Before Say Yes | CREAMENO

Pages

Before Say Yes

Saat gue publish post Put Some Efforts beberapa waktu silam, gue dapat pertanyaan soal apa yang perlu dibahas sebelum say 'Yes, I do' ke pasangan ~ Well, gue pribadi nggak tau in general biasanya pasangan lain bahas apa, tapi gue pada waktu itu, tentu membahas hal yang menurut gue penting sebelum gue agree jadi pendamping hidup dia πŸ˜‚ Gue bahkan buat list pertanyaan sederhana yang perlu dia jawab agar gue bisa kenal dia lebih dalam. As simple as, makanan dan warna kesukaan dia apa just to makesure dugaan gue nggak salah πŸ€ͺ

Nah, untuk topik berat yang sempat gue bahas, salah satunya adalah UANG ~ Topik ini sensitif, namun gue memilih bahas dari awal dengan harapan kami bisa tau, kami punya tujuan dan cara kelola uang yang sama atau nggak. Andaikata pun nggak sama, kami bisa cari jalan tengah yang memuaskan kedua belah pihak. Hehehehe. Dan menurut gue, pembicaraan soal uang termasuk penting, karena gue dan dia tentu nggak berharap hidup susah ke depannya 😁

Jadi pada pembahasan soal uang, semua dikulik, apa yang kami harapkan, bagaimana enaknya pengelolaan ke depan. Disitu gue dan dia blak-blakan, bahas isi tabungan dan asset ada berapa, ikut asuransi nggak, ada cicilan nggak, sampai yang lebih detail seperti, "Suka surprise atau pilih sendiri hadiahnya?" 🀣🀣 Wk. Gue masih ingat, waktu dia tanya gue mau hadiah ultah apa, gue jawab dengan, "Satu juta won." -- Karena buat gue, hadiah cash paling juarak! πŸ˜† hahahaha.

Selain itu, kami berhitung untuk hidup sampai usia 80 tahun, berapa tabungan perlu disiapkan agar saat pensiun, kami nggak menyusahkan orang. Apabila sudah ada perkiraan angka, tinggal disusun sistem pengelolaannya. Jadi purpose and track kami jelas. Dengan punya purpose and track, kami tinggal ikuti sistem yang kami buat ~ sehingga kami punya batasan setiap kali ambil keputusan. Semacam diingatkan, "Hey, jangan buang uang, ingat, jalan masih panjang." πŸ˜…

On top of that, kami membahas warisan anak (bila ada anak) ~ Berhubung asset kami ada di dua negara, jadi kami perlu tau bagaimana pengaturannya. Semisal anak ambil Warga Negara Korea, automatically dia nggak bisa punya asset di Indonesia, itu artinya asset di Indonesia harus dijual dan uang hasil penjualan yang diwariskan ke anak. Over all, lumayan banyak poin penting yang kami bahas. Seingat gue, butuh waktu sebulan untuk finalized semua data πŸ™ˆ

Kami juga bahas hal basic, seperti saat ingin kasih uang ke orang tua, siapa yang kasihkan? Lalu, event apa yang perlu kami siapkan hadiah? Contoh, di Korea ada Chuseok, Seollal dan Parents Day dimana anak-anak biasa kasih hadiah ke orang tua ~ 😁 Then, kami buat kesepakatan kasih berapa. Semua dibahas tuntas πŸ˜‚ Seenggaknya dengan begitu, gue merasa aman hidup sampai puluhan tahun ke depan, sebab rencananya sudah diatur semaksimal yang kami bisa.

🐰🐰🐰

Dulu, ada yang bilang ke gue, masalah finansial bisa jadi salah satu masalah kompleks. Dari situ, gue dan dia belajar agar kelak apabila kami ada masalah, kami tau langkah apa yang perlu kami ambil kemudian. Hehe. Mungkin, ada yang berpikir kami greedy soal uang (jadi selalu kerja agar pemasukan lancar), padahal money can't buy happiness katanya 🀣 However, menurut kami, meski uang nggak bisa beli kebahagiaan, tapi uang bisa untuk bayar semua kebutuhan πŸ˜…

That's the time we realize, though uang bukan segalanya, tapi uang yang mempermudah hidup gue dan dia, dan sudah selayaknya kami atur uang yang kami punya agar nggak susah πŸ™ˆ Thank God, gue dan dia punya sudut pandang sama, jadi kami sepakat perihal prinsip uang agar hidup kami bisa selalu dalam keadaan baik-baik saja ~ Which is nggak mudah, apalagi era ecommerce, saat segala sesuatu bisa dibeli dengan sekali klik melalui layar ponsel kita πŸ˜‚

Menurut teman-teman, pembahasan mengenai uang penting, nggak? 😍
When I published Put Some Efforts post some time ago, I got a question about what we need to discuss before say 'Yes, I do' to partner 😁 Well, I personally don't know what other couples usually talk in general, but at that time, I discussed somethings that I think are important before I agree to be his life partner πŸ˜‚ I even had a list of simple questions that he needs to answer. As simple as, what color and food he likes, just to makeure my guess isn't wrong πŸ€ͺ

Now, for heavy topics, which I discussed before say 'Yes, I do', one of it is about MONEY. This is sensitive, but I chose to discuss about it from the start so that we know whether we have same goals and methods of money management or not. If we don't have same goals and methods, we can find a middle ground that satisfies us. Hehehehehe. And in my opinion, talking about money is important, because me and him certainly don't wanna have a difficult life in the future 😁

So in the discussion related to money, we talked about what we hope, and what should we do to manage our money. We talked about our savings and assets, do we have insurances, and do we have monthly installments, and some details such as, "Do you prefer surprise or choose the gift yourself?" 🀣 LOOOOL. I still remember, when he asked me what birthday gift I wanted, I replied with, "One million won." -- Because for me, cash is the best! πŸ˜† hahahaha.

Apart from that, we calculated how much money we need to prepare so we can live long until 80 years, because when we retire, we don't wanna cause trouble to our kid or families. After we got an estimated number, we make our system. So that our purpose and track is clear ~ By having purpose and track, we just have to follow the system we created, so, there will be limits every time we make decision. Kind of reminder, "Hey, don't waste money, there's a long way to go." πŸ˜…

On top of that, we discuss the inheritance of our kid (if we have kid). Since our assets are in two countries, we need to know how to arrange it ~ For example, if our kid choose a Korean citizen, automatically our kid won't be able to have assets in Indonesia, means we have to sell our assets in Indonesia and just give the money to 'em. Anyway, I could say that we discussed quite a lot of important points. As I recall, it took a month to finalize all the data πŸ™ˆ

We also discussed simple matters, such as when we wanted to give money to our parents, who will give it to them. Then, what kind of events that we need to prepare for gifts. For example, in Korea there are Chuseok, Seollal and Parents Day, which kid usually give gifts to parents. And, we made an agreement on how much we will give. Yeah, we discussed all πŸ˜‚ At least that way, I feel safe until the next decades, because our plan has been arranged as good as we can ~

🐰🐰🐰

In the past, someone told me, financial problems can be one of the complex problems in family. Since then, we try to learn slowly so that later if we have a problem, we would know what steps we needed to take later. Hehehe. Maybe, there are those who think we are greedy about money (we work hard, hoping that our income flows smoothly~), though money can't buy happiness, they said 🀣 However, in our opinion, money is needed to pay all the bills πŸ˜…

That's the time we realize, money might can't be everything, but money can makes life easier for sure, and we should manage the money we have so that we don't have a hard time πŸ˜†✌ Thank God, we have same point of view, and we agreed to try hard, wish our lives always be fine. Which isn't easy, especially in ecommerce era, when we buy something only with one 'tap' πŸ˜‚

How about you, guys? Do you think money is important? 😍
---------------------------------------------------------------------------------------
Sorry, no Korean translation for this post.
Kindly check the Indonesian version.

---------------------------------------------------------------------------------------

60 comments:

  1. Mba baca judulnya aku otomatis nyanyiin lagu Lewis Capaldi yang Before you go, entah mba tahu lagunya apa nggak haha.

    I couldn't agree more, sama yang mba bikang diatas. Dalam berpartner (menikah, bangun bisnis, kolaborasi project, etcetera) semua aturannya emang harus jelas. Apalagi untuk urusan sepenting menikah, emang harus bahas detail sih, kalau nanti hidup bersama kapal ini akan dibawa berlayar kemana? Perhitungin semua bahan bakar dan kebutuhan selama perjalanan, emang nggak usah jaim-jaim, takutnya nanti makan hati.

    And then klise bener emang statement " Money can't but happiness".

