A Bad Moms | CREAMENO

Pages

A Bad Moms

Seperti biasa, setiap bulan Desember, aku suka menonton ulang beberapa film bertemakan Natal. Mungkin teman-teman ada yang langsung ingat 'Home Alone' saat ditanya 'apa film Natal favorit?' -- Namun kali ini, aku ingin merekomendasikan satu judul film selain Home Alone bergenre drama komedi untuk ditonton saat libur Natal yang akan datang ~ πŸŽ„ Dan karena aku suka dengan sekuel pertamanya, A Bad Moms Christmas ini langsung jadi my favorite Christmas-theme movie ever. Alasanku, apalagi kalau bukan karena cerita menarik tentang kehidupan para ibu pada umumnya.


Sinopsis

Masih bercerita soal petualangan geng Bad Moms beranggotakan Amy (Mila Kunis), Kiki (Kristen Bell) dan Carla (Kathryn Hahn) yang telah bersahabat dari sekuel sebelumnya. Ketika musim libur Natal tiba, sama seperti banyak ibu lainnya, Amy punya rencana liburan spesial untuk keluarganya. Mulai dari belanja, menghadiri acara Natal, mendekorasi rumah, masak memasak sampai kegiatan bungkus hadiah yang nggak ada habisnya. Tingkat stres Amy bertambah saat dapat kabar ibunya, Ruth (Christine Baranski) yang sangat perfeksionis dan hobi megkritik akan datang.

Sementara itu, Kiki masih sibuk mengurus keempat anaknya di rumah, namun kali ini sang suami lebih banyak terlibat dalam urusan rumah tangga mereka. Kiki pun dikejutkan dengan kedatangan Ibunya, Sandy (Cheryl Hines) tiga hari lebih cepat dari jadwal. Karena sang Ayah sudah meninggal dan Kiki anak satu-satunya, Sandy sangat ingin menghabiskan waktu bersama Kiki. Sayangnya, Kiki merasa terganggu akan kehadiran Ibunya. Dan dilain sisi, Isis (Susan Sarandon) ikut mengunjungi putrinya, Carla, jelang hari raya Natal. Berbeda dari Amy dan Kiki, Carla justru senang bukan main menyambut kehadiran sang Ibu karena mereka sudah lama tidak bertemu.

Permasalahan mulai menghampiri ketiga ibu-ibu muda ini. Mulai dari Amy yang berdebat dengan Ruth (Ibunya) karena Amy punya cara berbeda dalam merayakan libur Natal. Sejak awal, Amy ingin liburan sederhana namun spesial untuk anak-anaknya. Sementara Ibunya ingin semua terencana. Mulai dari memanggil jasa dekorasi profesional untuk dekor seisi rumah, sampai mengikuti kontes Christmas Carol dengan amat sangat niat demi mendapatkan piala juara pertama.

Pertengkaran Amy dan Ibunya pecah ketika Amy pulang ke rumah dan mendapati Ibunya sedang mengadakan pesta Natal mewah dengan mengundang banyak tamu, sampai musisi Jazz Kenny G untuk meramaikan suasana ~ Amy akhirnya melampiaskan kemarahan serta kekecewaannya pada Ibunya bahkan mengusir Ibunya karena mengacaukan acara Natal yang telah direncanakan. Dan karena itu, kedua anak Amy protes sebab ibu mereka mengusir nenek kesayangan mereka.

Berbeda dengan Amy, Kiki merasa frustasi dengan kelakuan Sandy (Ibunya) yang tidak tahu batas. Mulai dari memantau Kiki yang sedang ingin romantis bersama suaminya (sumpah, aku ngakak di part ini πŸ˜‚) sampai mencoba pakai baju dan styling rambut yang mirip dengan Kiki. Karena putus asa, Kiki mengajak Ibunya pergi konseling pada seorang ahli mengenai hubungan mereka. Namun, bukannya semakin baik, Kiki justru semakin pusing karena Ibunya denial dan merasa hubungan mereka nggak ada masalah, lantas kabur meninggalkan tempat konseling begitu saja.

