Untitled | CREAMENO

Pages

Untitled




Beberapa hari lalu, gue baca berita soal bully pada anak sekolah di Korea, dan berita itu cukup sukses membuat gue sakit kepala karena semakin ke sini, kasus bully semakin merajalela. Teknik bully-nya pun sudah semakin advance sampai ada yang bawa-bawa gaji orang tua atau pekerjaan orang tua dan itu sangat menyakitkan untuk dibaca ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคง gara-gara itu, si anak sampai benci dan menyalahkan ortunya.

"Kenapa Appa nggak bergaji besar?" -- "Kenapa Omma kerja bersih-bersih ruangan?" ๐Ÿ™„ belum lagi kalau anak tersebut di-bully fisiknya, yang ada pulang-pulang si anak langsung marah, "Kenapa orang tua gue jelek! Gue kan jadi keikut jelek juga." ๐Ÿฅด๐Ÿ˜ฅ Omayyyygad!

Gue sampai was-was kalau nanti punya anak (meski sekarang belum kepikiran -- jangan tanya kenapa ๐Ÿ˜†), apa anak-anak gue bisa survive dan nggak tertindas? Bagaimana kalau mereka nggak mengakui gue sebagai ibunya? (Ada yang begini, nggak diaku sebagai orang tua) ๐Ÿ˜ญ terus bagaimana kalau mereka berontak dan kabur dari rumah? ๐Ÿ˜…

Pusying gue cari jawabannya ๐Ÿ˜‚ thank God gue punya pasangan yang paham isi hati gue dan bilang, "Nggak usah was-was. Pegang prinsip dan value yang lu punya. Anak akan bangga siapapun ibunya selama ibunya bangga dengan diri sendiri apa pun statusnya. Intinya, kalau lu PEDE, anak-anak akan PEDE. As simple as that."

---

Heehehehe, kalau boleh jujur, apabila one day gue punya anak kelak, gue akan membesarkan anak-anak gue dengan cara Ibu dan Omoni karena orang tua kami berdua sedikit banyak memiliki prinsip yang sama (seumuran pula) ๐Ÿ˜‚ Ibu dan Omoni bukan tipe banyak bicara, dan selalu memberi kepercayaan penuh pada anak-anaknya ๐Ÿ˜†

Dari kepercayaan tersebut, Ibu dan Omoni menekankan bahwa gue dan si kesayangan harus tanggung jawab penuh pada pilihan-pilihan yang dibuat ๐Ÿ™ˆ Ibu dan Omoni juga nggak berpesan banyak kecuali menjadi manusia yang bisa respect dan considerate pada sesama ๐Ÿ’• bahkan, nasehat Ibu dan Omoni dari dulu itu-itu saja, Ibu dan Omoni bilang, "Ketika kita respect dan considerate terhadap seseorang penuh kesadaran, maka kebaikan akan menghampiri kita." -- caranya?

Respect kalau setiap orang itu berbeda, even gue dan si kesayangan adalah dua manusia berbeda dengan kelebihan dan kekurangannya. Dari respect, muncul rasa considerate, dimana kita jadi belajar untuk considerate terhadap apapun yang kita lakukan ~ dengan begitu kita jadi lebih hati-hati dalam bersikap, dan berusaha menjaga perasaan orang-orang yang ada di sekitar kita termasuk pasangan ๐Ÿ˜

Sebegitu pentingnya menjaga perasaan??? Kalau kata Ibu dan Omoni, menjaga perasaan itu sangattt penting, dan hal tersebut dicontohkan langsung oleh Ibu dan Omoni ๐Ÿคญ seperti Omoni yang nggak pernah sekali pun menyakiti hati gue ~ dan selalu considerate serta menjaga perasaan gue agar tetap nyaman pun saat Omoni berusaha respect pilihan-pilihan yang gue buat ๐Ÿ˜ ehehehehehe.

Buat Omoni, tau kami bahagia itu sudah cukup, dan pertanyaan, "Are you happy?" nggak pernah lupa Omoni berikan setiap kami bertukar sapa. Dan yang terpenting kami bisa saling bertanggung jawab pada kehidupan kami berdua, dan menghargai satu sama lainnya ~ terus gue penasaran, kenapa Ibu dan Omoni nggak bahas soal komunikasi dan beliau jawab komunikasi itu hal basic, nggak perlu dikasih tau juga seharusnya kami sudah tau kalau itu penting hahaha.

Beliau bilang kenapa beliau lebih tekankan respect dan considerate karena ketika berkomunikasi, akan selalu ada kemungkinan dimana kita crash ๐Ÿ™ˆ entah karena nggak sepaham, atau nggak mengerti apa maksud dan tujuan dari pasangan -- disitulah respect dan considerate dibutuhkan, respect kalau masing-masing dari kita punya 'suara' yang artinya bisa jadi kita memiliki pemikiran berbeda dan considerate jika pasangan kita nggak mengerti apa maksud dan tujuan kita. Dengan begitu kita akan berusaha untuk ubah cara komunikasi kita agar bisa mencapai kesepakatan dan nggak memaksakan kehendak kita.

---

Back to topic soal rasa was-was apabila punya anak, Ibu dan Omoni cuma berpesan untuk gue stay strong di atas kaki gue sendiri sebagai pribadi dengan prinsip dan value yang gue punya ๐Ÿ˜ karena dengan begitu, orang-orang nggak bersikap sembarangan ๐Ÿ™ˆ dan anak-anak juga nggak akan merasa malu orang tuanya berbeda, karena anak-anak bisa melihat dan sadar akan value orang tua mereka.

Well, walau gue nggak tau apakah cara mendidik anak jaman Ibu dan Omoni bisa berlaku di era sekarang, tapi gue akan memegang semua nasehat yang Ibu dan Omoni berikan serta contoh-contoh baik yang pernah beliau lakukan dalam membesarkan kami berdua ~ ๐Ÿ˜๐Ÿคญ๐Ÿ’• eniho, kalau teman-teman, nasehat ortu apa yang paling diingat? ๐Ÿ˜
A few days ago, I read a news about bully to school children in Korea, and the news was quite successful in giving me a headache because I feel like nowadays, the bullying cases became more rampant ๐Ÿคง the bullying technique has become even more advanced, some of them even talking about other parent's salary or parent's job and I feel bad whenever I read that kind of news. On top of that, many kids suffer from bullying which make them hates and blames their parents ๐Ÿ˜ฉ

They told their parents, "Why isn't Dad getting a big salary?" or, "Why does mom work as cleaning service?" ๐Ÿ™„ not to mention if the child is physically bullied, some of them will go to home with angry feeling and shouting to their parents, "Why are my parents so ugly! Because you are ugly, I become ugly, too." ๐Ÿฅด๐Ÿ˜ฅ Omayyyygad!

Honestly, it makes me worry when I have a kid later (though I don't think about it now -- don't asking why ๐Ÿ˜†), can my kid survive and not be oppressed? What if my kids don't recognize me as their mother? (Sometimes it happened, kid doesn't recognize their parents) ๐Ÿ˜ญ and what if they rebel then run away from home? ๐Ÿ˜…

I keep trying to find the answer til now hahaha ๐Ÿ˜‚ thank God I have a man who can understands my heart and he said, "Don't worry. You should hold on to your principles and values. Kid will be proud of whoever their mother is as long as their mother is proud of herself regardless of her status. if you feel confident, kid will feel confident. Just like their mom. As simple as that." ๐Ÿคญ๐Ÿ‘Œ

---

Hehehee, if I may be honest, one day when I have a kid in the future, I will raise my kid in a way of our Moms raising us because our Moms both have more or less the same principles ๐Ÿ˜‚✌ Moms are not the type to talk a lot, and always gives their fully trust to their kids ๐Ÿ˜†

From this belief, Mom emphasized that I and my man should take full responsibility for the choices we made ๐Ÿ™ˆ Mom also didn't giving us much advices except to be human who can respect and considerate to other people ~ ๐Ÿ’• in fact, that's all the advices which I remember from Mom -- Mom said, "When we respect and considerate to other people out there, the good things will come to us." -- how?

Respect if everyone's different, even me and my man are different human beings with our own strengths and weaknesses. And out of respect will comes a sense of consideration and we learn to consider anything that we wanna do ~ so we become more careful in keeping our positive attitude, and try to protect the feelings of those around us, including our feelings and our partners ๐Ÿ˜

Is that important to protect other people's feelings??? Well, Mom said maintaining other feelings are very important, and that's exemplified by Mom ๐Ÿคญ just like Mom who never hurt me once ~ moreover, she always considerate and keep my feelings to remain comfortable. She also respect every choices that I made ๐Ÿ˜ ehehehehehe.

For Mom, knowing that we both happy is enough, and Mom never forgot to ask, "Are you happy?" every time we exchanged greetings ๐Ÿ˜ฌ because Mom said that the most important thing is we can take responsibility for our lives, and respect each other ~ anyhow, I was curious, why Mom didn't talk much about communication and Mom answers was... communication is basic, so even though Mom not talk about it, we should already know that it is important hahaha.

Albeit, why Mom emphasized about respect and considerate because when we communicating to each other, there would be a possibility where we crashed ๐Ÿ™ˆ either because we did not understand, or did not know what kind of intentions that our partners had ๐Ÿ˜ that's why respect and considerate needed, respect because each of us have a 'voice' which means we can have different thoughts and considerate if our partners do not understand what our intentions and goals are. That way, we can reach an agreement ๐Ÿ˜„ yayyy!

---

Back to the topic about my worry what if I have a kid, Mom only told me to stay strong on my own feet as a person with the principles and values ​​that I have because that way, people will not behave carelessly to me ๐Ÿ™ˆ and kid will not feel ashamed if their parents are different, because kid can acknowledge their parent's value related to life.

