Know Your Worth | CREAMENO

Pages

Know Your Worth




Gue nggak tau apakah punya pasangan Korea sebegitu menariknya buat pembaca, tapi gue sering dapat pertanyaan soal, "Bagaimana caranya punya pasangan Korea?" dan yang tanya kebanyakan masih muda which is seharusnya fokus pendidikan lalu kembangkan karir dulu, baru berpikir ke arah lainnya πŸ™ˆ as you guys know, gue pernah tulis post soal Put Some Efforts yang topiknya nggak jauh-jauh dari persoalan Korea, dan disitu gue sudah jelaskan kalau kita perlu tau value kita apa sebelum melangkah jauh ke arah sana πŸ˜‰πŸ‘Œ dan ini nggak cuma berlaku untuk yang ingin cari pasangan Korea, tapi juga untuk pasangan Indonesia dan negara lainnya 😁

Plus gue sejujurnya bingung bagaimana harus jawab pertanyaan di atas, karena sepengalaman gue (yang tentunya setiap dari kita pasti punya pengalaman berbeda-beda) ~ si kesayangan datang ke dalam hidup gue, mengajak gue untuk berbagi cinta dan setelah gue check kualitasnya (realistis bok!), ternyata kami bisa bersama, jadilah kami bersama sampai sekarang hingga maut memisahkan. Jadi bagaimana bisa gue jawab pertanyaan kalau gue sendiri nggak tau caranya πŸ˜‚ yang gue tau, gue hanya fokus pada karir gue, hidup gue, value gue, menjadi the best version of myself, dan si kesayangan lihat itu semua yang membuat dia akhirnya memilih gue sebagai masa depannya.

Terus, apakah gue langsung loncat-loncat kegirangan ketika tau kalau gue disukai orang Korea? CENCU TIDAK ~ gue nggak lihat darimana dia berasal. Yang gue lihat adalah kualitasnya sebagai manusia, pola pikirnya, usahanya dalam menjalani hidup, dan banyak pertanyaan seperti apakah dia bisa bertanggung jawab? Bagaimana masa depan gue bersama dia? So on πŸ™ˆ karena gue cari pasangan untuk puluhan tahun ke depan dan gue ingin pasangan gue bisa jadi partner dengan visi misi dan value yang sejalan. Bukan buat menaikkan taraf hidup gue seperti harapan kebanyakan yang bertanya dan berpikir kalau hidup sama orang Korea maka akan mengubah nasib jadi princess macam di drama-drama. Not at all, sebab dari sebelum gue ketemu dia, hidup gue sudah sangat baik-baik saja 😬

That's why, setiap kali ada yang cerita ke gue mengenai pengalaman buruknya bersama Korean entah ghosting, PHP, blablabla, gue cuma bilang kalau nggak semua orang Korea serius dalam menjalin sebuah hubungan means jangan berharap banyak. Apalagi jarang ketemuan, terus kenal dari sosial media, akan butuh efforts lebih untuk kroscek semuanya, jangan sampai beli kucing dalam karung, especially kalau nanti dibawa tinggal di Korea. Salah-salah yang ada jadi samsak! πŸ˜‘ mana tau pasangan ternyata suka pukul orang. Terus kalau ternyata pasangan nggak punya karir bagus bagaimana, siap hidup kurang? Masih better kekurangan di Indonesia, ada keluarga (meski baiknya nggak bergantung keluarga) dan orang Indonesia cenderung murah hati dalam membantu sesama. Lha, kalau di Korea? Susah.

Sering gue lihat berita, ada cewek ditinju sama pasangannya karena nggak bisa bahasa Korea dengan baik dan benar, jadinya komunikasi berantakan. Padahal harusnya si pasangan juga belajar bahasa dari negara si cewek, tapi nyatanya nggak semua mau dan memaksa si cewek yang belajar bahasa 🀯 terus ada juga yang habis didaftarkan asuransi nggak lama kemudian dibunuh, dan dibuang mayatnya 🀧

Belum lagi permasalahan kultural seperti bully, dipandang sebelah mata karena berbeda, dan dihina dina. Banyak hal buruk bisa terjadi kalau kita nggak hati-hati dalam menentukan masa depan kita dan membiarkan hidup kita berjalan bersama orang yang salah πŸ˜‰ dikira polisi Korea akan selalu membela foreigners seperti kita? Yang ada mereka bela warga negara mereka. Karena lagi-lagi faktanya, nggak semua orang Korea sebaik yang dibayangkan πŸ˜…

Di Korea even ada broker pernikahan untuk orang-orang lanjut usia yang nggak punya pasangan. Mereka akan dicarikan pasangan entah dari Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Filipina (bahkan baru-baru ini masuk ke Indonesia) dengan iming-iming uang mahar besar (padahal menurut gue nggak besar-besar amat). Well, kalau sudah begini gue cuma bisa bilang, jangan mau jadi pengantin bayaran! Dikata hidup sama aki-aki enak apa. Jangan hanya karena uang nggak seberapa, jadi gelap mata dan mengorbankan hidup yang dipunya. Beda cerita kalau memang cinta yang gue rasa akan sangat jarang ada πŸ™ˆ intinya know your worth agar hidup berjalan sesuai harapan.

---

Gue juga nggak mau asumsi 'memiliki pasangan Korean itu artinya menumpang hidup sama mereka' selalu ada di benak orang-orang πŸ™ˆ karena banyak yang berasumsi demikian, even di Korea, mixed selalu dianggap sebelah mata apalagi mixed ASEAN. Mereka selalu berpikir kita memilih pasangan Korean karena kita ingin mengubah nasib kita (remember, cuma kita yang bisa ubah nasib diri sendiri jadi jangan bergantung ke orang). While faktanya kita nggak seperti yang mereka pikirkan dan seharusnya memang nggak 🀭

Dan nyatanyaaa, gue punya banyak kenalan Indonesian berpasangan Korean dan teman-teman ini berkompeten semua, punya karir bagus (dari mulai dokter, business owner, pegawai BUMN, etc.) pun ada yang stay at home woman / mom dengan value dan prinsip yang bagus dan hidupnya bahagia jauh sebelum ketemu sama pasangan mereka πŸ’•

Albeit, salah satu cara agar orang-orang nggak memandang sebelah mata, adalah dengan menaikkan kualitas dan value kita (seperti yang pernah gue bilang), serta bagaimana kita membawa diri kita di depan khalayak. Caranya? Sekolah yang tinggi, kejar karir, kalau nggak bisa sekolah tinggi, coba buka buku, Youtube, Podcast, blog, dan kalau pun nggak punya kesempatan berkarir, tetap upgrade kualitas otak kita menggunakan waktu yang kita punya untuk memilih bacaan tepat serta berinteraksi dengan orang tepat πŸ˜‰ pun belajar fokus mengulik topik-topik positif (hobi, etc.) dan membangun pola pikir kita, karena dari apa yang kita baca, lihat, ucap, hingga bagaimana kita bersikap, itu akan membentuk diri kita ke depannya.

Intinya ada banyak cara level up terlepas kita berkarir atau nggak, dan terlepas kita sekolah tinggi atau nggak, it's all thanks to DIGITAL ERA seperti sekarang yang apabila kita gunakan dengan sebagaimana mestinya maka akan memberikan manfaat untuk hidup kita 😁 dan gue pribadi walau nggak suka membahas soal 'kejelekan' di blog gue, tetap mau warning siapapun yang ingin cari pasangan mau itu Korean atau negara lainnya untuk tetap hati-hati di manapun berada. Though gue nggak ada pengalaman dengan negara lain, jadi cuma bisa bahas Korea, gue bisa bilang kalau di Korea yang nakal, jorok dan brengsek banyak. Intinya jangan gampang baper karena gombalan sebab bisa saja gombalannya disebar ke 100 orang *gubrak!* πŸ˜‚

---

Gue nggak pernah mempermasalahkan preference orang, karena ada yang memang preference-nya Korean, American, Indonesian, European, etc, yang gue permasalahkan cuma kalau jadi gelap mata akibat dari preference yang dipunya ~ mau punya preference Korean silakan, tapi cari dengan cara yang tepat, kalau perlu cari beasiswa S-2 buat coba hidup di Korea dan lihat serta rasakan langsung hidup di Korea. Atau coba lamar kerja di perusahaan Korea yang ada di Indonesia untuk tau sedikit banyak karakteristik mereka, siapa tau dikirim ke kantor pusat yang ada di Korea terus ketemu jodohnya di sana 😬

Nggak bisa dua-duanya, cuma bisa cari di sosial media? It's okay, tapi seleksi dulu jangan semua asal diterima πŸ˜‚ atur value dan batasan sebelum berinteraksi dengan mereka πŸ˜‰ apa value dan batasannya? Teman-teman sendiri yang tau, semisal nggak bicara soal sex / nudes (I told you guys, banyak yang pervert!), atau semisal begini dan begitu, atur sesuai kebutuhan. Lalu jangan easily baper, mereka kebanyakan mulut manis semua tapi bisa kelihatan yang manis betulan dan yang cuma berniat tebar kait untuk memerangkap 'ikan'.

