Ups and Downs | CREAMENO

Pages

Ups and Downs


Beberapa hari lalu, ada yang request ke gue untuk membahas soal suka duka memiliki pasangan beda negara dalam hal ini Korea (gue nggak tau negara lainnya) dan gue berniat untuk menuliskan suka duka versi gue tentu berdasarkan pengalaman gue seorang 😁 jadi nggak bisa digeneralisir karena setiap pasangan pasti memiliki cara menjalani hidup dan prinsip yang berbeda-beda 😆 dan bagi yang penasaran, mari gue tuliskan satu persatu yang pernah gue rasakan.

Bahasa

Ini sebenarnya bukan hambatan besar, karena kami berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Untungnya gue dan dia sama-sama punya basic yang lumayan, seenggaknya kami bisa paham apa yang dikatakan satu sama lainnya 😂 tapiii, meski bukan hambatan besar bukan berarti nggak ada masalah, karena ternyata, persoalan bahasa ini kadang membuat gue pusing especially saat nggak bisa mengungkapkan rasa kesal yang gue punya hahahaha. As you guys know, paling enak marah-marah pakai bahasa Indonesia, kan? ðŸĪŠ

Terus kenapa nggak pakai bahasa Indonesia atau Korea saja? Well, gue pribadi tipe orang yang nggak mau please dia dengan mudahnya 😂 kalau gue pakai bahasa Korea, dia akan keenakan. Dan begitu pula sebaliknya. Alhasil kami sepakat kalau kami harus sama-sama put efforts plus dengan menggunakan bahasa Inggris, kami bisa lebih menjaga kata-kata yang diucap karena kalau pakai bahasa Indonesia / Korea, kami jadi nggak punya batasan dalam mengungkapkan apa yang dirasakan dan takutnya membuat kami tanpa sadar menyakiti satu sama lainnya dengan perkataan yang ke luar ðŸĪĢ

Budaya

Gue pernah jetlag soal budaya yang menurut gue jauh berbeda 😂 dari mulai budaya makan, budaya pertemanan, budaya senioritas, dan budaya-budaya lainnya ~ sampai gue ada disatu masa bingung bagaimana harus bersikap dan merasa serba salah 🙈 hingga pada akhirnya gue memilih untuk jadi diri gue apa adanya tanpa berusaha please semua pihak, especially orang tua dia ðŸĪĢ untung orang tua dia sangat menerima gue dan menyayangi gue layaknya anak kandung mungkin karena beliau nggak punya anak perempuan 😄 makanya instead of memanggil gue dengan nama, beliau panggil gue dengan sebutan 'ë”ļ' dibaca (ttal) yang artinya anak perempuan 😆

Jujur kalau ditanya merasa nervous sama orang tua dia apa nggak? Jawabannya nggak 😂 karena dari awal gue muka badak, hahahaha. Dan gue memang sayang sama orang tua (gue dan dia), so disetiap kesempatan, gue pasti kontak orang tua dia walau cuma untuk tanya, "Sedang apa?" -- "Masak apa?" dan lain sebagainya 😄 Omoni (mom) pun sesekali kontak gue saat gue sibuk seharian, dengan pertanyaan, "Sudah pulang kerja?" -- "Makan apa?" -- "Lagi di mana?" bersama emoticon 💕💕💕💕 yang bertebaran hahahaha.

Lalu bagaimana dengan Aboji (dad)? Hmm, Aboji tipikal bapak-bapak yang lebih banyak diam, makanya suka kasihan sama omoni kalau di rumah cuma berdua Aboji karena Aboji jarang bicara 😂 tapi biarpun Aboji jarang bicara, gue tau Aboji sangat penyayang ehehehe. Dulu gue pernah kasih Aboji dompet kunci mobil buat taruh STNK dan dokumen lainnya. Lalu gue selipkan surat pada hadiah dompet kunci tersebut, dan sampai saat ini surat gue masih disimpan sama Aboji dan dompetnya pun masih selalu dibawa ke mana-mana 😆✌

Kemudian pada suatu hari, gue iseng kasih Aboji lagunya Jung Eunji berjudul Beautiful Sky -- bercerita soal perasaan anak perempuan untuk seorang ayah 😄 terus nggak lama habis itu Aboji ketawa ðŸĪĢ tapi dari tawanya gue tau kalau Aboji sangat sangat sangat sayang sama gue dan menganggap gue bagian dari keluarganya. Jadi bisa dibilang gue beruntung, ketemu sama keluarga dia yang menerima gue tanpa menuntut gue untuk menjadi luar biasa 😁

Kewarganegaraan

Gue nggak tau ini suka atau duka 🙈 tapi beda kekuatan paspor ini cukup membuat gue susah. Ketika dia bisa melenggang ke negara manapun tanpa harus ribet mengurus visa, here I am still harus urus visa di beberapa kesempatan (mana biayanya cukup mahal) ðŸĪĢ jadi hal ini sempat membuat gue iri sama dia yang paspornya sangat kuat bahkan bisa masuk ke 189 negara dengan mudah, sedangkan paspor gue baru bisa diterima oleh sekitar 80 negara yang artinya setengah dari kekuatan paspor dia 😆 but, gue percaya suatu hari nanti ibu pertiwi bisa sama kuatnya dengan ibu mertua 😍

Karakter

Buat yang bilang gue ini perfeksionis harus tau kalau dia jauuuuuh lebih perfeksionis daripada gueh ðŸĪŠ mungkin karena didikan orang Korea memang semua harus sempurna, jadi buat mereka, menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah keharusan dan itu membuat gue kesal hahaha. Contoh: dia percaya bahwa kesuksesan dia adalah buah dari hasil kerja keras dia, dan nggak ada faktor luck di sana ~ sedangkan gue masih percaya luck, dan garis takdir Tuhan 😆 tapi buat dia, hidup nggak bisa hanya bertumpu pada Tuhan tanpa usaha (betul, karena kita pun diajarkan untuk ikhtiar) meski ikhtiar versi orang Korea ini gue rasa sangat too much ðŸĪŠðŸĪĢ

