Became a Host #4 | CREAMENO

Pages

Became a Host #4

Sudah lama gue nggak bahas Became a Host series. Sebetulnya banyak topik bisa gue angkat, tapi karena terlalu banyak, jadi bingung mau bahas yang mana 😂 Well, kali ini, gue mau bahas soal tiga hal yang perlu diperhatikan ketika teman-teman ingin sewakan villa yang teman-teman punya. Tiga hal ini krusial dan sukses membuat gue sakit kepala ðŸĪŠ Apa saja? Kindly check, ya!

Listrik

Villa gue kadang bermasalah listriknya, dari mulai mati mendadak, korslet karena hujan, sampai permasalahan sepele lain yang entah kenapa, lebih sering terjadi tengah malam! Phftttt... gara-gara itu, gue sampai minta staff gue pegang kontak personal pegawai PLN biar nggak repot saat ada masalah ~ Untungnya, PLN wilayah tempat villa-villa gue berada sangat helpful dan buka 24 jaaaaam (meski bayaran saat midnight dan siang berbeda) 😆

Pernah suatu kali, listrik di salah satu villa gue mati mendadak, padahal power supply aman dan sekring nggak bermasalah. Waktu itu tamu gue keluarga India Australia. Mereka langsung minta staff gue check, jam 2 malam staff gue meluncur ke villa bersama petugas PLN. Setelah di-check, kata petugas masalahnya di AC ðŸĪŠ Mau nggak mau panggil teknisi, yang baru datang jam enam pagi. Karena nggak enak sama tamu, staff gue memberikan blower sebagai pengganti 🙈

Eniho, bicara soal AC, salah satu villa gue lokasinya di tepi pantai, hhhh, karena angin garamnya keras, AC bermaterial besi bisa keropos dan biasanya merembet ke outdoor yang memaksa gue mau nggak mau harus beli AC setiap 6 bulan. Haduh pusing maak! 😑 Permasalahan ini sampai sekarang nggak ada solusinya, sebab outdoor AC belum ada yang tahan angin garam. Lucunya, staff gue sering temukan sangkar burung di dalam outdoor AC yang keropos hahahahaha. Bisa-bisanya itu burung bangun sangkar di atas penderitaan orang. Siwalan ðŸĪŠ

Ohya, hal lain menyangkut listrik adalah biaya bulanannya yang lumayan mahal ~ Menurut gue, salah satu pengeluaran terbesar villa adalah listrik karena setiap villa punya 5 - 8 AC (tergantung jumlah kamar) dan 1 kolam renang. Mana Bali panas banget, alhasil tamu gue hobi hidupkan AC sampai 24 jam yang menyebabkan gue sering shock lihat tagihan 😂 Sebagai contoh, salah satu villa punya 3 kamar tidur, AC-nya ada 5 (3 kamar tidur dan 2 ruang tengah). Setiap kamar pakai AC 1pk, while ruang tengah pakai 2 AC 2pk. Jadi setiap bulan listrik villa habis 4 - 5 juta ðŸ˜ķ

Selain AC, kolam renang butuh listrik untuk mesin pemutar dan pembersih air yang dinyalakan. Dan semakin besar kolam renang, semakin mahal biayanya. Dari mulai biaya perawatan sampai biaya obat (klorin, this and that) 😅 Jadi bagi teman-teman yang ingin bangun kolam, pikir ulang apakah nanti saat punya akan sering digunakan atau nggak. Sebab biayanya nggak murah 😂

Air

Tinggal di Bali, suka nggak suka, gue perlu siap mental menghadapi air mati mendadak. Villa gue pakai air PDAM karena lebih bersih dari pada sumur bor. Sayangnya, karena air PDAM itu hidup matinya nggak bisa diprediksi, gue jadi sering dag-dig-dug-duer takut air mati saat tamu gue lagi mandi 😂 Ada satu momen air PDAM mendadak mati sewilayah, jadi semua villa (termasuk villa tetangga) kehabisan air juga. Tamu gue yang baru bangun dan mau mandi, kebingungan ~ Staff gue bergegas kontak PDAM dan mereka bilang sedang ada perbaikan hingga siang.

Berhubung stock air toren nggak cukup untuk 8 orang, staff gue decided gotong puluhan galon untuk tamu gue mandi dengan nyaman. Gue saja nggak pernah mandi pakai air galon, gaes! ðŸĪĢ Wk. Dan permasalahan air ini nggak bisa dipisahkan dari permasalahan water heater ~ Semakin sering water heater digunakan, semakin mudah soak. Mau semahal apapun harganya! Fyuuh 😑 Gue dulu punya prinsip apapun yang gue beli untuk villa harus kualitas terbaik, namun berjalan dengan waktu, melihat barang-barang gue pada rusak semua, prinsip gue berubah -- Pakai yang middle nggak apa-apa, jika rusak seenggaknya hati gue nggak terluka 😅 hahahaha.

By the way, karena pakai jasa PDAM, villa gue sering kecolongan ~ Kadang angkanya naik parah, ternyata setelah di-check, ada pipa rusak. Jadi air bocor ke mana-mana ðŸĪ§ Usually, gue bayar air sejutaan, tapi pernah tiba-tiba naik jadi hampir dua juta. Karena kesal, gue minta staff gue check dan disitu~lah kami tau pipa rusak. And you know what, after pipa dibetulkan, ternyata biaya air bulanan villa hanya 500 ribuaaan! Jadi selama ini yang gue kira sejuta normal ternyata nggak, itu masih terhitung mahal untuk ukuran villa 3 kamar. So, saran gue, teman-teman yang mau usaha villa, keep on track meterannya, biar terlihat jelas apabila ada kerusakan 😁

Back to kolam renang, air identik dengan kolam, dan mengisi kolam bisa habiskan air banyak 😂 Hal ini tentu akan menyerempet biaya air bulanan yang perlu dibayarkan. Untungnya kita nggak perlu ganti air setiap bulan, cukup dibersihkan rutin dan diputar mesin, maka kolam kita terlihat jernih 😍 Berdasarkan pengalaman gue, biaya maintenance kolam renang beserta pembersihan air bisa habiskan 1,5 juta. Itu sudah termasuk jasa profesional, dan obat-obatannya.

