Dealing With Racism | CREAMENO

Pages

Dealing With Racism

Post ini gue angkat kembali karena gue baru baca cerita rasis yang dialami salah satu teman ketika berlibur ke Korea setahun silam. Kemudian teman ini tanya ke gue, apakah mereka memang rasis orangnya? Dan apakah gue pernah punya pengalaman serupa? Niat gue up tulisan ini agar teman-teman melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang, salah satunya sudut pandang gue, tentu berdasarkan pengalaman personal hehehe πŸ™ˆ (Yang sudah baca bisa skip tulisan ini, ya)

Gue sebenarnya menghindari topik ini *tapi dibahas juga, bahlul!* 🀣 Hanya saja, gue GEMAAASH karena masih ada orang berpikiran sempit perihal orang ASEAN. Dan most of them adalah nenek-nenek rasis plus sering bicara seenak udelnya πŸ˜… Meski sebenarnya gue belum pernah mengalami hal buruk secara langsung, tapi beberapa orang yang gue tau dari Thailand, Vietnam dan Kamboja yang tinggal di Korea punya pengalaman demikian, dan gue tergelitik untuk membahasnya.

Jadi, mereka sering dianggap nggak berpendidikan dan miskin karena mereka berasal dari ASEAN. However, di Korea Selatan sendiri, mereka refer ASEAN ke orang Vietnam, Thailand, Kamboja dan Filipina yang memang ada banyak di Korea ~ Sedangkan, para nenek-nenek di Korea, justru nggak begitu banyak tau soal Indonesia πŸ˜‚ Kecuali kalau gue bilang gue ini dari Bali, baru mereka paham meski mereka tetap nggak tau Bali adalah bagian dari Indonesia, apalagi ASEAN. That's why, gue belum pernah punya pengalaman buruk menyangkut rasis, mungkin karena mereka berpikir Bali bukan bagian dari negara anggota ASEAN dan Bali merupakan negara indah nan kaya πŸ™ˆ

🐰🐰🐰

Gue pribadi tau kegelisahan mereka, karena mereka khawatir apabila diperlakukan dengan nggak layak hanya karena mereka dari negara ASEAN πŸ˜… Sehingga gue merasa perlu untuk menuliskan tulisan ini agar teman-teman yang next time mau pergi ke Korea bisa paham bahwa teman-teman nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang memang nggak perlu untuk dikhawatirkan 😁

First and foremost, kita nggak perlu malu atau takut kalau asal kita dari negara bagian ASEAN 😍 Mau itu Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, Malaysia atau dari negara lain yang berada di bawah naungan ASEAN. Jangan juga jadi minder lalu berusaha mengubah diri agar terlihat seperti Korean, bahkan sampai mau ubah warna kulit, kultur dan prinsip hidup kita πŸ˜‚

Harusnya kita bangga terlahir di negara kita, dan berusaha memperkenalkan negara kita sebagai negara bermartabat dengan cara membawa diri kita sebaik mungkin di hadapan khalayak 😁 Gue yang sudah bertahun-tahun kerja dan bertemu partners dari luar pun tau ada banyak dari mereka sangat merasa kagum dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN in general. Jadi jangan karena satu dua oknum yang nggak suka ASEAN, terus kita jadi was-was dan kehilangan jati diri kita πŸ˜† Means, apabila kita terlahir dengan kulit eksotis yaaaaa terima, dan kalau ada yang terlahir dengan kulit seperti porcelain, mungkin itu memang rejeki mereka πŸ˜‚ hahahahaha.

Nggak perlu iri, nggak perlu juga amplas kulit sampai putiiih, hanya karena takut dianggap ASEAN 😁 Dan apabila ditanya darimana asal kita, jawablah dengan lugas dan tegas, "Jakarta, Indonesia." atau, "Bangkok, Thailand." -- kalau perlu jelaskan sekalian ke mereka yang nggak tau, "It's a part of South East Asian." πŸ˜‚ Karena ini yang selalu gue lakukan, dan gue nggak pernah malu kasih lihat paspor Garuda di manapun gue berada 😜 Meski some of them kaget ketika tau bahwa Indonesia adalah bagian dari ASEAN, tapi tujuan gue melakukan itu, untuk menunjukkan, nggak semua yang orang-orang (rasis) itu pikirkan adalah fakta atau benar adanya πŸ˜„

Gue bukan mau sok nasionalis, tapi gue nggak mau kita minder hanya karena negara kita masih berkembang 😬 Justru seharusnya kita tunjukkan ke orang-orang yang salah kaprah soal ASEAN sebagai negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin dengan cara tingkatkan aktualisasi diri kita dan membawa diri kita dengan lebih bijak (by the way, itu yang judge ASEAN kismis nggak tau sekaya apa Sultan Brunei, ya?) 🀣 ----- Dan menjadikan keramahan kita, manner kita, cara bicara kita, sopan santun kita, sebagai karakter dasar kita agar ke depannya bukan lagi 'kemiskinan' yang diingat dan dilihat oleh mereka, tapi betapa baiknya dan terpelajarnya orang-orang kita 😍

🐰🐰🐰

All in all, gue nggak memukul rata cerita gue pada karakter sebuah negara, karena menurut gue, pada kenyataannya, jauh lebih banyak orang Korea yang open minded dan nggak rasis terhadap sesama. Dan tujuan gue tulis ini, ingin ajak teman-teman, untuk punya pride sebagai warga negara dari negara yang kita cinta dan nggak merasa minder kalau negara kita bagian dari ASEAN πŸ˜„

And it's okay jika negara kita belum semaju negara-negara di Asia Timur sana, atau di Eropa sana, yang terpenting adalah, bagaimana karakter kita dan pembawaan diri kita bisa membuat negara kita dikenal sebagai negara yang hangat bagi negara luar πŸ’• Believe me, masih ada banyak nenek-nenek baik di Korea, yang nggak memandang rendah kita meski kita dari ASEAN 😁 Anggap saja, nenek-nenek yang rese bin rasis itu berlaku demikian karena mereka nggak tau apa-apa ~

