The Architect | CREAMENO

Pages

The Architect



Copyright © 2020 - Eka Fitriani Larasati

Banyak hal yang tentunya kita korbankan sebagai ibu untuk anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu pasti. Dan yang terberat dari semua adalah, meninggalkan impian ๐Ÿ˜Š menjadi seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya yang dengan terpaksa saya lepas layaknya melepaskan burung terbang bebas ke angkasa. Sedih, sesak di dada tak lagi bisa saya tahan dan hal itu membuat saya kehilangan harapan serta semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan.

Begini ceritanya...

Tahun 2009, saya putuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 (dulu lulus DIII) dan saya pilih jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kembali kuliah saat usia saya hampir kepala tiga. Dari mulai masalah biaya, teman kuliah yang terpaut jauh usianya, dan waktu yang harus saya atur ulang agar saya bisa tetap bekerja. Untungnya, dosen mendukung keputusan saya dan berbaik hati mengatur jadwal agar saya bisa kuliah sambil bekerja.

Namun, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan, saya harus memilih pergi meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa berat, sungguh. Karena pada satu sisi, saya masih butuh pekerjaan untuk menghidupi diri saya yang sudah tidak bergantung pada ibu saya. Dan di sisi lain, saya merasa telah menemukan impian yang ingin saya kejar..

Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik, beliau rela merogoh kocek sendiri untuk membiayai kuliah saya selama satu semester dan mengijinkan saya bekerja menjadi drafter dan asistennya. Beliau rancang masa depan saya sedemikian rupa hingga saya tidak perlu khawatir soal lapangan kerja ataupun perusahaan yang mau menerima saya setelah saya lulus kuliah.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Dua tahun berselang, saya bertemu jodoh saya kemudian menikah, dan saya tetap melanjutkan kuliah saya dengan dukungan dari Suami untuk pilihan hidup saya. Kami bahagia, hingga pada satu waktu, saya hamil anak pertama yang kelak saya beri nama, Keenan ๐Ÿ’• Berhubung saya masih harus sidang dan bimbingan serta bolak-balik ke tempat penelitian, saya jadi usaha ekstra agar bisa menyelesaikan pendidikan. Jangan ditanya bagaimana susahnya. Karena sudah pasti, susah! Meski alhamdulillah, Suami selalu setia siap sedia temani saya ke manapun tujuan saya.

Dari sekian banyak momen yang saya lewatkan ketika saya berusaha menyelesaikan pendidikan saya, ada kejadian naas tapi lucu sempat terjadi pada saya. Saat itu, sedang musim hujan, jadi saya kehujanan waktu pulang bimbingan. Padahal saya sudah siapkan jas hujan, namun hujan turun begitu derasnya sudah seperti badai topan, dan malangnya, perempatan GedeBage banjir menyebabkan motor kami mogok dan Suami terpaksa mendorong motor melewati batas banjir yang tingginya sampai selutut dari perempatan GedeBage ke pasar.

Saya ikuti pelan-pelan dari belakang sambil baca solawat takut terpeleset, ditambah kawatir bayi di perut saya yang memasuki usia delapan bulan ini kenapa-napa. Sayangnya, karena saya jalan terlalu hati-hati dan lamban, saya jadi tertinggal jauh dari Suami yang membuat saya kemudian berusaha mengejarnya ~ Hingga di tengah jalan...... tiba-tiba saya jatuh! Terperosok! Masuk got! Sebab saya tidak melihat adanya got yang tertutup banjir di sana.

Semua orang yang melihat saya jatuh langsung menolong saya yang berusaha bangkit sambil berurai air mata. Saya tidak bisa lihat di mana Suami saya dan saya kawatir sesuatu terjadi pada calon bayi saya. Seorang bapak bertanya, "Bu, nggak apa-apa? Suami Ibu mana?" saya bingung, "Suami saya? Eng.. suami saya mana, Pak?" saya justru balik tanya sambil menangis kesakitan.

Bapak yang bertanya tambah bingung, namun berusaha fokus bantu saya berjalan sampai tepi jalan raya yang tidak tergenang banjir. Dan di ujung jalan, tiba-tiba saya lihat sosok suami saya berlari layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya berteriak, "Babaaah.... Babahh!" teriak saya. Suami kaget melihat saya dan bertanya, "Ndaaaa, tadi ke mana? Aku Cari kamu. Aku takut kamu kenapa-napa, Nda. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.

"Tadi aku jatuh ke selokan. Aku nggak lihat. Aku takut!" jawab saya menangis sesenggukan. Dan Suami pun memeluk saya sambil berkata, "Ya Allah! Maaf yaaa, kamu sampai ketinggalan. Maaf aku belum bisa belikan mobil. Maaf yaa.... sudah jangan menangis lagi."

Kamipun pulang ke rumah sambil mendorong motor sejauh 5 KM!! Tentu saja, buat saya, hari itu luar biasa naas, meski sekarang kalau dipikir lucu juga. Karena ketika saya mengingat momen itu, saya merasa sungguh teramat besar perjuangan saya untuk tetap meneruskan kuliah.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Melahirkan Keenan

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasa sakit perut berkepanjangan. Ibu bilang saya akan melahirkan. Karena itu, esok harinya kami putuskan pergi ke bidan, dan setelah cek, saya sudah pembukaan satu ternyata. Kami pulang dan menunggu hingga akhirnya pukul sepuluh pagi, saya rasakan sakit perut yang semakin hebat. Tidak kuat, saya pun meminta Suami antar saya ke bidan dan berpesan padanya untuk menunggu saya melahirkan ~ Dengan gerak cepat Suami ambil motor dan mengantar saya.

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor, dan kami kebetulan tidak memakai helm, alhasil kami diberhentikan oleh Pak Polisi yang bertugas, "Selamat siang, maaf Bapak saya tilang karena tidak pakai helm." sapa Pak Polisi yang dijawab oleh Suami saya, "Aduuhhh, Pak! Maaf istri saya ini mau melahirkaaaan!" -- yang direspon oleh Pak Polisi dengan wajah paniknya, "Oh.. Aduh.. baik, Pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati di jalan."

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Dua belas jam berlalu, saya tetap pada bukaan satu. Bidan saya akhirnya memutuskan induksi agar bukaan saya cepat naik. Iya sih, jadi cepet naik, namun terlalu cepatnya, saya jadi tidak bisa tahan sakit. Hingga enam jam kemudian, saya berhasil bukaan sepuluh dan bersiap melahirkan.

Rasanya? Sakit banget, Buuu! Saya sangat tidak tahan dan berteriak layaknya orang gila. Padahal saya sudah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetap saja saya tidak kuat menahannya. Sampai-sampai Suami babak belur karena badannya saya cubit dan rambutnya saya jambak. Long story short, alhamdulillah, Keenan lahir dengan selamat, sehat dan sempurna. Saya tentu sangat bahagia..... Tapi terlepas dari rasa bahagia yang ada, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan.

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah sampai anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hal itu jelas membuat bidan saya menyerah dan membawa saya ke rumah sakit agar saya bisa operasi bius total. Semua berjalan cepat, proses operasi lancar, namun tidak dengan proses pembayaran ~ Karena total biaya yang perlu dibayar menyentuh angka lima belas juta rupiah!

Suami shooock dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan banyak, dan kami hanya pegang lima juta untuk persalinan. Itupun habis untuk bayar bidan. Ingin rasanya saya meminta bantuan pada ibu saya, tapi tiba-tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik saya ~ Lalu saya ingat ayah, saya coba telpon namun panggilan saya tak dijawab. Orang tua saya bercerai, dan suasana ini membuat hati saya merana.

Saya terdiam, memikirkan alternatif yang ada. Saya lihat, Suami berusaha menelpon ke sana ke mari mencari pinjaman, tapi semua gagal. Sampai akhirnya saya putuskan satu hal yang saya tau itu akan membuat saya terpukul dan sedih teramat sangat ~ Suami yang masih berusaha keras datang menghampiri saya. Melihat Suami saya kebingungan, akhirnya saya angkat bicara, "Bah, pakai saja uang buat sidang dan wisudaku." ucap saya.

"Hah? Apa, Ndaa? Pakai uang kuliah, Ndaa?" tanya Pak Suami kaget.

"Iyaa....." jawab saya sambil menangis.

"Tapi, Ndaa.." Suami saya tidak bisa berkata apa-apa dan saya hanya bisa menguatkan, "Nggak apa-apa Baaah, aku ikhlas." ujar saya sambil menahan air mata. Lalu kami saling pandang dan berpelukan. Yaaaa Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung, namun tak ada pilihan.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Keputusan Akhir

Inilah momen dimana saya harus rela melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan Keenan. Sedih? Tentu sajaaa. Kecewa? Tidak. Saya merasa mungkin menjadi Arsitek Lanskap bukan jodoh saya, dan mungkin Allah mau mengantar saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencana lebih besar. Wallahualam.

Walau kalau boleh jujur, terkadang saya sedih setiap kali Dosen saya yang baik hati telpon untuk tanya kabar dan memberi saya semangat agar mau meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya menolak dengan alasan anak tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. Sebab pada kenyataannya, saya ingin teruskan pendidikan saya hanya saja situasi finansial kami masih belum stabil, dimana usaha Suami juga baru dirintis sementara kebutuhan rumah tangga dan bayi selalu muncul tak berkesudahan setiap harinya.

Dan saya tidak punya pilihan selain melepas impian.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Bagi saya, Allah itu Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalan waktu, saya bisa temukan impian baru menjadi illustrator dan penulis Blog. Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu dipinang salah satu clothing line di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir lima tahun lamanya. Saya juga kembali menulis dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, di sinilah passion saya berlabuh.

Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui tulisan, saya bisa bertemu banyak relasi dan kawan untuk saling menginspirasi dan menguatkan, dan yang utama saling dukung satu sama lainnya ~ Dan untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur pada Allah sang pemilik segala keputusan.

Pelajaran berharga yang saya petik dari setiap momen hidup saya adalah kadang, rencana yang dirancang sedemikan rupa dan dengan sempurna pada akhirnya akan selalu ada kemungkinan tidak tercapai dan berantakan ~ Terkesan tidak adil memang, tapi rencana Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitek Lanskap. Karena sekarang saya bisa menjadi "arsitek" untuk masa depan anak-anak saya.
There are many things that we sacrifice as mothers for our kids, and it's not only about times or efforts, but also about our dream, which sometime, we need to leave it behind our back. Well, become a Landscape Architect is my biggest dream and I got forced to give up on it. It was sad. I no longer can tolerated the pain ~ I lose hope and enthusiasm. But, I have no choice...

And this is how the story began.

In 2009, I decided to continue my bachelor degree (previously I graduated from Diploma) and I chose Landscape Architecture as my major. It was not an easy decision to go back to college when I was nearly 30 years old. Because of some problems related to the costs, college friends whose age is younger than me, and the time I have to manage so I can continue working while studying. Fortunately, my lecturers were very supportive of my decision and were kind enough to arrange my class schedule so that I could study while works.

However, with the increased courses, I finally had to choose between leave my job or quit study. A very heavy dilemma. Because I need a job to support myself, and I can't depend on my mother anymore. And on the other hand, I feel like I've found the dream and career that I want, which is to become a Landscape Architect. On top of that, I'm grateful because my lecturer who is kind, she was spent her own money to pay my tuition fee for one semester and allow me to work with her as a lecturer assistant and drafter. She also designed my future career in such a way that I no longer have to worry about jobs or companies after I graduate from college.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Two years later, I met my soul mate and got married, and I continued my study plans with one hundred percent support from husband. And one day, I got pregnant with our first kid, Keenan. And since I still had a thesis trial and guidance, as well as going back and forth to the research site, I became extra hard to finish my education. Don't ask me about how hard it was. Because the answer is really hard! But thank God, my husband always accompany me wherever I want.

And from so many moments passed when I was trying to finish my education, there was one funny but unfortunate incident which had happened to me. At that time, it was rainy season and I got caught in the rain when I just on my way to home after finished my schedules. And though I had prepared a raincoat, unfortunately the rain was too heavy, and it felt like a hurricane, so, it made GedeBage intersection was flooded. As a result, our motorbike broken and my husband was forced to push the motorbike beyond the flood limit (around knee-deep).

I followed him slowly from behind while praying because I was afraid what if I got slipped, plus I was worried something will happen to the baby in my belly who just entered eight months. But because I walked too carefully, I was left far behind my husband, so I tried to walk faster. Until in the middle of road.... I suddenly fell! Because I didn't see any ditchs which got covered by flood.

Everyone who saw me fell immediately helped me, and I was trying to get up while in tears. I couldn't see where my husband and I was afraid something will happen to my baby. A man asked me, "Are you okay? Where's your husband?" -- I confused and only answer, "My husband? Engggg... where is my husband, sir?" I ended up asked him back while crying in pain.

