Preference (?) | CREAMENO

Pages

Preference (?)

Hi, kembali lagi pada edisi THOUGHTS post, kali ini gue mau menulis soal PREFERENCE. By the way, cerita bermula dari sohibul gue yang suka jalan, cuma dia kebanyakan jalan mengikuti apa yang lagi hits di Instagram. That's why dia banyak follow travel influencer untuk tau tempat apa yang sering dikunjungi oleh influencer tersebut di suatu negara πŸ˜„

Jujur, gue termasuk orang yang picky karena gue selalu mengutamakan apa yang benar-benar gue inginkan dan gue suka (seenggaknya itulah yang dikatakan banyak teman dan keluarga) πŸ˜‚ however, it's not that bad ~ maksud gue picky di sini adalah, ketika gue memilih sesuatu, entah itu traveling, makanan, this and that, gue akan memprioritaskan PREFERENCE yang gue punya.

Makanya, gue tulis di ABOUT PAGE kalau gue ini lebih suka traveling lihat kota daripada alam atau lebih suka makan ayam daripada coba makanan lokal πŸ˜… karena gue sadar, kalau gue picky sangats πŸ€ͺ Buat gue, yang penting gue senang dan puas walau tempat yang gue datangi bukan tempat yang bagus untuk di-upload di sosial media (Instagramable kalau kata orang-orang) πŸ˜‚

Itu juga alasan gue nggak main ke banyak temple, atau sekedar duduk di tepi pantai, berenang di lautan luas dan naik gunung tertinggi di duniaaa serta coba makanan lokal yang mungkin bagi sebagian besar orang pasti dilakukan πŸ™ˆ Sampai-sampai teman baik dan keluarga gue bertanya, "Lu jauh-jauh ke luar dari Indonesia cuma buat lihat bangunan dan makan di cafe doaanggg??" -- padahal gue memilih itu karena memang PREFERENCE gue ada di sana πŸ˜†✌

Dan sama seperti teman traveler lain yang punya PREFERENCE pergi ke alam, atau ke candi dan museum, gue pun punya PREFERENCE yang gue suka meskipun beda. Bukan berarti gue aneh hanya karena pilih lihat bangunan atau jauh-jauh ke negara orang cuma untuk hunting cafe dan makan-makan. Karena pada intinya semua akan kembali pada kepuasan kita 😁

Kecuali kalau kepuasan kita sebatas like πŸ’“ Instagram atau bisa punya foto OOTD bagus seperti sahabat baik gue contohnya, yaaaa nggak apa kalau mau main ke semua tempat hits Instagram meski kadang saat tiba, ternyata tempatnya biasa saja. Atau beli sesuatu hanya untuk foto meski ended up nggak digunakan. Nothing's wrong with that πŸ˜† As long as.. apapun yang kita lakukan dan apapun PREFERENCE kita dapat memberi kita rasa puas dan bahagia. Dan yang terpenting, jangan sampai apa yang kita pilih berakhir jadi sesuatu yang nggak kita suka, padahal kita sudah keluarkan waktu, tenaga dan uang untuk melakukannya (you know yourself well, kan?) πŸ˜„

Gue pun bukan berarti nggak suka main ke alam sama sekali hanya karena gue lebih suka kota, atau gue nggak mau coba makanan lokal sama sekali hanya karena lebih memilih makan ayam. Karena selama ini.. yang gue lakukan hanyalah menentukan prioritas PEREFERENCE gue dimana gue pribadi lebih suka lihat bangunan walau sesekali gue masih main ke alam πŸ˜‚

Read: The Reasons

"Kenapa lu nggak main ke alam padahal banyak teman sering share foto soal alam? Apa nggak merasa ter-influence untuk pergi ke alam?" Well, sejujurnya rasa ingin pergi ada, tapi gue sudah hidup dengan tubuh ini dari gue lahir dan gue tau sejauh mana gue merasa nyaman akan suatu hal, dan frankly speaking, gue cepat bosan kalau pergi ke alam πŸ˜† jadi bukan benci, ya ~

Sama halnya dengan teman gue yang pecinta alam, dia cepat bosan kalau gue ajak ke kota lihat bangunan ~ dan itu jadi salah satu alasan mendasar kenapa gue dan teman gue nggak sejalan soal liburan lantas pilih pergi liburan masing-masing daripada tengkar di tengah jalan πŸ˜‚ karena semua akan kembali lagi ke sejauh mana PREFERENCE kita mempengaruhi keputusan kita.

So, dari post ini, gue cuma berharap teman-teman baik gue dan siapapun yang membaca tulisan ini bisa mendapat sedikit manfaat dan semoga apapun yang kita lakukan memang karena kita suka melakukannya. Nonetheless, it's okay untuk pilih sesuatu demi konten asal kita memang benar-benar suka bukannya justru menyesal di hari kemudian πŸ˜πŸ‘Œ Semangats! πŸ˜˜πŸ’•

52 comments:

  1. Sukaaaa banget!!!

    Tuntutan feed instagram memang kejam, kadang membuat kita melakukan hal yang nggak kita sukai.

    Tapi memang kalau udah memilih menggunakan medsos buat kepentingan mendalam, mau nggak mau, kita kudu terima resikonya.

    Sejujurnya saya nggak punya kecintaan banget nget mengenai traveling.
    Saya hanya suka mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

    Dan sejujurnya, saya lebih suka tempat yang belum booming, ketimbang tempat terkenal tapi mainstream hahaha.

    Dan juga saya lebih suka traveling di tempat yang nyaman.
    Lebih suka makan makanan yang udah pasti, khususnya kalau lagi lapar, tapi kalau nyobain jajanan oke kali ya.

    Kalau saya lebih ke picky harus bersih, baik tempat maupun kondisi makanannya :D

    Dan setuju banget!