Alhasil, dia selalu berusaha untuk 'naik kelas' saat gue sudah puas dengan comfort zone yang gue punya 😂 bahkan dia itu masih belajar sampai sekarang karena dia bilang day by day akan selalu ada yang lebih baik kualitasnya dari dia, jadi kalau dia mau menjaga kualitas dia, suka nggak suka, dia harus belajar 🙈ðŸĪĢ apalagi tekhnologi akan terus maju, dunia pun akan terus berputar, kalau dia stuck di tempat, dia nggak akan bisa ke mana-mana 😆😂 dan karena prinsip dia, gue jadi ter-influence untuk menaikkan value yang gue punya karena gue merasa harus bisa seimbang dan sepadan kualitasnya ðŸĪĶ‍♀️
Albeit, pada awalnya gue kesal karena merasa dipukul rata, tapi pada akhirnya gue tau kalau gue harus bawa diri agar nggak dipandang rendah 😎 pertama dengan penampilan, karena orang Korea concern pada penampilan ðŸĪŠ dan gue yang dulunya merasa cantik, (ahem!) ketika berada di Korea langsung merasa mirip cumi ðŸĪĢ plus ke dua tentunya bawa diri dengan upgrade otak agar ketika diajak bicara, gue punya value dan prinsip yang gue pegang 😆 oh dan satu lagi, gue harus punya pekerjaan, karena dengan begitu nggak ada yang berpikir gue cuma menumpang hidup sama dia 😂

RIBET? Begitulah kenyataan yang ada, dan gue nggak bisa menutup mata ðŸĪĢ untung dari dulu gue memang nggak berniat berhenti dari apa yang gue kerjakan termasuk usaha yang gue jalankan. Karena gue bekerja bukan cuma untuk uang, tapi juga untuk aktualisasi diri personal. Apalagi ternyata garis jodoh gue bertemu sama orang-orang yang sangat perfeksionis dengan standar hidup keras 😑 kalau gue nggak berusaha, kemungkinan besar gue akan diinjak. Makanya kadang gue merasa, hidup di Indonesia lebih peaceful dan nyaman ketimbang di Korea (entah kalau di negara lainnya) 😆

Kebiasaan

Ehyuuuu *tarik napas* ðŸĪĢ jadi gue ini termasuk yang nggak begitu suka skinship, bahkan cipika-cipiki sama teman sering membuat gue nggak nyaman. Untung mereka paham kalau gue nggak nyaman jadi mereka nggak pernah memaksa. Dan jenis skinship lainnya seperti cium tangan, sungkeman, endeblabla pun gue nggak suka 😂 tapiiii gue berjodoh sama dia yang suka banget skinship buset daaaah ðŸĪŠ sikit sikit cium pipi, sikit sikit poppo (kiss), sikit sikit pelukan hahahaha. Gue sampai perlu waktu untuk beradaptasi mengenai hal yang satu ini, karena gue memang nggak sebegitunya suka 😆

Dan kebetulan dia tipe orang yang ekspresif dalam mengungkapkan perasaan sedangkan gue nggak ekspresif seperti yang sudah gue ceritakan pada post sebelumnya 🙈 mana in general, banyak orang Korea hobi PDA alias menunjukan rasa cintanya di ruang publik a.k.a nggak tau tempat 😂✌ jadi jangan heran kalau mendadak teman-teman saat ke Korea melihat ada pasangan saling cium pipi di jalan ðŸĪŠ karena itu juga yang dia lakukan. Seriously, kadang saat kami lagi duduk bisa tiba-tiba *cup* mendarat ciuman di pipi begitu saja ðŸĪĢ

---

Terus setelah ditulis ternyata lebih banyak duka daripada suka 😂 however, gue bisa bilang 5 hal di atas nggak 100% duka karena pada akhirnya gue dan dia beradaptasi di sana ~ dari yang tadinya kawatir kalau bahasa bisa jadi penghalang, ternyata bertahun-tahun lewat, kami tetap nggak punya masalah dengan bahasa, dan justru sangat comfortable dengan bahasa yang kami gunakan sekarang 😆👌 dan dari yang tadinya kawatir soal paspor pun pada akhirnya ternyata nggak ada yang perlu dikawatirkan karena selama ini paspor hijau gue tembus di mana-mana meski harus bayar ðŸĪĢ✌

Gue pun merasa perfeksionisnya dia nggak selamanya buruk, karena dari situ gue jadi upgrade diri dan nggak pernah dipandang sebelah mata sama orang-orang di Korea. Meski itu artinya gue harus jaga penampilan, harus sering baca, dan lain sebagainya, tapi gue anggap itu sebagai bentuk mencintai diri gue sendiri juga 😆 toh ketika gue terlihat cantik, gue pula yang akan senang (jangan pada ketawa ya, ini cantik versi gue soalnya ðŸĪŠ) ~ in the end, gue berusaha bukan hanya untuk mereka, tapi untuk kebahagiaan gue dan bagi yang ingin tau apakah gue bahagia? Jelas gue bahagia 😁💕

Meanwhile soal skinship, sekarang gue jadi ikut bucin seperti dia dan khusus hanya ke dia hahahahaha 😂 gue yang dulunya nggak suka digandeng karena gerah, sekarang maunya digandeng terus-terusan (truk gandeng pun lewaaaat) ðŸĪĢ dan gue yang dulunya nggak begitu suka dipeluk, dirangkul, dicium, sekarang jadi suka karena gue sadar itu adalah bentuk rasa sayang dan rasa gemas yang dia punya 🙈 Walau kadang kalau lagi gerah yaaa gue sikut juga anaknyahhh ðŸĪŠ

Nevertheless, pada setiap rasa suka dan duka, mau itu pasangan beda negara, satu negara, satu pulau, satu suku dan lainnya, semua bisa dihadapi asal ada kerjasama dari ke dua belah pihak karena dari buku yang pernah gue baca, si penulisnya bilang kalau dibutuhkan kerjasama untuk menjaga sebuah hubungan dua anak manusia agar bisa bertahan untuk selamanya ~ nggak bisa satu orang saja yang berusaha ketika yang lain hanya menunggu hasilnya. Jadi dari situ gue belajar, kalau akan selalu ada adaptasi-adaptasi baru karena dari awal, gue dan dia berada di ruang yang berbeda, dengan pola asuh orang tua, pendidikan dan karakter yang berbeda 😍

Dan satu quote yang selalu gue pegang dari anonymous adalah, "Every relationship has its own problems. But sometimes what makes it perfect is if we still wanna be together, when thing goes wrong. -------- setiap hubungan punya masalahnya masing-masing, tapi sometimes yang membuat hubungan itu sempurna adalah ketika kita masih mau bersama saat sesuatu berjalan ke arah yang salah." yang artinya, selagi bisa kita usahakan dan perjuangkan, serta nggak melanggar value dan prinsip yang kita punya, nggak ada salahnya untuk tetap ingin berjuang meski banyak masalah menghadang 😁

