Became a Host #2 | CREAMENO

Pages

Became a Host #2


Ketika tau kalau gue akan mulai usaha AIRBNB, yang gue kawatirkan bukan lagi sebatas berapa banyak profit yang kelak gue dapatkan. Tapi, gue juga kawatir soal taraf hidup para staff yang kebanyakan bersinggungan dengan tugas berat seperti kebersihan, urus tanaman (taman), keamanan dan most of them, nggak punya edukasi lengkap perihal mengelola keuangan 🙈 kenapa gue kawatir dengan taraf hidup mereka? Karena gue ingin siapapun yang bekerja sama gue dan team, harus level up kualitas hidupnya. Jangan sampai, mereka kerja membanting tulang, peras keringat, pagi siang sore malam, tapi uangnya hanya sekedar lewat dan habis tak bersisa 😎

Apalagi, para mas dan mba ini berlatar belakang pendidikan rendah pada awalnya, means mereka kurang informasi plus pengalaman dan gue kawatir kalau mereka nggak dapat edukasi soal keuangan, nanti uang gaji mereka nggak bisa ditabung apalagi diinvestasikan 😆 dari situ, gue dan team menyusun program khusus untuk para mas dan mba, agar mereka TERBIASA mengelola uang mereka dengan benar. Well, meski tentunya, nggak mudah untuk mulai kebiasaan berbeda dari kebiasaan mereka sebelumnya. Apalagi kalau mereka sandwich generation yang menanggung hidup orang tua 😄

So within this post, gue mau berbagi sample bagaimana gue dan team membuat program alokasi keuangan dengan contoh alokasi untuk mba yang gue ceritakan sebelumnya 😎 first thing first, gue minta mba list hutang, dan kebutuhan apa saja yang biasa mba keluarkan setiap bulan plus wishlist yang mba inginkan. Dari data tersebut, gue dan team membentuk budget bulanan untuk mba ðŸĪ­ dan budget bulanan tersebut sungguh sangat sederhana, thanks to internal gue yang galak (wew!) jadi mau nggak mau, suka nggak suka, mba harus ikuti budget yang ada untuk dua tahun pertama 😂

Dari awal mba setuju untuk kerja sama gue, mba bukan cuma setuju untuk mendedikasikan waktunya pada pekerjaan yang ada 😍 tapi juga setuju untuk belajar mengubah pola hidupnya, karena gue dan team percaya bahwa takdir merupakan jalan Tuhan tapi nasib tetap bisa diubah 🙈 jadi gue ingin, bukan status mba saja yang berubah dari pekerja cleaning musiman jadi pegawai tetap, tapi juga isi tabungan, pola hidup serta kebiasaan mba berubah. So, ketika suatu hari nanti mba memilih berhenti kerja, seenggaknya ada ilmu dan manfaat yang mba dapat untuk melanjutkan hidupnya (bukan semata dapat uang belaka meski uang yang utama) 😆✌


Dari penjabaran alokasi di foto atas, terlihat jelas kalau pengeluaran mba untuk kebutuhan sebetulnya sederhana asal nggak foya-foya, that's why gue dan team buatkan budget terbatas agar mba tau yang utama dalam hidup itu nggak banyak 😁 ditambah keinginan mba itu punya motor agar mudah ke mana-mana, jadi mba harus mengikuti budget plan yang ada agar bisa membeli motor yang diinginkan 😍 dimana gue dan team bersedia menjadi sponsor mba dengan catatan cicilan lunas dalam waktu 18 bulan 😂✌ itu artinya, setiap bulan, mba cicilan Rp 1.000.000 dari gajinya yang mana langsung dipotong uangnya dan langsung disalurkan untuk pembayaran cicilan ðŸĪ­

Lebih strict lagi, para mas dan mba dibuatkan rekening tabungan anak yang nggak bisa ditarik semaunya (tanpa kartu ATM), lantas sisa uang gaji yang Rp 1.000.000 itu dikirim langsung setiap jadwal gajian ke rekening anak dan nggak bisa diganggu gugat ðŸĪĢ seriously, gue dan team 'sekeras' itu, karena kalau nggak begitu, dijamin uang mereka lewat entah ke mana 😎 karena semakin besar pemasukan, biasanya akan semakin besar pula pengeluaran atau gaya hidupnya *hukum alam* 🙈 So, gue nggak mau para mba dan mas menyiakan uang yang sudah mereka dapat dengan susah payah.

---

Eniho, sedikit penjelasan dari alokasi keuangan mba di atas. Kenapa makan cuma Rp 1.000.000? Memangnya cukup? Nah, angka segitu sebenarnya mba sendiri yang memutuskan. Berhubung makan pagi dan siang ambil dari villa, jadi mba hanya perlu siapkan dana untuk makan malam atau jajan anaknya yang mana biasanya anaknya juga nggak dikasih jajan banyak 😆 mba sendiri alokasikan Rp 30.000/hari untuk makan yang menurut gue cukup kalau masak sendiri di rumah ehehehehe. Dan biaya emergency Rp 200.000 itu biasa digunakan mba sedekah, atau kalau sedang ingin beli perintilan seperti sampo dan teman-temannya, plus bisa juga untuk beli skincare 😁

Then, kalau dapat bonus uangnya ke mana? 😆 berhubung bonus itu penerapannya berdasarkan jumlah reservasi bulanan, jadi kalau full reservasi means mereka akan dapat bonus Rp 1.500.000 (30 hari x Rp 50.000/harinya) 😄 biasanya uang bonus ini dimasukkan ke rekening DANA DARURAT mereka karena gue dan team bilang kalau mereka harus punya Rp 30.000.000 untuk makesure keluarga mereka aman 😆 jadi fokus mereka dua tahun pertama lebih ke arah mengubah kebiasaan dalam penggunaan uang. Baru nanti setelah dua tahun boleh dapat budget belanja meski tetap terbatas 😂

Setelah cicilan motor lunas, uang yang tadinya dialokasikan untuk cicilan motor digunakan untuk menyelesaikan Dana Darurat 😁👌 kalau Dana Darurat sudah selesai, baru uangnya bisa dialokasikan ke kebutuhan lain seperti pendidikan anak, beli rumah, dan goal-goal berikutnya. Begitu pula dengan cicilan hutang, apabila sudah lunas bisa digunakan untuk yang lain, misal memberikan pada orang tua (sandwich generation) atau menambah alokasi goal yang diinginkan. Pada intinya, mereka boleh konsumtif tapi harus terarah 😁 itu yang ditekankan, yang mana dalam prosesnya nggak mudah ðŸĪĢ

Kenapa nggak mudah? Karena mereka bilang tangannya gatal kalau lihat uang, selalu ingin membelanjakan 😂 ini sih permasalahan gue juga yang nggak bisa diam kalau lihat yang lucuk-lucuk bawaannya mau belanja ðŸĪŠ dan gue tau susahnya untuk menahan hasrat nggak menghambur-hamburkan 🙈 so, ketika akhirnya para mas dan mba berhasil mengumpulkan 10 juta pertama mereka dalam kurun waktu beberapa bulan, biasanya gue sama team langsung kasih selamat 😁 karena susah banget mengubah pola pikir para mas dan mba, yang terkadang berani secara diam-diam ambil uang tabungan anaknya dan ketauan waktu kena random check sama internal ðŸĪĢ

Kalau sudah begitu biasanya akan dipanggil untuk ditanya, uangnya ke mana, dan mostly jawabannya kesedot untuk kirim ke orang tua 🙈ðŸĪĢ jadi kebanyakan orang tua para mas dan mba ini ketika tau anaknya kerja tetap, mereka jadi merasa kalau anak-anak mereka (para mas dan mba ini) sudah kaya raya (duh!). Ini PR buat gue dan team untuk nggak cuma mengajarkan pengelolaan uang ke para mas dan mba, tapi juga secara nggak langsung mengajarkan kebiasaan penggunaan uang sampai ke akar-akarnya ðŸĪŠ alhasil, para orang tua mereka diberikan jatah bertahap mingguan. Dari yang awalnya para orang tua berpikir kalau, "Bosmu kok galak banget." pelan-pelan jadi paham kalau si bos galak juga ada alasannya 😂

