The Right Person | CREAMENO

Pages

The Right Person

"Asik ya, jadi lu, punya pasangan yang care sama elu." -- kata-kata ini sering gue dapat dari circle in real life gue, tapi satu yang mereka nggak tau.... untuk gue bisa sampai dititik punya pasangan sesuai kriteria gue itu, gue butuh berjalan di atas kerikil tajam terlebih dahulu. Iya, karena pada usia 20 tahunan, gue 'dipaksa' melewati masa dimana gue merasa kesepian saat sohibal-sohibul gue sudah ketemu the one-nya. While gue, masih nggak tau mau tambatkan hati ke mana πŸ˜‚

Bisa dibilang, gue terlambat. Karena gue baru menemukan seseorang yang gue anggap the one ketika usia gue hampir sentuh kepala tiga. Itu pun setelah melalui proses panjang untuk develop perasaan 😁 Yaa karena, nggak semudah itu jatuh cinta, percaya, dan bersedia menjalani hidup dengan dia yang segalanya beda. Apalagi hingga jenjang berikutnya. Haduuh, pertimbangannya panjang, mak. Sepanjang jarak dari Indonesia ke Korea hahahahahaha πŸ€ͺ

🐰🐰🐰

Dulu ada yang bilang, "Jadi orang jangan pilih-pilih, nanti susah dapat jodoh." lalu ada yang iseng bercanda, "Lu sih, terlalu tinggi kriterianya, jadi nggak dapat, kan?" dan jujur, ucapan-ucapan itu sempat menghantui gue seperti mimpi buruk. Membuat gue meragukan value yang gue punya πŸ™ˆ Apa sesulit itu untuk punya pasangan yang satu visi misi dan sesuai harapan? Apa gue harus menurunkan value gue demi dapat pasangan? Tap.... tapi kaaaan, hidup ini panjang. Gue nggak bisa bayangkan hidup puluhan tahun dengan orang yang nggak gue inginkan.

Thank God, gue dikelilingi orang-orang positif, meski ada yang rese, tapi bukan sohibul terdekat gue hehehe. Dan gue akui, gue bisa melalui hari-hari gue saat itu karena gue punya supporting system yang baik 😍 That's why, setiap kali ada yang tanya, bagaimana bisa this and that, salah satu poin yang gue tekankan adalah supporting system karena supporting system yang akan membantu kita berjalan maju. Supporting system pula yang membantu kita saat kita terjatuh.

I know, rite? Gue sangat obsesi dengan sistem, hahahahaha. Tapi buat gue, hidup dengan sistem seperti hidup dengan arah jelas. Kita jadi punya keteraturan, dan kita pun jadi punya alarm agar kelak, jika kita terjun bebas ke jurang, seenggaknya kita nggak sampai meninggal. Paling hanya baret-baret doang. *jurang mana ini kamsudnya?* 🀣 hahaha. Gue pun jadi penasaran, apakah teman-teman sudah punya supporting system sesuai standar teman-teman? 😍

🐰🐰🐰

Trust your value.

Gue nggak akan pernah bosan bahas soal value karena jujur berdasarkan pengalaman gue (yep, everyone has their own experience), value yang membuat gue keep going hingga gue temukan si kesayangan yang kalau boleh jujur, 90% sesuai harapan πŸ˜‚ Karena manusia nggak sempurna, jadi dia pun ada 10% minusnya, dari mulai gayanya yang banyak, suka sok merasa jago gambar, bahkan kadang dia berpikir kalau dia sangat tampan, meski setiap kali (jalan-jalan di Korea dan di depan banyak orang) gue bilang, "Hon, you look like Jo In Seong." dia akan menginjak kaki gue dengan keras. Wk. Tapi in general, dia adalah sosok pelengkap doa yang gue panjatkan πŸ₯³

Dan gue pribadi yakin, ketika kita menjaga value kita dan berusaha upgrade kualitas diri kita ~ pasangan yang Tuhan siapkan untuk kita juga sedang melakukan hal yang sama. Jadi, kalau mau punya pasangan sesuai value, ya kitanya perlu usaha untuk menjaga dan meningkatkan value kita. Jangan diam saja. As simple as that 😁 Dan jangan terlalu fokus ke weakness kita, apalagi persoalan usia. Mau ditangisi juga nggak guna, karena usia kita akan tetap bertambah 🀣

Stay calm.

Nggak perlu panik jika orang-orang di sekitar kita mulai bertemu pasangan hidupnya. Instead of panic, kenapa nggak coba untuk enjoy the moments we have? πŸ˜‰ Sambil bisik-bisik ke mereka yang sudah punya pasangan, "Doakan gue segera menyusul, ya." Sebab menurut gue, nggak ada yang lebih oke daripada kekuatan doa πŸ˜‚ Klise? Bangeeeettt. Tapi yang klise-klise ini yang sering dilupakan. Padahal doa adalah salah satu jalur paling lancar agar bisa didengar Tuhan 😁

Makanya gue nggak pernah putus minta doa, bahkan sampai spesifik biar jadi kenyataan ~ Dulu, gue selalu bilang ke circle gue, "Tolong doakan gue punya pasangan tinggi, gantengggg, sukses, bertanggung jawab lahir dan batin, bisa jadi leader yang baiiiiik, dan bisa menyayangi gue serta menerima kekurangan gue. Bla bla blaa." yang diucap ulang sama mereka, even Simbah, tante-tante, semuanya setiap doa gue kasih tambahan, "Amiiiiin, jangan lupa yang tinggi, Mbah." terus sama Simbah dilanjut, "Iya, yang tinggi." hahahaha nggak tau diri anaknya πŸ€ͺ But too bad, gue lupa minta doa agar gue dikasih pasangan yang nggak kebanyakan gaya πŸ˜‚

On a serious note, selalu percaya bahwa kita akan bertemu pasangan kita diwaktu yang tepat (bukan tepat waktu), dan permasalahan waktu yang tepat alias timing ini pastinya setiap orang berbeda. In the end, kita akan paham, bahwa persoalan mencari pasangan bukan ajang lomba siapa yang duluan 😁 Seperti kata Rita Zahara, "Believe when something is meant to be, it will happen. In God's time. At the right moment. For the best reason. With the right person." 😍

