Bali or Jeju (?) | CREAMENO

Pages

Bali or Jeju (?)

Pada tahun lalu, gue sempat menulis alasan kenapa gue memilih Jeju dibandingkan kota besar lainnya di Korea sebagai rumah ke dua, cuma pada post tersebut, gue nggak menjelaskan panjang lebar apalagi sampai memberi perbandingan antara Bali, Indonesia dan Jeju, Korea πŸ˜‚ hehehee. So, pada post kali ini, gue mau bercerita lebih detail, sekaligus memberikan gambaran mengenai dua pulau yang memiliki banyak perbedaan namun nggak sedikit pula kesamaannya, dan berhasil membuat gue serta si kesayangan jatuh cinta sedalam-dalamnyaaaa 😍

Jadi, buat yang pernah baca post lama gue, pasti tau kalau setiap kali gue tulis cerita perjalanan, ceritanya nggak jauh dari kegiatan gue keliling kota πŸ˜‚ Dan teman-teman mungkin akan jarang menemukan gue yalan-yalan ke alam setiap kali gue pergi ke suatu negara kecuali negara tersebut terkenal kaya akan alam seperti New Zealand atau Iceland misalnya πŸ™ˆ Dan, kecintaan gue pada pemandangan kota ini berbanding terbalik dengan keinginan gue untuk hidup di desa. While gue lebih suka yalan-yalan lihat kota di seluruh dunia, tapi untuk urusan tempat tinggal, dari dulu gue lebih suka apabila diberi (atau punya) kesempatan hidup di pedesaan 😍

Namuuun... permasalahannya, untuk bisa hidup di desa, atau let say pulau yang terpisah dari kota metropolitan, gue dan si kesayangan harus settle dari segi keuangan sebab tinggal di pulau itu nggak bisa expect penghasilan besar (that's why perlu buka usaha). Means, gue dan si kesayangan harus punya fondasi jelas, dari segi keuangan dan rencana ke depan. Gue pribadi sudah lama settle down di Bali and doing well on my own, tapiii si kesayangan selama ini hidup di kota besar, jadi untuk akhirnya membuat dia mau hidup di pulau itu nggak semudah balik telapak tangan πŸ˜†

Alhasil gue dan si kesayangan butuh proses adaptasi panjang untuk akhirnya bisa menjalani hidup seperti sekarang, termasuk salah satu proses adaptasinya adalah ketika gue mencoba untuk hidup di Seoul selama satu bulan yang membuat gue menyerah kalah πŸ˜‚ Seriously, I was exhausteeed. Gue merasa nggak ada tempat 'kabur' ketika lelah, even sampai ingin terbang ke Bali detik itu juga hahaha. Karena di Bali biasanya saat pusing dengan berbagi urusan, gue bisa duduk melihat langit atau pergi ke pantai dekat rumah, while in Seoul, paling ke taman depan apartment atau jalan ke shopmall (meski gue suka shopmall, bosan kalau harus terus-terusan ke sana) πŸ™ˆ hahahaha.

🐰🐰🐰

Eniho, back to topic, kali ini gue mau bahas soal perbedaan apa saja yang gue rasa antara hidup di Bali dan Jeju, dan perbedaan-perbedaan ini yang membuat gue selalu merindukan ke duanya πŸ€ͺ

ASISTEN

Perbedaan paling mendasar sudah pasti nggak jauh dari keberadaan mba asisten rumah tangga yang sedikit banyak menjadi alasan gue merindukan Bali setiap kali sedang di Jeju (atau di negara lainnya) πŸ˜† hehee. Di Bali, berkat mba asisten, hidup gue jauh lebih mudah, karena segala sesuatu tersedia dan mba asisten sudah paham apa-apa saja kebutuhan gue, even gue nggak perlu pusing soal makanan karena mba asisten jago masak πŸ™ˆ ntapppph!

Sedangkan di Jeju, gue harus masak, karena kalau beli makan setiap hari bisa bangkrut yang ada hahahaha, mana lidah gue ini lidah tulen Indonesia, jadi lebih suka makanan Indonesia ketimbang makanan Korea πŸ˜‚ Sekali dua kali sih nggak apa-apa, tapi kalau setiap hari, yudadaaaah. Makanya, gue nggak ada pilihan selain harus masak makanan yang mau gue makan, cencu dengan bantuan bumbu siap saji dari Indonesia 🀭 Thank you, Indofood dan mantemannyah!

Groceries activity while in Jeju Island 😁

Read: Yay, It's Groceries Time!

Beside that, nggak adanya mba asisten saat gue di Jeju membuat gue harus bersih-bersih rumah πŸ˜… Yang biasanya kalau di Bali nggak pegang sapu, pel, mesin cuci, rice cooker, endeblablabla ~ di Jeju gue harus pegang semua πŸ₯΄πŸ˜‚ Untung di Korea kulturnya pakai robot-robotan, jadi urusan bersih-bersih masih bisa sedikit banyak dibantu robot macam vacum cleaner, dishwasher, dan lain sebagainya. Paling tugas gue hanya bagian masukkan cucian ke laundry machine, masak, lap debu di meja, dan bersihkan tempat tidur saja πŸ˜† -- Bali, WIN πŸ’•

WIFI

Duh, kekuatan wifi Korea ini memang parahhhhh kencangnya 😍 Nggak heran kalau Korea dikenal sebagai negara dengan wifi paling cepat di duniaaa πŸ˜‚ Gue yang berpikir wifi di rumah Bali sudah sangat cepat, ternyata jadi terasa lambat kalau dibandingkan dengan wifi rumah Jeju hahahaha πŸ˜† Dan perkara wifi sering buat gue rindu Jeju saat di Bali, sebab gue nggak perlu pusing sama drama wifi yang kadang lemot, atau mati, dan membuat esmosi jiwaaaaaaaa apalagi ketika harus upload pekerjaan ehhh di tengah jalan stop mendadak. Pusing, nggak? πŸ˜ͺ -- Jeju, WIN πŸ’•

DELIVERY

Kalau soal delivery, rasanya nggak ada yang bisa kalahkan sistem Indonesia, all hail GOJEK dengan segala kemudahannya. Si kesayangan bilang, sistem delivery makanan di Indonesia keren padahal di Korea ada sistem delivery makanan juga tapi bagusan GOJEK ke mana-mana. However, berbeda dengan delivery makanan, delivery barang (ekspedisi) di Korea terkenal cepat 😍 terlalu cepatnya, gue pernah order barang siang, dua jam kemudian sudah tiba, padahal beda kota. Terus hampir semua sampai H+1 setelah kirim, termasuk saat pengiriman ke Jeju, dan pulau-pulau lainnya. Jadi nggak perlu tunggu 5 hari kerja seperti pengalaman gue selama ini kalau sedang tunggu kiriman ke Bali, though sometimes gue pakai paket kilat, jarang ada yang bisa sampai H+1, paling minimal H+2 dan bahkan ada yang H+3 kalau lagi sial πŸ€ͺ -- Both, DRAW πŸ’•

BENSIN

Harga bensin yang berbeda ini sangat menohok buat gue, karena di Jeju, untuk harga bensinnya seliter bisa IDR 19.000 - 20.000 sedangkan di Bali setengahnya πŸ™ˆ Itupun sudah bisa dapat bensin kualitas bagus such as Pertalite atau Pertamax 😁 So, bisa dibilang, setiap kali isi bensin di Jeju, hati gue sakit rasanya. Wk. Yang biasanya di Bali IDR 300.000 dapat full tank, ini di Jeju paling cuma dapat half tank. Makanya gue malas isi bensin, karena baper lihat harganya πŸ€ͺ -- Bali, WIN πŸ’•

SENYUM

Merupakan satu hal sederhana yang gue rindu dari Bali, di mana siapapun akan senyum ketika saling bertukar sapa dan tatap muka 😁 Kalau ke supermarket, pasti dapat senyum dari petugas kasirnya, mau makan di restoran dapat senyum dari pelayan, dan saat masuk ke toko, akan dapat senyum dari SPG-nya πŸ™ˆ Pokoknya, hidup di Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya ituuu sangat membahagiakan karena orangnya terkenal ramah-ramah 😍

Berbeda dari Bali, di Jeju, gue jarang lihat ada yang senyum, karena orang Korea cenderung kaku, jadi yang ada kalau ke supermarket gue berasa diburu-buru karena kasirnya kalau bicara secepat kilat. Belum lagi saat makan di restoran, pelayan pun nggak senyum, biasanya hanya terima order terus pergi ke belakang. Nggak heran hal sederhana ini membuat gue rindu sapaan mas dan mba di mall, "Giordano-nya kakak." dengan senyum sumringahnya πŸ˜† -- Bali, WIN πŸ’•

ALAM

Hmmm, bicara soal alam, gue lebih suka alam Jeju sejujurnya 🀭😍 Karena di Bali, bisa dibilang, gue jarang jalan ke alam, sekalinya ke pantai itu bisa dihitung jari kalau sedang betul-betul jenuh sama kegiatan. Sudah begitu, nggak banyak hutan di Bali yang bisa gue kunjungi πŸ˜… Mana hutan yang gue suka seperti Bali Botanical Garden, lokasinya di Bedugul which is dua jam perjalanan (yang ada gue lelah duluan) πŸ€ͺ Paling, kalau sudah sangat sangat bosan, gue pergi ke Bali Safari Park jadi bisa dibilang pilihan yang gue suka nggak banyak πŸ™ˆ

One of my fave places - Saryeoni Forest πŸ˜

Nah, kalau di Jeju, setiap kali jenuh, gue bisa ke hutan, atau bukit yang jaraknya dekat dari rumah 😍 Gue juga sering ke bibir pantai atau sekedar jalan kaki di Olle Track 😬✌ Dan saat bosan, gue bisa ke Father's Garden untuk petik jeruk sendiri buat dibawa pulang πŸ˜‚ Pokoknya, Jeju ini surga untuk gue yang suka hidup dekat alam karena banyak pilihan πŸ˜† Selain itu, gue suka jalan-jalan saat musim gugur atau dingin jadi view-nya juarak 😁 -- Jeju, WIN πŸ’•

🐰🐰🐰

Well, masih ada banyak lagi perbedaan tapi beberapa point di atas sudah cukup mewakilkan hal-hal general yang gue rasa. Walau sangat berbeda, sebenarnya ada banyak kesamaan antara dua pulau yang gue cinta. Jadi, instead of merasa kesal dengan perbedaan yang ada, gue memilih untuk menikmati dan beradaptasi dengan segala perbedaannya 🀭 hehehe. Sekarang gantian gue mau tanya, teman-teman paling suka tinggal di kota atau negara mana? 😍

74 comments:

  1. Lagi baca sambil scroll-scroll ke bawah, eh nggak berasa udah habis aja post ini πŸ˜‚

    Setelah aku hitung, Bali is the winner! Karena 4 vs 3 dari point-point yang kakak kasih. Tapi mostly karena hidup di Indonesia ternyata lebih mudah dan lebih irit ya πŸ˜‚
    Walaupun kondisi alam dan transportasi sih tetap Korea menang tapi untuk hal-hal yang menyangkut batin, Bali malah menangπŸ˜†
    Padahal dua-duanya pulau ya hihihi.