Wifi

Hari genee, nggak punya wifi, bisa dapat rating satu kali gue 😂 Wifi buat tamu-tamu gue sangat penting, lebih penting daripada air buat mandi hihiii. Semisal air mati, mereka masih bisa mandi di kolam atau pakai air galon, tapi kalau wifi mati, wadaaaw bisa geger dunia ðŸĪŠ That's why, gue selalu makesure ke staff gue, urusan wifi jangan sampai bermasalah. Especially, tamu foreigners yang nggak punya mobile data dan menggantungkan kehidupan sosmed via wifi gratisan. Thank God, wifi villa gue jarang rusak. Selama bertahun-tahun, baru satu kali error itupun langsung on setelah komplen ke pusat ~ Eniweis, pastikan kecepatan wifi maksimal. Untuk villa 3 kamar, gue pakai wifi 60 Mbps, dan untuk over than 3 kamar, gue pakai wifi 100 Mbps 😉

🐰🐰🐰

Pada post Became a Host series sebelumnya, gue sempat dapat pertanyaan, biaya operasional bulanan apa yang rutin dikeluarkan? Sebenarnya biaya operasional villa nggak banyak, asal villa nggak dekat pantai hahahahaha. Sebab dengan lokasi agak jauh dari pantai, biaya maintenance-nya semakin kecil, jadi jangan heran saat teman-teman sewa villa tepi pantai harganya mihiiiiiil setinggi langit ðŸĪĢ Ngemeng-ngemeng, biaya operasional bulanan yang rutin gue bayar itu.. air, listrik, wifi, sampah, gaji staff, pajak, maintenance (kolam renang & taman), dan bahan makanan untuk sarapan (pluus emergency money alias dana darurat) 😁 That's all.

Running villa nggak susah, asal sudah tau basic-nya dan punya staff yang bisa diandalkan ~ Gue akui, usaha gue bisa berjalan lancar all thanks to my staff 😉 So, satu poin terpenting melebihi yang paling penting yang sudah gue bahas pada series Became a Host #4 ini adalah... cari staff yang berkompeten untuk usaha teman-teman, sebab staff tersebut kelak jadi roda perusahaan.

Khususnya usaha hospitality, buat gue attitude is main point. Gue prefer staff jujur and hard work serta mau belajar. Hehehe. Fyi, staff operasional villa gue beberapa diisi oleh para mas dan mba yang tadinya kerja as cleaner, TKI, dan pekerjaan berat lainnya. Some of them nggak selesai sekolah. However, mereka kerja bertahun-tahun lamanya dengan giat. Itu yang gue suka 😍

Baca juga 😆
Became a Host #1
Became a Host #2
Became a Host #3


All in all, terima kasih teman-teman sudah membaca 💕
Bagi yang mau usaha villa, semoga dilancarkan 😉
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no English translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------

40 comments:

  1. Wow, ternyata biaya buat villa tuh lumayan banget ya Mba. Jadi agak malu juga ya sering protes karena harga villa kok mahal banget ternyata yang dikeluarin si empunya juga banyak banget hahaha. Jadi dapat insight baru nih, mantep banget sharenya Mba Eno, siapa tau suatu hari aku juga bisa buka villa sendiri 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin besar villanya semakin mahal biaya operasionalnya, mba 😂

      Kalau protes karena management atau staff-nya not good, it's okay. Tapi kalau soal harga, pastinya setiap owner punya pertimbangan masing-masing kenapa kasih harga villa mahal. Apalagi jika villa tersebut memiliki staff lumayan banyak 😁

      Amiiin, semoga oneday bisa bangun villa mba Tika, ya 😍

      Delete
  2. "sebetulnya banyak topik yang bisa gue angkat. Tapi karena terlalu banyak, jadi bingung mau bahas yang mana"
    Okee baiklah mbak eno. Yang punya banyak draft artikel 😔😔

    Eeh mbak eno, aku baru tahu tentang 3hal ini. Biasanya bagi yg nyewa vila, yang diperhatikan pertama itu msalah kamar mandi dan kebersihan. Kamar mandi khan sering dijadikan patokan kebersihan sebuah tempat...hehehe

    Ternyata air laut/garam bisa beri efek ke Ac. Ndak pernah kepikiran tentang hal ini. Kurang mengamati ðŸĪĢðŸĪĢ

    Wifi sudah masuk ke kebutuhan pokok mbak. Sandang, pangan, colokan dan wifi...hahahaha
    Yaa bagi tamu manca, wifi emang sangat penting. Daripada beli paket data yang lumayan ribet prosesnya, mending cari wifi gratis aja. ðŸĪĢðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha, draft artikel banyak percuma kalau nggak bisa di-publish mas ðŸĪĢ Ujung-ujungnya yang di-publish yang baru ditulis ðŸĪŠ

      Iya mas, 3 hal ini dari kacamata owner soalnya. Kalau kacamata penyewa pastinya yang dilihat fasilitas dan kebersihannya 😁 Sama kok, saya kalau sewa villa / hotel pasti lihat poin itu 😂