---

Well, jujur, buat gue, berhasil itu nggak semata-mata saat gue dapat profit banyak dari usaha yang gue jalankan. Karena bagi gue, berhasil itu apabila yang profit bukan cuma gue dan team tapi para mba dan mas yang juga bekerja di dalam usaha yang ada. Gue akan merasa gagal kalau para mba dan mas tetap hidup kekurangan meski sudah bekerja tetap 🙈 jadi gue berpikir, tugas gue dan team bukan cuma sekedar memberikan mereka gaji dan pekerjaan (that's it!), tapi tugas gue dan team juga memastikan bahwa mereka bisa hidup layak dan level up bukan hanya dari segi pemasukan, tapi juga level up dari bagaimana mereka mengatur uang yang mereka punya 😄

Karena dengan mereka level up, itu akan mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan mereka, yang ke depannya semoga bisa membentuk pribadi anak mereka agar jadi generasi penerus yang nggak hanya pintar cari uang tapi juga pintar dalam kelola uang yang didapat. Plus tentunya dengan pola hidup berubah, anak mereka akan memiliki hidup lebih baik dari sebelumnya. Dan harapan gue tentunya, anak mereka nggak akan jadi sandwich generation yang menopang hidup mereka, that's why, gue ingin mereka yang nggak mendapat privilege dalam bentuk edukasi keuangan bisa tetap survive di dunia yang keras walau hanya belajar dari gue dan team selama bekerja 😍

Gue pun ingin para mas dan mba paham bahwa anak-anak mereka yang sekarang balita itu dalam kurun waktu 12 tahun akan duduk di bangku kuliah. Mereka yang sudah kerja sama gue bertahun-tahun pun tanpa sadar sudah bekerja selama itu, jadi gue ingin mereka tau kalau 12 tahun adalah waktu yang sebentar 😆 kalau nggak dimulai secepatnya untuk kelola keuangan mereka, maka mereka akan sulit mengantar anak mereka ke bangku pendidikan tinggi sesuai harapan 😎 gue dan team juga selalu tekankan kalau bekal terbaik seorang anak adalah pendidikan, jadi apabila memungkinkan, berikanlah anak pendidikan terbaik yang mereka bisa 🙈

Luckily, sampai saat gue menulis post ini, belum ada satu pun mas dan mba yang resign setelah ribuan kali mendengar gue dan team mengeluarkan kalimat yang sama macam kaset rusak hahahaha ðŸĪŠ semoga mereka nggak mengumpat gue dan team di belakang ðŸĪĢ✌ karena biar bagaimana juga, gue dan team melakukan ini demi masa depan para mas dan mba, dan karena gue dan team sayang sama para mas dan mba ðŸĪ­ðŸ’• jadi gue sama team mau kita semua kaya bersama-sama hahahahaha. Buat gue dan team, mas-mas dan mba-mba itu bukan cuma staff tapi juga keluarga dan keluarga itu harus saling menopang agar nggak ada satupun yang ketinggalan 😁✌

---

EXPERIENCE ini gue bagi, karena usaha gue yang ini agak berbeda dengan usaha gue lainnya. Kenapa berbeda? Karena pada usaha ini, gue lebih sering diketemukan sama para mas dan mba yang seperti gue tuliskan di atas (kurang edukasi keuangan, kurang pengalaman, dan mostly lulusan SMP bahkan Sekolah Dasar). Mereka ini adalah orang-orang yang mungkin nggak pernah mendapat privilege dalam hidup mereka especially soal bagaimana mengelola uang jadi setiap kali punya uang akan habis nggak bersisa 😁 so, gue berharap ketika mereka mendedikasikan waktu untuk usaha gue, mereka bisa mulai mendapatkan privilege secara perlahan 😍

Penerapan ini bisa diberlakukan oleh teman-teman yang memiliki usaha kecil dan staff (even cuma satu orang) yang mungkin belum paham bagaimana mengalokasikan uang yang dipunya 😁 karena buat gue, mengedukasi staff itu juga bagian dari tugas kita, apalagi kalau kita secara jelas tau bahwasanya staff kita nggak punya ilmu pengelolaan uang maupun pengubahan kebiasaan 😄 dan menurut gue, kewajiban kita itu bukan cuma memberi mereka gaji dan kerja, tapi juga memberi mereka edukasi agar mereka bisa level up sama-sama dengan kita sebagai leader-nya 😁 together we can.

Jangan sampai yang peaceful hidupnya cuma kita, while staff kita hidup susah meski bekerja ~ karena kalau hidup mereka susah, itu akan mempengaruhi kinerja mereka pada akhirnya 🙈 makanya, gue pikir level up taraf hidup, pola pikir, dan kebiasaan mereka sama pentingnya dengan mendapat profit usaha karena dengan mereka level up, mereka bisa keep giving their best untuk pekerjaan tanpa harus memikirkan hal remeh yang mengganggu pikiran mereka 😆 dan kita akan paham, bahwa sukses itu ketika seluruh elemen dalam usaha yang dijalankan berada dalam status peaceful hidupnya 😍

Next time, gue akan bahas soal suka duka, kendala, biaya-biaya dan lain sebagainya (apabila ada kesempatan) 🙈ðŸĪĢ eniwei, alasan gue menulis pengalaman di atas pada series Became a Host #2 adalah karena ketika membuat usaha dengan menggunakan jasa orang lain untuk bekerja pada kita, akan ada tanggung jawab lebih di pundak kita untuk memastikan mereka nyaman 😄✌ karena kenyamanan pekerja adalah bagian penting dari keberlangsungan sebuah usaha ~ semoga gambaran sederhana di atas bisa membantu teman-teman yang ingin hidup hemat juga 😆 yuk, kita belajar sama-sama! Semoga experience yang gue bagikan bisa sedikit bermanfaat 🙈💕😍

60 comments:

  1. Ga banyak komentar deh..Salut bisa sampai berpikir ke arah sana.

    Jarang jarang orang mau berpikir memperbaiki kehidupan orang lain.

    Cuma bisa galak juga ternyata 😇😇 dipikir saya doang 😜😜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Anton, terima kasih mas 😁 saya dan team masih belajar untuk terus update kualitas (harapannya secara menyeluruh sampai ke bawah) 🙈 hihihi ~

      Katanya saya galak, padahal nggak mas, ada yang lebih parah dari saya galaknya seperti yang pernah saya ceritakan 😝

      Delete
    2. Pak Anton ini emang sungguh curang, mengapa selalu duluan menulis apa yang saya pikirkan huhuhu, qiqiqiqiqi

      Delete
    3. ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Baru tau saya, mas 😁 bahasa daerah mana, kah?

      Delete
    6. Aha I see 😆 baru tau saya, mba ~ terima kasih infonya 😁

      Delete
  2. Superrrrrrb ! Inilah pikiran seorang leader sejati dimana pada saat menjalankan bisnis, akan terasa lebih puas jika staff yang ikut dengan kita turut mencicipi hasilnya. Pak Suamiku sering bilang ini ke aku, sekali-kali berpikirlah sebagai boss Mbul (mental boss), ya itu andai-andai suatu saat nanti bisa handle usaha sendiri (saat ini sih belum hihi). Jadi mikirnya harus demikian. Kalau dapat keuntungan, ga semata-mata hasilnya diembat sendiri, tapi juga turut memikirkan kesejahteraan orang yang sudah ikut dengan kita (terutama yang saban hari bersentuhan langsung dengan teknisnya di lapangan, seperti yang sudah Mba eno dan team lakukan untuk kesejahteraan para mas dan mba...).

    By the way, sharing mba eno tentang experience kayak gini (like yang judulnya become a host dan maybe nextnya usaha mba yang lain) selalu aku baca dengan penuh penghayatan. Ilmunya itu loh, manfaat banget, hihi

    Dan yeppp, urusan sandwich generation ini memang masih menjadi PR besar untuk para leader dalam hal mengedukasi para pegawainya, terkhusus memberikan pengertian ke ortu masing-masing pegawai yang ketika lost control lumayan menyedot gaji juga. Sandwich generation ini di kita emang masih banyak sih, utamanya malah terjadi di lapisan masyarakat menengah ke bawah seperti yang Mba Eno jabarkan di atas, dimana ortu pegawai hanya mengandalkan pemberian anaknya thok sebagai sumber finansialnya... padahal banyak dari pegawai tersebut yang pendapatannya juga harus dibreakdown lagi ke post-post lainnya yang ga kalah urgent, jadi jatohnya harus diirit-irit banget biar ga tutup lobang gali lobang ketika mereka abis gajian.