Semangat untuk kita 😍
A few days ago, there was a request came to me to discuss about the ups and downs when having a different country partner in this case South Korea (I don't know about other country) and I intend to write my ups and downs version solely based on my personal experience 😁✌ so, it can't be generalized because every couples have different ways of living and principles 😆💕 and for those who are curious, let me write down my own ups and downs version one by one ~

Language

This is not big obstacle, because we communicate using English 🙈 and fortunately, I and my man have a decent basic English, means we can understand each other's words 😂 but, even though it's not a big obstacle, it doesn't mean there is no problem, because this language thing sometimes makes me dizzy especially when I unable to express my upset feeling toward him hahahaha. As you guys know, it's best to get angry using our own language, right? ðŸĪŠ

Then why not using Indonesian or Korean? Well, I personally the type of person who doesn't want to please him easily 😂 If I use Korean, he'll be comfortable. And vice versa. As a result we agreed that we should put our efforts together with English language ðŸĪŠ so we can use proper and good words because if we use Indonesian or Korean language, we have no limits in expressing what we feel and we worry it will makes us hurting each other unconsciously ðŸĪĢ

Culture

I once feel anxious about our cultures which is really different, from the culture of eating, to the culture of friendship, seniority, and so on 😁 until one day, I decided to be myself without trying to please any parties, including his parents ðŸĪĢ fortunately his parents are very nice and love me like a biological child maybe because they don't have a daughter 😄💕 so, instead of calling me by my name, Omoni (Mom) called me 'ë”ļ' (read: ttal) which means 'daughter' 😆

Honestly, if I got asked, am I feel nervous with his parents or not? The answer is no 😂 because from the beginning, I stick to my own rules, hahahaha. And because I really love our parents (me and him), so at every opportunity, I try to contact his parents even only to ask, "What are you doing, Mom?" or, "What are you cooking, Mom?" 😄 Omoni (Mom) also occasionally contacts me when I'm busy with, "Have you come home?" or, "What do you eat?" and, "Where are you now?" with many 💕💕💕💕 emoticons -- so much love 😍

Then how about Aboji (Dad)? Hmmm, Aboji is a quiet person, so I feel bad to Omoni when she home alone with Aboji because Aboji rarely talks 😂 but even though Aboji rarely talks, I know Aboji is very nice. I ever gave Aboji a car key wallet to put his vehicle documents, and I tucked the letter inside it. And until now, Aboji still keeping my letter and the wallet is always carried everywhere 😆✌

Talking about Aboji, one day, I just randomly sent a beautiful song for Aboji, it's a Jung Eunji's song called Beautiful Sky which tells about the feelings of a daughter for a father, and it made Aboji laughed ðŸĪĢ from his laughter I know that Aboji is fond of me and thinks of me as a part of his family. So, I could say that I'm lucky because his family accepted me without demanding me to be extraordinary 😁

Citizenship

I don't know it is joy or sorrow 🙈 but the different strength of our passport is enough to make me feel difficult. While he can visit many countries without thinking about visas, here I am still having to take care of visas on several occasions (which are quite expensive) ðŸĪĢ so this one thing sometimes made me jealous of him whose passports are very strong and can enter 189 countries easily, while my passport can be accepted only by 80 countries which means half of him 😆 but, I believe someday my motherland (Indonesia) can be as strong as mother-in-law (South Korea) 😍 amiiiin, hahahahaha.

Character

Those who says I am a perfectionist should know that he is more perfectionist than me ðŸĪŠ maybe because in Korea everything should be perfect, so for them, being the best of the best is a must and it makes me dizzy hahaha. Example: he believes that his success is the result of his hard work, and there is no luck factor there ~ while I still believe in luck, and God's fate 😆 and for him, life cannot just rely on God without effort (right, because we are also taught for endeavor) although this Korean version of endeavor is too much ðŸĪŠðŸĪĢ

As a result, he always tried to 'grow up' when I was satisfied with my comfort zone 😂 he even still learning and study until now because he said, day by day there will always be a better quality person than him, so if he wants to maintain his quality, he should keep learning 🙈ðŸĪĢ especially technology will continue to progress, and the world also will continue to rotate ðŸĪ­ if he is stuck, he will not be able to go anywhere. And because of his principle, it influenced me to increase my values and make my life more balance 😆

Frankly speaking, at first I was annoyed, but in the end I knew that I can't do much beside I need to keep my upbring so nobody will look down on me 😎 first appearance, because Koreans are concerned about appearance and while in the past I used to feel beautiful ðŸĪ­ I immediately felt like squid when I'm in Korea ðŸĪĢ second, with brain and behavior. Yeah, I need to upgrade my brain (knowledges) so that when I talk, I have values ​​and principles that I can hold 😆 oh and one more, I need to have a job hahahahaha 😂

COMPLICATED? That is the reality guys, and I cannot close my eyes ðŸĪĢ fortunately, from the beginning, I didn't intend to stop what I was doing, including the business that I run. Because I work not only for money, but also for personal self-actualization. Moreover, it turns out my 'fate' man is a very perfectionist person with high standards 😑 so if I don't try, there will be a chance, I get stepped on. And it made me think that sometimes live in Indonesia is more comfortable 😆

Habit

Ehyuuuu *inhale* ðŸĪĢ I am one of those who don't really like skinship, even cheek kisses between friends make me uncomfortable. Luckily, they understood that I was uncomfortable so they never forced me. And other types of skinship like hugging, endeblabla, I don't like it 😂 but he likes skinship and because of that, I need a time to adapt 😆

He also the type of person who is good in expressing feelings while I am not as expressive as him 🙈 and in general, Korean often show their love in public spaces which is hard for me to accept 😂✌ so you shouldn't feel surprised, if you see a couple kissing or hugging on the street when you are in Korea ðŸĪŠ he also same. Sometimes when we are sitting outside, he can suddenly land a kiss on my cheek ðŸĪĢ

---

Well, after writing my ups and downs version, it turns out that there are more sorrow in my life (joke!) 😂 However, I could say that the 5 things above are not 100% sorrow because in the end we adapted ~ from when we were worried that language could become a barrier, but after years passed, we still fine and we feel comfortable with the language that we use now 😆👌 and from when we were worried about passport, in the end there was nothing to worry because, I can go everywhere with my passport though I have to pay the visa ðŸĪĢ ✌

I also felt that his perfectionist was not always bad, because I became an upgrade person and never get underestimated by people. Though that means I have to keep up appearances, have to read often, and so on, but I think of it as a form to love myself too 😆 hehehe. After all, when I look beautiful, I'm the one who will be happy ðŸĪŠ and I will always remember that I level up not for the other persons, but for my own happiness. And obviously I'm really happy 😁💕