    Melakukan apa yang kita sukai itu beneran bikin kita jadi lebih hidup, tidak disetir, dan menampilkan sesuatu yang lain, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbaaa :D

      Iya mba, tuntutan medsos memang susah susah gampang, tapi kalau untuk kepentingan mendalam seperti konten berbayar dan lain sebagainya yaaaa selama memang kita suka melakukannya (especially kalau dibayar) eventho nggak cocok dengan feed kita yaaa nggak masalah juga :D

      Karena yang terpenting adalah apapun keputusan kita ketika ingin melakukan sesuatu adalah kita makesure kalau itu membuat kita nyaman, membuat kita puas, dan nggak menyesal di hari kemudian. Itu saja hihi :3

      Dan mba Rey pun punya preference sendiri mengenai apa yang paling mba sukai, sama seperti saya :P dan saya yakin setiap orang pasti punya preference-nya masing-masing, bahkan bisa jadi salah satu preference-nya adalah harus main ke tempat mainstream. It's okay tho, asal balik ke poin awal, kita nyaman, kita suka, dan kita puas hehehehehe <3

      Soalnya meski saya lebih suka kota, sesekalipun saya masih main ke alam, walau tingkat kesukaan saya pada kota lebih besar dari alam tapi kan bukan berarti benci juga :P semoga kita semua bisa selalu melakukan sesuatu sesuai preference kita ya mba, agar kita bisa nyaman ketika melakukannya <3 lavv.

      Delete
  2. ngenes pas baca "sahabat baik gue"
    some people are so lucky to have sahabat baik while some others not so lucky being used and stabbed by the ones who claimed themselves as sahabat.

    *si eneng malah curhat di mari 😢

    feed instagramku cuma 12 biji dari kapan ya soalnya aku cuma mau ngepost gambar yg aku pikir bagus aja dan bisa attract like banyak hahahahhaa kalo insta story tuh baru deh acak adut. tapi aku gak sampe bela-belain ke mana gitu cuma demi konten dowang. Kadang macet jakarta bisa jadi konten. Yah pas selewatan ada yg bisa diambil ya ambil aja, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sedih, Ran :D

      Mungkin nanti akan ada saatnya Ran menemukan sahabat yang benar-benar baik dan tulus berteman dengan Ran. Ohya, kalaupun sampai nanti nggak ketemu juga, sebenarnya pasangan dan keluarga seperti kakak adik atau orang tua pun bisa dijadikan sahabat. Semangat ya! <3

      Soal instagram memang semua mengikuti kebijakan pemiliknya HIHI mau post sedikit atau banyak nggak masalah. Mau rapi atau berantakan pun nggak masalah. Yang terpenting senang melakukannya. Dan kalaupun itu merupakan sebuah kewajiban seperti tuntutan pekerjaan yaaaa semoga tetap senang melakukannya (apalagi kalau dibayar :P) plus bermanfaat. Nanti saya follow Ran, ya! :D

      Delete
  3. Setiap orang punya hak untuk menentukan pilihannya masing - masing , terutama pilihan tentang Objek wisata mana yang ia suka dikunjungi.Dan itu normal - normal saja. :)

    Namun kalau pilihan semua orang adalah sama. Misalnya semua orang suka akan pemandangan alam, mmmm.....ujung - ujungnya bisa tutup dong objek wisata Bangunan. karena sepi pengunjungnya.Iya toh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, betul. Semua itu hak masing-masing personal πŸ™ˆ

      Namanya selera pasti beda-beda, kalau sama semua nanti jadi nggak menarik seperti kata mas Nata ujung-ujungnya semua orang ke alam dan wisata bangunan akan sepi karena nggak ada pengunjungnya πŸ˜‚✌

      Delete
  4. Oh begitu ya, tapi memang demi konten maka orang kadang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukainya asal bisa mendapatkan banyak like.

    Kalo aku pergi ke kota tua yang banyak bangunan bersejarah suka, tapi pergi ke alam seperti gunung atau pantai juga suka. Asal ada yang bayarin.🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, mungkin preference-nya memang like dan itu nggak masalah, karena diantara semua preference, pasti ada most priority-nya, alhasil kadang kita memilih untuk melakukan yang nggak kita suka untuk mengejar prioritas. Sama seperti bekerja, preference kita A, tapi kita pilih B, karena prioritas kita uang misalnya 😁 pada akhirnya meski berharap bisa melakukan semua yang disuka, kadang realitanya, kita harus kejar yang nggak kita suka karena sebuah alasan πŸ˜†✌

      By the way, preference mas Agus berarti asal ada yang bayar 😍

      Delete
  5. Setuju banget Mbak.
    Emang rasanya jauh lebih puas dan bahagia kalo kita ngikutin yang kita suka, bukan karena sekedar like di medsos doang.

    Saya pun tipe yang nggak suka wisata taman hiburan, jadi walau tempatnya ngehits, saya nggak tertarik buat berkunjung.

    Selain itu saya juga nggak terlalu hobby ama kuliner yang aneh-aneh. Karena itu dulu saat ngetrip ke Taiwan, temen-temen pesan makanan yang aneh, aku pesan yang biasa aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, tapi ada lho yang sebetulnya pergi ke suatu tempat demi like padahal nggak begitu suka tempatnya 🀣 teman saya sendiri pun sering menggerutu kalau pergi ke temple atau pagoda dan sejenisnya, tapi teman saya tetap pergi ke sana sebab teman saya tau tempat itu bagus untuk difoto hahaha. Jadi kami suka ketawa-ketawa saat bahas itu, dan menurut saya nggak salah, yang penting teman saya puas dapat like banyak ~ perkara cape, nggak nyaman dan lain sebagainya itu bukan prioritas utama, sebab yang utama dan yang teman saya suka adalah like sosial media πŸ˜†

      Mas Rudi preference-nya lebih ke tempat wisata sejarah, dan karena prioritasnya di sana, otomatis yang lain bukan lagi yang utama 😍 manusia itu unik yah, kesukaannya bisa beda-beda ~ dan memang paling enak kalau kita bisa memilih apa yang kita suka 😁 sayangnya kadang ada yang heran kalau seseorang punya kesukaan berbeda padahal itu normal 🀣

      Seperti mas yang nggak suka visit theme park, atau makan yang aneh-aneh, menurut saya itu normal πŸ˜† hehehe. Atau teman saya yang suka belanja cuma untuk OOTD padahal barangnya nggak kepakai, itu pun normal. Yang penting puas ~ suka, bahagia dan nggak ganggu orang πŸ˜‚

      Delete
  6. Aku kayaknya hayuk-hayuk aja kalau diajak ke kota atau ke alam, yaa asal jangan panjat tebing dan naik arung jeram juga hahahaha.

