Our Own Path | CREAMENO

Pages

Our Own Path

Saat gue masih anak-anak, gue selalu hidup dalam kompetisi ~ baik dengan teman sekolah atau dengan adik sendiri, which automatically membuat gue merasa perlu untuk jadi yang terdepan dalam prestasi πŸ™„ Dan ketika seseorang melaju lebih jauh dari gue, rasa kesal dan kecewa pada diri sendiri akan muncul yang acap kali membuat gue bersedih hati. In the end, gue tumbuh jadi anak yang selalu berusaha keras dalam mempertahankan posisi πŸ˜₯

Pernah suatu kali, ranking gue turun, dari nomor satu (berturut-turut) terus berubah jadi nomor tiga (jaman itu ranking lumrah diberikan). Dan sepulang dari sekolah, gue berdiam diri di kamar, mencoba refleksi salah gue dimana. Ibu bilang, "Nggak apa-apa, ranking bukan yang utama." 😭 Tapi, hati kecil gue nggak terima kalau performa gue buruk di lapangan πŸ˜•

Waktu terus berlalu, gue tumbuh dewasa, persaingan di dunia nyata terasa semakin berat. Dan kali ini, yang gue hadapi bukan lagi orang-orang di luar sana, melainkan diri gue sendiri ~ Gue sadar, bahwa BATTLEFIELD yang sesungguhnya adalah saat gue bisa menjadi lebih baik dari diri gue di hari sebelumnya, bukan menjadi lebih baik dari orang lain di luar sana πŸ˜‰

🐰🐰🐰

Gue pernah melalui masa dimana menjadikan pencapaian seseorang as benchmarks dihidup gue, hingga akhirnya gue paham cara itu nggak akan membawa gue ke mana-mana, sebab akan selalu ada orang-orang yang memiliki prestasi lebih besar. Ibarat kata, nggak akan ada habisnya! Dan gue tau, benchmarks gue seharusnya diri gue sendiri ~ dengan begitu gue bisa lihat secara jelas sudah sejauh mana gue melangkah πŸ˜… Berhubung gue hidup dengan banyak purpose dan beban di pundak, jadi pilihan gue hanya dua, kalau nggak maju, yaaa mundur ke belakang.

Ternyata, hidup tanpa menjadikan pencapaian orang lain as benchmarks lebih menyenangkan, karena gue bisa atur flow dan timing gue ke depannya 😍 Plus gue nggak perlu kawatir apabila seseorang sukses duluan, yang ada, gue justru jadikan itu sebagai motivasi kehidupan. Dan dari situ, gue belajar slow down, purpose hidup gue pun sedikit banyak berubah, dari yang tadinya ingin kaya raya tujuh turunan sekarang jadi ingin hidup peaceful dan berkecukupan πŸ™ˆ

Buat gue, proses terberat yang gue alami adalah ubah mindset 🀧 Pada masanya, gue pernah frustrasi ketika gue nggak bisa capai goals pribadi, gue marah ke diri gue sendiri, padahal tanpa gue sadari, gue sudah berusaha sebaik mungkin πŸ˜₯ Pernah satu hari, gue duduk santai di sofa, kemudian mba gue lewat, gue tanya dari mana. Jawabnya, "Tadi ditelepon ibu saya, token listrik di rumah bunyi, jadi saya beli token lima puluh ribuan." -- gue bengong, ketampar realita.

For some people, rasa syukur yang mereka punya sesederhana bisa beli token lima puluh ribu. Terus kenapa gue nggak bisa bersyukur akan pencapaian gue dan berterima kasih pada diri gue setelah bekerja keras? It was hard, indeed. Susah untuk gue nggak lihat pencapaian orang. Dan ini bukan soal gue nggak suka mereka sukses, not at all. Of course gue ikut bahagia melihatnya, tapi ini lebih ke soal gue terlalu keras ke diri gue dan nggak merasa puas dengan apa yang gue dapat. Alhasil, gue sering berdiam diri hanya untuk berpikir kenapa gue 'gagal' πŸ˜₯

🐰🐰🐰

Lantas gue ketemu si kesayangan, yang menikmati hidup dengan fokus pada dirinya. Buat dia, hidup bukan untuk bersaing sama orang lain, tapi bersaing sama diri dia sebelumnya. Be better version, little by little ~ Dia nggak peduli di luar sana banyak yang lebih sukses dari dia, sebab yang dia pedulikan adalah jalan dia, "Paving my own path." -- begitu katanya.

Karena dia percaya, setiap dari kita punya jalan berbeda meski tujuannya sama-sama sukses di dunia. Dan patokan kesuksesan setiap dari kita pun berbeda. Ada yang baru merasa sukses saat sudah punya rumah dan kendaraan, ada pula yang baru merasa sukses saat sudah membangun keluarga dan banyak patokan lainnya (baik itu karir, pendidikan, this and that) 😁

While, kesuksesan versi dia sesederhana bisa hidup tenang. Salah satunya dengan nggak fokus pada pencapaian orang (karena itu hanya akan jadi mimpi buruk untuk dia) dan dengan merasa cukup pada apa yang dipunya sambil level up pelan-pelan 😍 Bisa memulai hari dengan makan sehat, setelah sebelumnya tidur nyenyak dan menjalani rutinitas dengan semangat sudah lebih dari cukup untuk dia. Dan menurut dia, being greedy nggak buat bahagia ~ Mungkin karena itu, dia nggak alami QLC (Quarter Life Crisis) seperti apa yang gue alami di usia 20 tahunan πŸ™ˆ

🐰🐰🐰

Eniweis, gue buat post ini sekaligus untuk respon email yang gue dapat, bertuliskan, "I want to have a successful life like you." ---- hehe. Terima kasih banyak apresiasinya, tapi gue ingin bilang, hidup gue sama seperti kebanyakan orang, nggak selalu lancar tanpa hambatan πŸ˜… Means, yang gue bagi di blog selama ini hanya 0,0001% dari apa yang gue hadapi di dunia nyata πŸ˜†

Gue tentu pernah melalui contemplating, bingung, resah, gundah gulana, marah, kesal dan lain-lain (just like you, guys). Tapi bukan berarti kita nggak bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin. Hehehee. So, gue berdoa, semoga kita bisa paving our own path dan berterima kasih pada diri kita atas usahanya hingga hari ini πŸ˜‰ Kalau kata Anonymous, "Do what works for you. You don’t have to be Michael Jordan; you just have to do what you’re comfortable with." 😁 cheers!
When I was a kid, I always lived to compete πŸ˜… Either with my school friends or with my younger siblings, which automatically made me feel the need to be the first πŸ™„ And when someone goes further than me, a feeling of disappointment in myself will arise and it made me sad. In the end, I grew up to be a kid who tried hard to maintain my position πŸ˜₯

Once upon a time, my ranking went down ~ from number one (every year) to number three (at that time ranking was common). After school, I stayed silent in my room, tried to reflection. Mom said, "Ranking isn't important." but, I couldn't accept the fact that my performance was bad 😭

Time flies, I'm growing up. The competition in real world is getting tougher. But at this time, what I'm dealing with is no longer the people out there, but myself. I realized that the real battlefield was when I could be better than myself the previous day, not better than others πŸ˜‰

🐰🐰🐰

I've been through a period where I made someone's achievement as benchmark in my life, until I understood that it wouldn't take me anywhere πŸ™ˆ Because there would be people with greater achievements. Like, there will be no end! And I know, my benchmark should be myself, that way I can clearly see how far I have improved. Since I live with a lot of purpose and a burden on my shoulders, there are only two options for me, if I can't go forward, then go backwards.