Sebagai penutup, gue tau, beberapa pembaca gue sedang masuk dalam usia galau memikirkan pasangan, sebab ada teman yang sampai bertanya by email. Padahal yang ditanya pun bingung mau jawab apa πŸ™ˆ Nonetheless, though tulisan gue ini nggak membantu banyak, gue berharap tulisan ini bisa encourage teman-teman untuk keep going sampai waktu itu tiba, waktu dimana teman-teman bisa temukan the one versi teman-teman semua πŸ˜‰ Dan sambil berjalan, semoga teman-teman bisa tetap semangat keep up the values dan upgrade kualitas personal 😘

🐰🐰🐰

Tulisan ini merupakan tulisan kolaborasi gue bersama Lia dan mas Anton, bertema Life Taught Me So Far, which is gue kebagian tulis pengalaman related to my thought about relationship, while Lia si peri kecil nan imut tulis pengalaman related to her thought about financial, dan mas Anton yang mirip Brad Pitt tulis pengalaman related to his thought about future 😍

Gue awalnya bingung mau tulis apa, nggak mungkin gue kasih kiat-kiat bina hubungan, secara hubungan gue masih seumur jagung compare to mas Anton dan mba Hes yang sudah mau 20 tahun πŸ™ˆ That's why, gue memutuskan angkat topik ini yang idenya datang dari salah satu email yang gue terima beberapa waktu ke belakang. For the last, terima kasih Lia sudah undang kakak kolaborasi di proyek Lia, senang rasanya jadi bagian dari proyek yang Lia kembangkan πŸ˜‰

Teman-teman bisa langsung meluncur ke blog mas Anton dan Lia, ya πŸ’•

60 comments:

  1. Apa yang Mba Eno omongin disini adalah apa yang aku rasakan sekarang hahaha. Aku juga gak merasa memiliki kriteria tinggi buat pasangan, malah cukup simple tapi menurutku itu sangat penting karena kayak kata Mba Eno, hidup masih panjang dan aku gamau habisin hidup dengan orang yang tidak cocok denganku.

    Cuma memang tekanan itu luar biasa datangnya, bukan saja dari lingkungan yang tiap minggu ada aja yang menikah tapi juga dari keluarga. Aku kurang suka diminta untuk menerima siapa aja yang udah mau serius padahal aku merasa cocok pun tidak, apalagi dengan dalih "nanti juga cocok lama-lama" waaah aku ga bisa berpikir kayak gini. Sempet kepikiran memang apakah aku terlalu pemilih ya tapi ya banyak tapinya jadi hahaha

    Berkat baca postingan ini jadi sadar deh, emang jangan terburu-buru ya Mba apalagi untuk pasangan. Tuhan pasti lagi mempersiapkan yang terbaik. Maaf jadi curhat ya Mba karena aku relate banget sama situasi ini 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesimple apapun kriteria kita, itu adalah bentuk harapan kita akan sosok pendamping hidup yang kita inginkan berjalan menjalani kehidupan bersama kita sampai akhir usia. Jadi nggak apa-apa banget kalau kita terkesan pemilih, karena masa depan kita lho yang dipertaruhkan, including kebahagiaan dan lain sebagainya πŸ™ˆ

      Seandainya pun akan ada banyak kerikil dalam keluarga yang kita bina, namun seenggaknya, jika kita punya pasangan dengan satu visi misi tepat, kita bisa melaluinya bersama-sama 😁

      Stay strong mba Tika, jangan sampai tekanan yang ada membuat mba Tika terluka. Kalau ditanya, langsung minta doanya saja πŸ˜‚ hehehehe. Semoga mba Tika bisa ketemu pasangan yang cocok sama mba, yang bisa mengayomi dan membahagiakan mba, dan yang terpenting bisa jadi partner solid dalam membangun keluarga 😍

      Delete
  2. Mbaaaa gantian saya yg tanya Risa Zahara itu siap? 🀣#kuper

    Iya tekanan utk buru-buru nikah di Asia memang kuat. Jadinya banyak yg tertekan dan atau merenung. Kalau blogger akhirnya menelurkan tulisan bagus2 seperti ini. 😁

    Iya mbak org cuma lihat yang indah saja. Padahal yg nggak indah juga pasti ada tinggal gimana cara pandang kita kan..

    Nice collabs dari Three Museketeer/Charlie's Angels/Three Cabarellos baru nih mas Anton mbak Lia mbak Eno.πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Phebie, kalau kami Charlie's Angels, berarti Kak Anton harus panjangin rambut dulu nih 🀣🀣🀣 atau pakai wig saja?

      Delete
    2. Rita Zahara itu penulis dan chef dari Singapore, mba 🀣

      Tekanan tinggal di Asia memang kuat yah mba, bukan hanya perkara menikah saja, masih ada itu nanti kelanjutannya, hahahaha. Sampai ke tahap, punya anak, anaknya nggak dikasih adik, bla bla πŸ™ˆ

      Langsung ngakak baca Charlie's Angels πŸ˜‚
      Mas Anton jadi siapa nih kira-kira 😁

      Delete
    3. Pakai wig, Lia 🀣

      Delete
    4. Ngg anu...three musketeer kan juga cowo semua, tapi kok ga diprotes ya....XD

      Delete
    5. Iya ugha mba Pheb, fokusnya justru ke Charlie's hahahaha 🀣

      Delete
  3. wulan9:44 AM

    Mba Eno, post kali ini related banget. Tekanan untuk buru-buru nikah, kepentok umur, terlalu pilih-pilih sepertinya sangat kental ya di Asia. Dari dulu aku selalu kesel kalo ditanyain gitu, kalo orang yang seumuran bisa kusautin balik. Kalo yang lebih tua aku diemin aja sambil senyum-senyum masem.
    Sejak tahun kemarin aku mulai santuy sih, kayak kemarin ditanyain sama tante tak jawab aja tahun depan. hahahaha
    Karena makin berumur jadi makin cuek kayaknya aku.:)
    Cuma kalau tentang pilih-pilih menurut ku pribadi ya wajar-wajar aja sih. Kalau aku sih ya ogah salah pilih soalnya kan dijalaninnya seumur hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Wulan, terima kasih sudah membaca πŸ˜†

      Iya mba, sepertinya kultur ini cukup kental di Asia, jadi pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kadang oleh si penanya dianggap wajar tanpa memikirkan efek bagi yang diberi pertanyaan πŸ™ˆ hehehehe.

