Find Peace | CREAMENO

Pages

Find Peace


Ada yang tanya, apakah pasangan gue a.k.a si kesayangan suka baca tulisan-tulisan gue? Jawabannya, YA πŸ˜‚✌ he is my number one fan. Dia yang encourage gue untuk menulis dan melakukan apa yang gue suka πŸ˜πŸ’• dan dia.. cencu saja membaca semua tulisan, karena dia yang bantu gue untuk proporsi bahasa Korea agar para rekan Korea gue bisa baca tulisan gue, jadi mau nggak mau, dia harus baca dulu semua tulisannya πŸ€­πŸ‘Œ bisa dibilang, kalau nggak ada dia, mungkin pilihan bahasa Korea nggak akan pernah ada ~ 🀣

---

Enihooo, beberapa waktu lalu ada satu orang teman curhat mengenai rasa kasihan dia terhadap anaknya yang masih TK dan nggak pernah diajak jalan-jalan (ke luar negeri alias abroad) ketika banyak anak lain di sekolah anaknya sering pergi liburan abroad. Dan curhatan ini gue bawa ke meja makan untuk dibahas sama si kesayangan πŸ™ˆ kamsud gue biar gue bisa tau sudut pandang dia bijimanah 😬 saat gue cerita ke dia, jawaban dia membuat gue tercengang πŸ˜‚

"Meski gue punya uang, gue nggak akan ajak anak jalan-jalan abroad sampai dia besar." 😱 which means, dia nggak akan bawa anak kami kelak (kalau memang punya) liburan abroad sampai anak-anak besar. Padahal dulu cita-cita gue, kalau anak gue masuk usia balita mau gue bawa keliling dunia ahuahahahahaha 🀣 terus gue tanya, "Kenapa?" dan dia jawab, andaikata dia punya niat mau kasih kenangan untuk anak, dia akan kasih kenangan saat anak sudah punya kemampuan mengenang. Jadi nggak hanya simpan kenangan dari foto tapi anak sendiri nggak ingat dia pernah pergi ke sana πŸ™ˆ

Di Korea, karena orangnya mostly pekerja keras (gila kerja semua), 15 tahun pertama saat anak-anak mereka lahir ke dunia, mereka justru fokus bangun hidup dan karir mereka sebagai orang tua agar bisa menunjang kehidupan anak-anak mereka ke depannya. So, instead of saving the money untuk go abroad, mereka saving the money untuk settle down dan budget yang mereka rasa nggak perlu, dimasukkan ke budget utama (tabungan masa depan). That's why, buat dia, go abroad ketika anak masih terlalu kecil itu bukan pilihan πŸ€ͺ

Dia menutup percakapan kami dengan bilang kalau teman gue nggak perlu minder hanya karena nggak bisa bawa anaknya pergi abroad. Especially, kalau memang nggak mampu atau belum waktunya, pun jangan sampai memaksakan diri di luar kapasitas. Karena buat anak, yang terpenting adalah quality time sama orang tua, even sebatas pergi ke playground dekat rumah, kebun binatang, atau kota sebelah, dia yakin anak pasti akan suka ~ dan dia bilang agar teman gue stop worrying about something yang sebenarnya teman gue tau kalau dia nggak bisa handle hal itu, dan daripada kawatir, better encourage anak untuk tetap menikmati hal-hal kecil yang ada di depan mata πŸ’•

Well, meski awalnya gue shock dengan pernyataan dia (yang artinya gue harus say goodbye sama angan-angan liburan keliling dunia sama anak), tapi sedikit banyak gue setuju dengan logika dan pola pikir dia. Nggak heran waktu gue bilang nanti kita ke Disneyland sama anak, dia bilang tunggu anaknya besar hahaha siwalan πŸ˜‚ mana herannya dia akan tetap pergi liburan sama gue tapi anak ditinggal di rumah ketika anak bisa mandiri alasannya karena buat dia the center of his life is me. Gue tanya, "Lu nggak kasian kalau anak lu nggak diajak?" dan dia bilang, "Kalau anak mau keliling dunia, biar dia cari sendiri uangnya. It's okay sesekali ajak jalan, tapi nggak usah sering-sering biar anak sadar cari uang tuh nggak gampang." πŸ˜… Wk. TEGA.

---

Di Korea (dan gue yakin di Indonesia) tingkat kompetitif-nya sangat besar. Si A pakai tas apa, si B mau pakai tas itu juga, even nowadays anak remaja di Korea sudah lebih paham sama luxury brand macam Gucci dan sekelasnya (I wrote about it before) πŸ€ͺ nggak heran banyak anak minta dibelikan barang branded sampai orang tua pada sakit kepala 😩 Belum lagi persoalan liburan seperti yang diceritakan oleh teman gue di atas, di mana anak berlomba show off tempat liburan mereka. Tapi satu hal yang gue dan si kesayangan tau, berdasarkan nasihat orang tua kami, "Bekal yang bisa kamu berikan ke anak-anak bukan hanya fokus pada materi, melainkan ilmu dan kebaikan, agar mereka bisa survive saat orang tua nggak lagi bersama mereka."

So, teruntuk teman gue tersayang, jangan lagi kawatir sama hal-hal yang nggak perlu dikawatirkan. I know, you feel bad about your kid, but the only thing you can do is... encourage anak untuk bisa menerima realita dan memeluknya dengan hangat, sambil ajak bersyukur pada apa yang dipunya sekarang tanpa harus merasa 'kecil' karenanya 😍 you should stand strong, though gue belum punya anak dan nggak punya kapasitas untuk bicara banyak, however gue berusaha paham kegundahan teman gue dan mungkin teman-teman lainnya ~

Dan teruntuk my number one fan 🀭 terima kasih sudah mengajarkan gue hal-hal dan sudut pandang baru yang nggak terbayang oleh gue sebelumnya πŸ™ˆ gue jadi bisa terima kenyataan kalau gue nggak akan yalan-yalan abroad sama anak *jiaakkhh masih aje dibahas* hahaha. Dan buat teman-teman yang bisa ajak anaknya go abroad, tulisan ini nggak bermaksud disagree pada efforts teman-teman dalam memberi kebahagiaan untuk anak tersayang, karena gue pun bercita-cita bisa bawa anak go abroad saat balita πŸ˜‚ gue menulis ini pure untuk kasih semangat ke teman gue dan teman-teman lain yang mungkin nggak punya kesempatan membawa anak yalan-yalan abroad, and to tell them that it's okay jangan bersedih terlalu lama πŸ˜πŸ’•

---

Fun fact, ortu gue nggak pernah ajak gue pigi abroad sewaktu bocah, padahal dulu gue punya negara impian, salah satunya Australia πŸ˜‚ tapi setiap kali gue bahas Australia dan bilang gue mau ke sana, ibu justru bilang, "Iyaaa, kamu pergi sendiri nanti kalau sudah besar dan punya uang. Ibu bantu doa." 🀣 padahal kala itu, sohibal-sohibul gue banyak yang sudah melanglang buana dibawa ortunya abroad dari jaman ingusan, dan setiap mereka pulang, mereka nggak lupa bawa magnet kulkas buat gue dan teman-teman lainnya πŸ™ˆ

Berhubung gue nggak bisa pergi ke luar Indonesia, kerjaan gue lebih banyak jadi pendengar cerita mereka πŸ˜† gue sampai hapal isi dalam Disneyland jauuuh sebelum gue menginjakkan kaki gue di sana akibat keseringan dengar cerita mereka sambil lihat foto di album mereka 😝 namun, hal itu nggak buat gue jadi iri dan benci sohibal-sohibul gue apalagi sampai berpikir hidup ini nggak fair, melainkan membuat gue terpacu untuk one day bisa pergi ke sana, ke luar dari Indonesia, dan melihat secara langsung apa yang mereka lihat πŸ˜‚

Makanyaa, ketika gue akhirnya menginjakkan kaki gue di Disneyland untuk pertama kalinya, sohibal-sohibul gue kasih gue selamat πŸ™ˆ just because they know, selama apa gue berharap untuk bisa injakan kaki di sana, dan ketika gue akhirnya sampai Australia, yang pertama kali gue lakukan setelah urusan imigrasi kelar adalah kirim pesan ke Ibu untuk bilang terima kasih atas doanya 😁 it took me years untuk bisa sampai ke tempat yang gue impikan, dan satu hal yang gue pahami, Ibu nggak pernah membuat gue merasa insecure karena nggak bisa pergi abroad layaknya teman gue yang lain, tapi Ibu encourage gue untuk menerima realita sambil terus gantung mimpi setinggi langit.

Kepercayaan diri Ibu kalau suatu hari nanti gue bisa injak kaki gue di tempat yang gue angankan membuat rasa percaya diri gue sebagai seorang anak tumbuh, dan dari rasa percaya diri tersebut, gue bisa jalani hidup meski berada di circle yang mayoritas punya segalanya 🀣 gue rasa, sedikit banyak, pola pikir gue, penerimaan gue terhadap batas kemampuan gue dan keluarga, terbentuk dari bagaimana cara Ibu mendidik dan mengajarkan gue untuk nggak bandingkan hidup gue dan hidup yang teman-teman gue punya πŸ™ˆ padahal ortu gue mampu ajak gue pergi abroad minimal ke Disneyland, tapi kenyataan bahwa ortu nggak ajak gue ke sana membuat gue jadi belajar, bahwa nggak semua hal bisa didapat dengan merengek sama orang tua πŸ˜‚

Si kesayangan pernah bilang sama gue kalau di atas syukur, ada satu hal yang perlu dilakukan, yaitu menerima. "Lu nggak akan bersyukur kalau lu nggak menerima. Menerima hidup lu, menerima kenyataan yang ada, menerima segalanya." -- karena menurut dia, proses untuk akhirnya bisa sampai tahap syukur harus melalui proses menerima. Permasalahannya, menurut dia, di lapangan, banyak yang nggak bisa menerima dan itu yang membuat orang berlomba-lomba untuk jadi greedy dan bergerak di luar batas 😬 mungkin karena di Korea, kultur untuk bersyukur itu nggak banyak dilakukan dan setiap orang ingin menjadi yang terbaik di kelasnya, dan dia tau, penyebab itu terjadi adalah sulitnya mereka menerima kenyataan kalau mereka berada di bawah saat orang-orang di sekitar mereka sudah berada di atas πŸ˜‰

"When you find peace within yourself, you become the kind of person who can live
at peace with others." – Peace Pilgrim

Nevertheless, within this post, gue cuma mau bilang, kalau setiap dari kita pasti punya timing personal 😁 jadi daripada berlomba-lomba sama orang lain, lebih baik berlomba dengan diri kita sendiri di hari sebelumnya untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi ke depannya 😬 tulisan ini gue buat untuk encourage diri gue dan teman-teman yang mungkin merasakan hal yang sama agar bisa enjoy the life to the fullest tanpa harus membandingkan hidup kita dengan orang-orang. Hehehehe. Meski sometimes gue masih suka bandingkan tulisan gue dengan tulisan orang dan merasa buruk rupa ~ however I will keep trying to find peace dan menjalani hidup dengan suka cita 😍

Semangat untuk kita πŸ’•
Someone asked me, does my man read my writings? The answer is, YES πŸ˜‚✌ he is my number one fan. He encouraged me to write and to do what I like πŸ˜πŸ’• and he... of course reading all of my writings, because he helps me with the proportions of Korean language so that my Korean colleagues could read my writings. And it means, he should read all of my writings beforehand πŸ€­πŸ‘Œ hehehehe. I guess, if there was no him, Korean language option would be not exist ~ 🀣

---

Anyhow, some time ago, there was a friend who shared her feelings of pity for her kid who was in kindergarten and was never go to travel abroad when many kids at school often went abroad for holidays. So, I brought this topic to dining table to be discussed with my man πŸ™ˆ because I want to know his point of view and when I told him about this topic, his answer surprised me πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

"Even though I have money, I won't bring our kid to go abroad until s(he) grows up." 😱 which means, he will not bring our kid (if we have one) to go abroad for vacations. Whereas in the past, my dream was to bring my toddler kid for vacations around the world ahuahahaha 🀣 I asked, "Why?" and he replied, if one day he has an intention to give a good memory for kid, he would give it when the kid already have the ability to remember. So, the memory not only put in photos while the kid doesn't remember him/her ever going there πŸ™ˆ

In Korea, because people are mostly hard workers (workaholics), the first 15 years when their kid are born into the world, they focus on building their lives and careers as parents in order to support their kid. So, instead of saving the money to go abroad, they are saving the money to settle down and budgets that they feel are unnecessary (abroad vacations, etc.), will put into future savings. That's why, for him, going abroad when a kid is too little is not an option πŸ€ͺ

He closed our conversation by saying that my friend doesn't need to feel inferior just because she can't take her kid abroad. Especially, if she's not able yet, and he wishes that she will not forcing herself beyond capacity 😁 because for kid, the most important thing is quality time with parents, even only go to a playground near the house, the zoo, or the city next door, he is sure that the kid will definitely like it ~ and he want my friend stops worrying about something that she actually knows she can't handle, and rather than worry, she better encourage her kid to keep enjoying the little things in front of their eyes πŸ’•

Well, though I was shocked at first by his statement (means I have to say goodbye to my dream related to vacation around the world with our kid), but I could say that I agree with his logic and mindset. No wonder when I told him, I want to go to Disneyland with our future kid, he said we should wait until our kid grow up hahahaha πŸ˜‚ and surprisingly, he still want to go on vacation with me without the kid and he wanna left the kid at home when the kid already big enough because for him the center of his life is me. I asked him, "You don't feel sorry to our kid?" and he said, "If our kid wants to go abroad, let our kid find his / her own money. It's okay to bring kid on vacation every now and then, but we should not bring our kid too often so that our kid realize making money isn't easy." πŸ˜… LOL.