    Soal makanan aku sama kayak mba nggak mau coba yang aneh-aneh wkwk, aku banyak nggak sukanya, orang-orang bilangnya aku picky eater tapi anehnya aku nggak ngerasa, jadi aku nggak pernah bilang diri aku picky eater, walaupun aku banyak nggak sukanya, hehehe.

    Terus ngomongin beli something buat feed Instagram, terutama barang, menurut aku sayang aja sih kalau habis itu nggak digunain lagi, apalagi belinya mahal. Soalnya aku dulu pernah gitu beli baju tapi nggak pernah dipakai , karena nggak sesuai selera aku, alias ikut tren hahahahhahaha (ketahuan) but no worries sekarang udah nggak lagi kok mba, aku udah tahu apa yang aku mau dan yang aku suka, dulu maklum lah masih labil wkwk (pembelaan masih).

    Semangat sohibul mba Eno, normal kok kalau kita khilaf hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Preference mba Sovia berarti bukan kegiatan ekstrim di alam 😁 -- saya panjat tebing pun nggak berani mba, takut jatuh ke belakang hahahaha. Tapi kalau arum jeram masih suka, asal nggak pakai dayung segala 🀣 di Bali ada satu tempat arum jeram yang bagus, nggak terlalu terkenal padahal tempatnya bagus, dan nggak pakai dayung alias mas-nya yang dayung hahahahaha. Saya hobi ke sana sama si kesayangan, rasanya seru lihat pemandangan 😍

      Kalau soal makanan mungkin mba disebut picky eater karena banyak nggak sukanya πŸ˜† saya pun disebut demikian, padahal saya lebih suka makan aman daripada coba-coba πŸ™ˆ -- saya tuh takut sakit kalau di luar negeri, malas ke rumah sakitnya hahahaha. Jadi saya nggak berani asal masukkan makanan ke badan, kawatir nanti perut nggak kuat 🀣

      Eniho, persoalan beli barang karena ikut-ikutan atau karena sosial media (keracunan) dan sebagainya, sebetulnya sah-sah saja asal memang berguna untuk kita. Hehehehehe. Yang disayangkan kalau barangnya jadi nggak digunakan alias cuma sekali upload saja, nah kalau sudah begini tinggal dilihat, prioritasnya apa, karena some people ada yang prioritasnya untuk konten dan kalau sudah begitu, ya nggak apa-apa 😁 -- toh yang penting puas sama hasil yang didapat (jadi jangan terlalu menyesal mba, mungkin saat itu preference mba memang ikuti trend yang ada) πŸ˜†

      Semangat ugha mba Soviaaa πŸ˜πŸ’•

      Delete
  7. Bentullll sekali dan setuju sangat.. hahahaha itulah kenapa saya tidak menyukai pemakaian kata harus dan wajib dalam penulisan kalau memang tidak ada peraturannya.

    Semua orang punya preferensi masing-masing dan itu bukanlah masalah benar salah, tetapi selera. Tidak salah Eno kalau maunya di cafe, tidak salah juga kalau ada orang mau ikut sesuatu yang sedang hits..

    Suka-suka masing-masing.. hahahahaha #cariaman... wkwkwk

    Tapi, saya pikir saya bersyukur menekuni fotografi, karena disana saya diajarkan untuk menemukan "keindahan" dari apapun dan bukan berburu tempat-tempat indah. Tugas seorang fotografer adalah memotret untuk menampilkan keindahan dan bukan berburu keindahan untuk bisa memotret.

    Jadi, kemanapun saya pergi, ke laut, ke gunung, ke cafe, bahkan di jalanan sekalipun saya akan berusaha menemukan keindahan disana. Karena saya tahu bahwa keindahan itu ada dimanapun.

    Indah itu ada bukan karena influencer menyebutnya indah, tetapi tergantung pada nilai ideal dan sudut pandang seseorang. Saya pikir Eno melihat banyak keindahan di cafe dan di dalam "ayam" yang orang nggak lihat..:-D

    Makanya saya suka menekuni fotografi jalanan karena saya seperti disuruh mencari keindahan di dunia yang biasa-biasa saja.

    Lagi pula, pada usia sekarang, setelah mengalami banyak hal, saya pikir rasa indah itu seringkali hadir karena kita baru sekali dua kesana.. hahaha jadi keliatannya menarik semua. Tapi kalau sudah berulangkali, ya biasa saja.

    Juga, sejak punya si Kribo dan Yayang, preferensi saya semakin sederhana saja. Dimana ada kedua orang itu, saya sudah merasa cukup dan bahagia. Mau makan cuma bakso pinggir jalan saja juga nggak masalah, saya sudah bahagia dan senang, pergi makan sushi juga senang.. mau di rumah saja juga nggak masalah selama dua orang itu ada mah... hahaha.. sederhana banget yah..

    Nah, kalau soal pergi ke suatu tempat untuk konten beda lagi urusannya. Ini mah urusan "kerjaan" seperti kata Eno hahahaha.. apakah saya akan memilih yang sedang hits? Bisa jadi karena disana ada keuntungannya yaitu pasar yang sudah ada, tapi bisa juga saya memilih yang belum terkenal karena berarti saya berbeda dan berada di depan.

    Perhitungannya bukan lagi masalah preferensi tetapi tugas atau kerjaan, untung rugi. Hahahaha...

    Tapi, kalau saya harus pergi ke tempat yang katanya hits cuma buat konten di Instagram dan dapet LIKE doang , ogah, tapi kalau diongkosin, dibiayain, disediain akomodasi, dan dikasih uang saku.. Boleh.. Masalahnya siapa yang mau ngasih.. hahahaha..




