnya buat masukan saya dan suami ke depan untuk menerima penyewa.

    Saat ini masih ada rumah kosong yang dikontrakkan. Betul, kalo lokasi strategis, calon penyewa banyak yang telepon.

    Tapi ya mayan pusing karena penyewa aktif laporan ini itu. Mau nggak mau kami harus punya tukang langganan dan emang butuh kesabaran karena pernah ada penyewa yang nunda pembayaran sampai setengah tahun karena beliau ada masalah. Alhamdulillah, sekarang udah lunas krn dicicil per bulan.

    Pengalaman mba Eno yang notabene mengurusi tamu baik lokal maupun luar, butuh kesabaran yang luar biasa. Plus nggak cuma satu yg diurusi kan.

    Dari pengalaman rumah yg dikontrakin aja, saya lelah. Terus berasa males beli rumah lagi, mending tanah, hahaha.

    Btw kalau pengalaman temen yang punya kos dan apartemen, mereka pake jasa ketiga buat ngurus. Mereka nggak mau repot. Kayak pakai app mamikos dan apa lagi ya, saya lupa.

    Maaf, malah curcol.πŸ™ˆπŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaaa, menurut saya sewakan rumah tahunan itu sebenarnya lebih mudah daripada harian karena yang dihadapi hanya 1 keluarga penyewa. While harian kan beda-beda terus tamunya πŸ˜‚ total selama running villa harian itu pervilla bisa handle ribuan tamu karena satu keluarga untuk villa besar bisa 8 orang masuk 🀣

      Jadi kebayang banget kan riweuhnya. Dalam satu keluarga pun karakternya beda-beda, keinginannya beda-beda. Alerginya beda-beda. Kebetulan soal sarapan juga staff harus check alergi para tamu, jadi dibuatlah menu yang menghindari alergi tersebut. Belum lagi kalau vegetarian, ada yang maunya roti saja, maunya salad saja, maunya tempe saja, 8 orang bisa beda semua permintaannya πŸ˜† however selama bisa disiapkan, saya selalu bilang staff untuk siapkan 😁

      Dan saya pun meski nggak berhadapan langsung dengan para tamu, sedikit banyak tetap tau karakter tamu itu beda banget dari setiap negara 🀣 yang dari China sama yang dari Eropa beda, yang dari Korea sama yang dari India beda, yang dari Arab sama yang dari Singapura beda, pokoknya setiap negara beda. Kami sampai hapal kalau dari Russia bagaimana kira-kira, kalau dari Malaysia bagaimana, dari Australia bagaimana πŸ˜‚ walau sebenarnya nggak boleh pukul rata karena setiap individu kan berbeda, tapi informasi yang ada itulah yang kami pegang untuk bagaimana berhadapan dengan mereka πŸ˜„

      Over all, saya suka banget sih usaha villa ini, karena beda sama usaha yang lain ~ pada usaha villa ini betul-betul kita dihadapkan pada manusia dengan berbagai macam tingkah polah 😍 dan senangnya lagi, mostly jadi punya attachment sama para staff. Ada yang sampai pas mau pulang tuh dipeluk staff-staff saya. Ada yang sampai tukeran FB juga hahahahaha. Dan ada yang anak-anaknya sampai terlalu sayang ke staff. Unik pokoknya πŸ˜†

      By the way, semangat mba sewakan rumahnya. Memang harus pilih pilih betul kepada siapa rumah akan disewakan apalagi untuk jangka panjang karena akan sangat berbeda perlakuannya pada penyewa harian yang bisa kita kontrol unit kita setiap harinya πŸ˜„ kalau tahunan kan kita nggak bisa kontrol atau lihat ~ jadi harus lebih deep lagi mencari tau penyewanya 😍

      Delete
  2. Ooh.. akhirnya saya paham apa itu AIRBNB setelah baca tulisan ini πŸ˜‚ padahal sering seliweran di depan mata tapi gak ngerti itu apaan πŸ˜‚

    Panteees, mba eno suka traveling dan nginep di hotel yah 😁termasuk ngereview, skalian buat nambah pengalaman juga ternyata πŸ˜‰

    Penggunaan emoticon itu emang penting mba, biar orang gak salah paham, yang berarti kita juga memperhatikan dan menjaga perasaan lawan bicara kita. 😁

    Bahasannya ini menarik banget, bisa belajar dari orang yang udah pengalaman, apalagi soal mentraining staff agar baik dan loyal itu, kayaknya tips dan triknya bisa dipake di segala bidang pekerjaan ini yah, ditunggu season 2 nya mba (emang pilem).

