Minimize Miscom? | CREAMENO

Pages

Minimize Miscom?

Kemarin, salah satu sohibul gue bertanya, "Coy, bagaimana sih caranya meminimalisir miskom?" Well, miskom sering terjadi karena, satu, nggak mau / nggak bisa jadi pendengar yang baik, dua, terlalu banyak asumsi dan, tiga, nggak fokus pada apa yang dilakukan atau tugas yang diberikan ๐Ÿ˜ Padahal menurut gue, mau di dunia kerja, atau di dunia pertemanan, dan di hubungan antar anak manusia, komunikasi itu penting adanya. Salah satu rahasia dasar sukses, ceunah.

Sayangnya, sering kita nggak paham apa yang dibicarakan atau ditugaskan akibat 3 hal di atas. Bahkan sometimes, kita berkata, "Iya paham." -- padahal aslinya nggak paham that's why terjadi kesalahan ๐Ÿ˜„ So, kalau ditanya bagaimana cara minimalisir miskom, jawaban versi gue adalah belajar mendengarkan. Dan bukan hanya sekedar mendengarkan tapi juga paham konteksnya.

Lantas, apabila kita masih bingung, jangan asumsi sendiri. Ada baiknya langsung tanya, "Oh, jadi maksudnya begini?" -- instead of diam ๐Ÿ˜† It's okay kok guys untuk tanya jikalau memang belum paham, daripada diam pura-pura paham tapi habis itu buat kesalahan karena komunikasi nggak lancar. Itu makanya, di dalam komunikasi yang sehat, sudah sebaiknya kita menjauh dari asumsi personal. Bertanya dan cek ulang pembahasan ataupun tugas yang diberikan ๐Ÿ˜‰

On a side note, asumsi itu bahaya. Bukan hanya di dunia kerja, bahkan di dunia apapun, asumsi itu bisa menyebabkan miskom dan parahnya bisa membuat kita saling berpikiran buruk tanpa sebab ๐Ÿ˜‘ Ujung-ujungnya apa? Kerja jadi nggak nyaman, di dunia pertemanan pun juga bisa jadi bermusuhan, apalagi di hubungan antar anak manusia bisa bubar jalan ๐Ÿ˜‚

Kalau kata pepatah, "Malu bertanya sesat di jalan." Nah kata mate gue, "Asumsi banyak, miskom kemudian." Hahaa. In the end, meskipun susah, tapi nggak ada salahnya dicoba. Andaikata pada akhirnya tetap gagal, seenggaknya sudah pernah usaha sebaik yang kita bisa ๐Ÿ˜ Dan akhir kata, semoga kita semua bisa berkomunikasi lebih baik dengan siapapun lawan bicara kita.

Seperti kata Om Paul J. Meyer,

"Communication - the human connection
is the key to personal and career success."

Yang artinya, komunikasi adalah KUNTJI kalau kita mau sukses di dunia karir dan personal life. Jadi jangan kecil hati, tetap usaha berikan yang terbaik pada setiap komunikasi yang kita miliki, agar kelak nggak ada miskom lagi diantara kita dan orang-orang yang kita sayangi ๐Ÿ˜„
Yesterday, one of my friends asked, "What should I do to minimize miscommunication?" Well, we need to know that miscommunication often occur because, first, we do not want to (or cannot) be a good listener. Second, we have too many assumptions and, third, we are not focus on the things that we should do or the tasks that we got ๐Ÿ˜ whereas in my opinion, in every aspect of this world, from working to friendship and relationships, communication is important ~

Unfortunately, there are many instances where we don't really understand about the things that being said or the tasks that we got because of the 3 points above. And in fact (it often happens), we told them, "Yes, I understand." even though we don't really understand, that's why we ended up makes such a mistake ๐Ÿ˜… So, if you asked how to minimize miscommunication? The answer is by learning to listen. And the main thing is not only listen but also understand.

Albeit, we still confused, then don't make our own assumptions. Better ask, "Oh, is this what you mean?" --- instead of quiet ๐Ÿ˜† Because it's okay to ask, if we really don't understand, rather than pretending to understand but after that, we keep making mistakes because the communication is missing ๐Ÿ˜ That's why, in healthy communication, it would be best to stay away from personal assumptions ~ Ask and ask. And focus to check again our conversation with them.

On a side note, assumption is dangerous ๐Ÿ˜‰ Not only in working area, but in many areas, I think assumption is dangerous because it can cause miscommunication and it will make us think ill of each other without reasons. And then? Work becomes uncomfortable, and if it happens on our friendship, we will end up hating each other ๐Ÿ™ˆ The worse case is.... if it happens in relationship, the possibility to break up will be higher. Can you imagine?

As the saying goes, "If you feel embarrassed to ask the road, you will lost your ways." -- And my mate said, "Too much assumptions, will causing miscommunication." ๐Ÿคช In the end, Although it's hard, it would be better to try. And if still fails, at least we have tried our best ๐Ÿ˜ and hopefully, we can having a good communication with whoever we are talking to.

Just like Paul J. Meyer said,

"Communication - the human connection
is the key to personal and career success. "

Which means, communication is a KEY if we want to succeed in our careers and personal lives. Please don't be discouraged. Keep trying to give our best for every communication that we have, so that someday there will be no miscommunication between us and the people we care ๐Ÿ˜„๐Ÿ’“
์–ด์ œ ์นœ๊ตฌ ์ค‘ ํ•œ๋ช…์ด "์ž˜๋ชป๋œ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์„ ์ตœ์†Œํ™”ํ•˜๋ ค๋ฉด ์–ด๋–ป๊ฒŒ ํ•ด์•ผํ• ๊นŒ?" ๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์–ด๋ดค์–ด์š”. ์Œ, ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์™œ ๊ทธ๋Ÿฐ ์ผ์ด ์ž์ฃผ ๋ฐœ์ƒํ•˜๋Š”์ง€ ์•Œ์•„์•ผ๋˜์š”. ๋จผ์ €, ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์ž˜ ๋“ค์œผ๋ คํ•˜์ง€ ์•Š์•„์š”. ๋‘˜์งธ, ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ๋„ˆ๋ฌด ๋งŽ์€ ๊ฐ€์ •์„ ๊ฐ€์ง€๊ณ  ์žˆ๊ณ , ์…‹์งธ, ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ํ•ด์•ผํ•  ์ผ์ด๋‚˜ ์—…๋ฌด์— ์ง‘์ค‘ํ•˜์ง€ ์•Š์•„์š”. ๐Ÿ˜ ์ œ ์ƒ๊ฐ์— ์ผ์—์„œ ์šฐ์ • ๋ฐ ๊ด€๊ณ„๊นŒ์ง€ ์„ธ์ƒ์˜ ๋ชจ๋“  ์ธก๋ฉด์—์„œ ์ปค๋ฎค๋‹ˆ์ผ€์ด์…˜์€ ์ค‘์š”ํ•ด์š” ~