    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, cuma kadang sedihnya preferensi personal dianggap aneh apabila nggak sama dengan preferensi kebanyakan orang 🀣 apalagi kalau sudah ada embel-embel, "Ke mana saja lho, baru tau A, B bla bla." padahal kita nggak tau bisa jadi karena preferensi kita beda πŸ™ˆ

      Soal fotografi, saya kebetulan suka foto, lebih keiseng sih, dan saya belajar seperti yang mas bilang, ketika kita foto, fokusnya bukan ke keindahan tempat, tapi bagaimana kita bisa hasilkan foto indah terlepas bagaimana pun tempatnya πŸ˜† -- dulu saya pikir yang indah itu harus kosong, jadi saya pernah ada momen menunggu satu tempat sampai kosong untuk bisa foto hahahaha. Kemudian saya sadar, kalau begini terus akan wasting time, alhasil setelah itu, saya nggak peduli mau rame atau kosong, akan saya foto dan mencoba dapat sisi indah dari yang ada di depan mata saya πŸ˜‚

      By the way, semakin kita tua, sepertinya preferensi hidup kita semakin sederhana yah mas ~ itu pula yang saya rasakan sekarang. Dulu waktu muda sepertinya mau segala macam hal. Eh sekarang, "Yang penting ke mana pun sama si kesayangan." hahahahahaha. Mau ke pasar kalau perginya sama dia jadi bermakna *eaaaakkhhh!* πŸ€ͺ

      Nah kalau soal pekerjaan lain soal, nama pun kerja nggak semua based on yang kita suka, sebab dalam pekerjaan itu preferensi prioritas kita adalah uang 🀣 jadi perkara suka atau nggak belakangan πŸ™ˆ

      Delete
    2. Jangan sedih dong...eta mah biasa ..hahahaha

      Bagaimanapun ada sistem tata nilai masyarakat, yang walau sebenarnya kurang tepat tetapi karena didukung jumlah banyak jadi dianggap benar dan dipaksakan ke semau orang..

      Kalo saya mah nyengir saja dan diem ajah ..egp..

      Paling kalo udah sebel banget saya sentil ajah ..hahaha dan biasanya kalau gitu yg bilang gitu diem..🀣🀣🀣

      Padahal biasanya saya cuma ngomong kalem ajah..satu kalimat "suka suka saya dong, kenapa kamu yang repot dan maksa, emnag siapa elu"

      🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

      Manjur bikin diem 🀣🀣🀣🀣

      Delete
    3. Wahahaha, iya yah, suara terbanyak memang selalu 'benar' πŸ˜…

      Saya pun biasanya kalau dibilang begitu cuma bisa ketawa. Untung masa masa itu sudah lewat, dan saya jadikan pelajaran untuk menghormati preferensi setiap orang terlepas preferensi mereka bisa jadi beda dari kebanyakan (selama nggak ganggu saya, kenapa harus dipikirkan?) πŸ™ˆ -- dan cukup nikmati saja apabila dibagikan di sosial media. Hehehehe.

      Duuuh jawabannya makjleb banget itu, mas πŸ˜‚

      Delete
  8. Yah, tadi perasaan udah komen deh, kok ga ada ya?padahal udah panjang tuh komen dan endingnya bagus, skrng mau ngulang komen tadi ya udah lupa aja.
    Pokoknya intinya mah, menyoal IG.. saya juga sering ingin membuat foto yang disukai banyak orang, malah ingin viral biar terkenal sekalian...sebagai fotografer.
    tapi setiap mau posting foto, juri pertamanya itu orangnya bawel banget, jeli, banyak maunya (bwt, juri pertamanya itu saya,he..) dan yg menurutku ga bagus, apakah itu fotonya, desain layoutnya, atau bahkan captionnya yg ga bagus, ga jadi dipost.
    tapi setiap post yg semuanya bisa kuterima dan post aja, yg suka cuma gue sendiri dan beberapa random person, mungkin jg bot. padahal akutuh orangnya ga unik-unik banget, selalu suka dgn yg kebanyakan orang jg suka. gak anti mainstream.
    satu-satunya anti mainstream saya adalah tetap blogging dimana kyknya semua orang mah lebih baik instagram dan youtube aja.

    tapi itu cerita lama sih, skrng mah atur postingan aja biar ga random-random banget, dan berharap orang bisa nangkep arah style fotografiku itu kemana.

    dan semua balik lagi ke preference masing-masing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mungkin error, maaf ya Ady πŸ™ˆ

      Sama dong kita, saya pribadi juga begitu, sangat bawel kalau urusan visual, tapi lebih ke blog hehehe. Apapun foto yang ingin saya upload, saya harus makesure itu sesuai dengan standar saya 🀣 -- andaikata nggak bagus, nggak akan saya upload πŸ˜†✌

      Tapi dari situ bisa kelihatan, preference kita adalah memuaskan diri kita sendiri, karena terbukti kita cuma post yang kita suka dan bisa kita terima πŸ˜‚ jadi tetap kembalinya pada note "yang penting kita puas dan bahagia" ada yang suka syukur, nggak yasudah nggak masalah ~ nah cuma bisa jadi, apa yang kita suka belum tentu orang lain suka, itu bisa jadi alasan kenapa yang like nggak banyak 😁

      By the way, saya bersyukur Ady tetap blogging karena itu artinya saya dapat tambahan bacaan baru yang bagus dan sayang untuk dilewatkan 😍 so keep writing, sharing and inspiring yaaaah ~

      Delete
  9. Ah, tulisannya keren sekali. Tanpa perlu menyebut apa yang terimbas dari prinsip ini, saya cuma ingin bilang bahwa cara untuk waras adalah melakukan apa yang kita suka.

    Atau begini deh, saya berdamai dengan diri saya di masa yang lalu. Saya tidak terlalu senang dengan keramaian, karena membuat energi saya cepat habis. Tapi ketika diajak nongkrong dengan teman-teman, saya sebisa mungkin memberi saran dan masukkan agar ke tempat yang tidak terlalu ramai. Biar ngobrolnya enak, ketawanya juga bebas. Tapi alasan paling gampangnya, keributan yang tidak bisa saya kontrol, membuat saya gampang capek. Tapi saya senang ngobrol dan teman-teman saya adalah pendorong dan pengisi masa remaja saya. Mencari jalan tengah, adalah hal yang coba saya lakukan. Makanya, Mama sampai bingung kalau saya mulai aktif keluar rumah setelah lulus SMA. Padahal, ini cara saya untuk tetap waras dan menjalani tugas sebagai remaja 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you mas Rahul, setuju, kalau mau waras, just do what we love and love what we do. Cailaaah mantaaap betul, hahahaha πŸ˜‚✌

