No Assumption | CREAMENO

Pages

No Assumption

Beberapa hari lalu, ada yang tanya, "Kak, pernah punya pengalaman dekat sama orang sampai kita anggap dia sahabat tapi karena kesibukan masing-masing, kita jadi berjarak ~ Yang tadinya chat setiap saat, jadi chat seminggu atau sebulan sekali saja. Kalau begitu, harus bagaimana?"

Well, kalau ditanya pernah yaaa pasti pernah. Sering malah ๐Ÿ˜‚ I mean, kenapa gue bilang sering karena gue bisa dibilang sering berinteraksi sama sohib-sohib gue. Bahkan sama teman-teman di blog cukup rutin. Tapi kalau gue lagi sibuk dengan hidup gue sendiri yaa ada masanya dimana gue fokus dan mengurangi interaksi sehari-hari. Hehehehehehe.

Dan gue yakin, teman-teman gue sama sibuknya dengan hidup mereka masing-masing ~ ๐Ÿ˜ so, nggak ada interaksi setiap hari bukan berarti kita berjarak, hubungan jadi renggang dan nggak berteman maupun bersahabat ๐Ÿ˜‰ Karena gue rasa, ikatan pertemanan dan persahabatan yang sudah terjalin nggak mungkin semudah itu terkikis oleh keadaan ๐Ÿ˜†

Nah, kalau gue ditanya, "Harus bagaimana?" -- jujur, jawaban gue simple yaitu jangan dipikirkan dan jangan asumsi yang nggak-nggak ๐Ÿ˜„✌ kalau memang kangen tinggal chat, tanya kabarnya dibanding berpikir, "Kok dia sekarang berubah, ya? Jadi jarang chat gue. Padahal dulu setiap hari chat dari pagi siang malam." -- karena percuma asumsi kalau nggak ditanya ๐Ÿ˜‚

Dan jawaban ke dua dari gue adalah berpikir positif. Harus sadar dulu kalau teman atau sahabat kita punya kehidupannya sendiri jadi nggak melulu bisa berinteraksi sama kita setiap hari, walau mungkin kita pernah ada masanya interaksi nonstop tapi pasti akan ada masanya kita break.

Bisa dibilang, intensitas komunikasi gue pun banyak berubah. Misal jaman sekolah bisa tiap hari SMS-an, apalagi kalau gratis SMS 300-an ๐Ÿ˜‚ tapi sekarang? Seperlunya saja. Paling tanya kabar. Apakah doing well? Ada info menarik apa? Dan sejenisnya ๐Ÿ˜„ dan meski komunikasi gue nggak seintens jaman sekolah, bukan berarti persahabatan gue bubar ๐Ÿ˜†

Begitu pula dengan teman-teman blog misalnya. Ada yang sesekali email dan berbincang cukup lama tapi setelah itu nggak emailan. Lalu kontakan lagi karena reaksi ke blog atau sekedar tanya kabar. Lantas apakah hubungan jadi buruk? Enggak kan ๐Ÿ˜ gue yakin semua teman blog dalam dunianya butuh break termasuk saat berinteraksi dengan sesama manusia dan itu lumrah ~

Yang nggak lumrah adalah ketika teman kita butuh break dan tanpa melakukan kesalahan apa-apa langsung diasumsikan berjarak hanya karena komunikasi yang berkurang ๐Ÿคช๐Ÿ˜‚ in the end, hubungan antar manusia itu memang rumit dan yang dibutuhkan adalah saling pengertian serta pikiran positif. Plus turunkan eskpektasi dan hilangkan asumsi ๐Ÿ™ˆ

Akhir kata, good luck and always be happy! ๐Ÿ’“
A few days ago, someone asked, "Do you have an experience with your friends which because of your busy lives, you become distant. In the past, you used to chat all the time, however now you only chat once a week or once a month. If it happens to me, what should I do?"

Well, of course I had that kind of experience. And in fact, often! ๐Ÿ˜‚ I mean, I often interact with my friends, and I also interact with blogger friends regularly. But, when I'm busy with my life, and there are times when I need to focus on my works then I will reduce my interactions with them.

And I'm sure, my friends also busy with their own lives ~ ๐Ÿ˜ so, no interaction every day doesn't mean we become distant, or our relationships become tenuous and we aren't friend anymore ๐Ÿ˜‰ Because I think, ties of friendships which has been established can't be easily broken ๐Ÿ˜†

If you asked, "What should I do?" -- Honestly, my answer is simple, don't think about it and don't make any assumptions ๐Ÿ˜„ If you really miss them, just chat, ask 'how's life?' instead of thinking, "Why she's changed? Why she rarely chat? While in the past we chat from morning until night." -- because it will become useless assumptions if you don't ask ๐Ÿ˜‚

And my second answer is positive thinking ๐Ÿ˜† We have to realize first that our friends have their own lives so they can't only interact with us every day, though in the past we interact with them non-stop, but there will definitely be times for us to break.

Anyhow, the intensity of my communication has changed a lot. For example, during my school period, I could send SMS every day to my friends, especially if there were 300 free SMS ๐Ÿ˜‚ but now? I just chat them when there is something necessary. Mostly, I ask about their news ~ Is she doing well? Is there any interesting information? So on ๐Ÿ˜„ and although my communication isn't as intense as school days, it doesn't mean my friendship has broken ๐Ÿ˜†

Likewise, with blogger friends for example, there are those who occasionally email and chat me but after that, they stop. And then, they contact again because of a reaction to my posts or just asking 'how are you?'. It means my relationship with them is bad? No, right? I'm sure, all blogger friends also need a break including break when interacting with their friends and that's normal ~

Albeit the thing that not normal is..... when our friends need to take a break and without having any mistakes, we immediately assumed they put some distant only because our communication reduced ๐Ÿคช๐Ÿ˜‚ in the end, human relationships are complicated and what we needed is mutual understanding and positive thoughts. Plus lower expectations and eliminate assumptions ๐Ÿ™ˆ

Finally, good luck and always love! ๐Ÿ’“
๋ช‡์ผ ์ „, ๋ˆ„๊ตฐ๊ฐ€ "๋ฐ”์œ ์‚ถ ๋•Œ๋ฌธ์— ๊ฑฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์ƒ๊ฒจ๋ณธ ๊ฒฝํ—˜์ด ์žˆ์–ด? ๊ณผ๊ฑฐ์— ๋Œ€ํ™”๋ฅผ ๋งŽ์ด ํ–ˆ์ง€๋งŒ ์ง€๊ธˆ์€ ์ผ์ฃผ์ผ์— ํ•œ๋ฒˆ ํ˜น์€ ํ•œ๋‹ฌ์— ํ•œ๋ฒˆ๋งŒ ๋Œ€ํ™”ํ•ด. ๊ทธ๋Ÿฐ์ผ์ด ๋‚˜์—๊ฒŒ ์ผ์–ด๋‚˜๋ฉด ๋‚˜๋Š” ๋ญ˜ํ•ด์•ผ๋˜? "๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์—ˆ์–ด์š”.

