Fifty | CREAMENO

Pages

Fifty

Fifty. Lima puluh. Seket (bahasa Jawa).

Di tahun 2020, saya akan melewati satu tonggak kehidupan. Usia saya akan mencapai 1/2 abad, dan itu artinya, satu dekade lagi saya akan (resmi) berhak duduk di Kursi Prioritas ~ Jenis kursi yang disediakan untuk pengguna khusus, salah satunya lansia.

Sekarang saja, sebenarnya banyak penumpang muda merasa tidak nyaman melihat saya berdiri tepat di depan mereka yang duduk --- Bukan sekali dua kali, petugas keamanan menepuk bahu saya dan dengan nada lembut sambil tersenyum menyuruh saya menuju Kursi Prioritas.

Rambut abu-abu mendekati putih adalah biang keladinya. Walaupun saya merasa baik-baik saja, namun di mata orang, saya adalah orang tua dan harus diperlakukan "berbeda". Meski katanya umur hanyalah angka, bagaimanapun coba diperhalus, hal itu tidak bisa membantah kenyataan.

Saya sudah TUA.

🐰🐰🐰

Lima puluh tahun adalah waktu yang panjang -- Bila seorang Dilan menunggu Milea selama itu, hampir pasti rindunya tidak lagi berat. Rindunya sudah menghilang entah kemana karena wajah Milea pasti berganti wanita lainnya. Kata orang, manusia berumur segitu sudah kenyang makan asam garam kehidupan yang membuatnya lebih bijak. Iya, katanya.....

Katanya juga, pada umur lima puluh tahun, kita akan menunjukan sindrom "pra-manula", yaitu suka bernostalgia, mengenang masa lalu, lantas bercerita pada siapapun yang mau mendengar. Sindrom ini akan terus berkembang seiring pertambahan angka umurnya.

Itulah alasan mengapa "reuni" menjadi sesuatu yang spesial bagi kalangan manusia kategori ini. Reuni merupakan ajang yang dinantikan dan membuat bahagia manusia usia fifty ke atas. Reuni adalah "acara resmi" dimana kita bisa memutar ulang kenangan untuk sekilas "kembali hidup" di masa lalu. "Katanya-katanya" yang sering membuat geli, tetapi mengandung kebenaran.

Pada kenyataannya, walau reuni bukan ajang favorit saya, otak di kepala saya yang tua ini kerap memutar rentetan slide masa lalu. Hal kecil yang tidak sengaja terlihat saja, bisa memicu otak di kepala saya memperlihatkan kembali berbagai macam peristiwa puluhan tahun lalu. Contohnya, demo Omnibus Law Cipta Kerja, yang selewat saya tonton ~ beberapa kali menggiring ingatan saya ke masa tahun 1998-1999, masa dua Tragedi Semanggi terjadi.

Ketika itu, meski sudah bukan mahasiswa, saya berada di barisan mahasiswa dalam menentang rezim Orde Baru. Bahkan, saya sempat "tatap muka" di depan gedung DPR/MPR dengan para serdadu yang mengokang senjata. Semua pengalaman itu, pahit, getir, asam, manis, baik, buruk, tidak terkecuali tiba-tiba sering tayang karena ada sesuatu yang memicunya tanpa sengaja.

Itulah saya, yang walau belum resmi jadi anggota kaum seketan sudah mulai merasakan gejala gemar bernostalgia ~ Banyak bagian yang getir, bahkan teramat sangat getir pada masanya, tapi ketika diingat sekarang, semua terasa "manis" --- Meski bukan karena benar-benar manis, tetapi karena semua sudah berlalu. Dan saat ini, semua hanya menjadi catatan perjalanan hidup saya yang kadang menghadirkan senyum saat saya mengingatnya.

Lagipula, berbagai pengalaman hidup yang pernah dialami itu yang menempa saya selama 50 tahun dan membentuk diri saya --- Seorang manusia yang ngeyelan, mau menang sendiri, keras kepala, meski kadang bisa tenang dan layaknya orang tua, bisa bersikap bijak. Seorang manusia yang tidak peduli terhadap omongan orang, mereka suka syukur, nggak yaaa bodo amat.

EGP, "who cares" merupakan kata-kata simbol betapa sedikit perhatian saya terhadap apa yang orang lain katakan. Apabila saya merasa benar, saya tidak segan untuk "bertarung". Tidak peduli pangkat, tidak peduli ras, jika saya harus melawan, akan saya lakukan. Sesuatu yang beberapa kali saya lakukan terhadap manajer Jepang yang menyebut saya ini "tidak bekerja". Saya tidak peduli kalau harus dipecat dan memilih balas meneriakinya di hadapan orang banyak.

Dalam situasi demikian, saya tidak peduli dengan resiko dan tidak merasa perlu menjaga image. Ndableg. Begitu kata orang Jawa. Dan berkaca dari peristiwa seperti ini, saya berandai-andai ada mesin penghitung karakter, kemudian saya diukur. Hasilnya mungkin, kadar "kebijaksanaan" diri saya mentok di-25% sedangkan kadar "ke-badass-an" tidak pernah turun pada posisi 75%.

Dan, saya akui, selalu terselip rasa "bangga" dengan hal itu -- Setidaknya, saya bukan orang yang cengeng. Saya tangguh. Pandangan yang masih mendominasi kepala saya saat memasuki tahun dimana saya akan menjadi manusia tua, kalangan fifties, lima puluhan.

🐰🐰🐰

Ketika tahun 2020 datang, saya hanya berpikir, "It’s just another year". Tidak ada resolusi, tidak ada rencana, saya memandangnya hanya sebagai satu tahun lagi yang harus dilewati menuju ke arah garis akhir tugas sebagai manusia di dunia. Tantangan dan hambatan pasti ada dan acap kali menjadi sesuatu yang diharapkan, tetapi dengan segudang pengalaman buruk dan pahit di tahun-tahun sebelumnya, "Apa sih yang bisa lebih buruk untuk saya?"

Apa sih yang bisa lebih buruk dari melihat dengan mata kepala sendiri Jakarta Terbakar saat Tragedi 1998? Saat itu bahkan 2-3 hari setelahnya, saya dan pacar, si gadis tersayang (sekarang sudah ganti status jadi istri) malah kembali ke ibukota bergabung dengan mahasiswa.

PHK menakutkan? Memang, saya pernah mengalaminya di tahun 2006 dan "lulus" dengan cum laude. Saya bisa mengatasi berbagai masalah psikis atau materi dengan baik. Saya survive. Lalu, apa mungkin ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan dibanding mengantar 4 orang tua tersayang, bapak dan ibu mertua serta bapak dan ibu saya ke peristirahatan terakhirnya? Dan, ketika itu, saya tidak meneteskan airmata sedikitpun, karena sebagai anak laki-laki satu-satunya, saya harus bisa tenang dan tetap fokus pada tugas keluarga.

Saya tidak berpikir akan ada yang lebih buruk dari itu semua. "Badai" kehidupan tentunya pasti muncul. Tapi, saya percaya diri saya akan bisa melewatinya, seperti yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya tidak akan menye-menye dan menjadi cengeng. Apalagi, sebagai seorang kepala keluarga, seorang suami, dan seorang bapak, sikap seperti itu yang diperlukan ~ Saya punya dua orang yang harus dilindungi. Si Yayang dan Si Kribo, putra semata wayang kami.

Mereka harus percaya bahwa saya ada untuk melindungi mereka, sesusah apapun ke depannya, mereka harus tahu bahwa saya akan bisa mengatasinya. Itulah alasan mengapa saat tahun 2020 diawali dengan banjir besar di Jakarta, saya hanya tersenyum saja. "Ah, itu mah biasa". Maklum, sebagai karyawan baru yang mau terlihat komit, saya pernah menembus banjir hampir setinggi leher untuk bisa mencapai kantor. Sisi "badass" nan sombong dalam diri saya berkata, "It's just another year". Saya tidak pernah berpikir akan ada yang lebih buruk dari apa yang saya alami.

Kesombongan seorang manusia tua.

🐰🐰🐰

Ternyata, saya SALAH.

Pada usia seket, saya bisa begitu naif dalam memandang kehidupan. Tidak berapa lama setelah banjir di Jakarta, sebuah berita tentang wabah terjadi di China, tidak terlalu mengusik perhatian saya. Cuma sebuah kasus wabah penyakit, tidak ada yang spesial. Yang menarik hanyalah nama virusnya, Corona. "Keren euy.", pikir saya. Namanya bagus dan setahu saya berarti mahkota.

Perhatian saya baru tertarik, ketika menerima kabar kantor pusat di Shanghai memperpanjang libur Imlek akibat wabah menyebar. China lockdown sampai batas waktu yang tidak ditentukan. "Wow!", hanya satu kata yang muncul di kepala. Saya tidak menyangka dampaknya bisa meluas dan mulai terasa karena banyak pesanan kain dari pabrik di China terpaksa ditunda.