Well, though I don't know whether a way to educate kid from Mom's era can apply to this era, but I will keeping all the advices that Mom gave as well as good examples that Mom did in raising both of us ๐Ÿ˜ how about you, what is your parent's advice that you remember? ๐Ÿ˜
๋ช‡์ผ ์ „, ํ•œ๊ตญ ํ•™๊ต์—์„œ ์ผ์–ด๋‚œ ๊ดด๋กญํž˜์— ๋Œ€ํ•œ ๋‰ด์Šค๋ฅผ ๋ดค์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์š”์ฆ˜ ๊ดด๋กญํžˆ๋Š” ์‚ฌ๊ฑด์ด ๊ฝค ๋งŽ์ด ์ผ์–ด๋‚˜๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ๋‘ํ†ต์ด ๋ฐ€๋ ค์™”์–ด์š” ๐Ÿคง ์‹ฌ์ง€์–ด ๊ดด๋กญํžˆ๋Š” ๊ธฐ์ˆ ์ด ๋ฐœ์ „ํ•ด์„œ ๊ทธ๋“ค ์ค‘ ๋ช‡๋ช‡์€ ๋ถ€๋ชจ๋‹˜์˜ ์›”๊ธ‰์ด๋‚˜ ์ง์—…์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์ด์•ผ๊ธฐํ•ด์š” ๊ทธ๋ž˜์„œ ๊ทธ๋Ÿฐ ๋‰ด์Šค๋ฅผ ๋ณผ ๋•Œ ๋งˆ๋‹ค ๊ธฐ๋ถ„์ด ์•ˆ์ข‹์•„์š”. ๊ฒŒ๋‹ค๊ฐ€, ๋งŽ์€ ์•„์ด๋“ค์ด ๊ดด๋กญํž˜์„ ๋‹นํ•ด์„œ ๊ทธ๋“ค์˜ ๋ถ€๋ชจ๋ฅผ ๋ฏธ์›Œํ•œ๋‹ค๊ณ  ํ•ด์š” ๐Ÿ˜ฉ

๊ทธ๋“ค์€ ๊ทธ๋“ค์˜ ๋ถ€๋ชจ์—๊ฒŒ "์™œ ์•„๋น ์›”๊ธ‰์ด ๋งŽ์ง€ ์•Š์•„?" ํ˜น์€ "์™œ ์—„๋งˆ๋Š” ์ฒญ์†Œ์ผ์„ ํ•ด?" ๋ผ๊ณ  ํ•ด์š” ๐Ÿ™„ ์œก์ฒด์ ์œผ๋กœ ๊ดด๋กญํž˜์„ ๋ฐ›๋Š” ์•„์ด๋“ค์€ ์ง‘์—์™€์„œ ๊ทธ๋“ค์˜ ๋ถ€๋ชจ์—๊ฒŒ ์†Œ๋ฆฌ์ณ์š” "์™œ ๋‚ด ๋ถ€๋ชจ๋Š” ๋ชป์ƒ๊ฒผ์–ด! ์—„๋งˆ๊ฐ€ ๋ชป์ƒ๊ฒจ์„œ ๋‚˜๋„ ๋ชป์ƒ๊ฒผ์ž–์•„" ๐Ÿฅด๐Ÿ˜ฅ Omayyyygad!

์‚ฌ์‹ค, ๋‚˜์ค‘์— ์ œ๊ฐ€ ์•„์ด๋ฅผ ๊ฐ€์ง€๋ฉด ์ข€ ๊ฑฑ์ •๋˜์š”(์ง€๊ธˆ์€ ์ƒ๊ฐํ•˜๊ณ ์‹ถ์ง€ ์•Š์•„์š” -- ์™œ์ธ์ง€๋Š” ๋ฌผ์–ด๋ณด์ง€ ๋งˆ์„ธ์š” ๐Ÿ˜†), ์ž๋…€๊ฐ€ ์‚ด์•„๋‚จ์•„์„œ ์–ต์••๋ฐ›์ง€ ์•Š์„ ์ˆ˜ ์žˆ์„๊นŒ์š”? ์ž๋…€๊ฐ€ ์ €๋ฅผ ์—„๋งˆ๋กœ ์ธ์ •ํ•˜์ง€ ์•Š์œผ๋ฉด ์–ด์ฉŒ์ฃ ?(๊ฐ€๋” ์ž๋…€๋“ค์€ ๋ถ€๋ชจ๋ฅผ ์ธ์ •ํ•˜์ง€ ์•Š์•„์š”) ๐Ÿ˜ญ ๊ทธ๋Ÿฌ๊ณ  ๋‚˜์„œ ์ง‘์„ ๋‚˜๊ฐ€๋ฉด ์–ด์ฉŒ์ฃ ? ๐Ÿ˜…

์•„์ง๊นŒ์ง€ ๋‹ต์„ ์ฐพ์œผ๋ ค๊ณ  ๋…ธ๋ ฅํ•˜๊ณ  ์žˆ์–ด์š” hahaha ๐Ÿ˜‚ ๊ฐ์‚ฌํ•˜๊ฒŒ๋„ ์ €์—๊ฒŒ๋Š” ์ €๋ฅผ ์ดํ•ดํ•ด์ฃผ๊ณ  "๊ฑฑ์ •๋งˆ ๋„ˆ๊ฐ€ ์›์น™๊ณผ ๊ฐ€์น˜๋ฅผ ์ง€ํ‚ค๊ณ  ์žˆ์–ด์•ผ๋˜. ์ž๋…€๋Š” ์–ด๋–ค ์—„๋งˆ๋“  ์Šค์Šค๋กœ ์ž๋ž‘์Šค๋Ÿฝ๊ฒŒ ์—ฌ๊ฒจ์•ผ ์ž๋ž‘์Šค๋Ÿฌ์›Œ ํ• ๊ฑฐ์•ผ. ์ž์‹ ๊ฐ์„ ๊ฐ€์ง€๋ฉด ์ž๋…€๋„ ์ž์‹ ๊ฐ์„ ๊ฐ€์งˆ๊ฑฐ์•ผ. ๊ทธ๋“ค์˜ ์—„๋งˆ์ฒ˜๋Ÿผ. ๊ฐ„๋‹จํ•˜์ง€"๋ผ๊ณ  ๋งํ•ด์ฃผ๋Š” ๋‚จ์ž๊ฐ€ ์žˆ์–ด์š” ๐Ÿคญ๐Ÿ‘Œ

---

Hehehee, ์–ธ์  ๊ฐ€ ์ž๋…€๊ฐ€ ์ƒ๊ธฐ๋ฉด ๊ฐ™์€ ์›์น™์„ ๊ฐ€์ง€๊ณ  ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ์šฐ๋ฆฌ ์—„๋งˆ๊ฐ€ ํ‚ค์›Œ์ค€ ๋ฐฉ์‹์œผ๋กœ ํ‚ค์šธ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜‚✌ ์—„๋งˆ๋Š” ๋ง์„ ๋งŽ์ดํ•˜๋Š” ํƒ€์ž…์ด ์•„๋‹ˆ์—์š” ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ํ•ญ์ƒ ์ž๋…€์—๊ฒŒ ์‹ ๋ขฐ๋ฅผ ๊ฐ€๋“์คฌ์–ด์š” ๐Ÿ˜†

์ด๋Ÿฐ ๋ฏฟ์Œ์—์„œ ์—„๋งˆ๋Š” ์ €์™€ ์ œ ๋‚จ์ž๊ฐ€ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ๋งŒ๋“ค์–ด๋‚ธ ์„ ํƒ์— ์ฑ…์ž„์„ ์ ธ์•ผํ•œ๋‹ค๊ณ  ๊ฐ•์กฐํ–ˆ์–ด์š” ๐Ÿ™ˆ ์—„๋งˆ๋Š” ๋˜ ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์—๊ฒŒ ์กด๊ฒฝ๋ฐ›๊ณ  ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์„ ๋ฐฐ๋ คํ•˜๋Š” ์‚ฌ๋žŒ์ด ๋˜๋ผ๋Š” ๊ฒƒ ์™ธ์— ๋„ˆ๋ฌด๋งŽ์€ ์กฐ์–ธ๋„ ํ•˜์ง€ ์•Š์•˜์–ด์š” ~ ๐Ÿ’• ์‚ฌ์‹ค์€ ๊ทธ๊ฒŒ ๊ธฐ์–ต๋‚˜๋Š” ์—„๋งˆ์˜ ์กฐ์–ธ ์ „๋ถ€์—์š” -- ์—„๋งˆ๋Š” "์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์กด๊ฒฝ๋ฐ›๊ณ  ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์„ ๋ฐฐ๋ คํ•  ๋•Œ ๋ณต์ด ์˜จ๋‹ค" ๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š” -- how?

๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์˜ ๋‹ค๋ฆ„์„ ์กด์ค‘ํ•ด๋ผ ์ €์™€ ๋‚ด๋‚จ์ž๋Š” ๊ฐ€์ง„ ์žฅ/๋‹จ์ ์ด ๋‹ค๋ฅธ ์‚ฌ๋žŒ์ด์—์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์กด์ค‘์„ ๋„˜์–ด์„œ ๋ฐฐ๋ ค๊ฐ€ ๋˜๊ณ  ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ํ•˜๊ณ ์‹ถ์–ดํ•˜๋Š” ์–ด๋–ค๊ฒƒ์— ๋Œ€ํ•ด ์ƒ๊ฐํ•˜๋Š”๋ฒ•์„ ๋ฐฐ์›Œ์š” ~ ๊ทธ๋ž˜์„œ ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์šฐ๋ฆฌ ๊ธ์ •์ ์ธ ํƒœ๋„๋ฅผ ์œ ์ง€ํ•˜๋Š” ๊ฒƒ์— ์กฐ์‹ฌํ•˜๊ฒŒ ๋˜๊ณ  ์šฐ๋ฆฌ์˜ ๊ธฐ๋ถ„ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ํŒŒํŠธ๋„ˆ๋“ค์˜ ๊ธฐ๋ถ„์„ ํฌํ•จํ•œ ์ฃผ๋ณ€์˜ ๊ธฐ๋ถ„์„ ๋ณดํ˜ธํ•˜๋ ค๊ณ  ๋…ธ๋ ฅํ•ด์š” ๐Ÿ˜

๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ๋“ค์˜ ๊ธฐ๋ถ„์„ ๋ณดํ˜ธํ•˜๋Š”๊ฒŒ ์ค‘์š”ํ• ๊นŒ์š”??? ์Œ, ์—„๋งˆ๋Š” ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์˜ ๊ธฐ๋ถ„์„ ์œ ์ง€ํ•˜๋Š”๊ฒŒ ์ค‘์š”ํ•˜๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ทธ๊ฑด ์—„๋งˆ์— ์˜ํ•ด์„œ ์ฆ๋ช…๋ฌ์–ด์š” ๐Ÿคญ ๋‚ด ๊ธฐ๋ถ„์„ ํ•œ๋ฒˆ๋„ ์ƒํ•˜๊ฒŒ ํ•˜์ง€ ์•Š์€ ์—„๋งˆ์ฒ˜๋Ÿผ ~ ๋”์šฑ์ด ๊ทธ๋…€๋Š” ํ•ญ์ƒ ๋ฐฐ๋ คํ•˜๊ณ  ํŽธ์•ˆํ•˜๊ฒŒ ํ•ด์ค˜์š”. ๊ทธ๋…€๋Š” ๋˜ ์ œ๊ฐ€ ํ•œ ๋ชจ๋“  ์„ ํƒ์„ ์กด์ค‘ํ•ด์คฌ์–ด์š” ๐Ÿ˜ ehehehehehe.

์—„๋งˆ์—๊ฒŒ๋Š” ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ํ–‰๋ณตํ•˜๊ฒŒ ์‚ด๊ณ ์žˆ๋‹ค๋Š”๊ฑฐ๋กœ ์ถฉ๋ถ„ํ•˜๊ณ  ๋งŒ๋‚  ๋•Œ ๋งˆ๋‹ค "ํ–‰๋ณตํ•˜๋‹ˆ?"๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์–ด๋ณด๋Š”๊ฑธ ์žŠ์€์ ์ด ์—†์–ด์š” ๐Ÿ˜ฌ ์—„๋งˆ๋Š” ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์šฐ๋ฆฌ ์‚ถ์— ์ฑ…์ž„์„ ์ง€๊ณ  ์„œ๋กœ ์กด์ค‘ํ•˜๋Š”๊ฒŒ ์ค‘์š”ํ•˜๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š”~ ์–ด์จŒ๋“ , ์ €๋Š” ์™œ ์—„๋งˆ๊ฐ€ ์ปค๋ฎค๋‹ˆ์ผ€์ด์…˜์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ๋งŽ์ด ์ด์•ผ๊ธฐํ•˜์ง€ ์•Š์•˜๋Š”์ง€ ๊ถ๊ธˆํ–ˆ๊ณ  ์—„๋งˆ์˜ ๋Œ€๋‹ต์€... ์ปค๋ฎค๋‹ˆ์ผ€์ด์…˜์€ ๊ธฐ๋ณธ์ด๊ณ  ์—„๋งˆ๊ฐ€ ๋ง์„ ํ•˜์ง€ ์•Š์•„๋„ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์•Œ์•„์„œ ๊ทธ๊ฒŒ ์ค‘์š”ํ•˜๋‹ค๋Š”๊ฑธ ์ด๋ฏธ ์•Œ๊ณ ์žˆ์–ด์•ผ ํ•œ๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š” hahaha.

๊ทธ๋Ÿฐ๋ฐ๋„ ์™œ ์—„๋งˆ๋Š” ์กด๊ฒฝํ•˜๊ณ  ๋ฐฐ๋ คํ•˜๋Š”๊ฑธ ๊ฐ•์กฐํ–ˆ์„๊นŒ์š”? ๊ทธ๊ฑด ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์„œ๋กœ ์ปค๋ฎค๋‹ˆ์ผ€์ด์…˜ํ•  ๋•Œ ์ถฉ๋Œํ•  ์ˆ˜๋„ ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š” ๐Ÿ™ˆ ํ˜น์€ ์˜๋„๋ฅผ ์ดํ•ดํ•˜์ง€ ๋ชปํ–ˆ๊ฑฐ๋‚˜ ๋ชจ๋ฅผ ์ˆ˜๋„ ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š” ๐Ÿ˜ ๊ทธ๋ž˜์„œ ์กด์ค‘๊ณผ ๋ฐฐ๋ ค๋Š” ํ•„์š”ํ•ด์š”. ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ๊ฐ์ž์˜ '๋ชฉ์†Œ๋ฆฌ'๋ฅผ ๊ฐ€์ง€๊ณ  ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ํŒŒํŠธ๋„ˆ๊ฐ€ ๋ชฉ์ ์„ ์ดํ•ดํ•˜์ง€ ๋ชปํ–ˆ๋‹ค๋ฉด ๋‹ค๋ฅธ ์ƒ๊ฐ์„ ๊ฐ€์งˆ ์ˆ˜ ์žˆ๊ณ  ๋ฐฐ๋ คํ•  ์ˆ˜ ์žˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ ‡๊ฒŒํ•˜๋ฉด ํ•ฉ์˜์— ๋„๋‹ฌํ•  ์ˆ˜ ์žˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜„ yayyy!

---

๋‚ด๊ฐ€ ์ž๋…€๋ฅผ ๊ฐ€์งˆ ๋•Œ์˜ ๊ฑฑ์ •์ธ ์ฃผ์ œ๋กœ ๋Œ์•„์™€์„œ ์—„๋งˆ๋Š” ์›์น™๊ณผ ๊ฐ€์น˜๋ฅผ ๊ฐ€์ง„ ์‚ฌ๋žŒ์œผ๋กœ์จ ๋ฐ”๋กœ์„œ์•ผํ•œ๋‹ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๊ฒƒ๋งŒ์ด ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์ด ๋‚˜์—๊ฒŒ ํ•จ๋ถ€๋กœ ๋Œ€ํ•˜์ง€ ๋ชปํ•˜๊ฒŒ ํ•˜๋Š” ๊ธธ์ด๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š” ๐Ÿ™ˆ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ถ€๋ชจ๊ฐ€ ๋‹ค๋ฅด๋”๋ผ๋„ ๋ถ€๋ชจ์˜ ์ธ์ƒ์˜ ๊ฐ€์น˜๋ฅผ ์•Œ ์ˆ˜ ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ๋ถ€๋„๋Ÿฌ์›Œํ•˜์ง€ ์•Š์„๊ฑฐ์—์š”.

์Œ, ์—„๋งˆ ์‹œ๋Œ€์˜ ๊ต์œก๋ฐฉ๋ฒ•์„ ์ง€๊ธˆ์— ์ ์šฉํ•  ์ˆ˜ ์žˆ์„์ง€ ๋ชจ๋ฅด๊ฒ ์ง€๋งŒ ์—„๋งˆ์˜ ๋ชจ๋“  ์กฐ์–ธ์„ ์ €๋ฅผ ํ‚ค์›Œ์ฃผ์‹  ์ข‹์€ ์˜ˆ์‹œ๋กœ ๊ฐ„์งํ• ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜ ์—ฌ๋Ÿฌ๋ถ„์€ ์–ด๋–ค๊ฐ€์š”? ๋ถ€๋ชจ๋‹˜์˜ ์กฐ์–ธ ์ค‘์— ๊ธฐ์–ต์— ๋‚จ๋Š”๊ฒŒ ์žˆ์œผ์„ธ์š”? ๐Ÿ˜

52 comments:

  1. hmmm... karena nggak begitu dekat dengan ayah (dan beliau juga gak talkative), lalu nggak sempat "bicara" dengan ibu sebagai orang dewasa karena keburu nggak ada, bisa dibilang saya nggak bisa ingat "nasehat ortu yang paling diingat".

    beneran deh, saya mikir lumayan lama buat nyatet kira-kira apaaa ya nasehat dari ortu yang diingat. tapi saya nggak bisa ingat secara verbal hahaha. jadi, daripada nasehat/omongan, saya lebih ingat cara mereka berperilaku dan memperlakukan saya serta orang lain. disimpan yang baiknya dan dibuang yang jeleknya. jadinya ya nggak bisa dijelaskan dengan verbal. sambil ngetik ini saya jadi penasaran sendiri, kok bisa ga inget (....) apa aku bukan good listener (....)

    Saya juga suka mengambil nasihat-nasihat dari "orangtua orang lain". entah sosok di kantor yang saya tuakan, ibunya teman, tante, pokoknya saya ngumpulin dari mana aja. tapi nggak bisa dibilang nasehat orangtua yaa, soalnya kalau orangtua sendiri, ya itu, ngga ada yang ingat hahahaha...

    nasihat "hormati pasangan, dan berlakulah dengan mementingkan pasangan terlebih dahulu" ini, saya dapatkan dari rekan kantor yang sudah saya anggap kakak sendiri. saya juga merasakan kekhawatiran yang sama waktu itu huhuhuhu coret takut sama mertua coret.... ketakutan itu sebenernya ya bisa sirna kalo kita berpikir positif dan menerima, serta menghormati keinginan dan/atau kemauan pasangan/keluarga pasangan. ngertiin dulu biar orang lain pun bisa ngerti kita... gitu intinya kayaknya.

    baca post ini, jadi merasa diingatkan lagi. thanks for the post ya mbaa... :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin, orang tua mba Mega, lebih banyak memberikan contoh secara langsung apa-apa saja kebaikan yang perlu dan bisa dilakukan ๐Ÿ˜ hehehe. It doesn't mean mba bukan good listener, karena nyatanya mba ingat apa-apa saja kebaikan yang diwariskan oleh orang tua mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Saling menghormati memang penting ya mba, karena dengan saling menghormati kita bisa punya strong bond satu sama lainnya ๐Ÿ˜† eniho soal ketakutan pada orang tua pasangan, itu normal, secara yang sering kita lihat dan dengar kan demikian adanya ๐Ÿ˜‚ tapi kalau sudah dijalani, selama kita menjadi pribadi yang baik, sepertinya akan lebih mudah untuk kita diterima ๐Ÿคญ

      Terima kasih sudah membaca mba ๐Ÿ˜ saling belajar dan mengingatkan, semoga kebaikan selalu bersama kita ๐Ÿ’•

      Delete
  2. Saya percaya suatu waktu Eno akan menjadi ibu yang bijak sehingga anakmu akan bangga dan tidak ambil peduli dengan segala macam omongan orang terhadap ibunya.

