Robertson Quay | CREAMENO

Pages

Robertson Quay


Apa yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan? Kalau gue jujur yang paling menyenangkan adalah saat gue di persimpangan jalan dan menemukan banyak bangunan bagus untuk dipandang πŸ˜† karena gue memang suka sekali melihat bangunan dengan berbagai macam karakteristiknya 😍 seperti pengalaman gue waktu jalan kaki dari Fort Canning station ke M Social Hotel Singapore ~

Tadinya gue berniat naik GRAB karena pada jadwal penerbangan kali itu, gue sampai Singapura jam 12 siang dimana matahari lagi panas-panasnya! πŸ˜‚ tapi rencana gue berubah setelah melihat jarak dari Changi Airport ke M Social Hotel yang jauh dan menguras uang πŸ˜‚ Pikir punya pikir, nggak ada salahnya naik MRT, walau ribet harus bawa koper yang sebenarnya nggak besar (memang dasar pemalas!) πŸ˜… gue pun berangkat ke MRT Station di Terminal 2 dan capcus ke M Social. By the way, yang mau ke M Social, cuma perlu turun di Fort Canning Station dan jalan kaki 1 kiloan. Untung di area Robertson Quay ada banyak pohon berjajar di sepanjang jalan 😍




Nah, ini dia hal yang paling menyenangkan seperti yang sudah gue bahas di paragraf sebelumnya, di mana gue bisa melihat bangunan bagus untuk dipandang πŸ˜„ buat gue, menikmati bangunan di negara lain juga termasuk hiburan, dan gue senang melihat bangunan tinggi menjulang berpadu dengan bangunan tua yang tak lekang dimakan jaman πŸ˜† satu yang gue salut, Singapura bisa gabungkan bangunan jadul dan modern tanpa harus menghilangkan satu daripadanya 😍

Ditambah lagi, areanya bersih dan nggak berantakan 😁✌ mungkin karena masyarakatnya paham akan kebersihan (dan mungkin karena denda yang nggilani mahalnya), jadi area pun terjaga kebersihannya dan membuat gue nyaman untuk yalan-yalan. Padahal keadaannya saat gue ambil foto ini, gue sedang jalan kaki jam 12 siang sambil geret koper tapi entah kenapa gue nggak merasa lelah hahahahaha. Memang 'mood' itu berpengaruh besar ternyata πŸ€ͺ




Eniho, Robertson Quay merupakan salah satu area yang gue suka di Singapura. Karena banyak company besar dan lokasinya nggak jauh dari M Social Hotel (tempat gue kali itu menginap) 😁 enaknya lagi, setiap sore, akan ada banyak ekspat duduk-duduk cantik (termasuk gue) di deretan cafe yang ada di sana 😬 dan beberapa cafe terletak tepat di pinggir sungai yang gue rasa merupakan terusannya Clarke Quay karena lokasinya nggak begitu jauh satu sama lainnya πŸ™ˆ

Bedanya Robertson Quay dan Clarke Quay lebih ke suasana. Kalau Clarke Quay penuh turis, karena memang terkenal sebagai tourist attractions, sedangkan Robertson Quay penuh dengan lokal dan ekspat yang memang bekerja atau biztrip ke Singapura 😬 jadi nggak heran kalau duduk di cafe, bisa lihat banyak ekspat jogging sore, ada juga yang sambil bawa anjing, atau sekedar jalan-jalan berbincang hangat sambil menggenggam cup kopi di tangan hahahahaha πŸ˜‚




Jadi kalau ada yang mau ke Singapura dan mau merasakan sesuatu berbeda, bisa coba mampir ke Robertson Quay (taruh saja pin point Google Maps-nya ke M Social) 😁 tapi jangan berharap sesuai yang 'wah' ala tempat turis di sana, karena Robertson Quay itu area chill setelah sibuk bekerja atau meeting seharian πŸ˜† nonetheless menurut gue, view-nya indah, dan cafe serta restorannya banyak menyediakan makanan enak meski harganya nggak begitu murah 🀣

Selamat mencoba 😍

26 comments:

  1. Itu kenapa ya kalo ku liat foto di blog ini selalu keren dan apik gambar dan warnanya, apa smartphone nya yang bagus apa teknik pengambilannya yg apik yaa... Btw liat gedung" di photo yg atas seperti lihat rumah" boneka gitu yaaa, jendelanya unik dan besar" gitu,juga jalan"nya bersih bangeet yaaa, bikin mata segeer mbak 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh dibilang keren dan apik πŸ™ˆ terima kasih mba Hen, saya masih belajar soal foto-foto mba, hihihi πŸ’• kalau gedung-gedung yang jendelanya besar di atas itu rumah-rumah jadoel, mirip sama yang di Kota Tua Jakarta mba 😍

      Cakep banget memang ya kalau bersih jalanannya πŸ˜†

      Delete
  2. Salah satu hal yang bikin saya takjub dari Singapura ini, bangunan tua yang masih berdampingan sama bangunan-bangunan baru yang lebih kinclong dan tinggi, Mbak. Mungkin karena masih terus dipakai, kompleks-kompleks bangunan tua itu masih kelihatan prima sampai sekarang.

