Put Some Efforts | CREAMENO

Pages

Put Some Efforts




Ada yang email gue setelah membaca post berjudul Ups and Downs dan bertanya soal bagaimana gue pertama kali berurusan sama orang tua dia 😂 lalu gue bingung bagaimana menceritakannya 🤣 jujur gaes, dari awal gue mengambil keputusan untuk bersama dia, gue tau konsekuensi yang sekiranya mungkin akan gue hadapi ke depan, termasuk apabila ternyata orang tua dia nggak menerima gue karena gue bukan darah Korean, ditambah embel-embel ternyata gue orang Asia Tenggara (ingin rasanya berteriak kalau, gue orang Indonesia, wooooooooooyyyy!) hahahaha KZL 🤪

Tapi karena gue muka badak untuk urusan tertentu (dan malu-malu untuk urusan lainnya), jadilah gue nekat mendekati orang tua dia dengan harapan diterima 😂 ini terjadi duluuu banget sebelum gue sama dia berlanjut pada jenjang berikutnya. Dan yang gue lakukan pertama kali adalah mengirimkan mereka bunga 🤣 tanpa banyak cing cong gue tulis surat yang berisi kalau gue berterima kasih kepada mereka karena telah membesarkan dia hingga menjadi pria baik dan bijaksana, dan memperkenalkan diri gue sebagai seseorang yang akan mengisi hidup anaknya puluhan tahun ke depan 🙈

Respon mereka? SHOCK 🤪 karena tiba-tiba ada yang kirim bunga plus surat ~ padahal anaknya sendiri nggak pernah cerita ke orang tuanya kalau sudah memiliki tambatan jiwa 😂 dan orang tuanya pun bertanya ke si kesayangan, yang akhirnya dijelaskan kalau gue ini foreigner dari Indonesia, dan dia memilih gue karena bla bla bla. Terus nggak lama kemudian, gue mengirimkan pesan pada Omoni (mom) berisi perkenalan formal sambil bertanya, "Omoni lagi apa?" 🤣 nggak lupa pakai emote 💕💕💕💕 yang banyak hahahaha.

Tujuan gue adalah ingin akrab sama Omoni karena Omoni anaknya dua laki semua, jadi nggak punya teman buat yalan-yalan, mana Aboji (dad) pendiam banget pula, alhasil gue bilang ke Omoni kalau nanti semisal ada waktu, "Ayo kita yalan-yalan dan makan enak." 😂 yang tentu disambut dengan hangat. Dan semenjak itu, Omoni nggak pernah bosan mengirimkan gue pesan padahal awalnya gue kira gue akan di-reject karena gue mungkin bukan apa yang Omoni harapkan. Dan ternyata, nggak pernah ada sedikit pun penolakan darinya 🙈

However, nggak ada penolakan bukan berarti nggak cemburu, apalagi anaknya kelihatan bucin banget sama gue, hahahaha. Pernah suatu hari dia lagi di rumah Omoni, terus malam-malam video call sewaktu gue di Indonesia, dan saat itu kami sedang membahas soal rencana yalan-yalan kami ke suatu negara yang akan dilakukan esok harinya. Nggak lama kemudian, Omoni muncul terlihat menepuk punggung dia sambil berkata, "Lu besok ketemu masih juga telponan malam-malam. Lu harusnya luangkan waktu buat emak lu juga." 🤣

Ada lagi cerita saat gue sama dia sedang menghabiskan weekend di Disneyland, waktu itu kebetulan bertepatan dengan hari orang tua di Korea, tapi dia justru pergi ke Hong Kong buat berlibur sama gue, dan membuat Omoni cemburu buta 🤪😂 cemburunya bagaimana? Omoni nggak mau angkat telepon waktu gue sama dia mau ucapkan selamat hari orang tua. Omoni berpikir kami lupa kalau ada hari orang tua. Padahal waktu di Hong Kong, gue sama dia sudah siapkan hadiah untuk diberikan pada Omoni sesampainya di Korea. Untung setelah dijelaskan kalau kami nggak lupa, Omoni langsung terlihat gembira 😂 lucu bangetttt pokoknya hahahaha.

That's why gue selalu clingy ke Omoni biar Omoni nggak merasa kalau gue mengambil anaknya, dan gue ingin Omoni tau instead of anaknya hilang satu, sebenarnya anaknya jadi tambah satu 😝✌ yang mana kenyataan itu bisa diterima oleh Omoni sekarang dengan suka cita 🤣 well, bisa dibilang, gue termasuk beruntung memang, karena orang tua dia dari awal bisa menerima gue apa adanya dengan latar belakang gue sebagai foreigner dan nggak pernah menuntut gue untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Yang penting sehat dan bahagia, itu sudah lebih daripada cukup katanya 😬

---

Meanwhile, ada satu teman bertanya, bagaimana gue membawa diri masuk ke dalam lingkungan yang sangat berbeda dari lingkungan gue sebelumnya. Di sini gue mau berbagi pengalaman gue ketika gue bilang kalau gue bersedia menjalani hidup sama dia ~ pertama gue jelaskan sama dia kalau gue punya value dan prinsip yang gue pegang. Salah satunya adalah pekerjaan dan cita-cita, yang mana apabila dia serius sama gue, dia harus mendukung gue sepenuhnya. Dukungan seperti apa? Dukungan seperti mengijinkan gue untuk jauh dari dia sementara waktu ketika gue abroad. Means, gue nggak bisa 24 jam ada di sisi dia, mengurus dia, dan lain sebagainya.

Kemudian gue tekankan pada dia bahwa gue sangat sayang sama keluarga gue, dan mencintai gue artinya mencintai keluarga gue juga. Dan gue bilang bahwa gue dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tua gue, dan gue sangat berharga untuk mereka, jadi dia harus bisa memperlakukan gue setara dengan apa yang gue dapatkan dari ke dua orang tua selama puluhan tahun lamanya. Apabila dia menyanggupi, maka akan gue pertimbangkan 😂 bukan apa-apa, gue nggak mau berpegangan pada harapan kosong, dan gue harus tau apa yang gue hadapi di 'lapangan' ketika memutuskan untuk menjalani hidup bersama dia yang berbeda segala sesuatunya.

Bahkan urusan keuangan, sampai urusan remeh temeh lainnya juga gue bahas 🤣 karena gue tau, gue akan hidup sama dia selamanya, jadi gue nggak bisa asal-asalan. Apalagi dia yang akan gue lihat terus-terusan pagi siang malam 🤪✌ dari jaman masih ganteng sampai keriputan. Saat sakit maupun sehat. Susah maupun senang. Secara gue beli baju saja bisa berputar satu mall dulu sebelum akhirnya memutuskan, masa pilih pasangan nggak dipikirkan dengan matang 😬 and frankly speaking, waktu dia lihat bagaimana gue cuap-cuap, dia cuma bisa mangap sambil berpikir keras 😂

Yeah, gue melakukan itu karena gue tau value diri gue, plus yang gue sama dia cari itu partner hidup selamanya kalau bisa sampai akhir hayat, yang artinya disaat orang lain bisa datang dan pergi seenaknya, gue dan dia harus stick to each other dan nggak bisa saling meninggalkan. That's why, gue mau serius membahas semua kemungkinan yang ada sebelum akhirnya gue bilang 'yes' ke dia 😁

Meski gue sebenarnya tau dari awal kalau dia ini sangat cinta dan mau melakukan apapun, still gue harus mempertimbangkan dulu baik buruknya. Jadi gue nggak asal terima hanya karena dia berlabel 'Korea' (seperti harapan kebanyakan anak muda di luar sana untuk punya pasangan Korea berdasarkan film atau drama semata), dan label 'Korea' itu nggak bisa menentukan sejauh mana kualitas dia. Iya gaes, ini realita kehidupan yang tentunya nggak seindah drama 🤣

---

So within this post, gue mau membahas lebih detail lagi untuk banyak teman yang jauh lebih muda dari gue, yang membaca tulisan-tulisan gue, dan beberapa bahkan kirim email untuk gue, kalau gue sangat sangat sangat menyarankan teman-teman (adik-adik) agar nggak asal jatuh cinta pada seseorang apalagi yang belum melihat wujud aslinya alias ketemu di sosial media (mostly yang gue tau, kebanyakan yang bertanya sama gue itu cari Oppa dari sosial media). Karena faktanya, Korea nggak beda dari negara lainnya di luar sana, akan selalu ada yang baik dan ada yang buruk juga ~ so please jangan tutup mata. Jangan sampai hanya karena seseorang punya label Korea, terus langsung iya iya setiap kali diajak sesuatu tanpa pikir panjang.