    In the end, it's not about the money, money, money.....we just wanna make the world dance πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau mba, tapi ini sekarang lagi dengar lagunya πŸ˜‚ Ternyata bagus, saya suka tipe lagu begini, asik didengar saat sedang di perjalanan πŸ˜†

      Yep, dalam segala bentuk hubungan, menurut saya, aturan itu perlu (sistem istilahnya kalau di perusahaan). Karena dengan kita punya sistem di dalam rumah, kita jadi lebih mudah menjalani hidup kita. Bahkan sistem peletakan barang, sampai sistem kecil seperti lap wastafel saat basah, cuci piring setelah makan, buang sampah, this and that, diperlukan πŸ™ˆ

      Kalau kita sudah punya sistem, dan mematuhinya, hidup terasa lebih aman (karena secara nggak langsung kita punya kontrol untuk diri kita) πŸ˜† *tapi mungkin setiap orang punya cara beda, hanya saja cara ini yang paling pas untuk saya*. Dan setuju dengan analogi mba Sovia, hubungan itu seperti berlayar, kalau kita tau tujuannya ke mana, kita jadi bisa mempersiapkan amunisi lebih matang agar nggak kejebak di tengah jalan dan tenggelam 😁

      Untuk statement money can't buy happiness, agree to disagree buat saya. Sebab we need money to provide ourselves with the things we need. Jadi, meski money can't buy happiness, saya tetap ingin punya banyak money hihi. While about happiness, I don't need to buy, I will just make it myself πŸ˜‚ Ya kan, bahagia itu kita yang buat. Nggak perlu dibeli segala *eakh* *ditimpuk pembaca* πŸ™ˆ

      Delete
    2. Kebetulan aku baru aja dengerin lagu ini on repeat kak, hahaha, kalau dikumpulkan bisa jadi banyak sekali coincidence² yang terjadi di sekitar kita ya🀣.

      Memang bahagia dan lega rasanya kalau hidup satu visi sama pasangan ya kak Eno, sampai permasalahan uang—yang seringnya kata orang sensitif—benar-benar diperhitungkan segitu matangnya, karena kalau dipikir benar juga, bahwa kita harus mikirin jangka panjang, dan jaminan-jaminan hari tua nantinya bagaimana (though umur gak ada yang tau, harus tetap berencana🀧), karena pasti akan ada masa dimana kita nggak bisa lanjut bekerja dan disitulah uang yg selama ini dikelola dengan baik bisa menghidupi kita sampai hari tua.

      Mungkin aku akan mengikuti jejak kak Eno juga saat sudah waktunya, supaya hidup berumah tangga jadi lebih jelas dan terarah😍 Jadi, yapp, menurutku pembahasan mengenai uang benar-benar penting. Biar nggak ada yg perlu disembunyikan jugaπŸ˜‚ kan bagus kalau dari hal seperti itu bisa tertanam bentuk-bentuk kejujuran yang lain, hehehehe. Dan aku juga suka dengan cerita kak Eno disini, jadi bisa menambah insight soal bagaimana pasangan-pasangan di luar sana mengelola keuangan dalam rumah tangganya😁😍.

      Delete
    3. Waaah kita dengar lagu yang sama, Awl 🀣

      Iya Awl, paling enak kalau punya pasangan yang satu visi misi dengan kita, jadinya kita lebih mudah untuk melangkah sebab purpose and tracknya sama. Mungkin kakak dan dia bisa punya privilege untuk membahas topik uang karena kami berdua sudah terlalu matang dalam segi usia, jadi masing-masing dari kami sudah bawa asset dan tentu sistem keuangan personal. Alhasil ketika memutuskan untuk bersatu, kami perlu bahas semua diawal πŸ˜†

      Andaikata kelak Awl berniat settle down, mungkin pertimbangan Awl bisa jadi sedikit berbeda dengan cara kakak, namun apapun itu, Awl pilih satu metode yang paling pas untuk Awl serta pasangan, ya 😁 Apabila dirasa perlu untuk dibahas, yaaa nggak apa-apa banget dibahas. Semua akan kembali pada prinsip dan value yang Awl punya πŸ˜‰

      Sebetulnya, meski nggak punya asset banyak, bicara mengenai uang itu nggak ada salahnya. Dari situ bisa terlihat, kita mau usaha bagaimana ke depannya. Goalsnya apa. Terus cara sampai ke sananya bagaimana hehe. Walau mulainya dari nol yaaa nggak masalah. Yang penting bangun jalannya sama-sama dan komitmen pada jalan (sistem) yang telah dibuat πŸ˜† Semisal sistemnya adalah gaji 30% ditabung sampai reach Dana Darurat sekian, then follow it. Atau sistem sederhana lainnya adalah sedekah 10% dari pemasukan, then follow it too.

      Intinya, bagaimana kita terbuka dengan pasangan, dan membuat rencana bersama dari apa yang kita punya, kemudian menjalankannya. Kalau nggak punya apa-apa, ya berarti mulai dari awal, kan bisa buka-bukaan, pemasukan sekian, nanti bagaimana pembagiannya. Siapa nanti yang pegang uangnya. Jelas dimuka, biar nggak ada ekspektasi tercecer di jalan πŸ˜†

      Eniho, apa yang kakak bagikan di atas itu berdasarkan pengalaman kakak, Awl πŸ™ˆ Bisa jadi pasangan lain memiliki cara berbeda. Nanti Awl bisa baca-baca komentar teman lainnya dan mencari cara yang paling pas untuk Awl dan pasangan. Hehehe. Semangat, yaah. Semoga, apapun rencana Awl berjalan lancar 😍

      Delete
  2. Super keren sekali itu rencana keuangannya, kyknya detail banget.
    akhir-akhir ini akupun mulai concern mengenai cara memanage keuangan yg baik itu kyk gimana.

    Aku tuh termasuk orang yg bingung soal keuangan soalnya selalu ada yg namanya investasi dan aku ga tau samasekali apa dan bagaimana investasi itu.
    trus yg bikin bingung lagi adalah aku, si kepala keluarga cuma punya satu sumber penghasilan, ya si gaji bulanan itu, dan jumlahnya antara pemasukan dan pengeluaran itu hampir sama banyak, jd kyknya susah kalon mikirin mau investasi kalo dari pendapatanku yang dari satu kerjaan aja.

    kata orang, satu-satunya jalan ya cari tambahan di tempat lain, setelah itu baru mulai mikirin investasinya apa dan kemana. and i just can't figure it out how to get that uang tambahan di hal lain.

    Oleh karena ini juga, aku termasuk orang yg ga begitu terpengaruh dengan resesi ekonomi pandemi ini karena sejak awal asal gajinya segitu nominalnya, sehari-hari aman, asal jgn kecelakaan atau sakit. heummm..

    :(

    atau, apakah aku termasuk orang yg cepat puas dengan apa yg didapat walaupun sebetulnya secara finansial mah yaa... pas diambang batas antara good or no good?

    what's wrong with my and what should i do?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada kata terlambat untuk belajar, Dy ~ 😍

      Ady mungkin bisa belajar mengenai literasi keuangan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk investasi, sebab Ady perlu paham bagaimana pola yang terbaik untuk keluarga Ady. Apalagi sumber income Ady hanya dari satu lubang yaitu gaji bulanan. Di sosial media atau website sekarang sudah banyak yang bahas finance, coba Ady baca-baca akun mereka 😁 Dulu saya pernah ikuti Andhika Diskartes saat masih main IG, mungkin Ady bisa follow dia. Menurut saya, cara penyampaian dia oke πŸ˜‰

      Eniwei, jika sampai saat ini Ady belum tau mau cari tambahan dari mana, then satu-satunya cara yang bisa Ady lakukan adalah kelola uang yang sudah Ady punya dan manage pemasukan Ady secara berkala. Bisa dengan sistem budgeting dan sejenisnya. Kalau perlu, press dulu pengeluaran yang dirasa nggak perlu sampai target Dana Darurat terkumpul (ini kalau ada yang bisa dipress ya) πŸ˜„ Sebab, Ady nggak bisa terus-terus berpikir cari tambahan dimana, apalagi saat hilalnya belum kelihatan *ini bahasa mate saya* hehehe πŸ˜‚

      So, instead of focus ke hal yang di luar, better benahi yang ada di dalam. Utak atik lagi perhitungannya. Begitu terus sampai ketemu angka yang pas. Sambil cari bacaan mengenai finansial. Nanti akan ketemu patternnya. Saya pun butuh proses yang nggak cepat hingga sampai pada pattern yang saya punya sekarang. Hehehe. It takes time Dy, but you will get there anyways 😁

      Ohya, Ady sudah punya dana darurat belum? Dana darurat itu kalau untuk 2 kepala = 12 x pengeluaran bulanan. Banyak yang bilang 6x sudah cukup, tapi buat saya lebih banyak lebih oke hahaha. Untuk sekarang, daripada memikirkan investasi, ada baiknya fokus kumpul dana darurat itu, which is bisa digunakan saat Ady atau pasangan sakit, dan kebutuhan darurat lain. Dengan punya Dana Darurat, hidup jadi lebih aman rasanya πŸ˜†

      Semangat Ady 😍

      Delete
    2. belum punya dana darurat, apalaggi kalo 12x, 6x pun belum tercapai,
      tapi aku pasti bisa,, pelan tapi pasti :)

      Thank you kak Eno!

      Delete
    3. Pelan-pelan, slowly but sure. Hihihi, sama-sama Ady 😍

      Delete
  3. Kurasa semua hal penting untuk dibahas termasuk mengenai uang.

    Bicara soal apakah uang bisa untuk membeli kebahagian, bagi saya jawabannya, iya.. uang bisa buat membeli segalanya, namun dengan catatan ada kalanya dlm kenteks tertentu perlu mengganti kata "membeli" dgn kata lainnya misal "menukar" πŸ˜†πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Jaey, terima kasih komentarnya πŸ˜†

      Iya ya mas, nggak semua bisa dibeli, tapi seenggaknya bisa ditukar πŸ˜‚ Semoga kita bisa selalu hidup bercukupan, mas 😁 amiiiin.