---

In Korea (and I'm sure in Indonesia) the competitive level is huge. What type of bag A uses, B wants to use that bag too, even nowadays teenagers in Korea are more familiar with luxury brands like Gucci, etc. (I wrote about it before) πŸ€ͺπŸ™ˆ no wonder many kids ask their parents to buy branded goods until their parents got headache 😩 Not to mention, the vacation issue as told by my friend above, where the kids compete to show off their vacation spots. Hm, so headache hahaha. But, one thing that I and my man know, based on parent's advice, "The things that you can give to kids are not just focusing on material thingy, but knowledge and kindness, wish they can survive when their parents are no longer with them." πŸ˜‰πŸ‘Œ

So, my dear friend, don't worry about things you don't have. I know, you feel bad about your kid, but the only thing you can do now is... encourage your kid to accept reality and hug your kid warmly, while being grateful for what s(he) has now without having to feel 'small' because of it 😍 you should stand strong, even though I don't have kid and don't have the capacity to talk, however I try to understand the anxiety of my friend and maybe the other friends too ~

And for my number one fan 🀭 thanks for teaching me new things and perspectives that I hadn't imagined before πŸ™ˆ✌ I was able to accept the fact that I wouldn't be going vacation around the world with our kid hahaha. And for friends who can bring your kids to go abroad, this article does not mean to disagree on the efforts of you in giving happiness to your dearest kid, because I also have dream to bring my kid to go abroad πŸ˜‚ I write this post purely to give a spirit to friends who might not have the chance to bring the kids on vacation abroad, and to tell them that it's okay don't be sad for too long πŸ˜πŸ’•

---

Fun fact, my parents never took me to go abroad when I was a kid, though I used to have a dream country, one of them was Australia πŸ˜‚ but every time I talked about Australia and said I wanted to go there, Mom just said, "Yeah, you will go alone later if you already big and have money. I help you with pray." 🀣 at that time, many of my friends already go abroad since they were a kid, and every time they went back home, they didn't forget to bring fridge magnets πŸ™ˆ

Since I can't go outside of Indonesia, my job is to became a listener to their stories 😁✌ and because of that, I memorized what was inside the Disneyland even before I set my foot there due to the frequency of myself hearing their stories while looking at photos in their albums 😝 hehehe. However, that kind of activity didn't make me jealous and hated my friends, let alone to think life was unfair, but it encouraged me that one day I can go there, and see what they saw πŸ˜‚

So, when I finally set foot on Disneyland for the first time, my friends gave me a congratulation 🀣 just because they knew, how long I kept my hope hahaha, and when I finally reached Australia, the first time I did after the immigration clearance finished was send a message to Mom to say thanks for the prayer 😁 it took me years to get to the place I dreamed of, and one thing I know, Mom never made me felt insecure just because I couldn't go abroad, but Mom encourages me to accept reality while continued to hang my dreams up to the sky.

Mom confidence that I someday can go to wherever I want, made my confidence as a kid grow, and from that confidence, I can live my life though I'm in a circle where the majority have everything and an easy life. I feel that.. more or less, my mindset, my acceptance of the limits related to my capacity, was formed from how Mom educate me not to compare my life and the life that my friends have. While I know my parents were able to bring me go abroad at least to Disneyland, but the fact that they didn't bring me to Disneyland made me learn, not everything can be obtained by whining to them πŸ˜‚

My man once said to me that on top of gratitude, there is one thing which needs to be done, it is accepting. "You won't be grateful if you don't accept. Accept your life, accept the reality, accept everything." -- because in his opinion, process to finally get to the stage of gratitude must go through process of accepting. The problem is, many can not accept it easily and that's what makes people compete to be greedy and move beyond capacity 😬 maybe because in Korea, the culture of gratitude is not done much and everyone wants to be the best in their class, and he knows, the reason why they are like that because they feel hard to accept the fact that they are at the bottom when people around them are already on top of their level πŸ˜‰

"When you find peace within yourself, you become the kind of person who can live
at peace with others. "- Peace Pilgrim

Nevertheless, within this post, I just want to say that each of us have personal timings 😁 so rather than competing with others, it's better to compete with ourselves on the previous day to become better in the future 😬✌ and I write this post to encourage myself also other friends who might feel the same so that we can enjoy our life to the fullest without having to compare our lives with others. Hehehehehe. Although sometimes I still like to compare my writings and feel that my writings are bad ~ however I will keep trying to find peace and live life with joy 😍 fighting for us, let's live a good life πŸ’•
λˆ„κ΅°κ°€ μ €μ—κ²Œ λ‚΄λ‚¨μžκ°€ 제 글을 μ½λŠ”μ§€ λ¬Όμ–΄λ΄€μ–΄μš”. 제 닡은? YES πŸ˜‚✌ κ·ΈλŠ” 제 1번 νŒ¬μ΄μ—μš”. 글을 μ“°λŠ”κ²ƒκ³Ό μ œκ°€ ν•˜κ³ μ‹Άμ€κ²ƒμ„ μ‘μ›ν•΄μ€˜μš” πŸ˜πŸ’• 그리고 κ·ΈλŠ”... 제 ν•œκ΅­μΈ λ™λ£Œλ“€μ΄ 글을 읽을 수 μžˆλ„λ‘ ν•œκ΅­μ–΄ λ²ˆμ—­μ„ 도와주기 λ•Œλ¬Έμ— λ‹Ήμ—°νžˆ 제 λͺ¨λ“  글을 μ½μ–΄μš”. 그건 κ·Έκ°€ 제 λͺ¨λ“  글을 미리 읽어야 ν•œλ‹€λŠ”κ±°μ—μš” πŸ€­πŸ‘Œ hehehehe. μ•„λ§ˆ κ·Έκ°€ μ—†μ—ˆλ‹€λ©΄ ν•œκ΅­μ–΄ μ˜΅μ…˜μ€ μ‘΄μž¬ν•˜μ§€ μ•Šμ•˜μ„κ±°μ—μš” ~ 🀣

---

μ—¬ν•˜νŠΌ, μ–Όλ§ˆμ „μ— μžλ…€κ°€ μœ μΉ˜μ›μ— λ‹€λ‹ˆλŠ”λ° 해외여행을 자주 λ‹€λ‹ˆλŠ” μΉœκ΅¬λ“€ 사이에 ν•œλ²ˆλ„ λͺ»κ°€λ³Έ κ·Έλ…€μ˜ 아이가 κ°€μ—Ύλ‹€κ³  ν•œ μΉœκ΅¬κ°€ μžˆμ—ˆμ–΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ μ €λŠ” μ‹νƒμ—μ„œ λ‚΄λ‚¨μžμ™€ 이 μ£Όμ œμ— λŒ€ν•΄μ„œ 이야기λ₯Ό λ‚˜λˆ΄μ–΄μš” πŸ™ˆ 그의 κ΄€μ μ—μ„œ λ³΄κ³ μ‹Άμ—ˆκΈ° λ•Œλ¬Έμ΄μ—ˆλŠ”λ° κ·Έκ°€ 이 μ£Όμ œμ— λŒ€ν•΄μ„œ λ§ν–ˆμ„ λ•Œ λŒ€λ‹΅μ΄ λ†€λΌμ› μ–΄μš” πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

"λ‚΄κ°€ λˆμ΄μžˆμ–΄λ„, λ‹€ ν΄λ•ŒκΉŒμ§€λŠ” ν•΄μ™Έλ‘œ 보내지 μ•Šμ„κ±°μ•Ό." 😱 κ·Έ μ˜λ―ΈλŠ” λ°©ν•™ λ•Œ ν•΄μ™Έλ‘œ μžλ…€(생긴닀면)λ₯Ό 보내지 μ•Šμ„κ±°λΌλŠ” κ±°μ—μš”. κ³Όκ±° 제 κΏˆμ€ 아이와 ν•¨κ»˜ 세계 여행을 λ‹€λ‹ˆλŠ” κ±°μ˜€μ–΄μš” ahuahahaha 🀣 μ œκ°€ λ¬Όμ—ˆμ–΄μš” "μ™œ?" 그러자 κ·ΈλŠ” μ–Έμ  κ°€ 아이가 생기고 쒋은 기얡을 μ£Όκ³ μ‹ΆμœΌλ©΄ κΈ°μ–΅ν•  λŠ₯λ ₯이 됬을 λ•Œ 쀄거라고 ν–ˆμ–΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ κ·Έ 기얡은 아이가 기얡도 λͺ»ν•˜λŠ”데 μ‚¬μ§„λ§Œ μžˆλŠ”κ²Œ μ•„λ‹ˆκ²Œ λ˜λŠ”κ±°μ—μš” πŸ™ˆ

ν•œκ΅­μ˜ λŒ€λΆ€λΆ„μ˜ μ‚¬λžŒλ“€μ€ μ—΄μ‹¬νžˆ μΌν•˜κΈ° λ•Œλ¬Έμ—(μ›Œν¬ν™€λ¦­) 아이가 νƒœμ–΄λ‚˜κ³  15λ…„ μ •λ„λŠ” 아이λ₯Ό λΆ€μ–‘ν•˜κΈ° μœ„ν•΄ 인생을 μ„€κ³„ν•˜κ³  λΆ€λͺ¨λ‘œμ„œμ˜ 컀리어λ₯Ό μŒ“λŠ”λ° μ§‘μ€‘ν•΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ ν•΄μ™Έλ‘œ κ°€λŠ”λ° λˆμ„ μ“°λŠ” λŒ€μ‹  정착을 μœ„ν•΄ μ ˆμ•½ν•˜κ³  λΆˆν•„μš”ν•œ μ˜ˆμ‚°(ν•΄μ™Έμ—¬ν–‰ λ“±)은 미래λ₯Ό μœ„ν•΄ 저좕을 ν•΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ κ·ΈλŠ” μžλ…€κ°€ 어릴 λ•Œ μ—¬ν–‰κ°€λŠ”κ±Έ μ„ νƒν•˜μ§€ μ•Šμ„κ±°μ—μš” πŸ€ͺ

κ·ΈλŠ” 아이λ₯Ό 해외여행에 데렀가지 λͺ»ν•΄μ„œ 열등감을 λŠλ‚„ ν•„μš”κ°€ μ—†λ‹€λ©° λŒ€ν™”λ₯Ό λ§ˆμ³€μ–΄μš”. 특히, 아직 보낼 ν˜•νŽΈμ΄ μ•ˆλœλ‹€λ©΄ λ¬΄λ¦¬ν•˜μ§€ μ•ŠκΈΈ λ°”λž€λ‹€κ³  ν–ˆμ–΄μš” 😁 μ™œλƒλ©΄ μ•„μ΄μ—κ²Œ μ€‘μš”ν•œ 것은 μ§ˆλ†’μ€ μ‹œκ°„μ΄κ³  μ§‘κ·Όμ²˜ λ†€μ΄ν„°λ‚˜ 동물원, ν˜Ήμ€ μ˜†λ™λ„€λ§Œ 가더라도 아이가 μ’‹μ•„ν•  거라고 ν–ˆμ–΄μš” ~ 그리고 κ·ΈλŠ” 제 μΉœκ΅¬κ°€ ν•  수 μ—†λŠ” 일에 λŒ€ν•΄μ„œ κ±±μ •ν•˜μ§€ μ•ŠκΈ°λ₯Ό λ°”λž€λ‹€κ³  ν–ˆμ–΄μš”. κ±±μ •λŒ€μ‹  아이가 μž‘μ€ 것듀을 즐길 수 μžˆλ„λ‘ 격렀λ₯Ό 아끼지 μ•Šμ•„μ•Ό λœλ‹€κ³  ν–ˆμ–΄μš” πŸ’•