Titik klimaks yang dialami Kiki adalah saat mengetahui Ibunya membeli rumah persis di sebelah rumah Kiki supaya bisa dekat dengan Kiki, anak semata wayangnya. Suami Kiki, Kent, mendesak Kiki untuk bicara dengan Ibunya, namun Kiki langsung meledak dan mengatakan terang-terangan bahwa Ibunya sudah kelewatan ~ Sementara itu, ada pula tokoh lainnya yaitu Carla yang harus menerima perasaan kecewa saat tahu alasan sebenarnya kenapa Isis (Ibunya) mendadak datang karena Ibunya kehabisan uang setelah kalah berjudi. Belum lagi Carla yang seorang janda single mother ini merasa kesepian dan lelah mencari pria yang benar-benar tulus mencintainya.

🐰🐰🐰

By the way, pertengkaran ini terjadi diwaktu yang bersamaan, tepatnya saat Christmas Eve, sehari sebelum tanggal 25 Desember 🀣 Ruth (Ibunya Amy), Sandy (Ibunya Kiki) dan Isis (Ibunya Carla) bertemu tanpa sengaja di dalam gereja yang sedang melangsungkan ibadah. Ketiganya lalu curhat tentang pertengkaran yang terjadi pada putri mereka ~ Lucunya, ketiga Ibu ini saling menganggap bahwa apa yang dilakukan satu sama lainnya adalah kesalahan.

Saat Sandy (Ibunya Kiki) bilang dia beli rumah di sebelah rumah Kiki, Ruth (Ibunya Amy) dan Isis (Ibunya Carla) langsung bilang, “Lu gila, ya? Pantas anak lu marah!” ---- Demikian pula saat Ruth (Ibunya Amy) bilang dia begini begitu dengan Amy, Isis (Ibunya Carla) pun protes, “Ya elu kenapa menuntut kesempurnaan!” yang mana dijawab oleh Ruth (Ibunya Amy), “Daripada lu, tukang judi yang kerjanya cuma minta uang ke anak!” -- hahahahahaha. Perlu diingat, mereka ribut tapi harus sambil bisik-bisik karena mereka sedang duduk di dalam gereja tempat beribadah 🀣

🐰🐰🐰

Di tengah perbincangan, tiba-tiba Amy masuk ke dalam gereja dan duduk di sebelah Ruth (Ibunya). Amy baru tahu alasan kenapa Ibunya segila itu dalam mendidik dia untuk jadi sempurna. Ayahnya yang memberitahu Amy kalau Ibunya dididik oleh nenek Amy sedemikian rupa, sehingga Ibunya merasa nggak layak saat membesarkan Amy. Makanya, Ibunya terkesan perfeksionis hanya karena Ibunya dituntut hal yang sama oleh Neneknya ~ Amy dan Ibunya saling memaafkan dan mereka kembali ke rumah, kemudian menyusun ulang rencana Natal sebelum terlambat.

Kiki dan Carla pun berdamai dengan ibu mereka. Sandy (Ibunya Kiki) menjual rumah yang dia beli dan memutuskan membeli rumah lain di Kanada, tempat tinggal asalnya. While, Isis (Ibunya Carla) berhasil mendapatkan pekerjaan di kota tempat tinggal Carla untuk membayar hutang-hutangnya yang selama ini didapat dari meminta pada Carla. Mendengar kabar itu, Carla jadi sangat bahagia karena artinya dia akan terus bersama Ibunya dalam waktu yang lama.