์Œ, ๋‹น์—ฐํžˆ ๊ทธ๋Ÿฐ ๊ฒฝํ—˜์ด ์žˆ์–ด์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์ž์ฃผ์š”! ๐Ÿ˜‚ ์ œ ๋ง์€ ์ž์ฃผ ์นœ๊ตฌ๋“ค๊ณผ ๋Œ€ํ™”ํ•˜๊ณ  ๋ธ”๋กœ๊ฑฐ ์นœ๊ตฌ๋“ค๊ณผ ์ •๊ธฐ์ ์œผ๋กœ ์—ฐ๋ฝํ•˜์ง€๋งŒ ์ธ์ƒ์ด ๋ฐ”๋น ์ง€๊ณ  ์ผ์— ์ง‘์ค‘ํ•ด์•ผํ•  ๋•Œ์—๋Š” ์—ฐ๋ฝ์ด ๋œธํ•ด์งˆ๊ฑฐ์—์š”.

๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ์นœ๊ตฌ๋“ค๋„ ์‚ถ์„ ์‚ฌ๋Š๋ผ ๋ฐ”์˜๋‹ค๊ณ  ํ™•์‹ ํ•ด์š” ~ ๐Ÿ˜ ๊ทธ๋Ÿฌ๋‹ˆ, ๋งค์ผ ์—ฐ๋ฝํ•˜์ง€ ์•Š๋Š”๋‹ค๋Š”๊ฒŒ ๊ฑฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ์ƒ๊ฒผ๊ฑฐ๋‚˜ ๊ด€๊ณ„๊ฐ€ ์†Œ์›ํ•ด์ ธ์„œ ๋”์ด์ƒ ์นœ๊ตฌ๊ฐ€ ์•„๋‹ˆ๋ผ๋Š”๊ฑธ ์˜๋ฏธํ•˜์ง€๋Š” ์•Š์•„์š” ๐Ÿ˜‰ ์ œ ์ƒ๊ฐ์— ํ™•๋ฆฝ๋œ ์šฐ์ •์˜ ๋ˆ๋ˆํ•จ์€ ์‰ฝ๊ฒŒ ๋Š์–ด์ง€์ง€ ์•Š๊ธฐ ๋•Œ๋ฌธ์ด์—์š” ๐Ÿ˜†

"๋ญ˜ํ•ด์•ผํ• ๊นŒ์š”?" ๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์œผ์‹ ๋‹ค๋ฉด -- ์ œ ๋Œ€๋‹ต์€ ๊ฐ„๋‹จํ•ด์š”. ๊ทธ๊ฒƒ์— ๋Œ€ํ•ด์„œ ์ƒ๊ฐํ•˜์ง€ ๋ง๊ณ  ์ถ”์ธกํ•˜์ง€ ๋ง๋ผ๋Š”๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿ˜„ ์ •๋ง ๊ทธ๋“ค์ด ๊ทธ๋ฆฝ๋‹ค๋ฉด ๋ง์„ ๊ฑฐ์„ธ์š” "์™œ ๋ณ€ํ–ˆ์ง€? ์˜›๋‚ ์—๋Š” ์•„์นจ๋ถ€ํ„ฐ ๋ฐค๊นŒ์ง€ ๋Œ€ํ™”ํ–ˆ์ง€๋งŒ ์ง€๊ธˆ์€ ์™œ ๊ฑฐ์˜ ๋Œ€ํ™”๋ฅผ ์•ˆํ•˜์ง€?"๋ผ๊ณ  ์ƒ๊ฐํ•˜๋Š” ๋Œ€์‹  '์ž˜์ง€๋‚ด?'๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์–ด๋ณด์„ธ์š” -- ์™œ๋ƒ๋ฉด ๋ฌผ์–ด๋ณธ๊ฒŒ ์•„๋‹ˆ๋ผ๋ฉด ๊ทธ๊ฑด ์“ธ๋ชจ์—†๋Š” ์ถ”์ธก์ผ ๋ฟ์ด๊ฑฐ๋“ ์š” ๐Ÿ˜‚

์ œ ๋‘๋ฒˆ์งธ ๋Œ€๋‹ต์€ ๊ธ์ •์ ์ธ ์ƒ๊ฐ์ด์—์š” ๐Ÿ˜† ์šฐ๋ฆฌ๋Š” ๋จผ์ € ์šฐ๋ฆฌ์˜ ์นœ๊ตฌ๋„ ๊ทธ๋“ค ์ž์‹ ์˜ ์‚ถ์ด ์žˆ์–ด์„œ ๊ณผ๊ฑฐ์—๋Š” ์‰ผ์—†์ด ํ–ˆ์„์ง€๋ผ๋„ ์ €ํ•˜๊ณ ๋งŒ ๋งค์ผ ์—ฐ๋ฝํ•  ์ˆ˜๋Š” ์—†์–ด์š”. ๊ทธ๋Ÿฌ๋‚˜ ๊ทธ๋“ค์€ ๋ถ„๋ช… ์šฐ๋ฆฌ๋ฅผ ์œ„ํ•ด์„œ ์‹œ๊ฐ„์„ ๋‚ด ์ค„๊ฑฐ์—์š”.