๋ถˆํ–‰ํžˆ๋„, ์œ„์—์„œ ๋งํ•œ ์„ธ๊ฐ€์ง€ ์™ธ์—๋„ ์ˆ˜๋งŽ์€ ๊ฒƒ๋“ค์ด ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์„ ๋ฐฉํ•ดํ•ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  (ํ”ํžˆ๋ฐœ์ƒํ•จ) ์ดํ•ดํ•˜์ง€ ๋ชปํ–ˆ๋”๋ผ๋„ "์ดํ•ดํ–ˆ์–ด์š”" ๋ผ๊ณ  ๋Œ€๋‹ตํ•ด์š”. ๊ทธ๋ž˜์„œ ๊ฒฐ๊ตญ ์‹ค์ˆ˜๋ฅผ ๋ฐœ์ƒํ•˜์ฃ  ๐Ÿ˜„ ๊ทธ๋ž˜์„œ ์˜คํ•ด๋ฅผ ์ตœ์†Œํ™”ํ•˜๋ ค๋ฉด ๋“ฃ๋Š” ์—ฐ์Šต์„ ํ•ด์•ผ๋˜์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๊ทธ ๋‹ค์Œ์€ ๋“ค์–ด์„œ๋งŒ ์•ˆ๋˜๊ณ  ์ดํ•ด๋ฅผ ํ•ด์•ผ๋˜์š”

๊ทธ๋Ÿผ์—๋„ ๋ถˆ๊ตฌํ•˜๊ณ , ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ์—ฌ์ „ํžˆ ๋‹ค๋ฅธ์‚ฌ๋žŒ์˜ ๋ง์— ํ˜ผ๋ž€์Šค๋Ÿฝ๊ณ , ๊ทธ๋Ÿฌ๋ฉด ๊ฐ€์ •ํ•˜๊ณ  ๊ฐ€๋งŒ์žˆ๋Š” ๋Œ€์‹  "์˜ค, ์ด๊ฒŒ ๋ฌด์Šจ์˜๋ฏธ์•ผ?" ๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์–ด๋ด์•ผ๋˜์š” ๐Ÿ˜† ์™œ๋ƒํ•˜๋ฉด ์ •๋ง ์ดํ•ด๋ฅผ ๋ชปํ–ˆ๋‹ค๋ฉด ๋ฌผ์–ด๋ด์•ผ๋˜๋Š”๋ฐ ๊ทธ๋Ÿฌ์ง€ ๋ชปํ•ด์„œ ์‹ค์ˆ˜๊ฐ€ ๋‚˜์˜ค๊ฒŒ ๋˜๊ฑฐ๋“ ์š” ๐Ÿ˜„ ๋”ฐ๋ผ์„œ ์›ํ™œํ•œ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์—์„œ๋Š” ๊ฐœ์ธ์ ์ธ ๊ฐ€์ •์„ ๋ฐฐ์ œํ•˜๋Š”๊ฒƒ์ด ๊ฐ€์žฅ ์ข‹์•„์š” ~ ๋ฌป๊ณ  ๋˜ ๋ฌผ์–ด๋ณด์„ธ์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ง‘์ค‘ํ•˜๊ณ  ํ™•์ธํ•˜๊ณ  ๋…ผ์˜ํ–ˆ๋˜ ๋‚ด์šฉ์„ ๋‹ค์‹œ ํ™•์ธํ•ด์•ผ๋˜์š”.

๋ง๋ถ™์—ฌ, ๊ฐ€์ •์€ ์œ„ํ—˜ํ•ด์š” ๐Ÿ˜‰ ์ผ์˜ ์˜์—ญ ๋ฟ๋งŒ์ด ์ด๋‹ˆ๋ผ ์–ด๋–ค ๋ถ„์•ผ๋“  ๊ฐ€์ •์€ ์˜คํ•ด๋ฅผ ๋ถˆ๋Ÿฌ์˜ค๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์— ์œ„ํ—˜ํ•ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์˜คํ•ด๋Š” ์„œ๋กœ๋ฅผ ์ด์œ ์—†์ด ์ž˜๋ชป์ƒ๊ฐํ•˜๊ฒŒ ํ• ๊ฑฐ์—์š”. ๊ทธ๋Ÿฌ๊ณ  ๋‚˜์„œ๋Š”์š”? ์ผ์ด ๋ถˆํŽธํ•ด์ง€๊ณ  ์นœ๊ตฌ์‚ฌ์ด์— ๊ทธ๋Ÿฐ์ผ์ด ๋ฐœ์ƒํ•˜๋ฉด ์„œ๋กœ๋ฅผ ๋ฏธ์›Œํ•˜๊ฒŒ ๋˜์š” ๐Ÿ™ˆ ๊ฐ€์žฅ ์•ˆ์ข‹์€ ๊ฒฝ์šฐ๋Š”.... ๊ด€๊ณ„์—์„œ ์ผ์–ด๋‚˜๋Š” ๊ฑฐ์—์š”. ๊ฐ€์žฅ ๋‚˜์œ ๊ฒฝ์šฐ์—๋Š” ํ—ค์–ด์งˆ ๊ฐ€๋Šฅ์„ฑ๋„ ์žˆ์–ด์š”. ์ƒ์ƒ์ด๋˜์„ธ์š”?