      Dan berusaha mencari jalan tengah pun sangat bagus, apalagi kalau berurusan dengan orang banyak yang preferensinya beda-beda 😁 -- daripada saling memaksakan preferensi satu sama lainnya, ada baiknya dibicarakan maunya bagaimana dan dengan begitu semua akan suka serta menikmati suasana yang ada πŸ˜πŸ’•

      By the way, enjoy masa muda semaksimal mungkin, mas πŸ˜‰

      Delete
  10. Sebagai seseorang yang termasuk picky, aku merasa relate banget sama ini kak Eno! wkwk. Malah sering dibilang aneh dan kaku juga hanya karena preference aku berbeda dengan orang lain. Sebagai contoh, aku nggak pernah suka pergi ke pantai walaupun buanyaaak banget sobat-sobat yg sering pergi ke pantai—walaupun gak tau secara pasti intensi mereka kesana memang mau berlibur atau semata-mata agar bisa "posting" di IGπŸ˜‚ Mau dirayu segimana ampuhnya pun kalau memang aku nggak suka pantai, dan belum ada keinginan betul-betul untuk menghabiskan waktu disana, aku nggak akan pergi ke pantai karena preferensiku lebih ke tempat-tempat yang hijauπŸ˜‚.

    Sisi positifnya memang kita jadi terasa lebih punya filter terhadap diri sendiri ya kak, kalau dipengaruhi oleh teman-teman atau postingan di media sosial yang eye-catching ituuhhh jadinya nggak gampang terhasut huahahaπŸ˜†.

    Semoga kita semua bisa selalu bijak dan konsisten dalam menentukan preference kita kedepannya ya kak EnoπŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak bisa relate, Awl πŸ˜‚ suka dibilang aneh kalau reject ajakan ke pantai, hehehehe. Tapi memang kakak nggak hobi ke pantai, tapi suka laut, jadi lebih pilih pemandangan laut yang ada batuannya 😁

      Dan iya, filter itu penting banget lho, kita perlu kenal sama diri kita, apa yang kita suka dan nggak suka. Jangan sampai mudah terpengaruh dan akhirnya buat kita lelah hanya karena kita mengikuti ke mana arus berjalan πŸ˜† sesekali nggak masalah kalau memang penasaran, why not coba hal yang baru, tapi jangan sampai memaksakan diri kita πŸ’•

      Amiiiin, semangat Awl 😍

      Delete
  11. makanya aku suka jalan-jalan sendirian mbak eno
    soalnya klo jalan jalan yg mau tak datengi mesti yg nggak umum dan engga instagramabel
    apalagi kalau ada cerita tragedi gitu

    cuma memang ini tergantung preferensi
    saya juga kadang ngikut temen klo ke tempat yg rame
    ya buat seru seruan aja
    cuma kalau keseringan kok eman di duit wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau jalan sendiri lebih bebas yah, mas Ikrom 😁 -- sebab nggak perlu negosiasi, jadi bisa pilih apa yang mas suka hehehehehe.

      Sama kok mas, saya kadang ikut yang lagi hits, tapi ya itu karena saya penasaran dan benar-benar mau coba. Bukan semata-mata kalap semua dicoba. Dan yang terpenting nggak menyesal πŸ˜‚

      Delete
  12. Seperti biasa, kereeen bahasannya Mba Eno 😍
    Menurut ku juga ga masalah mereka mengejar sesuatu yg 'instagramable'. Selama itu membuat mereka happy dan mungkin itu salah satu stres release bagi mereka. Yg salah itu, kalau itu mrka lakukan hanya agar dipuji pdhal bahkan mereka ga suka berada di situ. Jd alih2 menyenangkan diri sendiri, dia malah menyenangkan orang lain. Ga akan habisnya kalau kaya gini. Dan suka kasian jadinya sama orng yg kaya gini, karena mereka ga bs menemukan kebagiaan sendiri. Huhu..

    Klo aku, salah satu preference aku adalah jaraaaaang bgd nyobain makanan lokal. Hanya sebatas cemilan2 paling. Karena, males ribet sbnrnya. Jd ujung2nya, nyari kebab lg kebab lg, karena yg udah pasti2 halal. Temen2 lain bilang sayang ga nyobain ini itu mumpung di sana dll. Buat aku ga sayang malah, justru tanpa ribet nyari makanan khas, aku jadi punya waktu lbh banyak buat eksplore kota dg perut kenyang dan nikmat di mulut. πŸ˜†
    Bahkan di sini pun aku jarang sampe bela2in nyari n beli makanan viral sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mba Thessa πŸ™ˆ

      Betul, nggak ada yang salah kalau memang suka dan bahagia πŸ˜† yang terpenting jangan sampai berakhir menyesal ~ as simple as that. Dan setuju sama mba Thessa, yang disayangkan adalah melakukan sesuatu padahal nggak suka hanya untuk menyenangkan orang lain yang melihat. Tapi bisa jadi, kesenangannya justru datang dari pujian yang masuk dari orang-orang, mba. Who knows, kan 😁

      Sebab ada yang begini dan dia bilang kalau kesenangan dia memang dari 'like' hehehehe. Well, selama dia memang fun dan nggak menyesal, it's okay sebenarnya 😍 though in most case, lebih banyak yang menyesal kemudian entah karena nggak dapat 'like' sesuatu target jadi kebahagiaannya bergantung pada pemberian orang bukan pada apa yang bisa diri sendiri berikan πŸ’•

      Wahahaha mba Thessa mirip saya, jarang coba-coba makanan. Pasti saya pilihnya yang memang sudah bisa saya bayangkan rasanya. Mungkin karena preferensi kita bukan makanan lokal mba, jadinya kita nggak terlalu memusingkan. Hehehehe πŸ™ˆ

      Delete
  13. Terkadang karakter orang berbeda-beda ya kak, ada yang tujuannya untuk mencari sensasi untuk sebuah sosial media dan ada juga sekedar mencari kesenangan dan melepas lelah.

