Necessary For Living | CREAMENO

Pages

Necessary For Living


Barusan gue bongkar laci-laci meja kerja, dan gue tersadar kalau gue punya banyak buku gambar yang belum pernah gue gunakan ðŸĪŠ✌ padahal terakhir kali gue belanja perintilan sudah beberapa tahun silam, tapi kenapa masih banyak buku yang bersisa *haiyaaahhh!* gagal sudah rencana belanja buku unyu di E-COMMERCE 😂 mau cari alasan juga nggak akan bisa, karena buku yang bersisa masih lima. Jadi harus dihabiskan dulu sebelum berencana beli buku baru dan akhirnya gue pun menutup laci meja dengan sendu ðŸĨī

Di satu sisi, gue suka hidup minimalis karena rumah gue jadi nggak penuh barang, meski kalau bicara soal perintilan akan lain cerita 🙈 tapi seenggaknya compare to beberapa tahun silam, barang di rumah gue sudah banyak yang di-giveaway-kan pada kerabat ~ cumaaaa... masalahnya terkadang hasrat ingin belanja itu datang ketika gue nggak butuh apa-apa. Alhasil gue jadi sering buka e-commerce such as TOKOPEDIA atau G-MARKET untuk menambah wishlist yang entah kapan bisa gue check out dan bayar ðŸĪĢ hahaha. Pusiaaang awak!

---

Gue bereskan buku-buku di atas meja, beserta kertas-kertas yang berserakan, lalu beberapa tumpuk kertas terjatuh dan gue temukan secarik kertas dengan tulisan tangan dia (yang gue nggak ingat kapan dia menuliskannya) 😆 disitu tertulis, NECESSARY FOR LIVING (hal-hal yang diperlukan untuk hidup) dan isinya adalah fresh air (udara yang segar), delicious food (makanan yang enak), safety house (rumah yang aman) dan YOU (alias gueh) hahahahahahaha ðŸĪŠ


And guess what, gue merasa tertampar karena hal yang diperlukan untuk hidup gue kalau dituliskan bisa berlembar-lembar sedangkan dia hanya menuliskan 4 hal 🙈 sungguh duniawi sekali jalan hidup sayah rupanya ðŸ˜Đ🙏 gue pun jadi bertanya-tanya, hal-hal apa yang gue butuhkan dalam hidup? Kenapa dia sangat simple sedangkan gue sangat ribet dan banyak maunya? 🙄🙄 dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menghantui pikiran uwe beberapa menit ke belakang.

Sambil merenung, gue lihat semua barang yang ada di rumah, dan hampir 98%-nya adalah pilihan gue dan belanjaan gue sedangkan 2% adalah kesepakatan kami berdua, yang artinya, dia memang nggak butuh apa-apa ðŸĪĢ dan itu membuat gue jadi merasa bersalah karena belanjanya kurang banyak karena terlalu impulsif padahal yang dibeli kebanyakan perintilan alias bukan necessary things means bukan sesuatu yang betul-betul dibutuhkan 🙈 hihihihi.

Kemudian gue jadi ingat perdebatan gue sama dia dulu ketika gue masih hobi belanja dekorasi rumah ðŸĪŠðŸ˜ dia bilang kalau perintilan yang gue beli itu menurut dia nggak ada gunanya, jadi setiap kali gue tanya, "Ini bagus nggak?" dia akan jawab, "I don't know. For me, it's nothing." WOOOOH! KZL gue dengarnya. Padahal buat gue, perintilan tersebut berfungsi menambah mood gue agar betah di rumah ðŸĪŽ

Dan dengan santainya dia bilang, "Jangan sandarkan mood lu pada sebuah barang. Buat gue, mood gue selalu baik karena ada elu dan itu lebih dari cukup. Tapi buat elu, gue itu nggak cukup, makanya lu masih butuh ini itu buat menambah mood lu biar betah. Jadi jangan marah kalau gue bilang barang-barang itu nothing, karena memang nothing. Dan buat gue, yang terpenting di hidup gue itu ada lu, dan harusnya lu pun bisa bahagia meski tanpa barang-barang itu." 😑

Hmmmm, walau menyakitkan (makanya sempat membuat gue kesal dan mendebat dia 😆 demi meng-cover rasa bersalah gue yang hobi belanja), however gue akhirnya sadar, kalau selama ini, gue memang secara nggak langsung mencari kebahagiaan dari sebuah barang ðŸĪĢ padahal bisa jadi bahagia yang gue rasakan sebenarnya hanya sesaat seperti saat scroll E-COMMERCE, atau saat menunggu barang datang, terus ketika barangnya datang justru nggak digunakan 🙈✌ begitu saja terus sampai air hujan dari tanah naik ke awan ðŸĨī

Dan gue pun belajar, untuk nggak lagi menggantungkan kebahagiaan gue pada barang karena sudah ada manusia yang bisa disayang-sayang dan membahagiakan gue setiap saat ðŸĪŠ that's why, ketika gue sadar kalau buku gue masih ada lima, instead of mengikuti hasrat untuk beli buku baru, better gue pakai dulu buku yang ada, atau gue berikan ke yang butuh biar cepat habis jadi gue punya alasan untuk beli buku baru yang gue suka *EAAA!* ðŸĪĢ hahahahahaha.

