Is That Okay to Quit? | CREAMENO

Pages

Is That Okay to Quit?


Buat yang sudah kenal gue atau mengikuti blog gue mungkin sedikit banyak tau kalau gue suka main games dan salah satu game yang betul-betul memberikan hiburan untuk gue adalah Bubble Witch Saga πŸ˜ nah, bagi teman-teman yang nggak tau game apakah ini, mari gue perkenalkan teman-teman ke game favorit gue, dimana gue bisa menembak bola (cute bubble) berwarna-warni (yang membentuk satu susunan warna) agar bisa meledak, DUARRR! 😁


Anyway, gue main game ini sudah lumayan lama, walau gue cuma main diwaktu senggang, salah satunya ketika gue harus menunggu pesawat tapi level gue sudah ratusan *bangga ceritanyah* πŸ˜‹ dan saat gue main game ini, si kesayangan pernah bilang, "Ya ampun, lu masih punya 10 bola, kenapa berhenti? Lu harusnya selesaikan dulu semua bolanya buat lihat ada kesempatan menang atau nggak." πŸ₯΄

UH, OKAY! πŸ˜† frankly speaking gaya bermain gue memang demikian 🀣 sometimes gue berhenti walau gue tau kalau gue masih punya 10 (atau sekian) bola, dan meski dari sudut pandang dia seharusnya gue coba sampai akhir alias sampai bolanya nggak bersisa, tapiiiiii... dari sudut pandang gue pribadi, kalau gue harus bermain sampai 10 bola habis padahal gue masih punya 50 baris, itu namanyaaa, gue nggak realistic! Dan gue harus tegas ke diri sendiri..

"Hon, ini salah, gue harus berhenti sekarang, daripada buang waktu dengan percuma dimana gue tau kalau gue gagal." -- while dia akan bilang, "Coba dulu, jangan menyerah." gue akan menjawab, "Kalau kalkulasi gue sudah salah, gue harus realistic. Gue nggak akan force diri gue untuk terus coba. Gue harus berani ambil keputusan dan gue perlu tau kapan gue harus berhenti dari permainan."

And yeah, itu adalah prinsip hidup gue sekarang. Mungkin, karena gue sudah nggak lagi muda. Gue belajar untuk jauh lebih realistic daripada sebelumnya, dan nggak akan memaksakan sesuatu kalau gue tau gue sudah gagal, plus gue jadi lebih berani dalam mengambil keputusan. Sebab, apabila sesuatu sudah nggak masuk akal, dan nggak bisa lagi diperjuangkan, untuk apa dipertahankan? 😊

Nervertheless, buat gue, BERHENTI nggak selalu berarti kalah, dan nggak selalu berarti menyerah. Semakin gue bertambah tua (dan dewasa, I wish), semakin gue merasa kalau waktu gue berharga. Dan gue pikir, gue nggak akan bisa mengembalikan waktu gue yang telah hilang, so, mulai dari sekarang, gue berusaha untuk menggunakan waktu gue dengan sebaik-baiknya termasuk paham kapan gue harus berhenti ketika sesuatu sudah nggak layak untuk dilanjutkan πŸ˜„

After all, gue nggak bilang kalau prinsip si kesayangan salah. Karena memang nggak ada yang salah dengan prinsip dan filosofi hidup setiap orang termasuk prinsip untuk terus mencoba. Dan menurut gue, setiap dari kita tentu punya cerita masing-masing, petualangan masing-masing, naik turunnya perjalanan hidup masing-masing yang mana pada akhirnya sudah pasti mempengaruhi sudut pandang kita masing-masing dalam menilai hidup yang kita punya πŸ˜‰

Dan meskipun di luar sana ada banyak quotes yang bilang, "QUIT is loser." atau, "QUIT is bla bla." -- kita perlu tau bahwa nggak semua alasan berhenti adalah buruk, mau itu berhubungan dengan karir, relationship, pertemanan, dan lain sebagainya 😁 karena Robert Tew pernah bilang, "Respect yourself enough to walk away from anything that no longer grows you, or make you happy ----- Hargai dirimu dengan menjauh dari apa pun yang nggak lagi membuatmu 'tumbuh', atau membuatmu bahagia sepenuh hati." πŸ’“πŸ’“πŸ’“

However bagi gue gaes, BERHENTI atau TERUS MENCOBA, nggak ada satupun yang salah πŸ˜†✌ sebab, yang disayangkan hanyalah ketika kita terlalu takut terus mencoba karena kawatir kita akan gagal, atau terlalu takut untuk berhenti (dan memaksa diri kita terus mencoba) walau kita tau diri kita sudah gagal 😊 kadang, ada kegagalan yang nggak perlu dicoba berulang-ulang ~ Betul, nggak?