A man who asked became more confused, but he chose to focus on help me walk to the edge of highway which was not flooded. And when I just arrived, I saw my husband who was running like a movie scene. While crying I shouted, "Babah.... Babahh!" I keep shouted and he was surprised, "Ndaa, I was looking for you. I was afraid something happen to you. You are okay, right?"

"I fell into a ditch. I can't see it. I'm scared!" I replied. And my husband hugged me, "Oh, Goood! Sorry, it happens to you. Sorry I couldn't buy a car yet. Sorry, please don't cry anymore. Please."

We then went home while pushing our motorbike, which was almost 5 KM away! Of course, to me, that day was really worst slash unlucky day, though when I think about it now, I launghing hard because it's funny. And when I remember those moment, I became proud to myself who keep trying hard to continue my study while I was pregnant.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Gave birth to Keenan


That night I was restless. I couldn't slept because I had stomach pain. My Mom said I will gave birth soon. Because of that, the next day we decided to go to midwife, and after checked my condition, she said I already at level one. We rushed back home and waited at home until ten o'clock in the morning, my stomachache was getting worse. So, I asked my husband to hurry up take me to the midwife and tell him to wait me until I gave birth.

The funny thing is, there was Police who stopped many motorbikes which breaking rules, and we happened to be not wear helmets. As a result, we were stopped by the police, "Good afternoon sir, sorry sir, you breaking the rules for not wearing a helmet." said the police officer to which my husband answered, "Sorry sir, my wife is about to give birth!" -- which made the police panicked. "Oooh... okay, sir! Sorry then, let's hurry to the hospital. Be careful on your way."

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Twelve hours passed, I was still at level one. Midwife decided to give me induction so that my opening level went up. And yes, it went up fast, but it was too fast, so I couldn't endure the pain. Up to six hours later, I finally made it at level ten and prepared to give birth.

If you wanna know how it taste? Well, it hurts! I couldn't stand it and screamed like crazeey. Even though I kept praying, but I still couldn't stand it. To the point that my husband was completely hurt because I pinched his body and grabbed his hair ~ And long story short, thank God, Keenan was born safe and healthy. I'm happy. However, despite my happiness, it turned out I had stage four rupture, the highest level of perineal rupture after delivery the baby.

This tear extends to the wall of rectum, where the birth canal is torn severely into the anus which can potentially cause broken pelvic and gastrointestinal dysfunction. This made midwife gave up and took me to hospital so I could get surgery under general anesthesia ~ Everything went fast, the surgery was smooth, but the payment was not done.

Because the cost I need to pay was fifteen million rupiah!

My husband went into shock and cried in front of me after I woke up. We don't have money, because we only prepare five million for childbirth and it was used up to pay midwife. At that time, I wanted to ask my Mom for help, but I remembered she still covered brother's tuition fees. And I tried to call my Dad (my parents were divorced) but after half an hour of calling, my calls were not answered by Dad. And yeah, those moments made me feel really sad.

I was silent, tried to think all kinds of alternative solutions that I have. I saw my husband also tried to call here and there, but failed. Until, I decided one thing that I knew it would made me feel devastated. My husband, who was still try hard, came to me. Seeing my husband face, I finally spoke up, "Bah, just use my tuition money for my thesis defence and graduation." I said.

"Huh? What? Use tuition money?" my husband asked in shock.

"Yes....." I replied while crying.

"But......" my husband could not say anything and the only thing I can do is to give him strength, "It's okay Bah, I sincerely wanna use the money to pay the hospital." I said while keep trying to hold back my tears. We looked at each other and hugged. Oh God, I am sad and confused.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

Final decision

This was the moment where I have to let my biggest dream go for my recovery fees after gave birth to Keenan. Am I sad? Of course. Am I disappointed? Not. Maybe I cannot be a Landscape Architect, and maybe God wants to take me to another dream and prepare me for His beautiful and bigger plan. God knows best. Though if I need to be honest, I felt sad every time my kind lecturer calls me to ask how I'm doing and encourage me to continue study.

But with a heavy heart, I always refused her with the reason that no one can caring my kid. And in fact, it is not my real reason. Because in reality, I want to continue my study, however, I know, our financial situation is unstable, and my husband's business is still new while the needs of babies and households are always need to pay every day.

So, I have no choice but to give up my dream.

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ

For me, God is good and merciful. As time went by, I'm able to find new dreams to become an illustrator and a writer. Yeaaah, I continue hobby to draw until it paid off, and I got offered from a clothing line in Bandung which I became their illustrator for almost five years. I also returned to my other hobby -- writing on Blog. And I decided to become a Blogger.

Finally, this is where my passion comes ๐Ÿ˜Š I don't know what big plans God has prepared for me. Whatever it is, I'm still grateful. Because through writing, I can meet many new friends who inspire me and most importantly, we can support each other.

Albeit for this one, I can't stop thanking God, the owner of all decisions. The valuable lesson I learned from every moment in my life is that sometime, our plan which we designed in such a perfect way, still can have a possibility to become messed up. And it may seem unfair, but God's plan is bigger and more powerful than human plan. So for me, it's okay to end up not becoming a Landscape Architect. Because now I became "the architect" of my children's future.
์—„๋งˆ๋กœ์จ ์•„์ด์—๊ฒŒ ํฌ์ƒํ•˜๋Š” ๋ถ€๋ถ„์€ ์‹œ๊ฐ„์ด๋‚˜ ๋…ธ๋ ฅ ๋ฟ๋งŒ ์•„๋‹ˆ๋ผ ๊ฐ€๋”์€ ๊ฟˆ์กฐ์ฐจ ๋’ค๋กœํ•ด์•ผํ•  ๋•Œ๋„ ์žˆ์–ด์š”. ์Œ ์–ด์จŒ๋“  ์กฐ๊ฒฝ์‚ฌ๋Š” ์ œ ๊ฐ€์žฅ ํฐ ๊ฟˆ์ด์—ˆ๊ณ  ํฌ๊ธฐํ•ด์•ผ๋งŒ ํ–ˆ์–ด์š”. ์ŠฌํŽ์ฃ . ๋”์ด์ƒ ๊ณ ํ†ต์„ ์ฐธ์„์ˆ˜๊ฐ€ ์—†์—ˆ์–ด์š” ~ ํฌ๋ง๊ณผ ์—ด์ •์„ ์žƒ์—ˆ์–ด์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ์„ ํƒ์˜ ์—ฌ์ง€๊ฐ€ ์—†์—ˆ๊ณ  ์ด์•ผ๊ธฐ๋Š” ์—ฌ๊ธฐ์„œ ๋ถ€ํ„ฐ ์‹œ์ž‘๋˜์š”.

---

2009๋…„ ์ €๋Š” ํ•™์‚ฌ ํ•™์œ„๋ฅผ ๊ณ„์† ํ•˜๊ธฐ๋กœ ๊ฒฐ์ •ํ–ˆ๊ณ (์ด์ „์—๋Š” Diploma๋ฅผ ์กธ์—…ํ–ˆ์–ด์š”) ์กฐ๊ฒฝ ๊ฑด์ถ•์„ ์ „๊ณต์œผ๋กœ ์„ ํƒํ–ˆ์–ด์š” ~ 30์„ธ๊ฐ€ ๊ฑฐ์˜ ๋‹ค๋œ ์ €์—๊ฒŒ ๋Œ€ํ•™์œผ๋กœ ๋Œ์•„๊ฐ€๋Š”๊ฑด ์‰ฌ์šด ๊ฒฐ์ •์€ ์•„๋‹ˆ์—ˆ์–ด์š”. ๋น„์šฉ, ๋„ˆ๋ฌด ์–ด๋ฆฐ ํ•™๊ต ์นœ๊ตฌ๋“ค, ์ผํ•˜๋ฉด์„œ ์‹œ๊ฐ„์กฐ์œจ ๋“ฑ์˜ ๋ฌธ์ œ ๋•Œ๋ฌธ์—์š”. ์šด์ข‹๊ฒŒ ๊ต์ˆ˜๋‹˜๋“ค์€ ์ œ ๊ฒฐ์ •์„ ๋งค์šฐ ์ง€์ง€ํ•ด์ฃผ์…จ๊ณ  ์ผํ•˜๋ฉด์„œ ๊ณต๋ถ€ ํ•  ์ˆ˜ ์žˆ๋„๋ก ์ˆ˜์—… ์ผ์ •์„ ์ •ํ•ด์ฃผ์‹ค ๋งŒํผ ์นœ์ ˆํ•˜์…จ์–ด์š”.

ํ•˜์ง€๋งŒ ๊ณผ์ •๋“ค์ด ๋Š˜์–ด๋‚˜๋ฉด์„œ ์ผ์ด๋ƒ ๊ณต๋ถ€๋ƒ ์„ ํƒ์„ ํ•ด์•ผ๋งŒ ํ•ด์„œ ์‹ฌ๊ฐํ•œ ๋”œ๋ ˆ๋งˆ์— ๋น ์กŒ์–ด์š”. ์—„๋งˆ์—๊ฒŒ ๋”์ด์ƒ ์˜์ง€ํ•  ์ˆ˜ ์—†๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ์‚ด์•„๊ฐ€๋ ค๋ฉด ์ง์—…์ด ํ•„์š”ํ–ˆ๊ณ  ๋‹ค๋ฅธ ํ•œ์ชฝ์€ ์กฐ๊ฒฝ์‚ฌ๊ฐ€ ๋˜์„œ ์›ํ•˜๋Š” ๊ฟˆ๊ณผ ์ง์—…์„ ์ฐพ์€ ๊ฒƒ ๊ฐ™์€ ๋Š๋‚Œ์ด ๋“ ๋‹ค๋Š” ๊ฑฐ์˜€์š”.

๊ฒŒ๋‹ค๊ฐ€ ๊ต์ˆ˜๋‹˜์ด ์นœ์ ˆํ•˜์‹œ๊ณ  ํ•œํ•™๊ธฐ ๋“ฑ๋ก๊ธˆ์„ ๋‚ด์ฃผ์‹œ๊ณ  ์กฐ๊ต๋ฅด ํ•จ๊ป˜ํ•  ์ˆ˜ ์žˆ๊ฒŒ ํ•ด์ฃผ์…”์„œ ๊ฐ์‚ฌํ–ˆ์–ด์š”. ๋˜ํ•œ ์ œ๊ฐ€ ์กธ์—… ํ›„ ์ง์—…์ด๋‚˜ ํšŒ์‚ฌ์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ๊ฑฑ์ •ํ•  ํ•„์š”๊ฐ€ ์—†๋„๋ก ์ปค๋ฆฌ์–ด๋ฅผ ์„ค๊ณ„ํ•ด์ฃผ์…จ์–ด์š”.

---

2๋…„ ๋’ค, ์ €๋Š” ์†Œ์šธ๋ฉ”์ดํŠธ๋ฅผ ๋งŒ๋‚ฌ๊ณ  ๊ฒฐํ˜ผํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  100ํผ์„ผํŠธ ์‹ ๋ž‘์˜ ์ง€์›์œผ๋กœ ๊ณต๋ถ€๋ฅผ ๊ณ„์†ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋Ÿฌ๋˜ ์–ด๋Š๋‚  ์ฒซ์งธ์•„์ด Keenan์„ ์ž„์‹ ํ–ˆ์–ด์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ์•„์ง ๋…ผ๋ฌธ ์‹œํ—˜๊ณผ ์ˆ˜์—…์ด ์žˆ์—ˆ๊ณ  ์—ฐ๊ตฌ์‹ค์„ ์˜ค๊ฐ€๋Š๋ผ ๊ณต๋ถ€๋ฅผ ๋งˆ์น˜๊ธฐ๊ฐ€ ์—„์ฒญ๋‚˜๊ฒŒ ์–ด๋ ค์›Œ์กŒ์–ด์š”. ์–ผ๋งˆ๋‚˜ ํž˜๋“ค์—ˆ์—ˆ๋Š”์ง€ ๋ฌป์ง€๋Š” ๋ง์•„์ฃผ์„ธ์š”. ์™œ๋ƒ๋ฉด ๋Œ€๋‹ต์€ ์ •๋ง ํž˜๋“ค์—ˆ๊ฑฐ๋“ ์š”! ํ•˜์ง€๋งŒ ๊ฐ์‚ฌํ•˜๊ฒŒ๋„ ์ œ ๋‚จํŽธ์€ ํ•ญ์ƒ ์ œ๊ฐ€ ์›ํ•˜๋Š” ๊ณณ์— ํ•จ๊ป˜ํ•ด์คฌ์–ด์š”.