"๊ธธ์„ ๋ฌป๋Š”๊ฒŒ ์ฐฝํ”ผํ•˜๋‹ค๊ณ  ๋Š๋‚€๋‹ค๋ฉด ๊ธธ์„ ์žƒ์„ ๊ฒƒ์ด๋‹ค" ๋ผ๋Š” ๋ง์ฒ˜๋Ÿผ, ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ œ ์นœ๊ตฌ์˜ "๋„ˆ๋ฌด ๋งŽ์€ ๊ฐ€์ •์€ ์˜คํ•ด๋ฅผ ๋ถˆ๋Ÿฌ์˜จ๋‹ค" ๋ผ๋Š” ๋ง์ฒ˜๋Ÿผ์š” ๐Ÿคช ๊ฒฐ๊ตญ ์–ด๋ ต๊ฒ ์ง€๋งŒ ์‹œ๋„ํ•ด์•ผ๋˜์š”. ์‹คํŒจํ•œ๋‹ค ํ•ด๋„ ์ ์–ด๋„ ์ตœ์„ ์€ ๋‹คํ•œ๊ฑฐ๋‹ˆ๊นŒ์š” ๐Ÿ˜ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์ข‹์€ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์„ ๋‚˜๋ˆ„๊ธธ ๋ฐ”๋ž˜์š”.

Paul J. Meyer ๊ฐ€ ๋งํ•œ๊ฒƒ ์ฒ˜๋Ÿผ์š”

"์˜์‚ฌ์†Œํ†ต - ์ธ๊ฐ„๊ด€๊ณ„๋Š”
๊ฐœ์ธ๊ณผ ์ปค๋ฆฌ์–ด ์„ฑ๊ณต์˜ ์—ด์‡ ๋‹ค "

์ฆ‰, ์ปค๋ฆฌ์–ด์™€ ๊ฐœ์ธ ์ƒํ™œ์—์„œ ์„ฑ๊ณตํ•˜๊ธฐ ์œ„ํ•ด์„œ๋Š” ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์ด KEY๋ผ๋Š” ๋ง์ด์—์š”. ๋‚™์‹ฌํ•˜์ง€ ๋งˆ์„ธ์š”. ์ตœ์„ ์„ ๋‹คํ•ด์„œ ๊ณ„์† ์‹œ๋„ํ•˜์„ธ์š”. ์–ธ์  ๊ฐ€๋Š” ์šฐ๋ฆฌ์™€ ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ๋Œ๋ณด๋Š” ์‚ฌ๋žŒ๋“ค ์‚ฌ์ด์— ์ž˜๋ชป๋œ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต์ด ์—†์–ด์งˆ๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜„๐Ÿ’“

48 comments:

  1. kadang pas komunikasi, ada yang suka terbentur dengan orang secara personal tidak kita sukai. dalam pekerjaan pun sering terjadi gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau benturannya sudah terlalu personal padahal di dunia kerja jatohnya jadi nggak sehat ya mas hehehe. Padahal seharusnya berusaha profesional meski kita mungkin harus berurusan dengan orang yang nggak kita suka ๐Ÿ˜

      Delete
  2. "Asumsi" ini emang banyak jadi penyebab miskomunikasi Ya Mbak. Aku setuju banget.

    Aku dari dulu kerja di bagian Sales and Marketing sering misscom dengan orang produksi sebab mereka suka berasumsi sendiri. Untuk meminimalis akhirnya aku menciptakan system untuk departemenku yaitu sebelum ada gambar mereka tidak bileh menebak-nebak. Dnegan gambar kita lakukan verifikasi bareng istilahnya biar kita "bicara tentang hal yang sama".

    Sampai sekarang pun kadang masih aja ada begitu aku mulai bisnis sendiri. Karena tahu sendiri orang sales itu secara personal kek gimana maunya cepet cepet cepet dan bagus! Produksi berkata lain hahahaha.

    Dalam pertemanan dan juga hubungan suami istri juga demikian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, asumsi ini memang paling sering jadi alasan dari segala macam penyakit. Entah miskom, entah julid, dan lain sebagainya hihihi. Even di luar perihal komunikasi, semisal ada teman tulis story apa, kita asumsinya apa, eh kita sakit hati dikira untuk kita, ternyata ujungnya salah paham ๐Ÿ˜‚ padahal sebelum asumsi, ada satu proses yang dinamakan bertanya untuk memastikan. Tapi kebanyakan dari kita, melewatkan proses itu dan langsung main asumsi saja ๐Ÿ˜

      Nah, dalam usaha pun sama mba. Kadang staff atau team member suka asumsi tanpa bertanya sampai jelas. Mereka kadang berpikir mereka sudah 100% paham, tapi ternyata nggak sepenuhnya paham. Alhasil jalurnya jadi berbelok arah dari tujuan awal. That's why, saya selalu bilang ke circle saya, untuk tanya dulu sampai paham konteksnya baru eksekusi. Biar nggak wasting time juga ๐Ÿ˜ soalnya kalau sudah salah jalan, akan makan waktu lama untuk mengembalikan ke jalur awal ๐Ÿ˜…

      Dan begitu pula dalam pertemanan maupun hubungan dua anak manusia. Kalau sudah main asumsi, terus ribut dan marah-marah sendiri, eh ternyata salah. Kan jadi wasting energy hehehe. Semoga kita belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik lagi ๐Ÿ˜„ saya tentu juga masih belajar sampai saat ini~

      Delete
  3. #garukgarukkepala

    Bener kata Eno kata kuncinya belajar

    * belajar mendengarkan
    * belajar mengemukakan pendapat dengan cara yang bisa diterima orang lain
    * belajar cara menekan ego sehingga bisa menerima pemikiran orang lain
    * belajar memahami konteks (situasi dan kondisi saat berkomunikasi)
    * belajar memahami cara berkomunikasi di perangkat yang berbeda

    Masalahnya, terlihat sederhana tetapi komunikasi itu sesuatu yang kompleks karena kadang bergantung juga pada ego.