Meanwhile, regarding skinship, now I became similiar with him 😂 I used to not like being hugged because it was hot, but now I want to get hug everytime ðŸĪĢ and I used to not like getting skinship, now I became like it because I realize that is a form of his affections 🙈💕 though sometimes when it's hot, I may will accidently 'elbow' him ðŸĪŠ

Nonetheless, from each joy and sorrow, no matter where we came from, different country or one country, island, tribe and another, we all can long lasting as long as there is cooperation from both parties because from the book that I've read, the author says, cooperation is needed to maintain a relationship between two persons in order to last forever 😁 so it can't just one person who tries when the others are just waiting for the results. From there I learned, there will always be an adaptation because from the start, we are in a different area, with different parenting patterns, educations and characters 😍

And one quote that I read from anonymous is, "Every relationship has its own problems. But sometimes what makes it perfect is if we still want to be together, when things go wrong." which means, while we can work on it, let's not violate the values ​​and principles that we have, because it will never hurt us if we wanna keep 'fighting' despite many problems confront 😁 so good luck for us 😍

38 comments:

  1. Terima kasih telah membahas ini. Memiliki pasangan yang sebangsa saja, banyak perbedaan yang harus dijembatani. Apalagi kalau pasangannya beda bangsa ya, pasti lebih banyak lagi proses fine tuning yang perlu dilakukan, tak hanya bahasa, adat, tapi juga mungkin sampai ke makanan dan hal hal detail dalam kehidupan sehari-hari.

    Tapi seninya memang disitu kan? Intinya lebih mengenal diri sendiri untuk bisa menerima pasangan dengan lebih terbuka (tssaaah filosofis banget gw).

    Kalau pasangan Indonesia- Korea yang sering saya follow juga adalah Kimbab Family, menarik melihat bagaimana mereka membina keluarga dan memperkenalkan budaya kedua bangsa pada anak anak mereka.

    Again, great sharing from Eno. Thank you

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, dari awal kami tau bedanya banyak banget, jadi yang dihadapi bukan hanya perbedaan karakter saja, tapi sampai ke-beda bahasa, budaya, adat istiadat, aturan, dan lain sebagainya yang kadang membuat pusing di tengah jalan 😆 jadi mau nggak mau, suka nggak suka, kalau ingin diperjuangkan, maka harus siap menghadapi semua perbedaan tersebut dengan lapang dada 😁

      Pada akhirnya, ketika masuk dalam proses penerimaan, kita memang akan belajar untuk lebih mengenal satu sama lainnya termasuk diri kita personal. Jadi tau sejauh mana kita mau berkorban, dan sejauh mana ingin melangkah 😂 untung masa-masa beradaptasi yang cukup berat tersebut sudah lewat 😄 sekarang yang diperlukan adalah upgrade dan menjaga apa yang sudah ada 😆🙌

      Sama-sama mas Cipu terima kasih sudah membaca 😍

      Delete
  2. Cuma bisa bilang .. Hidup #cumi ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ Buktinya si "cumi" bisa merebut hati sang "non cumi"...

    Hahahaha..

    Setiap pernikahan pasti akan selalu ada ups and downs. Boong kalo ada yg bilang nggak..ðŸĪŦðŸĪŦ

    Yg dari satu daerah saja akan selalu melalui masa penyesuaian.

    Bukan perkara mudah mensinkronisasi dua hati, dua kepala, dua kemauan untuk mencapai tujuan akhir bersama..yaitu hidup bahagia.

    Pernikahan langgeng bukan berarti semua akan menjadi "sama", tetapi terbentuknya saling pengertian antara pasangan...

    🙈🙈🙈🙈

    Sekali lagi..Hidup cumiii ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ😇😇😇😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaah ðŸĪĢ saya bilang cumi karena di Korea itu kalau sedang merasa jelek pasti bilangnya mirip gurita atau cumi 😂 kasian si gurita sama si cumi dikatain jelek padahal kalau dimakan enak banget ðŸĪŠ

      Iya mas, memang nggak ada yang sempurna, ya 😆 dan nggak seindah drama ahuahahaha. Karena pasti banyak pahitnya juga ~ that's why kita harus selalu saling menyesuaikan, saling belajar, memahami, mengerti dan menerima 😆 meski kadang susah hahahaha.

      Terima kasih mas Anton atas insightnya, sebagai yang lebih senior, saya belajar banyak dari tulisan dan komentar mas Anton juga mengenai bagaimana menjalani hidup yang baik bersama pasangan 😄 semoga mas Anton selalu langgeng hingga akhir hayat 😍

      All hail to cumi hahahaha ðŸĪĢ

      Delete
    2. huhuuhuh cumi dan gurita itu enyaaakkk banget saayy, kasian dong dibilang jelek padahal dia enyaaaakkk, dan jauh lebih enyak daripada ikan cantik yang banyak durinya hahahaha

      Delete
    3. Hahaha iya mba, memang enak ðŸĪĢ
      Kasian makanya sudah diejek ~
      Maaf ya, mbaaaaa 😆🙏

      Delete
  3. Saya selalu salut sama pasangan yang berbeda. Entah beda suku, budaya, apalagi negara. Karena saya dan suami yang satu suku aja sering bentrok, hahaha. Tapi kembali ke masing2 individunya sih ya dalam menyikapi masalah yang ada.

    Nah, saya juga suka banget ngikutin blog orang yang nikah campur. Seru baca pengalaman2 mereka. Apalagi membaca kehidupan sebagai diaspora yang ternyata nggak mudah, ya. Nggak seindah foto2 mereka di medsos, hehehe.

    Jujur, saya banyak buanget belajar dari tulisan2 mereka termasuk tulisan di blog ini yang kadang pendek dan panjang, tapi renyah kriuk kriuk, hehehe.

    Makasih, Mba Eno untuk sharing pengalamannya. Quotenya akan selalu saya ingat.

