Part Ways | CREAMENO

Pages

Part Ways

Kadang, dalam sebuah pertemanan, saat kita dan teman lain sudah jarang bersama, maka akan ada saja yang berpikir bahwa kita bermusuhan atau bisa jadi justru diri kita sendiri yang berpikir teman kita menjauhi kita. Well, jaman bocah mungkin normal berpikir demikian, namun dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, gue sadar kalau dalam setiap hubungan, apapun itu, pasti akan selalu ada yang namanya perpisahan dan itu lumrah 😁

Contoh, salah satu teammates gue pernah sangat gelisah karena teman yang tadinya akrab tiba-tiba jaga jarak dan lebih sering main dengan circle teman lainnya. Mate gue ini berpikir apa ada yang salah dengan dirinya, sampai temannya memilih jaga jarak. Lalu one day, dia tanya ke gue, apakah gue punya pengalaman serupa yang tentu saja gue jawab dengan, "Ya, jelas." πŸ˜‚

Bisa dibilang, gue punya banyak circle pertemanan, dari lokal sampai internasional, dari rumah sampai profesional, semua ada ~ Dan dari pengalaman gue 'pisah' dengan mereka, gue belajar bahwa dalam hidup kita, akan selalu ada yang pergi dan datang πŸ™ˆ Mungkin benar kata orang, pertemanan itu ada kadaluarsanya hahahaha, that's why kita diminta untuk not take things for granted dan berusaha jadi teman yang baik selagi ada kesempatan 😁

Gue selalu anggap proses ini sebagai proses part ways tanpa rasa emosional. Kalau gue harus part ways, itu artinya kami sudah nggak dalam frekuensi interest yang sama. Jadi nggak guna dipaksakan. Dan kita bisa lho, part ways dengan dewasa, nggak semata-mata part ways lantas bermusuhan ~ Sebab bagaimana pun juga, teman kita pernah jadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan yang bisa kita lakukan adalah hargai hubungan yang pernah kita punya πŸ˜‰

🐰🐰🐰

Dulu gue pernah ikut gym, dan ketemu beberapa teman gym yang satu frekuensi interest-nya, lalu kami jadi sering tukar kabar dan spend time bersama, hingga gue berhenti gym karena lebih sering biztrip, frekuensi gue jadi beda, dan kami part ways pada akhirnya ~ Yang tadinya kami sering kontak, sekarang jadi sesekali tukar kabar. Apa kami bermusuhan? Not at all. Kami tetap berteman tentunya, hanya frekuensi interest sudah nggak sama 😁

Begitu pula saat sohibul gue yang hobinya haha hihi bersama, nongki cantik sambil brunch ala-ala, mengambil keputusan untuk menikah duluan ~ Gue yang tadinya masuk top 5 prioritasnya, berubah jadi top 50, digeser oleh pasangannya dan keluarga besar pasangannya. Hahahahahaa. Terus apakah gue sama sohibul gue jadi bermusuhan? Nggak doooong kawan, meski gue harus part ways dengan sohibul gue karena frekuensi interest kami sudah berbeda, tapi kami tetap sahabat, dan kami saling menghargai satu sama lainnya. As simple as that πŸ˜†

So, jangan berpikir bila seorang teman jaga jarak itu karena ada yang salah dengan kita (kecuali kita buat salah betulan). Dan mungkin, teman kita nggak sadar dia jaga jarak. Mungkin dia hanya sedang menemukan hal baru yang dia suka, dan dia jadikan itu prioritas. Dan ketika status kita bergeser dari top 5 ke top 50, jangan bersedih, karena itu pola hidup, people come and go, and the only thing we can do adalah menerima kenyataan bahwa waktu kita kadaluarsa πŸ€ͺ Wk.

🐰🐰🐰

Eniho, kemarin ada teman yang dulu sering baca blog gue, kirim email, bercerita kalau sekarang teman tersebut hilang interest dalam baca blog, karena sudah menemukan interest lain. Which is gue sangat mendukung apapun pilihannya, sambil berkata, "Aah seriously? It's nice then. Yang penting doing it with happy feeling." -- dan teman gue secara terang-terangan merasa 'berjarak' dengan gue karena interest kami yang kini bagai langit dan bumi 😁

Gue pun hanya bisa tertawa penuh emoticon, sambil bilang, "That's okay." -- gue pribadi nggak masalah kalau teman gue menemukan kebahagiaan lain, yang mungkin nggak ada gue 'di sana'. As long as teman gue happy, kenapa gue harus bersedih hati? ~ Lebih baik gue hargai kenangan indah yang pernah gue lalui ketika teman gue itu masih sering main ke blog gue ini 😍

Begitu pula nanti, saat kita menemukan frekuensi interest dan prioritas lain, lalu memutuskan hiatus atau meninggalkan dunia blogging, gue harap kita jangan merasa sorry-sorry. Instead of that, yuk kita kenang semua hal baik yang ada di blog masing-masing, dan appreciate hubungan yang terbangun selama ini ~ Kalau kata Paulo Coelho, "If you're brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello." Semoga saat itu tiba, kita bisa part ways tanpa emosional feeling, dan say goodbye dengan senyum dan doa terbaik yang bisa kita beri 😁

Cheers!