Akhir cerita, seluruh keluarga geng Bad Moms berkumpul di malam Natal untuk makan bersama. Selesai makan, Ibunya Kiki memberi pengumuman bahwa dia, Isis (Ibunya Carla) dan Ruth (Ibunya Kiki) akan berangkat ke Las Vegas untuk liburan. Ternyata mereka nggak mau kalah dari para putri mereka. Memangnya ibu muda saja yang bisa having fun, para nenek tentu bisa πŸ˜†

🐰🐰🐰

What I love about this movie

Pertama, tema film ini menekankan pada hubungan ibu dan anak, namun dikemas dengan sangat lucu dan fun! Karakter para tokohnya sangat dekat pada kehidupan kita. Pasti kita pernah diposisi yang sama dengan Amy, Kiki maupun Carla. Konflik yang mereka alami pun sangat relatable. Di antara kita pasti punya ibu yang suka komentar seperti Ruth (Ibunya Amy), bisa diajak seru-seruan bareng seperti Isis (Ibunya Carla) atau ingin selalu dekat dengan anak seperti Sandy (Ibunya Kiki).

Kedua, akting para aktornya juaraaaa. Khususnya Kathryn yang memerankan Carla sebagai emak-emak gokil. Di sekuel sebelumnya, Carla digambarkan as single mother yang hidupnya bebas. Hobi minum, sibuk flirting, terus kalau bicara suka nggak pakai filter. Kepribadian Carla paling kontras dan lain daripada Amy atau Kiki. Dan dalam sekuel ini, akhirnya dia ketemu cinta sejatinya, walau agak aneh cara ketemunya, tapi karena cowoknya ganteng dan berhati lembut, yasudalah πŸ˜‚

Ohya, Kristen Bell sebagai Kiki menurutku menggemaskan sekali! Di sekuel ini, dia sudah berani speak up dibanding sebelumnya ~ Bahkan dia berhasil membuat suaminya ikut kontribusi dalam urusan domestik rumah tangga. Maklum, sebelumnya suami Kiki hanya bisa suruh Kiki untuk stay di rumah, bahkan saat Kiki ketahuan nongki cantik sama teman-temannya pasti langsung disuruh pulang. Padahal ada nanny, dan parahnya, Kiki selalu menurut saat diperlakukan demikian. Phffft. Walau suaminya nggak jahat. CUMA YA LO PATRIARKI BANGET NIH CERITANYA? *maap esmosi*

And last but not least, karakter Amy yang diperankan Mila Kunis adalah satu-satunya ibu paling 'normal' buatku. Setelah tau mantan suaminya selingkuh dengan PSK online (gila!), Amy menjalani hubungan bahagia bersama pacar barunya, Jessie (Jay Hernandez), yang adalah orangtua salah satu teman sekelas dua anaknya. Si Jessie ini tipikal single dad ganteng idaman para emak-emak di sekolah. Dan memang kenyataannya ganteng pisaaan πŸ™ˆ Modelan aktor telenovela. Nggak heran Amy kepincut dibuatnya. Sedangkan, Amy tipikal ibu yang nggak neko-neko. Dia cuma ingin kedua anaknya bahagia. Mungkin karena itu, aku paling relate dengan tokoh Amy diantara semua.

🐰🐰🐰

Bicara soal adegan favorit, ada beberapa yang aku suka, yaitu saat Kiki dan Ibunya konseling terus dia ditinggal sendirian dalam ruangan. Kiki bertanya ke konselor, "Kenapa, ibu gue bisa bertingkah gila?", dan tahu nggak, konselornya jawab apa? -- "Karena dia mengandung kamu selama sembilan bulan, terus kamu yang masih bayi nggak bisa tidur selama enam bulan, ibu kamu jadi nggak tidur selama enam bulan. Kamu nggak makan, ibu kamu ikut nggak makan ---- kamu muntah, ibu kamu jadi gila. Kemudian kamu menikah, punya anak, dan sekarang kamu datang lantas tanya kenapa ibu kamu gila, jawabannya karena kamu~lah! Ibu kamu gila karena kamu! So be nice with her!"