Eniho, apa necessary for living versi teman-teman? 😁

42 comments:

  1. So sweet banget sih yang dibutuhkannya 4 hal itu aja, huhu :'D Setelah move out dari rumah ortu aku belajar buat minimalis. Bukan berarti ngecut kebutuhanku, tapi hanya beli/simpan yang aku butuh dan bikin aku happy aja. Untuk kemudahan diri juga sih. Gak numpuk debu, gak susah beres-beres :D Kalau versi aku mungkin: keluarga, tempat tinggal dan makan enak, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi thanks mba Indi 😁✌

      Sama mba, saya juga belajar hidup minimalis beberapa tahun ke belakang 😂 alasannya macam-macam, yang paling pertama karena saya jarang ada di rumah alias lebih sering menclok sana sini untuk kerja dan saya tau kalau saya nggak butuh banyak barang kecuali yang ada di cabin luggage saja 🙈

      Dan yang ke dua, karena saya sadar banyak barang berakhir teronggok nggak digunakan padahal kalau dirupiahkan angkanya lumayan ðŸ˜ĩ dari situ saya coba rem dan kontrol diri saya, cuma saya kadang masih suka khilaf kalau lihat yang lucuk-lucuk hahaha ðŸĪŠ that's why, untuk menyuapi rasa itu, saya sering kasih love love ke barang yang lucuk biar masuk keranjang wishlist tapi habis itu saya tutup biar nggak usah dibayar 😂 hihi dan ini lumayan ampuh membuat saya jadi nggak kalap seperti sebelumnya 😆✌

      Semangat untuk kita mba, belajar lebih minimalis untuk kehidupan yang lebih sehat 😍 eniho, memang sepertinya keluarga (pasangan - ortu), tempat tinggal, makanan dan udara itu basic necessary yang selalu kita butuhkan 🙈

      Delete
  2. Heemmm..mungkin disitu bedanya cewek dan cowok mbak. Hari ini saya , yayang, dan si kribo ke Giant..mo beli bahan makanan.

    Yayang berhenti di bagian piring, ada yg membuatnya tertarik. Dia nanya ke aku.. jawabanku, ntar bingung nyari tempat nyimpennya.. 😁😁😁😁

    Soalnya di rumah piring sudah ada byk. Padahal sebentar lagi si kribo akan masuk asrama krn kuliah tahun pertama wajib. Artinya kebutuhan akan piring, gelas akan berkurang.

    Sekarang saja sudah berlebih, kalau ditambah lagi ..entahlah apa namanya.

    Saya perhatikan kebiasaan cewek kerap membeli sesuatu bukan karena butuu, tapi krn suka dan tertarik.

    Sedangkan saya, jarang beli kecuali kalau memang butuh.

    Untung akhirnya dia ga jadi beli..kalo jadi puyeng pala saya nyari tempat kosong.

    Saya sendiri sejak wfh gemar "membuang" barang yg ga perlu krn kebutuhan saya ga banyak.

    Pada dasarnya memang untuk hidup itu ga perlu banyak..Makan secukupnay, rumah secukupnya, baju secukupnya, dan tentunya, org yg kita sayang. Alasan yang sama juga saya pakai menolak keinginan yayang supaya rumah dijadikan dua lantai..toh kita ga butuh banyak tempat sebenarnya.

    Tapi, saya kadang ngalah sih sama yayang krn saya paham perbedaan pola pandang. Cewek menikmati proses berbelanja , cowok tidak..biasanya begitu (ga semua)

    Untungnya sejak sering dicekoki pola pandang saya si Yayang berubah lumayan jauh..Dia sudah biasa berhenti "membeli" walau kadang masih "tergoda" tapi seringnya akhirnya ia memutuskan tidak membeli.

    Apa yg ditulis yayangmu benar banget. Manusia ga butuh banyak tuk bisa hidup bahagia.