    Jalanannya yang sempit tapi bersih dan rapi kayak baru habis disapu itu juga bikin saya geleng--geleng kepala. Rasanya kayaknya bakal enak aja gitu tidur di tengah jalan. Nggak ada debu, hampir nggak ada sampah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, takjub lihatnya betul-betul berdampingan tapi nggak kelihatan aneh, justru mempercantik landscape 😍 hehe dan senangnya, kompleks bangunan tua tersebut masih digunakan semua jadi nggak dibiarkan kosong begitu saja 😁

      Dan soal jalanan ini memang buat saya heran, padahal jalanannya bukan jalanan utama, tapi bersihhhh bingits 🀣 spotless clean kalau kata simbah ahhahaha. Sama sekali nggak kelihatan sampah yang berserakan πŸ™ˆ

      Delete
  3. Saya belum pernah ke Singapura tapi kadang takjub sama kemajuan negara tersebut. Negaranya kecil tapi maju ya mbak. Bahkan boleh dibilang paling maju di Asia tenggara. Padahal sumber daya alamnya terbatas ya.

    Mungkin karena denda yang besar itu kali ya yang bikin masyarakat nya paham akan kebersihan. Lihat fotonya tampak bersih dan rapi, beda dengan desa saya yang masih banyak orang buang sampah sembarangan.πŸ˜‚

    Itu kawasan Robertson Quay yang di foto ya, yang banyak gedung bertingkat pinggir sungai. Memang benar kata mbak Heni, fotonya selalu bagus, dalam arti pas ngambil gambarnya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, paling maju di ASEAN ehehe. Mungkin salah satu alasan kemajuannya yang pesat karena negaranya kecil jadi yang diatur nggak banyak mas πŸ™ˆ setau saya semakin besar sebuah negara akan semakin sulit pengaturannya, jadi proses yang dibutuhkan pun akan sangat panjang 😁 semoga one day Indonesia bisa semaju Singapura 😍

      Dan soal masyarakat yang paham akan kebersihan, selain karena denda, juga karena habit dan kebiasaan yang dibangun plus aturan yang diberlakukan. Sebenarnya masyarakat Indonesia pun paham aturan kok mas, asal memang diberlakukan secara tegas. Kalau dibilang masyarakat Indonesia nggak paham aturan rasanya berlebihan, karena masyarakat Indonesia ketika pergi ke Singapura sangat mengikuti aturan yang ada di sana πŸ˜‚

      Cuma kenapa saat kembali ke Indonesia jadi 'bebas' lagi karena memang aturannya yang kurang 'tegas' ~ alhasil yang mengimplementasikan aturan tak terlihat (alias aturan negara tetangga yang baik kemudian di bawa ke Indonesia) tersebut hanya segelintir orang saja. Yang memang merasa aturan tersebut punya benefit untuk kebaikan 😁 seandainya semua orang Indonesia diatur dengan sedemikian rupa, oleh peraturan pasti akan mengikuti ke mana arah aturannya. Seperti di Bali, di mana peraturan soal Corona pun bisa dibilang sangat tegas, jadi meski ada yang melanggar satu dua orang, tapi nggak sampai terlalu parah rasa-rasanya -- CMIIW 😬

      Semoga nanti area pinggiran sungai di Indonesia bisa semakin banyak yang sebagus dan seindah Robertson Quay ya, mas 😍 pasti bisa ~ dengar-dengar sudah banyak yang berkembang area pinggiran sungainya πŸ€—

      Delete
    2. Iya betul, kadang aturan yang kurang tegas itu yang bikin masyarakat ngeyel. Coba kalo pemerintah tegas, misalnya buang sampah sembarangan didenda 5 juta tanpa pandang bulu, biasanya masyarakat akan takut dan akhirnya patuh tidak buang sampah sembarangan.