      Palingan saya dulu setiap ditanya jawabnya, "Doakan, ya." Wk. Pada akhirnya semakin kita bertambah umur, kemungkinan besar kita semakin nggak peduli dengan pertanyaan tersebut, dan kuat mental 🀣

      Agree, kita cari baju saja bisa pilih lama sekali, mba πŸ˜†
      Apalagi pilih pasangan, masa iya asal-asalan πŸ™ˆ

      Delete
  4. Ceritanya Kak Eno tuh bikin flashback, aku 4-5 tahun yang lalu stres dengan ini. Sampai-sampai aku bohon ke diriku sendiri Kak, bohong ke semua orang kalau aku pingin cepet nikah. Padahal nggak.

    Singkatnya, aku keluar dari circle itu Kak. Aku pergi sejauh mungkin dan mencoba mencari circle yang baru, yang sama vibes dan values nya. Akhirnya setelah 3 tahun berjuang, I feel free, aku bisa jadi diriku sendiri. Dan belajar untuk menghargai diriku ketimbang harus berbohong dan menyenangkan orang lain.

    Setelah itu ketemu si partner. Aku g punya doa yang spesifik Kak, cuman belajar dari psikolog dewasa yang aku follow di instagram, aku dapat pencerahan bahwa sebelum membina hubungan, know yourself first, know your needs and boundaries. Jadi pas si partner datang, kita yang sama-sama g sempurna ini selalu diskusi masalah-masalah krusial dalam suatu hubungan. Ngomongin finance, sex, kids, dan nanti mau tinggal di mana. Karena seperti kata kakak sebelumnya, ini bukan buat sebentar, lama! Dan g bisa aku bayangin juga kalau aku harus hidup dengan orang yang g sevisi misi.

    Wow, udah dua cerita yang aku baca dari kolaborasi kalian. Tinggal punyanya Mas Anton ini. Makasih untuk Kak Eno, Lia, dan Mas Anton. Kalian keren banget menghadirkan kolaborasi ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Pipit sampai bohong, berarti tekanannya cukup besar untuk menutup mulut orang-orang yang bertanya. Thank God, mba bisa bertemu circle baru yang lebih mendukung mba πŸ’•

      Memang kalau circle dirasa sudah toxic ada baiknya ke luar, nggak ada salahnya mencari circle baru yang lebih pas. Karena pada akhirnya, kesehatan mental kita yang perlu kita utamakan 😁

      Saya ikut senang mba Pipit bisa menemukan 'diri mba' dan diberkahi pasangan dengan visi misi sama. Which is itu adalah sebuah anugrah, semoga ke depannya, segala sesuatu yang mba rencanakan jadi lebih mudah, karena telah melalui proses pemikiran bijaksana 😍

      Sama-sama mba, terima kasih sudah membaca πŸ˜†

      Delete
  5. Post kali ini sangatlah Riel banget menurut tari dimana dalam hal memilih pasangan itu memang tak boleh buru - buru karena ini satu seumur hidup namun ada dimana saat banyak tetangga yang menjudgement seperti ini : " wah ??? Kamu, sudah berumur kok belum punya pasangan tar jadi perawan tua lho, rasanya kok hati terasa nelangsa tapi ya diem aja dulu karena hinaan bisa juga jadi bumbu obat siapa tahu dari hinaan itu bisa mendapatkan jodoh terbaik dan kehidupan terbaik.


    Oh ya mbak Eno ??? Tari mahu tanya sedikit untuk post writer ya??? Apa sudah dibuka tari ingin kirim artikel tari berupa cerita pribadi dan puisi soalnya itu di post mbak Eno ada link teman - teman blogger??? Mohon penjelasannya terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ke depannya mba Tari nggak sampai merasa nelangsa lagi ya, semangat dalam menghadapi pertanyaan tetangga 😁 Kadang mereka nggak tau pertanyaan mereka bisa menyakiti orang ~

      Post paid writer belum dibuka, baru diisi tulisan undangan. Hehehe, ohya saya nggak terima tulisan puisi mba karena saya nggak paham puisi jadi nggak bisa menilai mana yang layak tayang atau nggak πŸ˜†

      Nanti kalau sudah buka akan saya info di post blog saya πŸ˜‰

      Delete
  6. Lupa doa punya pasangan yang nggak kebanyakan gaya, hahahaha. Mbaa, aku aku ingat semua deh kayaknya pesan mba tentang value ini. well, asik dooong kolaborasi terus, hahaha, biar para blogger jadi ally hehehe. Betewe, kenapa pak Anton bagian thought future mba? apakah ini berdasarkan usia? *ditimpuk pak Anton, haha.

    Ditunggu dong tema selanjutnya apa. Charlie's Angels ini, pak Anton sebagai Boesley-nya hahaha. (sungkem).

    ReplyDelete
    Replies
    1. #timpuk Sovia... hahahaha

      Kontradiksi banget yah.. wakakakak paling tua disuruh bahas masa depan.....

      Hahh.. bukan si Charlie? #lari ke pojokan

      Delete
    2. Iya mba Sovia, padahal doa soal jangan kebanyakan gaya itu cukup krusial, eh saya justru lupa hahahahaha πŸ€ͺ Thank you so much mba sudah ingat apa yang saya tuliskan, jadi terharu saya πŸ€§πŸ’•

      Yang menentukan future itu mas Anton sendiri, mbaaa 🀣 Mungkin iya, mas Anton pilih future berdasarkan usia *eh* *dijitak mas anton* Wk.

      Delete
    3. Mas Anton: Charlie van Houten? 🀣 *benar nggak ya namanya?*

      Delete
  7. Soal menurunkan standar value demi mendapat pasangan itu kesannya kita kayak udah apa aja yaa, Mbaa.. emangnya kita barang jualan yang harus didiskon biar ada yang beli πŸ˜… hahaha

    Menurutku value itu penting untuk menjadi pegangan dalam aspek kehidupan apapun, termasuk dalam hal pasangan hidup. So happy that finally you found each other, Mba Enoo. Karena sebetulnya standar value itu bukan menuntut kesempurnaan kan. Cari pasangan hidup tentu nggak bisa gambling, banyak yang harus dipikirkan dan value itu yang membantu segalanya.