    Cuma kadang ego, keinginan dipandang, keserakahan kita yg membuat kita selalu merasa kurang

    😇😇😇😇😇😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihihihihi jadi malu saya 🙈ðŸĪĢ

      Iya saya juga heran kenapa saya suka koleksi piring seperti yayangnya mas Anton 😆 padahal yang makan bukan se-RT tapi koleksi piringnya bisa untuk makan satu RT ðŸĪ§ apalagi piring sekarang banyak yang lucuk mas desainnya hahaha. Ini nih penyakit saya, lihat yang lucuk doang langsung ingin belanja padahal dipakai juga nggak 🙈 dan setuju sama mas Anton, saya pun beli barang mostly karena suka dan tertarik, while butuh ada di nomor urut ke sekian ðŸĪŠ makanya berusaha menahan itu butuh bertahun tahun untuk akhirnya bisa sedikit terbiasa 😂

      Yayangnya mas Anton pasti bersyukur karena mas Anton mengalah 😆 sama seperti si kesayangan yang kadang mengalah dan membiarkan karena tau kadang saya belanja ikut mood saya dan demi mood saya. Tapi gara-gara dibiarkan dan diperbolehkan itulah saya jadi pelan-pelan tau mana prioritas dan memang butuh dan mana yang nggak 😂 biasa kalau belanja langsung, saya pegang-pegang dulu, habis itu saya taruh lagi, sedangkan kalau belanja di internet, seperti saran dia, di love love dulu, nanti kalau seminggu lagi masih mau beli baru beli. Karena bisa jadi setelah seminggu, hasrat mau belinya sudah hilang dan nggak ingin lagi ðŸĪĢ

      Eniwei, terima kasih mas Anton insightnya 😍🙌

      Delete
  3. Kapan-kapan dipajang hasil gambarnya mba, biar kami-kami para komentator ini bisa menikmati galeri gambarnya mba eno sesekali (karena saya terus terngiang-ngiang dengan gambar di postingan "my regret" nya mba eno kemaren) ðŸĪ­ jangan biarkan itu menjadi sebuah image yang mewakili blog ini mba ðŸĪĢ

    Kalo soal necessary living, buat saya 3 hal itu juga termasuk, rumah yang nyaman, fresh air atau alam terbuka, walo gak selalu delicious food (karena suka kebablasan dan lupa diri kalo nemu makanan enak)😂

    Selain itu, saya juga butuh dua hal penting lainnya, something to read and someone to talk. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha ayo lupakan mba 😂

      Gambar saya nggak kalah jeleknya dengan gambar dia, makanya nggak saya pajang ðŸĪĢðŸĪĢ kasihan nanti mata teman-teman pada rusak lihat gambar kami berdua ðŸĪŠ by the way kenapa delicious food itu necessary buat dia karena di dalam kamus dia, makanan itu cuma enak mba 😂 mau keasinan, kemanisan, tetap dianggap enak ðŸĪĢ

      Wah setuju sama mba, Someone to talk dan something to read itu juga important 😍 makanya saya suka banget nowadays buka blog biar bisa baca tulisan manteman tersayanggg ðŸĪ—

      Delete
    2. em.. satu lagi mba eno, something to do 😂😁

      Delete
    3. Iya juga ya mba, nggak kebayang kalau nggak ada something to do 🙈

      Delete
  4. hahah.Saya penasaran nih , kira - kira sosok yang dikasih nama " dia " , itu , mana foto-nya yah... ? :) Bijaksana juga si lelaki itu.

    Namun, kalau menurut saya, ketika belanja itu menjadi sebuah penghilang stres, yah belanja saja, ntar...kalau ngak dipakai atau tidak berguna, Tinggal Kirim saja Ke alamat saya. #hahaha........





    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bijak hanya sesekali, childishnya lebih banyak mas 😂✌ ehehehe. Memang for some people, belanja itu bisa jadi ajang penghilang stres mas. Tapi sekarang harus ditahan-tahan karena tau itu cuma lapar mata ðŸĪĢ

      Dan harus berpikir berulang-ulang sebelum memutuskan, biar nggak mubazir jatuhnya 😁 cuma yaitu, di perjalanan kadang khilaf eheheheheheheeheh ðŸĪĢ

      Delete
  5. saya termasuk manusia yang simple juga,, tapi when it comes to books,, ini masih ada belasan buku bacaan yg belum dibaca tapi hasrat membeli buku2 baru juga sangat menggebu wkwk.. entahlah..

    tapi secara umum,, aku ngga butuh printilan2 juga sih,, beda lagi dengan istriku yg seperti wanita pada umumnya huahaha..'

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku itu memang parahhh racunnya, mas ðŸĪĢ

      Kalau saya diajak ke toko buku, pasti selalu pulangnya bawa minimal satu buku, padahal yang di rumah juga belum semua tamat dibaca ðŸĪŠ tapi entah kenapa, saya selalu merasa nggak akan rugi beli buku meski bacanya entar-entaran. Padahal kalau kata dia, "Nggak akan rugi juga kalau belinya entar saat ingin baca." 😂

      Huahahaha, saya jadi mau toss sama pasangan mas Bara ðŸĪĢ

      Delete
  6. Eno, I can relate. Saya dulu malah suka ngumpulin barang dan kadang lupa memanfaatkan barangnya. Alasannya mungkin karena belum bisa bedakan "need" dan 'want". Jadinya, suka ngumpulin barang-barang yang sebenarnya tak terlalu saya butuhkan.