Si Bos mengatakan kalau kemungkinan, tahun 2020 akan menjadi tahun yang berat. Saya hanya bisa manggut-manggut -- Walau kehidupan masih biasa saja, tapi saya sadar yang dikatakan bos saya benar adanya. Keterlambatan pengiriman akan berimbas banyak bagi perusahaan.

Hari demi hari, satu demi satu berita buruk datang. Satu demi satu negara menutup negaranya. Satu persatu email pemberitahuan penghentian aktivitas dari pembeli di luar negeri saya terima. Semakin hari semakin banyak pembeli yang pilih menunda atau membatalkan pembelian. Tidak sedikit keterlambatan pengiriman material terjadi. Saya hanya bisa membatin, "Apalagi ini?"

Insting "seorang manusia tua" saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Rasanya seperti melihat sebuah bola salju yang terus menggelinding, membesar, dan meluluhlantakkan semua yang dilewatinya. Kekhawatiran mulai menyeruak dalam hati saya. Doa pun mulai saya ucapkan, semoga si "bola salju Corona" tidak akan sampai ke Indonesia. Saya mulai cemas.

🐰🐰🐰

Doa saya tidak terkabul -- Tidak lama berselang, kasus pertama di Indonesia muncul. Angkanya terus bertambah. Suasana kantor berubah suram. Tidak ada lagi kerja sambil tertawa lebar dan minum Kopi Kenangan. Tidak ada lagi makan camilan sambil melotot lihat komputer. Khawatir terhadap keselamatan diri dan keluarga terlihat di wajah. Ketegangan semakin terasa.

Setelah berdiskusi dengan bos, Instruksi WFH (Work From Home) turun. Dua minggu sebelum pemerintah resmi mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bos pikir keselamatan staf-nya terlalu penting untuk dipertaruhkan -- terutama karena bos juga berada di negara yang melakukan lockdown. Ia tahu rasanya seperti apa.

Semua bernafas lega. Perintah ini berarti saya bisa menghindari berada dalam Commuter Line, si KRL Jabodetabek yang padat dan artinya mengurangi kemungkinan terpapar. Bahkan, dalam hati, saya menyambut gembira. Rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Sudah sejak lama, saya punya impian bisa kerja mencari nafkah di rumah tanpa harus pergi ke kantor. Perjalanan pulang pergi setiap hari sangat melelahkan di usia yang semakin bertambah.

Berat. Capek. Kaki terasa lebih pegal dari biasanya. Saya lega sekaligus gembira dengan perintah bos. Setidaknya saya bisa berlatih mempersiapkan diri sebelum pensiun nanti -- Tidak terbayang sama sekali bahwa tidak berapa lama, saya justru berpikir sebaliknya. Tapi, saat itu, hal tersebut saya sambut dengan hati senang, meski saya menyadari bahwa saya SALAH. Sesuatu yang sama buruknya dengan yang pernah dialami bertahun-tahun lampau sedang terjadi sekarang.

🐰🐰🐰

Saya SALAH... LAGI.

Saya berpikir kalau rumah adalah "tempat paling aman" dalam kondisi dan situasi seperti ini ~ Ternyata TIDAK. Setelah sempat merasakan masa honeymoon "kenyamanan" bekerja di rumah seminggu, gejolak tidak berhenti, yang ada semakin bertambah. Pembatalan order masih belum berhenti. Perusahaan supplier pun satu persatu mulai mengikuti langkah WFH.

Pusing bertambah. Pekerjaan memang menjadi ringan. Volume-nya menyusut. Tetapi, beban di hati tidak berkurang. Bila tidak ada lagi aktivitas produksi, tidak ada penjualan, artinya tidak ada pemasukan bagi perusahaan. Dan kemungkinan, kantor tempat saya bekerja terancam ditutup. Simple, no sales, no money, no gaji. Sumber penghasilan kami terancam.

Suasana rumah menjadi semakin tidak menentu dan semakin muram. Satu persatu kabar buruk dari lingkaran keluarga mulai datang. Kakak satu-satunya, seorang guru les privat memberitahu bahwa murid-muridnya tidak bisa lagi ikut les. Mereka harus berada di rumah dan sekolah tatap muka dihentikan. Penghasilannya menyusut drastis dan besar kemungkinan akan segera hilang. Kepala yang sudah terasa pusing dengan banyak urusan, rasanya seperti digetok palu.

Apalagi ketika ia menambahkan, kakak ipar saya, suaminya, yang bekerja sebagai driver online, GRAB, terpaksa "dirumahkan". Tidak ada penumpang, selain itu rasa khawatir akan keselamatan diri memaksanya memilih berada di rumah. Saya hanya bisa terima kabar, tanpa bisa komentar. Bahkan untuk menenangkan pun, saya tidak bisa. Saya akan berbohong kalau berkata, "Tenang, pasti berlalu". Dengan situasi yang ada, saya tidak yakin kondisi akan membaik secepatnya.

Belum cukup semua itu, adik bungsu yang bekerja pada sebuah perusahaan garmen memberi kabar, ia harus alami pemotongan gaji karena tempatnya kerja mengeluarkan kebijakan untuk bertahan. "Oh, Ya Allah.", batin saya. Sebagai anak lelaki satu-satunya, situasi saudara-saudara perempuan saya sama artinya tambahan beban pikiran. Saya tetap merasa bertanggungjawab dan sebisa mungkin harus bersiap membantu jika dibutuhkan.

Kecemasan merangkak cepat menuju tingkat dewa. Apalagi beberapa kawan mulai menanyakan lowongan kerja di kantor. Padahal mereka jarang menghubungi saya sebelumnya. Sebuah tanda satu persatu mulai kehilangan pekerjaan. Tidak lama kemudian, sebuah email dari bos diterima. Isinya tidak banyak, hanya, "Lakukan penghematan maksimal. Situasinya memburuk."

Instruksi tambahan lewat jalur pribadi meminta saya menghitung kemungkinan biaya pesangon kalau harus memberhentikan staf di kantor. Saya sudah tidak tahu tingkat kecemasan pada saat itu sampai level yang mana. Bayangan peristiwa 2006, saat saya di-PHK hadir. Masa-masa suram itu dimunculkan kembali oleh otak. Padahal, saya sudah mencoba menguburnya dalam-dalam.

Ketenangan yang selama ini menjadi andalan saya seperti terkikis oleh semua berita buruk yang datang, terutama dari lingkaran terdekat, kantor dan keluarga. Yang terburuk dari semua adalah saya tidak bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Saya "terbelenggu". Terlepas dari keinginan saya untuk membantu, saya sendiri sedang berada dalam tekanan yang sama besarnya. Bahkan saya sendiri tidak bisa melakukan apa-apa untuk keluarga kecil saya.

Saya hanya bisa diam di rumah, melihat komputer, bolak balik ke dapur, teras dan itu saja. Saya tidak bisa berbuat banyak. Saat itu, saya merasa iri dengan semua orang yang masih melakukan WFO (Work From Office - Bekerja di Kantor). Iri besar. Saya tahu bahayanya bagi mereka, tetapi bagi saya hal tersebut lebih baik daripada hanya diam di rumah dan tidak bisa berbuat apapun. Setidaknya, saya pikir mereka punya kesempatan bertarung dan berjuang, demi keluarganya.

Pikiran saya mengatakan WFO akan memberi peluang untuk "melakukan sesuatu". Walau tidak jelas itu apa karena situasi yang luar biasa rusak. Tapi, setidaknya bukan hanya bolak balik dari dapur ke teras, balik lagi ke depan komputer dan tanpa menghasilkan apa-apa, selain perasaan cemas yang bertambah. Sayang kesempatan itu tidak ada. Saya harus tetap berada di rumah.

Kembali saya harus mengaku SALAH, LAGI DAN LAGI.

Tahun 2020, tahun yang luar biasa berat. Mungkin lebih berat dari yang pernah saya alami. Saya begitu naif merasa sudah alami yang terburuk dan begitu sombong merasa tidak akan bertemu masa yang lebih buruk. Rasanya, kehidupan ini seperti menampar saya sambil berkata, "Elu pikir sudah lihat yang terburuk, nih coba yang satu ini. Elu mau ngomong apa?"

Dan, saya tergagap. Tidak bisa menjawab. It is not just another year ----- it is a really terrible year. Tahun ini bukan tahun yang biasa, tahun ini tahun yang luar biasa buruk.

🐰🐰🐰

Kalut. Cemas. Galau. Geram. Bingung.

