Became a Host #3 | CREAMENO

Pages

Became a Host #3




Kadang, beberapa dari kita *beberapa lho yaaaaa ๐Ÿ˜†✌* lebih suka memposisikan diri sebagai 'kompor meleduk' yang sering membuat panas keadaan daripada fokus menyelesaikan masalah. Itu gaes, tipe pembawa berita yang kalau memulai suatu kalimat pakai kata, "Eh, tau nggak?" atau, "Eh, masa ya..." ๐Ÿ˜‚ dan saat menyampaikan berita pun semangatnya benar-benar RUARRR BIASA! Hahaha. Kenapa gue bilang begini, karena staff gue (para mas dan mba) ada yang begini D.U.L.U.N.Y.A ๐Ÿคฃ✌ untung sekarang sudah nggak, kalau masih saja dilakukan, bisa pecah kepala mamak! ๐Ÿคช Wk.

Contoh kecil, pernah ada tamu jatuh kepleset di tangga terus kakinya nggak sengaja menabrak pot yang ada di pinggir tangga jadi potnya pecah dan tanamannya tumpah. Kebetulan pot tersebut agak mahal jadi staff gue takut kalau kena marah karena nggak bisa menjaga pot dengan benar, lalu staff gue info ke gue, "Mba, tau nggak? Tadi ada tamu jatuh, terus menabrak pot dan potnya rusak. Haduhhh! Kenapa nggak hati-hati, ya?" -- and yeah, di sini gue menilai kalau staff gue..

Satu, mau jadi 'kompor meleduk', dan dua, berusaha menyelamatkan diri sendiri dengan kalimat konotasi negatif seakan 'menyalahkan' si tamu biar dia (staff gue) nggak kena tegur (kenapa pakai bilang 'tau nggak' dan 'haduh' segala coba ๐Ÿคฃ) padahal dalam situasi seperti itu seharusnya staff gue.. satu, mengkhawatirkan keselamatan tamu dan dua, berusaha untuk update kondisi tamu. That's why, setiap kali ada laporan masuk, "Mba, ada tamu jatuh." atau, "Mba, tamu pecahkan gelas." dan, "Mba, ini. Mba, itu." -- yang selalu gue tanya pertama kali adalah, "Apakah tamunya baik-baik saja?" ๐Ÿ˜†

Gue nggak akan langsung reactive merespon dengan bilang, "OMG! Kenapa sih tamu kita bisanya merusak barang." -- walau kadang ada kejadian yang cukup membuat hati gue tersayat-sayat seperti barang yang nggak sengaja rusak adalah barang koleksi dengan harga setara gaji bulanan ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฃ✌ dilain hari bahkan pernah ada kejadian floaties (bebek-bebekan buat di kolam renang) yang harganya sejuta sobek gara-gara anaknya tamu gue lagi keranjingan main di kolam renang ๐Ÿ™ˆ itu saja waktu staff gue report, respon pertama gue adalah..

"Anaknya baik-baik, Mba? Nggak tenggelam di kolam renang, kan?" -- padahal saat bertanya, hati gue ATIT ANET, GAES hahahaha ๐Ÿคฃ✌ air mata gue hampir jatuh bercucuran karena bebek kesayangan ended up nggak bisa digunakan ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜‚ begitupun ketika staff gue melakukan kesalahan, contoh nggak hati-hati dalam menyalakan kompor hingga terjadi ledakan kecil yang menyebabkan teflon mental dan minyak berhamburan. Dengan ketakutan staff gue melapor yang gue respon dengan, "Mba, nggak apa-apa? Ada yang luka, kah? Hati-hati ya kena minyak panas." instead of, "Bijimane sih mba, masa urus kompor saja nggak bisa. Payah, ah! Rusak pan teflon gue jadinyah." ๐Ÿคช

---

Frankly speaking, gue bukan leader yang baik dan bijak (kalau cantik sih iya ๐Ÿคญ) dan gue kadang menyebalkan juga kok jadi orang ๐Ÿ™ˆ tapi gue melakukan hal-hal di atas untuk kasih contoh ke staff gue tanpa mendikte, kalau sebenarnya begini lhooo caranya ketika berhadapan dengan sebuah masalah ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ bukan dengan lari menyelamatkan diri sendiri sambil seakan menunjuk kesalahan ke orang lain walau bisa jadi orang itu memang salah ๐Ÿ˜† dan jangan sampai kita nggak peduli dengan 'keselamatan' orang hanya agar diri sendiri 'selamat' ๐Ÿ˜‚

Meski gue maklum kenapa mereka demikian, karena mereka kawatir harus bertanggung jawab pada kerusakan yang ada, tapi menurut gue, kekawatiran tersebut nggak seharusnya menjadi alasan untuk membuat mereka ignorant ๐Ÿคญ jujur, pada awalnya susah untuk gue memberi contoh, sebab sudah jadi kebiasaan ~ even saat salah satu staff yang notabene rekan kerja mereka buat salah, mereka dengan semangat empat lima report ke gue mengenai kesalahan rekannya, padahal bukan begitu step pertama yang harus dilakukan ๐Ÿ˜…

Makanya kalau ada staff membawa kabar mengenai si A, si B, si C, entah soal hidupnya, kesalahannya, dan lainnya, gue akan bertanya ke si pembawa kabar, "Apa dia (orang yang sedang dibicarakan) baik-baik saja?" sebelum memberi pertanyaan berikutnya. Karena dengan begituuu, si pembawa kabar akan sadar kalau memulai percakapan yang baik itu bukan dengan kalimat berkonotasi negatif hanya demi mendapatkan perhatian dari lawan bicara ๐Ÿ˜ฌ

Sebab terkadang, kita nggak tau apa yang dirasakan oleh seseorang yang sedang dibicarakan ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ‘Œ bisa jadi, seseorang yang dibicarakan tersebut, ternyata sudah berusaha mencegah terjadinya kesalahan. Seperti staff gue yang semangat saat mengirimkan report nggak tau kalau tamu gue yang jatuh dan tanpa sengaja merusak pot ternyata berusaha menghalau badannya agar nggak tabrak frame yang juga ada di tangga. Pun staff gue nggak pernah tau kalau tamu yang tanpa sengaja pecahkan gelas ternyata sudah berusaha menangkap gelas tersebut sebelum akhirnya pecah. Hehehehehe ๐Ÿ˜…

Dan sudah tentu, staff gue nggak tau, kalau rekan kerja mereka yang di-report 'kesalahannya' ternyata sudah berusaha memberikan yang terbaik sebisa mereka ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ lagipula gue heran, kenapa sih, kita (iya, kita! Karena gue pernah melakukannya, yeah my bad ๐Ÿ™ˆ) hobi banget menceritakan kesalahan orang? Apakah pengaruh hormon, yah? ๐Ÿ˜‚ hormon pula dibawa-bawa! Terooos saja cari kambing hitam ๐Ÿคช

Nevertheless, gue ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan ingin orang disekeliling gue menjadi lebih baik juga. Berhubung gue tau, gue nggak sempurna, dan nggak layak mendikte para staff, maka gue pilihlah cara dengan memberi contoh kepada mereka ๐Ÿคญ✌ biar seenggaknya kalau mereka lagi 'panasan', mereka nggak akan bilang kalau itu contoh dari leader-nya. Jiaaakkhh ๐Ÿ˜‚ on a serious note, gue memilih memberikan contoh daripada mendikte satu persatu karena gue ingin mereka tau kalau gue mau kita sama-sama berubah ๐Ÿ˜๐Ÿ™

Thank God, berjalan dengan waktu, pelan namun pasti, nggak ada lagi 'kompor meleduk' di setiap kejadian selama gue menjalankan usaha. Para staff yang diawal cablak, sekarang menjadi staff yang ucapannya terarah. Dan bentuk report berubah ke konotasi positif seperti, "Mba, Mr. A tadi nggak sengaja pecahkan piring, dan sudah saya bersihkan. Ohya, Mr. A nggak luka dan nanti mau ganti pakai uang cash." instead of, "Mba, tau nggak, tadi Mr. A pecahkan piring. Haduh! Mana piring yang putih itu mahal kan, mba. Untung dia mau ganti rugi piringnya."

Atau, "Mba, tadi si C salah pasang paku, jadi dinding bolong, akhirnya ditambal pakai semen putih. Nanti uang pembelian semennya saya masukkan ke laporan dan paku baru sudah dipasang di tempat yang benar." instead of, "Mba, masa ya, tadi si C pasang paku nggak benar, terus dinding jadi bolong. Akhirnya kita beli semen putih gara-gara dia." ๐Ÿ™ˆ believe me, butuh proses panjang untuk membuat para staff merubah gaya bahasa di keseharian mereka dan perubahan tersebut dibutuhkan. Karena membangun energi positif nggak akan bisa satu arah. Apalagi kalau mau longterm-run menjalankan usahanya ๐Ÿ˜

Dan gue selalu merasa, bagaimana cara kita berkomunikasi terhadap orang lain, termasuk bagaimana kita susun kalimat berperan penting dalam kualitas hubungan baik itu sama pasangan, keluarga, apalagi rekan kerja yang kemungkinan 'panasnya' lebih besar ๐Ÿ˜‚ dengan kita belajar untuk berkomunikasi dan berbahasa akan sangat membantu kita dalam menjalankan usaha. Jadi gue pikir, edukasi mengenai tata cara berkomunikasi sangat diperlukan ketika kita berniat memiliki staff, dan berjalan dengan waktu, gue sadar, tata cara berkomunikasi saja nggak cukup kalau nggak dilandaskan dengan kesadaran penuh untuk menjaga konteks yang dibicarakan ๐Ÿ˜

---

Gue pernah bilang sama para mas dan mba, sebelum bicara, apapun itu, seremeh dan sekecil apapun konteksnya, tolong untuk dipikirkan. Kalau istilah anak sekarang 'Be mindful' karena dengan kita berusaha 'mindful' terhadap apa yang kita ucap, itu sama dengan kita memberi respect pada lawan bicara kita ~ ๐Ÿ™ˆ kalau kata Barack Obama, "It’s important to make sure that we’re talking with each other in a way that heals, not in a way that wounds." -- Semoga bermanfaat ๐Ÿ˜
Sometimes, some of us *yeah, some ๐Ÿ˜†✌* prefer to put ourselves as a 'stove' that often makes things hot rather than focusing on solve the problems. That kind of people, who starts a sentence using the word, "Do you know? I've something to tell..." ๐Ÿ˜‚ and when delivering the news, the enthusiasm is truly AMAZING! Hahahaha. Why do I say this, because my staff (villa's workers) did it in the past ๐Ÿคฃ✌ fortunately now they are not, if they still do it, I will be really dizzy! ๐Ÿคช

A small example, once my guest fell down and his feet accidentally hit a pot on the edge of stairs so the pot broke and the plant spilled. Well, the pot is expensive so my staff were afraid of getting scolded because she couldn't keep the pot. In the end, my staff informs me, "Miss, do you know? There was a guest who fell down, and he hit the pot and the pot was broken. Huftt. Why is he not careful?" - and yeah, here is some thoughts about my staff words...

One, she wanna be a 'stove', and two, she tried to protect herself with 'negative words to other people' because when she informs me, she 'blame' the guest so that she (my staff) will not get scolded ๐Ÿ˜… while in such a situation my staff should be... one, worried about my guest safety and two, try to update my guest conditions. That's why, every time a report comes, "Miss, a guest has fallen." or, "Miss, guest break the glass." and, "Miss, this. Miss, that." -- what I always ask to staff the first time I got the report is, "Is the guest okay?" ๐Ÿ˜†

And I won't respond immediately by saying, "OMG! Why our guests always break something." though sometimes there were times when I got 'heart attack' because the guests accidentally broke collection items which a price was equivalent to a monthly salary ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฃ✌ and on the other day, there was even problem related to floaties that was torn because one of my guest's son was too active played in the pool ๐Ÿ™ˆ that's when my staff reported, and my first response was...