    Ketika berhadapan dengan orang yang kita sukai, biasanya komunikasi lancar, tetapi kalau dengan yang tidak, biasanya saling jaga jarak dan sejak awal sudah bersiap untuk "berperang".

    Penilaian dan kemauan berkomunikasi sejak awal sudah nggak netral.

    #makingarukgarukkepalakarenanggakngertiharuskomentarapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas ๐Ÿ˜

      Semakin ditilik, ternyata semakin panjang list-nya ๐Ÿ˜‚ Pada akhirnya sadar kalau hidup adalah soal belajar, apalagi jika ingin punya komunikasi yang sehat dengan circle kita (teman, keluarga, kerabat, rekan kerja dan lain sebagainya) ๐Ÿ™ˆ hehehehe.

      Oh dan persoalan ego ini benar adanya ๐Ÿคช Kadang hanya karena ego semata, jadi lupa cara berkomunikasi yang sehat dan bijak ๐Ÿ˜… -- thanks for the insight mas, jadi ada tambahan ๐Ÿ˜

      Ps: itu komen sudah panjang lho, mas ๐Ÿ˜‚

      Delete
  4. Aku sempat mikir postingan ini untuk edit layer mbaa hahaha, alhasil liat mba balas komenan aku mantap berkomentar wkwk.

    Kalau asumsi sama tugas yang dikasih dosen aku pernah mba haha, soalnya dia ngasih tugas lewat email and minim penjelasan, thankfully asumsinya nggak salah, dosen killer kan bikin mahasiswa takut bertanya mba. Kalau dalam kehidupan sehari-hari aku selalu nanya kok kalau nggak paham, apalagi kalau disuruh si mamak ngerjain sesuatu, harus jelas dulu. Kalau dalam pertemanan aku juga nggak ada asumsi aneh-aneh deh sama mereka. Seperti yang mba bilang komunikasi adalah kontji wkwk, kalau ada yang nggak sreg aku lansung chat mereka, nanya lansung, kayak jarang aktif walaupun aku juga jarang, tapi sometimes aku tanya, lagi sibuk bnaget apa gimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, mba Sovia sepertinya sudah kenal cara saya blogging yah ๐Ÿคฃ Sampai hapal kadang saya update untuk edit layout doang ๐Ÿ™ˆ

      Iya mba, alasan terpaling sering kenapa orang nggak mau bertanya itu karena yang ditanya terlihat menyeramkan ๐Ÿ˜‚ Tapi next time kalau pun yang dihadapi adalah dosen / boss / clients killer, ada baiknya tetap bertanya. Karena kalau salah, akibatnya lebih fatal (tau sendiri yang killer-killer lebih seram) ๐Ÿคช

      Semoga kita bisa selalu menjaga komunikasi kita dengan baik, pada siapapun orang-orang yang ada di hidup kita, mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’• -- karena persoalan komunikasi ini, kalau sukses bisa buat hidup lebih mudah, tapi kalau gagal, bisa buat hidup susah ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  5. Halo ka eno, apa kabar? Lama sekali saya tidak silaturahmi kesini... Lagi lagi saya harus berucap maafkan Yaaa, huhuhu

    I don't know why, pembahasan kak eno kali ini kok sejalan sih sama konflik yg sempat saya alami dengan sahabat dan pasangan beberapa waktu yg lalu.

    To be honest, rasanya dunia seakan sudah runtuh dan bak dilempari kulit durian bertubi tubi. Penyebabnya? Tentu si miskom ini. Salah persepsi dan asumsi dikarenakan mood dan momentnya pas banget.
    Akhirnya, saling menjauh beberapa saat dan saling intropeksi lalu bermaafan, menghasilkan output yang baik.

    Kadang, kita ga bisa menghindari miskom . Tapi lewat miskom kita ( saya) jadi tau seperti apa dan bagaimana orang yg terlibat miskom dg saya itu. hubungan juga berjalan jadi jauh lebih baik.

    Thanks for sharing ka eno

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Eka, it's okay mbaaa ๐Ÿ˜๐Ÿ’•
      Terima kasih sudah mampir hihi.
      Kabar saya baik, semoga mba juga yah.

      Wah semoga konflik mba bersama pasangan dan sahabat bisa diselesaikan dengan baik, karena persoalan miskom ini acapkali terjadi dan kadang bisa membuat hal kecil jadi besar dan sengit ๐Ÿ™ˆ hehehe. However, saya yakin, mba beserta pasangan dan sahabat punya cara untuk menyikapinya dengan baik dan semoga konflik yang sama nggak terulang lagi ๐Ÿ˜

      Betul, nggak selamanya kita bisa menghindari miskon. Jika pada akhirnya miskom itu tetap terjadi, salah satu cara untuk menyelesaikannya adalah dengan berbicara baik-baik, dan memahami konteks permasalahan agar bisa diselesaikan tanpa harus menyakiti satu sama lain ๐Ÿ’•

      My pleasure mba, terima kasih sudah baca ๐Ÿ˜

      Delete
  6. Betuul, aku kalo abis dengerin orang atau orang ngasih instruksi, kalo ga paham pasti langsung nanya atau menjelaskan ulang takutnya salah tangkap, tapi kadang justru sebaliknya, ketika udah kujelaskan ulang, kok kyknya si lawan bicara kyk yg iya iya aja tp ga meyakinkan, hahaha...