Kenapa gue bilang begini? Karena gue kaget dengan fenomena di luar sana, ketika semakin banyak anak muda, usia remaja atau 20-an yang gelap mata pada apapun yang memiliki kaitan dengan Korea. Menganggap kalau Korea bak negeri dongeng yang isinya pangeran tampan nan baik hati semua. Padahal kenyataannya, sama seperti negara lainnya, akan selalu ada sisi kelam pada sebuah negara, dan sudah seyogyanya kita melihat dengan pikiran terbuka 😄 contoh, beberapa waktu lalu ada seorang cewek (gue lupa negara mana) yang ternyata menerima diajak ena-ena sama cowok Korea, setelah itu si cowok jarang kontak dan si cewek murka. Lalu minta si cowok bertanggung jawab karena sudah ena-ena sama dia 😔

Yang begini ini yang gue harapkan nggak terjadi pada generasi muda, apalagi yang terlalu cinta sama Oppa. Gue berharap setiap generasi muda punya value dan prinsip yang dipegang, jadi nggak gampang goyah. Know your worth. Sehingga nggak mudah memberi sesuatu kepada seseorang yang belum tentu menganggap you guys berharga ~ di Korea itu seks bebas adalah hal lumrah, difasilitasi pula. Banyak motel bertebaran, dan ada saja yang hobi ke sana. Bahkan pihak motel memberikan kondom serta perlengkapan lainnya. Jadi, belum tentu seseorang yang mengajak you guys ena-ena artinya cinta, bisa jadi hanya bagian dari kegiatan one night stand untuk mereka.

Makanya, sebelum jatuh cinta, check dulu apakah jatuh cintanya pada orang yang tepat? Yang nggak berniat merusak masa depan? Dan betulan interest sama you guys apa nggak? 😁 check pergaulannya, bagaimana sikapnya, bagaimana hubungannya dengan ke dua orang tuanya, dan bagaimana juga pendidikan serta karirnya. Gue nggak bilang semua cowok Korea nakal, tapi bukan berarti semua baik dan sempurna, karena kenyataannya ada yang nakal, dan itu banyak 🤪 apalagi sekarang, banyak dari mereka sadar kalau mereka 'famous' karena memiliki label 'Korea' yang membuat beberapa dari mereka menggunakan label tersebut untuk sesuatu yang nggak benar.

Nevertheless, jangan sampai karena cinta jadi buta, nggak dilihat pula bibit bebet bobotnya 😅 alhasil jauh-jauh pergi ke Korea, berharap hidup seperti drama, tapi jatuhnya justru sengsara dan ini banyak kejadian bukan sesuatu hal yang mengada-ada. Makanya gue selalu bilang sama siapapun yang bertanya soal bagaimana cara punya pasangan Korea, akan selalu gue jawab, "Kamu punya value apa?" dan hal ini juga yang berusaha dibagikan oleh kenalan gue kepada anak muda di luar sana (siapapun, bukan hanya yang ingin Oppa, tapi juga yang ingin Mister, Abang, Akang, Mba, Eonni, etc.) agar nggak asal cinta sampai nggak bisa bedakan mana hayalan dan realita.

Like seriously, kita berhak untuk mendapatkan pasangan terbaik, tapi bermimpi memiliki pasangan terbaik tanpa menjadi yang terbaik itu mustahil bin mustahal 😄 dan sebenarnya, pertanyaan mengenai value ini berlaku bagi siapapun yang ingin mencari pasangan terbaik dari negara manapun, mau sesama Indonesia, beda negara, beda suku, beda kota, agar berusaha menjadi yang terbaik untuk calon pasangan kelak. Pada intinya, jangan lupa kalau you guys berharga, dan berhak mendapatkan seseorang yang mengerti, memahami, menghormati dan menghargai value yang you guys punya 😄👌

---

Gue sadar betul ketika gue mengambil keputusan untuk menjalani hidup sama dia, maka akan ada hal-hal nggak menyenangkan yang akan gue hadapi di tengah jalan. Jadi sebelum gue ambil keputusan, gue siapkan dulu amunisi lengkap untuk menghadapi hal-hal yang nggak menyenangkan. Gue naikkan value gue, gue posisikan diri gue sebagaimana gue ingin dianggap, dan bersikap sebagaimana gue ingin mereka bersikap. Susah? Jangan ditanya. Buat gue, cinta itu nggak bisa 100% jadi landasan. Karena kita harus berlogika, plus punya sesuatu sebagai pegangan dan tentunya untuk dibanggakan.

Ha? Dibanggakan? Iya. Keras, kan? 😂 jika kita berharap bisa masuk ke level atas, kita harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan oleh kita dan pasangan kita. Apalagi kalau kita nggak cantik apabila di-compare sama cewek-cewek Korea, otomatis kita harus punya hal lain yang bisa jadi pertimbangan. Apa? OTAK. Yes, kepintaran, kecerdasan, itu hal mutlak yang harus kita punya. Jangan kaget kalau anak-anak lulusan SNU maupun universitas ternama di Korea selalu dielukan, dan jangan kaget kalau orang tua berlomba kirim anak mereka ke universitas terbaik di Korea, karena dengan 'otak', mereka sudah selevel di atas rata-rata masyarakat pada umumnya.

Mungkin kalau ada yang pernah menonton drama Sky Castle akan bisa membayangkan sengitnya persaingan di Korea 😂 bahkan dari kecil anak-anakpun sudah dididik untuk bersaing dan menjadi yang terdepan. Gue sampai terkadang lelah sama persaingan yang ada, karena nggak akan ada habisnya 🤪 Tapi mau berusaha peaceful juga nggak bisa, apalagi gue orang luar. Lha yang lokal Korean saja saling bersaing dalam diam, kalau gue nggak melakukan apa-apa, mungkin gue akan terlindas dan dianggap nggak punya 'worth' oleh mereka ditambah sudah ada label 'Asia Tenggara' di jidat gue yang mungkin menjadi alasan gue 'dibedakan' (again! Capek betul rasanya) 🤪

That's why, gue selalu upgrade diri gue, bukan cuma untuk feed their competition, tapi deep down inside, gue ingin menambah kualitas yang gue punya 😁 So gaes, jangan berpikir, di Korea itu enak seperti di drama, karena aslinya nggak seindah yang you guys bayangkan 🙈 dan itu juga alasan gue sering kali balik Indonesia atau pergi abroad untuk urus pekerjaan dan bisnis gue, karena gue ingin memberikan rasa peaceful ke otak gue yang penuh dengan persaingan selagi ada di Korea 😂 walau sebenarnya, kalau mau hidup stay low bisa, tapi gue tau pasangan gue punya nama baik yang perlu gue jaga, dan gue nggak bisa menolak untuk nggak ketemu circle dia. Jadi gue harus 'ke luar' dan be the best version of myself agar bisa setara 🤣

---

By the way, di Korea itu meski kita nggak kenal satu sama lain, kita bisa lho dilihat dan diperhatikan oleh orang lain ~ contoh, pergi ke cafe, pasti ada minimal satu orang yang memperhatikan kita, apalagi kalau kita wegukin alias foreigner. Disitu kadang sebagian dari kita akan merasa nggak nyaman, makanya gue yang sebenarnya timid ini pun berusaha keras untuk nggak merasa pressure dengan tatapan orang 🤪✌ gue sampai mendoktrin otak gue kalau gue cantik, dan nggak ada yang salah sama penampilan gue karena gue tau yang mereka perhatikan dari gue itu pasti wajah dan penampilan gue 🙈

Even teman baik gue (yang memang mampu) koleksi barang branded (especially sepatu dan tas) alasannya agar nggak dipandang sebelah mata oleh orang Korea karena buat mereka, punya barang branded itu artinya punya 'kelas' 😂 dan itu fakta. Hampir semua anak muda Korea paham luxury brand macam Gucci, Supreme, Chanel, Fendi, LV, Balenciaga dan lain sebagainya. Jadi kalau kita pakai tas branded, mereka akan menganggap kita karena itu artinya kita punya uang, punya jabatan / pekerjaan jelas, dan tentunya punya 'kelas' 🙈 terus bagaimana kalau yang nggak mampu? Lelah sumpah 🤪

Beberapa yang nggak mampu beli akan kepikiran. Ada bahkan yang rela cuma makan ramyeon setiap hari yang penting bisa punya Gucci Bag, dan persaingan ini bukan hanya antar local dan foreigner, tapi antar local dan local pun sama saja 😅 padahal kalau dipikir-pikir itu merupakan barang tersier, tapi faktanya banyak yang rela merogoh kocek sampai dalam-dalam dan minus demi punya 'kelas' agar nggak diremehkan orang. Karena ketika mereka diremehkan, mereka akan merasa nggak berharga, nggak ada guna, dan perasaan buruk lain yang kadang membuat mereka mengambil keputusan ekstrim dan berakhir menyakiti hati orang-orang yang ditinggalkan.