And it turns out, life without making other people's achievements as benchmarks is more fun 😍 Because I can manage my flow and timing, and I don't need to worry if someone succeeds first ~ Beside that, I can use it as motivation so one day I'll be successful like them. And finally, I learned to slow down, my life purpose has changed a little bit, from when I wanted to have a big success (let's say rich in seven generations), to when I want to live in peace and prosperity 😁

For me, the hardest process was changing my mindset πŸ˜… At that time, I was frustrated when I couldn't reach my personal goals, I was angry with myself, even though without realizing it, I did trying my best. One day, I rest at home when my household assistant passed by, so I asked, from where. And she said, "My mom called me, she said the electricity token at home was beeping, so I bought fifty thousand tokens for her." -- I was dumbfounded, a kind of reality slap 🀧

For some people, their gratitude, is as simple as be able to fill fifty thousand electricity tokens. Then, why can't I be grateful for my achievements and thank myself after working hard? It was hard, indeed. It's hard for me not to see the achievements of people. The problem isn't about, I hate their success, not at all. Of course I'm happy with their success, but this is about, I was too hard on myself and not satisfied with what I get. As a result, I often thinking why I 'failed' πŸ˜…

🐰🐰🐰

Then I met my man, who lives life with a focus on himself. For him, life shouldn't compete with others, but with himself (the day before) 😁 Be better version, little by little ~ And he doesn't care that there are many people outthere who are more successful than him, all he cares about is his path, "Paving my own path." -- those were the words he had spoken.

Because he believes, each of us has different path though we wanna be successful in the world. And the standard of success for each of us is different ~ There are those who will feel successful when they have a house and a car, and there are those who will feel successful when they have a family also many other standards (career, education, this and that) πŸ™ˆ

While, his version of success is be able to live in peace by not focusing on other's achievements (because it will only give a nightmare) and by feeling enough of what he has, slowly leveling up. Be able to start a day with healthy food, after sleep well and do his routine with enthusiasm is more than enough. And he told me, being greedy will not make him happy. Maybe because of that, he didn't experience the QLC (Quarter Life Crisis) like what I experienced in my 20s πŸ˜…

🐰🐰🐰

Anyway, I made this post as well as to response the email I got which is said, "I want to have a successful life like you." ---- hehe. Thank you very much for the appreciation, but I wanna tell you that my life is just like most people, not always smooth without problems πŸ˜… Means, the things that I shared on my blog only 0.0001% of what I face in the real world πŸ™ˆ

And, of course, I've ever contemplating, confused, anxious, angry and upset (just like you, guys!). But that doesn't mean we can't be better than yesterday ~ I pray we can paving our own path and thank ourselves for the efforts we made. Just like Anonymous said, "Do what works for you. You don't have to be Michael Jordan; you just have to do what you're comfortable with." πŸ˜‰
---------------------------------------------------------------------------------------
Korean translation coming soon, guys!
Sorry if I make you wait. Check later.

---------------------------------------------------------------------------------------

64 comments:

  1. Kompetisi adalah cara terbaik untuk memberi makan ego. Makanya, orang yang paling kompetitif di kelas sampai tidak mau berbagi ilmu ataupun catatan selalu dibenci sama teman sekelasnya. Mungkin itu salah, saya juga tidak mendukung hal itu. Tapi, alangkah lebih baik memberi pengertian ketimbang bilang tugasnta belum selesai tapi setelahnya langsung maju ke depan untuk mengumpulkan.

    Ohya, sekarang ini sudah eranya kolaborasi. Seperti yang kak Eno terapkan pada Paid Guest Post beberapa waktu lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha pengalaman pribadi yah, mas? 😁

      Punya teman yang seperti itu tentunya bisa buat panas. Tapi nyatanya ada yang demikian dan tentu mereka punya alasan. Mostly karena nggak suka kerja kerasnya dicontek orang. Saya punya beberapa teman tipe strict seperti ini. Nggak salah kok, ini menyangkut prinsip. Sebab dia mau bilang alasan dia apa (memberi pengertian atau nggak), mostly yang tanya akan tetap nggak suka πŸ˜…

      Saya pribadi meski kompetitif anaknya, tapi masih hobi untuk saling kasih contekan sama teman πŸ˜‚ Apalagi jaman SMP / SMA, saya termasuk anak-anak yang kadang mengerjakan tugasnya di sekolah (sebelum jam masuk atau saat jam istirahat), beda dengan jaman SD yang selalu giat kerjakan PR di rumah sehari sebelumnya πŸ˜† Tipe kompetisinya jadi berubah, dan cara survive-nya pun nggak sama. Hehehe. Semoga apabila mas Rahul bertemu teman yang mode survive-nya lebih suka berjuang sendirian, mas bisa menerima dan nggak merasa kesal (karena akan selalu ada orang-orang seperti itu even di dunia kerja walau konteksnya akan berbeda) 😁

      Ohya, setuju sama mas Rahul, era sekarang sepertinya era kolaborasi, jadi sukses sama-sama instead of sendiri-sendiri hihihi ~ Menurut saya, kolaborasi sangat menarik, tapi pada satu sisi, cukup berat dilakukan apalagi bagi yang terbiasa berproses seorang diri 😁 Kalau saya, suka banget kolaborasi, asal partnernya punya will-power yang baik 😍 Mungkin one day, mas Rahul bisa doing collab πŸ˜†πŸ’•

      Delete
    2. Ha ha ha, iya kak Eno. Tapi poin saya begini, bukan masalah orang tersebut tidak mau ngasih jawaban atau tugasnya. Tapi masalah kerelaan dia untuk jujur dan kasih penjelasan secara terang. Bukan bilangnya belum, tapi habis itu dikumpul duluan. Saya juga pernah ditahap itu, saat saya sangat ngerti dengan suatu materi dan soalnya menurut saya gampang dan teman-teman saya kesulitan. Saya bilang saja, tugas saya ini saya kerjakan sendiri, kalo mau lihat di beda-bedakan. Atau, saya bantu sebisa saya untuk mereka kerja. Tapi ini masih dunia sekolah, saya tidak tah betapa peliknya dunia kerja.

      Aamiin kak Eno. Saya masih nunggu ajakan, nih. Soalnya saya mau ngajak, belum kepikiran ide 😁

      Delete
    3. Aha, I see πŸ˜‚ Mungkin yang memilih untuk nggak bilang namun langsung maju itu punya alasannya sendiri kenapa begitu, bisa jadi sudah pernah punya pengalaman bicara apa adanya sebelumnya tapi yang minta contekan nggak terima 🀣

      Ini perkiraan saya, bisa jadi salah, sebab saya belum pernah ada di posisi orang yang memilih untuk diam. Biasanya saya kalau nggak mau kasih contekan langsung jawab, "Kerjakan sendiri dong, gue susah nih mikirin jawabannya." -- tapi saat saya ingin kasih contekan ya tinggal kasih hahaha πŸ™ˆ

      Mungkin mas Rahul bisa ajak teman-teman bloggers yang seusia mas Rahul untuk buat topik seru bersama, semisal topik soal dunia kuliah era sekarang, etc. Saya lihat ada beberapa bloggers yang usianya nggak jauh dari mas Rahul 😍

      Delete
  2. Kok rasanya ga asing dengan tema tulisan ini, dengan jalan hidup setiap orang yg berbeda-beda, dengan arti kesuksesan yang berbeda-beda, dan jangan melihat kesuksesan orang lain yg hanya buat drop, tapi cukup menjadi lebih baik dari kita yg kemarin.
    i aware all of that bu still, selalu ada waktu dimana aku lupa dan tetap melihat kesuksesan teman-teman dekat dan mengapa aku masih disini.

    Mungkin begitulah kodrat manusia, sering lupa.
    Dan postingan seperti ini yg semacam mengingatkan kembali, kayaknya harus sering didapatkan untuk mengingatkan kembali ketika kita lupa. kembali mengingat apa yang seharusnya diingat dan menjadi mindset hidup yg lebih peaceful.