    Miskom emang selalu menjadi hal yang aku kuatirkan, karena seringkali nulis sesuatu dengan maksud A malah dibaca orang jd B, makanya kalo tiap nulis kadang suka jadi over explain ampe jadi ga fokus maksud tulisannya, itu semua karena takut tulisanku kurang jelas dan jadi miscom,

    Tapi sekarang mulai disingkat-singkat aja tulisannya, kalo kurang jelas, berharap dikomen aja dgn pertanyaan-pertanyaan, biar komennya rame, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari buku yang pernah saya baca, ketika kita menerima intruksi dan nggak jelas intruksinya apa, kita perlu bertanya untuk mencari kejelasan. However, jika posisi kita adalah sebagai pemberi intruksi namun si penerima nggak paham maksud kita apa, that's the time kita perlu ubah cara komunikasi kita agar si penerima intruksi lebih paham ๐Ÿ˜

      Pada prinsip yang saya pegang hampir sama, ketika seseorang nggak paham dengan maksud dari kata-kata saya, yang salah bukan yang menerima kata-kata, tapi cara saya dalam menyampaikannya. Jadi, saya yang perlu berusaha lebih keras dalam belajar menyampaikan maksud dan tujuan. Dengan begitu, kita nggak terus-terusan pointing fingers ke orang, alias kitanya sendiri yang usaha entah itu mencari kejelasan, atau memberi penjelasan ๐Ÿ™ˆ

      By the way, I feel you Ady, sometimes saya kawatir ada yang salah paham dengan apa yang saya tuliskan ๐Ÿ˜… Bisa jadi maksud saya A, diterimanya B, apalagi kalau yang baca hanya selewat-selewat. Kalau sudah begitu, saya hanya perlu pakai jurus mas Anton Maniak Menulis yaitu terus menulis, kalau kebanyakan kawatir nanti nggak jadi-jadi mau menulis hahaha ๐Ÿคช -- dengan harapan, kalau ada yang nggak jelas, pembaca bisa bertanya di kolom komentar, just as Ady wish ๐Ÿคญ

      Delete
    2. Hahaha.. iya makanya, mungkin aku tuh harus biasain sering bicara kali ya. soalnya aku ga terlalu suka banyak bicara :(

      Yeah, just like i wish, mungkin kedepannya akan sengaja bikin-bikin tulisan yg bikin orang pengen nanya, haha... :p

      Delete
    3. Iya, saya pun nggak begitu suka bicara Dy, tapi untuk hal-hal yang perlu dibicarakan, ada baiknya dibicarakan. Daripada jadi masalah ๐Ÿ˜‚

      Semangat menulis Ady, senang Ady update setiap hari ๐Ÿ˜

      Delete
  7. Komunikasi dapat meningkatkan hubungan baik kita dengan pasangan, keluarga, rekan kerja, n atasan. Meminimalkan salahpaham, dan tentunya membuat org lain senang.

    Ya, seperti poin2 yg sdh mba Eno
    jelaskan di atas..

    Komunikasi dua arah penting banget!

    Diam n dengar. Aku paling suka, klo bicara dgn stafku di kantor, jika mereka fokus, diam n dengar. Paling tdk mrk mengerti apa yg dimaksud.

    Jgn sampai sudah selesai, gak ngerti tugas yg dikasih.
    Udah itu gak mau bertanya๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba Ike, dengan kita belajar lebih serius soal komunikasi, kita jadi bisa menjauh dari drama-drama miskom dan sejenisnya ๐Ÿ˜…

      Saya akui, belajar komunikasi nggak mudah, tapi karena komunikasi ini essential jadi sebisa mungkin, kita nggak menutup mata, karena komunikasi berperan penting pada hubungan kita terhadap siapapun yang ada di sekitar kita. Mungkin sambil pelan-pelan belajar memahami konteks dari setiap kata ๐Ÿ˜

      Hehehehe. By the way, semakin rajin saya baca tulisan teman-teman, saya semakin bisa memahami makna. Which is one of the good things from blogging, yah ๐Ÿ˜ -- semoga kita bisa terus upgrade cara berkomunikasi kita. Semangat and thanks for sharing your story, mba ๐Ÿ’•

      Delete
  8. ini banyak benernya, lagi lagi komunikasi adalah kunci, aku sering banget dapat wejangan soal komunikasi hahahaha.
    pokoknya dimana mana komunikasi yang baik, karena aku juga sering berhubungan dengan pihak luar, yang mana kudu pinter pinter cara ngomongnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, ilmu komunikasi sangat perlu untuk dipelajari karena itu kebutuhan dasar kita agar dapat berinteraksi dengan baik pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan sampai kita salah paham, atau justru menyakiti orang dengan kata-kata kita ๐Ÿ™ˆ

      Yuk kita sama-sama belajar, mba ๐Ÿ˜

      Delete
  9. Asumsi ini benar-benar masalah utama terjadinya miscom. Aku bahkan pernah mengalaminya dalam hubungan pertemanan, Kak. Ada teman yang berasumsi macam-macam atas suatu kejadian, lalu setelah diberi penjelasan, malah tetap kekeuh dengan asumsinya. Alhasil, orang-orang jadi malas untuk menjelaskan lebih detil dan jadi malas berteman sama dia ๐Ÿ˜‚. That is bad. Jadi renggang hubungan pertemanan karena dia termakan asumsinya sendiri yang tentunya tidak benar ๐Ÿ˜ข. Aku jadi teringat akan quotes yang berkata : kata-kata itu netral, asumsi kita yang membuatnya negatif.

    Nah, kalau dalam hal kerjaan, aku akan selalu make sure saat aku nggak yakin akan tugas yang diberikan. Memang mungkin kesannya menyebalkan karena seperti mengulang-ulang pernyataan, tapi sebenarnya maksud hati ingin memastikan kembali supaya nggak terjadi kesalahan gitu ๐Ÿ™ˆ

    Kak Eno, terima kasih karena selalu mengingatkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik ♥️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam dunia pertemanan, sering banget terjadi miskom, Lia. Karena segan mau tanya, alhasil asumsi yang nggak nggak. Padahal kalau tanya akan lebih mudah, dan nggak harus menguras energi serta pikiran ๐Ÿ˜ -- however, pada usianya, itu terbilang normal, karena dulu kita nggak pernah belajar mengenai bagaimana cara komunikasi yang benar, seenggaknya topik itu jarang atau bahkan nggak pernah diajarkan di sekolah ๐Ÿ˜‚ that's why hanya yang memiliki privilege berkuliah di jurusan komunikasi mungkin yang betul-betul paham ilmu komunikasi dengan sesama manusia ๐Ÿ™ˆ