Makanya, jadi pintar itu wajib hukumnya 🀭

Dengan teman-teman memiliki value dan batasan, orang-orang yang berinteraksi dengan teman-teman akan tersaring dengan sendirinya. Baru dari situ penjajakan dan perkenalan, butuh proses intinya, dan nggak perlu gegabah apalagi cepat-cepat ingin berpacaran 😁 nggak guna punya status kalau ketemu nggak pernah. Jadi better berteman dulu sebanyak-banyaknya sambil lihat mana yang memberi efforts besar seperti terbang ke Indonesia πŸ˜‚ dan saat mereka bersiap-siap, teman-teman juga bisa bersiap-siap. Upgrade, level up, and put some more efforts untuk hidup yang dipunya 😬 begitu, yah ~

---

Eniho, kenapa gue nggak bahas hal yang jeleknya di blog gue, karena selama ini gue nggak pernah mengalami secara langsung (most case hanya lihat diberita), jadi gue nggak bisa dan nggak mau bahas sebab bukan berdasarkan pengalaman personal πŸ™ˆ gue beruntung, karena circle Korean gue adalah profesional pada bidangnya (para partners) dan teman-temannya si kesayangan pun tipe Korean yang baik dan menghargai gue meski gue beda nationality sama mereka ~ gue juga nggak pernah di-bully atau direndahkan dan gue bisa bergaul dengan circle Korean tanpa hambatan. Bisa dibilang, gue mampu membawa diri gue tanpa melupakan value dan prinsip yang gue punya πŸ˜„

Nonetheless, semua itu butuh proses, dan prosesnya nggak sebentar. Proses untuk membawa diri gue bisa selevel sama mereka dari sudut pandang mereka terlepas bisa jadi level gue lebih tinggi misalnya, dan proses untuk nggak dipandang sebelah mata hanya karena darimana gue berasal (yeah, first impression problems) yang gue lakukan dengan usaha bertahun-tahun lamanya. Karena gue aware, orang-orang akan selalu bias dengan stigma dan persepsi yang mereka punya, dan tugas gue adalah menunjukkan bahwa nggak semua itu benar dengan jaga sikap. Seenggaknya, dari yang gue tau, orang Indonesia masih cukup dikenal sebagai orang-orang yang sopan dan ramah, yang bicaranya lembut dan pelan meski ada pula buruk-buruknya 🀣

After all, jawaban gue mungkin nggak bisa memuaskan teman-teman yang tanya, however semoga gambaran yang gue berikan membuat teman-teman lebih bijak dalam mengambil sikap yang menyangkut masa depan teman-teman semua 😍 karena kalau kita punya value, prinsip, batasan, dan tau bagaimana cara bersikap, kemungkinan kita mendapatkan pasangan yang tepat lebih besar. Dan pastinya jangan lupa hargai diri kita, dan jangan merendah hanya karena ingin punya pasangan Korean atau negara lainnya sampai nggak lihat sejauh apa kualitas orangnya. Apalagi lupa prinsip dan value yang dipunya lalu menjadi gelap mata karena cinta 😁 pssssttt, cinta doang nggak bisa kasih makan gaes, seenggaknya di Korea begitu adanya 🀣

Sekian.

54 comments:

  1. Ngomongin masalah pasangan atau pendamping itu emang ada ketakutan2 tersendiri, What if I marry the wrong person? Seperti yang mba bilang nikah itu mencari seseorang yang mendampingi kita seumur hidup, nggak cuman sehari dua hari, seseorang yg kita ajak bercerita ketika udah nggak ngapa-ngapain lagi di masa tua.

    Dan saya berpikir alasan kenapa anak muda sekarang obsess banget punya pasangan orang luar adalah mungkin dipengaruhi yutub, banyak banget konten2 marriage couple yg beda negara berseliweran disana. Saya sendiri tidak pernah terpikir menikah dg orang luar, karena kebayang rumitnya gimana, kita harus bisa memahami satu sama lain, sedangkan yg satu bangsa dengan bahasa yg sama, budaya yg sama, kita masih sulit menjelaskan ketika terjadi kesalah pahaman, apalagi yg beda negara. Kalau misalkan bahasa Inggris kadang bahasa Inggris juga tidak selalu bisa mewakili perasaan kita. Susah. Apalagi kunci terjalinnya hubungan yg baik adalah komukasi yg baik.

    Setuju sama mbak Eno bahwa kita memang bener2 tahu dulu kualitas kita seperti apa, menjadi pintar itu penting. Saya juga sempat baca masalah pengantin bayaran itu mba yg ujung2nya berakhir kekerasan, kalau udah gitu mau nyalahin siapa? Negara sendiri pun juga susah membela karena dari awal prosesnya aja sudah illegal. Miris sih, terakhir data yg saya baca perempuan yg menjadi pengantin bayaran seperti itu memang latar pendidikannya rendah sih, yaitu tadi, jadi pintar wajib. Nggak tahu lagi deh mau ngomong apa hahaha, tapi keseluruhan saya setuju sama mbak Eno. Thanks uda mau berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketakutan itu pernah saya rasakan juga, mba 😁

      Tapi berjalannya dengan waktu, dan doa, hati kita akan diyakinkan pada satu anak manusia yang tepat hehehehe. Terus saya pernah baca, kalau tugas kita dalam sebuah hubungan adalah menjalaninya, merawatnya, dan menjaganya, 'disetiap waktu' (ini yang ditekankan karena paling sering dilupakan -- alias hanya excited di awal-awal saja katanya πŸ˜‚), tentu sesuai dengan value, jadi kalau pada akhirnya kita bertemu dengan seseorang yang menurut kita wrong person, kita sedikit banyak sudah tau harus melakukan apa untuk menghadapi hal itu ~ πŸ˜†

      Iya, sepertinya pengaruh gempuran informasi di sosial media membuat kita kadang jadi nggak bisa menjejak realita. I'm sure, siapapun yang berbagi kisah mereka (mau itu di Youtube, blog, Insta, etc.), pasti itu nyata mereka rasakan dan sesuai pengalaman mereka. Tinggal bagaimana kita menyerapkan, apa mau ditelan mentah-mentah atau dipilah sesuai hidup kita. Karena kadang apa yang ada di sosial media, bisa jadi nggak 'fit' ke hidup kita, and vice versa πŸ˜πŸ’•

      Sangat disayangkan kalau ada yang rela jadi pengantin bayaran hanya demi uang yang nggak seberapa. Meski mungkin mereka rela melakukannya karena himpitan biaya, tapi semoga mereka masih sayang diri mereka dan nggak mempertaruhkan nyawa serta masa depan mereka pada hubungan yang salah πŸ™ˆ berharap betul, ketika akhirnya memutuskan untuk bersama seseorang, mereka bisa bersama dengan orang yang betul-betul menyayangi mereka dalam suka maupun duka πŸ’•

      Eniho, semoga mba bisa diberikan garis jodoh pasangan yang sesuai dengan kriteria mba, bisa membimbing dan memimpin mba serta bertanggung jawab untuk keluarga. Dari manapun asalnya. Yang terpenting bisa berbahagia bersama selamanya 😍 amiiiin ~

      Delete
    2. Amiin mba, semoga doa yang baik-baik juga kembali pada mba

      Delete
    3. Amiiiin mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  2. Didaftarin asuransi, dibunuh, terus dapat duit dari klaim asuransi ya. Kepikiran aja ya sama orang buat nyari cuan dengan cara begitu :/

    Btw, kalau di Korea, sebelum melangsungkan pernikahan ada sesi bimbingan pra nikah (kalau di kita kaya dari KUA) gitu juga ga Mba buat kedua calon pasangan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Niatnya begitu, tapi ended up nggak dapat duitnya πŸ˜‚ karena ketauan duluan sebelum uangnya dicairkan hahaha. Parah banget kan, segala cara dihalalkan, ck ck ck 🀦‍♀️

      Kalau bimbingan tergantung regional dan kepercayaannya juga ~ ada yang nggak pakai dan ada yang pakai, mengikuti aturan yang berlaku di wilayah setempat hehe. Di Korea itu menikah terbilang gampang, apalagi kalau sesama Korean, beda sama Indonesia yang prosesnya panjaaaaaang πŸ˜†

      Delete
  3. Maap, aku auto nyanyi "Know Your Worth"-nya Khalid gara-gara baca judulnya 😝

    Akutu senang sekaligus bangga banget, karena Mba Eno nggak bosen-bosen menyelipkan pesan "know your value" dan "be the best version of yourself." Karena dengan membangun diri kita sendiri, secara nggak langsung hal-hal baik mengikuti nggak sih? Termasuk mungkin pasangan hidup.