    Terimakasih kak Eno untuk tulisan yg mengingatkan kembali.
    Karena setiap dari kita punya cerita hidupnya sendiri-sendiri, timingnya sendiri. kita harus seperti partnernya kak Eno, cukup menargetkan diri untuk lebih baik dari kita yang kemarin, dan itu sudah sangat bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya wajar kalau Ady merasa seperti itu 😁

      Kita manusia punya rasa, kadang kita lupa mengendalikannya. Sometimes, saya pun merasakan apa yang Ady rasakan, kalau sudah timbul rasa itu, saya langsung buru-buru ingat lagi tujuan saya. Thankfully, it helps untuk membuat saya stay on track. Jadi jangan sampai kita yang terbawa perasaan, namun sebisa mungkin kita yang kontrol rasa apa yang kita punya πŸ™ˆ

      Semangat untuk kita yah Dy, hehehe. Ketika lupa bisa saling mengingatkan. Dan apapun tujuan kita, semoga kita menjalani prosesnya dengan peaceful tanpa harus meng-compare diri kita dengan pencapaian orang lain, kalau kata Tim Hiller, "Don’t compare our beginnings to someone else’s middle." hahahaha πŸ˜‚

      Delete
    2. wah, kata-kata yang bagus tuh dari om Tim Hiller.
      siap untuk saling mengingatkan...

      terimakasih kak Eno!

      Delete
    3. Sama-sama 😁 Semangat untuk kita ~

      Delete
  3. Yaa memang dalam perjalanan menggapai cita-cita dan impian memang selalu terjal. Ditambah apa yang kita harapkan juga tidak selalu akrab dengan kenyataan yang ada. Tuhan memang menciptakan segala sesuatu secara bergantian, ada siang kemudian ada malam, ada cerah kemudian ada hujan. Mungkin itulah yang bisa menggambarkan keadaan kita saat ini.

    Ada pepatah mengatakan bumi itu terus berputar, Maknanya adalah tidak selamanya kita terus berada diatas, cepat atau lambat kita mulai berjalan menuju ke bawah. Diibaratkanya yang saat ini berada dipuncak gunung, maka tidak ada jalan lain kecuali jalan untuk turun.

    Begitu juga saat kita menggapai cita-cita, Meskipun kita selama ini sudah berupaya dan berkerja keras untuk maju mencapainya, namun akan ada satu fase dimana kita harus merasakan kemunduran. Itu adalah sesuatu yang pasti!

    Meskipun begitu hal itu adalah fase kehidupan yang normal. Tugas kita adalah jangan pernah menyerah saat kemunduran sudah sangat jelas kita rasakan. Anggaplah kemunduran dalam perjuangan kehidupan itu sebagai batu pijakan untuk lompatan yang lebih jauh.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Satria, terima kasih untuk insightnya 😁

      Pada akhirnya, apa yang kita harapkan akan datang diwaktu yang tepat yah, dan jika yang kita harapkan nggak kunjung datang, mungkin Tuhan sudah siapkan hal lain yang lebih baik untuk kita. Dan tugas kita sebagai manusia adalah terus berusaha agar bisa sampai tujuan kita (terlepas apapun tujuannya) 😍

      Yep, it's normal. Semoga kita bisa terus berusaha, sambil sesekali beristirahat untuk melihat sejauh mana kita sudah melangkah πŸ˜‰

      Delete
  4. Kurang lebih sama seperti quotes-quotes yang berseliweran di medsos yang aku sering lihat, kak Eno, we don't have to be someone else and sacrifice ourselves to get a happy and "successful life" that we think we don't have because everybody is struggling their own journey, but they just don't share them🀧

    Mungkin karena sebagai makhluk sosial, kita hidup pasti nggak bisa lepas dari orang lain, sehingga apapun itu selalu diukur lewat apa yg orang lain punya, dan apa yg kita nggak punya, lalu membuat perbandingan. Kalau aku pribadi, instead of ingin merasakan punya hidup yg sama seperti si anu dan si itu, blablabla, jujur aku lebih penasaran tentang perjalanan mereka gimana bisa mencapai titik tertentu—katakanlah sukses—yang ada skrg, dalam hal ini juga kak Eno termasuk🀧 Betapa beragamnya pasti cerita hidup masing-masing orang hingga mereka bisa melalui berbagai pergolakan batin dalam diri dan ada di titik-titik tertentu itu, entah titik sukses, titik bangkit, bahkan titik terendah dalam hidup, dan atau titik dimana sudah merasa cukup dengan apa yg dimilikiπŸ˜„

    Aku harap semoga bisa lebih banyak belajar lagi tentang ini untuk nggak terlalu keras sama diri sendiri hanya karena ingin selangkah lebih maju dari orang lain. Baiknya ingin selangkah lebih maju untuk diri sendiri, bukan untuk menyamai langkah dengan orang lain ya kak😫

    Makasi banyak kak Eno untuk tulisan yg deep iniπŸ€§πŸ€—♥️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih untuk quote-nya Awl 😍

      Setuju, dengan quote yang Awl bagikan. Setiap dari kita pasti punya struggle-nya sendiri, hanya bedanya ada yang terlihat dan ada yang nggak. Hehehehe. Tuhan itu maha adil, jadi struggle yang diberikan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing πŸ˜‰

      Mungkin karena itu istilah rumput tetangga selalu lebih hijau benar adanya. Karena kita makhluk sosial, terkoneksi dengan makhluk sosial lainnya. That's the time we should remind ourselves to keep on track though it's hard πŸ˜† -- eniho, perjalanan hidup kakak nggak ada yang istimewa, Awl. Semua berproses normal. The only thing yang kakak pegang adalah keep doing while learning πŸ˜‰ hehehehehe.

      And yes, jangan terlalu keras sama diri sendiri, karena diri kita sendiri pun butuh diapresiasi. Kalau bukan kita, terus siapa lagi? 😁 Pelan-pelan, slowly, take your time, make your own flow and timing. Semoga Awl bisa sampai pada tujuan Awl dikemudian hari.

      Semangat untuk kita, Awl 😍

      Delete
  5. Mbaa what a deep thought ❤❤

    Menjadikan orang lain sebagai tolak ukur emang nggak ada habisnya mba, karena bakal ada lagi yang lebih. I used to underestimate myself, seriing. Tapi semakin kesini, sama kayak Awl aku lebih penasaran sama cerita mereka yang sukses dan menjadikan itu motivasi.

    Dunno what to say, karena yang mba omongin benar semua. Thank you for sharing mba πŸ’•πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Soviaa, how are you? 😁

      Iya mba, akan ada masa dimana kita sadar, kalau kita keep comparing diri kita ke orang, itu nggak akan ada habisnya πŸ˜‚ Sebab akan selalu ada yang lebih baik dari orang-orang yang kita compare sebelumnya. Capek banget pastinya, mbaaa πŸ˜…

      Semoga dalam proses perjalanan mba Sovia, mba akan berhenti untuk underestimate diri mba sendiri, sebab you deserve to get aknowledge by yourself while trying hard to survive πŸ˜‰ Dan semoga, mba bertemu / berkenalan dengan orang-orang yang bisa memotivasi mba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya 😍

      My pleasure, and thank you for reading, mba πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  6. setujuuuu kalau jalan tiap orang untuk mencapi puncak berbeda beda mskipun tujuan yang dimau adalah sama.
    fokus dengan apa yang dijalani sekarang dan tetep berusaha mencapai mimpi dengan perlahan.
    bener juga mbak, dipikir pikir "ngapain juga kita fokus dengan pencapaian orang lain, yang ada malah harusnya kita menjadikan kesuksesan orang lain sebagai pemacu semangat diri kita sendiri"'
    dan indikator kesuksesan tiap orang juga berbeda-beda, intinya jalani cara menuju sukses yang kita ingin lalui sesuai kemampuan diri sendiri.

    dulu waktu aku kecil juga berpikir, waktu ranking turun dari 1 ke 2 misalnya, kok bisa ya dikalahin hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, thanks mba Ainun for the insight 😍

      Semoga kita bisa selalu fokus dengan apa yang kita lakukan sekarang, jangan lupa untuk enjoy the present sambil terus melangkah menuju mimpi kita πŸ˜† -- Dulu buat saya sulit untuk melihat kesuksesan orang lain sebagai motivasi, hahaha, yang ada saya berpikir kesuksesan orang lain adalah kegagalan bagi diri saya sendiri, tapi berjalan dengan waktu dan pendewasaan umur, saya paham bahwa yang sukses di dunia ini nggak mungkin hanya saya doang, it means saya perlu accept the fact kalau saya akan bertemu banyak orang sukses di luar sana 😁