Imbasnya sangat terasa. Tekanan yang menumpuk, beban yang semakin lama semakin banyak, membuat saya "LUMPUH". Otak seperti berkarat dan berhenti beroperasi. Sulit untuk berpikir. Bahkan, sekedar untuk menulis blogpost saja tidak bisa. Cukup lama semua blog saya abaikan.

Berulangkali saya memaksa diri duduk di depan komputer, yang ada tangan saya hanya ketuk-ketuk keyboard, berkelana di dunia maya. Baca sana sini. Tidak satupun kata yang saya hasilkan. Semua terasa blank, kosong. Hiburan saya hanya ketika ada email masuk, atau pesan WA dari rekan kantor. Setidaknya, pikiran saya sedikit teralihkan untuk sesaat -- Sayangnya tidak banyak. Situasi perekonomian dunia yang hancur lebur karena pandemi sangat terasa dampaknya.

Semua mengerjakan "sedikit" saja, dikarenakan situasinya membuat bisnis berantakan dan saya kesulitan melepas diri dari kesuraman dalam hati. Rasanya semakin tenggelam --- Psikosomatis? Overthinking? Yeah, tulisan itu banyak beredar di dunia maya. Tidak media online, tidak blogger, semua menelurkan versi dan tipsnya. Seakan dengan mengetahui semua itu masalah selesai.

Kalau saja, mereka ada di depan saya, dan berkata bahwa saya psikosomatis atau overthinking. Saya pikir, saya akan pergi ambil serbet kotor, lakban dan gunting. Kemudian, saya akan sumpal mulut mereka dengan serbet dan saya pasang lakban di mulut mereka.

Saya pikir, terlalu banyak orang berteori, seakan mereka sudah temukan obat ajaib dan semua masalah bisa selesai dengan mudah -- Padahal teori itu tidak bisa untuk bayar uang kuliah dan tidak laku dipakai beli sayur di pasar. Sebuah pikiran hasil sisi "gelap" saya sebagai manusia. Hal yang menunjukkan kegeraman saya karena merasa tidak berdaya.

Takut Corona? Bukan. Saya takut menatap wajah si Kribo yang bersemangat hendak masuk ke Universitas Telkom. Takut untuk bilang bahwa ada kemungkinan bapaknya hilang kemampuan finansial dalam mendukungnya kuliah dan lebih buruk lagi, mencapai impiannya.

Saya takut suatu waktu harus menatap wajah si mantan pacar dan berkata, saya di PHK (lagi). Takut saya tidak bisa memberi sedikit "kenyamanan" bagi wanita yang sangat saya sayangi. Dia sudah berkorban banyak untuk saya selama ini. Oleh karena itu, satu hal yang sangat saya tidak inginkan adalah membuatnya harus berkorban lebih banyak lagi.

Saya takut menghadapi kemungkinan tidak bisa membahagiakan dua orang yang saya sayang. Kehilangan pekerjaan memang tidak berarti kiamat, saya pernah mengalaminya dan saya lolos. Dimana artinya sebuah masa berat dan penuh ketidakpastian bagi keluarga kecil kami mungkin datang. Hal yang tidak saya inginkan untuk dialami kembali oleh dua orang yang saya sayang.

Saya tidak berani menjelaskan kepada mereka tentang kondisi suram yang sedang dihadapi. Itu tugas saya mengatasinya -- Pada saat itu, jika boleh pilih, saya akan pilih berangkat kerja, berada dalam kereta yang padat, kaki pegal, resiko tertular, daripada harus jelaskan masalah ke mereka berdua. Akhirnya, saya pilih diam dan menyimpan semua sendiri. Yang membuat saya semakin tenggelam dalam kekalutan. Kembali langkah yang SALAH saya ambil.

🐰🐰🐰

Ya, kembali kesalahan saya buat. Saya berpikir dengan alasan melindungi bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi dari kedua orang kesayangan saya itu.... KEBODOHAN terbesar. Insting seorang istri sulit dikelabui. Wajah saya yang muram bin suram pastinya tertangkap wanita yang dulu tidak segan turun ke jalan mengantar suplai makanan untuk mahasiswa 1998 - 1999.

Lagipula, sudah hampir 20 tahun kami bersama, Pastinya sudah hapal kelakuan suaminya yang keras kepala. Ia kadang hanya tersenyum dan tidak bertanya banyak. Ia tahu bahwa saya hanya akan mengatakan, "Nggak ada apa-apa. Biasalah." saat ia bertanya. Sampai suatu waktu, wanita yang dulu saya juluki si Gadis Keras Kepala itu, menghampiri saya. Ia tiba-tiba berkata, "Tenang, Mas. Insya Allah ada jalan. Kalaupun kamu di-PHK, kita toh pernah mengalaminya."

Saya bengong. Saya tidak tahu darimana ia mendapat kabar itu, tetapi rupanya ia mendengar beberapa percakapan saya via telpon dengan rekan kerja. Mungkin juga secara tidak sengaja ia membaca isi WAG kantor saya (kami membebaskan satu sama lain membaca ponsel masing-masing. Bahkan pesan WA yang masuk, sering saya minta ia yang membalas saat saya malas).

Ia menjelaskan sudah mengurangi anggaran belanja, supaya kalau memang terjadi situasi yang tidak dikehendaki, ada dana cadangan lebih banyak. Ia berusaha menenangkan saya ~ Ketika ia melanjutkan, bengongnya saya bertambah. "Memang Mas nggak sadar sikap si Arya (si Kribo)?", tanya si Yayang sambil tersenyum. Pertanyaan yang menyentil ingatan saya tentang keanehan di rumah. Saking kalutnya, saya tidak mengacuhkan perubahan dalam ritme di rumah.

Si Kribo, yang biasanya cuek melebihi bebek dan gemar berhibernasi di kamar, tiba-tiba sering menawarkan membuatkan kopi, atau nasi goreng , atau cemilan lain. Pernah di malam hari, saat saya sedang menatap komputer, ia ajak saya bicara sedikit tentang fotografi. Padahal, biasanya ia sibuk bermain game online. Ia juga tidak lagi meminta uang jajan bulanan.

Tanpa bicara, tanpa bertanya, rupanya, keduanya sudah tahu bahwa saya sedang berada dalam tekanan. Mereka berusaha menghibur dan meringankan sedikit beban. Saya terhenyak. Kedua orang yang saya anggap "bergantung" pada saya justru sudah memberi tindakan nyata. Dengan kemampuan yang mereka punya, keduanya mengerjakan apapun yang bisa dilakukan.

Mereka pun coba menopang saya, yang seharusnya menjadi tempat bergantung karena mereka tahu saya goyah. Dengan cara mereka. Sementara, saya sibuk sendiri, tidak melakukan apa-apa. Terlalu sibuk mengasihani diri sendiri karena merasa tidak berdaya. Lagi-lagi saya naif. Berpikir saya bisa menyimpan semua sendirian dari mata kedua anggota keluarga lain dan saya anggap mereka lemah. Padahal mereka sangat jauh lebih tangguh dari saya.

🐰🐰🐰

Lucu.

Sekarang, beberapa bulan kemudian, diwaktu penobatan saya menjadi anggota klub fifties alias 50 tahun mendekat, saya sering menertawakan diri saya. Menertawakan kebodohan, kenaifan, kesombongan, kelemahan dan semua "pikiran gelap" saya di kuartal pertama 2020. Bagaimana bisa saya begitu sombong beranggapan "tidak akan" ada yang bisa lebih buruk datang? Padahal, saya tahu salah satu pelajaran dalam hidup adalah menerima bahwa "life has its own way".

Hidup punya jalannya sendiri yang sering tidak sesuai dengan keinginan manusia. Saya berpikir bahwa semua yang terburuk sudah dilalui, tapi saya lupa kalau hidup punya rencananya sendiri. Padahal, saya selalu diingatkan setiap kali membahas Liverpool FC, Si Merah kesebelasan idola saya sejak masa kecil -- Lagu kebangsaannya You’ll Never Walk Alone berisi filosofi kehidupan tentang badai (ketidakpastian) dalam kehidupan dan bagaimana kita harus tetap percaya bahwa "sinar matahari" akan kembali terang benderang setelah badai mereda.

Saya begitu sombong hingga lupa pelajaran itu, dan bertambahnya usia rupanya berimbas pada meningginya kesombongan saya. Suatu kebodohan yang untungnya disadarkan oleh dua orang "teman" dalam perjalanan hidup saya. Meski hal itu memperlihatkan sisi naif saya yang lainnya. Saya naif sehingga lupa bahwa ada dua orang "sahabat" yang selalu bersama saya mengarungi bahtera kehidupan. Dua orang yang sudah terbukti tangguh dan setia menemani saya.

