100 Million | CREAMENO

Pages

100 Million

Hari ini, gue dapat pertanyaan dari mas Rahul, yang diajukan melalui salah satu kolom komentar dan gue berniat memasukkannya ke dalam mini forum VIKING label 😁 So, the question is, jika gue punya uang 100 juta, apakah gue akan pakai uangnya untuk liburan atau ditabung saja~? Dan apa alasannya? 😆 Well, kalau uang yang gue punya exactly 100 juta di rekening gue (tanpa asset, saham, dan embel-embel lainnya), maka jawaban gue tentu akan ditabung saja 🙈

Mungkin teman-teman pernah dengar petuah dari para pakar keuangan di luar sana, yang isinya, "Beli barang yang kita inginkan apabila kita punya uang menganggur (nggak terpakai) 10x lipat dari harga barang itu (kecuali barang itu kita butuh, dan kita yakin saat membelinya)." -- dan prinsip ini yang gue dan si kesayangan gunakan. Contoh, gue mau beli Iphone X (pada saat rilis) seharga 20 juta, means gue harus punya uang menganggur 200 juta, dan ketika gue beli Macbook Pro Touch Bar 2018 seharga 40 juta, gue pakai prinsip serupa. Dengan begitu gue nggak was-was habis uang.

Nah, jika pertanyaannya tabungan gue hanya 100 juta, gue sepertinya nggak akan kepikiran untuk jalan-jalan (ini from my point of view, setiap orang punya prioritas beda). Mungkin gue akan pakai sedikit untuk rewards diri sendiri setelah bekerja keras, tapi itu nggak akan lebih dari sejuta, bisa untuk makan sama si kesayangan atau belanja sesuatu yang diinginkan, sisanya gue simpan 😆 By the way, gue sama si kesayangan dulu punya goals kumpulkan dana pensiun agar kelak saat kami nggak punya tenaga untuk kerja, dana pensiun kami cukup untuk hidup hingga akhir usia 🙈

Cara hitung dana pensiun kami sederhana, yaitu 👉 pengeluaran bulanan dikali perkiraan rentang waktu hidup setelah pensiun, kemudian, dikali lagi 100% (kemungkinan inflasi ke-depan). Semisal pengeluaran bulanan gue 10 juta, dan perkiraan rentang waktu hidup gue setelah pensiun adalah 20 tahun (anggap pensiun usia 60 tahun, dan meninggal usia 80 tahun), berarti gue butuh kurang lebih 5 milyar untuk dana pensiun, sesuai life style gue sekarang. Dari angka yang didapat itu~lah, gue dan si kesayangan bekerja mengumpulkannya. Itu baru dana pensiun, belum dana pendidikan anak (jika ada), dana kesehatan (though kami ada asuransi, tapi tetap butuh pegangan tambahan), dan dana-dana lainnya dari rumah, living cost, kendaraan, gaji staff, etc (ini contoh, ya) 😁

In conclusion, uang 100 juta jadi terlihat nggak banyak, dan akan sayang untuk dipakai liburan 😅 Kecuali liburan pergi ke mall, atau makan di luar, kalau itu gue masih oke. Namun, gue nggak akan pergi ke luar Indonesia. Masih jauuh itu, jika uang tabungan baru 100 juta 🙈 However, ini semua akan kembali pada prioritas kita ~ sebab ada pula yang meski tabungannya 10 juta, tapi suka pergi liburan, dan itu nggak masalah, sebab mungkin prioritasnya mencari pengalaman 😆

Gue pribadi semakin ke sini semakin merasa bahwa life is all about priority, apapun diputuskan berdasarkan prioritas even urusan uang ~ 😁 Dan gue sama si kesayangan, kebetulan prioritasnya adalah peaceful life, hidup cukup tanpa kekurangan. Jadi, kami kerja keras untuk ke arah sana, baru setelah tercapai, bisa selonjoran dan senang-senang dengan pergi liburan 😂 Fyi, kami bukan penganut YOLO atau FOMO, jadi kami nggak masalah ketinggalan hype yang penting uang aman, sebab keterusan ikut hype bisa boncos, kalau sudah begitu, siapa yang tanggung jawab ðŸĪŠ

🐰🐰🐰

Eniho, si kesayangan nggak lahir dengan privilege, dia kerja dari nol, dan orang tua dia karyawan biasa. Sejak kuliah, dia tau apa mimpi dia dan dia rangkai dengan jelas, nggak lupa dia pelajari cara apa yang bisa dia tempuh untuk mendapatkannya. Yep, ketika kita lahir tanpa privilege (especially finansial / koneksi), kita butuh extra efforts to seek for opportunities dan nggak habiskan waktu blame keadaan. Though, orang tua si kesayangan mampu menyekolahkan dia sampai sarjana, tapi dia nggak lantas ongkang-ongkang kaki diwaktu senggang yang dia punya.