음, 그의 μ˜κ²¬μ— μ²˜μŒμ—λŠ” 좩격을 λ°›μ•˜μ–΄μš”(λ‚΄ 아이와 세계λ₯Ό λˆ„λΉ„λŠ” 꿈과 μž‘λ³„ν•΄μ•Όλ§Œ ν•œλ‹€λŠ”κ±Έ μ˜λ―Έν•˜λ‹ˆκΉŒμš”) ν•˜μ§€λ§Œ 그의 논리와 사고방식에 λ™μ˜ν•œλ‹€κ³  말할 수 μžˆμ–΄μš”. μ œκ°€ κ·Έμ—κ²Œ 아이와 λ””μ¦ˆλ‹ˆλžœλ“œμ— κ°€κ³ μ‹Άλ‹€κ³  ν–ˆμ„ λ•Œ κ·ΈλŠ” λ§μ„€μž„ 없이 아이가 μžλž„ λ•Œ κΉŒμ§€ κΈ°λ‹€λ €μ•Ό ν•œλ‹€κ³  ν–ˆμ–΄μš” hahahaha πŸ˜‚ λ†€λžκ²Œλ„ κ·ΈλŠ” 아이없이 저와 νœ΄κ°€λ₯Ό κ°€κΈ°λ₯Ό μ›ν•΄μš”. 그리고 아이가 μΆ©λΆ„νžˆ 크면 혼자 집에 남겨두길 μ›ν•΄μš”. μ™œλƒλ©΄ 그의 μΈμƒμ˜ 쀑심은 μ €κ±°λ“ μš”. μ œκ°€ "μ•„μ΄ν•œν…Œ μ•ˆλ―Έμ•ˆν•΄?" 라고 λ¬Όμ–΄λ³΄μž κ·ΈλŠ” "아이가 ν•΄μ™Έλ‘œ κ°€κΈΈ μ›ν•˜λ©΄ 본인돈으둜 가라고해. 가끔 νœ΄κ°€λ₯Ό 갈 μˆ˜λŠ” μžˆμ§€λ§Œ λ„ˆλ¬΄ μžμ£ΌλŠ” μ•ˆλ˜. λˆλ²„λŠ”κ²Œ 쉽지 μ•Šλ‹€λŠ”κ±Έ μ•Œμ•„μ•Όλ˜" 라고 ν–ˆμ–΄μš” πŸ˜… LOL.

---

ν•œκ΅­μ€(그리고 μΈλ„λ„€μ‹œμ•„λ„ κ·Έλ ‡λ‹€κ³  ν™•μ‹ ν•΄μš”) κ²½μŸμˆ˜μœ„κ°€ λ†’μ•„μš”. Aκ°€ μ–΄λ–€ 가방을 μ“°λ©΄ B도 λ”°λΌμ„œ μ“°κ³ μ‹Άμ–΄ν•΄μš”. 심지어 λ‰΄μŠ€μ—μ„œ ν•œκ΅­μ˜ 10λŒ€λ“€μ΄ ꡬ찌 λ“±μ˜ λͺ…ν’ˆμ— μ΅μˆ™ν•˜λ‹€κ³  ν•΄μš”(전에 글을 μ“΄ 적이 μžˆμ–΄μš”) πŸ€ͺπŸ™ˆ λΆ€λͺ¨κ°€ κ³¨μΉ˜μ•„ν”Œ λ•Œ κΉŒμ§€ λΆ€λͺ¨μ—κ²Œ λΈŒλžœλ“œ μ œν’ˆμ„ 사달라고 ν•˜λŠ” λͺ¨μŠ΅μ΄ λ†€λžμ§€λ„ μ•Šμ•„μš” 😩 제 친ꡬ의 νœ΄κ°€ μ΄μŠˆλ„ 아이듀끼리 νœ΄κ°€μ§€ κ³Όμ‹œκ²½μŸμ€ 말할것도 μ—†μ–΄μš”. Hm, so headache hahaha. ν•˜μ§€λ§Œ λΆ€λͺ¨λ‹˜μ˜ μΆ©κ³ λ₯Ό 따라 저와 λ‚΄λ‚¨μžκ°€ μ•„λŠ” ν•œκ°€μ§€λŠ” "μžλ…€μ—κ²Œ μ£ΌλŠ”κ²ƒμ— 물질적인 μ˜λ―Έμ— μ§‘μ€‘ν•˜μ§€λ§κ³  지식과 μΉœμ ˆμ— μ§‘μ€‘ν•΄μ„œ λΆ€λͺ¨κ°€ 없을 λ•Œ 살아남을 수 있기λ₯Ό λ°”λž˜μ•Ό ν•œλ‹€"λΌλŠ” κ±°μ—μš” πŸ˜‰πŸ‘Œ

제 μΉœκ΅¬μ—κ²Œ, 가지지 λͺ»ν•œκ²ƒμ— λŒ€ν•΄μ„œ κ±±μ •ν•˜μ§€λ§ˆ. λ§ˆμŒμ•„ν”„λ‹€λŠ”κ±° λ‚˜λ„ μ•Œμ§€λ§Œ μ§€κΈˆ ν•  수 μžˆλŠ”κ±΄... μ§€κΈˆ 아이가 κ°€μ§€κ³ μžˆλŠ”κ²Œ 'μž‘λ‹€'κ³  μƒκ°ν•˜μ§€ 말고 가진것에 κ°μ‚¬ν•˜λ„λ‘ 아이λ₯Ό κ²©λ €ν•˜κ³  ν˜„μ‹€μ„ 받아듀이고 λ”°λœ»ν•˜κ²Œ μ•ˆμ•„μ£ΌλŠ” 것 뿐이야 😍 κ°•ν•΄μ Έμ•Όλ˜. λ‚΄κ°€ 아이도 μ—†κ³  λŒ€ν™”ν•  λŠ₯λ ₯도 μ—†μ§€λ§Œ λ‚΄ μΉœκ΅¬μ™€ λ‹€λ₯Έ μΉœκ΅¬λ“€μ˜ λΆˆμ•ˆμ„ μ΄ν•΄ν•˜λ €κ³  λ…Έλ ₯ν•˜κ³ μžˆμ–΄ ~

그리고 λ‚΄ 1번 νŒ¬μ—κ²Œ 🀭 μƒˆλ‘œμš΄ 것을 μ•Œλ €μ£Όκ³  μ „μ—λŠ” μƒκ°ν•˜μ§€ λͺ»ν–ˆλ˜ 관점을 μ•Œλ €μ€˜μ„œ κ³ λ§ˆμ›Œ πŸ™ˆ✌ 아이와 ν•¨κ»˜ 세계λ₯Ό λŒμ•„λ‹€λ‹ˆλŠ” νœ΄κ°€λ₯Ό μ•ˆκ°„λ‹€λŠ” 사싀을 λ°›μ•„λ“œλ¦΄ 수 μžˆμ—ˆμ–΄ hahaha. 그리고 아이λ₯Ό 데리고 ν•΄μ™Έλ‘œ κ°€λŠ” μΉœκ΅¬λ“€μ—κ²Œ, 이 글은 μžλ…€μ—κ²Œ 행볡을 μ£Όλ €κ³  μ• μ“°λŠ” 당신듀을 λ°˜λŒ€ν•˜λŠ” 글이 μ•„λ‹ˆμ—μš”. μ™œλƒλ©΄ 저도 그런 κΏˆμ„ 가지고 μžˆμœΌλ‹ˆκΉŒμš” πŸ˜‚ μˆœμˆ˜ν•˜κ²Œ κ·ΈλŸ¬μ§€ λͺ»ν•˜λŠ” 친ꡬλ₯Ό μœ„λ‘œν•˜κ³  λ„ˆλ¬΄ 였래 μŠ¬νΌν•˜μ§€ 말라고 μ“°λŠ” κΈ€μ΄μ—μš” πŸ˜πŸ’•

---

μž¬λ°ŒλŠ” 사싀은, 저희 λΆ€λͺ¨λ‹˜μ€ μ œκ°€ 어렸을 λ•Œ ν˜Έμ£Όμ— 가보고 싢은 꿈이있던 μ €λ₯Ό ν•œλ²ˆλ„ ν•΄μ™Έλ‘œ 데렀가지 μ•ŠμœΌμ…¨λ‹€λŠ” κ±°μ—μš” πŸ˜‚ ν•˜μ§€λ§Œ 맀번 μ œκ°€ ν˜Έμ£Όμ— λŒ€ν•΄μ„œ μ΄μ•ΌκΈ°ν•˜κ³  가보고 μ‹Άλ‹€κ³  ν•  λ•Œλ§ˆλ‹€ μ—„λ§ˆλŠ” κ·Έμ € "그래, μ»€μ„œ 돈벌면 κ°ˆκ±°μ•Ό. κΈ°λ„ν• κ²Œ" 라고 ν•˜μ…¨μ£  🀣 κ·Έ λ•Œ, 제 λ§Žμ€ μΉœκ΅¬λ“€μ€ 이미 어렸을 λ•Œ λΆ€ν„° ν•΄μ™Έλ‘œ κ°”μ—ˆκ³  갈 λ•Œ λ§ˆλ‹€ 냉μž₯κ³  μžμ„μ„ μžŠμ§€ μ•Šκ³  κ°€μ Έμ™”μ–΄μš” πŸ™ˆ

μΈλ„λ„€μ‹œμ•„μ—μ„œ λ‚˜κ°€μ§€ λͺ»ν–ˆκΈ° λ•Œλ¬Έμ— μ €μ˜ 역할은 κ·Έλ“€μ˜ 이야기λ₯Ό λ“£λŠ”κ²ƒ λΏμ΄μ—ˆμ–΄μš” 😁✌ κ·Έλ“€μ˜ 앨범과 이야기λ₯Ό ν†΅ν•΄μ„œ ν•˜λ„ 많이 λ“€μ–΄μ„œ λ””μ¦ˆλ‹ˆλžœλ“œμ— 가보기도 전에 λ­κ°€μžˆλŠ”μ§€ λ‹€ κΈ°μ–΅ν–ˆμ—ˆμ–΄μš” 😝 hehehe. ν•˜μ§€λ§Œ, κ·Έλ“€μ˜ 행동은 μ €λ₯Ό μ§ˆνˆ¬λ‚˜κ±°λ‚˜ μ‹«μ–΄ν•˜κ²Œ ν•˜μ§€λŠ” μ•Šμ•˜μ–΄μš”. λ‹€λ§Œ 인생은 λΆˆκ³΅ν‰ν•˜μ§€λ§Œ μ—΄μ‹¬νžˆ 살닀보면 μ–Έμ  κ°€ λ‚˜λ„ 갈 수 있고 그듀이 본것을 λ‚˜λ„ λ³Ό 수 μžˆλ‹€κ³  μƒκ°ν–ˆμ–΄μš” πŸ˜‚

κ·Έλž˜μ„œ, λ§ˆμΉ¨λ‚΄ μ œκ°€ λ””μ¦ˆλ‹ˆλžœλ“œμ— 처음으둜 갔을 λ•Œ, μΉœκ΅¬λ“€μ΄ μΆ•ν•˜ν•΄μ€¬μ–΄μš” 🀣 μ œκ°€ μ–Όλ§ˆλ‚˜ μ˜€λž«λ™μ•ˆ λ°”λž˜μ™”λŠ”μ§€ μ•ŒκΈ° λ•Œλ¬Έμ΄μ—μš” hahaha, 또, μ œκ°€ ν˜Έμ£Όμ— 처음으둜 갔을 λ•ŒλŠ” μž…κ΅­μ‹¬μ‚¬ 후에 λ°”λ‘œ μ—„λ§ˆμ—κ²Œ κΈ°λ„ν•΄μ€˜μ„œ 고맙닀고 λ¬Έμžλ“œλ Έμ–΄μš” 😁 μ œκ°€ 꿈꾸던 곳으둜 κ°€λ €κ³  λͺ‡λ…„이 κ±Έλ Έκ³  μ œκ°€ μ•„λŠ” ν•œκ°€μ§€λŠ” μ—„λ§ˆλŠ” μ œκ°€ 해외에 갈수 μ—†μ—ˆλ‹€κ³  μ ˆλŒ€ μ €λ₯Ό λΆˆμ•ˆν•˜κ²Œ λ§Œλ“€μ§€ μ•Šμ•˜λ‹€λŠ”κ±°μ—μš”. μ—„λ§ˆλŠ” κΏˆμ„ μ΄μ–΄λ‚˜κ°€κ²Œ ν•˜λ©΄μ„œ λ™μ‹œμ— ν˜„μ‹€μ„ 받아듀이도둝 κ²©λ €ν–ˆμ–΄μš”.