Saya begitu sombong, sehingga menganggap diri saya terlalu kuat dan merasa kedua "sahabat" itu bergantung pada saya. Kesombongan yang membuat saya tidak menyadari bahwa saya bisa bertahan karena ada dua orang setia dan "tangguh" di samping saya. Tanpa mereka saya hanya sebatang tonggak yang rapuh dan mudah goyah. Tahun 2020 menunjukkan semua itu kepada saya. Saya manusia tua yang naif, sombong, dan tidak setangguh yang saya pikirkan.

🐰🐰🐰

Badai Corona masih berlangsung dan belum ada tanda kapan akan berakhir. Perahu kehidupan kami masih terus terombang-ambing gelombang dahsyat yang disebabkan si bola salju Corona. Perintah WFH kedua kali diterima September lalu. Saya diperintahkan kembali seperti 8 bulan lalu. Bekerja di rumah. Semua seperti di-rewind ke titik awal. Kecemasan itu masih ada.

Tetapi... Saya sudah berbeda. Tidak lagi sama. Saya sudah menyadari (kembali) ini adalah bagian dari kehidupan. Yang harus saya terima dan jalani. Badai akan selalu ada, bisa kecil, bisa besar. Hal yang pasti akan selalu ada. Badai itu pasti akan mereda. Bagaimanapun, tidak ada sesuatu yang abadi di dunia, termasuk segala badai kehidupan suatu saat akan berakhir juga.

Dan yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah mendayung bahtera keluarga kecil, sebaik yang saya bisa. Sampai saatnya badai reda dan cahaya kembali datang. Saya percaya bisa melakukannya. Apalagi, tahun 2020 ini mengingatkan saya pada pelajaran penting bahwa saya tidak sendirian, karena ada dua "sahabat" baik yang akan menemani saya menjalani kehidupan.

I know, I’ll Never Walk Alone.

Paid Guest Post
Anton Ardyanto

76 comments:

  1. Akhirnya posting jugaaaa udah ditungguin. Aku sediiiiih dan juga pengen bilang "pak Anton keren" saat bacanyaπŸ˜₯.

    Pak Anton selamat mengulang tahun yang ke 50 yaaa, meski di tahun ini berbeda tapi pak Anton juga survive. Twenty-twenty emang unpredictable. Huaaaa saking speechless-nya aku nggak tahu mau komen apa. Takut nanti terdengar basa-basi, takut dimarahin pak Anton juga kalau salah omong, hahaaha. Enggak ding.

    Sekali lagi selamat pak Anton as a winner πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ’• banyaaaak banget insight baru yang ambil dari tulisan ini, curhatan dari pak Anton yang keras( apalagi kalau beda pendapat sama mba Phebie, hehe. Aku sering bancain komenan pak Anton dan mba Phebie kalau lagi debate di kolom komentar).

    ReplyDelete
    Replies
    1. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Kalau mas Anton lagi debat sama siapapun baiknya kita ke pinggir mba Sovia, hahaha, apalagi jika kita nggak jago debat πŸ˜‚

      Semisal mba dimarahi mas Anton, lapor ke mba Hes biar dijewer 🀣

      Delete
    2. Soviaaaaaa.......jangan sedih.. hahahaha saya malah sedang senang nihh...(#memang kurang ajar yah, bikin orang sedih, saya malah ngakak). Gimana nggak senang iya nggak sih..

      Saya senang.. (selain dapet hadiah dari Eno), juga karena cerita ini bisa sampai... Siapa tahu saya ada yang bisa mengambil sesuatu dari kesalahan yang saya buat tahun ini.. siapa tahu..

      Makasih banyak Sovia...Memang tahun ini berat, tapi Insya Allah kita semua akan bisa melewatinya. Aaamiin...

      We will make it...

      #special thanks buat Kakak Eno yang ternyata selain manajer Theme Park yang baik juga editor yang mumpuni...

      Delete
    3. @Sovia : tambahan .. nah begitulah kalau sesama petarung internet bertemu, kami senang begitu.. kalau nggak ada sebab pun akan dicari.. It's fun

      @Eno : wakakakak.. percayalah kalau si Yayang dikasih tahu, dia hanya bakalan nyengir dan kemudian nyari lapak untuk menonton sajah.. wakakakaka

      Delete
    4. Berarti mba Hes setipe sama saya, pindah ke pinggir sukanya πŸ˜‚

      Delete
  2. Weeww Cerita Engkong Anton Akhirnya nongol juga..😊😊

    Sudah kebaca sama gw pasti ujungnya ada ...SAYA SUDAH TUA...Beehhhaaaa!!..🀣🀣🀣

    Cuma pikir saya lebih banyak tentang keluarga...Ternyata campur2..🀣🀣🀣

    Bagus kong alur ceritanya tertata rapi...Meski dialognya sedikit..

    Yaa sudahlah kong, Mbok yaa sudah Seket kok mau ngaku ABG 17 Beeehhhaaaa!!..🀣🀣🀣


    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa sih beha dibawa-bawa πŸ˜… Itu maksudnya ketawa? πŸ˜‚

      Delete
    2. 🀣🀣 Rasain lu Tong diomelin .. sukurr...

      Pertama Tong : kalo gue ngaku masih muda, elu bakalan lebih bawel Tong. Gue ngaku fakta ajah tetep ja dikau cerewet.. palagi ngaku masih ABG...

      Makasih Tong wat pujiannya dan komentarnya soal alurnya bagus..Asyikkk dapat pujian pakar blogging MWB

      😊😊

      Yah namanya hidup kan kayak Nano Nano Tong.. kayak gado-gado kesukaan gue, jadi tulisan gue juga rasa gado-gado dong aneka rasa..

      Delete
  3. Memang hampir semua orang kena dampak Corona tahun ini. Baik karyawan maupun pedagang. Karyawan atau pekerja kantor kena imbas karena order sepi sehingga perusahaan terpaksa melakukan penghematan, baik dengan menyuruh bekerja dari rumah, pemotongan gaji 50%, atau yang parah kena PHK. Ibu saya yang pedagang warteg juga omsetnya turun karena banyak karyawan yang makan di warung kena PHK, yang masih ada juga berhemat karena tidak tahu kapan korona reda.

    Alhamdulillah keluarga pak Anton mendukung. Istri mulai berhemat, anak juga tidak minta uang jajan bulanan bahkan mengajak ngobrol. Tentu ini hiburan tersendiri ya pak.

    Badai akan berlalu, cuaca cerah akan datang. Tahun 1998 ekonomi Indonesia juga pernah terpuruk bahkan menurutku lebih parah dari tahun ini karena saat itu harga harga naik tajam dan nyatanya Indonesia bisa bangkit, begitu juga tahun 2020 ini.

    Semoga saja Corona cepat berlalu dan ekonomi kembali pulih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin, doa yang sama untuk mas Agus dan keluarga ya 😍
      Nanti komentar lainnya biar dibalas mas Antoooon πŸ˜†

      Delete
    2. Aaamiin....

      Iya mas... situasi memang sangat berat bagi banyak orang. Saya juga berharap bahwa semua akan segera berlalu....

      Tahun ini memang luar biasa berat mas bagi saya.. mungkin karena tahun 1998 saya belum punya tanggungan, jadi terasa lebih ringan. Cuma setelah punya istri dan anak, beban itu terasa luar biasa sekali...

      Tapi, di tengah situasi yang berat seperti ini, saya memang hanya bisa bersyukur keluarga kecil saya bisa jadi tim yang sangat kompak dan mendukung saya... sesuatu yang berharga dan membuat saya hanya bisa bersyukur...

      Berat, tapi Insya Allah mas, kita akan bisa lalui bersama. Pasti akan ada masa berat bagi semua orang, tetapi saya pikir kita harus terus berjuang mas sampai badai berakhir..

      Makasih ya mas dan semoga mas sekeluarga juga bisa melewati masa susah ini.. Aaaminn...

      Semangat mas...

      Delete
  4. Mba Eno... maapkeun, awalnya saya pikir mba Eno yang bikin pengakuan kalau ternyata sudah kepala lima πŸ˜…πŸ™ˆ

    Ternyata ini tulisan om Anton the winner. Congratz ya om... keren euy πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Ngomong2 soal fifty, di beberapa negara masih ada jatah jd pegawai 15 tahun lagi itu, om... terus pensiun usia 65 pun, masih ada yg mau nerima kerja part-time sampai usia... tak hingga, selama masih mampu aja pokoknya. Masih panjang perjalanan wkwk

    Btw, saya setuju sekali, semakin banyaknya pengalaman, kadang justru bikin kita semakin rentan terhadap kesombongan. Lebih parahnya lagi, berbeda dgn kesombongan krn harta-benda, kesombongannya kadang baru kita sadari saat datang ujian kehidupan yg lain. :((

    Makasih atas share dan insight-nya ya, om...