์—ฌํ•˜ํŠผ ์ œ ์˜์‚ฌ์†Œํ†ต ๊ฐ•๋„๋Š” ๋งŽ์ด ๋ณ€ํ–ˆ์–ด์š”. ์˜ˆ๋ฅผ๋“ค์–ด์„œ ํ•™์ฐฝ์‹œ์ ˆ์—๋Š” 300๊ฐœ์˜ ๋ฌด๋ฃŒ SMS๊ฐ€ ์žˆ์œผ๋ฉด ์นœ๊ตฌ์—๊ฒŒ ๋งค์ผ SMS๋ฅผ ๋ณด๋‚ผ ์ˆ˜ ์žˆ์—ˆ์–ด์š” ๐Ÿ˜‚ ํ•˜์ง€๋งŒ ์ง€๊ธˆ์€์š”? ๋ญ”๊ฐ€ ํ•„์š”ํ•œ๊ฒŒ ์žˆ์„๋•Œ๋งŒ ๋Œ€ํ™”๋ฅผ ํ•ด์š”. ํŠนํžˆ ์ œ๊ฐ€ ์†Œ์‹์„ ๋ฌผ์–ด๋ด์š” ~ ์ž˜์‚ด๊ณ ์žˆ์–ด? ์žฌ๋ฐŒ์„์ผ ์—†์–ด? ๋“ฑ๋“ฑ์ด์š” ๐Ÿ˜„ ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ํ•™์ฐฝ์‹œ์ ˆ๋งŒํผ ์—ฐ๋ฝ์„ ํ•˜๋Š”๊ฑด ์•„๋‹ˆ์ง€๋งŒ ์šฐ์ •์ด ๊นจ์กŒ๋‹ค๋Š”๊ฑด ์•„๋‹ˆ์—์š” ๐Ÿ˜†

๋งˆ์ฐฌ๊ฐ€์ง€๋กœ, ๋ธ”๋กœ๊ฑฐ์นœ๊ตฌ๋“ค๊ณผ๋„ ๊ฐ€๋” ๋ฉ”์ผ์„ ํ•˜๊ณ  ์ฑ„ํŒ…์„ ํ•˜์ง€๋งŒ ๊ทธ ํ›„์—๋Š” ๋ฉˆ์ถฐ์š”. ๊ทธ๋ฆฌ๊ณ  ๋‚˜์„œ๋Š” ์ œ ํฌ์ŠคํŠธ์— ๋ฆฌ์—‘์…˜๋•Œ๋ฌธ์— ์—ฐ๋ฝํ•˜๊ฑฐ๋‚˜ '์ž˜์ง€๋‚ด?' ๋ผ๊ณ  ๋ฌผ์–ด๋ณผ ๋ฟ์ด์—์š”. ์ด๊ฒŒ ์ €์™€ ๊ทธ๋“ค์˜ ๊ด€๊ณ„๊ฐ€ ๋‚˜์œ๋‹ค๋Š”๊ฑธ๊นŒ์š”? No, right? ์ €๋Š” ๋ชจ๋“  ๋ธ”๋กœ๊ฑฐ ์นœ๊ตฌ๋“ค๋„ ๊ทธ๋“ค์˜ ์นœ๊ตฌ๋“ค๊ณผ ์—ฐ๋ฝํ•  ๋•Œ ํœด์‹์ด ํ•„์š”ํ• ๊ฑฐ๋ผ๊ณ  ํ™•์‹ ํ•˜๊ณ  ๊ทธ๊ฒŒ ์ •์ƒ์ด์—์š”~

ํ‰๋ฒ”ํ•˜์ง€ ์•Š์€๊ฒƒ์€..... ์šฐ๋ฆฌ ์นœ๊ตฌ๊ฐ€ ์–ด๋– ํ•œ ์‹ค์ˆ˜๋ฅผ ํ•˜์ง€ ์•Š์•˜๊ณ  ํœด์‹์ด ํ•„์š”ํ•  ๋•Œ ๋Œ€ํ™”๊ฐ€ ์ข€ ์ค„์—ˆ๋‹ค๊ณ  ๋ฐ”๋กœ ๊ทธ๋“ค์ด ์•ฝ๊ฐ„ ๊ฑฐ๋ฆฌ๋ฅผ ๋‘”๋‹ค๊ณ  ์ƒ๊ฐํ•˜๋Š”๊ฑฐ์—์š” ๐Ÿคช๐Ÿ˜‚ ๊ฒฐ๊ตญ ์ธ๊ฐ„๊ด€๊ณ„๋Š” ๋ณต์žกํ•˜๊ณ  ์šฐ๋ฆฌ๊ฐ€ ํ•„์š”ํ•œ ๊ฒƒ์€ ์ƒํ˜ธ ์ดํ•ด์™€ ๊ธ์ •์ ์ธ ์ƒ๊ฐ์ด์—์š”. Plus ๋‚ฎ์€ ๊ธฐ๋Œ€์™€ ์ถ”์ธก์„ ์—†์• ์•ผ๋˜์š” ๐Ÿ™ˆ

Finally, good luck and always love! ๐Ÿ’“

40 comments:

  1. Kedua cara itu sering aku lakukan mbak eno. Semakin ke sini, pertemanan emang semakin mengecil. Ga tiap hari ketemu, ga tiap hari ngchat. Namun tetap masih terhubung dalam pertemanan.

    "Aah, mungkin dia lagi sibuk"
    "Mungkin dia lagi butuh istirahat." dll. Kalimat sederhana itu yang biasa sering aku gunakan. Daripada sibuk berpikiran yang tidak-tidak. Yang ada malah habisin tenaga..wkwkkwk

    Kadang kalau dapat undangan nikah, sebisa mungkin untuk datang. Karena pas kondangan biasanya bakal ketemu sama yang lainnya. Tujuan kondangan sekarang untuk kopdar sama teman-teman yang lainny...hahahaha ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    Pernah dalam posisi menunggu sebuah momen untuk menghubungi seseorang karena lama ga tukar kabar. Mungkin semesta mendukung, selang beberapa hari orangnya malah hubungi aku dulu. Yaa akhirnya ketemu lagi setelah hampir 3th ga ketemu..hahahaha ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    Kapan-kapan email mbak eno aah. Mau tanyain po box nya juga..hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin tua, kemungkinannya nanti akan semakin banyak, mas ๐Ÿ˜ seperti, "Mungkin lagi sibuk sama anak atau keluarga." dan lain sebagainya ~ kalau sudah begitu, kita hanya bisa berdoa semoga mereka baik-baik saja ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Hahahaha, mumpung ada sarana untuk kumpul dengan teman-teman though di pernikahan teman lainnya, why not yah ๐Ÿ˜† banyak yang melakukannya saya rasa ๐Ÿ˜ฌ

      Itu yang 3 tahun nggak ketemu, saya pernah baca ceritanya di komentar hahaha. Kalau nggak salah waktu itu mas Rivai cerita sudah lama nggak ketemu teman terus akhirnya ketemu dan ngobrol banyak sama dia ๐Ÿ™ˆ

      Yuk email, nanti saya balas ๐Ÿ˜✌

      Delete
    2. Nah itu mbak eno. Makanya kalau pas kondangan juga bilang anaknya jangan lupa diajak yaa. Jadi ngumpulnya sekalian sama suami/istri+anaknya. Jadi tambah seru..hahahaha

      Sudah saya email yaa mbak eno ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

      Delete
    3. Seru kalau sudah pada punya anak ๐Ÿ˜ saya pun kadang mau ketemu sohibul saya karena kangen anaknya bukan kangen ibunya hahaha.