μ—„λ§ˆλŠ” μ œκ°€ μ–Έμ  κ°€ μ›ν•˜λŠ” 곳으둜 갈 수 μžˆλ‹€κ³  λ―Ώμ–΄μ£Όμ…¨κ³  μžμ‹ κ°μ„ κ°€μ§€κ²Œ ν•˜μ…¨μ–΄μš”. κ·Έλž˜μ„œ κ·Έ μžμ‹ κ°μœΌλ‘œ 인생을 μ‚΄μ•„κ°€μ„œ λŒ€λ‹€μˆ˜κ°€ 가진것을 κ°€μ§€κ²Œ 되고 μ‰¬μš΄ 삢을 μ‚΄ 수 있게 λ¬μ–΄μš”. 제 생각과 λŠ₯λ ₯에 κ΄€λ ¨λœ ν•œκ³„μ— λŒ€ν•œ μ €μ˜ μˆ˜μš©μ€ μ—„λ§ˆκ°€ 제 μ‚Άκ³Ό μΉœκ΅¬λ“€μ˜ 삢을 λΉ„κ΅ν•˜μ§€ μ•Šλ„λ‘ κ΅μœ‘μ‹œν‚€λŠ” λ°©μ‹μœΌλ‘œ ν˜•μ„±λ˜μ—ˆμ–΄μš”. λΆ€λͺ¨λ‹˜μ΄ 적어도 λ””μ¦ˆλ‹ˆλžœλ“œλŠ” 데렀갈 수 μžˆλ‹€λŠ”κ±Έ μ•Œμ•˜μ§€λ§Œ μ €λ₯Ό λ””μ¦ˆλ‹ˆλžœλ“œλ‘œ 데렀가지 μ•ŠμŒμœΌλ‘œ μΈν•΄μ„œ λ–Όμ“΄λ‹€κ³  λ‹€λ˜λŠ”κ±΄ μ•„λ‹ˆλΌλŠ”κ±Έ 배우게 λ¬μ–΄μš” πŸ˜‚

λ‚΄λ‚¨μžλŠ” ν•œλ•Œ μ €μ—κ²Œ κ³ λ§ˆμ›€ 이전에 ν•΄μ•Όν• κ²Œ μžˆλ‹€κ³  λ§ν–ˆμ–΄μš”. λ°›μ•„λ“€μ΄λŠ” κ±°μ—μš” "받아듀이지 μ•ŠμœΌλ©΄ κ°μ‚¬ν•˜μ§€ μ•Šμ„κ±°μ•Ό. 인생을 받아듀이고 ν˜„μ‹€μ„ 받아듀이고 λͺ¨λ“ κ±Έ λ°›μ•„λ“€μ—¬" -- 그의 말은 κ°μ‚¬ν•˜λŠ” 단계λ₯Ό 거치기 μ „μ—λŠ” λ°›μ•„λ“€μ΄λŠ” 단계λ₯Ό κ±°μ³μ•Όλœλ‹€κ³  ν–ˆμ–΄μš”. λ¬Έμ œλŠ” λ°›μ•„λ“€μ΄λŠ”κ²Œ 쉽지 μ•ŠκΈ° λ•Œλ¬Έμ— μ‚¬λžŒλ“€μ΄ μš•μ‹¬μ„ 뢀리고 λŠ₯λ ₯λ°–μ˜ 일을 ν•˜λ €κ³  κ²½μŸν•œλ‹€λŠ” κ±°μ—μš” 😬 μ•„λ§ˆ ν•œκ΅­μ—μ„œλŠ” κ°μ‚¬ν•˜λŠ” λ¬Έν™”κ°€ λ‹€λ₯΄κ³  κ·Έλž˜μ„œ λͺ¨λ‘κ°€ μ΅œκ³ κ°€ 되렀고 ν•˜λŠ”κ²ƒ κ°™μ•„μš”. 또 μ£Όμœ„ μ‚¬λžŒλ“€μ΄ 이미 λ‹€λ₯Έ μˆ˜μ€€μΌ λ•Œ 그듀이 λ°”λ‹₯μ΄λΌλŠ”κ±Έ μΈμ •ν•˜μ§€ λͺ»ν•˜κΈ° λ•Œλ¬ΈμΈ 것 κ°™μ•„μš”. πŸ˜‰

"When you find peace within yourself, you become the kind of person who can live
at peace with others. "- Peace Pilgrim

κ·ΈλŸΌμ—λ„ λΆˆκ΅¬ν•˜κ³  μ €λŠ” 이 ν¬μŠ€νŠΈμ—μ„œ ν•˜κ³ μ‹Άμ€ 말은 μš°λ¦¬λŠ” 각각의 타이밍을 가지고 μžˆλ‹€λŠ”κ±°μ—μš” 😁 κ·Έλž˜μ„œ λ‹€λ₯Έμ‚¬λžŒκ³Ό κ²½μŸν•˜κΈ°λ³΄λ‹€ μ–΄μ œμ˜ λ‚˜μžμ‹ κ³Ό κ²½μŸν•˜λŠ”κ²Œ λ―Έλž˜μ— 더 μ’‹μ•„μš” 😬✌ 그리고 μ € μžμ‹ κ³Ό 이같이 λŠλΌλŠ” λ‹€λ₯Έ μΉœκ΅¬λ“€μ„ κ²©λ €ν•˜κΈ° μœ„ν•΄ 이 포슀트λ₯Ό μ¨μš”. κ·Έλž˜μ•Ό μš°λ¦¬κ°€ λ‹€λ₯Έμ‚¬λžŒκ³Ό μžμ‹ μ˜ 인생을 λΉ„κ΅ν•˜μ§€ μ•Šμ•„μ„œ 인생을 μ˜¨μ „νžˆ 즐길 수 μžˆμ–΄μš” Hehehehehe. 가끔 제 κΈ€μ“°λŠ” 것을 λΉ„κ΅ν•˜κ³  제 글이 λ‚˜μ˜λ‹€κ³  λŠλΌμ§€λ§Œ ~ κ·Έ μ•ˆμ—μ„œ 기쁨과 평화λ₯Ό 찾으렀고 λ…Έλ ₯ν•΄μš” 😍 fighting for us, let's live a good life πŸ’•

47 comments:

  1. Eh aku juga begitu dong...πŸ˜†πŸ˜

    maksudnya sepemikiran dengan your husband perkara ngajakin libur bocah yang ga melulu harus dipikirkeun sebegitu njlimet sehingga kok minder andai ga seperti teman lainnya yang bisa ngajak anaknya sering plesiran, walaupun yang plesiran bae sih juga ga pa pa dalam hal ini, wong mereka prinsipnya uda demikian dan ada uangnya juga.

    Nah kalau aku, walaupun dari sisi ini aku termasuknya bukan orang yang berada banget sih, ya tengah2 lah...e rakyat kecil malah haha, jadi jangankan ngajakin dolan ke luar negerih, wong mau ngajak ke tempat dekat yang masih jabodetabek aja masya alloh aku kadang itung kancing dulu ngebayangin ribetnya begimane bawa 2 bayi dan peralatan mereka yang segambreng...
    Jadi masa sekarang sih aku ga begitu nggrememeng gimana gitu kalau sampai kurang piknik, lah anak juga masih kecik-kecik...nanti aja lah kalau anaknya uda agak gedean, itupun ga sering2..ya ngukur kapasitas diri aja tiap pergi ada 4 kepala habisnya bisa nyampe berapa, haha..malah lebih asyikan lagi kalau kayak kata pasangan mba eno, syukur2 anaknya bisa go abroad atau ada kesempatan kemana pas uda bisa mandiri di atas kaki sendiri huehehe...syukur2 bisa ngajak emaknya, tapi itupun ga maksa sih hahahha...

    aku sepemikirannya bagian, ga pa pa kok ga bisa ngukir kenangan dolan di tempat jauh, kayak anak teman teman lain yang borju...ya kan mereka ada uang, jadi aku mah sadar diri aja dah ahhahah...
    soalnya memang untuk urusan prioritas aku mungkin hampir sama dengan kebanyakan orang, yaitu ga terlalu mementingkan sering2 plesir, tapi mending yang pokok2 dulu kayak renov rumah supaya nyaman ditinggali, nabung biaya pendidikan, nabung...nabung dan nabung untuk dana daurat dll, kalau bisa beli properti mah beli buat invest itu yang jadi urutan pertama... walaupun kalau teman lain ga berpikiran sama ya ga po po juga sih hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaa Nitaa kok sama sih, mau pergi deket2 aja bawaan seabrek2 ya, udah kayak mau pindah rumah 🀣🀣 Aku ngajak anak2 pinik ke pantai dalam kota aja, mobil penuh barang. Baju gantinya, baju renangny, perlengkapan main pasir, bekal cemilannya πŸ˜…

      Kalau aku sih prinsipnya, ga yg saklek kayak kesayangan Mba Eno. Aku mikirnya, selama ada rejeki kenapa ga kalau ajak anak2. Tp kalau ga ada, ya jngan dipaksakan apalagi sampai iri dg orang lain. Mau abroad, mau cuma main playground depan rumah, yg penting itu make good memories di hati mereka. Kalaupun besar mereka ga bs ingat detail tempat yg dikunjungin, aku percaya mereka pasti ingat dulu pas jalan2 hari mereka senang bersama keluarga..

      Delete
    2. Iya mba Nita, setiap keluarga punya prinsip berbeda 😁 yang hobi plesiran mungkin memang sudah suka dari sananya, dan yang nggak mau plesiran mungkin karena punya prioritas lain yang perlu diutamakan ~ pada intinya setiap keluarga pasti punya preferensi personal πŸ™ˆ jadi daripada pusing dan bersedih akibat membandingkan hidup kita, ada baiknya kita menerima dan fokus pada apa yang bisa kita dapatkan dan lakukan sesuai kapasitas 😍

      Dan iya mba, pasti ribet banget yah bawa anak bayik dua jalan-jalan sampai hitung kancing lho, means seriously susah πŸ˜† kebayang sih, karena dulu ibu pun ribet bukan main harus mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya saat mau mudik ke rumah simbah sampai kadang ibu nggak bisa menikmati perjalanan yang ada πŸ˜‚ sedih kalau diingat karena sebagai anak nggak bantu banyak πŸ™ˆ

      Hehehehe, lagipula mengukir kenangan bisa di mana saja sesuai kemampuan ~ nggak harus ke luar negeri kalau dananya nggak tersedia. Kalaupun mau foto-foto, sama si kesayangan disuruh foto di playground depan rumah πŸ˜‚ semoga anak-anak bisa mengerti keadaan dan nggak sampai bersedih hati karena teman-temannya pergi ke luar negeri while anak hanya bisa stay di Indonesia πŸ’•

      And no worries, kalau ada teman yang nggak berpikiran sama, karena kan memang prioritasnya beda hihi jadi yang suka yalan-yalan pun bisa paham πŸ˜† eventually beberapa sohibul saya tipe yang suka bawa anak ke luar kalau liburan, tapi karena memang mampu, mba ~ dan mereka pun berharap, untuk teman saya yang nggak mampu, untuk nggak putus asa dan merasa sedih dan nggak terus-terusan melihat ke atas. Semoga, kita bisa saling support dalam setiap perbedaan πŸ˜πŸ’•

      Terima kasih untuk cerita yang dibagikan, mba Nita πŸ₯³

      Delete
    3. Mba Thessa, riweuh bangettt pasti yaaah, tapi meski riweuh, tentunya fun kan? Hihihi dan akan jadi kenangan indah untuk anak 😍

      Betul mba, memang sebaiknya kita nggak perlu iri dengan pencapaian dan kehidupan orang πŸ˜† hihihi dan yang terpenting anak-anak bisa memiliki kenangan manis di hati mereka πŸ™ˆ hehehehe. Si kesayangan memang agak saklek kalau sudah urusan prinsip, jadi dia baru akan ajak anak jalan-jalan kalau sudah masuk usia 6 tahun ke atas, mungkin agar lebih mudah diarahkan juga πŸ˜‚ itupun di area yang dekat-dekat hahahaha.

      Delete
  2. Cara didik anak model Korea sama Indonesia beda banget ya mbak, wkwkwkwk. Tapi walopun begitu gw setuju banget dengan cara berpikir suami mbak. Lebih baik mengajarkan anak tentang kemandirian daripada kemewahan. Karna suatu saat kita akan pulang. Nah tugas kita menyiapkan anak supaya bisa berdiri di kakinya sendiri sehingga pas kita gak ada dia bisa melanjutkan hidupnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya sebelas dua belas, ahahaha cuma memang beda personal akan beda pula cara didiknya, bukan begitu, mas? 😁 hehehehe. Sebetulnya dikasih kemewahan nggak salah apalagi kalau ada dananya, sambil berbarengan dididik mandiri, dan sederhana, mewah namun sederhana gitu, bisa kali, yah πŸ™ˆ

      Semangat, mas Riza! πŸ˜†

      Delete
  3. Menarik banget percakapan kakak dengan partner. Jujur, belum tentu semua pasangan bisa terbuka satu sama lain seperti kalian berdua. Sesederhana bahas masalah liburan dan anak saja, kalian bisa saling berkompromi. Salut sama Kak Eno dan partner.