    Semoga kita bisa mengambil ilmu padi dalam hal ini. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, hahahaha jadi salfok ya, semoga saat usia saya 50 tahun kelak tetap bisa blogging seperti mas Anton, dan menulis cerita versi saya 😁

      Untuk komentar lainnya akan dibalas mas Anton yaaa 😍

      Delete
    2. Hayo lu Hicha.... yang punya blog kok disebut sudah tua sih, masih ABG + kok...πŸ˜‡

      Saya berharap Indonesia juga punya batasan usia pensiun sama seperti negara-negara maju lain.. Sayangnya kalau itu dilakukan, yang muda-muda bakalan susah berkembang dan maju. Hahahahaha.. eehhh

      Iya Hicha, itu sebuah kesalahan yang saya lakukan dan siapa tahu saja bisa dimanfaatkan oleh kawan-kawan supaya terhindar dari kesalahan yang sama ...

      Makasih sama sama ya Hicha..

      Delete
    3. @Eno.... mudah-mudahan saya masih diberi umum membaca tulisan Kakak Eno saat berusia 50 tahun yah..😊

      Delete
  5. Ga tau mau nulis komen apaan. Baca ini dari awal sampai akhir bikin speechless dan jleb bangeet


    Tulisan ini kereeen sekali Mas Anton. Makasih juga atas kejujuran mas dalam berbagi dan menceritakan diri saat ini. Emang taun ini sulit untuk semua orang.

    Selamat memasuki usia 50 th yaa mas. Semoga selalu sehat dan tetap tangguh mengarungi kehidupan bersama istri dan anak πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, ikut mengaminkan doa mba Devina untuk mas Anton πŸ’•

      Delete
    2. Nah ini bukannya sudah berkomentar.. hahaha.. Makasih Dev dan doa yang sama untuk Dev dan Koko yah..

      Yep.. tahun yang berat banget, tetapi kita pasti bisa melaluinya.. Iya kan Dev.. Tetap optimis saja. Memang sih kadang kita terjatuh dan takut, tapi rasanya kalau kita bersama dengan orang-orang yang kita sayang, kita pasti bisa bangun dan jalan lagi...

      Sekali lagi makasih ya Dev...

      Delete
  6. Sama mbak Hicha kita sempat shock baca pengakuan mbak Eno bahwa sudah kepala lima.

    Maafkan mbak. Saya SALAH. :))

    Ceritanya panjang tapi memberi sudut pandang baru dari kacamata beda usia. Pernah nebak mas adalah seorang aktivis, sih, tapi ini juga yang ikut demo 98. Dulu sepertinya ampuh banget kalau mahasiswa sudah demo, ya. Sampai bisa melengserkan pemerintahan lama.

    Selamat memasuki usia 50 th mas Anton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 🀣🀣🀣 tegaaaaa deh mba Phebie hahahaha πŸ˜†

      Delete
    2. Hola sobat berantem pakabar.. Kejam nian memandang Kakak Eno sudah 50 tahun.. hahaha masih imut-imut gitu loh (walau saya belum pernah lihat orangnya, anggap saja memang imut-imut)

      Saya malah aktifnya setelah kerja Pheb.. Waktu masih mahasiswa kasian bapak ibu kalau aktif di kegiatan mahasiswa seperti itu. Buang waktu. Kalau pas sudah punya duit sendiri kan nggak ngebebani, jadi saya malah aktif setelah lulus.

      Sebenernya sih waktu 1998-1999 bukan cuma mahasiswa nya Pheb.. Kalau lihat sendiri di bagian dapur/logistik itu, sumbangan dari masyarakat itu berlimpah Pheb.. Ada ibu-ibu bawa ayam dan menyumbangkannya ke bagian logistik, pakaian dan baju dari masyarakat.. Mereka waktu itu di belakang mahasiswa Pheb.. Banyak jumlahnya..

      Makasih Pheb menyelamati saya yang makin tua... Senang mendengarnya....😊

      Delete
  7. sudah kudungan ini yang nulis Pak Anton
    khas dengan blog maniak menulisnya

    selamat ultah ya Pak anton
    semoga sehat dan sejahtera
    kehidupan saat ini memang sulit dan pasti kita akan bisa melewatinya
    ceritanya menginspirasi bagi para junior seperti saya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan mas Anton memang khas ya, mas Ikrom 😁
      Amiiiin, turut mengaminkan doa untuk mas Anton πŸ˜†

      Delete
    2. Hahahaha... hadeuh susah menghindar dari mas Ikrom mah...😊 Jeli...

      Tahun yang berat, pasti banyak jatuh bangun, Insya Allah kita akan bisa melewatinya mas..

      Semoga mas Ikrom dan keluarga juga sehat dan sejahtera selalu ya ..

      Makasih untuk ucapan selamat ultahnya mas... hahahaha

      Delete
  8. Mata aku berkaca-kaca ini bacanyaaa 😭 sekali lagi congrats Mas Anton, tulisannya memang mengaduk emosi sekali ini 😒

    2020 ini memang luar biasa buruknya. Kayak bener-bener semua orang kena dampaknya, hidup semua orang jungkir balik di tahun ini πŸ˜”

    Manusia kalau merasa pernah melewati cobaan yang berat memang gampang didatangi kesombongan ya Mas, padahal kita semua ga pernah tahu hidup ke depan bakal kayak gimana hehehe..

    Selamat memasuki usia setengah abad Mas Anton, semoga selalu sehat dan bisa melewati segala kesulitan yang menghadang, semakin sayang dan disayang mantan pacar dan si Kribo juga tentunya 😊

    Dan semoga semua kesuraman ini segera berlalu. Kita semua bisa kembali menjalani hidup normal seperti sebelumnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, terima kasih sudah baca tulisan bapak blogger kita mba Eya 😍

      Delete
    2. Waduh.. jangan Eya...nanti saya dimarahi bapak ibumu (mana orang Bogor lagi).. Hahahaha

      Yap.. ini tahun yang berat sekali Eya. Tapi, selama kita terus berusaha yang terbaik dan dikelilingi orang-orang tersayang, Insya Allah kita akan bisa melaluinya.

      Iya, itu kesalahan saya. Siapa tahu saja ada yang bisa mengambil manfaatnya.

      Aaaminnn... Terima kasih Eya atas ucapan dan doanya yang manis sekali. Appreciate it a lot loh...

      Aaamiin lagi.. semoga prahara ini segera berlalu ya Eya dan semua bisa survive melewatinya..

      Makasih banyak Eya

      Delete
    3. @Eno ... wadidaw... berat Kakak Eno.... sekarang ajah sudah puyeng.. wakakakaka

      btw #4jempol buat editornya.. makasih banyak sudah dirapikan.. wkwkwkwk

      Delete
    4. 🀣🀣🀣 rapi memangnya mas? Hahahahahahahaha.
      Itu saya yang rapikan, biar pas sama layout di laptop saya πŸ™ˆ

      Delete
    5. Rapi.. Kakak Eno, matanya jeli πŸ₯³ πŸ₯³ πŸ₯³

      Makasih ya Kakak Eno

      Delete
    6. πŸ˜‚ Meledek teroooossss nih kakak Anton πŸ˜‚

      Delete
  9. Saya bisa memahami perasaan Mamas Anton, yuk sini saya peluk erat - erat, hahahah.........(Maaf bercanda ).

    Kalau menurut saya sih, Pak Anton itu Belum Tua, lah buktinya tenogo-nya masih Jossss gitu mengelolah buanyakkk blog. :) saya saja belum cencu bisa.

    Masalah Kesombongan, saya jadi ingat cerita Ustadz tentang begitu sombongnya IBLIS yang tidak mau bersujud kepada Nabi ADAM. Si Iblis merasa hebat karena ia tercifta dari Api, sedangkan Manusia tercifta dari Tanah.

    Karena kesombongannya itulah maka si Iblis di usir dari Syurga.

    Semoga kita bukan termasuk orang yang sombong, melainkan termasuk orang - orang yang rajin MENABUNG. :)





    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiiiaahhh kloningannya Jet-Lee Nongol..🀣🀣🀣🀣

      Delete
    2. wkwkwkwkw kenapah pula dia bernama bakwan jagung ya? kan saya jadi pen makan bakwan jagung jadinya wakakakakak

      Delete
    3. Iya, kenapa bakwan jagung? Kenapa nggak tahu isi? Atau cireng? Atau tempe mendoan ya, mba? πŸ˜† Aduh jadi laparrr hahahahahaha.

      Delete
    4. Eniho, welcome back mas Nata 😁

      Delete
    5. Ohhhhh...nowwwwww...... ( sambil tutup muka ) , Penyamaran saya gagal Maning. :) gegara Mas Satria Nih.....hahaha.

      Mau tahu kenapa saya pakai nama bakwan Jagung ? Yuk, simak di blog baru saya . :) (ehem..ehem Numpang Promosi nih....)