    Sebaiknya beli yang apa yang sebenarnya kita butuh kan saja dan tidak usah terlalu memikirkan kepentingan sosial media yang berujung pamer ini pamer itu. Hehe terkadang mulut netijen lebih tajam dari pisau 😁

    Bener kata kakak, jangan sampai apa yang kita pilih berakhir menjadi tidak suka. Dan akhir nya buang-buang tenang dan waktu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentunya mas Andy, setiap dari kita dilahirkan berbeda 😁

      Preferensi pun akan bergantung karakter dan kesukaan kita. Nggak apa-apa kalau memang preferensinya adalah cari sensasi di sosial media, mungkin hal itu yang membuatnya bahagia, asal nggak berakhir penyesalan hehe. Kalau soal beli sesuatu untuk ditunjukan di-sosmed, ada kok beberapa yang memang hobinya dan kesukaannya di sana πŸ˜† selama dananya ada, why not, kan ~ yang penting balik lagi, jangan sampai menyesal πŸ™ˆ hehehehe.

      Delete
  14. Artikel yang menarik mbak eno 😍
    Aku termasuk salahnsatu orang yang ga setuju dengan instagramable. Karena kata-kata ini telah mengubah banyak tempat menyesuaikan pasar/kemauan banyak orang. Alih-alih mengembangkannya sesuai dengan kondisi atau kelebihan tempat itu. Bahkan rasanya tidak bagus kalau sebuah tempat tidak ada bentuk love/hati untuk spot foto. Aku merasa aneh ketika melihatnya. Ga bakal mau diajak foto disana..wkwkwkk

    Dulu pas di semarang aku tergabung dengan sebuah komunitas traveling.
    ketika ada teman yang dari luar kota main ke semarang, aku menanyakan preferensi tentang tempat wisata yang ingin dia kunjungi. Kalau dia sdah tahu, aku tinggal kasih saran tentang destinasi yang sebaiknya dikunjungi. Kalau suka keliling kota, bangunan dan cerita sejarah biasanya aku tawarkan untuk ikut walking tour. Kalau mau ke alam aku tawarkan camping, treking, atau main ke air terjun. Kalau pengen kulineran yaa dikasih tahu anek kulinera yg bisa dicicipi. Kalau kuliner ndak terlalu hafal jga. Tapi ada beberapa yang bisa direkomendasiin.
    Cma kalau mantai, yaa aku cma blang kalau pantai di semarang ga bagus. Kalah jauh dibandingkan bali..hahahahaha

    Semakin paham preferensi seseorang, kita bakal sadar bahwa selera orang itu berbeda-beda. Kemudian bisa belajar tentang selera seseorang dan ngobrolin banyak hal tentang apa yg dia sukai..hahhaha
    Masalah selera ga perlu saling memaksakan. Tapi sebisa mungkin fleksibel juga untuk bersikap agar jalan2nya bisa berjalan dengan lancar...heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, mas Rivai πŸ™ˆ

      Huahahaha, sama mas, paling sebal lihat tempat bagus pakai dipasang hati dan bunga-bunga plastik aneh buat background foto πŸ˜† -- and yes, itu semua demi satu kata 'instagramable' padahal nggak pakai itu pun kalau tempatnya sudah bagus akan tetap bagus dan dikunjungi banyak orang πŸ˜‚ -- tapi yah, nggak bisa kita pungkiri, bisa jadi, hal itu dibuat berdasarkan preferensi kebanyakan masyarakat dan bisa jadi pula, preferensi pemilik / pengelola tempat wisatanya 😁✌

      Keren banget caranya mas Rivai, itu pula yang suka saya tanyakan ke orang-orang yang minta info perihal Bali atau Jeju 😬 saya perlu tau dulu preferensinya ke mana, jangan sampai nanti saya kasih saran tapi nggak sesuai preferensi yang tanya. Alhasil liburan mereka jadi nggak begitu menyenangkan. Karena bagaimana pun juga, saya mau teman-teman saya punya memori indah di tempat yang saya rekomendasikan πŸ™ˆ

      And I couldn't agree more, semakin kita kenal seseorang, semakin kita tau kalau preferensi mereka bisa jadi sangat beda, namun akan ada kemungkinan bisa sama πŸ˜‚ seperti saat menulis post ini, saya jadi tau ada yang punya preferensi sama dengan saya 😁

      Delete
  15. Iya semua org punya selera. Saya ok saja di alam, lihat gedung, museum dsb. Yg mikir2 itu ehm kalau diajak wisata belanja.πŸ˜‚

    Aplg selera jalan2 saya suka rada aneh. Makanya pas jalan wajib pamer itenerary dulu ke partners jalan.

    Pernah ketemu partner yg ternyata selera 180 derajat, fine, akhirnya mufakat. Sehari itu kita ber 2 misah, dia belanja dan saya jalan2 di terowongan bawah tanah penuh tengkorak.🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, wisata belanja termasuk yang saya hindari kalau lagi yalan-yalan. Mungkin karena sadar diri kalau koper saya kecil, mba πŸ˜‚

      Serunya kalau ketemu partners yang nggak suka paksakan keinginannya, alhasil bisa mencapai mufakat seperti pengalaman mba Phebie. Jadi nggak ada drama saling paksa ke sana ke mari, hehe. Cuma dibanyak case perjalanan bersama travelmate yang nggak cocok preferensinya, pasti ada saja drama saling paksa ke tempat A, B atau C hanya karena alasan nggak mau pergi sendirian 🀣

      Delete
  16. Hihihi jadi keinget tulisanku sendiri soal menghargai selera itu, Mba Eno 🀭

    Setiap orang itu pasti punya preferensi atau selera pribadi, kalau semuanya sama aja yaaa ngebosenin banget dong yaa πŸ˜‚ sama aja kayak nulis blog, ada yang lebih suka nulis kategori tertentu seperti traveling, namun ada juga yang sukanya curhat aja. Sebagai pembaca, kita tentu berhak memilih apa yang menjadi preferensi kita.