    :-D :-D

    Bully memang menjadi masalah utama dalam sistem masyarakat belakangan ini. Untungnya, si Kribo cilik ternyata tahu cara menghadapinya dengan bijak.

    Tahun ini ia memilih universitas swasta untuk meneruskan pendidikannya, dan hal itu menyebabkannya menjadi sasaran ejekan teman-temannya.

    Ada yang bilang, "Elu mah bukannya pake otak dulu (ikut SNMPTN dan sejenisnya), malah langsung masuk swasta".

    Si Kribo bilang, "Elu mah sibuk amat ngurusin orang laen. Elu mau masuk negeri mah, ya masuk ajah. Kenapa musingin pilihan gue"

    Intinya begitu.

    Dan, dia santuy saja menghadapi masalah bully, karena setidaknya dia sudah dibekali mental yang cukup tangguh menghadapi semua kemungkinan dalam perjalanan hidupnya.

    Sesuatu yang saya pikir Eno akan wariskan kepada anak Eno kelak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin semoga mas, saya ingin apabila suatu hari nanti berencana menjadi ibu (sampai detik ini kami berdua belum berencana jadi orang tua padahal usia sudah tuwak), agar anak saya bisa menerima saya apa adanya ๐Ÿ™ˆ namun juga dari sayanya berusaha menjadi pribadi yang baik untuk anak-anak ๐Ÿคญ dan saya belajar banyak dari mas Anton dan tulisan-tulisan mas ๐Ÿ˜

      Iya mas, bully itu akan selalu ada di mana-mana, yang diperlukan memang membekali anak-anak mentality yang kuat dan stand up pada 'kepercayaannya' agar bisa melalui hari tanpa tekanan ๐Ÿ˜† thank God, mas Kribo anak kesayangan mas Anton bisa bijak dalam menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan. Wish he can grow up menjadi pribadi yang baik seperti ayahnya ๐Ÿ˜

      Once again, terima kasih untuk komentarnya, mas ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  3. Beberapa bulan lalu, istri saya sempat menonton Sky Castle, saya yang ikut nonton jadi seram juga melihat betapa besar pressure orang tua ke anak anaknya untuk bisa diterima di Ivy League, as if hidup orang tua tak bahagia saat anak tak bisa masuk Harvard. Saya pikir ini drama rekaan saja, ternyata kalau membaca tulisan Eno, this sh*t truly happens ya. Miris.

    Pernah saya dan teman teman sekelas dulu di Jepang bikin survei kecil-kecilan ttg Ijime (alias bunuh diri). Jepang waktu itu memegang rekor angka bunuh diri siswa kedua tertinggi di dunia. Mengejutkannya, beberapa siswa yang kami interview menyampaikan bahwa tuntutan orang tua kepada mereka untuk berprestasi dan diterima di kampus ternama sangat tinggi, selain itu bully dari teman teman sebaya juga menjadi salah satu faktor utama.

    Bersyukurnya Eno dan pasangan dibesarkan dalam keluarga yang melihat kebahagiaan bukan dari status dan kuliahnya di kampus mana. Melainkan, melihat kebahagiaan dari melakukan apa yang kita suka. Semoga keluarga besar kalian akur terus dan bahagia terus Eno. Another great sharing from you

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sky Castle itu bentukan nyata dari sistem pendidikan di Korea mas, tekanannya memang begitu. Padahal jadi nomor dua menurut saya sudah bagus, tapi buat ortu, nomor satu tetap yang utama ๐Ÿ˜‚ dan anak-anak di Korea banyak yang kejar Ivy League atau SKY (Seoul, Korea, Yonsei) University agar bisa punya masa depan cerah ๐Ÿ˜

      Alasan yang sama juga terjadi di Korea mas, banyak yang akhirnya 'menyerah' dan memilih mengakhiri hidupnya karena gagal semisal gagal tes masuk perguruan, gagal jadi juara, dan gagal-gagal lainnya. Kalau sudah gagal, mereka merasa hopeless semacam hidup nggak punya tujuan jadi buat apa hidup. Banyak dari mereka nggak percaya Tuhan, yang mereka percaya itu diri sendiri, alhasil kalau mereka ada pada satu titik hilang kepercayaan diri, mereka bukan lari mencari 'Tuhan' dan berkeluh kesah padanya, melainkan mengakhiri nasib ๐Ÿ˜ญ

      Di Korea pun banyak bangetttt yang hidupnya susah dan kekurangan, jadi kalau terlihat sebagai negara maju nyatanya nggak juga. Anak-anak muda banyak yang kesulitan dapat kerja karena mereka maunya kerja di perusahaan besar, dan masuk perusahaan besar itu nggak mudah. Itu menyebabkan mereka terus belajar dan coba untuk tes berulang-ulang sampai tembus, mas. Lha iya kalau tembus, tapi kalau nggak dan usia semakin bertambah, beban otomatis ikut bertambah pula.

      Amiiiiin mas Cipu, saya cukup beruntung nggak dipaksa harus begini dan begitu yang penting hidup sesuai dengan keinginan, moderate, dan bahagia ๐Ÿ™ˆ semoga kita semua bisa menjalani hari-hari dengan sebaik-baiknya ya mas. Dan terima kasih sudah membaca ๐Ÿ˜

      Delete
  4. Jujurnya yaaa mba, aku ga terlalu Deket Ama ortu kandungku, Krn mereka sedikit "memilih suku" . Dan itu aku ga suka. Makanya, ga terlalu banyak omongan yg bisa aku terapin dalam hidup. Palingan soal agama aja.

    Aku LBH berkiblat Ama mertua, yg pemikirannya LBH luas, dan tolerant.mungkin yaaa Krn mertua diplomat, terbiasa pindah2 ke banyak negara yg mana culture pasti beda2. Buat mereka, sejauh apapun kita melangkah, jgn pernah aja lupakan akar.

    Makanya suamiku jd seperti yg skr. Berteman ga peduliin agama, suku, etnis, tolerant dengan siapapun. Dan aku pgn anak2ku seperti itu. Tujuanku bawa anak2 traveling sbnrnya LBH ke arah pengen nunjukin, kalo di dunia sana banyak org yg berbeda dengan kita. Agama beda, kebiasaan beda, bahasanya beda, kulit juga ga sama. Jadi mereka bisa sadar kalo hidup itu ga bisa dipaksain semua hrs sesuai dngn kita. Yg ada kitanya yg hrs bisa tolerant terhadap siapapun.

    Aku ga nyangka kalo Korsel bullying nya separah itu. Aku memang srg nonton drakor yg mana isinya bullying. Tp kukira itu hanya drama mba. Ternyata dlm kehidupan nyatanya sama aja ya :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah suka sama kata-kata mertua mba ๐Ÿ˜ setuju saya, memang sebaiknya jangan pernah lupa darimana kita berakar terlepas bagaimana orang tua kita ~ ๐Ÿ’•

      Saya juga paling nggak ingin membedakan agama, suku dan lain sebagainya. Karena keluarga besar saya pun mixed bangetttt, dari Sabang sampai Merauke ada, jadi sudah terbiasa dengan yang namanya perbedaan namun tetap satu under Indonesia ๐Ÿ™ˆ menjadi toleran menurut saya sangat penting mba, dan itu salah satu yang ingin saya ajarkan pada anak-anak kelak (apabila punya) hehehe. Karena toleransi merupakan cikal bakal kita bisa respect dan considerate pada sesama ๐Ÿ˜†

      Di Korea, bullying termasuk parah mba, apalagi jaman sekarang ๐Ÿคง

      Delete
  5. Kalau lihat drama emang sering banget lihat ada adegan pembullyan dan itu bikin saya sebel banget. Geregetan.... Saya jadi bersyukur hidup di desa yang orang-orangnya masih saling menghargai banget.

    Kalau nasihat yang paling saya inget dari orangtua sih ada banyak sebenarnya, tapi satu yang paling sering diucap. Supaya saya disiplin. Soalnya saya itu pelupa dan suka naruh barang nggak ditempatnya. Jadi pas butuh pasti ribut sendiri, manggil emak suruh bantuin dan karena ada the power of emak, itu benda langsung ketemu๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung lho mba hidup di mana kita bisa saling menghargai dan nggak saling melindas satu sama lain ๐Ÿ˜† kadang saya justru merasa yang di desa lebih bersikap bijak daripada yang di kota ๐Ÿ™ˆ hehehehehe.