      Siap mas, nanti saya check emailnya ๐Ÿ˜

      Delete
  2. Aku ngerasa pertemananku berubah seiring dengan kesibukan, dsb. Kadang merasa kangen teman lama, sama si A, B atau lainnya, tapi karena responnya kurang, jadi maklum aja. Mungkin ada banyak urusan sehingga ketika saya chat jadi lama. Yang penting tetap berpikir positif dan mendoakan untuk kebaikan mereka. Nggak usah mikir yang aneh-aneh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena semakin kita tambah usia, kesibukan kita semakin banyak dan prioritas kita berubah ๐Ÿ˜ jadi yang tadinya bisa respon setiap saat, sudah mulai berkurang ~ sometimes alasannya pun sederhana, memang punya fokus lain yang harus dikejar ๐Ÿ˜† hehehehe.

      Jadi memang bagian kita adalah memaklumi dan doakan ๐Ÿ˜

      Delete
  3. Mba Enoo, sepertinya aku pernah baca tulisan serupa di postingan lama, benar tidaks yah? ๐Ÿ˜

    Eniwei, ini baru aja terjadi sama aku pribadi beberapa waktu lalu, Mba. Jadi maluuu mau cerita because it's so silly ๐Ÿ˜† jadii aku punya seorang sahabat yang entah kenapa aku merasa dia sedang menjaga jarak dari aku. Murni asumsiku pribadi, sih. Asumsiku ini dikuatkan oleh beberapa bukti yang nggak bisa kuceritakan di sini hihi

    Long story short, di saat aku masih sedikittt kesal tentang sahabatku ini, eh tau-tau out of no where dia menelpon dan bilang ingin berkunjung ke rumahku. I was so surprised dan di saat yang bersamaan aku merasa bodoh ๐Ÿ˜‚

    Betul yang Mba Eno bilang, rasanya nggak adil kita punya asumsi sendiri padahal bisa aja teman kita punya alasan untuk tidak berinteraksi dengan siapapun. Suamiku yang tau akan hal ini, dia cuma mengingatkan nggak usah baper, yang penting aku selalu siap sedia jika sahabatku membutuhkan aku. Which is true. Pertemanan di masa muda dengan sekarang ini pasti akan berbeda, meski dulunya mungkin kami pernah bersumpah menjadi BFF ๐Ÿ˜‚

    Thank youu for the reminder, Mba Eno! Sukaaaak sekali dengan kalimat terakhirnya: turunkan ekspektasi, hilangkan asumsi ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benarrrrr, mbaaa ๐Ÿ˜

      Hal-hal seperti yang mba Jane ceritakan itu betulan sering terjadi pada kehidupan nyata and menurut saya itu normal ~ nama pun perasaan ๐Ÿ™ˆ cuma kalau terus-terusan disimpan, yang ada jadi menyakiti diri sendiri nantinya dengan asumsi yang dipunya ๐Ÿ˜† hehehehe.

      Saya pun ada teman yang kontakannya setahun cuma beberapa kali, mba ~ setiap kali saya telepon, kadang dia lagi sibuk suapi anak makan, terus beberes rumah, dan lain sebagainya. Terus saat dia telepon pun saya kadang lagi kerja dan lain sebagainya. Alhasil kita cuma bisa ketawa karena prioritas hidup kita berdua benar-benar sudah berubah dan jauh beda ๐Ÿคฃ

      Dari situ saya belajar, kalau kita nggak boleh asumsi sembarangan karena selain itu akan membuat hati kita sakit juga hal itu nggak adil untuk teman kita. Dia hanya berusaha menjalani hidupnya dan mungkin, kita bukan bagian terpenting dari hidupnya. Dan akhirnya saya sadar, yang terpenting itu bukan menjadi 'penting' melainkan selalu ada saat dibutuhkan. And means saat mereka nggak butuh, itu bukan karena kita nggak berguna, melainkan karena mereka hidup baik-baik saja ๐Ÿ˜

      Terima kasih sudah baca, mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  4. Suka sama "berpikiran positif".

    Seorang berasumsi sebenarnya tindakan yang wajar. Bahkan ilmuwan atau pebisnis sekalipun kerap berasumsi. Apalagi manusia diperlengkapi dengan rasa dan perasaan yang cenderung melahirkan asumsi, dugaan, prakiraan, dan sejenisnya.

    Bedanya, asumsi ilmuwan/pebisnis berdasarkan data sedangkan asumsi yang Eno sebut berdasarkan sesuatu yang abstrak dan tidak berdasarkan data.

    Sebenarnya memakai logika juga terlihat bahwa istilah "persahabatan berjarak" itu adalah asumsi tanpa data karena mana bisa mengukur jarak sebuah persahabatan. Asumsi seperti itu hanya berdasarkan "perasaan" saja yang sulit dibuktikan.

    Kalau saya, dalam hal sesuatu yang abstrak seperti ini, lebih suka tidak berasumsi macam-macam. Mungkin karena terbiasa mengandalkan logika.

    Beberapa kawan dekat sudah lama tidak menghubungi, lalu apa yang harus diasumsikan. Cukup terima faktanya saja, mereka tidak menghubungi. Tidak cukup data untuk membuat sebuah dugaan atau asumsi.

    Tok itu saja.

    Kalau saya memang merasa kangen ingin ngobrol, ya gampang, buka WA, chat sebentar tanya kabar. Bisa juga angkat telpon dan ngobrol sebentar. Selesai.