    Aku nggak pernah bisa membayangkan menjalin hubungan seperti Mba Eno dan pasangan. Buat aku aja yang rasnya sama, kewarganegaraanya sama, tetap aja tuh ribet karena punya latar belakang yang berbeda πŸ˜‚

    Tapi menurutku pribadi, visi dan misi yang sama (dengan pasangan) itu akan membantu jalannya hubungan lebih mudah. Kesulitan sih pasti ada. Tapi dengan adanya tujuan yang sama, hubungan pasti lebih terarah dan apapun rintangan di depan pasti bisa dilewati bersama.

    Tips meningkatkan kualitas otak itu juga setujuuu banget! Buatku sendiri sebagai stay at home mom, aku banyak belajar dari internet. Entah baca artikel, blog, denger podcast, maupun konten Youtube yang membahas productivity, misalnya. Bahkan sekarang online course merajalela. Tinggal keluar uang sekitar 200rb, ilmu pun didapatkan. Jadi meski judulnya di rumah aja, otak aku pergi melalang buana ke sana ke mari untuk mencari ilmu di dunia maya hihi

    Terima kasih udah berbagi ini, Mba Eno! Semoga tulisan ini berguna untuk para muda-mudi di luar sana yang sedang galau mencari cinta, tapi nggak lupa untuk terus meningkatkan kualitas diri πŸ˜†

    Oh ya, sebagai penutup, ini aku kutip dari lirik lagunya Khalid: "Find someone you loves like you're worth" ❤

    Btw, sepertinya udah lama Mba Eno nggak menulis untuk kategori Moonlight πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiakkkhhhh πŸ˜‚

      Iyaaa mba, menurut saya, nggak ada ruginya untuk upgrade kualitas diri kita terlepas sekarang sudah berentet statusnya (seperti roles yang mba tulis di blog mba) πŸ™ˆ karena dengan kita terus belajar be the best version of ourselves, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya dan tentu hal tersebut akan sangat berpengaruh ke orang-orang di sekitar kita 😍

      Hehehehe, setuju mba, visi dan misi yang sejalan akan memudahkan kita untuk menjalani kehidupan karena kita jadi punya sikap yang sama dalam menghadapi persoalan-persoalan krusial πŸ˜† hehehehe. Meski pada prosesnya pasti akan ada perbedaan di sini dan di sana, tetap selama dalam ruang lingkup visi dan misi yang sama, semua akan baik-baik saja 🀭

      Nah itu dia mba, nggak ada alasan sebenarnya untuk belajar, mau kita hanya di rumah nggak bekerja, atau nggak bisa sekolah setinggi-tingginya, ilmu itu akan bisa didapat kalau kita mau usaha. Apalagi era digital sekarang, segala sesuatu jadi lebih mudah. Mau cari ilmu bisa ke Youtube, Blog, Podcast, bahkan di IG banyak yang berbagi ilmu juga dan tentunya berkualitas. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan sosmed yang dipunya πŸ™ˆ

      Amiiin terima kasih mba Jane sudah baca hihi. Jatuh cinta itu bukan sesuatu yang salah asal diselaraskan dengan usaha untuk terus meningkatkan value, kualitas, dan prinsip kita 😍 terima kasih juga untuk lirik lagunya, semoga teman-teman yang baca bisa memaknai lirik tersebut dengan hati besar πŸ˜†πŸ’•

      Ps: Moonlight terakhir 2 minggu lalu kayaknya, mba 🀣

      Delete
  4. Setuju banget dengan apa yang dituliskan Mbak Eno di postingan ini. Kita harus punya value dan batasan-batasan sama kita sendiri. Sampai sekarang pun aku masih terus belajar mengenal diriku sendiri, batasan-batasan yang harus kutentukan terutama dalam memilih pasangan hidup nantinya. Hingga sampai diketawain sama teman, kok sampe sekarang masih santai-santai aja meski single, hahaha.

    Nggak ada minat sama sekali untuk berpasangan dengan orang bule, karena menyadari bahwa nantinya banyak hal yang berbeda, entah dari sifat, budaya, dan kebiasaan. Apalagi aku sendiri nggak terlalu jago bahasa inggris, malah nanti bingung kalau komunikasi huhuhu.

    Terima kasih telah menuliskan ini, Mbak. Sebagai pengingat diri sendiri menjadi bekal juga :D

    Sukses selalu, Mbak Enooo <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibuat pelan-pelan mba Andhira, sambil belajar mengenal diri mba dari situ mba bisa tau value dan prinsip yang mba punya dan bisa dijadikan pegangan ke depannya πŸ˜‰ jangan pedulikan yang ketawa, namanya pilih pasangan itu sebisa mungkin harus dipikirkan dengan matang, bukan karena tuntutan kiri dan kanan. Karena nanti kita sendiri yang menjalaninya mba, apabila gagal, kita pula yang akan memikul bebannya πŸ™ˆ

      Sama orang Bule atau Indonesian sekali pun, tetap usahakan punya rencana jangka panjang dengan visi misi yang dipunya. Nanti kalau ketemu jodohnya bisa mulai dibahas, disetarakan, dan dicari titik tengahnya 😍 agar perjalanan jadi jauh lebih ringan, seenggaknya mba Andhira jadi punya koridor dan sadar kalau ada yang melenceng dari koridor yang dipunya πŸ˜† hehehe.

      Saya menulis ini pun karena belajar dari nasehat-nasehat yang lebih senior dan saya rangkum mana-mana yang memang sesuai dengan value saya 😁 jadi it's okay untuk nggak setuju atau hanya mengambil sebagian. Yang terpenting pilihlah yang paling 'fit' untuk mba Andhira. Semangat terus, mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  5. Banyak ya kak orang-orang yang istilahnya demi memperbaiki keturunan, rela banget dengan sistem nikah kontrak gitu, asal aja gitu, ada juga yang sama aki-aki, duhh harus aki-aki banget? Wkwkw
    Sampai rela dipukulin, dan kdrt karena dipikir asal sama orang luar negeri, derajat mereka bisa bertambah tinggi, hidup mereka setidaknya bisa lebih baik padahal nggak melulu kayak gitu. Suka sedih kalau denger orang ngomong kayak gini, hidup mereka seakan nggak ada nilanya 😭

    Terima kasih Kak Eno buat postnya! Kakak selalu bikin post yang bervalue terus deh!! Duh jadi makin sayang sama kak Eno πŸ™ˆπŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia, padahal uang mahar yang nggak seberapa itu kalau dibawa ke Korea juga bisa habis dalam waktu 2 bulan πŸ™ˆ kelihatan besar kalau di-convert ke rupiah, padahal aslinya nggak besar-besar amat. Makanya kawatir kalau banyak cewek jadi tertarik ikut begituan demi niatan memperbaiki hidup, takutnya bukan hidup enak yang ada hidup semakin susah di negara orang 🀧

      Duuuuh, jangan pernah terima KDRT apalagi cuma demi derajat. Siapa sih yang peduli sama derajat. Tetangga juga mungkin nggak peduli, jadi jangan sampai ada yang rela di-KDRT cuma demi derajat 🀦‍♀️ membayangkannya saja sudah sakit kepala kakak. Ehyuuuuuu. Semoga yang berniat ambil cara kilat bisa berpikir ulang. Seriously cari pasangan jangan dibuat mainan 😭

      Sama-sama Lia, terima kasih sudah baca, sayang πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. Memang kalau uang luar diconvert ke Idr tuh rasanya besar banget ya, kayak mendadak jadi orang kaya padahal kalau di negara aslinya mah nggak ada rasanya πŸ˜‚

      Bener! Semoga orang-orang pada sadar ya, terutama wanita soalnya lebih banyak wanita yang jadi korban kalau dalam hal seperti ini 😭

      Sama-sama kak eno sayang #ehh semoga oppa kakak nggak marah nih dipanggil sayang-sayang 🀭

      Delete
    3. Iya hahaha, kalau uang IDR ke VND juga berasa kaya πŸ˜‚

      Amiiiiiin, semoga semua lebih aware untuk menjaga diri di mana pun berada, dan semoga bisa diberikan garis jodoh, pasangan, belahan jiwa yang sesuai dengan prinsip dan value kita serta visi misi yang sejalan. Doa yang sama untuk Lia juga πŸ˜πŸ’•

      Hahaha, no worries, si kesayangan nggak akan marah πŸ˜‚

      Delete
  6. Setuju banget sama postingan Eno. Know your worth.

