Sales Crew | CREAMENO

Pages

Sales Crew



Setelah mengucap salam pada Ibu, aku hidupkan motor lalu keluar rumah untuk pergi bekerja. Aku harus bergegas agar nggak terjebak macet di jalan. Biarpun tempat kerjaku ada di pinggiran ibukota, tapi macetnya nggak kalah sama kemacetan Jakarta. Aku melaju menyusuri jalan hingga pukul setengah delapan, aku tiba di konter dan ada Dara rekanku sudah sampai duluan.

"Tumben nggak telat, Jojon." sapa Dara yang membuatku kesal.

"Jangan panggil Jojon dong, Ra." ucapku sambil tersenyum kecut ke arahnya.

Namaku Joanna, yang artinya pembawa kebahagiaan, karena orang tuaku sangat bahagia saat aku lahir ke dunia. Sayangnya, Dara memanggilku dengan panggilan agak wagu. Padahal waktu kecil, aku dipanggil Anna yang membuatku senang karena terdengar kebarat-baratan, namun sejak SMA, beberapa teman usil memanggilku Jojo, bahkan Jojon saat sedang jail-jailnya.

Aku nggak masalah dipanggil Jojo karena menurutku itu keren, tapi kalau Jojon... jujur aku nggak suka. Meski sebenarnya bisa saja aku balas Dara dengan memanggilnya Dadar, tapi aku paham, itu nggak baik dilakukan. Sama seperti putus dari mantan, nggak baik saling umbar aib, bukan?

Dara tertawa sambil berkata, "Iya, maaf." dan aku tersenyum membalas, "Sengaja aku berangkat pagi jam enam, Ra. Aku nggak mau seperti kemarin, kena omel bos karena terlambat."

---

Pukul delapan lewat, sebuah mobil datang dan dari dalam mobil turunlah bosku Pak Alvin, yang berumur sekitar empat puluh tahunan. Ia membuka cabang di kota Depok karena konternya di Jakarta sudah ia percayakan pada adiknya. Berhubung konter tempatku bekerja terhitung baru, maka bosku masih harus mengelolanya, tentu saja dibantu oleh aku dan Dara.

🐰🐰🐰

Aku sudah bersiap di depan konter namun sampai pukul sembilan belum ada pembeli datang, maklum kalau pagi sepi kunjungan. Sambil menunggu, aku rapikan apa yang berantakan, dan nggak lama kemudian, seorang bapak berumur setengah baya datang. "Beli pulsa, Mba."

"Iya Pak, berapa?" Tanyaku sambil memberikan kertas dan pena agar Bapak itu bisa menuliskan nomornya. "Sepuluh ribu saja." jawabnya lalu ia kembalikan kertas yang aku berikan.

"Sudah masuk belum, Mba?" Tanyanya yang membuatku heran. Aku bahkan belum memproses pesanannya tapi bapak itu sudah bertanya. "Belum Pak, sabar, ya." jawabku singkat.

"Cepat Mba, saya lagi ada perlu penting, nih."

Kalau perlu penting kenapa nggak dari tadi belinya? Beli di surga Pak, kalau mau cepat! Ocehku dalam hati sambil memasukkan nomornya ke dalam sistem untuk memproses pulsa. Tiga puluh detik kemudian, notifikasi masuk. "Sudah, Pak." Ucapku tanpa jawaban, karena ternyata bapak itu sudah pergi entah ke mana. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Hufftt, aku nggak harap terima kasih, tapi bapak itu seharusnya konfirmasi. Ucapku, lagi-lagi hanya dalam hati.

🐰🐰🐰

Aku sedang merapikan ponsel saat seorang pemuda datang dan berujar, "Mba, beli pulsa lima puluh ribu, ini nomornya." sambil menuliskan angka pada secarik kertas yang tersedia.

"Iya." jawabku singkat kemudian meng-input nomor yang tertera dan memprosesnya.

Sudah semenit berlalu, belum ada notifikasi pertanda transaksi belum sukses. "Mba, kok belum masuk?" Pemuda itu bertanya yang aku jawab dengan, "Maaf Mas, mungkin ada gangguan."

"Aduh Mba, tolong dipercepat, soalnya saya mau telepon orang tua."

Aku yang bingung berusaha menjawab dengan sabar, "Maaf ya Mas, saya sudah proses pesanan Mas. Jadi sekarang kita hanya bisa tunggu operator mengirimkannya."

"Tapi saya butuh cepat, Mba." Omelnya.

"Iya mengerti, harap menunggu Mas, mungkin sebentar lagi masuk." Kataku menenangkan.

"Ya sudah, saya ke konter lain saja." pemuda itu lalu berdiri dan bersiap pergi yang membuatku terkejut. Jika transaksi pulsa sudah diproses tentu nggak bisa dibatalkan. Kalau nggak masuk sih nggak masalah, tapi bagaimana jika masuk dan pemuda itu sudah terlanjur pergi?

Aku buru-buru melapor pada bosku. Pak Alvin yang sedang bermain game langsung menekan tombol pause dan menoleh ke arahku, "Jo, sudah berapa kali saya bilang, kalau transaksi sudah diproses walau pulsanya belum masuk tetap harus bayar. Apabila dalam waktu satu jam nggak masuk, uangnya pasti dikembalikan. Namun jika pulsa masuk tapi konsumen nggak bayar, gaji kamu itu yang saya potong untuk membayar ganti ruginya."

Jawaban Pak Alvin membuatku serba salah ~ Saat aku berpikir bagaimana cara untuk meminta uang pada pemuda itu yang tampaknya sangat keras kepala, tiba-tiba terdengar suara notifikasi masuk, dan pemuda itu berkata, "Mba, ini pulsanya sudah masuk. Berapa, Mba?"

Hatiku langsung plong mendengarnya. "Lima puluh dua ribu, Mas." jawabku tegas.

Sambil menyerahkan uang, pemuda itu berbisik." Mba, boleh minta nomor WA?"

Ingin sekali aku jitak kepalanya. "Maaf Mas nggak bisa, nanti pacar saya marah." ujarku bohong sambil tetap berusaha tersenyum ramah. Profesionalisme harus dijaga biarpun hatiku kesal.

Muka pemuda itu berubah. Tanpa banyak bicara, ia pergi dan aku hanya bisa menghela napas panjang. Dara yang duduk di sampingku nggak mau kehilangan kesempatan untuk menggoda, "Cieee, ternyata kamu sudah punya pacar, Jo." yang membuatku menatapnya jengkel, "Kamu ini bisanya hanya meledekku saja, Ra. Kenapa tadi nggak bantu aku bicara?"

"Sudah biasa itu, Jo. Kalau aku yang urus dia tadi langsung aku minta uangnya. Toh, kalau pulsa nggak masuk, uangnya akan aku kembalikan." jelas Dara. Maklum, aku baru seminggu bekerja di konter Pak Alvin jadi masih awam dengan berbagai karakter pembeli yang ada.

🐰🐰🐰

Setelah makan sore, aku kembali ke konter untuk gantikan Dara yang ingin makan. Nggak lama berselang, datang seorang ibu seumuran dengan ibuku bertanya. "Mba, ada headset buat hape ini?" sambil memperlihatkan ponsel China yang iklannya sering muncul di TV rumah.

"Maaf Bu, konter ini belum jual aksesoris hape." Jawabku. Belum cukup dana, begitu alasan bos jika ditanya kenapa nggak jual padahal produk sejenis aksesoris cukup banyak peminat.

"Saya cari headset Mba, bukan aksesoris hape!" ucap Ibu itu bernada keras, mungkin dikiranya aku nggak dengar apa yang ditanyakan. Ya Allah, tabahkan hati hamba-Mu menghadapi pembeli seperti ini. "Iya Bu, disini nggak jual headset." jawabku sambil tetap senyum.

Muka Ibu itu agak masam. "Ya sudah. Yang jual kira-kira di mana, Mba?"

"Toko itu, Bu." ucapku sambil menunjuk ke sebuah toko yang nggak jauh dari tempatku bekerja, yang aku tahu memang menjual berbagai jenis aksesoris ponsel.

"Bagaimana kalau Mba yang beli, saya tunggu di sini?" Tanya sang Ibu.

"Maaf Bu, itu kan tokonya dekat." Jawabku sambil menahan rasa panas di kepala.

Muka ibu itu semakin masam, tanpa banyak bicara ia langsung pergi berjalan.

🐰🐰🐰

Keesokan harinya, seperti biasa aku kembali bekerja. Aku kaget melihat konter sudah buka dan mobil bosku sudah terparkir rapi di sebelah bangunan. Setelah masuk ke dalam, baru aku tahu ternyata Dara nggak kerja karena ada kepentingan. Hmmmm, paling dia pergi malam mingguan, dan aku yang belum punya pacar hanya bisa pasrah menghadapi kerepotan bekerja sendirian.

Setelah melayani beberapa pembeli yang nggak rewel pada pagi hari, aku justru mendapat ujian pada siang hari. Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun datang untuk membeli sebuah ponsel bersama anaknya yang berusia sekitar sepuluh tahunan.

"Mba, hape apa yang murah? Nggak perlu canggih, asal cukup bagus untuk belajar online."

Aku maklum karena Corona ada banyak orang tua yang keuangannya pas-pasan terpaksa beli ponsel agar anaknya bisa belajar. "Ini, Pak. Hape ini cukup bagus. Layarnya sudah lebar dan bisa mendukung untuk belajar online." jelasku sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari laci meja.

"Boleh saya lihat seperti apa hape-nya, Mba?"