      Delete
  4. Uang bukan segalanya, tetapi uang mempermudah kehidupan kita.. true, realistis Eno.

    Menikah berdasarkan cinta penting, tetapi ketika kehidupan menjadi susah karena keuangan, hasilnya cinta akan terkikis perlahan. Kesulitan hidup membuat pikiran kembali pada setting primitifnya, survival mempertahankan diri sendiri, dan pada akhirnya tidak ada lagi tempat untuk berpikir dan memelihara cinta.

    Apa yang Eni tulis di atas saya terjemahkan begitulah cara Eno dan kesayangan untuk melindungi rasa "sayang" yang ada. Justru dengan begitu cinta itu bisa langgeng dan berkembang dalam kondisi yang ideal.

    Sulit untuk membuat cinta bertahan ketika perut terasa lapar. Tidak heran banyak yang gagal dalam berumah tangga karena mereka hanya mengandalkan pada "cinta". Realistis itu perlu. Berhitung itu wajib.

    Cuma, saya pikir, Eno dan pasangan bisa "bebas" berinteraksi membahas masa depan karena terdidik dalam kultur yang sama, dimana "kebebasan", "saling mau mendengarkan", "mau berpikir sebagai tim" menjadi dasarnya. Tentunya juga ditopang berbagai hal lain yang tidak tersurat, tetapi tersirat kalau dikaitkan dengan berbagai tulisan lainnya.

    Meskipun terlihat ideal, sebenarnya pemikiran seperti ini sangat sulit diterima oleh mereka yang masih berlandaskan pada konsep hirarki feodal, laki-laki berada "di atas" wanita.

    Saya tidak cukup yakin, bahwa cara seperti ini bisa diterima oleh kultur di masyarakat Indonesia sekarang, maksudnya untuk melakukan "negosiasi" pra pernikahan dengan cara seperti ini. Banyak yang akan menerjemahkannya secara berbeda dan cara seperti ini akan dipandang sebagai cermin sifat materialistis.

    O ya pasti ada yang sudah melakukan, tetapi mayoritas masih akan memandangnya sebagai sesuatu yang "tidak pantas". Kok mau nikah saja harus ruwet dan berpikiran macem-macem seperti itu? Kayak perusahaan saja.

    Kayaknya begitu pertanyaan yang akan muncul.

    Bersambung (ga cukup kolom komentarnya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mas Antoooon 😁

      Iya mas, bisa dibilang, saya bisa membahas hal sensitif soal uang bersama pasangan karena kami punya privilage dan starting point kami ketika berniat settle down itu sudah sama-sama punya karir, dan asset serta metode keuangan personal. Jadi, itu salah satu alasan mendasar kenapa kami perlu membahas masalah uang, agar jelas perencanaannya πŸ˜‚

      By the way, benar yang mas Anton bilang, rasanya seperti perusahaan, even pakai perjanjian 🀣 Tapi begitulah pengalaman saya. Tujuan awal pembahasan untuk jaga asset. Kalau sama foreigner apabila nggak buat perjanjian, nanti asset akan diambil oleh negara. Karena urusan asset itu, akhirnya jadi melebar, dibahas dan dibuka sekalian semuanya. Nanti urusan uang bagaimana, siapa yang kelola, berapa porsi untuk ini dan itunya. Sampai ke warisan dan bla bla πŸ˜…

      Saya pribadi merasa bersyukur sudah membahas semua dari awal, jadi kami sama-sama tau mau bagaimana ke depannya. Just like mas Anton said, masalah uang ini bisa fatal akibatnya. Bahkan kadang bisa merusak keluarga yang telah dibina. Jadi, satu langkah yang kami ambil di atas itu agar seenggaknya, apabila nanti kami dihadapi masalah pelik mengenai finansial, kami tau langkah apa yang perlu kami ambil. Nggak buta sama sekali hehehe. Lebih ke situ siiiih, meski terlihat matrealistis 🀣

      Delete
  5. Belum lagi kalau sudah bucin, kadang yang seperti ini akan terlewatkan karena terbenam dalam "rasa cinta" yang menggebu.

    Untuk melakukan seperti yang Eno katakan butuh dua orang dengan pengetahuan yang luas, hati yang luas juga, pemahaman arti cinta, pengetahuan tentang manajemen dan juga pemikiran yang jernih. Yang tidak boleh dilupakan, kultur dalam keluarga masing-masing yang memberikan ruang "kebebasan".

    Satu lagi yang tidak boleh terlewat juga"dana" dan "keuangan" yang mapan (setidaknya arus cash flow yang bukan sekedar untuk bertahan hidup), karena sulit membuat rencana ke depan seperti memberi ke orangtua, asuransi, investasi kalau untuk biaya pernikahan saja harus meminta orangtua atau berhutang.

    Jujur saja, saya tersenyum kalau membaca beberapa komentar di atas ini... Hihihi..Dan mengatakan akan mencoba menerapkan hal yang sama, saya pikir mungkin yang berkomentar tidak menyadari "beratnya" cara yang Eno pakai merencanakan sampai sedetil itu.

    Seriously.

    Apalagi di tengah masyarakat yang masih sangat memegang teguh prinsip, "Ah rejeki, jodoh, dan maut di tangan Tuhan". Covid-19 saja dihadapi dengan prinsip seperti itu.. wakakakakaka..Susahnya berlipat ganda.

    Saya sendiri, tidak memakai cara seperti ini. Lha ya waktu nikah gaji saja ngepas, punya rumah saja harus berjuang bertahun dulu, bagaimana membahas tentang rencana ini dan itu? Bagaimana mau membahas berapa harus memberi orangtua, insurance, atau investasi, kalau rumah saja masih ngontrak... Hahahaha..

    Tapi, setidaknya kami berdua saat itu sudah paham bahwa perjalanan kami tidak akan ringan. Akan banyak goncangan dan Alhamdulillah, fondasi saling pengertian, saling dukung, itulah yang sudah membawa kami menempuh hampir 20 tahun hidup bersama..

    Bukankah itu yang terpenting. Eh, uang juga penting sih karena Alhamdulillah, meski tidak berlebih rasa sayang kami diberi "ruang yang cukup baik" untuk terus hidup dan bertahan.

    Tapi terus terang, saya tidak akan sanggup melakukan hal yang seperti Eno lakukan membahas secara rinci sekali.

    btw, cerita yang menarik.

    Langgeng terus ya Eno dan si Kesayangan. :-D


    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, saya setuju mas, karena beberapa teman saya belum bisa buka-bukaan seperti saya sebab alasan dari keluarganya 'tabu' katanya untuk tanya atau cek keuangan pasangan. Tapi ada pula beberapa teman lainnya yang setipe sama saya, dibahas semua dimuka sebab nggak mau kalau mendadak pasangan punya hutang bejibun tapi dia nggak tau apa-apa πŸ˜‚ Memang semua akan kembali pada masing-masing personal inginnya bagaimana, dan tentu seperti kata mas Anton, keputusan itu butuh kesepakatan dan keterbukaan dua belah pihak. Nggak bisa hanya satu pihak saja, which is ini yang susah (kalau dari pengalaman beberapa teman) 😁

      And yep, untuk melalui proses itu bisa dibilang berat. Since first time, mau angkat topiknya saja sudah maju mundur, maklum masih kebawa kultur Asia yang nggak enakan πŸ˜‚ Tapi pada akhirnya, melihat keseriusan dia pada waktu itu, mau nggak mau saya mulai pembahasannya. Thankfully, saya diberkahi pasangan yang terbuka dan nggak bertele-tele, jadi setiap ditanya langsung dijembreng semua data 🀣

      Cara ini bisa jadi berat, kalau pasangan dari teman yang komentar di atas adalah tipe yang nggak mau dilihat 'dalamnya' atau cenderung tertutup. Some people punya alasan tersendiri nggak mau bahas uang. Dan itu wajar, tapi semoga kalau memang ada yang berniat buka-bukaan, bisa dilancarkan jalannya demi kebaikan bersama πŸ™ˆ

      Sepertinya, saya akui, saya bisa melakukan itu bersama pasangan, karena saya ada privilege finansial. Semoga teman-teman yang mulai dari nol nggak patah arang dan bisa mencari cara sendiri agar dapat sepaham dengan pasangan, pun bisa belajar dari ilmu yang mas Anton bagikan di atas 😍 Lastly, selama ada fondasi saling pengertian dan saling dukung seperti yang mas Anton bilang, everything will be fine πŸ˜†πŸ’•

      Hehehehe, terima kasih sudah baca cerita saya mas dan memberikan point of view berdasarkan pengalaman mas 😁 Saya jadi belajar lebih jauh lagi mengenai keluarga dan bagaimana membinanya. Semoga mas Anton nggak pernah bosan kasih insight and POV di blog saya ya, biar teman-teman saya pada baca 🀣

      Sehat teruuuus, mas 😍

      Delete
    2. Soal keuangan memang wajib dibahas di depan, terutama krn org sini kdg heboh di acara wedding tp setelah itu entah ada uang utk pasangan hidup sekian ke bulan gak.

      Untuk info saja membahas komentar mas Anton diatas..memang disini sulit tapi bukan nggak ada. Sekarang ada trend pelatihan pra nikah -yang unsur utama bahasnya adalah soal uang. Bukan cuma uang tapi juga sampai manajemen konflik dg keluarga pasangan 🀣

      Peminatnya cukup banyak org tua dan anaknya, pekerja muda.