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์‹œ๊ฐ„์ด ์ง€๋‚˜ ๊ต์œก์„ ๋งˆ์น˜๋ ค๋Š” ์‹œ๊ธฐ์— ๋ถˆํ–‰ํ•˜์ง€๋งŒ ์žฌ๋ฐŒ๋Š”์ผ์ด ์ผ์–ด๋‚ฌ์–ด์š”. ๊ทธ ๋•Œ๋Š” ๋น„๊ฐ€์˜ค๋Š” ์‹œ์ฆŒ์ด์—ˆ๊ณ  ์ผ์ •์„ ๋งˆ์น˜๊ณ  ์ง‘์—๊ฐ€๋Š” ๊ธธ์— ๋น„๊ฐ€ ์™”์–ด์š”. ๋น„์˜ท์„ ์ค€๋น„ํ–ˆ์ง€๋งŒ ๋น„๊ฐ€ ๋„ˆ๋ฌด ์‹ฌํ•˜๊ฒŒ ๋‚ด๋ ค์„œ ํ—ˆ๋ฆฌ์ผ€์ธ์ฒ˜๋Ÿผ ๋Š๊ปด์กŒ๊ณ  GedeBage ๊ต์ฐจ๋กœ๊ฐ€ ๋ฌผ์— ์ž ๊ฒผ์–ด์š”. ๊ทธ ๊ฒฐ๊ณผ ์šฐ๋ฆฌ ์˜คํ† ๋ฐ”์ด๋Š” ๊ณ ์žฅ๋‚ฌ๊ณ  ๋‚จํŽธ์€ GedeBage ์‹œ์žฅ์ง€์—ญ์—์„œ ํ™์ˆ˜๊ฐ€ ๋‚œ ๊ณณ์œผ๋กœ ์˜คํ† ๋ฐ”์ด๋ฅผ ๋ฐ€๊ณ ๊ฐ”์–ด์š”.

์ €๋Š” ์ž„์‹  8๊ฐœ์›”์ฐจ ๋ณต์ค‘ํƒœ์•„๊ฐ€ ํ–‰์—ฌ๋‚˜ ๋ฏธ๋„๋Ÿฌ์ง€์ง€๋Š” ์•Š์„๊นŒ ๊ฑฑ์ •ํ•˜๋ฉฐ ๊ธฐ๋„ํ•˜๋ฉด์„œ ๋’ค์—์„œ ์ฒœ์ฒœํžˆ ๋”ฐ๋ผ๊ฐ”์–ด์š”. ๋„ˆ๋ฌด ์กฐ์‹ฌ์Šค๋Ÿฌ์› ๋Š”์ง€ ๋‚จํŽธ๋ณด๋‹ค ํ›จ์”ฌ ๋’ค์ณ์ ธ์„œ ๋” ๋นจ๋ฆฌ ๊ฑธ์œผ๋ ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ธธ ํ•œ๊ฐ€์šด๋ฐ ๊นŒ์ง€... ์ €๋Š” ๊ฐ‘์ž๊ธฐ ๋–จ์–ด์กŒ์–ด์š”! ํ™์ˆ˜๋กœ ๋ฎํžŒ ๋„๋ž‘์„ ๋ชป๋ด์„œ ์˜€์–ด์š”.

์ œ๊ฐ€ ๋–จ์–ด์ง„๊ฑธ ๋ณธ ๋ชจ๋‘๊ฐ€ ๋‹ฌ๋ ค์™€์„œ ๊ตฌํ•ด์คฌ๊ณ  ์ €๋Š” ์šธ๋ฉด์„œ ์ผ์–ด๋‚˜๋ ค๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ์ œ ๋‚จํŽธ์ด ์–ด๋””์žˆ๋Š”์ง€ ๋ณผ ์ˆ˜ ์—†์—ˆ๊ณ  ์•„๊ธฐ์—๊ฒŒ ๋ฌด์Šจ์ผ์ด ์ƒ๊ธธ๊นŒ ๋ฌด์„œ์› ์–ด์š”. ํ•œ ๋‚จ์ž๊ฐ€ ๋ฌผ์—ˆ์–ด์š” "๊ดœ์ฐฎ์•„์š”? ๋‚จํŽธ ์–ด๋””์žˆ์–ด์š”?" -- ํ˜ผ๋ž€์Šค๋Ÿฌ์„œ "๋‚จํŽธ์ด์š”? Engggg... enggg... ๋‚ด ๋‚จํŽธ ์–ด๋””์žˆ์–ด์š”?"๋ผ๋ฉฐ ๊ทธ ๋‚จ์ž์—๊ฒŒ ์šธ๋ฉด์„œ ๋˜๋ฌผ์—ˆ์–ด์š”.

๊ทธ ๋‚จ์ž๋Š” ๋” ํ˜ผ๋ž€์Šค๋Ÿฌ์›Œ์กŒ์ง€๋งŒ ์ €๋ฅผ ํ™์ˆ˜๊ฐ€ ๋‚˜์ง€ ์•Š์€ ๊ธธ ๊ฐ€์žฅ์ž๋ฆฌ๋กœ ๋ฐ๋ ค๋‹ค์ฃผ๋Š”๋ฐ ์ง‘์ค‘ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ œ๊ฐ€ ๋„์ฐฉํ–ˆ์„ ๋•Œ ๋‚จํŽธ์ด ์˜ํ™”์˜ ํ•œ ์žฅ๋ฉด ์ฒ˜๋Ÿผ ๋‹ฌ๋ ค์˜ค๋Š”๊ฒŒ ๋ณด์˜€์–ด์š”. ์ œ๊ฐ€ ์šธ๋ฉด์„œ ์†Œ๋ฆฌ์ณค์–ด์š” "Babah.... Babaaahhh!" ์ €๋Š” ๊ณ„์† ์†Œ๋ฆฌ์ณค๊ณ  ๊ทธ๋Š” ๋†€๋ž์–ด์š” "Ndaa, ์–ด๋””์žˆ์—ˆ์–ด? ๊ณ„์† ๋„ˆ ์ฐพ์•˜์—ˆ์–ด. ๋ฌด์Šจ์ผ ์ƒ๊ฒผ์„๊นŒ๋ด ๋ฌด์„œ์› ์–ด. ๊ดœ์ฐฎ์•„?"

"๋ชป๋ด์„œ ๋„๋ž‘์— ๋น ์กŒ์—ˆ์–ด. ๋ฌด์„œ์› ์–ด!" ์ œ๊ฐ€ ๋Œ€๋‹ตํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ œ ๋‚จํŽธ์€ ์ €๋ฅผ ๊ฝ‰ ์•ˆ์•„์คฌ์–ด์š”. "Oh, God! Sorry, ๊ทธ๋Ÿฐ์ผ์ด ์žˆ์—ˆ๋‹ค๋‹ˆ, ๋‚ด๊ฐ€ ์ฐจ๋ฅผ ๋ชป์‚ฌ์„œ ๋ฏธ์•ˆํ•ด... ์šธ์ง€๋งˆ"

์šฐ๋ฆฌ๋Š” 5ํ‚ค๋กœ๋‚˜ ๋–จ์–ด์ง„ ์ง‘๊นŒ์ง€ ์˜คํ† ๋ฐ”์ด๋ฅผ ๋Œ๊ณ ์™€์•ผ ํ–ˆ์–ด์š”! ๋‹น์—ฐํžˆ ์ €์—๊ฒŒ ๊ทธ๋‚ ์€ ์ตœ์•…์˜ ๋‚ ์ด์—ˆ์ง€๋งŒ, ์ง€๊ธˆ ์ƒ๊ฐํ•ด๋ณด๋ฉด ์žฌ๋ฐŒ์–ด์„œ ์›ƒ๊ธฐ๋„ค์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ทธ๋•Œ๋ฅผ ๊ธฐ์–ตํ•ด๋ณด๋ฉด ์ž„์‹ ์ค‘์— ๊ต์œก์„ ๊ณ„์†ํ•œ ์ œ๊ฐ€ ์ž๋ž‘์Šค๋Ÿฌ์›Œ์š”.

---

Keenan์˜ ์ถœ์ƒ


๊ทธ๋‚ ๋ฐค์€ ์•ˆ์ ˆ๋ถ€์ ˆ ๋ชปํ–ˆ์–ด์š”. ๋ณตํ†ต์œผ๋กœ ์ž ๋„ ์ž˜ ์ˆ˜ ์—†์—ˆ์–ด์š”. ์—„๋งˆ๊ฐ€ ์•„๊ธฐ๊ฐ€ ๊ณง ๋‚˜์˜ฌ๊ฑฐ๋ผ๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ๋‹ค์Œ๋‚  ์กฐ์‚ฐ์›์— ๊ฐ€๊ธฐ๋กœ ํ–ˆ๋Š”๋ฐ ์ƒํƒœ๋ฅผ ์ฒดํฌํ•ด๋ณด๋‹ˆ ์ด๋ฏธ 1๊ธ‰์ด๋ผ๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์ง‘์œผ๋กœ ๋‹ฌ๋ ค์™€์„œ ์•„์นจ 10์‹œ๊ฐ€ ๋˜๊ธฐ๋ฅผ ๊ธฐ๋‹ค๋ฆฌ๋Š”๋ฐ ๋ณตํ†ต์ด ์‹ฌํ•ด์กŒ์–ด์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ์ €๋Š” ๋‚จํŽธ์—๊ฒŒ ์กฐ์‚ฐ์›์— ๋ฐ๋ ค๋‹ค๋‹ฌ๋ผ๊ณ  ํ–ˆ๊ณ  ์•„๊ธฐ๊ฐ€ ํƒœ์–ด๋‚ ๋•Œ๊นŒ์ง€ ๊ธฐ๋‹ค๋ ค๋‹ฌ๋ผ๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”. ๋‚จํŽธ์€ ์ €๋ฅผ ์กฐ์‚ฐ์†Œ๋กœ ์•ˆ๋‚ดํ–ˆ์–ด์š”.

์žฌ๋ฏธ์žˆ๋Š”์ ์€ ๊ฒฝ์ฐฐ์ด ๊ทœํ†ต๋ฒ•๊ทœ๋ฅผ ์œ„๋ฐ˜ํ•œ ์˜คํ† ๋ฐ”์ด๋“ค์„ ๋‹จ์†ํ•˜๊ณ  ์žˆ์—ˆ๋Š”๋ฐ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ํ—ฌ๋ฉง์„ ์•ˆ์“ฐ๊ณ  ์žˆ์—ˆ๊ฑฐ๋“ ์š”. ๊ฒฐ๊ณผ์ ์œผ๋กœ ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ๊ฒฝ์ฐฐ์—๊ฒŒ ์„ธ์›Œ์กŒ๊ณ . "์•ˆ๋…•ํ•˜์„ธ์š” ์ฃ„์†กํ•˜์ง€๋งŒ ํ—ฌ๋ฉง ๋ฏธ์ฐฉ์šฉ์œผ๋กœ ๋ฒ•๊ทœ ์œ„๋ฐ˜ํ•˜์…จ์Šต๋‹ˆ๋‹ค"๋ผ๊ณ  ๊ฒฝ์ฐฐ๊ด€์ด ๋‚จํŽธ์—๊ฒŒ ๋งํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋Ÿฌ์ž ๋‚จํŽธ์€ ๋‹นํ™ฉํ•œ ์–ผ๊ตด๋กœ "Ooooooohhh, sir! ์ œ ์•„๋‚ด๊ฐ€ ์ถœ์‚ฐํ• ๊ฑฐ๊ฐ™์•„์„œ ์ฃ„์†กํ•ฉ๋‹ˆ๋‹ค" ๋ผ๊ณ  ํ–ˆ์–ด์š”

๊ฒฝ์ฐฐ๊ด€๋„ ๋‹นํ™ฉํ•œ ์–ผ๊ตด๋กœ ๋งํ–ˆ์–ด์š” "Oooh... okay, sir! ๊ทธ๋Ÿผ ์ฃ„์†กํ•ฉ๋‹ˆ๋‹ค. ์–ผ๋ฅธ ๋ณ‘์›์œผ๋กœ ๊ฐ€๋ณด์„ธ์š”. ๊ฐ€๋Š”๊ธธ ์กฐ์‹ฌํ•˜์„ธ์š”"

---

12์‹œ๊ฐ„์ด ์ง€๋‚˜๊ณ ๋„ ์—ฌ์ „ํžˆ 1๊ธ‰์ธ ์ƒํƒœ์˜€์–ด์š”. ์กฐ์‚ฐ์‚ฌ๋Š” ์œ ๋„์ œ๋ฅผ ์ฃผ๊ธฐ๋กœ ๊ฒฐ์ •ํ–ˆ๊ณ  ์ถœ์‚ฐ๋‹จ๊ณ„๋ฅผ ๋†’์˜€์–ด์š”. ๋„ค, ๊ทธ๋Ÿฌ๊ณ ๋Š” ๋น ๋ฅด๊ฒŒ ์˜ฌ๋ผ๊ฐ”์–ด์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ๋„ˆ๋ฌด ๋นจ๋ผ์„œ ๊ณ ํ†ต์„ ๊ฒฌ๋””๊ธฐ ํž˜๋“ค์—ˆ์–ด์š”. 6์‹œ๊ฐ„ ํ›„ ๋งˆ์นจ๋‚ด 10๋‹จ๊ณ„๊ฐ€ ๋˜์„œ ์ถœ์‚ฐ์„ ์ค€๋น„ํ–ˆ์–ด์š”.