42 comments:

  1. ada yang bilang, seiring bertambahnya usia, makin sedikit lingkaran pertemanannya..

    sepakat dengan mbak Eno.. kalo emang ngga sefrekuensi, seminat, selingkungan, ya ngga bisa dipaksain.. ngga ngontak bukan berarti musuhan.. ngga saling follow di media sosial ngga berarti musuhan.. ya kita lahir ke dunia sendiri, mati juga nanti sendiri dikuburnya.. jadi, santai saja.. selama berbuat baik sama sesama, bakal akan ada "teman" yang membantu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering banget kok ini terjadi, memang akhirnya menyebabkan circle kita semakin mengecil, mungkin yang tadinya masuk circle happy go lucky (hobi nongki), terus karena sudah nggak satu frekuensi di sana, lalu memilih pindah masuk circle hobi yang lain 🀣

      And yep, perpindahan / perpisahan tersebut nggak selalu berarti bermusuhan, tapi lebih karena sudah nggak cocok frekuensi interestnya. Jadi nggak apa-apa banget kalau memutuskan part ways, alias say goodbye, yang penting dilakukan secara baik-baik dan tentunya saling mendoakan untuk kebahagiaan masing-masing πŸ˜†

      Makanya dulu suka bingung kalau ditanya, "Lho kenapa kok sudah nggak kontakan sama dia? Musuhan, ya?" padahal nggak kontak semata-mata karena interestnya sudah beda jadi topik yang dibahas pun nggak match. Kenapa selalu ended up dikoneksikan dengan musuhan coba. Especially era sosmed sekarang πŸ˜‚

      Delete
  2. Couldn't agree more..kalau kasusnya di dunia nyata

    Kalau di dunia maya...dulu rekan di dunmay yang tiba-tiba hilang nggak nulis apapun. Nggak ada yang cari karena dianggap biasa. Ternyata meninggal. Dan bagaimana-bagaimananya it's not a nice story...

    Saya jadi bertanya-tanya. Selalu bersifat positive thinking itu juga sebetulnya baik atau tidak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kejadiannya sampai meninggal, indeed, it wasn't nice ya, mba. Saya rasa the only thing we can do adalah mendoakan yang baik terlepas teman kita masih di bumi atau sudah pindah 'dunia' lain 🀧

      Saya selalu menganggap teman-teman yang hiatus, atau bahkan hilang dari radar (di dunia maya / nyata), itu karena teman-teman tersebut memang sudah nggak ketemu interest di kegiatan yang saya lalui, dan mungkin mereka memasang boundaries (nggak mau dicari). Jadi the only thing I can do adalah mendoakan mereka yang terbaik, dan saya closure dengan message (how are you? Are you doing okay? Maybe you need a time. That's fine, but if you need a friend, you can reach me anytime) πŸ’• Though deep down inside, saya penasaran dan ingin bertanya akan banyak hal, but I try to respect their choice πŸ˜†

      Mungkin setiap orang akan beda cara menghadapi kejadian seperti itu ~ namun apapun itu, semoga itu yang terbaik yang bisa kita beri 😁 Eniho, perihal selalu bersifat positive baik atau nggak, akan balik lagi ke orang itu sendiri, karena karakter setiap orang beda πŸ™ˆ Saya pribadi nggak tau jawabannya, mba. Hihihi, however, I try to be positive πŸ˜…

      Siapa tau nanti ada teman punya pendapat lain mengenai pertanyaan mba Phebie, yang bisa menjawab pertanyaan tersebut πŸ˜πŸ’• Saya pun penasaran sebenarnya baik apa nggak πŸ˜†

      Delete
  3. Kak Eno, tampilan blognya via mobile jadi lebih nyaman karena lebih lebar nih~ asik asik! 😍

    Terima kasih atas remindernya, Kak Eno! Baru tahun lalu aku mengalami part ways ini dan cukup membuat shock karena merasa kehilangan teman baik πŸ˜‚ tapi aku sadar jalan kita udah berbeda, kalau dipaksakan juga rasanya nggak seklop dulu lagi, jadi aku let it go dan akhirnya bertemu dengan yang lebih klop denganku. Aku sadar bahwa itu semua memang part of life, tapi saat mengalaminya tetap ngerasa shock juga dan cukup lama terbayang-bayang kenapa bisa begini padahal dulu dekat 🀣 dasar dramaqueen sekali diriku~

    Bersyukur sekali aku bisa membaca tulisan ini. Aku ngerasa dikuatkan πŸ₯Ί. Thank you Kak Eno 😘😘😘😘😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Lia, tampilan mobile-nya baru bisa digarap si kesayangan 🀣 Sekarang jadi lebih lebar ya, jadi nggak perlu banyak scroll ke bawah, hahahaha πŸ€ͺ

      Biasanya saat seusia Lia, proses part ways cukup membuat shock, karena belum terbiasa, tapi lama kelamaan, hal ini akan menjadi sesuatu yang lumrah terjadi pada hubungan anak manusia. Apalagi kalau kita punya banyak circle pertemanan, kemungkinan part ways semakin lebar 😁

      Makanya, selagi masih ada kesempatan, dalam circle mana pun, berusaha enjoy the moments dan appreciate every little things adalah hal paling basic yang bisa kita lakukan, agar kelak nggak ada penyesalan πŸ™ˆ hehehe. Karena hukum alam berkata, people do come and go, Lia πŸ’•

      By the way, Lia nggak drama queen kok, merasa shock apalagi sampai kebayang-bayang adalah proses yang akan kita lalui saat kita part ways. Mau itu sama teman, pasangan, siapapun hahahahaha.