---

Terus kalau diam apa bisa? Bisa. Tapi nanti pergaulannya hanya stuck di Indonesian circle saja, dan susah blend sama Korean circle yang artinya tetap dianggap berbeda dari mereka, dan honestly buat yang ingin menghabiskan hidupnya di Korea bersama keluarga tercinta, akan susah kalau terus dianggap berbeda. Rasanya meski di luar terlihat PD tapi di dalam bisa jadi stres berkepanjangan. Karena kelak anak-anak akan sekolah di sekolah yang isinya anak-anak Korea, kalau ibunya nggak bisa blend dengan Korean mom lainnya, pasti secara nggak langsung akan kasih pressure ke anak-anaknya.

Dan bukan rahasia umum lagi kalau ada banyak mixed blood yang kena bully semasa sekolah di Korea hanya karena berbeda. Buat mereka, konsep percampuran budaya itu masih sangat susah untuk diterima dan meski generasi milenials mulai menerima perbedaan, kenyataannya masih banyak yang menutup mata dan memandang foreigners sebelah mata 😅 that's why, buat anak-anak mixed blood disediakan sekolah internasional agar bisa berbaur dengan sesama mixed, tapi harganya jelas nggak murah. Jadi nggak semua orang bisa afford untuk menyekolahkan anak mereka di sana.

---

Sekarang nggak kaget kan kalau gue selalu bertanya, 'Value yang kamu punya apa?" karena value itu yang bisa kita pegang ketika kita diterpa ujian. Sejauh mana batasan yang kita punya, dan sebanyak apa amunisi yang kita persiapkan. Jangan sampai memilih pasangan hanya berdasarkan impian dan cita-cita semata 😄 ditambah lagi kalau ternyata pasangan yang dipilih foreigner dalam hal ini Korea (gue nggak tau kalau negara lainnya), tapi di Korea, salah satu visa yang paling sering digunakan oleh married couple itu F6, dan apabila bercerai, maka visa tersebut akan dicabut yang artinya harus pulang ke Indonesia, lalu bagi yang punya anak terpaksa berpisah. Iya kalau bapaknya membebaskan anak untuk ikut ibunya, karena dibanyak kasus, ada juga yang ditahan di Korea. Apa siap?

Makanya, banyak yang mencari visa F2 / F5 agar apabila bercerai, tetap bisa stay di Korea dan mengurus anak-anak. Tapi visa tersebut hanya bisa didapat kalau punya karir bagus dan poin penilaian yang cukup. Permasalahannya, nggak semua foreigners punya karir bagus, dan seharusnya hal itu juga dipelajari oleh adik-adik yang bermimpi memiliki pasangan Korea, agar nggak hanya yang indah-indah saja yang dibayangkan tapi bagian pahit-pahitnya juga 😁

Andaikata pun belum punya value apa-apa, dan belum tau sejauh apa bisa melangkah, mungkin bisa dimulai dengan meng-upgrade diri dengan banyak belajar, membaca, cari informasi, sekolah yang tinggi, dan membentuk circle pertemanan positif serta punya pegangan masa depan yang baik. Teman gue bahkan sampai berkampanye ke adik-adik yang sering bertanya soal mimpi indah Korea untuk ambil kuliah master di Korea agar bisa melihat secara langsung mengenai realita kehidupan di Korea. Dan yang sekarang masih sekolah SMP / SMA / kuliah S1, better fokus studi, upgrade kualitas diri sampai pada level tertentu baru berpikir untuk jenjang yang lebih tinggi 😉

Ps: tulisan ini berdasarkan pengalaman gue pribadi dan berdasarkan apa yang gue lihat dan alami sejauh ini. Jadi jangan dibandingkan dengan pengalaman orang lain 😬✌ gue tau di luar sana banyak juga yang membagi informasi mengenai perbedaan Indonesia dan Korea dari sudut pandang mereka masing-masing tentunya 😁 dan setiap dari kita punya pressure masing-masing pula. Jadi gue harap, teman-teman (adik-adik) bisa mengolah informasi ini sesuai dengan porsinya. For the last, ambil baiknya dan buang buruknya.

Terima kasih banyak sudah membaca 😍

36 comments:

  1. Waah baru tahu kalo awal-awal tuh ternyata kayak gitu. Hihihi perjuangan merebut hati omoni seru juga ya. Apa nggak deg2an itu pas nanya "omoni lagi apa?" :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seingat saya nggak begitu deg-degan 😂 antara yakin kalau Omoni pasti respon, dan berusaha percaya saja pasti dibalas 🤣

      Delete
  2. Ini harus banget dibaca sama adek-adek nih. Kebanyakan adek-adek zaman sekarang kan suka banget sama yang berbau Korea.🤭

    Walaupun suka banget sama semua hal yang berbau Korea, tapi untuk urusan pasangan hidup ya, bener kata Mbak Eno, harus dipikirkan matang-matang. Jangan asal itu oppa-oppa Korea yang deketin langsung iya-iya aja. Orang tua kita kan pernah mengajarkan kita cari pasangan dengan melihat bibit, bebet, bobot. Itu bukan cuma diterapkan buat yang cari pasangan sesama orang lokal aja, tapi semuanya. Entah pengen cari yang mas-mas, aa'-aa', oppa-oppa, mister-mister, dan lain sebagainya. Dan aku juga setuju banget, sebelum memikirkan tentang pasangan hidup sebaiknya tingkatkan value diri dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Roem, semoga dibaca sampai selesai sama adik-adik agar tau pahit manisnya sebelum betul-betul mengambil keputusan 😁 karena ketika dijalani, akan jauh berbeda sama apa yang ada di drama ~ apalagi yang berniat ikut pasangan pindah ke Korea, pertimbangannya harus lebih banyak, jangan sampai nantinya justru menderita 💕

      Menurut saya orang tua bicara soal bibit, bebet, bobot itu bukan cuma asal bicara. Pasti ada makna jelas di dalamnya especially karena mereka sudah mengalaminya duluan 😁 cuma berharap bibit, bebet, bobot seseorang tanpa efforts untuk memiliki bibit, bebet, bobot yang sama akan sulit, karena semacam pucuk merindukan bulan 🙈 that's why, ketika berharap ingin seseorang yang sesuai dengan kriteria kita, kitanya dulu yang harus masuk ke dalam kriteria yang kita buat. Itu yang mau saya tekankan kepada adik-adik yang masih punya kesempatan untuk memilih pasangan. Agar bisa punya value, prinsip dan kualitas agar bisa mendapatkan pasangan yang sepadan 😄

      Terima kasih sudah membaca tulisan saya, mba 😍

      Delete
  3. Wah ini postingan yang sangat menarik. Keren Eno bisa merangkum semua kekhawatiran Eno di sini. Saya setuju, untuk bisa dapat pangeran/putri impian, seseorang harus tahu dulu, value nya seperti apa sih biar bisa dapat pangeran/putri.

    Ini postingannya menohok banget, Eno. Tapi reality bites ya, Korea tak selalu seindah K-Drama. I hope this one is read by many Indonesian youngsters out there, kalau mau dapat Oppa/Eonni Korea, then upgrade yourselves. Heeheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Cipu, ibaratnya kita harus kenal diri kita sendiri dulu secara matang sebelum akhirnya memilih seseorang untuk mengerti kita seumur hidup kita. Adik-adik itu beruntung karena masih punya kesempatan untuk memilih, means mereka masih punya kesempatan untuk upgrade diri agar mendapatkan pasangan terbaik dan setara dengan mereka 😁💕

      Sayangnya, banyak yang lupa kalau value dan prinsip itu adalah salah satu pegangan agar bisa mengambil keputusan apapun di masa depan ~ dan pada kenyataannya, Korea itu nggak seindah drama. Ada banyak pahitnya juga dan nggak selalu berakhir dengan happy ending bagi semua. So, harapan saya agar semua mau upgrade diri pelan-pelan, bukan hanya untuk mendapatkan pasangan yang sepadan, tapi juga untuk personal dirinya. Agar kelak tetap bisa berdiri di atas kaki sendiri dan mengambil keputusan yang tepat apabila terjadi sesuatu yang di luar rencana 😬

      Ps: upgrade diri bukan hanya for the sake of Oppa / Eonni, mister, abang, uda, dan lain sebagainya, tapi jujur, menurut saya, dengan kualitas diri kita yang baik, maka kita akan mendapatkan pasangan yang terbaik. Seenggaknya, mengecilkan kemungkinan kalau pasangan yang didapat akan menghancurkan kita di kemudian hari. Itu yang saya pelajari dari baca buku, mengobrol dengan orang yang sudah lebih dulu berpengalaman, dan teman-teman lain. CMIIW 😍

      Delete
    2. Well said and spot on, Eno.... Yang kayak gini memang yang perlu dibaca sebelum memutuskan menikah/memiliki hubungan antar bangsa.