      Ada kasus pasangan bubar sblm nikah gara2 stlh bahas keuangan trnyt tdk sevisi dan tdk kuat melihat peta konflik di keluarga pasangan(krn karakter pasangan juga patriarki) Malah bagus krn lbh gawat kalo cerai kan.

      Yg plg epic saat pasangan muda sukses minta ortu jgn rayakan gede2 stlh diyakinkan dg fin plan bhw duitnya lbh baik dipake buat mrk survive di thn pertama.

      Jadi makin kesini saya mkn optimis bahwa pmikiran spt di tulisan ini mkn diterima. Kuncinya di couple itu sendiri kok.



      Delete
    3. Agree Pheb.. kan sudah saya sudah sebut di atas, ADA, tetapi belum menjadi sebuah budaya/kultur. Jumlahnya masih sangat kecil sekali. Kultur disini belum bisa sepenuhhnya mengadopsi pemikiran dan gaya seperti ini.

      Makanya saya bilang berat karena paham sekali dengan teori budaya Timur di Indonesia, dan sifat kesukuannya.

      Masih terlalu panjang jalan yang bisa ditempuh untuk bisa mencapai tahap ini. Hambatan budaya, tradisi, dan masih banyak hal lain masih menjadi tembok.

      Kalau saya mikirnya masih butuh setidaknya 1 generasi untuk bisa merubah mindset, atau setidaknya menunggu generasi yang sekarang hilang diterpa angin.


      Buat saya sendiri bukan masalah positif atau negatif. Masing-masing manusia punya cara masing-masing. Hal yang seperti Eno tuliskan, saya tidak bisa memandang sebagai positif atau negatif.

      Itu hanyalah masalah opsi saja.

      Bila opsi ini kemudian menjadi populer, apakah berarti menafikan tradisi lama atau membuktikan tradisi lama lebih buruk, ya tidak juga.

      Tradisi baru tidak selalu berarti lebih baik dari tradisi sebelumnya, ya kembali tergantung pada pasangannya. Mau serumit apapun mikir di awal, ketika tidak ada saling pengertian dan kerjasama ya bubar juga... Mau dibahas kayak perusahaan sekalipun, kalau tetap intinya tidak bisa berpadu, ya bubar jalan.

      Tradisi dan kultur lama selalu dipandang lebih jelek daripada sesuatu yang baru. Padahal tidak seharusnya dipandang seperti itu. Kenyataannya ratusan juta manusia di Indonesia menggunakan cara lama dan sampai sekarang yang langgeng juga banyak. Yang hidup mapan juga banyak. Yang gagal juga banyak.

      Apakah cara baru selalu lebih baik, ya tidak juga. Buktinya yang sudah bahas secara detail saja tetap saja yang cerai mah cerai juga. Punya perjanjian pranikah pun tapi pisah ya ga sedikit. Yang berhasil juga banyak

      Terlalu menyederhanakan masalah ketika pra pernikahan dipandang sebagai menjamin keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

      Cuma biasa manusia melihat sesuatu yang "baru" sering merasa bahwa itu cara yang lebih baik, terkadang tidak melihat situasi dan kondisi.

      Terlalu menyederhanakan juga ketika ada sebuah cara baru, kemudian cara lama dikesankan tidak memberikan manfaat dan hanya menghasilkan keluarga yang berantakan.

      Saya pikir kita harus memandang apa yang Eno tuliskan bukan dari sudut benar salah, baik buruk, tetapi lebih kepada melihat jalan hidup pasangan manusia yang berbeda dari keumuman. Bukan soal benar salah, positif negatif.

      Berbicara positif atau negatif sangat subyektif? Apakah saya optimis cara baru akan menggantikan cara lama? Hemmm ... untuk apa? Saya sudah menikah dua puluh tahun. Lalu, kenapa saya harus mendukung atau menolak? Buat anak? Untuk apa juga karena saya pikir jalan hidup anak saya, ya dia yang menentukan. Bukan saya. Dia mau cara ini monggo, nggak ya monggo juga.

      Buat yang mau ya monggo, buat yang tidak, ya monggo juga..

      Bukankah yang di atas itu pentingnya untuk pasangan yang terlibat? Berarti pasangan itu sudah menemukan "jalan" kompromi bagi perjalanan hidupnya..? Hal itu tidak membuktikan apa-apa dan tidak bisa dipandang bahwa cara itu yang terbaik bagi semua orang

      Itu sisi pandang saya yah.. karena saya bisa memahami tulisan Eno, tulisan yang menarik.

      Mengapa saya mau timpali panjang lebar, karena saya ingin memperlihatkan satu sudut pandang lain, bahwa hal itu tidak mudah dan tetap hanya merupakan satu jalan, bukan kepastian. Jangan sampai disederhanakan untuk dipandang sebagai "harus begitu" caranya, karena saya pikir dengan bercerita seperti ini Eno sebenarnya ingin mengatakan, ini jalan saya, kamu temukan jalanmu sendiri.. dan bukan ikuti jalan saya.

      Delete
    4. @Eno

      Tulisan yang bagus sekali karena memperlihatkan dan menjadi representasi perubahan mindset yang memang sebenarnya mulai diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

      Akan menarik sekali tentunya untuk melihat perkembangan ke depan karena pasti akan terjadi benturan pemikiran dengan mindset lama. Kemudian, dimana titik kompromi antar pemikiran baru vs lama. (Yang Eno jelaskan di atas, saya kategorikan sebagai "baru").

      Bisakah cara ini menjadi sebuah tradisi/cara pengganti bagi cara lama, ataukah pada akhirnya semua kembali ke titik asal?

      Thank you for the sharing.. hahahaha karena seperti biasa, memberi ruang sekali dan mengajak berpikir...

      Delete
    5. #garuk2 helm

      Loh yang jawab mas Anton duluan XD..seriously, mas....bagaimana caranya tahu saya komen di komen mbak Eno, padahal beda platform blog. Pakai notif email atau di kunjungi terus topiknya ? XD

      Saya merasa optimis artinya bukan negatif atau positif terhadap whatsoever ya mas. Ini ingin meluruskan saja supaya tidak melebar lagi...

      Kali ini saya sedikit bahas walau sedikit OOT, semoga bisa memberi info menarik krn berhubungan dengan sejarah...

      Kalau dibilang ini meninggalkan tradisi lama, mohon maaf, justru kalau di Jawa ada yg namanya bibit, bebet, bobot. Dan pemaparan mbak Eno justru merujuk pada kriteria bobot yaitu "wasis", serta off course bebet.

      Menurut saya ya tradisi yg srg dilakukan sekarang sudah tidak murni tradisi yang dipegang nenek moyang, filosofinya banyak yg sdh hilang, bercampur sari dengan banyak hal...bahkan cenderung lebih praktis..

      Infact ada tradisi-tradisi Indonesia yang menurut saya filosofinya patut dipelajari, bahkan jadi topik riset sendiri yang menarik, sebagai contoh tradisi di sebuah suku dimana sebelum pernikahan perempuan dan laki-laki "bertukar tempat tinggal" di keluarga masing2. Di saat bertukar tempat itu keluarga mertua akan bongkar habis perilaku anaknya, bagaimana aslinya dirumah dan cara ngadepinnya. Ibaratnya kasih passcode kalau suatu saat RT nya ada masalah gini karena perilaku anak, kamu harus melakukan A, B, C. B. Itu melintasi ilmu pra nikah manapun di jaman sekarang sebetulnya.

      Sayangnya sudah jarang yg spt itu, yang ditonjolkan skrg lebih bnyk unsur seremoni dan simbologi ketimbang filosofi. Mungkin malah sudah hilang filosofinya sejak generasi entahlah...

      Back to topic, jadi intinya mbak Eno, menurut saya ya pembahasan keuangan ini sebetulnya juga menilai seberapa lebar toleransi atas perbedaan yg terdapat dari masing-masing pihak, terutama untuk pihak perempuan ya.


      Delete
    6. Wah sungkem dulu sama mas Anton dan mba Phebie, maaf baru join πŸ˜† ehehehe. Pertama menanggapi beberapa komentar mba Phebie, iya setau saya sekarang jika mau menikah ada persyaratan ikut program pra-nikah kalau nggak salah (lupa-lupa ingat baca di mana) πŸ™ˆ Dan semakin ke sini, saya lihat semakin banyak yang memberi arahan untuk buka-bukaan di awal. Mungkin karena informasi semakin mudah di dapat melalui sosial media, jadi rata-rata generasi berikutnya lebih punya banyak pilihan 😍

      Yang mba Phebie kasih contoh di atas itu beberapa dialami teman saya, ada yang tipe keluarganya tabu jadi nggak bisa buka-bukaan namun akhirnya keteteran setelah menikah. Namun ada pula yang sukses seperti pengalaman mas Anton, I mean nggak buka-bukaan tapi keluarga tetap harmonis sesuai harapan. Jadi apa yang mba Phebie bilang, saya setuju, kuncinya kembali pada pasangan itu mau bagaimana menjalaninya πŸ’•

      ---

      Terus untuk mas Antoooon, hehehe iya mas, semoga ke depannya, siapapun pasangannya, mau pakai cara baru atau lama, mau tertutup atau terbuka, semua bisa memilih berdasarkan tingkat kenyamanan masing-masing dan berdasarkan value yang dipunya 😍

      Harapan saya, cara-cara yang ada tetap bisa digunakan tanpa perlu menggantikan satu sama lainnya πŸ™ˆ Biar enak gitchuuuuh jadi generasi berikutnya punya banyak pilihan 🀣 Well, saya pribadi hanya berbagi pengalaman tanpa berpikir kalau cara saya adalah yang paling benar. Nggak ada yang salah atau benar pada cara masing-masing pasangan dalam menuju 'bahagianya', ya kan mas? 😁 Jadi, tulisan saya di atas semata-mata hanya share apa yang saya tau sebelumnya πŸ˜†

      ---

      Terima kasih banyak mas Anton dan mba Phebie sudah berbagi sudut pandang. Senang saya bacanya, karena saya bisa dapat banyak informasi baru yang saya nggak tau tadinya πŸ˜† Terus ini blog saya jadi mirip forum dan sekarang saya jadi Moderatornya 🀣 hahahahaha.