Mungkin karena opportunity untuk part time di Korea terbuka lebar, dia jadi punya chance kerja part time saat kuliah. Dan setiap kali ada kesempatan bagus related to karir masa depan, dia akan kejar, salah satunya dengan terpilih oleh universitasnya untuk pergi ke USA ~ Dia beruntung (tentu ditambah usaha dan kerja keras), karena itu, dia bisa masuk IT company bahkan sebelum dia lulus kuliah. And one thing yang gue kagumi dari dia adalah, dia punya clear goals -- Dari awal kerja, dia buat some important goals, salah satunya tabungan 100 juta won (1,3 milyar rupiah) dalam waktu lima tahun kerja, which is, successfully dia dapat pada tahun ketiga (diusia yang masih muda).

It's pure tabungan dari gaji dia, jadi gue yakin, teman-teman yang baru mulai, tetap punya chance meraih 100 juta rupiah pertama setelah beberapa tahun kerja 😍 Semua, kembali pada prioritas teman-teman dan cara teman-teman kelola uang 😁 Dan cara si kesayangan adalah dengan nggak pakai uangnya untuk membeli sesuatu yang nggak dia butuhkan 🙈 Literally dia hanya pakai uang untuk bayar subway (semacam MRT), phone billing plus makan hahahaha.

Sepatu, hape, tas, barang konsumtif lainnya baru dia beli jika yang satu sudah rusak. Dan bajunya pun nggak banyak. Gue ingat, pernah suatu hari gue sadari sepatu dia sudah agak miring, macam rusak solnya, dan gue berinisiatif belikan dia sepatu tiga pasang ~ Maksud gue untuk gonta-ganti, ada warna abu, biru dan cokelat. And you know what? Yang abu masih dia pakai sampai sekarang, while yang biru dan cokelat disimpan padahal sudah bertahun-tahun lamanya. Minta diloak 😂

🐰🐰🐰

Ohya, bicara soal seeking for an opportunity, gue appreciate orang-orang yang take an action, but at the same time tau kualitas yang dipunya. Jadi nggak 'kosong' ketika menawarkan skill-nya. If you know you are good at something, you should try to upgrade yourself, jadi nilai 'jual' tinggi 😉 Contoh again, si kesayangan punya skill A, dia tau skill dia punya nilai jual that's why dia upgrade skill dia, dan pada akhir tahun dia datang ke bosnya untuk beri penawaran nilai jual tentu dengan hasil yang sudah dia dapatkan. He has something to offer, dari situ, bosnya akan lihat kualitas dia dan nggak segan menaikkan gajinya, karena bosnya tau dia dibutuhkan perusahaan.

Begitu pula dengan teman-teman yang suka menulis, I bet all bloggers love to write, dan gue kaget ketika ada teman yang sangat percaya diri datang menawarkan hasil karyanya. Dia tau kualitas dia, dan dia yakin dengan hasil karyanya. Mungkin prinsip nothing to lose dia pegang, yang terpenting, bukan sesuatu yang 'kosong' yang dia tawarkan. And suprisingly, gue suka. Yep, ini yang gue sebut Nunchi, bisa baca keadaan, bisa lihat opportunity yang ada di depan mata. Dia tau apa yang gue suka, dia tau selera gue, dia tawarkan itu ke gue, perkara pembaca lain suka atau nggak itu nggak jadi soal. Begitu pula dengan si kesayangan, dia tau apa yang bossnya suka, dan dia tau harga jual dia. Ssstt, teman ini tulisannya belum ke luar di blog gue, jadi jangan tebak-tebak 😂

Back to topic, mungkin seperti itu jawaban gue jika gue hanya punya uang 100 juta 😁 Secara garis besar, gue nggak akan pakai untuk liburan. Tentu gue akan tetap bersenang-senang, tapi skalanya akan disesuaikan dengan jumlah uang, dan untuk 100 juta, maka gue akan pilih bersenang-senang dengan makan di luar atau jalan ke mall 🙈 On a side note, ini pendapat personal, dan gue paham kita punya prioritas, kebutuhan hidup, cara menikmati waktu dan uang yang berbeda-beda 😍

Kalau teman-teman bagaimana? Apa yang teman-teman lakukan jika punya 100 juta? 😁

42 comments:

  1. Kalo punya uang 100jt dingin?
    antara:
    setengahnya jadiin modal bisnis atau investasikan ke usaha temen yg kira-kira bakal berkembang *ala-ala jpyeong, haha
    atau beli tanah aja, karena kyknya harga tanah naik terus ya...
    *again ini komentar dangkalnya aku aja

    pokoknya pengen uang itu ga diem aja di tabungan, tapi tumbuh :D
    *otak bisnisnya udah ada belum kak Eno? atau masih belum tepat?