"The kid's okay? He wasn't drowning, right?" -- though when I asked such a question, my heart were hurt hahahaha ๐Ÿคฃ✌ My tears almost fell down because my floaties ended up can not be used anymore ๐Ÿ˜ญ on the other hand, when my staff made a mistake, for example not careful in turning on an induction so a small explosion occurs which causes the fried pan jumped and oil scattered around the floor, with fear, my staff reported and I responded, "Are you okay? You are not hurt, right? Be careful with hot oil." instead of, "How can it happened? You can't care the stove? Wew, you broke my fried pan." ๐Ÿคช

---

Frankly speaking, I'm not a good and wise leader (but pretty ๐Ÿคญ) and I sometimes become a 'witch' as person ๐Ÿ™ˆ but I do the things above to give examples without dictating related to the fact about what kind of way we should use when dealing a problem ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ which is not by running away to 'protect ourselves' while pointing mistakes to others although it could be that person is indeed wrong ๐Ÿ˜† and we should not only care about our 'safety' while ignore others ๐Ÿ˜‚

I do understand why they behave like that, because they worried if they have to be responsible for the damage, but in my opinion, those worries should not be a reason to make them became ignorant ๐Ÿคญ honestly, at first it was difficult for me to set an example, because it was a habit ~ even when one of the staff who in fact their colleague made mistakes, they will report it with the enthusiasm feeling about the mistakes of their colleagues did, and I think, it's wrong ๐Ÿ˜…

So, if there were staff bringing news about A, B, C, whether it's about other lifes, other mistakes, etc., I will ask my staff who bringing news, "Is she (the person who being talked about) okay?" before giving the next question. Wish my staff will realize that starting a conversation should not with negative words just because they want attentions ๐Ÿ˜

And sometimes, we don't know what it feels to be the person who being talked about ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ it could be that the person had actually tried to prevent their mistakes. Like my staff who were excited when giving report did not know that my guest who fell and accidentally damaged the pot was trying to drive his body so he was not hit the frame. Even my staff never know that my guest who break a glass turned out to have tried to catch the glass before it finally broke. Hehehehehe ๐Ÿ˜…

And of course, my staff doesn't know that the coworkers who they reported have tried to give their best ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ nevertheless, I want to try to be a better person and want the people around me to be better too. Since I know, I'm not perfect, and can not dictating my staff, so I choose a way to give an example to them ๐Ÿ˜† at least if they feel like they wanna be a 'stove', they won't say it's because of their leader ๐Ÿ˜‚ on a serious note, I chose giving examples rather than dictating them because I want them to know that I want us to change together ๐Ÿ˜

Thank God, as time goes by, slow but sure, there is no longer a 'stove' in every incident ๐Ÿ˜ the staff that started as 'easy talk type of person' are now became the staff whose words are directed in a good way. And the report changed to a positive connotation such as, "Miss, Mr. A accidentally broke the plate, and I cleaned it. Mr. A did not get hurt and later he wanted to change the broken platen into cash." instead of, "Miss, do you know? Mr. A broke the plate and it's the expensive white plate. Gosh! Luckily he wants to compensate for the plate."

Or, "Miss, C had put a nail in the wrong place, so the wall got hole, and he ended up patched it using white cement. Later I will put the purchase bill of cement money into report book and a new nail has been installed in the right place." instead of, "Miss, C nail wasn't right. So the wall was perforated. Huuuufffttt. We ended up bought white cement because of him." ๐Ÿ™ˆ๐Ÿคฃ believe me, it takes a long process to make my staff change the language style in their daily lives and these changes are needed. Because building positive energy can't be one-way. Especially if we want to run a longterm-run business ๐Ÿ˜

And I always feel, how we communicate, including how we construct sentences plays an important role in quality of relationships between couples, families, especially colleagues who are likely more easy to feel 'hot' ๐Ÿ˜‚ with us learning to communicate and speak, it will help us in running a business. So I think, education about communication procedures is really needed when we intend to have staff, however go with times, I realize, construct sentences in communication rules is not enough if they are not fully aware about the context ๐Ÿ˜

---

Sooo, I once told my staff, before speaking, whatever it is, as small as the context is, please think it over and over again. Just like the term 'Be mindful' ~ ๐Ÿ˜† because when we try to be 'mindful' about what we have to say, it will be same as we give respect to people who talk with us ~ ๐Ÿ™ˆ just like Barack Obama said, "It's important to make sure that we're talking with each other in a way that heals, not in a way that wounds. " -- thank you and wish this post is useful ๐Ÿ˜
๊ฐ€๋” ์šฐ๋ฆฌ ์ค‘ ๋ช‡๋ช‡์€ *yeah, some ๐Ÿ˜†✌* ๋ฌธ์ œ๋ฅผ ํ•ด๊ฒฐํ•˜๋Š”๋ฐ ์ดˆ์ ์„ ๋งž์ถ”๋Š”๊ฒŒ ์•„๋‹ˆ๋ผ ์ƒํ™ฉ๋งŒ ์‹ฌ๊ฐํ•˜๊ฒŒ ๋งŒ๋“ค๋„๋ก ๊ฐ€์Šค๋ Œ์ง€ ์—ญํ• ์„ ๋งก์•„์„œ ํ•˜๋Š” ์‚ฌ๋žŒ์ด ์žˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋Ÿฐ ์‚ฌ๋žŒ์€ ๊ผญ "๊ทธ๊ฑฐ ์•Œ์•„? ๋‚ด๊ฐ€ ๋งํ• ๊ฒŒ ์žˆ๋Š”๋ฐ..."๋ผ๋ฉฐ ๋ง์„ ์‹œ์ž‘ํ•ด์š” ๐Ÿ˜‚ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์†Œ์‹์„ ์ „ํ• ๋•Œ ๊ทธ ์—ด์ •์€ ๊ฐ€๊ณตํ•  ๋งŒํผ ๋†€๋ผ์›Œ์š” Hahahaha. ์ œ๊ฐ€ ์™œ ์ด๋Ÿฐ๋ง์„ ํ•˜๋ƒ๋ฉด ์ œ ์ง์› ํ•œ๋ช…์ด(๋นŒ๋ผ ์ง์›) ๊ทธ๋žฌ์—ˆ๊ฑฐ๋“ ์š” ๐Ÿคฃ✌ ๋‹คํ–‰ํžˆ ์ง€๊ธˆ์€ ์•ˆ๊ทธ๋Ÿฌ๋Š”๋ฐ ๊ณ„์† ๊ทธ๋žฌ์—ˆ๋‹ค๋ฉด ์ €๋Š” ์ •๋ง ํ˜ผ๋ž€์Šค๋Ÿฌ์› ์„๊ฑฐ์—์š” ! ๐Ÿคช

์ž‘์€ ์˜ˆ๋กœ, ํ•œ๋ฒˆ์€ ์†๋‹˜์ด ๊ณ„๋‹จ ๊ฐ€์žฅ์ž๋ฆฌ์— ์žˆ๋Š” ํ™”๋ถ„์— ๊ฑธ๋ ค๋„˜์–ด์ ธ์„œ ํ™”๋ถ„์ด ๊นจ์ง€๊ณ  ์‹๋ฌผ์€ ๋‚˜๋’น๊ตฐ ์ ์ด ์žˆ์–ด์š”. ์Œ, ํ™”๋ถ„์ด ๋น„์‹ผ๊ฑฐ์˜€๊ณ  ์ง์›์€ ํ˜ผ๋‚ ๊นŒ๋ด ๋‘๋ ค์›Œํ–ˆ์–ด์š”. ๊ฒฐ๊ตญ, ์ง์›์€ ์ €์—๊ฒŒ ์ •๋ณด๋ฅผ ์คฌ์–ด์š”. "์‚ฌ์žฅ๋‹˜ ๊ทธ๊ฑฐ ์•„์„ธ์š”? ์†๋‹˜ํ•˜๋‚˜๊ฐ€ ๊ณ„๋‹จ์—์„œ ๋„˜์–ด์ง€๋ฉด์„œ ํ™”๋ถ„์„ ๋–จ์–ด๋œจ๋ ค ๊นจ์กŒ์–ด์š” Huftt. ์™œ ์กฐ์‹ฌํ•˜์ง€ ์•Š์„๊นŒ์š”?" - ๋„ค, ์ง์›์ด ํ•œ ๋ง์— ๋Œ€ํ•œ ์ œ ์ƒ๊ฐ์€ ์•„๋ž˜์™€ ๊ฐ™์•„์š”...

๋จผ์ €, ๊ทธ๋…€๋Š” '๊ฐ€์Šค๋ Œ์ง€'๊ฐ€ ๋˜๊ณ ์‹ถ์–ดํ•œ๋‹ค ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋‘๋ฒˆ์งธ, ๊ทธ๋…€๋Š” ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์— ๋Œ€ํ•œ ๋ถ€์ •์ ์ธ ๋ง๋กœ ์ž์‹ ์„ ๋ณ€ํ˜ธํ•˜๋ คํ•œ๋‹ค ์™œ๋ƒ๋ฉด ์ €์—๊ฒŒ ์•Œ๋ ค์ค„ ๋•Œ ๋ณธ์ธ์ด ํ˜ผ๋‚˜์ง€ ์•Š์œผ๋ ค๊ณ  ์†๋‹˜์— ๋Œ€ํ•œ '๋น„๋‚œ'์„ ํ•œ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜… ์ด๋Ÿฐ ์ƒํ™ฉ์—์„œ ์ง์›์€... ๋จผ์ €, ์†๋‹˜ ์•ˆ์ „์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ๊ฑฑ์ •ํ•ด์•ผ๋˜๊ณ  ๋‘๋ฒˆ์งธ๋กœ ์†๋‹˜ ์ƒํƒœ๋ฅผ ๊ณ„์† ์•Œ๋ ค๊ณ  ํ•ด์•ผ๋˜๋Š”๋ฐ ๋ง์ด์—์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ๋งค๋ฒˆ ๋ณด๊ณ ๋ฅผ ํ• ๋•Œ๋งˆ๋‹ค "์†๋‹˜์ด ๋„˜์–ด์กŒ์–ด์š”" ํ˜น์€ "์†๋‹˜์ด ์œ ๋ฆฌ๋ฅผ ๊นผ์–ด์š”" ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  "์ด๊ฒƒ์ €๊ฒƒ" -- ์ œ๊ฐ€ ํ•ญ์ƒ ์ง์›๋“ค์—๊ฒŒ ์š”์ฒญํ–ˆ๋˜ ๋จผ์ € "์†๋‹˜์ด ๊ดœ์ฐฎ์€์ง€?" ๋ณด๊ณ ํ•˜๋ผ๋Š” ๊ฑฐ์˜€์–ด์š” ๐Ÿ˜†

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ œ๊ฐ€ "์–ด๋จธ๋‚˜ ์„ธ์ƒ์—! ์™œ ์šฐ๋ฆฌ ์†๋‹˜์€ ํ•ญ์ƒ ๋ญ”๊ฐ€๋ฅผ ๊นจ๋จน์œผ์‹ค๊นŒ?" ๋ผ๊ณ  ๋ฐ”๋กœ ๋Œ€๋‹ตํ•˜์ง€ ์•Š์„ ๊ฑฐ์—์š”. ๋ฌผ๋ก  ๊ฐ€๋” ํ•œ๋‹ฌ์น˜ ์›”๊ธ‰ ์ •๋„๋˜๋Š” ๊ฐ€๊ฒฉ์˜ ์ปฌ๋ ‰์…˜ ์•„์ดํ…œ์„ ๊นจ์„œ 'ํ•˜ํŠธ์–ดํƒ' ๋‹นํ•˜๋Š” ๋•Œ๋„ ์žˆ์ง€๋งŒ์š” ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฃ✌ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋˜ ๋‹ค๋ฅธ ๋•Œ์—๋Š” ํ™œ๊ธฐ์ฐฌ ์†๋‹˜์ด ์ˆ˜์˜์žฅ์—์„œ ๋„ˆ๋ฌด ํ™œ๊ธฐ์ฐจ๊ฒŒ ๋†€๋‹ค๊ฐ€ ํŠœ๋ธŒ๋ฅผ ์ฐข์€์ ๋„ ์žˆ์–ด์š” ๐Ÿ™ˆ ๋‹น์‹œ์— ์ œ๊ฐ€ ์—ฐ๋ฝ์„ ๋ฐ›๊ณ  ๊ฐ€์žฅ ๋จผ์ € ๋ฌผ์–ด๋ณธ ๋ง์€...