    Semoga suatu hari nanti ibu pertiwi bisa sekuat ibu mertuanya Mba Eno.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba, semua kembali pada individunya 😁

      Saya rasa yang namanya bentrok itu nggak akan lihat dari mana asal muasal kita, karena yang satu suku saja bisa saling bentrok sebab cara hidup sebelum dipertemukan sebagai garis jodoh kan sudah pasti berbeda 😆 mau nggak mau harus ada segala bentuk penyesuaian di sana 😍

      Dan sama seperti mba Pipit, saya suka sekali baca blog teman-teman yang mengambil bahasan mengenai kehidupan ~ karena dari sana saya jadi diberi kesempatan untuk belajar 😆 dan saya yakin setiap dari kita sebenarnya punya battle field masing-masing yang perlu dihadapi setiap hari 😄💕

      Hihihi terima kasih mba Pipit atas apresiasinya, blog mba Pipit pun salah satu blog yang saya nantikan update-annya karena saya belajar banyak dari mba 😍 semoga ya mba, Indonesia Raya bisa jaya setara dengan negara-negara maju lainnya 💃 semangat untuk kita ~

      Delete
  4. Kalau marah emang lebih enak pake bahasa indonesia, apalagi kalo sehari hari menggunakan bahasa daerah, lebih lancar, karena kalo marah2 biasanya otak gak mamlu lagi buat translate kata2, jadi kata dari hati langsung ke mulut, tapi kalo gak marah, kata bisa dari hati terus ke otak (ditranslate) kemudian ke mulut. Lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau marah tapi harus translate biasanya jadi lupa ðŸĪĢ akhirnya gagal marah karena otaknya sudah capek duluan hahahahaha. Tapi ada bagusnya, karena kadang hal sepele bisa jadi alasan marah. So, sekarang dipilah-pilah banget mana yang memang perlu diungkapkan dan mana yang sebenarnya bisa di 'let it go' saja 😄

      Delete
  5. Saya jadi tahu budaya Korea seperti apa, bukan cuma dari film saja tapi juga dari mbak Eno langsung yang menikah sama orang Korea.

    Ngomong ngomong baru kali ini foto honeynya agak full mbak, biasanya cuma sepotong saja.😊

    Memang pernikahan beda suku seperti Jawa dan Sunda juga kadang ada perbedaan dari segi budaya, apalagi beda negara Indonesia dan Korea.

    Tapi Alhamdulillah mbak Eno bisa melewati itu semua, dan Alhamdulillah juga mbak Eno disayangi oleh mertua.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, biasanya kalau nggak sepotong, ya dari belakang 😂 eniho, saya tau banget yang berbeda suku pun gejolaknya banyak banget karena beberapa teman saya juga mengalaminya 😁 jadi memang pada siapa pun kita akhirnya melabuhkan hati kita, akan selalu ada adaptasi di sana ~ beda area komplek saja bisa berpengaruh, apalagi beda suku, pulau, dan negara ðŸĪĢ ehehehehe.

      Iya mas, saya beruntung karena bisa melewati itu semua dengan lancar 🙈

      Delete
  6. "Ibu pertiwi bisa sama kuatnya dengan ibu mertua" auto ngakak baca quote ini Mbak. Haha.

    Jangankan dengan orang luar negeri, kadang dengan orang Indonesia sendiri, ada kebiasaan, budaya dan tradisi daerah asal yang harus kita hargai untuk membina hubungan yang baik. Itu belum termasuk sikap dan sifat pribadi yang bersangkutan yang mau tak mau kita harus terima satu sama lain.

    Bahagia selalu ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu harapan saya mas ðŸĪĢ semoga suatu hari nanti tercapai 🙈 ehehehe. Iya betul, bahkan untuk sesama orang Indonesia pun butuh penyesuaian agar bisa saling menerima satu sama lainnya, dan tentu butuh waktu untuk pada akhirnya bisa make a peace 😁 nama pun memutuskan hidup selamanya dengan seseorang, yang mungkin punya pola gaya hidup berbeda dari kita 😂

      Bahagia selalu untuk mas sekeluarga juga, ya 😍

      Delete
  7. menarik, aku sebenernya penasaran dari kemarin bagaimana rasanya mbak Eno tinggal di sana dan seperti apa perlakuannya? tapi takut gak sopan wkwk.. tapi di sini udah diceritain sekelumit kisahnya.. at least di keluarga suami mbak, mereka menerima kehadiran mbak dengan cinta dan kasih sayang :D

    aku udah sering juga baca tentang rasisnya orang Korea sama orang-orang Asia Tenggara.. Seperti yang mbak sebutkan di atas yang mereka suka ngira kalau Asean tu yaa masih hutan belukar semua, masih primitif.. Bahasan terbaru kmrin2 baca di salah satu thread di twitter yang ngebahas rasisnya orang Korea.. Aku pun dulu pernah liat social experiment orang indo dan org bule buat tau serasis apa korea sama org asean dibanding sama bule, dan yaa bisa ditebak lah,, walau katanya sih sama bule pun kadang rasis juga ya? tapi kabar baiknya itu kebanyakan ahjumma dan ahjussi, sedangkan generasi mudanya sudah mulai ke arah open minded..

    satu lagi, semoga paspor ijo suatu saat sama kuat dengan paspor2 negara maju aamiin..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pribadi so far belum pernah mendapatkan perlakuan nggak menyenangkan mas selama di Korea, dan meski saya cukup sering ke pasar tradisional, halmoni dan para ajummanya baik-baik ke saya ~ 😁 tapi saya tau, di luar sana akan selalu ada orang rasis (nggak hanya di Korea), jadi tinggal bagaimana cara saya bersikap dalam menghadapi mereka dan saya harus berusaha membawa diri saya sesuai pada tempatnya 😎

      Rasisnya orang Korea sama orang Asia Tenggara itu sudah terkenal di mana-mana, sebenarnya orang barat pun ada yang kena rasis juga sampai mereka nggak betah dan balik ke negaranya 😂 tapi saya berpikir, rasis itu ulah oknum, dan nggak hanya terjadi di Korea, bahkan di Indonesia pun ada. Dan Korea juga sering banget jadi korban rasis di negara luar 😅 jadi memang si rasis ini berputar di mana-mana. Dari situ saya belajar, daripada pusing memikirkan kenapa mereka rasis, lebih baik saya fokus mencari cara untuk menghadapi ketika rasisme terjadi di hadapan saya 😎 kadang kita terlalu fokus mencari penyebab kenapanya, sampai lupa cari solusinya 😆

      Hehehehe, amiiiiin semoga suatu hari nanti paspor Indonesia minimal bisa tembus Schengen seperti harapan orang banyak di luar sana 😍 karena sebenarnya rate ilegal working Indonesian di negara Eropa terbilang sangat kecil, jadi seharusnya masih bisa dipertimbangkan 🙈✌

      Delete
  8. Aduh si ibu pertiwi dan ibu mertua dibawa-bawa lagi di sini ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ

    Aku paling senang deh kalau Mba Eno share tentang hubungan dengan si kesayangan seperti ini. Mengingatkan aku kalau setiap hubungan itu unik 😊

