I'm Trying | CREAMENO

Pages

I'm Trying



Gue jadi bertanya-tanya seharian ini, apakah tulisan-tulisan gue yang ada sangkut pautnya sama si kesayangan membuat pembaca berpikir kalau hidup gue indah? 🙈 Jujur, gue merasa punya responsibility lebih terhadap sesuatu yang gue share karena kalau salah, niat gue yang A bisa ditangkap sebagai B dan itu nggak enak rasanya. Hehehehe. Dari awal gue menulis soal dia, gue cuma mau share funny stories karena gue nggak mungkin share yang sedih-sedihnya ~ Namun, hidup gue sama seperti teman-teman, ada ups and downs yang membuatnya berwarna 😁

Gue mungkin beruntung punya privilege dan gue bertemu orang yang tepat. However, itu nggak cukup untuk membuat gue 100% menikmati hidup di Korea ~ Though gue nggak pernah alami rasict attack dan sejenisnya, gue tetap merasa nggak nyaman. Seperti berjalan di atas paku, gue harus selalu waspada agar gue nggak tersakiti dihari kemudian. Ini gue, yang nyata sudah punya privilege, yang cukup dapat respect karena background yang gue dan pasangan punya.

Gue yang ibarat kata sudah bisa blend dengan lokal, yang punya 'tempat', faktanya tetap merasa kawatir kalau gue salah dalam bersikap. Gue yang punya network luas, yang memegang value dan prinsip hidup jelas, yang sudah makan asam garam, tetap merasa kalau gue perlu banyak belajar agar bisa survive di negeri orang ~ Karena buat gue, untuk survive dalam waktu lama, itu nggak mudah. Ditambah pasangan gue punya circle luas. Bertemu circle pasangan, amat sangat berbeda dengan saat gue bertemu circle Korean partners and mates di-dunia kerja.

Contoh sederhana, dulu, setiap gue meeting sama partners, kami akan berbicara menggunakan bahasa Inggris dan pembicaraan kami adalah pembicaraan profesional kerja. Lalu disuatu hari, gue bertemu circle pasangan yang meminta gue pakai bahasa Korea agar bisa blend dengan mereka. Topik pembicaraan menjadi lebih personal. Gue yang awalnya terbiasa dengan bahasa Inggris merasa kesulitan untuk keep up bahasa Korea. Gue paham apa yang mereka bahas, tapi nggak ada yang lebih menyakitkan dari nggak bisa merespon bahasan mereka.

Dari situ gue sadar kalau skill gue masih di bawah rata-rata. Andaikata gue ingin dianggap, ingin diajak bicara, ingin dijadikan teman, gue harus usaha dan itu nggak mudah. Lantas, setelah bisa berbicara dan merespon perbincangan, hidup jadi lebih mudah? Oohh, jangan salah. Gue masih struggling kawan, gue harus paham topik yang mereka bicarakan. Gue harus membuat mereka menganggap gue ada, bukan sebagai pasangan si kesayangan, tapi sebagai individu, sebagai diri gue, sebagai seseorang yang berdiri di atas kaki sendiri ~ Gue sadar kalau gue ingin survive, gue nggak bisa diam. Gue harus punya networking yang siap membantu gue saat gue butuhkan.

Kenapa sebegitunya? Kenapa nggak cuek saja?

Well, frankly speaking, gue bisa cuek tapi gue sadar, dengan cuek, itu nggak akan membawa gue ke mana-mana. Gue di Korea nggak punya keluarga. Kebayang kalau gue nggak bisa blend sama orang terus pasangan sakit, or *amit-amit* meninggal? Siapa yang bisa gue minta bantuan dan mau membantu gue kalau gue nggak mau blend ke banyak orang? Siapa yang akan gue telepon pertama kali untuk kasih kabar? Siapa yang bisa gue andalkan? Iyaaa kalau ortu pasangan masih hidup nantinya, kalau nggak, the worst case gue harus urus semua sendirian.

Hidup di Korea nggak beda jauh sama Indonesia. Kita akan diminta untuk jadi mahkluk sosial. Kita harus bisa kompromi dengan keadaan 😕 Thankfully hidup di negara kita Indonesia tercinta berlandaskan gotong royong dan keramahan, kita dengan mudah kenal tetangga rumah, ada RT / RW, Karang Taruna yang memfasilitasi kita untuk menjadi makhluk sosial. Di Korea? Sayangnya nggak semudah itu kawan. Percaya atau nggak, butuh waktu untuk gue akhirnya diterima oleh empat orang sahabat si kesayangan. Sahabat yang dia punya dari jaman Sekolah Dasar.

Dari pertama kali gue kenal mereka, gue sudah diterima sama mereka, namun kami awalnya nggak pernah berbincang panjang kecuali formalitas belaka, nggak sampai saling bercanda atau tukar kabar. Susah untuk gue tembus dinding yang ada. Mereka menerima gue awalnya hanya sebagai pasangan dari sahabat mereka (yaitu si kesayangan) namun berjalan dengan waktu dan usaha gue untuk membuka diri gue yang aslinya tertutup rapat, gue bisa menjadi sahabat untuk mereka yang seumuran sama gue semua 😁 Menjadi teman bercanda itu beda rasanya, karena mereka menganggap gue sebagai individu, bukan lagi pasangan si kesayangan.

Tau nggak senangnya waktu sahabat si kesayangan mengirim foto dia dan pasangannya sambil bilang, "Let's meet up soon. We now eating chicken together, and suddenly we miss you guys." -- atau kenyataan bahwa gue yang waktu itu sedang liburan sama si kesayangan tiba-tiba diminta, "Hey Eno, tolong kirim foto dia." dan setelah gue kirim, mereka saling bercanda ledek-ledekan di group mereka sambil menyebut nama gue, "I got the picture from Eno." and yep, nama gue yang disebut, bukan, "I got the picture from your woman / your wife."

