Became a Host #3 | CREAMENO

Pages

Became a Host #3

Kadang, beberapa dari kita lebih suka posisikan diri sebagai 'kompor meleduk' yang membuat panas keadaan daripada fokus selesaikan masalah. Itu gaes, tipe pembawa berita yang memulai suatu kalimat pakai kata, "Eh, tau nggak?" atau, "Eh, masa yaaaa..." πŸ˜‚ dan saat menyampaikan berita pun semangatnya benar-benar RUARRR BIASA! Hahaha. Kenapa gue bilang begini, karena staff gue (para mas dan mba) ada yang begini D.U.L.U.N.Y.A 🀣✌ Untung sekarang sudah nggak, kalau masih saja dilakukan, bisa pecah kepala mamak! πŸ€ͺ Wk.

Contoh kecil, pernah ada tamu jatuh kepleset di tangga terus kakinya nggak sengaja tabrak pot yang ada di pinggir tangga jadi potnya pecah dan tanamannya tumpah. Kebetulan pot tersebut agak mahal jadi staff gue takut kalau kena marah karena nggak bisa menjaga pot dengan benar, lalu staff gue info ke gue, "Mba, tau nggak? Tadi ada tamu jatuh, terus menabrak pot dan potnya rusak. Haduhhh! Kenapa nggak hati-hati, ya?" -- and yeah, di sini gue menilai kalau staff gue..

Satu, mau jadi 'kompor meleduk', dan dua, berusaha menyelamatkan diri dengan menyalahkan tamu biar dia (staff gue) nggak kena tegur. Padahal dalam situasi itu seharusnya staff gue.. satu, mengkhawatirkan keselamatan tamu dan dua, berusaha untuk update kondisi tamu. That's why, setiap kali ada laporan, "Mba, ada tamu jatuh." atau, "Mba, tamu pecahkan gelas." dan ini itu ---- yang selalu gue tanya pertama kali adalah, "Apakah tamunya baik-baik saja?" πŸ˜†

Gue nggak langsung reactive merespon dengan bilang, "OMG! Kenapa tamu kita rusak barang." -- walau kadang ada kejadian yang cukup membuat hati gue tersayat-sayat seperti barang yang nggak sengaja rusak adalah barang koleksi dengan harga setara gaji bulanan 😭🀣✌ Dilain hari bahkan ada kejadian floaties (bebek-bebekan di kolam) seharga satu juta sobek akibat anaknya tamu gue lagi keranjingan main di kolam. Itu saja waktu staff gue report, respon pertama gue..

"Anaknya baik-baik, Mba? Nggak tenggelam di kolam renang, kan?" -- padahal saat bertanya, hati gue ATIT ANET, GAES 🀣 Air mata hampir jatuh bercucuran karena bebek kesayangan ended up nggak bisa digunakan 😭 Begitupun saat staff gue melakukan kesalahan, contoh nggak hati-hati dalam pakai kompor hingga terjadi ledakan kecil yang menyebabkan teflon mental dan minyak berhamburan. Dengan ketakutan staff gue melapor dan respon gue, "Mba, nggak apa-apa? Ada yang luka, kah? Hati-hati kena minyak panas." instead of, "Bijimane sih mba, masa urus kompor saja nggak bisa. Payah, ah! Rusak pan teflon gue jadinyah." πŸ€ͺ

🐰🐰🐰

Frankly speaking, gue bukan leader yang baik dan bijak (kalau cantik sih iya 🀭) Dan gue kadang menyebalkan jadi orang πŸ™ˆ Tapi gue melakukan hal-hal di atas untuk kasih contoh ke staff gue tanpa mendikte, bahwa sebenarnya begini lho caranya berhadapan dengan sebuah masalah 😁 Bukan dengan lari menyelamatkan diri sendiri sambil seakan menunjuk kesalahan ke orang lain walau bisa jadi orang itu salah. Dan jangan sampai kita nggak peduli 'keselamatan' orang cuma agar diri sendiri 'selamat' πŸ˜‚ As simple as that. Hehehehehehe.

Meski gue maklum kenapa mereka demikian, karena mereka kawatir harus bertanggung jawab pada kerusakan yang ada, tapi menurut gue, kekawatiran itu nggak seharusnya menjadi alasan untuk membuat mereka ignorant. Jujur, pada awalnya susah untuk gue memberi contoh, sebab sudah jadi kebiasaan ~ even saat salah satu staff yang notabene rekan kerja mereka buat salah, mereka dengan semangat report ke gue mengenai kesalahan rekannya πŸ˜…

Makanya jika ada staff bawa kabar mengenai si A, si B, si C, entah soal hidupnya, kesalahannya, dan lainnya, gue akan tanya ke si pembawa kabar, "Apa dia (orang yang sedang dibicarakan) baik-baik saja?" sebelum memberi pertanyaan berikutnya. Karena dengan begitu, si pembawa kabar akan sadar untuk memulai percakapan yang baik itu bukan dengan kalimat berkonotasi negatif hanya demi mendapatkan perhatian dari lawan bicara 😬

Sebab terkadang, kita nggak tau apa yang dirasakan oleh seseorang yang sedang dibicarakan πŸ™ˆ Bisa jadi, seseorang yang dibicarakan tersebut, ternyata sudah berusaha mencegah terjadinya kesalahan. Seperti staff gue yang semangat saat mengirimkan report nggak tau kalau tamu gue yang jatuh dan tanpa sengaja merusak pot ternyata berusaha menghalau badannya agar nggak tabrak frame di tangga. Pun staff gue nggak tau kalau tamu yang tanpa sengaja pecahkan gelas ternyata sudah berusaha tangkap gelas tersebut sebelum akhirnya pecah. Hehehe πŸ˜…

Dan tentu, staff gue nggak tau, kalau rekan kerja yang mereka report ternyata sudah berusaha keras. Lagipula gue heran, kenapa sih, kita (iya, kita! Karena gue pernah melakukannya, yeah my bad πŸ™ˆ) hobi banget menceritakan kesalahan orang? Apa pengaruh hormon, yaah? πŸ˜‚ Hormon pula dibawa-bawa! Terooooooooos saja cari kambing hitam πŸ€ͺ

Nevertheless, gue ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan ingin orang disekeliling gue menjadi lebih baik juga. Berhubung gue tau, gue nggak sempurna, dan nggak layak mendikte para staff, maka gue pilih cara dengan memberi contoh kepada mereka 🀭 Biar seenggaknya saat mereka lagi 'panasan', mereka nggak bilang kalau itu contoh dari leader-nya. Jiaaakkhh πŸ˜‚ On a serious note, gue pilih kasih contoh daripada mendikte karena gue ingin kita sama-sama berubah 😁

Thank God, berjalan dengan waktu, nggak ada lagi 'kompor meleduk' di setiap kejadian selama gue jalani usaha. Para staff yang diawal cablak, sekarang menjadi staff yang ucapannya terarah. Dan bentuk report berubah ke, "Mba, Mr. A tadi nggak sengaja pecahkan piring, dan sudah saya bersihkan. Ohyaaa, Mr. A nggak luka dan nanti mau ganti pakai uang cash." instead of, "Mba, tau nggak, tadi Mr. A pecahkan piring. Haduh! Mana piring yang putih itu mahal kan, mba." 🀣