Aku bergegas mengeluarkan ponsel display yang menjadi contoh jika ada pembeli ingin melihat. Setelah melihat-lihat dan cukup puas maka bapak itu pun bertanya. "Berapa harganya, Mba?"

"Satu juta empat ratus, Pak."

"Aduh, saya kira cuma satu juta dua ratus. Apa bisa satu juta dua ratus, Mba?" Tawarnya.

"Maaf Pak, paling bisanya satu juta tiga ratus, pas. Itu sudah nggak bisa ditawar."

"Tapi saya hanya punya uang satu juta dua ratus, Mba. Itu pun dua ratusnya dapat dari hutang. Tolong, Mba." Katanya dengan memelas. Melihat roman muka bapak itu, aku jadi ingat bapakku yang sudah tua, dan melihat anak dari bapak itu, aku pun teringat adikku di rumah.

"Maaf Pak, saya bicara dulu sama bos saya." Aku lalu menghampiri Pak Alvin dan menjelaskan.

Pak Alvin yang seperti biasa sedang bermain game menghentikan permainannya. "Jo, berapa kali saya bilang kalau harganya itu pas. Jika bapak itu kurang uang ya nggak bisa, itu urusannya. Konter ini aku sewa pakai uang. Kamu kerja di sini juga dibayar pakai uang bukan kertas."

Aku hanya bisa diam.

"Ya sudah. Apabila kamu mau bantu bapak itu silakan, tapi kurangnya seratus ribu saya potong dari gaji kamu tujuh puluh lima ribu, sedangkan dua puluh lima ribu dari saya." lanjutnya.

Wah, gajiku hanya seratus ribu perharinya, jika dipotong tujuh puluh lima ribu, bagaimana aku bicara pada orang tua yang juga butuh biaya. Dengan terpaksa aku kembali menghampiri bapak yang menunggu di depan. "Maaf Pak, bagaimana kalau hape android ini saja? Layarnya besar, meski nggak sebesar yang pertama. Ramnya 3 GB, saya rasa cukup untuk keperluan belajar dan harganya cuma satu juta." jelasku sambil memperlihatkan sebuah ponsel lokal.

Bapak itu berbicara dengan anaknya, dan akhirnya membeli ponsel yang aku tawarkan.

🐰🐰🐰

Sepuluh menit berlalu, ada seorang pembeli lain datang mencari ponsel pintar. Berbeda dengan bapak sebelumnya, pembeli ini hanya menawar sebentar lalu membayar. Beberapa konsumen lain terus berdatangan, ada yang beli pulsa dan ada yang beli kuota. Dengan sabar aku melayani mereka semua. Hingga sore hari, ada seorang ibu hendak membeli kartu perdana. "Mba, kartu ini berapa harganya?" Tanyanya sambil menunjuk sebuah kartu perdana berwarna merah.

"Itu lima belas ribu, Bu." Jawabku sambil tersenyum hangat.

"Bisa kurang, Mba?"

"Maaf Bu, nggak bisa." jelasku masih berusaha sabar.

"Oke. Ini bisa langsung dipakai, kan?"

"Kartu harus diregistrasikan dulu pakai KK dan KTP baru bisa digunakan, Bu. Itu peraturan dari pemerintah, nggak bisa diisi asal-asalan." aku coba jelaskan prosedurnya, namun ibu itu tetap bingung dan berujar, "Pakai KTP dan KK Mba bagaimana? Saya nggak bawa soalnya."

Whatssss?! -- "Maaf Bu, saya juga nggak bawa." Aku tetap berusaha tersenyum lebar.

"Ya sudah, nggak jadi." Ibu itu pergi dan membuatku membatin, Terserah deh Bu, pusing saya.

Dan ternyata chaos terjadi bukan hanya di-siang dan sore hari namun juga pada malam harinya. Malam minggu adalah saat dimana banyak konsumen datang dan apesnya Dara nggak kerja.

"Mba, harga hape itu berapa?" Tanya seorang pembeli sambil menunjuk sebuah kardus ponsel. Belum selesai aku melayaninya, datang lagi seseorang. "Mba, beli pulsa sepuluh ribu, cepat ya."

Kemudian datang tiga orang anak SMP. "Mba, kuota internet yang paling murah apa?"

"Mba, ada headset bluetooth nggak?"

"Mba, beli kartu perdana yang isi kuota internet."

"Mba, saya dulu Mba, kan, saya duluan datang."

"Mba, jangan lama-lama dong, Mbak." teriak yang lainnya.

Ya ampun, cari uang kok begini amat ya, keluhku sambil mengusap keringat. Walau begitu, aku tetap melayani pembeli dengan semangat karena ini pekerjaanku dan aku nggak punya pilihan.

-end-
🐰🐰🐰🐰🐰 


Hi, guys! Hari ini, ada Paid Writer baru di blog gue yang mungkin sebagian teman-teman sudah kenal 😁 yep, he is Agus Rakman - lebih akrab disapa Agus Warteg pemilih blog Sarilah yang hobi menulis cerpen horor diselingi cerita dewasa hahahahaha πŸ˜‚ as you guys know, gue nggak pernah tulis cerpen di blog karena gue nggak punya bakat di sana. Namun, dari dulu, gue selalu ingin ada cerpen di blog gue meski hanya satu dua, yang membuat gue akhirnya menawarkan kerjasama ke Mas Agus as Paid Writer di blog gue tercinta πŸ˜†

Well, perjalanan untuk meminta mas Agus menulis cerpen di blog gue itu nggak mudah karena mas Agus nggak PD-an. Jadi gue sempat DITOLAK MENTAH-MENTAH 🀣 Padahal, mas Agus orang pertama yang gue reach untuk menulis di blog gue jauuuuh sebelum program Paid Guest Post gue buka πŸ˜† alasan mas Agus, karena mas Agus merasa belum PD dengan karyanya.

Terus apa yang melatarbelakangi gue meminta mas Agus? Ceritanya waktu itu gue baca cerpen soal mobil bus yang bisa bicara. Seriously, gue suka cerpen itu dan tanpa pikir panjang langsung mengkontak mas Agus dan meminta beliau menulis cerpen di blog, niatan gue agar sohibal-sohibul gue dan teman-teman bloggers bisa punya bacaan lain selain curcolan gue hahaha πŸ˜‚ selain itu, gue tertarik sama cerpen Jaey yang sering asal dalam menjawab pertanyaan 😍

Long story short, beberapa hari lalu, finally mas Agus menerima penawaran gue dan cerpen ini adalah hasilnya. Maybe, for some readers yang sudah terbiasa dengan cerpen horor dan cerpen dewasa karya mas Agus akan kaget dengan cerpen ini karena lumayan beda ~ tapi semoga, teman-teman bisa suka dan menikmati alur ceritanya πŸ˜† eniho, gue nggak request apapun ke mas Agus mengenai tema cerita, jadi cerpen ini pure hasil imajinasi yang mas Agus punya 😁

Nevertheless, gue mau ajak teman-teman untuk menjawab satu pertanyaan ~ kira-kira pelajaran apa yang bisa kita dapat dari cerita hidup Joanna alias Jojo sebagai penjaga konter ponsel di pinggiran ibukota? Kalau biasanya pelajaran yang didapat selalu serius, kali ini gue mau tau versi lucunya πŸ˜‚ Wk. Gue pribadi belajar dari Jojo kalau kita harus punya pacar biar bisa ijin kerja dan terhindar dari jadwal tugas malam minggu yang menguras tenaga πŸ€ͺ✌ how about you, guys? -- not to forget, akan ada hadiah cash IDR 250.000 untuk jawaban satu orang teman πŸ₯³ good luck dan terima kasih sudah membaca cerpen hasil karya mas Agus Rakman πŸ˜‰

Paid Guest Post
Agus Rakman
Sarilah MWB
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no English translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no Korean translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------

100 comments:

  1. Aku pas baca baris pertama, langsng scroll ke bawah dulu donk krna penasaran sama yg nulis. Eh bener ternyata tebakan aku, yg nulis Mas Agus :D Trus aku baru tau Mas Agus namanya ternya Agus Rakman. Hehehhe.. Walaupun bukan cerita horor atau twist ending, ceritanya tetep keren. Good work mas Agus!

    Pelajaran hidup dari Jojo, sebagus apapun nama orang, pasti orang akan menemukan plesetan namanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak mbak Thessa atas apresiasinya. Sebenarnya aku ngga pede waktu ada pesanan cerpen dari mbak Eno, untung ia kasih support terus dan jadilah cerita ini.πŸ™‚

      Delete
    2. Tebakannya benar ya, mba πŸ˜† hehehe. Sampai di-scroll duluan karena penasaran πŸ˜‚ terima kasih sudah membaca tulisan mas Agus di blog saya, mba Thessa dan terima kasih atas hikmah lucunya yang sakseis membuat saja tertawa 🀣

      Iya ugha ya, sekeren apapun namanya pasti ada plesetannya πŸ€ͺ

      Delete
    3. Hehehehe semoga mas Agus semakin PD 😍 apapun karyanya kalau datang dari hati, akan bagus hasilnya. Perkara bagaimana penilaian orang belakangan, mas ahahahahaha. Itu yang saya pelajari dari teman-teman blog soalnya 🀣

      Semangat~!

      Delete
  2. Upss.. tumben mas Agus kalem disini. Tidak bergejolak. Tidak nakal. Tidak bengal.

    Wuihh jadi alim dan bijak banget. Tersepona sama pembuat kuntilanak yang bisa cemberut ini... Bijaakkk sekali dan tulisannya tidak belak belok. Penuh makna..