    Dan setuju banget dengan statement terakhir, asalkan tetap berjalan bersama semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Namanya pernikahan memang butuh efforts terus-terusan. Apalagi setelah punya anak, cari waktu berduaan itu butuh perjuangan baaaanget! *lah curhat 😂* Karena sekarang anak udah sekolah, suami jadi suka colongan waktu di sela-sela kerjaannya untuk ngajakin lunch bareng di luar, atau nemenin grocery. Gitu aja udah senang hihi

    Tentang skinship, kok kita sama sih? Waktu aku dan suami tes love language, ternyata bahasa cinta tertinggi kedua suami itu "touch" alias sukanya sentuhan hahaha akunya kadang yang masih risih kalo tetiba suami PDA di depan umum. Cuma lama-lama aku belajar untuk menerima (dan memberi) juga sih. Saking jarangnya aku skinship ke suami di depan umum, kalo tetiba aku gelendotan ke dia, langsung dikomen "KOK TUMBEN KAMU?" upsss 😆

    Terima kasih udah berbagi pengalamannya yaa, Mba Eno. Semoga cap paspor dengan si dia makin banyaak setelah ini dan YESS... ibu pertiwi harus bisa menyusul ibu mertua! ðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. ðŸĪĢðŸĪĢ berharap banget saya mba, ibu pertiwi bisa sekuat ibu mertua minimal setara sama-sama maju di mata dunia 😍

      Saya juga selalu suka baca tulisan teman-teman mengenai hubungan entah ke pasangan, ke orang tua, ke anak, teman dan sebagainya. Karena saya bisa belajar banyak setiap orang itu punya cara yang berbeda dalam menjalani hubungan yang dipunya 😎 dan nggak ada yang sepenuhnya mutlak benar, karena kita punya versi 'benarnya' masing-masing 😆

      Awww so sweettt hihi, saya jadi membayangkan scene di drama, waktu pasangan mba Jane colongan ajak makan siang bareng di luar terus mba Jane dengan semangatnya pilah-pilih mau pakai baju apa sambil senyam senyum di depan kaca hahaahahahaha ðŸĪĢ

      Nah itu mba, saya memang kebanyakan menerima dan jarang banget memberi soal skinship dulunya ~ berasa gerah saja entah kenapa kalau ketempelan terus 😂 tapi itu hanya terjadi di awal awal. Setelahnya saya juga jadi ikut-ikutan karena saya tau ternyata love language-nya dia memang 'touch' seperti pasangan mba 😎 jadi kalau dipeluk, cium, gandeng gitu gitu dianya berasa disayang banget hahahahaha ðŸĪĢ unik banget, yaa ~

      Sama-sama mba, semangat! 💃💕

      Delete
  9. 😂 Disini pun sama mba, di rumah kan kalo ngomong ke anak ato suami suka pake bahasa indo tapi kalo lagi kesel, keluar semua bahasa ibukota ðŸĪĢ (meskipun bahasanya hanya beda-beda tipis) 😂

    Jadi pengen juga punya mertua seperti mertuanya mba eno (maksudnya?)😂

    Sebenernya punya pasangan yang lebih itu malah lebih bagus mba, apalagi kalo soal lebih "perfectionist", setidaknya kita bisa belajar jadi lebih baik lagi, ada panutan yang bisa diandalkan. Ketimbang kalo kita yang lebih, yah kagak enak, masak istri yang jadi Imam, timpang iya.😂

    Ish, mba. Kebiasaan PDA ke pasangan itu mah idaman banyak wanita itu mah, beruntungnya mba eno 😍

    Iya, quote nya itu emang bener-bener mengambarkan apa sebenernya truelove itu, meskipun berantem atau ada cekcok dengan pasangan tapi niatnya itu untuk kebahagiaan berdua, karena tujuannya untuk memperbaiki hubungan agar langgeng selama-lamanya, bukan berantem untuk pisah atau meninggalkan. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar lebih plong ya, mba? ðŸĪĢ

      Ehehehe, iya mba ada enaknya jadi kita dapat guide ke arah yang lebih baik untuk kebaikan kita, meski kadang kalau too much buat kesal juga hahahaha. Sebenarnya saya tau kenapa dia perfeksionis begitu, karena persaingan di Korea memang sengit, lengah sedikit pasti ketinggalan 😂 jadi selama dia melakukan itu untuk kebaikan dia, saya akan support karena kebaikan dia akan jadi kebaikan saya juga 🙈

      Eniho, PDA itu kadang kalau nggak tau tempat suka buat nggak nyaman, mba 😅 tapi sekarang saya sudah lebih bisa menerima, mungkin memang kulturnya. Masa-masa shock dan nggak nyaman saya sudah lewat dan berganti dengan masa-masa menerima serta menikmatinya 😂

      Setuju sama mba Rini, pada akhirnya tujuan dari sebuah perjuangan adalah memperbaiki, menjaga, dan agar apabila memang masih bisa bertahan maka dipertahankan. Dengan catatan selama masih sesuai value dan prinsip yang kita pegang. Semoga kita bisa selalu hidup rukun, damai dan tenang, ya mba 😍

      Delete
  10. Lah gw aja yang nikah sama sesama orang Indonesia suka miskom. Bini gw kadang suka pake bahasa jawa timuran (dia orang jawa timur). Nah gw suka gak ngerti dengan bahasa jawa dia, wkwkwkwk. Padahal gw orang jawa juga. Cuman emak gw kan orang solo, ngajarin anaknya pake bahasa jawa solo yang halusssss bangettt. Tapi seru aja sih, jadi tebak-tebakan sama istri.

    Apalagi elu mbak. Nikah sama orang asing, apa gak sering miskom tuh? Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies

    1. Ahahaha yang sama-sama Jawa pun bisa miskom ya, mas, apalagi yang beda negara ðŸĪĢ tapi salah satu sohib saya (juga sohib dia) yang kebetulan menikah sama pasangannya yang mana cuma beda komplek doang (teman kecil) saja sering miskom 😂 dia sampai bilang ke saya, "Lha elu beda negara miskom wajar, gue pun yang beda komplek sering miskom kok gara-gara kultur kompleknya beda." ðŸĪŠ hahahaha.