      Waaaah air laut / angin garam itu sangattt susah untuk dihadapi, selain membuat produk atau material berbahan besi jadi keropos, angin garam yang kencang bisa membuat lantai licin dan lengket. Huhu. That's why, slipper is a must! ðŸĪĢ

      Semisal mas Rivai perhatikan, mostly villa / hotel tepi laut akan gunakan kayu atau material berbahan dasar alumunium (ini pun tetap keropos meski nggak secepat besi), hehehe 😁

      Iya mas, wifi sudah setara sama makanan sekarang 🙈 Nggak ada wifi, tamu-tamu bisa gelisah hahahaha. Makanya paling deg-degan saat wifi rusak, lebih parah daripada nggak ada air ðŸĪŠ

      Delete
  3. Baca penjelasan kak Eno jadi ga heran lagi kalo sewa vila di Bali itu mahal *tapi tahu darimana mahal ya?pergi ke Bali aja ga pernah, hahaha

    Tapi setidaknya sekarang dapet insight kenapa vila itu mahal, jadi kalo ada yg nanya, diriku ga bego-bego amat dan terpenting jadi keliatan tau karena pernah..padahal belum. HA!

    btw, gaya arsitektur vila-vilanya kak Eno kayak gimana?kalo aku lihat beberapa fotografer yg based in Bali, selalu cakep-cakep vilanya, gitu deh pokoknya...

    selalu penasaran, aku yg ga suka panas gerah, kalo ke Bali akan bisa memaafkan suhu karena keindahannya atau engga ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, nggak semua mahal Dy, ada yang murah ugha ðŸĪĢ
      Tapi memang iya, banyak yang berpikir villa di Bali mahal 😁

      Sebetulnya nggak jauh beda sama hotel, mahal itu bisa jadi karena fasilitas yang ditawarkan lengkap, services-nya bintang lima, dan banyak poin lainnya ~ though kadang ada pula yang kasih harga mahal namun nggak sebanding dengan apa yang didapat 😂

      Gaya arsitektur villas saya modern komtemporer, bukan etnik. Soalnya saya lebih suka konsep villa seperti rumah personal yang homey 😍

      Ady kalu nggak suka panas, datang ke Bali tengah tahun between Juni-Juli, ini terpaling the best suhunya karena kecipratan angin musim dingin dari Aussie, jadi suhu udara nggak terlalu tinggi 😁

      Delete
  4. Kak Eno, terima kasih udah menulis ini 😍. Sekarang aku jadi tahu kenapa villa dekat pantai itu harga sewanya bikin mental ðŸĪĢ ternyata selain bayar view, ya perawatan villa dekat pantai memang lebih ekstra.

    Menarik banget baca tulisan Kakak di series ini! Aku jadi tahu lebih banyak tentang suka duka owner villa 😂. Btw, 4 jempol untuk para staff Kakak yang rela gotong galon demi para penyewa villa bisa mandi 👍ðŸŧ👍ðŸŧ👍ðŸŧ👍ðŸŧ dan yang siap dicontact 24 jam! Duh, cari staff seperti ini sulit sekaliii pastinya. Keren lah keren!! 👍ðŸŧ👍ðŸŧ👍ðŸŧ👍ðŸŧ

    Aku menanti Become A Host #5 ya 🙈
    Anyway, apa villa Kak Eno sekarang udah dibuka untuk disewa harian kembali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, iya Lia, pertimbangannya bukan hanya view, tapi juga perawatan dan biaya operasional yang lebih mahal ðŸĪĢ Apalagi villa-villa yang nggak pakai AC central, mau nggak mau perlu biaya ekstra untuk AC yang mendadak rusak (which is nggak murah) ðŸĪŠ

      Selain AC, problem villa dekat laut ada banyak, dari mulai lantai yang lengket disebabkan angin garam jadi harus rajin digosok, dan dinding bangunan lebih cepat kusam jadi harus rajin dicat ulang, endeblabla 😂

      Suka duka yang kakak bagikan di atas belum seberapa, dramanya tentu banyak, especially karena usaha ini meminta kita berhadapan dengan ribuan karakter manusia. Even dalam satu keluarga yang datang (misal 8 orang), karakternya bisa beda semua 😁

      Hahahahaha thank you untuk jempolnya Lia, susah memang cari staff yang berdedikasi luar biasa pada pekerjaannya. Mereka bekerja keras seperti itu karena mereka punya pride dan merasa proud dengan pekerjaan mereka. Staff yang terbiasa menghadapi banyak tamu, mereka jadi luwes dan sangat sigap. Mungkin ini kelebihan staff di Pulau Dewata, most of them betul-betul bagus kerjanya 😍

      Belum sayang, masih disewakan tahunan. Mungkin sampai beberapa tahun ke depan. Tunggu Corona hilang, pintu pariwisata dibuka total, baru saat itu akan kembali dipikirkan buka harian 😆

      Delete
    2. Iya yaaaa! Astaga, aku nggak pernah kepikiran rasanya menjadi owner sebuah villa seperti apa. Sekarang aku jadi ingin lebih perhatian kalau nginep-nginep 😂. Banyak hal-hal yang sebagai customer, take it for granted apalagi udah merasa bayar 😂. Dalam bisnis seperti ini, pernah rugi nggak sih, Kak? Atau paling minimal ya balik modal aja gitu hitungannya?

      Oiyaaa! Katanya dinding bangunan selain cepat kusam juga cepat keropos karena efek angin laut, benar nggak sih, Kak? Ternyata punya hunian dekat laut, tidak se-asyik kelihatannya ðŸĪĢ. Sepertinya aku akan lebih memilih hunian dekat gunung aja kalau dikasih pilihan antara gunung atau pantai wkwk

      Kalau gitu, aku menantikan tulisan mengenai drama-drama yang terjadi. Sebab, who doesn't love drama? 😝. Biasanya kalau ada drama-drama, orang Indonesia semua akan bersatu untuk membaca huahahaha.