    Saya pernah tuh mba ngeliat youtuber yang lagi nginep di villa, disana. Emang bagus bgt dan keren fasilitasnya ya, apalagi ini ratingnya udah lebih dari 4,8 wuih. 🀩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Rini, salah satu alasan saya suka hunting hotel / resort / jenis penginapan lain karena ingin belajar soal service system dan hospitality dari mereka dari kacamata as traveller πŸ˜† jadi yang bagus-bagus saya pelajari untuk tau mungkin apa nggak saya gunakan pada usaha saya sendiri 😬

      Hihihi siap mba, nanti saya siapkan dulu materinya, tentu dituliskan berdasarkan pengalaman saya jadi kemungkinan banyak kurangnya πŸ˜‚ eniho kalau di AIRBNB itu rating terbaiknya 5 mba, tapi kalau di website lain ada yang 10. Jadi harus tau dulu maks ratingnya, biar nggak salah duga nantinya 😍

      Delete
  3. Airbnb selalu menjadi pilihan bagi saya untuk menemukan hidden gems tempat tempat menginap alternatif selain hotel. Saya baru tahu Eno menjadi host Airbnb, dan dengan review 4,8 itu sudah pasti akan terus berada di top pencarian Airbnb. Keren euy.

    Postingan ini akan jadi rujukan jika suatu saat saya punya properti untuk disewakan. Thanks for sharing Eno, eh btw kok villanya gak ditunjukkan? Siapa tahu rekan blogger ada yang minat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, ada banyak hidden gems di AIRBNB 😍

      Ehehehe, saat itu sangat susah menjaga rating di atas 4.8 karena kalau turun banyak nanti terlempar dari status SUPER HOST, makanya berjuang keras untuk menjaga rating dengan memberikan service system terbaik yang dibisa πŸ˜†

      Semoga bermanfaat mas, meski yang saya bagikan mungkin nggak begitu lengkap. Semoga one day mas Cipu bisa jadi SUPER HOST di AIRBNB juga πŸ’ƒπŸ™Œ hihi, iya nggak ditunjukkan karena saya memilih nggak mengiklankan business saya di blog mas 😁 hanya sekedar berbagi pengalaman yang saya punya saja ~

      Delete
  4. Waah ulasannya lengkap bangeet mbak Eno...πŸ‘ buat yg punya usaha kayak penyewaan kamar, rumah kosong, vila dll bakalan kebantu banget ama si aplikasi AIRBNB ini yaa. Apalagi kayak Bali ya, kalo ga ada si virus barangkali bakalan rame banget ya mbak... Suka dengan keramahan si empunya vilanya ..eheemmm... 😁 yg ga bosen" ngingetin para staff buat ramah pada tamu, apalagi menu"nya Indonesia bangeet, buktinya sampe ada yg minta ulekan segala, berarti mereka sangat menikmati apa yg disajikan yaa πŸ˜‹...semoga sukses usahanya mbak... Moga" suatu saat bisa nyobain vilanya mbak Eno di Bali. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba akan terbantu tapi khusus untuk turis ya mba, karena kebanyakan memang disewakan untuk harian bukan bulanan seperti web-app lainnya 😁 nah di AIRBNB ternyata banyak yang menyewakan kamar kosong untuk turis juga, mostly yang cari kamar kosong begini backpacker hihi ~

      Kalau nggak ada Corona, biasanya bulan Mei ini sudah padat reservasinya sampai bulan September mba. Kadang bisa full 30 hari hehehe. Cuma karena sekarang Corona, usaha yang berhubungan dengan turis di Bali pun jadi terdampak πŸ˜…

      Terima kasih banyak, mba πŸ’• tapi saya sudah nggak running villa harian lagi ahahaha belum tau nanti kalau Corona selesai apa mau balik ke harian atau tetap stay di tahunan saja 😁 however, once again, terima kasih mba πŸ’ƒ

      Delete
  5. Memang ya, hospitality itu susaaah... tapi sangat rewarding, baik dari pengalaman maupun isi dompet πŸ˜‚

    Keren mbak. Saya orangnya mageran berhadapan sama orang, jadi tipe kerjaan yang full hospitality serta customer service begini bener-bener bukan forte saya istilahnya. Makanya, saya kagum banget sama orang yang kerja di hotel, punya usaha hotel atau sejenisnya, ya contohnya host AirBnb kek mbak Eno gini.

    (Tipe kerjaan favorit saya remote, yang nggak harus ketemu orang dan customer service bisa diminimalkan hahaha)

    Apalagi kerasa banget kan ya, orang yang datang untuk menginap itu pasti ingin pengalaman yang terbaik. Highly demanding dan tingkat stresnya tinggi (tamu cuma satu hal, belum lagi pemeliharaan dsb dsb kek yang ditulis di atas...). Saya udah jiper duluan kalo mikir. Makanya ngga punya cita-cita jadi juragan kosan meski teman-teman saya banyak yang mau. (Tp pengenn sih)

    Ini kan salah satu lini bisnis mbak Eno, dan tetep harus diawasi sekali pun sama staff. dengan service yang full begini, gimana cara manage stressnya mbak, ngatur waktunya juga gimana? butuh ilmu sepertinya aku 😯 akan kutunggu seri kedua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. SETUJU Mbaaaaa πŸ˜‚ susah bingitsss hahaha.