      Delete
    3. Terima kasih mas Cipu apresiasinya 🙈

      Delete
  4. Abis sahur, ada bacaan bergizi 😍

    Hm, saya seperti flash back baca blog nikah campur yg saya ikuti. Duluuuu, mereka juga gini, mba. Nulis nasihat kayak gini karena ada banyak bgt yang jadi 'bule hunter' bahkan ada yg ngejelasin kalo mereka nggak bisa nerima stranger yang mau numpang nginep meski sesama Indo.😁

    Bener banget, value diri sangat penting meski mau nikah dengan pasangan yg satu negara sekalipun. Biar kita dipandang lebih oleh keluarga si pacar. Meski akhirnya saya jadi IRT toh suami nggak masalah, dia oke2 aja. Malah ibu saya yg masalah. Halah curhat.🙈

    Waktu saya tanya teman yg suaminya orang Jepang, krn saya dekat jadi saya berani nanya soal keuangan. Suami mereka ketat ngatur keuangan. Orjep kan sangat perhitungan, hehe.
    Makanya banyak dari mereka yg kerja setelah anak2 bisa ditinggal (biasanya pas anak udah SD). Selain untuk aktualisasi diri tentunya.

    Dan untuk masuk ke kehidupan sosial di sana juga pe er banget. Ternyata sama. Di mana2 orang suka gosip. Mamak Jepang apalagi. Menjadi ibu di sana baik lokal maupun foreigner harus jadi garda terdepan anak2 di sekolah. Jadi petugas ini itu, nyiapin bento, printilan sekolah, dll.

    Makanya kalau memutuskan nikah sama orang asing harus benar2 siap mental. Saya yang hanya melihat sekelumit kehidupan mereka aja geleng2. Kagum dan salut.

    Meski saya nggak nikah sama orang asing, ketika hidup di luar, harus strong dan mandiri. Serius. Apalagi di luar bawa nama negara yang bakal mudah diingat orang krn kita berbeda.

    Maaf, Mba Eno, saya curhat lagi di sini. Sekian dan terima kimchi.#eh😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha, saya juga nggak pernah accept orang menginap di kediaman saya meski sesama Indo / Korea, karena kediaman saya itu area privacy saya. Kalau hanya berkunjung sejam dua jam it's okay, tapi kalau sampai menginap, means melihat saya dalam pakaian untuk istirahat, atau dalam keadaan sedang istirahat itu yang kurang nyaman 🙈

      Entah kenapa dari dulu saya nggak terbiasa soal kultur inap menginap, kecuali ke rumah nenek, dan ke rumah om tante. Bahkan ke rumah sepupu saja nggak enak, karena sepupu kan umurnya agak dekat sama kita, jadi pasti nggak nyaman. Itu pun terakhir kali inap menginap puluhan tahun silam, saat masih ikut mudik sama orang tua. Nowadays, kalau mudik prefer di hotel biar lebih nyaman bagi satu sama lainnya 😆

      Setuju sama mba, dengan kita punya value dan prinsip, kita jadi tau bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan. Dan jadi tau bagaimana menghadapi orang-orang yang akan bersisian sama kita di hari kemudian, termasuk orang tua dan keluarga pasangan 😬 plus ketika kita punya masalah, kita juga nggak gampang goyah, karena kita tau value kita apa ~ ini menurut saya penting, jadi kita bisa terus berpikir rasional dan nggak gampang keikut sana sini (oleh keadaan) 😄

      Di Korea juga banyak yang kerja lagi mba setelah anaknya bisa ditinggal ~ dan tujuannya bermacam-macam, just like Kim Ji Young, ada banyak Kim Ji Young di Korea yang ingin kembali pada dunia yang sempat mereka jalani sebelumnya. Makanya orang Korea sangat berpikir keras sebelum punya anak, dan birth rate-nya sangat rendah karena mereka tau, anak itu tanggung jawab besar puluhan tahun lamanya. Jadi mereka yang nggak siap memilih nggak punya anak, bukan karena mereka egois, tapi karena mereka juga memikirkan masa depan si anak 😁 ketika mereka memutuskan punya, mereka akan makesure anak tersebut menjadi yang terbaik. Tapi kalau mereka not sure yet, mereka akan pilih untuk nggak punya dulu (itu yang banyak Korean partners saya dan si kesayangan bilang) 😬

      Kalau kita jaman sekolah sepertinya orang kita dan orang tua teman kita kan jarang ketemu ya mba. Jadi pressure-nya nggak terlalu besar bagi orang tua. Tapi kalau di Korea, dan mungkin juga Jepang, orang tua anak-anak itu bakal sering ketemu sampai anak-anaknya minimal lulus SMA. Seenggaknya akan ada banyak komite dan pertemuan ini itu, dan mereka saling memperhatikan satu sama lainnya meski dalam diam. Jadi yang berkompetisi bukan cuma anaknya, tapi orang tuanya juga 😅

      Kalau orang tuanya sibuk atau agak melonggarkan anaknya dalam segi pendidikan, pasti dikira anaknya nggak diurus ~ while kalau terlalu ketat mengurus juga kasian anaknya jadi tertekan. Pokoknya maju kena mundur kena. Betul-betul harus tau banget value dan prinsip apa yang dipegang agar nggak jadi berantakan. Apalagi kalau sekolahnya di sekolah ternama yang kesemuanya ingin menjadi yang pertama 😄 bisa-bisa menjadi yang ke dua itu adalah kesalahan besar. Padahal di mata kita, ke dua itu juga baik tapi nggak buat mereka.

      Hehehe, dan betul soal mandiri dan kuat, apalagi kalau ikut ke negara pasangan, means jauh dari orang tua, keluarga, dan kalau ada apa-apa, cuma bisa berpegang pada diri kita. Kalau kita nggak punya pegangan (value dan prinsip), bagaimana bisa survive di sana? 😬 itu sih yang paling saya ingin tekankan ke adik-adik yang membaca dan masih punya kesempatan untuk upgrade, agar mendapatkan pasangan yang setara 💕 karena dengan memiliki pasangan berkualitas, kemungkin untuk dihancurkan akan lebih kecil (meski faktanya tetap ada, tapi jauh lebih kecil karena sama-sama mumpuni) 😆

      CMIIW mba and thanks for reading 🙈💕

      Delete
    2. Mbaaaa uh lala sama banget prinsip dan kesungkanan kita terhadap acara inap-menginap. Akupun demikian. Rasanya aku klo nginap tuh banyakan sungkannya, lebih pewe pesen penginapan deh, daripada takut ngrepotin aku klo urusan inap menginap xixiixixix

      Delete
    3. Sama mba, sungkan banget mau melakukan sesuatu di rumah orang tuh meski keluarga sendiri 🙈 misal mau ke kamar mandi, atau mau tidur, atau mau apa pokoknya entah kenapa sungkan 😁

      Misal sudah mengantuk tapi keluarga si empunya rumah masih di depan TV, jadi sungkan mau pamit tidur dan ended up ikutan menonton TV meski mata sudah lelah 🤣 makanya lebih nyaman ke penginapan saja 😬

      Delete
    4. boleh ikutan nggak di sini, masalah inap menginap, jadi pengen curcooollll...

      Saya dulu waktu kuliah jadi medok karena saya gabung ama orang Jawa, nggak kumpul dengan orang Sulawesi.

      Bukannya gimana-gimana, saya lelah dengan inap menginap ituh huhuhu.

      Setelah lulus, pernah teman saya datang ke Surabaya, dia nginap di kos temannya, kos itu memang isinya orang SUlawesi semua.

      Saya juga diajak ke sana dan ternganga, nggak kebayang saya kalau ikut ngekos di sana.
      Kapan belajarnya coba, tuh kosan udah kayak tempat persinggahan orang Sulawesi.

      Iya sih kita saling bersatu di daerah orang, tapi bukan berarti kita juga nggak bisa punya privacy kan yeee..

      So saya senang memutuskan cari kos yang dekat kampus dan isinya Jowo semua.

      Jadi bisa istrahat nggak jadi tempat inapan tiap hari :D

      Trus juga, sampai sekarang, saya lebih memilih cari penginapan deh, kalau nggak punya uang, cari penginapan murmer juga banyak, ketimbang nginap di rumah orang.