      Delete
    7. Menjawab pertanyaan mba Phebie yang di komen ke tiga πŸ˜†

      mas Anton sepertinya pasang notif mba, jadinya mas Anton tau ada balasan dari mba Phebie sebab setiap ada balasan nanti masuk email mas Anton (kalau nggak salah -- saya nggak pakai notif soalnya jadi kurang tau betul atau nggak) πŸ™ˆ

      Delete
    8. Makasih Phebie... :-D :-D selalu menyenangkan bisa nongolin sisi "ronin" saya.... Makasih Eno, maaf rumahnya dipake jadi ring wakakakakakaka.....

      Nggak pake notif kok, kebiasaan saya saja kalau ada sesuatu yang menarik dan kebetulan saya meninggalkan komentar "agak jahil" saya akan kembali dan melihat responnya..

      Sayang kalau sudah direspon dan nggak dimanfaatin untuk bertukar sudut pandang dan ngeluarin "kejahilan"...

      Seperti yang ini juga karena saya nebak Phebie pasti akan merespon, makanya saya kembali... :-D :-D

      Makasih ya Pheb...dan juga Eno

      Delete
    9. Nggak apa-apa, mas 🀣 Seru baca insight mas Anton dan mba Phebie, sama-sama memberi sudut pandang baru pada saya 😍 You both are cool, pokoknyah! πŸ’•

      Oalaaah, saya kira pakai notif ahaha. Ternyata mas Anton memang hobi ronda di topik yang mas Anton syukaaa πŸ˜† Thank you mas, dan mba Phebie, sampai jumpa di ring selanjutnya yah hahahaha 🀣

      Delete
  6. Setuju sama kalimat "Uang ngga bisa beli kebahagiaan, tapi uang bisa untuk bayar semua kebutuhan."

    Aku pernah bahas seputar uang sama koko sebelum married. Khususnya aset dan cicilan yang dimiliki. Soalnya akan berdampak untuk kami sehabis menikah. Jadi dari gaji bulanan bisa di alokasikan untuk keperluan cicilan dan kebutuhan lainnya. Cuma aku ga pernah bahas detail kaya Mba dan Pasangan. Pembahasan mengenai uang untuk orangtua juga di bahas, khususnya kapan akan dikasih. Jadi semacam kaya tenggat waktu gitu, kalau tidak nanti bisa ketunda.

    Mba Eno dan pasangan super kompak sekali bisa bahas sampai begitu mendetail. Bahkan dipersiapkan dengan matang hingga masa pensiun. Aset untuk anak juga dibicarakan. Kalian keren sekali, karena pastinya bahas mengenai uang itu super sensitif. Terlebih jika masing-masing sama-sama kerja, jadi otomatis punya hak untuk memanfaatkan uang yang diperoleh untuk keperluan tertentu.

    Pembahasan mengenai uang emang sensitif tapi perlu untuk di bahas. Karena habis menikah tentu ingin terus bahagia bukan pusing mikirin cara muter duit ataupun hutang. Jangan sampai kaya gitu *amit amit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Means, bahas di awal sebelum settle down itu sangat membantu kita ya, mba 😍 hehehe. Iya, saya sama dia perlu finalized data sampai detail sebab hal tersebut membantu kami untuk plan masa depan. Agar tau dana yang diperlukan berapa dan bagaimana pengelolaannya. Hehehe. Dan betul yang mba Devina bilang, kalau dua-duanya kerja perlu pembicaraan lebih jelas, agar nggak berekspetasi lebih dihari kemudian 😁

      Seenggaknya apabila nggak satu visi misi, bisa step back daripada saling menyakiti ~ ini sih yang paling saya kawatirkan, karena masalah finansial bisa menimbulkan polemik besar. Jadi sebisa mungkin dibahas dan disiapkan fondasinya meski kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi ke depan, namun seenggaknya kita sudah punya bayangan langkah apa yang bisa kita ambil nantinya πŸ˜„πŸ’•

      Terima kasih sudah berbagi insight mba Devina, semoga mba dan Koko bisa selalu hidup sejahtera dan dijauhkan dari masalah finansial 😍

      Delete
  7. Money amat amat amaaatttt sangat bisa membeli kebahagiaan saya, serius! hahaha

    Kalau ada duit, mau segalau apapun, tinggal beli sesuatu yang menyenangkan hati, atau bantuin orang lain lepas dari kesulitan, melihat wajah bahagia dan lega orang itu udah amat sangat membahagiakan banget buat saya.

    So, kata siapa uang nggak bisa buy happiness :D

    Btw saya termasuk yang menganggap uang itu penting untuk dibahas, karena sejujurnya, saya lebih suka berpikir minimal sebulan ke depan.
    Bahkan seboros-borosnya saya, prinsip saya dari dulu tetep sama, jangan pernah make uang, yang memang bukan buat bulan ini.

    Sayangnya saya nggak bahas ini sejak sebelum menikah, atau bisa dibilang, saya sendiri baru merasa kalau ternyata uang itu wajib dibicarakan ya setelah menikah.

    Bukan cuman dibicarakan, tapi dihitung bersama juga.

    Lah sadarnya pas udah nikah, ambyar deh jadinya, apalagi baru terasa banget setelah punya anak, duh makin ambyar hahaha.

    Padahal saya itu hanya meminta kami memikirkan bulan depan aja loh, itu aja udah dipatahkan, dengan ucapan kalau saya katanya nggak bisa menikmati hidup.

    Ya sudahlah, terpaksa memang saya sendiri yang mau nggak mau kudu cari duit, dan menata duit sendiri, setidaknya punya dana darurat yang tidak diketahui suami, karena kalau dia tahu, bisa berabe hahaha.

    Untungnya sih, masih ada ego buat paksu, setidaknya kalau saya udah mulai manyun ketika make duit saya, dia sadar diri, wakakak.
    Meskipun tetap kudu ada cara tersendiri buat ngomongin hal itu.

    Ah memang duit bikin pusing, tapisetidaknya masih berani menghadapinya, bukannya malah kabur dari masalah duit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbaaa, kalau punya banyak uang bisa beli apapun nggak pakai berpikir, termasuk saat mau bantu orang yang membutuhkan, atau sekedar beli hadiah untuk teman. Itu yang paling saya syukuri mba. Hehehe, makanya meski money can't buy happiness, tapi can pay the bills kata orang-orang 🀣

      Nah iya, menurut saya, uang itu bukan hanya dibicarakan namun dihitung dan direncanakan bersama. Jadi sama-sama tau kira-kira kebutuhannya berapa. Itu pula yang saya lakukan bersama pasangan. Kami track down estimasi pengeluaran kami, sampai estimasi pensiun kami, semua dibahas satu persatu agar jelas. Habis itu buat budgeting, dan tugas kami berikutnya tinggal duduk manis, kerja giat, menikmati hidup sambil follow plans yang kami punya 😁

      Semoga mba Rey dan pasangan bisa menemukan jalan ke luar bersama yah, apalagi jalan masih panjang, anak-anak mba Rey masih butuh banyak dana untuk sekolah dan kebutuhan basic-nya. Semangat selalu, semoga rizki mba mengalir deras, dan mba bisa kembali naik ke atas 😍 And as usual, terima kasih sudah berbagi insight ya, mba πŸ’•

      Delete
  8. Artikel yang sangat menarik mbak eno. Aku juga baca semua komentarnya. Termasuk diskusi di komentarnya mas anton. Penjelasannya sangat detail dan memberi pengetahuan baru..hehhee

    Gatau mau nulis komentar apa. Yang jelas mau bilang makasih sama mbak eno, dkk :D
    Di sini seperti mendapat gambaran tentang salah satu persiapan sebelum menuju ke jenjang kehidupan rumah tangga. Di lingkunganku, hal seperti ini belum banyak dilakukan mbak eno. Orang tua lebih sering nyuruh anaknya untuk buru-buru nikah karena umur yang sudah melewati usia 30, dibandingkan ngobrolin apa yang sudah disiapkan setelah menikah nanti. Bahkan ada yang bilang daripada pacaran sudah lama, yaa mending nikah aja. Atau mungkin omongan buruan nikah, itu teman-teman kamu sudah pada punya anak.