Antara mau ketawa dan menangis saat dengar jawaban konselornya. Pesan moral yang aku dapat, mau 'segila' apapun ibu kita, hormati dan sayangi mereka ~ Karena mereka, ibu satu-satunya yang kita punya di dunia 😭 Terus, adegan lainnya yang aku suka yaitu, waktu Isis (Ibunya Carla) bilang dia dapat pekerjaan baru agar bisa bayar hutang ke Carla. Di saat yang bersamaan, Ibunya bilang kalau dia iri sama Carla yang bisa membesarkan anaknya dengan baik dan sehat.

Karena awalnya dia sempat meremehkan Carla, nggak mungkin ibu preman macam Carla mampu besarkan anak. Secara nggak langsung, Isis (Ibunya Carla) sedang menilai diri sendiri. Dia merasa nggak mampu membesarkan Carla sehingga memberi opini yang sama pada Carla. Ehh, ternyata Carla memang sesayang dan sepeduli itu dengan anaknya. Asli, aku menangis waktu lihat part ini. Bisa diaku hebat oleh ibu sendiri itu rasanya nggak ada yang menandingi. Mamaku memang nggak pernah ragukan cara parenting-ku, tapi saat Mama memujiku, aku seperti dapat energi baru.

Back to Carla, hubungan Carla dan Ibunya mengingatkan aku bahwa kita nggak bisa nilai cara kita didik anak atau jadi seorang ibu dengan bagaimana cara ibu kita dulu. Kita dengan ibu kita adalah dua pribadi berbeda, dan kita hidup di era yang berbeda dengan mereka. Ambil baiknya, dan yang relevan diterapkan. Yang kurang baik, jangan langsung dibuang, namun dijadikan pelajaran πŸ˜‰

Terakhir tentang Amy dan Ibunya yang menyebalkan ~ Ada satu adegan di awal pertemuan Amy dengan Ibunya yang membuat aku menghela nafas. Jadi, Amy kalang kabut menyiapkan masakan untuk menyambut kedatangan Ibunya. Masakannya nggak abal-abal, ala restoran sampai platting-nya pun sangat 'wah'. Dan semua adalah makanan favorit Ibunya. Bahkan saat meja makan sudah terisi penuh dengan berbagai jenis menu, Amy masih merasa nggak cukup -- Dia sampai tanya ke Jessie (pasangannya), “Ini cukup nggak, sih? Nggak ya kayaknya? Aku buat quiche lagi, deh!”

Dan begitu Ibunya tiba lantas melihat makanan yang disajikan, Ibunya berkomentar sarkastik, “Oh, so adorable, anak-anak kamu yang masak, ya.” dan Ibunya pergi tanpa menyentuh makanan yang ada. OH WAAW ANDA SIAPA? *emosi part kedua* πŸ˜ͺ However, ketika aku lihat adegan Amy dan Ibunya berdamai, adegan itu sukses membuat hatiku 'nyess'. Ibunya setengah mati mengucapkan kata 'maaf' karena selama ini nggak pernah berkata 'maaf' ke anaknya sendiri. Itupun diajari Sandy (Ibunya Kiki) dan Isis (Ibunya Carla) yang duduk di sebelahnya, persis orangtua yang mengajarkan anaknya 'say sorry'. Mendengar sang ibu berkata maaf, Amy langsung menangis dan bilang thank you. Kemudian mereka berdua saling memuji satu sama lain sebagai seorang Ibu, dan berpelukan.

Aku jadi berpikir, benar apa yang dibilang Ibunya Kiki, "It's very complicated relationship between a mother and a daughter." karena aku pun merasakah hal yang sama dengan Mamaku. Sometimes we argue, sometimes we agree to each other. Waktu masih SMA sampai kuliah, kadang aku masih tanpa sengaja membuat Mama sedih. Yang namanya diam-diaman sama Mama pernah aku alami, dan rasanya memang nggak enak sekali. Tapi balik ke poin awal, sekesal apapun kita dengan ibu, jangan benci mereka. Terima mereka sebagai manusia biasa seperti kita menerima diri kita.