"๊ทธ ์•„์ด ๊ดœ์ฐฎ์•„? ๋ฌผ์— ๋น ์ง„๊ฑฐ ์•„๋‹ˆ์ง€?" -- ์งˆ๋ฌธ์„ ํ•  ๋•Œ ๋งˆ์Œ์ด ์•„ํŒŒ์˜ค๊ธฐ ์‹œ์ž‘ํ–ˆ์ง€๋งŒ์š” hahahaha ๐Ÿคฃ✌ ํŠœ๋ธŒ๋Š” ๋๋‚ด ๋”์ด์ƒ ์“ธ ์ˆ˜ ์—†๊ฒŒ ๋˜๋ฒ„๋ ค์„œ ๊ฑฐ์˜ ๋ˆˆ๋ฌผ์ด ๋‚ ๋ป” ํ–ˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜ญ ๋‹ค๋ฅธ๋‚ ์—๋Š” ์ง์›์ด ์‹ค์ˆ˜ํ•œ ์ ๋„ ์žˆ์–ด์š” ์ธ๋•์…˜์—์„œ ๋ถ€์ฃผ์˜๋กœ ์ž‘์€ ํญ๋ฐœ์ด ์ผ์–ด๋‚˜ ํ”„๋ผ์ดํŒฌ์— ์žˆ๋˜ ๊ธฐ๋ฆ„์ด ๋ฐ”๋‹ฅ์— ํŠ€์—ˆ์–ด์š”. ์ง์›์€ ๋‘๋ ค์›€์— ๋–จ๋ฉด์„œ ๋ณด๊ณ ํ–ˆ๊ณ  ์ €๋Š” "์–ด์ฉœ ์ด๋Ÿด์ˆ˜๊ฐ€ ์žˆ์ง€? ์ธ๋•์…˜ ์“ธ์ค„ ๋ชจ๋ฅด๋‹ˆ? Wew ๋‚ด ํŒฌ์„ ๋ง๊ฐ€๋œจ๋ ธ๋„ค" ๋ผ๋Š” ๋ง ๋Œ€์‹  "๊ดœ์ฐฎ์•„? ์•ˆ๋‹ค์ณค์–ด? ๋œจ๊ฑฐ์šด ๊ธฐ๋ฆ„์€ ์กฐ์‹ฌํ•ด์•ผ์ง€"๋ผ๊ณ  ๋Œ€๋‹ตํ–ˆ์–ด์š” ๐Ÿคช

---

์†”์งํžˆ ๋งํ•ด ์ €๋Š” ์ข‹๊ณ  ํ›Œ๋ฅญํ•œ ๋ฆฌ๋”๋Š” ์•„๋‹ˆ์—์š”(but pretty ๐Ÿคญ) ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ฐ€๋” '๋งˆ๋…€'๊ฐ€ ๋˜์š” ๐Ÿ™ˆ ํ•˜์ง€๋งŒ ์ €๋Š” ๋ฌธ์ œ๋ฅผ ํ•ด๊ฒฐํ•  ๋•Œ ์–ด๋–ค ์ข…๋ฅ˜์˜ ๋ฐฉ๋ฒ•์„ ์‚ฌ์šฉํ•ด์•ผ๋˜๋Š”์ง€์— ๋Œ€ํ•œ ์‚ฌ์‹ค์„ ์–ธ๊ธ‰ํ•˜์ง€ ์•Š๊ณ  ์˜ˆ๋ฅผ ๋“ค๋ ค๊ณ  ํ•ด์š” ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ ๋‹ค๋ฅธ ์‚ฌ๋žŒ์ด ์‹ค์ˆ˜ํ–ˆ๋”๋ผ๋„ '์Šค์Šค๋กœ๋ฅผ ๋ณดํ˜ธ'ํ•˜๋ ค๊ณ  ๋„๋ง์น˜๋Š”๊ฒƒ์€ ์•„๋‹ˆ์—์š” ๐Ÿ˜† ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์€ ๋ฌด์‹œํ•˜๊ณ  ๋ฌด์กฐ๊ฑด ์šฐ๋ฆฌ์˜ '์•ˆ์ „'๋งŒ์„ ์ƒ๊ฐํ•ด์„œ๋„ ์•ˆ๋˜์š” ๐Ÿ˜‚

๊ทธ๋“ค์ด ์™œ ๊ทธ๋ ‡๊ฒŒ ํ–‰๋™ํ–ˆ๋Š”์ง€ ์ดํ•ด๋Š”ํ•ด์š”. ๊ทธ๋“ค์€ ํ”ผํ•ด์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์ฑ…์ž„์„ ์งˆ ์ˆ˜ ์žˆ๋‹ค๊ณ  ๊ฑฑ์ •ํ• ๊ฑฐ์—์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ์ œ ์˜๊ฒฌ์€ ๊ทธ๋Ÿฐ ๊ฑฑ์ •์ด ์ด๋Ÿฐ ํ–‰๋™์˜ ์ด์œ ๊ฐ€ ๋˜์„œ๋Š” ์•ˆ๋œ๋‹ค๋Š” ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿคญ ์‚ฌ์‹ค ์ฒ˜์Œ์— ์ €๋„ ์Šต๊ด€ ๋•Œ๋ฌธ์— ๋ชจ๋ฒ”์„ ๋ณด์ด๊ธฐ ํž˜๋“ค์—ˆ์–ด์š” ~ ์‹ฌ์ง€์–ด ์ง์› ์ค‘ ํ•œ๋ช…์ด ์‹ค์ˆ˜๋ฅผ ํ•ด๋„ ์—ด๊ด‘ํ•˜๋ฉด์„œ ๋ณด๊ณ ๋ฅผ ํ• ๊ฑด๋ฐ ์ €๋Š” ๊ทธ๊ฒŒ ์ž˜๋ชป๋ฌ๋‹ค๊ณ  ์ƒ๊ฐํ•ด์š” ๐Ÿ˜…

๊ทธ๋ž˜์„œ ์ง์›์ด ๋‰ด์Šค A,B,C๋ฅผ ๊ฐ€์ ธ์˜ค๋ฉด ๋‹ค๋ฅธ ์‚ถ์— ๋Œ€ํ•œ ๊ฒƒ์ธ์ง€, ์‹ค์ˆ˜์ธ์ง€ ๊ธฐํƒ€ ๋“ฑ๋“ฑ์ธ์ง€ ๋‰ด์Šค๋ฅผ ๊ฐ€์ ธ์˜จ ์ง์›์—๊ฒŒ ๋ฌผ์–ด๋ด์š” "๊ทธ๋…€๋Š”(๋‰ด์Šค์˜ ๋Œ€์ƒ์ž) ๊ดœ์ฐฎ์•„?" ๋‹ค์Œ ์งˆ๋ฌธ์„ ํ•˜๊ธฐ์ „ ์ง์›์ด ๋‹จ์ง€ ๊ด€์‹ฌ์„ ๋ฐ›์œผ๋ ค๊ณ  ๋ถ€์ •์ ์ธ ๋ง์„ ํ•˜์ง€ ์•Š์•˜์œผ๋ฉด ํ•œ๋‹ค๋Š”๊ฑธ ๊นจ๋‹ฟ๊ธฐ๋ฅผ ๋ฐ”๋ž˜์š” ๐Ÿ˜

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ฐ€๋” ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ๋งํ•˜๋Š” ์‚ฌ๋žŒ์˜ ๊ธฐ๋ถ„์ด ์–ด๋–ค์ง€ ๋ชฐ๋ผ์š” ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ ์‹ค์ˆ˜๋ฅผ ๋ง‰์œผ๋ ค๊ณ  ์‹œ๋„ํ–ˆ์„์ง€๋„ ๋ชจ๋ฅด์ฃ . ์ œ ์ง์›์ด ํฅ๋ถ„ํ•ด์„œ ๋ณด๊ณ ํ–ˆ์ง€๋งŒ ๊ณ„๋‹จ์—์„œ ๋–จ์–ด์ง€๊ณ  ํ™”๋ถ„์„ ๊นจ๋œจ๋ฆฐ ์†๋‹˜์€ ์•ก์ž๋ฅผ ํ”ผํ•˜๋ ค๊ณ  ๋ชธ์„ ํ‹€๋‹ค๊ฐ€ ๊ทธ๋žฌ๋‹ค๋Š”๊ฑด ๋ชฐ๋ž์–ด์š”. ์‹ฌ์ง€์–ด ์ œ ์ง์›์€ ์œ ๋ฆฌ์ž”์„ ๊นจ๋œจ๋ฆฐ ์†๋‹˜์ด ๋–จ์–ด์ง€๊ธฐ ์ „์— ์žก์œผ๋ ค๊ณ  ์‹œ๋„ํ–ˆ๋‹ค๋Š”๊ฒ„๋„ ๋ชฐ๋ž์„๊ฑฐ์—์š” Hehehehehe ๐Ÿ˜…

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋‹น์—ฐํžˆ ์ œ ์ง์›์€ ๋ณด๊ณ ํ•œ ๋™๋ฃŒ์ง์›์ด ๊ทธ์˜ ์ตœ์„ ์„ ๋‹คํ–ˆ๋‹ค๋Š”๊ฑธ ๋ชฐ๋ž์„ ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ ๊ทธ๋Ÿผ์—๋„ ๋ถˆ๊ตฌํ•˜๊ณ  ์ €๋Š” ๋” ๋‚˜์€ ์‚ฌ๋žŒ์ด ๋˜๋ ค๊ณ  ๋…ธ๋ ฅํ•ด์š”. ์ œ ์ฃผ์œ„ ์‚ฌ๋žŒ๋“ค๋„ ๋งˆ์ฐฌ๊ฐ€์ง€๊ตฌ์š”. ์ œ๊ฐ€ ์™„๋ฒฝํ•˜์ง€์•Š๊ณ  ์ง์›์—๊ฒŒ ์ง€์‹œ๋ฅผ ์ž˜ ํ•˜์ง€ ๋ชปํ•œ๋‹ค๋Š”๊ฑธ ์•Œ๊ณ ๋ถ€ํ„ฐ ์ €๋Š” ์†”์„ ์ˆ˜๋ฒ”ํ•˜๋Š” ๋ฐฉ๋ฒ•์„ ์„ ํƒํ–ˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜† ์ ์–ด๋„ '๊ฐ€์Šค๋ Œ์ง€'๊ฐ€ ๋˜๊ณ ์‹ถ์–ด ํ• ์ง€๋ผ๋„ ๋ฆฌ๋”๋•Œ๋ฌธ์ด๋ผ๋„ ๊ทธ๋ ‡๊ฒŒ ๋ชปํ• ํ…Œ๋‹ˆ๊นŒ์š” ๐Ÿ˜‚ ์ง„์ง€ํ•˜๊ฒŒ ์ง€์‹œํ•˜๊ธฐ๋ณด๋‹ค๋Š” ์˜ˆ์‹œ๋ฅผ ์ฃผ๊ธฐ๋กœ ํ–ˆ์–ด์š”. ์™œ๋ƒํ•˜๋ฉด ๊ทธ๋“ค์—๊ฒŒ ์ €์™€ ๊ทธ๋“ค ํ•จ๊ป˜ ๋ณ€ํ•˜๊ธธ ์›ํ•œ๋‹ค๋Š”๊ฑธ ์•Œ๋ ค์ฃผ๊ณ  ์‹ถ์—ˆ๊ฑฐ๋“ ์š” ๐Ÿ˜