์–ด๋–ค ๋Š๋‚Œ์ธ์ง€ ๋ง›๋ณด๊ณ  ์‹ถ์œผ์‹ ๋ถ„ ์žˆ์œผ์„ธ์š”? ์Œ, ์•„ํŒŒ์š”! ์ €๋Š” ๋ชป์ฐธ๊ณ  ๋ฏธ์นœ๋“ฏ์ด ๋น„๋ช…์„ ์งˆ๋ €์–ด์š”. ๊ณ„์† ๊ธฐ๋„ํ–ˆ์ง€๋งŒ ์ฐธ์„ ์ˆ˜ ์—†์—ˆ์–ด์š”. ๊ทธ ๋ถ€๋ถ„์—์„œ ๋‚จํŽธ์˜ ๋ชธ์„ ๊ผฌ์ง‘๊ณ  ๋จธ๋ฆฌ๋ฅผ ๋‚จํŽธ์ด ์•„ํŒŒํ• ๋งŒํผ ์žก์•„๋‹ค๋…”์–ด์š” ~ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ฐ„๋‹จํžˆ ๋งํ•ด์„œ thank God, Keenan์ด ์•ˆ์ „ํ•˜๊ณ  ๊ฑด๊ฐ•ํ•˜๊ฒŒ ํƒœ์–ด๋‚ฌ์–ด์š”. ์ €๋Š” ํ–‰๋ณตํ•ด์š”. ํ–‰๋ณตํ–ˆ์ง€๋งŒ ํŒŒ์—ด ์ค‘ ๊ฐ€์žฅ ๋†’์€ ์ˆ˜์ค€์ธ 4๊ธฐ ํšŒ์Œ ํŒŒ์—ด์ด ์ถœ์‚ฐํ›„์— ์žˆ์—ˆ์–ด์š”

์ด ํŒŒ์—ด์€ ์ง์žฅ ๋ฒฝ๊นŒ์ง€ ํ™•์žฅ๋ฌ๊ณ  ์—ฌ๊ธฐ์„œ ์‚ฐ๋„๊ฐ€ ํ•ญ๋ฌธ์ชฝ์œผ๋กœ ์‹ฌํ•˜๊ฒŒ ์ฐข์–ด์ ธ ๊ณจ๋ฐ˜ ๋ฐ ์žฅ๊ธฐ๋Šฅ์— ์žฅ์• ๋ฅผ ์ผ์œผํ‚ฌ ์ˆ˜ ์žˆ์—ˆ์–ด์š”. ์ด๋กœ ์ธํ•ด์„œ ์ž์‚ฐ์‚ฌ๊ฐ€ ํฌ๊ธฐํ•˜๊ณ  ๋ณ‘์›์— ๋ฐ๋ ค๊ฐ€ ์ „์‹  ๋งˆ์ทจํ•˜์— ์ˆ˜์ˆ ์„ ๋ฐ›์•„์•ผํ–ˆ์–ด์š” ~ ๋ชจ๋“ ๊ฒŒ ์ง€๋‚˜๊ฐ€๊ณ  ์ˆ˜์ˆ ์€ ์ˆœ์กฐ๋กœ์› ์ง€๋งŒ ์ˆ˜๋‚ฉ์ด ๋๋‚˜์ง€ ์•Š์•˜์–ด์š”. ์ œ๊ฐ€ ์ง€๋ถˆํ•ด์•ผ๋˜๋Š” ์•ก์ˆ˜๊ฐ€ 1,500๋งŒ ๋ฃจํ”ผ์•„์˜€๊ฑฐ๋“ ์š”!

๋‚จํŽธ์€ ๋†€๋ผ์„œ ์ œ๊ฐ€ ๊นจ๊ณ ๋‚˜์„œ ์ œ์•ž์—์„œ ์šธ์—ˆ์–ด์š”. ์ถœ์‚ฐ์„ ์œ„ํ•œ 500๋งŒ ๋ฃจํ”ผ์•„๋งŒ ์ค€๋น„ํ•ด๊ฐ€์„œ ๋ˆ์ด ์—†์—ˆ๊ณ  ๊ทธ ๋ˆ์€ ์ด๋ฏธ ์กฐ์‚ฐ์‚ฌ์—๊ฒŒ ์ง€๋ถˆํ•œ ํ›„์˜€์–ด์š”. ๊ทธ ๋•Œ ์—„๋งˆ์—๊ฒŒ ๋„์›€์„ ์ฒญํ•˜๊ณ  ์‹ถ์—ˆ์ง€๋งŒ ์—„๋งˆ๊ฐ€ ์•„์ง ๋‚จ๋งค์˜ ์ˆ˜์—…๋ฃŒ๋ฅผ ๋ถ€๋‹ตํ•˜๊ณ  ์žˆ๋‹ค๋Š”๊ฑธ ๊ธฐ์–ตํ•ด๋ƒˆ์–ด์š”.๊ทธ๋ž˜์„œ ์•„๋น ์—๊ฒŒ ์ „ํ™”๋ฅผ ๊ฑธ์—ˆ์–ด์š”(๋ถ€๋ชจ๋‹˜์€ ์ดํ˜ผํ•˜์…จ์–ด์š”) ํ•˜์ง€๋งŒ ํ•œ์‹œ๊ฐ„ ๋ฐ˜๋™์•ˆ ์ „ํ™”๋ฅผ ๊ฑธ์—ˆ์ง€๋งŒ ์ „ํ™”๋ฅผ ๋ฐ›์ง€ ์•Š์œผ์…จ์ฃ . ๊ทธ ์ˆœ๊ฐ„์ด ๋„ˆ๋ฌด ์ŠฌํŽ์–ด์š”.

์ €๋Š” ์นจ๋ฌตํ–ˆ๊ณ  ๊ฐ€์ง„ ๋ชจ๋“  ์ข…๋ฅ˜์˜ ํ•ด๊ฒฐ์ฑ…์„ ์ฐพ์œผ๋ ค๊ณ  ๋…ธ๋ ฅํ–ˆ์–ด์š”. ๋‚จํŽธ์„ ๋ณด๋‹ˆ ๋‚จํŽธ๋„ ์—ฌ๊ธฐ์ €๊ธฐ์— ์ „ํ™”ํ–ˆ์ง€๋งŒ ์‹คํŒจํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ ๋•Œ ์ €๋Š” ์ €๋ฅผ ํ™ฉํํ•˜๊ฒŒ ๋งŒ๋“ค๊ฒ ์ง€๋งŒ ํ•œ๊ฐ€์ง€ ๊ฒฐ์ •์„ ๋‚ด๋ ธ์–ด์š”. ๊ณ„์† ๋…ธ๋ ฅํ•˜๋˜ ๋‚จํŽธ์€ ์Šฌํ”ˆ์–ผ๊ตด๋กœ ์ €์—๊ฒŒ ์™”์–ด์š”. ๋‚จํŽธ์˜ ์–ผ๊ตด์„ ๋ณด๊ณ  ๋งˆ์นจ๋‚ด ์ œ๊ฐ€ ์ž…์„ ์—ด์—ˆ์–ด์š” "Bah, ๊ทธ๋ƒฅ ๋…ผ๋ฌธ ๊ฒฝ๋น„์™€ ์กธ์—…ํ•™๋น„๋ฅผ ์“ฐ์ž"

"Huh? What? ํ•™๋น„๋ฅผ ์“ฐ์ž๊ณ ?" ๋‚จํŽธ์ด ์ถฉ๊ฒฉ์ ์œผ๋กœ ๋ฌผ์—ˆ์–ด์š”.

"์‘....." ์šธ๋ฉด์„œ ์ œ๊ฐ€ ๋Œ€๋‹ตํ–ˆ์–ด์š”.

"ํ•˜์ง€๋งŒ....." ๋‚จํŽธ์€ ์•„๋ฌด๋ง๋„ ํ•  ์ˆ˜ ์—†์—ˆ๊ณ  ์ €๋„ ํ•  ์ˆ˜ ์žˆ๋Š”๊ฒŒ ๊ทธ์—๊ฒŒ ํž˜์„์ฃผ๋Š”๊ฒƒ ๋ฟ์ด์—ˆ์–ด์š” "๊ดœ์ฐฎ์•„ ์ง„์‹ฌ์œผ๋กœ ๊ทธ ๋ˆ์„ ๋ณ‘์›๋น„๋กœ ์“ฐ๊ณ ์‹ถ์–ด" ์ œ๊ฐ€ ๊ณ„์† ๋ˆˆ๋ฌผ์„ ์ฐธ์œผ๋ ค๊ณ  ๋…ธ๋ ฅํ•˜๋ฉด์„œ ๋งํ–ˆ์–ด์š”. ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์„œ๋กœ ๋ฐ”๋ผ๋ณด๊ณ  ๋Œ์–ด์•ˆ์•˜์–ด์š”.

Oh God,์Šฌํ”„๊ณ  ํ˜ผ๋ž€์Šค๋Ÿฌ์› ์–ด์š”, ํ•˜์ง€๋งŒ ์„ ํƒ์˜ ์—ฌ์ง€๊ฐ€ ์—†์—ˆ์–ด์š”.

---

๋งˆ์ง€๋ง‰ ๊ฒฐ์ •

Keenan์„ ๋‚ณ๊ณ  ๋ชธ์„ ํšŒ๋ณตํ•˜๊ธฐ ์œ„ํ•ด ์ œ ๊ฐ€์žฅ ํฐ ๊ฟˆ์„ ํฌ๊ธฐํ•ด์•ผ ํ•˜๋Š” ์ˆœ๊ฐ„์ด์—ˆ์–ด์š”. ์Šฌํ”„๋ƒ๊ตฌ์š”? ๋‹น์—ฐํžˆ์š”. ์‹ค๋งํ–ˆ๋ƒ๊ตฌ์š”? ์•„๋‹ˆ์—์š”. ์ œ ์ƒ๊ฐ์— ์ €๋Š” ์กฐ๊ฒฝ์‚ฌ๊ฐ€ ๋˜์ง€ ๋ชปํ•  ๊ฒƒ๊ฐ™๊ณ  ์•„๋งˆ ์‹ ์€ ์ œ๊ฐ€ ๋‹ค๋ฅธ๊ฟˆ์„ ๊พธ๊ธธ ์›ํ•˜์‹œ๋ฉฐ ํฌ๊ณ  ์•„๋ฆ„๋‹ค์šด ๊ณ„ํš์„ ์ค€๋น„ํ•˜์‹œ๋Š”๊ฒƒ ๊ฐ™์•„์š”. God knows best.

์†”์งํžˆ ๋งํ•œ๋‹ค๋ฉด ์ „ํ™”ํ•ด์„œ ๊ณต๋ถ€๋ฅผ ๊ณ„์†ํ•  ๊ฒƒ์„ ๊ฒฉ๋ คํ•˜๊ณ  ํ•ญ์ƒ ์นœ์ ˆํ–ˆ๋˜ ๊ต์ˆ˜๋‹˜์„ ์ƒ๊ฐํ•˜๋ฉด ์Šฌํผ์š”. ํ•˜์ง€๋งŒ ๋ฌด๊ฑฐ์šด ๋งˆ์Œ์—๋„ ํ•ญ์ƒ ์•„์ด๋ฅผ ๋Œ๋ณผ ์‚ฌ๋žŒ์ด ์—†๋‹ค๋ฉด์„œ ๊ฑฐ์ ˆํ–ˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์‚ฌ์‹ค, ๊ทธ๊ฑด ์ œ ์ง„์งœ ์ด์œ ๊ฐ€ ์•„๋‹ˆ์—์š”. ์ •๋ง ๊ณต๋ถ€๋ฅผ ๊ณ„์†ํ•˜๊ณ ์‹ถ์ง€๋งŒ ์žฌ์ •์ƒํ™ฉ์ด ๋ถˆ์•ˆ์ •ํ•˜๊ณ  ์œก์•„์— ๋“œ๋Š” ๋น„์šฉ์— ๋น„ํ•ด ๋‚จํŽธ์˜ ์‚ฌ์—…์ด ์‹œ์ž‘๋‹จ๊ณ„๋ผ๋Š”๊ฑธ ์•Œ๊ณ ์žˆ์–ด์š”

๊ทธ๋ž˜์„œ, ๊ฟˆ์„ ํฌ๊ธฐํ•˜๋Š”๊ฒƒ ๋ง๊ณ ๋Š” ์„ ํƒ์˜ ์—ฌ์ง€๊ฐ€ ์—†์—ˆ์–ด์š”.