    Kurang lebih aku merasakan seperti Kak Eno. Aku pun baru jalan-jalan ke laur negeri saat umur 25 tahun. Itu juga bareng sama suami sebagai hadiah honeymoon karena aku bilang belum pernah satu kali pun ke luar negeri. Penasaran banget ingin ke Thailand dan akhirnya di kabulin sama sih koko.

    Orangtua aku selalu bilang bahwa jalan-jalan itu memang perlu tapi sesuai kemampuan. Jika mampunya masih seputar Indonesia, yaudah nikmatin disitu. Alhasil aku sama adikku ya belum pernah di ajak keluar negeri.

    Setuju juga sama pola pikir partner Kak Eno. Kalaus sedari kecil anak diajak ke luar negeri, bisa di bilang mereka juga tidak akan ingat. Boro-boro ingat, bisa jadi selama kita ajak malah kebanyakan tidur. Padahal kita sudah rempong nyiapin perlengkapan mereka buat jalan-jalan. Alhasil jadi sama-sama tidak bisa nikmatin juga.

    Ditunggu tulisan-tulisan kakak yang menginspirasi lainnya yaa..
    (Ups.. lupa bilang, aku pembaca baru di tulisan kakak. Salam kenal kak :D).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Devina, setiap dari kita pasti bisa terbuka especially sama partner kalau ada kemauan dari ke dua belah pihak untuk saling terbuka dan membicarakan topik yang sedang ingin dibicarakan πŸ™ˆ kami pun berproses pelan-pelan 😁

      Waaah, it must be a great experienced ya mba, finally bisa pergi ke negara yang sudah membuat penasaran bersama pasangan tercinta 😍 kebayang betapa bahagianya mba Devina ketika pertama kali injak kaki di sana πŸ˜†πŸ’•

      Dan betul apa yang ortu mba bilang, segala sesuatu harus berdasarkan kemampuan, saya pun belajar banyak akan hal itu dari pengalaman yang sudah-sudah πŸ™ˆ paling enak memang hidup cukup ya, mba. Hehehehe. Dan apabila memang belum mampu untuk ajak anak abroad, it's okay untuk ajak yang dekat-dekat dulu sambil menabung atau sambil encourage anak agar one day bisa ke sana dengan usaha yang anak lakukan 😍

      Eniho, terima kasih sudah baca tulisan saya πŸ₯³ salam kenal ~

      Delete
  4. Pasangannya bijak banget. Before COVID 19, sekarang memang jaman jalan-jalan ke LN.

    Saya juga gak terlalu antusias ajak anak saat kecil-kecil jalan keluar. Kenapa? Karena memorinya belum sempurna mengenang momen.

    Punya kawan yg pernah ke Paris saat cilik tapi tanpa kesan wah karena yg diingat cuma banyak ranjau daratnya. 🀣Atau yg bawa balita tapi saat nyampe rewel maunya di hotel saja. Yg mereka ingat cuma apa yg terjadi dg dirinya krn masih sangat self-centered. Jadi logikanya di usia anak yg segitu yg kepengin jalan2 liat dunia sebetulnya sih mak bapaknya...πŸ˜‚

    Beneran nggak bagus bila akhirnya jadi ajang saing2an nggak sehat di sekolah. Tapi umumnya org Asia memang begitu. Persaingan tinggi dg rumput tetangga ya πŸ˜„. Padahal di Indonesia juga banyak obyek wisata cakep loh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sekarang memang era-nya yalan-yalan abroad, mana tiket pesawat banyak promonya, mba πŸ˜‚ eniho sama seperti saya, beberapa kali waktu kecil diajak jalan sama ortu, nggak jauh sih, tapi nggak ingat sama sekali, yang bersisa hanya satu dua foto, tapi kenangannya nggak ada πŸ™ˆ jadi betul kata mba, kemungkinan besar perjalanan yang ada itu atas dasar keinginan orang tua 😍

      Hehehehe, persaingan yang nggak sehat especially untuk kantong mba πŸ˜† kata teman saya yang curhat, kadang karena rasa kompetitif tersebut, dia jadi capek sendiri harus berusaha menjadi lebih tapi dia-nya nggak bahagia menjalankannya πŸ™ˆ thank God, sekarang lebih bisa menerima dan let it go serta hidup sesuai prioritas dan kapasitas. Well, setiap orang memang butuh proses secara perlahan 😍 dan setuju sama mba, di Indonesia banyak tempat wisata bagus, salah satunya Malang πŸ˜‚

      Delete
  5. Akoh nangis baca ini :')

    Pertama, sesungguhnya saya ingin ajak anak-anak ke luar negeri.
    Tapi, boro-boro...
    Udah coba usaha, tapi belum bisa, terlebih cuman saya yang mau usaha, rasanya beraaaddd :(

    Anak saya sekolah di lingkungan orang menengah ke atas, dulunya sempat khawatir sebenarnya dengan pergaulan, teringat waktu masih single sempat dengar curhatan rekan kantor waktu itu.
    Anaknya sekolah di SD negeri terkenal, di mana yang sekolah di sana anak orang borjuis.

    Setiap kali liburan, anak-anaknya sedih dan merengek, nanya kapan bisa kayak teman-temannya yang lain, di mana sejak liburan awal udah berbondong-bondong ke luar negeri.
    Sedang anak-anaknya paling banter ke luar pulau aka ke rumah eyangnya di Madura hehehe.

    Trus kebayang kalau si kakak juga ngerasa gitu.
    Tapi sampai dia naik kelas 4, rasanya belum pernah saya dengar dia merengek mau ke luar negeri, kecuali bertanya gimana caranya cari duit, dia mau nabung buat beli ini itu, kayak punya temannya.

    Plus dia pengen umroh, karena temen-temennya paling dikit 2 kali setahun umroh hahaha.

    Untungnya di sekolahnya, anak-anak paling cuman sepatu dan tas mahal, karena dibebaskan pakai sepatu dan tas yang bukan dari sekolah.
    Tapi anak-anak bahkan dilarang pakai jam tangan mahal, apalagi mainan mahal.

    Saya selalu sounding sih, bagaimana kondisi kami, ngajak si kakak untuk rajin menabung, meski akhirnya ya kepake bapakeh, huhuhu.

    Tapi baca pikiran si kesayangan Eno tersebut, saya jadi lebih legowo.
    Dan benar ya, tak perlu merisaukan hal-hal yang di luar batas kemampuan sebenarnya.

    Terlebih, memang benar, membawa anak-anak kecil bepergian itu, selain capek dan kadang berakhir dengan anak-anak sakit karena kecapekan di jalan, pun juga rempongnyaaaa ampun-ampunan.

    Tahun 2013 lalu, kami ke Bali, waktu itu usia kakak masih 3 tahun, dan selama di sana kami kelaparan, lalu pulang si kakak sakit hahaha.

    2 tahun lalu, kami ke Jakarta.
    Si adik waktu itu 6 atau 7 bulan ya?
    Daaann selama hampir seminggu di jalan, selain pegal, dan kelaparan, si adik pantatnya ruam parah, si kakak pegal kena marah terus saking dia bosan di perjalanan, rasanya cuman itu aja yang kami nikmati hahaha.

    Jadi sebenarnya memang betul ya, akan lebih baik piknik di samping rumah tapi semuanya happy, ketimbang jalan-jalan jauh, tapi semua bosan dan pegal aja yang dinikmati :D

    Kecuali memang ada duitnya, ke manapun it's OK.

    Dan mengenai menerima.
    Itu ya kuncinya, saya masih dalam tahap on off menerima.
    Belajar fokus ke diri sendiri, menerima apa yang ada, berhenti berharap pada yang memang tidak bisa diharapkan.
    etdaaahh, kok ya baper sayah huhuhu.

    Tengkiu say, selalu menghadirkan sisi-sisi yang dalem banget di antara hal-hal yang terlihat biasa.
    Kadang memang luput dari perhatian dan pemikiran, padahal ada hal yang mendalam di balik sebuah percakapan ringan yang mungkin terjadi.

    Dan memang, komunikasi itu sungguh luar biasa ya, karena waktu baca awalnya saya juga nganga dan pengen nyelutuk juga.

    "Iyaaaa... anak memang nggak bisa mengingat semua kenangan itu, tapi saya ingat! nanti saya yang ingatin ketika dia besar nanti!"

    Kaaan... kannnn.. kaann sayah ngegas!
    That's why saya memang kudu dipasangkan dengan orang yang bijak, biar nggak ngegas aka nyolot sebelum jelas apa yang dimaksudkan seseorang qiqiqiqiqi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa mba kalau belum bisa, semoga one day bisa, atau mungkin nantinya anak-anak mba kelak yang ajak mba pergi abroad πŸ˜† hehehehe ~ jadi jangan terlalu dipikirkan πŸ’•

      Thankfully kakak pintar, nggak pernah merengek minta yang aneh-aneh, dan mba Rey pun bisa bertahan untuk nggak kompetitif dalam membesarkan kakak 😍 berkat didikan mba Rey, kakak jadi lebih fokus untuk menabung uang ketimbang merengak minta diajak ke suatu tempat πŸ˜„ hehehehe ~ dan harapan kakak sangat bagus, semoga suatu hari jadi kenyataan ya, kak πŸ₯³ bisa umroh, ajak mami papi dan adiknya πŸ’•

      Eniwei, terima kasih sudah berbagi cerita mba, kebayang betapa ribetnya mba harus urus bayik-bayik saat jalan πŸ™ˆ kadang memang better dekat asal nggak ribet, daripada jauh tapi buat ribet hahahaha *ini sayanya yang pemalas kali, yah* 🀣 dan iya mba, memang paling enak kalau kita bisa menerima keadaan, dan belajar fokus untuk lebih cinta ke diri sendiri, karena kalau kita nggak bisa menerima keadaan, itu salah satu cara untuk menyakiti diri, begitu kata si kesayangan πŸ˜…

      And thank God karena mba Rey belum sampai 'ngegas' sama saya hahahahahaha, but I know, mba Rey nggak akan 'ngegas' karena selama ini mba baik orangnya 🀭

      Delete
  6. Setelah baca ini, saya jadi ingat lagi galeri albun keluarga. Ada banyak foto di mana saya dijepit oleh Mama, Balak, sampai keluarga tapi merasa ingatpun tak pernah. Sekali waktu, saya pernah bertanya pada Mama tentang beberapa orang yang ada difoto. Mama menjelaskan selagi mengkonfirmasi dengan Bapak.

    Untungnya, kultur bawa jalan-jalan di keluarga saya tidak pernah ada. Paling cuma cerita ke kampung saat berkunjung rumah keluarga Mama saya. Beberapa kali saat sempat, saya main ke sana dan masih mencoba mengingat beberapa wajah asing yang berkata, "eh Rahul, sudah besar. Lebih tinggi dari Mamanya. Dulu masih saya gendong.".

    Terlepas dari itu semua, saya sangat setuhu bahwa kita semua ini berbeda. Apakah saya sudah bersyukur dengan menerima hidup? Saya belum bisa menjawab. Segala hal yang masih duniawi masih saya pikirkan. Segala hal menyangkut pencapaian masih saya ada dalam kepala saya. Meski begitu, saya ingin terbebas dari pemikiran macam itu. Namun lagi-lagi, ini semua duniawi.

    Selalu saya tekankan untuk diri dan teman-teman saya bahwa kita ini berbeda. Tidaj perlu menjadi lebih baik dari orang lain. Cukup menjadi lebih baik dari dirimu yang kemarin.

    Terimakasih kak Eno tulisannya, terimakasih juga untuk kesayangan kak Eno atas pola pikirnya. Berasa kuliah malam 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha itu beberapa kali kejadian sama saya mas, ada foto tapi nggak ingat itu di mana, kapan, dan siapa saja yang ada di dalam foto, kecuali keluarga dekat yang memang kenal 🀣 lucu juga kalau dipikir-pikir hihihihi, tapi foto yang nggak mengingatkan kita pada kenangan kita, bisa jadi merupakan foto penuh kenangan untuk orang tua kita 😁

      By the way, menurut saya nggak apa-apa banget kalau kita berpikir soal duniawi, karena itu bagian dari hidup kita, asal balance saja dan nggak berlebihan ~ hehehe. Karena suka nggak suka, kita harus survive di dunia, dan sebenarnya survive di dunia itu bukan sebuah pilihan melainkan keharusan (begitu yang pernah saya baca) πŸ™ˆ karena dengan kita survive, menjadi lebih baik, menerima yang ada di depan mata, kita akan belajar lebih banyak ikatan yang nggak terlihat salah satunya dengan Tuhan YME πŸ˜„

      Dan benar yang mas Rahul bilang, be better daripada diri kita yang kemarin, bukan daripada orang lain 🀭 jadi yuk fokus kembangkan diri kita daripada terus lihat pencapaian orang di luar sana πŸ˜† semoga kita bisa berbahagia, selalu dan selamanya 😍

      Delete
    2. Iya kak Eno, makanya suka sebel liat orang yang suka bilang uang tidak dibawa mati. Tapi kita kan masih di dunia, masih membutuhkannya.