Knowing the fact mereka terima gue sebagai seorang individu, it means a lot buat gue, karena gue dianggap ada, dianggap sahabat, dan tentunya dianggap penting untuk menjadi bagian dari mereka. Lain sahabat, lain pula orang tua, again, gue beruntung punya pasangan dengan orang tua open minded dan bisa menerima gue apa adanya. Percaya atau nggak, masih banyak orang tua Korea yang nggak mau menantu foreigners, karena mereka mau menjaga darah mereka.

Orang tua si kesayangan dari awal terima gue dengan tangan terbuka, menyayangi gue seperti anak perempuan mereka, tapi gue yang sempat struggling bahasa Korea membuat komunikasi gue dan mereka terbatas. Harapan gue tentu ingin menjadi teman mereka di masa tua ~ Nggak ada yang lebih menyenangkan dari kenyataan bahwa gue bisa memeluk mereka layaknya gue memeluk orang tua kandung yang gue punya. Dan nggak ada yang lebih membuat hati gembira dari ketika mereka mengontak gue ketimbang anaknya hanya untuk bertanya apa kabar.

I know, itu pula yang diharapkan teman-teman yang memiliki pasangan Indonesian, kan? Sama kawan. Gue ingin punya hubungan harmonis dengan orang tua pasangan 😁 Permasalahannya, gue dihadapkan dengan banyak kerikil tajam. Dari bahasa yang rumit, kultur yang berbeda, dan lain sebagainya. Gue bahkan pernah kawatir kalau mereka akan meminta gue memasak ketika Chuseok, sebab as you guys know, gue nggak bisa masak menu berat.

Namun gue berusaha, gue mau belajar, sampai pernah suatu hari gue kirim foto makanan hasil ikut kelas. Gue bilang kalau gue belajar masak menu berat biar si kesayangan bisa makan enak. Terus Omoni jawab, "Kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri, masak yang kamu bisa nggak apa-apa. Omma paham kamu sibuk kerja." yang membuat gue sesenggukan.

🐰🐰🐰

Apa gue lebay? Yes, maybe, for some people ~ Tapi gue nggak mau terus mengurung diri gue di rumah. Ada kenalan gue tiga tahun tinggal di Korea masih nggak berani ke luar tanpa pasangan. Mau ke supermarket tunggu pasangan, mau ke apotek tunggu pasangan, dan mau ini itu always tunggu pasangan. Sesak gue lihatnya (dia sendiri bilang, dia stres karena nggak bisa mandiri dan survive jadi lokal) ~ 😭 Ada juga yang nggak bisa blend dengan orang tua dari teman anaknya. Alhasil jarang diajak bicara, which is berpengaruh ke mental anak yang merasa berbeda.

Gue nggak mau anak gue kelak nggak punya rasa percaya diri dalam pergaulan karena sedikit banyak anak akan mencontoh orang tuanya. Dan gue mau anak gue bangga punya gue sebagai ibunya. Gue mungkin punya nationality beda however ada sesuatu pada diri gue yang bisa anak gue banggakan. Gue mau jadi ibu yang smart. Ibu yang dianggap sama orang sekitar. Ibu yang bisa diandalkan. Yang bisa membaur dengan sesama. Yang kalau diajak brunch sama orang tua teman anak nggak akan gagap berbicara (penting, sis?) 🤣 Yang punya pride as Indonesian dan value untuk diperhitungkan. Well, gue sama seperti manusia pada umumnya, hidup gue nggak selalu mulus dan lancar. Gue bisa sampai di posisi sekarang tentunya melewati proses panjang.

Posisi di mana gue nggak lagi dianggap sebagai foreigner, pendatang, alien, bla bla, dan posisi di mana gue menjadi bagian dari mereka 😁 Survive di Korea bukan hanya soal bisa hidup layak, makan enak, dan bahagia bersama pasangan ~ More than that, survive di Korea maupun negara lain even dalam pergaulan di Indonesia adalah bagaimana kita bisa punya 'tempat' dan menjadi bagian dari sebuah lingkungan 😉 terlepas di Korea gue lebih banyak di rumah, gue tetap punya value dan 'pegangan' yang membuat mereka (siapapun itu) nggak lupa ada gue di sana.

🐰🐰🐰

Gue pikir, tulisan funny stories gue bersama si kesayangan sedikit banyak turut andil membuat pembaca berpikir kalau hidup gue menyenangkan dan tanpa hambatan. Gue mau minta maaf jika tulisan gue terkesan menjual mimpi kehidupan indah di negeri dongeng bak drama Korea ~ Walau gue nggak ada tujuan ke arah sana, tapi gue merasa punya responsibility terhadap apa yang gue bagikan. Maka dari itu, ke depannya, gue akan berusaha lebih keras dalam mensortir tulisan gue, karena gue sadar, atensi yang ada melebihi apa yang sepatutnya gue dapat 😉🙏

Terlepas konsep sebuah blog adalah rumah personal di mana gue bebas menulis apa yang gue suka. Gue tetap merasa perlu menjaga after effect yang didapat dari teman-teman (serta adik-adik) yang membaca blog gue sampai sekarang 😁 so, gue pamit sampai entah beberapa hari atau minggu ke depan. Kebetulan gue butuh waktu untuk kembali mencari benang merah mau ke mana blog ini gue bawa ~ 🙈 semoga segala sesuatu yang pernah gue bagikan bermanfaat, dan tolong ambil baiknya serta buang buruknya 💕 terima kasih dan selamat malam.
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no English translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no Korean translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------