      Jadi mungkin, ketika next time, kita kembali dipaksa keadaan untuk part ways, mungkin instead of shock, better kita doakan yang terbaik untuk jalan yang masing-masing pilih *termasuk diri sendiri* 😁

      My pleasure Lia, terima kasih sudah baca 😍

      Delete
  4. mbak eno nulis TOP 5 sama TOP 50 aku auto ingat miss Universe wkwk
    eh di Miss Universe cuma ada TOP 20 aja si ga ada TOP 50 hihi

    anyway, ini yang aku rasakan dengan penambahan usia sekarang
    acara reuni kelas makin jarang dan akhirnya engga ada sama sekali
    pun dengan geng yang dulu akrab banget
    lebih ke sibuk si dan pingin me time aja sebenere
    lebih ke hubungan circle kecil tapi bermakna engga harus banya

    etapi emakku, yang usianya mau pensiun malah gencar reuni masa sma dan smp
    malah makin gencar gencarnya
    mungkin hype dari grup WA juga ya beda sama saya yang udah malesss banget nimbrung di WAG hehehe

    dan bener, setiap ada hal lama yang ilang pasti ada yang baru
    kayak aku yang punya temen baru dari Filipin gegara punya interest baru belajar bahasa Taglog gatau deh sampai kapan hype ini bakal tetep ada

    PS: bukunya udah sampai insya allah nanti aku review ^-^
    tks mbak eno....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, mas Ikrom memang paling paham kontes kecantikan 🀣 And well, begitu~lah nasib saya yang sempat jadi top 5 πŸ˜‘ Wk.

      Iya mas Ikrom, semakin kita tua, circle kita semakin mengerucut, karena frekuensi interest-nya sudah beda. Dan itu wajar hehehehe. Mungkin teman lama lebih suka nongki-nongki di cafe, while sekarang mas Ikrom lebih suka stay di rumah. Dengan begitusudah beda vibe hidupnya 😁

      Kalau persoalan emak mas Ikrom yang mendadak hobi reuni, saya jadi keingat sindrom pra-manula yang sempat dibahas mas Anton pada post FIFTY πŸ˜‚ Sepertinya emak mas Ikrom sedang mengalami sindrom tersebut, ketika mendadak jadi suka bernostalgia. Mungkin karena dulu fokus besarkan anak, jadi ketika anak sudah besar, baru bisa kembali senang-senang mengingat kenangan bersama teman 😁

      Wuiiiih mantap mas Ikrom bisa Tagalog, saya sampai sekarang masih asing kalau dengar bahasa Tagalog, tapi satu yang saya ingat, setiap ke Filipina, huruf A dalam bahasa Inggris versi Filipina tetap dibaca A bukan EI, hahaha. Jadi unik dengarnya. Seperti black dibaca blak bukan blek πŸ˜† Semoga hype yang mas rasakan bisa bertahan lama, ya 😍

      Sama-sama mas Ikrom, hope you like it πŸ’•

      Delete
  5. Ikutan Lia berkomentar hal yang sama hahaha padahal tadi pagi pas mau baca tulisan ini tampilannya berubah, pas mau komentar kok jadi lebih lebar. Niceee, Mbaa πŸ˜†

    Aduh, tulisan ini ngena banget di aku because this just happened to me, Mba Enooo 😭

    Awalnya aku super baper karena teman ini adalah sahabatku sejak kecil. Meski aku tahu pada akhirnya ini akan terjadi, tetep aja aku nggak siap karena merasa kami dekat banget sejak lama, dan seharusnya nggak 'berpisah' seperti ini. Pertemanan kami masuk golongan kedua yang Mba Eno sebutkan di atas, bedanya aku yang menikah sementara si sahabat masih menikmati masa single-nya. Waktu aku menikah pun si sahabat udah wanti-wanti aku bakal 'meninggalkan' dia. Ternyata yaa kejadian deh. Entah siapa yang meninggalkan siapa πŸ˜‚

    Setelah berkontemplasi cukup panjang, aku sadar memang pertemanan itu ada masa kadaluarsanya. It's so sad, tapi yaa mau bagaimana lagi. Aku sadar memang interest dan prioritas kami berbeda jauhhh. Untungnya, beberapa waktu lalu kami berdua sempat ketemuan lagi dan I'm glad we're still friends meski memang obrolannya udah berbeda. Aku cuma mengingatkan si sahabat, walaupun kita udah beda dunia, aku nggak pernah melupakan dia. So, if she needs anything, I'm ready as a friend :D