    Ngomongin hal seperti ini ke pasangan memang ga mudah, tapi masih bisa dikomunikasikan. Segalanya memang lebih baik ketika kita saling terbuka dan membuka diri. Setiap pasangan punya caranya masing-masing untuk mengatur keuangan mereka. Ga ada sebuah kepastian terhadap cara terseibut. Tapi yang perlu setiap pasangan harus punya aturan dalam mengelola kehidupan rumah tangga mereka :D

    Mbak eno unik juga sampai bahas tentang kado diberikan dengan cara apa...Langsung bilang maunya apa, tanpa membuat pasangan perlu berasumsi tentang kado apa yang menarik untuk diberikan. daripada lelah karena berasumsi, ydh dikasih jawaban yang pasti aja....hahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, baca komentar mas Anton sama mba Phebie, mas? 😍

      By the way, menikah itu menurut saya banyak pertimbangannya. Saya tau, menikah bisa buka pintu rizki dan lain-lain seperti yang sering digaungkan. Tapi tetap perlu direncanakan dengan matang, apalagi mas Rivai sebagai laki-laki istilah kata akan ambil anak perempuan. Means, perlu tau mau seperti apa ke depannya saat membangun keluarga yang mas punya. Sebab mas yang akan jadi nahkoda 😁

      Yep, setuju sama mas, setiap pasangan perlu punya sistem / aturan di dalam rumah. Nggak beda sama perusahaan 🀣 Dan perusahaan yang sukses bisa running ratusan tahun, salah satu supportnya adalah sistem yang mumpuni, karena dengan adanya sistem, jalannya jadi lebih mudah, karena sudah tau kira-kira langkah apa yang perlu dilakukan. Hehehe. Semoga mas Rivai dan pasangan kelak bisa punya sistem yang baik, yang dibangun atas landasan cinta kasih dan saling ingin melindungi 😍

      Hahahahaha, saya tuuuh nggak yakin dia bisa kasih kado yang sukses membuat saya terkejut karena suka πŸ˜‚ Dianya juga kawatir hadiah yang dia pilih tuh bukan selera saya. Makanya dia prefer tanya saya mau kado apa. Kalau ultah dari dulu saya selalu jawab, satu juta won hahahaha. Daripada pusing 🀣 Terus saya nggak hobi kode, jadi biasanya saat ingin sesuatu, langsung kirim fotonya ke dia πŸ˜… hahahahaha. Enak begini mas, jadi nggak mubazir, kan 😜

      Delete
  9. Saat masih single, mengatur keuangan tentunya mudah, karena kita hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. tapi, pas udah nikah mengatur keuangan gak segampang saat single, karena perlu aturan, dan cara pikir yg berbeda.

    Gak heran, banyak pasangan baru nikah kebingungan, bahkan cekcok pas bahas keuangan keluarga,
    karena mungkin belum tahu, dan mampu mengatur keuangan yang tepat setelah menikah.

    Memang, ada banyak yang udah terapkan cara yang mba Eno tulis di atas. Tapi banyak juga yang masih pakai cara lama. Barangkali, prinsip2 dasar mereka kuat. Seperti orang tua kita dulu. Mereka bahagia, langgeng, dan aman2 aja tuh :D

    It's oky, bila itu berjalan dengan baik, Not problemo.

    Dulu sebelum menikah, aku sama suami juga bicara beberapa hal menyangkut keuangan. [Kami memang sama2 ingin bahas hal tsb] menjelang nikah. Kami memang terlebih dahulu ikut bimbingan pranikah. Berangkat dari situlah, kami jadi lebih terbuka satu sama lain. Lebih santai membahas semua hal, meski itu hal yang sensitif.

    Kami bahas dana darurat untuk hal2 yang tak terduga, misal kecelakaan, kematian, dan untuk keluarga besar.

    Kami membahas, ya, yang hampir serupa dengan apa yang mba Eno bahas dgn kesayangannya. Mengingat, waktu itu kami sudah memiliki usaha masing2. Hal utama yg harus ada, dan ditekankan adalah, kejujuran, dan keterbukaan. Ini adalah kunci rumah tangga yang langgeng. Aku nggak mau menikah cuma sebentar, tapi, sampai maut memisah. Aku gak punya target umur berapa...

    Yang jelas, aku ingin lewati hari, bahkan berjuta malam bersamanya dengan cinda, dan bahagia tanpa
    pusing mikirin ini itu :D

    Alhasil, seiring waktu berjalan, kami merasa sangat ringan, sbb semua berjalan sesuai. Aku bisa ambil keputusan, jika suami nggak di tempat.

    Kesimpulan untuk diriku sendiri : Mengatur keuangan dengan pasangan saat mau menikah itu
    amat penting.

    Thanku mba Eno, tulisannya bagus sekali.
    Semoga kita semua bisa langgeng sampai akhir..,

    Slm sehat, bahagia sll untuk mba Eno dan kesayangan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mba Ike, penting banget untuk dibahas dan buat aturan terpisah, karena pastinya akan beda dengan sistem pengelolaan ketika masih single, kan 😁 hehehe. Dan seperti yang mba Ike bilang, banyak kejadian ribut-ribut kecil happens saat membahas soal keuangan keluarga. Padahal ini bisa diantisipasi jika pembahasan dilakukan dari awal πŸ™ˆ

      Iya mba, banyak yang pakai cara lama, dan banyak pula yang sudah buka-bukaan dari awal. Semua kembali pada value yang dipegang ke dua belah pihak, and nothing wrong with that. Karena ada buktinya, meski pegang cara lama, tetap bisa hidup langgeng hingga tutup usia. Jadi cara terbuka ini hanya salah satu opsi yang bisa digunakan πŸ˜†

      Eniweis, terima kasih banyak mba Ike sudah berbagi pengalaman mba Ike bersama pasangan. Senang rasanya bisa belajar lebih jauh soal background pilihan hidup setiap orang. Hehehehe. Semoga mba Ike dan pasangan bisa selalu bersama sampai akhir hayat, saling terbuka, jujur dan apa adanya sesuai harapan yang mba punya 😍

      Lavvvv ~

      Delete
  10. Bahas soal keuangan emang sensitippp banget niih.... Malah bisa jadi ribut karena bahas uang. Padahal tujuan awalnya kan biar sama-sama tau kekuatan finansialnya gimana...

    Yang dilakukan kak Eno ini sungguh keren. Benar-benar sudah planning sampai hari tua nanti. Aku sudah dapat basic planning keuangan. Cuma tetap saja, pencatatan dan budgeting nya itu masih susah dijalankan HAHAHA

    Padahal harus sudah planning biar semuanya bisa on track ya. Terlebih kalau nanti sudah punya anak. Pengeluaran akan tiba-tiba BOCOR karena biaya untuk anak itu sungguh luar biasa πŸ˜‚

    Poin penting yang kutangkap "beli asuransi ga? ada utang ga" Terkait asuransi, ini penting memang dimulai sejak dini. Suamiku langsung suggest aku supaya beli asuransi karena ga mau ada pengeluaran tak terduga karena sakit. Tau sendiri ya biaya rumah sakit tuh aduhaaai... Serta poin tentang "punya hutang ga?" ini juga musti dari awal buka-bukaan ni.... Sebelum nikah kan utangnya ditanggung sama dia ya. Kalau sudah nikah ya mau ga mau utang itu akan ditanggung bersama dong. Makanya poin ini juga perlu dibahas di depan supaya ga tiba2 pas uda nikah "Lah kok ada tagihan sebesar ini?! Duit dari mana buat bayarnya?!" Terus mateng daah jadi ribut hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, some couples ada yang ribut pastinya πŸ˜…

      Waaah ayo semangat budgeting dan pencatatan, awalnya berat tapi efeknya sangat terasa dihari kemudian. Hidup jadi jauh lebih tenang πŸ˜† hehehe. Pelan-pelan semoga mba Frisca lancar 😍

      Betul mba, biaya untuk anak ituuu ruarrrrr biasa besarnya. I know, anak ada rejekinya, tapi tetap butuh usaha orang tua untuk mendapatkannya. Jadi kita as orang tua perlu siap siaga, hehehe. Agar one day, saat ingin punya anak, kita bisa mencukupi kebutuhannya 😁

      Kalau di Korea, asuransi itu penting dari usia muda sudah digunakan. While di Indonesia, masih jarang yang pakai asuransi, sebab masih pada was-was atau bingung pilih mana yang terbaik hehehe. Mungkin karena itu, di Korea even cuma sakit panas atau kecil-kecilan tetap pergi ke rumah sakit, sebab mereka bayar asuransi πŸ˜† So, merasa lebih aman, bisa jadi karena itu pula rentang hidup mereka lebih panjang 😁

      Nah iya itu mba yang soal hutang, perlu dibahas dari awal, jadi tau perhitungannya. Dan bisa disusun rencananya bersama bagaimana bayarnya bila ada. Semacam cicilan rumah, ini itu, semua dibahas menurut saya itu akan sangat membantu ke depannya πŸ˜„ Daripada nanti kejadian seperti cerita mba Frisca, ended up ribut di belakang πŸ˜‚

      Delete
    2. Iya niih
      pencatatan sih sebenarnya sudah kulakukan untuk keuanganku, tapi buat asset suami beluuum hahaha
      susah catetin yang punya orang laiiin terus berakhir ga kucatetin deh. Padahal awalnya uda sempet aku catetin hahaha

      Iya ga mau dong ya kita punya anak tapi anaknya ga dikasih kebutuhan yang mumpuni huhuh