    Nah kalau saya ada satu tambahan lagi, selain kudu pintar, yaitu kudu bisa berpikir logis. Bertemu di sosmed trus mengiyakan ajakan dari orang luar dan belum pernah bertemu itu bisa berujung penipuan, bagus kalau cuma duit, kalau berujung ke nyawa? wah bisa berabe.

    Thanks for sharing this Eno. Semoga ini bisa membuka mata mereka yang menganggap semua yang berasal dari Korea itu sempurna karena kebanyakan nonton Drakor dan dengerin K-Pop heheheheh. Setuju sama Eno deh, kewarganegaraan itu bukan yang paling utama, yang harus dilihat duluan adalah kepribadiannya tsaaaah

    ReplyDelete
    Replies

    1. Terima kasih, mas Cipu πŸ™ˆ

      Iya mas, berpikir logis penting bangettt. Dan sebenarnya boleh banget punya preference Korean, asal dipilah-pilih, jangan asal mau semuanya tanpa dilihat kepribadian orangnya. Apalagi kalau usia terpaut sampai 30 tahunan 😭 jauh banget, bagaimana bisa menghadapi culture gap pada sebuah hubungan. Huhuhu. Semoga siapapun yang sedang mencari jodoh, bisa bertemu dengan orang yang tepat πŸ™ˆ

      Delete
  7. saya juga nggak mempermasalahkan preference orang dalam memilih pasangan, mau suka lokal atau interlokal ya silakan saja, tapi masalahnya di Indonesia ini banyak bule hunter (dan sekarang korean hunter juga) yang terlalu cheesy.

    saya punya beberapa kenalan yg dpt pasangan cowo bule dan mayoritas sih mereka emang punya passion yg sama, dan kebanyakan memang si cowo duluan yg deketin. lalu ada satu yg cerita kalau dia suka ditanya2in org2 ttg "gimana sih cara dpt pasangan bule?", dia aja sampe "tepok jidat" harus jawab apa saking banyaknya pertanyaan gak berbobot. dan malah ada jg yg udh tau tu bule (suaminya) udh punya istri, masih ada aja ciwi2 indo yg kegenitan nge-dm dan sebagainya.. haduuuuh mereka yg begitu aku yg maluu :( ..

    maap mbak klo bahas yg gini2 suka agak2 emosi aku haha.. sepertinya inlander mentality di Indonesia ni masih kuat bgt mengakar ke dalam sukma, mengalir bersama darah. sedih akutuuu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wekekeke cheesy kraft bukan, mas? πŸ˜‚

      Saya pada awalnya merasa wajar kalau ada yang penasaran dan ingin tau bagaimana caranya 😁 mungkin karena interest jadinya bertanya ~ tapi menurut saya bertanya soal cara itu sulit untuk dijawab, karena yang diberikan pertanyaan juga bingung mau jawab apa πŸ™ˆ

      Eniho, teman saya punya pengalaman hal sama ketika pasangannya di-DM oleh beberapa orang padahal jelas-jelas tertulis kalau pasangan teman saya ini sudah berkeluarga πŸ˜‚ kadang memang banyak yang nekat, mas πŸ˜… entah karena betulan nggak tau atau nggak peduli yang penting bisa kenalan πŸ™„

      Hahahahaha, iya mas Bara nggak apa-apa, silakan tumpahkan emosi mas di kolom komentar agar teman-teman yang sekiranya baca mungkin mendapat gambaran lebih jelas 🀭 dan semoga, menjadi lebih baik lagi ke depannya 😍

      Delete
  8. Ini wajib di share! wajib! wajib! wajib! hahaha.

    Jujur sebenarnya ini hal yang mau iseng saya tanyain ke Eno, ada nggak orang-orang yang kepo dengan Korea, terlebih sekarang Eno tuh udah terkenal banget di dunia blogger, banyak yang bahkan DM saya nanya Eno, mereka penasaran banget, sosok aslinya Eno itu, nama aslinya.

    Terus saya ngakak bacanya, mereka pikir saya ini kakaknya Eno kali ya wakakakak.
    Jadi saya balas, samaaa... sayapun juga mengira-ngira siapa sosok asli Creameno itu, yang jelas saya tahu dia salah satu orang terbaik berhati malaikat yang saya kenal, dan saya nggak peduli dengan sosok di baliknya, saya menghormati keputusan Eno tidak membuka jati dirinya, karena itu yang ternyaman mah it's OK.
    Ternyata mereka kebanyakan penasaran, karena pengen tahu lebih dalam mengenai kesayangan Eno yang beda negara gitu.
    Terlebih Korea.

    As we know ya, zaman sekarang, level bucin orang Indonesia itu udah sedikit mengkhawatirkan sih menurut saya.
    Karena saya pernah jadi abege, dan saya tahu banget bagaimana rasanya mengidolakan seseorang.

    Saya dulu cinta mati sama Andy Lau, semua posternya bahkan di kertas terlecekpun saya ambil dan koleksi.

    Tapi semua berubah setelah saya kuliah, rasanya sejak itu saya udah nggak punya idola.

    Lah ini, sampai mamak-mamakpun mengidolakan Koreaahhh hahaha.
    Dan idolanya tuh bisa dibilang bucin banget.
    Makanya, kalau ada yang penasaran dengan pasangan Eno, saya udah bisa nebak sih, itu bakalan terjadi hahaha.

    Kalau menurut saya, yang begitu rajin membahas mengenai tema marriage di blog saya, semata-mata untuk berbagi kepada adik-adik yang belum menikah, bahwa dunia menikah itu tidaklah seenak enaena yang dibayangkan aja.

    Dan benar kata Eno, kalau susah di Indonesia masih bisa ada harapan ditolong keluarga, kalau di negeri orang?

    Lah bahkan di Indonesia aja, aselih bikin stres, menikah dengan sesama orang Indonesia, beda pulau aja stres, apalagi beda negara hahaha.

    Meskipun juga ada beberapa sih yang beruntung kayak Eno, kayak yutuber-yutuber yang saya liat, misal Yannie Kim, eh bahkan Yannie Kim pernah cerita, kehidupannya pertama kali di Korea itu tidak semulus saat ini, penuh drama banget.

    Dan itu juga kali ya yang bikin saya sekarang banyak nonton film Korea based on true story, lalu saya review dan sebarin.
    Bukan untuk menjelekan negara tersebut, tapi untuk sedikit membuka mata para bucin Korea, bahwa Korea itu nggak melulu semanis cerita drakor.

    Kisah aslinya malah bisa dibilang lebih ngeri juga dari Indonesia.

    Jadi, jangan berani hanya mengandalkan cinta deh, upgrade pengetahuan, atau cari kerja di sana, ada banyak orang loh yang bisa kerja di Korea dan akhirnya tahu seperti apa kenyataannya di sana :D

    Semoga aja, postingan ini banyak dibaca orang-orang yang bucin Korea, bucin boleh sih, tapi bermodal juga, biar nggak jadi budak cinta, tapi buruan cinta *eh hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha saya nggak merasa terkenal mba, teman-teman bloggers saya bisa kelihatan orangnya itu-itu saja -kebanyakan sama- πŸ™ˆ hehehehe. Kalau dari blog hanya satu dua tiga orang yang pernah beberapa kali bertanya, sisanya kebanyakan dari luar blog (kenalan-kenalan yang penasaran) πŸ˜‚ mungkin ini karena WFH, semua orang jadi menonton Korea padahal tadinya nggak πŸ˜…

      Waduh sampai ada yang DM mba Rey πŸ˜† jadi nggak enak saya mengganggu mba padahal yang ditanya soal saya πŸ™ˆ terima kasih banyak mba sudah membantu menjawab pertanyaan bagi yang curious hahahahaha. Padahal bisa dibilang hidup saya nggak begitu menarik dan nggak layak untuk terlalu diperhatikan apalagi sampai penasaran 🀣

      Dan saya termasuk beruntung bisa baca-baca topik marriage di blog mba karena tulisan mba memberikan insight pada saya lebih jauh soal hubungan antar dua anak manusia yang unik karena terlepas statusnya, pada awalnya kita semua adalah stranger satu sama lainnya 😍 ehehehehe. Dan tulisan mba membuka mata saya lebih jauh mengenai hubungan yang ideal harus bagaimana demi kebaikan bersama πŸ’• I thank you for that πŸ™ˆ

      Eniwei, kisah-kisah true story di Korea banyak yang seram, bahkan yang terbaru ada kasus NTH ROOM (semisal mba mau check) which is berhubungan dengan sex, assault, dan kegilaan lainnya melibatkan anak-anak di bawah umur bahkan pelakunya masih muda-muda. Saya baca kasus ini saja sampai geleng-geleng kepala, mba 😭 makanya saya selalu mengingatkan, suka boleh, berharap boleh, tapi harus tetap smart dan bisa memilih jangan sampai nanti menyesal kemudian ~

      Amiiiin, semoga, mba 😍

      Delete
    2. hahaha iya say, kebanyakan yang penasaran ama Eno itu, karena Eno itu punya ciri khas, sopan dan perhatian banget pada semua orang.