Atau, "Mba, si C salah pasang paku, jadi dinding bolong, akhirnya ditambal semen putih ~ Nanti uang pembelian semennya saya masukkan ke laporan dan paku baru sudah dipasang di tempat yang benar." instead of, "Mba, masa ya, si C pasang paku nggak benar, terus dinding jadi bolong. Akhirnya kita beli semen gara-gara dia." πŸ™ˆ Believe me, butuh proses panjang untuk membuat para staff merubah gaya bahasa mereka dan perubahan itu dibutuhkan. Karena bangun energi positif nggak bisa satu arah. Apalagi kalau mau longterm-run menjalankan usaha 😍

Dan gue merasa, bagaimana cara kita berkomunikasi terhadap orang lain, termasuk bagaimana kita susun kalimat berperan penting dalam kualitas hubungan baik itu sama pasangan, keluarga, apalagi rekan kerja yang kemungkinan 'panasnya' lebih besar ~ Dengan kita belajar komunikasi dan berbahasa yang baik, itu akan membantu kita dalam running usaha. Jadi gue pikir, edukasi soal tata cara komunikasi diperlukan ketika kita berniat punya staff, dan berjalan dengan waktu, gue sadar, tata cara komunikasi nggak cukup kalau nggak dilandaskan dengan kesadaran penuh untuk menjaga konteks yang ingin kita bicarakan 😁 hehehehehe.

🐰🐰🐰

Gue pernah bilang sama para staff, sebelum bicara, seremeh dan sekecil apapun konteksnya.... tolong dipikirkan 😁 Kalau istilah anak sekarang 'Be mindful' karena dengan kita 'mindful' pada apa yang kita ucap, itu sama dengan kita memberi respect pada lawan bicara kita ~ πŸ™ˆ Kalau kata Barack Obama, "It’s important to make sure that we’re talking to each other in a way that heals, not in a way that wounds." -- Semoga bermanfaat 😍

66 comments:

  1. keren sekali!!!!!!! aku juga sedang belajar terus untuk tidak mempersalahkan si subjek. toh kan itu di luar kuasa kita dan subjeknya. Jadi ya berusaha kalem aja karena semua itu di luar kendali kita. padahal gak ribet ya langsung aja ke solusi dari masalah yang ada... wqqwqwqwwq setuju mbak! :D

    ReplyDelete
    Replies

    1. Memang paling mudah mempersalahkan subjek terlepas siapa yang salah πŸ™ˆ jadinya ketika ribut pun, yang dipikir duluan itu siapa yang salah, bukan duduk permasalahannya 🀭 pada masanya, ketika saya masih belum bisa berpikir lebih dewasa (duileh berasa sekarang sudah dewasa hahaha), saya pun pernah bersikap demikian yang akhirnya saya sadari itu salah πŸ™„

      So, pelan-pelan kita belajar, masyama mba Fathia πŸ˜πŸ’•

      Delete
  2. Haduh! Kak Eno kok keren banget sih! *Kalau kayak gini, termasuk kompor meleduk nggak kak? 🀣

    Tapi, beneran keren! Sepertinya kalau berada di satu lingkungan dengan Kak Eno dalam waktu yang lama, bisa ketularan positifnya nih πŸ˜†

    Bermanfaat banget ceritanya! Menampar juga huahahaha soalnya sering banget kayak gini, memulai dengan "ehhh tau nggak.." tapi biasanya tuh ujung-ujungnya gosipin orang πŸ™Š nggak bener wkwkw.

    Terima kasih buat cerita-cerita kak Eno yang kayak gini. Padahal lewat dunia maya aja tapi positive vibesnya berasa banget πŸ₯°

    Kali ini, postnya nggak kepotong kan kak? 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahaha menurut Lia termasuk nggak? πŸ˜‚

      Tbh, kakak nggak selalu positif, kadang ya negatif, tuh contohnya sampai tulis DRAFTING dan ambil break 🀣 meski tipe negatifnya beda konteks, tapi yang namanya manusia pasti punya sisi positif dan negatif, jadi sekarang pun kakak sedang terus belajar upgrade diri agar menjadi manusia yang lebih baik lagi, meski dalam prosesnya, kakak bakal ketemu sifat-sifat negatif lain yang mungkin muncul mendadak padahal sebelumnya bisa jadi nggak pernah ada πŸ˜‚ *gubrak!*

      Mungkin next time kalau mau pakai kata, "Eh tau nggak.." dilanjutkan dengan cerita-cerita positif yah hahaha biar yang dengar juga nggak trauma πŸ™ˆ semangat untuk kita, Lia! And thank God, kali ini nggak kepotong post-nya 🀭

      Delete
    2. Termasuk tapi versi positif #ehh

      Semangat kak! Aku suka baca post-post kakak yg kayak gini soalnya jadi pengingat buat aku juga πŸ’•
      Terima kasih udah bikin post kayak gini!!

      Anyway, aku udah mengurangi banget sih kak penggunaan "eh tau nggak.." ketika memulai suatu percakapan, soalnya karena hal itu lebih sering mengarah ke gosip, dan aku udah malas banget dah sama yang namanya ngegosip, dan sejenisnya, that's why kalau temen lagi gosip, cuma dengerin aja, nggak nimpalin lagi πŸ˜‚

      *Jadi beda topik

      Delete
    3. Agree! 😁

      Semangat dong, bagaimana nggak semangat kalau dikasih semangat sama Lia 🀭 Lia juga selalu semangat yah ~ πŸ’• dan menurut kakak pun memang sebaiknya dikurangi kalau perlu jangan digunakan. Tapi it's okay untuk melakukannya pelan-pelan, berjalan dengan waktu, dan bertambahnya usia, kita akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan memahami kesalahan-kesalahan kita sebelumnya πŸ˜„ seenggaknya kita jadi tau ternyata bergosip itu nggak menguntungkan untuk kita πŸ™ˆ

      Himnaeseyo!

      Delete
  3. Entah kenapa pas baca ini aku langsung mengingat kejadian setiap kali anakku rusakin barang lah atau numpahin sesuatu, dan kemudian aku spontan respon: "Duh nakkk berantakan deh ini!" πŸ˜‚ *i'm such a bad mom i knoww still learning tho 😝*

    Ini aku komennya agak beda konteks yaa, Mba, tapi masih nyambung dengan yg dibahas di atas.