      Kita nggak tahu kan mungkin mereka mau istrahat atau mungkin kita mengganggu

      Delete
    5. Hihihi, sependapat mba, saya pun nggak suka menginap karena nggak mau mengganggu yang punya rumah dan saya nggak bisa berbaur sampai seharian penuh sama yang punya rumah even itu keluarga sendiri 🤣

      Entah kenapa berasa exhausted, karena saya pasti butuh space personal. Permasalahannya kalau menginap kan jadi kehilangan space personal karena harus considerate sama yang punya rumah 🙈

      Delete
  5. Gw udah kenyang temenan sama foreigner. Mau dari bangsa mana kek sama aja. Pasti ada yang baik, pasti ada yang buruk. Banyak mikir bule itu pinter, berkelas, wah, apaan. Gw suruh bikin proposal kemajuan pekerjaan dia aja gak becus. Pret lah. Malah anak fresh grad, orang Indonesia, malah bisa bikin. Bagus banget malah.

    Upgrade diri, itu penting banget. Banyak belajar, banyak membaca, jadi wawasannya luas. Sadar atau enggak, hal-hal kaya gini akan mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan.

    Buat yang punya cara berpikir inlander, bay aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, semua manusia dari negara manapun pada dasarnya sama mas Riza. Yang baik karakternya ada dan yang buruk karakternya pun banyak 😬 jadi sebenarnya sangat disayangkan kalau sampai mengelu-ngelukan suatu bangsa hanya karena terlihat superior daripada negara kita. Meski saya sering dibilang too much in love sama Indonesia sebab sering berbicara seperti ini, tapi faktanya memang nggak sebagus yang dibayangkan. Maybe karena saya punya kesempatan berinteraksi dengan banyak rekan foreigners di luar sana 😁

      That's why, sebaiknya kita nggak boleh mencintai suatu bangsa sampai gelap mata (dalam hal ini saya fokuskan kepada Korea karena pengalaman saya paling banyak bersama Korean) 😬 bukan berarti nggak ada yang baik di Korea, karena sejujurnya yang baik karakternya itu banyak, tapi chance kita untuk dapat yang baik itu yang nggak banyak, kecuali kita berusaha upgrade diri kita agar mendapatkan pasangan yang sepadan dan setara. Makanya saya berharap adik-adik yang masih punya kesempatan memilih bisa berusaha memiliki value dan prinsip serta kualitas dulu sebelum akhirnya memilih seseorang yang akan menjadi partners hidup selama-lamanya 🙈

      Terima kasih mas Riza sudah membaca 😁🙌

      Delete
  6. Wah topik yang menarik nih, Mba Eno.

    Semoga dedek bucin bisa baca tulisan ini nih, biar nggak kemakan drakor yang indah-indah tapi juga bisa siap untuk menelan pahitnya realita 😂

    Aku setuju banget soal value dan know your worth. Terkadang yang krusial ini lah yang paling sering dilupakan anak-anak muda jaman sekarang (halah kayaknya gue udah tua banget). Soalnya memang jatuh cinta itu apa aja terasa enak dan menyenangkan, kalo kata orang tua kotoran kambing aja bisa rasa cokelat kalau jatuh cinta 🤣 Kalau memang ingin menjalin hubungan ke level selanjutnya, harus banget mempertimbangkan segala sesuatu sematang mungkin. Bahkan apa yang menjadi impian dan prinsip hidup yang kita pegang harus di-share ke pasangan. Menyamakan visi dan misi juga harus. Aku sering dengar beberapa cerita teman, kebanyakan hubungan harus berakhir karena visi misi nggak sama. Menghindari sakit hati berkepanjangan, lebih baik yang nggak enak-enak diomongin semua di awal, ya.

    Tentang menambah nilai diri, itu juga aku rasakan saat ini, Mba Eno. Jujur waktu aku mutusin untuk jadi IRT, aku sempat minder, karena semua ipar suami itu kerja. Bahkan mamaku sendiri sempat khawatir tentang ini (jadi sedih deh nih kalo ngomongin ini 😥). Sering banget aku mikirin apa kata orang tentang aku. Aku nggak mau karena keputusanku (yang bahkan udah didukung suami 100% ) ini malah bikin aku nelangsa sendiri. Meski awalnya aku merasa harus memuaskan ekspektasi orang lain, sekarang aku ubah pola pikir bahwa aku harus pintar dan isi otak demi DIRIKU sendiri. Walaupun jadi IRT nggak berarti nilaiku turun, justru aku harus bisa terus melakukan yang terbaik.

    Maap lhooo Mba Eno aku jadi curcol kan di sini 😂 thank you so much for bringing up this topic. Membuka mata dan pikiranku kembali tentang dunia di luar sana. Semangat terusss yaa, Mba Eno dan kesayangan 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, saya selalu mendukung seseorang yang berusaha mencari garis jodohnya dengan segala upaya ~ tapi saya juga ingin adik-adik yang meminta saran tersebut mengenal diri mereka dulu, value dan prinsip apa yang dipunya, sebelum akhirnya melabuhkan hatinya pada seseorang, terlepas orang tersebut adalah Korean, American, Indonesian, dan lain sebagainya 😍

      Hahahah, betul mba sama istilah itu, memang yang namanya jatuh cinta bisa menyebabkan 'buta' kadang jadi memaklumi kesalahan kesalahan kecil padahal ternyata kesalahan kecil tersebut melanggar value dan prinsip yang dipunya ~ 🙈 padahal kalau masih awal-awal seperti pacaran atau penjajakan, chance untuk berubah haluan lebih banyak, mensortir juga lebih mudah, cuma sudah kadung cinta, alhasil lebih memilih bertahan meski banyak yang menyakitkan 😔 itulah saya ingin semua dari kita, termasuk saya, kenal value dan prinsip diri kita 💕 dan setuju sama mba Jane, kita harus samakan visi misi dulu sebelum mengambil keputusan untuk bersama selamanya. Karena persamaan visi misi ini yang sering terlupakan, bahkan ketika sudah memiliki visi misi yang sama pun tetap sering dilupakan 😬 so do I, jadi saya tulis ini as reminder juga untuk diri saya agar terus ingat value, prinsip, visi misi yang saya punya 🙈

      Eniho mba Jane, meski menjadi IRT bukan berarti mba Jane less berharga 💕💕 buat saya, seseorang berharga itu bukan karena menjadi IRT atau bekerja (both ways sama-sama good in their own way, mba) karena menjadi IRT pun merupakan perjuangan yang nggak kalah berat. Butuh dedikasi yang tinggi juga 😍 dan while menjadi IRT pun tetap bisa aktualisasi diri, contohnya seperti mba Jane yang sering menulis blog dan memiliki pembaca setia (seperti saya 😆✌ dan teman lainnya). Ehehehe.

      Jadi jangan merasa nelangsa ya mba, you should know that you are worth every million stars 🙈 dan nilai mba nggak akan pernah turun, yang terpenting setiap keputusan yang mba ambil sudah sesuai dengan value dan prinsip yang mba pegang, which is value dan prinsip setiap orang pada dasarnya memang berbeda-beda jadi nggak bisa kita jadikan patokan 😍 semangat mba 💕

      Delete
  7. Saya cuman bisa bilang woow dengan tulisannya mbak,bisa membuka mata dan hati kita, khususnya buat yg tergila" dengan oppa" sana, ternyata ga semudah membalikkan telapak tangan, ga semudah mengedipkan mata, dan ga seindah negri dongeng, harus liat bobot, bibit dan bebet juga punya nilai lebih kalo ga mau dipandang sebelah mata,lumayan cape juga ya kalo liat realita mereka yg rela makan seadanya demi memakai barang branded dan bisa diterima, uuuch penuh kepura"an yaaa, tpi sebetulnya dimanapun itu pasti adalah sifat narsis kayak gitu, disini juga banyak, tergantung gmn kita menyikapinya aja,,intinya kalo kita kepingin terlihat sebanding dan sukses sprti mereka,kita kudu punya skill dan nilai yaaa biar tetep ga dipandang rendah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat nggak mudah mba, karena pada dasarnya mencari pasangan yang akan berjalan bersama hingga akhir hayat itu nggak mudah 😍 jadi siapapun yang masih belum menikah dan punya kesempatan untuk upgrade, bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk upgrade sambil menjalani hari-hari til the day ready untuk hidup bersama pilihan hatinya 🙈

      Betul mba, lelah banget kalau selalu dipandang sebelah mata, meski saya belum pernah mengalaminya secara langsung, tapi saya sadar diri kalau saya ini bawa negara under Asia Tenggara yang selalu dianggap 'low' oleh sebagian dari mereka. That's why saya berusaha keras untuk minimal nggak merusak nama baik negara di mata mereka dengan menjaga sikap dan upgrade kualitas 🙈