🐰🐰🐰

Pesan sponsor terakhir, meski ini termasuk kategori film keluarga, namun rating film ini 21 tahun ke atas karena ada banyak konten dewasa. Nggak sampai adegan yang too much. Hanya saja, ada banyak kata-kata vulgar dan kasar. Jadi, tolong menonton film ini saat anak-anak nggak ada, yaaaa, buibuuk! 😁 Dan buat buibuk kesayanganku semua, ingat, jangan pernah berjuang untuk menjadi ibu sempurna, yang penting jadi versi terbaik untuk anak-anak kita. Enjoy the movie, moms!

Paid Guest Post
Jane Reggievia

19 comments:

  1. Pada kenyataannya kyknya memang hubungan ibu dan anak perempuan itu selalu lebih banyak cekcoknya yaa... seperti mamaku dan kedua kakak perempuanku, ada aja perdebatannya, tp jarang banget kalo sampe musuhan mah, selalu berakhir dengan saling memahami (ga jarang setuju untuk ga saling setuju, hehe..)

    dan Mila Kunis, oh my... si cantik aduhai, mesti nonton ini mah haha... pelm-pelm rekomendasinya kakak Jane ini kyknya emang bagus-bagus, terakhir nonton greenland karena setelah baca reviewnya disini dan emang bagus..

    kak Jane, film apa lagi yg bagus ? lumayan, stok buat marathon di weekend nanti..
    aku paling suka sama science fiction apalagi kalo menyoal apocalypse, tapi film drama sehari-haripun suka.

    film Tenet udah nonton kah?bagus gak?

    dan sekarang lagi nunggu WW1984, ga sabar pengen lihat Gal Gadot, ahehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Ady! Terima kasih banyak sudah baca review ini yaa 😊

      Hahahaha adanya Mila Kunis (dan Kristen Bell!) adalah alasan kenapa saya tertarik nonton Bad Moms juga hihi peran dia sebagai ibu pekerja tuh rempongnya dapet banget.

      Dan betul, hubungan anak cewek dengan ibu itu sungguh complicated. Kalau kata papa, saya dan mama tuh jauhan kangen, deketan debat terus wkwkwk

      Btw, ini review film pertamaku di Creameno. Greenland di-review oleh Mba Rey waktu itu 😁

      Rekomendasi film lainnya, hmm apa yaa.. Mungkin yang ringan-ringan tuh ada New York Minute, You Again (yang main Kristen Bell juga). Tenet saya juga belum nonton nih :D

      Delete
    2. oh, review Greenland sama mba Rey ya?duh... aku ga teliti ya, kirain kalo menyoal review film itu cuma satu blogger dan ngeuhnya sama tulisan ini aja, jd kukira yg greenland juga penulisnya sama :D

      Oke, catat!
      new york minute dan you again!

      Thank you kak Jane.

      Delete
  2. Tiba-tiba diingetin sama film natal atau liburan yang wajib ada di tipi, Home Alone. Ini film udah tayang dari jaman aku bayi, soalnya mama selalu cerita, aku kalau ditinggal depan tipi tontonannya Casper sama Home Alone πŸ˜†

    Film ini ada di netflix g? Lumayan tertarik gara-gara review lengkapnya Kak Eno. Detail banget pula, kayaknya cocok nih kak buat jadi reviewer film atau series gitu πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini review mba Jane, bukan review saya, mba Pipit 😁

      Kebetulan mba Jane jadi paid writer untuk post review film kali ini, dan memang sangat detail ya penjabarannya, jadi mengerti cerita filmnya bagaimana 😍

      Delete
    2. Pittt, halooo hahaha πŸ˜†

      Bad Moms sayangnya nggak ada di Netflix, tapi ada di situs free streaming lainnya πŸ™ˆ coba nonton yang ini dulu deh, kalau suka nonton sekuel pertamanya, nah itu lebih berasa banget cerita motherhood-nya 😁

      Btw, maacih yaa udah baca review ini. Aku jarang nulis review film makanya seneng bangetttt bisa diterima nulis di blog bucin kesayangan 😝 *towel Mba Eno*

      Delete
  3. Kalo baca reviewnya Mba Jane, saya kok malah jadi teringat serial Sex and The City dan Devious Maid yah bukannya Home Alone hihihi..