      Disiplin juga merupakan salah satu hal yang penting, meski awalnya sulit ๐Ÿคญ hahahaha. Dulu waktu kecil saya sering nggak disiplin, sama seperti mba Astria perihal urusan taruh barang nggak pada tempatnya sering kali terjadi. Tapi semakin ke sini, setelah lepas dari ortu, jadi berasa banget efek buruk nggak disiplin ๐Ÿ˜‚ yang membuat saya akhirnya sadar sebelum semua barang hilang karena kekurang-disiplinan saya sendiri ~ ๐Ÿคช

      Delete
  6. Beraaat banget ya ternyata jadi warga korea itu, anak" aja apa ga stres toh mbak dari kecil wajib dan harus jadi yg ter the best... Ga salah sih yaa, hanya aja Kalo ga kuat" bisa modar yaa, persaingannya gila banget. Kalo di sini pan jaman ortu kita itu masih menanamkan sifat welas asih, terima apa adanya, bersyukur dalam segala hal, laah ga kebayang saya mbak... Bersyukur mbak Eno dapet Omoni yg pengertian, cakeeep daah ๐Ÿ˜๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang stres mba, tapi mungkin karena sudah jadi kultur dan kebiasaan, mereka mungkin nggak tau kalau anak-anak di luar sana banyak yang sekolahnya lebih santai dan enak ๐Ÿ˜‚ maybe dipikir semua sekolah sama seperti mereka yang harus ikut akademi les ini itu sampai malam ๐Ÿ™ˆ

      Si kesayangan pun kaget waktu tau saya jaman sekolah pulang cepat, ikut les cuma kalau sudah mau ujian nasional itupun cuma 2 jam nggak seperti mereka yang bisa belajar sampai jam 11 malam ๐Ÿคฏ sistem Korea memang berbeda jauh dari sistem Indonesia. Dan menurut saya nggak salah, hanya setuju dengan mba Hen, butuh mental kuat untuk menjalaninya which is nggak mudah ๐Ÿ™ˆ

      Terima kasih mba Hen sudah membaca ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  7. Great omoni #ah akupun demikian mba eno, meski mungkin ga sewise beliau, tapi prinsipku sekarang adalah kurang lebih seperti omoni, yaitu mengerjakan apa yang ada sekarang dengan hati gembira. Kalau hati gembira, respek terhadap sesama, saling menghargai pilihan masing-masing individu yang mungkin saja berbeda dengan kita, maka apa aja akan terasa mudah bukan untuk dijalani ?

    Meskipun dari sisi karir, saat ini aku memilih untuk lepas karir dulu karena anak-anakku masih butuh aku banget, alhamdulilah sampai sekarang aku jalani dengan bahagia, walaupun ya capek-capek sikit manusiawi lah ya, capek-capek banyak ngomel juga YHA haha... namanya juga manusia bukan robot. Ngeluh sikit wajar ahaha... aku mengatakan ini karena yang milih opsi itu ya aku sendiri. Bukan disuruh, walaupun pak su dengan senang hati pasti selalu menempatkanku dalam posisi yang senyaman-nyamannya as wife or mom, perkara nantinya akan kembali bekerja atau tetap jadi ibu rumah tangga atau malah siapa tau punya usaha (ngayal dulu boleeeh kan, hihi), tapi pak suami intinya selalu mendukung apapun pilihanku yang sekiranya versi ternyamanku.

    Lalu...

    Terkait dunia teenager yang penuh dengan drama bully, kebayang sih, seberapa kerasnya bullying di sana. Sebab beberapa kali aku juga nonton film korea yang seputar bully. Ga yang fisiknya kurang, ga yang nyaris perfect. Semuanya kena. Ya memang yang cantik dan dibully itupun di sini banyak mba eno...hihi, cuma memang yang kurang fisiknya kurang jadi korban lebih banyak lagi.

    Bully ini emang momok anak-anak usia sekolah. Sebagai orang tua, wajib hukumnya aku mencari info seluas-luasnya supaya kelak anak bisa berjauhan dengan perilaku bully atau naudzubilahimindaliknya jadi korban bully. Serem soalnya efeknya. Bisa kerekam lama sampai dewasa, huhu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Nita, sepertinya hidup jauh lebih mudah kalau kita bisa saling menghargai sesama dan considerate jadi kita nggak perlu compare hidup kita pada mereka, dan nggak merasa buruk hati semisal melihat hidup mereka berbeda dari kita. Dari sikap saling menghargai, kita bisa selalu sadar kalau kita semua berbeda ๐Ÿ˜

      Buat saya, jadi ibu rumah tangga itu mulia dan tentunya nggak mudah mba. Anak satupun sudah sangat sulit apalagi dua, tiga, empat dan lima ๐Ÿ™ˆ nggak kebayang jaman dulu ortu bisa punya anak sampai 10 misalnya ~ dan memang paling nyaman kalau apapun keputusan kita didukung oleh pasangan. Saya rasa dukungan pasangan sangat berperan penting dalam meraih kebahagiaan kita ๐Ÿ˜ jadi semangat terus mba Nitaaaaa ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Dan soal bully itu sudah mengakar sepertinya, di Indonesia juga sangat banyak saya lihat di berita. Miris kadang. Kenapa sampai bisa membully teman. Semoga edukasi soal bully semakin sering dibahas di sekolah dan di mana-mana, agar banyak yang semakin aware ๐Ÿ˜ dan semoga anak-anak mba Nita dijauhkan dari hal-hal yang berhubungan dengan bully serta memiliki mental kuat untuk selalu stand up di atas kaki sendiri ๐Ÿ˜ anak yang kuat lahir dari ibu yang kuat pula. So, be strong mba ๐Ÿ’•

      Delete
  8. Berat juga ya jadi anak di Korea, sejak kecil dituntut harus jadi yang terbaik. Memang ada segi positifnya sih, anak jadi rajin belajar agar jadi yang terbaik, tapi kasihan kalo anaknya terlalu dituntut dan malah terbebani.

    Beruntung Omoni mbak Eno pengertian ya, sama sepertinya ibunya mbak. Respek pada sesama manusia dan saling menghargai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan jadi terbebani mas, meski nggak jarang pula ada yang berusaha untuk memberikan yang terbaik ๐Ÿ™ˆ semoga anak mas Agus bisa menjalani hari-hari dengan kuat, dan dijauhkan dari bully yah ~ Amiiiin.

      Iya mas, wasyukurilah saya cukup beruntung ๐Ÿ˜† hihihi.

      Delete
  9. Ternyata ada dua wanita hebat dibalik hebatnya pemikiran kak Eno saat ini, ku saluttt ๐Ÿ™ˆ

    Kalau ngomongin bullying itu kadang suka nggak kebayang ya kak, bahkan anak kecil sekalipun kok bisa kepikiran hal-hal jahat yang dia lontarkan ke anak yang dibully gitu lho. Siapa yang ajarin ๐Ÿ˜ฃ
    Jadi jelek salah, jadi cantik salah, pinter salah, bodoh juga salah, jadi hidup serba salah ya. Sebenernya kalau bullying gini, dimana-mana pasti banyak tapi kalau di sana mungkin lebih sadis karena jiwa kompetisinya lebih tinggi. Duh kasihan ๐Ÿ˜ฃ

    Semoga bullying ini bisa perlahan menghilang atau paling nggak, nggak makin parah huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Lia, kakak juga nggak kebayang, kadang kaget bisa berucap seperti itu belajar darimana. Kemungkinan ada yang memberikan contoh kan entah di rumah maupun pergaulan luar ๐Ÿคง dan unfortunately, banyak anak yang nggak paham bagaimana cara menghadapi pembully-an which is akhirnya membuat mental anak jadi rusak dan tertekan ๐Ÿ˜ญ

      Nah, menurut kakak pun di Korea karena kompetisinya tinggi jadi ingin selalu menjadi yang terbaik, alhasil nggak suka kalau ada yang jauh lebih baik ~ entahlah, ada banyak kasus soalnya jadi nggak bisa pukul rata alasan-alasannya ๐Ÿ˜ฅ apapun itu, semoga kasus bully bisa berhenti, dan anak-anak (terutama) semakin aware untuk nggak membully satu sama lain ๐Ÿ’•

      Delete
  10. Kalau kata ibu yang paling aku ingat itu adalah selalu bersyukur dan jangan lupa libatkan Allah untuk setiap apa yang kita kerjakan. Sederhana banget, tapi entah kenapa kata-kata beliau itu yang bisa membuat aku tetap tegar walau dapat cobaan yang berat banget untukku di tahun lalu, Mbak Eno.๐Ÿ˜Š

    Ngomongin tentang kehidupan sosial di Korea ternyata berat banget ya, Mbak. Gak yakin deh, aku bisa kuat kalau kena bully terus-terusan gitu. Waktu sekolah aja beberapa kali kena body shaming udah bikin aku insecure sampai sekarang.๐Ÿ˜ญ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur memang wajib ya mba ๐Ÿ˜

      Dan setuju untuk nggak lupa melibatkan Sang Pencipta pada setiap langkah kita. Saya ikut membayangkan bagaimana beratnya cobaan mba ditahun lalu, namun thank God dan thanks to Ibunya mba, mba Roem jadi bisa melewatinya hingga stay strong sampai sekarang ๐Ÿ’•

      Body shaming ini salah satu tipe bully yang paling sering terjadi dan dilakukan. Entah kenapa kebanyakan melihat kekurangan seseorang sebagai modal untuk mengolok-oloknya ๐Ÿ˜ญ saya ada teman yang kena body shaming, sampai stres berat mba. Huhu. Semoga mba Roem bisa lebih merasa secure lagi pelan-pelan dan percaya kalau mba Roem nggak ada kurangnya. Semangat mba ๐Ÿ˜

      Delete
  11. Secara tidak sadar, sebenarnya kehidupan di kota besar di Indonesia hampir mirip dengan kehidupan di luar. Anak2 seperti mendapat banyak tuntutan sedangkan orangtua sendiri merasa 'gengsi' untuk memberikan sesuatu ke anak. Bisa jadi tekanan sesama orangtua yang menjadikan seperti ini. Misal, sekolah yang bagus dan mahal, barang harus branded.