    Beruntung team internal keuangan mba eno rada galak dan 'sangar' walau tentunya ini demi kebaikan bersama, supaya para mba dan mas cepat meraih kebebasan finansial dengan planing keuangan yang lebih terstruktur. Harapannya yaitu....disiplin. Tangan ga gatal begitu terima gaji langsung dihabiskan begitu saja even alasannya disetor semua ke ortunya....jadi ada bayangan sekian tahun bisa segini loh tabungan yang bisa disave setelah menjadi pegawai tetap...masa kan sama terus dengan sebelum menjadi pegawai tetap, hihi...

    Etdah...tetiba aku jadi terinspirasi pengen nyontek metode pencatatan arus uang masuk dan keluarnya nih mba eno, biar disiplin masalah keuangan kan akunya, hahhahahah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belajar dari financial adviser, kalau yang utama itu budgeting dulu mba baru pencatatan arus (pembukuan) karena kalau punya pembukuan tanpa budget yang jelas, nantinya ya pembukuan hanya akan sebatas pembukuan 😁 while budgeting berfungsi lebih untuk memberikan rem pada pengeluaran kita sesuai koridor keuangan yang kita punya ~

      Dari situ saya dan team membuat alokasi budget terbatas untuk para mas dan mba pekerja, sesuai dengan kebutuhan primer mereka yang mana ternyata kalau di-list itu nggak banyak 😎 dan setelah dijalankan, terbukti si mba yang saya ceritakan di atas tetap bisa menikmati hidupnya meski perbulan hanya punya budget Rp 2.500.000 🙈 memang semua akan kembali pada mindset, dan saya cukup senang karena rata-rata para mas dan mba pekerja berusaha untuk bentuk mindset mereka meski sekali dua kali pernah kelepasan ðŸĪ­

      Pencapaian mba yang saya ceritakan itu cukup lumayan mba Nita, saya pun bangga hihi. Beliau sudah punya Dana Darurat sesuai target Rp 30.000.000, sudah punya tabungan pendidikan anak, rutin memberikan uang untuk orang tua, juga sudah punya kendaraan (dan sekarang proses menabung untuk beli rumah). Tapi memang dalam proses perjalanannya, beliau sangat menahan diri untuk nggak belanja yang nggak diperlukan 😆 dan hampir semua mas dan mba pekerja sudah bisa punya pencapaian masing-masing, jadi uang gaji nggak sekedar lewat saja, yang paling penting, mereka bebas hutang kecuali hutang cicilan kendaraan ~

      Hehehe setuju sama suaminya mba Nita, kalau kita dapat untung jangan 100% diambil sendiri, tapi harus diinvestasikan lagi untuk kesejahteraan pekerja kita. Karena dengan mereka sejahtera hidupnya, itu akan berefek pada kebiasaan kerja mereka 😍 hidup tanpa beban, berangkat kerja semangat, pulang kerja ketemu keluarga juga semangat. Dan semua itu butuh proses panjang untuk bisa sampai ke sana 🙈 jadi saya salut, justru kepada para pekerja yang mau berusaha untuk merubah nasib dan pola hidupnya demi masa depan mereka, karena secara nggak langsung mereka sadar kalau hidup hingga masa tua itu butuh modal besar 😎

      Terima kasih mba Nita karena sudah membaca tulisan saya yang panjang dengan penuh penghayatan ðŸĪ§ saya jadi merasa terhura, karena menulis topik seperti ini sebenarnya sungguh berat plus proses menulisnya terbilang panjang 😂 saya sangat senang kalau ada sedikit manfaat yang bisa mba Nita dapatkan 😍💕

      Eniho, saya sependapat dengan mba Nita, kalau sandwich generation harus diputus rantainya dengan memberikan edukasi kelola keuangan yang benar. Harapan saya dan team, semoga dengan usaha kecil ini, anak-anak para mas dan mba nggak lagi menjadi sandwich generation, dan bisa menjalani hidup tanpa beban tapi juga bertanggung jawab dengan uang yang dipunya 😄 dan itu semua, prosesnya dimulai dari perubahaan kebiasaan di rumah, kalau rumah terasa hangat dan nyaman, para mas dan mba sebagai orang tua bisa menjadi suri tauladan, maka anak-anak mereka kelak akan mengikuti jejak langkah mereka 🙈 hehehehe.

      Dan betul banget, mostly yang kena sandwich generation itu generasi ekonomi ke bawah, mungkin karena nggak punya privilege untuk belajar lebih dalam. Hampir semua mas dan mba pekerja itu sandwich generation semua, tapi saya dan team termasuk beruntung karena para mas dan mba sangat mau mengikuti anjuran yang diberikan, dan orang tua para mas dan mba pun mulai mengikuti aturan yang ada ~ meski pada awalnya susah tapi lambat laun, mereka berproses semua 😁💕

      For the last, itu dia poinnya mba, sebisa mungkin ada perubahan tabungan dari sebelum kerja tetap hingga beberapa tahun kerja tetap. Jangan sampai setelah kerja tetap justru hidup semakin susah karena gaya hidup meningkat atau karena nggak bisa kelola uang yang dipunya. Makanya semua mas dan mba dikasih goal Dana Darurat 30 juta dan tabungan pendidikan anak 24 juta (2 tahun) itu batas minimal agar kelak nanti saat mereka berhasil meraih goal tersebut, mereka akan paham sejauh mana mereka sudah melangkah 🙈

      Delete
  3. Enooooo, saya tadi mau nulis macam pak Anton tulis itu, saking saya spechless banget nget baca ini.

    Sumpah, nggak tahu lagi mau ngomong apa tentang Eno, selama ini saya merasakan sendiri bagaimana supportnya Eno sama saya yang benar-benar kayak tangan yang erat memegang saya biar nggak lompat ke sumur huhuhu.

    Dan ternyata, saya hanya secuil orang yang Eno beneran support, masha Allah, sungguh saya takjub, selama ini saya belum pernah melihat atau tahu langsung ada orang berhati kayak Eno ini, huhuhu.

    Kan bener saya spechless abisssss!

    Saya jadi ingat, terakhir kali bekerja itu saya kerja di perusahaan kecil, di mana bosnya itu sebenarnya baik banget sebelumnya.

    Cuman memang, baik saja nggak cukup, kalau kita mau membantu orang, memang nggak bisa setengah-setengah, kudu terjun langsung.

    Dulu bos saya itu punya team tukang dan pekerja langganan, yang sebenarnya udah akrab dengan dia sejak dia kecil.
    papa bos saya itu kontraktor juga, setelah dia punya usaha kontraktor sendiri, dia rekrut sebagian besar mantan pekerja papanya.

    Rata-rata pekerjanya itu orang golongan bawah, jadi bisa dibilang boss saya itu kayak badan amal, jadi tempat peminjaman uang buat pekerjanya hahaha.

    Sampai akhirnya dia nikah, dan istrinya mengambil alih pengaturan keuangan, lalu di stop deh orang-orang yang suka hutang gaje.

    Sejak saat itu, bos cuman mau pinjamin uang jika memang bener-bener butuh.
    Dan bahkan jadinya terkesan pelit banget.

    Daaannn saya yang jadi orang kepercayaan si bos pusing setengah mati.

    Di mana, para pekerja di lapangan itu, mereka dari desa, datang ke kota tanpa modal serupiah pun.
    Sementara istri bos memotong biaya hidup pekerja, semua gaji hanya akan dibayar saat akhir minggu, lah trus seminggu orang-orang makan apa?

    Daaann yang sering di proyek saya, yang sering dengar keluh kesah pekerja ya saya.
    Sutris rasanya.
    Sedih banget, sampai saya sering mengalokasikan uang-uang dari sogokan klien buat pekerja.

    Sogokan mereka kasih ke saya, karena saya dekat dengan bos, bahkan bisa dibilang, saya bisa memutuskan pakai subkon mana? jadi rebuutan deh cari proyek.

    Saya benci banget terima sogokan, tapi karena saya juga nggak punya duit lebih buat pura-pura nggak tahu pekerja benar-benar kelaparan, akhirnya sogokan itu saya minta mereka belikan beras dan semacamnya buat para pekerja tersebut.