Sebab, Korea awalnya jarang dikunjungi oleh turis asing sebelum HALYU WAVE menyebarluas 😁 Dan dulunya, foreigner yang datang ke Korea memang kebanyakan ASEAN, dan kebanyakan dari mereka bekerja sebagai buruh pabrik atau farmer di Korea. Jadilah terbentuk stigma kalau orang ASEAN levelnya lebih rendah daripada Korean. Namun sekarang, budaya sudah bergeser, banyak Korean bisa menerima dan nggak memandang rendah seseorang dengan mudahnya πŸ˜‰

Ohya, menjawab pertanyaan apakah gue pernah punya pengalaman serupa? 😁 Seperti yang gue state di atas, gue belum pernah mengalaminya πŸ₯° So far, selama bertahun-tahun jadi bagian dari kehidupan warga Korea, meski status gue adalah foreigner, dan wajah gue sangat menunjukkan bahwa gue bukan western people, mereka tetap terima gue dengan hangat πŸ™ˆ Bahkan, gue sering dapat in-house dish bonus dari owner salah satu resto Tteokpokki langganan hahahaha. Dan gue pernah dikasih kacang sama nenek penjual ice cream di Yongyeon Pond, pakai acara disuapi pula macam bocah *kalau mau lihat neneknya bisa klik post yang gue sertakan* 🀣

Pada intinya, nggak semua nenek rasis di Korea, nggak beda dengan di Indonesia, pasti ada nenek baik dan nenek rasis, jadi kalau kita ketemu nenek rasis, anggap saja nenek itu nggak paham apa-apa 😁 Nama pun nenek-nenek, hidup dijaman yang beda dengan kita, mungkin pada jamannya image orang kita berbeda dengan jaman sekarang. As simple as that πŸ˜‰

By the way, untuk persoalan rasis dalam makna luas, gue lihat Korean sekarang sangat welcome, anak-anak mudanya juga terbuka. Again, semisal ada satu dua orang yang sedikit berbeda, anggap saja karena mereka belum pernah lihat dunia luar, jadi jangan langsung dipukul rata satu negara 'rasis' semua. Kita nggak mau kan, karena ulah satu orang, negara kita dicap yang nggak-nggak πŸ™ˆ

Teman-teman sendiri, bagaimana cara menyikapinya? 😁

56 comments:

  1. Antara mau senang atau bersedih ketika orang asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Hiiks

    Mungkin dari Bali, nanti kita bisa mengenalkan Indonesia lebih luas lagi kepada warga negara asing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, sedih sebenarnya karena kebanyakan orang nggak tau di mana Indonesia tapi saat kita bilang 'Bali', mereka langsung 'Aaaaah, I know Bali.' πŸ˜‚ kebetulan dulu di Korea itu ada drama super terkenal yang judulnya dan shootingnya di Bali, disitulah mereka tau Bali adalah tempat yang indah πŸ˜†

      Semoga ya mas, dari Bali, masyarakat dunia bisa lebih kenal Indonesia secara mendalam. Agar tau yang indah di Indonesia bukan hanya Bali saja 😍

      Delete
  2. Menurut saya, selama orang-orang cuma sibuk dalam pikirannya dan nggak reach out ke orang lain, selama itu pula dia akan terjebak dalam prasangka. Karena itu saya seneng banget ngobrol-ngobrol sama pejalan-pejalan lain di hostel. Dan serunya kultur hostel 'kan santai banget sampai-sampai lupa ngobrolin soal identitas: asal, pekerjaan, dsb. Kadang, setelah seharian ngobrol bareng kita baru tahu negara asal masing-masing... hehehe..

    Akhirnya ya saya sadar kalau di mana-mana manusia itu sama saja. Kalau dua orang yang mengobrol sudah membuka diri, jadi asyik. Malah saya sering juga ketemu temen-temen yang berasal dari negara-negara yang katanya menghormati privasi tapi mereka dulu yang bicara soal yang privat-privat. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kebanyakan yang punya pikiran dan bersikap rasis itu karena terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mungkin karena memang nggak tau atau nggak kenal. Di Korea sendiri prinsip mereka dulu itu 'one root' mas, jadi memang sebelum halyu wave dan banyak tourist datang, Korea ini nggak begitu sering ketemu foreigners even di pinggir jalan. Jadi agak maklum juga kalau nenek-nenek suka rasis karena mereka pikirnya ASEAN datang ke negara mereka untuk cari kerja bukan cuma liburan πŸ˜…

      Memang paling baik itu saling mengenali satu sama lain dulu ya mas, mengobrol biar tau hehehe. Untungnya yang rese kebanyakan nenek-nenek atau ajuma ajuma, kalau anak mudanya mostly aware semua dan lebih respect dalam menghadapi perbedaan πŸ˜„

      Delete
    2. Oh, berarti soal kontak dengan dunia luar, masyarakat Indonesia lebih terbiasa begitu ya, Mbak Eno. Dari dulu kita kan sudah sering banget kedatangan bangsa-bangsa dari jauh. Saya jadi penasaran nih soal sejarah Korea. :) Di Asia Timur, kayaknya saya lumayan familiar sama sejarahnya Jepang (dan Tiongkok sedikit-sedikit). Tapi Korea hampir blank, karena dulu pas belajar sejarah di sekolah kebudayaan Korea memang nggak dibahas.