      Dari situ pelan-pelan saya belajar dan memilih untuk menjadikan mereka motivasi agar saya bisa sukses pada jalan yang saya pilih untuk diperjuangkan. Semangat untuk kita, mba Ainun 😍

      Delete
  7. Kak Eno, terima kasih udah membuat tulisan ini 😍. Tulisannya deep sekaliiii, dan mengetuk hatiku untuk kembali berkaca atas bagaimana hidup yang aku jalani hingga sekarang ini~

    Wah, aku tuh selalu salut dengan pemikiran Kesayangan Kakak. Pemikirannya tuh bijaksana dan lurus, selalu tahu maunya apa. Aku jadi ingin mengadopsi tujuan hidup Oppa, yaitu untuk hidup tenang dan untuk itu, aku harus mulai tidak peduli dengan pencapaian orang lain, maksudnya, aku harus lebih fokus ke diri sendiri, seperti kata Kakak 😊. Thank you for sharing, Kak Eno 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama sayanggg πŸ˜†πŸ’•

      Semoga whenever kita merasa salah jalan, kita bisa looking back pada setiap langkah yang sudah kita lalui sebelumnya dan yang ingin kita lalui ke depannya agar kita bisa kembali on track 😍

      Dia bisa punya pemikiran seperti itu tentu karena dia sudah melewati hal-hal yang mendewasakan dirinya di masa lalu πŸ˜‚ Sama seperti kita, hehe. Dan ternyata, punya tujuan hidup tenang (peaceful) itu sangat membantu kita dalam menikmati apa yang kita punya, tanpa berharap lebih pada apa yang nggak kita punya πŸ˜‰ hehehehe.

      Semangat untuk kita yah, semoga kita bisa lebih fokus pada diri kita, dan jangan lupa berterima kasih pada diri kita yang sudah berusaha sekuat tenaga setiap harinya 😍 happy Friday, Lia πŸ’•

      Delete
  8. belum lagi peer pressure, pandangan dari orang lain, terutama orang tua, yang membandingkan dengan orang lain.. ini yang sering bikin frustasi juga.. maka muncullah pertanyaan yang bikin sebagian orang terganggu: kapan lulus? kapan nikah? si itu anaknya udah 11 dan dah bikin klub sepak bola, kamu kok malah piara kucing?? dan sebagainya.. 😩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget mas Zam πŸ˜‚ Peer pressure ini memang kejam.

      Mungkin karena itu kita terus secara tanpa sadar compare diri kita, semacam kawatir pandangan orang ke kita terlalu rendah. Padahal kata si kesayangan, nggak semua orang punya waktu untuk memikirkan bagaimana hidup kita jadi jangan terlalu pusing sama pandangan orang, belum tentu pula mereka memandang kita 🀣

      By the way itu pelihara kucing sukses buat saya ketawa. Ada-ada saja pertanyaannya. Semoga mas Zam punya sabar seluas samudra πŸ™ˆ

      Delete
  9. Pos yang bagus untuk dibaca yg suka bersaing. πŸ˜ƒMaaf maksudnya hidup dalam kompetensi itu apa ya? Sama nggak dengan hidup dalam kompetisi?

    Menarik mendengar kesayangan berprinsip demikian. Dari yang saya baca-baca orang Korea agak mirip orang Singapore. Kompetisi diantara mereka sangat tinggi. Apa yang menyebabkan kesayangan mbak jadi punya prinsip berbeda? Beda krn tempat dibesarkan, cara didikan atau pernah alami sesuatu yg menggugah?πŸ™‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai hai mba Phebie, tumben pakai blog ini, ternyata ada post baru yaaah 😍 Nggak sabar mau baca hihihi ~ eniho, itu maksudnya kompetisi, mba. Terima kasih sudah di-notice, jadi bisa saya revisi πŸ™ˆ

      Yep, sebetulnya orang Korea sama seperti orang Asia in general (include Singapore or even Indonesia) πŸ˜† Kompetisi di negaranya sangat tinggi, saling sikut satu sama lain untuk dapat posisi. Hehehe.

      But again, sama seperti di negara kita / Singapura, akan ada orang-orang seperti dia yang laidback πŸ˜… Kalau kata ibunya, dari dulu karakter dia sudah begitu, mba. Apa mungkin karena dia anak kedua (?) πŸ˜‚

      Delete
  10. Tulisan ini membuatku flashback waktu di zaman kuliah, tepatnya ketika aku baru memasuki awal 20an, Mbaa.

    Aku juga mengalami apa yang Eno alami. Aku nggak terima kalau orang terdekatku lebih baik daripada aku, entah itu soal nilai ujian, pekerjaan, talenta dll. Makanya masa kuliah agak sulit bagiku untuk jadi diri sendiri. Belum lagi aku haus sekali akan pengakuan. Belum merasa mampu kalau belum diakui orang lain. Seolah-olah aku melakukan segala hal untuk memuaskan hasrat orang lain, bukan untuk diri sendiri πŸ˜”

    Butuh waktu agak lama sampai akhirnya aku berdamai dengan diri sendiri dan benar-benar melakukan semua hal untukku, bukan lagi supaya dipuji orang lain. Dan sama kayak Mba Eno juga, aku pun lucky bertemu dengan pasangan yang terus-menerus mengingatkan mengejar impian sendiri.

    Terima kasih untuk tulisan hangatnya, Mba Eno tercintaa πŸ’• bacanya ditemani air honey lemon hangat di pagi hari, jadi makin gimana gituu 🀭 Semoga kita semua semangat mengejar purpose dan kesuksesan versi masing-masing, bukan apa kata sosmed 😝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu, terima kasih sudah berbagi cerita, mba Jane πŸ’•

      Sepertinya, masa-masa itu sangat berat yah. Saya pun dulu selalu merasa butuh pengakuan dari orang tua kalau saya bisa jadi yang pertama πŸ˜₯ Capek banget rasanya karena ended up nggak ada habisnya. Semacam terus-terusan memaksa diri ini lari padahal sometimes butuh istirahat 🀧 And yes, proses untuk kita bisa berdamai dengan diri kita dan ubah mindset butuh waktu panjang πŸ™ˆ

      Thank God, kita bisa survive dan mulai appreciate diri kita serta paham apa yang diri kita inginkan 😍 -- well, kita beruntung yah mba, punya pasangan yang bisa terus mengingatkan tujuan kita. Jadi ketika kita salah langkah, ada yang tiup pluit biar nggak keterusan hahaha πŸ˜‚

      My pleasure mba Jane, terima kasih sudah baca curhatan saya. Aduuuh segar banget baca blog sambil minum air honey lemon hangat 🀀 -- Amiiin semoga kita bisa sukses dengan jalan yang kita pilih, and live happily 😍 Semangat untuk kitaaaa, mba! πŸ’•

      Delete
  11. Hangat banget tulisan ini Mba Eno, apalagi dibaca sambil sarapan ini hehe...

    Sepertinya memang iya sih, kalau setiap hal kita jadikan kompetisi tuh, rasanya capek banget pasti. Kayak sedikit-sedikit pasti jadi nyalahin diri sendiri, jadi stres sendiri kenapa kita ga bisa lebih baik lagi. Mba Eno beruntung sekali yaa hidup sama si kesayangan, jadi diajak hidup sedikit lebih santai hehehe.

    Kebetulan beberapa tahun terakhir ini memang sering dengar/baca sesuatu tentang mengejar purpose sesuai masing-masing diri kita sendiri, jangan tergantung sama apa kata orang atau pengalaman hidup orang lain. Memang semakin ke sini, udah enggak terlalu ngoyo lagi ngejar apapun yaa... pengin hidup tenang aja, udah.

    Aku pribadi bukan orang yang kompetitif sih, tapi entah kenapa selalu dikelilingi orang-orang kompetitif hahaha. Jadi kadang aku enggak gimana-gimana, tau-tau kayak diajak lari-lari ngejar apa yang teman-temanku kejar hahaha.