    Tanpa kusadari yang suka keluar dari mulut ini cenderung ke arah negatif. Entah itu keluhan atau mengelak dari kesalahan. Bukannya ngaku, cari kambing hitam, itu bener banget sih Mba πŸ˜‚

    Makanya sekarang tiap kali anakku nggak berhati-hati menjatuhkan sesuatu, yang pertama kutanya adalah: "Nak are u okay? Kamu sakit gak?", di sisi lain mencoba bersabaaaaar melihat sesuatu yg rusak mungkin aja barang kesayanganku atau yg jatuh itu adalah tumpahan oats di lantaiπŸ˜‚ karena aku sadar anakku itu cepat sekali belajar sesuatu dari orangtuanya, terlebih dari aku yg sehari-hari bareng dia terus. Aku make sure bisa jadi contoh yg baik buat anak sendiri dan bukan jadi batu sandungan 😊

    Btw, you're great leader, Mba Eno! Bisa kebayang para staffnya pasti diam-diam jadi secret admire-nya Mba Eno "bos gue keren banget sih!" πŸ˜†

    As always, thank youu Mba Eno for spreading positive vibes! ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mba, saya masih terus belajar, dan sekarang pun sedang belajar dari komentar mba Jane πŸ˜πŸ’• saya pernah ada dimasa over-reactive ketika berhadapan dengan hal, lalu saya akan berkata, "Duh, kenapa bisa begitu, ya?" tanpa berusaha memahami terlebih dahulu. Padahal pada satu sisi, saya selalu ingin dipahami hehe. Mungkin karena saya as manusia cukup selfish, entahlah πŸ™ˆ

      Pelan-pelan saya belajar dan refleksi, karena kalau saya terus begitu, rasanya hari-hari saya 'panas' sekali ehehehe. Dan setuju sama mba Jane, anak itu peniru ulung, seenggaknya itu yang pernah saya rasakan sebagai anak πŸ˜† terima kasih untuk apreasiasinya mba, yuk kita belajar sama-sama. Saya belajar banyak dari tulisan-tulisan mba Jane juga πŸ˜πŸ’•

      Delete
  4. Kenapa Kak Eno keren sekaliii huhuhu makin tambah ngefans ~XD *plakk*

    Tapi kayanya memang udah menjadi budaya gitu ya nyalahin orang dan judge orang tuh. Seringnya kata-kata negatif terlebih dahulu, atau mencari kambing hitam daripada menyelesaikan atau mengakui bahwa itu tindakan yang salah.

    Apa mungkin karena ego, ya? Sepertinya iya, hehehehe.

    Sekarang juga mulai belajar buat nggak banyak keluar kata-kata negatif dan menjadi kompor meleduk huhu. Emang susah, sih. Tapi namanya aja juga belajar. Pokoknya sampai bisa ~XD

    Terima kasih atas tulisan yang menyenangkan dan menginspirasi ini Mbak! Sehat dan bahagia selaluuu <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih jauh dari kata keren mba πŸ˜‚
      Tapi terima kasih ya apresiasinya πŸ˜πŸ’•

      Kalau menurut saya berdasarkan pengalaman, memang kebanyakan karena ego ingin menyelamatkan diri sendiri biar 'aman' ehehehe. Saat berantem sama adik saya lalu ibu bertanya kenapa berantem saja, saya dan adik saya saling salah menyalahkan 🀣 tapi itu alasan saya, bisa jadi orang lain akan berbeda berdasarkan pengalaman personalnya 🀭

      Kita akan terus belajar mba Andhira, yang terpenting berproses dan selalu semangat menjadi a better person ke depannya 😍

      Delete
  5. Jaman msh mudaan pernah tuh.. Tpi ga sering juga sih mbak.. Karena sy tipikal yg maunya aman alias adem ayem, walopun kadang hati dan mulut ini suka susah diajak kompromi, tapi kadang sebelum sayanya keceplosan... Langsung beberapa detik sebelum kompornya mbleduk sy langsung stop alias gak jadi ngomong...alias mikir dulu, takutnya kenapa"😁.dan ini sering banget sy lakuin sampe sekarang... Kayak otomatis langsung mikir gitu dan mulut ini terkunci πŸ™Š Yah emang sih kalo ada yg dirasa kurang sreg baiknya sih ditegur asal gak judes 😬,takutnya malahan dia segen alias takut... Kecuali kesalahan udah fatal dan sy ga bisa lagi nahan... Alias udah di ubun" baru deh sy ceplosin... Tapi jarang banget sih, kebanyakan sy malahan diem alias, ga perpanjang masalah... Kadang kesannya jadi ga tegas yaa, tapi asal jgn keseringan ketemu orang yg tipenya kompor bleduk aja... 😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga jaman masih muda pernah mba, apalagi waktu kecil berantem sama adik saya, pasti deh gontok-gontokan dan salah salahan sampai dua-duanya kena marah ibu πŸ˜‚ tapi berjalan waktu, dengan bertambahnya usia, pelan-pelan jadi berubah dan sadar kalau nggak ada manfaatnya πŸ€ͺ

      Memang paling enak diam sih mba, saya juga sukanya diam-diam saja πŸ˜† tapi saya tau diam pun nggak baik untuk kesehatan πŸ˜‚ jadi kalau perlu dibicarakan maka akan tetap dibicarakan, hanya saja mungkin olahan kata-katanya yang harus dipertimbangkan agar nggak jadi melenceng ke mana-mana πŸ™ˆ

      Semoga kita dijauhkan dari hal yang 'panas' mba 😍 terima kasih sudah sharing pengalaman mba Hen, yah πŸ’•

      Delete
  6. Keren deh mbk eno, bisa kasih contoh yang baik buat para karyawannya😍. Nggak semua atasan bisa bersikap begitu.
    Saya kasih jempol deh mbakπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Dulu waktu masih kerja sering juga ketemu orang yang suka menceritakan masalah orang lain dan saya paling risih, kecuali kalau itu temen paling deket dan saya tahu dia cuma cerita ke saya. Jadi nggak nyebar ke mana-mana😁
    Gimana ya... Saya nggak tahu harus ngomong apa, soalnya saya takutnya juga salah menilai. Kayak karyawan mbk eno yang nyalahin tamu yang mecahin pot padahal tamunya juga lagi menghindari frame. Dari pada ngomongin kesalahan orang saya lebih suka ngomongin "semalam saya mimpi apa"😁 yang mana teman saya jadi sebel sama saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih jempolnya, mba πŸ™ˆ

      Hehehehe, pasti risih ya mba, sekali dua kali nggak apa-apa mungkin memang sedang jengkel jadi biasa saya dengar. Tapi kalau setiap hari, pusing juga πŸ˜‚ secara nggak langsung ikut exhausted setiap kali dengar kabar negatif masuk telinga 🀭 mungkin ini juga rasanya kalau kebanyakan baca news yang buat 'panas' ~ terlalu banyak jadi pusing dan nggak enak badan πŸ˜‚

      Dan soal staff saya itu memang terbiasa begitu bicaranya, mungkin maksudnya mau kasih laporan, tapi takut kena marah karena nggak bisa jaga barang, alhasil saat kasih laporan pakai acara blaming tamu padahal nggak perlu diblame juga saya dan team tau tamu itu salah πŸ˜† jadi pelan-pelan diberi contoh baiknya bagaimana saat melaporkan suatu hal. Saya maklum karena para mas dan mba awalnya bukan orang yang bekerja profesional, jadi pelan-pelan mereka belajar 😬

      Dan betul tuh mba Astria, better bicara semalam mimpi apa atau semalam makan apa hahahaha. Topik saya banget ini nggak jauh-jauh dari makanan dan tontonan πŸ™ˆ