    Tidak ada yang salah jika orangtua memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi kalau hanya karena gengsi? Ini yang jadi masalah.

    Kalau orangtua saya selalu mengajarkan untuk hidup sederhana dan berbagi dengan sesama, Mba. Nasihat itu yang selalu saya ingat dan saya jalankan sampai sekarang.

    Terima kasih, Mba, untuk sharingnya kali ini. Membuat saya jadi belajar lagi untuk menjadi orangtua yang lebih bijaksana.๐Ÿค—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mba, di kota besar juga banyak yang demikian. Saya sering lihat-lihat berita bully antar anak sekolah dan persaingan orang tuanya untuk memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Meski sebenarnya it's okay dan wajar untuk memberikan yang terbaik, nama pun anak tercinta. Tapi semoga bisa tetap dibekali dengan nasehat-nasehat positif agar mental anak terjaga (nggak jadi pembully maupun korban bully di luar) ๐Ÿ˜ dan semoga memberikan yang terbaik bukan karena gengsi ya, mba ~

      Dan nasehat orang tua mba sangattttt bagus karena saya pun merasakan dengan kita selalu berbagi pada sesama, hidup kita jadi jauh lebih bahagia. Semoga kita bisa terus berpegang pada nasehat-nasehat baik orang tua dalam menjalani hidup kita ๐Ÿ˜ dan terima kasih juga untuk mba Pipit karena sudah mau berbagi cerita ๐Ÿ’•

      Delete
  12. Saya ngga tau kalau di Korea, bully masih ada. Saya kira disini saja. Tapi ngomongin bully, kadang-kadang saya bingung juga barometernya itu apa. Kalo jaman kecil, saling ejek itu biasa. Semacam kenalan anak kecil. Atau paling tidak, diselesaikan dengan berantem 1 lawan 1. Tapi tidak untuk ditiru, sih.

    Sekarang, diera digital, bully merambah menjadi kegiatan sehari-hari yang kita kenal sebagai cyberbully. Terakhir yang paling besar kasusnya adalah perempuan Filipin yang main Tik Tok.

    Ohya, bisa jelasin dikit mba Eno masalah Ibu dan Omoni itu. Soalnya saya ngga paham. Saya search di google, Omoni artinya Ibu. Saya jadi bingung ๐Ÿ˜Ÿ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saling ejek itu berarti ke duanya bergerak karena ada kata saling (meski nggak untuk ditiru) ๐Ÿ™ˆ nah kalau bully atau perundungan itu mostly satu saja yang bergerak dan korbannya nggak bisa melakukan apa-apa atau membalas. Dan ejekannya juga kadang terlalu parah. Meski saya pribadi jujur belum tau barometernya sampai mana, tapi saya pikir, mengejek pun sudah nggak baik dan nggak seharusnya dilakukan ๐Ÿ˜…

      Di era digital, cyber bully semakin meraja lela, karena jempol kadang lari duluan ~ kasian juga kalau dipikir-pikir, kenapa perempuan Filipina itu sampai di-bully? Saya nggak ikut berita yang itu mas, taunya bully ke aktris Korea yang disebut pelakor oleh netizen Indonesia ๐Ÿคฆ‍♀️

      Eniho, Ibu itu panggilan saya ke Ibu saya sedangkan Omoni itu panggilan ke Ibunya si kesayangan hehehe ๐Ÿ˜ jadi itu nasehat dari Ibu saya dan Omoni dia, begitu mas Rahul ๐Ÿคญ maaf kalau buat bingung, yah ~

      Delete
    2. Iya benar, tidak untuk ditiru. ๐Ÿ˜

      Oh gitu yah, saya baru ngeh. Terima kasih penjelasannya yang sigap. Saya jadi ngga lupa pernah nanya ini ๐Ÿ˜

      Delete
    3. Sama-sama, mas Rahul ๐Ÿ˜

      Delete
  13. Ada dua nasihat yang berbeda nih Mbaa dari papa dan mamaku.

    Kalau nasihat dari papaku, kami sebagai saudara kandung dipesankan untuk selalu hidup akur, saling membantu dan mengasihi. Dan jangan lupa takut akan Tuhan selalu

    Kalau dari mama, khususnya buat aku sih sebagai perempuan, harus bisa mandiri, jangan selalu bergantung dengan pasangan. Intinya, perempuan itu juga harus kuat. Nggak boleh lemah.

    Skenario bully anak-anak yang di-mention Mba Eno di atas mengingatkan aku dengan salah satu drama serial pendek Korea berjudul "Their Precious Moment". Ceritanya ada anak yang dari keluarga biasa playdate ke rumah temannya yang kaya raya. Si anak kaya itu bisa-bisanya lho nanya si anak biasa ini tinggal di mana, terus saat dibilang apartemennya dia itu tempat orang miskin, si anak biasa ini nangis sedih tanya ke mamanya: "Omma, apakah kita miskin?" karena menurut dia selama ini sebenarnya dia berkecukupan dan bahagia dengan orangtuanya. Tapi hanya sepatah kalimat dari temannya itu dia jadi "mempertanyakan" statusnya. Sedih banget, they're so young! Dan makin sedih mendengar cerita Mba Eno bahwa ini masih terus jadi di kehidupan nyata T___T

    Aku setujuuu sekali dengan nasihat Ibu dan Omoni, tentang saling menghormati dan menghargai perbedaan. Menurut dari apa yang aku tonton di drama tersebut, sebetulnya masalah utama datang dari si orangtua sendiri. Kalau orangtua punya prinsip kuat tentang nilai perbedaan ini, pasti anak akan mengikuti. Kasarnya, si anak di 'cuci otak' sejak kecil supaya jadi sosok pribadi yang nggak memandang sebelah mata pada orang-orang.

    Beneran deh, aku sedih banget kalo dengar cerita bully jaman sekarang yang nggak hanya terjadi pada anak remaja, tapi pada anak-anak usia balita sekalipun ):

    Terima kasih Mba Eno udah bringing up this topic!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akur sesama saudara ๐Ÿ˜ setuju sama kata-kata papanya mba Jane, saya pun semakin ke sini semakin sadar betapa pentingnya menjaga hubungan bersama saudara ๐Ÿ™ˆ yang dulunya sering berantem jadi sering rindu sekarang ๐Ÿคฃ

      Dan setuju juga dengan pesan mama mba Jane, kalau kita sebagai perempuan harus mandiri dan kuat, dan nggak boleh selamanya bergantung dengan pasangan. Memiliki pasangan yang mampu dan bertanggung jawab itu baik, tapi kata ibu saya, kita sebagai perempuan harus bisa juga mengelola segala sesuatunya dengan baik. Incase nanti terjadi sesuatu pada pasangan, seenggaknya kita nggak kaget, dan bisa segera ambil sikap ๐Ÿ˜†

      Nah, yang mba Jane ceritakan itu, betul-betul banyak terjadi di dunia nyata, mba. Standar miskin dan kaya sangat bias, anak yang pada awalnya merasa hidup cukup dan mungkin merasa 'kaya' mendadak ketemu dengan anak yang merasa jauuuuuh lebih 'kaya' akhirnya terjadilah crash. Sedihnya, saya sering bertanya-tanya, anak-anak ini bisa tau level miskin dan kaya itu darimana. Pasti mereka mencontoh seseorang kan. Bisa jadi orang tuanya yang memang terbiasa membedakan seseorang dengan kelasnya ๐Ÿคง

      Semoga ke depannya semakin banyak yang aware untuk memberikan contoh lebih baik lagi pada sekitar. Nggak perlu lagi memandang sebelah mata orang-orang ๐Ÿ˜ญ dan semoga, dunia menjadi baik-baik saja ke depannya ๐Ÿ’• terima kasih juga sudah membaca, mba ๐Ÿ˜

      Delete
  14. "are you happy?"
    that's a quite rare question these days. kita lebih tertekan dengan apa yang kita belum capai dibandingkan orang lain sampai-sampai "am I happy?" jadi pertanyaan yang jarang, jangankan ke orang lain, ke diri kita sendiri aja jarang.

    you are so lucky punya ibu dan omoni kayak gitu. jadi inget film Kim Ji Young, yang perempuan harus dituntut begini, istri harus begitu sedangkan dia nya juga enggak happy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kita terlalu tertekan dengan apa yang belum dicapai, dan kesulitan untuk merasa cukup ~ that's why, kata-kata "Are you happy?" ini magis untuk saya karena membuat saya jadi berpikir dan sadar diri untuk lebih banyak bersyukur ๐Ÿ’•

      Semoga nggak ada lagi Kim Ji Young di sekitar kita ๐Ÿ˜

      Delete
  15. Setuju dengan nasihat dari Omoni dan Ibu dari Mbak Eno, bahwa kita harus menghargai dan respect dengan jalan hidup orang lain, tanpa harus men-judge macam-macam. Apalagi di jaman yang ada beda pendapat dari orang kebanyakan gini gampang ter-blully, huhu.

    Kalau dari orangtua saya sendiri yang paling diingat tuh perihal kejujuran. Apalagi jika udah menyangkut pautkan masalah uang. Jadi orang jujur di manapun berada, karena kejujuran di masa sekarang itu mahal harganya.

    Selain jujur, menjaga sabar dan syukur adalah nasihat ketika saya sedang senang maupun sedih dari kedua orangtua saya. Sampai kadang bosen sendiri hahaha. Tapi memang ampuh beneran sih nasihat-nasihat ini.