      To be honest, beli barang branded itu nggak masalah selama mampu, asal jangan sampai makan ramyeon setiap hari hanya demi bisa beli barang branded. Kebetulan beberapa orang beli karena memang mampu dan itu nggak salah, meski alasannya beda-beda dan salah satunya memang untuk menjaga 'kelasnya' 😄💕

      Dan saya yakin di Indonesia pun banyak yang demikian, yang mampu, yang punya, dan memang ingin menjaga level kelasnya. Dan menurut saya itu oke-oke saja selama memang sesuai budget yang dipunya 😁 soalnya salah satu alasan kita bekerja keras kan untuk menyenangkan diri kita, asal back to main point, jangan sampai membuat diri kita susah pada akhirnya 😍

      In the end, skill, kualitas, value, prinsip, dan lainnya itu penting agar kita nggak dipandang rendah. Dan on top of that, nggak ada salahnya untuk terus upgrade diri kita karena itu untuk kebaikan kita juga 😆 hihihi. Terima kasih mba Heni sudah membaca 💕

      Delete
  8. Ini adalah salah satu postingan terpanjang yang saya baca di artikel mbak Eno. Terimakasih sudah berbagi kisahnya mbak.

    Memang kadang susah juga lho mengambil hati mertua karena kadang banyak perbedaan, apalagi kalo beda negara yang mana perbedaannya makin banyak. Salut buat mbak Eno yang bisa mengambil hati Omini nya. Memang benar, dengan menikahi anak mereka, bukan mbak Eno mengambil anaknya tapi malah dapat anak satu lagi.😄

    Aku rasa memang value itu yang penting jika kita ingin dianggap berharga. Susahnya memang sekarang banyak anak muda terlena dengan apa saja yang berlabel Korea, padahal tidak semuanya baik dan tentunya tidak semuanya jelek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga baru sadar kalau post ini panjang banget 🤣 biasa pendek-pendek hahaha. Maaf mas, kalau sampai sakit mata bacanya 🤪

      Saya akui mengambil hati orang tua pasangan itu susah susah gampang ~ meski sudah berusaha untuk mengambil hati, kadang bagi sebagian orang ada juga yang tetap failed mas. Karena yang dihadapi kan manusia yang juga punya rasa, pola pikir, dan sudut pandang personal. Jadi cukup berpegang pada value dan prinsip kita saja ketika berusaha untuk mendekati orang tua pasangan. Walhasil, ketika apa yang diusahakan terlihat akan failed, kita tau harus melakukan apa setelahnya. Apa mau jaga jarak, apa mau tetap usaha, apa mau ini, mau itu? Begitchuuu 😁 CMIIW, yaaa ~

      Dan saya pikir kenapa banyak yang terlena dengan apa-apa saja yang berlabel Korea, karena yang dijual oleh pihak entertainment Korea memang mimpi-mimpi seperti yang ada di dalam drama 😆 cuma kadang kebanyakan orang lupa, kalau ingin punya pasangan pangeran, kita harus upgrade kualitas setara dengan putri. Kalau ingin diperlakukan seperti queen, kita harus perlakukan pasangan seperti king. Semacam hukum timbal balik ~ jadi kalau mau dapat yang berkualitas, kitanya juga harus punya kualitas 🙈 nggak bisa asal mimpi mau ketemu pangeran berkuda putih, kalau kitanya nggak ada usaha untuk bisa naik kuda putih juga. Jadi harus realistis, tapi bukan berarti nggak mungkin, makanya kemungkinan itu harus dibuat dengan salah satunya upgrade diri 😍

      Delete
  9. Saya nonton Drakor setelah menikah jadinya tidak terlalu terpengaruh untuk beroleh Oppa, ha ha.

    Dari banyak drakor yang saya tonton, yang namanya persaingan seakan lumrah bagi mereka sampai ada yang tertekan. Keras juga budaya Korea itu agar unggul.

    Bagi saya yang orang Indonesia yang cenderung santai dan masa sekolah tidak terlalu alami masa persaingan sangat ketat seperti di Korea, rasanya tidak nyaman jika alami pola hidup seheras orang Korea.

    Pendalaman Mbak sangat berharga untuk dibaca dan diketahui banyak anak muda sini yang sedang Gandrung pada Korean. Value adalah tolok ukur yang wajib kita punya.

    Hidup tidak semanis drakor happy ending. 💕💕💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha kalau mba Rohyati kan 'Oppanya' sudah ada di rumah sekarang, jadi nggak akan terpengaruh sama oppa-oppa 🤣 lha wong yang di rumah jauh lebih kece, kan 🙈

      Yang saya pelajari kenapa mereka sangat keras agar bisa jadi yang terdepan karena di Korea itu kesempatan untuk bisa jadi top position sangat kecil mba, ditambah peluang bisnis juga nggak sebanyak di Indonesia contohnya yang mana di Korea mostly berpangku pada tekhnologi, fashion, skincare dan beberapa hal lainnya jadi cukup terbatas 😬 jadi dari yang terbatas itu, mereka harus berlomba agar bisa masuk bagian dari kelas 1%-nya.

      While orang kita termasuk saya dari kecil memang lebih santai saat sekolah 🙈 karena kita sudah ditekankan dari kecil kalau tugas kita berusaha, Tuhan yang akan memberikan jalan dan jawaban. Kita punya pegangan salah satunya kepercayaan. Tapi orang Korea yang mostly nggak punya agama, pegangan mereka itu diri mereka sendiri mba. Alhasil kalau mereka gagal, mereka akan merasa kalau mereka nggak berguna. Itu sih yang ditekankan dari kecil dan yang sempat dibagikan oleh rekan-rekan saya dan pasangan saya. Mindset tersebut sangat berbeda dengan mindset kebanyakan orang Indonesia 😬

      Hanya saja saya nggak anggap itu salah, karena setiap negara pasti punya karakter masing-masing yang paling mencolok dan kebetulan Korea memang terkenal demikian. Permasalahannya dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, jadi kalau memang adik-adik di luar sana ingin punya pasangan Korea, mereka harus tau bagaimana mindset orang Korea agar bisa blend di dalam komunitas masyarakatnya. Jangan sampai jadi orang yang terlindas, apalagi kalau punya anak, harus banget survive dan blend well ke local Korean untuk kebaikan anak-anak ke depannya. Dan itu butuh skill dan kekuatan mental, that's why memiliki value dan prinsip adalah penting adanya (itu pendapat saya) 😆 CMIIW ya, mbaaa 😍

      Terima kasih sudah membaca 😁

      Delete
  10. Postingan mba eno yang labelnya 'though' memang selalu aku tunggu2 hihihi

    Bener kata mba pipit, postingannya sarat akan gizi. Kalau diibaratkan dalam makanan kayak isi daging. Gizinya tinggi ^________<

    Aku baca dari awal sampai akhir, beneran tanpa skip...lalu biasanya aku klak klik klak klik lagi tiap harinya, maksudnya nunggu teman-teman yang lain yang pada komen (karena pengen baca komen-komennya alias kepo juga pendapatnya temen-teman bagaimana)

    lalu biasanya aku stag mau komen apa, saking speechless soalnya tulisannya mba eno pada bermutu-bermutu semua, especialy tentang though hahahhaha...juga ngeliat komen temen yang lain kok pada panjang-panjang, terus akunya jadi mikir lumayan lama, ini aku mau komenin bagian apanya ya....wahahhahaha

    Tapi beneran deh di tiap moral of de story yang mba eno paparkan di postingan ini aku merasa 'terwow-wow' terutama masalah value dan prinsip agar bagaimana kitanya yang menjadi kuat agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, termasuk pula dari orang yang bakal menjadi bagian dari keluarga baru kita, especially di waktu-waktu tertentu yang mungkin ga selamanya ketemu nasib baik. Ini penting. Apalagi untuk perkara stay yang ibaratnya cukup lama atau bahkan selamanya karena ikut pasangan yang berbeda kewarganegaraan di negara orang. Pastinya akan menjadi PR lebih besar di awal-awal membangun komitmen. Tapi asalkan semua pihak saling sepakat, maka semuanya akan terasa mudah saja untuk dijalani ya, hihi

    Berasa aku ikutan nyimak jadi adek-adeknya #e itu mah terkhusus buat adek-adek remaja sana yang ingin dishare ilmu tentang komitmennya dari Mba eno kalik Mbul hihi...