    Hebat Eno.. bisa menaklukkan salah satu makhluk ternakal di dunia ini. Hahahaha

    Btw, jangan mau ditolak mentah mentah Eno, kalau ditolak mateng-mateng boleh lah.

    Pelajaran yang diambil dari cerpen ini adalah : "saya harus skip dan nggak ikutan"..

    #kaburr...eh sebelum kabur bilang Eno hebat bisa "menaklukkan" penjaga warteg bin pedagang cilok.. wakakakaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya pak Anton nanti yang akan kebagian paid guest post selanjutnya, soalnya tips tips blogging nya selalu bagus dan menarik.

      Saran saya kalo pak Anton nanti jadi paid guest post, judulnya dibikin unik seperti "cara menaikkan pendapatan blog agar bisa punya istri dua." πŸ˜†

      Delete
    2. Beuuuh mas Agus aslinya nakal dan bengal? πŸ˜‚

      Terima kasih mas Anton atas apresiasinya. Semoga dengan komentar mas Anton ini, mas Agus jadi lebih semangat menelurkan tulisan berikutnya 🀣

      Delete
    3. Huuush! Dilarang mendua, mas Agus πŸ˜‚

      Delete
    4. Kalau mentiga dan mengempat boleh ya Eno.. hahahahaha

      Delete
    5. Setuju sama Mba Eno, mas agus hrs makin PD sama karyanya. Krna di sini banyak yg menanti2 cerpen2 dan tulisan mas agus, termasuk saya 😁 Walau klo yg cerita horor aku baru baca pas siang2, ga berani malem2. Hahahaa..

      Delete
    6. Nggak boleh, mas Antooon 🀣

      Delete
    7. Tuuuh mas Agus, kata mba Thessa harus PD ~ sebab banyak yang mendukung mas Agus, hehehe 😍 siapa tau nanti jadi pro terus dilirik publisher mayor seperti Gramedia. Semangat, mas!

      Delete
  3. Dari kalimat pertama, aku juga ngerasa familiar dan pas scroll ke bawah, benar ternyata ini tulisan kak Agus ��
    Ceritanya berbeda sekali dengan yang biasa ditulis. Ini vibenya lebih kepada kejadian sehari-hari yang membuat pembaca terbawa suasana membayangkan bagaimana rasanya jadi pegawai counter pulsa ��

    Kalau pelajaran yang aku ambil dari Jojo adalah ternyata di Surga bisa beli pulsa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi bagaimana rasanya membayangkan sebagai pegawai konter, Lia? Seru atau kesal? Hahahaha. Ternyata apapun pekerjaannya, pasti ada maalah di dalamnya πŸ™ˆ

      Lha iya, kakak pun shock ternyata di surga ada konter pulsa. Siapa yang jual coba? 🀣

      Delete
    2. Sepertinya lebih banyak kesalnya dibanding menjadi pegawai minimarket wkwkwk. Betul kak! Tapi ketika kita dihadapkan dengan banyak manusia yang sifatnya beraneka ragam, disitu malah kita bisa banyak belajar ya :D

      Bingung juga aku xD mungkin malaikat yang jaga counternya wkwk
      Tapi serem juga kalau mau beli pulsa di Surga, masa harus meninggal dulu πŸ˜‚

      Delete
    3. Pegawai Indomaret pasti ada struggle-nya meski nggak kelihatan. Salah satunya kalau konsumen bawa uang kurang padahal sudah di-scan. Terus saat mau cancel ternyata komputernya mati mendadak 🀣 meski jarang kejadian, lumayan buat migren tuh kalau dibayangkan hahahahahaha. Apalagi jika antriannya panjang πŸ˜† hahahaha.

      Betul Lia, semakin kita ketemu banyak orang dengan karakter berbeda, semakin banyak pelajaran yang bisa kita dapat. Sepengalaman kakak demikian meski kakak nggak jualan pulsa πŸ˜†

      Mungkin Jojo punya jalur belakang, Lia. Macam free pass ke surga πŸ˜‚

      Delete
    4. waahahahha, kok bisa tulisan om Agus ada di sini.
      Dari kalimat awal, seperti kenal tulisan khas ini. Dan ternyata beneran, Om Agus :D

      Tapi keren sih ini.

      Delete
    5. Bisa dong mas, tulisan mas Dodo juga bisa di sini hehehe. Terima kasih mas πŸ˜†

      Delete
  4. Hahahaha aku kira masih tulisan Lia mbaa dan ngira tulisan ini tentang pelayan toko πŸ˜‚πŸ˜‚

    Aku pernah beberapa kali main ke blog mas Agus, but again nggak pernah komen, bad habit banget emang.

    Nggak bisa menilai sebuah cerpen, tapi aku enjoy kok bacanya, ikut kesel juga sama buk-ibuk yang minta di beliin headset diseberang jalan haha.

    Ternyata blog mba Eno benar-benar nggak terduga haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda mba Sovia, ini tulisannya mas Agus hahahaha. Tulisan Lia jadwalnya minggu depan πŸ˜‚

      It's okay mba, komen selagi ada waktu dan kesempatan saja. Plus apabila memang tau mau komen apa hihihi. Saya pribadi kadang kalau nggak tau apa yang mau saya komen, saya akan lebih memilih menikmati dalam senyap πŸ˜„

      Hahahaha sama mba, saya juga kesal bacanya. Kalau ketemu ibu-ibu model begitu saat kerja, pasti kepala saya rasanya mau meledak 🀣 mana enteng banget mintanya seperti nggak punya beban πŸ˜‘ hahahahaha.

      Semoga mba Sovia suka kejutannya 😝

      Delete
  5. Yey.. Mas agus ada di sini. Tadi saya mikir kira-kira ini siapa yaπŸ€” sempet mikir mas agus tapi biasanya gaya bahasanya nggak gitu, tapi tetep yakin kalau ini mas agus dan ternyata benar😁
    Kalau menurut saya pelajaran yang bisa diambil adalah jangan biarkan orang lain asal panggil nama karena artinya beda. Gimana kalau tiba-tiba joanna masul kerja pakai celananya sampai dada?
    Gimana coba..gimana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gaya bahasanya diubah sedikit mengikuti style blog ini, mba Astria πŸ˜‚ hehehehe. Sebab biar fit sama pembaca blog saya jadi nggak terasa asing di mata πŸ˜† eniho terima kasih sudah baca tulisan mas Agus, mba ~ semoga menyenangkan πŸ₯³

      By the way, itu pakai celana sampai dada maksudnya Jojon yang kumisnya cuma separo, yah? Hahahahahaha. OMG masa muda saya sering lihat Jojon soalnya 🀣

      Delete
  6. lika liku mbak2 konter yang baru pertama kali kerja yang pura pura punya pacar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susahnya cari uang, mas 🀣 lika-likunya panjang ~

      Delete
  7. hmmmmmmm.....paragraf paling akhir malah paling menarik perhatianku...


    😊😊😊😊

    okey segitu aja komenku

    πŸƒ‍♀️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paragraf paling akhir dari cerpennya, mba? Hehehehe 🀣 memang pada akhirnya, kalau kita nggak ada pilihan, suka nggak suka, kita harus lakukan apa yang ada di depan mata, yah πŸ™ˆ

      Terima kasih sudah baca cerpen mas Agus, mba 😍

      Delete
    2. Bukan mba...

      Tapi 2 kata sebaris sebelum baris paling akhir yang paling menarik perhatianku 😊😊

      Delete
    3. Oalah. Namanya mas Agus bukan mba maksudnya? πŸ˜†

      Delete
    4. Maaf ya mba kalau saya nggak paham πŸ™ˆ

      Delete
    5. duh, jadi pengen ngumpet, setelah takbaca baca lagi komenku kadi kelihatan agak aneh ya hahahhaha, maapkan mba eno, maksudku selama ini aku adalah pengagum rahasia mas agus...ehh maksudku tulisannya mas agus. mas agus tulisanmu selalu membuatku terhibur, terus berkarya ya...dah ah...kabur dulu πŸƒ‍♀️πŸƒ‍♀️πŸƒ‍♀️πŸƒ‍♀️πŸƒ‍♀️

      Delete
    6. Nggak apa-apa mba Nita, saya-nya memang kadang susah memahami kata-kata πŸ˜‚ itu kelemahan saya makanya saya kalau menulis pun suka belibet bahasanya πŸ™ˆ hehehe terima kasih mba Nita sudah menjelaskan. Akhirnya saya mengerti maksud mba πŸ˜†

      By the way, karya-karya mas Agus memang layak untuk dikagumi yah 😍 semoga mas Agus tetap semangat berkarya dan mba Nita jugaaa πŸ˜†πŸ’•

      Delete
    7. Bagi seorang pengagum, kalah cepet soal tahu nama asli idolanya itu "masalah besar" Eno.. wakakakakak

      Mbul kalah cepat sama saya soal tahu nama asli mas Agus Warteg... hahahaha.. makanya dia langsung menuju kesini...hahaha...dan menemukan konfirmasi nama sang idola..

      Delete
    8. Iya mas Anton, saya baru paham maksudnya mba Nita 🀣

      Saya sempat bingung tapi setelah dijelaskan mba Nita jadi paham, ditambah sempat lihat komentar mba Nita di blog mas Anton waktu mas Anton sebut Agus Rakmat. Hehe. Eniho bukan Rakmat tapi Rakman, mas 😁

      Delete
  8. Saya baru tahu bisa izin masuk kerja kalau mau malam Mingguan, karena dari beberapa cerita teman yang kerja di konter HP gitu justru Sabtu-Minggu wajib masuk. Hari biasa liburnya.