      Dan itu betul adanya, dengan siapa kita tumbuh, bagaimana lingkungan kita tumbuh, itu sangat mempengaruhi karakter kita 🙈

      Delete
  11. Wah seru juga cerita kisah mbak Eno ya 😊, banyaknya perbedaan ga musti bikin puyeng yaa kalo dilakukan atas dasar kesadaran dan cinta, cie" 😍,sama" orang Indonesia jg kadang msh bnyk perbedaannya ya mbak, btw kenapa nherasa seperti cumi mbak ? Bukankah tinta cumi itu jusrtu lezat, bahkan banyak orang bule aja suka dengan ke eksotisan kulit wanita Indonesia yak... Mungkin di korea sana justru jadi daya tarik looh.... Btw apa iya tah mbak katanya kalo usia 17 th di korea itu hadiah ultahnya udh bisa oplas makanya jadi cantik dan guanteng, pernah baca sih, tapi ga tau hoax apa enggak 😁,semoga happy selalu ama Lee min hoo nya yaak... Eeeh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iya mba Hen, seharusnya nggak buat puyeng kalau dipersiapkan dengan matang agar nggak puyeng ðŸĪĢ jadi tau apa yang harus dilakukan ketika hal yang buat puyeng datang 🙈 ehehehehe. Dan saya pun masih terus belajar mba, karena akan selalu ada hal-hal baru yang belum kelihatan sebelumnya. Macam membuka lapisan bawang bombay saja ðŸĪŠ

      Ohya soal cumi itu bukan karena tinta hitam (atau kulit hitam) mba 😁 jadi di Korea, yang merasa nggak cantik sering menganggap dirinya mirip Squid alias Cumi atau Octopus alias Gurita ðŸĪĢ so nggak berhubungan sama warna kulit mbaaa. Maaf ya, jangan salah paham maksud saya bukan itu kok hehehehehe 🙈

      Kalau soal usia 17 dapat hadiah oplas itu sih tergantung anaknya, mba ðŸĪĢ karena orang tuanya nggak pernah menawarkan atau memberikan, tapi kalau anaknya meminta dan orang tuanya mampu ya diberikan 😁 jadi nggak semua anak 17 dapat hadiah oplas 😄 dan di Korea banyak juga yang alami daripada yang oplas. Hehehe, cuma karena terkenal sebagai salah satu negara dengan oplas terbaik makanya jadi pada beranggapan kalau semua orang Korea oplas. Padahal kenyataannya nggak kok, mba. Banyak yang memang sudah cantik dari sananya, mungkin karena genetiknya memang bagus 😎

      Terima kasih mba Heni, happy terus juga ya mba sama Lee Min Ho-nya mba Heni 😍😍😍😍

      Delete
  12. Serunya emang di penyesuaiannya itu ya, Mbak? Karena tiap orang dibesarkan di kultur yang beda, dari mulai keluarga sampai komunitas negaranya, jadi wajar aja kalau harus saling menyesuaikan. Kayak puzzle. :)

    Tapi, ya, kayanya tetep perlu common language. Menurut saya, gimanapun sekali-sekali tetep perlu pembicaraan yang dalam, yang perlu diekspresikan secara verbal. Mungkin bisa aja pengertiannya terbangun dari gesture atau ekspresi, tapi kayaknya akan lebih mudah kalau dibantu kata-kata.

    Serial Moonlight ini lama-lama makin seru, Mbak! Ditunggu terus cerita-ceritanya, ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho'oh mas, penyesuaian itu seru, tapi harus tetap hati-hati karena salah salah nanti jadi menyakiti satu sama lain ðŸĪĢ hahahaha pengalaman soalnya, sampai kadang kesal karena ternyata semakin ditilik, semakin sadar kalau berbeda. Meski sebenarnya kesamaannya juga banyak, tapi perbedaannya pun nggak kalah buanyaaaaak 🙈

      Betul, common language itu perlu, biar komunikasi juga lebih gampang 😆 karena bagaimana pun juga kita perlu berkomunikasi setiap saat. Jadi kalau nggak punya common language bisa susah ðŸĪĢ makanya daripada menggunakan bahasa Indonesia / Korea yang satu sama lainnya kurang menguasai dengan baik dan benar, kami putuskan pakai bahasa Inggris agar sama-sama mudah berbicara. Namun meski begitu, tetap ada salah paham, hahahaha ðŸĪŠ

      Terima kasih mas 🙈🙌

      Delete
  13. Wah, kak. Gue malah suka skinship, jadi gue iri dengan budaya cowok-cowok Korea yang biasa-biasa aja skinship. Di sini? Langsung diteriaki homo :((

    Anw dari drama dan film, salah satu budaya Korea yang bikin gue gregetan adalah senioritas dan hukuman fisik. Ketika infrastruktur mereka sudah maju, menurut gue sayang masih ada senioritas yang sangat kuat. I mean, gue setuju harus sopan sama yang lebih tua, tapi di Korea kayak yang haus pengakuan gitu. Yang kamu alami gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iya kalau di Indonesia skinship sesama cowok langsung diteriakin ya 😁 kalau di Korea sesama sahabat sudah biasa mereka saling peluk atau rangkul ðŸĪĢ kultur yang sangat berbeda dengan negara kita tapi saya justru suka kultur Indonesia karena saya notabene memang nggak begitu suka skinship sama orang (kecuali pasangan) 😎

      Senioritas di Korea memang parah, itu kultur sudah mendarah daging, akan sulit sepertinya untuk pudar, karena kultur itu juga, pertemanan orang Korea terbatas (sebab yang dianggap Chinggu alias teman kan yang memang seumuran) while yang lebih tua atau muda meski bisa berteman juga tapi ada gap di antaranya 😁 that's why, circle pertemanan mereka terbatas ~ hehe.

      Saya pribadi hargai kultur mereka, sama yang lebih tua saya berusaha respect, tapi mereka pun juga respect sama saya karena saya foreigner jadi mereka dan saya saling paham kalau kultur kita berbeda. Dan dari pengalaman saya, di circle saya, senioritasnya nggak begitu terasa mungkin karena partners saya mostly sudah kesiram kultur asing, jadi mereka beradaptasi dan nggak terlalu keras atau berharap diakui sebagai senior ðŸĪĢ

      Lagipula senioritas ada banyak skalanya mas, ada yang dari umur, ada yang dari pengalaman, ada yang dari tahun kuliah, ada yang dari tahun masuk army, jadi kadang yang lebih muda tapi jadi senior di-realitanya ada ðŸĪ­

      Delete
  14. dengan perbedaan inilah bisa belajar memahami satu sama lain, belajar perbedaan adat negara lain juga.
    dan jadi tau budaya budaya yang mungkin buat orang indo bisa jadi hal tabu awalnya
    senengnya kalo punya keluarga mertua yang care kayak gini ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi betul mba, sama-sama belajar menerima perbedaan 😍

      Delete
  15. hahahaha, saya ke skip postingan ngakak ini deh, ibu pertiwiiii, kau pasti akan sehebat ibu mertua hahahaha.

    btw saya udah bisa nebak dari awal-awal, kalau si dia pasti lebih perfeksionis saaay.
    Kalau saya lihat-lihat, kebanyakan lelaki setia, nggak aneh-aneh, hidupnya lurus-lurus itu ya pasti perfeksionis.