    Semoga tulisan ini bisa membantu manteman yang lagi galau biar nggak galau-galau amat lagi yaa πŸ˜‚ tetap semangat dan jangan lelah membangun diri sendiri sampai suatu hari ketemu si The One ☺️

    Thank youu for writing this piece Mbaa ✨ temanya emang cocok deh dibahas sama Mba Eno πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhuu itu dia, masa iya kita harus diskon demi dapat pasangan 🀣 Jangan~lah, pasangan itu kan kalau bisa satu untuk selamanya, jadi sebisa mungkin pilih sesuai kriteria, lagipula kriteria kita manusiawi. Kecuali berdoa punya pasangan mirip Hyun Bin atau Won Bin πŸ€ͺ

      Betul, kadang ada yang berpikir, dengan punya value itu artinya ingin sesuatu yang sempurna. Padahal bukan itu konteksnya. Value itu ada agar kita punya batasan, punya rem / alarm, dan tau bagaimana mengambil sikap ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan πŸ™ˆ

      Amiiiin, semoga bisa sedikit membantu, meski nggak banyak, tapi seenggaknya pengalaman saya bisa dijadikan POV bahwa it's okay banget cari pasangan dengan hati-hati, meski usia sudah nggak terlalu muda lagi, hehehehe, semoga teman-teman yang sedang dalam proses mencari, bisa bertemu dengan the one versi masing-masing πŸ˜†

      Terima kasih sudah baca, mba. Jadi malu saya πŸ™ˆ

      Delete
  8. Ah temanya menarik nih. Emang timing tiap orang beda-beda. Urusan pasangan emang urusan seumur hidup yang harus dipikirin bener-bener. Orang lain sih tinggal ngomong aja, la ya jalanin kan kita sendiri yak.
    Urusan berdoa yang spesifik ini menarik ya,, semuanya spesifik kecuali bagian waktunya. Kalo di aku, aku tuh nggak sadar dengan harapanku, pas dapet eh kok kaya de javu,, dulu pernah mikirin begini kejadian di dia.
    Kayaknya aku harus lebih "sadar" dengan harapanku sendiri deh biar nggak kaget di kemudian hari.
    Anyway, nice collabs three of you. Aku mau baca punya Lia dan Mas Anton juga ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba Dinilint,

      Orang lain bisanya komentar saja, yang jalani yang susah. Lama cari pasangan kena komentar, ketemu pasangan tapi nggak buat bahagia, kena komentar. Semua pokoknya kena komentar 🀣

      Iya mba benar bangettt, semakin spesifik, kemungkinan besar bisa jadi kenyataan apalagi kalau didoakan secara sungguh sungguh oleh kita. Tinggal bagaimana Tuhan memberi waktunya 😍

      Terima kasih sudah baca tulisan saya mba πŸ˜†
      Selamat membaca tulisan mas Anton dan Lia πŸ’•

      Delete
  9. Saya sudah melewatinya kurang lebih 28 tahun yang lalu, sudah cukup tua ya saya, hehee.. Urusan Jodoh memang sulit di tebak, boleh percaya boleh tidak, buat saya jodoh itu datang sendiri, tanpa di undang atau di cari. Saya yang dulu minder dan jauh dari kata PD, pada akhirnya bisa berjodoh dengan seseorang yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan YME untuk menjadi pasangan hidup saya.

    Jadi kesimpulannya? Silahkan teman-teman menyimpulkan masing-masing ya, hehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, jodoh akan datang sendiri diwaktu yang tepat, jadi sambil menunggu jodoh datang, ada baiknya saling memantaskan diri, dan jika memang yang datang sesuai dengan harapan, why not untuk lanjut ke jenjang berikutnya 😁

      Yang saya maksud di atas: memilih itu wajar, jangan asal terima tanpa memikirkan dengan bijak hanya karena usia yang nggak lagi muda πŸ˜‰

      Kesimpulannya? Silakan teman-teman simpulkan 😁
      By the way, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, mas ~

      Delete
  10. Akupun jatuh bangun untuk nemuin si pak suamik ini mba :). Ga gampang perjuangannya, apalagi dengan statusku yg Janda muda waktu itu :D. Tau sendiri kan image yg udah terpasang di kepala orang2 ttg wanita bercerai di usia muda :p. Aku nemuin tentangan dari banyak orang, termasuk mertuaku, sebelum akhirnya mereka approve hubungan kami ..

    Dibilng salah langkah, yaaa, aku salah langkah banget di saat muda. Darah masih panas, terlalu idealis, ngerasa paling bener, prinsip paling bagus, dan ternyata terjerumus :). Si mantan suami ga sesuai kenyataan pula. Memang yaaa, untuk adek2 yg skr ini cinta mati Ama pasangannya dan berharap nikah suatu saat, tolonglah mata hati dan pikiran logis juga dipake. Jangan buta2 banget.

    Krn aku prnh ngerasain di titik itu. Membela cowo yg ternyata ga patut dibela. Buatku, kesalahan apapun dari seorang pasangan, aku akan maafin, kecuali 1, selingkuh. Mungkin aku bakal maafin, tapi ga akan bisa percaya lagi. Dan kalo pernikahan udah ga ada rasa percaya, untuk apa Dipertahankan. Percuma. Cerai udah paling benar.

    Walopun aku jd hrs menghadapi banyak cemoohan , judgement, dll, Tapi aku yakin decision yg aku pilih udah bener. Juga Krn dukungan ortu yg sangat helpful. Mereka termasuk yg menentang saat aku ngotot nikah. Tapi mereka jg yg mensupport saat aku butuh bantuan supaya bisa lepas dr cowo posesif tapi selingkuh kayak si ex. Papa ga banyak tanya, langsung semua diberesin dan dihandle, supaya proses divorce ga bertele2. Mereka itu support systemku .