    Tapi mungkin ada juga sih yang liburnya 2 hari dalam seminggu. Yang penting weekend tetap harus pilih salah satu liburnya. Satunya lagi hari biasa. Enggak bisa dua-duanya Sabtu-Minggu.

    Saya sejujurnya malas mengambil pelajaran, hikmah, pesan moral, atau apalah dari tulisan gitu. Berhubung ini cuma cari lucunya, yang lucu buat saya jelas bisa bertemu tipe-tipe pembeli yang tingkahnya ajaib. Kalau saya kerja di sana, manusia-manusia itu pasti saya jadikan bahan tulisan, khususnya cerpen. Dialog-dialog liar dan kejadian absurd biasanya menarik dijadikan ide. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 🀣🀣🀣 betul juga. Mungkin bosnya si Jojo tipe bos yang baik, makanya bisa ijin saat akhir pekan, mas πŸ˜‚ hahahaha.

      Agree, kalau jadi frontliner dalam bidang jualan memang serunya bisa ketemu banyak orang dengan karakter unik yang bisa dijadikan bahan cerita sendiri ~ πŸ˜†

      Delete
  9. Baru kali ini baca cerpen tulisan Mas Agus. Next time mau coba baca walaupun ga tau berani ato ga kalo cerita horor 🀦

    Dari Joanna aku belajar bahwa jangan ganggu bos kalo lagi main game. Karena bisa bikin di potong gaji 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Devina nggak berani baca horor? Sama kita mba 🀣 saya sering takut sama horor hahaha. Tapi horor mas Agus dibalut komedi, so kalau mba Devina nggak sepenakut saya, mungkin bisa coba baca πŸ˜† atau semisal nggak mau horor, ada cerpen Jaey yang kocak dan non-horor cocok untuk kita 😍

      Iyaaa tuh Jojo harusnya jangan ganggu bos apalagi bosnya sedang main game 🀣 kalau kalah bisa berabe hehehehe.

      Delete
    2. Iyaa.. mbak aku penakut anaknya kalau yang berhubungan sama horor 🀣 bisa-bisa ntar ga berani ke kamar mandi sendiri hahaha..
      Wahh.. baiklah kalau dibalut komedi sih aku seneng-seneng aja bacanya. Asal jangan full horor, ntar kebayang-bayang lagi ceritanya 🀦‍♀️

      Delete
    3. Hahahaha sama kita mba πŸ˜‚ kalau begitu cari yang full komedi tanpa horror saja, biasanya ada tokoh Jaey anak SD di dalamnya πŸ˜†

      Delete
  10. Wah, cerita yang menarik mas agus. Dan semakin bervariasi mbak eno :D
    Salut sama yang terbiasa nulis cerpen. Terbiasa untuk terus berimajinasi untuk alur ceritanya.

    Aku kirain jojon itu laki-laki...ternyata joanna...hahahaa

    Pelajaran yang menarik dari jojon apa yaa..ehm, aku paling sebel dengerin omelan si bosnya..haha..jadi pelajaran lucunya ga semua hal tentang kerjaan mesti diketahui bos. Mungkin bos terima beres. Daripada sedikit2 diomelin,potong gaji, dan diabaikan dengan game..hahaha
    Serius sih, kesel banget, cuma ditanyain sepele si bos malah ngomel-ngomel.
    "Bos, harga bisa turun ga?" Khan bisa langsung bilang ga bisa. Ga perlu bilang "tempat ini bayar sewanya pakai duit" atau "nanti kurangnya diambil dari gajimu". Khan ga enak banget sedikit2 kena omel.

    Entah pelajaran lucu atau ga, tapi yang penting si ga semuanya mesti diketahui si bos. Jadi jaga omong di depan bos. Bos terima duit dan terima beres aja...nih bos duitnya....hahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu yang paling saya kagumi itu para penulis fiksi mas, baik cerpen maupun novel karena menurut saya nggak gampang mengerjakannya. Butuh daya imajinasi kuat 😍

      Setuju mas, sebisa mungkin handle semua sendiri biar nggak kena marah bos hahahaha. Tapi saya maklum kalau Jojo sikit sikit tanya. Sebab Jojo masih newbie jadi belum tau bagaimana sistem di konter Pak Alvin bekerja 🀣 nanti kalau nggak tanya dan salah ambil keputusan, bukan cuma dipotong gajinya yang ada justru dikeluarkan takutnya πŸ™ˆ hahaha. However, kalau bosnya model Pak Alvin memang serba salah. Tanya salah, nggak tanya salah. Maju mundur kena jadinya πŸ˜‚

      Delete
  11. Terima kasih pertanyaannya. Akan saya jawab dalam bahasa Indonesia.

    Menurut saya, hikmah dari kisah Jojo adalah kita sebisa mungkin akan tetap sabar dalam menjalankan kewajiban kita. Apa pun yang sedang kita alami, sesulit apa pun rintangan yang kita hadapi, dan seberat apa pun masalah dan omongan yang kita terima, kuncinya adalah dengan sabar.
    Jika kita bisa sabar, maka pikiran kita akan bisa jernih dan menyelesaikan masalah sepelik apa pun di depan kita.

    Sekian. Terima kasih


    wkwkwkkw kok jadi kayak jawab pertanyaan kontes kecantikan. Tapi memang kalau dari dua kalimat awal aku nebak ini tulisannya Mas Agus.
    Enggak tau aja ya udah ada nada khas dari Tulisannya Mas Agus terutama latar dan penggambaran sosial tokoh-tokohnya. Bagus sekali Mbak Enno terobosan buat blognya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Ikrom dan jawaban ala miss kecantikannya 🀣 hehehehe. Setuju mas, kalau dalam bekerja, selain butuh usaha ekstra, kita pun akan selalu diminta untuk sabar 😁 yang terpenting tau kapan harus bersikap, kebanyakan sabar nanti ditindas juga nggak baik sebetulnya πŸ˜‚

      Wah mas Ikrom bisa tebak ini tulisan mas Agus? πŸ˜†

      Delete
  12. Pas baca bagian akhir rada gimana gitu, punya pacar bisa bolos kerja? Ampppooonn..!! Wkakaakakaka..

    Si Jojon ini antara baik, polos, apa rada dungu? Soalnya diriku gemes. Sini deh Mbak Jojon, Pipit kasih tahu pelajaran berharga, sebelum anda bekerja, di manapun dan apapun profesinya, coba datangi tempat totok aura. Fungsinya buat apa? Supaya aura yang keluar dari tubuh Mbak Jojon itu bukan aura manusia yang gampang ditindas sama pembeli, aura tegesnya itu loh Mbak, dikeluarkan. Nih kayak aku (walaupun g perlu totok gitu), punya muka RBF, jadi yang liat duluan udah segen, akhirnya mereka g berani haha hihi sama aku, hohoho..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akal-akalan si Dara itu mba, kan alasannya Dara ke Pak Alvin karena ada kepentingan. Cuma si Jojo tau alasan sebenarnya karena Dara mau malam mingguan πŸ˜‚

      Muka RBF itu muka apa, mba? Saya justru baru tau totok aura bisa membuat aura berubah jadi tegas πŸ˜‚ maklum belum pernah totok aura. Apakah totok aura dan totok wajah yang di spa itu sama? Penasaran saya hahahahaha jadi mau totok ugha 🀣

      Delete
  13. Wah ceritanya asik, pingin deh bisa membuat cerpen begini, sayang belum mahir membuat alur cerita.

    Hmm... pelajaran dari Jojo apa ya; pandailah membuat plesetan nama orang lain, karena nama kita juga akan selalu diplesetkan.
    Belajar banyak sabar menghadapi lika-liku susahnya cari uang, terlebih saat menghadapi ibu-ibu yang mukanya masam itu.
    Saya sampai membayangkan ketika ibu itu dengan enaknya berkata "Bagaimana kalau Mba yang beli, saya tunggu di sini ? " itu sih lucu sekali hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga one day bisa buat, mas. Semangat πŸ˜†

      Hahahahaha harus punya amunisi plesetan yah apalagi kalau nama kita sudah diplesetkan duluan 🀣 iya menurut saya, si Jojo masih perlu belajar banyak menghadapi konsumen yang kadang suka seenak udelnya πŸ˜† apalagi model ibu-ibu yang tanpa beban minta dibelikan headset di toko sebelah πŸ˜‚ kalau betulan ada ibu-ibu seperti itu di dunia nyata, gemas banget pastinya πŸ™ˆ

      Delete
  14. Awalnya saya pikir, tumben nih mba Eno bikin cerpen. Ternyata rahasianya ada di bagian bawahnya πŸ˜‚

    Kayaknya saya baru kali ini baca cerpennya mas Agus. Alurnya enak banget, tau2 udah smp bawah aja.

    Kalau pelajaran yang bisa diambil, menurut saya Jojo mungkin harus nyobain main game kayak pak Alvin biar bisa ngadepin customer yg aneh2 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nggak bisa buat cerpen mba, hanya bisa menikmatinya sampai sekarang. Meski ingin, tapi nggak punya skill-nya πŸ™ˆ

      Cerpen mas Agus bisa dinikmati pada blog beliau bernama Sarilah MWB yang linknya saya tautkan di atas 😍 kalau mba nggak suka horor, bisa baca yang Jaey series itu lucuk semua πŸ˜‚

      Memang kalau main game bisa membuat otak relaks ya mba hahahaha tapi yang ada nanti konsumennya kena marah kalau ganggu si Jojo lagi main game atau si Jojo justru dipecat Pak Alvin karena nggak kerja dengan benar 🀣

      Delete
  15. Mba Enooo, kangen banget main di sini. Maaf ya baru bw 1 mumpung lagi enak badan, hehe.