      Iya yaa! Sepertinya orang-orang Pulau Dewata itu mentalnya berbeda. Selain ramah-ramah, mereka juga luwes dan sigap (berdasarkan cerita Kakak dan pengalaman pribadiku). Aku sampai segen sendiri jadinya karena sering bertemu staff yang baik banget saat ke Bali 😂. Mungkin ini juga alasan kenapa Bali terkenal sekali~

      Waw!! Masih lama sekaliii 😂. Hayulah Corona segera menghilang 😭

      Delete
    3. Sebetulnya nggak masalah ingin dapat fasilitas sesuai dengan apa yang kita bayar. Dan nggak apa-apa kalau mau komplen jika kita merasa kurang puas dengan pelayanannya. Tapi saran dari kakak, lakukan itu di belakang 😂 Kita boleh komplen via email, atau bicara ke staff-nya (bukan di sosmed), while compliment baru dilakukan di depan 😁

      Untuk bisnis sewa villa tentu ada untung rugi, sama seperti bisnis lainnya. Mostly kerugian datang jika operasional cost tetap keluar setiap bulan while reservasi yang masuk nggak banyak. Jadi jomplang. Karena itu banyak hotel / villa menaikkan harga saat peak season, tujuannya untuk cover biaya yang hilang saat low season 😂

      Jadi bukan semata-mata cari untung (meski ini harus, nama pun usaha masa buntung) hehehe. Contoh, saat low season reservasi hanya 5 hari, tapi gaji staff, biaya teknisi ini itu dibayar normal (nggak mungkin ikut dipotong, kaaan?) 😅 Bisa resign semua yang ada hahaha.

      However, kakak cukup lucky, karena reservasi villa kakak selalu over than 20 hari jadi masih bisa cover biaya operasional, dan lain-lain 😁 So, apabila Lia atau teman-teman ingin usaha villa, makesure punya dana darurat worth 6 bulan ke depan based on biaya operasional.

      Kalau dinding bangunan tergantung bagaimana proses dibangunannya. So far, villa kakak belum sampai tahap keropos, karena sangat kokoh. Hanya sedikit kusam (kakak pakai warna putih jadi kelihatan jelas) ðŸĪĢ Iya Lia, better di atas gunung daripada tepi laut kalau untuk kakak secara personal. Tapi berhubung Bali lebih terkenal lautnya, jadi mau nggak mau harus buka yang tepi laut buat balancing yang di gunung 😂 Enaknya gunung lebih sejuk, persis tempat kakak di Jeju 😁

      Mungkin karena pekerjaannya related to hospitality dan kebanyakan business di Bali berurusan sama tamu, jadi mereka sudah terlatih untuk luwes dan sigap. Dari mulai driver sampai staff-staff manis semua, hahahaha, (sesayang itu kakak sama mereka) 😍

      Semoga one day Lia bisa balik ke Bali yaaa 💕

      Delete
  5. Dapat pengetahuan baru, yeayy. Harus prepare banget semuanya ya mba, masalah ac yang keropos, aku meringis dong, hahaha sekaligus ngakak saat ada burung yang bikin rumah disana.

    Ibaratnya ini suka duka yang mba alami selama membuka villa kan mba? Wifi sama air emang mending wifi hahaha, apalagi kalau client yang dari luar seperti yang mba bilang diatas.

    Well, apapun itu semangat mbaa, thank you for sharing, jadi orang awam kayak aku jadi tahu deh.😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah baca, mba 😂

      Iya, harus prepare dan siap sama segala macam resikonya. Saya berbagi pengalaman di sini agar teman-teman yang mau buka villa tau apa saja yang bisa dipersiapkan, selain mental 😆 Salah satunya kemungkinan ada burung bangun sangkar ðŸĪŠ

      Of courseeee mba Sovia, kalau disuruh pilih nggak mandi seharian sama nggak ada wifi seharian, most of us kayaknya akan pilih nggak mandi deh hahahaha *sebegitu pentingnya wifi* 🙈

      Sama-sama mbaaa, saya pun awal tau jadi belajar banyak 😂

      Delete
  6. Skr aku tau kenapa vila ato hotel Deket pantai mihiiiiiil hahahahahahaha. Aku baru tau loh mba ttg angin garam. Mungkin itu jg yg bikin bdn lengket kalo jalan2 Deket laut, walopun ga kena airnya yaaa. Anginny mengandung garam :D. Waduuuuh repot juga kalo ngaruh ke eletronik rumah . Kebayang sih biayanya...

    Sepupuku di Bali, dia kerja di persewaan villa. Anam villa ato apaaa gitu namanya. Tapi bukan punya dia :p, cm marketingnya. Dan dia pernah cerita susahnya punya vila di Bali, tp mostly dr sisi para penyewa hahahahaha. Kalo itu aja udh bikin Sutris, apa kabar ditambah maintenence si villanya yaa :p.