    Tidak perlu berasumsi hal-hal yang seperti ini.

    Kawan blogger tidak berkunjung balik, yo wis toh saya BW bukan meminta kunjungan balik. Selesai.

    Tidak perlu berasumsi yang nggak perlu.

    Kecuali kalau disuruh ngitung budget duit beberapa bulan ke depan, kadang datanya memang tidak akan ada , maka saya membuatkan asumsi berdasarkan pola sebelumnya.

    Berasumsi hal yang abstrak cenderung menjebak hati kita sendiri untuk berpikir "kotor", "jelek". Mudah sekali diselewengkan oleh "keinginan kita", seperti kita ingin merasa diperhatikan oleh kawan dan kalau tidak, berarti mereka sedang ingin menjaga jarak. Pingin ngobrol tiap hari, kalau nggak berarti dia lagi marah sama saya.

    Saya rasa, rasa egois dari diri sendirilah yang menyebabkan asumsinya jadi jelek terus. Kalau keinginan kita tidak terpenuhi, hasilnya mutung dan asumsi jelek.

    Karena itu, saya sependapat dengan Eno, berpikir positif saja deh dalam hal seperti itu. Cuma kadang memang susah karena keinginan kita sendiri mempengaruhi.

    Jadi, saya milih tidak berasumsi sama sekali dalam hal yang satu ini. Kenapa harus bikin rumit pikiran dan perasaan sendiri untuk hal yang tidak kita ketahui kebenarannya.

    Eno sih halus dalam hal ini . Kalau saya ada yang nanya begitu, saya sih akan jawab, "Emang nggak ada hal lain yang lebih penting wat dipikirin daripada mikirin perasaan orang?" atau karena ini soal chat, "Eh emang nggak punya kerjaan lain selain chat setiap hari, nggak produktif tau"

    Bisa juga, "Capek deh mikirin sesuatu yang nggak penting"

    Mungkin karena begitu nggak ada yang mau nanya sama saya.. hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, kalau saya jawabnya seperti mas Anton, yang ada nanti nggak ada yang mau tanya ๐Ÿคฃ by the way, saya terinspirasi dari mas Anton untuk buat postingan dari pertanyaan yang masuk, kalau saya rasa oke topiknya, kenapa nggak ๐Ÿ˜✌

      Dan setuju sama mas, asumsi itu kalau nggak ada datanya better nggak usah dilakukan. Karena yang ada hanya membuat diri kita lelah dengan segala macam pikiran yang kita punya ๐Ÿ˜† -- mana kadang ternyata asumsi yang dipunya salah. Alhasil kita hanya buang tenaga untuk hal yang bahkan nggak nyata terjadi pada hidup kita ๐Ÿคช

      Mungkin dengan bertambahnya usia kita, pelan namun pasti kita belajar untuk memikirkan prioritas ~ kalau dulu jaman sekolah, prioritasnya bisa persahabatan, sekarang bisa jadi prioritasnya adalah survive menjalani hidup yang keras ๐Ÿ˜‚

      Terima kasih untuk insightnya, mas Antoooon ๐Ÿ˜

      Delete
  5. "Turunkan ekspektasi dan hilangkan asumsi." itu sih kayaknya mantranya.

    Terkadang orang itu butuh bernafas dengan menyendiri, bahkan mungkin se extrovert apapun orang, pasti ada letihnya berinteraksi melulu dengan sesama manusia, atau tidak?-entah sih kalo extrovert karena diriku kyknya lebih cenderung ke introvert.
    That's why i love blogging, writing, photo editing dan kegiatan-kegiatan yg enaknya dikerjain pas lagi sendiri.

    Tapi kadang, saya suka berkesendirian diantara kerumunan, misalnya sendiri di kafe, pake headset dan ngetik di laptop. dengan latar suara manusia saling ngobrol, chit chat, bergosip ria, ketawa-ketiwi dan diriku dianggap ga ada disitu. kadang kusuka seperti itu, aneh ga sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap manusia pasti butuh sendiri, menenangkan pikiran, atau sekedar untuk istirahat ~ even extrovert menurut saya pasti punya momen di mana ingin istirahat, kan extrovert juga manusia normal yang merasa lelah ๐Ÿ˜† hehehe.

      Nggak aneh dong Ady, nggak ada yang aneh dengan kita melakukan apa yang kita suka. Kita hanya menjalani hidup kita, berusaha untuk tetap waras, dan survive di dunia. Jadi nggak ada yang aneh dengan hal itu, selama kita menikmatinya, why not untuk tetap melakukan ๐Ÿ˜

      Saya pribadi juga kadang suka pergi ke cafe duduk-duduk sendirian sambil menikmati makanan yang saya suka ๐Ÿ˜‚

      Delete
  6. Setuju banget mbak Eno. Biarkan saja kalau memang lagi menjauh. Asumsi cuma bikin capek.

    Eh. Tapi penting juga sih ditanyakan kenapa-kenapanya kalau dirasa agak ganjil. Maklum. Kasus banyak orang ilang >_< #cepat

    Untuk orang ekstrovert kadang energi nggak ada habis-habisnya, malah makin berenergi kalau ketemuan. Orang introvert butuh recharge dengan menyepi. Kalau nggak baterainya kedip-kedip.





    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes mba Phebie, kadang sudah membuat capek, ternyata salah pula. Karena yang diasumsikan nggak sesuai kenyataan ๐Ÿคฃ

      Nah itu maksud saya, daripada asumsi, semisal kangen better tanya langsung, kan ~ chat saja, tanya apa kabarnya. How's life, and bla bla. Kita nggak lelah karena harus asumsi duluan, pun dengan begitu kita bisa dapat jawaban ๐Ÿ™ˆ

      Sometimes, kita pun nggak tau teman kita tipe yang mana (intro atau extro). Dan akan ada kemungkinan mereka punya prioritas lain yang perlu dikerjakan ๐Ÿ˜†

      Delete
  7. wuah aku baruuu aja kemarin hubungin teman lamaku, yang sudah tak bersapa hampir 5 tahun lamanya
    rasanya masih hangat
    kangeeeen

    bukan berarti gak ngabarin itu lupa ya, tapi mungkin ada yg lebih prioritas
    namun kalau sudah waktunya, salam sapa akan tersampaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Rhosha, kalau rindu memang paling enak langsung kontak tanya kabar ๐Ÿ˜ daripada berpikir yang nggak-nggak ~ hehe.