---

์ €์—๊ฒŒ ์‹ ์€ ์„ ํ•˜๊ณ  ์ž๋น„๋กœ์›Œ์š”. ์‹œ๊ฐ„์ด ํ๋ฅด๊ณ  ์ €๋Š” ์ผ๋Ÿฌ์ŠคํŠธ๋ ˆ์ดํ„ฐ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ž‘๊ฐ€๋ผ๋Š” ์ƒˆ๋กœ์šด ๊ฟˆ์„ ์ฐพ์„ ์ˆ˜ ์žˆ์—ˆ์–ด์š”. Yeaaah, ์ €๋Š” ๊ทธ๋ฆฌ๋Š” ์ทจ๋ฏธ๋ฅผ ํŽ˜์ด๋ฅผ ๋ฐ›์„ ๋•Œ๊นŒ์ง€ ํ–ˆ๊ณ  Bandung์˜ ์˜๋ฅ˜๋ผ์ธ์—์„œ ์ œ์•ˆ์„ ๋ฐ›์•„์„œ 5๋…„๊ฐ„ ์ผ๋Ÿฌ์ŠคํŠธ๋ ˆ์ดํ„ฐ๋กœ ์ผํ–ˆ์–ด์š”.

๋˜ํ•œ ๋‹ค๋ฅธ ์ทจ๋ฏธ์ธ ๋ธ”๋กœ๊ทธ์— ๊ธ€์“ฐ๊ธฐ๋กœ ๋Œ์•„์™”์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋ธ”๋กœ๊ฑฐ๊ฐ€ ๋˜๊ธฐ๋กœ ๊ฒฐ์ •ํ–ˆ์–ด์š”. ๋งˆ์ง€๋ง‰์œผ๋กœ ์ œ ์—ด์ •์ด ํƒ€์˜ค๋ฅด๋Š” ๊ณณ์ด์—์š” ๐Ÿ˜Š ์ €๋ฅผ์œ„ํ•ด ์ค€๋น„๋œ ์‹ ์˜ ํฐ ๊ณ„ํš์€ ๋ชจ๋ฅด๊ฒ ์–ด์š”. ๊ทธ๊ฒŒ ๋ญ๋“  ์ €๋Š” ์•„์ง ๊ฐ์‚ฌํ•ด์š”. ๊ธ€์“ฐ๊ธฐ๋ฅผ ํ†ตํ•ด์„œ ์ €์—๊ฒŒ ์˜๊ฐ์„ ์ฃผ๋Š” ์ƒˆ๋กœ์šด ์นœ๊ตฌ๋ฅผ ๋งŽ์ด ๋งŒ๋‚  ์ˆ˜ ์žˆ๊ณ  ๋ฌด์—‡๋ณด๋‹ค๋„ ์„œ๋กœ๋ฅผ ์ง€์›ํ•  ์ˆ˜ ์žˆ๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š”. ๋ชจ๋“ ๊ฒฐ์ •์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์‹ ๊ป˜ ๊ฐ์‚ฌํ•˜๋Š”๊ฑธ ๋ฉˆ์ถœ ์ˆ˜๊ฐ€ ์—†์–ด์š”.

์ธ์ƒ์˜ ๋ชจ๋“  ์ˆœ๊ฐ„์— ์ œ๊ฐ€ ๋ฐฐ์šด ๊ฐ€์น˜์žˆ๋Š” ๊ตํ›ˆ์€ ๊ฐ€๋” ์™„๋ฒฝํ•˜๋‹ค๊ณ  ์ƒ๊ฐํ–ˆ๋˜ ๊ณ„ํš๋„ ์—‰๋ง์ด ๋  ์ˆ˜ ์žˆ๋‹ค๋Š” ๊ฑฐ์—์š”. ๋ถˆ๊ณตํ‰ํ•ด ๋ณด์ผ ์ˆ˜ ์žˆ์ง€๋งŒ ์‹ ์˜ ๊ณ„ํš์€ ์‚ฌ๋žŒ์˜ ๊ณ„ํš๋ณด๋‹ค ํฌ๊ณ  ๊ฐ•๋ ฅํ•ด์„œ ์กฐ๊ฒฝ์‚ฌ๊ฐ€ ๋˜์ง€ ๋ชปํ•ด๋„ ๊ดœ์ฐฎ์•„์š”. ์™œ๋ƒ๋ฉด ์ €๋Š” ์ง€๊ธˆ ์•„์ด๋“ค ๋ฏธ๋ž˜์˜ "์„ค๊ณ„์ž"๊ฐ€ ๋˜์—ˆ์œผ๋‹ˆ๊นŒ์š”.

Paid Guest Post
Eka Fitriani Larasati
Artjoka

88 comments:

  1. Alhamdulillah, sudah di post kak eno (^___^) Gomawooo kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Eka, tulisannya mantap sekali ๐Ÿ˜ญ aku sungguh terharu + sedih bacanya. Sungguh perjuangan seorang ibu dan perjuangan mengejar mimpi yang nggak mudah ๐Ÿ˜ญ Cerita yang sangat menyentuh ๐Ÿ˜ญ
      Semoga kak Eka selalu diberi kesehatan dan rejeki yang lancar ya ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป

      Delete
    2. My pleasure mba Eka ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
    3. Segala bentuk perjuangan memang nggak ada yang mudah ya, Lia ๐Ÿ˜ jadi Lia juga harus selalu menghargai perjuangan-perjuangan Lia sekecil apapun bentuk perjuangannya ๐Ÿ˜ dan semoga Lia bisa belajar banyak dari cerita mba Eka ~ semangat!

      Delete
  2. Sepertinya ada beberapa pengalaman saya yang mirip dengan Mba Eka, so I feel you ๐Ÿ˜

    Tulisan yang bagus Mba ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penggalan yang mana, mba? Cerita dong ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Delete
    2. Dibagian melepas impian (tapi saya karena Ortu dan saudara), trus terjatuh waktu hamil tapi di depan rumah waktu mo jemput Si Kakak, naek motor ujan-ujan ke sekolah dan menahan sakit karena induksi pas ngelahirin pun sama Mba, hanya saja lebih lama sedikit sampe 12 jam, begitu juga keruwetan biaya melahirkannya juga sama, hanya saja dulu akhirnya mendapat bantuan dari tempat kerjanya suami, bersyukur banget saat itu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜… Jadi baca tulisan ini seperti merecall masa lalu, sedihnya juga kerasa banget khususnya untuk saya ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜

      Delete
    3. Woaaah ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ pasti berat banget ya mba waktu kejadian, thank God mba Rini mampu melewatinya dengan hati lapang dan kuat ๐Ÿ˜ dan rejeki datangnya dari mana saja, saya ikut bersyukur karena tempat kerja pasangan mba memberi bantuan ๐Ÿ’•

      Cerita mba Eka sedikit banyak memang bisa dirasakan oleh banyak teman-teman lainnya termasuk mba Rini juga ya mba, karena perjuangan seorang ibu untuk anak-anaknya nggak bisa diragukan. Akan selalu ada kisah dibalik setiap perjalanannya ๐Ÿ™ˆ semoga one day saya bisa baca kisah mba Rini juga. Semangat terus mba, semoga mba dan anak-anak selalu sehat ๐Ÿ’•

      Delete
  3. Inspiring story Mbak Eka.

    Keiklasan dan pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Ketulusan seorang istri untuk berjuang bersama suaminya menghadapi suka dan duka.

    Dan, keiklasan menerima jalan hidup serta rasa bersyukur terhadap jalan yang sudah ditetapkan oleh-NYA.

    Semua ada dalam kisah ini.

    Saya belum tahu 26 tulisan yang lainnya, tetapi sangat bisa mengerti penilaian Mbak Eno dan para sohibulnya.

    Penyampaiannya juga sangat mengalir sehingga kita terbawa dalam cerita.

    Jadi, cuma bisa bilang good job Mbak Eka dan juga Mba Eno dan tim penilai.

    Saya yakin ke 26 tulisan yang lain akan sama bagusnya dan baiknya, dan penilaian akhir pasti akan sulit dan tipis.

    Saya kayaknya harus banyak belajar dari Mbak Eka dalam hal menulis seperti ini.. #sungkem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya, pelajaran terberat dalam hidup itu salah satunya soal ikhlas ya, mas ๐Ÿ˜† hehe. Dan seperti yang mas Anton bilang, cerita mba Eka betul-betul mengajarkan banyak hal mengenai ikhlas ๐Ÿ˜

      Ngomong-ngomong tulisan lainnya sama bagusnya, that's why sulit untuk memutuskan. Poinnya pun beda tipis satu sama lainnya ๐Ÿ˜† hihihi. Nanti semoga teman-teman yang ikut menulis bisa publish tulisannya, jadi mas Anton bisa baca ๐Ÿ˜ hohoho. For the last, terima kasih sudah berbagi komentar, mas ๐Ÿ˜

      Delete
  4. Saya terharu, kagum, sedih, bahagia... Wah.. Campur aduk rasanya๐Ÿ˜ญ baca kisahnya mbak eka. Mulai dari perjuangannya kuliah sambil hamil besar sampai jatuh di got lalu harus merelakan biaya kuliahnya untuk kesembuhan setelah melahirkan.

    Nggak mudah memilih salah satu dari dua hal tersebut, tapi sebagai ibu mbak eka, Luar biasa banget mbak eka...

    Semoga mbak eka bisa menjadi ibu yang selalu baik dan semoga anaknya bisa sukses kelak๐Ÿ˜Š. Kita manusia memang hanya bisa berencana dan Allah yang menentukan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang saya rasakan juga mba Astria, sampai salah satu sohibul saya respon pakai kata, "Waaaah." sepertinya dia terbawa suasana ๐Ÿ˜‚ hahahaha. Tulisan mba Eka berhasil membuat saya dan sohibul saya hanyut dalam cerita ๐Ÿ˜ semoga mba Astria merasakan hal yang sama ๐Ÿ’•

      Amiiiin saya mewakili mba Eka mau berterima kasih untuk doanya. Doa yang sama saya haturkan untuk mba Astria, semoga kelak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak mba ๐Ÿ˜ lavvv ~

      Delete

  5. Waahh ceritanya sudah di posting...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    Beri tepuk tangan dulu dong untuk mbak Eka Fitriani.๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    Saya jadi penasaran malah sama cerita yang lainya buat perbandingan doang sih sebenarnya.๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    Tapi tetap menarik, Meski judulnya agak sedikit bersebrangan sama ceritanya.๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    Tetap semangat ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช Gooogooo..๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Horeeee plok plok plok ๐Ÿ˜†๐Ÿ‘

      Cerita yang lain nggak kalah bagusnya, mas ๐Ÿ˜ tapi ada baiknya jangan dibanding-bandingkan. Cihuyyy! ๐Ÿ˜‚ hahaha. Kalau soal judulnya saya yang pilih untuk fit style blog saya ๐Ÿ˜„ judul aslinya "Melepas Impian" ๐Ÿ˜‰

      Mas Satria semangat juga, ya!

      Delete
    2. Iya tidak perlu dibanding-bandingkan karena semua sebenarnya akan menceritakan dan mengajarkan banyak hal.

      Pemilihan peringkat 1 tidak berarti tulisan yang lain tidak bagus, tapi lebih kepada lebih sesuai dengan selera tim penilai saja.. Iya kan Mbak Eno?

      Delete
    3. Betuuul mas Anton, semua cerita yang masuk punya makna bagus dan mengajarkan banyak hal. Seriously, sebagai contoh dari TOP 5 di atas.. cerita mba Thessa mengajarkan perihal membangun privilege sendiri disaat kita merasa terlahir tanpa privilege. Terus kalau mas Rahul ceritanya soal tanggung jawab yang diemban hanya karena terlahir sebagai anak pertama pada awalnya, dan permasalahan yang dihadapi. Namun berjalan dengan waktu justru membuat mas Rahul kuat ๐Ÿ˜

      Selain itu dari cerita mba Kartika, saya belajar soal kalimat yang tepat ketika kita sedang melakukan kesalahan. Jangan sampai kalimat yang kita gunakan jatuhnya hanya excuse belaka. Maknanya deep bangettts ~ for the last cerita dari mba Elpida soal Thank You yang menurut saya sederhana tapi sering dilupakan kita as manusia yaitu mengucapkan terima kasih pada diri kita sendiri yang sudah selalu berusaha dan berjuang. Kalau baca detail cerita yang dibagikan oleh kesemua teman, rasanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil tanpa harus dibandingkan karena semua cerita yang saya terima memberikan ilmu dan kandungan makna besar di dalamnya. Sesederhana apapun ceritanya ๐Ÿ˜ that's why pilih pemenangnya syusaaaahhhh, mas ๐Ÿคฃ

      Delete
    4. Wuaah asiiikk udah dikasi bocoran dikit sama Mba Eno cerita2 lain kaya gimana.. Makin bikin penassran buat bacaaa๐Ÿ˜† Semangat buat proses bukunya Mba Eno. Just tell me if there anything I can help yaaa ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

      Delete
    5. Siap mba Thessaaaaa ~ Tolong bantu doa, mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  6. Kisah yang sangat menyentuh hatiku Mbak Eka karena sedikit banyak relate dengan pilihan-pilihan yang ada dalam hidupku....maybe We are on the same shoes hihi..

