Best Version | CREAMENO

Pages

Best Version



Gue lagi iseng scroll kolom moderasi ketika gue lihat komentar, "Kak, aku sekarang enam belas tahun, aku punya mimpi menikah sama Oppa. Bla bla." terus gue bingung, I mean, enam belas tahun, wait.... pada usia enam belas tahun, sepertinya gue nggak pernah berpikir mau menikah ðŸ˜ą ini gue-nya yang kolot atau yang komen pikirannya terlalu cepat? -- huhu. Gue pernah bilang kalau gue menghindari pembahasan ini, karena gue considerate dengan perasaan orang-orang di sekitar gue yang juga baca blog gue (si kesayangan dan para Korean mates / partners, etc).

Tapi sepertinya, again, gue merasa perlu untuk kasih tau fakta bahwa nggak semua orang Korea itu mapan, nggak semua orang Korea itu ganteng macam idola adik-adik tersayang, manis, baik, penyayang, this and that. And the fact is..... Korea meski merupakan negara maju, penduduknya masih tetap banyak yang kekurangan ~ Plus nggak semua orang baik, sebab ada pula yang kaku, temperamen, keras kepala dan sering bertingkah seperti raja. Jadi please jangan pukul rata dan berpikir kalau semua orang Korea persis seperti yang ada di layar kaca ðŸĨī omaygad.

Gue pribadi nggak pernah berniat memutus mimpi seseorang, karena gue tau, punya mimpi itu bukan sesuatu yang salah. Hanya saja, mimpi tanpa usaha nggak akan ada hasilnya 🙄 Makanya gue pernah tulis panjang lebar soal Know Your Worth dan Put Some Efforts. Gue rasa tulisan itu sudah menjawab pertanyaan yang sering kali gue dapat, especially pertanyaan related to Korean Oppa sampai (jujur) gue nggak mood untuk publish komentarnya. Why? Karena gue nggak mau encourage sesuatu yang nggak sesuai dengan prinsip yang gue punya ~ as simple as that.

🐰🐰🐰

Yang gue heran, kalau bermimpi punya pasangan mapan dan berpendidikan, bukan kaaah kita perlu berusaha fokus agar kita bisa selevel dengannya? Minimal sama-sama berpendidikan, mau kita kuliah atau nggak -bagi yang nggak mampu- seenggaknya kita usaha untuk sepadan. Karena CEO yang jatuh cinta sama seseorang beda level itu cuma ada di drama ~ Namun kenyataannya, kebanyakan dari mereka cari pasangan yang selevel sama mereka. Sekufu dalam bahasa kita 😉 Jadi nggak mungkin ada seseorang yang mapan mau menjalani hidup sama anak sekolah (enam belas tahun, seriously?), yang instead of kejar cita-cita, hanya fokus memikirkan pernikahan ðŸĪ§

Dear, you are too young to think about that 😭

Apa yang gue tulis sebetulnya berlaku untuk siapa pun yang baca, tapi karena fokus gue kepada adik-adik pecinta Oppa, so gue mau kasih tips buat yang mau cari pasangan Oppa, yaitu dengan belajar giat, cari beasiswa, agak susah untuk dapat beasiswa S1, however, ada banyak beasiswa S2 di Korea. Pelajari bahasanya, pelajari budayanya, kemudian setelah lolos, cuuus berangkat ke Korea ~ Sesampainya di sana, cari pengalaman, tambah teman, kalau nyaman, baru berpikir cari pasangan. Dengan begitu chance untuk dapat pasangan dengan kualitas bagus terbuka lebar.

Iyaaa, kualitas bagus itu penting, jangan cuma karena nationality-nya Korea main diembat nggak pakai pikir dan satu lagi, cari pasangan yang usianya nggak terlalu berjarak (hindari tawaran jadi pengantin bayaran)! Salah salah nanti ketemu pasangan nggak benar, boro-boro bisa membuat mimpi berubah nyata, yang ada justru berharap semoga kehidupan yang keras ini bukan realita 🙄 -- eniho, gue sarankan adik-adik bangun pertemanan berkualitas. Salah satunya pertemanan saling support dalam pendidikan, karir dan masa depan karena dengan begitu bisa level up 😉

Well, menurut gue, kalau kita nggak punya value, prinsip dan knowledge, kita akan sengsara 🙄 Contoh, pengalaman seorang wanita (foreigner), saat suami atau anak sakit, dia bingung sebab dia nggak fasih bahasa Korea, mau baca info obat nggak paham, mau bicara sama dokter nggak bisa, terus bagaimana? Susah. Jangan harap masuk pergaulan local Korean dengan mudah, yang ada bisa dikucilkan karena terlihat berbeda. Lha, mau mengobrol saja nggak bisa.