๊ฐ์‚ฌํ•˜๊ฒŒ๋„ ์‹œ๊ฐ„์ด ์ง€๋‚จ์— ๋”ฐ๋ผ์„œ ๋”์ด์ƒ ๋ชจ๋“  ์‚ฌ๊ฑด์—์„œ '๊ฐ€์Šค๋ Œ์ง€'๋ฅผ ์ฐพ์„ ์ˆ˜ ์—†๊ฒŒ ๋ฌ์–ด์š” ๐Ÿ˜ '์‰ฝ๊ฒŒ ๋งํ•˜๋Š” ์‚ฌ๋žŒ'์ด์—ˆ๋˜ ์ง์›์˜ ๋ง์€ ์ข‹์€ ๋ฐฉํ–ฅ์œผ๋กœ ๋ฐ”๊ผˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ณด๊ณ ๊ฐ€ "๊ทธ๊ฑฐ ์•„์„ธ์š”? A์”จ๊ฐ€ ๊ทธ ๋น„์‹ผ ํฐ์ƒ‰ ์ ‘์‹œ ๊นจ๋œจ๋ ธ์–ด์š”. ์„ธ์ƒ์—๋‚˜! ๋‹คํ–‰ํžˆ ๋ณ€์ƒ์€ ํ•œ๋ฐ์š”"์—์„œ "A์”จ๊ฐ€ ์‚ฌ๊ณ ๋กœ ์ ‘์‹œ๋ฅผ ๋ถ€๋Ÿฌ๋œจ๋ ธ๊ณ  ์ œ๊ฐ€ ์น˜์› ์–ด์š”. A์”จ๋Š” ์•ˆ๋‹ค์ณค๊ณ  ๋‚˜์ค‘์— ์ ‘์‹œ๋Š” ๋ณ€์ƒํ•˜๊ฒ ๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”"๊ฐ€ ๋˜์—ˆ์–ด์š”.

๋˜, "C ๋ชป์ด ์ž˜๋ชปํ•ด์„œ ๋ฒฝ์— ๊ตฌ๋ฉ์ด ๋‚ฌ์–ด์š” Huuuuufffttt. ๊ฒฐ๊ตญ์— ์‹œ๋ฉ˜ํŠธ๋ฅผ ์ƒ€์–ด์š” ๊ทธ์‚ฌ๋žŒ ๋•Œ๋ฌธ์—.. "๋Œ€์‹ ์— "C์”จ๊ฐ€ ๋ชป์„ ์ž˜๋ชป ๋ฐ•์•„์„œ ๋ฒฝ์— ๊ตฌ๋ฉ์ด ๋‚ฌ์–ด์š”. ์‹œ๋ฉ˜ํŠธ๋กœ ๊ตฌ๋ฉ์„ ๋ฉ”์› ๊ณ  ๋‚˜์ค‘์— ์‹œ๋ฉ˜ํŠธ ๋น„์šฉ์€ ๋ณด๊ณ ์„œ๋กœ ์˜ฌ๋ฆฌ๊ฒ ์Šต๋‹ˆ๋‹ค ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ƒˆ ๋ชป์„ ๋ฐ”๋ฅธ๊ณณ์— ๋ฐ•์•˜์–ด์š”"๋กœ์š” ๐Ÿ™ˆ๐Ÿคฃ ์ €๋ฅผ ๋ฏฟ์–ด์ฃผ์„ธ์š”. ์ œ ์ง์›์˜ ์ผ์ƒ ์–ธ์–ด ์Šคํƒ€์ผ์„ ๋ฐ”๊พธ๋Š”๊ฑด ์‰ฝ์ง€ ์•Š์•˜์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ณ€ํ™”๊ฐ€ ํ•„์š”ํ–ˆ์–ด์š”. ์™œ๋ƒ๋ฉด ๊ธ์ •์ ์ธ ์—๋„ˆ์ง€๋Š” ํ•œ๋ฐฉํ–ฅ์œผ๋กœ ๋งŒ๋“ค์–ด์ง€์ง€ ์•Š์•„์š”. ํŠนํžˆ ์‚ฌ์—…์„ ๊ธธ๊ฒŒ๋ณด๊ณ ์žˆ๋‹ค๋ฉด ๋” ๊ทธ๋ž˜์š” ๐Ÿ˜

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ €๋Š” ์ค‘์š”ํ•œ ๋ฌธ์žฅ์„ ๊ตฌ์„ฑํ•˜๋Š”๊ฒƒ์„ ํฌํ•จํ•ด์„œ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์–ด๋–ป๊ฒŒ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ตํ• ์ง€ ํ•ญ์ƒ ์ƒ๊ฐํ•ด์š”. ์ปคํ”Œ,๊ฐ€์กฑ, ํŠนํžˆ ์‰ฝ๊ฒŒ '๋œจ๊ฑฐ์›Œ์งˆ' ์ˆ˜ ์žˆ๋Š” ์นœ๊ตฌ๊ฐ„์˜ ๊ด€๊ณ„์˜ ์งˆ์—์„œ ์ค‘์š”ํ•œ ์—ญํ• ์„ ํ•ด์š” ๐Ÿ˜‚ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต๊ณผ ๋งํ•˜๋Š”๋ฒ•์„ ๋ฐฐ์šฐ๋ฉด ์‚ฌ์—…์„ ํ•˜๋Š”๋ฐ๋„ ๋„์›€์ด ๋ ๊ฑฐ์—์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ์ง์›์„ ๋‘๊ณ ์žˆ๋‹ค๋ฉด ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต ์ ˆ์ฐจ์—๋Œ€ํ•œ ์ค€๋น„๊ฐ€ ํ•„์š”ํ•ด์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ์‚ด์•„๋ณด๋‹ˆ ์ƒํ™ฉ์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์ž˜ ๋ชจ๋ฅด๋ฉด ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์—์„œ ๋ฌธ์žฅ์„ ๊ตฌ์„ฑํ•˜๋Š” ๊ฒƒ์ด ์ถฉ๋ถ„ํ•˜์ง€ ์•Š๋‹ค๋Š”๊ฑธ ์•Œ์•˜์–ด์š” ๐Ÿ˜

---

๊ทธ๋ž˜์„œ, ์ง์›๋“ค์—๊ฒŒ ๋งํ•˜๊ธฐ ์ „์— ์–ด๋–ค์ƒํ™ฉ์ด๋˜ ๋ฐ˜๋ณตํ•ด์„œ ์ƒ๊ฐํ–ˆ์–ด์š”. ๋‹จ์–ด๋ฅผ '์ฃผ์˜๊นŠ๊ฒŒ' ์จ์•ผ๋˜์š” ~ ๐Ÿ˜† ์™œ๋ƒ๋ฉด '์ฃผ์˜๊นŠ๊ฒŒ'์ƒ๊ฐํ•  ์ˆ˜๋ก ์ƒ๋Œ€๋ฐฉ์„ ์กด์ค‘ํ•ด์ค„ ์ˆ˜ ์žˆ๊ฑฐ๋“ ์š” ๐Ÿ™ˆ ๋ฒ„๋ฝ ์˜ค๋ฐ”๋งˆ๋Š” "์ƒ์ฒ˜๊ฐ€ ์•„๋‹Œ ์น˜์œ ํ•˜๋Š” ๋ฐฉ์‹์˜ ๋Œ€ํ™”๋ฅผ ํ•˜๋Š”๊ฒƒ์ด ์ค‘์š”ํ•˜๋‹ค"๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š” -- ์ด ๊ฒŒ์‹œ๋ฌผ์ด ๋„์›€์ด ๋˜๊ธธ ๋ฐ”๋ž๋‹ˆ๋‹ค. ๐Ÿ˜

66 comments:

  1. keren sekali!!!!!!! aku juga sedang belajar terus untuk tidak mempersalahkan si subjek. toh kan itu di luar kuasa kita dan subjeknya. Jadi ya berusaha kalem aja karena semua itu di luar kendali kita. padahal gak ribet ya langsung aja ke solusi dari masalah yang ada... wqqwqwqwwq setuju mbak! :D

    ReplyDelete
    Replies

    1. Memang paling mudah mempersalahkan subjek terlepas siapa yang salah ๐Ÿ™ˆ jadinya ketika ribut pun, yang dipikir duluan itu siapa yang salah, bukan duduk permasalahannya ๐Ÿคญ pada masanya, ketika saya masih belum bisa berpikir lebih dewasa (duileh berasa sekarang sudah dewasa hahaha), saya pun pernah bersikap demikian yang akhirnya saya sadari itu salah ๐Ÿ™„

      So, pelan-pelan kita belajar, masyama mba Fathia ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  2. Haduh! Kak Eno kok keren banget sih! *Kalau kayak gini, termasuk kompor meleduk nggak kak? ๐Ÿคฃ

    Tapi, beneran keren! Sepertinya kalau berada di satu lingkungan dengan Kak Eno dalam waktu yang lama, bisa ketularan positifnya nih ๐Ÿ˜†

    Bermanfaat banget ceritanya! Menampar juga huahahaha soalnya sering banget kayak gini, memulai dengan "ehhh tau nggak.." tapi biasanya tuh ujung-ujungnya gosipin orang ๐Ÿ™Š nggak bener wkwkw.

    Terima kasih buat cerita-cerita kak Eno yang kayak gini. Padahal lewat dunia maya aja tapi positive vibesnya berasa banget ๐Ÿฅฐ

    Kali ini, postnya nggak kepotong kan kak? ๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahaha menurut Lia termasuk nggak? ๐Ÿ˜‚

      Tbh, kakak nggak selalu positif, kadang ya negatif, tuh contohnya sampai tulis DRAFTING dan ambil break ๐Ÿคฃ meski tipe negatifnya beda konteks, tapi yang namanya manusia pasti punya sisi positif dan negatif, jadi sekarang pun kakak sedang terus belajar upgrade diri agar menjadi manusia yang lebih baik lagi, meski dalam prosesnya, kakak bakal ketemu sifat-sifat negatif lain yang mungkin muncul mendadak padahal sebelumnya bisa jadi nggak pernah ada ๐Ÿ˜‚ *gubrak!*

      Mungkin next time kalau mau pakai kata, "Eh tau nggak.." dilanjutkan dengan cerita-cerita positif yah hahaha biar yang dengar juga nggak trauma ๐Ÿ™ˆ semangat untuk kita, Lia! And thank God, kali ini nggak kepotong post-nya ๐Ÿคญ

      Delete
    2. Termasuk tapi versi positif #ehh

      Semangat kak! Aku suka baca post-post kakak yg kayak gini soalnya jadi pengingat buat aku juga ๐Ÿ’•
      Terima kasih udah bikin post kayak gini!!