    Soal Ibu dan anak ini, ada yang bahkan seperti anjing dan kucing, setiap ketemu kerjaan Ibunya ngomel melulu tapi begitu pas gak ketemu, kangen, khawatir, nyesel ke anaknya.

    Dan rata-rata dari orang yang pernah curhat ke saya (waktu saya masih single, (IMO) sepertinya Ibunya yang memang tidak bisa membangun komunikasi dengan anaknya sejak kecil, tidak tau bagaimana cara berkomunikasi yang efektif agar bisa mendapatkan jenis cinta yang mereka harapkan dari anak-anaknya, dan rata-rata kebanyakan mereka berasal dari generasi lama yang mempertahankan prinsip dan kebiasaan yg didapat dari neneknya dulu.

    Tapi begitu saya ngedengerin curhatnya orang-orang yg masih single, tentang Ibu mereka disaat saya sudah berstatus Ibu, pengen banget saya ngomong kayak yang dibilang Si Konselor itu ke Si Kiki hihihi, masih saya tahan-tahan sampe skrg (soalnya saya kan bukan konselor) πŸ˜‚ dan takutnya mentang2 karena sama2 berstatus seorang Ibu jadi saya malah berpihak ke Ibunya.

    Tapi seharusnya memang sudah menjadi kewajiban Ortu untuk berpikir lebih dulu, berhenti sejenak untuk menuntut dan lebih banyak mendengar. Mengoreksi diri, jika ada sikap anaknya yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Karena di dalam keluarga, Orangtua adalah Orang yang paling dewasa dalam hal usia dan diharapkan juga dalam cara berpikir, maka bersikaplah dewasa sekalipun anak mereka bukan anak-anak lagi.

    Karena banyak juga Orangtua, sekalipun anaknya sudah menikah dan punya anak, ingatan mereka hanya sampai ketika anaknya belum berada di masa ingin dibiarkan sendiri, diwaktu masih apa-apa nyari Ibu, dan ketika hanya Ibu yang dicari di akhir hari. Tapi begitu anaknya sudah berada dimasa hanya ingin berkumpul dengan teman-temannya, ingin mengenal dunia luar, belajar dewasa tanpa kehadiran Orangtuanya. Orangtua tidak punya ingatan tentang perjalanan anaknya menuju dewasa.

    Dan itu semua terjadi karena ketidaktahuan yang secara tidak langsung telah meniadakan komunikasi, sehingga ketika dewasa banyak terjadi kesalahpahaman termasuk perselisihan yang terjadi antara Ibu dan anak.

    ps : Nulis komen berasa curhat πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Rinnnn, yaampun iya aku juga sebetulnya lebih suka Sex and The City ketimbang Home Alone πŸ˜† cuma sepertinya bulan Desember lebih identik dengan film tersebut jadi yaudalah hahahaha

      Duh iya banget. Kendalanya selalu di komunikasi yaa. Dulu aku pernah bentrok sama mama karena komunikasi, plus kami sama-sama keras πŸ˜‚ tapi sejak jadi ibu aku juga sepaham dengan Mba Rini. Selain anak harus bisa menghormati orangtua, Ibu pun harus belajar untuk mengerti maunya anak itu apa. Seringnya memang orangtua itu gengsi ya sama anak, nggak mau ngaku salah jadi ya gitu dehh πŸ™ˆ