      Aamiin. Tapi kalo kata Uus, jangan selalu kak. Nanti lupa bersyukur. :D

      Delete
    3. Uang memang nggak dibawa mati dan nggak bisa beli kebahagiaan tapi uang bisa untuk bayar tagihan listrik dan lainnya juga bisa untuk bantu sesama 😁

      Wk. Selalu bahagia dan selalu bersyukur akan jauh lebih baik kayaknya, mas 🀣 jangan sampai susah dulu baru kenal rasa syukur. Ini kata saya, agak beda mungkin ya sama kata Uus πŸ˜†✌

      Delete
    4. Ha ha ha. Siap kak Eno. Saya ngomong ini juga pengennya ngga ke arah sana agar mbak Eno jadi berubah pola pikir. Cuma agar ada pertukaran pemikiran yang baik. Mudah-mudahan menjadi diskusi yang sehat dan menyenangkan.

      Delete
    5. Hihihi I know mas Rahul, kita sama-sama mengeluarkan pemikiran kita ~ nggak apa-apa banget beda, yang penting tetap rukun satu sama lainnya πŸ˜πŸ’• thank you lho, ya 😍

      As usual, senang bertukar pikiran dengan mas Rahul πŸ˜†

      Delete
  7. Baca tulisan ini saya jadi inget suatu hal Mba.

    Pernah suatu kali saya mempertanyakan. Kenapa tidak pernah ada foto ultah atau foto jalan-jalan bersama Ortu saat saya masih kecil di usia sekitar 1-5 tahun hingga menjelang dewasa (bahkan dulu sampe saya posting puisinya di blog mba)πŸ˜‚πŸ˜…. Pertanyaan ini muncul akibat temen-temen masa kecil mayoritas ultahnya dirayain disekitar usia itu atau karena mereka punya foto kenangan, ketika bersama Orangtua. Sayangnya saya dan beberapa adik gak punya satu foto pun yang menunjukkan apakah kami ini sama berharganya di banding anak (saudara) yang lain. Padahal saya sangat ingin tau, bagaimana raut wajah Ortu ketika masih muda, raut wajah ketika mereka bersama kami, dan tentu saja bagaimana raut wajah kami ketika bersama mereka dimasa-masa menyenangkan seperti itu (menurut pikiran anak abege saat itu)

    Karena dulu sempat merasakan pikiran itu, akhirnya saya bertekad untuk memberikan sebuah kenangan kepada anak-anak, meskipun hanya foto di depan kue tapi yang terpenting bersama saudara dan Orangtua. Meskipun dia gak akan inget, tapi lewat foto, jika suatu saat nanti dia sudah mengerti (dan mungkin saja kami sudah gak ada lagi di dunia ini), dia bisa menyadari dan akan membuatnya lebih tau betapa kami menghargai kehadirannya di dunia ini.

    Mungkin karena sudah berbeda jaman. Setiap saat setiap waktu kita bisa mendokumentasikan semuanya, tapi meskipun begitu pokoknya tetap harus ada foto bersama, (sekali-sekali gak usah selfi dululah) dan dengan foto jalan-jalan justru akan menjadi pelengkap yang paling manis (meskipun gak harus keluar negeri juga sih) yang penting kebersamaannya dulu πŸ˜‚

    Saya sebenernya salut sama kesayangannya Mba Eno ini yah, pikirannya sangat terbuka karena tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kultur yang justru hanya akan menjadi sebuah kelemahan diri jika harus diikuti. Cowok Korea Limited Edition. 😍😁 Sayang udah ada yang punya. 🀭😁

    Apa mungkin karena Mba Eno juga ikut andil yah sehingga Si Kesayangan ini berbeda dari orang kebanyakan yang ada di Korea? Sepertinya Iya πŸ˜‚πŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Rini, saya pun termasuk golongan yang nggak punya foto ulang tahun hahahahaha dan nggak punya foto keluarga. Seriously orang tua saya nggak pernah foto anak-anaknya, kamera pun nggak minat punya πŸ˜‚ jadi nggak heran yah kalau anak-anaknya pada nggak doyan foto semua, karena nggak terbiasa hahahaha.

      Tapi untungnya, saya bukan tipe yang suka dirayakan ultahnya jadi nggak pernah iri kalau teman dirayakan, saya justru tipe yang sangat menghindari perayaan (makanya di post Airasia, saya sempat tulis kalau nggak mau pergi naik pesawat saat ultah karena nggak mau dikasih kejutan. Wk PD tingkat dewa) 🀣

      Namun, meski saya nggak punya foto keluarga, foto masa kanak-kanak kecuali satu dua foto yang dijepret om tante dan disimpan di rumah simbah... saya tetap bisa mengingat wajah orang tua saya saat sangat muda, dan masih bisa mengingat kenangan indah yang memang bisa saya ingat bersama mereka πŸ™ˆ saya bahkan masih ingat the way ibu memanggil saya untuk pulang ke rumah dan menyuruh saya bergegas mandi karena sudah sore jelang malam hahahahaha. Oh dan saya masih ingat, hari pertama ibu dan ayah ajak saya makan Mcdonalds πŸ˜†

      Tapi memang jaman sudah berubah mba, sekarang semua bisa di-capture apalagi kamera sudah tersemat di ponsel yang memudahkan kita untuk ambil gambar kapan pun kita suka, tanpa harus cuci roll film segala 😁 jadi it's okay banget untuk meng-capture banyak kenangan sama anak-anak tercinta πŸ˜‚ si kesayangan cuma nggak mau pigi jauh-jauh ke luar negeri, tapi anaknya nggak ingat hahaha sedih kalau ada fotonya tapi anaknya nggak ingat itu kenangan apa. Mending diajak pas sudah besar 🀣 tapi bukan berarti dia nggak suka capture memory, karena menurut dia, kita tetap bisa capture memory even saat anak main di playground depan rumah πŸ™ˆ

      Kalau soal saya ada andil apa nggak, sepertinya nggak mba, hahahaha entah deh, sebab dia memang pola pikirnya kadang agak esktrim. Wk. πŸ˜‚ tapi saya rasa, banyak orang Korea yang sepemikiran sama dia, seenggaknya beberapa partners dan teman-teman dia nggak beda jauh polanya hahahahaha 😁

      Delete
  8. Tenyata (lagi-lagi) kita samaan ya Mba Eno, obrolan di luar sana dengan orang lain, selalu dibawa ke rumah untuk bahan diskusi dengan pasangan hihi aku juga selalu penasaran sih dengan sudut pandang dari suami, dan SERINGNYA pun begini, bertolak belakang dengan pendapatku πŸ˜…

    Namun, tentang bawa anak (balita) yalan-yalan ke luar negeri, aku dan suami termasuk kesayangannya Mba Eno punya pandangan yang sama: tunggu mereka besar, at least kelas 1 SD deh πŸ˜†

    Pertama, aku menghindari kerempongan membawa perintilan bayi ke luar negeri, jujur aku gampang overwhelmed. Alih-alih menikmati perjalanan, yang ada fokusku pasti hanya ke si bayik huhu. Kedua, aku dan suami selalu berangan-angan membawa Josh pergi jauhhh ke negara seperti Jepang atau Eropa, namun kami mengurungkan niat tersebut sampai setidaknya Josh bisa makan dengan baik. Karena anaknya picky eater, bring him traveling aboard pastilah sebuah tantangan. Kalo mendadak anaknya cari nasi goreng sosis atau bakmie ayam mamak harus cemana?? 😭

    Tentu aja alasan di atas adalah alasan pribadiku yaa. Aku pun nggak discourage para orangtua di luar sana yang ingin bawa anaknya jalan-jalan sejak bayi pun 😁

    Tentang menerima dan bersyukur itu, BENAR BANGET! Mungkin itu kenapa yaa kita terkadang sulit bersyukur karena kita nggak bisa menerima keadaan sendiri. Kusuka sekali dengan quote yang Mba Eno tulis di atas, di saat kita make peace dengan diri sendiri, kita nggak mudah membandingkan diri atau ngeghibah hidup orang lain ya πŸ™ˆ

    Ah, rasanya seneng banget bisa baca ini pagi-pagi. Makasih Mba Eno dan Mr. Moonlight untuk insight yang luar biasa. Semoga kalian kompak selalu yaa! 😁

    Btw, kok aku ikut terharu pas Mba Eno berhasil menjejakkan kaki di Australia dan langsung kirim pesan ke ibu T__T doa ibu itu luar biasa ya <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes mba, saya hobi bangettt buka obrolan di meja makan hahaha seru soalnya bisa tau sudut pandang pasangan yang mana acapkali berseberangan sama sudut pandang kita 🀣

      Nah, si kesayangan juga maunya tunggu 6 tahun ke atas, itupun mau diajak yang dekat-dekat saja. Pokoknya sampai si anak paham, bisa diatur dan diarahkan, baru akan diajak pergi jauh sesekali apabila ada kesempatan. Ribet banget memang pola pikirnya, tapi masuk akal πŸ™ˆ

      Dan setuju sama poin yang mba Jane jabarkan, bakal pusing ya mba kalau anaknya masih susah diarahkan, mana perintilan bayik kata sahabat saya jauh lebih banyak daripada perintilan anak-anak hampir remaja atau sudah remaja πŸ˜‚ hehehehehe. Dan betul, saya juga nggak discourage teman-teman yang hobi bawa anaknya yalan-yalan dari bayik, karena sejujurnya itu cita-cita saya 🀣 selama ada uangnya, why not kan mba. Justru bisa ikut senang melihat perjalanan teman-teman 😍

      Dulu saya berpikir, bersyukur itu as simple as yasudah bersyukur, tapi kenapa setiap kali saya berusaha bersyukur, tetap masih ada ganjalan (?) dari situ baru saya belajar, dan dia pun kasih tau kalau proses bersyukur itu harus melewati proses menerima πŸ˜‚ setelah tau, saya jadi fokus untuk menerima dulu segala sesuatu yang ada di hidup saya, baik buruknya, terus bersyukur dan pelan-pelan berusaha bebenah. Seperti quote di atas, semacam berdamai dengan keadaan πŸ’•

      Amiiiiin, doa yang sama untuk mba Jane, selalu kompak bersama pasangan tercinta 😍 hihihi, dan iya mba, doa ibu itu luar biasa, mungkin dengan doa mba Jane untuk Josh, one day Josh bisa cus ke Eropa πŸ’ƒ

      Delete
  9. Aku baca post ini pag-pagi juga dan langsung merasa bersemangat untuk memulai hari karena terinspirasi banget sama tulisannya kak Eno huaaaaa!

    Aku sendiri belum pernah kepikiran untuk masa depanku nanti kalau udah punya anak bakalan seperti apa, tapi setelah aku baca tulisan ini, aku merasa ada benarnya apa yang kesayangan kakak katakan. Kesayangan kakak bijak banget ya orangnya! >.<

    Aku sendiri ingat pengalaman pertama ke luar negeri itu saat aku udah usia belasan tahun dan pengalaman itu jadi memori yang sangat berharga buatku meskipun hanya ke SG aja tapi aku jadi bisa lihat dunia lain di luar Jakarta dan langsung melek akan perbedaan yang ada. Kebayang kalau aku perginya pas masih kecil kayak TK atau awal-awal SD, aku mungkin belum tentu ingat akan pengalaman pergi ke luar negeri. Jadi, amat disayangkan juga ya kalau dipikir-pikir. Tapi ini kembali ke pendapat masing-masing >.<

    Dannnn aku sama kesayangan kak Eno sepemikiran dalam hal pasangan adalah center of my life karena aku berpikir kalau anak nanti juga akan meninggalkan ortu ketika dewasa tapi pasangan kita akan selalu ada sampai akhir hayat, jadi kita harus bisa menikmati juga hidup berdua hihihi.

    Terima kasih buat post ini kak! kak Eno kalau nulis selalu menginspirasi aku deh! Aku sayang kak Eno <3 huahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang bacanya, Lia πŸ™ˆ

      Hehehe nanti saat Lia sudah berencana menyusun masa depan, bisa dipilah-pilah lagi mau bagaimana, dan harus didiskusikan sama pasangan yah ~ karena setiap personal punya sudut pandang berbeda, siapa tau pasangan Lia sudut pandangnya justru lebih cocok dengan Lia 😍

      Nah, menurut si kesayangan juga baiknya ajak anak pergi jauh saat usia sudah belasan, karena pengalamannya akan jadi terasa berharga bagi si anak sama seperti yang Lia rasakan ketika pertama kali ke SG πŸ˜† hehehehehe ~

      Betul Lia, alasan dia pun nggak jauh beda hahahaha. Buat dia, anak itu akan pergi meninggalkan orang tua kelak. Jadi jangan sampai atensi diberikan full ke anak terus pasangan terlupakan πŸ˜‚ nanti saat anak-anak sudah pergi dari rumah semua, takutnya jadi awkward πŸ€ͺ

      Sama-sama Lia, thank you sudah membaca 😍 luv yuh!