      Tapi...blognya belum di launcing loh, sebab belum beli domain.hahahah........Ayam Sori. :)

      Delete
    6. Aaaminn Kang Ustadz Nata... Sebenarnya bukan sekarang saja ketahuannya Kang Nata, hahahahaha.. sudah diduga.. cuma konfirmasinya setelah foto bakwan jagung diganti sama foto lain.. wakakakakak

      Makasih sudah membaca ya Kang.. Lama tak bersua..Terima kasih sudah mengingatkan...

      Delete
    7. Bukaaaann, bukan karena Kang Sat, tapi memang ada 2 wajah yang selalu dipake Kang Nata.
      Si Jet Li ama yang ini, entahlah sapa ini namanya hahahaha

      Delete
    8. Saya kira fotonya mas Nata 🀣
      Maklum nggak hapal muka Jet Lee πŸ™ˆ

      Delete
    9. Rupa - Rupanya masih berlanjut nih..... :)

      @ Pak Anton > Saya sudah ngasih kode ketika koment di blog MM beberapa bulan yg lalu, saat itu saya yakin Pak Anton sudah tahu siapa yg koment, yakni musuh bebuyutan..... :) hahaha....

      @ Mbak Rey > Rencananya akan ada tiga wajah Mbak, buat jaga - jaga siapa tahu wajah lama orang - orang udah bosan......hahaha.

      @ Mbak Eno > Mbak Rey-nya bercanda Mbak......ini foto profile terbaru saya Mbak. :)

      Delete
  10. Bapaaakkkkk!
    Tidak salah Eno memilih tulisan ini.

    Tau nggak sih, ini adalah perwakilan curahan hati 99,99% para suami baik hati di masa pandemi ini.

    Seandainya paksu saya bisa mengeluarkan isi hatinya, mungkin bunyinya ya tidak lain dan tidaj jauh dari kekalutan Pak Anton menghadapi pandemi ini.

    Btw, saya ngakak lalu mewek baca ini.
    Ngakak baca udah tuwahnya.

    Belom lah Pak, lansia kan masih lama, wakakakakak.

    Tapi beneran mewek ya, 50 tahun, udah setengah abad kita alami di dunia ini.
    means biasanya di dalamnya, udah sangat sering mengantarkan orang-orang tercinta ke tempat peristrahatan terakhir.

    Dan memang ya, it's really breaking the heart banget 😒

    Balik lagi ke masa pandemi ini, beruntungnya Pak Anton punya sahabat sejati si kesayangan yang sangat mengerti bapak.
    Jadi nggak banyak nanya, udah sangat ngerti apa yang pak Anton rasakan.

    beruntungnya si kribo punya orang tua yang keren dan kompak saling ngerti di masa pandemi ini.

    Saya juga kadang merasa ngenes sendiri dengan apa yang saya jalani di masa pandemi ini, tapi sering banget saya mendapat banyak curhatan dari teman-teman, di mana suami mereka ikutan depresi sampai parah, suka mukul, bahkan kabur beneran.

    Saya merasa memang dibutuhkan banget kesabaran pasangan, dalam hal ini istri untuk memahami ketakutan para suami.
    Meskipun memang sulit, mengingat bukan cuman suami yang stres, istri juga hahaha.

    Ah beruntunglah yang memang udah punya chemistry yang pas seperti Pak Anton.

    Semoga pandemi ini segera berakhir ya Pak 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari awal kenal dng Pak Anton , saya jarang loh membaca curhatan mendalam kayak gini, kayaknya Pak Anton banyak unek - unek deh,hahaha......

      Betul kata Mbak Rey, tulisan Pak Anton bisa menjadi perwakilan para suami - suami yang sedang galau stadium 4 ....hihihi.

      Delete
    2. Aaamiiiinnn.. semoga semua segera berakhir dan kembali normal seperti sedia kala ya Rey..

      Saya yang beruntung Rey, di kala suram seperti ini saya memiliki orang-orang yang menopang saya. Kalau sendirian sih, saya mungkin lebih goyah dan ambruk.

      Dua orang itulah tiang saya dan membuat saya bisa bertahan dalam situasi tersulit apapun. Tanpa mereka, saya mungkin sudah ambruk..

      Kadangkala susah Rey bagi seorang pria untuk mengungkapkan perasaannya, betapa takutnya mereka. Kebanyakan bukan takut tentang dirinya, tetapi "takut" tidak bisa memenuhi tugas dan janji mereka pada keluarga.

      Dan, saya beruntung sekali punya dua orang itu...

      Keep on fighting Rey.. Keep on fighting.. Saya melakukan kesalahan dengan "mengeneskan" diri sendiri. Hal itu tidak membantu dan kadang malah menjerumuskan ke dalam jurang kesuraman....

      Pak su dan anak-anakmu juga beruntung kan punya kamu yang meski bawel dan cerewet masih mau berjuang... hahahaha.. bener loh.. Chemistry saya dan si Yayang, pasti beda dengan pak su dan dikau..

      Iya Rey.. semoga semua segera membaik dan kehidupan kembali "normal" dan tidak menyesakkan.. Aaamiin

      Delete
    3. Hahahaha.. Kang.. Saya juga manusia Kang.. Yang kadang juga bisa ruwet. Kebetulan saja Kakak Eno yang baik memberikan ruang untuk itu dan saya manfaatkan untuk berbagi cerita pengalaman..

      Btw, Kang Nata sudah masuk kategori suami-suami yang stadium 4 belon neeh.. wakakakaka

      Delete
  11. Setuju, menurut saya punya supporting system yang baik itu sangat penting, dan mas Anton beruntung memiliki mba Hes dan mas Kribo 😍

    Amiiiin, semoga mas Anton dan mba Rey serta kita semua bisa menghadapi pandemi ini dengan saling dukung dan comfort satu sama lain πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Kakak Eno... saya orang yang beruntung punya kedua orang itu yang selalu mensupport saya.

      Makasih Eno atas dukungannya dan semoga Eno dan si Kesayangan juga langgeng terus saling mendukung yah

      Delete
  12. Huwaa inilah yang kutunggu-tunggu!

    Mas Anton, aku keinget sama cerita Bapake (ayahku). Pekerjaan Bapake adalah salah satu yang sangat terkena imbas dari covid. Yang biasanya bekerja dan lembur, sekarang harus tidak ngapa-ngapain di rumah dengan pikiran yang mungkin hampir sama: nggak bisa menopang keluarganya. Btw, Bapake umurnya hampir kepala 6.

    Ternyata mungkin begini ya, isi hatinya.. Aku tau sih memang belakangan Bapake suka agak emosional, karena mungkin pikirannya sangat banyak. Berarti tugasku juga harus menghibur dan menguatkannya! Terimakasih ya Mas Anton udah mau berbagi dan jujur atas apa yang ditulis... terimakasih juga Kak Eno yang sudah memberikan wadah bagi teman-teman yang mau berbagi😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alfiya....

      Kegalauannya rasanya sama .. Ketakutan seorang bapak, rasa tidak berdayanya, kebingungannya.

      Bagaimanapun seorang bapak, seperti saya juga sebenarnya punya perasaan.. Cuma kadang kita tidak mengungkapkannya demi tidak membuat khawatir orang-orang tersayangnya.

      Imbasnya ya itu.. kontrol kita pada diri sendiri agak susah karena tekanannya berat sekali.

      Itu yang saya rasakan ... Beruntung saya punya dua orang kesayangan yang mau mengerti dan kemudian mau menopang saya.

      Saya rasa Alfiya bisa melakukan peran si Kribo saya kepada Bapake. Hal itu sangat membantu sekali...

      Terima kasih kembali Alfiya, semoga saja pengalaman saya bisa dimanfaatkan.

      Yap, memang kita harus berterima kasih pada Kakak Eno yang dengan theme park-nya sudah memberikan ruang untuk bisa berbagi kisah...

      Semoga Alfiya dan Bapake diberikan kesabaran dan ketenangan untuk bisa melewati masa suram seperti ini.. Aaamiinnn

      Delete
  13. Dan diluar sana masih 'ada' yg nganggap kisah Corona itu settingan..πŸ˜’ hhhmmm

    Skrang jam 22.46.. tanggal 20 november 2020..
    Baru aja pulang ngajar, ngambil posisi tiduran biasanya nyari sesuatu yg bisa dibaca sebagai pengantar tidur.. dan yah nyangkut ke sini.. ada kisah yg sepertinya menarik..

    Jujur, tiba2 air mata saya keluar pas baca ini. I dont know why?. Memang benar 'Kehidupan adalah suatu misteri yang sering berjalan penuh kejutan..'

    Cerita Pak Anton ini, pelajaran banget buat kita..

    Berharga karena isinya...
    Mahal karena waktunya...

    Terimakasih sebelumnya sama Pak Anton dan Mba Eno.