    Semoga suatu saat, jika anakku melakukan kesalahan, aku ttp hrs bisa menerima mereka kembali dgn tangan terbuka tanpa banyak tanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kupikir Fanny seharusnya milih niche blog bukan kuliner dan jalan-jalan deh.. hahahaha

      Kayaknya banyak sekali cerita menarik dan pastinya akan inspiratif bagi banyak orang kalau dibagi. Terutama bagian relationship. Hahahaha..

      Saya beberapa kali membaca komentarmu di sana sini kupikir kalau di D'Catqueen ditambah satu kategori lagi soal perjalanan hidupmu bagus tuh.. wakakakak

      Delete
    2. aku juga setuju kalau mbak fany bikin satu tema lagi tentang perjalanan hidupnya. Jangan share nginap hotel dan makanan terus...hahhahaha

      Delete
    3. Salah satu komentar yang paling saya tunggu di tema marriage blog saya, ya Mba Fanny.
      Banyaaaakkkk banget pelajaran dan semangat yang tertular ke saya dari ceritanya.

      Dan saya jadi sedikit banyak menyelami karakter perempuan imut yang nggak pernah bertumbuh tua ini, wakakakaka.

      Mba Fanny itu, bucin, tapi punya prinsip.
      Kereeenn to the max banget ❤❤

      Delete
    4. Mba Fanny, as usual selalu suka apa yang mba Fanny bagikan di kolom komentar 😍 Terima kasih untuk life story-nya mba, pengalaman mba tentunya akan membantu banyak teman yang masih bingung akan masa depannya, agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan πŸ’•

      By the way, saya yakin mba Fanny bisa jadi orang tua yang baik dan mengayomi untuk anak-anak mba, semoga kelak mereka tau bahwa mba dan pasangan akan selalu ada untuk mereka 😍

      Delete
    5. Setuju sama mas Anton, mas Rivai dan mba Rey πŸ˜†

      Delete
    6. Kalo aku tulis di blog, justru ga menarik ntr hahahaha. Ibarat ngomong, aku LBH lancar nulis ttg traveling dan makanan drpd perjalanan hidup yg kacau2 itu wkwkwkwkwkwk. Palingan kalo ada temen yg curhat, dan kayaknya nyerempet2 ceritaku yg dulu, baru deh aku ksh nasehat :D. Itu jg kalo diminta hahahaha

      Delete
    7. Berarti lebih lancar berbagi di kolom komentar ya, mba πŸ˜† Meski begitu saya senang karena mba Fanny sering berbagi di blog saya πŸ™ˆ

      It means a lot untuk saya dan teman-teman lainnya πŸ˜πŸ’•

      Delete
  11. Kak Eno, terima kasih banyak karena udah mau berkolaborasi denganku dan Kak Anton ❤️ suatu pengalaman berharga bisa kolaborasi dengan Kakak-kakak 😍

    Anyway, ternyata banyak yang relate dengan tulisan Kakak! Aku juga relate banget dong, Kak πŸ˜‚ di saat teman-teman udah pada menikah/akan segera menikah, kok aku jadi kena dikejar-kejar juga. Akhirnya, aku juga sama seperti Kak Pipit, keluar dari circle itu dan punya circle baru yang pembahasan dan pemikirannya nggak melulu soal nikah. Di circle ini, aku lebih nyaman terus ternyata keputusanku mendelete account IG juga salah satu hal yang aku syukuri soalnya jadi nggak stress juga lihat update-an soal menikah dll mulu tiap hari πŸ˜‚. Aku percaya waktu Tuhan yang terbaik, jadi diburu-buru pun kalau belum waktuNya, mau gimana wkwkwk *jadi ikutan curhat*

    Thank you for sharing, Kak Eno! Memang topik relationship tuh pualing cocok sama Kakak 😍
    Semoga kita bisa ada collab lain kedepannya 🀭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liaaaa, terima kasih sudah ajak kakak colab 😍
      Sebuah kebanggaan untuk kakak bisa colab sama Lia πŸ˜†

      Hehehehe, memang punya supporting system yang bagus itu perlu, jadi kalau dirasa supporting system kita sudah nggak oke, nggak ada salahnya untuk cari supporting system baru, agar hidup kita lebih maju 😁

      No worries Lia, enjoy the moments you have now, sambil menunggu waktu yang tepat yang disiapkan Tuhan untuk Lia dan si prikitiuuuw 😍

      Amiiiin, kakak selalu siap sedia kapanpun Lia undang 😜

      Delete
  12. Mak aku pengen curhat hahaha πŸ˜‚..

    Mba tau aja yang kami rasa. Saya sengaja memggunakan kata kami. Biar yang baca gak langsung ngeh kalau yang diceritakan mba sedang saya alami. πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh mas, hahahaaha bisa lewat email atau kolom komentar 🀣 Kalau mau nggak di-publish cukup info di depannya, "Jangan dipublish." 😁

      Nggak apa-apa lho sedang mengalami hal ini, sangat wajar terjadi, yang terpenting mas Ishaq tau apa yang mas inginkan πŸ˜‰ Semangat, mas!

      Delete
  13. Setujuuu, value itu penting. Kadang emang orang sekitar seolah2 ngerti banget diri kita. Mulai dari permasalahin usia, standar, bahkan mungkin karir dan pendidikan.

    Saya aku lanjutin kuliah magister dan belom punya pacar, orang2 bahkan keluarga pada komen nanti susah dapat pacar karena kepinteran 🀦 Masa kalau mau punya pacar, kita nya ga boleh pinter sih 🀦

    Tanpa di duga malah dapat pasangan di waktu yg tepat. Ga pernah kebayang saat itu bisa ketemu Koko yg emang kebetulan teman satu kantor juga. Ga disangka jg ga butuh waktu lama ternyata berjodoh.

    Bahkan di usia dia saat itu yg blom married, dia suka dapat komentar seperti yg Mba Eno alami. Katanya orang2 ke Si Koko, ga usah pasang standar tinggi2 tentang pasangan. Ntar ga laku2 πŸ˜‚ hadeehh kadang2 omongan orang yaa, bukan doain yg positif malah ngasih sugesti negatif.

    Setuju banget kalimat Mba Eno, "di waktu yg tepat (bukan tepat waktu)."