      Delete
    3. Masyarakat kita lebih terbiasa melihat perbedaan mas, even sesama satu bangsa saja banyak sekali perbedaannya. Sedangkan orang Korea itu nggak terbiasa. Mereka memang hanya one root, jadi dulunya agak susah kalau lihat yang beda even saat western people datang 😁

      Cuma kan dari dulu orang ASEAN lebih identik sebagai pekerja level bawah di sana, sedangkan western biasanya kerja dengan jabatan yang tinggi, jadilah stigma nggak enak bermunculan soal orang ASEAN. Ujungnya jadi rasis deh, tapi no worries, kebanyakan yang begitu biasanya nenek-nenek atau ajumma-ajumma yang memang nggak terbiasa lihat perbedaan. Kalau di kota besarnya tetap lebih banyak yang ramah 😬

      By the way, Korea kan baru mulai banget meningkat dan terkenal secara international itu kira-kira 30 tahun ke belakang mas. Padahal tanggal kemerdekaannya beda 2 hari saja dari kita, mereka merdeka 15 Agustus 1945, tapi mereka berlari kencang jadi negara maju sekarang, salah satunya karena mereka dulunya, sangat cinta sama negaranya. Jadi, apa-apa maunya beli produk lokal, ketika IMF 1998, warganya sampai berbondong-bondong jual emas yang mereka punya untuk bantu negara bayar hutang. Jadi memang rasa cinta itu yang menjadi salah satu alasan kenapa mereka bisa sebesar sekarang. Kelihatan waktu covid-19, mereka juga berusaha banget kerjasama untuk mengatasi masalahnya 😁

      Delete
  3. Tapi memang bisa terjadi di mana aja ya kak. Di Indonesia kadang saya masih sering menemui orang-orang yang kayak nenek2 gini. Gak sedikit di sekitaran saya masih ada juga yang begitu.

    Apalagi negeri kita ini kan ada banyak budaya, ras, agama dll.

    Beruntung saya terlahir di dalam keluarga campur-campur 🀭🀭🀭. Jadi sudah terbiasa melihat perbedaan itu hal yang wajar. Dan asyik-asyik aja.. 😁😁😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep yep, di Indonesia juga banyak. Sebenarnya di mana-mana 😁 saya bahas ini karena latar belakangnya di Korea ada beberapa nenek-nenek suka rasis sama orang ASEAN, dan membuat orang ASEAN merasa jiper / awkward. Terpengaruh sama tayangan TV juga sepertinya, dan juga asumsi mereka yang salah πŸ˜…

      That's why saya tulis ini, biar teman-teman foreigners from ASEAN yang baca tulisan saya bisa semangat, dan nggak begitu down saat mengalami hal yang kurang menyenangkan. Cukup dibalas dengan senyuman dan kehangatan saja, namanya juga menghadapi nenek-nenek, kadang susah kalau harus adu amarah 😁✌

      Semoga kita sendiri dan negara kita yang beraneka ragam ini pun belajar untuk nggak rasis terhadap orang lain 😍

      Delete
  4. Aiiishhh hari ginii ternyata masih ada yang racism ..., kalau aku pribadi punya atau mengalami hal begitu, langsung kujauhi orangnya.
    Dan kalau punya kontaknya, baik di sosmed atau nomor kontaknya ..., langsung ku lock down.
    Males pakai banget punya kenalan yang sok highclass πŸ˜„.

    Beruntungnya teman2 ig ku yang kebanyakan dari lain negara belum pernah DM-an terkesan melecehkan nyinyir tentang racism.
    Kalau kusebut asalku dari negara Indonesia, memang iya kebanyakan dari mereka masih belum mengenal dengan baik sebenarnya negara Indonesia itu letaknya dimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, untungnya nenek-nenek yang saya ceritakan di atas nggak main sosmed dan teman-teman saya nggak punya kontak mereka 😁 karena biasanya ketemu nenek-nenek model tersebut di jalan, atau di pasar πŸ˜… memang sebaiknya, dijauhi saja daripada menguras tenaga πŸ˜†

      Delete
  5. Pembahasan yang cukup sensitif nih mbak Eno yaitu masalah ras.

    Menurutku kita tidak perlu malu apalagi minder kalo kita berasal dari Asean karena memang Indonesia bagian dari Asean.

    Wah orang Korea itu lebih kenal Bali daripada Indonesia ya mbak, kok mirip orang Jepang yang juga lebih tahu Bali daripada Indonesia.

    Kembali ke topik artikel. Sebenarnya bukan hanya di Korea, di sini di Jawa juga kadang ada sebagian orang yang rasis kalo menyangkut suku dari Indonesia timur seperti Papua atau Maluku, mereka mengatakan item atau jeleklah, sedih ya padahal mereka masih bagian dari Indonesia juga, bagaimana kalo dari Afrika, bisa bisa lebih diejek.

    Tapi itu tidak semuanya sih, hanya beberapa oknum saja. Jadi jangan dianggap sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kita nggak perlu malu, saya sih nggak malu meski berasal dari ASEAN hehehe. Dan nggak malu juga terlahir di Indonesia 😍 ini saya tulis cuma buat curcolan semata, karena beberapa teman ASEAN saya cerita kalau pernah mengalami hal nggak enak saat ketemu nenek-nenek rese di Korea yang rasis ke mereka πŸ˜…

      Sampai sampai ada yang kesal banget dan bilang, 'Saya ingin sekali punya kulit putih seperti mereka, agar nggak dilihat berbeda.' πŸ€ͺ makanya saya tulis di post saya, jangan fokus ke kulit dan lain sebagainya, tapi fokus ke hal-hal positif yang bisa kita tunjukkan agar kelak yang diingat sama orang-orang yang meremehkan itu bukan soal keburukan kita tapi soal kebaikan yang kita punya πŸ˜„✌

      Iya mas, banyak orang Korea nggak tau Indonesia tapi tau Bali karena dulu pernah ada drama yang judul dan ceritanya itu di Bali πŸ˜„ alhasil Bali dikenal sebagai tempat yang cantik nan eksotis hihihi ~

      Setuju sama pendapat mas, kalau di mana-mana sebenarnya rasis itu selalu ada, bahkan di negara kita sendiri pun masih banyak yang rasis terhadap sesama saudara. Padahal orang Papua, Maluku itu juga keluarga kita, hanya karena berbeda langsung dianggap buruk dan lain sebagainya. Sangat menyedihkan πŸ˜”

      Thankfully hanya oknum saja, dan semoga ke depannya semakin banyak orang yang peduli perbedaan dan nggak rasis lagi kepada sesama anak manusia di dunia 😍

      Delete
  6. Pengen nulis tentang pengalaman rasis selama di Eropa, tapi nanti deh, blm ada waktu (padahal gegara corona ini kerjaanya rebahan mlulu, wkwkwk..)