    Kalo soal untuk bahan konten sosmed, nggak bisa menyalahkan juga sih. Kadang-kadang aku pun mengunjungi sebuah tempat atau baca sebuah buku tertentu karena memang ingin di-share di sosmed maupun blog 😝 tapi selama itu nggak membuang waktuku, why not hihi setujuu yang Mba Eno bilang, yang penting kita suka dan bisa menikmati. Buat apa kita bikin sengsara diri sendiri naik gunung misalnya demi sebuah konten kalau sebetulnya jalan kaki aja udah males πŸ˜‚

    Nice insight as always, Mba Eno! ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangettt mba, kalau semua seleranya sama, dunia ini akan monoton dan nggak ada warnanya πŸ˜‚ kebayang kalau semua seleranya pakai warna hitam hahahahaha πŸ€ͺ -- dan soal blog, setuju sama mba, setiap penulis punya preferensi tema berbeda, dan tentu akan bertemu pembaca yang satu preferensi dengan mereka. Nggak apa-apa banget kalau preferensi beda dengan kebanyakan. Karena pembaca akan menemukan jalannya sendiri ke tulisan yang mereka suka πŸ™ˆ

      Nah, itu dia poinnya, saya pun nggak menampik kadang coba makanan karena direkomendasikan dan kita suka. Terus beli buku pun juga kadang hasil rekomendasian, dan again, kita suka 😁 yang penting jangan jadi terpaksa hanya karena takut FOMO misalnya, terus menyesal kemudian. Hehehehe. Pada akhirnya semua kembali ke preferensi kita. Wk. By the way itu analogi naik gunungnya, persis saya bangetttt 🀣 mau sebagus apapun foto di atas gunung, sampai detik ini saya belum ada keinginan naik ke atas mendaki berjam-jam atau berhari-hari karena preferensi saya bukan di sana. Kecuali Bromo kali yah sebab bisa naik mobil hahahaha πŸ™ˆ

      Delete
  17. preference tiap orang kadarnya beda beda ya mba
    contohnya : sama halnya seperti temen mba eno tadi, atau ada juga temen aku yang aku tau dia memang demen dengan barang branded "A", tapi dia pernah nanya ke aku yang suka menclok sana sini, dan dikira banyak duit, padahal menclok sana sini juga "saving money" jauh hari dan emang ada planning jauh sebelumnya. kadang aku bingung jawabnya
    lahh dia sendiri bisa beli barang branded A tapi heran liat orang lain bisa kesana kesini. aku jadi bingung hahahaha

    setuju kalo yang bisa menentukan nyaman enggaknya melakukan sesuatu adalah diri sendiri, kalau misal ga cocok dengan jalur orang lain, sepertinya memang nggak perlu memaksa buat ikutan.
    jadi trendsetter sendiri kayaknya lebih oke :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, karena preferensi dia beda makanya dia bingung dan bertanya mungkin mba ~ buat dia bisa jadi beli barang branded lebih oke daripada jalan ke sana kemari, however buat mba Ainun tentunya traveling lebih oke, alhasil nggak ketemu di tengah πŸ˜‚

      Yep, nggak perlu ikut-ikutan itu jalur ninja untuk bahagia yang utama. Fokus saja pada apa yang kita suka terlepas itu terlihat aneh di mata orang 🀣 yang penting kita suka ketika menjalankannya 😁

      Delete
  18. Saayyy, ini sayanya yang pikun atau memang gimana?
    Seingat saya tulisan ini udah lama tayang ya? dan saya komen itu udah lama? atau gimana ya? diubahkah tanggal tayangnya?
    Jadi bingung dirikuh, semacam dejavu *halah hahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sudah pernah tayang tapi saya re-upload dengan penambahan dan penyempurnaan kalimat hahahahaha. That's why komentar mba Rey ada di atas, karena mba pernah komen dulunya 😍

      Delete
  19. Yupp semua orang punya preference masing2.. dan Kita sebagai makhluk sosial lebih baik saling menghargai saja.. Nggak perlu komen ini komen itu.. Tohh, terpenting adalah yang mereka atau kita lakukan itu nggak bikin rugi orang banyak.. Jadi lanjutkan saja... hehe

    Kalau saya bukan penikmat kota, saya penikmat pinggir pantai sambil makan cilok.. hahah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas Bayu, menghargai adalah hal pertama yang perlu kita lakukan. Mau seaneh apapun terlihat, kalau orangnya suka ya nggak apa-apa 😁 seperti mas Bayu yang ternyata lebih suka main ke pantai sambil makan cilok, hahaha. Yang penting fun 😍

      Delete
  20. Huaaa aku ketinggalan post Kak Eno >.< Pantas saja kok udah beberapa hari nggak pernah lihat post Kakak, ternyata reading list aku tidak up-to-date, penyakit lama pfft.

    Anyway, aku merasa jlebb banget sama kata-kata Kak Eno, sebab seringkali aku dan teman-teman kena zonk saat pergi ke suatu tempat yang kesannya Instagramable banget tapi pas ke tempat aslinya, ternyata biasa aja dan ternyata fotonya udah melalui proses edit + filter sana-sini hahaha. Tapi, tetap aja, kalau pergi ke daerah lain, sering nyari rekomendasi lewat foto-foto di Instagram atau blog, hanya saja sekarang lebih mahir memilih, biar nggak kena zonk lagi wkwk.

    Aku juga setuju dengan pernyataan Kakak, intinya mau itu travelling kemanapun, ikutilah apa yang membuat diri nyaman dan senang. Daripada udah jalan jauh-jauh ternyata kita nggak hepi? Mana seru, yang ada malah badmood terus sepanjang hari >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, kakak kira Lia sedang sibukkkk πŸ˜πŸ’•

      Pastinya kita semua pernah kena zong saat ke suatu tempat hahaha, minimal sekali dalam hidup kita pernah ada masa dimana kita ikut-ikutan hanya karena FOMO misalnya πŸ˜‚ well, sebenarnya itu oke oke saja, asal setelah tau tempatnya zong, kita nggak jadi menyesal, cukup ditertawakan dan belajar dari pengalaman πŸ€ͺ

      Dan sama seperti Lia, til now, kakak kalau mau susun itinerary trip pun masih cari info dari internet, jadi nggak ada yang salah kalau memang kita mau ikuti apa yang ada di internet, however makesure tujuannya karena kita ingin bersenang-senang, jangan sampai kita jauh-jauh ke sana terus mengumpat kemudian (sebab kita nggak suka) 🀣

      Delete
  21. Ini masalah saya banget kalau jalan-jalan sama suami ke suatu tempat. Bukan karena konten juga sih,tapi suka penasaran sama tempat-tempat yang lagi hits gitu mbak. Eh, suami itu ga suka. Dia lebih sukanya ke tempat yang natural, tempat cagar budaya atau tempat bersejarah gitu. Dan kita kalo ke sana jadi bener2 menikmati tempat wisatanya aja, jarang jajan dan lupa utk foto2 jadinya.