      Mba sebenarnya saya juga tipe orang yang mageran berhadapan sama orang, saya pun pernah cerita akan hal ini di blog saya, yang mana saya agak kaku kalau ketemu orang-orang yang nggak saya kenal 🀣 that's why, saya pernah berusaha untuk mengubah diri saya, dan meski pada akhirnya saya sibuk dengan urusan saya sampai susah ketemu tamu, tapi saya pernah punya pengalaman ketemu tamu beberapa kali and it was so hard πŸ˜‚

      Jadi alasan saya kenapa suka hospitality bukan sebagai front people-nya tapi lebih kepada orang dibalik layarnya yang menikmati, mengamati, dan membentu system sesuai dengan apa yang saya pelajari. Begitu mbaaa πŸ˜†

      Dan jangan ditanya bagaimana demandingnya, nama pun sudah bayar pasti ingin kualitas sesuai harapan minimal sepadan dengan apa yang dibayarkan. Makanya ada istilah dari para pekerja dibidang hospitality kalau bekerja di hotel / resort yang mevvah itu kitanya akan lebih menunduk dalam-dalam karena yang dihadapi adalah tamu-tamu dengan demand tinggi dan rasa perfectionist dan puas sangat tinggi juga πŸ™ˆ seru pokoknya hehe.

      Siap mba nanti akan bahas diseri berikutnya πŸ’ƒ

      Delete
  6. Hmmm,, kalau membaca layanan yang Mbak Eno sediakan ini, layaklah Mbak menjadi super host. Saya beberapa kali memakai aplikasi airbnb kalau bepergian ke luar negeri. Kalau di dalam negeri, saya mengutamakan rumah kerabat untuk menginap. Apalagi kalau ke Bali, rumah orang tua atau saudara akan menjadi korban kami, terutama oleh rusuhnya si K. Hehehe.

    Sukses selalu ya Mbak untuk bisnisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di dalam negeri memang enaknya di rumah keluarga ya mas, apalagi keluarga mas banyak yang di Bali juga 😁 pasti kakek nenek akan sangat senang kalau cucunya stay di rumah daripada di hotel / penginapan lainnya πŸ˜†

      Terima kasih mas, sukses untuk mas Agung juga πŸ’ƒ

      Delete
  7. menjalankan bisnis dari hobi atau kesukaan memang menyenangkan ya. dari awalnya yang suka nginep nginep di hotel, trus kepikiran 'kenapa ga buka hotel sendiri' , ini merupakan suatu tantangan juga, karena ada juga beberapa orang yang nggak punya basic ilmu bisnis, marketing, sales tapi karena ada kemauan akhirnya bisa sukses,

    biasanya airbnb ini aku sewa kalo lagi pengen nyari suasana beda, palingan selama ini masih di surabaya aja. apalagi kalo hostnya baik banget, betahhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ainun, hehehe. Karena suka banget kalau dapat hotel bagus, jadi kepikiran mau punya system begini dan begitu akhirnya kesampaian untuk diterapkan diusaha sendiri itu sesuatu bangetttt 🀣 dan saya pun akhirnya dipaksa untuk belajar lagi dan lagi ke dunia yang belum saya pelajari sebelumnya agar bisa survive 😍

      By the way, di Surabaya banyak AIRBNB bagus mba πŸ’•

      Delete
  8. aku gak pernah pake airbnb,, tapi bercita-cita menjadi hostnya setelah nanti pindah ke Lampung ahaha.. udah ada rencana sih, tinggal menabung untuk bikin penginapan / kosan yg bisa dipake harian buat airbnb :D .. pengalaman mbak Eno bakal ngebantu bgt nih buat jadi host yang recommended..

    kalau jadi host di tempat lain sih udah,, jadi host couchsurfing.. kalau di couchsurfing ngga ada biaya,, nginepnya free,, syarat dan ketentuannya biasanya tergantung masing-masing host..

    aku beberapa kali jadi host buat para traveler yang datang ke Padang, entah traveler lokal maupun traveler manca negara.. aku sendiri pas explore sulawesi banyak nginep di rumah host couchsurfing ahahaha..

    jadi penasaran kalau ke Bali pgn juga ngerasain stay di vilanya mbak Eno. :D .. udah 7 tahun ngga ke Bali lagi :D