      Thankfully sekarang akses ke internet lebih mudah, banyak pula yang mau share perihal ilmu komunikasi dan kita yang nggak tau sebelumnya jadi tau, terus kita pun pelan-pelan belajar upgrade cara kita berinterkasi dengan sekitar. Hehehe. Semoga temannya Lia suatu hari nanti sadar kalau asumsi yang dia punya bisa membuat jurang dalam pertemanan yang dipunya ๐Ÿ˜

      I know rite, berhubung kakak sudah pernah kerja sama dengan Lia satu kali, kakak jadi tau kalau Lia termasuk bagus komunikasinya, karena selalu makesure poin penting dalam sebuah pekerjaan sudah Lia pahami dengan sempurna ๐Ÿ˜ keep it up, dear ๐Ÿ’•

      Delete
  10. Aina kayaknya pernah menyinggung ini tapi dalam konteks yang berbeda. Tentang mendengarkan. Ah, saya pikir mayoritas dari kita didesain untuk terus merespon apa yang kita dengar. Padahal, konteks secara keseluruhan belum dikatakan secara utuh oleh penutur. Ini semacam komunikasi dalam debat, yang punya aturan dan durasi bicara.

    Kejadian serupa sering kami alami, pada penghujung mata kuliah. Biasanya dosen akan bertanya perihal tugas yang baru dijelaskan dan diberikan,"sudah paham?"

    Karena tidak ada yang berani bicara, kami kerjanya sambil bingung. Pada akhirnya yang bergerak Ketua Tingkat lagi untuk nanya ulang ke dosen ๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Rahul, kebanyakan dari kita sepertinya sulit untuk mendengarkan. Even ketika bercakap-cakap, lebih suka memotong pembicaraan tanpa sadar ๐Ÿ˜‚ my bad, saya pun pernah melewati masa-masa demikian. However, pelan namun pasti, saya mulai belajar menjadi pendengar yang baik, nggak memotong ketika seseorang bicara, dan on top of that, belajar memahami konteks yang dibicarakan ๐Ÿ˜

      Wahahaha, apa yang mas Rahul ceritakan sangat sering terjadi di kehidupan baik sekolah mau pun kerja. Mostly karena nggak berani tanya entah itu ke dosen, guru atau atasan. Semoga ke depannya, mas Rahul lebih berani speak up, dan bertanya kalau nggak paham, dengan belajar membangun kebiasaan itu, ke depannya, tentu menjalani hidup akan terasa lebih mudah. Karena kita nggak perlu terus berasumsi, dan kejeblos di area yang salah ๐Ÿคฃ

      Semangat, mas!

      Delete
  11. Betul banget, karena aku sering lihat orang sekelilingku ribut-ribut, padahal masalah komunikasi aja yang kurang oke.

    Btw aku salfok di ending paragraf 1. Mbaknya orang sunda kah? kulihat ada kata 'ceunah'. Trus kepo ganti tulisan versi inggris, ternyata gada transletnya wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, semoga semakin ke sini, kita bisa semakin paham kalau dengan memahami cara komunikasi, bisa membuat kita jauh dari keributan ๐Ÿ˜‚ semangat mas, saya pun masih belajar ๐Ÿ˜†

      Bukan mas, cuma kata ceunah itu sering saya dengar dari sahabat baik saya jadi iseng saya tuliskan hehe ๐Ÿคฃ too bad no english for ceunah ๐Ÿ˜

      Delete
  12. bacanya sudah semalam, tapi lupa nulis komen karena keasyikan ngobrol bareng teman..hahhaaa
    "Asumsi itu bisa membunuhmu", itu salah satu tulisan di kantor sebuah startup yang temui pada tahun 2016.
    Setelah itu sering mikir makna tulisan itu. Dan ternyata benar adanya, karena sebuah asumsi akan membawa pikiran-pikiran kita jauh melenceng dari apa yang sebenernya terjadi. Saat ini sudah mengurangi asumsi.

    Menjadi pendengar yang baik memang ga mudah, tapi bisa dipelajari. Tapi kadang hanya perlu sabar, perhatikan, dan berikan waktu kepada orang lain untuk menyelesaikan apa yang dikatakan, tanpa perlu memotongnya.
    kalau baca tulisan seperti ini merasa tersentil dan diingatkan untuk belajar "Jadilah pendengar yang baik"

    makasih mbak eno.
    mari kita jadi pembaca dan pendengar yang baik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman apa temaaaaan, mas ๐Ÿ˜

      By the way, bagus tuuuh start up-nya hehehe, asumsi memang nggak oke apalagi dilakukan pada profesional kerja. Seriously bisa 'membunuh' kita. Semisal kita ambil keputusan berdasarkan asumsi yang nggak jelas, hanya karena kita nggak mau bertanya, dan kita ended up kehilangan clients, partners, jobs, dan lain sebagainya, itu akan fatal ๐Ÿ˜…

      Iya mas, jadi pendengar yang baik nggak mudah, karena basicnya manusia lebih suka bicara. Tapi pelan-pelan bisa dipelajari, masalahnya mendengar saja nggak cukup tanpa memahami konteks hehe ๐Ÿ™ˆ --- semoga kita bisa punya komunikasi yang sehat bersama orang-orang di sekitar kita ya, mas ๐Ÿ˜

      Dan terima kasih sudah membaca ๐Ÿ˜†๐Ÿ‘

      Delete
    2. teman mess mbak, teman yang itu sudah ketiduran. kecapekan pulang kerja terus kehujanan. Jadi yaa mending istirahat aja..hahhahaha
      *tetap dibahas wkwkkwkkwkk

      Selain itu, ada kalimat yang cukup menohok, yaitu "Mikir itu pakai Otak!!"
      Kemudian berpikir, yaa emang bener sih. Ga mungkin kalau mikir pakai asumsi, perlu otak untuk mengolah data-data agar jadi sebuah pemikiran..hehhehe

      iyaa mbak eno. Sedang berusaha ke tahap itu :D

      Delete
    3. Oh yang itu ketiduran, I see ๐Ÿ˜‚
      Yang itu yang mana coba *dibahas*

      Duh sadis banget yang ngomong, "Mikir pakai otak." Apalagi kalau tambah embel-embel, "Jangan pakai dengkul." -- Menyebalkan ๐Ÿ˜…

      Semangat, mas!