      Semoga kita bisa selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita tanpa asumsi dan ekspektasi besar ๐Ÿ˜

      Delete
  8. Kalau saya, sesimpel sedang banyak berada atau bersinggungan dengan lingkungan yang mana. Misalnya pas SMA, bertukar kabar dan informasi pasti ke grup SMA. Ngobrol di grup SMP, paling hanya sekali-dua kalo kalau mau ada rencana liburan atau makan-makan. Bukan berarti itu menjadi jarak. Saling ngerti dan paham kondisi saja sih.

    Kalau sekarang, mungkin banyaknya ngobrol di grup kuliah. Bahas ini-bahas itu. Ini tidak lantas membuat hubungan saya dengan teman SMA jadi berjarak. Pas ketemuan juga rasanya masih sama, meski ada beberapa yang tidak. Malah kalau lama ngga ketemu, bisa jadi banyak bahan obrolan. Kesan malu-malu mungkin diawal ada, kalo sudah nemu flownya yah kita juga sudah saling tau berengseknya satu sama lain. Tinggal menyesuaikan saja apa yang sudah berubah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, bukan berarti jaga jarak. Tapi waktu yang kita punya tentu akan kita gunakan untuk hal-hal yang menurut kita prioritas. Eniweis, keep in touch dengan teman-teman pun nggak setiap hari juga nggak masalah. Yang terpenting kita tau mereka doing well, dan kita akan selalu ada ketika dibutuhkan ๐Ÿ˜

      Hehehehe, terima kasih untuk insight-nya mas ๐Ÿ˜

      Delete
  9. lagi lagi berasumsi tanpa bukti, ini benerrrr bangettt mbak
    bahkan aku sendiri pernah muncul pemikiran yang kayak gitu, tapi emang ada kalanya temen temen deket pun juga butuh waktu untuk menikmati me-time nya, bahkan aku sama temen yang hampir tiap wiken janjian ngopi dimana, ada kalanya 2 mingguan nggak komunikasi, karena emang sesibuk itu juga satu sama lainnya
    dan berpikir positif kalo si temen nggak bales chat, mungkin dia emang lagi males njawab hahaha
    aku ini sering :D, yasudah nanti ada waktunya lagi buat hubungi ulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar kalau pernah punya pemikiran begitu, nama pun kita care dengan teman kita. However jangan jadi negatif pikirannya dan better tanya apabila memang ingin tau kabar teman daripada asumsi yang nggak-nggak ๐Ÿ˜

      Semisal teman nggak balas chat, kita bisa chat kembali apabila memang urgent kan, yang penting sama-sama tau kalau kita semua sedang berusaha survive jalani kehidupan ๐Ÿ˜†

      Delete
  10. Enooo, akoh mau tsurhat padamuh pankapan, hehehe.
    Entah mengapa ya, bahkan sejak awal sering main ke blog ini, saya suka banget semua tulisan di sini, karena merasa banyak kesamaan dan klop dengan pemikiran Eno, meskipun mungkin ada satu dua yang berbeda, setiap manusia kan unik ya, even kembar.
    Tapi beneran, saya selalu suka dan setuju dengan semua apa yang Eno tuliskan, selalu bisa merasakan apa yang Eno rasakan ketika menceritakan beberapa momen yang dirasakan.
    Ya mungkin sifat saya juga sedikit banyak mirip dengan Eno meskipun nggak klop banget juga, pastilah ada bedanya hahaha.

    Dan ofkors setuju banget dengan no asumsi ini, bahkan mungkin saya awalnya tidak sejauh ini pemikirannya.
    Karena saya juga pernah, dulu ketika belum menikah, saya sering sebal dengan teman-teman yang hanya datang saat mereka ada maunya dan atau lagi nggak punya temen atau pacar.

    Tapi seiring waktu, terutama sejak nikah dan punya anak, saya sama sekali nggak pernah mempermasalahkan lagi, even siapapun yang dulunya akrab jadi berjarak.
    Ya sama kayak Eno sih, kalau kangen ya tinggal chat, sesimple itu, apalagi punya kontaknya, berteman di medsos.

    Saya juga tahu, sama seperti saya, mereka juga punya kesibukan masing-masing.
    Cuman memang nggak tahu minusnya atau apanya nih, saya tuh termasuk teman yang sedikit tertutup, jadi kalau saya punya masalah, saya cenderung menulis aja, karena saya kadang sungkan untuk bercerita dengan teman terdekat sekalipun, kecuali mereka yang nanya duluan.

    Makanya saya suka menulis di blog, dengan menulis, saya bisa memilah, mana yang akan saya bagikan, mana yang saya keep buat diri aja :D

    Akan tetapi, kalau ada teman yang curhat, dengan senang hati saya dengerkan, asal nggak telpon aja sih, mamak Rey males banget terima telpon, karena nggak bisa disambi ini itu.

    Over all, saya setuju banget, no asumsi terhadap siapapun.
    Meskipun saya tidak terlalu heran jika yang nanya gitu mungkin masih single, masih beda pemikirannya tentang makna sahabat.

    Suatu saat dia bakal mengerti, bahwa sahabat bukan lah yang selalu ada setiap saat bertegur sapa.
    Bukan juga yang selalu seiya sekata dengan kita.
    Tapi sahabat adalah yang selalu mengerti bahwa kita selalu jadi sahabat, tak ada yang berbeda meski kesibukan dan jarak memisahkan kita *eaaakkk hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mba sini sini kalau mau curhat ๐Ÿคฃ

      Terima kasih mba Rey atas apresiasinya *jadi malu saya* ๐Ÿ™ˆ hehehehe. Iya, kita pasti ada kalanya punya pemikiran yang berbeda. Tapi itu nggak jadi soal. Yang penting kita tetap respect satu sama lainnya. Karena pemikiran kita itu buah dari pengalaman yang kita rasakan, yang mungkin nggak dirasakan oleh yang lainnya ~ ๐Ÿ˜