    Lucu yaa, seiring bertambahnya usia, pola pikir kita bakal berbeda. Kadang aku pun berpikir, jangan-jangan ada teman yang berpikiran sama seperti aku, di mana dia merasa aku bukan seperti yang dulu lagi πŸ˜‚

    Thank youu for writing this, Mba Enoo! <3 Semoga nanti saat masuk usia kepala tiga, aku bisa se-swag dan se-slow Mba Eno dalam menjalani hidup πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Jane, baru sempat digarap si kesayangan 🀣 Semoga membuat mba Jane dan teman-teman lainnya lebih nyaman ketika pakai mobile phone 😍

      Wadaw, puk puk mba Jane, memang cepat atau lambat akan kejadian mba, terpaling sering itu persoalan teman berkeluarga duluan atau diri sendiri berkeluarga duluan. Karena automatically dunia yang berkeluarga sudah berubah compare to yang masih single. Tanggung jawab dan prioritas pun berbeda. Mungkin karena itu, jadi dipaksa keadaan untuk part ways 😁 Namun demikian, sebetulnya tetap bisa berteman / bersahabat baik hanya mungkin intensitas berubah hehehehe πŸ™ˆ

      Thankfully, mba Jane part ways dengan sahabat mba Jane secara dewasa, and yeah, yang terpenting kita notice mereka bahwa kita akan selalu 'ada' meski intensitas komunikasi sudah nggak lagi sama. Karena that's what friends are for, kan? πŸ˜† hehehe, dan saya yakin banyak yang berpikir kita berubah, "Dia nggak kayak dulu." 🀣 Well, yang terpenting, selama kita menjadi lebih baik as personal, ya nggak apa-apa 😍

      Amiiiin, you can do it, mbaaa. Semakin kita tambah usia, kita akan tau mana yang paling penting untuk kita perjuangkan dan biasanya jadi lebih pintar pilih prioritas, mungkin pengaruh tenaga juga hahahahahaha. Jadi inginnya slow down, settle dan content πŸ˜πŸ’•

      Delete
  6. Wow tampilan blog mbak Eno sekarang lebih cepat diakses pakai hape, apa ini untuk persiapan SEO 2021 yang katanya mementingkan kecepatan blog.πŸ˜„

    Betul sekali, dulu aku juga pernah punya teman akrab di grup Facebook. Hampir tiap hari selalu berkomentar dan bercanda. Tapi kemudian aku jenuh dengan FB dan akibatnya jarang komunikasi, tapi hubungan masih tetap baik sih. Kadang masih suka chat sebulan sekali, ngga seperti dulu tiap hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius lebih cepat, mas? Hahaha thank God πŸ™ˆ Lha saya justru baru tau ada persiapan SEO 2021. Ini saya ubah layout mobile karena si kesayangan baru sempat utak-atiknya 🀣

      Iya mas, itu normal bangettt, sama seperti teman yang email saya, yang tadinya hobi baca blog saya dan komentar teman-teman di blog saya, lalu semakin lama jadi hilang interest, jenuh, this and that hehehehe. Setiap dari kita pasti melewati fase tersebut πŸ˜† Semoga, meski one day kita hilang interest dengan dunia blogging dan nggak lagi say hi satu sama lain, kita tetap bisa saling mendoakan yang terbaik 😍

      Delete
  7. mbak Enoooo, aku pun merasakan apa yang km rasakan. hhh
    temenku bisa diitung pke jari sekarang, terlebih karena tinggal di desa yg rata2 udh nikah dan punya anak. bahkan ada yg udah nikah smpe 3 kali. hhh
    jd berasa makin jauh sm temen2ku. btw, aku jadi senyum2 sendiri pas baca kalimat terakhir, say goodbye dengan senyum dan doa terbaik, duh dalem banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, ada yang sudah menikah sampai 3 kali? 😨 hahaha.

      Nggak apa-apa mba Ella, mungkin setelah mba say goodbye dengan teman-teman mba yang sudah punya interest / prioritas lain, mba Ella akan bertemu dengan teman-teman baru yang punya interest / prioritas sama dengan mba Ella 😁 Semangat selalu, mbaaaa πŸ˜πŸ’•

      Terima kasih sudah tersenyum dengan indah πŸ˜†

      Delete
  8. Iya mba shock banget awalnya. Yang biasanya dulu sering "ahahahah hihihihi hehehehe hohohoho" di pinggir jalan seakan nggk punya urat malu, ehh skrang cuma sebatas jadi silent reader statusnya dia yg sibuk ngurus anaknya atau keluarga baru dia.. Paling WA cuma sebatas "wahh kamu gimana kabarnya??" Terus udh... lost in our conversation.. hahah πŸ˜†

    Lambat laun jadi ngerti sih. Circle pertemanan seperti ada masa kadaluarsanya... πŸ˜† tapi yah nggak papa. Toh yg penting kan mereka bahagia.. walaupun kehidupan kita jadi lebih sepi karenanya.

    Sebagai salah satu orang yg sering mikir hidupnya 'stuck disini aja' karena lebih sering sendiri dan sering ngeliat teman2 angkatan sebayanya udh pada di titik jenjang yg lebih serius yah kadang bayu sering merasa insecure. Tapi lambat laun, mulai mengerti...