For the last, untuk semua hal yang sudah terjadi pada masa lalu maupun yang akan terjadi pada masa depan, kita akan sadar kalau segala sesuatunya berhubungan dengan TIMING yang tepat 😍 jadi poin dari post gue kali ini adalah, it's okay to QUIT, kalau kita sudah tau, hal itu nggak lagi membuat kita happy, dan cintailah diri sendiri, karena nggak ada yang lebih baik selain mencintai diri kita sendiri perfectly. Kalau bukan kita, terus siapa lagi? πŸ™ˆ

46 comments:

  1. Berhenti atau terus adalah bagian dari pilihan hidup. Masing masing punya konsekuensi.

    Tidak selalu harus terus maju, terkadang berhenti bisa jadi pilihan tepat.

    Terkadang masyarakat menilai benar salah tergantung hasil akhir. Kalau berhasil berarti benar, kalau tidak berhasil salah.

    Contohnya kalau maju terus nyebur jurang, haruskah kita maju terus?

    Tetapi, kalau kita maju terus dan kemudian ternyata mobil bisa membawa kita selamat sampai di tebing seberang, berarti hebat dan benar
    😁😁😁😁

    Kalau saya mah cuma akan bilang..hidup hidup gua..ya terserah gue dong πŸ€£πŸ€£πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜œπŸ˜œπŸ˜œ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas Anton 😍

      Berhenti itu juga merupakan pilihan ketika terus mencoba mungkin bukan lagi pilihan yang tepat 😁 hihi. Dulu saya tipe orang yang terus mencoba sampai penghabisan. Saya merasa kalau berhenti itu artinya menyerah kalah. Tapi the more I get older, saya paham kalau berhenti adalah bagian dari pendewasaan dan nggak selamanya berarti saya menyerah kalah. Karena untuk bisa mengambil sebuah keputusan 'berhenti' pun butuh pertimbangan matang πŸ˜†

      Dan saya suka sama analoginya mas Anton, kalau maju terus tapi masuk ke jurang, yang ada justru lebih berbahaya πŸ™ˆ hehehe. Harapan saya menulis ini agar teman-teman yang sedang dalam persimpangan karena ingin berhenti tapi nggak mau menyerah kalah, bisa memahami bahwasanya berhenti bukan berarti selalu kalah selama diputuskan dengan pikiran tenang, dan penuh pertimbangan πŸ’•

      Delete
  2. Tergantung konteks dan kondisi sih kalau menurut aku. Saya setuju quit itu bukan berarti menyerah, bisa saja untuk mencoba mencari peluang yang lain kan?

    Ini ceritanya pernah saya coba ambil mata kuliah yang sangat njlimet dan memang sepertinya di luar kemampuan saya. Saya memutuskan berhenti dan mencoba mengambil mata kuliah lain. Dan keputusan saya berhenti ternyata tepat, teman -teman yang meneruskan mata kuliah itu malah mengeluh betapa menderitanya mereka. Sedangkan saya, sangat menikmati mata kuliah yang baru.

    Cerita yang sama mungkin saat memutuskan kerja di sebuah perusahaan yang jadi dambaan banyak orang, namun saya memutuskan untuk keluar karena sepertinya pekerjaan yang saya lakukan tak begitu sesuai dengan apa yang ingin saya lakukan hehehe

    Jadi memang betul, berhenti itu tidak selamanya menyerah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas Cipu, semua keputusan memang berdasarkan kondisi 😁 hihi, dan pada tulisan khusus kali ini, saya mau encourage teman-teman yang sedang galau bertanya, "Is that okay to quit?" dengan jawaban it's okay to quit. Selama memang kondisinya sudah nggak bisa membuat kita tumbuh dan berkembang, nggak membuat kita happy, nggak layak diperjuangkan, dilanjutkan ataupun dipertahankan πŸ™ˆ