    Semangat selalu Mba Eno, terima kasih tulisannya yang menghangatkan hati ini πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sarapan apa hari ini, mba Eya? 😍

      Iya mba, jadi penyakit ujungnya hehehe. Karena kita selalu merasa gagal dan terus menyalahkan diri sendiri, padahal faktanya kita sudah berusaha sekuat tenaga dalam menjalani hari-hari πŸ™ˆ

      Hehehe, thank God, saya ketemu pasangan yang laidback, jadi saya diajak slow down and enjoy every moments πŸ˜‚ Kalau dulu, boro-boro mau enjoy moments, yang ada sprint terus, mba πŸ˜…

      Sepertinya, bertambah umur, tujuan hidup kita jadi berubah, yang tadinya punya list bejibun, sekarang jadi, "Hidup peaceful." πŸ™ˆ Dan setuju sama mba Eya, though awalnya kita nggak kompetitif, kita bisa jadi kompetitif kalau lingkungan kita demikian. Ini yang terjadi sama saya sebab lingkungan saya isinya anak kompetitif semua πŸ˜‚ Tanpa sadar, saya jadi ikut kompetitif karena nggak mau tertinggal πŸ˜†

      Semangat juga untuk mba Eya, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Semoga hari ini indah ya, mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  12. Hidup peacefully & berkecukupan instead of kaya raya. Aku suka banget statement ini dan SETUJU!!! Kok pas banget sih, aku barusan chat sama sepupu yang barusan bersukaria memasuki usia 30 dengan status single & happy. Kami lalu lanjut chat sambil ngobrolin soal bahagia kami, soal nggak perlu lah bandingin hidup sendiri dengan hidup orang, yang ada malah capek, ngos-ngosan, dan akibatnya susah bersyukur.
    Well, yang kita bagi di permukaan emang bagian menyenangkan dari kehidupan kan, energi-energi positif yang perlu disalurkan. Meski hidup nggak melulu menyenangkan, tapi bagian sedih dari kehidupan cukup dibagi dengan orang tersayang. Pendapatku sih ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Dinilint πŸ˜†

      Hidup berkecukupan itu rasanya sudah tepat, mau beli makan, barang, ini itu, cukup uangnya πŸ˜‚ Nggak apa-apa nggak kaya raya sampai tujuh turunan, yang penting bisa menua tanpa menyusahkan keluarga. Hanya itu sekarang tujuannya πŸ™ˆ Semoga bisaaa hihihi.

      Woaa selamat untuk sepupu mba, semoga bisa menjalani usia baru dengan rasa happy yah. No worries, usia 30 nggak menyeramkan, sepengalaman saya, di usia 30+++++ ini, hidup saya lebih tentram mungkin karena masa pergolakan di usia 20'an sudah lewat 🀣

      Semangat selalu untuk mba Dinilint dalam menjalani hidup dan mengejar purpose yang mba punya. Semoga bisa sampai tujuan dengan hati senang 😍 hehehe. Iya mba, ada orang-orang yang lebih nyaman berbagi hal-hal menyenangkan instead of their own problems. However, ada pula yang lebih nyaman berbagi their own problems agar bisa jadi pelajaran bagi siapapun yang membaca πŸ˜†

      All of 'em, sama-sama melalui proses perenungan panjang bagi si pembaginya 😁 Dan disitu~lah tugas kita untuk menyaring apa yang kita baca atau menjadikan apa yang kita baca sebagai energi positif atau justru sebaliknya 😁 Eniho, thanks for the insight, mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  13. Halo Mbak Eno, apa kabar? Semoga semua selalu dalam keadaan yang baik.

    Dulu, saya seringkali galau melihat orang lain, yang jauh lebih muda daripada saya, sudah memiliki segala hal yang ideal bagi seorang laki-laki. Mapan dalam pekerjaan dan penghasilan, punya harta yang cukup, istri dan anak yang bahagia hidup bersamanya, dll. Sementara saya tidak ada apa-apanya.

    Pertama kali saya melihat blog creameno[dot]com ini juga takjub. Bagaimana caranya punya blog seperti ini dan ingin meniru caranya.

    Tapi kemudian saya cuma berusaha mengatur pikiran saya, bahwa setiap orang pasti akan merasa selalu kurang saat melihat seseorang yang terlihat berkelebihan. Mungkin ada seseorang di luar sana yang juga galau melihat kehidupan saya, yang nampaknya lebih baik daripada hidup mereka.

    Saya terlalu sering tidak menghargai pencapaian yang saya peroleh, karena saya sering membandingkannya dengan pencapaian orang lain. Saya tidak perlu bersaing dengan siapa-siapa dalam hidup saya.

    Meskipun saya masih beberapa kali mengelus dada melihat youtube-nya raffi dan nagita yang beli mobil seperti beli kerupuk, sekarang saya lebih cepat mengingatkan diri saya sendiri bahwa apa yang saya miliki sekarang adalah hasil dari segala yang sudah saya lakukan sebelumnya, ditambah dengan sedikit bumbu keberuntungan.

    Sudah seharusnya saya lebih menghargai apa yang telah saya capai, apa yang saya raih. Walaupun sesekali saya juga perlu memacu diri saya sendiri untuk tidak cepat berpuas diri, tapi tak perlu rasanya saya memaksa diri untuk menjadi atau meraih apa yang orang lain raih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Agung, kabar baik mas. Semoga mas juga, ya 😁

      Eniho, suka sama insight mas Agung, dan saya setuju, ketika kita terus melihat pencapaian seseorang, sebetulnya di luar sana, mungkin ada pula orang-orang yang terus melihat pencapaian kita. Jadi memang yang perlu diubah itu mindset kita, agar nggak lupa menghargai usaha kita dalam menjalani hidup dengan sebaik-baiknya πŸ™ˆ

      OMG Youtube para artis itu seriusan bisa buat kita kufur nikmat kadang hahahahaha, sambil ketawa ini saya baca komentar mas Agung, secara Raffi Ahmad beli mobil macam beli kerupuk 🀣 Tapi saya setuju sih, mereka itu sudah another class, even beli Hermes macam beli tas sejutaan, gampang banget ke luar uangnya πŸ˜…

      Semangat untuk kita, mas πŸ˜† Semoga bisa lebih rajin puk puk diri sendiri dan menghargai efforts yang sudah kita keluarkan 😍

      Delete
  14. Wooww
    Ternyata kak Eno dulu orang yang 'ambi' ya.. Aku tak menyangka πŸ˜…
    Kalau aku sendiri, karena dulu lingkungan sekolah kaga sekompetitif itu alias pada santuy, jadi ya aku pun santuy juga. Tapi tetep sih kalau nilainya jelek juga kesel sama diri sendiri.

    Tapi setuju sama pak suami kak Eno. Fokus saja sama diri sendiri hehehe. Kalau nurutin orang lain mah kaga ada udahnyaa. Aku sendiri pun masih belajar untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagiii

    Semangat terus kak Eno!!! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ambi itu maksudnya ambisius, kah? πŸ˜‚

      Jaman SD, lingkungan saya kompetitif semua mba, terlalu kompetitifnya sampai guru tuh pusing mau kasih rangking karena nilainya beda tipis-tipis, alhasil rangking 1nya bisa sampai 4 orang. Kalau sudah begitu, yang rangking satu pun perlu berjuang lebih keras agar dapat 1.1 hahahaha. Namun, meski kompetitif, kami semua berteman baik, bukan yang jadi musuhan (untungnyaaa) πŸ™ˆ

      Nah, ketika masuk SMP dan SMA sudah agak santuy, bahkan sudah berani kerjakan PR di sekolah πŸ˜… However sama seperti mba Frisca, meski santuy, saat nilai jelek, yaaa kesal ugha. Bawaannya jadi kecewa sama diri sendiri, hahaha. Duh dramak banget pada jamannya πŸ˜‚

      Semangat untuk kita fokus pada tujuan kita ya mba 😍 Be a better version of ourselves, little by little πŸ’•

      Delete
    2. iya ambi tuh ambisius wkwkw

      Buseett pantesan aja yaa jadi keikut kompetitif juga. Memang lingkungan sekitar juga mempengaruhi hehe

      yes kaa πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

      Delete
    3. Hahaha iya mbaaa, untung sekarang sudah agak slow down 🀣

      Delete
  15. Eno, I want to have a successful life like you too... :-D

    Ternyata Eno kompetitif sekali yah, keren loh bisa ranking 1-3 .. saya mah wadaawww... gusrak dah..nyeraahhhhh... ga sanggup.... hahahahaha

    By the way memiliki jiwa kompetisi saat memang harus berkompetisi tetap bagus kalau kriterianya memang jelas, seperti lomba lari, kompetisi sepakbola, kompetisi nyanyi, atau perlombaan 17-an.