    But anyway, kadang lucu juga, kalau orang Eropa itu jelek2in orang SEA/ASEAN dengan segala stereotip bikinan mereka, meanwhile kadang aku malu juga waktu bawa pacar main ke Jakarta, banyak orang lokal pada minta foto doang, bahkan sampe antri, duh, mental dan stereotip kita juga masih jelek, liat orang kulit putih aja merasa bangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mas, tuliiiis 😍

      Saya mau baca hehehe, lately juga saya lihat lihat di beberapa akun, banyak yang rasis ke Asian saat Corona merebak. Huhu. Sedih bacanya 😣

      Memang kadang lucu juga ya mas, orang kita terlalu mengagungkan foreigner hihihi. Kalau lihat bule langsung takjub dan diajak foto. Tapi dulu pun waktu kecil, saat pertama kali saya lihat bule for real, saya itu takjub. Untung nggak sampai minta foto πŸ˜‚

      Saya bisa maklum kenapa sampai sebegitu bangganya, mostly kan yang sampai minta foto itu rata-rata kemungkinan besar jarang atau nggak pernah ketemu bule sebelumnya. Kalau yang sudah sering, pasti nggak akan sampai minta foto, yang ada cuek bebek saja πŸ˜†

      Delete
  7. Ah bener banget! Orang-orang luar tuh taunya Bali daripada Indonesia...tapi Jakarta uda mulai terkenal juga kok hahaha Padahal ya kalau dipikir-pikir, kepulauan Indonesia masih lebih kelihatan loooh di atlas daripada pulau Bali yang cuma seemprit...

    BTW sepengetahuan aku, Indonesia uda bukan lagi masuk kategori negara berkembang ga si?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya sekarang Jakarta mulai naik daun ya mba, hihi. Betuuul banget, kalau dipikir-pikir banyak kepulauan besar yang bagus di Indonesia. Tapi wajar kalau Bali yang terkenal, karena selama ini yang diperkenalkan secara resmi kan memang Bali saja 😁

      That's why sekarang pemerintah sedang berusaha untuk memperkenalkan 5 wisata baru untuk turis mancanegara, salah satunya, Danau Toba dan Labuan Bajo juga 😍

      Yep, dari segi ekonomi, Indonesia memang sudah naik jadi kategori negara maju dan yang menaikkan level itu adalah presiden USA, tujuannya agar kita saat doing export import mau bayar pajak / charge lebih besar. Karena saat status kita masih negara berkembang, kita dapat subsidi dari mereka. However, kalau dilihat dari sudut pandang lain, sebenarnya belum bisa dikatakan 100% maju, means masih berproses hehehe. Besar harapan semoga Indonesia betul-betul bisa maju 20 tahun mendatang, dan kualitas penduduknya pun meningkat 😍

      Delete
    2. Ga cuma 5 tapi 10 mba. Aku tau ini juga karena pernah terlibat dgn tim percepatan 10 destinasi ini di kementrian pariwisata haha. Kalo ga terlibat itu aku kayanya gtw deh πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

      Iya sbnrnya Indonesia masih berproses kaya sedikit di atas negara berkembang tapi kalo dikategori negara maju kaya masih urutan buncit πŸ™ˆ
      Amiiin deh. Menurutku anak Indonesia itu pinter2 cuma sygnya kurang dihargai jdinya ditarik sama negara laiiin. Kalo aja pimpinan bisa bersih korupsi, I think Indonesia akan jadi negara kayaa....

      Delete
    3. Wah keren banget kalau sampai 10 😍 semoga bisa segera terealisasikan ya, mba ~ berharap betul pariwisata Indonesia akan maju pesat dan nggak terpusat di Bali saja 😁

      Hehehe, memang nggak bisa dipungkiri kalau negara kita tercinta ini masih jauh apabila dikatakan maju pada artian yang sebenar-benarnya. Semoga saja, sooner or later, bisa betul tercapai harapan kita semua πŸ˜† dan semoga, anak-anak pintar dan berbakat nggak perlu lagi ditarik oleh negara luar, sebab Indonesia bisa menghargai mereka sesuai dengan bidang penguasaan 😍

      Semangat untuk kita πŸ™ˆ

      Delete
    4. Iyeeess tapi memang ga gampang bangun pariwisataa karena butuh 3 aspek penting kan (akses, akomodasi, amnety)

      Makanya pak presiden canangin percepatan 10 “Bali” baru supaya wisatawan bisa kenal bagian Indonesia lain yg bagus jugaa selalin bali

      Yes semangat untuk kita! Anyway, uda tinggal di Korea ga berniat ganti warga negara kak? Atau emg di sana cm smentara kak?

      Delete
    5. Betul, apalagi kalau area yang mau dibangun itu jauh dari mana-mana pastinya akan butuh proses yang lama sampai bisa jadi maju seperti sekarang ~ pada masanya pun Bali juga melalui proses yang sama πŸ˜†

      Berharap banget tempat wisata lain di Indonesia digarap dengan serius, kalau mudah untuk pergi ke sana, saya yakin orang-orang akan mau berbondong-bondong ke sana πŸ™ˆ sekarang soalnya kalau mau liburan ke area wisata di Indonesia (di luar Jawa, Bali) itu sarananya masih susah. Sempat baca tulisan teman yang hobi yalan-yalan keliling Indonesia, terasa betul petualangannya dari mulai susahnya cari persewaan kendaraan, kurang memadainya akomodasi, dan lain sebagainya 😬

      Eniho soal ganti warga negara belum ada niat dan sepertinya nggak berminat, still love Indonesia soalnya 😍

      Delete
  8. Hahahaha
    Lucu ya, saat kita ditanya dari mana kamu? Indonesia.
    Mereka nanya Indonesia itu ada di mana?
    Pas kita bilang dari Bali mereka lebih faham :D

    Kalau di negara-negara macam Malaysia, Singapore, Hong Kong, Maldives, India mereka ini rasis banget sama orang-orang Bangladesh karena menurut mereka Bangla ini tingkat pendidikan rendah, jadi kemana mereka datang sebagai pekerja maka mereka mendapatkan posisi kerja sebagai buruh kasar.