    *buat pak Anton kali sekiranya gatel pengen komentarin komentar saya, silakan aja, feel free (ya elaah... pede amat sih)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya nggak tepat kalau nggak ada ilmunya, hahaha, bukan untung yang ada buntung entar 😂 Kadang ada prinsip, uang diam lebih baik kalau kita nggak punya ilmu dalam memutar uang yang kita punya. Jadi semisal ingin uang tersebut tumbuh, hal pertama yang perlu dilakukan adalah belajar dulu, jangan main asal invest atau buka usaha. Tanpa basic, bisa jadi 0 rupiah nanti hasil akhirnya. Nggak mau, kan? 😅

      By the way, tanah itu nggak liquid, meski harga naik terus, jualnya nggak mudah, kadang karena keadaan jadinya banting harga. Saya pribadi jika hanya punya uang 100 juta nggak akan invest ke tanah. Kalau ke rumah masih oke, semisal mau berhenti kontrak, tapi kalau tanah masih nanti dulu (itu saya, tentu Ady mungkin punya sudut pandang beda) 🙈 Eniho, mas Anton jangan dipancing, Dy ðŸĪĢ hahaha.

      Delete
    2. Nah maka dari itu kak, aku berarti termasuk orang yang butuh banget insight bisnis dari yg emang ada pengalaman real kayak kak Eno,
      untung ini baru komen, coba kalo udah dilakukan.
      iya sih bikin kesalahan itu jadinya bikin kita belajar, tapi kalo bisa belajar dulu kan bisa diminimalisir ya kegagalannya :D
      *ditunggu postingan soal bisnisnya, hehehehe...

      Duh, aku jg nyesel kak Eno, yaudah kepalang basah, setelah ini mah mau diem aja akunya -,,-

      Delete
    3. Saya cuma bisa kasih insight based on pengalaman saya, bisa jadi nggak sesuai dengan Ady, jadi kalaupun saya say something, jangan jadikan itu rujukan, tapi jadikan sebagai bahan komparasi dan pertimbangan saja, ya 😁

      Gagal dan salah itu bagian dari belajar, betul banget, namanya sekolah kehidupan pasti ada biaya yang perlu dibayar, tapi kalau bisa dipersiapkan agar biayanya lebih 'murah', why not kan? 😆 hehehehe. Saya pribadi masih perlu belajar Dy, jadi kita belajar sama-sama, saya akan belajar dari komentar yang teman-teman berikan 😍

      Hahahaha, mas Anton nggak gigit kok Ady 😁

      Delete
  2. Salut banget sama si kesayangannya mba Eno hehehe. Kalo saya sih jika punya uang 100 juta yang paling utama mau buat modal usaha kecil kecilan yang lagi dirintis sekarang ini, sama sisanya buat ditabung aja. Saya juga ngga terlalu suka jalan-jalan kalo ngga harus harus banget.

    Entah kenapa agak berasa gimana gitu kalo ditengah keramaian hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Ilham, hola, long time no see 😁 Lagi buat usaha apa, nih? Semoga lancar mas usahanya, hehehehe, sikit-sikit lama-lama jadi bukit, ya 😍

      Berasa bagaimana mas di tengah keramaian? Nggak nyaman? 😆

      Delete
    2. Saya ilang-ilangan mulu ya mba hehehe. Iya berasa ngga nyaman aja.

      Delete
    3. Iya mas, mungkin mas Ilham sedang sibuk, semangat mas 😁

      Delete
  3. Ehhhmmm kalau saya punya uang 100 juta yg ngendep nggk kepake.. kemungkinan bakal masuk ke reksadana atau mungkin beli tanah..

    Bayu nggk tau ini tepat atau nggk. Tapi kalau bayu sih semisal bandingin jumlah uang yg diam dalam tabungan sama jumlah uang yg ada di reksadana.. itu jumlahnya banyak yg di reksadana..

    Tabungan di bank paling isinya buat yg dipakai tagihan bulanan, uang sehari2..