    Tapi memang wifi kenceng itu penting sekali karena nggak asik banget kalau nonton film terus buffer 😠
    Rasanya ingin kugebuk modemnya wkwkw


    Jadi gimana nggak kangen keduanya? Karena keduanya punya hal yang bagus dari sisi yang berbeda yang saling melengkapi. You're so lucky bisa menikmati keduanya kak ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, kakak juga sering merasa begitu Lia. Sedang asik baca tau-tau sudah sampai bawah πŸ™ˆ termasuk saat baca tulisan Lia dan teman-teman lainnya 😍

      Eniho, Bali dan Jeju ini ke duanya sama-sama menyenangkan. That's why sampai sekarang kakak belum bisa memilih salah satu daripadanya dan memutuskan untuk yasudah bolak balik saja sesuai kebutuhan πŸ˜‚

      Dan persoalan wifi itu memang menyebalkan. Apalagi kalau sudah pakai standar Korea yang anti ngadat-ngadat club, dijamin saat pulang ke Indonesia jadi emosional karena wifi di rumah super duper berasa lambat 🀣 yang tadinya mau download apapun cepat di Korea, eh sampai di Indonesia jadi luamaaakkkk πŸ™ˆ

      Hehehe indeed I'm so lucky and so are you, Lia pun lucky pastinya dengan hidup yang Lia punya sekarang. Enjoy it, yah 😍

      Delete
    2. Nyiahahah Kak Eno mah bisaan aja! Tapi beneran.. semalem ternyata aku bacanya kepotong 🀣 bagian foto terakhir sampai ke bawah tuh nggak ada jadi aku kaget kok udah selesai *ternyata ini alasannya

      Terlalu berat untuk memilih karena dua-duanya bagus! Apalagi apart kakak di Jeju viewnya ciamik banget! Yaampunn, hepi banget pasti saat pergantian musim 😍

      Huahahah memang untuk wifi, Indonesia mah nggak ada yang ngalahin untuk kelemotannya. Jadi harap bersabar ya kak, atau ganti aja provider internetnya, ya walaupun mungkin tetep nggak sekenceng di Korea. Aku pun kalau dari Korea terus balik ke Indonesia akan ngerasa hal yang sama, wifi di sini jadi super lemot πŸ˜‚

      Of course!! πŸ₯° Anyway, mimpiku pingin bisa ke Swiss, ini gara-gara drama oppa Hyunbin!! Dan foto-foto mencengangkan lainnya dari alam Swiss.

      Delete
    3. Wk. Semalam ada kesalahan coding jadi kepotong dan artikelnya bercampur ke bahasa Inggris πŸ˜‚ untung sadar jadi bisa langsung diperbaiki hihihi. Makanya kaget tau-tau Lia komen, dan langsung berpikir pasti Lia bacanya terpotong πŸ™ˆ

      Iya, enaknya negara 4 musim itu setiap pergantian musim selalu cantik asal bukan ke musim panas hahahaha. Soalnya tengah tahun paling enak di Bali atau di Aussie ketimbang di Jeju, Korea 🀣 hehehe. Coba ke Bali tengah tahun Lia, kisaran akhir Juni atau awal Juli. Suhu udaranya sejuk dan dingin. Jadi nggak terlalu sakit di kulit 🀭 karena setiap tengah tahun dapat udara musim dingin kiriman dari Aussie ~

      By the way, wifi di rumah Bali sebenarnya terbilang cepat untuk ukuran rumah. Mbpsnya juga besar. Tapi yaitu, kadang ngadat mendadak which is sesuatu yang jarangggggg banget terjadi di Korea hehehe. Seingat kakak, belum pernah mengalami wifi ngadat atau buffering dan sejenisnya kalau di Korea πŸ˜‚

      Semoga one day Lia bisa ke Swiss yah, sekalian ke set-nya Ri Ri couple hahahaha. Di Korea pun banyak set-nya dan bagus-bagus juga 😍

      Delete
  2. Yang saya suka dari postingan Mba Eno, selalu kasih pemikiran yang positif dibanding menjelek-jelekkan. Di mana2 selalu ada enak dan nggak enaknya, tinggal gimana kita menyikapinya.😊

    Hampir sama kayak Mba Eno, kalau tua nanti (semoga dikasih umur panjang), saya pengen tinggal di Yogya, kampung halaman bapak. Entahlah ke depannya di sana masih ijo royo2 apa enggak. Saat ini aja, desa bapak udah nggak sedingin dulu.

    Eniho, jawab pertanyaan Mba Eno, cencu saja (Mba Eno banget πŸ˜…) saya pengen tinggal di Jepang. Hahahaha. Udahlah ya saya suka Jepang karena selain teknologi, budaya, alamnya juga bagus. Jadi buat manjain mata masih ada tempat. Sayangnya sex harrasment dan bullying di sana tinggi. Kadang ngeri kalau baca2 cerita di sana.

    Mirisnya, orang2 asli sana kayak di Kyoto nggak bisa menikmati alamnya yang cantik. Di Kyoto dan tempat2 ngehit lainnya udah kebanyakan turis. Saya kasihan ketika tahu fakta ini. Makanya pas pandemi, Jepang benar2 sepi karena memang warganya dikit. Balik lagi sih ya, ada sisi plus dan minusnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ada banyak hal negatif juga mba, tapi no country is perfect hahahahaha jadi better kita lihat positifnya saja biar nggak mumet kepala memikirkan yang negatif-negatifnya 🀣 dan setuju sama mba Pipit, di mana-mana akan selalu ada persoalan enak nggak enak, that's why kitanya yang perlu adapt 🀭

      Kampung bapaknya mba Pipit di Yogya, yah? Semoga Yogya pada saat mba Pipit pindah nanti tetap hijau royo-royo mba. Siapa tau dengan semakin majunya sebuah area, semakin banyak yang concern dan fokus juga untuk memajukan wilayah hijaunya 😍

      By the way, saya tauuuuu banget mba Pipit akan pilih Jepanggg πŸ˜† hihi ~ di Korea pun bullyingnya termasuk tinggi mba dan banyak pervert juga (ini sih di mana-mana pasti ada) ☹ jadi tinggal pintar-pintarnya kita jaga diri saja. However, untuk case bullying memang baik di Korea maupun di Jepang cukup mengkhawatirkan especially pada anak-anak 🀦‍♀️

      Sedih juga ya mba kalau sama orang lokalnya jadi nggak bisa menikmati kotanya sendiri akibat kebanyakan turis. Ini juga yang saya rasakan di Bali hahahaha. Untung Bali luasssss, mba πŸ™ˆ tapi saya yakin, orang-orang Jepang pun merasa sedih kalau kotanya jadi sepi, apalagi yang hidupnya bergantung dari turis. Huhu. Apapun itu, semoga yang terbaik ❤

      Delete
  3. Begitu baca gimana cepetnya wifi di korea, saya langsung buka mulut, karena dari zaman sekolah saya adalah pemburu wifi ulungπŸ˜‚
    Ah, suka banget sama wifi😘
    Tapi kalau disuruh pengen tinggal di negara mana? Hemm... Selama ini saya suka sesuatu berbau jepang. Jadi mungkin pengen di jepang.
    Tapi hanya pengen, saya tetep suka di indonesia, di kampung saya yang jauh dari hiruk pikuk. Yang kalau malam sepi banget.
    Pernah dulu ngekos di kota, pinggir jalan raya. Mau tidur aja berisik banget suara kendaraan lewat. Dan gerah juga. Padahal kalau dikampung selimut satu aja kurangπŸ˜‚

    Saya juga pengen bisa tinggal di tempat yang lebih alamiah (entah apa bahasanya😁) yang deket sawah gitu. Soalnya walau di kampung, rumah saya deket jalan raya. Nah, kalau di dekat sawah udaranya bisa lebih sejuk lagi. Tetapi kayaknya nggak mungkin, soalnya sawah adanya di dekat sungai, di bawah bukit. Serem juga jadinya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang yah, kehidupan era sekarang nggak bisa dijauhkan dari kebutuhan perwifian 🀣 hahahaha. Hidup rasanya jadi enak kalau wifi-nya lancar dan cepat tanpa ngadat πŸ€ͺ

      Pada akhirnya ibu pertiwi akan selalu lebih menyenangkan, mba πŸ™ˆ saya pun merasakannya. Sebagus apapun negara luar, saya tetap suka tinggal di Indonesia dengan segala macam kemudahan dan keribetannya πŸ˜† makanya sampai sekarang, pasti ada waktu beberapa bulan saya akan stay di Bali biar rindu bisa terobati 🀭

      Dan sama seperti mba Astria, saya lebih suka hidup di tempat yang sunyi karena jauh lebih nyaman daripada yang ramai 😍 ehehe. Itu juga yang menyebabkan saya memilih stay di pulau (di area yang tenang -- bukan area touristnya) daripada di kota besar πŸ™ˆ entah kenapa jadi merasa less stress heheheehe.

      By the way, semoga cita-cita mba Astria tercapai yah. Bisa tinggal di area yang alamiah dan dekat dengan alam πŸ˜† dan di manapun tempat itu kelak, semoga mba Astria bisa menikmatinya 😍❤

      Delete
  4. Tidak bisa sebutkan nama, tapi saya akan memilih dimana si Yayang berada. :-D

    #Lebay

    Tapi honestly, saya tidak punya preferensi dimana harus tinggal.