      Di sebelah saya ada sungai kecil, tapi banyak sampahnya mbak, mana sampah yang susah didaur ulang lagi seperti sampah plastik atau Pampers.πŸ™ˆ

      Delete
    3. Betul, kalau dikasih denda seperti itu, orang juga akan berpikir ribuan kali ya mas untuk buang sampah sembarangan πŸ˜‚ ehehehe. Seperti di Singapura, negara dengan ratusan jenis denda, sampai denda meludah sembarangan pun ada, dan nggak boleh makan permen karet juga πŸ˜† tapi ampuh membuat negaranya bersihhhh sampai sekarang 😁

      Duh bagaimana itu mas, pasti baunya sampai ke rumah kan? 🀧

      Delete
  4. Sore mbak Eno, bingkisan paket ayam bakar tik tok nya udah nyampe mbaak. 😍,makasih.. makasih...makasih..πŸ™.yg tak terhingga karena udah jauh" di kirimin ke saya, maaaf yo mbak kalo udah ngerepotin mbak Eno, smoga selalu berkah dan berlimpah rezekinya😘... Aamiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sore mba Hen, finally it's arrived πŸ™ˆ semoga syuka ya mba, maaf kirimnya buat kue kering karena saya kawatir sudah pada terima kue kering banyak di rumah jadi saya kirim makanan berat yang saya suka siapa tau cocok sama selera mba Hen sekeluarga 😍 ehehehe.

      Sama-sama mbaaa, nggak merepotkan sama sekali, saya senang justru πŸ˜† terima kasih doanya mba, dan selamat menikmati makanan bersama keluarga tercinta πŸ’•πŸ€—

      Delete
  5. Saya pikir foto yang kedua dari bawah yang warna coklat di pinggir kali itu tanah ternyata setelah di-zoom itu rumput, btw itu rumputnya yang warna coklat atau rumputnya sudah mengering?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumputnya kering memang mas, saya foto Robertson Quay itu saat bulan lagi panas-panasnya (kalau nggak salah ingat) πŸ˜‚ jadi rumputnya pada kering, tapi meski kering tetap bagus dilihat karena rapi dan terawat alias tetap dipangkas oleh tukang rumput sepertinya 😁 CMIIW ~

      Delete
  6. Betewe kira-kira komen saya tadi udah masuk nggak ya? etdaahhh sinyal internet meliuk-liuk kalau hujan gini, huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar yang mana mba? Kalau di post lain masuk, tapi yang di post ini hanya komentar yang ini (yang saya publish) yang masuk 😬

      Delete
  7. Hmm.. ternyata Quay itu artinya Turned mba πŸ˜‚ penasaran soale

    Gedung-gedungnya ini mirip dengan yang ada di daerah rumah mertua saya mba, sekanak. Dimana disainnya sangat dipengaruhi dari budaya etnis tionghoa.

    Disana masih banyak berjejer bangunan tua seperti itu meskipun tidak sebagus di foto ini karena banyak yang dijadikan sebagai tempat usaha karena emang tepat berada di daerah pasar tradisional yang kurang terawat, padahal tempat itu adalah salah satu aset terpenting karena dulunya pernah disebut sebagai kota tertua dan sebagai salah satu pusat perdagangan utk bangsa asia dan eropa. (Mengutip dari tulisan skripsi adik saya ini mba) πŸ˜‚

    Sebage orang awam dalam perpotoan, pake filterkah jepretnya itu Mba? Ato diolah lagikah?
    Sehingga menghasilkan warna seperti itu.

    Soalnya, kalo dilihat dari foto sebelum2nya, hasil fotonya Mba Eno seragam semua, konsisten dengan warnanya yang terlihat warming 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woaah terima kasih mba Rini infonya 😍

      Saya dulu kira QUAY itu artinya sungai hahahahaha 🀣 ngarang banget yaaa πŸ™ˆ by the way sayang banget kalau pada akhirnya nggak terawat huhu padahal kalau diwarna dan dicat ulang serta dirawat, pasti nggak akan kalah indahnya sama yang ada di Singapura 😍 dan bisa jadi destinasi turis juga, sambil belanja ke pasar, sambil foto-foto cantik di depannya πŸ˜† too bad kalau akhirnya jadi terlantar mba, padahal menurut sejarah merupakan salah satu kota tertua 🀧 semoga one day bisa diperbaiki dan dipercantik πŸ’•

      Foto-foto saya ada filternya mba, tapi untuk warna memang warna aslinya (seperti warna gedung etc) sudah cantik dari sananya mba 😍

      Delete
  8. waktu ke singapur juga kagum sama bangunan tua begitu tapi tetep bagus diliat, dari catnya yang mungkin diubah sehingga jadi tambah cantik
    malah nggak nyangka kalo bangunan yang dari luar nampak old ehh ternyata disulap jadi hostel. pinter dah idenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ainun, banyak bangunan tua ternyata hostel atau cafe ya di sana 😍 cakep-cakep pula bentukannya πŸ˜† semoga di Indonesia semakin banyak bangunan tua yang terawat dan bisa digunakan untuk fungsi baru asal tetap terjaga bentuk aslinya 😁 daripada dihancurkan ~