    Eh... tadi pas baca part hujan-hujan hampir ditanyak-tanyak ama pak polisi (untungnya ga jadi), lalu ndilalahnya kok ya bisa masuk got, aku spontan mringis, hihi.. tapi alhamdulilah Keenan kecil dan Mamah sehat ya Naaaq :D.

    Btw, aku uda lama suka intip-intip artnya Mba Eka di Artjoka, lucuk, cute..ngingetin aku sama ilustrasi sampul buku atau karya sastra yang biasa ada di koran...#kudu berguru gambar ama mba eka deh aku hihihi

    Daaan tentunya, ilustrasi yang menjadi pembuka postingan juga tampak cool...

    Semoga Mba eka dan keluarga kecilnya selalu diberkahi dengan segala impian-impiannya, juga sukses terus kegiatan gambar dan usahanya ^_______^

    Oiya, aku juga jadi penasaran dengan 26 tulisan yang lain...ini nda ditampilkan di guest post juga kah mba eno?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya banyak ibu akan relate dengan cerita mba Eka, karena sedikit banyak, setiap ibu memiliki perjuangan besar untuk anak-anaknya ๐Ÿ˜ eniho, terima kasih banyak sudah membaca tulisan mba Eka ya, mba Nita ๐Ÿ˜๐Ÿ’• biar nanti komentar lainnya yang ditujukan untuk mba Eka bisa dibalas sama mba Eka ๐Ÿ™ˆ

      Menjawab pertanyaan akhir mba Nita, untuk tulisan lainnya nggak ditampilkan di GUEST POST mba, jadi hanya tulisan mba Eka yang tampil sebab setiap tulisan ada copyright-nya jadi kalau mau saya pakai di blog saya perlu saya bayar ๐Ÿ˜ berhubung saya hanya bayar tulisan mba Eka, jadi hanya tulisan mba Eka yang saya tayangkan. However, nanti saat bukunya rilis, saya akan buka giveaway 1-2 pcs siapa tau mba Nita berminat ikutan ๐Ÿ˜†

      Delete
  7. Huaa Speechless,
    Mba Eka thank you for sharing, I realize that perjuangan aku belum seberapa, untuk memperjuangkan study aku, salam buat Keenan se dede tangguh.

    Buat mba Eno, makasih udah mengadakan acara paid guest ini, jadi belajar banyak, bersyukur rasanya pernah main ke sini, huge thank mba Enoo (sambil sending love pakai jari ala Korea) ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mba Sovia, semoga mba bisa terus berjuang untuk hidup, mimpi dan cita yang mba inginkan ๐Ÿ˜ hehehe. Sama-sama mba, terima kasih juga sudah sering mampir dan membaca cerita-cerita yang ada ๐Ÿ˜† lavvvv ~

      Delete
  8. Mba Ekaaa *peluk virtual dulu*

    Entah mengapa baca ini aku merasa relate dalam beberapa hal. Yang pasti sejak menjadi seorang ibu, banyak hal berharga yang sudah dipelajari dan salah satunya ya tentang ikhlas (:

    Perjuangan Mba Eka luaaar biasa! Rasanya aku ingin peluk Mba Eka di hari waktu Keenan lahir T_T

    Dan bersyukur sekali Mba Eka masih bisa produktif mengerjakan banyak hal yang Mba suka. Keenan seperti membuka pintu kesempatan lainnya bagi Mba Eka untuk tetap berkarya ya ❤️

    Tetap semangat, Mba Eka! Sehat selalu untuk Keenan, suami dan Mba. Terima kasih sudah menginspirasi melalui tulisannya kali ini ๐Ÿค—

    Terima kasih juga Mba Eno and friends yang sudah memilih dan memposting tulisan Mba Eka ini ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. I knew that, menjadi ibu itu memang soal pelajaran sepanjang masa ya, mba. Salut sama mba Jane, mba Eka dan para ibu di luar sana yang selalu ikhlas memperjuangkan kebahagiaan anak-anaknya ๐Ÿ˜ semoga mba Jane, mba Eka dan para ibu lainnya selalu diberikan berkah sehat dan kuat jiwa raganya ๐Ÿ’•

      Sama-sama mbaaa, terima kasih banyak sudah baca secuplik kisah dari mba Eka. Senang rasanya kalau mba Jane dan teman-teman pembaca lainnya suka ๐Ÿ˜

      Delete
  9. kak Enoo, mba Ekaa, saya terharu sampai pekat rasanya tenggorokan mau nangis๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
    Betapa sabar dan ikhlasnya mba Eka melepas apa yg jadi impiannya selama ini, semata-mata berjuang untuk keluarga, dari sejak di masa kandungan sampai pertumbuhan Keenan. Saya seperti ikut merasakan gimana sedih dan bingungnya jadi mba dihadapkan pada situasi tersebut๐Ÿ˜ข. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan untuk mba dan keluarga ya mba, insya Allah kedepannya masih banyak buah manis yg mba akan peroleh. Karena pada akhirnya saya percaya meninggalkan sesuatu yg lebih besar dan lebih baik—meski mimpi menjadi arsitektur lanskap pun bukan berarti tidak baik, dapat melahirkan sesuatu yg juga lebih bernilai. Mungkin saja rahmat dan kasih sayang Allah yg lebih besar untuk mba dan keluarga๐Ÿค—. Sehat selalu untuk mba Eka dan keluarga ya, semoga setiap iringan langkah mba dan keluarga selalu diridhoi oleh Allah SWT, dan semoga Keenan tumbuh menjadi anak yang berbakti, seperti "arsitek" yang merawatnya selama ini,๐Ÿ˜‡ Aamiin๐Ÿค—๐Ÿ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin Awl, terima kasih doa untuk mba Ekanya, sayang ๐Ÿ˜ dan terima kasih sudah membaca tulisan hangat dari mba Eka ๐Ÿ˜ senang rasanya kalau Awl bisa ikut belajar dari pengalaman mba Eka dan menarik ilmu yang terkandung di dalamnya ๐Ÿ’•

      Dan pesan untuk Awl, semangat studinya. Selagi ada kesempatan dan sebelum keadaan memaksa Awl untuk melepas impian. Keep giving your best and let God care the rest ๐Ÿ˜‰

      Delete
  10. Mantap mbak Eka...

    Setiap manusia memiliki "musim" masing-masing. Ada musim untuk eksistensi diri dan cita-cita. Dan ada juga masa-masa memelihara dan menjaga benih yang kita semai dalam hal ini anak. Nanti akan ada masanya lagi kok mbak Eka, saat anak sudah besar dan mandiri masa dimana mbak bisa meraih lagi cita-cita. Lebih baik daripada dipaksakan meraih dua-duanya tapi akhirnya malah hasilnya tidak optimal...

    Tidak ada cita-cita yang hilang. Yang ada hanyalah cita-cita yang tertunda. Semangat terus mbak Eka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mungkin hanya tertunda sementara waktu cita-citanya ๐Ÿ˜ semoga one day, mba Eka bisa kembali mengejar cita-cita mba, atau mungkin justru cita-cita terbarunya berhubungan dengan dunia blog hehehehe. Apapun itu, tetap semangat dalam menjalani hidup dan kejutan-kejutan manis dari Tuhan yang ada di depan mata ๐Ÿ˜

      Eniho, terima kasih mba Phebie sudah baca ๐Ÿ˜†

      Delete
  11. Akhirnya bisa baca ceritanya Mbak Eka.
    Selesai membaca aku akhirnya tahu kenapa Mbak Eno milih tulisannya Mbak Eka. Semua perasaan ada, yang awalnya ikut sedih, sampai pertengahan mringis terus ngakak apalagi adegan mau ditilang polisi. Itu SUPERB sih! Lalu ditutup dengan keharuan.

    Mbak Eka, terima kasih sudah berbagi kisahnya.
    Banyak hal yang aku pelajari dari kisah Mbak Eka, semoga Tuhan selalu senantiasa melindungi Mbak Eka dan keluarga.
    Untuk Mbak Eno, terima kasih sudah menghadirkan kisah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, sebetulnya semua tulisan bagus mba Pipit, dan saya galau pilih pemenangnya. Alhasil saya pakai sistem poin, dan nilai poinnya beda tipis antar satu sama lainnya ๐Ÿ˜ karena memang sebegitu bagusnya tulisan teman-teman ๐Ÿ’•

      Amiiin, saya turut aminkan doa mba Pipit untuk mba Eka. Dan terima kasih juga karena mba Pipit sudah meluangkan waktu mba yang berharga untuk membaca cerita mba Eka di blog saya ๐Ÿ™ˆ sehat selalu, mba ๐Ÿ’•

      Delete
  12. Kisah yang sangat menyentuh dan mengalir seakan-akan membawa saya ikut ada di dalamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah baca mas Kal ๐Ÿ˜

      Delete
  13. Habis baca ini, saya langsung cirambay alias nggak sadar tiba - tiba ada air netes dan bikin pipi basah :””(

    Terima kasih ya Mbak Eka. Saya merasa punya kesamaan yaitu mengikhlaskan impian untuk menjaga buah hati. Namun, cerita saya masih nggak ada apa - apanya dibanding punya Mbak.

    Semoga setiap langkahnya Mbak Eka (dan juga Mbak Eno tentunya) selalu dilindungi Tuhan YME

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap cerita pasti punya makna mendalam bagi yang mengalaminya, termasuk cerita perjuangan mba Ayu dan mba Eka ๐Ÿ˜ saya yakin, perjuangan mba Ayu untuk anak tercinta nggak kalah beratnya ๐Ÿ’• semangat selalu, mba ~

      Amiiiiin doa yang sama untuk mba ya, semoga langkah kaki mba selalu dimudahkan, dan diberkahi setiap keputusannya ๐Ÿ’•

      Delete
  14. Judulnya sangat singkat dan padat. Namun sangat mendalam setelah selesai membacanya. The architect, terus diakhir diceritakan tentang Allah (Tuhan). Dari dua narasi ini aku langsung teringat film Cin(t)a tahun 2009. Sayangnya, film itu ga lulus sensor dan ga tayang di bioskop. tokoh di film ini diceritakan sebagai mahasiswa arsitektur. Di salah satu scene, tokoh utama menggunakan kaos bertuliskan "God is an architect".

    cerita perjalanan yang sangat menarik mbak eka. Aku bacanya sampai terharu dengan perjuangan yang sudah dilakukan. Cerita-cerita tentang kehidupan setiap orang memang selalu menarik untuk disimak dan dibaca. Semoga apa yang sedang diusahakan bersama keluarga bisa berjalan dengan baik dan lancar.


    Semangat mbak eno untuk editingnya. Jadi ga sabar menanti cerita selanjutnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya film Cin(t)a sempat tayang bukannya, mas? Tapi ditake down kalau nggak salah ~ lupa-lupa ingat, tapi film ini cukup jadi perdebatan pada masanya. Hhehehe. Dan setuju dengan kaos bertuliskan God is an Architect. Saya kasih judul The Architect karena ada banyak makna dari cerita mba Eka, terlepas mimpinya yang ingin menjadi arsitek lanskap, namun beralih jalan hingga sekarang menjadi arsitek masa depan anak-anak. Semua nggak akan lepas dari kendali Tuhan sang arsitek kehidupan ๐Ÿ’•

      Iya mas, kisah setiap orang, sangat bagus untuk dibaca, karena kita bisa belajar banyak hal di sana ~ kadang kali kita merasa setiap keputusan kita adalah yang paling benar, namun disaat kejadian tersebut terjadi pada hidup orang lain, akan ada kemungkinan keputusan yang mereka ambil akan berbeda. Karena setiap orang memiliki kisahnya, latar belakangnya, dan lain sebagainya. Disitu saya belajar banyak untuk lebih terbuka pada perbedaan.