    Manusia diciptakan dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, dan saya cukup yakin dimanapun saya tinggal, saya akan bisa menyesuaikan diri.

    Yang seperti ini sudah terbukti karena berulangkali harus pergi keluar negeri, saya hanya butuh beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Rasanya tidak akan sulit bagi saya untuk melakukan itu berulangkali.

    Sayangnya, si Yayang tidak begitu. Ia kerap merasa kesulitan kalau dalam hal adaptasi dengan budaya dan lingkungan baru. Meski, setelah beberapa lama ia pasti bisa juga mengingat sifatnya yang luwes.

    Kayak sekarang si Kribo mo kuliah di Bandung, aku ngasih ide kita pindah yuk ke Bandung, dia juga agak gimana gitu.. Padahal cuma sekedar iseng mengkhayal doang. Hahahaha.. Susah orang kampung mah.. wkwkwkwk

    Jadi, kalau pertanyaannya mau dimana , saya akan serahkan kepada si Yayang. Terserah loe deh mau dimana, gue ikut.

    Yang penting buat saya ada dia dan si Kribo (sebelum dia meninggalkan rumah).. "Rumah" buat saya bukanlah fisik atau tempat, tetapi dimanapun selama dua orang kesayangan saya itu ada.

    Jadi, saya nggak tau di negara mana mbak, karena pilihan si Yayang jelas cuma satu, Indonesia kayaknya. Sulit untuk berangan-angan pindah... hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadowwww mantappp 🀣

      Memang tempat ternyaman itu di mana Yayang berada πŸ˜† sudah default ya, mas ahahahaahahaha 🀣

      Indeed, manusia memang bisa beradaptasi meski proses dari setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada pula yang lambat dan butuh waktu lama. Dan mungkin Yayangnya mas Anton adalah tipe yang perlu waktu untuk mengenal lingkungan barunya sebelum akhirnya menjadi terbiasa πŸ˜„ saya juga demikian soalnya hahahahahaa. Butuh proses lama untuk saya adaptasi hingga akhirnya menemukan kenyamanan ~

      By the way, di Bandung enakkkk tuh mas 😍 tapi mungkin Yayangnya mas Anton sudah terlanjur jatuh cinta dan betah di Bogor, jadi terasa berat kalau harus memulai semuanya lagi dari awal di Bandung πŸ˜‚ hihihi. Sama rasanya seperti saya waktu diajak stay di Seoul dulu. Duhhhhh beratnya ampun ampunan hahaha. Mana failed pula setelah dicoba karena memang nggak betah πŸ™ˆ

      Dan saya setuju kalau rumah memang bukan tempat, melainkan seseorang atau dua orang atau tiga orang bagian dari yang terdekat dari kita (pasangan dan keluarga). Buat saya pun rumah adalah tempat di manapun si kesayangan berada. Tapi tetap harus disupport lingkungan rumah yang sebenarnya 🀭 sebab lingkungan mempengaruhi bagaimana kita menjalani hari-hari ke depannya 🀣

      Ps: semoga di manapun mas Anton akan menikmati hari-hari mas Anton bersama Yayang dan mas Kribo, semoga mas Anton selalu dilimpahkan rasa bahagia dan hidup sejahtera 😍

      Delete
    2. uhuk uhuukkk
      *numpang batuk aja deh

      **Kabooorrrrrrrr :D

      Delete
    3. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  5. Mba Enoo, IMHO nih yaa, you already got the best of both world lho! So lucky! 😍

    Sebetulnya kalau memikirkan kenyamanan fasilitas umum di luar negeri (seperti bus, MRT, public park yang bersih dan kece serta layanan masyarakat lainnya), jujur bikin aku ingin tinggal di negara tersebut. Contohnya waktu mengunjungi sebuah taman di Kyoto, aku dan suami sampai mikir, di indonesia ada nggak ya taman umum sebesar seluas dan SEBERSIH ini? Di mana nggak ada sampah bertebaran atau coret-coretan di bench atau tembok. Bisa piknik sore bareng keluarga sambil lihat sunset. Kadang iri sekali pengen pindah ke sana karena alasan ini.

    Namunnnn, setelah dipikir-pikir lagi, di luar negeri nggak ada abang tukang bakso, nggak ada tukang jualan gorengan dua ribu dapet tiga pcs tahu kriuk yang bisa dinikmati di taman tersebut. Sambil jajan bisa sambil ngobrol dengan abang penjualnya sambil ketawa-ketawa πŸ˜†
    Alasan-alasan remeh seperti ini yang bikin aku mikir, "there's nothing place like home", dalam arti Indonesia adalah tempat terbaik untuk menghabiskan hayat 😊

    Tapi kalau ngomongin soal Bali, aku dan suami juga punya impian untuk bisa menghabiskan pensiunan di sini. Makanya kami mencoba pelan-pelan cari peluang yang bisa dikerjakan di sana. Juga melihat orangtuaku yg udah menetap di sana, mereka less stress dibanding tinggal di Jakarta dulu. Bener kata Mba Eno, di Bali mumet dikit tinggal ngacir ke pantai πŸ˜† itu yang selalu dilakukan papa mamaku di sana. Di Jakarta mana pernah mereka jogging pagi, baru di Bali ini mereka bisa olahraga bareng di pantai hihi

    Duhh jadi panjang ya komenku ahahaha tapi di mana pun Mba Eno dan pasangan berada, semoga sukses dan sehat selalu ya! Good luck dalam mengejar mimpi kalian ❤πŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhu mbaaa, kalau menurut kesukaan saya, both the islands memang yang terdabest πŸ˜‚ hahahaahaha. But some people found it hard to live in Jeju or Bali -- jadi memang kalau sudah urusan kesukaan, nggak bisa disama ratakan. Buat setiap orang, rumahnya dan kotanya lah yang terbaik di dunia 😍

      Bicara soal fasilitas publik yang mumpuni, sering banget dari kita selalu berpikir demikian. Sama mba, saya juga πŸ™ˆ hihi. Kadang bertanya, kapan di Bali ada MRT (untung soon akan ada LRT!), atau di mana yah taman yang luassss banget dan indah serta terawat, endeblabla. However, melihat perkembangan Indonesia sekarang, saya optimis one day bisa secantik dan seteratur kota-kota besar di luar sana 😁 even Jakarta sudah lebih berkembang sekarang dengan segala fasilitas publiknya 🀩 jadi nggak sabarrrrr mau lihat bagaimana Indonesia 20 tahun ke depan ❤

      Nainiiiii mba, setujuuuu banget, permasalahan bang-abang yang jualan makanan seperti bakso dan sebagainya yang membuat saya selalu ingin pulang ke Indonesia. Apalagi sekarang ada bang-Gojek 🀣 duuuuhhhh semakinlah terasa berat. Sering banget saya berucap, "Coba ada Gojek, yah." Hahahahaha karena segitu berharapnya Gojek muncul di Jeju especially saat sedang ingin makan menu Indonesia 🀭

      Dan soal Bali, itu juga yang saya rasakan semenjak pindah dari kota besar mba. Hidup jadi lebih menyenangkan. Kalau lagi penat bisa lari ke pantai atau safari dan tempat-tempat menenangkan lainnya. Cuma memang kalau mba Jane oneday mau pindah, harus mateng memikirkan rencananya including mau cari peluang apa. Biar bisa lebih nyaman πŸ˜†

      Semangat juga untuk mba Janeee 😍 semoga di manapun mba stay kelak, akan selalu dikelilingi kebaikan. Bahagia dan dilancarkan dalam mengejar mimpinya πŸ˜†❤

      Delete
  6. Hayoo .. jadi bingung ya milih di Bali atau di Jeju πŸ˜„.
    Biar adil, digilir aja durasi tinggalnya kak.

    Bener juga loh kalau warga +62 mayoritas ramah-ramah. Mereka tak pelit senyuman dan ngasi sapaan ke orang yang belum dikenal sekalipun.
    Itu sudah aku alami di daerah manapun yang pernah kudatangi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, saya ada tulis di post 'Kenapa memilih Jeju' kalau saya stay-nya bergiliran πŸ˜‚ biasa saya di Korea saat musim gugur, musim dingin dan musim semi. Sedangkan saya di Bali lebih pilih saat tengah tahun karena udaranya yang dingin 😁 jadi kalau Korea masuk summer season biasanya saya pergi ke Bali πŸ™ˆ

      I couldn't agree more, berasa banget orang Indonesia ramah-ramah even sama orang yang nggak dikenal 😍 hehehe. Jadi merasa hangat setiap kali berinteraksi dengan mereka πŸ˜†

      Delete
  7. Bali masih di hati ya mba, kayaknya scorenya 4-3 untuk bali hehe (sampe hitungin) jadi pengen ke bali deh tapi buat liburan aja, kalau ditanya untuk tinggal maunya tinggal di jepang di kota berseni kyoto atau hokaido aja banyak tempat wisatanya terus gak rame banget kayak di tokyo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap di hati dan relung sanubari, mba 🀣

      Semoga suatu hari nanti mba bisa kembali datang ke Bali, yah 😍 hihihi ~ duh Jepang itu memang cantik sekali, dan saya pun prefer Kyoto atau Hokaido daripada Tokyo yang penuh turis membludak setiap hari, yang ada nanti mirip seperti tinggal di Seoul atau Jakarta πŸ™ˆ

      Delete
  8. Kalo sekarang... saya masih betah di Bandung. Suami yang perantau juga betah mungkin karena kuliah di sini. Kami pengennya tetep tinggal di Indonesia, tapi bisa sabeb yalan-yalan ke luar negeri kalo lagi sumpek, hahhahaha... impian banyak orang kayaknya :D

    Tapi, memang suka iri sama fasilitas-fasilitas yang nggak ada di sini, seperti internet stabil, atau pelayanan publik yang emang keknya masih sangat harus ditingkatkan kalau di Indonesia. juga sistem transportasi publik yang masih kalah banget kalau Bandung mah. Kalau di Jeju, transportasinya mainly pakai apa mbak? mengingat di sana kan populer sebagai tempat wisata.