      Delete
  7. sepertinya karena buat kebanyakan orang, kesalahan itu dianggap dosa dan harus banget ditutupi. dan yang diberi informasi soal kesalahan itu kadang bisa balik marah, makanya takut untuk menyampaikan kesalahan, dan milih asal bapak senang. ngubah pola pikir ini memang sulit, apalagi kalo lingkungannya ngga mendukung. beruntung karyawan mbak Eno punya atasan seperti mbak.. πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu maksud saya mas, kebanyakan pada takut untuk menyampaikan sebuah informasi 'masalah' (baik itu menyangkut diri sendiri atau orang lain) dengan kalimat positif sebab akan terdengar seperti mengakui kesalahan diri sendiri dan akhirnya merasa kawatir kalau kena marah 😁

      Istilah asal bapak senang ini menggambarkan betul hehe. Makanya menurut saya sedikit banyak perlu diubah πŸ˜† means, belajar mengenai cara berkomunikasi ini penting sekali kalau memang berniat punya team dan staff ~ biar suasana kerja juga jadi nggak panas 😍 ehehe. Saya masih belajar juga mas, terima kasih dan semangat untuk kita πŸ˜†πŸ™

      Delete
  8. Sebenernya salah satu alasan saat ini belum terpikirkan hire ART atau yang bantu2 even cuma dateng pagi pulang sore ya masalah ini mba eno, huhu

    Dulu pas abis caesar lahiran anak pertama aku kan istilah jawanya masih kether banget tuh karena belum terlalu piawai ngurus apa apanya sendiri, dan ga boleh banyak gerak dulu kan waktu itu, jadilah direkomendasiin tantenya pak su untuk sementara waktu pake jasa si bibik kenalan tante. Memang kuakui sebulan pekerjaannya bersih, cak cek, dan rajin, tapi satu yang ga bikin kunyaman ya faktor ini, setiap ada jam ngaso, aku diajakin cerita yang ujungnya ada bab kayak ngomongin orangnya hauhahahah, misal cerita gimana majikannya sebelumnya, atau tetangganya, suaminya, atau siapa deh....nah berhubung aku emang karakternya ga doyan bergunjing jadi pas diceritain ama dia dengan berapi2 tentang ini ini ini, aku mikir, ntar kalaupun aku pernah ada salah kata terus aku diceritain kemana mana kan mamam tuh haha, jadilah aku pake jasa si bibiknya cukup 1 bulan aja, selebihnya ku milih ngerjain sendiri. Soalnya ya itu, tiap hari pasti ada sesi ngomongin orangnya padahal aku ga pernah nanggepin antusias, huahahahha...aku ga begitu suka kalau diajakin rumpik yang ngomongin jelek2nya orang soalnya...hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. PR banget ya mba, apalagi kalau akrab sama ART 😁 pasti akan ada masa di mana mereka akan bercerita soal ini itu yang kadang membuat 'panas' hati atau kepala kita sebagai pendengar. Panas dalam artian lelah πŸ™ˆ jadi saya paham kenapa mba Nita sampai saat ini belum mau pakai ART ~ apalagi kalau ART-nya usia jauh di atas mba πŸ˜† seperti pengalaman teman saya hehehe.

      Saya pribadi dari awal memang banyak diam, jadi para mba atau mas belum sampai tahap rumpik ke saya, paling laporan-laporan saja seperti di atas perihal tamu atau mas / mba lainnya (istilah kata teknis operational) πŸ˜‚ mungkin mereka nggak bisa rumpik ke saya juga karena saya jarang kelihatan jadi nggak banyak kesempatan untuk 'ngaso' bareng mereka πŸ™ˆ

      Semoga kita bisa selalu dijauhkan dari hal-hal yang hanya membuat kita tambah lelah ya, mba πŸ˜‚ semangat!

      Delete
  9. Mbakyu,

    Saya nggak akan komentar kali ini. Memang bertentangan dengan teori blogwalking ideal seperti yang pernah saya tulis.

    Tapi, saya hanya ingin memberitahukan kepada Mbakyu Eno bahwa saya tersenyum lebar membaca tulisan di atas.

    Itu saja ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha it's okay, mas Anton 😁 terima kasih banyak atas senyuman lebarnya, yaaah πŸ˜†πŸ™ sehat selalu, mas ~

      Delete
  10. Kalau kata orang sini sih itu namanya wadulan, Mbak Eno. Tapi setelah aku merenung, ternyata secara tidak disadari aku juga pernah melakukannya. Tapi itu duluuuuuu. Sekarang masih sih, pas gak sengaja. πŸ™ˆ

    Sebenarnya aku mulai menyadari kalau itu bukanlah hal yang baik. Jadi sedikit demi sedikit aku mulai menghindari itu. Mulai mengaku salah apabila salah dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Sulit banget, Mbak. Makanya aku kadang masih suka kompor juga sih kalau sudah kepepet alias orang lain yang salah, malah aku yang disalahkan. Kalau gitu mulai deh aku nyrocos protes dan mengumbar kesalahan orang lain itu.πŸ™ˆ

    Ngomong-ngomong Mbak Eno keren banget lho. Kuat banget, Mbak Eno bisa kyk gitu. Kalau aku sih mungkin ikut kebakar juga kalau ada yang kompor. Maklum, masih labil.πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha. Ada namanya ternyata 😍 trims infonya, mba πŸ™ˆ dan it's okay kalau pernah melakukannya, yang penting sekarang pelan-pelan diubah. Nama pun manusia, kan 🀭

      Kalau sampai disalahkan wajar membela diri, tapi kalau belum sampai disalahkan, ada baiknya beri informasi dengan konotasi positif biar nggak semakin memperkeruh suasana 😁 yang sulit itu kan ketika kita harus membahas sebuah masalah yang disebabkan oleh orang lain tanpa harus terkesan memojokkan orang yang salah πŸ˜„ ehehehehe ~ semangat untuk kita belajar πŸ’•

      Eniho, kalau sudah masuk urusan usaha semisal kita jadi leader-nya, sebisa mungkin jangan sampai tersulut hanya karena informasi satu dua pihak 😬 dan jangan jadi nggak netral ~ nanti staff bisa salah duga dan berpikir kalau kita akan selalu memihak mereka πŸ˜‚ lagipula saya paling nggak nyaman kalau ada kompor di dalam usaha yang dijalankan. Inginnya semua staff yang bekerja saling menghargai satu sama lainnya πŸ™ˆ bukan saling menjatuhkan hehehe.

      Delete
  11. Keren banget Mb Eno. Pasti mb nih leader yang baik bener deh buat para staffnya. Tulisan mb ini bisa jadi reminder gitu buat aku menghindari kalimat dengan konotasi negatif. Hahaha terus tiba-tiba langsung keinget gitu sama salah seorang sosok rekan kerja di kantor. Itu beneran sama persis, sembunyi dari kesalahannya dan malah menyudutkan rekan lainnya.