    Ternyata saya malah jadinya terlalu fokus ke satu hal dan lupa dengan hal2 lain yang sebenarnya punya andil besar dalam kebahagiaan diri sendiri seperti punya kesempatan buat ngajar les, dikasih kesempatan buat belajar gambar, dll..

    *duh ngomong apa sih bay..? Wkwkwk
    πŸ˜†πŸ˜† kok curcol..? Kebiasaan!! #Toyor kepala...

    Wahh, tampilan blog Mba Eno jadi lebih kece..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berubah total ya, mas 🀣 Kalaupun mau kembali mengobrol, topiknya sudah sangat berbeda bagi langit dan bumi hihihi. Well, it's normal kok dalam sebuah pertemanan pasti kita melewati fase tersebut 😁 Dan iya, yang terpenting masing-masing bahagia dengan pilihan dan jalannya. Selalu ingat bahwa ketika mereka bahagia, di tempat berbeda, mas Bayu juga akan bahagia 😍

      Eniho, saya mengerti kenapa mas Bayu insecure, especially setelah baca komen yang mas request nggak dipublish itu, menurut saya, mas Bayu hanya butuh waktu agar bisa overcome the situations, dan one day, mas akan menemukan kebahagiaan versi mas sendiri tanpa harus bergantung dengan keberadaan orang lain 😁

      Seperti yang mas Bayu bilang di atas, sebetulnya kalau mau di-list, ada banyak hal yang bisa membuat mas Bayu bahagia jika mas melihat dari 'dalam' 😍 Semangat, mas! Hehehehe, terima kasih apresiasinya πŸ™ˆ

      Delete
  9. Ini mungkin istilahnya saja yang berbeda, tapi saya melihatnya begini. Misalnya, saat naik ke tingkap Menengah Pertama, pertemanan kita dengan teman SD jadi selesai. Bukan karena frekuensi interest, menurut saya, tapi karena lingkup dan prioritasnya saja yang sudah berbeda. Begitupun pas masuk SMA, komunikasi dengan teman SMP malah jadi semakin jarang. Terus di SMA, ketemu teman SD dan terasa baik-baik saja. Disini saya sadar bahwa lingkungan dan prioritaslah yang mengaburkan semua itu.

    Kalo misalnya, tahap dunia kerja. Mungkin akan tambah satu faktor lagi: tanggung jawab. Apalagi kalo sudah ada komitmen dalam hubungan.

    Kalau masalah frekuensi interest memang ada, tapi itu menurut saya sifatnta lebih ke arah topik obrolan. Kalau sudah mulai tidak nyaman, pasti salah satu akan pergi. Atau keduanya bisa saling tahun ilmu meski tau pertemanan mereka tidak baik-baik saja. Saya rasa, memberi jarak dan waktu adalah solusinya. Hingga nanti bisa say hello lagi, itu adalah kebijaksanaan yang baik 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Rahul, memberi waktu dan jarak agar bisa fokus pada diri masing-masing bisa jadi solusi dari situasi dimana kita part ways dengan teman-teman kita. One day, kalau memang ada kesempatan, mungkin bisa say hello lagi 😁

      Jadi instead of berpikir, kenapa hubungan tiba-tiba berjarak, apa ada yang salah, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, better ditelisik lebih dalam, apa mungkin berjarak karena keadaan, atau karena teman sudah beda interest dan prioritas. Selama nggak ada kesalahan yang dibuat, kemungkinan alasannya nggak jauh dari perbedaan hal-hal di atas saya rasa πŸ˜‚

      Dan jika masih tetap penasaran, lebih baik ditanya langsung ke orangnya, dan closure dengan doakan yang terbaik untuk pilihan mereka. Karena bisa jadi, seperti pengalaman yang ada, waktunya sudah kadaluarsa πŸ™ˆ As usual, thank you sudah membaca dan memberikan insight-nya, mas 😍

      Delete
    2. Saya sih mikirnya ini ada dua. Satu, kak Eno memang pure sharing tulisan masalah pertemanan ini. Dua, kak Eno sudah planting jauh-jauh sebelum akhirnya meninggalkan circle blogger :(

      Teman-teman mungkin, termasuk saya, belum siap untuk itu kalo memang dimaksudkan begitu. Ada banyak hal baik yang kak Eno berikan kepada kami, termasuk saya dan belum bisa saya balas. Ini bukan perkara timbal-balik, lebih jauh dari itu ini masalah yang sangat personal. Bahwa pada akhirnya nanti kak Eno akan memilih jalan itu, semoga menjadi lebih baik dari yang saya pikirkan :")

      Delete
    3. Huahahaha mas Rahul berpikirnya sangat jauh sekali, tapi dua-duanya benar 😁 Ini sebagai planting ke diri sendiri juga agar saya bisa selalu appreciate pertemanan yang saya punya di blog dan berusaha untuk menjadi teman yang baik selagi masih ada kesempatan πŸ˜†

      Tapi not in the near future mas (semoga) hihihi, sebab masih banyak yang ingin saya lakukan di blog dan tentunya masih banyak tulisan teman-teman yang ingin saya nikmati ke depannya termasuk tulisan mas Rahul 😍 Semoga, til then, kita bisa terus saling support satu sama lainnya ya, mas. Siapa tau saya bisa terus membaca perjalanan mas dari sekarang saat masih jadi mahasiswa hingga nanti sukses ke depannya πŸ’•

      Delete
    4. Iya, soalnya kayak tiba-tiba aja langsung ada tulisan macam ini. Terus saya taunya kak Eno itu penuh rencana, jadi saya anggapnya begitu 😞

      Tapi syukurlah kalo tidak dalam waktu dekat. Jangan jadi legenda muda di dunia blogging kak Eno πŸ˜…

      Saya juga kalo malam sering baca-baca tulisan teman-teman blogger sebagai moodbooster. Ini memang sangat membantu.