      Delete
  10. Selalu tertegun sama tulisannya mbk eno😍. Jadi bakalan saya inget juga kalau suatu hari nanti saya udah punya anak saya ajak anak saya jalan-jalan kalau dia udah bisa inget aja. Dan nggak perlu sering-sering, lebih baik nabung buat masa depannya.
    Jadi inget saya dulu nggak pernah hang out sama sekali pas sekolah karena emang nggak ada uang. Tapi saya menikmati hal tersebut dan enjoy sama diri sendiri, bahkan jadi lebih kreatif karena keseringam di rumah aja, belajar nulis, belajar bahasa, atau bikin boneka. Anak rumahan banget pokonya.
    Jadi pas pertama kali masuk mall, saya semacam uwow sendiri. Naik eskalator aja takut ngejungkelπŸ˜‚.
    Makasih untuk cerita inspiratifnya mbk😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, sering-sering ya nggak apa-apa mba, ke taman dekat rumah misalnya 😍 tapi memang iya, menabung untuk masa depan sama pentingnya atau bahkan jauh lebih penting, yah πŸ˜† yang utama dananya dialokasikan sesuai prioritas πŸ˜πŸ’•

      Saya pun sebenarnya tipe yang suka hang out normal ala anak sekolah pada jamannya. Main ke rumah teman, atau main ke mana gitu nggak jauh dari area sekolah atau area rumah hahahahaha ~ tapi memang di-era sekarang agak beda mba, especially karena kemudahan untuk ke luar negeri dan harga tiket yang terbilang jauh lebih murah. Dan nggak apa-apa banget pergi abroad kalau ada budget-nya 😍 hehehe. Saya setuju sama mba, stay di rumah pun bisa kreatif kalau memang ada keinginan πŸ˜†

      Sama-sama mba, terima kasih sudah baca πŸ™ˆ

      Delete
  11. Kalau saya malah ajakan traveling waktu kecil yg bikin saya bermimpi pengen traveling abroad karena sudah merasa "cukup" dengan kondisi alam Indonesia—walaupun seharusnya masih banyak yg bisa dijamah dan disyukuriπŸ˜…. Malah karena sering diajak jalan itu saya selalu pingin menantang diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman dan ngeliat dunia lebih luas. Tapi persoalan saving money and let their kids have their own memories of traveling with parents when they are already grow up is also make sense dan justru menggambarkan bahwa hidup perlu perencanaan dan prioritas, karena prioritas dan perencanaan setiap orang kan berbeda. Salut sih sama mba Eno dan partner😍 Sayapun setelah menikah nanti semoga bisa banyak berdiskusi seperti ini kayak mba Eno, gak cuma hal-hal yg essential atau utama, tapi soal keinginan-keinginan terpendam satu sama lain. Semoga suatu saat impian mba Eno bisa tercapai yaπŸ˜πŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiiih seru mba Awl, tapi memang setiap anak beda-beda yah, baik rejekinya dan proses mengenang sebuah pengalamannya. Ada yang seperti mba Awl dan sohibal-sohibul saya, yang memang orang tuanya suka ajak jalan-jalan dari kecil, dan mereka bisa tumbuh dengan ingatan akan kenangan indah tersebut 😍 hehehehe.

      Iya mba, segala sesuatu memang asiknya kalau direncanakan dengan skala prioritas, agar hidup jadi lebih smooth saat dijalankan πŸ˜† dan seperti yang mba Awl bilang, setiap keluarga punya prioritas berbeda, jadi post ini bukan untuk disagree sama keluarga yang hobi ajak anak jalan-jalan abroad, melainkan lebih ke encourage keluarga yang nggak bisa ajak anak jalan-jalan abroad untuk lebih fokus ke hal-hal yang dibisa πŸ’•

      Amiiiin, pasti bisa mba, asal mba dan pasangan mau sama-sama berusaha untuk mendiskusikan segala sesuatunya. Semangat untuk kitaaaa πŸ˜πŸ’ƒ

      Delete
  12. This is very nice post, Mbak.

    Di lingkungan sekutarku seriiiiin sekali aku bertemu hal seperti ini..mereka berkompetisi.

    Kalaupun ga dalam hal materi kompetisi dalam hal prestasi anaknya, anak menjadi kuda pacuan untuk memenuhi hasrat mereka.

    Kalau bebergian dalam rangkah world education atau pembelajaran, semua menyarankan start usia 7 - 9th karena dia mulai bisa diajak belajar. Sebelum itu, ya emang just have fun mungkin, ya?

    Belakangan, Zafa juga sering nanya kenapa dia belum punya pasport bla bla bla.

    Tapi, pandemi ini meski aku ga punya banyak waktu banget karena kesehatan ga begitu baik alhamdulillah, bisa kasih banyak knowledge ke dia. Dia belajar entrepreneurship dari usia dini untuk belajar menghargai uang, kesabaran dan membangun mimpi serta menciptakan motivasi dalam diri mereka.

    Value di dalam keluarga kami "if you want something you have to earn!" Pokoknya harus ada effort kecuali soal buku, ini kadang kami yang ga bisa resist. Zafa sudah lancar membaca dan suka buku.

    Jadi, suka ngeri sendiri pas harus antar Zafa activity misalnya ketemu para Ibu-ibu yang pada mamerin anaknya bisa ini, bisa itu..eh habis liburan dari sini n dari situ. Karena aku type orang yang aslinya introvert kalau ketemu ibu-ibu agresif macam begini suka keder dan beringsut menyingkir, hahahaha.

    Aku sudah bahagia dan bersyukur banget dengan hidupku intinya, nah Zafa yang ga sekolah pun sekarang harus mulai menerima omongan orang2 yang ngatain dia kok ga sekolah, bla bla bla....bener kata, Mbak, intinya encourage terus anak, meski kadang harus kasih penjelasan yang simple dan mudah difahami itu ga mudah lho πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih bacanya, kasian anaknya kalau sampai jadi kuda pacuan, berkompetisi yang membuat anak jadi tertekan 🀧

      Iyep mba, menurut saya usia-usia pra remaja around 9 tahun ke atas akan jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk diarahkan dan diajak jalan-jalan karena sudah bisa memahami keadaan, serta diajak bicara πŸ˜† entah betul atau nggak, perlu informasi dari teman-teman yang sudah punya anak usia segituan πŸ™ˆ

      Zafa so lucky, karena mba mengajarkan banyak hal ke Zafa dan memberikan motivasi yang besar untuknya 😍 dan soal buku, nggak apa-apa banget menurut saya dibelikan, sepengalaman saya as anak, dikasih buku sama ortu especially karena memang suka, rasanya BAHAGIA πŸ˜†πŸ’• jadi saya yakin Zafa merasakan hal yang sama ~

      Saya senang bacanya mengetahui mba berbahagia di sana. Semoga Zafa bisa tumbuh sehat, ceria dan pintar ya mba, dan semoga mba Hanila bisa terus semangat encourage Zafa ke depannya. It's okay, Zafa akan menjadi anak yang strong karena punya mami yang super duper strong! πŸ₯³ syemangats, mba!

      Delete
  13. aku saamaa dengan mba rey, mrebes mili banyu moto mbakkk
    aku jadi tau sudut padang kesayangan yang emang beda banget sama kebanyakan orang Indo disini, dan aku jadi tau kalau budaya korea sana beda banget dari cara didiknya.
    ada bagian ketawanya juga sih, pas cita cita mbak eno someday pengen ajak anak going to abroad pas masih balita ehh jadi ke-hold dengan pernyataan si pasangan. gapapa mba, cemunguddd

    aku setuju banget kalau kita jangan berlomba-lomba dengan kehidupan orang lain, buat bikin hidup sendiri hepi aja masih butuh perjuangan dan proses panjang

    waktu aku SD, TK, SMP, SMA nggak kepikiran buat going to abroad, palingan sama keluarga diajak ke dalam Indo aja udah seneng. Mungkin karena ilmuku waktu iku nggak sampe luar barangkali dan circle pertemanan yang biasa saja di kota kecil
    waktu kuliah beda lagi, beragam karakter temen dari berbagai daerah di Indo ngumpul dan mulai kenal drakor, atau film film dan mulai membayangkan someday pengen bisa menginjakkan kaki sama kayak di film itu atau yang temen temen post di sosmednya.
    kayaknya didikan nggak semua hal bisa didapatkan dengan mudah hanya bermodal rengekan ke orang tua juga perlu, biar anak juga nggak "dimanjakan" dengan kemudahan gitu
    jadi si anak bener bener bisa mencapai impiannya dengan cara suksesnya sendiri, ada perjuangan, cerita sedih senang yang membawanya sampe ke tahap itu
    jadi inget waktu aku pengen banget ke singapur pertama kali, perjuangan nabungnya, ini itunya. jadi menghela napas hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya dibilang beda banget ya nggak mba, karena banyak ortu di Indonesia yang nggak beda jauh pemahamannya sama si kesayangan πŸ˜‚ dan banyak pula yang jauh lebih tegasssss ~ πŸ™ˆ hahahaha. Ho'oh mba, cita-cita saya mendadak runtuh seketika tapi untungnya saya setuju sama pendapat dia πŸ˜† it's okay-lah, yang penting jalan-jalan sama saya-nya tetap lanjut meski anak ditinggal di rumah sama nenek kakeknya *eh* 🀣

      Yep, memang enaknya kalau kita fokus ke diri kita sendiri instead of terus berlomba sama orang, takutnya sudah capek capek lomba ternyata tujuannya beda πŸ™ˆ amsyong kaaan, hahahahaha. Dan betul yang mba Ainun bilang, didikan kalau segala sesuatu perlu usaha sangat berguna agar anak bisa tumbuh tanpa rasa manja 😁

      By the way, meski ke SG sampai menghela napas, tapi senang kan mba, karena bisa pergi ke sana? Especially karena perjuangan menabungnya yang nggak gampang 😍

      Delete
    2. mungkin bisa diibaratkan kayak peribahasa "rumput tetangga selalu keliatan ijo segerr"
      hahaha waktu ke SG pertama kali waduhhh iya senenggggg wkwkwkwk, mungkin itu yang sampe sekarang jadi negara spesial kali ya

      Delete
    3. Biasanya negara pertama sangat spesial mba, karena banyak perjuangannya untuk bisa sampai sana especially kalau modal sendiri alias tanpa support orang tua 😁 rasanya 'wah!' πŸ’•

      Delete
  14. Aku dari kecil juga ga pernah jalan-jalam ke LN. Bahkan keluar kabupaten aja juga cuma buat mudik, mbak πŸ˜…
    Tapi karena teman-temanku ya sama aja kayak aku jadi ya ga pernah kepikiran juga.
    Mungkin kalau jadi ortu, selain memasukkan nilai seperti yang disebutkan oleh kesayangannya mbak Eno, juga bisa dengan memilihkan sekolah yang sesuai kemampuan baik dari segi fee maupun biaya gaulnya juga kali, ya...
    Masih mending sih kalau pas masih TK-SD gitu... tapi kalau udah SMP ke atas, belajar bergaul juga salah satunya buat belajar memperluas networking di masa depan.
    Kasian aja kalau dia jadi merasa left-out karena ga nyambung sama teman2 sekolahnya.
    Just my two cents, though 😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, iya mba, kalau kata sahabat saya, saat mau cek sekolah jangan cuma dilihat biaya sekolahnya saja tapi biaya gaulnya juga πŸ˜† dan menurut saya ini benar hahahaha πŸ™ˆ

      Dulu untungnya masa saya sekolah, biaya gaulnya nggak mahal. Jadi masih bisa survive ~ πŸ˜‚ dan betul banget mba, networking itu penting, yang mana didapat dari pergaulan, si kesayangan pun sempat membahas hal yang sama. However, networking lebih banyak terbentuk saat usia SMP - kuliah, jadi kata dia, kalau dananya cukup bisa kasih sekolah bagus dari jaman TK, tapi kalau dana kurang, better fokus kasih circle yang oke saat mulai masuk masa SMP. Entah betul apa nggak 🀣

      Terima kasih untuk insight-nya, mba 😍

      Delete
  15. Ini perspektif yang menarik Eno.