    Aku lupa di mana pernah lihat di money changer, ada segerombolan orang Bangla bertanya apakah mereka bisa tukar mata uang mereka di situ, dan mereka mendapatkan perlakuan tidak sopan. Kasihan.

    Racism sekarang bukan perihal kita dari mana, tapi juga di alami oleh bangsa China. Di Bali aku pernah nguping pembicaraan para driver Gojek yang takut bawah tamu China terkait wabah kemarin. Dan beberapa mereka ga mau ambil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lucu mba πŸ˜‚ tapi nggak membuat saya tersinggung kalau mereka nggak tau Indonesia di mana. Dulu juga Korea itu nggak terkenal dan orang-orang nggak tau Korea ada di mana. Hehehe, jadi bukan nggak mungkin one day Indonesia pun bisa terkenal 😁 dan seenggaknya orang orang tau letak Indonesia ada di mana πŸ˜†

      Ahiya mba, kadang suka kasihan sama orang Bangla, sering banget jadi target rasis, padahal mereka juga manusia. Tapi mungkin banyak yang sampai sebegitu kesalnya pada mereka, bisa jadi karena mereka sering ilegal masuk ke sebuah negara, alhasil imagenya buruk juga. Dan itu pun terjadi sama image negara kita di beberapa negara lainnya, saat banyak orang kita jadi pekerja ilegal di negara mereka πŸ˜”

      Dan ini juga sepertinya alasan mendasar kenapa beberapa orang Korea rasis ke SEA, karena mostly orang SEA itu cari kerja di Korea, dan banyak dari mereka yang ilegal demi bekerja untuk pekerjaan rendah 😣 alhasil orang lokal benci mereka, dan menganggap mereka datang dari negara miskin / berpendidikan rendah. Nggak jauh beda dengan apa yang dirasakan oleh Bangla πŸ˜₯

      Rasis itu ada di mana-mana mba, saya rasa salah satu cara menanggulanginya adalah dengan menjaga manner kita ketika pergi ke luar, jadi image baik negara kita yang kita bawa dan tunjukkan. Dengan begitu, orang nggak akan lagi memandang buruk soal kita / negara kita πŸ˜„ semoga ke depannya nggak ada lagi yang rasis ya mba πŸ’•

      Delete
  9. Yg namanya rasis ini memang ada di mana2 yaaa.. aku sendiri msh PD untuk menjadi diriku sendiri tiap traveling. Lagian kalo maksain mau kliatan seperti org Korea ga mungkin jg. Kulit gelap beginiii hahahahaha. Diputihin ntr malah kayak ondel2 :D.

    Pengalaman jelekku ttg rasis itu pas kuliah di penang mba. Jd ceritanya mau beli makan malam, aku pake daster (Krn dekeeet jualannya), trus ga bawa pasport.

    Ternyataaa dicegat polisi Malaysia. Dia minta aku nunjukin pasport. Aku bilang di rumah, dan aku pelajar. Aku tau , dia mikirnya pasti aku ini TKW. Dan dia keukeuh ngawal aku balik ke rumah utk liat pasportku. Pasakhirnya aku ksh, suaranya lgs berubah mba. Dari yg songong, langsung baik. "Oh, you study Kat Olympia yaa. Pasti you anak orang kaya study di sana. Hanya Chinese dan foreigners yang mampu"

    Preeeetlah. Sebel bgt dengernya. Mentang2 pas kluar aku lusuh dan pake daster aja lgs diperlakukan kyk apa aja :(. Makanya aku paling benci sama org yg suka rasis. Yg Mandang sebelah mata ke org lain. Kayaknya ga prnh kluar jalan2 yaa,jd pikiran picik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup mba, memang lebih baik PD dengan diri sendiri hihi. Itu saya bilang, jangan rubah warna kulit biar seperti orang Korea bla bla blanya, karena pengalaman pahit teman saya itu terjadi di Korea dan teman yang punya pengalaman pahit tersebut sampai berpikir mau punya warna kulit seperti orang Korea agar nggak diperlakukan buruk / kena rasis oleh orang di sana 😁

      Nah kan, sepertinya, kebanyakan, orang rasis kepada orang lain atau berpikiran buruk terhadap orang lain, karena merasa superior dibanding orang yang dipandang buruk tersebut. Seperti pengalaman mba yang dikira TKW, atau pengalaman beberapa teman ASEAN saya yang dikira miskin dan berpendidikan rendah sekali πŸ˜₯

      Saya pun paling mengutuk sikap rasis terhadap orang lain, benci banget kalau sampai ada yang rasis. Cuma karena nggak tau apa-apa soal Suku, Ras, atau negara tersebut, langsung berpikiran buruk πŸ˜• berharap betul ke depannya semakin banyak orang yang berpikiran terbuka dan menerima perbedaan yang ada πŸ’• semoga ~

      Delete
  10. hahahhaha, mau ngakak dulu, menginga nenek-nenek.
    Mengapa ya nenek-nenek itu mau di ujung duniapun kelakuannya samah, adaaaa aja yang diprotes.

    Etapi, kalau liat di drakor, memang di Korea itu masih hormat banget ya ama yang namanya perbedaan usia, sama yang usianya lebih tua aja dihargai banget, apalagi sama nenek-nenek.