    Terima kasih telah posting cerita ini, Mbak! Luv luv luv <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, menghargai perbedaan itu penting. Bukan tugas kita menghakimi atau mempertanyakan cara orang lain menjalani hidup yang mereka punya ๐Ÿ˜„ tugas kita adalah fokus menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Dan setuju dengan nasehat orang tua mba Andhira ~ selama untuk kebaikan, bisa tetap dipegang. Agar pelan-pelan kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya ๐Ÿ˜ semangat untuk kita! ๐Ÿ˜

      Delete
  16. Mirip sky castle ya?
    saya nggak liat tuh drakor dengan seksama sih, tapi tahu sih garis besarnya.

    Sebenarnya di Indonesia juga banyak yang namanya bully membully.

    dan saya, bukan hanya yang jelek dan miskin yang dibully, yang kayak dan cantik juga.

    CUman enggak tahu ya, kayaknya mungkin mental orang Indonesia agak lebih kuat, jadinya meski mungkin mentalnya jadi aneh, setidaknya jarang terdengar ada yang bunuh diri kayak di Korea.

    Menurut saya, di Jakarta sih yang udah terus berkembang dalam modernisasi, termasuk mencontek kehidupan dari luar.
    Termasuk bully membully nya.

    Hanya doa yang bisa saya panjatkan, semoga anak-anak saya, tidak pernah jadi korban maupun pelaku bully.

    Apalagi korban ya, bahkan membayangkan, saya datangin ngamuk di rumah orang kalau tahu anak saya dibully wakakakaka.

    Astagaaa :D

    Betewe, thanks sharingnya say, respect dan kepercayaan.
    Jujur saya masih terus belajar akan hal ini.
    Khususnya buat anak saya.

    Kasian sih, sayanya parno syekaliii..

    Begini nggak boleh, begitu nggak boleh.
    Sampai si kakak selalu bilang, "percaya deh Mi, kakak bisa kok"

    Huhuhu...
    Kasian banget anak-anak saya ber ibu kan mamak yang dulu tumbuh besar dalam kata "awas!"

    Awas jatuh
    Awas anu
    Awas itu

    Sisi positifnya, saya jadi lebih tanggap dan siaga.
    Negatifnya ya, jadi sulit percaya pada anak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip-mirip, mba ๐Ÿ˜‚

      Sebenarnya pembully-an banyak terjadi di mana-mana. Cuma mungkin karena di Korea banyak yang nggak percaya Tuhan, jadi mereka nggak tau kalau ada masalah bisa lari dan mengadu ke Tuhan. Alhasil mereka merasa gagal dan lebih memilih jalan yang 'menyakitkan' untuk menyelesaikan permasalahan mereka ๐Ÿ˜–

      Senada seperti yang mba bilang, mentality orang Indonesia cukup kuat sebab mungkin karena masih punya tempat berkeluh kesah. Dan orang Korea sendiri kan pergaulannya terbatas, karena banyaknya senioritas, dan nunchi-nya juga tinggi jadi acap kali segan menceritakan masalah mereka entah ke teman atau lainnya. Pokoknya nggak mau merepotkan orang itu prinsip kebanyakan yang mereka pegang akhirnya apa-apa harus selesaikan sendiri dan kewalahan ๐Ÿคง

      Semoga adik dan kakak dijauhkan dari hal-hal yang berhubungan dengan bully dan bisa menjalani masa kanak-kanak dengan baik ya, mba. Dan semoga mba juga selalu standby untuk adik dan kakak agar mereka nggak merasa harus menghadapi setiap masalah seorang diri. Semangat mba Reyyyy ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
    2. Oh makanya ya, sebenarnya kasian juga kalau dengar berita bunuh diri, hanya murni karena mental.
      Maksudnya, kayak artis, duit banyak, populer, tapi sayang banget bunuh diri.

      Beda di Indonesia kayaknya orang bunuh diri itu karena ada masalah yang berat, itupun jarang.

      Mungkin karena lingkungan yang membuat mereka seolah nggak ada tempat mengadu, apalagi kalau ngga percaya Tuhan, ke mana lagi coba bisa mengadu dengan aman :(

      Delete
    3. Iya, kasian memang mba, karena mereka nggak punya 'pegangan' akhirnya memilih cara yang menyakitkan. Padahal di mata kita, mereka punya segalanya, tapi ternyata, mereka merasa 'nggak punya apa-apa' ๐Ÿคง while kita sudah diajarkan kalau bunuh diri itu sangat dilarang oleh agama ๐Ÿ˜ฅ

      Delete
  17. Selalu suka deh baca pemikirannya kak Eno. Menambah wawasan gitu.... Iya Korea sebegitu kompetitifnya yaa. Bahkan aku sempat denger kalau hadiah 17 tahun untuk anak cewe tuh bisa operasi plastik supaya jadi cantik. OMMO waktu ku umur 17 tahun kayanya kaga ada tuh kepikiran buat operasi plastik atau mempercantik diri ๐Ÿ™„
    Belum lagi katanya kalau mukanya jelek, sulit dapet kerjaan di Korea. Padahal kalau tengok di Indonesia, di layar kaca aja banyak tuh tampil artis-artis dengan rupa yang bisa dibilang tak rupawan. Namun skill berbicara dan akting yang membuatnya bisa tampil di layar kaca.

    Tapi tapi bully karena muka jelek terus sampe berakhir si anak benci sama orang tuanya sih epic banget dah. Agak miris gitu di hati...

    Anyway. Nasihat yang selalu kuingat dari orang tua adalah untuk menjaga keuangan alias jangan boros-boros. Pakai secukupnya saja, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Lalu juga untuk menghormati orang lain. Terutama orang tua. Waktu kumenikah, aku diingatkan terus untuk hormat sama mertua karena aku kan tinggal bareng mertua. Jadi ya jaga sikap gituu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kompetitif sekali mba, sekarang di kota besar Indonesia juga nggak jauh beda sepertinya ๐Ÿ™ˆ kalau di Korea, anak kecil pun usia SD atau SMP sudah kenal make up meski make up anak-anak ๐Ÿ˜‚ eh saya dulu juga sudah kenal make up sih meski cuma bedak sama lipgloss doanggg hahahaha.

      Memang seperti itu kenyataan pahitnya mba Frisca, yang cantik dan ganteng semacam dapat free pass hehe. Kalau nggak cantik dan nggak ganteng, mau nggak mau harus kuat di otaknya that's why harus terus belajar agar bisa level up, especially apabila ingin mengejar jabatan ๐Ÿ˜… nggak heran kalau banyak yang sampai oplas, karena tuntutan penampilan itu utama ~ mereka beranggapan orang yang nggak bisa jaga penampilan sama dengan pemalas ๐Ÿฅด jadi nggak bisa diharapkan untuk kerja.

      Dan soal dibully karena jelek, atau karena orang tua miskin dan lainnya, banyak anak yang blaming ke orang tua mereka, kenapa orang tua mereka nggak bisa seperti orang tua teman-temannya. Kenapa nggak punya jabatan bagus, nggak punya mobil bagus, nggak punya rumah bagus, kenapa harus menurunkan genetik jelek, etc. Miris kalau dengar ๐Ÿคง

      Eniho, setuju dengan nasehat orang tua mba Frisca ๐Ÿ˜ terima kasih sudah berbagi mba, semoga kita semua bisa menjadi pribadi lebih baik lagi ke depannya ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Delete
    2. Ngomongin oplas, saya kadang nggak habis pikir sih, (kecuali memang yang oplas karena butuh banget ya), kadang ada loh yang memang udah cantik, tapi masih merasa kurang.

      Maksudnya, entar ditaksir cowok, cowoknya apa nggak mikir ya keturunannya gimana.

      *astagaahhh saya nyinyir **kaboorrr :D

      Delete
    3. Mungkin merasa kurang karena sering melihat yang lain ada yang jauh lebih cantik mba ~ karena begitulah kehidupan ehehe rumput tetangga selalu lebih hijau dan indah ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  18. Waaah ngeri banget ya mbak bullying-nya. Selama aku sekolah - kuliah baru nemu ini nih di bully karena orang tuanya. Syediiihhh. Semoga korban bullying bisa melalui cobaan dan pelaku bullying segera sadar. Prinsip hidup orang korea ngeri juga. Baru tau saya :(

    Btw syuka deh sama omoni. Semoga kelak aku juga dapet mertua yang pengertian juga. Aamiin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin ke sini mungkin juga karena paparan informasi di sosial media lebih kencang, kita jadi terbiasa membandingkan kehidupan. Alhasil banyak pembullyan terjadi karena nggak terima dengan hidup mereka, salah satunya terjadi pada anak-anak juga. Sedih memang, semoga keluarga kita atau kenalan kita dijauhkan dari bully, especially anak-anak ๐Ÿ˜ฅ

      Amiiiiiin, semoga mba Shohi bisa dapat sesuai harapan ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  19. parah ya ternyata bully-an di korsel.. tapi kayanya orangtua2 asia memang seperti itu ya, menginginkan anaknya untuk menjadi yg terbaik, hanya saja tingkat dorongannya saja yg berbeda2, dan korsel (mungkin) yg tertinggi di Asia dalam hal nge-push anaknya supaya be the best. Tapi kayanya Cina juga gitu kali ya, sering baca artikel tentang anak2 kecil di Cina yg udah digembleng dalam satu bidang sejak sangat belia, misal untuk menjadi atlet badminton, dari kecil udah keras didikannya di bidang itu..

    btw, ortu saya juga tipikal asian parents, dari kecil sudah dituntut untuk berkompetisi, bahkan dari kecil juga dituntut untuk jadi PNS. Kesampaian sih, tapi passion saya sebenernya di seni, di hal2 kreatif.. Sekarang kalau mau pindah haluan rasanya udh terlambat, dan gak mau gambling juga karena udh ada anak dan istri yg harus dinafkahi. Tapi, di luar kantor, saya juga mulai mencoba untuk mendapatkan penghasilan dari hobi, dari passion. Walaupun nilainya masih jauh dibanding penghasilan PNS, tapi entah kenapa rasanya lebih bahagia aja gitu ketika dpt penghasilan dari hal lain yg saya sukai..