      Karena sepengalaman saya dulu waktu muda, saya selalu force diri saya untuk terus mencoba sampai 'berdarah-darah' istilahnya hanya karena saya nggak mau menyerah kalah. Padahal yang terus dicoba juga sebenarnya sudah nggak layak untuk dicoba. Tapi cuma karena saya merasa sudah banyak buang waktu di sana, jadi saya nggak mau sia-sia. Padahal kalau diteruskan bisa jauh lebih sia-sia πŸ˜‚ dan sedihnya dulu setiap kali saya bertanya, "Is that okay to quit?" jawaban beberapa orang adalah, "No. Just keep trying." hingga akhirnya saya belajar kalau sebenarnya it's okay kok untuk quit, and there's nothing wrong with that 😁✌

      Terima kasih untuk cerita yang dibagikan ya mas Cipu, semoga teman-teman lain yang membaca dan sedang bimbang bisa mendapatkan pencerahan dari pengalaman yang mas Cipu bagikan 😍 karena pada akhirnya, kita semua berhak memilih untuk kebahagiaan kita πŸ’•

      Delete
  3. Aku dulu pernah main game itu, cuma sejak anak saya megang hape lalu suka main game akhirnya aku hapus saja gamenya. Eh ternyata dia bisa download lagi dari playstore.πŸ˜‚

    Sama mbak, aku juga kadang realistis, kalo misalnya saya ngga bisa mencapai sesuatu biasanya aku akan berhenti. Mungkin menyerah, mungkin juga untuk mencoba lain waktu, biasanya berhasil karena fikiran sudah segar lagi, tapi kadang gagal juga.πŸ˜”

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, game ini seru mas, kadang kalau sudah main jadi susah berhentinya 🀣 that's why saya buka hanya saat senggang saja biar nggak jadi kecanduan πŸ™ˆ hahahaha.

      Mas Agus terima kasih sudah berbagi insight-nya 😍 memang kita hidup perlu realistic apalagi kalau keadaan sudah terlihat nggak memungkinkan, karena terus memaksakan juga nggak akan sehat. Tapi itu semua akan kembali pada diri kita, sebab hanya kita sendiri yang tau sejauh apa kita bisa terus mencoba, dan sekuat apa kita bertahan. Yang terpenting, kita sadar kalau itu sudah sangat nggak masuk akal, kita bisa step back untuk berhenti tanpa harus berpikir kita kalah πŸ˜πŸ‘Œ

      Semangat ya mas Agus πŸ’ƒπŸ™Œ semisal gagal pun pasti ada akan keberhasilan lain yang akan menanti di masa depan 😁

      Delete
  4. Kalo aku... tergantung berhentinya kenapa dulu dan soal apa. Ada kalanya kita memang harus berhenti melangkah lalu mundur, mengalah sejenak mengatur strategi selanjutnya sebelum kembali melangkah maju. Dalam beberapa situasi memang harus pintar-pintar mengatur langkah. Ada kalanya ketika menghadapi beberapa masalah, aku merasa begitu terpojok sampai gak bisa berbuat apa-apa. Awalnya marah, maunya terus mencoba dan terus maju. Tapi ketika aku mulai bisa menerima keadaan, malah ada begitu banyak kesempatan datang... kesempatan yg jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Kesempatan yg begitu banyaknya sampai aku sendiri bingung mau pilih yg mana. Mm, gak tau ya, mungkin itu cara Tuhan ngajarin aku sabar.

    *curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Ran, semua harus dikembalikan ke diri sendiri, karena apa, dan lain sebagainya 😁 dan menerima keadaan juga merupakan sebuah proses sebelum mengambil keputusan. Karena untuk some people, bisa betul-betul menerima keadaan itu nggak mudah. Kadang ada yang masih bersih keras terus 'menekan' dirinya, karena belum bisa menerima keadaan dengan sepenuhnya ~ itu yang saya pelajari dalam proses saya sendiri ketika dihadapkan pada sebuah pilihan sulit 😬

      Semangat Ran, kesempatan akan selalu ada πŸ’• tinggal bagaimana cara kita melihatnya dan meraihnya 😁

      Delete
  5. Ya ampun mba eno, itu game jaman baheulak tapi tetap asik dimainin. Saya juga dulu gemar sekali main bola-bola gelembung itu, ada suaranya yang khas ketika meletus dan itu yang bikin asik serta gak mau berhenti wkwk

    Akhirnya, walau asik tetap ngebosenin sih. Karena saya tipikal orang yang gak betah ngerjain sesuatu yang itu itu aja. Pengen ada variasi baru, game baru dan hal lainnya. Hingga sekarang malah gak ada game, paling kalo lagi kosong scroll medsosπŸ˜‚