    Hidup saya jadi lebih teratur setelah menikah. Istri saya banyak membantu membereskan barang dan mulai menenerapkan aturan yang kita sepakati bersama, misalnya: kalau beli 1 baju baru, maka 1 baju lama dalam lemari harus diberikan kepada orang lain. Biar lemari pakaian tidak sesak.

    Saya rasa kita semua sedang belajar membedakan mana yang "need" dan mana yang "want". Kalau kata Trinity "Kalau lu nunggu barangnya diskon dulu baru dibeli, itu keinginan bukan kebutuhan" hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Cipu, sepertinya setiap dari kita akan melewati proses ini 🙈 proses untuk memahami dan membedakan antara keinginan dan kebutuhan 😄 termasuk saya yang kadang masih bingung sebenarnya saya lagi ingin atau lagi butuh terhadap sesuatu yang saya lihat. Mana kebanyakan berhubungan sama barang pula 😂

      Dan sepertinya orang-orang seperti saya dan mas Cipu yang suka mengumpulkan barang tanpa lihat manfaatnya butuh pasangan yang bisa mengerem sifat impulsif kita 😂 ehehehe. Untung sekarang saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Minimal sudah bisa pijak rem saat lihat yang lucuk-lucuk dan memilih untuk cukup melihat tanpa harus membelinya 🙈

      Delete
  7. Kok manusia lelaki itu pada dasarnya punya pemikiran yang sama yaa dibandingkan dengan kita perempuan yang pemikirannya kompleks alias RIBET 🙈😆

    Tapi aku setuju lho, kenapa ya terkadang aku masih harus menggantungkan kebahagiaanku di hal-hal materi. Kadang aku masih define my happiness based on things I DON'T have. Misalnya, aku kepingin makan sesuatu yang nggak ada di rumah, dan pengen banget delivery. Di pikiranku, "I'll be happy soon IF I eat this!" Atau misalkan juga waktu aku ingin barang-barang tertentu seperti pajangan rumah (kayak Mba Eno 🙈) atau buku.

    Karena lagi mempelajari gaya hidup minimalis, salah satu poin penting adalah mengubah mindset minimalis berarti hidup CUKUP dan mindful (sadar diri). Waaaah susah banget ternyata proses mengubah pola pikir ini, nggak dalam sehari atau sebulan, kalo nggak diusahakan pasti balik lagi deh kebiasaan lamanya 😅

    List sederhana di atas mengingatkan aku juga tentang prioritas hidup ini apa aja dan kayaknya I want to make a list juga deh hahahaha Makaaasih yaa Mr. Moonlight! Dirimu misterius di sini tapi kalo udah bicara rasanya 'tertampar' juga 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sepertinya laki-laki lebih bisa berpikir simple while kita lebih ribet ðŸĪĢ kadang yang sebenarnya hanya ingin, jadi dianggap butuh dengan alasan-alasan tertentu 😂 *curcol*

      Dan itu juga yang saya pertanyakan mba, kenapa saya kadang menggantungkan kebahagiaan saya ke barang 🙈 kalau makanan untungnya masih nggak apa-apa karena pasti dimakan. Tapi kalau barang itu kadang ujungnya jadi teronggok di gudang 🙄 makanya waktu saya bersih-bersih dan memutuskan hidup minimalis, saya diminta dia bukan hanya bersih-bersih dan buang, tapi bersih-bersih, CATAT PERKIRAAN HARGA, dan buang 😂

      Dari situ saya jadi sadar kalau yang saya buang, harganya lumayan terus ke depannya diharapkan bisa berpikir soal uang yang sudah dibuang ketika ingin beli barang, dan lumayan ampuh membuat saya berhenti sampai ditahap lihat-lihat saja meski kadang khilaf tapi nggak separah dulu yang khilaf-nya setiap saat ðŸĪĢ

      Ehehehe, kita sama-sama semangat yuk mba, semoga kita bisa hidup dengan rasa cukup dan mindful 🙈 berproses pelan-pelan, seenggaknya meski belum bisa berubah total, tapi sudah ada proses yang terlihat 😍

      Selamat membuat list, mba 💃

      Delete
    2. akhirnya bisa main ke blog ini dengan proper :D dan nemu post yang asik buat dikomen hihihihi. Duh iya ya, cewek2 emang hobinya bikin ribet situasi. meskipun mr moonlight ngga bilang dia penganut minimalis, kebutuhan hidup dan prioritasnya sungguh minimalist sejati. ku jadi tergugah huhahaha. tapi tetep aja ngga bisa milih hal esensial sepenting masnya itu. (aka masih tetep mikir aku perlu junk food dan skincare).