    nah, ke anak nanti, saya mau ngebebasin pilihan dia, ngga mau memberinya tuntutan. Dan dalam mendidik nanti, juga ingin menekankan respect dan considerate ke si baby :) ..

    tapi aku salutnya sama korsel adalah, mereka bangga dg rasnya sendiri yaa, kawin campur juga sepertinya jarang yaa. bisa dilihat di drakor2 atau kpop,, mayoritas adalah mereka yg berdarah murni korsel.. coba bandingkan dg Indonesia? Layar kaca dikuasai tampang2 blasteran ahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya yang seperti Korsel ada banyak mas, hampir semua Asia deh cuma nggak kelihatan ๐Ÿ™ˆ even di China, Jepang, Indonesia, Singapura dan lainnya pasti ada orang tua dengan tipikal hobi push anaknya untuk menjadi yang terbaik di sekolah ๐Ÿ˜… dan seperti yang mas Bara bilang, perbedaannya terlihat dari tingkat dorongannya ~

      Sebenarnya orang tua saya juga sama mas, cuma nggak terlalu keras mendorong ๐Ÿคญ beliau hanya semacam memberi arahan dan nasehat serta membuka jalan, tapi tetap saya yang pegang kemudi hidup saya. Nggak enaknya, kalau saya salah jalan, berabe dah hahaha ๐Ÿ˜‚

      Eniho, kalau mas Bara sudah settle down dengan pekerjaan yang sekarang, memang ada baiknya jangan dilepas, biarlah yang seni-seni dijadikan hobi sampingan ๐Ÿ˜ biar ada pemasukan yang pasti setiap bulan, syukur-syukur ada tambahan dari hobi yang dijalankan ๐Ÿ˜† hehe. Semoga nanti baby bisa tumbuh sehat dan memilih jalur yang dicita-citakan, all thanks to mas Bara dan pasangan ๐Ÿ˜„

      Iya mas, KorSel sangat menjunjung tinggi 'satu darah' jadi masih banyak orang tua yang belum bisa menerima kalau semisal anaknya menikah dengan orang berbeda warga negara ~ cuma semakin ke sini, mungkin karena budaya juga sudah banyak percampuran, dan semakin mudah melihat anak-anak mixed blood di mana-mana, jadi membuat banyak orang tua terbuka pikirannya ๐Ÿ˜ hehe. Namun begitu, betul yang mas bilang, murni Korean lebih terkenal daripada yang mixed Korean ~ beda sama Indonesia, yang mixed justru lebih dipuja ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  20. masalah bully ini memang ada di mana-mana, yak.. selain memberi pengertian yang kuat kepada anak, memang perlu ada kerja sama dari semua pihak. dari sekolah, hingga masyarakat, karena menurutku bully ini ya sebenernya penyakit sosial, sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, nggak bisa dihadapi seorang diri, dan seperti kata mas Zam, perlu kerjasama dari berbagai pihak. Semoga saja, bully-membully ini bisa semakin diminimalisir dengan semakin banyaknya awareness yang disebarkan ๐Ÿ’•

      Delete
  21. nasehat ortuku kalau soal wejangan hidup kayaknya nggak ada yang serius-serius gimana gitu, hahahaha, biasa aja. jadi kayaknya mungkin nih mereka berpikir anak-anaknya bisa belajar dari keseharian dan lingkungannya, dan bisa membedakan mana baik dan buruknya
    di indo beberapa juga ada bully kayak di korea gini mb, yang nyebutin pekerjaan bapaknya apa, atau malah nyebut atau manggil nama si anak dengan nama bapaknya.
    kalau anak kecil yang sudah punya rasa "baper", dalam hati dia nahan amarah di sekolah dan waktu dirumah bisa aja numpahinnya ke ortunya, atau bisa jadi malah besoknya dia nggak mau masuk sekolah atau minta pindah sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cool! Hihihi, berarti mba Ainun bisa adaptasi dengan sangat baik pada lingkungan dan belajar dari sisi positifnya ๐Ÿ˜

      Iya mba, di Indonesia ada banyak pembully-an serupa, tapi memang jarang kesorot media ๐Ÿคง ini saya bilang di Korea karena pas lihat beritanya adalah berita Korea. Semoga saja, di manapun nggak ada lagi bully-bullyan dan siapapun semakin aware kalau bully itu merusak mental.

      Amiiiiin ๐Ÿ’•

      Delete
  22. Ya miss, aku bisa mengerti kekhawatiran yang dirasakan. Memang jaman sekarang semakin mengkhawatirkan. Aku sendiri sering mikir, apa nanti kalo udah jadi mama bisa sesabar mamaku hadapi sifat keras kepalaku, atau sebaik papa yg selalu ngertiin aku dan selalu mau bantu gak peduli gimana capeknya dia dengan banyak urusan. Aku aja kalo dimintain tolong sama sepupu-sepupu yg lebih muda, kadang suka malas dan bikin-bikin alasan ini-itu.

    Dan soal bully, aku juga sering mikirin hal ini. Apalagi aku punya skoliosis dan menurut dokterku, itu bersifat genetis jadi ya bisa menurun. Nanti kalo anakku skoliosis seperti aku gimana lalu dibully di sekolahnya.

    Aku sih bersyukur belum pernah dibully teman karena skoliosis karena aku pake korset jadi gak bungkuk amat, tapi belum tentu nanti anakku juga bisa seberuntung aku kan. Aku udah bikin rencana aja sama dokterku, nanti dari anakku lahir dikontrol sampai dewasa. Dokternya malah ketawa lalu meledek, "Memang calonnya sudah ada nih?" Laaah... ๐Ÿ˜‚ padahal dokternya bapak-bapak... zzzzzZZZzzz....

    Yang jelas miss, nanti kalo aku punya anak, dari kecilnya aku akan selalu bilang ke dia kalo dia harus bangga dengan dirinya sendiri, yang penting adalah apa yg dia pikir tentang dirinya bukan apa yg orang lain pikir tentang dirinya. Ya pokoknya dari kecil aku akan coba menanamkan kepercayaan diri karena setiap orang punya kelemahan dan kelebihan, gak ada yg sempurna. Kamu punya kelemahan di satu sisi, tonjolkan kelebihanmu yg lain.

    Haduuuuh, aku tuh udah kepikiran nanti kalo udah punya anak, dari kecil mau aku kenalin ke berbagai alat musik, berbagai olah raga tapi renang harus dimulai dari kecil karena skoliosis itu, berbagai hobi, ya camping, ya berkebun, ya nonton berbagai pertandingan olah raga... ya terserah dia sukanya yg mana. Pokoknya dari kecil itu aku mau dia banyak wawasan gitu lho haha....

    *banyak mau๐Ÿ˜‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti mungkin saat Ran jadi mama untuk anak-anak Ran, Ran akan bisa jadi ibu yang bijaksana, penyabar dan penyayang secara alamiah karena Ran cinta anak-anak Ran ๐Ÿ˜ begitulah yang dirasakan orang tua Ran saat membesarkan Ran, karena ada ikatan darah dan batin di dalam diri Ran dengan orang tua Ran ๐Ÿ’•

      Dan soal bully, semisal anak Ran ada kemungkinan kena, Ran bisa mulai membantu anak Ran untuk menghadapinya sedari kecil, jadi semacam sudah disiapkan mentalnya. Ini mungkin ya, berdasarkan pengalaman para ortu yang pernah saya baca di luar sana (soalnya saya pribadi belum ada anak) ๐Ÿ™ˆ dan saya yakin, anak-anak Ran bisa memiliki mental sekuat mamanya ๐Ÿ˜

      Hahahaha nggak apa-apa banyak mau, namanya ortu kan mau kasih yang terbaik untuk anaknya. Selama anaknya suka, dan nggak terpaksa melakukannya, why not, kan ๐Ÿ˜ yang penting jangan lupa untuk berusaha mendengarkan pendapat anak juga ya, karena anak pun berhak punya suara ๐Ÿ™ˆ semangat, Ran!

      Delete
  23. Waktu saya kecil, di sekolah juga ada relasi kuasa yang nggak seimbang juga, Mbak, antara siswa. Ada hierarkinya biasanya, berdasarkan siapa yang paling jago berkelahi. Tapi peringkat itu bisa naik turun tergantung statistik menang-kalah waktu berantem. :D

    Saling ngejek tentu juga ada, termasuk ngejek orangtua temen (tapi paling banter cuma nyebutin nama, sih.) Cuma, dulu bullying cuma berhenti di sekolah, nggak sampai dibawa-bawa ke rumah dan diadukan ke orangtua. Bisa makin malu pas di sekolah. Dan kalau sudah baikan (biasanya memang jadi belajar buat menyelesaikan persoalan sendiri), nggak ada dendam. Jadi temen lagi. Oh, iya, kekerasan fisik cuma pas berantem aja. Nggak ada itu temen yang nyuruh salim kaki. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya begitu mas, yang jago kelahi merasa paling atas kuasanya ๐Ÿ˜‚ tapi yang jago provokasi jauh lebih di atasnya lagi, cuma kebanyakan nggak sadar ~ yang provokasi biasanya nggak jago kelahi, tapi mulutnya paling depan ๐Ÿ™ˆ

      Kalau ejek-ejekan nama sepertinya hampir di setiap sekolah ada, dari nama personal sampai nama orang tua ๐Ÿ˜… tapi memang dulu kita as anak-anak nggak paham soal bullying, nggak ada edukasinya, jadi menganggap itu hal lumrah sebatas ejekan belaka. Bagusnya semakin ke sini, edukasi mengenai bullying semakin digiatkan. Dengan harapan generasi ke depan menjadi generasi yang lebih baik dari sebelumnya ๐Ÿ˜

      Delete