      Aamiin kak Eno. Aamiin. Eh artinya dengan kata lain, kami juga bisa lihat kak Eno nimang dedek 😁

      Delete
    5. Hihihi, doanya saya betah di blog sampai beberapa tahun ke depan mas. Dan saya doakan mas Rahul pula πŸ˜†πŸ’• Waduh legenda muda, jadi ingat sinetron naga Indosiar ada legendanya segala 🀣

      Setuju bangettt, saya tuh setiap pagi dan malam suka baca-baca tulisan terbaru yang ada di blog, entah kenapa rasanya fun. Tadinya saya pikir, saya aneh, ternyata semua teman merasakan hal yang sama πŸ™ˆ hehehe. Amiiin ya mas, semoga one day bisa menimang baby jika diberi kesempatan dan tentunya jika sudah siap πŸ˜πŸ’•

      Delete
    6. Sinetron Gentabuana mah tontonan favorit saya waktu kecil. Kecuali kalau referensinya beda, mungkin saya sudah tidak tau. Beda era soalnya. Ha ha ha.

      Iya, selain fun, kadang tulisan teman bikin feeling empty juga. Jadi kadang kalau mau tidur, milah-milih tulisan yang fun-fun saja. Kalau tulisan yang agak dalam macam waktu itu tulisan mas Anton yang menang PGP #2 itu saya baca pas malam hari. Kombinasi yang salah memang. Saya jadi susah tidur setelahnya.

      Aamiin kak Eno. Aamiin.

      Delete
    7. Saya justru nggak hapal namanya, hanya ingat ada naga terbang 🀣

      Iya mas, kadang ada tulisan yang justru buat sedih, jadi harus pilah-pilah, cuma kadang dari judul saja kita nggak akan tau tulisan itu sedih atau nggak, alhasil suka kejebak di tengah-tengah dan mau nggak mau baca sampai kelar πŸ˜‚ Thank God, most bloggers masih lebih sering tulis post menyenangkan 😍 Jadi nggak sampai kepikiran πŸ˜†

      Delete
    8. Iya, itu ikonik Indosiar sekali πŸ˜…

      Benar, sama ketika saya membaca cerita mas Anton. Saya ngga tau akan se-depressed itu. Tulisan-tulisan Aina juga kadang bikin saya mikir dan kontemplasi, tulisan kak Eno, tulisan kak Rey, dan banyak lagi tulisan yang keren-keren. Saya bersyukur tahun ini bisa masuk dan diterima ke circle ini. Circle yang saya kenal lewat kak Eno. Terimakasih kak Eno πŸ˜‡

      Delete
    9. Kalau tulisan Awl jangan dibaca malam-malam, nanti jadi kepikiran 🀣 Enaknya dibaca pagi atau siang, justru bisa membuat semangat hehehehe.

      Sama mas, saya senang bisa kenal mas Rahul tahun ini, terima kasih sudah menjadi teman yang baik, sering berbagi insight yang positif, dan memberi keceriaan tersendiri di kolom komentar blog saya ini πŸ˜πŸ’•

      Delete
    10. Iya, benar juga. Apalagi tulisan terbarunya tentang manusia itu πŸ™

      Iya kak Eno, sama-sama. Saya juga senang bisa dapat insight dari tulisan teman-teman, termasuk kak Eno πŸ˜†

      Delete
    11. πŸ˜πŸ’•

      Delete
  10. banyak setujunya sama mba eno
    dan aku dulu diam diam pernah mikir gitu juga mbak, "apa mungkin aku pernah buat salah bla bla bla".
    makin kesini udah memahami kalau sekarang prioritas temen temen berubah apalagi yang udah nikah duluan, pastinya ada keluarga baru dan anak-anaknya.
    frekuensi ngumpul atau ketemu udah nggak kayak dulu
    sesekali chat pun kadang untuk hal hal yang memang perlu aja
    apalagi saat pandemi gini, udah jarang keluar ha ha hi hi dan temenpun aku merasa ya itu itu aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti akan ada momen kita berpikir demikian, mba. Dulu saya pun pernah melalui fase tersebut hahahahaha, tapi sudah lama sekaliiii πŸ˜‚ Kalau sekarang, semisal ada teman yang berjarak dan punya prioritas atau interest beda, saya akan ikut senang dengan pilihannya dan nggak mempermasalahkan komunikasi yang berkurang 😁