      soalnya, kalo mikir "saya harus hidup minimalis!" jadinya malah terjebak di pola konsumer sok-minimalis lagi, alias: "harus beli rak baru, biar lebih simpel" atau "ganti wadahnya, ganti pajangannya dengan yang lebih simpel"

      hahaha itu saya. mau minimalis malah ngasih alasan baru buat belanja. *makanya dikeplak kan*

      kemarin baru aja saya ditegur juga soal kebiasaan belanja barang-barang kecil yang murah, tapi tanpa terasa jadi bertumpuk. Makanya, sekarang lagi berusaha supaya nggak gampang belanja-belanja lagi, meskipun alasannya "mempermudah hidup/bikin senang". pada akhirnya, menggantungkan kesenangan pada barang konsumtif cuma bikin kita nyari yang baru dan yang baru lagi.

      tapi tetep: saya mau ganti laptop ah kalau tabungannya sudah cukup... ((trus dikeplak lagi sama suami))

      Delete
    3. Mba Mega apa kabar?
      Semoga sehat-sehat di sana 😍

      Dia sebenarnya bukan penganut minimalis mba, baca buku minimalis pun nggak 😂 memang anaknya nggak mau ribet saja sepertinya jadi kalau bisa hidup pakai satu backpack doang mungkin akan dia lakukan. Untung dia nggak seekstrim itu hahahahaha ðŸĪĢ

      By the way, necessary for living buat setiap orang pastinya beda-beda dan versi minimalis setiap dari kita pun pasti berbeda juga. So no worries mba 🙈 saya pun kalau disuruh list pasti butuh beberapa lembar ahahahaha. Apalagi soal makanan (sama seperti mba, itu juga essential untuk saya) 😂

      By the way, mba Mega nih seperti saya deh, kalau mau rubah gaya hidup minimalis yang dipikir langsung mau berubah barang juga ðŸĪĢ jadi cari-cari alasan lagi buat belanja hahaha karena tbh itu yang saya alami saat awal-awal ingin berubah. Yang kepikiran ujung-ujungnya tetap saja persoalan belanja barang (nggak ada bedanya jadinya, hanya konsep desain rumah yang jadi beda) 😂

      Kita semua memang butuh trial error untuk akhirnya sampai pada satu titik mengenal lebih jelas kebutuhan kita apa 🙈 dan kita semua berproses meski kecil dan nggak terlihat. So semangat untuk kita 😍🙌 semoga kebutuhan mba akan laptop segera terpenuhi ya (berhubung itu butuh, pasti nggak akan dikeplak) ðŸĪĢ

      Delete
  8. Wah simple banget pasangannya mbak Eno ya Necessary for living nya hanya ada 4 salah satunya ada mbak Eno.. Ooh So Sweet.. hehehe..
    Necessary for living bagi saya :
    Kesehatan , Makan ,Istirahat ,Berusaha berpikir positif meski kadang sulit , Refreshing jalan-jalan biar nggak boring .
    Menjaga silaturahmi teeus agar hidup kita lebih berarti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesehatan memang sangat penting ya, mba 😁 dan refreshing sesekali serta berpikiran positif meski sedang dalam keadaan sulit juga sama pentingnya 😄 selama dilakukan sesuai dengan kapasitas dan ketika pada akhirnya nggak kuat untuk tetap positif, well sesekali menangis pun juga nggak masalah 🙈

      Terima kasih sudah berbagi versi mba Cherry 😍

      Delete
  9. Mbaa Enooo itu catatatnnya so sweet banget 😍😍 and you. Azeeekk 😂

    Memang kadang kita membeli barang karena pengen ya, bukan karena butuh. Aku baru aja baca buku Goodbye Things, Hidup Minimalis Ala Orang Jepang. Itu aku berasa ditampar bolak balik pas baca karena betapa selama ini kita memang menggantungkan kebahagiaan kepada barang. Tapi tapi, mau menyingkirkan barang pun aku blm sanggup maksimal 😅 Mana aku hobi nya sama kayak Mba Eno, bolak balik buks Tokped. Hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. AZEEEKKK ðŸĪĢðŸĪĢ sudah lama nggak dengar kata ini, mba 😂

      Saya kadang begitu mba, beli karena ingin, padahal butuh sih nggak, bahkan seringnya dicari-cari alasan butuhnya 🙈 ehehehe. Iya saya sudah baca review mba soal buku Goodbye Things, kebetulan buku itu juga yang saya baca ketika awal-awal ingin coba belajar hidup yang lebih minimalis alias nggak merasa ketergantungan sama barang 😂

      Fyi, menurut saya minimalis versi kita jangan disamakan dengan Sasaki, mba. Kan gaya hidup plus kebutuhannya berbeda. Jadi disesuaikan saja ~ meski mungkin terlihat nggak maksimal, bisa jadi itu adalah yang terbaik untuk versi hidup mba 😍 yang penting kita berproses setiap harinya heheheh. Semangat mba, dan mari rajin buka Tokped tapi nggak usah bayar *alias lihat-lihat saja* ðŸĪĢ

      Delete
  10. Mbak Eno sama kesayangannya kayak keping-keping yang saling melengkapi. Saya lihat bukan pertengkaran sih itu, tapi dialog. Dari dua sudut pandang itu bakal lahir satu perspektif baru.