    Dilema abis, setelah itu saya kudu make si subkon tersebut, dan itu sungguh bukan saya banget, menilai dari sogokan hahaha.

    Tapi memang, bos saya nggak salah juga.
    Memang seringnya pekerja-pekerja itu dipinjamin duit malah dibeliin hal-hal yang kadang nggak terlalu mereka butuhkan atau minimal mereka nggak tahu mana yang prioritas.

    Memang seharusnya dulu saya harus membantu mereka untuk menyusun keuangan mereka dan memaksa mereka lebih patuh, agar bos bisa dapat pekerja yang bagus dan loyal, pekerja pun bisa punya masa depan yang sedikit terjamin.

    etdaaahhh, padahal boro-boro susunin keuangan orang, keuangan sendiri masih parah ancurnya hahahahaha.

    Tapi saya setuju banget.
    Jika memang berniat membantu, dan sama-sama diuntungkan memang sebijaknya kita terjun langsung, mengatur hidup mereka agar benar-benar bisa berubah :)

    Terimakasih sharingnya say, sungguh, saya dapat banyaaaakk banget masukan, pengetahuan, inspirasi dan sebagainya dari postingan experience -nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lompat ke sumur mba, huhu ðŸĪ§

      By the way di luar sana banyaaak banget orang-orang yang hatinya jauh lebih baik dari saya (sering saya temukan even pada sohibal-sohibul, team dan partners saya), dan saya yakin di sekitar mba Rey ada banyak pula yang sangat baik hatinyaaa termasuk mba Reyyyyyy pun sangat baik orangnya 😍💕

      Sayang sekali ya mba, padahal bosnya mba baik, tapi ternyata baik saja nggak cukup karena pekerja jadi nggak punya rem diri dan cenderung hambur hambur uang karena merasa bos akan selalu ada dan siap memberikan pinjaman kapanpun pekerja butuh uang 🙈 seandainya kala itu, dibantu untuk pengaturan keuangannya, bukan nggak mungkin ke depannya para pekerja jadi punya tabungan dan nggak lagi butuh pinjam ke pimpinan 😍

      Semangat mbaaa Rey, efforts yang mba berikan pada pekerja juga sudah maksimal, seenggaknya mba sudah berusaha memberi yang terbaik yang mba bisa. If only next time akan ada kesempatan baru untuk mba, jangan lupa digandeng tangan para pekerjanya agar bisa level up sama-sama 😍💃💕 hihihi. My pleasure mba terima kasih sudah membaca tulisan saya, ambil baiknya buang buruknya yaaaaah 🙈

      Delete
    2. Ahaaa betulll sekalii...

      Biar bisa sama-sama menuju level up!

      Saya dulu berpikir hanya di MLM bisa menggandeng orang naik ke level up, padahal sederhana, di manapun bisa.

      Asal kita mau benar-benar membantu bukan semata bantu di bagian luarnya aja ya :)

      Ibarat jangan kasih ikan, tapi kasih kail dan umpan, lalu ajarin juga cara mancingnya :D

      Delete
    3. Setuju mba, kalau memang bisa (ada sumber dayanya, etc) diusahakan banget untuk kasih kail dan umpan plus ajarkan cara memancingkan 😁 jadi level up bisa sama-sama 😍

      Delete
  4. Menarik sekali apa yang Mbak Eno praktikkan di lingkungan usaha. Kalau saya amati, ini sih banyak yang lupa dilakukan di berbagai industri. Akhirnya pekerja cuma jadi roda dalam sistem aja, tanpa bisa kritis terhadap kondisinya apalagi memperbaiki. Dan bener banget, itu bisa berpengaruh ke kinerja dan produk/jasa yang keluar. Sense of belonging-nya juga bakalan rendah. Ujung-ujungnya, yang rugi juga bakalan usaha itu juga.

    Efek dari mengedukasi/tidak-mengedukasi ini kayaknya lama sih, Mbak. Tapi kalau udah numpuk, bakalan kelihatan banget.

    Terima kasih sudah berbagi cerita ini, Mbak Eno. :)


    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, setuju sama mas Morishige hehehe, jangan sampai pekerja hanya dijadikan sistem ~ sebenarnya untuk perusahaan-perusahaan besar, mereka pasti menyediakan layanan untuk membantu pekerjanya level up. Semacam seminar, atau bahkan diberikan beasiswa studi lanjutan dan banyak privilege lainnya 😍

      Dari yang saya pelajari tersebut, saya dan team ingin para pekerja di UKM atau small business pun bisa merasakan privilege yang serupa meski ilmunya didapat hanya dari leader-nya saja 🙈 tapi seenggaknya, apa yang saya dan team tau serta pelajari selama ini, nggak ada salahnya untuk disalurkan kepada para pekerja demi kebaikan mereka juga 😎✌ thanks to them yang mau belajar dan mau berubah, mereka jadi merasa cinta sama pekerjaan yang ada di tangan dan pelan namun pasti, itu membentuk sense of belonging mereka 😍

      Iya mas, efek dan prosesnya lama, nggak bisa instan. Nama pun merubah kebiasaan 😂 kita saja butuh waktu lama untuk betul-betul berubah. Yang dibutuhkan memang kemauan kuat 😆 hehehehe. Sama-sama mas, terima kasih banyak sudah membaca 💕

      Delete
  5. Mba Eno, speechless lagi diriku.😁

    Saya cerita tentang Mba Eno ke pak suami, dia aja melongo. Nggak percaya ada orang sebaik itu di dunia nyata ataupun di dunia maya.😅

    Saya yakin Mba Eno dan tim termasuk anak muda yang punya privilege yang bagus tapi masih mau memikirkan sesama. Luar biasa. Jarang ada anak muda yang seperti ini. Perhatian ke staff sampai sedetail ini. Memang kelihatan galak dan keras tapi benar2 ada hasilnya. Semesta mendukung Mba Eno dan semua tim yang terlibat dalam semua bisnisnya.ðŸĪ—

    Pastinya Mba Eno dan tim mendapat didikan yang luar biasa dari orangtua masing2. Mereka pasti bangga punya anak seperti ini.

    Eh, dari awal saya udah merasa kalau Mba Eno orangnya tegas. Hal ini diperkuat saat saya baca cerita 'put some efforts'. Saya sampai hafal judulnya, hehehe.

    Hmmm, orang2 seperti Mba Eno level hidupnya emang udah beda. Bukan berorientasi ke materi melulu tapi lebih dalam dari itu. Mencari kepuasan dan kebahagiaan lahir batin.#halah sok ye banget ya 🙈

    Semoga apa yang dilakukan Mba Eno terus diberkahi, bisnisnya lancar, dan bisa berbagi lebih banyak lagi. Aamiin..Aamiin..

    Wes pokoke jooosss lah, Mba.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, kalau dibilang baik, sebetulnya saya masih jauh dari kata baik mba 😂 tapi saya mau terus belajar menjadi lebih baik lagi, dan saya pun belajar banyak dari tulisan mba Pipit lhoooo 😍💕

      Eniho, pada awalnya saya dan team sempat membebaskan para mas dan mba kelola uangnya, di bulan pertama. Tapi ternyata, semuanya nggak bisa kelola 🙈 uang habis padahal baru gajian dua minggu sebelumnya. Ketika ditanya uang ke mana, mereka nggak bisa jawab dengan tertata. Semacam lupa 😂 gara-gara uang habis sebelum gajian berikutnya, mood mereka juga jadi berantakan, mungkin karena memikirkan anak, ini itu, hutang dan lain sebagainya 😅

      Dari situ saya dan team baru ambil keputusan untuk mulai bulan ke dua, semua keuangan harus diatur sedemikian rupa karena kami sadar, kalau pekerja dalam keadaan penuh tekanan, seriously mempengaruhi bagaimana mereka bekerja. Jadi nggak fokus, nggak konsen, nggak tenang, bawaannya gelisah. Terlihat jelas dari gerak-gerik mereka ðŸĪ­ kadang ditanya A, jawab B. Kadang diminta kerjakan A eh lupa. Pokoknya merembet ke mana-mana 😁