      Jadi anak itu sulit, jadi mama lebih sulit lagi. Tapi aku bersyukur dikasih kesempatan jadi ibu untuk bisa belajar lebih banyak lagi. Terima kasih banyaaak Mba Rini untuk "curcolnya" ☺️

      Delete
  4. Wow, tulisan ini kukira tulisan kak Eno. Tumben banget ngereview film. Eh ternyata tulisan ci Jane. Ya ampun ci....Baca ulasan cici tentang film ini hampir bikin aku nangis 😣 Menohok banget part sekesal apapun kita dengan ibu, jangan benci mereka.. huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi sengaja surprisee nama guest writer-nya di akhir aja, Friss *sok misterius* 😝

      Huhuhu part itu juga nohok aku banget 😒 terkadang kalau lagi kesel sama mama kan kayak gimana gitu yaa, tapi yaa mereka ibu yang udah melahirkan kita, hormat dan sayang mereka apa adanya udah jadi keharusan bagi kita sebagai anak yaa πŸ€—

      Delete
  5. Ada beberapa plotwist sebelum membaca ini. 1) kaget dengan judulnya yang berada diblog kak Eno, 2) pas buka posnya,"oh, ternyata bahas film, eh tapi, kak Eno ngga pernah segampang ini bahas film." 3) baca-baca, pas kelar, ternyata benar, bukan kak Eno, tapi kak Jane πŸ˜…

    Saya sudah dengar film ini dari lama, mungkin karena pas habis nonton film langsung research kru dan pemainnya. Itu sering membantu saya dalam membimbing saya ke film-film bagus lainnya.

    Bahas Home Alone, itu salah satu film favorit saya masa kecil. Setiap Desember, pas menanti film ini diputar di teve. Ada juga Baby's Day Out. Film-film dengan teman natal memang sangat menyenangkan dan hangat.

    Eh, kemarin ada ulasan dari kak Rey, sekarang ada kak Jane. Apakah ini inisiatif mereka sendiri? Saya pengen ngirim tulisan juga 😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha memang semuanya disengaja, Mas Rahul. Berarti taktiknya sukses karena Mas Rahul pun terkecoh πŸ˜†πŸ˜‚

      Saya malah nggak punya kenangan dengan Home Alone walau sejak kecil suka nonton sekilas filmnya hihi yang lekat di ingatan saya tuh filmnya Arnold, kalo gak salah Jingle All The Way bukan ya πŸ€”

      Delete
  6. Home Alone is da best... hahah πŸ˜‚
    Maaf, bagian sinopsisnya nggk tak baca biar maksud nggk terspoiler.. wkwkw πŸ˜…

    Tapi pas cari di netflix. Ternyata nggk ada... nonton dimana yah mba? Disney hotstar kah?? 😁

    Hmmm,,, jadi inget Ibu.. heheπŸ₯²
    Even hubungan Ibu ke anak laki2nya juga complicated mba..
    Dulu, saya deket banget sama Ibu.. apa2 pokoknya harus sama Ibu.. hehe malah smpe SMA bahkan kuliah itu ada andil sama Ibu. Nyari kos2an di Semarang juga bareng Ibu yg keliling2... Bahkan Ibu mikirin lingkungannya, teman kosannya, ruangannya... wkwk

    Ehhh until it happened.. ngundur satu tahun demi merjuangin Tugas akhir nggk pulang ke rumah. Karena kuliah di jauh Kota. 10 hari mau wisuda... ternyata Tuhan punya rencana lain... pukulan banget sih buat keluarga...

    ReplyDelete
  7. Pas baca sampe tertengahan, aku ngerasa ini bukan tulisan mba Eno :D. Dan ternyata bener ...

    Anyw, aku sukaaa reviewnya Jane. Dan menarik banget, jd pengen nonton. Terlebih ini film si Mila Kunis. Dari dulu aku suka ngeliat mukanya :D.