      Pandai memilah kata.
      Duh makanya saya nggak bosan-bosannya kagum dan penasaran dengan pembentukan karakter kayak Eno :D

      Pengen juga nantinya anak-anak bisa seperti ini, aamiin :)

      Btw jadi penasaran. meski pastinya bikin makin miris, sedih banget kalau liat generasi muda tuh jadi makin jauh dari norma-norma.

      Padahal ya kalau dilihat dari drakor, sebenarnya Korea itu masih punya budaya timur yang mengedepankan kesopanan dan norma-norma agama.

      Kayak yang usianya lebih muda harus sopan sama yang lebih senior.
      Tapi memang ya, teknologi juga kayaknya mempengaruhi, sampai anak-anak muda jadi hancur-hancuran kayak gitu :(

      Delete
    3. Mba Rey terima kasih banyak untuk apresiasinya πŸ˜† hihihi. Semoga saya bisa terus sopan yah ahuahaha *deg-degan* πŸ™ˆ

      Saya yakin si kakak dan adik bisa jadi pribadi-pribadi berbudi pekerti luhur karena didikan mba Rey as ibu yang sangat baiiiiik 😍 semoga kakak dan adik bisa tumbuh sehat, ceria dan pintar ya mba, serta sopan dan patuh pada kedua orang tua πŸ’•

      Iya mba Korea masih mengedepankan sistem senioritas tapi kalau dibilang mengedepankan norma agama nggak begitu terlihat mba, sebab banyakan nggak punya agama ~ huhu. Jadi memang kembali pada pribadi mereka πŸ™„ nevertheless, semoga di manapun kita berada, semua anak-anak di dunia, bisa tumbuh dalam lingkungan yang baik-baik saja πŸ˜πŸ’•

      Delete
  9. Pagi Eno..

    Maaf baru sempat lagi kelayapan nih. Beberapa hari ini agak riweuh.. hahaa (siapa yang nanyain yah).

    Banyak orang terjebak dalam mimpi yang ditayangkan televisi. Bukan hanya dari Korea sebenarnya, tetapi juga dari bangsa sono di luar Indonesia.

    Mereka ada akhirnya tidak bisa memisahkan antara keduanya. Mereka menjadikan mimpi yang mereka serap sebagai target dan berusaha keras mencapainya dengan segala cara.

    Ada juga sebuah tendensi dalam masyarakat Indonesia belakangan ini kalau menikah dengan orang luar itu "keren", "cool", hebat... Belakangan ini yang seperti ini menjadi salah satu cara meningkatkan status diri dalam masyarakat.

    Masyarakat sendiri juga mulai memiliki pandangan bahwa memiliki pasangan non Indonesia itu sesuatu yang spesial dan harus diberi penghargaan.

    Nah, namanya terjebak dalam mimpi, kadang mereka tidak bisa melihat realita dan kenyataan.

    Dari hal inilah, sepertinya banyak sekali orang Indonesia yang merendahkan sekaligus meninggikan "value" dirinya sendiri.

    Merendahkan diri sendiri kalau ia berpikir kalau menikah dengan orang asing akan membuat derajatnya naik dan keren dalam pandangan masyarakat.

    Meninggikan value kalau ia berpikir bahwa dirinya terlalu tinggi untuk mendapatkan jodoh orang Indonesia, maunya sama orang asing

    Mimpi indah yang ditelan secara overdosis setiap hari membuat banyak orang jauh dari realita.

    Mereka pikir menikah dengan orang luar negeri itu seperti dongeng Cinderella. Selalu indah.

    Padahal, yang namanya pernikahan itu, baik dengan orang Indonesia atau non Indonesia, sama saja, akan menemukan hambatan dan tantangan sendiri.

    Iya nggak sih..

    Itu saja dulu.. saya mau kabur dulu nih.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, mas Anton! πŸ˜†

      Iya saya lihat mas Anton belum update tulisan jadi saya pikir pasti sedang sibuk kerja 😁 hehehe. Betul mas, TV itu bisa jadi racun karena menjual banyak mimpi, even iklan yang ditayangkan pun menjual mimpi bahwa yang cantik itu berkulit putih berambut panjang dan lain sebagainya hahahaha πŸ˜…

      Nah itu yang saya kawatirkan, pemikiran kalau memilih pasangan hanya untuk meningkatkan status, atau biar dianggap cool, naik derajat, etc., which is bisa jadi menyebabkan 'cinta buta' dan nggak memilih sesuatu berdasarkan value dan logika yang dipunya πŸ™ˆ banyak kejadian akhirnya menyesal tapi nggak bisa balik badan, entah malu dengan anggapan keluarga atau malu dengan tetangga dan lain sebagainya.

      Padahal mencari pasangan itu bukan dilihat dari asalnya melainkan dari kepribadiannya, dan banyak orang Indonesia yang juga sama berkualitasnya even much more compare to yang di luar. Jangan sampai akhirnya jadi berpikir seperti yang mas Anton bilang di atas πŸ˜₯

      Dan setuju sama mas, nggak ada yang 100% indah, pasti akan selalu ada hambatannya, meski di luar kelihatan indah, bisa jadi hanya nggak ingin berbagi kesusahan untuk dipertontonkan ~ yang namanya hidup akan selalu ada naik turunnya dan itu nyata πŸ˜‚ terima kasih banyak mas Anton untuk komentar membangunnya πŸ™ˆ

      Delete
  10. Saya dari dulu udah menebak, Mba Eno bakal ditanya sama netizen tentang hal2 seperti ini. Mirip dengan blogger yang suaminya bule, hehehe.

    Sekarang Korea lagi heboh banget mungkin banyak anak2 muda yang mendambakan kehidupan seperti di drakor atau dapat pacar ala idola mereka. Padahal itu hal yang jauh berbeda.

    Atau kalau mau berpikiran jahat, ingin memperbaiki nasib? Hhmmm, padahal menikah itu banyak sekali hal2 yang harus dipikirkan dan ketika dijalani beda banget saat masih pacaran.

    Konon kabarnya perilaku netizen Indo yang seperti ini udah diketahui sama cowok2 di luar sana. Jadi cowok2 luar katanya (kalau bisa) menghindari cewek Indo. Tapi kalau mereka berjodoh, ya, patut disyukuri juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, iya mba sepertinya Korea semakin heboh karena WFH banyak orang stay di rumah jadi punya waktu lebih untuk menonton drama πŸ˜‚ alhasil yang tadinya nggak suka Korea jadi ikut menonton Korea, seenggaknya itu yang terjadi pada beberapa orang πŸ™ˆ dan karena itu jadinya penasaran ~ hehehehe.

      Saya senang berbagi selama bisa jawab, tapi saya kawatir pembaca merasa kalau hidup di Korea ataupun memiliki pasangan Korean akan menjadikan hidup sempurna. Padahal realitanya hidup di Korea itu nggak mudah, kecuali kita ketemu jodoh anak bos Samsung atau Hyundai yang nggak perlu berpikir keras soal kerjaan hahahahahaa 🀣 dan selain itu, pergaulannya pun susah. Belum lagi kalau nanti yang diharapkan punya pasangan sweet ternyata nggak sweet sama sekali πŸ™ˆ

      That's why saya menulis ini, berharap teman-teman yang bertanya bisa tetap realistis meski saya mendukung dan sah-sah saja jika preference-nya memang Korean asal dipilih dengan tepat 😁 hehehe. Iya mba, saya pernah baca dari salah satu komentar kalau banyak yang sampai menulis apa gitu di BIO yah katanya, yang intinya not Indonesian Girl atau semacam itu *saya lupa* 🀭

      Delete
  11. hehehehe... karena demam korea satu dekade terakhir, pasti mbak eno sering banget ditanyain beginian baik di internet maupun off-net. kebayang.