    Eh tapi kadang mumet juga liat medsos, yaudah ditinggalin dulu hapenya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, betul, suaranya adiktif ya πŸ˜‚ memang paling baik kalau mumet sama medsos, ditutup dulu medsosnya dan lakukan hal lain yang juga nggak kalah menyenangkan 😍 nanti kalau sudah nggak mumet lagi, baru dibuka kembali medsosnya untuk mencari inspirasi yang dibutuhkan πŸ˜†

      Delete
  6. Eh itu betul banget, loh ...kalau bukan diri kita yang menghargai diri kita sendiri, lantas siapa yang akan menghargai lebih sempurna diri kita.
    Daan .. keputusan yang terbaik suatu hal yang memutuskan berlanjut tidaknya ya diri kita juga sendiri.
    Yang tau gimana-gimananya sebenernya yang dirasa kita kan kita sendiri.
    Orang lain hanyalah ibaratnya sebagai penonton πŸ™‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penghargaan terbesar yang bisa kita berikan ke diri kita sendiri itu memang datangnya dari diri kita ya, mas 😁 karena kita yang paling tau apa yang diri kita butuhkan ~

      Terima kasih mas Himawan 😍

      Delete
  7. Saya juga pernah ngerasain itu pas main Zuma dan Need for Speed, Mbak. Jago banget emang game maker-nya, bisa bikin level yang kenaikan tingkat kesulitannya bisa tipis itu. Jadinya, selalu tergoda buat ke level selanjutnya.

    Soal quitting, saya beberapa kali milih mundur dari komunitas atau organisasi karena sudah nggak sesuai lagi sama prinsip, dengan catatan semua sudah diusahakan secara maksimal. Efeknya menurut saya bagus juga. Saya bisa lihat dunia baru, ketemu orang-orang baru, belajar hal-hal baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pernah addict sama Zuma mas, sampai susah bangkit dari kursi dan duduk terus-terusan di depan laptop hahaha jaman dulu Zuma belum ada di handphone jadi mainnya di laptop πŸ˜‚ ingat sekali seperti baru kemarin hahaha.

      Eniho, komentar mas bisa memberikan gambaran real bagaimana quit alias berhenti nggak melulu berarti kalah, karena ternyata, berhenti terkadang bisa menjadi pilihan yang tepat, selama sebelumnya sudah diusahakan secara maksimal 😁 terima kasih mas 😍

      Delete
  8. Ada beberapa kalimat diatas yg bikin saya jadi berfikir rada serius alias ngingetin ke diri saya sih mbak, dan kalimat itu koq rasanya pas banget buat saya, rada nyees gitu... 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mba Heni, you can do it, yang terbaik untuk mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  9. Memang berat Mbak, untuk memutuskan berhenti dari sesuatu yang sudah kita jalani beberapa waktu, apalagi ada kemungkinan kita dipandang orang dengan penilaian yang sedikit berbeda, seperti kalah, menyerah, salah perhitungan dan bahkan tidak bertanggung jawab. Termasuk juga berhenti berada di zona nyaman.

    Tapi seharusnya cuma diri kita sendirilah yang tahu batasan diri sendiri atau apa yang sebenarnya kita mau, bukan orang lain. Jadi memang harus dijalani saja. Urusan benar atau salah keputusan itu, tak ada orang yang bisa memastikan dengan tepat.

    Hal yang sama juga terjadi saat kita mempertimbangkan untuk mulai melakukan sesuatu. Ada saja hal yang membuat pikiran berkecamuk, dan akhirnya meragu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pandangan orang itu yang kadang membuat seseorang nggak berani ambil keputusan, padahal yang memandang itu juga nggak akan membantu apa-apa kalau terjadi sesuatu dengan kita 😁 hehehe.

      Setuju sama mas Agung, memang hanya kita yang tau batasan-batasan apa yang kita punya. Jadi semua keputusan mutlak ada di tangan kita terlepas bagaimana orang akan menilai ke depannya hehehe. Dan benar atau salah, pada akhirnya kita juga yang akan memahaminya. Karena yang orang lihat hanya sisi luarnya saja alias hasilnya bukan prosesnya 😬

      Semangat mas Agung πŸ’ƒ

      Delete
  10. Setelah baca dari awal, scroll scroll, dalam hati jawab, "Masalah timing deh kayaknya." Eh bener, yes, sepakat mbak. :D

    Kayaknya game sejenis banyak yah. Saya dulu pernah mainan game sejenis, game nyocokin-bola-bola-berwarna-biar-dapet-poin, tapi tentang unsur kimia. Iseng banget emang hahaha, sekalian ngehafal nomor atom :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, terima kasih mas Robby 😁