    Kalau bayu dana darurat itu sndiri yg paling di krusialin.. Jadi semisal gajian, itu yg dibagi dluan adalah dana darurat dluan mba.. ðŸĪ” baru dipecah buat hitung2an tagihan, perkiraan biaya hidup, sama baru masuk ke reksadana..

    Dana darurat sndiri dibuat beda bank.

    Tapi semua orang pasti punya preferensinya masing2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat jika mas Bayu sudah paham bagaimana sistem Reksadana bekerja, dan selama mas Bayu cocok, serta tau basicnya, menurut saya nggak jadi soal 😁 Hehehe, jadi tepat atau nggaknya akan kembali pada preferensi personal yang mas Bayu punya. Menurut saya, jika kita sudah tau basic-nya, memang paling oke taruh di Reksadana, especially kalau kita tau MI mana yang ingin kita pegang dan bagus grafiknya 😍

      Cara mas Bayu sudah oke banget lhooo itu, memang paling bagus dipisah duluan dana krusialnya, dari mulai dana darurat, dana tabungan, tagihan bulanan, baru sisanya dipakai untuk kebutuhan dan lain sebagainya. Jangan uang sisa yang ditabung, nanti kalau nggak ada sisa bisa collapse lama-lama ðŸĪĢ hehehehe.

      Semangat mas Bayu, it seems you are doing great 😆💕

      Delete
  4. Meski konteks pertanyaannya agak berbeda, saya bisa nangkap maksud kak Eno. Dan benar, prioritas orang berbeda. Ada yang seperti kak Eno sebut, membeli pengalaman. Ada juga yang macam kak Eno, ingin hidup cukup tanpa kekurangan.

    Masalah finansial kayaknya hal yang personal sekali. Tapi saya senang tiap dengar perspektif orang, setidaknya, saya jadi kaya akan preferensi. Terimakasih kak Eno. Tidak nyangka pertanyaan saya akan secepat ini dinaikkan 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi konteks pertanyaannya apa, mas? ðŸĪĢ Apa mungkin konteksnya, jika saya mendadak dapat uang 100 juta mau dipakai untuk apa? Begitu bukan? Kalau iya, jawabannya nggak jauh beda sama di atas. Tetap saya tabung 😂 Mungkin bisa dipakai liburan tapi hanya sedikit, mas 😁 And yes, semua balik ke prioritas ~

      Betul, finansial adalah salah satu topik personal, jadi segala macam bentuk keputusan yang diambil nggak bisa dipukul rata karena berlandaskan masing-masing kebutuhan setiap orang 😆 Tapi, bukan berarti kita nggak bisa saling belajar dari pengalaman 🙈 Harapan saya, semoga ke depannya, mas Rahul bisa punya keuangan yang stabil 😉

      Delete
    2. Iya kak Eno, konteksnya benar begitu. Dan saya sudah bisa nangkap juga sikap kak Eno, jadi memang sama saja 😁

      Aamiin kak Eno, saya lagi nabung wawasan biar jika tiba masanya saya tidak kesulitan karena sudah punya ilmunya. Ditunggu topik finansial lainnya 😄

      Delete
    3. Hihihi, thank you mas Rahul 😁

      Betul, step pertama memang menabung wawasan mas, habis itu baru action, semoga lancar prosesnya 😍 hihihi, okay mas nanti disiapkan materinya ðŸĪĢ

      Delete
  5. Sunguh luar biasa dalam merangkai katanya
    Bisa sepanjang itu dan sedetail itu
    Pengalaman saya pribadi, uang segitu akan tampak gede saat belum kepegang atau memilikinya.
    Saat punya uang sebanyak itu, akan terlihat kecil dan terasa kurang.
    Karena keinginan itu kadang mengikuti pendapatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, mas Bumi, terima kasih sudah membaca tulisan saya 😁

      Iya mas, kalau belum dipegang, kelihatannya besar, namun saat sudah masuk tabungan dan digunakan untuk kejar 'keinginan' atau 'life style' etc, jatuhnya jadi sedikit, bahkan kadang nggak terasa uangnya habis 😅

      Delete
  6. Sayang banget duit 100 juta dipake liburan Mba, kalo cuma sekedar ngabisin mah cepet tapi kalo ngumpulinnya setengah mati dan besok besok belum tentu bisa dapet duit segitu lagi, mending ditabung. Sebagian dijadikan dana darurat, sebagian di investasikan, dan sebagian lagi dipake untuk mengupgrade skill jika masih bekerja seperti kesayangannya Mba Eno atau jika suatu saat mau membuka bisnis. Kita bisa gunakan uangnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, dan dari bisnis itu jika sudah balik modal dan untungnya lebih dari cukup, barulah mikir untuk liburan itupun kalo udah ngerasa siap keluar duit, kalo belum kita bisa gunakan untungnya untuk mengembangkan bisnisnya lagi.