      Delete
  13. Yaa bicara soal miskomunikasi banyak penyebabnya sebenarnya, Karena Miskomunikasi bisa terjadi dalam hal lingkungan kerja, Keluarga, Dan Lingkungan pertemanan serta lainnya.
    Pada intinya sebenarnya cobalah untuk selalu menyampaikan informasi dengan cara yang sederhana tapi efektif. Sehingga mudah dipahami oleh rekan kita, Baik Likungan kerja, Pertemanan dan lain2nya...Jadi tidak hanya untuk komunikasi tertulis saja, tapi juga untuk komunikasi verbal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya suhu, penyebabnya banyak banget memang ๐Ÿ™ˆ

      Nah itu, susah susah gampang untuk sampaikan informasi dengan cara sederhana namun efektif. Kadang sudah mencoba sederhana tapi jatuhnya nggak efektif karena nggak jelas apa yang dibahas ๐Ÿ˜‚ hehehe. Persoalan komunikasi ini memang kadang bisa buat pusing kepala ๐Ÿ˜

      However, terima kasih insightnya!

      Delete
  14. Mendengarkan untuk memahami. Bertanya jika tak paham. Terdengar simpel. Tapi banyak yang menyepelekannya hingga terjadi kesalahpahaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mba, banyak yang menyepelekan, karena merasa sudah paham, padahal bisa jadi nggak paham apa yang dibicarakan ๐Ÿ˜

      Delete
  15. Asumsi ternyata bahaya ya mbak karena bisa menyebabkan mis komunikasi. Ada baiknya memang bertanya langsung jika ada yang belum jelas atau belum paham.

    Tapi kadang kalo mau tanya ke orangnya langsung kalo tidak terlalu kenal dengannya agak sungkan juga. Tapi demi komunikasi yang lancar maka buang rasa sungkan itu, kalo tidak maka hanya akan muncul asumsi asumsi terus yang belum tentu benar ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, bahaya kalau keseringan hehehe.
      Semoga kita nggak sering-sering asumsi mas ๐Ÿ˜‚

      Kalau misalnya kita nggak terlalu kenal dan sungkan bertanya, ada baiknya kita nggak perlu asumsi apa-apa. Dan nggak perlu memusingkan hal-hal yang sebetulnya nggak perlu ditanya ๐Ÿคฃ

      Daripada asumsi asal-asalan, terus ternyata salah ๐Ÿคช

      Delete
  16. Komunikasi.
    Bahkan yang nggak bisa ngomong aja belajar bahasa isyarat demi pentingnya komunikasi ya, apalagi yang normal tapi nggak mau komunikasi (eh si rey curcol hahahaha).

    Betul sekali, terlalu banyak asumsi, salah paham deh.
    Kalau saya biasanya terlalu cepat bilang iya, nggak didengarkan dulu, abis itu salah paham deh :D

    Tapi kalau paksu justru diam aja biar nggak paham, akhirnya dia pake asumsi sendiri deh, padahal salah :D

    mending ngomong langsung, to the poin, jangan berbelit-belit.

    Kalau saya, biasanya nanya ulang yang jelas, atau bahkan meyakinkan kembali apa yang saya pahami, biar nggak ribet.

    Rugi amat soalnya kalau waktu habis cuman buat salah paham :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuahaha, mba Rey mendadak curcol ๐Ÿคฃ

      Betul mba, baiknya bicara langsung, bertanya langsung, daripada asumsi yang salah. Nanti selain merugikan orang lain, akhirnya akan merugikan diri sendiri hehehehe. Bisa buang waktu dan tenaga, padahal sebenarnya konteks yang dihadapi sangat sepele ๐Ÿ˜

      Seperti yang mba bilang, rugi waktu habis untuk salah paham ๐Ÿ˜‚

      Delete
  17. Itulah kenapa aku benci kalo hrs ngasih kode2an ke pasangan demi berharap dia bisa ngerti aku mau apa :p. Yg ada, pasangan ga ngerti, akunya makin meradang :p. Kan mendingan di awal aku to the point aja maunya apa :p.

    Aku terbiasa blak2an memang mba. Kalo marah, ya lgs aja aku ksh tau penyebabnya apa. Biar temen/rekan kerja,/ pasangan tau kenapa aku marah. Kalo ditanya mau apa, ya aku sebut jg maunya ini loh. Ga ush pake bilang "terserah kamu aja". Wkwkwkwkk yg ada juga malah salah yg dilakuin :p.

    Apalagi sejak kerja di perbankan, asumsi mah pantang dan haram hukumnya. Bisa dipecat tanpa hormat kalo berani asumsi keinginan nasabah hahahaha. Jgn sampe si nasabah maunya tukar USD ke IDR, tapi kita berasumsi Krn rate USD LG turun pasti dia maunya tuker IDR ke USD. Mateeenglah sudah, Krn saat sistem forex sudah diklik, ga akan bisa dicancel itu :p. Bank rugi Krn hrs ganti selisihnya. Jadi, jgn pernah lakukan asumsi. Itu udh jd mindsetku sih sepertinya, saking udh kebawa dlm sehari2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. No code-code club ya, mba hahahahaha ๐Ÿคฃ Better to the point bilang maunya apa. Berarti kita sama, nggak mau ribet orangnya. Wk ๐Ÿ™ˆ -- by the way jawaban terserah itu biasanya ended up buat kesal, apalagi saat pasangan nggak tau apa yang kita inginkan terus mereka menebak-nebak, habis itu salah tebakannya ๐Ÿ˜…