      Oh saya baru tau ada game dengan unsur kimia πŸ˜‚ mungkin kalau saya tau game itu jaman sekolah, saya nggak akan malas belajar kimia kali, ya πŸ€ͺ

      Delete
  11. Wah bener juga ya mbak. Kalau kita udah punya perhitungan, ya bisa jadi berhenti tuh merupakan rencana biar bisa ngelakuin hal lain lebih cepet. Ibaratnya sebelum kena tilang, kita puter balik dulu (analogi macam apa ini?). Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalkulasi itu perlu, kadang karena kalkulasi yang belum matang, kita justru nggak tau kapan kita perlu mengambil sikap even saat kita sudah dalam keadaan 'sekarat' 😬 jadi kita perlu terus belajar mengasah kalkulasi yang berkaitan langsung dengan kebaikan hidup kita ke depan hehe. Btw analoginya lucu sekali πŸ˜‚ kalau itu sih seharusnya jangan sampai kita melakukan sesuatu yang melanggar agar nggak perlu putar arah 🀣

      Delete
  12. yang lebih tau kapan waktu yang tepat untuk quit dari diri sendiri, dan sudah pasti tau soal resiko atau kelebihannya.
    berhenti bukan berati kalah, mengalah bukan berarti kalah juga.
    semua akan indah pada waktunya *nyanyi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, betul, indah diwaktu yang tepat, bukan tepat waktu yaaa πŸ˜† jadi nggak perlu lihat 'waktunya' orang, tapi cukup fokus ke 'waktu' yang kita punya 😁 semangat!

      Delete
  13. Dari post ini aku belajar, setiap orang harus tau kapan waktunya berhenti kapan waktunya lanjut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan lebih mengenal diri kita sendiri, kita akan mengerti mba kapan kita perlu berhenti dan kapan kita perlu untuk terus lanjut 😍

      Delete
  14. Setuju 😁

    Berdasarkan kegagalan yang pernah saya alami di masa lalu, ambil point terpentingnya, yaitu mencintai diri sendiri .

    Selama hal itu kita sukai, yah teruskan. Kalo tidak yah tinggalkan. Seringlah bertanya pada hati kecil, itu akan berguna saat kita belum mampu mengkalkulasi. Waktu gak bisa terulang kembali. Tugas kitalah untuk menjalani dengan sebaik-baiknya, karena diri kita sendirilah yang nantinya di masa depan yang harus menjawab atas apa-apa saja yang telah kita perbuat pada kehidupan kita di masa lalu. πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, banyak kegagalan juga terjadi karena kita kurang memahami apa yang diri sendiri inginkan dan tentunya kurang merasa cinta pada diri sendiri sehingga membiarkan diri kita menderita. Dan itu pula yang saya rasakan mba πŸ™ˆ sama seperti yang lainnya, saya pun pernah gagal ~ entah dalam bentuk apa, tapi saya sadar, salah satu poinnya adalah saya harus lebih cinta sama diri saya agar kelak ketika mengambil keputusan, saya sadar kalau itu adalah yang terbaik untuk saya, bukan untuk kebaikan pihak lain saja πŸ€—

      Semoga kita bisa lebih bijak ke depannya ya mba, dan bisa selalu mengkalkulasi langkah kita, agar nggak jatuh ke lubang yang sama ~ dan semoga kita bisa menjalani waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya. Saya pun masih belajar sampai sekarang πŸ˜† hihi ~ semangat untuk kita πŸ’ƒ

      Delete
  15. Pas banget aku baca ini ketika aku baru selesai nonton Reply 1994, di mana salah satu karakternya si Chilbong (si oppa favorit akuhhh πŸ˜†) bilang kalau ingin sukses di bidang tertentu, kita harus berjuang melakukannya selama 10,000 jam, tapi kalo udah berjuang sebanyak 10,000 jam dan nggak menghasilkan apapun, berarti saatnya kita harus let go alias berhenti. Dia ngomong begini karena abis putus cinta juga sih wkwk πŸ˜‚