    Dan beruntung banget kalau mereka dapat wanita yang perfek juga.
    Meski kadarnya mungkin lebih rendah dari perfek yang mereka anut hahaha

    btw kita agak beda nih di masalah skinship.
    Saya dong dulunya ampuunn bikin kesal.

    Saya grogi jalan sendiri, hanya karena nggak ada yang bisa saya gandeng.
    Jadi saya tuh harus jalan sambil menggandeng orang.

    Selain grogi, saya juga memang agak loyo kali yak, kesenggol dikit jatuh, makanya butuh gandengan.

    Dan saya masih ingat, sampai saya pertama kali kuliah, belum punya pacar, bahkan teman laki juga saya pegang entah itu bahunya, lengannyaaa..

    Sungguh kuganjeeenn hahahaha.

    Tapi beneran buat pegangan sih, sama sekali nggak ada maksud lain, sampai beberapa teman laki jadi salah sangka :D

    Nantilah setelah saya berhijab, waktu itu menjelang lulus kuliah, entah mengapa saya jadi bisa ngontrol nggak mau bersentuhan sama laki, tapi teteeepp butuh gandengan, makanya saya suka kalau jalan sama teman cewek :D

    Dan sekarang setelah punya anak, saya hepi banget karena ke mana-mana, saya punya pegangan, padahal ya bukan saya yang butuh pegangan, anak-anak juga.

    Makanya ya Tuhan tunjukin saya jadi mamak jaga anak, memang saya butuh itu jauh lebih butuh ketimbang saya kerja di luar hahaha

    Oh ya, tapi bukan cipika cipiki sih, kalau cipika cipiki, saya juga jujur kurang sreg bahkan sama teman cewek.

    Kalau salim, saya terbiasa di Jawa selalu salim, hanya tetep nggak nyaman bersetuhan dengan laki-laki, meski kalau ketemu teman akrab masih kadang kecolongan hahahaha.

    eniwei, salut banget dengan perjuangan Eno, saya tahu tidak serta merta bisa beradaptasi tuh.
    Saya aja punya pasangan beda pulau, cukup shock dan sampai sekarang masih kagok hahaha.
    Apalagi beda negara.

    Btw, kapan-kapan bahas senioritas di Korea dong, saya suka banget liat drakor di mana orang sana itu sangat menghormati orang yang usianya di atasnya ya.

    Cuman kadang nganga juga orang yang usianya lebih tua suka mukul kepala yang lebih muda, itu beneran kah atau cuman di drakor? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin mba, semoga bisa 😍

      Wahahaha mba skinship karena butuh pegangan rupanya ðŸĪĢ makesense kalau ini meski membuat beberapa manteman cowok mba jadi salah paham dulunya 😆 mungkin yang ada rasa sama mba Rey pun jadi ke-GR-an 😂

      Iya mba, saya pun nggak sreg cipika-cipiki even sama saudara. Hahahaha. Dan cium tangan sama bapak-bapak juga saya nggak sreg. Biasanya saya cipika-cipiki sama ibu saya saja karena ibu suka mencium pipi saya dari jaman saya bocah, setiap berangkat sekolah pasti dicium pipinyah. Nah kalau cium tangan cuma sama ayah 🙈 kalau sama om-om atau guru sekolah begitu biasanya saya hanya letakkan tangan mereka di jidat ðŸĪĢ

      Siap mba pankapan saya bahas, materinya agak berat yang begini begini makanya jarang saya bahas 😂 karena menyusun tulisannya bisa lama dibanding tulisan receh lainnya hahahahahaha ðŸĪŠ

      Delete
    2. hahahaha iyaaa, saya bahkan ke mertua hanya tempelin tangan ke jidat, sampai si kakak diajarin salim yang bener yaitu mencium tangan.

      Tapi risih sih ya, biasanya kalau mau salim sama mertua, ya jangan sampai keliatan si kakak biar nggak diprotes hahaha

      Delete
    3. Kalau nggak terbiasa memang jadi serba salah mba 😆 untungnya selama ini saya nggak pernah dipaksa cium tangan dan semua oke oke saja saya pakai jidat ðŸĪ­

      Delete
  16. Oemjii aku kok baru baca tulisan ini sih, telat banget 😂 padahal tulisannya fun banget buat dibaca!

    Jadi, oppa korea yang di drama yang suka romantis-romantisan ke cewek di depan umum bukan hanya di drama saja ya?! Ternyata real life juga gitu ya 😂

    Suka sekali bacanya! Jadi bisa tau sudut pandang baru tentang pasangan yang beda budaya gini. Terima kasih ceritanya lho kak eno ðŸĪ—

    Anyway, pasangan kakak tipikal orang korea yang makannya berisik nggak? Kalau iya, pas pertama risih nggak kak? Secara kalau di indo kan makan nggak boleh berisik "ciap-ciap" katanya kayak anak ayam kalau makannya berisik 🙃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola Lia, jauh amat mainnya sampai ke post ini 😂

      Kalau soal itu nggak semua romantis, tapi nggak semua bejat juga 😁 hehehe. Sama kayak mas-mas Indonesia, dan abang-abang bule, ada yang romantis dan baik, ada juga yang suka nackal 😅 jadi kitanya yang harus pintar-pintar memilih pasangan, sambil terus upgrade diri kita agar bisa sepadan 😉

      Eniwei, pasangan kakak bukan tipe yang berisik kalau makan hahahaha. Kalem banget untungnya, mirip sama adat kita yang kalau makan harus tutup mulutnya 😁 even saat makan ramyeon juga bukan tipe yang harus bersuara saat menyeruputnya. Hehehe ~ jadi kakak nggak sampai tahap risih karena nggak pernah lihat langsung dia begitu. However, some of Korean partners kakak ada yang makannya berisik hihi. Kalau sudah begitu, kakak hanya bisa maklum namapun beda culture 😎

      Delete
    2. Nyasar aku ke sini 😆

      Aww, so lucky you are kak! Dapat yang baik, romantis dan untung makannya anteng huahahaha.

      Longlast ya kak Eno dengan oppa kesayangannya 💕

      Delete
    3. Terima kasih Lia, hopefully Lia juga bisa dapat pasangan terbaik versi Lia, yaaah 😍💕 and happily ever after ~

      Delete