    Isi ceritanya ringan, enak ditonton santai lah yaaa. Walo jujur ini juga ingetin aku Ama mama, yg mana dari dulu jarang bgt bisa klop. Sama, akupun pernah ngerasain diem2an Ama mama sampe lama. Apalagi di antara adek2ku, aku yg paling sering berontak :p. Jd aku juga yg paling banyak bikin keributan. Sampe2 aku ngerasa LBH bgs jauh dari pada Deket Ama mama.

    Krn kenyataannya, pas jauh kami kangen2an, eh pas ketemu ribut lagi wkwkwkwkwkw. Kan nambahin dosa jadinya :p.

    Aku cari dulu free streaming filmnya :D

    ReplyDelete
  8. Agak bingung juga akutu pas awal baca soalnya Mba Eno biasanya ga pakai kata ganti 'Aku' wkwkwk eeh bener kaan ini guest writer.. Terus aku nebak ini Jane gara2 film yang dibahas wkwkwk pernah dibahas yang A Bad Moms kaan di Jane From The Blog dulu??

    Aku baru tahu kalau ada christmas edition niih.. Yang A Bad Moms juga aku lumayan suka karena ceritanya bagus memperlihatkan perjuangan para ibu-ibu muda. Tapi kalau ini konfliknya mereka sama ibu masing-masing siih kayaknya bakal bikin mewek niiih karena relate banget kaan sebagai anak perempuan pastinya πŸ˜†

    ReplyDelete
  9. Pas nyampe bawah baru ngeh ternyata ini ditulis Mba Janee 😍😍 Super luv πŸ’–πŸ’–

    Aku blm pernh nonton Bad Mom yg ini, pernahnya nonton Bad Mom yg sblmnya. Yg perjalanan mereka sampe ikut PTA di sekolah anak2nya. Dan emang jalan ceritanya kocaaakk πŸ˜‚πŸ˜‚ Sebagai ibu2, bbrapa hal kerasa related bgd. Nah yg Chrismas ini juga kayanha menarik nih. Apalagi kaya kata Mba jane yg menggambarkan hubungan ibu anaknya seru bgd.. 😍😍

    ReplyDelete
  10. eeeeh kirain ditulis sama mba eno, tenryata sama mbak Janee, detail banget ini tulisannya, aku sampe terbawa nih jadi teringat pertengkaran yg dlu pernh kulakukan. aku tertohok oleh ucapan si dokter yang bilang kalau kamu yang ibumu gila, huhu, sad

    udah lama banget nggak pernah nonton nih, seperti bakal jadi wishlist aku buat nonton deh nih. selalu mupeng lihat temen2 ngereview film atau drama karena aku kok ga sempet mulu buat nontonnya aja, huhu nggak disempetin sih kayaknya ini mh

    thnks buat review filmnya mbak jane

    ReplyDelete
  11. Pernyataan Mbak Jane kalau aku ditanya film Natal favorit pasti aku akan jawab home alone juga, dari taun bahula tetep ga bosen, dan membekas jalan ceritanya

    Review film ini menarik, nggak bikin stress yg nonton, ceritanya juga relate sama mamah mamah muda atau keluarga kecil yang hidup terpisah dengan orangtua mereka, pas giliran disambangi ortunya pasti ada beberapa yang nggak suka, Karena orangtua dianggap "mengganggu" aja
    Noted dulu ahh, siapa tau ada bisa ditonton

    ReplyDelete
  12. Begitu lihat tulisannya tentang film maka aku coba skrol ke bawah, siapa ya penulisnya tapi aku rasa bukan mbak Eno karena jarang menulis film. Ternyata penulisnya adalah mbak Jane.πŸ˜ƒ

    Tulisannya bagus dan detil mbak, biarpun belum nonton filmnya tapi serasa sudah melihat, itu karena ditulis lengkap, sama seperti mbak Rey dulu nulis film Greenland.

    ReplyDelete