      Anyway, aku udah mengurangi banget sih kak penggunaan "eh tau nggak.." ketika memulai suatu percakapan, soalnya karena hal itu lebih sering mengarah ke gosip, dan aku udah malas banget dah sama yang namanya ngegosip, dan sejenisnya, that's why kalau temen lagi gosip, cuma dengerin aja, nggak nimpalin lagi ๐Ÿ˜‚

      *Jadi beda topik

      Delete
    3. Agree! ๐Ÿ˜

      Semangat dong, bagaimana nggak semangat kalau dikasih semangat sama Lia ๐Ÿคญ Lia juga selalu semangat yah ~ ๐Ÿ’• dan menurut kakak pun memang sebaiknya dikurangi kalau perlu jangan digunakan. Tapi it's okay untuk melakukannya pelan-pelan, berjalan dengan waktu, dan bertambahnya usia, kita akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan memahami kesalahan-kesalahan kita sebelumnya ๐Ÿ˜„ seenggaknya kita jadi tau ternyata bergosip itu nggak menguntungkan untuk kita ๐Ÿ™ˆ

      Himnaeseyo!

      Delete
  3. Entah kenapa pas baca ini aku langsung mengingat kejadian setiap kali anakku rusakin barang lah atau numpahin sesuatu, dan kemudian aku spontan respon: "Duh nakkk berantakan deh ini!" ๐Ÿ˜‚ *i'm such a bad mom i knoww still learning tho ๐Ÿ˜*

    Ini aku komennya agak beda konteks yaa, Mba, tapi masih nyambung dengan yg dibahas di atas.

    Tanpa kusadari yang suka keluar dari mulut ini cenderung ke arah negatif. Entah itu keluhan atau mengelak dari kesalahan. Bukannya ngaku, cari kambing hitam, itu bener banget sih Mba ๐Ÿ˜‚

    Makanya sekarang tiap kali anakku nggak berhati-hati menjatuhkan sesuatu, yang pertama kutanya adalah: "Nak are u okay? Kamu sakit gak?", di sisi lain mencoba bersabaaaaar melihat sesuatu yg rusak mungkin aja barang kesayanganku atau yg jatuh itu adalah tumpahan oats di lantai๐Ÿ˜‚ karena aku sadar anakku itu cepat sekali belajar sesuatu dari orangtuanya, terlebih dari aku yg sehari-hari bareng dia terus. Aku make sure bisa jadi contoh yg baik buat anak sendiri dan bukan jadi batu sandungan ๐Ÿ˜Š

    Btw, you're great leader, Mba Eno! Bisa kebayang para staffnya pasti diam-diam jadi secret admire-nya Mba Eno "bos gue keren banget sih!" ๐Ÿ˜†

    As always, thank youu Mba Eno for spreading positive vibes! ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mba, saya masih terus belajar, dan sekarang pun sedang belajar dari komentar mba Jane ๐Ÿ˜๐Ÿ’• saya pernah ada dimasa over-reactive ketika berhadapan dengan hal, lalu saya akan berkata, "Duh, kenapa bisa begitu, ya?" tanpa berusaha memahami terlebih dahulu. Padahal pada satu sisi, saya selalu ingin dipahami hehe. Mungkin karena saya as manusia cukup selfish, entahlah ๐Ÿ™ˆ

      Pelan-pelan saya belajar dan refleksi, karena kalau saya terus begitu, rasanya hari-hari saya 'panas' sekali ehehehe. Dan setuju sama mba Jane, anak itu peniru ulung, seenggaknya itu yang pernah saya rasakan sebagai anak ๐Ÿ˜† terima kasih untuk apreasiasinya mba, yuk kita belajar sama-sama. Saya belajar banyak dari tulisan-tulisan mba Jane juga ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  4. Kenapa Kak Eno keren sekaliii huhuhu makin tambah ngefans ~XD *plakk*

    Tapi kayanya memang udah menjadi budaya gitu ya nyalahin orang dan judge orang tuh. Seringnya kata-kata negatif terlebih dahulu, atau mencari kambing hitam daripada menyelesaikan atau mengakui bahwa itu tindakan yang salah.

    Apa mungkin karena ego, ya? Sepertinya iya, hehehehe.

    Sekarang juga mulai belajar buat nggak banyak keluar kata-kata negatif dan menjadi kompor meleduk huhu. Emang susah, sih. Tapi namanya aja juga belajar. Pokoknya sampai bisa ~XD

    Terima kasih atas tulisan yang menyenangkan dan menginspirasi ini Mbak! Sehat dan bahagia selaluuu <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih jauh dari kata keren mba ๐Ÿ˜‚
      Tapi terima kasih ya apresiasinya ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Kalau menurut saya berdasarkan pengalaman, memang kebanyakan karena ego ingin menyelamatkan diri sendiri biar 'aman' ehehehe. Saat berantem sama adik saya lalu ibu bertanya kenapa berantem saja, saya dan adik saya saling salah menyalahkan ๐Ÿคฃ tapi itu alasan saya, bisa jadi orang lain akan berbeda berdasarkan pengalaman personalnya ๐Ÿคญ

      Kita akan terus belajar mba Andhira, yang terpenting berproses dan selalu semangat menjadi a better person ke depannya ๐Ÿ˜

      Delete
  5. Jaman msh mudaan pernah tuh.. Tpi ga sering juga sih mbak.. Karena sy tipikal yg maunya aman alias adem ayem, walopun kadang hati dan mulut ini suka susah diajak kompromi, tapi kadang sebelum sayanya keceplosan... Langsung beberapa detik sebelum kompornya mbleduk sy langsung stop alias gak jadi ngomong...alias mikir dulu, takutnya kenapa"๐Ÿ˜.dan ini sering banget sy lakuin sampe sekarang... Kayak otomatis langsung mikir gitu dan mulut ini terkunci ๐Ÿ™Š Yah emang sih kalo ada yg dirasa kurang sreg baiknya sih ditegur asal gak judes ๐Ÿ˜ฌ,takutnya malahan dia segen alias takut... Kecuali kesalahan udah fatal dan sy ga bisa lagi nahan... Alias udah di ubun" baru deh sy ceplosin... Tapi jarang banget sih, kebanyakan sy malahan diem alias, ga perpanjang masalah... Kadang kesannya jadi ga tegas yaa, tapi asal jgn keseringan ketemu orang yg tipenya kompor bleduk aja... ๐Ÿ˜ฑ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga jaman masih muda pernah mba, apalagi waktu kecil berantem sama adik saya, pasti deh gontok-gontokan dan salah salahan sampai dua-duanya kena marah ibu ๐Ÿ˜‚ tapi berjalan waktu, dengan bertambahnya usia, pelan-pelan jadi berubah dan sadar kalau nggak ada manfaatnya ๐Ÿคช

      Memang paling enak diam sih mba, saya juga sukanya diam-diam saja ๐Ÿ˜† tapi saya tau diam pun nggak baik untuk kesehatan ๐Ÿ˜‚ jadi kalau perlu dibicarakan maka akan tetap dibicarakan, hanya saja mungkin olahan kata-katanya yang harus dipertimbangkan agar nggak jadi melenceng ke mana-mana ๐Ÿ™ˆ

      Semoga kita dijauhkan dari hal yang 'panas' mba ๐Ÿ˜ terima kasih sudah sharing pengalaman mba Hen, yah ๐Ÿ’•

      Delete
  6. Keren deh mbk eno, bisa kasih contoh yang baik buat para karyawannya๐Ÿ˜. Nggak semua atasan bisa bersikap begitu.
    Saya kasih jempol deh mbak๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    Dulu waktu masih kerja sering juga ketemu orang yang suka menceritakan masalah orang lain dan saya paling risih, kecuali kalau itu temen paling deket dan saya tahu dia cuma cerita ke saya. Jadi nggak nyebar ke mana-mana๐Ÿ˜
    Gimana ya... Saya nggak tahu harus ngomong apa, soalnya saya takutnya juga salah menilai. Kayak karyawan mbk eno yang nyalahin tamu yang mecahin pot padahal tamunya juga lagi menghindari frame. Dari pada ngomongin kesalahan orang saya lebih suka ngomongin "semalam saya mimpi apa"๐Ÿ˜ yang mana teman saya jadi sebel sama saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih jempolnya, mba ๐Ÿ™ˆ

      Hehehehe, pasti risih ya mba, sekali dua kali nggak apa-apa mungkin memang sedang jengkel jadi biasa saya dengar. Tapi kalau setiap hari, pusing juga ๐Ÿ˜‚ secara nggak langsung ikut exhausted setiap kali dengar kabar negatif masuk telinga ๐Ÿคญ mungkin ini juga rasanya kalau kebanyakan baca news yang buat 'panas' ~ terlalu banyak jadi pusing dan nggak enak badan ๐Ÿ˜‚

      Dan soal staff saya itu memang terbiasa begitu bicaranya, mungkin maksudnya mau kasih laporan, tapi takut kena marah karena nggak bisa jaga barang, alhasil saat kasih laporan pakai acara blaming tamu padahal nggak perlu diblame juga saya dan team tau tamu itu salah ๐Ÿ˜† jadi pelan-pelan diberi contoh baiknya bagaimana saat melaporkan suatu hal. Saya maklum karena para mas dan mba awalnya bukan orang yang bekerja profesional, jadi pelan-pelan mereka belajar ๐Ÿ˜ฌ

      Dan betul tuh mba Astria, better bicara semalam mimpi apa atau semalam makan apa hahahaha. Topik saya banget ini nggak jauh-jauh dari makanan dan tontonan ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  7. sepertinya karena buat kebanyakan orang, kesalahan itu dianggap dosa dan harus banget ditutupi. dan yang diberi informasi soal kesalahan itu kadang bisa balik marah, makanya takut untuk menyampaikan kesalahan, dan milih asal bapak senang. ngubah pola pikir ini memang sulit, apalagi kalo lingkungannya ngga mendukung. beruntung karyawan mbak Eno punya atasan seperti mbak.. ๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu maksud saya mas, kebanyakan pada takut untuk menyampaikan sebuah informasi 'masalah' (baik itu menyangkut diri sendiri atau orang lain) dengan kalimat positif sebab akan terdengar seperti mengakui kesalahan diri sendiri dan akhirnya merasa kawatir kalau kena marah ๐Ÿ˜

      Istilah asal bapak senang ini menggambarkan betul hehe. Makanya menurut saya sedikit banyak perlu diubah ๐Ÿ˜† means, belajar mengenai cara berkomunikasi ini penting sekali kalau memang berniat punya team dan staff ~ biar suasana kerja juga jadi nggak panas ๐Ÿ˜ ehehe. Saya masih belajar juga mas, terima kasih dan semangat untuk kita ๐Ÿ˜†๐Ÿ™

      Delete
  8. Sebenernya salah satu alasan saat ini belum terpikirkan hire ART atau yang bantu2 even cuma dateng pagi pulang sore ya masalah ini mba eno, huhu

    Dulu pas abis caesar lahiran anak pertama aku kan istilah jawanya masih kether banget tuh karena belum terlalu piawai ngurus apa apanya sendiri, dan ga boleh banyak gerak dulu kan waktu itu, jadilah direkomendasiin tantenya pak su untuk sementara waktu pake jasa si bibik kenalan tante. Memang kuakui sebulan pekerjaannya bersih, cak cek, dan rajin, tapi satu yang ga bikin kunyaman ya faktor ini, setiap ada jam ngaso, aku diajakin cerita yang ujungnya ada bab kayak ngomongin orangnya hauhahahah, misal cerita gimana majikannya sebelumnya, atau tetangganya, suaminya, atau siapa deh....nah berhubung aku emang karakternya ga doyan bergunjing jadi pas diceritain ama dia dengan berapi2 tentang ini ini ini, aku mikir, ntar kalaupun aku pernah ada salah kata terus aku diceritain kemana mana kan mamam tuh haha, jadilah aku pake jasa si bibiknya cukup 1 bulan aja, selebihnya ku milih ngerjain sendiri. Soalnya ya itu, tiap hari pasti ada sesi ngomongin orangnya padahal aku ga pernah nanggepin antusias, huahahahha...aku ga begitu suka kalau diajakin rumpik yang ngomongin jelek2nya orang soalnya...hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. PR banget ya mba, apalagi kalau akrab sama ART ๐Ÿ˜ pasti akan ada masa di mana mereka akan bercerita soal ini itu yang kadang membuat 'panas' hati atau kepala kita sebagai pendengar. Panas dalam artian lelah ๐Ÿ™ˆ jadi saya paham kenapa mba Nita sampai saat ini belum mau pakai ART ~ apalagi kalau ART-nya usia jauh di atas mba ๐Ÿ˜† seperti pengalaman teman saya hehehe.