      Setuju, dalam pekerjaan, dilarang keras untuk asumsi karena bisa merugikan perusahaan. Bahaya kalau punya staff hobi asumsi dan malas bertanya, iya kalau sesuai dengan apa yang diinfokan. Nah, kalau nggak sesuai bagaimana. Bisa berabe akhirnya ๐Ÿ™„ hehehe. Dengan kita develop pelan-pelan sikap no asumsi kita, saya pikir ke depannya, hidup akan jauh lebih mudah. Sebab kita bisa kontrol pikiran kita ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  18. Lho kok aku ketinggalan update tulisan yang ini yaa ๐Ÿ™ˆ

    Ahh, miskom ini memang penyebab utama asumsi berlebihan dan ini sering terjadi di aku waktu masih masa-masa pacaran dengan pasangan dulu, Mbaa *ngaku*

    Kalau di aku problem-nya karena tidak mendengar dengan baik, ini juga yang diakui oleh suamiku. Kadang kami kalau nggak fokus ngobrol, sambil liat gadget misalnya, jadi sama-sama nggak nangkep full apa yang sedang dibicarakan. Setelahnya malah saling menyalahkan, padahal dua-duanya salah ๐Ÿ˜‚ Makanya sekarang kalau mau ngobrol, gadget harus diletakkan jauh-jauh supaya semua indera tubuh fokus dengan pasangan.

    Oh terus setuju dengan Mba Fanny, aku juga mulai mengurangi kata "terserah" supaya nggak emosian sendiri wkwkwk ๐Ÿ˜œ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sepertinya, mba ๐Ÿคฃ Saya kira mba sibuk waktu itu ~ hehe.

      Jaman awal-awal pasti banyak ribut karena asumsi mba, sebab kita belum 'kenal' pasangan tapi segan bertanya. But, the more we know, semua akan baik-baik saja asal asumsinya dihilangkan ๐Ÿ˜

      Well, sepertinya permasalahan hampir setiap dari kita adalah sulit mendengarkan dengan baik dan fokusnya terpecah ๐Ÿคฃ Apalagi di-era gadget sekarang, huhu. Tapi si kesayangan herannya dari dulu bukan tipe yang attach sama gadget jadi ketika mengobrol, jadi dia bisa fokus. However, karena dia nggak attach dengan gadget ini pula yang membuat saya struggle saat berjauhan hahahaha.

      Baiknya kita jangan sebut terserah yah, langsung kasih tau saja mau kita apa hahahaha. Daripada pakai kode-kode nanti dia-nya salah ๐Ÿ˜‚

      Delete
  19. Jadi inget nasihat dari guru di sekolahku dulu. Jadi orang itu yang mendengarkan omongan orang lain bukan mendengar saja. Kalau mendengar ya selewat, cuma denger tanpa paham apa yang dia dengar. Kalau mendengarkan, ya benar-benar diserap apa yang lawan bicara omongkan.

    Kadang kita suka mau menang sendiri ya. Ga mau mendengarkan. Lebih pengennya kita yang didengarkan. Hihih padahal kan harus seimbang ya.

    Dan setuju juga kalau banyak asumsi ya jadi miskom. Harus nanya kalau ga ngerti, jangan asumsi sajaa. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu mungkin bedanya ya mba, banyak yang mendengarkan tapi nggak paham konteks means nggak betul-betul berusaha memahami apa yang diperbincangkan. Sama seperti membaca, banyak yang bisa baca tapi nggak betul-betul paham apa yang dibaca ๐Ÿ™ˆ hehehehe.

      Susah untuk seimbang, I know. Tapi dengan kita terus berusaha, be better, semoga kita bisa make it balance. Toh, ini untuk kebaikan bersama ๐Ÿ˜ -- terima kasih for the insight, mba ๐Ÿ’•

      Delete
    2. kebanyakan orang tu baca judul atau headlinenya saja! Makanya kadang ada yang bisa kemakan asumsi sendirii. Soalnya entah mengapa kadang judul artikel tuh lain sama isinya. Supaya click bait doaang judulnya hahaha

      Iya susah untuk menyeimbangkan. Tapi tetap harus belajar teruus supaya jadi pribadi yang lebih baik ya hehe

      Delete
    3. Iya mba Frisca, nowadays banyak click bait di mana-mana. Kesal deh, judulnya apa, isinya apa hahaha. Eh, blog saya termasuk click bait nggak ya, soalnya judul kadang nggak ceritakan isinya ๐Ÿ˜‚

      Semangat untuk kita, mba Frisca ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
    4. HAHAA judul pos kak Eno ga click bait kok hahaa
      Click bait tuh yang kaya "Penemuan baru! Paru-Paru Penderita Corona rusak selamanya."
      Terus pas dibaca lengkap, sebenernya belum benar-benar terbukti seperti kata judulnya =="
      cuma bikin horor doang judulnya!

      Iya semangat!! ๐Ÿ˜„

      Delete
    5. Huahahaha I know, menyebalkan sekali judul-judul seperti itu, sudah membuat orang deg-degan duluan saat lihat judulnya ๐Ÿคฃ

      Delete
  20. Sependapat, Mbak, kalau salah satu cara mengurangi miskom itu belajar mendengarkan. Tapi ini salah satu yang paling sulit untuk dikuasai, terlebih waktu kita belum sadar bahwa mendengarkan itu penting, dan bermanfaat.

    Momen jalan-jalan buat saya pas banget buat belajar mendengarkan ini, sekaligus melatih kepekaan bagaimana merespons omongan orang lain, membangun suasana, kadang (kalau diperlukan) mengendalikan suasana. Kalau sama teman-teman sendiri, ya, karena sudah pada paham karakter masing-masing, susah untuk belajar mendengarkan... malah lebih sering ejek-ejekan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah susah gampang untuk bisa mendengarkan, dan bukan hanya dengar namun paham konteks yang lawan bicara kita katakan ๐Ÿ™ˆ hehehe.

      Kalau sama teman sendiri mungkin susah mendengarkan, yang ada saling cut dan ejek-ejekan ya mas ๐Ÿ˜‚ Tapi ketika mas melakukan perjalanan sendirian, secara nggak langsung, mas jadi belajar mendengar, ditambah bahasa yang digunakan pun berbeda hehehe. Menarik sekali, mas ๐Ÿ˜

      Delete