      Hihihi, doakan lancar, mas ๐Ÿ™ˆ

      Delete
    2. Kalau ga salah hanya beberapa hari saja tayang. Menurutku filmnya sangat bagus, akarakternya sangat kuat, dan ada pesan yang disampaikan. Beberapa dialog masih diingat sampai sekarang. Satu lagi kata-katanya "God is a director". Sutradara kehidupan :D

      Setuju sekali dengan mbak eno
      *toos :D

      Delete
    3. Sayang banget ya mas, padahal ceritanya bagus, tapi mungkin di-takedown karena persoalannya agak deep ๐Ÿ™ˆ

      TOSSSS!! ๐Ÿคฃ

      Delete
  15. Keren banget Mba Eka, menyentuh banget.
    You know laahhh mamak-mamak geto loh :D

    Sedikit banyak juga merasa pernah ada di posisi itu, benar kata Mba Eka yang waktu komen di page 'about me' saya, di mana kata Mba Eka pernah merasakan beberapa peristiwa yang sama.

    Benar banget.
    wanita aja sesungguhnya punya banyak cerita sejak kecil, lalu akhirnya bisa sekolah, berjuang untuk mendapatkan pendidikan sesuai impian.

    Setelah tercapai pendidikan, kudu berjuang untuk pekerjaan impian, setelah semua dilewati, tiba-tiba harus banget memilih melepas impian.

    Kalau saya menyebutnya mengganti impian.

    Kalau dulu saya punya impian jadi wanita karir yang sukses.
    Sekarang saya ganti, jadi ibu rumah tangga yang sukses.

    Tentunya perjuangannya masih sama, hanya saja tempat dan kondisinya yang beda :)

    Terus beberapa kejadian hamil tersebut, saya jadi ingat pas hamil anak kedua, kami pernah jalan-jalan ke mall sampai malam banget, terus pulangnya naik motor daaann bannya kempes sodara, udah pukul 11 malam pulak, susah nyari tambal ban, paksu terpaksa mendorong motor sampai sekilo kali sampai ketemu tambal ban yang buka.

    Sementara saya sama si Kakak terpaksa jalan kaki, waktu itu sama, kandungan saya udah 8 bulanan, ampun deehh selama hamil saya tidoooorrr aja sejak awal hamil saking saya kena Hyperemesis, tiba-tiba disuruh jalan sampai sekilo dong, untung si adik dalam perut nggak kenapa-kenapa.

    Konyolnya lagi, setelah kami jalan sekilo, betis saya udah sakit banget, si kakak mandi keringat dan kulitnya merah se badan-badan saking dia memang alergi kena keringat.

    Baru deh kami order taksi online.
    Etdaaahhhh, dari tadi kek hahahahaha

    Betewe lagi, terimakasih banyak atas ceritanya Mba Eka, benar-benar menyentuh, dan mengingatkan saya, bahwa setiap orang punya tantangannya sendiri, namun selalu ada jalan keluar dari setiap masalah, meski untuk itu kita harus memilih satu dari dua atau beberapa pilihan.
    Kayak harus make uang kuliah demi persalinan.
    Kebayang banget bagaimana perasaan Mba Eka dan suami saat itu.

    Semoga selalu berkah ya Mbaaa :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kata-kata yang bagus mba Rey ๐Ÿ˜ mengganti impian, menjadi ibu rumah tangga yang sukses. Semoga mba Rey bisa semangat terus menjalankan mimpi mba Rey ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’•

      Dan mengenai cerita mba Rey harus jalan kaki sekilo saat hamil adik 8 bulan, saya langsung membayangkan betapa berat dan lelahnya. Thank God, mba dan adik serta kakak nggak kenapa-napa dan adik bisa lahir sehat walafiat sampai sekarang ๐Ÿ˜ hehehe, terima kasih sudah berbagi cerita mba, dan sudah membaca tulisan mba Eka ya, mba ๐Ÿ’•

      Dan setuju sama yang mba bilang, kalau setiap orang memiliki tantangan hidupnya sendiri, namun pastinya setiap tantangan hadir bersama jalan keluar ๐Ÿ™ˆ jadi kita harus terus semangat dalam menjalani kehidupan ๐Ÿ’ƒ

      Delete
  16. Mbaa Ekaa, aku bacanya berkaca2.. huhu.. aku lemah baca cerita kalau masalah perjuangan dg anak gini, bawaannya merembes mili ๐Ÿ˜ข Perjuangan dan keiklasan Mba Eka luar biasa. Aku ga bs ngebayangin pas hamil tua hujan2 jalan sampai 5 km, trus permintaan maaf suami Mba Eka pas Mba Eka jatuh bikin aku ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ Semangaat terus Mbaa. Makasi udah ngajarin aku buat lebih bersyukur dg baca ini. Makasi Mba eno udah berbagi cerita ini ๐Ÿ’–๐Ÿ’–
    Sekrng udah menemukan passion yg baru ya Mba. Senangnyaaa.. keep happy mba, krna aku percaya, keluarga yg happy itu dimulai dr ibu yg happy dan tdo tertekan ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Thessa pasti bisa relate ya, sebab mba Thessa juga seorang ibu jadi tau perasaan hati ibu ๐Ÿคง dan iya mba, saya waktu baca permintaan maaf pasangan mba Eka langsung auto ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ sedih waktu suaminya bilang maaf belum bisa beli mobil ~ ๐Ÿ˜ข

      Sama-sama mba, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang rasanya ๐Ÿ˜๐Ÿ’• amiiiin, semoga mba Eka bisa semangat menjalani passion baru yang dipunya. Dan semoga mba Thessa pun bisa semangat, ya ๐Ÿ’ƒ

      Delete
  17. Cerita yang mengharukan. Jujur saja memang berat melepaskan impian apalagi jika memang tinggal sedikit lagi. Tapi demi anak, maka seorang ibu rela melepaskan impiannya.

    Serem juga waktu banjir dan sampai terperosok ke got. Soalnya memang kalo banjir itu kadang lubang got tidak kelihatan karena tertutup air banjir. Beruntung mbak Eka tidak apa-apa, hanya shock saja.๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, apalagi kalau sudah sedikit lagi selesai lalu terpaksa melepaskan. Akan berat rasanya ๐Ÿคง however, begitulah seorang ibu, akan selalu mengedepankan masa depan anaknya ๐Ÿ˜ญ huhuhuhuhu ~

      Dan soal banjir itu, ketika saya baca pun kagettt mas ๐Ÿ˜… kebayang got nggak kelihatan terus nyusruk, pasti sakit banget. Thank God mba Eka dan baby-nya baik-baik saja ๐Ÿ’•

      Delete
  18. mbaaaa,,, auto mewek saya :'(
    ketawa sambil mewek pas bagian jatuh di got. Sukses terus buat Mba Eka, dan Mba Eno juga tentunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Sera sayaanggg sudah membaca ๐Ÿ˜

      Delete
  19. Nice story telling kak Eka. Dilematis yang berat sekali.

    Saya abis main ke blognya kak Eka, nemu beberapa gambar. Terus liat cover bukunya agak mirip. Ini digambar beliau kah?

    PS: tulisan ini mengandung bawang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cover yang ada di post ini memang karya mba Eka, ada info copyright-nya di bawah foto, mas ๐Ÿ˜ kalau cover buku di post Congratulations itu karya designer yang kerja sama saya ๐Ÿ˜ฌ hehehehe. Eniho, terima kasih sudah baca, mas ๐Ÿ˜

      Delete
  20. Mungkin saya tidak terlalu relate karena belum menikah, punya anak, ataupun mengorbankan cita-cita demi anak.

    Tapi cerita mbak Eka membuat mata saya lebih terbuka bahwa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan setelah berkeluarga. Di satu sisi, sejujurnya bikin jiper, tapi di sisi lain mungkin bisa jadi ‘modal pengetahuan’ bahwa menikah lebih dari sekedar happily ever after๐Ÿ˜‡

    Thumbs up buat mba Eka ๐Ÿ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mba Hicha, akan ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan saat ingin berkeluarga, terlebih lagi saat ingin memiliki keturunan. Tentunya dengan tujuan happily ever after, hanya saja ada proses panjang di dalamnya ๐Ÿ˜

      Semangat, mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  21. Eno.. digosipin sama Satria tuh di blognya..:-D :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haahaaa!..Sesama penggosip jangan saling mendahului kong...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Delete
    2. Waaah iya kah, saya belum sempat ke blog mas Satria ๐Ÿ˜ ini baru buka blog via laptop lagi mas ๐Ÿคฃ siap langsung meluncur ke sana. Terima kasih mas Anton infonya ๐Ÿ™ˆ

      Delete
    3. Mas Satria thank youuuuu so muchhhhh! ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  22. Manusia hanya mampu merencakan dan berikhtiar
    Soal hasil, Tuhan yang menentukan.
    Walau kadang ada perasaan atau umpatan ketidak puasan, ah hal yang biasa. Sudah menjadi watak manusia.
    Artikelnya keren banget, ceritanya sangat runut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mas, kita hanya bisa berencana, untuk hasil serahkan pada Tuhan ๐Ÿ˜ kalau persoalan nggak puas itu manusiawi rasanya ~ karena manusia diberkahi perasaan, asal jangan terlalu lama bersedih maupun nggak puas, dan harus tetap melangkah maju ke depan ๐Ÿ˜†

      Salam kenal, mas ๐Ÿ˜‰๐Ÿ™

      Delete
  23. Baca tulisan mbak Eka berasa diingatkan, dipeluk dalam2, bahwa apapun yg kita perjuangkan nggak akan sia2. Selalu ada kejutan dan hal baru yang bahkan lebih dahsyat. Mungkin aku salah satu yang mirip2 dg mbak Eka. Uhuhu
    Makasih mbak Eno sudah menerbitkan tulisan yg membuat semangatku meletup2 lg :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ella, nggak ada satupun perjuangan yang sia-sia ~ katanya, kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Jadi amat sangat mungkin, suatu hari nanti, impian itu akan tercapai meski jalannya harus berbelok jauh, atau mungkin impian itu akan digantikan dengan yang lebih indah ๐Ÿ˜

      Sama-sama, terima kasih sudah baca, mba Ella ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Delete
  24. Mbakk Ekaaaa, hormat sama Mbakkk.

    Salut bangeeett atas segala perjuangan, kerelaan, dan keikhlasan mbak dalam menjalani hidup. Mungkin Tuhan punya rencana lain yg tidak kalah hebatnya.


    Walaupun saat ini belum sesuai harapan dahulu, tapi ada hal positif lain yg bisa mbak dapatkan.

    Terimakasih atas keterbukaan, kejujuran, dan rasa percaya untuk kami membaca cerita hidup Mbak Eka. Aku ga nyangka mbak bisa menceritakan hal yg mungkin kurang nyaman. Namun, dibagikan kepada kami sehingga kami bisa mengambil hikmah dari kisah mbak.

    Sehat selalu Mbak dan keluarga. Semoga bahagia dan mendapatkan kestabilan dalam finansial.

    Makasih Mbak Eno sudah menginisiasi program ini dan sudah memilih Mbak Eka sebagai pemenang. Aku merasa cerita aku cupu di banding yg lain ๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Devina,

      Terima kasih sudah membaca kisah mba Eka, dan terima kasih sudah menarik pembelajaran berharga dari kisah yang dibagikan ๐Ÿ˜๐Ÿ’• semoga, kita semua bisa berbahagia pada akhirnya, terlepas dari mimpi yang mampu kita raih atau nggak ๐Ÿ˜† dan semoga, ke depannya, akan ada hal-hal baru yang membuat kita bisa terus semangat menjalani kehidupan ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  25. Dear kak eno dan teman - teman semua,

    Terimakasih atas ucapan selamat dari teman - teman semua selama beberapa hari terakhir ini, baik di blog kak eno maupun di blog saya. saya sangat terharu dengan bajir apresiasi ini, hiks ( nangis terharu ).

    maafkan saya ya semuaa..... agak lama menjawab semua komen dari teman - teman semua. maklumlah, waktu saya sehari-hari banyak iklannya , hehehe

    saya ucapkan, banyak terimakasih yang tak terhingga atas apresiasi dari semua.

    saya sangat bersyukur, tulisan saya bisa memberikan inspirasi bagi teman - teman untuk terus mengejar impian dan belajar ikhlas jika impian itu belum bisa diraih. juga menjadi pelajaran bagi yang belum menikah dan memiliki anak untuk mempertimbangkan segala hal walau terkadang, rencana memang kita yang membuat tetapi Tuhan jua yang menentukan.