    Quote-nya deep banget sampe bikin aku mikir huahaha awalnya aku pun punya pemikiran yang sama, harus berjuang sampai akhir. Tapi makin bertambahnya usia, ternyata realistis itu juga nggak kalah penting πŸ˜… kalau berjuang mati-matian tapi nggak ada hasil juga, sama aja bikin capek diri sendiri, ya. Jadi aku setuju sekali dengan poin terakhirnya Mba Eno: don't forget to love yourself 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih baru selesai menonton Chilbong, mba? πŸ˜‚ pemainnya sama dengan drama Kimsabu, kan 😁 hehehe, setuju sama Chilbong dan mba Jane, memang kita harus realistis dalam menjalani hidup kita πŸ€— rasa-rasanya kita selalu diajarkan untuk terus berjuang sampai tetes darah penghabisan sampai kadang lupa, kita juga perlu belajar untuk kapan harus berhenti apabila sesuatu yang diperjuangkan sudah nggak layak lagi untuk diperjuangkan. Karena ke dua poin tersebut sama-sama penting untuk hidup kita πŸ™ˆ

      Semoga, kita bisa terus belajar untuk ambil sikap ya mba agar kita nggak terjun bebas ke jurang. Berhubung saya pernah mengalaminya dan itu 'sakit' hahaha, jadi sekarang saya belajar ekstra untuk bisa mengendalikan diri saya juga πŸ˜πŸ’• semangat and don't forget to love ourselves 😬

      Delete
    2. Iyaa betul Mba Eno, si oppa Yoo Yeon Seok 😍 aku susah move on setelah nonton dramanya doi, baper berkepanjangan huahaha *malah curhat drakor* πŸ˜†

      Delete
    3. YYS ada di Hospital Playlist mba, coba tonton, itu seru juga, tapi nggak sebanyak Kimsabu cerita serius operasi ini itunya, lebih ke cerita persahabatan dan slow banget dramanya jadi enak ditonton buat yang ingin punya perasaan relaks πŸ˜‚

      Delete
  16. hihihi saya jadi merasa kayak dejavu.
    Jadi ingat saat pertama kalinya berhenti oriflamean tahun 2014 lalu, karena saya merasa udah nggak nyaman berada di jaringan tersebut.

    Udah deh habis-habisan saya di sindir, quit is loser and bla bla bla.

    Tapi saya merasa memang sudah waktunya saya mundur sejenak untuk memikirkan langkah ke depan.
    Saya sudah merasa sudah berusaha mati-matian dan jadi merasa ibarat saya berusaha menembus dinding yang tidak bisa ditembus, lalu saya berpikir, mengapa saya nggak mundur sejenak untuk melihat jalan mana kira-kira yang memungkinkan buat saya jalani untuk maju?

    Berhenti atau terus mencoba nggak ada yang benar sih menurut saya, tapi terus mencoba tanpa rencana juga kurang bijak menurut saya.

    Akan lebih bijak, kalau terus mencoba tapi punya strategi dan beragam plan yang bisa dijalankan, biar nggak lompat-lompat di tempat mulu sampai pegel hahaha. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba, segala sesuatunya memang butuh rencana, ehehe, jadi sudah seyogyanya dalam mengambil sebuah keputusan, terdapat perencanaan juga di dalamnya ~ so, ketika ingin berhenti pun bukan semata-mata menyerah, bisa jadi berhenti merupakan sebuah keputusan yang juga telah direncanakan. Means, kita nggak boleh judge seseorang berhenti as a loser, karena kita nggak akan pernah tau alasan dan rencana mereka sebenarnya πŸ’ƒ

      Terima kasih atas cerita pengalaman mba, saya jadi bisa lebih jauh memahami perkara berhenti dan terus mencoba πŸ™ˆπŸ’•

      Delete
  17. Nganu, Mbak Eno. bubble witch saga ini apa masih saudaraan sama candy crush saga, ya? Soalnya sama-sama ada saga nya sih. Hehehe.πŸ˜‚

    Waktu bermain game pun aku juga melakukan hal yang sama. Ngomong-ngomong game yang kadang aku mainkan namanya candy crush saga. Kalau langkah yang tersisa cuma tinggal 10 tapi harus menghilangkan 30 lebih obstacle, ya aku memilih berhenti aja. Karena kemungkinan menangnya kecil, cenderung kalah bahkan.

    Tapi kalau dipikir-pikir ini memang bisa terjadi di kehidupan nyata. Terkadang kita dihadapkan pada 2 pilihan: lanjut, atau berhenti.

    Kalau menurutku, apabila masih bisa diperjuangkan dan bisa menghasilkan suatu yang lebih baik lagi, lanjut adalah pilihan terbaik. Sebaliknya, kalau kondisinya sudah gak menguntungkan, stuck, gak membuat kita tumbuh ke arah yang lebih baik: yang aku pilih tentunya adalah berhenti dan memulai sesuatu hal lain yang baru, yang lebih punya potensi yang lebih baik.