    Semangat terus Mb Eno! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih berproses menjadi lebih baik, mba Occi πŸ˜†

      Dan iya, kita harus bisa pelan-pelan menggunakan kalimat positif dan mengkontrol emosi kita sendiri which is masih saya pelajari hingga saat ini πŸ™ˆ ehehehe. Kalau mba Occi ketemu rekan kerja yang seperti itu, memang akan sulit posisinya apabila status mba Occi dan dia adalah sesama rekan. Tapi bukan berarti nggak mungkin untuk diperbaiki. Masih ada jalan dan coba dikomunikasikan dengan baik 😁 semangat mba, Occi πŸ’•

      Delete
  12. Wah, saya kadang juga begitu mbak. Pernah aku mau ambil piring di belakang, tapi mata masih lihat ke tv karena ada acara seru. Akhirnya aku kesandung meja, aku omelin tuh mejanya. Kenapa sih tiba tiba ada di depanku...πŸ˜‚

    Jujur aku belum bisa seperti mbak Eno yang bisa ajak orang ke arah positif, biasanya kalo ada orang ngompori ya ikut nimbrung, bukan dipilih mana baiknya.

    Apalagi aku pernah kuli dan dapat atasan yang "baik". Tuh atasan saya orangnya itu suka ngasih target, satu orang dalam sehari harus bisa ngepak 400 kardus, padahal dari kantornya sebenarnya tidak ada target. Cuma memang jika dapat target 400 dus itu ada bonusnya. Tapi 400 dus itu pakai tenaga manusia, ngga pakai mesin.

    Bisa dibilang jarang yang sampai target karena memang capek sekali. Kadang dia ngomel, tapi habis ngomel bukan ngasih solusi atau bantuin biar nyampai target tapi malah dia tidur. Iya tidur disaat jam kerja dan hampir tiap hari lagi. Akhirnya suatu hari ada orang kantor biasa keliling lihat orang kerja, kebetulan atasan saya lagi tiduran. Orang kantornya lalu nanya saya mana bos saya itu karena ngga keliatan. Akhirnya aku tunjukkan tuh bos saya yang "baik" lagi ngorok.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahaaha kenapa mejanya yang disalahkan 🀣

      Kalau di luar pekerjaan, kadang saya masih ikut mendengarkan kalau ada teman cerita mas. Tapi lebih banyak dengar saja, sambil sesekali kasih saran. Nggak sampai ikut membicarakan, karena nggak kenal juga sama yang dibicarakan ahahahaha πŸ˜‚ beda cerita kalau saya kenal sama yang dibicarakan, instead of ikutan membicarakan orang yang saya kenal tersebut, saya prefer kasih puk-puk teman saya biar emosinya mereda πŸ˜† luckily, dengan bertambahnya usia saya dan teman-teman saya, drama sudah jauh banyak berkurang, mungkin karena sudah fokus sama urusan domestik personal, bukan lagi drama kumbara pertemanan 🀣

      Jadi atasan itu memang susah mas, harus kasih contoh dan harus kasih solusi apabila dibutuhkan. Saya juga sebenarnya sebagai leader masih jauh dari kata baik dan masih banyak salahnya πŸ˜‚ that's why ingin terus belajar entah dari buku, jurnal, maupun pengalaman teman-teman di kolom komentar πŸ™ˆ so, thank you so much atas pengalaman mas Agus yah 😍

      Delete
    2. Betul sekali mbak, jadi atasan itu memang ngga mudah. Saya ada teman yang tadinya sama sama kerja lalu dia diangkat jadi staf di kantor.

      Dia pusing padahal ngga pakai tenaga tapi otaknya harus jalan terus, dia dipesan sama atasannya lagi harus begini, sementara dia kebawah juga ngga mau terlalu memaksa karena pernah juga dibawah. Akhirnya setahun doang dia jadi orang kantor dan pilih keluar pabrik.😱

      Delete
    3. Kalau tenaga lelah, dibawa tidur bisa hilang ya mas lelahnya πŸ™ˆ kalau otak lelah, mau dibawa tidur yang ada pusing sebab masalah nggak kelar-kelar πŸ˜‚ dan saya tau banget perasaan teman mas Agus, pasti lelah sangat karena berada di tengah-tengah ~ semoga sekarang setelah out dari pabrik, hidupnya lebih bahagia πŸ˜πŸ’•

      Delete
  13. Jujur aku kalo kedatengan orang sejenis Kompor Meleduk sih bakal jadi was-was banget. Bukan apanya, ntar kalo kita ada di posisi korban, bisa-bisa kita yang jadi bahan si Kompor Meleduk ini buat diceritain ke orang lain. Dan aku juga kayaknya ngga bisa bertahan lama deh temenan sama orang yang kayak gini. Huhu, ga tau kenapa rasanya tertekan banget kalo ngobrol tuh yang diomongin adalah hal-hal negatif dari si korban.

    Hehe, cerita Mba Eno ini sebenarnya ngingetin aku ke beberapa temen sih yang dulu sebenarnya pengen aku deketin biar gengsi bisa naik. Karena pengen aja ganti inner circle dan challenge diri sendiri bisa ga temenen sama orang seperti itu. Tapi ternyata malah ga bisa bertahan. Tetep aja ujung-ujungnya temenannya sama yang sederhana, dan ngga negatif. Semoga Mba Eno bisa jaga diri ya dari si Kompor Meleduk. Haha!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah untungnya di-circle pertemanan saya nggak ada yang kompor meleduk mba hehehe. Kita sama-sama tau saja kalau hal tersebut nggak ada manfaatnya 😁 dan cerita di atas bukan soal pertemanan yang saya bahas ehehe. Lebih ke arah pekerjaan ~ menghadapi staff yang punya karakter begitu harus bagaimana πŸ™ˆ kalau soal pertemanan, saya pun malas semisal ada teman yang demikian, better kita jaga jarak demi kebaikan bersama πŸ˜‚ capek juga soalnya kalau terus-terusan dengar hal negatif / membicarakan orang, sebab urus diri kita sendiri saja belum bisa maksimal, masa harus ditambah urus hidup orang πŸ˜…

      Dan betul mba, paling nyaman kalau berteman sama yang sederhana dan apa adanya. Hehehe. Cuma kalau soal pertemanan kan kita bisa pilih-pilih, ya. Berbeda dengan pekerjaan, nggak mungkin terus pecat-pecat staff yang ada nanti lelah juga harus gonta-ganti dan training ulang. That's why saya tulis Became a Host #3 topiknya soal bagaimana train staff agar nggak jadi orang yang negatif karena itu bisa merusak suasana kerja πŸ˜„ semoga tulisan saya nggak misleading yah ~ takut dikira saya membahas pertemanan saya (not at all). And thank you so much mba, semoga mba Yani pun dijauhkan dari para Kompor 😍

      Delete
  14. aku sendiri sampe sekarang kadang komunikasi juga nggak bagus, terlebih kalau udah menyangkut urusan kantor, memang kalo kata-kata yang diucapkan secara nggak sadar kadang menimbulkan artian negatif.
    pimpinan aku sendiri juga melakukan hal kayak mb eno ini ke diriku.
    semoga bisa berproses jadi lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelan-pelan kita semua berproses mba, keterusan berbicara dengan konotasi negatif itu nggak enak banget soalnya baik saat diucapkan maupun saat didengar 😁 ehehehe. Terima kasih sudah membaca tulisan saya, mba πŸ’•

      Delete
  15. Beberapa waktu lalu, saya baca tweet dari seseorang yang bikin saya tersenyum,

    'Seorang leader seharusnya you lead bukan jou lead'

    Dan, setelah baca ini, saya senyum lagi, Mba Eno.😊

    Sikap mba Eno dalam merespon masalah atau laporan dari staff lama2 membuat staff paham kalau bosnya bakal nanya ini itu. Jadi mereka lama2 berubah dalam memberikan laporan sesuai yang Mba Eno lakukan.