    Sering juga nonton film Korea, ada adegan nenek-nenek cereweeeeettt banget hahaha.

    Tapi bener ya, rasis itu di mana-mana, kadang terpikir dengan teman-teman yang tinggal di luar negeri jadi kayak minoritas gitu, pastinya ada perbedaan yang dirasakan ketimbang hidup di tempat asal.

    Kayak saya, meski beda pulau, saya sering dibully dulu pertama kali datang, bahkan sampai sekarang sih, karena saya ngga bisa bahasa Jawa.

    Lebih sedih lagi, pas pulangpun saya lupa logat sana, butuh penyesuaian beberapa hari baru bisa, jadinya dibully juga deh di Sulawesi, katanya medok, padahal di sini saya dibilang aneh karena nggak mau medok kata teman-teman, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di mana-mana pasti kadang ketemu nenek-nenek ceriwis hihihi, mungkin nanti kita pas jadi nenek-nenek bakal begitu juga nggak mba? 😁 makanya meski agak kesal, sebenarnya saya maklum kenapa nenek-nenek bisa begitu, kadang sampai rasis kebangetan πŸ˜…

      Jadi minoritas itu banyak yang bilang nggak enak, tapi pengalaman saya jadi minoritas di Bali tuh rasanya nyaman, karena tetap dihargai oleh warga lokal meski saya dulunya pendatang. Nggak pernah dilihat aneh dan lain sebagainya. Menurut saya, Bali itu surganya minoritas 😁 terasa banget rasa toleransi yang besar.

      Serba salah ya mba, harus banyak sabar πŸ˜” hehehe, semoga yang bully meski niatnya cuma bercanda, tetap tau kalau itu bisa menyakiti orang yang mendengar πŸ˜‰

      Delete
    2. Memang kita kudu banyak baca nih, biar pikiran selalu terbuka, bisa memandang kemajuan zaman dengan bijak, sebenarnya kalau dipikir-pikir para nenek-nenek itu benar adanya juga.

      Mereka nggak bakal rasis kalau memang nggak pernah ngalamin hal yang kurang enak tentang rasis, itu yang bikin mereka rasis sampai tua hahaha.

      Kalau kita perbanyak ilmu, banyak baca, pikiran terbuka dan perlahan memahami apa yang pernah kita alami, jadi bisa lebih bijak menyikapinya saat kita tuwah nanti hahahah

      Delete
    3. Iya mba, jaman semakin maju, kitanya yang harus terus menerus kejar ilmu biar nggak ketinggalan 😁

      Semoga kita bisa bertambah bijak setelah belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada ya mba πŸ˜†

      Delete
  11. Jadi cuma 1 oknum helmeoni aja kan mb eno yang rese huhuhu
    Alhamdulilah kalau masih banyak yang open minded ga hobi ngegeneralisasi

    Tapi ngomongin soal stereotype, jangankan di negara orang, di negara sendiri pun bahkan antar daerah juga banyak mb eno yang suka menggeneralisasi sifat antara orang asal daerah A, B, C...suku A, B, C, dan agama A, B, C... ya begitulah...

    Tapi aku setuju yang bagian kita ga perlu malu mengakui asal negara kita, darah kita, kewarganegaraan kita. Even mungkin dari segi fisik jauh lebih eksotik, tapi malah dipikir-pikir kadang aku bangga loh dengan pembeda dari segi ini. Apalagi dg ditambah keberagaman budaya dan kekayaan alam yang ASEAN punya tuh banyak banget, secara kalau ngliat tv luar dan pas nyorot liputan negara ASEAN justru yang kulihat keindahannya, makanya yang ada aku bukan malu, malah langsung antusias nonton ampe abis hueheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya lebih dari satu mba Nita, tapi tetap nggak banyak kok kalau dibandingkan sama yang baik dan menerima perbedaan πŸ˜‰πŸ’•

      Cuma teman-teman saya mungkin karena pengalamannya pahit betul, alhasil berdampak ke rasa percaya diri mereka, dan menutup mata, padahal yang baik lebih banyak. Mungkin karena sangat sakit hati, jadi nggak bisa disalahkan juga. That's why saya tulis ini biar teman-teman saya paham kalau mereka tetap bisa jadi diri mereka, dan dihargai banyak orang πŸ˜„

      Betuuul mba, di Indonesia pun masih banyak yang saling rasis antar suku budaya, padahal kita sama-sama Indonesia. Stereotype yang dibuat juga kadang nggak makesense. Kasihan jadinya. Hanya karena satu dua oknum akhirnya kepukul rata semua πŸ˜” semoga stereotype ini nggak kita turunkan ke generasi berikutnya, minimal berhenti di kita saja πŸ’•

      Hihi, iya mba, kita nggak boleh minder, dan harus lebih PD yuuuuk. Kan nggak ada yang salah terlahir sebagai Indonesian, daripada lihat jeleknya terus, ada baiknya, kita lihat juga hal positif yang kita punya as Indonesian. Semangat untuk kita πŸ˜†πŸ™Œ

      Delete
  12. apakah para ahjuma2 itu nggak pernah belajar geografi sampai enggak tau ada negara yang namanya Indonesia dan di mana letaknya? ahaha.. *eh btw apakah nenek2 juga termasuk ahjuma? atau seumur ibu2 aja yg ahjuma? :D

    aku pernah liat video social experiment di youtube, tentang org indo dan org bule yg diperlakukan berbeda di korsel... semoga aja ke depannya ngga ada lagi yg rasis2 begitu, suka kesel liatnya..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, tapi Indonesia memang masih banyak orang yang nggak tau itu di mana. Bukan cuma ajumma Korea saja 🀣 however, in the past, banyak orang juga nggak tau Korea ada di mana, dan Korea baru betul-betul mulai famous around 20 tahun ke belakang 😁 padahal dulunya bukan tujuan wisatawan ~ by the way, nenek-nenek biasanya disebut halmoni mas, kalau ajumma lebih ke ibu-ibu hehehe.