    Baru tahu kalau layanan Gojek ternyata masih lebih unggul dibandingkan layanan delivery makanan-nya korea, hahaha... padahal kan orang2 sana doyan banget delivery yak? sampe nonton di reality show, lagi makan di sungai han aja bisa mendadak minta delivery. apa ga bingung tuh "alamatnya di mana?" "di pinggir sungai, lagi piknik" wahahahaha!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bandung juga nyaman bangettt mba, dingin pula πŸ™ˆ

      Dan iya, bakal seru banget kalau sedang mumet sama pekerjaan, cus berangkat liburan hahahaha. Tapi hidup tetap di Bandung saja 😍 eniho di Jeju ada transportasi publik seperti bus yang jalurnya lengkap dari timur ke barat, utara ke selatan, mba 😁 dalam artian, fasilitas busnya sudah tertata dengan baik dan maju, hanya saja, pada beberapa destinasi wisata seperti pegunungan, itu akan butuh waktu menunggu cukup lama. Yang biasanya kalau di kota hanya butuh 5 menitan, nah di gunung bisa 15 atau 30 menitan. However, meski nggak punya kendaraan pun, tetap bisa yalan-yalan selama di Jeju asalkan sabar 🀭

      Namun di Jeju nggak ada MRT, jadi mayoritas masyarakatnya kalau nggak naik bus ya naik mobil / sepeda (jarang ada yang naik motor mba, biasa motor hanya untuk delivery saja) 😁 jadi Jeju ini sedikit banyak mirip Bali (karena di Bali juga nggak ada MRT) cuma dengan kualitas transportasi publik yang lebih baik ~ hehe.

      Dan soal Gojek, iya jauh lebih bagus sistem Gojek karena kita semisal buka usaha resto pun nggak usah ribet hire pegawai untuk delivery service. While di Korea, kalau mau punya delivery service, harus hire pegawai personal atau ownernya sendiri yang delivery ke customersnya πŸ™ˆ akan sangat susah kalau orderannya banyak ~ bisa butuh banyak pegawai untuk delivery, atau mau nggak mau cust-nya yang menunggu dan lain sebagainya hehe.

      Sebenarnya sudah ada aplikasi yang mirip-mirip Gojek begitu mba, tapi mungkin karena ketersediaan drivernya juga nggak sebanyak di Indonesia, jadi tetap agak lama menunggunya πŸ˜† so, dari berbagai macam sudut pandang, Gojek masih jauh lebih oke kalau berdasarkan sistem dan poin-poin lainnya 😍

      By the way saya pernah lagi di taman pesan delivery hahaha, dan gampang kok biasanya kita cukup kasih patokan, sama baju yang digunakan apa, sambil share kordinat titik pengiriman 😁

      Delete
    2. nahiya, di bali kan kendaraan umum tuh nggak ada ya selain taksi dan gojek. pas aku ke bali sebelum serta setelah ada fasilitas ojol, sungguh pengalaman dan kemudahan itu terasa jauh berbezaaa... terima kasih ojol... wkwkwk.

      meskipun pulau wisata, tetep ada bus ya. maklum taunya jeju tuh kek semacam escape island buat liburan gituuu untuk menenangkan diri ala-ala lee hyori (hahahah). tp denger-denger dari temen saya yang stres tinggal di seoul, mungkin emang tinggal di tempat yang lebih sepi di sana - tapi dengan fasilitas yang lebih baik daripada di indonesia - adalah pilihan yang terbaik.

      semoga tercita yaa, capai-capainya settle down dengan rumah tapak di jeju! :D

      Delete
    3. Bahahahaha samakkkk! Dulu ke Bali waktu sebelum ada ojol harus sewa mobil, kalau nggak, bakalan susah mau ke mana-mana πŸ€ͺ sekarang meski tetap pakai mobil, tapi sejak ada ojol, cukup membantu kalau urusan kirim barang atau belanja dan beli makanan. Pokoknya bersyukur banget ada ojol, hidup terasa jauh lebih mudah πŸ™ˆ

      Di Jeju ada bus mba, dan lengkap rutenya. Kebanyakan yang naik nenek nenek dan kakek kakek sama turis sepertinya hehehe. Kalau yang muda sepenglihatan saya masih prefer bawa mobil pribadi atau sepeda kalau jarak dekat πŸ˜„ dan iya, banyak bangetttt mainland people yang berlibur ke Jeju saat penat. Semacam escape island memang, especially kalau harga tiketnya lagi terjun bebas 🀭

      Amiiiiin mba, harus giat menabung dan kumpulkan uang biar nggak berat bayarnya hahaha. Karena maunya kalau bisa dapat rumah tapak yang decent dan agak besar dengan garden which is harganya muahaaaal 🀣

      Delete
  9. Waduuh kalo di suruh milih selain Indonesia kyknya sy mati kutu mbak .πŸ˜ƒ selain sy mmg jarang banget jalan" keluar, karena bisa diitung jari, paling banter itu jg ga lama, paling lama hnya 2 mggu, jadi blom tau kayak apa memghadapi situasi, adab, budaya ato kebiasaannya, yaah kalo beberapa hri aja sih ga masalah, tpi kalo buat menetap sih kayaknya enggak, masih tetep Indonesia jdi pilihan 😁 mungkin krna lahir dan besar disini dengan segala lebih dan kurangnya, lagian biaya hidup jg msh terjangkau... πŸ˜‚,masih bisa ketemu muka" yg selalu tersenyum, muka" jutek dsb, tapi intinya sih "dimana bumi dipijak disitu langit di junjung" alias dimanapun kita berada hars bisa beradaptasi dan memahami adab dan budayanya yaa πŸ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, setuju sama mba, pada akhirnya Indonesia memang tetap di hati yah. Saya pun ingin tua dan mati di Indonesia, mba 🀭 karena bagaimana pun juga, kenyamanan Indonesia tiada dua ~ hehehehe.

      Dan betul, segala sesuatu di Indonesia masih terjangkau untuk kita, dan semoga ke depannya pun kesejahteraan masyarakatnya semakin merata, sehingga kita semua bisa hidup rukun tanpa kekurangan satu sama lainnya di bawah naungan negara tercinta 😍

      Dan setuju sama mba Hen, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, sudah seyogyanya kita berusaha untuk selalu adaptasi di manapun kita berada dan memahami adat istiadat setempat, meski kadang bisa jadi nggak sesuai dengan pedoman kita 😁

      Delete
  10. Seumur-umur belum pernah ke Bali, euy. Selama ini baru sebatas menikmati dari foto-foto, video, dan tulisan di internet aja. Kayanya banyak sekali yang merasa Bali memang menawarkan 'kenyamanan' untuk hidup dengan tekanan dan stres yang lebih rendah. Harmoni budaya, penduduk, dan alamnya sepertinya memegang kunci yang bikin nyaman untuk bermukim lama ya. Semoga satu hari bisa ada kesempatan ke sana hehe.

    Kalau punya kesempatan memilih, sepertinya saya akan memilih antara pedesaan Swiss, atau pedesaan Inggris/Negara-negara Skandinavia. Pedesaannya ya, bukan kota-kota besarnya. Sepertinya kok enak tinggal di desa yang ga hiruk pikuk dan setiap hari masih bisa menikmati udara segar dan disuguhi pemandangan alam yang indah. Kerjaannya bisa bercocok tanam kaya nanem anggur, atau bikin peternakan domba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, Bali in some part memang sangat nyaman asal tinggalnya bukan di area turis saja, yang ada pusing terus karena macet dan keriuhan yang nggak berkesudahan 🀣

      Saya pun di Bali cukup jauh area-nya dari tempat turis, jadi bisa betul-betul menikmati kedamaian hidup ala lokal, hehehe. Amiiin, semoga one day mas Ikhwan bisa mampir ke Bali, meski hanya untuk berlibur yah, syukur-syukur bisa menetap apabila menemukan kedamaian yang sesuai dengan harapan 😍

      Woaaah saya suka banget pedesaan Swiss, mas πŸ˜† mirip-mirip sama pedesaan di NZ hehehe. Bisa membayangkan betapa damainya hidup di desa sambil sesekali mengurus tanaman anggur atau mengurus domba 😁 hehehe. Bakal dimanjakan terus matanya dengan pemandangan indah πŸ™ˆ

      Delete
  11. Seru banget tulisannya, bandingin dua pulau yang selalu dipandang oh so perfect sama orang-orang. Cuman nih mau nanya sama Eno, kalau musim panas, saya pernah ke Korea pas musim panas dan itu gila gak kuat banget kayak mau meleleh melebur jadi becek. Sedangkan di Bali tuh menurut saya masih mayan adem ya. Kalau musim panas di Jeju gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Justin πŸ™ˆ

      Musim panas di Korea nggak banget mba, sakit kulit rasanya hahahaha. That's why saya memilih untuk ke Bali saat summer season karena Bali di tengah tahun suhu udaranya dingin thanks to hembusan angin winter Australia 😍

      Musim panas di Jeju sendiri nggak beda jauh dengan Korea in general, tapi bedanya sama musim panas (kemarau) di Indonesia tuh kalau di Jeju ada hujannya. Jadi panas bangetttt terus hujan deras, kadang berbarengan dengan angin topan, habis itu panassss lagi, terus hujan lagi (on repeat) ini biasanya mulai dari Agustus ke September mba 😁 kalau Juni - Juli normally panas terus all day long ~

      Delete
  12. Seru banget memang bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman. Satu aja udah enak, lha ini Mbak Eno malah ada dua :D

    So far, keduanya memang baik semua ya Mbak. Kalau bisa gonta-ganti tinggalnya kayaknya bakal mondar-mandir kali yaah, hihihi.

    Di manapun nantinya Mbak Eno berada, semoga selalu dilingkupi kebahagiaan yaa :D <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Andhira πŸ™ˆ bersyukur bisa enjoy keduanya πŸ’•

      Hehehe, so far masih sering mondar mandir karena satu dan lain hal 🀭 dan masih saya nikmati sampai sekarang, karena nggak bisa kalau nggak pulang ke Bali, Indonesia. Hihihi ~ amiiiin, terima kasih doanya mba. Semoga mba Andhira juga selalu dikelilingi oleh kebahagiaan dan kebaikan 😍

      Delete
  13. Betul kata kak Lia, Bali memang tipis dari Jeju. Dan setelah search image di Google, ternyata Jeju keren juga.