      Tapi setelah diatur sistem keuangannya sampai ke akarnya. Means sampai ke orang tua mereka, ke sistem tabungan mereka, ke budget yang boleh mereka gunakan, dan lainnya. Mereka mulai bisa merasakan sedikit demi sedikit perubahannya (meski ada sekali dua kali kelepasan ambil uang di luar budget), tapi setelah beberapa bulan berproses mulai terbiasa untuk menggunakan uang yang memang sudah disiapkan 😂 dan ternyata, itu berefek bagus juga ke kinerja mereka. Jadi semangat kalau kerja, hahahahaha. Dan hasilnya merembet ke mana-mana. Tamu puas, saya dan team puas, dan mereka sendiri pun puas 😆💕

      Duh jadi malu dibilang tegas, padahal anaknya suka ribet sendiri sebenarnya ðŸĪ­ hihi. Terima kasih banyak mba Pipit yang nggak kalah joooossssss 😍 sukses selalu juga untuk mba dan pasangan, semoga selalu diberikan rejeki yang buanyaaaakkkk dan berkah, plus lancar selalu ya mba pekerjaannya 💕

      Delete
  6. Satu lagi postingan menginspirasi dr Mba Eno. Sukaaa 😍😍

    Keren mba eno, ngasi financial education ke mereka. Jangankan mba dan mas nya yg lulusan SMP, bahkan banyak jg yg udah sarjana ga melek tentang keuangan apalagi masalah dana darurat ini loh Mba. Hal sepenting ini kenapa ga diajarin di sekolah ya dulu? 😅 Tapi bedanya mungkin klo yg oendidikannya tinggi bisa belajar dr informasi yg didapet dr sumber2 lain. Nah orang kaya pekerja Mba Eno itu awalnya hrs 'dipaksa' sampai akhirnya terbiasa. Beruntung bgd mereka punya bos kaya mba eno yg bikin mereka bisa level up 😍 Semoga semua kebaikan mba eno dibalas dg kebahagiaan berlipat2 ganda ya mbaaa.. super love 💖💖

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Thessa, terima kasih sudah membaca 🙈

      Saya dan team hanya kasih basic kelola keuangan yang juga kami pelajari dari adviser dan dari buku-buku serta sharingan para financial planner di sosial media mba 😆 hehe. Saya dan team merasa perlu membagikannya karena kami juga dulu pernah ada dimasa buta akan segala sesuatu yang berurusan dengan keuangan, jadi kami ingin apa yang kami dapatkan sekarang bisa kami bagikan pada para mas dan mba yang bekerja juga ~ agar kelak bisa sukses dan level up sama-sama 😍

      Dan iya seperti yang mba Thessa bilang, hal sepenting ini memang nggak pernah kita dapatkan di sekolah. So, kita termasuk generasi beruntung karena di-era sekarang lebih mudah untuk kita belajar dibanding pada era orang tua kita. Hehehehe 🙈 semoga dengan kemudahan yang kita dapat, ke depannya, nggak ada lagi anak-anak generasi sandwich yang harus menanggung hidup orang tuanya (generasi kita) 😍

      By the way, most of pekerja nggak ada yang main IG, kalaupun main sosmed biasanya FB atau WAG mba. Sayangnya dari dua sosmed tersebut, jarang ada informasi soal keuangan sedetail yang biasa dibagikan oleh pakarnya di IG 😎 hehehe. Jadi dari situ, saya dan team memutuskan untuk meng-guide para mas dan mba (dari circle kami dulu) agar mereka bisa pelan-pelan merubah nasib dan pola hidupnya 🙈

      Amiiiin mba Thessa, terima kasih doanya. Doa yang sama untuk mba Thessa yang selalu rajin berbagi ilmu dari buku-buku yang sudah mba baca. Much love 😍💕

      Delete
  7. Eno and team, kudos for what you have done to your staffs. Gila keren banget lho sampai diajarkan bikin budget dan (dipaksa) menabung. Memang benar sih inti dari semua adalah di awal harus bagus pencatatannya. Selain itu, belajar tentang prioritas, need vs want.

    Melek perencanaan finansial ini penting banget sih, karena saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang jelas jelas pendidikannya tinggi (minimal S1) bahkan di atas itu (sampai S2 di luar negeri), tapi memang tetap hidupnya tidak bisa meningkat. Ini disebabkan ketidakmampuan mengelola keuangan, tidak belajar mencatat pengeluaran, dan tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Jadinya taraf hidupnya susah meningkat.

    This is truly a good post, izin share di sosmed ku ya.

    Thank Eno

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mas Cipu, terima kasih mas atas apresiasinya 🙈

      Saya dan team nggak bisa membantu banyak untuk memperbaiki hidup para mas dan mba, jadi yang bisa saya dan team lakukan hanyalah memberikan guide untuk hidup level up taraf hidup agar bisa sama-sama sukses ke depannya 😎 dan memang terkadang, kita perlu dipaksa untuk menyisihkan uang dan membagi uang kita demi kebaikan masa depan kita juga 😆 thanks to their cooperation, sekarang semua bisa menikmati hasilnya ~

      Saya pribadi juga masih terus belajar untuk memahami need vs want seperti yang mas Cipu bilang, hihihi dan saya tau nggak mudah rasanya untuk menghandle hasrat ingin menggunakan uang yang ada di depan mata ðŸĪ­ jadi sambil jalan, pelan-pelan semuanya berproses termasuk saya 🙈 ehehehehehe. dan iya mas, menurut saya, melek finansial ini pentingggg. Sayangnya kita nggak pernah dapat pelajaran soal kelola uang dari bangku sekolah. Alhasil ketika akhirnya bisa punya uang, kita jadi nggak tau bagaimana harus mengelolanya 😁

      Saya dan team yang merasa punya privilege lebih karena bisa dapat banyak informasi berbobot entah itu dari sosmed, adviser dan lain sebagainya, merasa punya tanggung jawab untuk membagi ilmu yang didapat kepada para mas dan mba yang kemungkinan besar nggak pernah tau soal ilmu-ilmu related to keuangan 😆 harapannya, semoga mas dan mba tersebut bisa menikmati sisa usia di hari tua tanpa harus pusing memikirkan uang, dan anak-anak mereka juga bisa menjalani hidup tanpa harus menjadi generasi sandwich berikutnya 😍

      Terima kasih banyak mas Cipu once again, for reading my longgg post hehehehehe. Semangat untuk kita! 😆🙌

      Delete
    2. Sebagai generasi Sandwich, I can totally relate. Semoga praktik ini ditiru banyak orang ya Eno

      Delete
    3. Amiiin mas 😍 sehat selalu ya mas Cipu dan semangat 😆💊

      Delete
  8. Mba Eno, salam kenal sebelumnya..
    Saya baca post ini sambil tahan nafas kayaknya saking bagusnya tulisan ini dan kagum sama apa yang Mba Eno dan team lakukan untuk para mba dan mas.
    Karena saya bukan owner sebuah usaha, jadi saya memposisikan diri sebagai mba dan mas. Tulisan ini seperti membuka mata saya tentang sebegitu pentingnya mengelola keuangan and how to level up ourself. Dan seketika membuat saya bermimpi, kelak jika punya usaha ingin jadi pemimpin seperti Mba Eno.
    Terima kasih banyak ya Mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Firda, salam kenal 😁

      Terima kasih sudah membaca tulisan saya 🙈 hehe, saya pun masih terus belajar mba untuk level up juga, sama-sama dengan para mas dan mba yang bekerja 😎 dan memang salah satu hal terpenting agar bisa level up itu adalah mengelola keuangan dengan benar 💕 semoga kita bisa terus menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya ya, mba 😍

      Delete
  9. Sungguh Bos yang baik :)
    Terus gimana nasib penginapannya sekarang? Sementara AirBnB tutup :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari Februari kemarin sudah nggak buka AIRBNB mas Alid, karena Corona hahahaha jadi tutup untuk sewa harian 😂

      Delete
  10. became a host #2 ini menarik. soalnya pas baca yang no #1, saya pikir isinya bakal prantal-printil soal ngurusin tempat penginapan, hal-hal yang harus dikelola dari sisi logistik, dan sebagainya. tapi ternyata, cerita yang saya baca adalah tentang mengelola sumber daya alias orang-orang yang bekerja di bawahnya, dengan cara yang di luar pikiran saya.