    Saya rasa dengan reward hangout seminggu sekali sudah cukup untuk merefresh pikiran dari rasa lelah karena pekerjaan. Kecuali kalo itu liburan mendesak seperti pulang kampung pas lebaran misalnya, demi menyenangkan keluarga, that's ok demi bakti kepada Orangtua dan sayang keluarga. Karena biayanya masih terbilang wajar, gak keluar biaya makan dan tempat tinggal lagi, paling nyiapin duit untuk biaya perjalanan, bantu-bantu untuk biaya hidangan lebaran dan juga untuk salam tempel anak-anak. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, kalau ditanya jurus menghabiskan uang, ada banyak ya mba. Bisa cepat, dalam sejam pun bisa habis nggak bersisa ðŸĪĢ Tapi kalau kumpulkannya sampai kembang kempis, akan berasa sayang untuk dihabiskan. Nah cara saya pun kurang lebih sama mba, liburan jika ada profit atau ada uang menganggur yang cukup 😁

      Cuma saya paham banget kalau ada yang mau gunakan uangnya untuk berlibur, karena memang happinessnya datang dari pengalaman ketika jalan-jalan di negara orang. In the end, yang penting setiap keputusan membuat bahagia 😍

      Seperti mba-mba saya, pulang kampung hanya saat hari raya. Selain itu nggak pulang. Lebih baik kirim uang, soalnya kalau pulang kadang pengeluaran jadi bengkak, mba 😂 That's why ditahan-tahan, dan sebagai gantinya, mereka kerja keras agar saat mudik bisa memuaskan keluarga. Thankfully, keluarga mereka paham 😁

      Delete
  7. ditabung dan disirkulasikan? untuk buat usaha lainnya, jadi uang 100juta mengalir dan bisa jadi dapat profit dari usaha yang lain sepertinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good plan, sepertinya Young sudah tau apa yang Young inginkan 😁 Atau mungkin Young bisa share, cara sukses versi Young bagaimana 😉

      Delete
  8. Hmm... kalau duit 100jutanya saya peroleh dengan mendadak (bukan dr kerja keras berbulan2/bertahun2), mungkin saya pakai liburan/senang2 beli gadget, tapi ga lebih dr 15%nya. Jadi, bakal liburan yg deket2 aja dan dengan se”ekonomis” mungkin 😁

    Tapi kalau yg diperoleh dgn dikumpulkan sedikit-sedikit untuk tujuan tertentu (dana darurat/pensiun/pendidikan), tentu saja ga bakal dipake ke yg lain2, tetap utk tujuannya semula.

    Kira2 begitu kalau dari sudut pandang saya, mba Eno 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi kalau uangnya seperti durian jatuh ya, mba 😍 Semisal case-nya begitu, dan tabungan saya sudah dalam keadaan stable, saya pastinya sama seperti mba Hicha akan spend sedikit untuk senang-senang meski nggak dihabiskan ðŸĪĢ

      Terima kasih sudah berbagi sudut pandang, mba 😁💕

      Delete
  9. Aku beberapa tahun yang lalu mungkin bakal langsung girang belanjain ini-itu atau cari-cari destinasi liburan kalau ada uang 100juta. Tapi kalau sekarang sih, mikir ribuan kali kalau uang 100juta buat belanja atau liburan, mungkin bakal aku tabung aja semuanya *berhubung belum paham apa itu reksadana dan saham jadi larinya masih ke tabungan aja hahaha*

    Buat beli rumah pun kalau buat bayar DP mungkin sangat bisa, tapi kan belum tentu aku sanggup bayar cicilannya dengan gajiku yang sekarang. Alasan yang selalu aku sebut tiap ditanya kenapa masih ngekost kenapa ga nyicil rumah aja sekalian? Wkwkwkwk yaa emang semua gaji dipakai buat nyicil doang, terus eike makan apa dong? Hahaha

    Tapi kalau misalnya tiba-tiba dapat duit 100juta bersih (di luar tabungan yang aku punya), aku pengin updgrade laptop dan pen tablet, biar sekalian bisa upgrade skill juga jadi bisa buat cari uang tambahan lagi hehehe.. Sisanya baru masuk tabungan deeh 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, usia sepertinya sedikit banyak memberi pengaruh pada bagaimana kita mengambil keputusan ~ Saat muda, mungkin lebih fun cari pengalaman, dan senang-senang, tapi semakin tambah usia, semakin careful pula kita 😁