🐰🐰🐰

Kenyataan pahit yang ada, most of them (Korean people) memandang seseorang dari value-nya. Lu lulusan mana? SKY (Seoul, Korea, Yonsei University)? Lu kerja di mana? Hyundai? Samsung? LG? Kakao? ---- Lu tinggal di mana? Mobil lu apa? Lu cantik apa biasa? Lu punya barang branded nggak? Dan banyak pertanyaan mengawang di benak mereka.

That's why, kecuali adik-adik dapat pasangan keturunan sultan, ada baiknya adik-adik upgrade agar nggak dipandang sebelah mata. Biar apa? Biar bisa jadi penopang pasangan. Apalagi hidup di negara orang, harus bisa bawa diri, bawa nama baik pasangan dan bawa nama baik negara kita. Kalau kita nggak punya sesuatu untuk di-over, kita akan disepelekan.

Sebegitunya? Iya, sebegitunya. Phhhffttt.

Salah satu orang yang gue kenal pernah cerita, dia sampai nggak mau jalan sama pasangannya karena trauma. Padahal kejadiannya di Indonesia. Tapi kenapa trauma? Ternyata dia dipandang nggak enak sama orang-orang yang nggak sengaja pas-pasan sama dia. Dipandang bagaimana? Ya dilihat dari atas ke bawah. Some people yang melihat mungkin berpikir, "Ih, itu ceweknya?" -- And yes, the judgement is real. Mau terima atau nggak, akan selalu ada orang-orang yang judge kita. Di Indonesia mungkin yang judge satu dua. Nah, di Korea? Bisa lebih banyak.

Gue bahkan sampai detik ini setiap kali mau pergi sama si kesayangan, baik itu di Indonesia atau di negara mana pun include Korea, gue selalu makesure penampilan gue, kepercayaan diri gue, value gue bisa gue bawa. Beban tjoy jalan sama dia, karena dia menarik perhatian ðŸĪŠ Gue nggak mau orang berpikir gue wanita nggak jelas, dan dia bodoh karena pilih gue sebagai pendamping hidupnya 😂 Dan gue nggak mau merasa malu jalan sama dia, makanya gue perlu punya value yang membuat gue lebih percaya diri kalau gue ini bisa diperhitungkan.

🐰🐰🐰

Dari awal gue memutuskan jalani hidup sama dia, misi gue adalah bisa blend dengan local. Gue nggak mau selamanya dianggap asing (alien, iya sebutannya alien) yang beda dari mereka. Gue mau survive dan nggak dipandang sebelah mata ~ Gue mau anak gue (kalau ada) bisa survive tanpa harus melewati masa sulit di sekolah dan gue nggak mau direndahkan. Permasalahannya, membawa value dan prinsip yang gue punya nggak semudah membalik telapak tangan, apalagi kalau gue nggak punya value dan prinsip, yang ada gue mau 'jalan' pun nggak akan bisa.

Karena pada akhirnya, menjalani hidup dengan seseorang bukan sekedar membangun fairy tale kita. Akan ada masa di mana kita harus survive menghadapi realita. Manisnya mungkin setahun di awal. Namun setelahnya, kita nggak punya pilihan selain berusaha menjalani hidup yang kita punya dan kehidupan di Korea nyatanya nggak semanis drama 😂 Kalau nggak bisa bahasanya, nggak paham kulturnya, bagaimana mau survive untuk hal kecil seperti belanja kebutuhan?

🐰🐰🐰

Gue pernah pergi ke supermarket, ketika sampai cashier, Ajumma yang berjaga tiba-tiba bicara dengan cepat dan nggak ada senyum-senyumnya. Jangan berkhayal kita akan disambut seperti saat belanja di Hypermart, karena kenyataannya, gue sempat shock sebab gue merasa Ajumma marah. Padahal itu kebiasaan mereka, gue-nya yang sensitif karena nggak paham. Sesampainya di rumah, gue langsung belajar lebih giat bagaimana agar bisa merespon Ajumma.

Kita ini makhluk sosial, kita butuh interaksi sama orang.

Bisa bahasa saja nggak akan cukup untuk membuat orang tertarik berbicara dengan kita kalau kita nggak punya 'isi' untuk diperbincangkan ~ Nggak mau dong ikut kumpul sama teman-teman pasangan lantas di sana kita bengong karena nggak paham bahasan mereka. Pasti kita sedikit banyak berharap dianggap dan diajak bicara. Apalagi di Korea kultur pertemanan sangat kuat. Jangan sampai kita terlihat seperti tong kosong dan nggak bisa blend sama mereka. Masa iyaaa selamanya mau mengurung diri di rumah cuma karena nggak bisa bersosial?