      Hehehehehe, no worries, seperti yang om Paulo bilang, akan selalu ada new hello dari setiap goodbye yang kita ucapkan pada teman-teman kita 😍

      Delete
  11. Yes, sesuai dengan yang selama ini kualami. Mungkin begitulah cara kerja kehidupan. ketika ada pertemuan, perpisahan adalah kepastian.

    kok kayak dejavu ya? soalnya kyknya pernah komen kyk gini, tp kapan ya?
    hahaha....

    btw, kak Eno apa kabar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaaha, di sini apa di blog teman lainnya, Dy? πŸ˜‚

      Tapi hidup memang sesimple itu, ada pertemuan dan perpisahan. Jadi daripada pusing memikirkannya, lebih baik menerima dengan lapang dada jika waktu yang dipunya telah kadaluarsa 🀣 Eniho, kabar saya baik, semoga Ady dan pasangan juga dalam keadaan baik di sana 😍

      Delete
  12. Kukira aku salah bahwa ada yang berbeda di tampilan mobile blog kak Eno. Ternyata memang berbeda dan better pastinya!

    Dulu aku masih merasa sedih Kak, dengan part ways ini. Aku merasa apakah ada yang salah sama aku jadi dia nggak mau lagi temenan sama aku. Tapi makin dewasa aku baru sadar, people come and go, dan list prioritas mereka udah lebih panjang lagi. Maybe i'm not in that list anymore but so do they. Mereka ternyata juga nggak bisa masuk list aku.

    Jadi, yaaah selama ini aku relakan aja. Semuanya akan berubah pada waktunya. Kalau kangen, mungkin bisa diusahakan bilang *kaloberani. Kalau nggak berani, kirim doa aja, siapatau kangennya terobatiπŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you mba Jez! 😍 Nggak sia-sia si kesayangan utak-atik πŸ™ˆ

      Setiap dari kita, especially ketika masih muda, pasti melewati fase itu mba, fase bersedih hati dan berpikir ada yang salah dengan kita. Tapi semakin ke sini, kita akan semakin sadar bahwa hidup demikian adanya. Ada yang pergi dan pasti akan ada yang datang 😁 Dan seperti yang mba Jez bilang, mungkin kita sudah nggak masuk dalam list mereka, bisa jadi pula mereka nggak ada dalam list kita. Jadi yeah, just accept it and move on πŸ˜‚

      Betul mba, kalau kangen tinggal kontak, jika nggak ya cukup doakan 😍

      Delete
  13. Mbaa tampilan via mobile nyaa berubaah dan aku sukaaa. Lebih nyaman. Ternyata Lia dan Ci Jane merasakan yg sama juga toh hhhee..

    Memang makin kesini pertemanan bisa semakin mengecil. Bukan karena punya masalah, tapi seperti yg Mba Eno bilang kalau emang ada kesukaan atau kepentingan yg berbeda. Mau di paksain juga percuma.

    Cuma kenangan akan kebersamaan itu ga ada akan hilang kaan. Siapa tau jadi kenangan indah yang sulit di lupakan #eaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Devina, berubah jadi lebih mobile friendly πŸ™ˆ Thank you apresiasinya mba, si kesayangan nggak sia-sia begadang garapnya hahahaha 🀣

      Semakin kita tua, kadang hubungan pertemanan kita jadi berjarak bukan karena ada masalah, tapi karena sudah nggak ada waktu saja πŸ˜‚ hahahaha, ditambah interest, prioritas dan kepentingan sudah jauh beda. Semisal mau dipaksakan juga nggak berguna, yang ada semakin rusak nantinya 😁

      Setuju mba, kenangannya yang kita jaga (apalagi kenangan indah) 😜

      Delete
  14. Ah, lihat tampilan blog kak Eno yg makin simple dan makin mobile friendly ini jadi pingin otak atik template jugaak, tapi sayang gak ngerti caranyaπŸ˜†

    By the way, ini juga yg beberapa waktu lalu sering aku rasakan, yg akhirnya aku tulis di postingan tentang pertemanan, dan kak Eno juga mengingatkan soal part ways ini disana, hehe😁. Bahwa people come and go itu udah biasa, dan bahwa frequency interest setiap orang akan berubah, begitupun dengan prioritasnya😍 hanya saja caranya pun beda-beda. Aku punya sahabat yg sudah kenal sejak SD, kak Eno, tapi hubungan kami sampai saat ini masih baik-baik aja kok walaupun jarang kontekan, paling hanya beberapa bulan sekali. Padahal tiap hari liat story WA, dan selalu aktif😁 tapi kan, itu bukan berarti hubungan kita nggak baik. Malah tiap aku pulang ke rumah, kita pasti selalu bikin janji temu, bahkan di acara pernikahannya awal tahun ini aku nemenin dia dari siang sampai malem, atur ini itu karena dia nggak pake wo sama sekali, kecuali dari pihak hotel yg sediakan. Begitupun dengan sohibul yg lain, nggak mesti selalu berkabar tapi masing-masing dari kita tau kapan saatnya kita saling membutuhkan.