      Delete
  9. Ini yang dari dulu bikin gw salut sama Singapura, mereka bisa menjaga bangunan lama sesuai dengan bentuk aslinya. Sedangkan di Indonesia pada digusurin jadi bangunan baru nan modern. rasanya 'seninya' jadi ilang gitu. Gw selalu bermimpi suatu saat bisa beli bangunan lama terus gw renovasi sesuai bentuk aslinya dan gw cat dengan cat baru biar keliatan cantik dan gak seram.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, sangat disayangkan banyak bangunan tua digusur di Indonesia padahal bangunannya banyak yang masih bagus dengan desain aslinya yang jadoel 😍 ehehehe. Semoga one day mimpi mas Riza bisa tercapai, dan renov sebanyak-banyaknya bangunan tua biar nggak lagi terlihat seram πŸ€—

      Delete
  10. Aku baru pernah dengar nih Robertson Quay, satu tempat baru lagi yang masuk list kalau nanti berkunjung ke Singapura lagi 😍

    Suasananya mema g mengingatkan dengan Kota Tua di Jakarta yaa. Kalo aja Kota Tua diperbaharui dan lebih difungsikan bangunannya pasti bakal cakep kayak gini.

    Singapura itu sebenarnya 11:12 dengan Hong Kong yaa, sama-sama mempertahankan sisi modern dan jadulnya tanpa menghilangkan ciri khasnya ❤

    Btw, tone fotonya cakep banget as always, Mba Eno! 😍 kesannya kayak lagi musim gugur di sana yaa πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke Singapura coba main ke tepian sungai di dekat M Social Hotel mba, ada banyak cafe enak di sana dan asik juga duduk-duduk saat sore jelang malam 😍 ehehehehe.

      Iya mba Jane, suasana mirip Kota Tua, sebenarnya area Kota Tua juga bagus banget cuma mungkin perawatan dan kebersihannya masih kurang kalau dibandingkan kawasan di Singapura 😁 semoga ke depannya, semakin bersih dan indah ya mba 😍

      Ahahaha, thank you mbaaa, saya baru sadar juga kalau tone-nya seperti musim gugur padahal itu daun kering gara-gara panas makanya saya sarankan ke sana sore jangan siang-siang πŸ˜‚ however, kalau mba main ke area sana, indahnya sama seperti di foto kok, you will not regret istilahnya πŸ˜† karena saya pribadi suka banget jalan kaki dan duduk duduk di cafe pada tepian sungai di foto atas 😍

      Delete
  11. Banyak hal yang aku suka dari sebuah perjalanan, kak. Momen naik pesawat, momen di bandara, berbaur sama lokal di dalam transportasi umum dan area-area publik, momen menemukan neighborhood yang lengang, dan juga sama kayak kamu: saat dikelilingi bangunan-bangunan yang menawan, entah itu bangunan modern atau lawas.

    Itulah yang membuatku nggak bosen sama Singapura. Yang lama dan yang baru berdiri berdampingan. Area publik dirawat baik. Di Indonesia, jalan kaki 1 km akan sangat menyiksa. Btw, dari stasiun MRT ke hotel nggak ada bus, kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu baca komentar mas Nugie langsung kebayang-bayang perjalanan ketika mau naik pesawat, ketika di bandara, ketika naik transportasi umum, dan ketika menikmati bangunan-bangunan cantik di depan mata πŸ˜†

      Berarti alasan kita nggak jauh beda ya when it comes to feel in love with SINGAPURA 😁 hihihi. Dan betul banget, jalan kaki di Indonesia meski 1 km bakal kesiksa. Tapi entah sekarang, saya belum pernah jalan lagi di sekitaran Jakarta yang suasananya mungkin sudah jauh berbeda 😍 ehehehe.

      By the way dari stasiun MRT ke hotel ada bus mas, tapi saya waktu itu jalan karena malas tunggu bus dan untungnya jalanan ke arah M Social meski 1 km jaraknya nggak kerasa begitu panas, sebab banyak pepohonan di sepanjang jalan πŸ™ˆ

      Delete
  12. Setelah baca ini, aku jd sadar kalo aku ga tau banyak ttg singapur walopun sering main kesana atopun sekedar transit :D.

    Jadi pengen bikin target, kalo wabah udh hilang, kyknya aku mau boyong anak2 ke sini, tp kali ini beneran stay agak lama supaya bisa LBH eksplor kotanya. Ga cuma main di USS Ama Clarke quay trus besoknya cabut :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mba coba mampir ke Robertson Quay, hehe, minimal coba duduk sore-sore ngopi cantik kalau mba Fany suka minum kopi sambil lihat pemandangan tepi sungai dan menikmati angin semilir 😍

      Memang paling enak kalau mau eksplor kotanya bisa stay lebih lama, mungkin yang biasanya hanya 3 hari 2 malam, jadi 5 hari 4 malam πŸ˜†πŸ’•

      Delete