      Negara luar memang sudah lebih oke ya terkait asuransi. Kalau di sini tuh anak mudanya masih ga mau pakai asuransi hehe Eh tapi asuransi sini kalau sakit panas pergi ke rumah sakit kayanya tetep bayar sendiri de
      karena setauku asuransi sini tuh harus rawat inap dulu baru diganti sama asuransi

      Delete
    3. Ahuahaha, ribet yah mba, dicatat tunggu sempat saja πŸ˜† Tapi sebisa mungkin tetap dicatat, biar ke-track dua-duanya πŸ˜πŸ’•

      Iya agak beda cara kerja asuransi di Indonesia dan di Korea. Terus anak mudanya masih belum banyak yang pakai asuransi. Sedangkan di Korea, dari anaknya masih kecil sudah diasuransikan kesehatannya. Bahkan saya pernah lihat anak SMA ke dokter sendirian tanpa orang tua. Sampai ada istilah, sedikit sedikit ke rumah sakit, sebab selagi bisa di-cover ya akan minta dicover πŸ˜‚

      Semoga di Indonesia, lebih banyak anak muda punya asuransi dan menurut saya, asuransi itu penting, karena akan berguna suatu hari nanti πŸ™ˆ

      Delete
  11. Kak Eno, aloha!~

    Aku selalu senang saat membaca tulisan Kakak yang berkaitan dengan keuangan 😍 karena banyak sekali kiat-kiat yang aku dapatkan dari tulisan Kakak 😍. Contohnya lewat tulisan ini, aku jadi kepikiran perihal menabung untuk hari tua. Yang ini yang sering terlupakan padahal ini sesuatu yang akan dihadapi kelak, apalagi aku juga nggak mau menyusahkan orang lain jika udah tua kelak. So, terima kasih atas reminder dan sharingnya Kak Eno!! πŸ₯°πŸ˜˜

    Ayo bagi kiat-kiat keuangan lainnya!! Aku sukaaaa hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lia holaaa, apa kabar? Sibuk, yah? 😍

      Hihihi, terima kasih sudah baca sayang, semoga ada sedikit manfaat yang bisa Lia dapatkan. Dan soal tabungan untuk hari tua, cara paling sederhana adalah kalikan jumlah pengeluaran rata-rata bulanan Lia bersama pasangan ke 20 tahun (240 bulan). Sebab bila pensiun diusia 60 dan hidup sampai usia 80, means kita butuh uang untuk 20 tahun saat nggak kerja 🀣 Itu perhitungan sederhananya, kalau perhitungan ribetnya nanti ada inflasi dan ini itu segala 😁

      Sama-sama Liaaaaa, next time yaaaah semoga bisa πŸ™ˆ
      Kakak pun sebenarnya masih perlu terus belajar πŸ˜†

      Delete
    2. Kabar baik! Kak Eno apa kabar? Kok belum tidur? 🀭. Aku sibuk menghabiskan buku-buku bacaan Kak 🀣 sebelum berganti tahun, aku ingin bisa menghabiskan To-be-reading book aku (kalau bisa) 🀭

      Huaaa terima kasih tipsnya Kak!! Sekarang mau melipir ke kalkulator dulu, mau iseng hitung meskipun nanti kelak pasti nilainya udah berubah karena inflasi dll kan 🀣

      Aminnn! Semangat Kak Eno 😘 terima kasih udah berbagiiii! Jangan tidur terlalu malam (padahal sendirinya belum tidur)

      Delete
    3. Kakak baiiik sayang πŸ˜† Semoga goals Lia tercapai yaaah ~

      Selamat berhitung biaya hidup ke depannyaaa, semoga pelan-pelan bisa terpenuhi bersama pasangan tercinta. Mungkin ini sudah waktunya Lia belajar mengenai finansial dengan lebih matang. Sebab soon Lia akan jadi CFO dalam keluarga kecil yang Lia bina 😍 Semangat Lia!

      Delete
  12. Penting penting dan penting! Walau sejujurnya setelah dipikir lagi hari ini, ternyata ada beberapa poin penting selain finansial yang kami lewatkan sebelum menjalani hari besar kami berdua πŸ˜‚

    But anyway, aku setuju banget punya uang itu memudahkan segalanya, bisa dibilang juga privilege. Kalo punya uang pilihan kita tentu lebih banyak, meski balik lagi yaa sesuai kebutuhan atau tidak. Jujur sebelum menikah, aku pikir pasangan itu tipe yang boros. Eh tapi setelah doi menjalani usaha sendiri, pandangannya tentang uang cukup dalam. Mungkin udah tau rasanya susah cari uang ya 😝 Aku beruntung sekali punya pasangan yang mempercayai aku untuk mengelola uang rumah tangga, sementara dia cukup fokus dengan pengelolaan uang usaha. Yang sering kasih tips menabung dan pakai uang juga suami, Mbaa. Mungkin dia tau kali yaa istrinya hobi jajan, mana betul yang Mba Eno bilang, e-commerce hari ini memudahkan segalanya πŸ™ˆ

    Masalah sensitif di rumah tangga bukan cuma uang sih, tapi soal uang ini juga nggak boleh terlewatkan saat diskusi bareng pasangan sebelum menikah. Biar sama-sama nyaman dan tenang menjalani hidup ke depannya yaa ✌🏼

    Thank youu much for the reminder, Mba Eno! You always know what the audiences need apalagi hal-hal yg 'terlihat' receh kayak gini ✨πŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya ada banyak yang perlu dibahas ya mba selain finansial, saya pun melalui proses bahasan-bahasan tersebut yang membutuhkan waktu lama hingga akhirnya agree untuk settle berdua 🀣

      Dan benarrrr banget, uang itu salah satu privilege, sangat memudahkan segala urusan kita. Hhehehehe. Jadi sebisa mungkin kita perlu pintar-pintar kelola keuangan agar nggak disetir sama uang yang kita punya πŸ™ˆ And thank God, pasangan mba Jane sangat pandai dalam melakukannya. Yang terbaik itu punya pasangan yang bisa kompak dalam satu tujuan (apapun tujuannya) 😍 Sepertinya, karena pasangan mba Jane doing business, jadi sudah punya sistem khusus persoalan uang πŸ˜†

      Well, kalau di-list masalah sensitif itu ada bejibun ya, mba. Saya pun sempat bahas soal orang tua, nanti mau dirawat bersama atau masuk ke rumah perawatan. Terus sampai ke pembahasan soal karakter dan lain sebagainya 🀣 Tau sendiri, drama orang tua pasangan sama kita bisa saja terjadi, so since first time, saya mau makesure dulu orang tua bagaimana ke kami berdua, dan itupun dibahas langsung ke orang tua πŸ˜…

      Sama-sama mba, terima kasih sudah bacaaaa dan berbagi insight serta pengalaman dari hubungan mba bersama pasangan πŸ˜πŸ’•

      Delete
  13. Sekarang, lebih melek soal keuangan karena banyak akun-akun yang membahas secara menarik. Saya jadi aware misalnya dengan dana pensiun, itu sangat-sangat menganggu di kepala saya. Kalo pembahasannya sih sangat penting. Mau bagaimanapun juga, kontrol keuangan tetap masing-masing individu. Kalo kata Pidi Baiq,"Uang memang tidak dibawa mati. Tapi aku masih di Dunia, masih membutuhkannya."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dana pensiun sangat penting mas Rahul hahaha, dan iya, itu cukup jadi beban untuk banyak orang. Karena setelah pensiun, biasanya masih ada range hidup 20 tahunan. Semisal meninggal di usia 80, then 20 tahun nggak kerja, means perlu punya uang cukup untuk menghidupi diri kita selama 20 tahun tersebut, kan 😁

      Semoga mas Rahul rizkinya lancar jaya, bisa aman pensiunnya, dan bahagia bersama calon pasangan dimasa depan 😍 By the way, suka sama kata-katanya Pidi Baiq hahahaha 🀣

      Delete
    2. Sekarang belum bisa seteoritis itu karena pemasukan masih dari uang jajan. Saya cuma pake prinsip uang keluar lebih sedikit dari uang masuk 😁

      Aamiin kak Eno. Aamiin. Doa yang sama untuk kak Eno dan teman-teman yang lain πŸ–€

      Delete
    3. Hehehehe iya mas, pengaplikasiannya mungkin baru nanti ya πŸ˜† Semoga lancar selalu rizkinya mas, dan nggak kekurangan 😍

      Delete
  14. Saya ngga tahu mau komentar apa lagi soalnya semuanya sudah dibahas sama pak Anton dan mbak Eno, semuanya juga betul.

    Memang katanya uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi jika tidak punya duit hati juga tidak bahagia.πŸ˜‚

    Lagipula jika ada keluarga sakit maka orang yang punya duit lebih tenang dibandingkan orang yang tidak megang duit.