    Tentang supporting system itu emang bener bangeeet. Aku bisa mulai bangkit dari dukacita jg karena supporting system yg mendukung ke arah positif. Bukan cuma supporting system di dunia nyata, tapi juga di dunia maya (Blog). Mba Eno juga jadi salah satu supporting system aku di dunia maya. Makasihhh yaaa Mba atas kebersamaan selama ini. Semoga kebersamaan kita langgeng terus yaaa 😁

    Makasihh atas tulisan ini 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kadang omongan orang bukannya kasih support positif, justru seperti disumpah nggak laku dan lain sebagainya. KZL kadang saya πŸ™ˆ

      Thankfully, mba dan Koko bisa overcome everything dan ketemu satu sama lain diwaktu yang tepat yang telah Tuhan siapkan 😍 Bukti nyata, meski punya kriteria tinggi, tetap bisa dapat pasangan. Contohnya Koko yang bertemu mba Devina, high quality woman πŸ˜†πŸ’•

      Dan betul yang mba Devina bilang, senangnya kalau kita dikelilingi supporting system yang baik, kita beruntung bisa punya supporting system tambahan dari blog berisi teman-teman keren mba πŸ₯³

      Semoga kita bisa saling support terus dalam kebaikan 😍
      Terima kasih sudah baca tulisan saya, mba Dev πŸ’•

      Delete
  14. Maaf kak, tapi aku ga tahan pengen nulis
    "the left person" setelah baca judul tulisannya. maaf ya, ini becanda kok.. :p

    *abaikan
    *iyah, aku segaring itu kok

    tulisan ini persis yang selalu 'kunasehatkan' ke temen-temen kuliah dulu kalo curhat soal pasangan hidup.

    selalu dua yang suka kukatakan
    "semua akan indah pada waktunya, dan waktunya itu kita ga tahu, tapi yang maha berencana itu rencananya tak terduga indahnya".
    kedua:
    "meanwhile, selama kamu belum mendapatkan apa yang kamu idamkan saat ini, kenapa ga fokus dengan pengembangan diri biar kualitas kamu makin tinggi dan mungkin jadi banyak yg justru ngejar kamu, nah disitu deh tinggal milih, ya gak? ya engga lah...ga mungkin, soalnya lu kerjanya galau mulu dan ga ngelakuin apa-apa"
    dan syukurlah, sekarang kedua temen yg paling sering curhat udah menemukan tambatan harinya, yg satu udah punya 2 anak, yang satu lg akhir tahun ini nikahnya.

    It's all about timing,

    Dan apakah ada timing juga buatku biar bisa traveling keliling dunia, memotret dan menulis?
    in my age right now, i'm not so sure.. hmmm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ADYYYY GARING BANGETTT SIH WK! 🀣😜

      Betul Dy, it's all about timing, jadi sambil menunggu waktu itu tiba, ada baiknya teman-teman yang masih sendiri fokus dalam upgrade kualitas diri, hhehehehe. Nggak ada yang sia-sia kok dengan apa yang kita lakukan untuk diri kita, terlepas ada pasangan ataupun nggak. Toh kalau kita tambah berkualitas, kita pula yang senang πŸ™ˆ

      Thank God, teman-teman Ady akhirnya bisa ketemu the one versi mereka, bisa jadi mereka survive sedikit banyak karena support Ady juga 😍

      No worries Dy, akan ada timingnya, sambil menunggu saat itu tiba, yuk fokus tingkatkan kualitas menulis dan memotret Ady agar kesempatan itu bisa datang. Mana tau ada agency lihat blog Ady, kan? πŸ˜†

      Delete
  15. aku sering banget dapet omongan "kamu sih terlalu pilih pilih", huwaaaa
    dikata nyari jodoh tinggal nyomot di pinggir jalan
    kalau pas ga mood trus dibilangi gini, biasanya aku cuekin hahahaha
    justru kalau sahabat sahabat aku nggak akan banyak omong soal beginian, karena kita sendiri yang tau kapan waktu yang tepat untuk "meresmikan" ke tingkat selanjutnya
    setuju sama mbak eno, sekarang tingkatin dulu value diri sendiri, kalau value kita bagus, orang akan liat ke kita "wowww" gitu dan mungkin nggak berani buat nyepelehin
    iya betul banget soal usia mba, nggak ada guna ditangisi ya, pasti tiap taun angkanya juga bertambah. Kadang orang fokus liat angka, ooohh sudah masuk usia kepala 3, udah waktunya begini begitu. Orang lain yang ngomong enteng, padahal yang menjalani hidup sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Mba Inun, kapan nih?"
      "Lah situ doainnya kapan loh?"
      "Lah kenapa malah balik nanya doa?"
      "Iya, karena situ yang salah, karena jarang doain saya, akhirnya saya belum kunjung juga, ini semua salah situ, cepat tanggung jawab, bayarin saya tiket PP liat Aurora, cepat!"

      Salah satu percakapan paling tepat berhadiah traveling keceh, wakakakakaka 🀣🀣🀣🀣

      Delete
    2. Duuuuh hari gini kepala tiga pun terhitung muda mbaaa, apalagi di Koriya yang rentang usianya panjang, mereka bilang menikah usia 50 tahun berarti masih ada 50 tahun hidup dengan satu orang yang sama 🀣 Kocak nggak tuh hahahahahaha.

      Semoga semakin ke sini, semakin banyak yang terbuka kalau goals masing-masing orang nggak selalu urusan pernikahan. Ada yang goalsnya bahagiakan ortu dulu, yalan-yalan keliling dunia dulu, karir dulu, this and that. Nggak semua orang punya goals sama kayak yang bertanya πŸ™ˆ

      Delete
    3. Mba Rey: 🀣🀣🀣🀣🀣🀣

      Delete
  16. Do'a yang bagus Eno. Keinginan tiap orang berbeda-beda dan walau bagi banyak orang mungkin lucu meminta kepada Tuhan pasangan yang tinggi, ganteng, kaya. Menurut saya sih sangat wajar karena memang Tuhan tempatnya meminta, apapun.

    Cuma Eno kayaknya juga lupa minta pasangan yang jago gambar seperti Basoeki Abdullah (hahahahaha)..