    Wah, paid guest post masih berjalan dan tambah rame aja. Saya banyak ketinggalan di blog ini.

    Btw ini Mas Agus? Iya, bahasa dan ceritanya agak beda dari blognya. Tapi saya tetap suka kok. Bagus jalan ceritanya. Mas Agus, kita samaan nih, nggak PD an orangnya.πŸ™ˆ

    Mba, maaf, saya oot ya. Nanti kalau paid postnya udah banyak, bisa dibikinin portal sendiri lho, Mba. Siapa tahu ke depannya jadi portal online yang berbeda karena saya tahu kreatifitas mba Eno. Suami bisa bantu kan buat bikin templatenya, terus contentnya bisalah memberdayakan teman2 blogger yang tulisannya keren2.

    Siapa tahu, siapa tahu lho, ke depannya ini bisa jadi bisnis digital Mba Eno. Hehehe. Maaf ya Mba kalau saya berandai2.πŸ˜€πŸ™.

    Sukses terus untuk Creameno.😍😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woaaaa mba Pipit, kangen! πŸ˜† Apa kabar mba? Semoga sehat selalu, ya 😍

      Betul mba ini karya mas Agus warteg hehehe. Agak beda karena tulisannya dipoles sedikit untuk masuk ke style blog ini, mba. Biar jadi satu kesatuan dengan tulisan yang lainnya πŸ˜† I know, mba Pipit ini sometimes nggak PD, even tulisan yang bagus di Paid Guest Post pertama nggak mau dijadikan buku huhuhu padahal saya syuka karya mba πŸ˜πŸ’• semoga ke depannya mba bisa semakin PD sebab karya mba bagussss semuah 😍

      Portal itu seperti apa mba maksudnya? Saya taunya di blog hanya label πŸ˜‚ jadi saya pisahkannya pakai label dan untuk tulisan karya teman-teman ada di label PAID GUEST POST, mba πŸ™ˆ eniho, saya mau sebetulnya mengembangkan blog saya however saya masih bingung mau mengembangkan ke arah mana. Mungkin mba Pipit punya saran? πŸ˜† hehehehe. Kalau soal si kesayangan, dia bisa buat template atau buat coding website dan program. Cuma harga dia mahal mbaaaaa hahahaha. Nggak sanggup bayarnya secara profesional πŸ€ͺ nanti kalau diminta fokus bantu urus blog saya yang ada mengganggu jadwal dia istirahat sehabis pusing kerja πŸ˜‚ jadi selama ini saya masih considerate hanya minta bantuan kalau urgent saja πŸ™ˆ

      Nah bisnis media digital itu saya sama sekali nggak ada bayangan seperti apa memulainya dan bagaimana cara maintain serta mengembangkan mba. Ada beberapa yang sempat komen serupa dengan mba Pipit soal bisnis media, tapi saya nggak ada gambaran. Semacam buta total πŸ˜‚ alhasil bingung kalau mau diseriuskan, harus mulai dari mana πŸ˜† Nonetheless, terima kasih idenya mba. Akan jadi bahan pertimbangan 😍

      Delete
    2. Portal online kayak female daily atau yang lain, terpisah dari blog ini. Konten dan menunya bisa macem2, tergantung owner, hehehe. Kalau portal onlinenya berkembang, bisa jadi beda dengan yang sudah ada krn ada tangan Mba Eno buat memoles.😊

      Kualitas, selera, dan kreatifitas Mba Eno di blog ini sudah nggak diragukan lagi.πŸ€—

      Delete
    3. Aha. I see. Coba nanti saya cek femaledaily ya, mba πŸ˜† thank you so much masukannya. Jadi ada sedikit gambaran seperti apa meski belum tau bagaimana melakukannya πŸ™ˆ

      Terima kasih banyak apresiasinya, mba 😍

      Delete
    4. Bisa Eno.. cuma kudu pindah ke Wordpress dulu.. wakakaka..

      Kalau tetap di blogger susah menjadi portal karena terbatasi sekali. Tapi kalau di WP bisa dibuatkan subdomain atau tetap di domain yang dan semua orang bisa mengirimkan tulisan.

      Aku rasa begitu kira-kira yang Mbak Pipit Widya maksudkan...

      Delete
    5. Wadow susah berarti kalau pindah ke WP Self Hosted, saya nggak yakin bisa running-nya karena pasti toolsnya lebih rumit daripada blogspot ya, mas πŸ˜‚

      Iya, kemarin saya sudah memahami portal yang dimaksud mba Pipit, karena selama ini saya taunya portal itu semacam berita online jadi nggak ada bayangan blog personal bisa dijadikan portal. However ternyata setelah dipelajari ternyata bisa karena semua balik ke ownernya mau bahas tema apa 🀣

      Terima kasih banyak mba Pipit atas idenya dan mas Anton atas penjelasannya 😍

      Delete
  16. Lah kok udah selesai?? Lanjutttt dong. Pengen tau kisahnya Jojon.. eh Jojo setelah riweuh menghadapi pelanggannya πŸ˜‚

    Jujur aku baru pertama kali deh ini baca cerpennya Mas Agus di sini. Soalnya aku jarang sekali baca di blognya Mas Agus, karena kebanyakan horor sementara aku pun takutan anaknya πŸ˜† tapi yang aku sering dengar dari teman-teman, cerita Mas Agus banyak 'plot twist' yang mengejutkan hahaha tapi ini bagus sekali ceritanya, santai dan mengalir. Makanya kok tau-tau kelar aja, nggak berasa. Semangat, Mas Agus dalam berkarya! Jangan sungkan-sungkan lagi ya 😁

    Ini harusnya dilanjutkan lagi, penasaran dengan tipe-tipe pelanggan berikutnya 🀭

    Hmmm kalo pelajaran yang bisa diambil dari Jojo, harusnya nomor hapenya kasih aja ke si abang yang beli pulsa di awal. Kali itu jodohnya kan, jadinya punya pacar deh bisa malming kayak Dara 😝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha saya awal baca cerpen itu pun bertanya sama mas Agus kenapa nggak ada twist-nya, bla bla bla hahaha. Mungkin karena sudah terbiasa dikasih twist pada setiap cerita yang beliau tuliskan. But pada akhirnya, saya coba lihat dari sudut pandang lain dan menerima cerita tersebut karena ada hal-hal sederhana lain yang bisa didapat 😍

      Semoga setelah baca komentar mba Jane dan teman-teman lainnya, mas Agus jadi tambah semangat dan berkarya. Siapa tau genre ceritanya semakin berkembang dan semakin banyak topik yang diangkat, jadi bisa menyentuh berbagai macam lapisan dari mulai pecinta horror maupun pecinta genre love and life seperti kita 🀣

      By the way, boleh juga sarannya mba, mana tau betulan berjodoh kan, terus nanti ada series lanjutan "Jodohku di konter pulsa" πŸ™ˆ

      Delete
  17. Awalnya curiga kok cara berceritanya familiar..Eh benar ternyata mas Agus. Jadi guest post.

    Bravo mbak Eno dan mas Agus. Jadi pembaca banyak variasi ya..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya mba Phebie, biar ada selingan isi blognya πŸ™ˆ terima kasih apresiasinya, mba 😍

      Delete
  18. pas baca awal-awal... Wah tumben niih soal ceritaaa. Terus langsung nebak itu tulisan mas Agus!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Mao nulis di mana, ciri khas seseorang emang keliatan ya kak Eno hehehe
    Semoga dengan hadir di sini, mas Agus bisa semakin PD buat nongol di mana-mana kaya hantu gentayangan #eh

    Kalau pelajaran yang bisa didapat dari cerita hidup Jojo menurutku sih mau nolong tapi ga punya uang, bisa dengan nawarin HP yang harganya pas di kantong si bapak pembeli. Gaji doi ga kena potong, anak si bapak tetap bisa belajar online jugaaa. Terus budget pun masuk karena si bapak budgetin 1,2jt eh dapet hp dengan harga 1jt. Mayan kan 200rb buat jajan gorengan #eh Tapi lucunya, si bapak ga nawar lagi meski dikasih HP tipe lain. Mana tau kan masih bisa kurang jadi 900rb gituuu πŸ˜‚
    Menurutku si Jojo cerdik juga sudah bisa memberikan win win solution untuk semua pihak hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah~lah tulisannya genre horror, penulisnya pun diharapkan bisa gentayangan hahahaha saya bantu aminkan, mba. Saya pun berharap mas Agus bisa semakin PD dan mau terus mengasah skill-nya 😍

      Agree mba, menurut saya Jojo lumayan cerdik, instead of memaksa si bapak bayar 1.3 juta, si Jojo justru menawarkan hape lain yang lebih murah. So, both Jojo dan si bapak merasa puas hahaha. Untungnya nggak sampai ditawar 900an, bisa-bisa si Jojo di-skakmat sama bosnya πŸ€ͺ

      Delete
    2. Mas Agus sudah banyak pendukungnya ini!!! Hehehe

      Iyaa si Jojo cerdik juga kaan. Yang lebih cerdik lagi ya mas Agus yang bikin ceritanyaaa. Hehehe Mungkin pengalaman mas Agus juga nih yang suka nyomot gorengan ga bayar. Hhehe

      Delete
    3. Iyaaaa niiiih πŸ˜‚

      Sepertinya karena pengalaman, jadi sudah paham bagaimana harus bersikap πŸ˜‚ meski kata beberapa komentar teman, si Jojo ini nggak cocok jadi pedagang karena lemah hahahaha. Mungkin kalau sudah kerja lama (nggak newbie lagi), si Jojo akan berubah πŸ˜†

      Delete
  19. Astagaaa, saya kehilangan sentuhan si Mas Agus di kalimat awal, baru bisa menebak pas percakapannya, hahaha.