    Hal itu akan memacu diri untuk memberi yang terbaik.

    Saya tidak sepakat dengan mas Rahul yang mengatakan kompetisi adalah cara terbaik memberi makan ego, kompetisi tetap harus ada di dunia karena dengan begitu manusia berkembang. Kodrat alam juga tetap mengharuskan ada kompetisi, seperti hewan dan tanaman sekalipun tetap memiliki sifat kompetitif.

    Menghilangkan kompetisi, sama artinya dengan meminta dunia berhenti. Tidak akan pernah terjadi. Sifat itu ada dalam diri makhluk hidup, kompetisi pula yang menjaga keseimbangan di dunia.

    Berkembangnya teknologi adalah karena persaingan dan kompetisi untuk memenangkan persaingan dan hal itu membawa kemajuan dan perkembangan.

    Begitu juga pada dasarnya, sebenarnya wajar saja kalau seseorang terpacu dan mencoba mengejar kesuksesan seperti yang orang lain dapatkan.

    Seperti orang yang bertanya , dia ingin menjadi terkenal, punya penggemar banyak, dan bisa seperti Eno. Menurut saya sih wajar.

    Hal itu membawa kebaikan karena ia punya role model dan sebuah target. Bila dikelola dengan benar, maka ia akan merasa termotivasi untuk mengejarnya.

    Masalah yang sering terjadi adalah "ia mencoba meniru" dan menjadi role modelnya. Bukan menjadi diri sendiri.

    Disinilah letak masalahnya karena ia tidak menemukan jalannya sendiri, ia mencoba meniru orang lain, dan tentunya tidak akan mungkin dilakukan karena ia bukan role modelnya. Ia tidak akan pernah menjadi "role modelnya" dan hanya akan tetap menjadi KW-nya saja.

    Ia seperti memakai baju yang tidak sesuai dengan ukurannya.

    Tidak ada yang salah dengan berkompetisi, hanya, dimana, kapan, dengan siapa dan cara berkompetisinya itu yang harus diperhatikan.

    Bagaimanapun, kompetisi tidak bedanya dengan berbagai hal lain yang punya sisi baik dan buruk.

    Itu pandangan saya loh.. bisa salah..






    ReplyDelete
    Replies
    1. Huuu mas Anton sukanya becanda deh 🀣 SEBAL.

      Iya mas, saya pada masa itu sangat kompetitif, capek banget kalau dipikir hahahaha. Untung sekarang sudah lebih relaks, mungkin pengaruh umur, sudah nggak mungkin terlalu greedy terus berlari, nanti jatuh yang ada. Wk πŸ€ͺ

      Agree sama mas Anton, kalau tujuannya jelas, sebetulnya jiwa kompetitif itu bagus karena dengan begitu, kita jadi giat bekerja keras untuk mencapai hasil yang maksimal. However, ketika di-usia sekarang sudah nggak ada lagi patokan seperti harus rangking satu, atau juara satu lomba A B C dan pertandingan in real life lebih banyak soal pencapaian hidup, saya jadi merasa kalau jiwa kompetitif saya perlu diturunkan. Sebab tujuan dan cara untuk mencapainya sudah beda-beda antar setiap manusia 🀣

      Aha, saya suka sama insight mas, seenggaknya menjadikan seseorang role model itu masih oke oke saja asal nggak meniru 100% yah, mas. Seperti saya yang sebenarnya punya banyak role model di blog, even pernah saya bahas di beberapa post saya πŸ™ˆ Semoga meski role model saya adalah mas Anton dan beberapa teman lainnya, saya tetap bisa jadi diri saya, bukan versi KW-nya teman-teman πŸ˜‚

      Once again, thanks for the comment mas, always tercerahkan 😍

      Delete
    2. Hahaha.. no way Eno.

      Sejak dikau ngeblog, saya rasa dikau sudah menentukan dan punya jalan sendiri.

      Dikau tidak pernah dan tidak akan jadi KW siapapun..

      πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

      Delete
    3. Yaaaayyy! Terima kasih mas Antoooooon πŸ˜†
      Semoga kita bisa selalu jadi diri kita sendiri, yah 😍

      Delete
  16. Waaah keren yaaa mbak Eno. Aku waktu SMA selalu langganan ranking 30 besar teruus wkwkwk. Ranking terbaikku, ranking 29. Hahahaha.

    Aku ga terlalu ambil pusing, targetnya saat itu yg penting lulus n bisa kuliah di perguruan tinggi negeri πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi nggak keren mas Dodo, sayanya yang too much πŸ˜‚
      Sekarang maunya santai yang penting tetap sampai tujuan πŸ™ˆ

      By the way, meski mas Dodo ranking 29, tapi itu tetap hasil kerja keras mas Dodo, so it's good mas. Yang penting sudah berusaha πŸ˜†

      Delete
  17. Itulah mengapa saya nggak bisa ikut bisnis MLM, ya karena kita selalu dipaksa berlaku lebih dan lebih hahahaha.
    belum lagi disuruh liat ke atas mulu, liat upline A bisa jalan-jalan, beli ini, beli itu.
    Duh sutris saya jadinya.

    Btw, saya dulu juga sama kayak Eno, dan suprisingly saya bisa berubah karena menikah dengan orang yang santai, biar kata orangnya terlalu santai juga, tapi ternyata lama-lama bisa menarik saya agar nggak terlalu selalu meng compare diri dengan orang lain.

    Dan mungkin juga itu terjadi setelah saya punya anak dan jadi IRT, sama sering silaturahmi ama teman-teman lama.

    Memang bener kata orang, silaturahmi itu penting, salah satunya untuk bikin kita lebih mudah bersyukur.
    Saya dulu sering iri liat teman-teman kuliah saya, mereka udah punya ini itu, tetep masih punya karir yang oke.
    Bisa jalan-jalan ke sana ke mari.

    Sampai akhirnya saya main ke rumahnya, dan dengerin curhatannya, astagaaa, ternyata kehidupan kami ya sama aja, nggak jauh berbeda.

    Semua seimbang.
    Saya punya ini, dia nggak punya ini, dia punya itu, saya nggak punya itu.

    Sejak saat itu saya jadi lebih bisa fokus kepada diri sendiri, fokus bersyukur.
    terlebih sekarang udah sering ngeblog, sering blog walking ke blog-blog yang sering membagikan kisah hidupnya, jujur semua itu berarti banget buat saya, buat keinsecure an saya.

    Bukan karena saya senang orang susah, tapi semua itu mengingatkan saya untuk selalu bisa bersyukur atas apa yang saya punyai, itupun juga yang bikin saya masih bisa waras sampai sekarang :D

    tengkiu sharingnya saaayy, satu lagi hal yang bikin kagum dari kesayangannya yang bikin saya jadi yakin, kalau setiap orang berpasangan itu memang dihadirkan untuk saling melengkapi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, MLM kan prinsipnya lihat ke upline sambil mengumpulkan downline, pasti bawaannya sutris setiap lihat pencapaian mereka 🀣

      Pengalaman mba sedikit banyak mirip sama saya, sebab saya bisa agak slow down all thanks to si kesayangan yang orangnya meski pekerja keras tapi bukan tipe yang compare dirinya ke orang lain terus menerus. Hehehe. Jadi dia bilang ke saya untuk jadikan orang sukses itu motivasi tapi bukan untuk being greedy πŸ™ˆ

      Pada akhirnya, seperti kata mba Rey, setiap orang pasti punya struggle-nya masing-masing, cuma mungkin berbeda jenis dan kapasitasnya. Even orang-orang yang kaya raya di luar sana, pasti ada strugglenya, entah persoalan perusahaan, keluarga besar, warisan, tahta, ini itu yang nggak bisa kita bayangkan 😁 hehehe. Dengan begitu, kita akan selalu teringat bahwa Tuhan Maha Adil ya, mba πŸ’•