    Saya juga tipikal yang suka menyimpang barang-barang sentimentil. Sebagian besar memorabilia, pengingat kejadian-kejadian berkesan. Kayaknya nanti bakal ditaruh di satu pojok, dalam wadah kedap udara, supaya bisa terus bertahan, untuk dilihat lagi nanti-nanti.

    Dan untuk pertanyaan di akhir postingan, yang cukup penting buat saya kayaknya ruang untuk berpikir dan mengolahnya. Maka saya perlu seseorang untuk berdiskusi. Supaya dapat sudut pandang yang lebih banyak, sesekali saya perlu bertemu teman-teman untuk ngobrol ngalor-ngidul. :) Lainnya paling yang penting-penting saja. Perlu asupan makanan untuk hidup, pakaian untuk menahan dingin, dan atap untuk berlindung dari hujan dan sinar matahari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus saya jadi mengira-ngira perspektif baru apa yang muncul setelah dialog tersebut? 😂 lupa saya mas, sepertinya saya berubah sedikit sudut pandangnya jadi nggak begitu tergantung sama barang. Mungkin kalau tadinya bergantung 100% sekarang jadi 50% 🙈ðŸĪĢ

      Sekarang yang saya tetap keep kebanyakan surat-surat, postcard postcard, dan foto polaroid saya bersama si kesayangan serta beberapa perintilan travelling saja. Sisanya sudah nggak saya keep dan berusaha menahan diri untuk nggak beli juga, meski lucuk-lucuk salah satunya seperti buku yang saya ceritakan di atas 😂

      Ehehehehe, sandang pangan dan papan memang necessary banget yah. Pantas disebut kebutuhan primer 😍 plus pasangan serta teman-teman yang memang asik untuk diajak berdiskusi dan tukar pikiran. Oh, dan blog juga necessary for living dalam hidup saya sekarang ðŸĪĢ

      Delete
  11. suami mbak Eno so sweet banget, karena benda benda yang penting buat dia itu cuma udara yang segar, makanan yang enak, rumah yang aman dan mbak Eno.

    Kalo aku dan istriku malah agak kebalik, saya hobi belanja sedangkan istri saya malah ngirit. Biasanya belanja di shopee kan ada voucher gratis ongkir yang bikin penginnya belanja terus. Padahal kalo dipikir-pikir yang aku belanjakan tidak terlalu penting.😂

    Kalo istri paling belinya yang penting penting saja, beda sama saya, tapi sekarang saya sudah mulai ngirit sih, ngga ada duit soalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiih mas Agus sama seperti saya dong 😂

      Mentang-mentang ada gratis ongkir jadi impulsif, padahal barangnya tetap dibayar meski ongkirnya gratis ðŸĪĢ hahahaha. memang itu promo gratis ongkir kadang buat orang kalap ~ makanya saya tetap buka e-commerce tapi seringnya cuma love-love saja. Minimal keinginan untuk window shoppingnya sudah terpenuhi, nanti kalau seminggu lagi tetap ingin beli baru dipertimbangkan kembali hahahaahaha.

      Ayo kita semangat berhemat~!

      Delete
    2. Kalo saya mah berhemat gampang, kalo ngga duit otomatis ngga belanja biarpun ngiler lihat barangnya mbak.

      Untung duit dipegang istri, coba kalo dipegang saya, bisa tekor, besar pasak daripada tiang.😂

      Delete
    3. Waahaha, mas Agus jangan tunggu nggak ada duit baru berhemat, saat banyak duit juga harus berhemat kitanya 😂 thanks to mba Sari ya mas, keuangan rumah tangga dalam keadaan aman nggak besar pasak daripada tiang ðŸĪĢ

      Delete
  12. Saya juga kalau ditanya apa necessary for living, mungkin list jawaban saya tak banyak, tapi sifatnya makro.

    Seperti misalnya rumah yang nyaman, karena saya tipikal orang rumahan, hehe. Tapi kenyamanan rumahnya seperti apa, tentu butuh beberapa hal kecil lainnya yang tak saya pikirkan detailnya. Itu lebih karena saya malas memilih dan memilah serta berbelanja, sekalipun itu cuma belanja online yang cuma butuh keliling mal di layar ponsel.