    Memang benar Tahun 2020 adalah tahun yg sulit buat kita. Tahun yg benar2 memutar kondisi kita 358 derajat.

    Semoga kita semua diberi ketabahan,kemudahan, kelancaran, dan keihklasan... Aminn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiin.. semoga semua prahara ini segera berlalu ya mas...

      #Kalau ada yang bilang settingan, getok saja mas.. hahahahahaah πŸ˜‹

      Memang tahun yang benar-benar berat mas..Tapi dengan saling mendukung dalam keluarga, Insya Allah kita akan bisa melewatinya. Berat memang dan bakalan banyak jatuh bangun, tapi itu semua harus dijalani.

      Terima kasih kembali ya mas dan semoga mas sekeluarga juga diberikan ketegaran dan kesabaran dalam menghadapi tahun yang berat ini.. Aaamiin

      Makasih sudah membaca pengalaman saya mas..

      Delete
  14. Terima kasih atas tulisannya Pak Anton..
    Terima kasih sudah memuat ini, mbak Meno..

    kita semua memang sepakat apa ya, kalau 2020 ini tahun yang --memang-- kepar@t. Ini yang memudah pembaca bisa relate banget post ini.
    seneng sekali pas bagian,, "Saya tidak lagi sama. Saya menyadari ini memang bagian dari kehidupan. Badai pasti akan mereda."

    nggak salah pilih juara..Nggak ngerti lagi, ngena banget,, nggak bisa berkata-kata saking inspiringnya.

    I learned a lot how to be wise, how to grow, and mindful from this post.
    Ah, support system memang segalanya.
    thank you for your courage by sharing this story, pak anton...*sungkem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali Mas Rifan...

      Iya mas Rifan, saya bisa kuat bukan karena kuat , tetapi lebih karena supporting system saya berjalan dengan baik. Tanpa itu saya cuma satu manusia yang mudah rapuh saja.

      Sekali lagi terima kasih buat mas Rifan dan semoga mas sekeluarga selalu berada dalam lindungan-Nya. Juga semoga masa suram ini segera berakhir dan mas sekeluarga bisa melewatinya...Aaamiin

      Delete
  15. Wooh, tulisan Pak Anton keren sekali. Pertama, saya kurang ngeh kalo ini tulisan belio. Saya kira, ini tulisan Mbak Eno, tapi kok ada kalimat bahwa usianya sudah hampir setengah abad, apakah setua itu mbak eno? wkkwk
    kalo usia mbak eno segitu, berarti besok saya harus panggil dengan sebutan "Bu Eno", sebab usianya tidak berbeda jauh dengan orangtua saya hehehe

    Nice, tulisannya sangat dalam sekali :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. #nggak ikutan kalo Kakak Eno marah dianggap sudah tua sama mas..#ngumpet... hahahahaha

      Makasih ya mas sudah membaca...

      Delete
  16. Kak Anton, selamat ulang tahun πŸ₯³πŸ₯³ (jika udah lewat), selamat karena akan ulang tahun πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³ (jika belum berulang tahun). Segera kita akan bersama duduk di kursi prioritas ya 🀣 #Anak-anak VS #OrangTua.

    Benar kan tulisan Kak Anton deep sekaliii. Menang telak ini mah 🀭🀭🀭.
    Terharu aku bacanya. Kak Anton, you are so blessed bisa mempunyai istri dan anak yang selalu support Kakak dalam situasi apapun πŸ₯Ί. Semoga keluarga Kakak harmonis selalu πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»
    Semoga 2021 hidup menjadi lebih baik dari tahun 2020 πŸ™πŸ»

    Terima kasih karena udah berbagi kisah hidup Kak Anton yang sangat mengharukan 😭😭


    Kak Eno, terima kasih udah mengadakan PGP #2 ini πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» aku jadi ada kesempatan untuk melihat tulisan Kak Anton yang indah ini πŸ₯Ί

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Liaaa....#sudahlewat.. hahaha dan tolong bantu kakek ke kursi proritas dong Cu..πŸ€ͺ

      Iya Lia, saya memang beruntung sekali punya mereka. Nggak kebayang kalau mereka nggak ada.. wadidawww.....

      Terima kasih doanya appreciate it a lot loh..

      Siapa tahu saja Li ada yang bisa memanfaatkan sesuatu dari kesalahan yang saya perbuat tahun ini.

      Makasih Kakak Eno jadi tulisan saya bisa dibaca cucu saya.. uhuk uhuk.. πŸ€ͺ

      Delete
    2. Kalau udah lewat berarti traktirannya double, asikkk!! πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»
      Sini.. lewat sini.... Kek.. wkwkwk #dikemplang

      Wkwkwk Kak Anton beneran mau dipanggil Kakek, nih? πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ

      Delete

  17. Mat ultah untuk om Anton dari saya tari lestari, dan selamat juga atas kemenangannya di post guest post #2 jangan lupa traktirannya om Anton??



    # πŸ€«πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ™πŸ™, takut kena jewer . Dah ??? Gitu aja komen saya makasih???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Tari untuk ucapan dan kunjungannya.. Traktiran virtual saja yah kan masih pandemi dimana-mana .. Nih secangkir kopi tuk Tari..☕️☕️☕️☕️

      Dah gitu saja balasan komentarnya.. wakakaka..

      Terima kasih Tari sudah mampir ke sini...πŸ˜‡ πŸ˜‡ πŸ˜‡

      Delete
  18. Kalau bukan blog kak Eno, mungkin saya akan ngomong kasar. Kalau saya ada didekat mas Anton, saya mungkin akan merangkul. Terimakasih ceritanya mas Anton. Saya memang sadar betul keadaan finansial orangtua saya terombang ambing saat awal-awal pandemi, tapi tidak sedalam ketika dari perspektif orangtua langsung. Ini mungkin suara yang mewakili bapak dan mama saya. Terimakasih sekali lagi mas Anton.

    Tetap kuat untuk keluarga mas Anton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali Mas Rahul..Aaamiin untuk doanya...

      Tidak terhitung yang terhantam mas. Besar kecil semua dilibas oleh efek Corona dan mengalami guncangan.

      Kemungkinan sama mas, keresahan dan kegalauan yang dihadapi bapak dan mama Mas dalam situasi ini. Pasti ada banyak kekhawatiran dan kebingungan menghadapi situasi seperti sekarang. Mau begini susah , mau begitu susah.

      Semoga mas dan keluarga diberikan ketegaran ya dan semoga selalu berada dalam lindungan-NYA juga.. Aaamiin

      Delete
  19. Selamat ber lima puluh, Mas Anton... terima kasih karena sudah berbagi cerita tentang keluarganya di sini. Selalu dan selalu, bahagia tiap baca cerita soal mas Anton, mbak Mantan, dan Kribo. Karena bikin saya ingin punya keluarga seperti itu juga :D

    Semoga selalu diberkahi dan selalu diberikan kekuatan untuk menghadapi berbagai hal. Kalian semua berbahagia karena punya satu sama lain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Mega kemana ajah... Terima kasih untuk ucapannya.

      Masama Mbak dan Insya Allah saya yakin mbak pada saatnya akan bisa membentuk keluarga yang baik seperti yang Mbak inginkan.

      Aaamiiin.. terima kasih untuk doanya, semoga Mbak dan keluarga juga diberikan kekuatan yang sama dalam menghadapi situasi seperti ini. Semoga mbak juga diberikan kebahagiaan yang sama dan bahkan lebih

      Delete
  20. Wah saya belum sempat mengucapkan selamat di postingan pengumuman sebelumnya. Congratulation Mas Anton untuk tulisannya yang terpilih menjadi pemenang di event PGW kali ini πŸŽ‰✨

    Sekarang saya paham kenapa mendadak orangtua saya makin ke sini makin kerajingan ngumpul dengan teman-teman lama mereka, khususnya Mama saya. Ternyata alasannya seperti yang dijabarkan Mas Anton, dan sepertinya benar demikian. Tiap kali lihat foto Mama lagi jalan bareng teman-temannya, saya malah senyum bahagia melihatnya. Mama memang terlihat berbeda saat bersama gengnya, dan biasanya pulang ke rumah jauh lebih hepi :D

    Eniwei, kalimat "kita menghadapi badai yang sama, namun tidak pada perahu yang sama" itu benar banget. Pandemi Corona ini nggak melihat status, jabatan, harta seseorang. Siapapun kena imbasnya. Setelah pandemi berlalu 3-4 bulan, saya mulai mendapat kabar melalui japri bahwa ada yang butuh pekerjaan bahkan terpaksa meminjam dana karena tabungan perlahan menipis. Saat mendengar kabar ini dari orang terdekat rasanya memang "nyesss". Saya menyesal karena terlalu nyaman berada di dalam "bubble" sendiri sehingga terlampau kaget mendengar kabar seperti ini ):

    Kalau boleh bilang, pandemi ini menumbuhkan rasa empati pada diri saya lebih banyak. Nggak hanya berempati, tapi juga berusaha untuk terlibat dalam memberikan bantuan nyata. Dan saya bersyukur bisa diberi kesempatan seperti itu.