      Semoga kita bisa terus menjadi lebih baik dari diri kita sebelumnya, bukan menjadi lebih baik dari orang lain. Semangat untuk kita 😍

      Delete
  18. Eh seriusan mbak eno pernah di fase seperti itu...?
    Jadi golongan yang terus berlari demi mendapatkan sesuatu...?πŸ™ˆ

    Tapi apakah itu juga pengaruh dari lingkungan sekitar kah mbak?
    Aku dari sd, smp, hingga sma ga terlalu peduli dengan rangking. 3th smp baru dapat rangking di kelas 3. Itupun rangking 10. Pas sma kesulitan nembus barisan orang-orang pintar...hiiks 🀣

    Entah kenapa aku ga terlalu tertarik untuk berkompetisi dengan orang lain. Aku malah lebih tertarik untuk belajar dari orang yang lebih tahu. Tidak pernah kepikiran untuk bersaing. Hanya kepikiran untuk menghasilkan sebuah karya aja..hehehhe

    Cerita hidup yang menarik mbak eno. 😍
    Nanti kita cerita tentang hal-hal yang seperti ini yaa mbak eno 🀣🀣

    Happy long weekend mbak eno 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, pernah hahaha, jaman masih bocah ingusan, taunya harus jadi yang pertama, kalau gagal, malunya sampai ke-ubun-ubun kadang πŸ˜‚

      Lebay banget saya pada jamannya, padahal ortu pun nggak pressure yang berlebihan, tapi entah kenapa sayanya merasa perlu jadi juara πŸ™ˆ Well, bisa dibilang ada pengaruh dari lingkungan, karena teman-teman SD saya isinya anak kompetitif semua. Ditambah saya duduk sebangku sama sahabat yang merangkap sebagai saingan 🀣

      Jadi kami saling bersaing menduduki juara pertama, masih ingat bagaimana guru pusing mau kasih rangking, akhirnya dikasih rangking 1-nya ada 4 orang, karena terlalu tipis beda nilainya πŸ˜‚ Alhasil saya dapat 1.1 dan sahabat saya dapat 1.2 😁 Kocak.

      Nah, sebetulnya pola pikir mas Rivai itu yang saya harapkan bisa saya punya, instead of terus ingin jadi nomor satu, saya ingin bisa lebih slow down dalam menjalani hidup saya sekarang. Lagian nggak akan ada habisnya kalau mau lihat pencapaian orang-orang di luar sana. Selama masih ada Om Hotman Paris dan Raffi Ahmad, saya akan tetap jadi remahan 🀣 So, now, I prefer to enjoy hidup saya, mas 😁

      Siap mas, pankapan kita cerita lagi, yah 😜
      Happy long weekend too, mas Rivai πŸ˜‚

      Delete
  19. Bersaing itu kadang seru tapi seringnya nggak baik sih.

    Aku sendiri tipe orang yang mudah 'panas' kalo ngeliat org better daripada aku. Dalam hal ini biasa kesuksesan sering ngeblog, sering baca buku, banyak tahunya, dll. Hal ini juga yang membuatku yg berasal dari kampung dan sekolah yang biasa-biasa aja tiba2 masuk kampus bonafit itu culture shock banget.

    Berat banget rasanya. Harus berjuang melawan mental percaya diri, mengejar ketertinggalan pengetahuan, tapi positifnya jadi berusaha lebih giat. Ternyata, kayak gitu jg ga bagus kalo ga konsisten. Karena setelah merasa udah seattle, nggak konsisten lagi untuk meningkatkan kemampuannya.

    Jadi, sekarang ini aku lebih prefer mengikuti apa yang sedang diinginkan diri aja. Lagi males, yaudah gapapa nggak ngeblog dulu, belum sempat, yaudah istirahat dulu. Asal, nggak boleh lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang terpenting memang konsistensinya ya mba Ghina, dan tentu time limit, jadi meski kita mau istirahat bermalas-malasan dan lain sebagainya, tapi kita punya limit agar bisa kembali berjalan 😁

      Betul mba, bersaing secara kompetitif sebetulnya seru karena memacu diri kita menjadi lebih baik namun kalau terlalu too much sampai terus menerus lihat ke atas, yang ada kita sendiri yang kelelahan πŸ˜‚ Karena nggak ada habisnya, secara di atas langit ada om Hotman Paris πŸ™ˆ

      Eniho, terima kasih sudah berbagi insight mba, saya jadi belajar lebih banyak dari apa yang mba Ghina sampaikan πŸ˜πŸ’•

      Delete
  20. Mbaa Enoo, seperti biasa tulisannya selalu menginspirasiii 😍😍

    Aku termasuk yg minin mengalami ini jd ga bs cerita banyak tntng diri sendiri. Tp aku masih punya PR besar buat anak2, terutama anak sulung aku. Dr dulu keliatan klo standar sukses mnrt dia adalah sama dg temen2nya. Salah satu hasil psikotesnya, keliatan ini salah satu penyebabnya krna pola pengasuhan yg ga seragam pas masih kecil. Misal si A melarang, tp B malah ngebolehin. Dan memang waktu dia kecil kita tinggal di rumah mertua dan keluarga besar (dg semua perbedaan pola pengasuhannya). Kata psikolognya, ini mempengaruhi anak krn membuat dia bingung hrs bersikap dan mempengaruhi perkembangan dia dalam percaya diri dan mengambil keputusan.. Ini kerasa beda bgd dg adiknya yg dr lahir kita udah tinggal di rumah sendiri. Bukan itu hal yg ga bagus juga, karna aku liat kakakny justru tumbuh jd anak yg lbh sensitif dan lbh peduli dg orang lain.. (eh malah ngelantur kemana2 πŸ˜…). Intinya, aku setuju sama Mba Eno, kita ga akan bisa mengukur kesuksesan kita dg kesuksesan orang lain. Kebagiaan adalah milik kita sendiri dan kita yg mutuskan kesuksesan kita sperti apa πŸ’–πŸ’–πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Thessa,

      Terima kasih sudah berbagi sudut pandang, especially tentang anak. Memang setiap anak itu beda-beda ya mba perangainya meski dari satu orang tua yang sama πŸ˜‚ hahaha.

      Saya sama adik pun cukup berbeda, saya agak kompetitif dan teratur anaknya while adik saya tipe yang santai dan adventurous πŸ˜…

      Semoga mba Thessa bisa guide kakak menjadi anak yang bisa memberi apresiasi pada diri sendiri terlepas apapun pencapaiannya, dan agar nggak selalu menjadikan pencapaian orang lain as benchmark. Karena itu satu yang saya sesali, hidup dengan terus lihat ke atas ternyata membuat saya lelah, though saya berhasil meraih apa yang saya inginkan, tapi saya jadi engap sendiri πŸ₯΄

      And I'm sure, mereka bisa tumbuh sesuai harapan mba because you are a good and strong mom that I've ever known, semangat mba 😍

      Delete
  21. Turun ranking gak jauh lho kak, dari 1 turun ke 3, kalo gak turun maka gak semangat, maka dari itulah menjadi sebuah tantangan dan pembelajaran dalam hidup.
    Setiap kehidupan juga pasti melalui proses, dan tidak instan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Andy, kalau nggak turun jadi gede kepala mungkin yah, selalu merasa di atas awan πŸ˜‚ Bisa jadi dikasih turun agar bisa kembali ke tanah, dan berusaha lebih keras πŸ™ˆ That's life!