    Agak sedikit beda di sini, meski tetep ada ciri khasnya, yaitu ceritanya itu ngalir, dan benar-benar hal-hal biasa di kehidupan sehari-hari yang jarang sekali terpikirkan untuk kita bahas.

    Keren sebenarnya Mas Agus ini kalau nulis novel, kolaborasi ama Kang Sat, btw Kang Sat kok nggak pernah terlihat ya? di mana dia gerangan?

    Saya jadi bisa membayangkan, ternyata gitu ya perjuangan seorang penjaga konter, makanya sering kalau saya beli perdana di konter, tuh Mba-Mba nya mukanya kebanyakan jutek, saking capeknya kali ya.

    Biasanya cuman tahu calon konsumen online yang ajaib ternyata di dunia nyata banyak yang lebih ajaib.

    Pelajaran yang bisa diambil dari kisah si Jojon eh Joanna adalah, besok-besok pacaran aja sama yang punya toko sebelah, jadi setiap malam minggu bisa pacaran sambil kerja.

    Kan enak tuh, uang gaji harian tetap ada, pacaran jalan terus, ada yang bantuin pula.
    (maksudnya semua pembeli diarahkan belanja di toko sebelah, biar Joanna nggak terlalu capek ngelayani pembeli) wakakakkakaka.

    Anywaaayy, makin berwarna say blognyaaa, saya suka banget kejutannya kali ini, karena Mas Agus muncul dengan warna beda, dan semua orang mengakui itu.
    Jadi pembaca pada nggak tahan langsung scroll ke bawah saking penasarannya hahahaha.

    Dan kecehnya, ama Eno di bawahnya semacam di semprit di suruh balik ke atas buat bacain lagi.
    Good jooobbb saayy, makin keceeeehh.. semoga makin sukses, jadi bisnis digital, tapi mungkin saat ini digodok aja dulu yang di sini say, kalau menurut saya bikin kayak yang mojok.co
    Setau saya, yang bisa masuk tulisannya di sana, bayarannya lumayan, makanya tulisan-tulisan di sana kece-kece, tapi juga menarik banget.

    Bukan hanya itu, Mojok juga buka portal buat penulis yang mau menulis di web tersebut, tapi tersendiri, kayak anakan web mojok gitu, di situ bayarannya lebih dikit sih, tapi gampang lolosnya, nggak sesulit di web utamanya :)

    Can't wait melihat blog ini berkembang, saya adalah salah seorang yang bakal bangga banget karena pernah menyertai dari awal :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena tulisan mas Agus melewati proses editing agar bisa fit style blog saya mba, that's why mba merasa kehilangan sentuhan mas Agus pada paragraf awal πŸ˜† hehehe. Saya setuju, sebetulnya beliau punya bakat kalau mau diseriuskan dan melakukan diversifikasi genre cerita sehingga bisa menyentuh lebih banyak tipe pembaca. Besar harapan saya one day mas Agus bisa menjadi penulis terkenal πŸ™ˆ well, apalagi kalau kolaborasi sama mas Satria, mantapppp pastinya 😍

      Wahahaha mba Reyyyy kalau semua pembeli dialihkan ke toko sebelah yang ada si Jojo kena omel bosnya πŸ˜‚ seharusnya si Jojo pacaran sama anak konter sebelah buat ceki-ceki harga aksesoris di sana. Terus kalau ada yang tanya bisa minta pacarnya bawakan ke konter Jojo, nanti tinggal mark up harga sedikit jadi win-win for both konter ~ si Jojo nggak kena omel, si bos dapat pemasukan dan si pacar pun penjualannya lancar 🀣

      Eniho, terima kasih apresiasinya mba Rey, ini semua berkat ilmu yang mba Rey bagikan juga 😍 ohya saya sudah cek website Mojok hahaha. Selama ini saya ke mana yah, kok bisa sampai nggak tau ada website sebagus itu, kuper banget saya πŸ™ˆ tapi rasanya untuk bisa sampai tahap sebagus itu website-nya pasti akan sangat susah. Ditambah topik yang sering saya angkat adalah topik personal, sepertinya nggak begitu menarik pembaca jika dijadikan portal 🀣 jadi mungkin saya akan fokus garap blog ini dulu entah sampai kapan, mungkin sampai ada ide matang untuk membuat sebuah portal 😍

      Terima kasih banyak dukungannya, mba. Lavvv πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  20. Baca beberapa paragraf awalnya sepertinya saya ngga asing lagi sama cerpen ini seperti cerpen dia tapi pas ke sananya kok gayanya sedikit berubah saking penasarannya langsung sroller ke bawah ternyata memang dia tapi kok kenapa cerpennya lempeng ya, apa dia habis salah makan?

    Pelajaran yang didapat dari cerpen ini, berdaganglah dengan santai anggap saja dirimu bos agar bisa mengambil keputusan dan tak selalu bertanya dan juga tak takut kepotong gaji.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha pertanyaan mas Kal sama dengan apa yang saya rasakan awalnya. Kok lempeng ya, tapi ini bukan karena salah makan melainkan karena mas Agus mau mencoba diversifikasi karya sepertinya. Agar bisa lebih banyak genre yang dibuat, means pembaca baru pun semakin banyak harapannya πŸ˜† *hanya dugaan saya* hahahaha.

      Si Jojo masih newbie mas, mungkin takut salah ambil keputusan. Hahahaha. Paling kalau sudah berbulan-bulan kerja juga akan dipercayakan bosnya πŸ˜‚ yang ada bosnya nggak akan visit ke konter setiap hari dan si Jojo bisa lebih leluasa bekerja πŸ˜†

      Delete
  21. Sama kaya yg lain..
    dari tata bahasanya saya sudah menduga walaupun nggak mau menduga juga. dan Yahh.. siapa sangka.. Seperti biasa bagus beud sih, Saya kebetulan penggemar tulisan-tulisan cerpen Mas Agus, walaupun beberapa terakhir udh lama banget nggak mampir ke blog temen-temen..

    Saran sih buat Mas Agus.. "Yang PD donk... Sumpah kalau saya punya 100 jempol. Saya kasih semua jempolnya buat cerpennya.. heheh :)"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya mas, senang kalau mas Bayu suka. Especially mas Bayu memang hobi baca tulisan mas Agus yang seru dan menyenangkan πŸ˜†

      Wish mas Agus baca komentar dari mas Bayu agar bisa semakin PD dan semangat. Siapa tau nanti karena semangat yang diberikan, mas Agus bisa semakin meroket karyanya πŸ˜†

      Delete
  22. Sumpah aku ga nyangka itu tulisan mas Agus wkwkwkwkwk. Aku pikir Mba memang lagi belajar bikin cerpen :p. Di awal aku udh mikir, bagus nih ceritanya. Natural aja ngalir, dan feelny dapet. Gimana susahnya kerja jdi frontliners gitu, dan si bos nyuruh segalanya kita yg urus hahahaha.

    Honestly ini ingetin aku pas awal2 masih kerja sebagai teller, dan ketemu Ama banyaaaaaaak orang kaya baru yg minta digetok dan nasabah2 bule yg ngeyelan parah :p. Semua customer itu slalu aja minta cepet, tapi ga mau trima kalo disuruh nunggu dulu. Dia kira pulsa itu sekejab lgs masuk begitu diinput .

    Jadi frontliners itu , senyum kudu terpasang. Mau segila apapun customernya :D. Jadi yg harus diasah adalah kemampuan untuk bisa bermuka tembok mendengar ocehan customer sengeyel apapun dia :D. Percayalah belajar ngelatih mimik wajah tp senyum ttp terpasang itu ga gampang :p. Tp berguna utk handle customer sulit.

    Eh aku ada cerita kocak pas msh jd frontliners dulu mba. Jadi ada nasabah bule yg terkenal resek tiap DTG ke bank. Semua dari kita udh tau nih bule gila. Ga mau tau aturan bank, dan ga suka dgn yg namanya charge. Maunya ga bayar, udh kayak bank nenek moyang dia.

    Jadi pas suatu hari DTG, dia minta transfer uang ke bank lain di negara dia. Sekian dolar. Aku kshtau dong biayanya brp. Eh kayak biasa, kumat, nolak bayar biaya. Aku lgs pasang muka datar tp senyum :D. Soalnya dulu bosku bilang, senyum WAJIB TERPASANG kalo Ama nasabah. Aku keukeuh itu biayanya. Aku tunjukin lagi tarif dan charges resmi bank. Ga trima, dia minta bicara Ama bosku. Siapa nama bosku.

    Aku jawab ambil senyum, namanya (anggab aja): Julita sir. Eh dia marah lagi. "Saya ga mau ngomong Ama atasan yg Indonesia. Saya mau ngomong Ama bosmu yg namanya bule. Biar dia ngerti apa yg saya mau. Saya ga percaya orang indonesia".πŸ˜‚. Ngapain lu nabung di marih dodol. Pgn ngomong itu sbnrnya aku :p.