      Saya pribadi dari awal memang banyak diam, jadi para mba atau mas belum sampai tahap rumpik ke saya, paling laporan-laporan saja seperti di atas perihal tamu atau mas / mba lainnya (istilah kata teknis operational) ๐Ÿ˜‚ mungkin mereka nggak bisa rumpik ke saya juga karena saya jarang kelihatan jadi nggak banyak kesempatan untuk 'ngaso' bareng mereka ๐Ÿ™ˆ

      Semoga kita bisa selalu dijauhkan dari hal-hal yang hanya membuat kita tambah lelah ya, mba ๐Ÿ˜‚ semangat!

      Delete
  9. Mbakyu,

    Saya nggak akan komentar kali ini. Memang bertentangan dengan teori blogwalking ideal seperti yang pernah saya tulis.

    Tapi, saya hanya ingin memberitahukan kepada Mbakyu Eno bahwa saya tersenyum lebar membaca tulisan di atas.

    Itu saja ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha it's okay, mas Anton ๐Ÿ˜ terima kasih banyak atas senyuman lebarnya, yaaah ๐Ÿ˜†๐Ÿ™ sehat selalu, mas ~

      Delete
  10. Kalau kata orang sini sih itu namanya wadulan, Mbak Eno. Tapi setelah aku merenung, ternyata secara tidak disadari aku juga pernah melakukannya. Tapi itu duluuuuuu. Sekarang masih sih, pas gak sengaja. ๐Ÿ™ˆ

    Sebenarnya aku mulai menyadari kalau itu bukanlah hal yang baik. Jadi sedikit demi sedikit aku mulai menghindari itu. Mulai mengaku salah apabila salah dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Sulit banget, Mbak. Makanya aku kadang masih suka kompor juga sih kalau sudah kepepet alias orang lain yang salah, malah aku yang disalahkan. Kalau gitu mulai deh aku nyrocos protes dan mengumbar kesalahan orang lain itu.๐Ÿ™ˆ

    Ngomong-ngomong Mbak Eno keren banget lho. Kuat banget, Mbak Eno bisa kyk gitu. Kalau aku sih mungkin ikut kebakar juga kalau ada yang kompor. Maklum, masih labil.๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha. Ada namanya ternyata ๐Ÿ˜ trims infonya, mba ๐Ÿ™ˆ dan it's okay kalau pernah melakukannya, yang penting sekarang pelan-pelan diubah. Nama pun manusia, kan ๐Ÿคญ

      Kalau sampai disalahkan wajar membela diri, tapi kalau belum sampai disalahkan, ada baiknya beri informasi dengan konotasi positif biar nggak semakin memperkeruh suasana ๐Ÿ˜ yang sulit itu kan ketika kita harus membahas sebuah masalah yang disebabkan oleh orang lain tanpa harus terkesan memojokkan orang yang salah ๐Ÿ˜„ ehehehehe ~ semangat untuk kita belajar ๐Ÿ’•

      Eniho, kalau sudah masuk urusan usaha semisal kita jadi leader-nya, sebisa mungkin jangan sampai tersulut hanya karena informasi satu dua pihak ๐Ÿ˜ฌ dan jangan jadi nggak netral ~ nanti staff bisa salah duga dan berpikir kalau kita akan selalu memihak mereka ๐Ÿ˜‚ lagipula saya paling nggak nyaman kalau ada kompor di dalam usaha yang dijalankan. Inginnya semua staff yang bekerja saling menghargai satu sama lainnya ๐Ÿ™ˆ bukan saling menjatuhkan hehehe.

      Delete
  11. Keren banget Mb Eno. Pasti mb nih leader yang baik bener deh buat para staffnya. Tulisan mb ini bisa jadi reminder gitu buat aku menghindari kalimat dengan konotasi negatif. Hahaha terus tiba-tiba langsung keinget gitu sama salah seorang sosok rekan kerja di kantor. Itu beneran sama persis, sembunyi dari kesalahannya dan malah menyudutkan rekan lainnya.

    Semangat terus Mb Eno! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih berproses menjadi lebih baik, mba Occi ๐Ÿ˜†

      Dan iya, kita harus bisa pelan-pelan menggunakan kalimat positif dan mengkontrol emosi kita sendiri which is masih saya pelajari hingga saat ini ๐Ÿ™ˆ ehehehe. Kalau mba Occi ketemu rekan kerja yang seperti itu, memang akan sulit posisinya apabila status mba Occi dan dia adalah sesama rekan. Tapi bukan berarti nggak mungkin untuk diperbaiki. Masih ada jalan dan coba dikomunikasikan dengan baik ๐Ÿ˜ semangat mba, Occi ๐Ÿ’•

      Delete
  12. Wah, saya kadang juga begitu mbak. Pernah aku mau ambil piring di belakang, tapi mata masih lihat ke tv karena ada acara seru. Akhirnya aku kesandung meja, aku omelin tuh mejanya. Kenapa sih tiba tiba ada di depanku...๐Ÿ˜‚

    Jujur aku belum bisa seperti mbak Eno yang bisa ajak orang ke arah positif, biasanya kalo ada orang ngompori ya ikut nimbrung, bukan dipilih mana baiknya.

    Apalagi aku pernah kuli dan dapat atasan yang "baik". Tuh atasan saya orangnya itu suka ngasih target, satu orang dalam sehari harus bisa ngepak 400 kardus, padahal dari kantornya sebenarnya tidak ada target. Cuma memang jika dapat target 400 dus itu ada bonusnya. Tapi 400 dus itu pakai tenaga manusia, ngga pakai mesin.

    Bisa dibilang jarang yang sampai target karena memang capek sekali. Kadang dia ngomel, tapi habis ngomel bukan ngasih solusi atau bantuin biar nyampai target tapi malah dia tidur. Iya tidur disaat jam kerja dan hampir tiap hari lagi. Akhirnya suatu hari ada orang kantor biasa keliling lihat orang kerja, kebetulan atasan saya lagi tiduran. Orang kantornya lalu nanya saya mana bos saya itu karena ngga keliatan. Akhirnya aku tunjukkan tuh bos saya yang "baik" lagi ngorok.๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahaaha kenapa mejanya yang disalahkan ๐Ÿคฃ

      Kalau di luar pekerjaan, kadang saya masih ikut mendengarkan kalau ada teman cerita mas. Tapi lebih banyak dengar saja, sambil sesekali kasih saran. Nggak sampai ikut membicarakan, karena nggak kenal juga sama yang dibicarakan ahahahaha ๐Ÿ˜‚ beda cerita kalau saya kenal sama yang dibicarakan, instead of ikutan membicarakan orang yang saya kenal tersebut, saya prefer kasih puk-puk teman saya biar emosinya mereda ๐Ÿ˜† luckily, dengan bertambahnya usia saya dan teman-teman saya, drama sudah jauh banyak berkurang, mungkin karena sudah fokus sama urusan domestik personal, bukan lagi drama kumbara pertemanan ๐Ÿคฃ

      Jadi atasan itu memang susah mas, harus kasih contoh dan harus kasih solusi apabila dibutuhkan. Saya juga sebenarnya sebagai leader masih jauh dari kata baik dan masih banyak salahnya ๐Ÿ˜‚ that's why ingin terus belajar entah dari buku, jurnal, maupun pengalaman teman-teman di kolom komentar ๐Ÿ™ˆ so, thank you so much atas pengalaman mas Agus yah ๐Ÿ˜

      Delete
    2. Betul sekali mbak, jadi atasan itu memang ngga mudah. Saya ada teman yang tadinya sama sama kerja lalu dia diangkat jadi staf di kantor.

      Dia pusing padahal ngga pakai tenaga tapi otaknya harus jalan terus, dia dipesan sama atasannya lagi harus begini, sementara dia kebawah juga ngga mau terlalu memaksa karena pernah juga dibawah. Akhirnya setahun doang dia jadi orang kantor dan pilih keluar pabrik.๐Ÿ˜ฑ

      Delete
    3. Kalau tenaga lelah, dibawa tidur bisa hilang ya mas lelahnya ๐Ÿ™ˆ kalau otak lelah, mau dibawa tidur yang ada pusing sebab masalah nggak kelar-kelar ๐Ÿ˜‚ dan saya tau banget perasaan teman mas Agus, pasti lelah sangat karena berada di tengah-tengah ~ semoga sekarang setelah out dari pabrik, hidupnya lebih bahagia ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  13. Jujur aku kalo kedatengan orang sejenis Kompor Meleduk sih bakal jadi was-was banget. Bukan apanya, ntar kalo kita ada di posisi korban, bisa-bisa kita yang jadi bahan si Kompor Meleduk ini buat diceritain ke orang lain. Dan aku juga kayaknya ngga bisa bertahan lama deh temenan sama orang yang kayak gini. Huhu, ga tau kenapa rasanya tertekan banget kalo ngobrol tuh yang diomongin adalah hal-hal negatif dari si korban.