    Jadi biarlah istri saja yang melakukannya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumah yang nyaman memang penting banget mas 😍 cuma definisi nyaman setiap dari kita itu yang berujung kadang membeli sesuatu un-necessary hahahaha contohnya saya ini dulu demi bisa punya rumah nyaman, jadi hobi perintilan 😂 rumah nyamannya sih betul necessary, nah perintilannya itu yang nggak ada pentingnya sama sekali ðŸĪŠ

      Memang paling enak menyerahkan sesuatu pada yang lebih bisa mengatur seperti pasangan mas Agung 🙈 saya juga kadang kalau sedang nggak mau memilih (takut kalap dipilih semua), lebih baik meminta si kesayangan memilihkan 😁

      Delete
  13. Nih contoh gue, lelaki idaman emak-emak. Duit gw abis-nya buat beli emas batangan, tanam saham di mana-mana, buka deposito banyak-banyak. Begitu devidennya cair....




    MARI KITA HURA-HURA !!!!!




    Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, hura-huranya hanya pakai deviden saja kan? Nggak semua uang? 😂 bicara soal deviden, IHSG lagi naik naiknya, lumayan banget persentage-nya 😆 setelah sekian bulan suffering hahaha, apakah ini saatnya hura-hura? *lalu ditimpuk bantal sama si kesayangan*

      Delete
  14. hahaha idenya goodddd, good dalam artian buku yang sisa tadi dihibahkan ke yang membutuhkan atau yang mau, dan jadi punya alasan buat scroll ecommerce lagi. kalo ini aku juga kadang mikir gitu mbaknya hehe
    misal ; hasil beli onlen, padahal blum kepake lamaaa banget di lemari, tapi mau disumbang masih sayang, tapi udah bikin lemari sesek, tapi tangan gatel juga mo nambah lagi tumpukan bajunya.

    necessary for living aku kayaknya blum kutemukan apa yang bener bener special banget buat diriku, apa mungkin aku masih ababil barangkali hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia, perasaan gatal mau beli itu yang sebenarnya harus ditahan hahahaha excitednya memang cuma diproses membeli sepertinya 😂 kalau barang datang pun kata si kesayangan paling cuma dipakai sekali terus masuk gudang ðŸĪŠ coba deh mba sering love love wishlist tapi nggak usah dibayar, itu lumayan banget buat dapat perasaan excited, tapi uang tetap aman ðŸĪĢ

      It's okay mba, nanti pasti ketemu 😍💕

      Delete
  15. Ya ampuuunnn, so sweet banget sih!
    Sumpah ya, jadi pengen ketemu ibunya kesayangannya Eno itu, kalian memang pasangan sejati yang cucok banget berjodoh.

    Saya penasaran, bagaimana para ibu-ibu mengasuh anak-anak yang punya pemikiran seperti kalian.
    Maksudnya, jarang loh ada laki-laki yang cuman butuh item seperti itu buat menikmati hidup.

    Makanan enak, rumah yang aman, udara yang segar dan belahan jiwanya.

    Kebanyakan laki-laki, setidaknya yang saya tahu, mereka butuh yang namanya sesuatu yang membanggakan, seperti mobil, kendaraan atau apapun.

    Itulah yang bikin para suami berubah seiring waktu pernikahan.
    Padahal ya, sebenarnya nggak ada yang benar-benar kurang dari hidupnya.
    Masih bisa bernapas lega, masih bisa makan meski nggak tiap hari mewah, bisa berlindung dari panas dan hujan dan aman.
    Punya pasangan yang setia.

    Keceh banget sih ada lelaki yang pandai bersyukur dan tahu tujuan hidup.
    Lelaki idaman banget tuh say.

    Alangkah bahagianya kita, jika memang hidup dengan goal yang nggak aneh-aneh, selanjutnya kita bisa menikmati waktu bersama pasangan.
    Who knows kan ya batas usia kita.

    Jangan sampai kita selalu nggak puas dengan kehidupan, selalu menghabiskan waktu mengejar impian yang katanya buat harga diri, mobil dan semacamnya itu.
    Tahu-tahu udah sekarat, sementara kita baru sadar, kalau kita nyaris tidak punya waktu bersama keluarga :(

    Btw, ngomongin buku saya sedih, saya jarang beli buku btw, biasanya buat anak-anak aja.
    Tapi bukan berarti saya nggak punya buku baru.
    Saya sering dapat buku dari teman-teman, dan belum semua kebaca hahahahaha
    Jadi malu deh :D

    Kudu melawan kemalasan nih, beberapa hari ini padahal saya ada waktu senggang (karena saya tepar) tepar dibilang senggang hahaha.

    Dan bukannya bobok, saya malah tiduran sambil nonton film pula, ckckckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Rey bisa saja 😂 saya rasa cara ibu membesarkan dia akan nggak jauh beda dari cara mba Rey membesarkan anak-anak 😍 pastinya sama-sama menggunakan cara terbaik untuk masa depan anak 🙈💕 jujur saya paling nggak bisa komentar banyak kalau soal membesarkan anak, karena saya juga nggak tau mba 😆

      Tapi yang saya tau, boys will be boys, means hampir semua laki-laki kalau urusan keinginan untuk memiliki kendaraan, jabatan, dan lain sebagainya sebagian besar sama 🙈 cuma yang membedakan hanya skala prioritasnya saja ~ ada yang memang memprioritaskan kendaraan atau hobi lainnya, ada yang memprioritaskan pekerjaan, dan ada juga yang memprioritaskan keluarga 😁 CMIIW ya, mbaa.