    Untunglah nyewain apartmen2 ga bikin pusing mba :D. Biasanya kalo ada masalah, si penyewa jrg hubungin aku ato suami. Pasti lgs ke pihak apartm nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, angin garam itu kejam hahahaha, apalagi untuk area pantai yang ombaknya besar, di Bali biasanya area timur dan selatan ðŸĪĢ And yep, salah satu alasan kenapa badan terasa lengket itu karena angin garamnya. Coba dijilat mba, mungkin asin kulitnya 😂 hahahahahaha. That's why, untuk elektronik sebisa mungkin jangan cari material besi, biar nggak cepat berkarat dan keropos diakhir ðŸĪŠ

      Kalau dari sisi para penyewa, sedikit banyak, saya mungkin bisa relate, especially drama-drama yang ditimbulkan. Dari yang awalnya saya sering kagetan, sekarang jadi biasa saja, termasuk drama maintenance yang nggak ada habisnya 😅

      Iya mba, apartment sistemnya beda, dan lebih mudah, apalagi jika minta bagian marketing apartmentnya yang kelola dan kita terima bersih setiap bulan / tahunnya 😂 Terus untuk apartment biasanya lebih nyaman disewakan longterm jadi kita hanya perlu deal dengan satu orang / keluarga. While villa lebih seru dijalankan harian sebetulnya (karena challenge-nya menyenangkan), meski saya prefer tahunan sekarang ðŸĪĢ

      Delete
  7. Mba Enooo, maaf, selama ini saya jadi silent reader. Hehe. Sebenarnya banyak pertanyaan di kepala, hehehe.

    Mba, soal staff memang sangat crusial. Beruntung Mba Eno bisa dapat staff yg kompeten dan berpengalaman serta berdedikasi tinggi. Susah lho cari staff yg seperti ini. Apa dulu sering bongkar pasang staff supaya dapat yg klik?

    Btw, Mba maaf, mau tanya. Selama corona ini untuk membiayai staff gimana mba? Kayaknya villa yg harian masih ditutup. Apa staff di villa harian dan tahunan sama?

    Saya cuma punya pengalaman ngontrakin rumah yg tiap dikasih kabar ada yg trouble udah bikin pening apalagi kalo yg nelpon ibu2, hahaha..

    Mba Eno termasuk sabar banget mengurus bisnis ini. Salut juga untuk para staffnya. Mungkin cara mengurus dan mendidik staff bisa dijadikan cerita, Mba, hehehe. Pasti banyak cerita di antara mereka. *halah sotoy, hahaha*

    Dulu saya pernah kerja di wisma pemerintah. Tapi karena milik pemerintah tentu dedikasi staffnya berbeda dibandingkan swasta. Banyak cerita di bisnis ini. Ya staffnya, ya tamunya. Apalagi kalau tamunya udah level pimpinan. Kadang saya suka dapat cerita aneh2 dari driver kantor. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Pipit, nggak apa-apa. Terima kasih sudah datang 😍

      Iya mba, cari staff yang klik susah-susah gampang. Saya pribadi belum pernah bongkar pasang staff, dari awal dapat luckily staff-nya berkompeten semua termasuk para mba dan mas 😁

      Villa harian saya sewakan tahunan mba, staff yang tadinya kerja urus tamu harian sekarang bantu tamu tahunan. Karena tamu tahunan nggak butuh sarapan harian, hanya butuh fasilitas cleaning, jadi staff datang sesekali saat dipanggil 😆 hihihihihi.

      Yang terasa efeknya memang staff operasional villa mba (cleaning, garden, etc). Kalau usaha lainnya nggak begitu kena imbas. Nowadays untuk staff yang terkena efek yaitu para mba dan mas front liner villa, saya ajak isi waktu dengan belajar atau masak-masak dan bantu usaha saya lainnya 😁 Untuk gaji thankfully masih bisa ke-cover dari profit yang saya dapat tahun-tahun sebelumnya 🙈

      Huahahaha, I know how it feels mba. Pusing banget setiap dapat telepon isinya komplen, ini mati, itu rusak, bla bla bla. Tapi berhubung saya dapat telepon dari staff, bukan dari tamu langsung, jadi pusingnya masih bisa ditahan. Nggak kebayang pusingnya mba Pipit yang harus bicara one by one ke penyewa 😅 Semangat mba, you can do it! 💕

      Mungkin karena bisnis saya sudah ada sistem dan dikendalikan secara profesional, jadi bisa berjalan normal. Kalau saya owner, ketemu langsung penyewa, mungkin butuh ladang sabar seluas hati mba Pipit menghadapi penyewa rumah mba 😂 hehehe. Untuk training staff, saya pakai pendekatan yang sama seperti series Became a Host #3 mba, lebih ke kasih contoh dan dibahas layaknya mengobrol dengan teman.

      Waaah seru banget pasti mba, ada banyak cerita yang didapat 😍 Dramanya nggak kalah heboh dari drama kumbara, yaaaa ðŸĪĢ Kapan-kapan ayo dibahas mba, penasaran mau baca 😆

      Delete
    2. Keren banget ceritanya Mba Eno cara memberdayakan staff di masa pandemi seperti ini.

      Kalo yg berhubungan langsung dengan penyewa lebih banyak urusan suami, hehehe. Saya cuma diceritain aja, hahaha.

      Saya nggak berani cerita di blog mba soal kerjaan karena plat merah, hehehe.

      Delete
    3. Sebetulnya diawal sempat bingung bagaimana menghadapi pandemi ini mba, sebab operasional cost terus berjalan, tapi income tersendat 😂 Si kesayangan bilang, cara menghadapi pandemi itu dengan adapt.