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mas buka AIRBNB hehehe, apalagi kalau lokasi strategis, kemungkinan dapat penyewa pasti besar 😍 apalagi Lampung juga sudah mulai terkenal oleh turis kan, ya ~ saya yakin mas Bara akan jadi host yang keren buat para turis yang stay di penginapan mas πŸ˜†

      Ehehehe, iya saya tau CS, sering dengar dan baca dari pengalaman teman-teman lainnya meski belum pernah melakukannya πŸ™ˆ seru kali ya karena ikatannya pasti lebih erat dibanding host berbayar ahahahaha. Soalnya kalau CS kan memang dilakukan atas dasar membantu secara sukarela meski ada persyaratannya 😬

      Nanti kalau mas ke Bali dan kebetulan cari AIRBNB, siapa tau ketemu villa saya πŸ˜‚ tapi saat ini villa harian saya ditutup dan dialihkan ke villa tahunan karena nggak ada tamu harian semenjak Corona ~ entah nanti akan kembali lagi ke harian atau nggak. Untung sekarang cari aman dulu agar pemasukan nggak tergoncang πŸ€ͺ

      Semoga one day mas Bara bisa balik ke Bali bersama keluarga tercinta yaa ~ sudah 7 tahun lama juga soalnya 😁

      Delete
  9. Ulasan dan tipsnya lengkap banget, Mba Eno 😍 Semoga yang butuh ide atau inspirasi untuk menyewakan tempat menginap bisa ngintip semua tips-tipsnya dari blog ini nih.

    Jadi ingat waktu awal-awal pindah ke Bali, beberapa sahabat dan saudara suka datang menginap di rumah kami. Dari situ aku dan orangtuaku jadi suka banget menjamu tamu-tamu kami. Sampai pernah terpikir apa kami bikin homestay aja yaa hahaha Sayangnya, ide ini belum dibicarakan lagi lebih lanjut hihi

    Aku belum pernah coba AIRBNB nih, entah kenapa masih lebih suka menginap di hotel. Tapi kalau ada kesempatan traveling lagi, pengen coba ah. Penasaran juga dengar cerita pengalaman teman-teman yang menginap di AIRBNB.

    Semoga sukses teruss ya Mba Eno bisnisnya ini. Mudah-mudahan situasi cepat recover biar banyak turis lagi yang bisa menikmati excellent service dan villa-nya Mba Eno 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin semoga ada sedikit manfaat dari tulisan ini. mba πŸ˜† ehehehe. memang kalau hobi menjamu akan ada kemungkinan suka bidang hospitality juga, apalagi kalau sampai dipikirkan sekali detail-nya saat melakukan jamuan pada tamu, entah soal makanan apa yang ingin dimasak dan lain sebagainya πŸ˜‚ itu juga yang saya rasakan soalnya ~

      Saya pun sebenarnya termasuk jarang coba AIRBNB mba, kalau dari pengalaman masih kisaran 20% sisanya 80% masih ke hotel karena saya memang ingin belajar dari service system hotel sedangkan AIRBNB kan di kebanyakan tempat hanya menyewakan unit saja 😬 jadi belum banyak ilmu yang saya dapatkan ketika menginap di AIRBNB punya host lainnya πŸ˜†

      Tapi sekali sekali it's okay untuk coba mba, ada banyak AIRBNB yang levelnya sudah sekelas hotel, dengan desain yang parah cakepnya 😍 kadang lebih bagus dari desain hotel ahahaha. Makanya saya pilih pilih sekali kalau mau sewa AIRBNB, salah satunya dengan meneliti page yang mereka punya 😁

      Terima kasih doanya mbaaa πŸ˜πŸ’•

      Delete
  10. Ulasan nya menarik mbak . Mbak Eno emang pinter mengeola bisnis .
    Punya bisnis villa yang bisa disewakan ke turis turis asing memang menyenangkan ya mbak apalagi lokasinya di Balli lagi. Sangat potensial sekali. Karena pulau Bali punya daya tarik tersendiri bagi turis mancanegara.
    Menu sarapan di villa nya mbak Eno menu tradisional Indonesia mantul banget.. biisa bikin turis bule klepek-klepek sampai pesan ulekan segala..πŸ˜…
    Semoga setelah wabah corona berakhir bisnis villa nya mbak Eno tambah lancar tambah laris manis..
    Semoga makin sukses mbak Eno..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat menyenangkan mba meski kadang stres karena urusan maintenance hahaha, tapi tetap fun 😬 saya jadi belajar banyak di sana soalnya. hehehe.