      Nah, saya pun selalu menyarankan ke kenalan saya yang bertanya, untuk nggak apa-apa banget kontrak sambil kumpul uang agar bisa bayar DP lebih besar jadi cicilan ke depannya kecil, daripada dipaksa beli rumah buru-buru habis itu keteteran bayar cicilannya. No worries, setiap dari kita akan berproses, asal serius dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah, and I'm sure, one day mba Eya akan punya rumah yang mba inginkan 😍

      Well, kalau uang digunakan untuk upgrade asset jatuhnya jadi investasi ya, mba. Nggak akan mubazir tentunya 😆 Semoga one day mba Eya dapat durian runtuh 100 juta 😁💕 Amiiiiiiin. Bermimpi dulu kitaaa 🙈

      Delete

  10. Kalau tari punya uang 100 juta pasti tari langsung investasikan tuk beli tanah, sewa sawah, beli lahan kosong tuk ditanami senggon ma jeruk nipis dan jeruk lemon yang hasilnya nyata . Dan ??? Itu siapa mbak Eno yang datang nawarin karyanya ??? Dan mbak Eno suka ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice plan, mba Tari, semoga bisa tercapai cita-citanya 😁
      Ada salah seorang teman bloggers yang karyanya bagus, mba 💕

      Delete
  11. Berhubung aku orang desa, dan di desa harga tanah masih murah, jadi kalau punya uang 100juta nganggur sudah pasti aku lebih memilih untuk membeli tanah ðŸĪ­. Kalaupun gak bisa ngolah tanahnya sendiri, bisa aku sewakan aja. Soalnya banyak juga yang mau sewa tanah buat diolah di sini.

    Selain itu tanah juga masih bisa dijual di masa depan. Konon katanya harga tanah cenderung naik dari waktu ke waktu. Jadi bagus juga untuk investasi jangka panjang.

    Dan lagi, kalau aku meninggal kelak dan tanah masih ada, tanahnya masih bisa aku wariskan ke anak-anak. Yaampun, angan-angankuuu.ðŸĪ­

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di desa mungkin masih oke ya mba beli tanah, selain harganya murah, masih bisa mengkaryakan orang lain untuk diolah, atau bahkan disewakan agar bisa jadi ladang pertanian dan sejenisnya 😁 Agak beda sama di kota, dimana harganya nggak murah dan susah untuk cari yang mau mengolah 😅

      Terima kasih insight-nya mba, semoga bisa punya tanah segera 😍

      Delete
  12. Ini ceritany uang kaget kan yaaa :). Kalo uang kaget, perlakuanku beda dengan uang yg regular di dapet soalnya :D.

    Kalo uang regular, itu perhitungannya lebih terarah, karena aku udah perhitungkan jangka waktu segala utk bisa achieve targetnya.

    Nah kalo uang kaget, itu diluar hitungan target :D. Jadi aku lebih pakai utk menuhin hobi daripada target financial . Secara hobiku traveling, pasti larinya akan lebih banyak kesana :D.

    Cuma tetep sih mba, aku ga bakal ngabisin semuanya plek plek utk jalan2. Ada hitungannya. Yg pasti zakat 2.5% ttp duluan. Trus 50% traveling. Barulah sisanya investasi (ntah di saham ato aku beliin LM biasanya) dan menuhin keinginan keluarga, ntah itu pengen ganti rak buku, beli mainan anak, ngajakin asisten ato beliin mereka reward. Itu sih pembagiannya :D. Ini hanya berlaku utk uang kaget yaaa :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, kalau uang tabungan reguler memang biasanya sudah jelas tujuan dan arahnya untuk apa 😁 Hehehehe, mba Fanny ujungnya pasti ke travelling, ya 😍 Tapi tetap diselipkan untuk investasi, cool! Yang penting apapun pembagian yang diterapkan, bisa membuat kita senang dan puas 😆

      Terima kasih untuk insightnya mba Fannyyyyy 💕

      Delete
  13. Mbaaa I really like this post, semoga kedepannya akan ada postingan tentang finansial lainnya. Aku nggak tahu mau komen apa, tapi terima kasih untuk insightnya mbaa, siapa tahu kedepannya ketika aku berhasil meraih 100 juta pertama aku, aku punya pertimbangan wkwkwk. Pengen tahu pendapat pak Anton juga tentang ini atau fellow bloggers lain yang juga pengalaman soal ngelola duit wkwk. Pak Anton where are youuuu? Haha.