    Eh iya, yang bagian sifat omoni dan aboji, mendadak aku jadi kebayang mertua sendiri. Mertua mba eno sama kayak mertuaku

    Ibuk mertuaku lebih grapyak dan suka bertanya kabar ke anak mantu
    Kalau pakmer mirip aboji, lebih pendiem memang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Nita 😁 terima kasih sudah membaca dari awal sampai akhir, yang mana saya tau nggak mudah karena panjang sekali tulisannya 🙈 dan terima kasih juga sudah menunggu komentar-komentar masuk, semoga bisa diambil sisi baiknya, dan dibuang sisi buruknya dari tulisan saya 😬

      Jadi terharu saya diapresiasi sedemikian rupa oleh mba Nita, padahal saya juga masih belajar dalam mengolah dan menyampaikan apa yang saya pikirkan karena terkadang kawatir yang saya tuliskan penyampaiannya kurang tepat dan berakhir menyakiti beberapa pihak. So feel free untuk info kalau ada yang kurang tepat ya, mba 😍

      Eniho, setuju sama mba Nita, komitmen itu bisa tercipta kalau dibangun oleh dua pihak yang sama-sama sepakat akan satu hal. Tapi kesepakatan bisa baru bisa tercipta kalau kita kenal value dan prinsip kita. Baik dalam hubungan, dalam pekerjaan, dalam business, kita baru bisa dapat kesepakatan yang tepat, kalau kita paham apa yang kita inginkan, batasan apa yang kita punya, dan lain sebagainya. Semakin kita kenal diri kita, semakin mudah untuk kita membentuk kesepakatan bersama pihak lain yang dalam hal ini bisa jadi pasangan 😆

      Jadi semuanya berproses, dan main point pada tulisan saya kali ini, saya ingin setiap dari kita dan adik-adik yang bertanya kepada saya, bisa kenal dirinya masing-masing sebagai individu yang berdiri di atas kaki sendiri 😍 agar apapun masalah yang dihadapi nanti, bisa mengambil keputusan dengan baik 💕

      Dan mba Nita beruntung karena bertemu orang tua pasangan yang menyayangi mba Nita seperti anak sendiri 😍 mari sayangi beliau beliau dengan sepenuh hati 😆💕

      Delete
  11. Omaigat, panjang kali cerita dan komentar-komentar disini 😂 buat saya ini bisa jadi bacaan sampe satu minggu ke depan kayaknya. 😋

    Beda banget emang kalo berdasarkan pengalaman pribadi, nulisnya lebih detail. Yang baca juga lebih enak karena bisa ikut belajar dari pengalaman dan punya panduan sebelum bertindak lebih jauh terutama ketika menghadapi para oppa - oppa inih ya Mba 😅😁

    Saya rasa gak semua orang bisa menuliskannya selancar Mba Eno 😉

    Dan sepertinya Mba Eno juga sebelum memilih pasangan emang udah di pikir masak-masak. You really are a smart girl, mba (ngetik sambil buka google translate) 😅😂 seriously.

    Karena ternyata masih banyak yang nyari pasangan itu asal ketemu aja, terus nikah. Kecuali kalo dia emang ditakdirkan bertemu dengan orang yang senang berbagi ilmu, apalagi mengenai hal-hal seperti ini atau emang orang tersebut sepinter Mba Eno 😁.

    Maka berbahagialah, karena sudah menemukan vaksin sebelum terkena penyakit. Karena perjuangannya sangat berat kalo harus menderita dulu baru kita minum obat. Meskipun obatnya manjur, bekasnya itu gak akan pernah hilang seumur hidup. 😪

    (mungkin begitulah analoginya) 😁😂



    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha maapkan mba kalau kepanjangan 🤣

      Iya mba, itu harapan saya, semoga ada sedikit manfaat yang bisa diambil especially bagi yang belum 'tercebur' ke dalam sebuah hubungan tanpa rencana, value, prinsip dan visi misi jelas 😍 agar maksudnya bisa dipersiapkan dulu dengan matang 😬

      Saya berdoa semoga generasi muda kita nggak asal-asalan pilih pendamping hidup yang notabene akan menjadi sahabat dalam suka duka sampai akhir hayat 😆 selagi bisa memilih, ada baiknya betul-betul pilih sesuai kriteria, tapi kadang memang banyak yang merasa kalau pilihannya sangat terbatas. That's the time untuk upgrade agar pilihannya semakin luas 😁 salah satunya dengan menambah circle pertemanan, dengan menambah aktivitas yang akhirnya bisa masuk komunitas-komunitas baru di luar sana, atau dengan studi lebih tinggi lagi mengejar cita-cita entah itu s2 abroad dan sebagainya, karena dengan begitu maka akan dipertemukan dengan jauh lebih banyak pilihan yang kemungkinan salah satunya adalah garis jodoh yang diharapkan 🙈

      Hihi setuju sama mba, lebih baik sakitnya di-awal daripada harus menderita dulu baru minum obat. Karena kadang meski sudah minum obat, akan susah sembuhnya. Hehehe. Semoga semakin banyak generasi muda yang mau put efforts dan upgrade ya mba, kalau semua berusaha upgrade, maka kualitas generasi ke depannya pun akan meningkat dengan sendirinya 😍

      Delete
  12. bener sekali kalo yang dedek dedek emesh liat adalah enaknya dulu, mikir'ohh enak kali ya kalo punya pasangan kayak Rain' dan sebagainya, romantis, humoris bla bla. maklum banyakan nonton drakor
    ternyata untuk bener bener memutuskan akan hidup selamanya dengan sesama orang asing terutama korea banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. kalau untuk 'agreement pranikah' mungkin sama ya, dibahas dulu sebelum jauh melangkah
    dan aku baru tau kalo semisal cerai dengan orang korea, masih ada aturan lagi dari segi visa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yang dilihat enaknya saja, nanti jadi susah kalau ada masalah karena nggak punya antisipasi cara untuk menghadapinya 🙈 padahal punya 'pegangan' itu penting, agar memudahkan hidup ke depan 😍 ehehehe.

      Iya mba, sebenarnya memutuskan untuk melabuhkan hidup pada seseorang itu terlepas dari mana asalnya akan butuh pertimbangan yang matang. Jadi nggak bisa asal-asalan 😆 demi kebahagiaan bersama ~

      Ps: kalau bercerai saat memiliki status F6 maka visanya dicabut karena visa F6 ini sponsornya adalah pasangan. Jadi apabila bercerai maka otomatis nggak punya sponsor lagi untuk ke depannya. Kecuali sang anak sudah usia dewasa dan mau jadi sponsor untuk orang tuanya 😁

      Delete
  13. ini relate bgt dg kehebohan akhir2 ini yang terjadi di ranah pergaulan internasional khususnya Tiktok (bukan tiktok user, tapi isunya udah merebak ke twitter)..

    yg heboh itu "bule hunter" sih, tapi rasanya bisa juga dikaitkan dg korea karena ciwi2 indo jg banyak yg tergila2 sama oppa2 ...

    jadi, di pergaulan anak muda internasional (iya kutahu diriku sudah tidak muda lagi tapi suka ngintip kehidupan manusia muda, wkwk)), cewe indonesia sekarang levelnya udah dianggap sama kaya cowo india yang mana dalam pergaulan internasional itu udah level terendah. kenapa? karena, selama ini cowo2 india terkenal cringe dan suka ngajak kenalan cewe2 dr berbagai belahan dunia dan suka minta yg aneh2 (like "show me your b and v" iykwim).. naaaah, cewe indonesia banyak yg srg chat sm bule2 di tiktok, snacpchat dan semacamnya lalu dijadiin status pdhl gak minta izin dulu ke si bulenya.. dan yg kek gitu bukan cuma 1 atau 2 orang, banyaaaak. bule2 itu risih kan yaaa. makanya muncullah gerakan "no indonesian girls" yg mereka tulis di bionya.. mereka udah males berurusan sama cewe indo yg kegatelan kek gitu.. di beberapa komen di twitter ada jg cowo2 korea yg mulai ikut gerakan "no indonesian girls" itu...

    benang merah sama postingan mbak ini adalah seharusnya cewe2 itu seperti mbak yg tetap mengutamakan value dan prinsip.. nggak karena punya inceran atau pasangan orang luar (bule atau korea misalnya) menjadikan pribadi kita sebegitu mudahnya "takluk" dan terkesan murahan/gampangan..

    aku sempat lempar isu ini di story ig,, banyak temen2 yg kasih tanggapan kalau cewe indonesia udah dianggap murahan bgt di beberapa negara.. yg kasih komen wktu itu ada yg nyebutin kashmir, turki, dan negara2 eropa.. katanya cewe indonesia yg traveling ke negara2 itu gampang bgt diajak ML.. pffftt..