    Untuk urusan bensin, saya rasa itu keresahan setiap orang. Saya aja yang masih di Indonesia, kadang-kadang merasa biaya bensin itu lebih banyak dibanding biaya makan.

    Sebagai orang yang belum pernah ke luar negeri, kayaknya saya akan keliling Indonesia dulu baru ke luar negeri. Tapi kalo benar-benae dikasih pilihan, saya akan pilih Australia atau Jepang. Paling tidak yah ngayal dulu lah πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerennnn donggg, semoga mas Rahul kapan-kapan bisa mampir Jeju, yah 😍 nanti saya titip Masako dari Indonesia hahahahaaha πŸ˜‚

      Memang sepertinya persoalan bensin menjadi masalah setiap dari kita yang membutuhkannya 🀭 tapi semenjak bayar bensin mahal di Jeju, saya jadi merasa harga bensin di Bali (Indonesia) jadi sangat murah πŸ˜‚ nggak kebayang kalau di Indonesia seliternya 20 ribu, pasti akan berat sekali, yah ~

      Wahhhh saya juga ingin keliling Indonesia mas 😍 dan Aussie itu juga salah satu tempat yang saya inginkan untuk tinggal especially Melbourne / Sydneyyy πŸ˜† too bad saya ended up kesasar di Korea hehehehe. Semoga one day mas Rahul bisa ke Aussie dan Jepang juga. Nggak apa-apa berkhayal dulu, siapa tau nanti jadi kenyataan. Terus kalau jadi nyata, ingat-ingat komentar mas Rahul di blog saya πŸ™ˆ

      Delete
    2. Nanti saya bawakan lengkap dengan sayur dan ikan asin, biar kata di Korea tapi tetap Indonesiawi.

      Aamiin kak. Tapi saya malah pengen ke kota Adelaide, yang katanya kota yang cukup sepi di Australia

      Delete
    3. Sayurnya kangkung yah, di Korea mahal soalnya πŸ˜‚ jangan lupa sambal terasi juga mas Rahul hahahahaha ~

      Iya mas, Adelaide sepi bangetttt menurut saya πŸ˜† semoga one day mas bisa ke Adelaide dan jangan lupa bagikan ceritanya di blog mas untuk dinikmati pembaca 🀭

      Delete
  14. petik jeruk sendirii?? Ketika di Indo adanya petik strawberry yang kutahu. Uda petik sendiri, bayarnya mahal pulak. Kalau di sana petiknya gratis apa bayar sejumlah jeruk yang dipetik kak?? Hehe

    Anyway, jawab pertanyaan kaka, kalo bisa milih, tentu saja aku ingin tinggal di Jepang!!! Hahahaha
    Sudah secinta itu sama Jepang dari dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Jeju ada kegiatan petik jeruk sendiri mba πŸ˜† hehehe. Dan tentunya bayar kecuali kebunnya punya kitah 🀣 tapi harganya lebih murah daripada beli biasanya that's why banyak yang hobi petik jeruk sendiri karena selain lebih murah, juga fun untuk menghilangkan penat πŸ˜„ tapi saya biasanya baru mau melakukan kegiatan petik jeruk ini kalau sudah masuk musim gugur biar nggak kepanasan πŸ™ˆ

      Jepang memang banyak peminatnya yah, beberapa teman di atas juga memilih Jepang πŸ˜† semoga one day mba Frisca bisa merasakan hidup ala lokal di Jepang 😍

      Delete
  15. Nah iya ya, di mana ya?
    Kadang bosan banget dengan Indonesia ini, tapi memang nggak pernah mikir kalau diberi pilihan mau tinggal di mana?

    Kayaknya milih no maden keliling dunia dulu, biar tahu di mana yang bagus hahahahaha.

    Karena bahkan yang udah sering traveling, nggak bisa langsung menyimpulkan enakan tinggal di mana?

    Kalau saya jujur suka Indonesia, yang cuacanya nggak ekstrim banget.

    Saya nggak kuat dingin soalnya, juga nggak kuat panas banget.
    Mungkin juga karena memang dari kecil di Indonesaaaahh aja, nggak pernah ke mana-mana, jadi memang merasa Indonesia paling pas.

    Hanya saja nggak ada salju beneran :D

    Kalau kayak di Korea, ada saljunya, kalau musim kemarau, panasnya luar biasa.
    Heran aja gitu ya kulit orang sana tetap kece meski ada di cuaca yang ekstrim berubah-ubah gitu.

    Btw kalau wifi emang kagak bisa sama sekali bandingin Korea dengan Indonesia, teknologinya ketinggalan jauh.
    Tapi kalau masalah kemudahan, memang di Indonesia itu surganya orang mager hahaha.

    Pembokat banyak dan murmer, kalau di Korea katanya mihil ya?
    Dan BBM tuh, udah setengah harga tapi gitu ye orang-orang masih pada protesssss aja sama pemerintah, hahaha

    Terus masalah Gojek, saya jadi ingat postingannya Reisha tentang New Zelland yang katanya ribet kalau belanja online, nggak semudah di Indonesia.

    Kebayang banget ya, betapa Indonesia ini negara yang bebas sebebas-bebasnya pebisnis luar masuk, soalnya menggiurkan banget, gaya hidup masyarakatnya makin konsumtif, karena semua kemudahan tersebut :D

    Dan tiba-tiba sangat berterimakasih sama teman-teman yang tak jemu kampanye tentang minimalis dan gaya hidup yang sederhana ya.

    Memang kudu ada penyeimbang nih, di tengah gempuran kemudahan hal-hal konsumtif di negara ini :D

    Nah masalah senyum juga nih, menurut saya, senyum orang Indonesia itu lah yang kadang bikin kepo-kepo dan basa basi yang basi terjadi.
    Jadi sebenarnya basa basi itu penting banget, udah jadi budaya orang Indonesia, hanya saja, sebagai generasi yang milenial kita kudu mengkampanyekan basa basi yang lebih manusiawi, lebih sopan, biar keramahan yang ada tidak malah menimbulkan ketidak nyamanan :)

    Tapi over all, saya juga pengen dong jalan-jalan di hutan gitu, hihihi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, keliling dunia dulu biar bisa memutuskan paling enak di mana, nanti ujungnya pasti semakin cinta Indonesia tanah air beta 😍 ehehehehehe. Saya pun kalau ditanya jawabannya pasti ada Indonesia πŸ™ˆ

      Gaswat kalau di Indonesia ada salju, means global warming sudah semakin parah ~ πŸ˜… dan betul seperti yang mba bilang, Korea itu panasnya menggila haha. Bisa buat kulit terasa seperti kebakar. Sakit pokoknyah, that's why pakai sunblock wajib hukumnya πŸ˜‚

      Dan setuju perihal Indonesia surganya orang mager karena saya bisa merasakannya πŸ™ˆ enak banget memang tinggal dan hidup di Indonesia asal jangan keterusan, nanti digondol ayam rejekinya πŸ˜† eniho, harga jasa di Korea sangat mahal mba, jadi kalau nggak butuh-butuh banget better nggak usah pakai jasa πŸ˜‚

      Dan persoalan basa basi sepertinya perlu dikampanyekan 😬 untungnya generasi sekarang semakin tau kalau ada banyak pertanyaan yang nggak seharusnya ditanyakan hanya karena basa basi semata πŸ˜† semoga ke depannya, semakin banyak yang aware untuk menjaga dan menghormati privasi satu sama lainnya terlepas dari keramahan yang dipunya 😍

      Wish one day bisa ya, mba πŸ’•

      Delete
    2. Nah iya kan, saya pernah liat di channel Youtube nya Yannie Kim, memang mihil banget ya, makanya di sana peralatan rumah tangga canggih-canggih, saking tenaga manusia mahal :D

      Iya say, sedih juga kalau atas nama biar nggak menyinggung orang lain, generasi mendatang jadi saling cuek, jadinya kayak di kebanyakan di Korea zaman now.

      Jadinya milih cuek dan inidividualisme :(

      Delete
    3. Hu'uh mba, better pakai robot-robotan untuk bersihkan rumah karena tenaga manusia mahal πŸ˜‚ lagipula pakai robot bayar mahalnya cuma sekali dimuka asal nggak sering rusak πŸ€ͺ hahahahaha.

      Nah itu mba, terlalu banyak basa basi nggak baik, terlalu cuek juga nggak baik hihi. Kalau saya yang penting moderate, dan di Indonesia pun sebenarnya sudah banyak sekali yang individualis dan memilih cuek kecuali memang dibutuhkan untuk speak up πŸ™ˆ *termasuk saya* πŸ˜‚ meski ramah tetap dilakukan tapi lebih sering ramah ke arah senyum bukan basa basi bertanya privasi seseorang 😁

      Delete
  16. Akhirnya skor akhir 4-3 untuk kemenangan Bali atas Jeju.😊

    Memang kalo bicara soal teknologi maka Jeju Korea Selatan menang banyak ya mbak dari Bali, bersihin rumah ada vacum cleaner, dishwasher, dan lainnya. Tapi Indonesia tidak kalah dengan mbak mbak yang rajin membersihkan rumah.

    Apalagi kalo bicara soal WiFi atau kecepatan internet. Korea Selatan merupakan salah satu juara dalam hal internet bahkan pernah menjadi yang tercepat di dunia. Indonesia juga sebenarnya tidak kalah sih. Saya pernah download film ukurannya 300 MB, lumayan cepat lah selesai dalam 50 menit atau sejam. Baterai hape dari 80% tinggal 40%. Jadi Indonesia tetap 'juara' dalam hal kecepatan internet.🀣

    Lha gimana mau cepat, menterinya saja kalo ditanya kenapa kecepatan internet di Indonesia lemot, jawabannya kalo cepat nanti banyak yang mengunduh film nganu. Lha, mikirnya kok cuma nganu saja, memang hal lain seperti pendidikan berbasis internet ngga penting apa?

    Di Jeju banyak hutan jadi enak ya mbak buat jalan jalan, kalo di Bali agak jauh. Yang dekat ada tapi harus bayar. Bisa tekor kalo kesana terus.πŸ˜‚

    Tapi Indonesia kembali unggul dengan keramahan penduduk nya. Sudah banyak survei yang membuktikan kalo penduduk Indonesia ramah tamah termasuk pada orang asing.