      Nah, some people ada yang seperti mba Rey, lebih pilih menulis daripada curhat ke teman. Kalau sudah begitu, teman-teman pun akan tau, baiknya baca curhatan mba di blog saja ๐Ÿ˜† hehehe. Mungkin karena mba sudah banyak makan asam garam kehidupan, mba nggak lagi memusingkan hal-hal kecil seperti ketika teman nggak ada kabar. Instead of berpikir yang nggak-nggak, mba memilih untuk langsung tanya ๐Ÿ˜

      Agree dengan tulisan terakhir mba ๐Ÿ˜๐Ÿ’• terima kasih sudah berbagi insight dan pengalaman mba, yah ๐Ÿ˜†

      Delete
  11. Aduh saya orangnya nggak enakan lagi.. Kadang suka kalang kabut sndiri. Saya sadar kalau kelemahan saya satu ini bikin susah dan nggak baik. Jadi sering overthinking sama keadaan.. Sering berusaha buat jaga lisan, sering kepikiran sama tindakan sendiri udh sesuai apa belum, sering maksain diri sndiri. Sering susah bedain prioritas.. Duhh yah malah curcol.. Maaf yah mba OOT. Soalnya tulisan kali ini agak ngegampar saya banget sih yg sering asumsi tentang perasaan orang lain ttg saya.. Termasuk ke teman baik saya sndiri "Are we doing okay???"...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa mas kalau mau curcol ๐Ÿคฃ

      Mungkin ke depannya bisa diperbaiki pelan-pelan ๐Ÿ˜ setiap orang berproses, termasuk mas Bayu dan pertemanan yang mas Bayu punya. However, semoga mas Bayu bisa melihat sisi lain hidup yang teman mas Bayu punya. Nggak semua hanya tentang diri kita, karena teman-teman kita punya prioritas yang harus mereka kejar. Jadi instead of berpikir, "Are we doing okay?" kenapa nggak langsung tanya, "How are you?" ke mereka ๐Ÿ˜

      Semangat mas, you can do it, for your inner peace ๐Ÿ˜†

      Delete
  12. Yap setuju banget mba, mending tanya langsung daripada berpikir yg macem-macem. Terlebih lagi sedeket apapun dia sama kita, toh temen dia udah pasti ngga cuma kita doang kan, ada waktunya buat dia juga berinteraksi dengan temen dia yg lain.

    Kadang sih saya sering nemu temen yang kalo ngajak main terus kita ngga bisa dengan alasan sibuk dia langsung bandingin dengan bilang "yang lain sibuk aja bisa, masa elu ngga" itu nyebelin banget sih. Lagian emang kehidupan satu orang dengan orang yg lain bakalan sama apah? Ada ada aja wkwkw.

    Intinya saya setuju banget, ngga cuma soap pertemanan, dalam hal apapun kita ngga boleh yg namanya negatif thinking. Kalo emang belom tau kebenarannya jangan asal nuduh yg engga-engga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, setuju, temannya teman kita bukan hanya kita, pasti ada banyak teman lain yang butuh interaksi dengannya. Dan teman kita pun punya hidup yang perlu dijalankan ๐Ÿ˜

      Hahahaha, thank God teman saya nggak ada yang begitu, kalau mas Ilham punya teman yang bicara demikian, mas jawab saja, "Setiap orang kesibukannya beda-beda." ๐Ÿ™ˆ

      Dan iya mas, dalam hal apapun, kita harus berusaha positif, nggak boleh asal asumsi tanpa data jelas. Baiknya kalau ingin tau, ya ditanya langsung ke orangnya ๐Ÿ˜† hehe.

      Delete
  13. Setuju banget tuh Mbak, berpikir positif aja.
    Karena semakin beriringnya waktu, kesibukan juga semakin bertambah.

    Saya pun pernah punya temen dekat, cukup akrab. Tapi karena kesibukan masing-masing, harus jarang komunikasi.
    Apalagi waktu kerja dia nggak fleksibel.

    Tapi bukan berarti nggak komunikasi langsung nggak temenan. Ya tetap teman lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, kesibukan kita akan terus bertambah dan prioritas kita akan terus berubah. Sangat normal terjadi pada kita ๐Ÿ˜

      Jadi memang sebaiknya, daripada kita asumsi yang nggak-nggak ke teman kita, ada baiknya ditanya langsung kabarnya ๐Ÿ˜† hehe. Semoga pertemanan mas Rudi selalu sehat dan hubungannya bisa terjaga dalam waktu lama ๐Ÿ˜

      Delete
  14. Kak Enooo, rasanya memang semakin bertambah usia, intensitas komunikasi dengan teman tidak bisa seintens waktu sekolah dulu ya hahaha. Bukannya menjaga jarak, hanya saja udah pada sibuk dengan kegiatan masing-masing >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Liaaaa, tambah usia tambah sibuk dengan hidup biasanya ๐Ÿ˜‚

      Jadi prioritas berubah, yang tadinya bisa always fokus ke persahabatan, terus akan jadi fokus pada pekerjaan, atau keluarga dan lain sebagainya ๐Ÿ˜† dan betul, jarak terjadi bukan karena sengaja, tapi karena keadaan. Jadi sebisa mungkin kita sama-sama mengerti saja ๐Ÿ˜

      Delete
  15. Suka artikel ini. Karena memang namanya hubungan kadang ada pasang surutnya ya mbak. Maksudnya yang tadinya sering sekali chatting atau SMS kemudian jadi jarang. Bukan berarti sombong tapi karena memang sibuk dengan kehidupan sehari-hari.

    Saya pernah dichat seseorang seperti itu mbak, katanya sombong lama ngga ngasih kabar, padahal bukan sombong ngga mau kasih kabar tapi karena sibuk.๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, yang namanya hubungan pasti ada pasang surutnya dan masa expirednya, cuma bedanya ada yang expirednya sampai kita akhir hayat, namun ada pula yang hanya beberapa tahun saja ๐Ÿ˜

      Kalau sudah begitu, kita hanya bisa menerima bahwa setiap dari kita punya kesibukan dan mungkin prioritas hidup yang berbeda. Apalagi kalau sudah pada berkeluarga ๐Ÿ™ˆ tentu semakin berjarak dengan sendirinya hehehe. Semisal ada yang bilang sombong, balas senyum saja mas, yang berkata demikian mungkin nggak tau apa yang sedang kita lalui dalam hidup kita ๐Ÿ˜† hehehe. Semangat!