    andaikan cewe2 muda Indonesia punya value dan prinsip yang kuat, nggak akan deh itu kejadian cewe indonesia dipandang rendah di dunia internasional.. udah miris bgt rasanya,, walaupun aku cowo dan yg dicap jelek tu cewe2nya,, tetep aja ikutan malu karena bawa nama Indonesia..

    izin share artikel ini di twitter ya mbak supaya ciwi2 muda mutualku di twitter ngeh bagaimana harus mempersiapkan diri kalau ingin punya pasangan orang korea.. kebetulan mutual twitterku banyak ciwi2 muda pecinta kpop,, biar mereka tercerahkan wkwkwk..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah yang seperti ini kasusnya sebenarnya agak mirip sama kasus komentar-komentar nggak jelas bin aneh yang dikirimkan banyak oknum di Indonesia ke artis-artis luar juga (yang sempat saya bahas sebelumnya) ~ meski beda konteks, kalau bule hunter ini kan buat konten aneh yang menyangkut pautkan si bule sampai si bule menulis no Indonesian Girl di bionya 😬

      Dan karena kasusnya serupa namun tak sama, salah satu solusi yang pernah diberikan oleh si kesayangan kalau dari kacamata as Korean yang notabene salah satu aktrisnya pernah jadi victim juga adalah ketika melihat konten atau komentar yang dirasa memalukan, instead of membuat konten / komentar balasan, cukup report as 'hate speech' pada konten dan komentar aneh on the first place 😬

      Soalnya kata si dia, kalau dibuat konten balasan atau komentar balasan, maka yang tadinya nggak tau jadi tau, jadi ikut membully, jadi semakin menyebar luas, dan yang viral viral kelak akan jadi perhatian di mata dunia. Kenapa berita soal Indonesia begini dan begitu bisa masuk dan terdengar bahkan sampai dirilis di negara luar itu sebenarnya karena ada peran masyarakatnya sendiri. Coba kalau nggak dibuat viral, maka akan stay inside the cirlce saja ~ 😁 CMIIW ya. Itu pendapat dari orang yang negaranya punya netizen sangat ekstrim hahaha.

      Saya yakin masih banyak Indonesian Women yang punya pride dan berusaha menjaga nama baik negara. Jadi sudah tugas kita mereport konten-konten yang aneh dan nggak masuk akal agar kelak Indonesia nggak dikenal akan keanehannya saja tapi akan hal-hal positif lainnya oleh masyarakat dunia 😍💕 intinya kita harus ambil sikap juga selain mengkritisi mereka. Salah satunya dengan take action untuk mereport konten yang menurut kita nggak bermanfaat atau merusak nama bangsa.

      Eniwei, memang seharusnya setiap dari kita punya value dan prinsip, cuma kenyataannya banyak yang lupa kalau value dan prinsip itu penting 🙈 kadang kalau sudah cinta, apapun jadi indah soalnya mas. Jadi nggak bisa betul-betul melihat apakah sebenarnya cinta tersebut layak diperjuangkan. Apalagi kalau sampai hanya karena ingin tetap bersama para oppa, mister, abang, etc, jadi mudah takhluk tanpa dicheck kualitasnya as personal 😁

      Semoga semakin banyak dari kita yang aware untuk menjaga value dan prinsip kita, terlepas mau melangkah ke arah mana ~ jangan sampai kejadian seperti yang ena ena di atas, padahal dilakukan suka sama suka, tapi setelah cowoknya pergi, dia anggap kalau harga dirinya direbut secara paksa 😅 hehehe. Siap mas, terima kasih banyak atas komentar membangunnya 😍🙌

      Delete
  14. Woh, salah satu postingan terpanjang yang saya baca di blognya Mbak Eno. Tapi karena mengalir, tau-tahu sudah rampung aja bacanya.

    Budaya pop ternyata berpengaruh banget buat membentuk selera (atau obsesi) ya, Mbak? Wajar aja sih jadinya banyak yang terobsesi sama oppa-oppa Korea. Lha wong sering mengonsumsi serial dan lagu-lagu k-pop. Dulu, waktu zaman boyband kayak Westlife ngetren, temen saya ada yang terobsesi buat jadi istrinya Brian McFadden... Hahaha...

    Tapi ya mungkin ini lucu-lucunya remaja juga. Suatu saat mereka mungkin akan sadar kalau hubungan itu personal banget dan relevansi latar belakang (kebangsaan dsb.) itu nomor sekian. Kalau dua orang sudah saling tertarik dan bener-bener pengen melengkapi puzzle masing-masing, bakalan jadi kok, terlepas dari latar belakangnya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, secara nggak langsung membentuk selera (obsesi) seperti kata mas. Dan nggak hanya pada Oppa-oppa, ada juga yang pada Mister-mister, Abang-abang, dan yang lainnya 😁 bahkan kepada orang Turkey, etc juga ada 😬 dan sebenarnya itu nggak salah, namanya selera, nggak bisa dipaksakan, tapi bukan berarti nggak bisa dikendalikan 😆

      Karena menurut saya, kalau jatuhnya sudah obsesi takutnya jadi nggak bisa melihat dan menilai dengan seksama, dan dikawatirkan jadi mengambil keputusan tanpa punya pertimbangan matang yang tentunya bisa merugikan diri sendiri kelak 😁

      Amiin semoga semakin banyak yang sadar kalau pada sebuah hubungan yang berkualitas butuh banyak persiapan, apalagi kalau yang diharapkan adalah pasangan yang berkualitas 😍 jadi kitanya juga harus selalu upgrade agar nggak dianggap tertinggal 😄 terlepas dari memang sudah garis jodohnya, tapi apabila ingin dipertahankan sampai akhir hayat, nggak ada salahnya untuk terus belajar agar bisa 'naik kelas' 😁

      Delete
  15. Jujur, saya bukan pecinta oppa sayyy, secara mereka loh jauh lebih cantik ketimbang saya.
    Bayanginnnn... mukanya oppa lebih mulus kinclong tak berporiiiii..
    Saya kan jadi minder.
    (korban drakooorrr terooossss hahahahahahaha)

    enggak sih, nggak tahu kenapa saya dari dulu sukanya bule, maksudnya pola pikirnya.

    Saya rasa kalau liat-liat di drakor dan film, Korea itu jauh lebih serem ketimbang Indonesia.

    Maksudnya, budaya mereka kental, ditambah ada beberapa yang masih berpikiran kolot tentang orang asia kayak Indonesia.

    Tapi kembali lagi, itu hanya personal, nggak semua orang kayak gitu, kebanyakan sih tergantung kitanya aja.

    Jadi, mau kita dari mana pun, sebagai apapun, bener kata Eno, upgrade diri itu penting.

    Jangankan nikah sama orang Korea, nikah sama orang lokal saja masih juga banyak yang diremehkan oleh statusnya.

    Oh ya, ngomongin tentang barang branded itu, terjawab juga ya mengapa banyak artis Korea yang bunuh diri, memang persaingannya menyeramkan ternyata.

    Meskipun sekarang di dalam negeri kita juga udah mulai kayak gitu hahaha.

    Semoga dedek-dedek gemas sadar akan hal itu ya, jatuh cintalah pada orang yang tepat, orang yang karakternya kita sukai, nggak harus memilih dia orang mana.
    Mau Korea Selatan kek atau Korea Utara asal jangan Kim Jong Un kayaknya wakakakakakakaka.

    oh ya, postingan ini juga bikin saya teringat kembali pasangan beda negara yang sering saya ikutin vlognya, si Yannie Kim.

    Saya pernah nonton vidionya yang menceritakan awal-awal dia datang di Korea, di mana banyak yang memandang rendah dia, makanya dia terus berkarya, upgrade diri, sehingga sekarang dia jauh lebih bahagia karena di sisi lain dia bahagia bisa berkarya, pun juga bonusnya jadi lebih bisa berbaur di sana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iya aneh banget kenapa orang Korea nggak punya pori-pori hahahaha 🤣 tapi meski nggak punya pori, ada juga yang mukanya berjerawat kok mba, atau bermasalah, jadi nggak jauh beda dengan kita. Makanya mereka addict dengan skincare sampai 7 lapisan 😁 karena sama seperti kita, mereka pun punya permasalahan pada kulit wajah 😆

      Itu juga yang saya sayangkan, persaingan di Korea terlalu berat, huhu. Semoga hal-hal seperti ini bisa jadi landasan adik-adik yang ingin memiliki pasangan Korea (saya nggak tau kalau negara lain karena nggak ada pengalaman) agar lebih berhati-hati ketika mencari pasangan 😁 jangan cari hanya dari label-nya tanpa memperhatikan bibit bebet bobotnya 🙈

      Delete