      Nggak bisa ditampik memang, rasis itu ada di mana-mana, even Korean pun mengalami rasisme di negara orang. Sedih memang, semoga ke depannya, nggak ada satupun manusia di dunia ini yang rasis terhadap sesama πŸ˜πŸ™Œ dimulai dari kita ~

      Delete
  13. Halyu wave itu apa ya? Gak apdet istilah Korea πŸ˜…

    Di setiap negara pasti adaaa yg aja warga yang gaulnya kurang jauh. πŸ™„πŸ˜…Biasanya rasis terjadi krn ketakutan yg berlebihan thd sesuatu yg asing. Bahkan di negara barat pelopor egalite saja tetap ada aja orang yg kayak begitu kok. Terutama yang sebaran rasnya terlalu homogen.

    Soal Bali itu bener banget. Saya ngalamin kalau di LN ditanya org bule dari mana asal, jika dia ga mudeng- tinggal di pancing " tau Bali gak? Itu bagian dari negara gue "πŸ˜… lalu terjadilah presentasi panjang lebar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halyu Wave tuh semacam gelombang Kpop yang tersebar di penjuru dunia, mba 🀣 kurang lebih begitu artinya hehehehe.

      Iya, setiap negara pasti ada yang begitu, cuma kalau di Korea kebanyakan yang rasis adalah para nenek-nenek 😁 kalau yang muda, mungkin ada, tapi jarang diperlihatkan, hehehe. Nah iya, menurut saya kebanyakan yang rasis karena terbiasa homogen alias satu ras, jadi nggak terbiasa lihat ras lain, apalagi nenek-nenek kan lahir di era Korea masih belum seterbuka sekarang ~ jadi harap maklum kalau ada yang nggak open minded.

      Wahahahaha Bali ini memang mendunia ya mba, kalau jawab Indonesia, kadang banyak yang nggak paham, tapi saat bilang Bali, hampir semua pasti paham πŸ˜‚

      Delete
  14. Kenyataannya memang Bali lebih terkenal daripada Indonesia kok.
    Tapi mohon maaf mbak kalau ada yg tanya saya darimana dan ternyata mrk gak ada ide dmn letak Indonesia terpaksa mulai ceritanya dari Bali dulu sebelum memulai ceramah geografi..

    Iya banyak org di dunia yg pelajaran favoritnya bukan ilmu bumi karena merasa nggak berjiwa Columbus. Taunya tempat liburan aja...🀣

    Di sini banyak juga org tua yg kolot. Di Barat juga masih ada juga apalagi bila komunitasnya homogen.

    Tapi bersyukurlah org asing yg wajahnya nggak beda2 bgt dg org lokal atau warga negara tertentu. Atau fluent bicara spt warga setempat. Itu ngebantu banget buat blending dg lingkungan.

    Jangan2 mba Eno wajahnya mirip-mirip org Korea ya πŸ˜πŸ˜‚πŸ€£

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh tadinya mau menurut sama mba Phebie buat nggak publish, sebab ini memang post lama yang saya re-make πŸ˜‚ Namun karena komentarnya bagus, saya kalau hanya mengendap jadi tetap saya publish mba *digetok mba Phebie* hahahahahahahaha 🀣

      Iya mba, saya pun sama seperti mba Phebie, kalau ditanya darimana, paling ringkas jawab dari Bali, soalnya pernah jawab dari Indonesia, terus dia balik tanya, where is Indonesia? Habis itu saya bingung jabarkannya. Jadi memang lebih gampang jawab dari Bali dulu, baru lanjutannya part of Indonesia 😍

      Setuju sama point terakhir, kalau wajahnya agak mirip-mirip jadi bisa blend, tapi semirip-miripnya orang Indonesia ke Korea, tetap kelihatan beda mba. Entah kenapa, mereka paham bedanya. Mungkin dari gerak-gerik kali, ya πŸ˜‚

      Delete
  15. Terlahir dengan warna kukit porcelain.. Apa itu kak? Porcelen di rumah ku warnanya coklat hhh.

    Meski blm perna ke korea, dan jika ingin tahu ttg korea. Ada creameno yang bisa jelaskan hahaha...

    Apa iya kak? Tp dmna2 ya udahbsifat asli penduduk asli kalau menghadapi kita bgtu. Mirip2 jaga image lah mgkin kak mnurutku.

    Pasti ada yg baik dong ya kak. Tergantung cara hadapi kali ya kaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengkilap maksudnya, mas 🀣 Liciiin sampai nyamuk bisa kepleset 😁

      Kita memang sudah sewajarnya jaga image di mana pun kita berada. Apalagi di negeri orang, karena kalau kita nggak jaga image, kawatir yang disebut negaranya πŸ™ˆ Pernah tuuuh, ada WNI berbuat asusila di Korea, terus yang disebut sudah tentu negaranya duluan πŸ™„

      Betul, pasti ada yang baik dan tentunya lebih banyak 😁

      Delete
  16. Bukankah banyak orang Indonesia juga yang "rasis" Eno? Cuma, mereka bukan merendahkan, tetapi meninggikan orang yang berkulit putih atau berasal dari negara maju.

    Bukankah banyak orang di Indonesia yang memandang "menikah" dengan orang asing itu sebagai sebuah berkah dan merasa membuatnya menjadi "lebih baik" dari yang lain? Bukan kah itu impian dari banyak orang Indonesia untuk memperbaiki keturunan.

    Bentuk sikap seperti itu pun pada dasarnya tidak beda dengan rasis hanya berbeda ujungnya saja.

    Minder sih terlalu halus, tetapi mentalitas dan mindset memandang rendah kulit coklat seperti itu ada di masyarakat Indonesia sendiri. Dasarnya buat saya sama dengan rasis terhadap bangsa sendiri. Sesuatu yang umum di kalangan masyarakat yang mendewakan status.