    Di luar dugaan, tapi justru menampar saya karena iyaa... memiliki staf yang teredukasi serta sejahtera itu penting banget! seperti kata komen di atas, sekarang mungkin agak susah, tapi nanti ketika sudah "jadi", balasannya akan banyak sekali. and i know saya aja sih yang pamrih mikir balasan, soalnya mbak eno dan team berjalan atas dasar tanggung jawab untuk menyejahterakan karyawannya hahaha...

    selain pekerjaan yang selesai, seorang leader harus ingat untuk memperhatikan karyawannya yaa :') ditunggu lanjutannya lagi mbak, ku senang sekali sama post-postmu, blogmu, dan orangnya jugak :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehehe, series Became a Host ini saya tulis rencananya mau berisi hal-hal yang saya pelajari selama mengurus usaha tersebut mba, termasuk ketika saya bertemu dengan para mas dan mba yang berbeda latar belakang namun memberikan saya banyak pelajaran berharga di sana 😍

      Betul mba Mega, kesejahteraan pekerja itu penting dan salah satu yang utama. Sebenarnya pamrih itu diperbolehkan asal kitanya memberikan yang terbaik duluan. Begitchu katanyah ðŸĪĢ hahahaaha. Saya pribadi karena enjoy menjalankannya (dalam hal ini enjoy melihat efek baik ke hidup para mas dan mba) jadi nggak berharap banyak selain mereka kerja dengan semangat dan hidup tenang 🙈 hihihi siap mba Mega ditunggu series ke #3 yang entah kapan 😂 dan saya tunggu juga post terbaru mba Mega (rindu mau baca) 😍❤

      Delete
  11. Sejujurnya saya terkejut dan melongo baca artikel mbak Eno yang ini karena sangat menginspirasi.

    Saya rasa sangat jarang orang yang mau mengurus pekerjanya sampai agar mereka merdeka secara finansial padahal penghasilan mereka terbatas. Mungkin semua orang memang ingin agar penghasilan mereka yang terbatas itu bisa jadi tabungan tapi nyatanya selalu bablas habis gajian.

    Saya punya teman yang bekerja sudah 20 tahun tapi baru punya motor saja mbak, itu karena ia selalu membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Padahal gajinya UMR jadi biarpun tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil karena disini banyak juga perusahaan yang menggaji dibawah UMR bahkan ada yang setengah UMR.

    Jadi aku rasa disini sangat jarang pengusaha yang ngasih edukasi keuangan kepada pekerjanya agar mereka bisa suatu saat bebas secara finansial seperti para pekerja mbak Eno.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Agus, terima kasih sudah membaca tulisan saya 🙈 iya mas, saya yakin siapapun pasti ingin merdeka secara finansial, termasuk kita 😍 hehehe. Tapi kadang, tuntutan hidup (entah itu primer atau hanya untuk life style) membuat kita jadi lupa menyimpan uang kita yang akhirnya uang hasil kerja keras sebulan bisa habis dalam waktu semingguan ðŸĪ§

      Berhubung saya pernah ada dimasa boros banget, lalu pelan-pelan berubah, saya jadi ingin bagi yang saya dan team punya untuk para mas dan mba pekerja agar niatnya bisa sukses sama-sama ðŸĪ­ hehehe. Dan itu yang saya kawatirkan juga mas, apabila para mas dan mba bekerja sampai 20 tahun tapi tabungan nggak punya ditambah harga kendaraan yang sudah dibeli makin lama makin turun bukannya naik 🙈

      Setelah dicoba, rata-rata dengan budget 2,5 juta perbulan, mereka bisa hidup sangat layak, sambil menabung untuk masa depan mereka. Padahal awalnya gaji 6 juta pun lewat, entah ke mana uangnya 😎 hehehe. Yang dibutuhkan memang rim diri dan prioritas. Sekarang karena sudah pada lunas cicilan kendaraan, jadi mulai bisa persiapan DP rumah terus nanti jatah uang kosan bisa buat menambah cicilan rumah begitu rencananya 😆

      Semoga semakin banyak pemilik usaha meski hanya kecil-kecilan, selama ada pekerja yang bekerja untuk usaha kita, agar mulai mengedukasi mereka dari ilmu-ilmu keuangan yang kita pelajari sebelumnya. Ini pun saya masih belajar mas, jadi selalu ada trial error dan salah dalam proses perjalanannya 😂🙏

      Delete
    2. Kalo teman saya yang 20 tahun baru punya motor sepertinya memang gaya hidupnya yang agak boros biarpun ngga boros boros amat karena gajinya cuma UMR 4 juta.

      Kalo soal biaya hidup sepertinya disini 2 juta sebulan juga cukup, tapi sayangnya mata kadang khilaf lihat pakaian atau barang lain padahal sebenarnya pakaian masih banyak di lemari.

      Semoga saja ya mbak ada pemilik usaha yang mau mengedukasi karyawannya penting nya mengatur keuangan, soalnya kalo yang kerjanya maunya duitnya habis gajian dibelanjakan, baru tanggal 15 sibuk cari utang.😂

      Delete
    3. Iya mas seharusnya kalau 2 juta cukup untuk sebulan, akan ada sisa 2 juta untuk yang gajinya 4 juta 😍 lumayan banget kalau ditabung atau dikelola dengan maksimal. Apalagi rumah subsidi pemerintah kan ada banyak yang harganya 100 jutaan 😁 bisa beli rumah subsidi tersebut kalau memang niat punya rumah 🙈

      Amiiin mas semoga semakin banyak yang aware untuk edukasi team pekerjanya agar sama-sama diuntungkan agar usaha juga berjalan lancar sampai bertahun-tahun lamanya 😆

      Delete
  12. salut bgt sama mbak,, selain memberikan pekerjaan, juga memberikan edukasi tentang pengelolaan keuangan.. budgeting itu penting bgt, sebagai rel kita dalam melakukan pengeluaran.. Sebagai anak akuntansi, aku selalu menerapkan ini sih..

    semoga kebaikan2 mbak mendapatkan balasan baik yang lebih-lebih ya mbak.. teruslah berbuat kebaikan mbak.. salut bgt pokoknya sama mbak.. :)

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh ada anak akuntansi komentar 🙈 maaf ya mas kalau ilmu yang saya pelajari masih cetek hihihi ~ setuju sama mas Bara, edukasi tentang pengelolaan keuangan itu sangat penting, harapannya agar semua lapisan masyarakat bisa mendapat privilege yang sama perihal manajemen uang -- karena sedikit banyak, itu membantu mereka untuk survive di masa depan 😍

      Terima kasih mas Bara doanya, semoga kita bisa saling menebar kebaikan pada sekitar kita dan belajar lebih banyak lagi dari sekitar kita pula 🙈😆

      Delete
  13. Saya pernah denger ini juga di youtube nya raditya dika waktu bikin podcast sama mba ligwina hananto. Atau bukan di sini ya? wkwk pokoknya emang gitu cara mengatur keuangan supaya duit kita gak ilang gitu aja abis gajian. Salut sama mba Eno, semoga rejeki dan usahanya lancar ya mbaa biar bisa hire mbak-mbak dan mas-mas yang banyak aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ligwina Hananto salah satu pakar keuangan yang kredibel dan beberapa kali saya baca-baca plus pelajari juga ilmunya, mba 😍 hihihi ~ iya, biar uang nggak gampang habis harus dibudget dengan proper demi kebaikan diri kita juga 🙈 t

      Terima kasih banyak doanya ya mba Mutiara, doa yang sama untuk mba semoga sehat selalu, sukses, dan lancar terus rejekinya 💃💕

      Delete
    2. Pertanyaan untuk tulisan di Became host #II ? ( duhh.... jadi komentator kok gini - gini amat yah,hahaha..)

      - Di slip gaji saya lihat ada uang kos , maksudnya setiap karyawan dapat tunjangan uang penginapan ( kos ) yah ?

      Kalau ngak salah baca di artikel sebelumnya si embak-nya nginap di Villa yah.... Tapi kok tetap dikasih uang kos, apa si embaknya nginep di luar Villa ?

      - Trus di Slip Kebutuhan, kok ada biaya untuk bayar Listrik...? berarti mereka nginap diluar villa yah....? ( mmm....masih misteri buat saya,hahah.....).

      - Di tabel keinginan tertera biaya beli motor 20 jt

      Namun didalam artikel tertulis, Total Biaya beli Motor 18 Juta dengan angsuran 1 juta / bulan, berarti ketika lunas motor tsb senilai 18 Juta. Tapi kok di tabel keinginan tertera 20 Juta yah....?