    Makasih, Mba Eno, untuk pembelajaran kali ini.😍

    Eh, btw kalau ada tamu yang merusakkan barang harus ganti apa enggak? Ada peraturan tertulis nggak di vila?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Widih ada kata baru, 'joulead' πŸ˜‚
      Itu maksudnya julid, mba? Hahaha 🀣

      Saya berpikir kalau saya over-react saat merespon mereka, itu akan membuat mereka jadi terbiasa selalu memberi informasi dengan konotasi negatif dan itu jujur nggak enak banget didengarnya mba πŸ™ˆ tapi saya juga nggak bisa bilang, "Jangan." ke mereka sebab kesannya akan mendikte meski sebetulnya sah-sah saja. Dan memilih untuk kasih contoh pelan-pelan dengan cara saya merespon mereka, jadi mereka tau mana prioritas utama 😁 susah susah gampang dan agak tricky, sebab kadang hati saya kesulut juga kalau yang rusak barang yang saya sayang hahahahaha. Biasa kalau sudah begitu, saya tarik napas dalam baru deh bicara 🀭

      Kalau ada yang rusak diganti mba, ada peraturannya di AIRBNB dan di villa pun ada. Biasa tamu sadar diri untuk mau ganti tanpa diminta. Semua tamu selama ini nggak pernah ada yang kabur nggak bayar. Makanya saya juga merasa nggak perlu sampai segitu negatifnya ke tamu hanya karena tamu nggak sengaja rusak barang 😬 tapi ya balik lagi, pada awalnya saya maklum kalau para mas dan mba bersikap demikian karena mereka kawatir kena marah πŸ˜‚ that's why saya kasih contoh pelan-pelan biar nggak jadi kebiasaan πŸ™ˆ sambil saya juga belajar kontrol emosi saya setiap kali dengar kabar 🀣

      Delete
  16. Eno bijak banget. Memang kadang menyampaikan kepada staff untuk melakukan ini itu, agak lama untuk dicerna oleh stafnya. Tapi memberi contoh melalui reaksi-reaksi positif Eno terhadap kabar yang kurang menyenangkan, secara tak sadar membuat stafnya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang tidak menyenangkan.

    Salut deh buat Eno, semoga timnya makin solid dan bisnisnya semakin lancar ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun merasa kalau saya dikasih ceramah oleh ortu, akan lama sadarnya mas, tapi kalau dikasih contoh langsung jadi lebih cepat tanggap πŸ˜‚ itu yang coba saya terapkan selain karena saya nggak merasa pada tempatnya untuk kasih ceramah atau marah-marah πŸ™ˆ thank God, para staff bisa meniru sedikit banyak contoh yang diberikan 😁

      Terima kasih mas Cipu doanya 😍

      Delete
  17. Hmm.. kalo mengamati mereka yang berperilaku seperti kompor meleduk ini. Sepertinya, (IMO sih) mungkin berawal dari inner child nya juga mba.

    Mungkin waktu kecil, setiap dia bikin kesalahan selalu dibentak atau dihukum berlebihan, hingga berdampak ke perilaku ketika dewasa. Yaitu dengan mencoba menyelamatkan diri.

    Tapi masalahnya itu, ada di ahlak dan prinsip hidupnya. Jika dia ingin jadi orang yang jujur dan bertanggung jawab, dia akan berubah ke arah lebih baik. Tapi jika wataknya ternyata berlawanan, yah begitulah yang terjadi, kadang gak nyadar diri udah jadi kompor meleduk, apalagi selalu di ladenin, bisa-bisa orang-orang disekitarnya juga malah jadi ikutan gosong pikirannya πŸ˜…πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mba, karena efek jangka panjang, kalau kata salah satu mba, "Sudah bawaan orok." hahahaha πŸ˜‚ and fortunately, bisa diubah berjalannya dengan waktu tentu dengan keinginan kuat dari para mas dan mba yang memang mau berubah πŸ˜πŸ’•

      Saya melihat mereka menjadi kompor meleduk pada waktu itu karena belum ada contoh baik yang diberikan oleh orang di sekitar mereka ~ dan saya memaklumi hal tersebut, karena bisa jadi ini adalah pekerjaan profesional pertama mereka meski beberapa ada yang pernah jadi TKI tapi di negara luar kerjanya jadi ART juga, alhasil most of them belum dapat training lengkap bagaimana sebenarnya harus bersikap pada setiap keadaan 😁

      Dan betul itu, kalau diladeni terus yang ada pikiran kita keikut gosong makanya saya prefer untuk stay soft dan kasih contoh demi menyelamati pikiran saya. Karena terus menerus dapat gempuran kalimat negatif, sedikit banyak juga bisa mengaduk emosi kita kan, mba πŸ™ˆ

      Delete
  18. Pada dasarnya, marah lebih gampang daripada bijaksana. Bicara komunikasi, ini cukup relate buat saya yang baru saja menyelesaikan mata kuliah Pragmatik. Tapi memang sih, atensi untuk memulai pembicaraan dengan konotasi negatif lebih cenderung. Mungkin untuk memberi rasa percaya diri bahwa ia lebih tinggi dari yang dibicarakannya. Tapi tidak tau juga sih. Saya bukan orang yang baik juga masalahnya.

    Terimakasih kak Eno, ceritanya membuat saya kembali mengingat potongan-potongan kejadian di masa lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya mas, marah dan menjadi emosional memang lebih gampang 🀭 wah mas Rahul belajar mengenai pragmatik, pastinya mas lebih paham mengenai hal-hal ini πŸ˜† dan setuju sama mas, kebanyakan kalimat negatif yang ke luar itu untuk memberi rasa percaya diri kalau itu bukan kesalahan mereka, meski sebenarnya nggak perlu pakai kalimat negatif pun saya serta team tau siapa yang salah πŸ˜‚

      Pelan-pelan, kita sama-sama belajar mas 😍

      Delete
  19. Pasti mereka merasa sangat beruntung bisa kerja sama mbak Eno, selain mendapatkan gaji, mereka juga dapat banyak pelajaran hidup untuk selalu menyebarkan positive vibes..

    Artikel ini juga sekaligus menampar saya nih sebagai pembaca, kadang masih sering keluar hal-halnya negatifnya ketika menemui hal-hal yg ngga diinginkan.. semoga bisa lebih bijak lagi ke depannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Bara, saya dan team masih perlu belajar banyak πŸ™ˆ tapi memang positive vibes sangat dibutuhkan untuk menjaga suasana kerja kondusif tanpa mengesampingkan hak-hak personal untuk bersuara 😁

      Semoga kita bisa jadi pribadi lebih baik ke depannya 😍

      Delete
  20. qiqiqiqiqiqiiqiqiqi, saya jadi narik nafas bacanya say, terutama di awal-awal tulisan ini.

    hhhhhh....