    Cuma kalo disini membahas masalah uang sebelum menikah itu sepertinya tabu, apalagi kalo di desa, padahal itu penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha mas Aguuus ini, komentarnya ada-ada saja. Tapi terima kasih lho, meski nggak tau mau komentar apa namun tetap komentar 🀣

      Nah iya mas, kalau nggak punya uang yang ada jadi kepikiran πŸ™ˆ Dan setuju, saat keluarga sakit, yang punya uang tentu lebih tenang. Sebab mau berobat mudah, hehehe. Semoga ke depannya semakin banyak yang terbuka soal uang, agar bisa sama-sama bekerja keras semisal goalsnya jelas 😍

      Delete
  15. kereeen banget ini kak pembahasan soal uangnya. Sampai detail banget yaa
    terima kasih kak insigth nya soal uang. Jadi belajar banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Enny,

      Terima kasih banyak sudah membaca tulisan saya. Semoga ada sedikit manfaat yang bisa mba dapatkan 😍 hehe. Sama-sama mba πŸ’•

      Delete
  16. Penting banget, Mbak Enooooo. Dan wajib banget dibahas terutama sebelum menikah supaya pandangan tentang uang ini sama antara suami dan istri kelak. πŸ€—

    Ngomong-ngomong masalah uang ini memang benar-benar sensitif. Saking sensitifnya, ada kejadian istri gak tau penghasilan suami tepatnya berapa. Mau tanya tapi sungkan, takut menyakiti hati suami. Tapi gak tanya berarti gak tau penghasilan suami berapa dan habis untuk apa aja. Kok aku tau? Iya, gara-gara tadi pagi gak sengaja baca ig story nya seseorang yang punya masalah seperti ini. Berarti kemungkinan besar ada kejadian yang sama yang terjadi di luar sana, yang dialami orang yang berbeda 😭.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Roem, menyatukan pandangan itu penting bangetttt 😍

      Duuuh, itu dia yang ditakutkan. Hal kecil yang nggak dibicarakan bisa leading us ke trust issue. Apalagi seperti pengalaman kenalan mba Roem, yang sampai nggak tau uangnya habis ke mana 🀧

      Sebetulnya kalau kenalan mba Roem punya satu pandangan dengan pasangannya persoalan uang, yaaa nggak masalah. Maksudnya pandangan untuk sama-sama jaga privacy pemasukan. Tapi kalau ternyata beda pandangan, seperti yang satu mau jaga privacy tapi yang satu lagi ingin tau, nah ini yang dikawatirkan bisa buat 'panas' πŸ™„

      Semoga semakin banyak pasangan yang mau dan bisa diajak diskusi sebelum tie the knot, agar terhindar dari keributan πŸ™

      Delete
  17. Bukan penting mba, tapi PUEEEENTIIIIING BYYAAAANGGEEEEETTTTTT hahahaha. Haruuuuuus itu didiscuss dari awal. Jgn sampe yaaa udh nikah baru ketahuan pasangan punya utang guedeeee dan bingung mau bayar drmana. Semua hrs jelaaasss lass lassss :D. Aku Ama suami udh mastiin ini sjk blm nikah. Kami berdua tuh sama2 boros, dan gila traveling.

    Tapi kami jg ga mau keuangan ancur gara2 itu. Dan seboros2nga aku, ternyata suami LBH parah. Tp untungnya dia ga ada utang berarti yg sampe pusing ngelunasin. Palingan cuma CC yg bisa cincaaailah dibayar lunas dr gaji. Jadi kita sepakat, aku bakal jd Mentri keuangan pas nikah, Krn aku LBH teliti, LBH well organized juga Krn background kerjaan.

    Aku dan suami jg ga mau kalo udh tua, pensiun, trus jd tergantung Ama anak2, duuuuh jangan sampeeee. Anak2 itu ga boleh dibebanin Ama kebutuhan ortunya. Papa mamaku nunjukin sampe skr, walo udh tua, papa ttp aktif ngurusin semua bakery shops nya dan usaha percetakan. Jd ga pernah sekalipun ortu minta uang dari anak2. Walopun kami ngasih, tapi itu bukan utk kebutuhan mereka. Palingan hanya utk uang jajan ato sekedar kado pas hari2 spesial.

    Dan aku kepengen seperti itu. Saat tua, kami berdua ada bekal keuangan yg cukup dan pasif income. Syukur2 kami berdua msh kuat utk bisa keliling dunia sesuai cita2 :D.

    Jd utk yg mau nikah, please lah terbuka Ama pasangan soal aset dan hutang , supaya bisa nentuin cara apa yg terbaik utk atur keuangan kalian ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes mba, apalagi kalau boros, atau sama-sama punya hobi yang habiskan banyak uang, akan lebih baik dibicarakan di muka biar sama-sama enak dan jelas seperti mba Fanny dan pasangan πŸ˜† Karena dengan begitu, jadi paham pengelolaan ke depan ~

      Enaknya setelah dibicarakan diawal, jadi punya track dan kita tinggal follow the track, bekerjasama as partner hidup dalam membangun keluarga 😍 hehehehe. Saya yakin, pasangan mba pun merasa nyaman karena uang dikelola oleh mba yang lebih pakar πŸ˜†

      And yeah, sebisa mungkin kita nggak jadi beban anak kita kelak. Hehehe. Agar mereka bisa bangun hidup mereka tanpa mengkawatirkan kita. Sama mba, meski orang tua masih kerja dan mampu, sometimes kami kasih tapi untuk jajan atau hari special 😍

      Amiiin semoga kita bisa hidup dengan bekal cukup dan bebas keliling dunia bersama pasangan tercinta πŸ’• hehehehe. Semoga teman-teman lainnya yang masih bingung, bisa baca komentar mba πŸ˜†

      Thanks for sharing, mbaaa ~

      Delete
  18. Banyak senior2 ku juga sering ngasih pandangan terkait hal ini, mbak. Uang memang penting untuk dibahas sebelum nikah sama si doi, biar ga ada salah faham di kemudian hari. Sebab, uang adalah hal yg 'sensitif.

    Senior2 ku bilang, sama seperti yg mbak katakan di atas, harus terbuka masalah ada cicilan atau tidak, berapa jika ada, ada hutang atau tidak, ada tanggungan berapa, kisaran penghasilan berapa, dan sebagainya. Jangan malah ketika udah nikah baru bahas yg gini, ntar malah dapatnya 'zonk' hahaa

    namun, penjelasan dari mbak, dan komen2 di sini ternyata lebih kompleks yaa daripada obrolan yg pernah terjadi dgn seniorku. Ini adalah insight yg cukup menarik, untuk persiapanku menghalalkan si doi #eaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Dodo, uang itu sensitif, kalau nggak punya satu visi misi dalam pengelolaannya, dikawatirkan bisa menyebabkan masalah πŸ™ˆ

      Jadi perlu satukan visi misi dulu bersama pasangan, agar nantinya bisa saling percaya dan mendukung serta membantu dalam pengelolaan. Hehehe. Semua dibahas secara jujur ke pasangan, dengan begitu, bila ada tanggungan, bisa diselesaikan sama-sama jika ingin lanjut ke-jenjang berikutnya πŸ˜† hehehe.

      Persoalan uang memang kompleks, that's why enak dibahas saat awal, daripada sudah ditengah jalan baru membahas dan ternyata beda sudut pandang. Nanti akan sangat berat penyatuannya. Semoga tulisan saya bisa sedikit bermanfaat mas dalam proses mas Dodo menghalalkan pasangan 😍

      Delete
  19. Ah bahan yang menarik. Emang sebelum decide to live with someone, harus jelas di awal yaaa. Apalagi bagian keuangan yang sensitif. Bener sih poin-poin yang kamu sebutin di sini. Aku catat pengalamanmu buat aku praktekin di hidupku ya. Thanks for sharing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Dinilint, hehehe 😁

      Selagi bisa didiskusikan, ada baiknya didiskusikan agar nggak menyesal dihari kemudian πŸ™ˆ Sama-sama mba, terima kasih sudah baca πŸ’•

      Delete
  20. pembahasan soal duit ke pasangan sebelum nikah menurut aku penting, aku melihat dari pengalaman temen teman aku juga, mungkin ada di antara mereka yang sebelumnya nggak terlalu terbuka ke pasangan, nah pas udah nikah baru cerita kelimpungan bayar ini itu
    baca baca majalah kadang ada pembahasan soal financial sebelum menikah, ada yang sebut juga perjanjian pra nikah, kalau ga salah ingat.
    jadi pengetahuan sederhana tapi basic kayak gini jelas membuka pikiran aku juga untuk kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang paling dikawatirkan, iya kalau pasangan bisa menerima apa adanya, lha kalau shock bagaimana? Yang ada hilang kepercayaan takutnya.

      Iya mba ada namanya Prenup hehehe, by the way, meski terlihat sederhana, namun pembahasan keuangan sangat kompleks, jadi semangat mba Ainun dalam mempersiapkannya. Semoga bisa berjalan lancar jika waktunya tiba πŸ˜πŸ’•

      Delete
  21. Aku selalu suka cara Kak Eno membahas sesuatu karena sebegitu detailnya. Bisa jadi referensi buat aku kelak, hehehehe.

    Bukan penting lagi, Kak. Pentiiiingggg banget! Uang tuh menurutku bisa jadi pedang bermata dua, bisa jadi menguntungkan, bisa jadi bahan yang bikin berantem kalau salah buat mengelolanya. Aku masih terus banyak belajar buat mengelola uang sih, yaaa meskipun belum ada pasangan hihihi.

    Terima kasih untuk sharingnya ya Kaaaaak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Andhira sudah baca πŸ˜† hehehe.

      Iya mba, pentiiiiiing bangetttt. Dan setuju dengan yang mba bilang, uang itu seperti pedang bermata dua, bisa buat kita untung atau buntung πŸ˜‚ Jadi kita harus pintar mengelolanya. Pelan-pelan, kita terus belajar yah. Tetap semangat mba πŸ˜πŸ’•

      Delete