    Then balik lagi emang yaa, preferensi masing-masing emang beda-beda. Kalo udah beda diantara dua orang gt, kompromi biasanya memang perlu dilakukan. Ya kadang saya menang, tapi dia yang lebih sering menang sih. Karena dia yang mengendalikan motor, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, memang yang menang itu biasanya yang bawa kendaraan yah, mba ~ sebab mereka yang pegang kemudi hahahaha πŸ˜‚

      Agree sama mba Ghina, kalau memang preferensinya berbeda tapi mau jalan sama-sama, berarti perlu kompromi agar mencapai mufakat, dan nggak membuat kesal salah satu pihak. Apalagi kalau sudah urusan jalan-jalan, nggak enak kalau salah satunya kesal 🀣

      Delete
  22. Setuju sekali mba Eno... memang personal preference orang tu beda-beda ya... dan gapapa juga selama ga saling mengganggu dan merugikan :)
    Paling agak ribet kalau kebetulan traveling-nya sama yang preference-nya beda, yang satu pengen ke sini, yang satu pengen ke sana... gapapa sih, kalau bisa dpt solusi yang win-win, dengan gantian misalnya. Tapi kalau satunya keukeuh, ya mending misah dulu aja, masing2 jalan ke tempat yg dipengen, ntar janjian ketemu lagi di mana gitu...
    Mungkin karena ini juga, saya dan beberapa teman yg lain lebih prefer solo traveling daripada rame2 terus malah drama... ^^"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pastinya mba, selama nggak ganggu dan merugikan, nggak apa-apa bangettt, namapun setiap individu punya taste beda 😁✌

      Wuahaha paling nggak bisa travelling sama yang kekeuh memaksa begitu, nanti yang ada justru kitanya nggak bisa menikmati perjalanan. Bukan healing, tapi lelah yang didapat 🀣 hehe. Kalau bisa diskusi untuk ambil yang di-tengah-tengah akan jauh lebih baik, atau pisah dulu baru ketemu lagi seperti yang mba Hicha bilang 😍

      Solo travelling atau berdua (dan dalam jumlah kecil) rasanya lebih seru dan less drama daripada rame-rame ya, mba πŸ˜† hehehehe.

      Delete
  23. Toooossss kita mba. :D

    Tiap kali traveling, aku ga mau berpatokan dengan apa yg sedang trend :p. Lagi hype sekalipun dan rasanya kita bakal jd orang yg paling ketinggalan zaman kalo ga kesana, aku ga peduli :p.

    Aku selalu datangin tempat2 yg sesuai keinginanku. Aku tergila2 dengan themepark, apalagi kalo wahana2nya extreme, aku pasti jabanin 1-2 HR hanya untuk nyobain semua.

    Makanya kalo jalan Ama temen, aku jd harus toleransi. Krn ga semua temen suka diajak ke themepark. Untungnya aku paling srg jalan ya Ama suami. Dan kami 1 hobi :D. Jd kemanapun pergi, sebisa mungkin cari sesuatu yg bisa naikin adrenalin :).

    Cuma kita agak bed soal kuliner lokal :D. Aku justru tergila2 :D. Ga masalah rasanya ancur ato ga sesuai, yg ptg aku tau hahahahah , dan ga penasaran :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, saya pun nggak peduli, soalnya kalau mau terus ikuti apa yang trend padahal nggak suka, yang ada nanti menyiksa diri sendiri hahaha. Pergi jauh mau liburan, tapi nggak sesuai preferensi buat apa 🀣

      Lhooooo kita ternyata sama-sama penyuka theme park hahahahahaha OMG! Meski alasannya beda karena saya nggak berani naik rides, namun saya suka suasana theme park yang ceria dan penuh rasa bahagia. That's why selalu luangkan waktu untuk ke sana 😍

      Memang paling seru pergi liburan sama travelmate yang punya preferensi serupa. Jadi perjalanan nggak diisi ribut karena beda tujuan. Thankfully pasangan kita sama-sama travelmate yang cocok dengan kita. Alhasil mau ke manapun gampang πŸ™ˆ Wk.

      Kalau soal kuliner, saya tipe yang main aman. Mungkin karena perut saya sensitif, mba. Saya paling takut sakit di negara orang. Kalau bisa jangan pernah masuk hospital hahaha 🀣 -- jadi selama ini cari yang aman. Di resto pun betul-betul baca menu dengan seksama *ribet anaknya* πŸ€ͺ -- saya pernah makan menu Turki yang saya nggak tau materialnya apa, namun keesokan harinya saya demam. Ternyata saya nggak cocok sama lamb buatan restonya 😩

      Delete
  24. begitu juga soal makanan.. perkara bubur diaduk atau ngga diaduk, itu juga PREFERENCE alias SELERA orang.. ngga bisa dinilai benar atau salah kalo soal selera.. πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha permasalahan sejuta umat itu, mas 🀣 sampai sekarang nggak ada jawabannya hahaha.

      Jujur waktu kecil, saya tim bubur nggak diaduk, however sekarang lebih suka bubur diaduk and yeah, people do change pada akhirnya πŸ€ͺ

      Delete
  25. Soal preferensi ini, saya jadi ingat cerita dua orang kawan saya yang waktu itu melancong bareng. Dua-duanya suka motret tapi punya preferensi yang beda. Konsekuensinya, rute yang mereka ambil pas jalan kaki mestilah bakal beda. Supaya sama-sama nyaman, akhirnya mereka sepakat buat jalan sendirian siang-siang terus ketemu lagi sore-sore, entah di kafe atau di mana. Karena melihat hal yang beda selama sehari itu, mereka jadi punya bahan yang banyak buat diobrolin. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serunya itu ya mas, karena preferensi beda, bahasan pun lebih luas. Dengan begitu bisa saling mengenal satu sama lainnya πŸ™ˆ

      Nggak beda dengan sebuah hubungan dimana dua anak manusia tentu punya selera yang nggak sama, tapi bukan berarti nggak bisa disatukan *tsah!* -- that's why, instead of memaksakan, mungkin ada baiknya saling mengenalkan. Perkara nanti diterima atau nggak itu belakangan 🀣

      Delete