      Terima kasih untuk insightnya, mas 😍

      Delete
    2. Hehe, awan mendung lalu jatuh seperti air hujan wkwkw 😁


      A few minute later... Banjiiiirrrr 🀣🀣🀣

      Delete
    3. Duuuh jangan sampai banjir, mas 🀣

      Delete
  22. Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya saya punya kecenderungan kompetitif yang tinggi. Rasanya kalau pas lagi berkompetisi tu adrenaline rush-nya bikin seruuu
    Tapi lama-lama cape juga sih, kalau kompetitifnya sama orang lain. Ga ada habisnya... jadi sekarang saya kompetitifnya sama yang receh-receh aja, kayak ranking di game, smp tingkat beginner aja tapi, ga diseriusin banget, hilang fun-nya ntar... hehehe

    Kalau sekarang setelah menjalani kehidupan *aseek*, memang kompetisi yang paling "menyenangkan" sekaligus menantang itu kompetisi dengan diri sendiri ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, adrenaline rushnya seru, tapi sekarang karena sudah berumur, kebanyakan adrenaline rush yang ada kepala mau meledak entar πŸ˜‚ hahahaha. Alhasil lebih memilih relaks πŸ˜† Mungkin era kompetitif kita sudah lewat 😜

      Betul mba Hicha, sudah waktunya kita fokus kompetisi sama diri sendiri agar menjadi lebih baik. Semangat untuk kita, mba 😍

      Delete
  23. Setuju banget tuh Mbak.
    Kalo jadiin orang lain sebagai patokan, nggak ada habisnya, karena selalu ada yg lebih baik lagi.
    Tapi dengan menjadikan diri sendiri sebagai patokannya, kita bisa tau sejauh mana kita telah berkembang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya mas Rudi, yang lebih baik akan selalu ada, lelah banget kalau terus lihat ke atas πŸ˜‚ hahahaha ~ Semangat untuk kita, semoga bisa be better dari diri kita dihari-hari sebelumnya 😍

      Delete
  24. Saya juga penganut : Life is not about competing with others.
    It's just about trying doing my best.

    Tapi kadang ketika diterapkan di pengasuhan anak, atau saat mengajar di kelas, saya merasa persepsi anak kadang jadi kurang tersemangati.
    Anak perempuan saya sampai menganggap setiap kompetisi itu saling menyakiti.. Hehe saya rupanya kurang tepat memberi arahan.

    Maka untuk menebus kesalahan persepsi itu, saya yg sudah tidak muda lagi ..ehm.. Ikutan beberapa kompetisi untuk guru. Tapi saya tunjukkan ke dia kalau di kompetisi ini ibuk cuma mencoba hal sebaik yg ibuk bisa. Tidak jadi juara satu tidak apa, buktinya ibuk bisa jadi punya banyak pandangan tentang kegiatan positif dari guru guru lain di seluruh negara. Bonusnya dapat terbang gratis ke Jakarta.
    Di kelas saya juga ceritakan hal yang sama.

    Saya hanya berharap Mereka bisa melihat maksud saya itu, berkompetisi itu boleh. Tapi jangan sampai malah menekan diri sendiri, membuat diri sendiri merasa rendah. Apalagi sampai down jika kalah. Sulit juga rupanya mengajarkan kompetisi dalam pandangan yang positif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Dewi sudah berbagi cerita 😍

      Iya mba, kompetisi menurut saya baik asal dilakukan dengan tepat, dan nggak membuat diri kita merasa rendah karena kalah. Karena yang dipelajari dari sebuah kompetisi justru menang kalah adalah hal yang wajar πŸ™ˆ Cuma memang pada masanya, saya pernah merasa gagal setiap kali kalah. Nggak sampai merasa rendah sih seingat saya, hanya merasa gagal dan tentunya berusaha untuk be better ke depannya 🀣 Though hal itu sebetulnya masih kurang tepat, sebab saya perlu menerima kekalahan dengan lapang dada, which at that time, was hard πŸ˜†

      Semoga anak kesayangan mba Dewi bisa memiliki sudut pandang baru mengenai kompetisi ya, karena hal itu nggak semata-mata menyakiti, selama kita punya kontrol diri yang baik 😍

      Delete
  25. Terima kasih pengingatnya mbak Enno
    jujur, aku termasuk orang yang cukup ambisius
    apalagi mulai sekolah harus rangking 1, masuk sekolah favorit, ikut olimpiade nasional dan (harus menang), lulus cumlaude dan sebagainya

    tetapi semua berubah di usia pertengahan ketika diuji kena penyakit GERD
    seakan hidupku mulai kepayahan dan tertinggal dengan yang lain

    meski demikian, kok rasanya sejak saat itu aku mulai woles dan melakukan apa yang aku bisa dan suka
    dan ngeblog serta nerbitin buku adalah pathways paling asyik yang kukerjakan sekarang
    kalai bisa nulis apa yang udah ada di otak rasanya udah seneeeeng banget
    udah si gitu aja
    sama ngajar anak anak SD kalau mereka bisa dan manut serta ketagihan aku ajar rasanya udah bikin bahagia
    masalah materi rasanya udah engga mau mikir lagi
    toh masih bisa makan enak dan jalan jalan
    engga semua orang bisa yang aku dapat

    makanya aku udah engga ngoyo dan alhamdulillah dapat juga kesayangan yang sama
    kita malah woles masalah nikah yang penting udah bener2 siap aja semua
    engga keburu juga

    aku pegang prinsip salah satu lagu JKT48:

    Sampai hari esok tiba nanti
    Lihatlah mimpi seperti dirimu sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mas Ikrom, terima kasih sudah baca πŸ˜†

      Kita sama mas, pernah menjadi orang yang kompetitif hehehe, dan ketika kita bertambah usia, kita disadarkan bahwa slow down also not that bad. Tentu being competitive is good, asal nggak too much πŸ™ˆ hehehehe.

      Yang terpenting, sekarang kita bisa enjoy hidup kita. Menurut saya, kompetitif ini adalah sebuah fase, mostly dirasakan saat masih usia sekolah atau 20-an, namun semakin bertambah umur, akan semakin mereda kata buku yang pernah saya baca πŸ˜‚ Jadi saya hanya bisa accept fakta bagaimana saya dulunya, dan berusaha lebih baik sekarang 😁

      Semoga mas Ikrom bisa menikmati apa yang ada dihidup mas sekarang, sesuai patokan yang mas punya. Happily ever after, mas 😍

      Delete
  26. Aahhh, ini sama dgn yg dulu pernah aku rasain. Rasa bersaing tinggi, sampe rasanya kecewa ga karuan kalo gagal.

    Tapi aku stop bersaing dan menjadikan org lain patokan sejak nikah sih mba. Rasany capek kalo tiap saat hrs bersaing. Bener, ga ada abisnya ntr. Aku jd ga bisa menikmati hidup juga. Suamiku yg nasehatin , yg ada aku bakal stress sendiri kalo trus2an ngebandingin diri Ama org lain. Ga ada gunanya, kalo udh bisa ngalahin mereka trus mau apa??

    Pelan2 sih aku akhirny mulai bisa trima mindset begitu. Skr aku bikin target pribadi utk menentukan kemajuan yg aku capai. Ga lagi ngebandingin ma org lain :). At least hidupku agak tenangan skr :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kecewanya parah mba kalau gagal 🀧
      Serius deh too competitive juga nggak sehat πŸ˜‚

      Betul mba, jadi nggak bisa menikmati hidup kita. Yang ada stres karena nggak ada habisnya, selalu ada yang lebih baik soalnya 🀣 hehehe. Dan pertanyaan pasangan mba itu menancap, "Kalau sudah bisa mengalahkan terus mau apa?" Iya ugha ya.

      Semoga hidup kita ke depannya lebih tenang dan bahagia, mba 😍

      Delete
  27. Kurikulum waktu saya sekolah dulu kayaknya diatur supaya siswa jadi kompetitif, sih, Mbak. Ada rangking dsb., siswa jadi fokus ke persaingan. 'Diri' juga berkembang, sih, tapi fokusnya supaya jadi lebih baik dari orang lain. Tapi akhirnya saya bertanya-tanya, persaingan itu poinnya apa, sih? Apalagi kalau ujung-ujungnya harus sikut-sikutan demi dapat pengakuan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mas, jaman saya juga diatur supaya kompetitif, mana anaknya kompetitif semua pula πŸ˜‚ hehehehe. Tujuannya memang agar kita sebagai siswa bisa berkembang, dan be better, cuma salahnya, dulu penerapannya terkesan be better daripada teman lain, padahal harusnya be better daripada diri sendiri πŸ™ˆ hehehehe.

      Delete