🐰🐰🐰

Gue kadang bingung bagian mana dari sebuah drama yang membuat adik-adik ingin menjalani hidup di Korea? I mean, hal mendasar apa yang membuat adik-adik ingin punya pasangan Korea dan hidup di Korea? Karena menurut gue, punya pasangan mapan, baik dan pintar nggak cukup untuk bisa survive di Korea. Hahaha. Si kesayangan bahkan berkali-kali meminta maaf sama gue sebab dia merasa hidup gue jadi 'susah' saat di Korea 😂 Secara di Indonesia gue punya rumah besar (kalau dibandingkan sama rumah Korea yang mini), ada mba yang masak dan bantu urus rumah, ada driver yang siap antar gue ke mana-mana 🙈 Ditambah ada mamang Gojek ready 24 jam kalau gue ingin jajan dan mba massage kalau badan gue pegal-pegal.

Di Korea, gue apa-apa urus sendiri, mau jajan susah, apalagi pijat! Kecuali gue rela gelontorkan uang sejuta untuk pijat sejam, better gue tahan sampai gue pulang ke Indonesia 😑 ditambah, meski gue sangat cinta Jeju, gue nggak bisa bohong kalau gue lebih nyaman di Bali -- karena Jeju dan Korea in general buat gue lebih cocok sebagai tempat liburan. Serius, tinggal terlalu lama di Korea nggak asiiiiiiiik makanya banyak teman-teman gue yang punya privilege dan bisa sering-sering PP akan memilih mudik ke negaranya minimal setahun sekali bisa sampai tiga bulan 😂

Gue pribadi beruntung bisa kabur biztrip ke negara orang atau balik Indonesia kapan pun gue inginkan. However, nggak semua orang punya privilege sama. Masih banyak yang menahan diri karena pasangan nggak punya cukup dana, jadi jangan terbuai dengan drama dan jangan pula terbuai dengan rate won yang besar saat di-convert ke rupiah. Kadang gue sedih kalau ada yang bangga pacarnya bergaji satu juta won. Heew. Iya, dalam rupiah itu besar. However, it's nothing di Korea. So, kalau mau nyaman, makesure kita punya value agar dapat pasangan selevel kita.

Selevel nggak harus tajir melintir (hidup cukup yang utama), karena yang terpenting adalah mau berjuang, bekerja keras dan bertanggung jawab, dan tentu punya value dan prinsip yang sejalan 😁 -- plus satu lagi, kalau ada yang hobi pakai aplikasi pertemanan online, semoga nggak mudah percaya. Banyak pervert di mana-mana. Sudah banyak kasus foreigners diperkosa dan ditinggal. Jangan sampai adik-adik jadi korban. Though, cari teman nggak masalah, namun gue berharap, adik-adik bisa waspada. Apapun nationality-nya, please gunakan logika saat ambil keputusan.

🐰🐰🐰

For the last, gue mendoakan siapapun yang pada akhirnya berjodoh dengan Korean, bisa punya hidup menyenangkan. Sesuai dengan harapan dan bahagia. Plus semoga nggak lupa Indonesia, tetap jaga nama baik negara kita di manapun kita berada. Jaga sikap, jaga ucapan, jaga value dan prinsip kita 💕 nonetheless, sampai saat ini, kebanyakan pasangan mixed cukup bisa jaga nama baik negara. Seenggaknya, orang kita belum sampai dicap kurang ajar, berisik, suka teriak-teriak, suka cari masalah atau hobi cari pasangan beda usia terlalu banyak di Korea.

Gue bersyukur semua paham kalau cari pasangan itu nggak asal. Namun jujur, gue kawatir diera sosmed sekarang, generasi berikutnya terlihat semakin gampang flirting, dan bucin Oppa-oppa tanpa berusaha level up dan upgrade kualitas ðŸĪ§ Gue kawatir, semakin banyak yang terjerumus lubang dan membuat nama diri sendiri rusak. Gue nggak mau kita dianggap nggak punya value, prinsip dan knowledge, hingga memberi stigma buruk di benak orang luar yang melihat.

Jadi, yuk berusaha menjadi the best version untuk diri kita.

And for you yang komentar, enam belas tahun adalah usia emas, di mana kita bersiap rangkul mimpi dan kejar cita-cita. Fokus pada pendidikan adalah yang utama 😁 Kemudian membangun hidup as personal. No worries, pada waktunya, akan ada pendamping yang tepat ---- jadi sambil menunggu, come on, pantaskan diri agar bisa memiliki hidup sesuai harapan, dan menurut gue, pendidikan itu penting terlepas kita mau berkarir atau stay di rumah. Apabila ada kesempatan studi sampai jenjang kuliah, kejar! Karena berpikir soal menikah bisa dilakukan belakangan 😉

Semangat untuk kita (gue juga masih terus belajar sampai sekarang) 😍💕
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no English translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no Korean translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------