    Emang benar sih seperti kata kak devina, saya emang ngerasa kurang nyaman awalnya, menceritakan kisah pribadi saya baik di sayembara kak eno maupun di blog pribadi saya. tapi, saya ingat dulu waktu sering galau...pelarian saya adalah nyari tulisan yang situasinya mirip dengan kegalauan saya. hasilnya? galau saya hilang, sedih terbang melayang dan saya semangat lagi.

    ingat hal itu, saya jadi yakin akan terus menulis pengalaman saya agar mereka yang berada di posisi yang sama dengan saya seperti mendapatkan dukungan dan isnpirasi untuk bangkit.

    walau awalnya merasa "ditelanjangi" bulat-bulat, hehehe. tapitak apa, jika kisah saya bermanfaat toh tidak ada salahnya berbagi.

    terimakasih sekali lagi kak eno,
    saya juga gak sabar nih pengen baca tulisan peserta lain. saya yakin, peserta yang lain juga tulisannya keren-keren dan inspiratif. makanya kak eno jadi galauuuu, hehe

    cant wait for the book coming out (^__^)

    salam hangat,
    eka - artjoka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Eka ๐Ÿ˜

      Sama-sama mba, karya mba memang pantas untuk diapresiasi, semoga dengan ini, bisa menambah semangat mba untuk terus berkarya dan berbagi cerita kehidupan mba agar bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang membacanya ๐Ÿ˜๐Ÿ’• dan saya yakin, teman-teman yang mungkin saat ini mengalami hal yang sama, bisa sedikit banyak mendapat kekuatan dari tulisan mba Eka ๐Ÿ˜

      Sama-sama mba Eka, hihi galau itu normal, sebab semuanya baguuuus, dan ini bukan kompetisi seperti Tinju yang bisa dicheck pemenangnya dengan cara siapa yang K.O duluan ๐Ÿ™ˆ that's why, kemarin agak galau, however tulisan mba Eka memang layak juara ๐Ÿ’•

      Delete
  26. Sudah baca dari day 1 posting, tapi baru sempat komen.
    Tulisan yang bagus, mba Eka. Sepertinya mba Eka menulisnya tulus banget dengan hati.
    Menggugahh dan emosional.

    Life is also about chasing dreams with its own struggle. Meski belum menikah dan memiliki anak, saya bisa relate perihal mimpi2 yang kadang terpaksa kita lepas. Dan malah terkadang diganti yang terbaik sama Tuhan. Allah knows best.

    Thank you for the stories, mba Eno.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih kak rifan :)
      saya nulisnya sambil agak ramisak sih (nangis dikit) hehehe, jadi keinget lagi ceritanya waktu dulu.

      saya setuju kak, mungkin bukan melepas mimpi ya, tapi mengganti mimpi yang udah Tuhan kasih jalannya buat kita, hehe

      Delete
    2. Hi mas Rifan, sama-sama terima kasih sudah membaca kisah yang dibagikan oleh mba Eka ~ semoga ada sedikit manfaat yang bisa mas Rifan terima ๐Ÿ˜ oh, dan tentu saja, semoga mas Rifan bisa meraih mimpi-mimpi mas Rifan.

      Eniho, kiriman Bakpia saya sudah sampai, mas? ๐Ÿ˜‚

      Delete
    3. Mengganti mimpi yang lebih indah ya, mba ๐Ÿ™ˆ

      Delete
    4. Mbak Meno, kiriman bakpianya sudah saya terima. Saya santap bersama kakak dan adik saya.

      kebetulan belum ngrasain bakpia kukus jogja. Cokelat itu favorit sayaa..

      Nikmat banget rasanya.

      Semoga lancar terus mba rejekinya... Matur suwuuun.... :)

      Delete
    5. Wah finally hehehe ~ enak kan rasanyaaaa ๐Ÿ˜‚ thank God kalau mas Rifan suka ๐Ÿ™ˆ sama-sama mas, sehat selalu ya ๐Ÿ’•

      Delete
  27. Pengorbanan seorang ibu untuk anak dan keluarganya tak akan bisa ditandingi oleh apa dan siapa pun juga. Semoga masih ada kesempatan di lain waktu untuk mencapai impian menjadi arsitek. Saya percaya, anak dikirim Tuhan kepada kita bukan untuk menghambat cita-cita kita.

    Begitu juga yang dialami istri saya. Menikah dan melahirkan membuat cita-citanya melanjutkan kuliah S2 tertahan. Sekarang setelah anak semakin besar, saya mendukungnya untuk berusaha lagi mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, nggak ada yang bisa menandingi perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak dan keluarganya ๐Ÿ˜ dan semoga mba Becca bisa meraih cita-cita studinya, mas ๐Ÿ˜

      Delete
  28. paragraf penutup melelehkan hatiku, baca ini pas di komputer kantor, berkaca2 diliat #langsungmaskeran
    Tuhan pasti akan memberikan jalan lain yang mungkin lebih baik dengan cara-Nya.
    perjuangan mba eka berat, dimana anak muda waktu itu pasti ingin yang terbaik buat pendidikan dan karirnya, piihan yang memang agak sulit

    dan cerita bahu membahu dengan suami, so sweet, bersyukur dengan keadaan bagaimanapun itu.
    tetep semangat mba eka dan kenan serta keluarga, ciayoo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilihan sulit antara mimpi dan anak ya, mba. Nggak semua orang bisa se-wise mba Eka, yang rela melepas mimpinya ๐Ÿ™ˆ

      Dan saya agree perihal bahu membahu dengan pasangan ๐Ÿ˜ too sweet to ignore hehehehe. Jadi buat hati meleleh, karena terlihat betul bagaimana pasangan mba Eka berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik untuk mba Eka ๐Ÿ’•

      Delete
  29. Sudah baca kmrn tapi lupa komen, hihi

    akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar juga. Saya malam sblm tulisan ini di posting th baca cerita teh Eka yg ttg orangtuanya. Duh, sampe satu jam sendiri bacanya. mendalami banget emang story tellingnya.

    Bisa jadi banyak ibu yang mengalami dilema seperti ini ya. Tapi, hidup harus terus berhenti begitupun jg mimpi kita. Ada bnyk mimpi, dan mimpi itu yg membuat kita hidup. Nggak jadi arsitek tapi jadi ilustrator juga merupakan hal keren lho teh. Teteh masih bisa mengembangkan kemmapuan diri serta memperluas pertemanan itu udah bonus luar biasa.

    Semoga keenan suatu saat bisa menjadi penerus perjuangannya teh Eka nih. Peluuuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi nggak apa-apa mba Ghina, komen saat sempat saja ๐Ÿ™ˆ eniho, saya jadi penasaran cerita mengenai orang tua mba Eka, nanti mau mampir ke blognya untuk baca ๐Ÿ˜ hehe.

      Saya rasa akan ada banyak ibu yang mengalami dilema serupa, perihal mimpi dan anak ~ dan setuju sama mba Ghina, saya pribadi suka buka blog mba Eka karena ada ilustrasi-ilustrasi menarik untuk dilihat ๐Ÿ˜ seperti punya ciri khas, which is ilustrasinya juga merupakan hasil karya mba Eka ๐Ÿ˜ hehehehe. Semangat untuk mba Eka, dan tentunya untuk mba Ghina ๐Ÿ’•

      Delete
    2. dipuji kak eno idung saya terbang, hihihii....mamacih kak eno :)

      cerita yang kak ghina baca itu cerpen based on true story kak eno, judulnya "sekantong harapan bernama kebahagiaan",
      saya sangat senang kalo kak eno bersedia membaca :)

      Delete
    3. Sama-sama, mba Eka ๐Ÿ˜

      Siap mba, ini saya lagi baca satu persatu new updates dari teman-teman bloggers di reading list saya ๐Ÿ™ˆ nanti pelan-pelan sambil berkunjung ke 'rumah' mba Eka ๐Ÿ˜†๐Ÿ’•

      Delete
  30. Waaaa bagus banget tulisan Mbak Eka ya Mbak Eno ๐Ÿ˜ Kirim peluk virtual buat Mbak Eka ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

    Aku juga pernah merasakan melepaskan impian. Itu salah satu patah hati terbesar dalam hidupku. Hiks.

    Tapi betul kata Mbak Eka. Ternyata banyak sekali hal lain yang diberi Tuhan kepadaku. Aku juga menemukan banyak hal baru untuk mengobati patah hatiku. Yang penting kita tetap semangat ya. Dunia belum berakhir di sini. Selalu ada pintu lain yang bisa dibuka di depan kita ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah baca, mba Kartika ๐Ÿ˜

      Memang melepas impian itu salah satu patah hati yang menyebalkan, tapi sama seperti yang mba Eka bilang, saya percaya setiap dari kita akan dihadapkan pada impian baru yang mungkin akan membuat kita jauh lebih bahagia ๐Ÿ˜ tetap semangat mba Kartika dalam menjalani kehidupan ๐Ÿ’•

      Delete
  31. Saya sangat mengerti, mengapa "the Architect" ini dipilih menjadi pemenang Paid Guest #1. Well, it definitely raises the bar on the next paid guest.

    Mbak Eka menyampaikan kegundahannya dan prioritas utamanya akan keluarganya dengan sangat apik. Menurut saya, usia tak pernah jadi halangan untuk mengejar cita-cita. Mbak Eka semangat terus untuk menjadi arsitektur landscape, saya yakin akan ada jalannya, selama semangat itu masih ada. Salut atas perjuangannya dan salam buat keluarganya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Cipu sudah luangkan waktu untuk baca ๐Ÿ™ˆ

      Agree mas, berapapun usia kita, kita tetap bisa kejar cita-cita kita ~ semoga one day akan ada jalannya. Dan kalau pun pada akhirnya nggak kesampaian, semoga pada mimpi-mimpi yang mba Eka punya sekarang, segala sesuatu menjadi lebih mudah untuk dilakukan ๐Ÿ˜ hehehehe. Once again, thank you mas ๐Ÿ˜†

      Delete
  32. Mbaaa, aku sedikit ngilu ngebayangin yg pas pembukaan :(. Duuuh walopun aku udh 2x lahiran, tapi Cesar, tetep aja rasa sakit nya kebayang gimana.

    Terharu loooh bacanya. Terutama kata2 trakhir mba. Kita boleh merencanakan apapun, sampe detil bahkan. Tapi terkadang Allah semua yang menentukan bisa tidaknya.

    Selama pandemi ini, banyaaaak rencana ku yang berakhir gagal. Bahkan plan trakhir ingin mengajak mama ke Solo naik mobil, juga ga terlaksana, karena mama meninggal 11 Agustus kmrn.

    Mungkin ini reminder, untuk ga ngoyo ato terlalu maksa jika membuat sesuatu. Krn jujur aku memang terlalu fokus kdg kalo udah membuat suatu plan. Bagus memang, tapi saat sesuatu membatalkan apa yg aku buat, aku bisa kecewa sampe berhari2. Di situ ga bagusnya. Seolah ga bisa trima kalo Allah-lah yang menentukan segala sesuatu :).

    Thank you ceritanya mba Artjoka :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu sedih bacanya, turut berduka mba Fanny, semoga mama mba Fanny bisa dapat tempat terbaik di sisi-Nya ๐Ÿ’•

      Iya mba, memang kita hanya bisa berencana, namun pada akhirnya Tuhan yang punya kendali atas segala rencana kita ~ termasuk rencana-rencana saya tahun 2020 ini pun banyak yang gagal. Nggak pernah terbayang oleh saya, kalau saya menjadi saksi sejarah Corona yang begitu besar dan hampir melumpuhkan ekonomi banyak negara ๐Ÿคง

      Semangat untuk kita, mba ๐Ÿ’•

      Delete
  33. Bagus banget teh eka story tellingnya. Memang ikhlas itu ujian paling sering dan paling berat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Iffia ๐Ÿ’•

      Delete
  34. Mengharukan sekali cerita Mbak Eka. Mata saya sampai berembun waktu membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Morishige ๐Ÿ˜ฌ (saya mewakili mba Eka)

      Delete
  35. Dikasih link sama teh Eka di komen blogku, suruh baca ini...
    sedih juga ya, dan ya dari tulisan ini, hidupku yg random ini bukanlah apa-apa. random hidupku memang adalah cerita hidupku yg harusnya di embrace dan dimanfaatkan untuk masa kini dan masa depanku.

    manusia emang hanya bisa berencana, tapi apapun yg terjadi, eventually it will be better, if we allow our self to just accepting.
    Thank you kak Eno dan Teh Eka!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Eka rajin bangettt hehehe ๐Ÿ™ˆ

      Thank you Ady sudah baca tulisan mba Eka di blog saya ๐Ÿ˜ -- by the way, semangat selalu untuk embrace masa kini dan masa depan ๐Ÿ˜

      It's okay kalau ada masa-masa randomnya, namapun hidup nggak selalu berjalan lancar dan sempurna. Yang penting tetap berusaha lebih baik dari hari sebelumnya ๐Ÿ˜† hehehehehe.

      Delete