      Jadi instead of waiting sampai pandemi kelar, ada baiknya kita adapt dengan keadaan sekarang. Alhasil saya memutuskan pivot usaha sambil tunggu keadaan kembali normal 🙈 Jadi saya ada usaha tambahan kecil untuk isi waktu luang para mba mas biar tetap ada aktivitas sampai bisa balik urus villa harian 😆

      Berarti kita sama, hanya bagian pendengar ðŸĪĢ Saya tuh awal-awal buka villa untuk tamu rasanya mules terus mba, kawatir ada yang rusak, terus tamu komplen. Kalau rusaknya tengah malam, saya bisa banjir keringat sebab susah cari teknisi yang bisa kerja malam. Jadi sekalinya dapat, langsung disayang-sayang 😂 Kadang kasihan sama staff yang berhadapan langsung dengan tamu, apalagi tamunya pas galak 😁 Untung mereka paham kalau kebutuhan tamu yang utama 🙈

      Ohiya ya itu punya pemerintah, bisa bahayaaaa ðŸĪĢ
      Eniho mba Pipit sehat? Semoga sehat selalu, ya 😍
      Senang lihat komentar mba Pipit kembali di blog saya 💕

      Delete
  8. Sebenarnya kalo tidak hidup diera digital, dua pilar utama itu sudah cukup. Tap sekarang ngga ada jaringan bisa bengong seharian 😅

    Saya awalnya tau kak Eno punya villa dari salah satu komen teman blogger, baru baca cerita langsung dari kak Eno.

    Eh, tapi pas awal pandemi itu pengen dengar cerita kak Eno sih. Karena kebanyakan, hotel sepi waktu awal-awal pandemi. Ngga tau kalo vila 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iya mas, jaman dulu nggak ada wifi masih bisa hidup, sekarang nggak ada wifi bisa bingung mau apa saat senggang ðŸĪĢ Mungkin itu pula yang dirasakan para tamu, mas hahaha.

      Saya memang jarang bahas soal villa dan ini itunya, hanya sesekali saya bahas di series Became a Host doang, tujuannya untuk berbagi pengalaman. Siapa tau ada yang mau usaha villa 😆

      Terima kasih banyak mas Rahul sudah baca 😍
      Bahkan sampai ke post-post jadulnya 🙈

      Delete
  9. Baru tahu kalo harga villa dekat pantai itu mahal karena ada ongkos untuk biaya lain misalnya AC yang harus ganti tiap 6 bulan ya mbak karena korosi kena angin laut.

    Selain itu harus siap air bersih segala ya mbak kalo punya villa, repotnya, untung ada pegawai yang sudah biasa mengerjakan nya ya mbak.

    WiFi nya kencang juga ya 100 Mbps, sepertinya pakai provider itu ya mbak.😄

    Btw, ayo mbak Eno mandi juga pakai air galon, masa kalah sama tamunya.ðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, ongkos maintenance-nya lebih mahal ðŸĪĢ Bukan cuma AC yang rusak, elektronik dan perintilan lain berbahan besi pun banyak yang rusak dan harus diganti secara berkala 😅 KZL.

      Dan air bersih harus ready beberapa galon di tempat, agar bila ada kejadian air mendadak mati, tamu tetap nyaman 🙈 hehehe. Aduuuh, saya mandi pakai air biasa saja, kalau pakai air galon nanti takut tambah kinclong kulitnya ðŸĪŠ Wk.

      Kalau wifi, itu saya pakai salah satu brand di Indonesia, mas. Bagus service-nya (based on pengalaman saya). So far hanya 1x mati, tapi nggak lama on lagi setelah komplen ke pusat 😂

      Delete
  10. Soal mati air itu BENER banget! Dua tahun tinggal di Bali, entah udah berapa kali mengalami yang namanya mati air. Mending hanya beberapa jam, kadang bisa sampai berhari-hari 🙄 kalau udah mati air tuh rempong banget ya, Mbaa. Pernah juga mamaku sampai harus beli air galon isi ulang deket rumah sama beli air bersih dari truk yang suka lewat di depan gang itu. Menurutku, mati listrik paling gak enaknya yaa panas yaa. Tapi kalau nggak ada air, urusan perkamarmandian itu jadi rempong banget T___T

    Terus, aku baru tau ternyata rumah/villa dekat pantai itu lebih high maintenance, ya? Alasannya kenapa kalau boleh tau, Mba Eno? Tadi sekilas baca komentarnya Lia soal tembok itu mungkin ada benarnya juga, yaa.

    Eniwei, makasih banyakkk untuk sharing-nya, Mba Eno! Lumayan buat bekal ilmu kalau-kalau suatu hari nanti berpikiran untuk sewain villa juga di Bali *aminnn* XD sukses teruss yaa, Mbaa! Salam untuk para staff kecemu di sana hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya mba, ada truk jual air bersih juga hahaha tapi kalau ini paling sering di Jimbaran, sebab di Jimbaran area lebih parah airnya ðŸĪĢ

      Duuuuh kalau mati listrik masih bisa pakai kipas portable atau kipas sate, dan charging pun masih bisa pakai power bank. Tapi kalau air yang mati, terus kebelet mau ke kamar mandi, bisa susah (keringat dingin segede biji jagung bercucuran) 😂 Wk.

      Alasannya karena kerusakan lebih sering terjadi di villa tepi pantai, mostly kerusakan akibat angin garam (angin laut) yang bisa buat keropos besi-besi, dan kusamnya bangunan 😅

      Jadi kalau mau bangun villa tepi laut, perlu siap mental semisal AC rusak 6 bulan sekali, kulkas bermaterial besi keropos, dan permasalahan lain seperti lantai yang always lengket padahal sudah dibersihkan, dinding yang kusam padahal sudah dicat endeblabla ðŸĪŠ

      Sama-sama mbaaa, kalau mau sewakan villa better cari yang agak jauh dari laut, memang nggak jual view sih, tapi tetap oke kok asal services dan fasilitas dalam villanya enak 😍 Siap, mba!

      Delete
  11. Aku baru baca 3 post sebelumnya dan post yg ini. Sukses bikin aku geleng2 kepala dan kagum sama pola pikir, usaha, niat, dan tanggung jawab Mba Eno terhadap staf & tim.