      Iya mba, nggak sangka kalau banyak turis sangat suka masakan staff saya, sampai pesan ulekan, ada juga yang request ayam geprek beberapa kali karena terlalu cinta katanya hahahaha. So cute, isn't it? πŸ™ˆ

      Amiiin, terima kasih banyak mba doanya πŸ˜πŸ’•

      Delete
  11. Fantastic sharing, mbak...
    Ini kayaknya jadi artikel pertama yang saya baca terkait pengalaman hospitality & ke-AirBNB-an dari orang yang langsung berpengalaman.

    Ini salah satu alternatif untuk mendapat passive income pastinya ya mbak.

    kalau investasi properti saya sejauh ini adalah ruko kecil di sebuah pasar kecamatan (karena saya tinggal di desa) karena letaknya di pelosok jadi memang relatif murah sewanya tapi lumayan buat investasi jangka panjang, ngisi pemasukan dan ngisi sangu traveling :D

    Keren sekali mbak. saya membayangkan kalau jadi posisi guest, dapat respon DM yang kayak gitu dan service yang diberikan pasti nggak ragu buat ngasih 5 STARS.

    Pengalaman pakai AirBNB pertama kali saya adalah saat ke KL, bersama teman2 kuliah, waktu itu karena temen yang ngurusin jadi saya nggak ikut proses bookingnya. AirBNB memang efektif dan bisa menghemat apalagi kalau ngetrip rame-rame.

    Coro Ngaruh besar banget pastinya ya mbak ke dunia turisme dan perhotelan. Semoga pandemi dan lekas raib ya , orang2 traveling lagi, dan villanya mbak rame lagiii.

    Boleh nih kapan2 kalau ngetrip rame2 ke Bali ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much, mas Rifan πŸ™ˆπŸ’•

      Iya mba, AIRBNB ini salah satu passive income saya yang lumayan banget untuk tambah-tambah tabungan liburan 🀣 jadi sambil liburan, bisa sambil belajar dari hotel-hotel lain untuk mengembangkan sistem yang saya punya πŸ˜†

      Menurut saya nggak apa-apa mas, meski di pelosok dan sewanya murah, yang terpenting rutin dan ada yang masuk setiap bulan atau tahunnya. Nanti pelan-pelan siapa tau mas Rifan bisa punya properti baru di kota 😍

      Ehehehe, iya mas, buat saya how to response ke guests itu penting banget, kalau kita kasih warm welcome, guests pasti akan merasa senang. Apalagi banyak guests kan terbang jauh dari negaranya ke Bali, jadi maunya saat tiba di villa langsung dapat sambutan hangat 😁

      Plus saya rasa, AIRBNB ini jauh lebih hemat, karena kalau dibagi rata, sebenarnya perorang hanya bayar 200.000 tapi fasilitas yang didapat lengkap dan villanya pun bisa digunakan tanpa harus campur dengan tamu lainnya. That's why AIRBNB bisa jadi alternative bagi yang ingin privacy bersama orang-orang tersayang πŸ™ˆ

      Well, Corona sedikit banyak berpengaruh ke pariwisata di Bali mas, makanya banyak hotel banting harga dengan harapan bisa menggaet tamu asing yang nggak bisa pulang ke negaranya untuk menginap di hotel mereka. Hehehehe. Semoga nanti saya comeback ke AIRBNB dan pas mas Rifan searching, bisa bertemu listing saya πŸ˜†

      Thanks for reading, mas πŸ’ƒ

      Delete
  12. Sampai sekarang saya belum pernah coba Airbnb, Mbak. Tapi habis baca postingan Mbak Eno yang ini saya jadi penasaran buat nyobain sekali-sekali.

    Menginap di tempat yang pengelolanya menyenangkan itu selalu berkesan buat saya. Ada satu hostel yang sampai sekarang saya masih kirim-kirim pesan sama ownernya, padahal nginap di sana cuma empat atau lima hari. Memang waktu di sana suasananya menyenangkan banget. Tamu-tamu diperlakukan kayak kerabat, sampai masakin kita makanan khas setempat segala. :D

    Mudah-mudahan pariwisata segera bergerak lagi ya, Mbak Eno. Lebih bagus lagi kalau ke arah yang lebih berpihak buat alam. Kemarin-kemarin sempat baca surat terbukanya founder Airbnb. Katanya mereka bakal balik ke khittah, mau fokus di akomodasi dan aktivitas-aktivitas lokal aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba mas, banyak yang affordable juga 😍 dan ada yang sewakan kamar jadi tinggal bareng hostnya. Biasa buat backpacker, jadi harga hemat 😬 heheheheheeh.