    Dan di akhir tulisan saya menyadari, pada akhirnya seorang wanita memang akhirnya menjadi baik karena kudu jadi leader atau pemimpin yang memberi contoh baik.

    Seperti Eno yang harus selalu tampil baik, untuk mencontohkan kepada karyawannya, pun juga saya yang harus jadi orang baik, karena ada anak-anak yang mencontoh perilaku saya.

    Awalnya memang menyebalkan sih ya, memaksa diri seolah bukan kita banget, nggak bisa tampil apa adanya.
    Tapi seiring waktu saya sadar, betapa beruntungnya kita, jadi leader itu (baik sebagai pebisnis ataupun seorang ibu) berarti membuat kita akan menua dengan bijak.

    Btw, sebenarnya juga hal-hal tentang menyalahkan orang demi menyelamatkan diri kadang bahkan seringnya udah bawaan sejak orok alias dari kecil kayak gitu, jadi note buat saya juga nih, kadang si kakak seperti itu.

    Saat adiknya jatuh atau memecahkan barang, dia fokus ke kesalahan si adik dulu.
    Mungkin karena saya terlalu galak kali ya, jadinya si kakak udah duluan takut dimarahin, astagaaaahhh huhuhu.

    Ah tengkiu Eno udah membagikan tulisan ini, jadi catatan penting banget buat saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tarik napasnya jangan panjang-panjang, mba 🀣

      Itu yang saya pelajari dari ibu saya mba, untuk memberi contoh, seperti komentar saya untuk mas Cipu di atas, saya belajar dari orang tua ketika dikasih ceramah justru sulit saya mengingat permasalahannya. Tapi saat diberi contoh, saya lebih cepat tanggap πŸ™ˆ dari situ saya tau kalau memberi contoh memang lebih baik hahaha.

      Kalau saya merasa, menjadi baik itu kewajiban, dan semoga kita tetap bisa tampil apa adanya menjadi diri kita ~ meski manusia nggak sempurna dan kadang ingin marah-marah juga, tapi saya memilih marah-marah pada tempatnya (contoh kepada pasangan, atau blog personal, jiaaakkhhhh) πŸ€ͺ🀣 dan setuju sama mba, dengan kita membiasakan diri untuk berbaik hati, kita akan menua dengan bijak. Bukan berarti nggak apa adanya 🀭

      Semangat mba, saya masih banyak belajar, salah satunya dari komentar teman-teman 😍 jadi terima kasih untuk insightnya πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  21. Mampu mengendalikan kemarahan itu kata orang adalah salah satu tanda kematangan jiwa dan pemikiran. Menariknya, kemampuan itu sama sekali ga berkorelasi dengan pertambahan usia. :)

    Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan ini, Mba Eno!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, setiap orang punya timingnya, mungkin ada yang butuh waktu bertambah usia 5 tahun baru matang, tapi ada juga yang tunggu 20 tahun baru matang πŸ™ˆ mungkin sih ini yah, karena saya juga nggak tau benarnya bagaimana πŸ˜‚

      Sama-sama mas, terima kasih sudah baca 😍

      Delete
  22. Mungkin para staf begitu karena pengalaman dengan bos di tempat kerja mereka sebelumnya kali, Mbak. Semoga setelah tahu cara Mbak solving problem, mereka jadi semakin terbiasa untuk menyampaikan masalah dan tindakan mereka untuk menyelesaikan atau minimal ide untuk solve masalah itu.

    Saya sendiri juga selalu berusaha berpikir cepat ke solusi seperti Mbak saat menghadapi kejadian sejenis di rumah. Misalnya, K menjatuhkan/memecahkan piring. Kalimat pertama yang keluar dari mulut saya, "jangan begerak, banyak pecahan piring, bapak yang beresin"

    Sayangnya saya bicara begitu agak keras supaya K benar-benar diam tak bergerak kemana-mana. Tapi ya dia jadi nangis ketakutan, karena dia pikir saya marahin dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mas, meski saya nggak mau mengulik lebih jauh kenapa mereka demikian πŸ™ˆ hehe. Luckily sekarang mereka bisa solve atau report problem tanpa ada tendesi negatif di dalamnya. Dan mereka nggak merasa kawatir kena marah kalau mereka memang nggak salah 😁

      Duh K, sama banget sama saya waktu kecil, kalau dibentak agak keras pasti menangis padahal yang diucap Ibu bukan amarah πŸ˜‚ it's okay mas, K pasti akan paham kalau maksud ayahnya baik karena itu juga yang saya pahami sampai sekarang pada setiap action dan ucapan yang orang tua saya berikan 😍

      Delete
  23. Pernah asisten kepercayaanku ga sengaja mecahin kristal pas sedang ngelap2 koleksiku di ruang tv. Kebetulan dia kalo bersihin rumah pasti pagi abis subuh mba. Aku aja tidur LG kalo udh subuhan :p. Nah denger suara krompyang kenceng , otomatis kaget dan kebangun Krn mikirnya ada maling hahahahah. Pas kluar kamar, si mba mukanya pucet, gemeter, mungkin saking takutnya aku bakal marah ngeliat kristal pecah berkeping2 :p.

    Tp ngeliat mukanya yg udh mau nangis, yg ada, aku LBH nguatirin dia apa kena pecahan belingnya ato ga. Ngenes liat kristal ancur, iyaaa. Tp aku LBH ngenes kalo sampe aku marahin, dan si mba kmudian kluar dr rumahku Krn takut. Aku LBH bgs kehilangan kristal walo mahal, drpd asisten kepercayaan ku berhenti. Tenaga dia jauuuuuuh LBH berarti drpd kristal yg ga bisa ngapa2in :D.

    Skr aku udh resign, tp pas msh kerja kmrn, aku selalu tekanin ke anak2ku, utk cari dulu penyebab masalahnya, dan bukan nyalahin. Mitigasi apa yg bisa dilakukan supaya ga keulang. Aku ga akan mau dengerin mereka saling salah menyalahkan. Yg aku mau cuma denger solusinya akan seperti apa. Jd anak2 udh ngerti percuma mereka jelek2in org lain, selagi ga tau penyebab masalahnya di mana.

    Yg ada, staff begitu aku minta dirotasiin dari teamku :p. Ga butuh dgn staff yg ga bisa saling bekerjasama secara team.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bisa membayangkan kejadiannya mba hahahahaha. Pasti pucat pasi muka asisten mba, apalagi kalau yang nggak sengaja pecah adalah koleksi kesayangan mba πŸ™ˆ dan betul banget, bakal amat sangat disayangkan kalau asisten mba sampai resign karena merasa takut dan was-was, apalagi kalau sudah jadi kepercayaan 🀭

      Noted. Setuju sama mba, yang dicari penyebab dan solusi dari masalahnya, bukan siapa yang salah terus jadi salah-salahan πŸ˜‚ dan mitigasi resiko memang sangat diperlukan. Agar ke depannya nggak ada yang keulang πŸ˜† terima kasih banyak mba Fany atas ceritanya, saya jadi belajar banyak dari cerita dan komentar mba 😍 hehe. Semoga kita selalu dilimpahkan rejeki dalam bentuk asisten maupun staff yang mau terus belajar menjadi lebih baik as personal πŸ™ˆπŸ’•

      Delete
  24. Pas baca ini sambil ingat-ingat, apakah aku pernah seperti itu. Serasa mendapat teguran kalau aku tidak boleh bersikap seperti itu.