    Duuh puyeeng eykee. Laah bos yg bule kan petinggi kelas atas semua. Apalagi kebanyakan di kantor pusat. Akukan di tempatin di cabang pondok indah dulu. Aku keukeuh bilang bos ku yg tertinggi di cab ya itu. Dia ga mau tetep aja minta ngomong Ama bos yg namanya bule. CEO kalian siapa namanya?? Dia nanya gitu. Aji gile mau ngomong Ama CEO. Ketemu juga ga pernah aku hahahaha. Aku sebut CEO saat itu msh org India, namanya pun India banget. Dia ngamuk pas aku sebut. "Saya ga mau nama Asia. Give me western name" . Kampret . Senyumku udh mulai luntur sebenernya.

    Akhirnya mba, aku bilang aja, "oke sir, ada nih bos saya yg namanya bule. Namanya (anggab aja) : Kevin Steward . . Dia happy, langsung nanya, dimana kantornya. Saya mau ketemu.

    Aku jawab aja, di headquarters kami di London sir. Silahkan hubungi beliau. *Senyum tetep terpasang

    Dan dia rasanya pgn nyekek aku mungkin. Trus lgs ngeloyor pergi. Hahahahaha... Harus kayak begitu hadapin customer sarap. :P. Muka tembok :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nggak jago tulis cerpen mba, butuh skill lebih untuk bisa menuliskannya πŸ˜‚ hahahahaha. Eniwei terima kasih sudah membaca ya, mba. Memang kerja jadi frontliner itu nggak mudah, sebab harus ketemu banyak orang dengan karakter berbeda πŸ™ˆ

      OMG baca cerita mba Fanny jadi ikutan gemas sama si bule, sejak kapan coba kirim uang ke luar negeri nggak bayar charge πŸ˜‘ memangnya itu bank nenek moyangnya, even pemilik bank pun saya yakin akan bayar charge saat kirim uang ke luar. Masa si bule yang bukan siapa-siapa sebegitu banyak maunya. Heol, sebal hahahaha.

      Untung mba Fanny tau bagaimana cara menghadapi tipe customer seperti dia. Nggak kebayang ada berapa ribu orang yang sudah mba Fanny temui dengan karakter menyebalkan πŸ˜† tapi namapun kerja, mau nggak mau, suka nggak suka harus profesional. Semoga dari cerita mba, jadi banyak yang aware untuk nggak berlaku seenaknya dengan merasa customer adalah raja πŸ€ͺ

      Delete
  23. Baca awal paragraf saya langsung curiga ini bukan tulisannya Mba Eno πŸ˜‚ trus langsung melipir ke bawah baca penulisnya, ternyata Mas Agus hihihi.. kerenlah Mas Agus, tulisannya bisa ada di blognya Mba Eno 😍, selamet yah Mas Agus. 😁

    Saya malah ngarep Si Jojon manggil Si Dara itu Burung Mba, biar impas πŸ˜‚

    Soal memberi panggilan, diparagraf awal karaternya Si Joanna emang udah ditunjukkan, mudah terintimidasi bahkan oleh rekan kerjanya sendiri. Terus berlanjut sampe ke pelanggan-pelanggannya semua. Si Joanna harus pindah kerja ke bagian humas kayaknya, gak cocok di bagian frontliner. Bisa bangkrut. Karena bisa memberi kesempatan orang yang awalnya ga berniat buruk jadi malah niat mo nipu πŸ˜‚

    Itu si bapak dalam waktu 30 detik udah hilang entang kemana, jangan-jangan beneran pergi ke surga itu Mba hahaha.

    Salah satu resiko beli pulsa di counter emang begitu. Kalo pelayannya cewek, pelanggan yang cowok ngajak kenalan. Kalo pelayannya cowok, dia langsung nyimpen nomer pelanggan cewek trus ngajak kenalan di sms. πŸ˜‚ kenapa saya bilang gitu? karena saya juga pernah pengalaman hihihi..

    Sebenernya saya lumayan greget sama Si Joanna, soalnya setau saya kan kalo kita gak punya barang tapi ada yang nyari dan sayangnya barangnya justru ada di toko sebelah, jadi kalo cara mba-mba disini, dia ke toko sebelah, ngambil barang trus dijual lagi ke pelanggan yang diminta menunggu sebentar di toko kita karena barangnya lagi di gudang (katanya), kan lumayan tuh dapet untung kalo dijual lagi, kan nanti pelanggan balik lagi kalo ditempat kita barang yang dicari ada semua.
    (Oh ya, ini adalah salah satu contoh omelan dari seorang bos ke karyawan) kenapa saya bilang begitu? karena saya pernah diomelin seperti itu, oleh bapak sendiri πŸ˜‚πŸ˜…

    Jadi pelajaran hidup dari cerita hidup Si Jojo adalah Sekali-sekali tukeran posisi sama bosnya, Jojo nya yang main game, Bos nya yang melayani, biar tidak terjadi kesenjangan antar bos dan karyawan πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sapa tau berjodoh Mba πŸ˜‚

      Delete
    2. Ketauan ya mba kalau bukan tulisan saya hahaha. Iya mba, ini karya mas Agus yang tulisannya selalu digemari banyak orang sampai komentarnya always ratusan πŸ˜†

      Eniho, itu maksudnya burung Dara? Hahahaha. Kok bisa kepikiran sih mba, ucul ugha idenya 🀣 well, saya setuju, si Jojo ini tipe yang gampang tertindas makanya jadi sasaran empuk orang-orang. Sepertinya lebih cocok jadi boss saja *eh* hahahaahaha 🀣

      Terus saya ketawaaa dong baca pengalaman mba. I know how it feels, mba. Sebab dulu saya pun pernah mengalaminya. Tiba-tiba dapat SMS nggak jelas ternyata dari tukang pulsa. Thankfully sekarang beli pulsa bisa onlen nggak harus ke konter segala, jadi lebih aman dan nomor kita nggak tersebar sembarangan πŸ˜‚

      Ps: saya setuju ide mba, memang sebaiknya bisnis begitu apalagi kalau Jojo tau di toko sebelah betulan ada barangnya. Jojo bisa pakai metode persentage ke bos, keuntungan dibagi dua karena si Jojo jatuhnya jadi supplier yang harus bolak-balik ambil barang ke toko sebelah πŸ˜‚ mana tau nanti untung besar dan bos Alvin bisa stock aksesoris hape ke depannya ~ ini kenapa pembahasannya jadi serius, yah? πŸ€ͺ

      Delete
    3. Itu maksudnya Jojo berjodoh sama Pak Alvin, mba? Hahahaha. Kalau dari nama tokoh aslinya sebelum diganti jadi Pak Alvin, beliau ini sudah menikah tapi masih suka tebar pesona ke mana-mana. Mungkin mba ada bayangan tokoh aslinya siapa 🀣

      Delete
  24. Makasih banyak ya atas apresiasi teman teman semuanya.πŸ™‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mas Agus lebih PD berkarya. Semoga bisa semakin banyak genre ceritanya especially buat yang nggak berani baca horror hahaha. Semoga bisa diseriuskan hobinya mana tau nanti dipinang publisher major seperti Gramedia. Dan doa-doa lainnya πŸ˜† semangat, mas!

      Delete
    2. Amiiin, makasih doanya mbak Eno. Sebenarnya banyak juga sih genre lainnya di blog saya seperti romansa, terus humor, terus genre dewasa dan tentunya juga horor.πŸ˜‚

      Wah, kalo dipinang penerbit mayor seperti Gramedia sepertinya masih jauh, tapi alangkah senangnya sih jika suatu saat karya saya dipublikasikan disana.πŸ˜€

      Delete
    3. Mungkin genre-nya dipisah pakai menu di side bar, mas. Jadi pembaca bisa pilih mau baca yang horror, romansa, lucuuuk atau lainnya 😍 apalagi koleksi cerpen mas Agus sudah banyak, mana tau ada yang mau baca cerpen-cerpen lama dengan genre serupa, jadi lebih gampang tinggal klik saja πŸ˜†

      Amiiin saya ikut mendoakan semoga karya mas Agus bisa dibukukan oleh Gramedia πŸ˜† you can do it, mas!

      Delete
  25. Duh mba ngingetin sama tetangga saya. Dia masih kecil usia 5 tahun an. Sama bapaknya digundul karena kutunya banyak. Eh sama tetangga lain dipanggil Jono padahal namanya Jeni. Beneran deh definisi dari 'pingin ketawa takut dosa' kalau lihat si Jeni ini dipanggil Jono.
    Mana antingnya belum dilepas. Syok pertama lihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba, salam kenal 😍

      Wah sedih banget sampai digundul, padahal kutu itu ada obatnya, kan? Saya pernah lihat iklannya. Peditox kalau nggak salah ~ hehehe. Mana dipanggil Jono pula padahal anak perempuan. Semoga Jeni nggak merasa kesal dipanggil Jono sama tetangga πŸ™ˆ

      Delete
    2. Mungkin malas ribet ya mba pakai Peditox sebenarnya pakai kapur semut gitu bisa kok saya pernah soalnya ketularan anaknya bos 😁

      Oh ya mba, hikmahnya menurut saya kita bisa kenal banyak orang. Kalau si Joanna ini suka nulis bisa bgt dibikin bahan tulisan terus 'balas dendam' sama orang2 nyebelin di sekitarnya dengan ngebuat mereka sebagai tokoh yang ketiban sial mulu, ikut merasakan apa yang dirasakan Joanna hehehe. Kan sering tuh, penulis, sakit hatinya di dunia nyata, balas dendamnya di dunia fiksi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    3. Kapur semut itu kapur barus ya, mba? Hehehe. Tapi memang kutu itu menyebalkan. Kalau sudah banyak baiknya digundul mungkin menurut ortunya daripada terbang ke rambut orang πŸ™ˆ

      Hahahahaha seriusan ada mba penulis yang dendamnya di dunia nyata namun balasnya di dunia fiksi? Saya nggak pernah membayangkannya tapi mungkin bisa jadi ide bagus untuk Jojo sekalian melepas stres 🀣 for some people, menulis itu healing program soalnya πŸ˜†

      Delete
    4. Iya saya pernah baca salah satu quote gitu, 'ati2 sama penulis. Kalau sampai nyakitin hatinya nama kamu bakal abadi dalam karyanya' 🀣🀣 Bukan mba, kapur semut itu yang mirip kapur tulis gitu, buat bunuh semut, kecoa dll

      Delete
    5. OMG seram ugha, mba πŸ˜‚ tapi ada betulnya hahahahaha mungkin yang baca jadi hati-hati betulan πŸ™ˆ

      Oh I see, saya taunya kapur barus mba, pernah dengar meski nggak lihat bentuknya πŸ˜‚ kalau kapur papan tulis saya tau jaman sekolah pernah lihat. Nah kapur semut ini yang saya nggak ada bayangan seperti apa πŸ˜†

      Delete
  26. Aku baru pernah baca tulisannya mas agus di rmh mbak Eno ini. Emang sering liat komen2nya betebaran di mana2 ehh...
    Rasanya jg blm berkenalan
    ma si mas agus ini...