    "suami bule" atau "suami orang korea" jadi terkesan semacam karikatur, kayak mereka cuma punya "satu personality". mana yang penting, jadinya? apakah siapa aja boleh asalkan orang luar? hiii serem juga ya. makanya banyak yang memanfaatkan "demam korea/bule" ini untuk berbagai macam hal yang nggak semuanya baik.

    beda dengan mbak eno, ada temen saya yang kuliah di korea, dia sampai kapok dating sama orang korea hahahaha... mulai dari ketemu cowok-cowok yang ngga banget sampai mentok di kebangsaan. iya, dia nggak bisa terus karena beda bangsa itu dan keluarga si cowok... yah begitulah, mbak eno tahu sendiri pasti lanjutannya.

    bahkan meskipun kita sudah punya pasangan, nasihat "be the best of yourself" itu masih berlaku ya mba... karena itu jg berlaku pas kita berhadapan sama pasangan sendiri. kita pengen pasangan berubah, tapi kitanya sendiri sudah menunjukkan hal yang sama untuk berubah ke arah yang lebih baik, belum? jangan-jangan, kegedegan kita ke pasangan itu lebih karena kita sendiri yang belum bisa mencapainya :')

    aih jadi ngalor ngidul~ tapi kapan ku tak ngalor ngidul~ (lagu lama)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan donggg, jangan semua boleh asal dari luar, harus dilihat kepribadian dan kualitasnya juga, dan semisal punya berharap pasangan yang bagus kualitasnya otomatis diri sendiri harus memperbaiki kualitas pula. Itu kamsud saya πŸ˜‚ that's why memiliki value, tujuan hidup, batasan dan sebagainya sangat diperlukan 🀭

      Dan seperti yang mba Mega bilang, banyak foreigners akhirnya memanfaatkan kesempatan ini (kesempatan dimana mereka dapat banyak pemuja), yang akhirnya membuat banyak orang terluka. Entah karena harapan palsu, ghosting, PHP, dan lain sebagainya 🀧

      Eniho, pengalaman teman mba Mega itu banyak dialami orang-orang di luar sana, beberapa kenalan saya yang foreigners ada pula yang kena reject oleh orang tua pasangan Koreannya karena alasan beda bangsa. Dan itu nggak cuma terjadi pada Indonesian, tapi banyak even western beberapa merasakannya πŸ™ˆ dan itu pula yang saya tekankan, kesiapan mental agar nggak jatuhnya terpuruk apabila gagal ~ hehehe.

      Agree mba, be the best version of ourselves nggak cuma saat kita sedang mencari pasangan, namun ketika kita sudah mendapatkannya pun, sebisa mungkin kita terus upgrade karena dengan kita menjadi versi terbaik dari diri kita (tentu sesuai standar kita) itu akan memberikan efek baik ke orang-orang di sekitar kita 😍 itu yang saya pelajari dan saya juga masih terus belajar, pelan-pelan 🀭

      Terima kasih insightnya mba Mega, semoga kita bisa semangat terus untuk menjadi lebih baik dari hari ke harinya πŸ’•

      Delete
  12. Uwah.. Keren mbak enoπŸ˜€πŸ˜
    Emang sih kebanyakan orang indonesia berpikir punya pasangan luar negeri itu keren. Apalagi sekarang orang lagi suka sama budaya korea, yang terbayang adalah adegan so cwit di drakor. Saya dulu sekolah juga sempet ngayal gitu wkwkπŸ˜‚πŸ˜‚

    Tapi terlepas dari itu, saya setuju bahkan selapan sama pendapat mbk eno. Yang penting pahami dan tingkatkan kualitas diri. Di islam juga ada kalimat, kalau jodoh kita adalah cerminan diri kita. Fokus memperbaiki diri, nanti juga akan dapat yang terbaik untuk kita😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha sebenarnya berkhayal itu nggak salah mba, saya pun suka berkhayal, tapi kalau berkhayal tanpa usaha dalam mewujudkannya, itu yang disayangkan. However, ketika ingin berusaha, harus tetap pada batasan yang dipunya tentu sesuai value juga πŸ˜† siapa tau menjadi kenyataan dan mendapatkan apa yang dikhayalkan dalam kualitas terbaik sesuai harapan 🀭

      Semangat untuk kita terus meningkatkan kualitas kita yuk mba, pelan-pelan, kita belajar, menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya 😍

      Delete
  13. Ada bbrp temenku yg obses banget pgn punya pasangan bule,dengan alasan pgn tinggal di LN, trus ada juga Krn pengen anaknya cakep biar ntr bisa jd artis :p.

    Bingung Ama yg begini. Trus kalo ntr ternyata anaknya ga jd cakep, mau diapain, ngerasa nyesel gitu??

    Buatku jodoh itu dari Tuhan. Mau dipaksa gimana, ga bakal bisa nyatu kalo Tuhan ga ngerestuin. Makanya aku ga ngoyo soal pasangan. Bisa dibilang telat nikah jadinya :p. Terlalu santai soalnya. Aku LBH mikirin karirku, kedepannya aku bakal jd apa, targetku seberapa tinggi, daripada mikirin harus nikah dengan siapa :p. Punya suami kaya aja blm jaminan happy kok.

    Setuju dengan opinimu mba. Sukses ga nya kita tergantung dari diri kita. Jangan bergantung Ama org lain. Ntr kecewa malah :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahahaha, alasannya lucuk mba, tapi makesense, karena kebanyakan orang berpikir kalau mixed blood pasti cakep dan di Indonesia yang cakep bisa jadi artis πŸ˜‚ tapi terus saya ketawa juga dengar pertanyaan mba, sambil berpikir, "Iya yah, kalau nggak cakep terus bagaimana, yah?" πŸ™ˆ

      Setuju, jodoh itu memang dari Tuhan, tugas kita cuma berusaha semaksimal yang kita bisa πŸ˜† hihihi. By the way kalau soal menentukan pasangan hidup nggak ada yang terlambat menurut saya mba. Di Korea justru banyak yang baru menikah saat menginjak usia 40 tahunan πŸ˜‚ mereka bilang kalau menikah terlalu muda nanti kelamaan hidup bareng pasangannya, mungkin karena mereka range hidupnya bisa sampai 100 tahun 🀣 means kalau menikah usia 20 tahunan = harus hidup bersama 80 tahun usia πŸ™ˆ

      Saya juga sama seperti mba, fokus ke karir awalnya, sampai sekarang pun masih fokus hahaha. Minimal punya goals untuk pribadi terlepas apapun status saya sekarang πŸ˜† hehehehe. Semangat untuk kita semua, mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  14. Sore mbak Eno πŸ˜ƒ, ...mungkin sebagian anak muda mengira kalo bisa menikah dengan orang asing itu anugrah terindah kali mbak 😁, berasa menikah dengan artis luar gitu, kayak di film", jadi khayalannya ketinggian. Belom ngeh mana dunia nyata mana fatamorgana mungkin yaak. Padahal mah sama aja sih mau luar ato dalem, kalo bisa tetep punya kualitas biar kitanya ga di rendahin, kudu kerja keras biar bisa sejajar, istilahnya bobot bibit bebet juga sering jadi pertimbangan, biar ga dapet kucing dalem karung goni, kalo bisa nerima kelebihan dan kekurangan masing" mah ga apa sih, hanya sj kalo salah satu pihak berharap ketinggian takutnya nyesel karena ga sesuai harapan, psdahal mah dimana" sama aja yaa, tergantung pribadinya sih.. Mobil pribadi, rumah pribadi.. Pulau pribadi... Eeh πŸ™Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sore, mba Hen πŸ˜†

      Sepertinya begitu, mba. Karena mimpi-mimpi yang dijual di layar kaca sedikit banyak memang mempertontonkan hal tersebut sebagai anugrah πŸ™ˆ ehehehe. Saya memahami kenapa banyak yang berpikir demikian, dan nggak ingin menyalahkan juga karena bisa jadi memang nggak tau bagaimana yang sebenarnya (realitanya) 😁

      Betul mba, harus berkualitas, agar bisa berpijak di atas kita sendiri dan memiliki 'suara' dan agar bisa sejajar dengan pasangan 😍 hehehe. Terlepas kekurangan dan kelebihannya, karena manusia nggak ada yang sempurna, saya rasa perlu untuk mengerti dulu kurang lebihnya dan memantapkan hati apakah bisa menerima segala kurangnya (nggak hanya melihat segala lebihnya) πŸ™ˆ

      Ehehehehe, kalau 'pribadi' yang itu no comment ah 🀣

      Delete
  15. Naini, #eh apa dah ini hihi

    Saking berapi-apinya aku baca post ini mba eno πŸ˜‚πŸ˜

    Great answer sih menurutku buat menjawab netijen teenager yang belum menyelami dunia pernikahan atau komitmen serius tapi kadang suka tanya-tanya hal ginian...