    Saya pernah membuktikannya. Jadi ceritanya saya dapat job antar turis asing dari Inggris untuk keliling kota gitu mbak. Sudah satu jam keliling dan Alhamdulillah tak ada kendala sama sekali. Penduduk juga pada menyapa ramah bahkan ada beberapa yang minta selfie sama tuh bule, kalo sama aku sih ngga ada, ngelirik aja ngga.πŸ˜‚

    Setelah puas berkeliling ia pun ingin pulang lewat stasiun. Akhirnya kami naik becak saja, biar dia ada kesan gitu naik kendaraan tradisional Indonesia. Si bule tuh senang banget karena baru pertama kali naik becak. Dia sering mengacungkan jempolnya, good good katanya apalagi tukang becaknya juga ramah.

    Jalan ke arah stasiun itu harus lewat jalan kecil yang agak sempit. Nah, di gang itu banyak sekali anak kecil yang pada bermain sehingga menghambat. Tiba tiba tukang becaknya menghardik.

    "Minggir Kabeh." Bentaknya pada anak-anak.

    Namanya anak anak biarpun dibentak tapi tetap saja ada yang masih main. Tukang becaknya tentu saja makin naik pitam. "Woi, pada pengin mampus ya." Katanya sambil mengacungkan tinjunya.

    Saya tentu saja shock, karena udah puluhan kali naik becak tapi baru kali ini dapat yang galak. Hancur sudah keramahan penduduk Indonesia yang aku ceritakan sepanjang perjalanan. Apalagi tuh turis tiba tiba tanya." Halo, itu tukang becak kenapa?"

    Akhirnya aku jawab saja." Oh, itu tukang becaknya lagi menyapa anak anak, halo anak anak manis." πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Agus, kalau soal teknologi memang juara, tapi bedanya kan para mesin nggak bisa senyum dan ramah seperti para mba-mba 😍 jadi buat saya, mba-mba masih tetap dihati ahahahahaha πŸ˜‚

      By the way download 300MB hampir sejam luamakkk bangetttt yah hahahaha, berharap banget semoga suatu hari nanti download 300MB hanya butuh 1 menit, it would be great πŸ™ˆ terus saya ketawa dong baca tulisan soal menteri, ada-ada saja memang. Padahal wifi itu sekarang sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar, yang seharusnya tersedia di mana-mana dan dapat digunakan dengan mudah 😬 lagipula yang pakai wifi untuk nganu kan hanya segelintir orang πŸ˜‚

      Terus jadi ceritanya mas Agus (si tokoh ini) bohong sama bulenya? 🀣 untung bulenya nggak paham bahasa Indonesia, yah hahahahaha ~ bahaya kalau dia sampai paham apa yang tukang becak bilang πŸ€ͺ Wk. Terima kasih mas atas cerpennya di kolom komentar blog saya 🀭 finally muncul lagi cerpen kilat yang saya nanti-nantikan πŸ˜‚

      Delete
  17. Hallo Kak Eno, salam kenal :) benar banget sih pernyataan terakhirnya: instead of mearasa kesal akan perbedaan, lebih baik beradaptasi. Lagi pula namanya tinggal di tempat yang berbeda, ya tentu saja banyak perbedaannya hahaha.

    Aku sendiri sudah berkali-kali pindah ke negara yang berbeda. Aspek yang paling penting bagiku adalah kedekatan kota tersebut dengan alam dan ada atau tidaknya body of water di sekitar kota tersebut. Sekarang aku tinggal di Hamburg, setelah sebelumnya pernah tinggal di Oslo, Perth dan Jakarta. Setelah tinggal di Oslo, rasanya aku mau kembali lagi ke negara yang cuacanya ekstrim. Seperti Canada, mungkin. Keindahan alamnya juara dan musim dingin yang panjang menjadi penantian akan musim semi. Perbedaan kedua musim seakan menjadi pengingat bahwa hal yang buruk tidak untuk selamanya dan selalu ada yang hal baik dalam kesulitan jika kita membuka mata.

    Seperti Kak Eno, aku pun lebih suka kalau diberi kesempatan hidup di pedesaan. Tapi aku maunya tinggal di pedesaan yang masih bisa dicapai dengan transportasi umum, mengingat aku tidak bisa menyetir dan kalau naik sepeda keburu capek sendiri hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Holla mba Hanna, salam kenal πŸ˜†πŸ™

      Iya mba, adaptasi diperlukan di manapun kita berada, meski susah tapi lebih baik daripada nggak melakukan apa-apa πŸ˜‚ hehehehe. Wah banyak sekali pengalaman tinggal lamanya mba, seru dong ya punya banyak cerita yang bisa dibagikan 😍 dan memang hidup berdekatan dengan alam itu bisa membuat balance, saya pun merasakannya πŸ’•

      Setuju dengan pernyataan mba Hanna kalau hal yang buruk nggak selamanya, semacam badai pasti berlalu, mba 🀭 ehehehe. Saya juga maunya meski desa masih tetap terjamah sama sedikit sentuhan kota, bukan yang pure desa jauh dari mana-mana, sampai susah kalau mau ke hospital dan lain sebagainya πŸ™ˆ

      Semoga mba Hanna selalu sehat, ya 😍

      Delete
    2. :D :D benar banget sih Mba. Akses mudah ke sarana kesehatan memang penting banget! Ini yang susah kalau tinggalnya di negeri antah berantah. Semoga Mba Eno sehar selalu juga ya <3

      Delete
    3. Terima kasih banyak mba Hanna πŸ˜πŸ’•

      Delete
  18. Bicara Tentang Bali dan Jeju.......saya belum pernah datang ke dua tempat tersebut. :) 'Ndeso bangetzkan saya....hahaha.

    Ohy Mbak Apakah Kota Jeju itu, adalah Kota utama yang paling terkenal di Korea ?

    Kalau urusan makan, ternyata lebih enak di Bali yah Mbak...soalnya para Mbak-nya pandai memasak dan masakannya selalu tersedia. :)

    saya baru tahu kalau di Jeju Bensin dan Senyuman, merupakan sesuatu yang Mahal.

    Jika saya diberikan Kesempatan untuk pilih tinggal dinegara mana ? saya ingin tinggal di Palestina atau Arab Saudi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ndeso kok, mas 😬 hehehe.

      Kota utama yang paling terkenal itu ibukota Korea Selatan mas, namanya Seoul. Kalau Jeju itu pulau di selatan mainland Korea 😁 jadi dibilang kota utama juga bukan, tapi kalau terkenal sih iya, especially bagi orang mainland karena Jeju itu macam Balinya orang Jakarta. Tempat untuk escape dari kepenatan dunia πŸ˜‚

      Dan soal makan memang Bali paling enak, even nggak ada mba, tetap ada abang Gojek yang siap sedia antarkan makanan hahahaha jadi hidup di Bali sangat nyaman buat saya πŸ™ˆ semoga one day mas Nata bisa visit Palestina dan Arab Saudi sesuai harapan, mas πŸ˜„

      Delete
  19. kalo aku, kayanya ngga bisa tinggal di desa, karena kalo ke mana-mana atau cari barang kebutuhan agak repot πŸ˜… apalagi ngga ada transportasi umum..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga kalau desanya sampai nggak ada apa-apa belum bisa, mas πŸ˜† pedesaan yang saya inginkan yang masih gampang diakses, jadi itu masuknya ke arah mana yah, desa apa bukan, yah? Entahlah πŸ˜‚ yang pasti, saya ingin di pulau makanya saya suka Bali dan Jeju-do πŸ™ˆ

      Delete
  20. Mba font headernya ganti yak, hihi, bagusan yang sekaraang

    Owh iya, jawab pertanyaan yang di akhir dulu deh, andai ditanya pengen tinggal dimana ketika opsinya selain indonesia, waduh dimana ya... pertanyaannya susah juga ya, hahahhaha #uda kayak mau jawab kuis rasanya πŸ˜‚

    kalau hasil ngehalu dikit sih australi, mau beternak ayam eh maksudnya liat kangguru soalnya #jawaban apa ini yak πŸ˜‚

    Ehm...jadi ini dibattlein toh mba eno, seru juga yak 😎

    Ppaling kalau aku ya bisanya ngebattlein pas tinggal di desa vs di kota yang sama-sama masih di Indonesianya. Dan sama sih, kadang kalau pas di desa (waktu mudik), aku awal-awal ya happy, serasa urip kok ayem tentrem gemah ripah loh jinawi. Sayur tinggal metik, ayam tinggal motong, ngirit pula. Tapi begitu uda jalan seminggu nih pasti langsung kangen pengen balik kota lagi. Ga bisa sih aku terlalu lama di desa soalnya nglangut kalau ga ada usaha yang udah settle sendiri hehe...nah, jadi karena di case kami bisnis tetep jalan di kota ya balik2 tetep pulang ke kota juga ujung2nya. Ntah kalau masa tua nanti, belum ada plan khusus, xixixi

    Btw, ngomongin jeju and bali dari segi penjabaran mba eno, tiba-tiba aku jadi teringat foto2 lamaku yang uda ngendon lama ketika jalan2 ke bali, daaaaan jadi pengen nulis tentang bali lagi walaupun udah sangat latepost tentunya, soalnya yalan-yalannya sebelum ada bocah hahahha....

    Eh andai ngehalu lagi, aku dan pak su bisa main ke jeju, pasti yang ada malh girang bukan kepalang tuh gegara wifi. Secara tu wifi banter bener, bisa2 pak suamiku mantengin manga online sampai pagi tuh, dan bisa2 aku juga sekral sekrol aja kerjaannya hahhahahah...

    dan itu di jeju keren amat paketan bisa nyampe super duper wus wus wus walau judulnya beda kota

    Di sini mah paket kilat khusus seenggaknya 2-3 hari kerja. Dan yaaaaak, senyuman itu mahal harganya. Di indonesia senyuman bisa dijumpai di mana-mana, yang tak kenalpun dapat senyuman entah dari siapa, apakah itu pedagang, orang lewat, dll. Kecil tapi bermakna ya mba eno.. Bikin maknyes kalau senyumannya tulus n hangat, sementara di luar indonesia hal sekecil ini ternyata lumayan dirindukan juga ya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, ganti hahahaha. Terima kasih mba Nita πŸ˜†

      Australia memang jadi salah satu negara favorit untuk orang Indonesia, beberapa teman saya pun ada yang settle down di Australia πŸ™ˆ dulu sebelum saya di Korea, saya juga maunya settle down di Australia mba hihi πŸ˜‚

      Iya, iseng di-battle-in tapi semoga nggak terkesan negatif yah, saya hanya berusaha lihat sisi positif masing-masing pulau karena to be honest, saya suka ke duanya 😍 dan masih betah untuk pulang pergi ke sana kemari selama ini 🀭 ehehehe.