    Seperti saat beberapa minggu lalu, kami udah bosen bangaatss di rumah dan kerjain skripsi sendiri tanpa teman, terus meluaplah semuanya di group chat pingin hangout dan ngumpul lagi. Akhirnya kita ketemuan saat lusa, mukbang, photobox, nobar, dll, sampe lupa mau ngerjain skripsi bareng. Padahal udah bawa laptop🀣. Sekarang kita kembali fokus sama tanggungjawab masing-masing, intensitas ngechatnya pun kembali nggak sering, dan itu sangat sangat wajar😁

    Terkadang memang kita harus belajar dulu dari part ways itu ya kak, bahwa nggak semua pertemanan harus sefrekuensi sampai akhir hayat, toh kalaupun nggak bisa sefrekuensi, tugas kita hanyalah tetap menjaga silaturahmi. Kalau ketemu, sapa. Kalau kangen, bisa sapa juga dichat dan dido'akan, hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Awl, kakak juga nggak paham caranya, cuma request si kesayangan agar mobile friendly. Thankfully hasilnya lumayan baik 🀣

      Aha! Iya kakak ingat post Awl soal pertemanan. Pada akhirnya semua akan sama ya, Awl. Ada yang pergi dan ada yang datang hehehehe. Tinggal bagaimana kita menyikapinya πŸ™ˆ Semoga ketika datang, kita terima dengan tangan terbuka, dan ketika pergi, kita terima dengan hati lapang 😍

      Nah benar banget, sebetulnya seperti stories WA / IG itu kalau diperhatikan pasti banyak teman Awl yang aktif setiap harinya. Tapi bukan berarti always kontakan 😁 Yang penting tau sama tau, kalau mau tanya kabar atau butuh sesuatu, feel free untuk say hello secara personal πŸ˜† hehehehehe.

      Semoga pertemanan Awl dengan sohibal sohibul Awl bisa berjalan lamaaaaa, langgeng, dan meski kelak masing-masing sudah punya frekuensi interest dan prioritas berbeda, in the end tetap bisa saling dukung dan mendoakan 😍 Because that's what friends are for, hahaha. And yep, setuju sama Awl, kalau kangen tinggal chat, jangan dipendam nanti jadi jerawat 🀣

      Delete
  15. Mba Eno tampilan mobile-nya jadi lebih enak yaa kayak lebih lega gitu πŸ˜†

    Aku juga merasakan ini beberapa tahun terakhir. Malah di salah satu circle (yang mana sebenernya isinya teman2 sejak kecil), jelas aku yang memilih mundur. Karena apa yaa aku jarang bisa menanggapi ocehan dan bercandaan mereka di grup chat, mungkin memang udah beda frekuensinya. Jadi pelan2 aku yang mundur aja deh, dan kayaknya mereka mulai sadar karena beberapa waktu lalu sempat ada yang chat pribadi nanyain kabar dan nanya kok aku ngilang ahaha..

    Gimana yaa sebenernya bukan bermaksud meninggalkan circle apalagi memutus silaturahmi yaa.. Tapi susah juga buat ikut nimbrung kalau obrolannya udah jauh frekuensinya siih πŸ˜‚

    Ternyata bener yaa, yang namanya pertemanan itu ada kadaluarsanya juga πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaay, berhasil berarti ya, mba πŸ˜‚

      Hehehehe, kalau memang sudah merasa beda, nggak apa-apa banget untuk mundur mba, mungkin mba Eya sudah merasa nggak match obrolannya serta topik bahasannya, daripada saling membuat nggak nyaman, better step back 😁 hehehehehe, menurut saya itu bukan putus tali silaturahmi, karena mba dan mereka tetap bisa komunikasi one by one jika diperlukan πŸ˜‰

      Semangat mba Eyaaaa 😍

      Delete
  16. Ini dirasain Ama banyak orang sih yaaa, apalagi saat umur makin dewasa :). Jadi inget pas zaman sekolah kayaknya aku dan temen2 se Genk bikin perjanjian kalo kami akan kompak selamanya, sampai kakek nenek, bakal tetep keep contact bila BLA BLA.... Yg end up dengan...... Putus komunikasi malah :(. Beberapa sih masih sesekali kontak, tp bisa dibilang setahun palingan 1x, pas lebaran :p.

    Dulu aku sempet sedih, tapi kayaknya setelah dipikir, memang prioritas kita udah beda. Skr ada keluarga, yg mana pasti jd nomor 1 :). Dipikir2, aku sendiri pasti kesel kalo suami LBH ngutamain temennya kan. Gitu juga yg aku hrs lakuin. Prioritasku bukan lagi utk teman2.

    Mending dikenang yang manis2nya ya mba :). Jadi kalo suatu saat ketemu lagi, setidaknya kita bisa masih saling inget masa2 yg nyenengin dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjanjian akan kompak selamanya sampai kakek nenek sepertinya pernah diucap oleh hampir semua anak jaman masih sekolah, termasuk saya πŸ˜‚

      Iya ya, mba sedihnya sudah lewat, sekarang masuknya masa menerima bahwa frekuensi interest setiap dari kita sudah beda, bahkan teman yang kemarin akrab pun bisa berjarak dengan sendirinya 😁

      Agree, selagi bisa, better kenang yang manis dan indahnya 😍

      Delete