    Tapi heran juga ya, kadang pertanyaan kayak gini kalau menurut aku jatuhnya terlampau privat sih (too much kepo ahahhaha), aku pribadi kalau dapat pertanyaan kayak gini biasanya ga aku jawab....

    "Gimana rasanya punya pasangan gini gini gini"

    "Gimana caranya ngedapetin pasangan gini gini gini"

    Khas pertanyaan milenial yang menurutku too much kepo hahhahaha....menurutku tapiii...

    Tapi salut, mba eno menjawabnya dengan tidak menjual mimpi-mimpi manis aja ke para teenager itu, yang mungkin sebagian segitu tergila-gilanya dengan oppa korea. Tapi sesuai dengan faktanya bahwa ga semua orang sana se-sosweet pasangan mba eno. Jadi buat para teenager jangan terlampau baper kalau ujung-ujungnya pengen kayak mba eno atau cerita-cerita di drama yang berending manis tapi kok yo belum riset dulu bagaimana pribadi sang oppa pujaan hati yang sedang dalam tahap pendekatan (misalnya), apakah ujungnya akan dibawa ke arah yang lebih serius atau berakhir dengan cerita-cerita menyedihkan #bukak lagi halaman put some effort yuk ah..hihi

    #btw kemaren aku sempat baca yang komen mba eno di post kak rey yang tentang samsak, samsak itu apa ya, jujur aku baru dengar istilah ini hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho kok sampai berapi-api mba πŸ˜‚

      Iya, banyak teenagers belum begitu paham konsep janji sehidup semati sejiwa -- susah senang bersama bukan senang senang doang bersamanya -- πŸ™ˆ hehehe. Saya sebenarnya kalau terlalu banyak tanya juga nggak saya jawab dan saya skip saja, tapi berhubung ada beberapa yang penasaran bagaimana caranya, alhasil saya pikir nggak salahnya untuk berbagi sudut pandang saya yang mungkin kesannya 'pahit' tapi nyata 🀣

      Eniho, saya nggak 100% sweet mba, aslinya sama seperti pasangan lainnya, banyak turbulence hahahaha. Cuma nggak enak kalau dibahas di blog dan dibaca orang banyak πŸ˜‚ realita hidup itu kadang menyakitkan. Contoh mau beli rumah berpijak di tanah (di Korea) saja belum kesampaian. Jadi semoga apa yang saya bagikan bisa sedikit banyak membuat teman-teman yang baca tau kalau kehidupan di Korea nggak selamanya indah, dan itu artinya harus betul-betul selektif dalam memilih pasangan πŸ™ˆ ehehehe. Takut nanti kalau salah justru akan menyakiti diri sendiri pada akhirnya ~

      Ohya, maaf saya pakai bahasa aneh, mba 🀣 samsak itu semacam material untuk tinju, yang bentuknya mirip guling besarrrrr dan biasa digunakan untuk latihan πŸ˜†

      Delete
  16. Kyknya emang yang lagi kesengsem sama cowok Korea tuh kebanyakan anak-anak remaja ya, Mbak Eno. Maklum, pada kebanyakan nonton drama Korea yang romantis-romantis itu. Adekku begitu juga sih. Tapi kalau dia lebih rasional, kalau jodoh cari yang sama-sama orang Indonesia aja. Tapi yang mukanya mirip Reza Rahadian. Lhah dalah, sama halunya juga adekku itu.πŸ˜‚

    Setuju banget, Mbak. Yang penting menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitas diri sendiri. Kalau jodoh sih pasti bakal ketemu. Kalau cuma sibuk cari jodoh doang, rugi banget kalau akhirnya diri sendiri gak punya kualitas yang bisa ditonjolkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, apalagi idol-idolan hehehe 🀭

      Wah adiknya mba ada mengidolakan seseorang dari Korea? Hehehehe. Tapi bagus lho kalau rasional πŸ™ˆ saya juga berminat kalau wajahnya semanis Reza atau NicSap 🀣 *ikutan halu sama adiknya mba* Wk.

      Agree, sambil berusaha menjadi lebih baik, kalau memang sudah garis jodohnya pasti bertemu suatu hari nanti 😍

      Delete
  17. Aku suka banget mbak Eno menekankan terus2an di artikel tentang know your worth. Sepenting itu harusnya memang!

    Aku juga meliihat banyak adek2 dibawahku yang sepertinya ngebetus kawinus (istilah yang ada di IG wkwk). Sepertinya misi hidupnya cuma menikah lalu bahagia selamanya. Padahal usianya masih muda, yang harusnya masih banyak banget hal yang bisa dilakukan mumpung masih muda dan sehat.

    Aku saja yang sudah cukup umur -katanya- masih mikir2 banget mau menikah. Mungkin karena belum ketemu orang yang membuatku yakin untuk berbagi hidup kali yaa hahaha

    intinya, sama seperti mbak Eno, menyayangkan banget kalau cuma itu cita2 sesuai kuliah. Siapa sih yang gak pingin menikah, tapi janganlah hal tersebut dijadikan cita2 utama. Jadikan salah satu cita2, sambil jalan, sambil juga lah melakukan hal2 lain yang produktif. Bangga banget loh kalau berprestasi di usia muda. Good things will follow all the way, ya kan Mbak hehehe

    Sekali lagi, tulisannya keren! Buat reminder di segala bidang, gak cuma di percintaan saja. Di karir pun kadang mau menghalalkan segala cara, yang mana itu gak oke banget sih. Know your worth, gaes!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penting sekali, mba Kartika πŸ™ˆ

      Waw saya baru dengar istilah ngebetus kawinus, ada-ada saja ide yang buat πŸ˜‚ hahahaha. Saya bisa maklum kalau banyak yang ngebetus kawinus karena mungkin patokan pernikahan ideal di Indonesia kan masih diangka 23-26 tahunan 😁 mungkin karena itu banyak yang ingin buru-buru settle down hingga akhirnya nggak berpikir panjang mengenai kualitas which is penting banget untuk tau agar bisa punya hubungan yang longlast bersama pasangan πŸ’•

      It's okay banget mba untuk berpikir-pikir, jangan menentukan sesuatu hanya karena tekanan apalagi karena usia πŸ˜„ kalau bisa betul-betul ikuti kata hati sampai ketemu yang tepat. Namapun akan spend waktu berpuluh-puluh tahun lamanya dengan satu orang yang disebut belahan jiwa. Jadi sebisa mungkin diusahakan sesuai dengan standar yang mba punya 😍

      Dan setuju sama mba, cita-cita itu ada banyak. Jangan hanya satu dijadikan cita-cita tapi dibuatlah hal itu menjadi salah satu daripadanya πŸ˜†πŸ’• suka sama kata-kata mba Kartika. Semoga ke depannya semakin banyak yang bisa produktif dan fokus aktualisasi diri sambil berusaha mencari pasangan yang terbaik πŸ˜„ semangat selalu, mba πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  18. Sepertinya orang-orang terlalu fokus ke drama-drama Korea macam CLOY mba, berpikir semua Korean kayak Kapten Ye Ri (eh iya kan bener namanya?πŸ˜‚), padahal di drama juga kita diperlihatkan sama sosok Lee Tae Oh λΆ€λΆ€μ˜ 세계 dan Park In KyuπŸ˜‚

    Setuju banget sama mba 100%! Walaupun saya masih jauh buat mikir kesana, tapi meningkatkan value diri, membangun diri jadi lebih baik, punya prinsip dan punya tujuan yg jelas itu jauh lebih utama dan ibarat fondasi buat kita melangkah ke level selanjutnya —> bertemu pasangan. IMO gak perlu lah pusing-pusing dulu mikirin pasangan, kalau hobinya aja masih rebahan. (kayak sayaπŸ™ƒ) Ehehehehe.

    Kalau saya pribadi sih interestnya malah ke negaranya, pengen nanti bisa bolak balik Jepang-Korea tanpa perlu mikirin budget dllπŸ˜‚
    Semoga suatu saat kita bisa bertemu ya, mba!😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha namanya Kapten Ri, Kalau pasangannya bernama Se Ri πŸ˜‚ sebenarnya di drama CLOY juga bisa dibilang perjalanan cintanya nggak mulus hahahaha 🀣 and yes, di kehidupan nyata, orang-orang macam Tae Oh dan In Kyu ada banyak, jadi jangan lihat yang manisnya saja, tapi lihat juga yang pahitnya, agar bisa lebih hati-hati dalam memilih pasangan 😁

      Kalau mba Awl goals-nya masih banyak, nggak apa-apa banget lho fokus kejar goals yang dipunya. Hehehe. Sambil pelan-pelan menaikan kualitas, nanti by the time sudah siap, bisa ketemu sama pasangan diwaktu yang tepat 😍 take your time, mba πŸ’• chonchoni kalau kata orang Koriya hahahaha.