    But, asyik jg baca cerpennya dg gaya bhs yg simpel tp enak bc..

    Jempol utk mbk Eno..
    membaca komen2 teman dg
    masukannya utk bikin portal online...

    Moga kedepannya blog ini makin brkembang.

    Brasa ribet jg jadi sorang penjual/bekerja di konter HP...
    Mesti sabar, n jiwa melayani :D


    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tulisan pertama mas Agus di blog saya, mba. Semoga mba menikmatinya hehehe eniwei, mba bisa berkenalan dengan beliau, melalui blognya langsung, siapa tau mba suka dengan karyanya πŸ˜†

      Waduh kalau soal portal itu masih jauh diangan-angan mba. Susah untuk menerapkannya karena topik yang saya angkat terlalu personal. However one day semoga bisa mewujudkan ide yang diberikan teman-teman 😍

      Iya mba, kerja jadi frontliner yang harus ketemu banyak orang itu nggak mudah. Entah kenapa selalu adaaaaa saja cobaannya seperti si Jojo dan pengalamannya bersama para pelanggan 🀣

      Delete
  27. Pernah main ke blog mas Agus, tapi belum sempat bertukar sapa. Cerpennya keren. Bahasanya ringan dan alurnya enak untuk diikuti.

    Awalnya, saya kira ini akan dibawah ke ranah horor. Tapi sampai akhir, hanya kayak potongan cerita sehari-hari.

    Sama seperti bang Yoga, saya juga bukan orang yang senang mencari hikmah atau pesan dari sebuah karya tulis. Saya pernah juga bekerja sambilan jualan ikan, bertemu pembelk yang unik-unik. Sama seperti bang Yoga, kayaknya saya akan membuat cerita tiap pembeli dalam satu tema. Sama seperti proyek tulisan yang saya kerjakan, kayaknya akan menarik, jadi kayak film Jakarta Maghrib.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin one day bisa saling bertukar sapa, mas. Eniwei, terima kasih apresiasinya. Semoga mas Agus baca, biar semakin semangat menelurkan karya πŸ˜„ dan iya, cerita ini adalah cerita normal keseharian. Kalau horror nggak akan masuk blog saya, sebab sayanya pasti takut mau baca πŸ˜‚

      Waaah ide yang bagus untuk dikembangkan, mas. Apalagi kalau berdasarkan pengalaman pribadi mas Rahul menjual ikan πŸ˜† semangat menuliskannya, semoga semakin banyak ide yang lahir dari pengalaman yang mas punya ~ νž˜λ‚΄λΌ!

      Delete
  28. Begitu baca paragraf pertama langsung ngeh sih ini bukan tulisan Mbak Eno.. Tapi belum kepikiran kalau ini tulisan Mas Agus karena genrenya beda dan gaya penulisannya pun agak beda.. Tapi paham juga sih karena kalau Mas Agus nulis cerpen horror ntar ngga diacc sama Mbak Eno hahaha..

    Pelajaran yang bisa kita peroleh dari cerita ini adalah,, untuk para calon orang tua hati-hati saat memberi nama anak nanti.. Pilihlah nama yg bagus tapi susah untuk diplesetkan.. Jangan kaya Joanna yang mudah diplesetkan jadi Jojon, atau nama Bara yang waktu SD dipanggil Baroto sama kawan2nya (kebetulan saat itu lagi hype film Jinni oh Jinni yang ada Bos Barotonya), dasar teman-teman gada akhlak huwaaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. You know me so well, mas πŸ˜‚ -- kalau horror pasti saya nggak bisa baca, jadi bagaimana mau publishnya. Yang ada saya takut duluan πŸ™ˆ

      By the way kenapa saya ketawa baca nama Pak Baroto, yah hahahaha. Kenangan masa remaja menonton Jinny oh Jinny dan kerang ajaibnya 🀣 tapi seperti kata mba Thessa, sekeren apapun namanya pasti ada pelesetannya. Even menurut saya nama mas Bara itu keren, tapi tetap saja diplesetkan πŸ˜‚ jahil banget teman-temannya, mas ~ Wk.

      Delete
  29. dulu pas kuliah, saya pernah nyambi kerja di toko komputer sebagai teknisi dan jaga warnet untuk nambah-nambah uang saku. situasi dan ceritanya tak jauh beda dengan apa yang diceritakan mas Agus. selain drama dengan konsumen, ada juga drama dengan toko lain, persaingan bisnis, hingga asmara karyawan.. πŸ˜†

    terima kasih mas Agus, ceritanya mengingatkan saya pada masa-masa itu.. 🀭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget sepertinya kerja sebagai frontliner karena bisa bertemu langsung dengan berbagai macam karakter konsumen yang ada πŸ˜† Meski saya tau, pusingnya nggak kalah banyak, apalagi jika bertemu konsumen rewel. Hehehe. Jadi penasaran bagaimana cerita mas Zam πŸ™ˆ

      Delete
  30. Baca cerpen ini mengingatkan saya pada adik saya yang kerjanya di fotokopian. Kalo pelanggan lagi rame, banyak motor parkir di depan rumah. Herannya saya ngga inisiatif buat nolongin. Soalnya kerja saya lambat dan malah bikin riweh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Nisa,

      Ceritanya jadi mengingatkan adiknya mba, yah? Hehehe πŸ˜† mungkin kapan-kapan bisa berbagi cerita suka duka adiknya kerja di fotocopy-an 😍

      Delete
    2. Ah sesuai dugaanku. Aku udah nebak ini cerpennya mas Agus kali ya, seperti yg diceritakan diblog mas Agus hahaha curang ya πŸ˜…

      Tapi sepertinya ada yg beda ya, dirubah ya, gaya bicaranya kayaknya. Beda dikit biar beda gaya ya hahaha

      Jojo ini meski sering kesal, tapi berusaha tetap ramah lho. Gak jarang mbak2 yang kerja di konter itu pelit senyum dan ketus ketika ditanya. Mungkin udah bosan ya menghadapi pelanggan yang ada aja keajaibannya ya πŸ˜‚ πŸ˜‚
      Salut deh kalau beneran ketemu sama Jojo, karena paling seneng kan kalau dilayani sama orang yang ramah dan sabar menghadapi aku yang suka cerewet nanya macem2 sebelum beli hahaha

      Delete
    3. Mba Kartika berarti baca cerpen mas Agus dulu baru ke sini, ya? Hahaha. Pantas sudah tau meski memang cara penulisannya agak berbeda sebab dicocokan dengan style pembaca blog saya 🀣

      Agree mbaaa, Jojo ini termasuk ramah, karena selalu menjawab setiap pertanyaan dengan senyuman. Kalau ada best worker, mungkin Jojo bisa jadi best worker of the month di konter Pak Alvin hahaha πŸ˜† memang kalau urusan bisnis jasa, keramahan itu menurut saya yang utama πŸ™ˆ

      Delete
  31. Kayaknya komenku sebelumnya gagal terkirim hehehe

    Karakter penulisnya terlihat berbeda dengan blog aslinya hehehe, lemah lembut begini tulisannya. Kalau aku baca blog mas Agus milih siang hari :D. Pernah baca cerpennya, malah kebawa sampe pikiran selama 2 hari, terutama kalo ke kamar mandi, ohhh gara gara cerpen apa itu ya lupa wkwkwk.
    Terbayang bayang Mulu

    Karakter Jojo disini nerimo ae orangnya, pasrah gitu.
    Tapi semangat kerjanya,semangat 45.
    Gemes juga kalau punya bos kayak pak Alvin.

    Aku bingung pelajaran lucunya apa, soalnya udah dijawab sama mba Eno hahahaha

    Kalau aku jadi Jojo, sekali kali si dara dibales juga kerja seharian ga ditemeni di hari hari hectic macam itu hehehe.

    ReplyDelete
  32. Aku langsung menebak dari awal cerita ini pasti yang nulis Mas Agus ~XD mengalir gitu ceritanyaaa :D

    Jadi teringat dengan teman yang sempat bekerja di salah satu konter pulsa seperti ini, dan mengalami lika-liku yang hampir sama dengan yang diceritakan Mas Agus. Katanya nemu banyak pelanggan yang memiliki karakter beda-beda. Bikin makin sabar buat menghadapi orang, katanya :D

    ReplyDelete