      Itu juga yang ingin saya berikan kepada para guests mas, pengalaman yang nggak terlupakan ketika mereka berkunjung ke Pulau Dewata. Inginnya selain mereka ingat mengenai tempat-tempat wisata yang indah, mereka juga bisa ingat host dan staff yang care mereka semua πŸ™ˆ hihihi. Nggak heran kalau beberapa guests masih tetap saling tukar kabar dengan staff melalui sosial media 😬

      Amiiin mas, terima kasih doanya, semoga pariwisata bisa kembali bergerak. Agar ekonomi bisa kembali berputar 😍 hehehe. Ohya, kalau mas suka ketemu turis dan mengenalkan kota tempat tinggal mas, bisa coba jadi host AIRBNB experience, itu bagus banget lhooo. Nanti kapan-kapan saya share 😁

      Delete
  13. Uda baca dari sejak dipublish kemaren, dan aku melahap ilmu dari mba eno ini beneran kulahap hap hap haaaap sampe abis tau2 uda paragraf terakhir

    Bergizih tinggih sekalih sharing section bout bisnisnya kali ini Mbaaaa, hihi,

    thaks a lot ya jadi nambah ilmu tentang hospitality ^______^

    Beneran deh :D

    Sebab sebagai anak yang dulunya punya background nulis di desk bisnis, ya makananku sehari-hari apalagi kalau bukan nguplek 'how to' nya si owner dari bisnis--bisnis tertentu tentang bagaimana dia do the best how to treat their business sampai hingga berpengaruh besar pada pendapatan jangka panjang, yang dalam hal ini aku belajar langsung dari yang udah do the businessnya langsung...#jadi bukan sekedar omong thok alias teori

    Eh iya, pantasan ya mba eno ini orangnya bervalue tinggi
    Uda kelihatan dari awal sebenernya pas aku nebak-nebak, mba eno ini backgroundanya apa, kayaknya ga mungkin deh kalau cuma karyawan atau blogger yang hobi traveling semata hihi, bedanya, mungkin aku takjub di bagian ini nih....sekelas owner bisnis kayak mba eno aja masih sempet-sempetnya ngeblog buat having fun, hihi, keren....asli :D

    Ohya, menurutku....Orang yang bervalue tinggi itu biasanya punya jiwa dan mental jadi boss memang.. soalnya ngelakuin segala sesuatunya serba totalitas, hihihi


    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaah terima kasih mba Nita, padahal ini bukan topik normal yang suka saya bahas di blog saya πŸ™ˆ tapi ternyata mba Nita dan teman-teman tetap membacanya πŸ˜† so happy to hear that πŸ’•

      Dan ternyata mba Nita dulu kerjanya di desk business, ya ampun pasti sudah ketemu banyak business owner sukses donggg 😍 pasti pengalaman mba sangat berharga banget, salah satu kesukaan saya juga belajar dari para business owner, karena jadi tau kalau nggak ada business yang mudah especially yang bisa running in the long term 😁 alhasil saya sadar kalau yang instan itu mungkin bisa hit jackpot tapi akan sulit bertahan lama kalau nggak ada ilmunya πŸ˜† meski saya nggak tau mba kerja di mana dulunya, mungkin saya salah satu pembaca dari tulisan business mba entah di majalah / koran / buku karena saya suka banget tulisan bertema business 😍 I salute you, mba πŸ’•

      Ps: blogging jadi fun itu berkat blogwalking dan ketemu teman-teman blog yang nggak kalah fun πŸ˜† kalau dulu saya cuma menulis soal travelling dan nggak blogwalking alias hanya untuk konsumsi pribadi, mungkin saya sudah stop blog saya dari tahun kemarin mba πŸ€ͺ so one thing that keep me going itu karena ada mba Nita dan teman-teman lain yang sangat hangat dan suportif πŸ’ƒ

      Terima kasih, mba Nita πŸ˜πŸŽ‰ lavvvv.

      Delete
  14. Aku belum pernah coba AirBnB. Tapi ini adalah jalan tengah buat yang pengen merasakan serunya tinggal bareng warga lokal ala Couchsurfing dengan jaminan keamanan dan fasilitas setara BnB atau guesthouse.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di AIRBNB ada pilihan kalau mau tinggal sama host-nya, tapi ada juga yang nggak bareng host alias satu rumah atau satu unit apartment bisa dipakai personal oleh kita. Maybe next time mas Nugie perlu coba 😍

      Delete
  15. ooooo meeee goooooodddddd....

    Jadi pengen ralat komen yang tadi deh.
    Tadi tuh saya cuman baca sekilas, saking saya bacanya itu dulu baru ini hahahaha.

    Saya merasa kurang familier dengan label experience, seingat saya kagak ada deh label itu di sini, makanya saya cari dan nemu ini.

    Daaannn plissss banyakin dong tulisan-tulisan kayak gini.

    Sumfaahhh, tema beginian amat sangat jarang saya temukan di blog manapun, i mean, kebanyakan teori doang.
    Seperti di #MondayBusiness nya di mamak Rey bahahahahahaah.