    Hehe, cerita Mba Eno ini sebenarnya ngingetin aku ke beberapa temen sih yang dulu sebenarnya pengen aku deketin biar gengsi bisa naik. Karena pengen aja ganti inner circle dan challenge diri sendiri bisa ga temenen sama orang seperti itu. Tapi ternyata malah ga bisa bertahan. Tetep aja ujung-ujungnya temenannya sama yang sederhana, dan ngga negatif. Semoga Mba Eno bisa jaga diri ya dari si Kompor Meleduk. Haha!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah untungnya di-circle pertemanan saya nggak ada yang kompor meleduk mba hehehe. Kita sama-sama tau saja kalau hal tersebut nggak ada manfaatnya ๐Ÿ˜ dan cerita di atas bukan soal pertemanan yang saya bahas ehehe. Lebih ke arah pekerjaan ~ menghadapi staff yang punya karakter begitu harus bagaimana ๐Ÿ™ˆ kalau soal pertemanan, saya pun malas semisal ada teman yang demikian, better kita jaga jarak demi kebaikan bersama ๐Ÿ˜‚ capek juga soalnya kalau terus-terusan dengar hal negatif / membicarakan orang, sebab urus diri kita sendiri saja belum bisa maksimal, masa harus ditambah urus hidup orang ๐Ÿ˜…

      Dan betul mba, paling nyaman kalau berteman sama yang sederhana dan apa adanya. Hehehe. Cuma kalau soal pertemanan kan kita bisa pilih-pilih, ya. Berbeda dengan pekerjaan, nggak mungkin terus pecat-pecat staff yang ada nanti lelah juga harus gonta-ganti dan training ulang. That's why saya tulis Became a Host #3 topiknya soal bagaimana train staff agar nggak jadi orang yang negatif karena itu bisa merusak suasana kerja ๐Ÿ˜„ semoga tulisan saya nggak misleading yah ~ takut dikira saya membahas pertemanan saya (not at all). And thank you so much mba, semoga mba Yani pun dijauhkan dari para Kompor ๐Ÿ˜

      Delete
  14. aku sendiri sampe sekarang kadang komunikasi juga nggak bagus, terlebih kalau udah menyangkut urusan kantor, memang kalo kata-kata yang diucapkan secara nggak sadar kadang menimbulkan artian negatif.
    pimpinan aku sendiri juga melakukan hal kayak mb eno ini ke diriku.
    semoga bisa berproses jadi lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelan-pelan kita semua berproses mba, keterusan berbicara dengan konotasi negatif itu nggak enak banget soalnya baik saat diucapkan maupun saat didengar ๐Ÿ˜ ehehehe. Terima kasih sudah membaca tulisan saya, mba ๐Ÿ’•

      Delete
  15. Beberapa waktu lalu, saya baca tweet dari seseorang yang bikin saya tersenyum,

    'Seorang leader seharusnya you lead bukan jou lead'

    Dan, setelah baca ini, saya senyum lagi, Mba Eno.๐Ÿ˜Š

    Sikap mba Eno dalam merespon masalah atau laporan dari staff lama2 membuat staff paham kalau bosnya bakal nanya ini itu. Jadi mereka lama2 berubah dalam memberikan laporan sesuai yang Mba Eno lakukan.

    Makasih, Mba Eno, untuk pembelajaran kali ini.๐Ÿ˜

    Eh, btw kalau ada tamu yang merusakkan barang harus ganti apa enggak? Ada peraturan tertulis nggak di vila?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Widih ada kata baru, 'joulead' ๐Ÿ˜‚
      Itu maksudnya julid, mba? Hahaha ๐Ÿคฃ

      Saya berpikir kalau saya over-react saat merespon mereka, itu akan membuat mereka jadi terbiasa selalu memberi informasi dengan konotasi negatif dan itu jujur nggak enak banget didengarnya mba ๐Ÿ™ˆ tapi saya juga nggak bisa bilang, "Jangan." ke mereka sebab kesannya akan mendikte meski sebetulnya sah-sah saja. Dan memilih untuk kasih contoh pelan-pelan dengan cara saya merespon mereka, jadi mereka tau mana prioritas utama ๐Ÿ˜ susah susah gampang dan agak tricky, sebab kadang hati saya kesulut juga kalau yang rusak barang yang saya sayang hahahahaha. Biasa kalau sudah begitu, saya tarik napas dalam baru deh bicara ๐Ÿคญ

      Kalau ada yang rusak diganti mba, ada peraturannya di AIRBNB dan di villa pun ada. Biasa tamu sadar diri untuk mau ganti tanpa diminta. Semua tamu selama ini nggak pernah ada yang kabur nggak bayar. Makanya saya juga merasa nggak perlu sampai segitu negatifnya ke tamu hanya karena tamu nggak sengaja rusak barang ๐Ÿ˜ฌ tapi ya balik lagi, pada awalnya saya maklum kalau para mas dan mba bersikap demikian karena mereka kawatir kena marah ๐Ÿ˜‚ that's why saya kasih contoh pelan-pelan biar nggak jadi kebiasaan ๐Ÿ™ˆ sambil saya juga belajar kontrol emosi saya setiap kali dengar kabar ๐Ÿคฃ

      Delete
  16. Eno bijak banget. Memang kadang menyampaikan kepada staff untuk melakukan ini itu, agak lama untuk dicerna oleh stafnya. Tapi memberi contoh melalui reaksi-reaksi positif Eno terhadap kabar yang kurang menyenangkan, secara tak sadar membuat stafnya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang tidak menyenangkan.

    Salut deh buat Eno, semoga timnya makin solid dan bisnisnya semakin lancar ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun merasa kalau saya dikasih ceramah oleh ortu, akan lama sadarnya mas, tapi kalau dikasih contoh langsung jadi lebih cepat tanggap ๐Ÿ˜‚ itu yang coba saya terapkan selain karena saya nggak merasa pada tempatnya untuk kasih ceramah atau marah-marah ๐Ÿ™ˆ thank God, para staff bisa meniru sedikit banyak contoh yang diberikan ๐Ÿ˜

      Terima kasih mas Cipu doanya ๐Ÿ˜

      Delete
  17. Hmm.. kalo mengamati mereka yang berperilaku seperti kompor meleduk ini. Sepertinya, (IMO sih) mungkin berawal dari inner child nya juga mba.

    Mungkin waktu kecil, setiap dia bikin kesalahan selalu dibentak atau dihukum berlebihan, hingga berdampak ke perilaku ketika dewasa. Yaitu dengan mencoba menyelamatkan diri.

    Tapi masalahnya itu, ada di ahlak dan prinsip hidupnya. Jika dia ingin jadi orang yang jujur dan bertanggung jawab, dia akan berubah ke arah lebih baik. Tapi jika wataknya ternyata berlawanan, yah begitulah yang terjadi, kadang gak nyadar diri udah jadi kompor meleduk, apalagi selalu di ladenin, bisa-bisa orang-orang disekitarnya juga malah jadi ikutan gosong pikirannya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mba, karena efek jangka panjang, kalau kata salah satu mba, "Sudah bawaan orok." hahahaha ๐Ÿ˜‚ and fortunately, bisa diubah berjalannya dengan waktu tentu dengan keinginan kuat dari para mas dan mba yang memang mau berubah ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Saya melihat mereka menjadi kompor meleduk pada waktu itu karena belum ada contoh baik yang diberikan oleh orang di sekitar mereka ~ dan saya memaklumi hal tersebut, karena bisa jadi ini adalah pekerjaan profesional pertama mereka meski beberapa ada yang pernah jadi TKI tapi di negara luar kerjanya jadi ART juga, alhasil most of them belum dapat training lengkap bagaimana sebenarnya harus bersikap pada setiap keadaan ๐Ÿ˜

      Dan betul itu, kalau diladeni terus yang ada pikiran kita keikut gosong makanya saya prefer untuk stay soft dan kasih contoh demi menyelamati pikiran saya. Karena terus menerus dapat gempuran kalimat negatif, sedikit banyak juga bisa mengaduk emosi kita kan, mba ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  18. Pada dasarnya, marah lebih gampang daripada bijaksana. Bicara komunikasi, ini cukup relate buat saya yang baru saja menyelesaikan mata kuliah Pragmatik. Tapi memang sih, atensi untuk memulai pembicaraan dengan konotasi negatif lebih cenderung. Mungkin untuk memberi rasa percaya diri bahwa ia lebih tinggi dari yang dibicarakannya. Tapi tidak tau juga sih. Saya bukan orang yang baik juga masalahnya.

    Terimakasih kak Eno, ceritanya membuat saya kembali mengingat potongan-potongan kejadian di masa lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya mas, marah dan menjadi emosional memang lebih gampang ๐Ÿคญ wah mas Rahul belajar mengenai pragmatik, pastinya mas lebih paham mengenai hal-hal ini ๐Ÿ˜† dan setuju sama mas, kebanyakan kalimat negatif yang ke luar itu untuk memberi rasa percaya diri kalau itu bukan kesalahan mereka, meski sebenarnya nggak perlu pakai kalimat negatif pun saya serta team tau siapa yang salah ๐Ÿ˜‚

      Pelan-pelan, kita sama-sama belajar mas ๐Ÿ˜

      Delete
  19. Pasti mereka merasa sangat beruntung bisa kerja sama mbak Eno, selain mendapatkan gaji, mereka juga dapat banyak pelajaran hidup untuk selalu menyebarkan positive vibes..

    Artikel ini juga sekaligus menampar saya nih sebagai pembaca, kadang masih sering keluar hal-halnya negatifnya ketika menemui hal-hal yg ngga diinginkan.. semoga bisa lebih bijak lagi ke depannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Bara, saya dan team masih perlu belajar banyak ๐Ÿ™ˆ tapi memang positive vibes sangat dibutuhkan untuk menjaga suasana kerja kondusif tanpa mengesampingkan hak-hak personal untuk bersuara ๐Ÿ˜

      Semoga kita bisa jadi pribadi lebih baik ke depannya ๐Ÿ˜

      Delete
  20. qiqiqiqiqiqiiqiqiqi, saya jadi narik nafas bacanya say, terutama di awal-awal tulisan ini.

    hhhhhh....

    Dan di akhir tulisan saya menyadari, pada akhirnya seorang wanita memang akhirnya menjadi baik karena kudu jadi leader atau pemimpin yang memberi contoh baik.

    Seperti Eno yang harus selalu tampil baik, untuk mencontohkan kepada karyawannya, pun juga saya yang harus jadi orang baik, karena ada anak-anak yang mencontoh perilaku saya.

    Awalnya memang menyebalkan sih ya, memaksa diri seolah bukan kita banget, nggak bisa tampil apa adanya.
    Tapi seiring waktu saya sadar, betapa beruntungnya kita, jadi leader itu (baik sebagai pebisnis ataupun seorang ibu) berarti membuat kita akan menua dengan bijak.

    Btw, sebenarnya juga hal-hal tentang menyalahkan orang demi menyelamatkan diri kadang bahkan seringnya udah bawaan sejak orok alias dari kecil kayak gitu, jadi note buat saya juga nih, kadang si kakak seperti itu.

    Saat adiknya jatuh atau memecahkan barang, dia fokus ke kesalahan si adik dulu.
    Mungkin karena saya terlalu galak kali ya, jadinya si kakak udah duluan takut dimarahin, astagaaaahhh huhuhu.

    Ah tengkiu Eno udah membagikan tulisan ini, jadi catatan penting banget buat saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tarik napasnya jangan panjang-panjang, mba ๐Ÿคฃ

      Itu yang saya pelajari dari ibu saya mba, untuk memberi contoh, seperti komentar saya untuk mas Cipu di atas, saya belajar dari orang tua ketika dikasih ceramah justru sulit saya mengingat permasalahannya. Tapi saat diberi contoh, saya lebih cepat tanggap ๐Ÿ™ˆ dari situ saya tau kalau memberi contoh memang lebih baik hahaha.

      Kalau saya merasa, menjadi baik itu kewajiban, dan semoga kita tetap bisa tampil apa adanya menjadi diri kita ~ meski manusia nggak sempurna dan kadang ingin marah-marah juga, tapi saya memilih marah-marah pada tempatnya (contoh kepada pasangan, atau blog personal, jiaaakkhhhh) ๐Ÿคช๐Ÿคฃ dan setuju sama mba, dengan kita membiasakan diri untuk berbaik hati, kita akan menua dengan bijak. Bukan berarti nggak apa adanya ๐Ÿคญ

      Semangat mba, saya masih banyak belajar, salah satunya dari komentar teman-teman ๐Ÿ˜ jadi terima kasih untuk insightnya ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Delete
  21. Mampu mengendalikan kemarahan itu kata orang adalah salah satu tanda kematangan jiwa dan pemikiran. Menariknya, kemampuan itu sama sekali ga berkorelasi dengan pertambahan usia. :)

    Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan ini, Mba Eno!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, setiap orang punya timingnya, mungkin ada yang butuh waktu bertambah usia 5 tahun baru matang, tapi ada juga yang tunggu 20 tahun baru matang ๐Ÿ™ˆ mungkin sih ini yah, karena saya juga nggak tau benarnya bagaimana ๐Ÿ˜‚

      Sama-sama mas, terima kasih sudah baca ๐Ÿ˜

      Delete
  22. Mungkin para staf begitu karena pengalaman dengan bos di tempat kerja mereka sebelumnya kali, Mbak. Semoga setelah tahu cara Mbak solving problem, mereka jadi semakin terbiasa untuk menyampaikan masalah dan tindakan mereka untuk menyelesaikan atau minimal ide untuk solve masalah itu.