    Semakin dewasa aku ngerasa semakin tahu apa yang aku inginkan dan aku butuh pengalaman orang-orang untuk jadi referensi, sebagai pertimbangan ketika kelak aku berada di posisi itu, hehehe.

    Well, aku udah baca dong blogpost mbaa yang lain, tapi nggak bisa komen satu-satu maafkeun. Soal vote teman bloggers aku udah telat banget kayaknya, hehehe. Senang blog mbaa jadi banyak kejutannya mba, semoga akan terus begitu dan mba diberi brilliant idea terus buat merangkul para bloggers yang doyan main ke CRland ini hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Anton sibuk mbaaa, hehehehe, semoga insight dari saya cukup membantu ya mba, meski pada akhirnya mba Sovia tentu tau apa yang paling tepat untuk mba dalam menggunakan uang yang mba punya 😍 Apapun itu, yang penting nggak ada penyesalan setelahnya hehehehehe 💕

      Nggak apa-apa mbaaa, nggak wajib komentar lho, saya senang mba Sovia sudah menyempatkan baca though mba sangat sibuk kerja 😁 Semoga lancar terus proses adaptasinya mba, dan semangat! 😆

      Delete
  14. Sebagai ibu rumah tangga yang mendadak dapet uang 100juta cash, tentu saja bakal ditabung! 😂 Tapi pastinya aku bakal ambil 10% dulu untuk tithing (kalau di agama Islam sama kayak zakat), dan karena sekarang lagi mau coba Reksadana (thanks to Mba Eno dan Lia untuk racunnya 😝) mungkin ada sekian % dialokasikan ke sana juga. Intinya, nggak akan kupakai untuk hura-hura sih. Kalau ada sisa, baru deh mungkin melipir ke resto sushi traktir suami dan anak 🙈

    Insight finansial ini menarik sekali, Mba Eno. Sebagai house wife, kadang aku bingung harus cari source tentang keuangan di mana (selain dari mamaku, tentunya). Jadi baca-baca gini nambah pengetahuan banget. Khususnya dari cerita si kesayangan. Honestly, I'm impressed lho tentang kerja kerasnya sejak muda ðŸ˜ģ

    Dan soal mencari kesempatan, itu juga yang selalu diajarkan orangtuaku, Mbaa. Jangan nunggu kesempatan itu datang, kalau kita punya potensi kenapa nggak kita yang mencari dan datang pada kesempatan itu sendiri. That's why sekarang aku paham kenapa sejak muda papa mama selalu 'bawel' nyuruh kami belajar ini itu, boar skillful di masa yang sekarang 😆

    Once again, thank you so much untuk Mas Rahul yang sudah bertanya dan Mba Eno sudah membagikan insight-nya ini ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahahaa, sama ya kita, yang dicari pasti makanan dulu, pergi ke restoran ðŸĪĢ Begitu saja sudah senang banget rasanya, apalagi bisa makan sama keluarga atau orang-orang terdekat kita 😍 Eniho, saya pun masih belajar mba soal finansial, belum setajir owner Indofood soalnya hahahaha.

      Jujur, saya pun belajar banyak dari si kesayangan soal finansial, mungkin karena awalnya gaya hidup kami agak beda, jadi setelah adaptasi satu sama lainnya, akhirnya saya jadi nyaman dengan sistem yang dia tawarkan 😆 hehehe, dan setuju sama mama papa mba Jane, selagi kita masih muda, nggak ada salahnya kejar kesempatan yang ada, dan belajar, karena skill itu bisa jadi back up kita ke depannya 😍

      Terima kasih juga sudah berbagi insight mbaaaa 😁💕

      Delete
  15. Huhuhu, ketinggalan banyak hal di blog ini, hiks.
    Saya belom vote yang komentar dong, tapi syukurlah udah terwakilkan banget, karena saya mau vote:

    1. Creameno, ebentar, ini pemilik blog ya? hahaha
    2. Mba Fanny, dia mah sesepuhnya komentator, bisa dibilang sebelum Eno terkenal, Mba Fanny duluan yang terkenal di mana komentarnya ada di semua blog, apalagi di blog ini yang topiknya memang bikin gatal kalau nggak komen, hahahaha.

    Eh kenapa pula bahas komentator ya..
    Saking sekali ke sini, udah banyaaakkk banget tulisan yang belum saya baca :D
    Sok sibuk sih, masih punya PR 3 tulisan saya, kudu selesai besok, ayo kasih saya semangat dong *lah...nodong hahahahaha.

    Btw, kalau saya punya uang 100 juta?