      Amiiiin semoga mba Awl bertemu jodoh yang sesuai dengan harapan dan preference, mba 🀭 semisal ternyata orang Korea siapa tau kita bisa pas-pasan di jalan πŸ˜†

      Delete
    2. Maafin mbak saya baru cek email, jadi gak tau mbak Eno udah bales wehehe. Lah iyaa! Kapten Ri maksudnya hahaha saya lupa namanya, taunya Kapten sama Ri doang:D iya sih mba, cuma kayaknya orang orang fokusnya sama keuwuan pasangan CLOY ini, jadi walaupun perjalanannya gak mulus yang penting uwu aja LOL.

      Iya nih, mba, wah masih banyak banget ini yang pengen dilakuin dan dikejar, kalaupun ada teman deket paling sebatas jadi tempat diskusi, berkeluh kesah sambil nongski *wkwk ngga deng*, karena sadar betul proses kesana masih sangat panjang, masih banyak hal2, misalnya semacam skill dan passion yang perlu dikembangkan. Ditambah masih ngerasa diri ini anak piyik imut nan mungil, masih banyak yg harus dilahap biar bisa tumbuh besar:D

      Aamiin semoga ya mbaa, hohoho. Saya jadi nambah kosakata baru nih, chonchoni:D

      Delete
    3. It's okay, mba Awl 😁

      Korean drama memang begitu kebanyakan, hahaha. Mau ceritanya sedramatis apa, tetap yang diperhatikan penonton pasti bagian UWU-UWU-nya 🀣 hehehehehehe.

      No worries soal jalan ke arah sana, saya pun terbilang telat kalau mau ikut standar Indonesia yang mana kebanyakan ingin settle dengan pasangan usia 24 😁 namun saya nggak menyesali keputusan saya, sebab yang terpenting itu sesuai dengan timing yang saya punya hehehehe. Dan saya yakin, ada banyak hal yang masih ingin mba Awl kejar seperti yang mba Awl ceritakan. Pelan-pelan, semua akan tercapai pada waktunya.

      So, semangatt! Hehehe. Chonchoni itu artinya pelan-pelan πŸ™ˆ

      Delete
  19. sepakat. jangankan cari pasangan berwarna paspor lain, sesama paspor ijo, bahkan seagama pun, prinsip yang Mba Eno jabarkan ini perlu diterapkan.. soal warna paspor dan warna kulit sih ya, hanya pelengkap saja..

    btw, sayang sekali blog mba Eno ini ngga bisa dibuka lewat ponsel. dalam artian, kebuka, tapi kontennya tertutup dan tidak muncul jika dibuka dari ponsel..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, mau siapapun pasangannya, sebisa mungkin kita harus punya value dan prinsip sebagai pegangan πŸ˜† agar ke depannya kita jadi lebih mudah dalam menghadapi setiap cobaan kehidupan 😁 ehehehehehe ~

      Ah, seriously nggak bisa dibuka lewat ponsel, mas? Apakah mas bukanya pakai Internet Explorer? Atau Chrome? 😡

      Delete
  20. ada aja ternyata ciwik ciwik milenial sekarang yang terhipnotis sama tayangan drakor yang tiba tiba bisa tinggal atau hidup diperlakukan kayak princess. emang drakor ini bikin baper.
    aku dulu punya guru les bahasa korea yang emang asli korea dan kayaknya keras waktu ngajar, jadi aku mikir waktu itu ya kayak orang orang indo seperti biasa.
    dan memang peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung berlaku dimana aja, dimanapun pergaulan kita berada ya sebisa mungkin menyeimbangkan dengan mereka, biar nggak dibully amat
    pembawaan diri juga berpengaruh, apalagi kalau misal tinggal di korea yang awalnya untuk urusan kerjaan, jadi paling nggak nunjukin "wibawa" kita di mata mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau keseringan menonton mungkin bisa baper, mba 😁 ehehehehe. Tapi saya yakin, banyak juga yang bisa realistis, dan hanya segelintir yang sama terhipnotis dan lupa realita kehidupan bagaimana πŸ™ˆ hehehehehe.

      Betul menyeimbangkan diri itu kadang diperlukan, agar kita bisa fit pada lingkungan tempat di mana kita berpijak. Bukan berarti mengikuti arus sepenuhnya, hanya saja, suka nggak suka, kita harus respect dan berusaha ambil sisi positif dari lingkungan di mana kita berada 😬

      Membawa diri pun terlepas kita bekerja atau nggak, semoga tetap bisa membawa diri dengan bijaksana dan penuh wibawa ~ semangat untuk kita πŸ˜πŸ’•

      Delete
  21. Waduh kak, pengalamanmu memberikan aku POV baru tentang “pasangan”. Sebagai penyuka kpop dan hal2 yg berbau korea sejujurnya gak ada kepikiran bisa punya pasangan orang korea hahaaha. Tapi dari cerita ka eno aku jadi tau, culture dan karakteristik orang dari negara lain bisa jdi faktor penting kalau mau punya pasangan orang LN. Terima kasih ya kak cerita pengalamanmu selalu menuai informasi baru dan fresh! πŸ‘πŸ»

    Btw mungkin ini agak gak nyambung kak, pengin belajar bahasa korea sama ka eno deh 😌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola, mba Reka 😬

      Betul mba, kultur dan karateristik perlu jadi pertimbangan juga, karena ketika kita memilih pasangan, jangka waktunya akan sangat lama πŸ˜† jangan sampai kita menyesal karena merasa salah pilih dan lain sebagainya πŸ’•

      Waaah, saya pun masih belajar mba Reka, yuk kita sama-sama terus belajar πŸ™ˆ by the way, ada beberapa website belajar bahasa Korea yang bagus salah satunya TTMIK 😁

      Delete
  22. Suka dengan cara mba Eno menekankan berulang-ulang soal value, batasan, prinsip. Sepertinya itu yang perlu didengarkan oleh banyak generasi ya.

    Banyak dengar istilah Turkish hunter, Korean hunter, bule hunter, kadang istilah-istilah kenapa disini wanita jadi pemburu benar ya. Apa laki-lakinya malah nggak merasa creepy...:)

    Dampak dari globalisasi informasi tapi yang mereka yang harusnya hadir menyiapkan fondasi value, batasan, dan prinsip sejak dini bagi anak-anak sudah tidak ada. Semakin kemari semakin sedikit. Disini orang dewasa eh termasuk saya tentunya, tentunya harus banyak bercermin : apa penyebabnya?

    Nice post btw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba, betul, menurut saya, persoalan value, batasan dan prinsip itu perlu dipegang oleh kita terlepas apapun generasi kita 😁 even saat kita sudah memiliki keluarga dan keturunan, hingga akhir hayat, saya rasa poin-poin di atas akan tetap kita butuhkan πŸ™ˆ

      Sebenarnya saya sedih dengan istilah-istilah yang disematkan tersebut, especially karena disematkannya mostly untuk kaum perempuan. Tapi apa mau dikata, fakta di lapangan memang demikian. That's why saya berusaha membagi insight saya, besar harapan saya, adik-adik yang baru masuk ke 'real life world' bisa punya fondasi kuat dan nggak gampang goyah. Meski mendapat gempuran informasi dari mana-mana 😬 hehehe.

      Terima kasih sudah baca, mba 😍

      Delete
  23. Couldn't agree more, Mbak Eno. Kayaknya masih lama masanya manusia bisa berinteraksi (termasuk nyari pasangan) tanpa melihat label, entah label kebangsaan, budaya, agama. Kurang adil aja rasanya mukul rata begitu, orang negara A begini, orang negara B begitu. Padahal kalau dilihat secara partikular, manusia ya pada dasarnya sama, terlepas dari asal negara dan label-label lainnya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, karena stigma yang sudah disebarkan secara turun temurun, membuat manusia menjadi lebih 'mudah' menilai sesuatu dari labelnya. Entah itu agama, budaya, kewarganegaraan, dan lain sebagainya πŸ™ˆ well semoga, ke depannya, hal-hal tersebut bisa dikurangi dengan menambah edukasi diri kita 😍 it's okay, pelan-pelan yang penting kita berproses sesuai jalurnya 😁

      Delete