      Dan sama seperti yang mba bilang, saya pun dulu maju mundur untuk pindah ke pulau itu salah satu alasannya harus settle dulu, harus jelas dulu persoalan finansialnya jangan sampai nanti bingung mau hidup bagaimana πŸ˜† dan banyak juga yang memilih tunggu pensiun dulu baru pindah ke pulau atau desa 😁

      Ayoooo mba Nita tulis soal Bali, saya mau baca 😍 saya selalu suka baca tulisan soal Bali, hehehe ~ meski pada part 'ALAM' saya lebih suka Jeju, itu karena saya selama ini hanya melihat tempat-tempat mainstream di Bali jadi hati saya masih tetap memilih Jeju untuk urusan alam. Siapa tau setelah baca tulisan liburan mba Nita, saya jadi bisa mencintai alam Bali jauh lebih dalam πŸ™ˆ

      Nah kalau soal wifi, dijamin sih mba Nita dan pasangan akan happy syekaliiii ~ saya belum pernah selama di Jeju mengalami wifi lemot, putus-putus dan sejenisnya. Kecepatan juga was wes wos hahaha jarang lihat pakai acara loading segala. Entah apa mungkin fasilitas wifi apartmentnya yang bagus atau bagaimana. Tapi di area publik pun wifinya cepat semua 🀭 semoga Indonesia wifinya bisa secepat kilat jugaaaa ~

      Saya sih sadar kenapa di Indonesia lama karena mungkin kemacetan ada di mana-mana, terus infrastruktur juga belum merata bagusnya πŸ˜† dan selain itu, Indonesia ini kan besarrrrrr sekali dan penduduknya banyak jadi butuh waktu lebih mungkin untuk urus pengiriman 😁 while Korea kan luasannya kecil, penduduknya sedikit, dan infrastruktur memadai jadi lebih mudah 😬 ehehe.

      Yah, despite banyaknya kekurangan, Indonesia tetap juarak salah satunya karena murah senyum dan ramah πŸ˜πŸ’•

      Delete
  21. Baca ini sambil ngayal, karena belum pernah ke Jeju dan ke Bali. Tapi suka ngimpi suatu saat bisa ke Bali atau Lombok.

    Sebagai orang Sumatera Barat yang juga tinggal di pedesaan, saya emang suka kangen rumah pas lagi suntuk2nya, kangen main ke pantai, ke sawah, ke air terjun belakang rumah teman, kangen belajar merajut sama sahabat baikku yg uda kayak sodara, kangen main ke danau, main ke dermaga sore2, kangen ke puncak, nulis ini sedih sih karena belum bisa pulang lagi.

    Oiya sebelum kelupaan, selamat kembali lagi mbak Enooo, great to know that.

    Btw, kalau mikir hidup di luar negeri kadang saya suka takut mba, takut nggak bisa survive, baik makanan atau sama orang2nya. Trus kalau mau hidup di luar saya malah mikirnya tinggal di Eropa, Polandia atau Belgia kejauhan hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa ke Bali atau Lombok one day, mba 😍

      Dan semoga mba bisa kembali ke rumah menjenguk keluarga segera setelah Corona reda 😁 saya tau banget rindunya bagaimana. Saya juga kadang merasakannya ~ let's be strong, mba πŸ˜†πŸ’• hehehe. Terima kasih mba!

      Ohya, saya pun pernah merasa kawatir apakah saya bisa survive pada awalnya πŸ™ˆ tapi ternyata berjalan dengan waktu, saya bisa ~ pelan-pelan, karena yang namanya adaptasi pasti dibutuhkan. Jadi kalau nanti mba berencana pindah ke suatu tempat baru, semoga mba bisa beradaptasi dengan baik, dan yakin deh, cepat atau lambat mba pasti bisa survive even harus tinggal jauh di Polandia ataupun Belgia 😍

      Delete
  22. Kalau punya keinginan hidup di luar negeri enaknya di mana yaaaaaa? Hmmmm... Kyknya otakku gak bisa mikir sampai sejauh itu, Mbak Eno. Malah niatnya kalau bisa suatu saat nanti pengen tinggal di kampung halaman aja. Soalnya keluargaku dan mertuaku juga ada di sana. Jadi biar enak hidup dekat sanak saudara.🀭

    Tapi ngomong-ngomong enak kyknya bisa jalan-jalan menikmati alam secara gratis di Jeju. Semoga aja di Indonesia makin banyak yang kyk di Jeju itu. Soalnya kalau menyangkut wisata di sini kebanyakan ada tarifnya sih.πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, I know, paling nikmat hidup dekat keluarga dan saudara πŸ˜†πŸ’•

      Salah satu poin plus Jeju memang karena alamnya banyak yang gratis, di Bali pun ada beberapa yang gratis, tapi nggak banyak karena sepengalaman saya setiap masuk tempat pasti disuruh bayar πŸ˜‚ mana harga foreigner beda banget pula bisa 10x lipat, while di Jeju even harus bayar, harga foreigner dan lokal itu sama 😁 semoga suatu hari nanti semakin banyak tempat wisata terbuka untuk masyarakat Indonesia yang tentunya terawat ~ 😍

      Delete
  23. aku milih korea hahaha, dari dulu pas awal kenal drakor pokoknya korea, mungkin kalo disuruh stay ya korea aja, eh tapi new zealand oke juga hahaha
    dulu sempet browsing, internet di korea emang super cepat, kan jadi penasaran pengen ngerasin sendiri segimana cuepetttnyaaa, saking kadang suka lemoottt minta ampuun di sini. kirim email isi exel aja bikin emosi, nah kalo di korea tinggal wuss, sent. jauh banget ya
    sampe mikir sendiri, bedanya teknologi internet indo sama korea ini dimananya, apa kabelnya kurang canggih, atau sinyalnya yang buruk, bisa beda begini hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Korea bagian mana mba Ainun? Seoul, yah 😍 ehehe.

      Saya juga bingung kenapa di Korea bisa cepat sekali while di Indonesia bisa lambat. Mungkin karena banyak alasan mba yang sulit dipahami oleh kita 😁 jadi satu-satunya cara hanya bisa menikmatinya saja meski lambat hahahaha. Mana kalau mau beli yang Mbps-nya besar harganya mahal, while di Korea, super murah πŸ˜‚ tapi bisa jadi Indonesia masih butuh waktu untuk berproses, dan semoga suatu hari nanti internet bisa merata hehe pelan-pelan upgrade 😍

      Delete
  24. Dulu waktu kecil saya sempet bercita-cita pengen tinggal di Belanda dan Perancis, Mba. Alasannya? Karena suka dengan lukisan kincir angin di teko pajangan Ibu di rumah πŸ˜‚ dan pernah juga ngeliat suasana Eropa di jaman-jaman Victoria di film atau di lukisan. Berasa Dejavu pernah tinggal disana, soalnya (entah itu sebenernya ngayal ato ngarep) πŸ˜…

    Setelah itu, berpindah lagi cita-citanya pengen tinggal di Jepang, karena berapa kali nonton Seorang Pengrajin Kayu yang tinggal di suasana pedesaan di Jepang.

    Kalo sekarang, pengen tinggal di kampung halaman nenek kakek saya mba (Setelah dewasa halunya lenyap)πŸ˜‚, pengen punya tanah yang luas untuk berkebun sepanjang tepian sungai di dekat hutan. Kalo punya uang pengen punya sawah dan tanah untuk di olah, pengennya sih sepupu-sepupu aja yang menggarap, biar mereka punya pekerjaan tetap juga.

    Nanti kalo lagi pas liburan, bisa berlama-lama main di kebun dan di air. Soalnya sejak kecil mudiknya paling lama cuma dua hari, karena disana emang ortu udah gak punya rumah peninggalan lagi. Jadi paling nginep sehari-dua hari di rumah sepupu, kasian mereka kalo kami nginepnya kelamaan, suka ngerepotin soalnyaπŸ˜…

    (tapi yah, sampe sekarang masih cuma cita-cita sih mba, masih mengkhayal dulu) πŸ˜‚



    ReplyDelete
    Replies
    1. Bah, saya banget mba, pernah sekilas ingin tinggal di Belanda gara-gara kincir angin di pajangan hahahaha πŸ˜‚ terus sering baca buku anak yang latar belakangnya Eropa karena buku tersebut terjemahan dari Eropa, jadi semakin merasa kalau saya tau setiap sudut Eropa hahahaha 🀣

      Setelah dewasa jadi lebih realistis yah, mba πŸ™ˆ by the way mengkhayal itu nggak apa-apa, siapa tau semesta mengabulkan setelah membaca khayalan dan harapan yang mba tuliskan 😁

      Katanya kalau punya harapan, tulis~lah. Semoga suatu hari nanti harapan mba tercapai, punya tanah luas di dekat hutan dan bisa membantu sepupu-sepupu mba untuk memiliki pekerjaan tetap 😍 niatan yang mulia, dan semoga dimudahkan πŸ’•

      Delete
  25. unik mbak perbandingannya,, gak pernah liat artikel model begini sebelumnya :D

    aku juga sama mbak,,, gak cocok tinggal di kota besar. 6 tahun di Jakarta saya sudah menyeraaaah.. impianku ada lah bisa menghabiskan masa tua di Labuan Bajo atau pedesaan di Bali,, cuma istri yg gak mau ahaha.. Semoga besok2 dia mau..

    Kalau negara lain yg ingin ditinggalii?? hmmm,,, ga ada sih, aku pgn ttp stay di Indonesia.. Emang udah secinta itu sama Indonesia walaupun kelakuan manusia +62 emang banyak yg bikin geleng2 kepala haha.. Tapi ibu pertiwi selalu di hati..