    Soal perkawinan dan usia, kalau saya sih cukup satu kata EGP.. soalnya hidup-hidup gue, kok elu yang ngatur. Saya menikah usia 30 lebih dan si Yayang usia 29 lebih. Banyak teman saya yang sudah menikah 4-5 tahun sebelumnya, dan tidak sedikit juga yang bertanya, "Kapan mo nikah Ton?". Biasanya saya jawab dengan senyum saja..

    Sama sekali tidak perlu menurunkan "value" kita hanya sekedar untuk menyenangkan hati orang. Jalani saja yang mau kita jalani, tempuh jalan kita sendiri. Omongan orang lain mah anggap saja angin lalu. Nggak guna juga untuk dipikirkan.

    Nice writing Eno, as usual

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, kalau berdoa jangan tanggung-tanggung, kan memang Tuhan itu tempat kita meminta, bukan meminta sama manusia 🀣 hahahaha. Syukur-syukur dikabulkan, why not secara spesifik, kan?

      Nah iya hahahahaha, kenapa saya nggak kepikiran untuk berdoa soal gambar yah, jujur nggak pernah terbersit di benak kalau si kesayangan punya desire untuk jadi penggambar atau seniman πŸ€ͺ Wk.

      Hihihihihi sama dong kita mas, memang paling gampang untuk EGP daripada dipikirkan nggak ada gunanya. Anggap saja mereka bertanya karena basa basi dan nggak tau apa yang bisa ditanyakan πŸ˜‚ hehehe. Terima kasih sudah mau bercolab sama Lia dan saya mas, bangga rasanya πŸ™ˆ

      Delete
  17. Aku selalu kesal Mba Enoo kalau ada yang bilang "kamu sih terlalu pilih-pilih" like hellooo beli buah aja kita pilih-pilih kaan? Beli baju atau sepatu juga pasti kita pilih-pilih mana yang cocok dan pas di hati kita? Masa soal pasangan ga boleh pilih-pilih?

    Setuju banget we should enjoy every moments that we have, instead of mikirin apa kata orang-orang dan sedih/stres setiap kali lihat berita ada teman yang udah menemukan pasangan. Aku rasa aku udah melewati masa-masa galau itu ahaha, sekarang ini lebih ke menyenangkan diri dan keluarga aja. Kayak kata Mba Eno, enjoy the moment. Kalau memang ada jodoh buatku, yaa pasti nanti akan diketemukan juga sama Tuhan kan?

    Btw aku ngakak bagian Mba Eno dapat pasangan yang banyak gaya dan disebut berkali-kali πŸ˜‚πŸ˜‚ mungkin itu yang bikin hidup Mba Eno dan kesayangan jadi lebih berwarna hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ituuuu dia mba, kok yang tanya nggak berpikir ke sana, padahal saya yakin yang tanya saat pilih sayur juga dipilih yang paling bagus sayurnya πŸ˜‚

      Betuuul mba Eya, nggak perlu pusingkan pertanyaan orang, dan lebih fokus enjoy waktu yang dipunya bersama keluarga dan teman-teman tercinta. Nanti kalau sudah waktunya, akan datang sendiri orang yang sesuai dengan apa yang mba harapkan, tentunya dibantu oleh doa orang-orang di sekitar mba 😍

      Wk, iya dia banyak banget gayanya mba, nggak kelihatan saja sayangnya di blog hahahahaha. Aslinya pecicilan, banyak tingkah deh. KZL 🀣

      Delete
  18. mbak eno yang bilang minta doa sama simbahnya, aku jadi ingat kejadian sekitar 2 tahun yang lalu. Bukan dari simbahku, karena simbahku sudah meninggal semua. Ini saat halalbihalal di kampung. Ada salah seorang nenek yang sudah naik haji. Seperti orang tua lainnya, beliau juga menanyakan istriku mana? soalnya beliau melihat teman-temanku di kampung sudah bawa pasangan (suami-istri) mereka. aku pas salaman (sambil cium tangan) ditanyain seperti itu hanya menjawab sambil ketawa dan belum punya. Kemudian minta didoakan oleh beliau agar segera ketemu jodoh. tetangga depan rumah, jadi tahu aktivitas tetangganya. Batinnya, ini anak kok sudah ga pernah bawa pacarnya lagi ke rumah.. Aku masih ingat sekali momen itu...hahhahaaa

    Cerita yang menarik mbak eno.
    sungguh relate dengan apa yang terjadi dengan kami. Aku dan banyak orang lainnya. hahahhaa
    sudah jalani saja, ga usah lari. Khan hidup adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah pelarin...hahhahaha :D

    Selamat hari kamis mbak Eno :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mas Rivai 😍

      Doa simbah biasanya mujarab mas, soalnya simbah kalau berdoa khusyu banget hihihi makanya saya hobi minta doa simbah dulunya, tentu nggak lupa doa orang tua dan para tante om. Daripada bawel tanya, kapan kapan kapan, mending minta doa πŸ˜‚ Mana dituruti pula apa yang saya inginkan, betul-betul diucap dengan jelas, mungkin karena itu saya ketemu si kesayangan πŸ€ͺ

      Saya rasa, doa dari simbah tetangga mas Rivai itu one day akan jadi kenyataan, diwaktu yang tepat. Tinggal tunggu kapannya 😍 hihihi. Semangat mas, enjoy the moments, jangan lari, hidup adalah sebuah perjalanan *mengutip kata mas Rivai* 🀣

      Delete
  19. Saya juga bukan tipe yang ngoyo harus bisa ketemu pasangan. Selama belum ketemu, yah saya santai saja. Mungkin karena usia masih aman juga, karena saya yakin, ketakutan akan tua dan mati sendiri pasti ada. Saya berkaca pada Paman saya, ia hidup sendiri dan hanya bergantung pada keluarga yang tinggal serumah. Saya tidak ingin mengatakan bahwa punya pasangan adalah hidup yang ideal. Dalam satu mata kuliah, seorang dosen pernah bertanya "apakah pernikahan adalah proses ketemunya dua insan atau persiapan untuk menjadi budak?"