    Akan tetapi ya, sesungguhnya, kalau seandainya artikel di blog ini judulnya klikbait panjang kayak berita-berita, saya juga udah bisa nebak endingnya, because lama baca-baca tulisan Eno, saya jadi lebih mengenal dikit karakter Eno, dan sudah pasti tahu cara bisnis Eno, ituuuu perfekktoohhh hahaha.

    Saya juga tahu, Eno kayaknya berbisnis dengan hati, jadi kepuasan hati itu numero uno, hasilnya??? mengikuti sendiri.

    Dan bener kan, semua pengalaman Eno ke sana ke mari, nginap di sana di mari, diterapkan di usahanya sendiri, daannn harganya ituuhhh murah meriah lohh, setahu saya, dengan view 2 jenis lautan dan gunung itu udah jadi salah satu faktor menarik dan sangat menjual banget.

    meskipun memang lokasinya agak terpencil.
    Saya jadi ingat 2 tahun lalu udah rencanain mau ke Bali, saya liat ada hotel murah dekat laut, bagus banget (gambarnya sih), tapi testimoni orang memang rata-rata lokasinya agak sulit dicapai.

    Oh ya, saya mau dong tahu cerita-cerita lainnya, drama-drama atau tantangan ngelola villa.
    Keren banget.

    Jujur saya kadang mikir mau nerusin ilmu saya di bidang teknik sipil, pengen gitu punya usaha apa yang menggabungkan pelayanan, marketing dan properti.

    Makanya saya suka banget bahas bisnis, meski jujur saya nggak punya ilmu bisnis selain otodidak dan baca teori bahahaha.

    Oh ya, btw jadi host di AirBNB itu bayar ya? saya pernah baca ceritanya temen IG yang punya villa di Mojokerto, dia sewain di aplikasi sejenis lainnya sih.

    Aaahhh nggak sabar saya baca kisah experience lainnya.
    Tentang bisnis Eno, cara jalaninnya drama-dramanya, solusinya dan cara handlenya (banyak banget maunya, padahal harusnya itu berbayar bahahahaha)


    Oh ya satu lagi, betul banget tuh masalah review.
    Lucu aja gitu karena hanya sedikit pebisnis yang sadar akan itu.
    jangankan balas review di aplikasi, bahkan ada yang susah payah review sendiri di blognya, ditayangin di medsos di mensyen pula, kagak digubris tuh hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, iya mba ini post pertama pada label EXPERIENCE πŸ™ˆ mba Rey tau banget kalau nggak ada sebelumnya 🀣

      Siap mba, tapi tema ini agak berat jadi persiapan materinya bisa lama. Butuh draft berhari-hari sampai matang πŸ˜… semoga ke depannya akan ada banyak post di label experience ini sesuai harapan mba 😍 ehehe. By the way saya masih terus belajar mba, jadi jangan diambil mentah-mentah ya tulisannya. Cukup ambil yang baiknya dan pisahkan yang buruknya πŸ˜‚

      Nanti akan saya update secara berkala mba soal Became a Host ini, karena banyak sekali pengalaman yang saya rasakan ketika menjalaninya 😁 tentu dengan cerita-cerita lucu yang ada hahahahaha. Apalagi berhadapan secara nggak langsung dengan tamu-tamu beda negara, dan beda karakter personal 😍

      Wah kalau mba buat bisnis yang menyangkut bidang mba as tekhnik sipil, mungkin bisa sukses mba karena mba ada basic-nya. Tinggal belajar lebih keras untuk business management-nya 😁 semangat!

      Ps: jadi host AIRBNB nggak bayar mba, tapi websitenya memang ambil persenan dari setiap bookingan yang masuk, cuma persenannya nggak banyak kok mba. Seperti foto payment yang saya dapatkan di atas 😬 mereka ambil persenan untuk operational cost mereka, tapi persenannya nggak memberatkan πŸ˜„

      Hihi, terima kasih banyak mba atas antusiasme, saya jadi lebih semangat untuk menyiapkan post-nya πŸ’ƒπŸ’•

      Delete
    2. hahahaha kumenantikaaann say, beneran loh, saya paling suka baca experience langsung gini ketimbang teori.

      Selain saya suka story telling, juga kalau experience itu jauh lebih mengena.

      Semua kelebihan dan kekurangannya beserta hasilnya keliatan.

      Senang banget kalau Eno mau berbagi lebih banyak pengalaman, tentu jadi masukan banget buat saya dan teman-teman lainnya :)

      Oh i see, jadi harganya kayak di up gitu ya? bagus sih, minimal udah ada pemesanan baru dipotong, bukan biaya bulanan gitu kan ya? :)

      Delete
    3. Terima kasih mba Rey 😍

      Harganya kita yang tentukan, dari harga itu mereka akan ambil 2.5% kalau nggak salah 😁 jadi semisal harga sewa yang kita pasang perharinya 1.500.000, nanti mereka akan potong 2.5% nya yaitu 37.500 untuk mereka dan kita hanya dapat 1.462.500 mba πŸ˜„ hehehehhe.