    Itu juga alasan kenapa luar negeri yg pernah aku singgahi baru Singapura.. Selain aku emang lebih berhasrat menjelajah Indonesia , pertimbanganku adalah untuk jelajah luar negeri pgnnya dari duit yg dtgnya dari luar negeri juga..

    Ada juga kok keinginan jelajah luar negeri.. Tapi sejauh ini uang yang aku peroleh dari luar negeri belum cukup untuk bisa menjelajah banyak negara, paling hanya ke beberapa negara Asean saja cukupnya. Duit yg aku peroleh dari APBN atau sumber lainnya di Indonesia pgn tetap kubelanjakan di Indonesia.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga menyerah hidup di kota besar, mas hahahaha. Padahal saya besar di kota besar. Tapi semakin ke sini semakin lebih menikmati hidup di pedesaan atau pulau yang agak jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan 😁 semoga one day, pasangan mas Bara mau ikut pindah ke Bali yah 😍

      Saya justru kagum sama mas Bara karena bisa menjelajah Indonesia sampai ke pelosok, seriously jarang baca tulisan teman-teman bloggers yang bercerita mengenai pelosok Indonesia. Saya jadi bisa melihat banyak keindahan di Indonesia πŸ™ˆ

      By the way, uang yang diperoleh dari luar negeri maksudnya uang dari Adsense-kah? Hehehe. Semangat mas Bara, semoga tercapai cita-cita dapat uang banyak dari luar negeri biar bisa yalan-yalan ke luar 😍

      Delete
    2. dari adsense ada tapi itu mah seuprit bgt wkwkwk,, tapi tetep berusaha sih buat besarin youtube jadi dptnya dr adsense youtube :D :D ..

      sejauh ini cuan non-rupiah banyaknya dari bisnis private trip explore sumatera barat sih.. tapi lg pandemi gini jd mandek hahaha..

      Delete
    3. Woah semoga Youtube mas Bara semakin berkembang, penontonnya semakin banyak, agar adsense-nya melimpah 😍

      By the way mas Bara open private trip juga? Bagi waktunya susah nggak? πŸ™ˆ apa hanya di weekend saja? ehehe. Semangat mas, semoga setelah si coro pergi, bisa kembali mengurus usaha private trip-nya dan semoga customers-nya semakin banyak πŸ˜†

      Delete
    4. thank you doanya mbak :)

      awalnya sih weekend aja, saya nge-handle semuanya dari bikin itinerary+ngubungin hotel+sopir+guide+fotografer haha..

      setelah dapat ilmunya, akhirnya hanya bikin itinerary, ngubungin hotel, sewa mobil. Sopirnya sekalian dari rentalnya, lalu fotografer+guidenya kerjasama bareng mahasiswa2, dan bisa jalan kapanpun gak hanya weekend ahaha..

      Delete
    5. Keren mas Bara, step by step lama-lama jadi profesional, siapa tau nanti jadi salah satu yang terdepan di SumBar 😍

      Semangat mas Bara! πŸ’ƒ

      Delete
  26. Beberapa bulan terakhir ini, aku seneng banget liat video youtube ini: Zoe 쑰에

    Liatin dia kerja asik, miss, haha. Jadi bikin pengen ke korea cuma mau cobain menu-menu yg dia punya. Tapiiii, aku kan belum pernah ke korea... pernah dengar beberapa cerita orang-orang Indonesia kalo ke cafe-cafe di Korea gitu diliatin sinis, haha.

    Ada juga cerita-cerita banyak orang di Bali banyak perlakuan diskriminatif dan aku belum pernah sih dapat perlakuan begitu. Ya alhamdulillah. Pernah masuk Potatohead, mereka gak seperti apa yg orang bilang. Gak tau ya, apa mungkin karena tampangku gak seperti orang Indonesia.. keluar dari tempat jemput koper langsung dikerubungin driver airport nawarin ini-itu. Ke Bali beberapa kali malah dapat harga 2-3x lebih mahal. SialπŸ˜‘

    Paling enak menurutku di mana, miss? Di Surabaya, haha. Seperti duplikatnya Jakarta, banyak mall. Padahal dulu waktu kecil, aku taunya cuma Mall Tunjungan aja, haha. Di Surabaya aku tinggal di rumah eyang, di Jalan Dr. Sutomo.

    Cuma kalo soal internet, ya memang sering dengar koneksi di luar jauh lebih cepat daripada di Indonesia😞

    Nah, yang aku suka dari Korea.... Korean stationery dan street food. Liat-liat di youtube, lucu-lucu bikin ngiler. Dan di sana tertib kan miss, bersih. Enak buat jalan kaki. Di sini jalan kaki dari monas ke Grand Indo aja udah sesek nafas, haha....

    ReplyDelete
  27. Thank you untuk rekomendasi Youtube-nya, Ran 😍

    Eniwei, soal banyak orang kita ditatap sinis oleh orang Korea, mungkin hanya segelintir oknum saja. Sebab saya pribadi belum pernah mengalaminya. Atau mungkin ditatap sinis karena nggak bisa jaga sikap, seperti berisik ketika di cafe yang seharusnya tenang, dan lain sebagainya 😬 tapi kalau nggak ada alasan, just ignore, karena nggak penting untuk dipikirkan πŸ˜‚

    Di Bali pun sama, banyak yang bilang lokal di-diskriminasi, well menurut saya itu ulah oknum karena nggak semua demikian. Asal kita bisa bawa diri, orang akan perlakukan kita dengan baik di manapun kita berada πŸ˜† mungkin Ran lagi unlucky sampai kena getok harga lebih mahal 2-3x lipat πŸ˜‚ next time kalau dari airport, pilih taksi online saja, di bandara sudah ada layanan GRAB soalnya 😬

    Beberapa teman saya yang suka Jakarta juga suka banget sama Surabaya, vibe-nya memang similiar 😍 bahkan some of them suka banget berburu kuliner di Surabaya. Hehehehe ~ Menurut saya, Surabaya salah satu kota yang menyenangkan πŸ˜† meski saya jarang ke sana πŸ˜‚ dan TP itu juga satu-satunya mall yang pernah saya kunjungi setiap kali ke Surabaya (seingat saya, nggak ingat mall lainnya) πŸ™ˆ

    Ps: stationery di Korea parahhhh bagusnya buat kalap haha. Lucuk-lucuk semua, dan cafe-cafenya bagus 😍 hehehe. Kalau one day Ran ke korea, make sure untuk cafe / coffee shop hopping biar merasakan secara langsungggg keseruannya 😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya miss, sejak terakhir ke Bali kalo jalan pake kaca mata item, plug earphone aja udah, mereka mau sinis gimana, musik yg aku dengar bisa jadi pengalih yg bagus. Beda sih rasanya kalo jalan dengar musik dan jalan tanpa musik. Pikiran teralihkan. Caraku gitu miss, hehe.

      Pernah lewat depan double six, tingkat PD-ku meningkat 2-3x lipat kalo dengar musik + kaca mata itam. Staffnya gak tau emang mukanya judes apa gimana, aku goyangin kepala aja terus bilang, "wassup?" sambil tetep jalan. HA! Ya kadang kan ada orang yg emang mukanya udah dari pabriknya ngeselin tapi sebenernya gak ada pikiran utk judes ke orang kan πŸ˜…

      Hoooooo jelaaaassss, cafe pertama yg aku bakal datengin tuh yg di youtube itu, haha. Doain miss, semoga uangku terkumpul bisa jalan ke Korea coba-coba street food beli barang-barang lucuπŸ₯°

      Delete
    2. Hihihihi, memang enaknya pakai earphone kalau nggak mau diganggu πŸ˜† dulu saya juga selalu pakai earphone kalau ke mana-mana sendirian, tapi semenjak lebih sering trip sama pasangan, sudah nggak pernah pakai earphone lagi, karena ada teman mengobrolnya πŸ˜‚

      Kalau menurut saya, mereka nggak menyebalkan kok, hanya bawaan perawakannya saja yang terkesan judes padahal bisa jadi baik-baik semua dan pastinya kemungkinan besar baik ~ 🀭 hihihi. Saya doakan semoga Ran bisa ke Korea soon, setelah corona hilang 😍 nanti jangan lupa bagi ceritanya di blog, yah πŸ˜†

      Delete
  28. Kalau gue dua-duanya, suka traveling ke kota dan suka hidup di kota besar. Desa dan kota kecil cukuplah buat staycation atau getaway.

    Buat gue, mudah sih menemukan pelarian di kota besar. Sesimpel nongkrong di coffee shop atau di hotel terdekat, atau cari spot yang agak sepi lalu melihat view kota sendiri, apalagi kalau bisa lihat kereta juga hehe. Itulah aku pengen tinggal di kota dengan sistem subway yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh, hihi memang desa enak banget buat staycation mas, hahahaha, saya sebenarnya kalau terlalu pelosok juga nggak begitu suka, jadi pilih Jeju dan Bali karena meski lebih natural, tapi masih ada sentuhan kotanya 🀭

      Mungkin mas Nugie suka banget sama kota karena mas Nugie kan pecinta kereta 😍 hehehehe. Tapi memang keseruan tinggal di kota itu bisa ke coffee shop, cafe, dan lain sebagainya, mas πŸ˜†

      Delete
  29. Makin ke sini saya jadi makin penasaran melihat Jeju, Mbak. :D

    Btw, bagian Bali yang paling menyenangkan buat saya itu Amed, Mbak Eno. Tempatnya sepi tapi kebutuhan-kebutuhan dasar bisa terpenuhi. Mau ke Denpasar memang agak jauh, tapi jalannya sudah mulus (meskipun belok-belok lewat bukit).

    Kalau mengkhayal tinggal di mana selain di Indonesia.... Hmm... Mungkin di salah satu kota kecil entah di Argentina, Peru, atau Chile.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk nanti habis Corona hilang, main ke Jeju, mas 😍

      Amed di mana, ya? Saya justru baru pertama kali dengar πŸ˜† nanti saya coba cari infonya melalui mbah Google, hahaha. Penasaran, ada daerah Amel di Bali rupanya 😁

      Di antara 3 negara yang mas sebut, saya paling suka Argentina 😍 semoga mas Morishige one day bisa meraih impian mas untuk stay di sana ~ meski mungkin nggak selamanya, tapi who knows bisa stay untuk beberap saat terus bagi-bagi cerita di blog mas πŸ˜†✌

      Delete