    Tentu saja, itu pernyataan dari pertanyaan yang bikin saya merenung dan merasa senyum-senyum sendiri. Ini masalah preferensi saja. Saya juga bukan anti kemapanan. Tapi itulah yang terjadi, kalau semisal secara tidak langsung bisa bertemu yang kata kak Eno "the one" saya tidak memungkiri bahwa saya akan mencoba. Satu yang selalu saya ingat dan memang selalu kak Eno ingatkan: value

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wehehehe, iya mas Rahul mungkin karena usianya masih sangat muda, belum ada yang sibuk tanya, kapan mas Rahul menikah πŸ™ˆ Semoga meski nanti usia mas bertambah, nggak ada yang iseng tanya begitu yaaa. Hehe, kalaupun ada, semoga mas tau jawabannya πŸ˜‚

      Saya yakin, mas Rahul akan ketemu the one versi mas 😍
      Siapa tau sosok yang selama ini nggak didugaaaa πŸ˜†

      Delete
  20. wah, bisa pas banget ya sama obrolan aku sama temen-temen belakangan haha
    jujur bangeeet karena kk aku udah nikah, keluarga pada sering nanyain aku kapan?
    padal mama aja keknya santai-santai aja. kenapa tante dan om yang bingung yak 🀣
    dan karena itu nggak bisa dipungkiri aku jadi sempet insecure juga hehe

    mirip banget kayak mbak Eno aku pun sempet mikir, "Apa standarku ketinggian ya?"
    tapi aku pun percaya kalau setiap doa pasti dikabulkan di waktu yang tepat
    sekarang belum giliranku aja hehe 🌻

    thank you banget mbak Eno tulisannyaaaaa suppa luuvv ❣️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya memang om tante lebih heboh tanya-tanya daripada orang tua, hahahaha, dan orang tua jadi ikutan heboh karena si om tante πŸ˜‚

      Semoga mba Dea nggak sampai insecure lagi ke depannya, dan percaya bahwa apa yang mba inginkan itu masih wajar, namapun ingin yang terbaik selama kita berusaha yang terbaik pula 😍

      Terima kasih sudah membaca, mba πŸ™ˆ

      Delete
  21. Udah nulis panjang, kagak sengaja kerefresh 😒

    Etdaaah, lupa deh tadi nulis apa.

    Selain ngakak karena shock ada Brad Pitt nyempil di tulisan ini. saya terharu baca ini.

    Btw, support system itu luar biasa penting ya.
    Apa gunanya menikah, kalau kita jatuh, jatuh sendiri, biar kata cuman baret-baret, tapi bekasnya abadi dong itu.

    Beda kalau ada yang megangin, yang menemani kesembuhan baret-baretnya.
    Bakal lebih cepat sembuh tak berbekas.

    Eh bentar, kenapa juga Eno main di tepi jurang sih!
    Dibilangin kok!
    Jatuh kan? bahahahahaha 🀣🀣🀣


    Btw, saya tuh salut ama teman-teman, di circle Eno dkk ini.
    Di mana, kalau nulis tuh simple, tapi ngena banget, rasanya tembus ke hati banget.

    Apa karena rajin baca ya? hehehe.

    Oh ya, ngomongin orang nanya kapan kawen, saya juga dulu sering minta didoain gitu.
    Bukan minta sih, nodong.
    Tapi paling sering sih waktu ditanya kapan punya anak lagi, ckckckck.

    Kalau ditanya kapan nikah, saya selalu bilang,
    "Besok dong pastinya, nggak mungkin hari ini, soalnya KUA udah penuh" wakakakka.

    Kalau punya anak kedua nih, beneran ya ribut juga kuping tiap ketemu orang itu yang ditanyain.
    Ya udah, saya nodong aja minya doa, dan terakhir kali saya mudik, ditanya ama tante-tante saya, saya paksa mereka doain yang kenceng, eh pulangnya, nggak lama kemudia saya hamil, hahaha.

    bener ya kekuatan doa.

    Daripada sebal ditanya mulu, mending nodong yang nanya buat doain, di depan kita sekalian, biar yang amiinin banyak hahahaha

    Anyway, suka tulisannya say, thanks udah berbagi hal-hal manis yang bikin hati menghangat gini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan miripnya bisa jadi kaki atau tangannya yang mirip Rey.. wkwkwkwkw

      Delete
    2. Hahahaha nggak terima ya mba Rey, mas Anton mirip Brad Pitt 🀣

      Selalu ketawa baca komentar mba Rey, sudah diingatkan jangan main ke jurang, eh jatuh juga akhirnya. Bagaimana iniiiih hahahaha. Eniho setuju sama mba, biar baret-baret kalau sendirian ya tetap sakit, makanya jika ada yang menemani dan punya supporting system positif, maka luka bisa cepat terobati πŸ˜†

      Iya mba, teman-teman bloggers termasuk mba Rey, semua tulisannya selalu menarik untuk dibaca, even komentarnya bagus semua 😍 Selalu salut dan suka bacanya, sangat menikmatiii!

      Wk, betulkan, daripada pusing ditanya, better sekali todong minta doa ke yang tanya, siapa tau semakin banyak yang doa, semakin cepat jadi kenyataan. Hahahahaha, terbukti mba Rey betulan hamil setelahnya, mungkin yang doa se-RT tuh mba πŸ˜‚

      Terima kasih banyak mba sudah baca, jadi malu saya πŸ™ˆ

      Delete
    3. Mas Anton: hahahaha iya mas tangan or kakinya 🀣

      Delete
  22. memang mengubah mindset soal jodoh ini agak sulit, ya.. jalani aja dulu, ntar juga cinta.. hedeeh.. 😌 begitu juga soal punya anak.. "kawin lama kok belum punya momongan?" laah, emangnya punya anak ngga mikirin biaya? mikirin sekolah.. "ntar kan ada rejekinya.." laaa, kan justru ini lagi dipikirin caranya nyari rejekinya... usul doang kagak mau nyumbang.. 😌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahaha, hadehhhh 🀣

      Dikira rejekinya terjun bebas dari langit mas πŸ˜‚ Kocak banget baca komentar mas Zam, memang iya sih kadang orang komen dan usul doang jagonya, giliran diminta sumbang pada kabur semua πŸ˜…

      Padahal yang dikomentari mungkin lagi kerja keras kumpul uang agar bisa kasih yang terbaik untuk calon anak, karena sadar rejeki itu meski 'sudah ada dan disiapkan' perlu dijemput dengan usaha πŸ™ˆ

      Delete