      - Ketika para si embak tsb sakit Apakah biaya berobatnya ditanggung oleh Unit Usaha Mbak, ? ataukah ditarik dari budget Dana Darurat ?

      - Saya jadi kepikiran seumpama dana emergency yg 200 Ribu itu, tidak mencukupi, katakanlah, tahu – tahu ia perlu uang emergency senilai 1 Juta ? Gimana nih mengatasinya ?


      # ( Cieee ciee......... yang baca koment saya jadi tegang banget yak,hahah.......). Senyum sedikit dong kaka'...... :)

      ini Cuma sharing pengetahuan saja kok dan saya butuh pengetahuan dan pengalaman dari Mbak ENO.

      Delete
    3. Saya jawab beberapa pertanyaan mas Nata di sini ya, termasuk pertanyaan untuk Became a Host #1 😁 maaf sebelumnya saya nggak publish segala bentuk informasi personal termasuk data business di sosial media 😄🙏 blog ini saya buat tujuannya untuk berbagi cerita, bukan untuk mencari customer dan lain sebagainya hehe.

      Lalu untuk menjawab pertanyaan di atas 😎

      Iya setiap karyawan dapat tunjangan uang kos minimal Rp 700.000 ~ di Bali untuk harga segitu sudah dapat kos ukuran sedang dengan dapur dan kamar mandi dalam. Tapi ini harga yang berlaku pada tahun 2018, sekarang masing-masing dapat minimal Rp 1.000.000 untuk kos. Jadi karyawan tinggal di kos bukan di villa 😄

      That's why pada slip kebutuhan ada biaya listrik juga karena mereka semua tinggal terpisah dari villa. Villa saya disewakan full house untuk tamu, jadi pekerja hanya datang saat pagi saja untuk bersih-bersih, siapkan makanan, potong rumput, urus kolam dan lainnya 😁

      Biaya motor 20 juta karena ada uang DP yang harus dibayarkan 2 juta, lalu cicilan 1 juta perbulan selama 18 bulan. Sepertinya ini di mana-mana sama yah, kurang tau kalau di tempat mas Nata, soalnya di Bali harus ada bayar DP untuk beli motor dengan cicilan 😎 mungkin di tempat mas Nata agak berbeda sistemnya.

      Eniho kalau mereka sakit, mereka bisa berobat dengan BPJS, dan apabila sakitnya sangat parah maka bisa dibayar menggunakan dana darurat yang mereka punya. Itu salah satu fungsi dana darurat ketika mereka butuh, dana sudah tersedia 😊 saya akan bantu sebisa saya.

      Kalau dana emergency nggak cukup, mereka bisa ambil dana darurat yang mereka punya. Itu hak mereka. Saya dan team hanya membantu untuk guide dan bentuk habit mereka selama dua tahun pertama. Karena pada akhirnya, uang tersebut uang mereka, jadi mereka berhak menggunakan uang sesuai kebutuhan dan cara mereka hehehe. Apabila mereka bisa mahir kelola keuangan, wasyukurilah. Kalau nggak bisa dan nggak mau, ya sudah mungkin memang seperti itu cara hidup yang diinginkan 😁

      Delete
  14. Kalau boleh tahu , Untuk Biaya BPJS ? Apakah mereka bayar sendiri atau unit usaha Mbak yang membayarnya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk BPJS bayar sendiri, mas 😊

      Delete
    2. Kang nata pertanyaan nya bisa detil banget gitu ya, saya saja tidak kepikiran, apa mungkin kang nata staf kantor bagian keuangan ya.😊

      Delete
  15. Aku salut banget sama kakak! Kok bisa ada orang yang sampai punya pikiran kayak kakak ya. Duh, aku jadi terinspirasi 😍
    Langsung kepikiran nanti kalau ada kesempatan bisa punya karyawan, mau coba nerapin cara kayak kakak juga 😆
    Terima kasih loh kak sharingnya! Bermanfaat banget bahkan aku juga jadi ketampar sih buat lebih melek soal keuangan sendiri 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih belajar mba Lia 😁 hehehe kita sama-sama belajar, yah ❤ semoga suatu hari nanti saat mba Lia menjalankan usaha, mba bisa menerapkan hal-hal positif untuk pekerja mba dan saya akan belajar juga dari mba 😆

      Kembali kasih mba, yuk pelan-pelan kelola keuangan kita 😍💕

      Delete
  16. Seandainya cara berpikir bos saya dulu gak menerapkan prinsip "Dengan pengeluaran sekecil-kecilnya bisa untung sebesar-besarnya" termasuk dalam urusan merekrut karyawan berpendidikan rendah tapi mengharapkan punya skill mumpuni diatas rata-rata. Agar bisa diberi gaji rendah meskipun pekerjaan segunung. Tidak sama seperti Mba Eno. Saya mungkin gak akan mengundurkan diri.

    Waktu itu pekerjaan saya jadi bergunung-gunung karena mereka (beberapa karyawan) gak ngerti apa-apa, yang ujung-ujungnya semua pekerjaan dialihkan ke saya (karena kebetulan saya menyukai bidang pekerjaan saya dan beberapa pekerjaan mereka) 😔, tapi sayangnya gak ada libur, hari minggu saya sendiri yang lembur, gak ada fasilitas bahkan air minum pada awalnya tidak ada hingga saya kena ISK barulah bos berinisiatif, Gak bawa minumkah? bawa. Tapi sudah habis karena saya minum dari pagi waktu jam kuliah, langsung kerja siang dan pulang malam, dan saat itu gak ada tempat untuk isi ulang tanpa mengeluarkan kocek. Jika harus membeli terus-terusan saya gak mampu dengan gaji segitu, karena saya punya banyak sekali tanggungan (serumah dengan ortu tapi rasa anak kos, hanya bedanya gak pernah sekalipun nerima kiriman duit 😅) karena pagi siang malam saya gak makan di rumah demi meringankan beban Ortu juga, semua urusan finansial tanggung sendiri karena Ortu udah gak sanggup lagi dan sudah sangat sibuk dengan anak-anak yang lain.

    Hingga akhirnya saya drop dua kali. Yang mau gak mau saya terpaksa memutuskan resign, meskipun saat itu saya berharap sedikit saja bos mau berpikir dari sudut pandang saya. Tapi apa boleh buat, kasihan juga dengan tubuh ini. 😂 Saya putuskan resign dan langsung nikah. 😂😁

    Beruntungnya Mas-mas dan Mbak-mbak yang disana, masih jarang sekali yang seperti Mba Eno disini. Bahkan Ortu sendiri pun gak pernah terpikir kesitu meskipun sudah menjadikan anak-anaknya sebagai karyawan tak bergaji. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang banyak yang punya prinsip seperti bos mba dulu, yaitu pengeluaran sekecil mungkin dan berharap dapat pemasukan banyak. Sebenarnya itu normal semua orang pasti ingin demikian cuma caranya mungkin ada yang kurang karena nggak memikirkan pekerja 🙈

      Padahal untuk punya prinsip pengeluaran sekecil mungkin agar dapat pemasukan sebesar mungkin itu nggak salah dan tetap bisa berjalan beriringan dengan mensejahterakan pekerja. Siapa tau saat pekerja sejahtera, pemasukan akan lebih melonjak tajam 😍 entahlah. Saya juga sebenarnya masih berproses dan belajar mba ðŸĪ­ jadi nggak bisa komentar banyak mengenai style seseorang dalam menjadi leader untuk team-nya.

      Pengalaman mba dulu yang sangat 'berat' semoga bisa menjadi batu loncatan mba ke depannya apabila one day punya usaha dan pekerja 😁 saya yakin, mba akan jadi boss yang nggak kalah keren dan disayang sama pekerja karena mba sangat memahami suka-dukanya jadi pekerja ðŸĪĐ eniho, semangatttt terus mba ðŸĨģ🎉

      Delete
    2. Itu mah sudah biasa bagi perusahaan mbak. Disini ada pabrik bata apung yang bayar karyawannya hanya 130 ribu per hari, padahal UMR disini 170 ribu sehari atau 4 juta per bulan.