      Iya, dipotongnya setelah ada pemesanan. So, kalau selama sebulan nggak ada pemesanan, mereka nggak akan minta biaya apa-apa termasuk biaya bulanan 😁 nggak ada biaya bulanan ini itu mba. Cuma biaya persenan 2.5% di atas yang diambil dari setiap pemesanan yang masuk. Karena setiap pemesanan kan paymentnya ke mereka dulu, dan baru dibayarkan ke kita H+1 setelah tamunya check-in. Dan yang dibayarkan sudah dipotong duluan 2.5% πŸ˜„

      Delete
  16. Saya baru dua kali pake airbnb dan keduanya nggak mengecewakan sih. Yang terakhir pas saya lagi di KL sama temen-temen owner apartmentnya bantu cari van sewaan buat ke bandara, senengnya 😁 mana harganya juga miring. Soal review juga nih saya juga mempertimbangkan gimana si empunya bales chat calon penyewa kalo ramah dan gercep (plus panggil nama kaya staff mbak Eno pasti jatuh hati) jadi ikutan semangat nyewa haha.

    Makasih buat tipsnya mbak Eno. Siapa tau di masa depan bisa buka jasa hospitality macem gini ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun demikian mba, prefer host yang aktif menyapa guests-nya baik dari segi membalas reviews atau pun membalas message yang masuk 😁 kita bisa lihat sedikit banyak tipe host seperti apa dari bagaimana cara mereka membawa diri mereka ketika berinteraksi dengan kita. That's why, saya pun berusaha menjadi host yang menyenangkan untuk tamu-tamu saya πŸ™ˆ

      Amiiin semoga one day mba Galih bisa buka AIRBNB juga 😍

      Delete
  17. Baru baca ini dan merasa dapat banyak pelajaran keren. Saya jadi tau asal mula emotikon di kolom komentar, yang dimana saya juga mulai menggunakan 😁

    Dari cerita kak Eno, saya nangkapnya kak Eno juga learning by doing dalam membangun dan menjalankan bisnis sewa vila ini. Ha ha ha. Dari pas masuk kuliah, cita-cita saya pengen bangun kos-kosan karena lihat kos-kosan di dekat kampus saya itu selalu rame. Dan bangun kosan juga enak dibayangan saya, terus sama orang-orang dikenal jadi Bapak Kos,"Oh Bapak Rahul? Yang Bapak kosan itu kan?" πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehehe, emoticon itu berpengaruh banyak sama tulisan yang kita buat. Jadi bisa lebih ekspresif kata-katanya (menurut saya) 🀣 Dan saya pernah bahas soal ini lebih detail, lupa di post mana πŸ™ˆ

      Iya dong mas pastinya, sebab saya nggak punya background ilmu perhotelan atau pariwisata. Jadi saya learning by doing sambil meraba-raba hahahaha. That's why apa yang saya tuliskan di atas itu adalah hasil observasi saya selama menjalankan usaha beberapa tahun ke belakang. Which is, bisa jadi beda dengan pengalaman orang lain di luar sana πŸ˜†

      Usaha persewaan ruang, seperti kos, hotel, villa, etc, profitnya bisa besar kalau dikelola dengan baik dan benar. Semoga one day, cita-cita mas Rahul tercapai yaaah, ditulis dulu saja, sedetail-detailnya 😍 Dan harapan saya bila kelak mas Rahul jadi bapak kos mahasiswa, semoga bisa jadi Bapak kos yang bijaksana dan disegani anak-anak 😁

      Delete
  18. Mbaaa aku jadi tahu banyak lho, hahahah. Kayaknya Become a Host bakalan aku tunggu-tunggu nih kedepannya. Aku jadi angguk-angguk sendiri bacanya atau spontas bilang "Ooo gitu" hahaha. Kayaknya dulu aku pernah baca Become a host yang part berapa gitu, tapi ora mudeng, kayaknya deh. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah mba Sovia baca post lamanya jugaaaa 🀣

      Terima kasih banyak mba hehehehe. Semoga ada sedikit manfaat yang bisa mba dapatkan dari pengalaman yang saya bagikan πŸ™ˆ hehehe.

      Mungkin mba baca yang part 3 (ini soal kompor meleduk), atau part 2 (soal uang). Soalnya seingat saya, mba mulai baca blog saya di jaman tulisan itu, dekat-dekat tulisannya The Power of Mom πŸ˜†

      Delete