    Banyak orang bilang kalau berhenti artinya kalah. Berhenti artinya gak berani berjuang. Tapi gak selamanya berhenti berarti kalah atau gak berani. Misalnya: banyak orang yang memilih lanjut berada di posisi yang monoton, stuck, tidak membuat berkembang ke arah yang lebih baik hanya karena itulah zona nyaman mereka. Jadi untuk berhenti di zona nyaman itu juga memerlukan keberanian. Kalau gak berani, pasti akan terus-menerus berada di zona nyaman itu tanpa tau ada potensi yang lebih baik yang ada di luar sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Developer-nya sama mba, sama-sama dari KING 😁

      Banyak game yang sebenarnya related to kehidupan nyata, hihi dan salah satunya game Bubble Witch Saga ini di mana saya jadi belajar soal berhenti ataupun terus mencoba 🀣 biar lebih mudah menganalogikan, that's why pakai game yang pasti dimainkan oleh kebanyakan orang πŸ™ˆ

      Setuju sama mba Roem, nggak selamanya berhenti itu nggak berani berjuang ~ bisa jadi memang itu pilihan yang paling tepat untuk dirinya terlepas ketika kita nggak tau pertimbangan sebenarnya apa 😁 dari sini, saya pun jadi belajar untuk memahami bahwa setiap dari kita, ketika mengambil keputusan pun pasti sudah dipikirkan dengan masak, jadi bukan tugas kita untuk judge apakah seseorang tersebut nggak berani, kalah, menyerah, dan lain sebagainya 😍

      Semoga kita selalu menemukan potensi terbaik di diri kita ya, mba πŸ’ƒ

      Delete
    2. hahahaha pokoknya cara mainnya sama, ngabis-ngabisin bolanya hahahaha.
      Duh kangen main game, tapi saya kalau udah main, sulit stop hahaha

      Delete
    3. Sama mba, saya sekalinya main pasti susah stop. Jadinya saya cuma mau main saat menunggu pesawat atau di dalam pesawat saja. Agar bisa stop saat waktu boarding atau waktu landing πŸ˜‚

      Delete
  18. Kok sama sih mbak. Makin berumur rasanya makin gak mau ngoyo. Rasanya mau dipikir santai aja. Berhasil ya bagus, gak juga gak papa. Toh gw udah berusaha. Dan rasanya itu lebih realistis. Akhirnya gw pun mengambil kesimpulan yang sama:

    GW UDAH TUA...

    Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, memang sebaiknya jangan terlalu ngoyo tapi juga jangan terlalu santai 🀣 tetap usaha tapi dilihat-lihat juga mana yang perlu diusahakan dan mana yang nggak πŸ™ˆ ehehehehe. No worries, mas Riza belum tuakkk hanya sudah dewasa πŸ€—

      Delete
  19. Tau ga sih mba, ini kayak refleksi dari aku banget :D. Aku decide utk quit dr kerjaan awal may kemarin. Dr perusahaan asing yg udh ngebesarin aku 13 THN, yg udh ngebiasain semua perjalanan traveling dr gaji yg aku dpt, tp aku putusin utk berhenti skr.

    Krn perusahaan trus berubah mengikuti arus, ada bbrp job desk yg mereka harus ubah juga related Ama kerjaan team ku. Dan itu jujurnya ga sesuai Ama skill dan basic yg aku punya.

    Ada yg bilang, kita hrs kluar dr comfort done. Ntr keenakan yg ada skill ga berkembang. Bener sih. G ada yg salah Ama pendapat itu..

    Tp di satu sisi, aku juga harus tau kapan waktunya berhenti Krn sadar bidang itu ga sesuai. Dan kalo aku paksain utk coba trus2an, bukannya berhasil malah makin terpuruk. Untuk apaa?? Buang2 waktu ..

    Aku LBH bgs quit skr, di mana produktifitas ku msh bisa jalan, dan aku ngerjain something yg sesuai Ama skillku. Hasilnya bakal bagus.