    KAMU KEREN BANGET!!! Gilaaaa mbaaa, aku saluuut bangeet sama kaamuuu. Ga nyangka kalau kamu bisa sebaik dan setulus itu sama karyawan.

    Apalagi post yg #2 ttg edukasi finansial. Itu bener2 ilmu seumur hidup yg Mba terapkan ke mereka. Pastinya ga mudah tapi Mba tetap lakuin itu daripada "yaudalah" atau "bodo amat" padahal uda dibilangin tapi mereka awal2 tentu bs ngeyel.

    Btw, makasih sharingnya mba khususnya masalah finansial dan post #3 tentang edukasi berbicara. Ini berlaku juga buat aku pribadi dlm mengatur keuangan dan bersikap agar ga jadi "kompor meleduk".

    Aku punya apartmen yg disewain tapi melalui Travelio, Mba. Apartmen aja ada aja maintenance tak terduga. Bahkan di luar dugaan aku bisa kejadian, kaya tiba2 ganti shower deket kloset karena copot ðŸĪĶ entah gimana itu tamu gunainnya. Tapi jadi belajar kalau tiap tamu pasti istimewa.

    Pantes kalo mau sewa villa deket pantai harganya muahaaall, ternyata maintenance nyaa juga gede yaaa. Salut sama Mba Eno yg bisa rela dan sabar ngeluarin uang utk beli AC tiap 6 bulan 🙈 ga kebayang itu tiap 6 bulan sekali pengeluaran makin besar buat bongkar dan pasang AC baru.

    Btw semoga usahanys terus laris manis yaa Mba 😁 kapan2 maauu tau ah villa nya Mba Eno. Maybe bisa ajak keluarga kesana ðŸĪ­

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Devinaaa, terima kasih sudah baca series sebelumnya 🙈 Saya masih perlu banyak belajar mba, hehehe, yang saya bagikan hanya sedikit dari pengalaman yang saya punya 😂

      Eniho, bicara soal tulus, sebetulnya saya belajar banyak dari para staff yang bekerja dengan tulus dan giat demi kesuksesan usaha. Dari situ saya berharap staff bisa sukses hidupnya. Jangan sampai sudah lelah bekerja namun nggak ada hasilnya 😁

      Sebab dengan mereka sukses hidupnya, nggak punya banyak pikiran, mereka jadi lebih semangat bekerja, karena nggak ada beban kecuali beban harus giat melakukan tanggung jawab 😍 hehehehe. Once again, terima kasih banyak mba Devina sudah baca semua tulisan saya. Senang jika ada sedikit manfaat yang bisa mba Devina bawa pulang 🙈

      Hihihi pengalaman berurusan sama kerusakan di tempat usaha kita memang nggak bisa kita hindari ya mba, justru jadi pelajaran 😂 Nah iya soal AC itu karena sudah tau circle-nya, jadi langsung disiapkan budget khusus agar nggak pusing saat harus diganti akibat rusak ðŸĪŠ

      Amiiiin mba, terima kasih doanya 😍💕

      Delete
  12. bisnis villa banyak juga yang perlu dipikirkan, apalagi aku yang cita cita pengen punya kos kosan tapi nggak kesampaian :D
    aku nggak habis pikir, bisa aja burung bangun sarang di ac ya, ckckck hehehe, kreatip banget tuh ya
    usaha seperti ini, pelayanan tetep nomer satu ya mbak, gimanapun kita harus membuat tamu menjadi nyaman dan betah. point banget nih ya

    nah nyari staff yang kompeten ini mungkin agak agak susah gampang ya, nyari yang bener bener pengen kerja dan ada keinginan untuk maju. Kayak mbaknya mbak eno itu, makin oke juga kerjanya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kos-kosan juga nggak jauh beda mba sama villa, maintenance-nya banyak 😂 hehehehe. Iya tuh burung bangun sangkar cobak, tapi memang di villa saya banyak burung liar terbang 🙈

      Tentunya, usaha hospitality bisa berjalan lancar jika kita punya pelayanan maksimal. Menurut saya itu poin utama, hahaha 😆

      Cari yang berkompeten awalnya dari orang-orang yang punya will atau kemauan kuat. Dari situ bisa diasah pelan-pelan, yang terpenting mau belajar dan mau mendengarkan, mba 😍

      Delete
  13. benar sekali.. ngga ada wifi ini kok rasanya, gimanaaa gitu.. 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah ya, mas. Apalagi buat programmer seperti mas Zam 😂

      Delete
  14. Salah satu label atau tema yang paling saya tunggu-tunggu, selain carousel nih!
    became a host!

    Thanks so much Eno atas sharingnya, saya jadi ngeh mengapa menginap dekat laut itu mihil, kirain cuman menjual view aja, ternyata ada alasan lain juga.
    Tapi jangankan Vila ya,, orang rumah aja sering bikin shock masalah listrik dan PDAM itu.
    Salah satu caranya mungkin bisa bangun 1 tandon bawah say, bangun sekalian yang luas, jadi, saat air mati, dan air tandon atas habis, bisa hidupin pompa air buat mompa air tandon bawah ke atas.