      Dan memang paling bahagia kalau punya pasangan goalnya nggak aneh-aneh, hihi saya syukuri itu dan saya anggap sebagai berkah 🙈 seperti kata mba Rey, yang terpenting bisa menikmati hidup bersama hingga maut datang ðŸĪ—💕 semoga kita pun bisa jadi pasangan yang demikian ya mba, yang goalnya sederhana saja (meski agak susah 😆) dan yang bisa saling mendampingi dan menjadi teman hidup saat susah dan senang, sakit dan sehat 😍

      Nah itu dia mba, kalau buku bacaan kan enak masih bisa dibaca saat senggang. Permasalahannya, yang mau saya beli lagi itu buku jurnal hahaha yang lucuk-lucuk itu lho mba 🙈 makanya saya berusaha keras untuk kontrol diri saya, karena sudah kebanyakan buku lucuk di laci meja kerja yang bahkan belum saya gunakan ðŸ˜ĩ hahaha.

      Semangat untuk kita mba, it's okay untuk malas-malasan sesekali asal nggak kelamaan. Namapun manusia, kadang kita merasa lelah dan butuh istirahat tanpa beban pikiran ðŸĪ­ take your time mba, selamat bersantai ria 💃

      Delete
  16. Mbak Eno sorry nih tapi pas baca bagian debat soal perabotan aku ngebayangin ortu aku pas belanja di depo atau milih-milih furniture atau perintilan buat rumah 😂 yes beli buku-buku lucu itu kenapa susah banget ya buat ditahan mbak? 😔 Iya nih saya jadi mikir lagi pas baca apa kesenangan kita itu dateng cuma pas bayar - paket dikemas - paket dikirim - nyampe - unboxing aja? Kaya yes akhirnya bisa dibawa pulang juga nih idaman kita udahnya ya b aja :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perdebatan soal perabotan sepertinya memang nggak memandang usia ðŸĪĢ hihihi ~ itu dia mba, saya juga penasaran, kenapa susah sekali menahan diri untuk nggak beli yang lucu-lucuan 🙈

      Tapi memang sepertinya, setelah saya ubah cara saya, memang bisa dibilang, kesenangan saya itu sebatas pilah-pilih barang dan taruh di keranjang saja 😂 setelah barangnya datang, nggak terlalu merasa bagaimana-bagaimana, bahkan lebih sering barangnya jadi B saja ðŸĪŠ

      Delete
  17. ya ampun, saya jadi baper dan senyum2 lho. berasa lagi baca novel 😁😂 apalagi pas bagian and you..
    kapan ya digituin.

    kalau saya juga suka beli barang2 nggak guna banget, semacam buku juga, pensil warna,bolpen, dan benda2 lain yang sebenarnya di rumah ada banyak. tapi saya belinyaa lebih suka langsung ke tokonya daripada online.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Novel apa tuh mba? Bukan novel horor kan? 😂

      Sama mba, dulu saya suka banget beli perintilan seperti buku, pensil warna, bolpoin dan sejenisnya ðŸĪŠ susah banget kalau sudah lihat stationery tuuuh, sering kalap 🙈

      Delete
  18. Ya ampun, diriku tertampar baca ini. Plaaakkk.

    Hasrat belanja saya sudah berkurang tapi untuk tas, saya masih nggak bisa. Bukan tas branded yang mehong. Tapi tas2 etnik asli Indonesia. Aduh tas2 itu ya selalu bikin saya pengen beli.

    Mba, karakter orang luar memang seperti itu ya. Ngomong tanpa tedeng aling2, harus ada logikanya, tapi mereka bener.

    Saya juga pernah ketemu orang yang omongannya kalau dipikir, emang bener sih. Lugas banget sampai saya bengong dan nggak bisa balas. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba koleksi tas Etnik Indonesia? 😍

      Saya ada satu tas etnik lokal yang saya sukaaa banget brandnya dan produknya memang bagussss ~ nggak heran kalau mba Pipit suka hunting karena memang tas etnik lokal bagus-bagus kualitasnya 🙈

      Iya mba, banyak yang karakternya asal jeplak ðŸĪĢ tapi di Indonesia pun sebenarnya banyak yang bicaranya lugas dan penuh logika ðŸĪ­ hihihi. Saya pun kadang kalau logikanya nggak masuk ke saya diawal pasti bengong dan diam seribu bahasa sambil berpikir, "Tul ugha, ya." 😂

      Delete