    Kalo dipaksain ngerjain hal yg kita tau ga sesuai bidang, ga sesuai passion,tp ttp maksa hanya Krn ga pengen kehilangan benefit dr kantor ato income, bukannya itu ga adil ya buat diri kita sendiri, tp juga utk perusahaan yg harus menggaji staff yg kerjanya 'ga becus' kasarnya :p. Dan aku happy setelah kluar gini. Ga stress Ama target yg ga cocok, dan aku LBH fokus ngerjain kerjaan yg sesuai hobiku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, challenge itu boleh diambil kalau kita memang punya skill yang berhubungan dengan challenge tersebut (namun bisa jadi kita belum tau, atau sudah tau hanya saja belum terasah), dan kalau kita memang mau dan berusaha passionate dengan challenge tersebut. Means di sini, bukan ikuti passionate tapi lebih ke berusaha passionate (dari yang tadinya nggak, menjadi iya) πŸ˜†

      Jadi kalau sudah merasa nggak cocok, berat, di luar kemampuan, eventhough people said harus ke luar zona nyaman dan harus asah terus kemampuan, better jangan dipaksakan 😁 karena dikawatirkan bisa merugikan perusahaan ke depannya ~ apalagi kalau perusahaan sudah ekspektasi banyak. Hehehe. Quit atau berhenti nggak selamanya menyerah, karena bisa jadi dengan mba quit seperti sekarang, mba jadi bisa mengambil langkah yang lebih baik lagi untuk hidup mba ke depan 😍

      Semangat terus mba πŸ’ƒπŸ’•

      Delete
  20. Sayang waktu yang terbuang, wah ini sih. Lihat waktu sebagai nilai yang berharga sepertinya masuk di proses menuju kedewasaan. Saya belakangan ini merenung buat menyortir apa yang perlu diperjuangkan dan apa yang perlu disudahi *ea mellow duh tapi. Kalo enggak bisa ya jangan dipaksa memang benar adanya :) let's move on and find another gems in life

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap mba, semakin saya dewasa, semakin saya sadar, yang paling berharga itu waktu bahkan jauh di atas uang πŸ™ˆ ketika kita masih bisa cari uang, tapi waktu kalau sudah berlalu akan sangat sulit dikembalikan πŸ™„

      Dan permasalahannya, justru yang paling berharga inilah yang sering kita take for granted karena merasa hari esok akan selalu ada πŸ™ˆ that's why, saya sekarang berusaha untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, especially untuk diri sendiri dan orang-orang yang saya sayang 😍 semangat terus mba, semoga mba Galih juga bisa menemukan beautiful gem in your life, ya πŸ’•

      Delete
  21. Mba Eno, ini hampir mirip postingan Mba yang 'istirahat' itu ya. Saya masih inget. Kalau yang ini quit.

    Saya merasakan banget, Mba, saat harus berani ambil keputusan yaitu pas resign dan memutuskan lebih banyak di rumah. Maksudnya mengurangi interaksi dengan ibu2 IRT yang kurang perlu. Sumpah, saya sadar kalau julid ama tetangga apa enaknya? Pelan2 saya berubah. Dari yang jarang keluar sampai nggak keluar. Bahkan saya sering ditanya dengan perubahan sikap saya. Akhirnya saya tahu kalau mereka bikin grup yang nggak ada saya-nya, hahahaa. Saya bodo amat.

    Pelan2 saya merubah hidup saya dan alhamdulillah cuek dengan urusan orang lain tapi tidak untuk urusan sosial atau kumpul2. Semua ada porsinya. Saya hepi dengan pilihan hidup saya. Saya juga pernah dinyinyirin ketika memutuskan food combining. Alhamdulillah, Tuhan memberikan hasil yang baik kepada saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya saat muda, kita suka sekali berkumpul karena rasanya kita takut kalau ketinggalan atau nggak dianggap. Tapi berjalan dengan waktu, kita jadi belajar untuk, it's okay apabila nggak tau apa-apa, nggak dianggap dan sebagainya yang penting hidup kita nyaman, dan jauh dari negative vibe di sekitar kita 😁 karena itu akan menghabiskan energi kita ~ ehehehe.

      Betul mba, saya rasa keputusan mba Pipit sudah tepat. Ikut perkumpulan sosial, saling membantu dan berkumpul selama itu bisa memberikan manfaat 😍 semangat ya mba, jalani pilihan hidup mba demi mba dan keluarga ~ karena itu yang utama ehehe. Saya belajar soal ini karena di Korea apalagi yang tinggal di apartment itu betul-betul individualis, tapi bukan berarti nggak punya teman. Mostly mereka keep their circle close ke teman yang memang sudah kenal dari lama 😬 dan menurut saya, it's not bad.

      Delete