    1. Mau mudik sekeluarga, palingan habis sekitar 20 jutaan.
    2. Mau bayarin mama saya umroh secepatnya, mungkin 35-40 juta ya?
    3. Sisanya? investasi, maybe saham atau reksadana (gayaaaa pooollll, padahal nggak ngerti saya yang gitu-gitu, biar kata udah berkali-kali ikutan seminar, wakakakakakak)

    Udah ah, disuruh ngelamun ama Eno ðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, mba Rey nomor satu nggak termasuk ðŸĪĢ By the way, mba Fanny memang ada di mana-mana yaaa, salut karena aktivitas blogwalkingnya sangat tinggi 😍

      AYOOOOO SEMANGAT MBAAAA, ada banyak deadline ya, sampai tiga pula, weleh weleh, semoga lancar dan idenya mengalir deras, mba 😁 You can do it!

      By the way, terima kasih sudah berbagi rencana mba, semoga mba bisa mendapatkan uang 100 juta mba dan bisa mudik serta berangkatkan ibu mba Umroh segera. Amiiiiiin, hehehehe, sehat dan bahagia selalu ya, mba 😍

      Delete
  16. 100 juta tentu saja nabung nabung dan nabung, pokoknya saving, entah mau di deposit, reksadana, saham.
    bikin usaha kecil kecilan biar nggak hobi jajan terus, tapi bisa menghasilkan dari hobi jajannya itu ehehe
    simple dulu aja untuk sekarang ini kalau pegang duit 100 juta :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi nabung nabung nabuuuung 😍 Semangat mba, semoga bisa dapat 100 juta soon, dan bisa menjalankan rencana yang mba Ainun tuliskan ðŸĨģ🎉

      Delete
  17. Salah satu hal yg saya suka dari blog ini adalah semangat untuk berbinis dan hidup nyaman dengan kerja keras. Itu Mba Eno yg saya pikirkan terus menerus setelah baca beberapa postingan Mba Eno. Akhirnya saya berani mengembangkan usaha properti kecil2an. Kalau nggak sekarang, saya takut uang hilang nggak berbekas.

    Setelah dihitung, tentu saja beli properti lagi bikin tabungan habis sana sini. Jual saham dan investasi lain. Tapi dengan ini saya malah belajar utk main saham kecil2an bukan melalui reksa dana. Dan saya belajar banyak dari suami yg udah terjun duluan dan off dulu karena saham ditarik semua buat ngembangin usaha.

    Terima kasih, Mba Eno kesayangan 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senang jika ada hal baik yang bisa mba Pipit dapat dari apa yang saya bagikan, meski tentu yang saya bagikan nggak seberapa karena semua kembali pada niatan mba Pipit untuk berkembang dan sukses ke depannya 😍

      Semoga bisnis properti mba Pipit berjalan lancar, dan bisa menghasilkan banyak keuntungan, plus dari situ bisa jadi pembelajaran yang mungkin mba bagikan ke teman-teman termasuk saya *mau belajar dari mba juga* 😆

      Semangat and good luck, mbaaaa ðŸĨģ🎉

      Delete
  18. Bagaimana ya, kalo aku punya uang 100 juta mendadak maka uangnya akan aku apakan ya?

    Lihat komentar teman-teman pada bijak, ada mas Bayu mau nabung di Reksadana, ada mbak Roem mau beli tanah, ada mbak Rey mau pulang kampung dan memberangkatkan ibunya umroh, luar biasa.

    Kalo aku? Misalnya punya uang 100 juta maka akan aku belikan mobil sajalah. Bisa mobil seken atau baru yang penting masih mulus dan tidak rewel.

    Kenapa pengin punya mobil? Karena tetangga kiri kanan pada punya mobil, kan jadi kepengen mbak sekali-kali bolehkan menyenangkan diri sendiri.😂

    Tapi kalo saya penginnya mobil yang menghasilkan, jadi belinya mobil pickup yang bisa buat angkut sayur atau barang. Kalo ngga, belinya mobil angkot biar bisa narik tiap hari. Duit hasil narik, selain buat makan sehari hari juga buat tabungan buat beli angkot lainnya lagi.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya, apapun pilihan kita, itu bijak kalau sudah kita perhitungkan mas. Jadi keinginan mas Agus untuk punya mobil pun nggak ada salahnya 😍 Apalagi jika ternyata mau digunakan untuk usaha angkut sayur atau barang, jadi mobilnya bisa 'bekerja' dan menghasilkan uang untuk mas sekeluarga 😁

      Semoga one day, impian mas Agus tercapai, yaaa 😆💕

      Delete