    Dan ngomongin AC, pas banget baca ini, AC kami udah lama nggak dinyalakan kan, selama pandemi ini hemat listrik, jadinya pakai kipas aja, pas akhir-akhir ini panasnya minta ampun, akhirnya ngalah deh nyalain.
    Daaannn langsung korslet dong say.
    Kelamaan ga dipakai juga berakibat rusak ya? rempong emang.
    Mana di daerah ini juga aneh, padahal ya jauh dari laut, tapi yang namanya besi jadi mudah berkarat, sampai udah berapa kali beli gembok pagar berujung nggak dipake, saking seringnya rusak nggak bisa dipake hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kak kalau gemboknya karatan, coba deh buka gembok dengan cara dimiringkan secara horisontal (ini buat gembok yang lubang kuncinya di bawah itu ya kak. Lebih gampang bukanya kalo dinaikin gituuu. Kebayang maksudku ga kak? hahaha

      Delete
    2. Thank you sudah menunggu, mbaaaa 😍

      Iya mba, untuk beberapa villa bisa punya tandon bawah, tapi untuk yang di tepi pantai agak susah karena struktur tanah sepertinya. That's why hanya berharap pada yang di atas bangunan 😂

      OMG, AC memang begitu mba, kalau nggak dipakai lama selain mengeluarkan bau bisa jadi korslet. Mungkin karena itu dulu petugas AC bilang untuk saya rutin nyalakan AC meski hanya beberapa menit saat nggak digunakan atau nggak ada tamunya. Hahahaha, ribet yah ðŸĪŠ

      Gembok mba Rey mudah berkarat apa karena kepanasan? 🙈

      Delete
    3. Iya mba Rey, mungkin saran mba Frisca bisa dicoba 😍

      Delete
    4. @Frisca : bentar saya membayangkan, hahaha.
      bener deh, masalah gembok ini dulu sering banget shock sendiri.
      Saya kan selalu gembok pagar, pas mau keluar, etdaaahh gembok kagak bsia dibuka, kebayang deh kalau ada apa-apa di rumah kita nggak bisa keluar.

      Pernah juga kejadian yang bikin mau nangis.
      Saya jemput si kakak dari les, si adik masih bayi banget, saya tinggal di rumah sendirian, pas pulang, eh ternyata dia nangis sodara, dan betenya si gembok kagak bisa dibuka, sebalnya minta ampun, mau panjat pagar keberatan bok*ng, kagak sanggup manjatnya, akhirnya si kakak yang berhasil masuk duluan manjat pagar buat nenangin adiknya hahahaha.

      @Eno: kagak tahu say, bukan karena kepanasan kayaknya, tapi entah mengapa, udara di sini tuh nggak baik, bukan cuman gembok. beberapa peralatan dari besi, pada berkarat dong, meski letaknya di dalam rumah.

      Kayak parutan keju, kan ujungnya agak terkelupas gitu, langsung penuh karat, tauk deh udaranya kenapa, padahal ya dekat sawah doang, apa memang angin sawah itu nggak baik kayaknya ya?

      Oh ya, saya sampai beli 2 macam, gembok yang warna putih dan emas.
      Yang putih itu paling nggak kuat, cuman 2 mingguan, udah bermasalah lagi, yang emas agak mihil, tapi bertahan sebulanan trus bermasalah lagi, akhirnya saya kesal, nggak pake gembok lagi, tapi pakai rantai yang saya lilit-lilit, jadi kalau mau keluar masuk, rempongnyaaaa buka lilitannya ahahahaha.
      Sungguh saya merepotin diri sendiri wakakaka

      Delete
    5. OMG, berarti angin di sana lebih ganas dari angin pantai mbaaa ðŸ˜ē Soalnya gembok mba hanya bertahan sebulan even yang putih dua mingguan. Saya saja masih bisa pakai yang putih tiga bulanan ðŸĪĢ

      Nggak enak banget pasti kalau udara di area rumah mba Rey gampang membuat karat, apa jangan-jangan airnya juga berkarat ðŸ˜Ē

      Delete
  15. wadow ganti AC tiap 6 bulaan?! ðŸ˜ąðŸ˜ąðŸ˜ą Angin laut sejahat ituu yaaak!!! Itu kocak banget sampe dijadiin sarang sama buruk!! 😅😅 Kalau sarang burung wallet mayan tuh kak bisa diolah buat jadi minuman sehat hahaha

    Soal air sih kacau juga ya kak pas mati di tengah-tengah sesi mandiii. Semengerikan ituuu buatku... Kalau soal WIFI sih aku masih ga masalah. Toh di hotel juga kadang wifinya butut, mendingan pake paket data sendiri haha Jadi buatku AIR itu yang penting haha Kalau sampai mati di tengah sesi mandi....Jegeeerr. Bisa ngamuk ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jahat banget mbaaa, mobil atau motor pun bisa bolong hahaha 😂 Sayangnya bukan sarang burung walet, jadi nggak bisa dijual. Wk.

      Huahahaha I know rite, bayangkan lagi mules tapi nggak ada air, huuuft, atau lagi keramas eh air mati, OMG kasihan banget tamunya 🙈 Nah paket data itu masalahnya hanya untuk tamu lokal, while yang foreigners kadang beberapa nggak punya atau beli paket data, jadi hanya mengandalkan wifi saja 😆

      Delete
  16. Saya ngikutin ini,, dan somehow ini yang jadi series yang kuingat dari blog posts nya mbak meno,

    swkwk wifii lebih penting dari bak mandii,, sebagai guest, sepakat banget. hehe..saya yang hampir kehidupnnya bergantung pada internet ga bisa ngebayangin kayak apa insecurenya kalau nginep tanpa ada wifi wkw.

    wah pasti nyaman ya nginep di villanya mbak meno, wifi nya kenceng banget gitu,, buat ngerjain job mantapp;.

    attitude is a main point, noted mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada mas Rifan, sudah lama nggak bersua 😍

      Sama mas, kalau yalan-yalan abroad, buat saya wifi sangat penting. Kalau masih lokal sih bisa~lahya pakai mobile data 😂 Makanya agak was-was jika wifi rusak, untungnya hanya sekali so far 🙈

      Siiiip mas, terima kasih sudah membacaaaaa 😆

      Delete