    Semoga Mas Anton dan keluarga tetap semangat menerjang badai ini, ya. Saya percaya this too shall pass, dan lewat dari ini pasti kalian akan jauh lebih kuat lagi (:

    Terima kasih sudah menulis cerita ini, Mas Anton! Terima kasih juga Mba Eno yang sudah memilih dan menayangkan tulisan ini. Semoga bisa jadi kekuatan bagi mereka yang membacanya ya! 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Jane.. cuma kebetulan saja kok.

      Hahaha... Keren Mama-nya Jane. Yap, saya pikir selama hal itu membuat hepi tidak ada salahnya. Apalagi setelah puluhan tahun mengurus rumahtangga, kebebasan itu akhirnya datang dan bertemu kawan kawan lama itu akan terasa menyenangkan sekali. Yang penting Mama-mu hepi kan? Itu yang terpenting.

      Saya sendiri sempat terkaget karena seperti kata Jane agak terbuai dalam "bubble" saya. Begitu "badai" itu datang.. ya bener bener kaget sekali. Apalagi langsung merontokkan banyak hal dalam waktu sekejap.

      Keren Jane.. apapun yang Jane lakukan, pastinya akan sangat bermanfaat bagi yang menerima. Kebayang saja kalau sedang pusing ada uluran tangan, pastinya akan terasa luar biasa...

      Aaamiin.. Makasih doa dan dukungannya. Yap, semoga semua dari kita bisa menembus badai berat ini dan survive. Mudah-mudahan seperti itu, kita menjadi lebih kuat setelah melewati tantangan. Doa yang sama untuk Jane, Andreas, Josh, dan adiknya Josh yah.

      Terima kasih kembali, senang bisa berbagi...

      Delete
  21. Entah aku bacanya sampe kebawa baper eh pelan pelan mata berkaca kaca 😬
    Aku nggak bisa berada di posisi pak Anton, tapi aku ikutan merasakan bagaimana kepala keluarga harus bersikap di dalam keluarga sendiri
    Aku sendiri melihat bapakku sejak covid jobnya juga berkurang, bagaimana keluargaku kiri berhemat juga

    Sekilas kembali mengingatkanku kalo aku ini masih ada sifat "ngentengno".
    Yang kadang masih berpikir "ga mungkin bakalan kayak begitu begini", ternyata kejadian beneran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapakmu dan saya, sama Nun, sesama bapak... Sering kita berada dalam posisi "harus kuat" walau kondisi nyata sebenarnya kita goyah. Bukan demi kita Nun, buat orang-orang tersayang kita.

      Memang sejak pandemi ini, akan banyak yang mengalami hal yang sama seperti keluarga Inun.

      Nah, itu memang salah satu kejelekan saya juga, suka nganggep enteng..

      Semoga Ainun dan keluarga diberi kesabaran ya dan semoga badai ini cepat berlalu... Aaamiiin

      Delete
  22. selamat ulang tahun, mas Anton.. kalo kata orang life starts at 40, kini life peacefully starts at 50.. semoga sehat selalu dan senantiasa bahagia!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doa yang sama untuk Zam yah... semoga sehat selalu dan senantiasa bahagia..

      Yap, mudah-mudahan saya bener-bener dengan damai menempuh kehidupan di 50-an.. setidaknya dengan menerima semuanya..

      Makasih ya buat ucapan ultahnya

      Delete
  23. Kelar baca cerita dari mas anton ini, aku berasa jadi Kopites..hehehheh :D
    Ga salah sih kalau mbak eno milih tulisan ini sebagai pemenang. Tulisannya memang sangat meanrik. berasa dengerin cerita dan petuah dari orang yang lebih tua. Aku sangat menikmati tulisan ini Mas Anton.

    Aku sampai menyediakan waktu khusus agar bisa membaca ini tanpa terganggu oleh aktivitas apapun. Soalnya aku sadar kalau cerita ini bakal menarik. Jadi yaa mesti harus ada waktu khusus untuk membacanya...hehhehee

    Dulu aku sering mengamati bapakku, kalau diam berarti sedang ada masalah yang dihadapi. Dan seperti biasa, ibuku dan anak-anaknya selalu menanyakan apa yang sedang dihadapi. Insting keluarga memang jarang sekali salah.

    aku gatau mau nulis apa lagi...benar-benar larut dalam setiap kata, setiap kalimat dan setiap kejadian dalam cerita. Selamat untuk usia dan segala pencapaiannya selama setengah abad ini. Terima kasih untuk segala pengalaman hidup yang telah diceritakan ini.

    Semoga kita semua bisa melewati badai ini dalam keadaan baik-baik saja. aamiin :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin....

      Welcome to the Kopites Family Mas Vai ... hahahaha

      Makasih mas, kebetulan memang saya sudah tua .. wakakaka..Hidung saya jadi kembang kempis mendengar pujiannya.. :-D

      Betul mas. Memang sebagai bapak agak sungkan buat kita memperlihatkan sisi kelemahan kita di mata anggota keluarga yang lain. Bukan gengsi sih, cuma kadang saya mikir, kasihan kalau yang lain jadi ikut merasa tertekan dan khawatir.

      Saya rasa nanti mas kalau sudah berkeluarga juga akan mengalami situasi seperti bapak mas dan saya.. bukan doain yah, tapi karena yang seperti itu sebuah hal yang "hampir" pasti akan terjadi dalam kehidupan berkeluarga.

      Makasih sekali lagi mas untuk mau membaca tulisan saya...Semoga keluarga mas Vay juga selalu berada di dalam lindungan NYA yah, aaamiin

      Delete
  24. Ah aku kelupaan di hari Jumat mau baca tulisan ini. 😣😣😣 Ketumpuk sama peer segabreek huhu Jadi buru-buru matiin laptop dan ga mampir ke blog kak Eno sampe hari iniii

    Huaaa tulisan mas Anton emang de best!!! Mengaduk emosi! Tahun ini memang tahun yang luar biasa ya... Mengajarkan banyak hal. Aku jadi sedikit ketampol nih sama tulisan mas Anton. Di saat orang-orang lagi muram khawatir akan finansial yang akan dihadapi, aku malah agak boroooss 😣😣😣 Padahal sudah diingatkan supaya jangan boros-boros sama mama karena kondisi lagi susaaah sekarang....

    Makasih mas Anton atas tulisannya! Bagus bangett!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sibuk ya Fris....jaga kesehatan yah tetap..

      Makasih yah sudah menyempatkan diri datang kesini.. appreciate it

      Hussh.... nanti aku ditangkep polisi atuh kalo nampol orang.. Yah, memang mamamu berhati-hati dalam hal ini, tapi saya yakin kok Fris, dikau punya perhitungan sendiri dalam hal ini.

      Makasih ya Fris.. siapa tahu ada yang bisa memanfaatkan..

      Delete
  25. Akhirnyaaa aku bisa BACA tulisan sang juara, daaaan cerita ini DESERVE BANGET JD PEMENANG :).

    Menyentuh sekali mas... Reminder utk ku, kalo wabah ini blm berakhir. Harus tetep cermat dalam kelola keuangan, Krn apapun bisa terjadi.. mungkin skr ga da pengaruh apa2, tapi siapa yg bisa jamin utk bulan2 berikutnya...

    Btw mas, kita sama2 pecinta Liverpool. Sebenarnya bukan aku sih, tapi suamik :p. Aku jd suka sejak kenal am dia, apalagi sejak nonton lgs pas Liverpool datang ke GBK 2012 hhahhaha. Pertama kali aku ngerasain euforia nonton bola. Merinding.... Aku Ama suami bikin plan, Krn kami udh ngerasain tawaf di depan Ka'bah, selanjutnya hrs tawaf di Anfield hahahahaha. Sepengen itu utk bisa liat Liverpool langsung di kandangnya :D

    Semangat mas Anton, YNWA ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Husshhh.. Juara.. Juara makan kerupuk.. :-D Makasih Fan atas pujiannya. Bikin hidung susah mengempis..

      Iya Fan. Situasi masih gonjang ganjing dimana mana.. ada baiknya mengambil langkah berhati-hati sedikit.

      Oooo yaaah... Horeeee Ketemu sesama Liverpudlian di sini... Asyeekkk.. kita tawaf bareng dong.. wakakakakkaak...Aku juga ga bisa ngebayangin kalau bisa ke Anfield dan terus menyaksikan langsung waakkksss....

      YNWA too Fan

      Delete