      Delete
  16. Knock! Knock! Mba Enooo, main yook. Hahahahaha. Berasa udah lama nggak komen di sini, cuman sempat baca tapi belum sempat komen hahaha. Gimana kabarnya mba? Happy weekend mba Eno cantiik ❤❤

    Ngomongin nggak kontak dengan sahabat, kita sama mba. Aku juga jarang kontak sama sahabat tapi nggak pernah mikir yang aneh-aneh. Karena benar kita punya kegiatan masing-masing. Bahkan sama sahabat jaman SMA pun sama, tapi kalau sekalinya ngumpul ceritanya nggak berhenti-henti, semacam ngeluarin semua uneg-uneg dan cerita yang kami punya, asiiiik banget. Sehari nggak bakalan cukup makanya kalau jumpa sering kebabablasan cerita sampai subuh.

    Luckily, aku juga nggak pernah mikir macem-macem kalau sahabat aku nggak kontak, berharap mereka juga sebaliknya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi hi mba Sovia, alohaaa ๐Ÿ˜ kabar baik mba, semoga mba Sovia baik juga, yah ๐Ÿ˜ Terima kasih sudah berkunjung kembali di blog saya ๐Ÿ™ˆ

      And it's normal, kan? ๐Ÿ˜† setiap dari kita pada masanya akan sibuk dengan kehidupan, tapi bukan berarti less contact dengan sahabat sama dengan kita berjarak atau bahkan benci dan nggak care sama mereka ๐Ÿ˜ -- dan sama seperti mba Sovia, saya pun begitu, though jarang kontakan, tapi sekalinya kontak untuk tanya kabar dan berbagi cerita, pasti ada saja yang diceritakan ๐Ÿ˜‚

      Semoga kita bisa berpikir positif, dan kalau pun kita worry dengan sahabat, semoga kita bisa to the point tanya tanpa asumsi personal ๐Ÿ˜†

      Delete
  17. 13 tahun aku kerja di dunia perbankan, dan aturannya hanya 1 mba, orang bank tidak boleh BERASUMSI :D.

    Dan itu ditekanin trus2 an Ama bosku dari aku awal kerja, sampe ke posisi trakhir :p. Krn banyak kejadian, staff bank, Krn merasa sudah kenal dengan si nabasah, main asumsi seenaknya. Ada orang kepercayaan nasabah mau narik duit nasabah pakai surat kuasa. Aturannya itu hrs di telp ke nasabah di nomor telp yg ada di sistem bank. si staff udah coba nelpon tp ga connect. Si orang kepercayaan kemudian ksh nomor baru yg dia bilang nomor si nasabah yg lain. Dan si staf berasumsi org kepercayaan ga mungkin boong. Telp lah dia ke nomor itu. Ternyata itu bukan nomor nasabah :D. Akibatnya uang melayang .
    Kejadian lain, staff Berasumsi kalo nasabah mau tarik uang dari rekening A. krn kebiasaannya begitu. Ternyata kali itu nasabah mau ambil uang dr rek join :p.

    Ada banyak kejadian fatal yg bisa terjadi hanya Krn staff suka BERASUMSI :p. Jadi ga peduli seberapa kenal aku dengan nasabah ato orang2, aku pasti hrs memastikan dulu drpd hanya asumsi tebak2 an :p. Udah kebiasaan aja soalnya. Karena kalo asumsi kita salah, efeknya kdg bisa besar :D . Krn saat ada kejadian hanya Krn ASUMSI yang salah, petugas investigasinya ga akan mau denger kata2, " saya pikir......" , "Saya kurasa...", "Saya ga menduga kalo ....."

    Bhaaay kalo sampe ada kata2 begitu :p. Siapin kerjaan baru aja dan ga mungkin di dunia perbankan hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka sama sharingan mba Fanny, bisa kasih gambaran ke saya dan teman-teman lainnya bahwa asumsi bisa jadi berbahaya untuk diri sendiri dan orang lain, dan sudah seharusnya kita menjaga diri kita dari asumsi pribadi. Apalagi kalau asumsinya nggak berdasarkan data alias hanya perasaan saja ๐Ÿ˜†

      Kadang kita hidup kebanyakan asumsi dan ekspektasi, yang mana akhirnya membuat diri kita sengsara. Padahal ada banyak pilihan yang bisa dilakukan, tapi kenapa dua hal itu selalu jadi yang pertama, yah ๐Ÿ˜‚ -- semoga kita bisa terus menjaga diri kita, agar nggak berasumsi macam-macam dan berekspektasi ketinggian ๐Ÿ™ˆ

      Delete
  18. yaa dibalik pertanyaannya, tiap hari ketemu, ngobrol terus, apa ngga bosen? ๐Ÿคญ setiap hal ada porsi dan waktunya, kaan.. sohiban bukan berarti harus selalu ada dan selalu responsif kaan.. kalo emang ngga berkabar ya mungkin sedang sibuk. tanya saja.. kalo emang ngga dijawab, ya sudah.. mungkin belum sempat saja.. ๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bosan bangettt hahaha tapi dulu jaman sekolah sepertinya nggak bosan ๐Ÿคฃ mungkin karena prioritas belum banyak, mas ๐Ÿ˜œ

      Nah iya, sekarang berjalan dengan waktu, sudah paham setiap orang punya kesibukan. So, instead of berpikir yang nggak-nggak, better langsung tanya ๐Ÿ˜‚ seenggaknya bisa dikasih jawaban jadi nggak penasaran hahaha.

      Delete
  19. Hahaha... Salah satu yang saya kurang suka dari kecanggihan teknologi informasi itu ya ini, Mbak Eno: seolah-olah ada keharusan untuk terus-terusan kasih kabar dan ngobrol lewat pesan teks. Misterinya jadi berkurang. Padahal, kalau keseringan pesan teks dan tanya kabar dsb., ada kemungkinan kekurangan bahan obrolan pas ketemu langsung.

    Makanya kadang saya merindukan masa-masa sebelum teknologi ponsel secanggih sekarang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, agak pusing juga kalau terus keep in touch, mana kadang pembahasannya bercabang nggak kelar-kelar ๐Ÿ˜

      Untungnya dengan bertambah umur, circle semakin mengecil, dan mostly pada punya prioritas personal. Jadi sudah nggak baper-baperan semisal ada yang hilang kabar. Paling kalau rindu langsung chat duluan ๐Ÿ˜‚

      Delete