    Terus tadi juga kepikiran, hal-hal kayak gini juga hadir sebagai pelengkap dalam sebuah lingkungan. Jika ada yang baik, berarti ada yang belum baik. Begitu juga dengan hal yang dijelaskan mbak eno.

    Banyak dapat masukan menarik dari artikel ini.
    Makasih mbak eno :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya kebanyakan dari kita pernah melakukannya meski sekali hehe ~ mungkin karena terpojok dan lain sebagainya. Yang terpenting kita tau kalau itu salah dan sebaiknya nggak mengulang 😁 hehehe. Betul mas, akan selalu ada positif dan negatif, tinggal bagaimana kita mengelolanya, berusaha pelan-pelan mengubahnya, dan belajar dari kesalahan yang ada 😍 karena yang namanya manusia, pasti ada saja salahnya ~

      Sama-sama mas Rivai, terima kasih sudah baca 🀭

      Delete
  25. Bagus cerita dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini. Baru ngeh stove artinya komporin gitu ya haha. Mbak sudah melakukan hal yang benar, sabar dan kasih contoh yang baik, ujung-ujungnya mereka jadi belajar dan bisa get better juga. Next bukan jadi stove jadi fridge kali ya biar bisa mendinginkan suasana haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha iya mba πŸ˜‚ bingung mau pakai istilah apa. Jadi pakai stove saja. Tapi mba kok bisa baca tulisan versi bahasa Inggris? Padahal sedang saya tutup tulisannya πŸ™ˆ

      Amiiin semoga semua jadi fridge sesuai harapan 🀣

      Delete
  26. Again, selalu salut dengan mindset mbak meno tentang bagaimana mengedukasi HR nya.

    Baca postingan mbak meno yang series Becoming Host itu komplit banget. Setelah kemarin budgeting dan perencanaan, kali ini takeawaysnya tentang belajar sikap positif dalam menghadapi masalah, nggak gampang nyalahin, angry management dan penyampaian komunikasi yang baik.

    Membaca related post ini tuh kayak lagi membaca buku self-help sumpah, bedanya dalam bentuk narasi dari pengalaman pribadi. jadi lebih ngena. :D

    Mba Meno, if i may ask, tentang response management, kalau kita pas lagi kebetulan capek, pikiran stres banget itu handle nya gimana ya mbak? Biasanya kan mudah kesel sama orang lain. Cara kita biar bisa "delay the reaction" tanpa sambat itu gimana. Saya masih belajar hal ini soalnya.

    thanks for sharing Mbak.~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mas Rifan πŸ˜πŸ’•

      Saya masih banyak belajar juga sebenarnya dari hal-hal yang terjadi di lapangan, karena kadang ada pula keputusan yang salah dan merugikan usaha 🀣 yah, namanya hidup, belajar dari kesalahan salah satu hal yang utama ahahahahaha. Once again, terima kasih banyak, mas πŸ™ˆ

      Eniho pertanyaan dari mas Rifan akan saya jawab pada Became a Host #4 yah, ehehehe ~ mau berbagi pengalaman juga dalam menghadapi stres ketika banyak masalah terjadi di dalam usaha πŸ˜† however, berhubung ini pengalaman saya, jadi belum tentu benar caranya, hahaha. Karena saya melakukan itu berdasarkan kemampuan saya which is akan berbeda penanganannya pada masing-masing personal 😍

      Delete
    2. Siap, mba.. Looking forward to it. :D
      Btw, saya baca postingan terbaru juga, cuman kadang nggak semua saya tinggalkan komentar :D ,, kalau pas lagi ketinggalan jauh, kadang saya scroll postingan lama wkwk

      Delete
    3. Orait mas 😁 thank you so much!

      Iya nggak apa-apa mas Rifan, hihihi ~ saya sudah sangat senang apabila dibaca tulisannya. Ditunggu tulisan terbaru mas Rifan 😍

      Delete
  27. Karena pada dasarnya kita nggak suka disalahkan dan nggak mau dicap jelek. Lalu untuk kasus staf hotel, mungkin dia belum menanamkan konsep bahwa dalam industri hospitality, tamu adalah raja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, that's why perlu dikasih contoh pelan-pelan 😬

      Delete
  28. Wooow. Very inspiring kak Eno. Membangun lingkungan dan sikap yang positif memang lebih sulit ketimbang hal yang negatif. Setuju sama opini kakak, hal negatif itu lebih cepet dan lebih sering terbangunnya ketimbang hal positif. Kalau yang positif-positif biasanya butuh proses dulu gitu biar jadi kebiasaan...Thanks kak udah ngingetin untuk jaga ucapan sebelum diutarakan. Aku benar-benar masih sangat sangat sangat butuh belajar dalam hal ini...cablak bener dah aku kalau ngomong. Malah kesannya kayak nyolot huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Frisca bacanya jauh sekaliiii πŸ™ˆ

      Terima kasih sudah baca, mba ~ hehehe. Iya betul membangun lingkungan yang positif memang susah, tapi bukan berarti nggak bisa 😁 hanya perlu efforts lebih besar agar semua bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya πŸ˜† hehehehehe.

      Kita sama-sama belajar, mba 😍 semangatttt untuk kita!

      Delete
    2. Hahaha judul ini menarik sekali kak!! Jadi mampir sampe sini 🀣🀣

      Iya betul sekaleeeh. Lebih susah tapi bisa dilakukan!

      Yup kak! Ganbatte kudasai!!! πŸ’ͺπŸ’ͺ

      Delete
    3. Harus bisa dan pasti bisa πŸ˜‚ himnaera! πŸ’•

      Delete
  29. Gimana Mbak Eno berusaha mengubah cara berpikir karyawan itu justru, buat saya, menunjukkan kalau Mbak Eno pemimpin yang baik. Dan sebaliknya karyawan-karyawan Mbak Eno juga kayaknya terbuka untuk perbaikan. Iklim yang bagus banget untuk organisasi.

    Cuma, kadang ngeselin juga, sih, Mbak, kalau sudah sejak lama kasih contoh tapi nggak ditangkep-tangkep juga. Jadi gemes jadinya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Morishige untuk apresiasinya, saya pribadi sejujurnya masih butuh banyak belajar, dan secara nggak langsung, saya belajar banyak dari para staff juga πŸ˜πŸ™

      Nah itu, tapi memang yang namanya berubah nggak bisa instan prosesnya, jadi kita hanya bisa pelan-pelan terus memberi tau sampai one day hal itu menempel di ingatan πŸ™ˆ

      Delete