    Saya sendiri juga selalu berusaha berpikir cepat ke solusi seperti Mbak saat menghadapi kejadian sejenis di rumah. Misalnya, K menjatuhkan/memecahkan piring. Kalimat pertama yang keluar dari mulut saya, "jangan begerak, banyak pecahan piring, bapak yang beresin"

    Sayangnya saya bicara begitu agak keras supaya K benar-benar diam tak bergerak kemana-mana. Tapi ya dia jadi nangis ketakutan, karena dia pikir saya marahin dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mas, meski saya nggak mau mengulik lebih jauh kenapa mereka demikian ๐Ÿ™ˆ hehe. Luckily sekarang mereka bisa solve atau report problem tanpa ada tendesi negatif di dalamnya. Dan mereka nggak merasa kawatir kena marah kalau mereka memang nggak salah ๐Ÿ˜

      Duh K, sama banget sama saya waktu kecil, kalau dibentak agak keras pasti menangis padahal yang diucap Ibu bukan amarah ๐Ÿ˜‚ it's okay mas, K pasti akan paham kalau maksud ayahnya baik karena itu juga yang saya pahami sampai sekarang pada setiap action dan ucapan yang orang tua saya berikan ๐Ÿ˜

      Delete
  23. Pernah asisten kepercayaanku ga sengaja mecahin kristal pas sedang ngelap2 koleksiku di ruang tv. Kebetulan dia kalo bersihin rumah pasti pagi abis subuh mba. Aku aja tidur LG kalo udh subuhan :p. Nah denger suara krompyang kenceng , otomatis kaget dan kebangun Krn mikirnya ada maling hahahahah. Pas kluar kamar, si mba mukanya pucet, gemeter, mungkin saking takutnya aku bakal marah ngeliat kristal pecah berkeping2 :p.

    Tp ngeliat mukanya yg udh mau nangis, yg ada, aku LBH nguatirin dia apa kena pecahan belingnya ato ga. Ngenes liat kristal ancur, iyaaa. Tp aku LBH ngenes kalo sampe aku marahin, dan si mba kmudian kluar dr rumahku Krn takut. Aku LBH bgs kehilangan kristal walo mahal, drpd asisten kepercayaan ku berhenti. Tenaga dia jauuuuuuh LBH berarti drpd kristal yg ga bisa ngapa2in :D.

    Skr aku udh resign, tp pas msh kerja kmrn, aku selalu tekanin ke anak2ku, utk cari dulu penyebab masalahnya, dan bukan nyalahin. Mitigasi apa yg bisa dilakukan supaya ga keulang. Aku ga akan mau dengerin mereka saling salah menyalahkan. Yg aku mau cuma denger solusinya akan seperti apa. Jd anak2 udh ngerti percuma mereka jelek2in org lain, selagi ga tau penyebab masalahnya di mana.

    Yg ada, staff begitu aku minta dirotasiin dari teamku :p. Ga butuh dgn staff yg ga bisa saling bekerjasama secara team.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bisa membayangkan kejadiannya mba hahahahaha. Pasti pucat pasi muka asisten mba, apalagi kalau yang nggak sengaja pecah adalah koleksi kesayangan mba ๐Ÿ™ˆ dan betul banget, bakal amat sangat disayangkan kalau asisten mba sampai resign karena merasa takut dan was-was, apalagi kalau sudah jadi kepercayaan ๐Ÿคญ

      Noted. Setuju sama mba, yang dicari penyebab dan solusi dari masalahnya, bukan siapa yang salah terus jadi salah-salahan ๐Ÿ˜‚ dan mitigasi resiko memang sangat diperlukan. Agar ke depannya nggak ada yang keulang ๐Ÿ˜† terima kasih banyak mba Fany atas ceritanya, saya jadi belajar banyak dari cerita dan komentar mba ๐Ÿ˜ hehe. Semoga kita selalu dilimpahkan rejeki dalam bentuk asisten maupun staff yang mau terus belajar menjadi lebih baik as personal ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ’•

      Delete
  24. Pas baca ini sambil ingat-ingat, apakah aku pernah seperti itu. Serasa mendapat teguran kalau aku tidak boleh bersikap seperti itu.

    Terus tadi juga kepikiran, hal-hal kayak gini juga hadir sebagai pelengkap dalam sebuah lingkungan. Jika ada yang baik, berarti ada yang belum baik. Begitu juga dengan hal yang dijelaskan mbak eno.

    Banyak dapat masukan menarik dari artikel ini.
    Makasih mbak eno :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya kebanyakan dari kita pernah melakukannya meski sekali hehe ~ mungkin karena terpojok dan lain sebagainya. Yang terpenting kita tau kalau itu salah dan sebaiknya nggak mengulang ๐Ÿ˜ hehehe. Betul mas, akan selalu ada positif dan negatif, tinggal bagaimana kita mengelolanya, berusaha pelan-pelan mengubahnya, dan belajar dari kesalahan yang ada ๐Ÿ˜ karena yang namanya manusia, pasti ada saja salahnya ~

      Sama-sama mas Rivai, terima kasih sudah baca ๐Ÿคญ

      Delete
  25. Bagus cerita dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini. Baru ngeh stove artinya komporin gitu ya haha. Mbak sudah melakukan hal yang benar, sabar dan kasih contoh yang baik, ujung-ujungnya mereka jadi belajar dan bisa get better juga. Next bukan jadi stove jadi fridge kali ya biar bisa mendinginkan suasana haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha iya mba ๐Ÿ˜‚ bingung mau pakai istilah apa. Jadi pakai stove saja. Tapi mba kok bisa baca tulisan versi bahasa Inggris? Padahal sedang saya tutup tulisannya ๐Ÿ™ˆ

      Amiiin semoga semua jadi fridge sesuai harapan ๐Ÿคฃ

      Delete
  26. Again, selalu salut dengan mindset mbak meno tentang bagaimana mengedukasi HR nya.

    Baca postingan mbak meno yang series Becoming Host itu komplit banget. Setelah kemarin budgeting dan perencanaan, kali ini takeawaysnya tentang belajar sikap positif dalam menghadapi masalah, nggak gampang nyalahin, angry management dan penyampaian komunikasi yang baik.

    Membaca related post ini tuh kayak lagi membaca buku self-help sumpah, bedanya dalam bentuk narasi dari pengalaman pribadi. jadi lebih ngena. :D

    Mba Meno, if i may ask, tentang response management, kalau kita pas lagi kebetulan capek, pikiran stres banget itu handle nya gimana ya mbak? Biasanya kan mudah kesel sama orang lain. Cara kita biar bisa "delay the reaction" tanpa sambat itu gimana. Saya masih belajar hal ini soalnya.

    thanks for sharing Mbak.~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mas Rifan ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Saya masih banyak belajar juga sebenarnya dari hal-hal yang terjadi di lapangan, karena kadang ada pula keputusan yang salah dan merugikan usaha ๐Ÿคฃ yah, namanya hidup, belajar dari kesalahan salah satu hal yang utama ahahahahaha. Once again, terima kasih banyak, mas ๐Ÿ™ˆ

      Eniho pertanyaan dari mas Rifan akan saya jawab pada Became a Host #4 yah, ehehehe ~ mau berbagi pengalaman juga dalam menghadapi stres ketika banyak masalah terjadi di dalam usaha ๐Ÿ˜† however, berhubung ini pengalaman saya, jadi belum tentu benar caranya, hahaha. Karena saya melakukan itu berdasarkan kemampuan saya which is akan berbeda penanganannya pada masing-masing personal ๐Ÿ˜

      Delete
    2. Siap, mba.. Looking forward to it. :D
      Btw, saya baca postingan terbaru juga, cuman kadang nggak semua saya tinggalkan komentar :D ,, kalau pas lagi ketinggalan jauh, kadang saya scroll postingan lama wkwk

      Delete
    3. Orait mas ๐Ÿ˜ thank you so much!

      Iya nggak apa-apa mas Rifan, hihihi ~ saya sudah sangat senang apabila dibaca tulisannya. Ditunggu tulisan terbaru mas Rifan ๐Ÿ˜

      Delete
  27. Karena pada dasarnya kita nggak suka disalahkan dan nggak mau dicap jelek. Lalu untuk kasus staf hotel, mungkin dia belum menanamkan konsep bahwa dalam industri hospitality, tamu adalah raja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, that's why perlu dikasih contoh pelan-pelan ๐Ÿ˜ฌ

      Delete
  28. Wooow. Very inspiring kak Eno. Membangun lingkungan dan sikap yang positif memang lebih sulit ketimbang hal yang negatif. Setuju sama opini kakak, hal negatif itu lebih cepet dan lebih sering terbangunnya ketimbang hal positif. Kalau yang positif-positif biasanya butuh proses dulu gitu biar jadi kebiasaan...Thanks kak udah ngingetin untuk jaga ucapan sebelum diutarakan. Aku benar-benar masih sangat sangat sangat butuh belajar dalam hal ini...cablak bener dah aku kalau ngomong. Malah kesannya kayak nyolot huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Frisca bacanya jauh sekaliiii ๐Ÿ™ˆ

      Terima kasih sudah baca, mba ~ hehehe. Iya betul membangun lingkungan yang positif memang susah, tapi bukan berarti nggak bisa ๐Ÿ˜ hanya perlu efforts lebih besar agar semua bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya ๐Ÿ˜† hehehehehe.

      Kita sama-sama belajar, mba ๐Ÿ˜ semangatttt untuk kita!

      Delete
    2. Hahaha judul ini menarik sekali kak!! Jadi mampir sampe sini ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Iya betul sekaleeeh. Lebih susah tapi bisa dilakukan!

      Yup kak! Ganbatte kudasai!!! ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

      Delete
    3. Harus bisa dan pasti bisa ๐Ÿ˜‚ himnaera! ๐Ÿ’•

      Delete
  29. Gimana Mbak Eno berusaha mengubah cara berpikir karyawan itu justru, buat saya, menunjukkan kalau Mbak Eno pemimpin yang baik. Dan sebaliknya karyawan-karyawan Mbak Eno juga kayaknya terbuka untuk perbaikan. Iklim yang bagus banget untuk organisasi.

    Cuma, kadang ngeselin juga, sih, Mbak, kalau sudah sejak lama kasih contoh tapi nggak ditangkep-tangkep juga. Jadi gemes jadinya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Morishige untuk apresiasinya, saya pribadi sejujurnya masih butuh banyak belajar, dan secara nggak langsung, saya belajar banyak dari para staff juga ๐Ÿ˜๐Ÿ™

      Nah itu, tapi memang yang namanya berubah nggak bisa instan prosesnya, jadi kita hanya bisa pelan-pelan terus memberi tau sampai one day hal itu menempel di ingatan ๐Ÿ™ˆ

      Delete