    Mungkin follow up questionnya: Kalau kita punya anak, terus orang tuanya kebelet jalan jalan gimana? Bisa kah kita tetap traveling, dengan bawa anak, meski sebenarnya tujuannya adalah agar orang tuanya happy? Anaknya ikut traveling simply karena ga ada yang jagain, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha cencu bisa dong mas, kan kembali sama kesanggupan orang tuanya πŸ™ˆ kalau sanggup bawa anak, dananya ada, why not, demi kebahagiaan kita 🀣 hahaha.

      Si kesayangan bilang di atas karena kasusnya teman saya itu dananya nggak ada, jadi dia bilang begitu dan dia pribadi memang nggak mau jalan-jalan saat anaknya masih kecil sangat πŸ˜‚ paling kalau nanti kebelet, akan dicari jalan ke luarnya πŸ˜†

      Delete
  16. Wah, menarik sekali postingannya.

    Mba Eno, saya tahu apa yang dirasakan temannya Mba Eno karena dulu ada blogger yang curhat sama, anak2 kecil cerita liburan sekolah di luar negeri.

    Soal traveling, saya setuju banget dengan pemikiran suami Mba Eno. Didikan keluarganya bagus banget. Dan ibunya Mba Eno juga keren banget didikannya. Mau saya contek ya, hehehe. Yang mana hal ini lumayan berat diterapkan mengingat gempuran medsos dan persaingan antarortu ternyata juga ada. Haduuuhh. Tapi pasti bisa kalau kita punya prinsip yang kuat.πŸ’ͺ

    Eh, tapi anaknya Mba Eno nantinya sering keluar negeri dong. Kan sering ke Korea-Indo, hayooo, hahaha.

    Btw, saya sepemikiran sama Mas Cipu karena saya nggak ada keluarga di dekat sini bahkan juga nggak pakai asisten yang bisa dititipi anak.

    Seperti biasa, postingan yang bagus banget, Mba. Terima kasih sudah bikin saya tambah ilmu jadi ortu.😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Pipit, holaaa πŸ˜†

      Silakan mba, ambil yang baik buang yang buruk yah ~ πŸ™ˆ dan iya nih mba, gempuran medsos sedikit banyak membuat kita jadi lebih ingin melakukan sesuatu di luar kendali kita *kadang* hahahahaha. Nggak usah yang mahal-mahal, even saat lihat teman makan A jadi ingin ikut makan juga 🀣 jadi memang kita perlu filter kuat untuk tau sejauh apa kapasitas kita dan apa prioritas kita πŸ˜† kalau nggak, bisa berabe sepertinya πŸ˜…

      Wahahahaha kalau ke KR-ID itu bukan luar negeri deh mba, itungannya mudik hahahahaha 🀣 nah kalau mba Pipit sama kayak mas Cipu, nggak apa-apa banget dibawa anaknya, semua akan kembali pada tipe perjalanan dan preferensi masing-masing keluarga 😍 yang penting semua senang mba, ada budgetnya, ada tenaganya, dan ada rencananya 😁

      Delete
  17. Saya setuju untuk tidak mengajak anak bepergian ke luar negeri terlalu dini, kecuali anak diplomat kali ya. Hehe.

    Alasannya sama: kalau terlalu dini juga tidak ada manfaatnya bagi mereka. Selain itu, mungkin bisa diajak berwisata ke tempat-tempat yang dekat dulu, sambil mengajarkan etika berlibur dan berkunjung ke daerah lain.

    K sendiri, sebelum pandemi, baru di sekitaran Jakarta saja liburannya. Pernah ke Bali, untuk bertemu kakek dan kerabat yang lainnya. Tapi setelah dipikir-pikir, dia takkan ingat siapa kakeknya karena masih batita.

    Mungkin nanti, atau tahun depan, atau kapan pun setelah pandemi berakhir, kami akan ajak K 'pulang kampung' ke Bali lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak diplomat beda cerita 🀣 hehehe.

      Saya sepemikiran sama mas Agung, mungkin diajak yang dekat-dekat dulu sambil belajar etika liburan 😍 semoga nanti saat Corona sudah hilang, K bisa datang kembali ke Bali dan ketemu kakek neneknya πŸ˜† lucuk juga K nggak ingat kakeknya siapa hahaha sama seperti saya πŸ˜‚

      Delete
  18. Aku juga punya pikiran yang sama soal anak2 kecil ga usah diajak liburan yg jauh2 dl. Karna aku sendiri mengalaminya mbak Eno. Aku punya foto di banyak tempat di Indonesia, tapi tbh aku gak terlalu punya kenangan akan perjalanan2 itu. Karena satu hal, aku terlalu kecil waktu itu. Akhirnya setelah bisa pergi sendiri dengan uang sendiri, aku ulangin deh pergi ke tempat2 itu hahaha Ketika sudah ngerti dan bisa mengenang, perjalanan jadi lebih bermakna, gak cuma sekadar dokumentasi aja. Beda banget dari segi kenangan. Waktu kecil juga gak diajak rembukan kan mau kemana aja. Selera orang tua aja atau anggapan ortu tentang apa yang bakal kita suka. Jadinya ya bnr2 cuma jadi peserta aja wqwq

    Sejak itu aku berkesimpulan, percuma sih ngajak anak2 kecil jalan jauh2. Mereka gak inget juga hahaha. Seperti yg mbak Eno bilang, buat anak2 tempat tujuan bukan jackpotnya, tapi quality time sama ortu yang mereka mau. Ponakanku selalu ngeluh karna difoto terus sama mamanya kalo lagi jalan2 (drama abad ini, bukan? haha). Sekali waktu dia pernah nyeletuk, mama foto mulu ah, malahan gak ajak aku main. Langsung mamanya auto sadar deh wkwk, untungnya.

    Seingat aku, usia SD kelas 3 itu aku udh mulai memahami tujuan traveling dan menikmati perjalanan beserta kesulitan2nya. Besok2 kalau aku sudah punya anak, mgkn seumuran segitulah baru kuajak yang jauh2. Biar liburan juga bisa dinikmati bersama2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Kartika 😍

      Diulang lagi akhirnya perjalanannya? OMG 🀣 tapi yajuga ya mba, kalau memang nggak ingat apa-apa pasti bawaannya mau mengulang. Even setua sekarang, saya sometimes ingin mengulang beberapa perjalanan saya di masa silam karena nggak ingat hahahahahaha πŸ™ˆ

      Dan iya itu juga alasan si kesayangan baru mau ajak anak setelah agak besar, agar bisa diajak rembukan, mau ke mana, apakah akan ada kemungkinan suka, atau anak justru ingin pergi ke tempat lainnya biar dia bisa browsing sendiri terlebih dahulu hahahaha πŸ˜‚

      Tapi memang era sudah berbeda, sekarang segala sesuatunya terasa lebih mudah didapat, mba πŸ˜† harapannya semoga anak-anak Indonesia tetap bisa mendapatkan jackpot quality time bersama orang tua 😍 meski saya belum ada anak, dan hanya bisa bantu doa 🀭

      Eniho, ada baiknya diajak bertahap, pelan-pelan dari yang dekat, seperti kata mas Agung, dibiasakan untuk liburan, dan tau aturan apa saja yang berlaku saat liburan. Nanti kalau sudah terbiasa baru dibawa yang agak jauhan πŸ™ˆ

      Delete
  19. ah.. benar juga ya. tapi menurutku anak punya daya ingatnya sendiri kok, meski balita. aku bahkan masih ingat dulu masih kecil tinggal di mana karena dulu kami tinggal ngontrak dan pindah-pindah. jadi kalo mau bawa anak balita pergi jalan-jalan juga ndak papa, karena saat usia itu bisa jadi daya ingatnya masih sangat tajam dan akan sangat berkesan..

    tapi anyway, sepakat dengan menerima dan bersyukur..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, nggak apa-apa bangettt apalagi kalau memang hobi dan dananya ada, saya pun cita-citanya demikian 😍

      Tulisan ini hanya bentuk pemikiran dari si kesayangan yang memang nggak berniat bawa anak balita jalan-jalan plus encourage untuk teman saya yang memang nggak bisa bawa anaknya jalan-jalan abroad πŸ˜†

      However apabila teman-teman ada yang ingin bawa anak yalan-yalan, sangat nggak apa-apa πŸ™ˆ karena setiap parents pasti punya gaya parenting personal dan setiap anak pasti punya daya ingat berbeda-beda 😍

      Terima kasih mas Zam untuk insight-nyaaa πŸ˜†

      Delete
  20. Kok aku ada perasaan pengen mewek ya mba baca ini :). Ntah Krn keinget masa kecil, ato Krn sentilan trakhir, apa aku sbnrnya bersyukur dengan hidup yg aku jalanin, ato hanya berusaha berlomba LBH bagus dengan temen2 lainnya...

    Aku baru diajak jalan ke LN Ama papa itu pas SMP awal. Sebelum2nya aku slalu iri ama temen2 yg diajak Ama ortunya liburan ke Jepang, Amerika, Aussie, at least Malaysia lah paling Deket. Aku boro2 :D. Papa bukan g mampu, tp dia punya prinsip LBH suka menabung daripada ngabisin duit utk jalan2. Papa sendiri dulu sering ditugaskan ma kantor utk training di kantor pusat di Amerika dan Jepang. Tapi selama training, ga kayak ortu2 lain, dia ga mau bawa keluarga :D. Alasannya, biar uang tugas bisa ditabung utk kuliahku dan adek2 .

    Bahkan ada masa, di mana aku mengkhayal kalo liburan sekolah tahun itu di ajak papa ke LN, pernah loh :). Saking pengennya bisa sama kayak temen2.

    Tapi pada akhirnya bisa ngerasain diajak papa ke singapur , itu rasanya bahagiaaa banget mba. Walopun Sempet inget kata2 papa, "maaf yaaa kita jalan2 ke LN nya baru bisa skr, cuma singapur pula. Dan papa ga bisa beliin banyak mainan di sini. Tapi papa yakin ntr Fanny dan Astri bisa lebih sering jalan2 ke LN nya". Doa yang bener2 terkabul setelah aku kerja :).

    Setelah mampu pergi sendiri, trutama aku bersyukur dpt suami yg ortunya diplomat, sehingga buat dia jalan2 itu udh kayak kebutuhan. Jadilah aku dan suami klop, sesering mungkin traveling dan ajakin anak. Hanya saja, si bungsu Ampe skr blm pernah ke LN, Krn badannya sedikit ringkih mba. Beda Ama kakanya yg bener2 pecinta traveling, si adek terpaksa hrs nunggu sampe bdnnya aku anggab kuat utk diajak jalan jauh. Beberapa kali dia diajak ke Medan, solo, Sibolga, itu selalu sakit ujung2nya. Gimana cerita aku bawa ke Jepang dll :D.

    Mungkin bisa jadi, aku ajakin si Kaka traveling sejak umurnya 10 bulan, krn terobsesi keinginan masa kecilku. Di umur yg baru 7 thn, si Kaka udh traveling 10 negara, sementara aku umur segitu kayaknya baru sampe bali doang paling jauh hahahaha.. walopun ga tiap saat sih aku ajakin anak pas jalan2.

    Krn pas mau nikah, kami bikin kesepakatan harus ada waktu minimal setahun sekali hanya traveling berdua dengan suami, tanpa anak2 ikut. Utk refresh hubungan sih. Penting itu.

    Tapi selama pandemi ini, nth kenapa semua prioritasku berubah mba. Yg tadinya traveling itu kebutuhan pokok, wajib nambah 1 negara baru tiap tahun, skr aku ga mikir begitu. Aku jadi ga ngoyo. Ga maksa harus bisa traveling lg stiap tahun. Malah jd kepikiran gimana caranya setelah pandemi ini jalan2nya harus bareng anak dan pak suami, even cuma ke negara yg aku udah pernah datangin. Yg ptg bisa bareng semua.

    Kalo soal temen2 para krucil yg bakal pamer liburan kemana tahun ini, Alhamdulillah yaaa, Krn si Kaka aku masukin ke negeri, ga ada ngalamin hal begitu hahahaha. Secara temen2nya ga semua orang kaya juga. Beda Ama ponakanku yg sekolah di sekolah swasta mahal, yg mana ultahnya aja goody bag dikasih voucher hotel mewah wkwkwkwkwk. Aku ga pengen anak2ku sekolah dengan lingkungan begitu :D. Yg ada either anak2ku jd ga PD, atau jiwa bersaing mereka jadi makin tinggi.

    Kenapa aku ngajakin anak2 traveling sejak kecil, itu lebih karena pengen ngenalin mereka kalo dunia ini ga sempit. Kalo budaya di luar sana ada banyaak yg bisa kita contoh. Walopun berbeda kulit, beda culture , agama dan lainnya. Tapi alasan kenapa aku ajakin Kaka jalan2 saat masih bayi, padahal udah jelas dia ga bakal inget, itu Krn papinya ga tega ninggalin huahhahahahaha. Kalo aku mah, tipe lebih tega mba :p.

    ReplyDelete