      Apakah mereka terima upah 130 ribu itu? Ternyata tidak. Karena mereka kerja di pabrik bata apung itu lewat yayasan. Gaji mereka dipotong 30 ribu buat yayasan. Jadi mereka cuma terima bersih 100 ribu saja. Padahal kerjanya berat, dari jam 8 pagi sampai Maghrib. Mana kerjanya di lapangan yang panas. Aku kaget karena ketemu temanku yang kerja disana kulitnya jadi hitam padahal dulu dia agak putih. Tapi mau bagaimana lagi, cari pekerjaan susah.😔

      Eniho, untuk bonusnya, mereka yang mau kerja di pabrik bata apung itu juga tidak gratis, harus bayar 5 juta untuk yayasan tersebut buat biaya administrasi katanya.😂

      Delete
    3. Ya ampun yang harusnya 170 cuma dapat 100 😭 hampir setengahnya dong, mas ~ huhu sedih bangets. Mana kerjanya lama ðŸ˜Ē tapi memang sih ya, kadang orang tetap ambil pekerjaan meski nggak adil karena cari kerja pun susah. Dan pendidikan itu memang sangat dipentingkan. Makanya saya berharap banget anak-anak para mas dan mba yang kerja punya pendidikan semua agar bisa dapat karir lebih bagus ke depannya ðŸĪ§

      Kasian, cari kerja pun harus bayar uang muka ðŸ˜Ē

      Delete
  17. tim dan mbak eno detail banget bikin buku kas seperti ini untuk pegawainya.
    dan memang bisa jadi dari segi pendidikan para staf yang SMP atau setaranya, saat itu bisa jadi belum belajar sampe ke tahap pengaturan keuangan seperti ini dan cara ini bener bener membuat mereka mau nggak mau harus belajar juga cara untuk bisa 'kaya'

    memang bener adanya, kalo tangan udah pegang uang suka gatel dan biasanya menurut teori kenyataan semakin banyak gaji yang didapet, pengeluaran tak terduga bisa ikut banyak juga, karena merasa 'pendapatan aku udah besar'

    kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa membuat perencanaan dan alokas keuangan dengan baik, pastinya akan ditaruh di pos pos emergency atau simpanan.

    melihat semangat para stafnya luar biasa semua, mereka bekerja pun nggak akan sia sia, keliatan ada 'hasilnya'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ainun, itu yang saya dan team pelajari, fakta bahwa para mas dan mba belum belajar sampai tahap pengaturan keuangan personal jadi banyak dari mereka yang nggak paham bagaimana mengelola keuangan mereka 😁 taunya saat gajian ya langsung habiskan hehehehe.

      Dan saya kawatir, seperti yang mba Ainun bilang, kebiasaan menghabiskan itu akan terus berlanjut meski sudah memiliki gaji tetap. Karena berprinsip, "pendapatan saya sudah besar" 🙈 that's why, saya dan team coba untuk membantu guide dengan harapan bisa sedikit terarah dan para mas dan mba bisa menabung untuk masa depan mereka 😍

      Delete
  18. ini keren sekali. karyawan dianggap sebagai aset yang harus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. secara ngga langsung si karyawan akan meningkatkan kualitas usaha dan keuntungannya. win-win solution. mantap, mbak!

    memang paling sulit adalah mengubah kebiasaan.. tapi begitu udah biasa, ya jadi enak banget, dan akan sulit berubah kebiasaannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, harapannya agar kualitas kerja meningkat yang artinya akan menguntungkan usaha yang dijalankan juga pada akhirnya 🙈 memang sebenarnya pekerja itu bisa dianggap asset apalagi kalau pekerjanya punya skill bagus semua. Akan sangat disayangkan kalau sampai hilang 😍

      Betul mas, awalnya susah, kalau sudah terbiasa jadi enak 😁

      Delete
  19. Super nice movement and story to share, Meno. Suka banget ada pengusaha yang berpikir seperti ini, apalagi belakangan ini, makin susah memprediksi masa depan karena faktornya terlalu dinamis. Ditunggu share cerita lanjutannya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Justin 🙈

      Setuju mba, belakangan ini semakin susah memprediksi masa depan akan seperti apa ~ semoga meski banyak perubahan, akan selalu ada tempat untuk mereka yang mau bekerja keras 😍💕

      Delete
  20. Terimakasih sudah berbagi pengalamannya, mbak meno. Ceritanya mengalir as always.
    Antusias sekali saya bacanya. sampe bingung mau komen gimana. Mindblown!

    Banyak hal yang bisa saya note terutama pada keypoint (more or less) yg bisa kutarik kesimpulannya, "business is also about helping other people to grow…Business is also about educate other people. Sharing value and appreciation. "

    Termasuk "maksa" karyawan untuk nabung sebagai bentuk edukasi finansial itu benar-benar hal diluar dugaan saya sih, mbak. Bisa gitu njenengan berpikir jauh sampai kesana. salut.

    Pada bagian, “saya bahagia kalau partner/staff saya juga bahagia. Saya akan merasa gagal kalau mereka masih kekurangan.” ... Wah, ini sungguh mindset leadership yang wajib ditiru bagi pelaku usaha manapun yang punya staff.

    Semoga suatu saat bisa menerapkan prinsip ini kalau impian saya punya team (karena saat ini saya masih gawe sebagai pegiat konten mandiri, paling kalau keteteran baru minta jasa freelancer untuk menyelesaikan project (misal: video, Voice over dsb..) sesuai perjanjian. Semoga next kalau jadi ada produksi in house, bisa menerapkan mindset ini.)

    Sungguh beruntung mas dan mbak ini punya atasan yang berkelas dan mulia seperti mbak Meno. Sungguh beruntung saya baca postingan sebagus ini.

    Saya menanti part #3 nya mbak.
    Have a great day!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Rifan, terima kasih komentarnya 😁 saya senang apabila mas Rifan bisa mendapatkan sedikit manfaat dari cerita yang saya bagikan meski saya pribadi pun masih perlu belajar banyak lagi untuk ke depannya 🙈

      Setuju mas, menurut saya, business is all about grow together, pada seluruh lini, bukan hanya atasnya saja, tapi kalau bisa sampai ke bawah growing juga. Jadi para staff nggak merasa stuck kerja bertahun-tahun tanpa ada hasil yang jelas. Dengan mereka ikut grow dan terdapat peningkatan para hidup mereka, itu akan membentuk mindset mereka dalam menjalani hidup bahwa hidup itu nggak hanya semata-mata bangun, berangkat kerja, pulang dan tidur 😍

      Hehehe, saya pernah dipaksa untuk menabung mas dan ternyata 'keterpaksaan' itu sangat berguna sekali untuk hidup saya 😁 makanya saya dan team coba untuk guide para mas dan mba yang memang belum pernah merasa dipaksa serta minim informasi, untuk yuk kita sama-sama naik kelas alias level up demi masa depan indah 🙈

      Terima kasih sekali lagi mas Rifan, semoga one day kalau mas Rifan diberikan kesempatan untuk jadi leader, mas Rifan bisa mempraktekan hal-hal positif yang mas pelajari sebelumnya agar kelak, mas dan team mas bisa maju dan sukses bersama tanpa ada satupun yang merasa kekurangan 😍 hehehe. Semangat untuk usaha mas Rifan, yah 🙌 wish selalu diberikan kelancaran pada setiap proses dan rencananya 😆🙏

      Delete
  21. Pertama, aku salut sama dedikasi kamu. Nggak cuma kasih duit, tapi juga kasih edukasi. Menurutku ini modal abadi yang nggak akan habis.

    Kedua, aku pernah terjebak dalam lingkaran setan hutang kartu kredit. Sekarang setelah income sudah lebih baik dan seluruh hutang CC lunas, mulai melirik ke investasi. Kalau deposito udah jalan.

    Apalagi sekarang aku lagi jadi project lead buat klien sebuah bank, jadi makin melek sama ilmu finansial :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba Nugie, ilmu itu modal abadi, seenggaknya kalau nanti mereka berdikari, bisa menggunakan ilmu yang dipunya untuk survive pada kehidupan yang keras ini 🙈

      Waaah pasti lega ya mas rasanya bisa terlepas dari jebakan kartu kredit 😍 semoga mas Nugie bisa perlahan namun pasti mengumpulkan pundi-pundi uang yang dipunya untuk investasi 😆 dan semangat untuk project-nya! Semoga sukses, mas 😁

      Delete