    Dulu, ketika pertama kali bekerja sebagai tenaga marketing untuk ekspor, walau tidak terungkap dalam kata ada dari beberapa customer, terutama Eropa kepada saya. Mereka lebih suka berbicara dengan atasan yang orang Jepang langsung.

    Hanya setelah itu saya buktikan kepada mereka bahwa saya bisa sama mampunya dalam bidang tersebut. Bahkan, kalau sedang dinas dan mengunjungi mereka, mereka pun memperlakukan saya sejajar.

    Pada akhirnya, banyak relasi saya dulu, bahkan setelah saya tidak bekerja di perusahaan itu tetap menghubungi saya karena butuh skill dan pengetahuan, sampai sekarang.

    Bila memang orang Indonesia tidak mau direndahkan (dipandang) dengan cara yang tidak mengenakkan, ada baiknya juga berkaca pada diri sendiri dulu. Sudah kah kita menghargai diri sendiri.

    Sulit untuk bisa merubah pandangan orang tentang kita, kalau kita sendiri masih memandang rendah diri sendiri.

    Penghormatan orang lain juga tidak bisa diminta. Penghormatan itu harus diraih dan diperjuangkan. Kalau tidak mau dipandang rendah orang lain, ya harus juga kita membuktikan diri bahwa kita memang layak dihargai.

    Mungkin sekali si Nenek itu melihat sikap dari para pekerja itu yang kurang baik, karena saya sendiri pernah melihat bagaimana sikap beberapa gelintir orang Indonesia yang kurang baik di negara orang. Membuang sampah sembarangan, tidak tahu aturan dan pakai gaya Indonesia di sana. Hal-hal seperti itu lah yang pada akhirnya menanamkan kesan yang kurang baik.

    Pada dasarnya, pandangan merendahkan itu lahir karena sikap sebagian orang Indonesia sendiri. Si Nenek bisa jadi tidak salah 100% karena mungkin ia pernah melihat tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan di sana.

    Soal Bali lebih terkenal dari Indonesia, sedih, nggak juga sih. Itu juga normal. Banyak blogger Indonesia lebih berbangga menuliskan tentang berwisata atau traveling ke luar negeri dalam bahasa Indonesia, tetapi jarang banget yang berbangga pergi ke daerah wisata di Indonesia dalam bahasa Inggris.

    Lalu, bagaimana orang luar mau tahu Indonesia kalau tidak ada yang menceritakan? Masyarakat kita sendiri lebih suka menulis tentang wisata asing daripada menceritakan Indonesia kepada orang luar, jadi ya wajar saja hasilnya begitu...

    :-D :-D :-D

    Hanya sebuah sudut pandang lain, siapa tahu bisa dipergunakan






    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana-mana memang banyak yang rasis ya, mas πŸ˜…

      Hahahaha, iya, that's why saya tulis di atas, kalau mau kita nggak dianggap kecil, atau diremehkan, sudah sepatutnya kita jaga sikap dan image kita. Apalagi di negeri orang, justru yang dikedepannya, adalah manner kita, pendidikan kita, dan hal-hal baik yang ada di diri kita. Karena bisa jadi, memang pada jaman nenek-nenek itu muda, image orang ASEAN not that good, tentu ada sebabnya. Entah mereka nggak bisa jaga sikap, suka seenaknya, nggak kerja dengan benar. Nobody knows πŸ™ˆ

      Hehehehe, seperti konsep aksi reaksi yang pernah mas Anton bahas. Hal-hal baik akan bereaksi jika kita berlaku baik, bukan berarti teman-teman yang apes diperlakukan nggak baik, awalnya karena nggak baik. Mungkin, hanya pas kebetulan unlucky ketemu yang rasis padahal sudah bersikap nice ~

      Persoalan memandang rendah diri sendiri ini mungkin sudah mengakar, jadi merasa kita bukan siapa-siapa karena berasal dari negara berkembang, kadang malu-malu kalau ditanya asalnya darimana. Hehehe. Semoga ke depannya, kita bisa lebih punya pride dan proud dengan negara kita, terlepas polemik yang ada. Plus proud dengan apa yang kita punya, warna kulit kita, bahasa kita, budaya kita dan lain sebagainya 😁

      Wahahahaha, mungkin yang kebagian memperkenalkan Bali dan Indonesia in general ada bloggers luar, mas 🀣 Yang punya prinsip sama, lebih bangga bisa jalan ke luar negeri (dalam hal ini, Bali, dan Indonesia) πŸ˜‚ Soalnya, saya lihat banyak banget yang bahas Bali dan Indonesia, Komodo Island, Raja Ampat, etc, tapi memang foreigners semua. Karena itu pula, Bali pernah jadi best travel place, bahkan tahun ini jadi nomor satu tempat yang ingin dikunjungi setelah Corona hilang 😁

      Eniho, as usual, thanks for the insight mas 😍

      Delete
  17. Saya baru dua kali ke Korea, yang pertama sekitaran Seoul sama Daejeon, yang kedua ke Jeju sama mampir sebentar di Busan.

    Selama liburan, alhamdulillah ga pernah ngalamin perlakuan rasis. Malah dua kali dibantu sama ibu-ibu dan mbah2 Korea. Yang pas sama ibu2, beliau smp keluar gate stasiun dan ngejar saya dan teman saya karena beliau salah kasih info sebelumnya. Sedangkan sama mbah2, beliau kayak mau bantu gitu, tapi berhubung saya sendiri dan saya buta sama sekali sm bahasa Korea, jadinya dia kayak merasa bersalah gitu. Huhu.

    Paling customer service-nya aja yang kadang rada jutek. Tapi ga ke saya aja sih, ke orang Korea-nya sendiri juga sama. Ga tau itu SOPnya kurang dijalankan atau gimana. Mungkin karena lama di Jepang yang customer oriented banget. Tapi ya gapapa, beda negara beda juga SOPnya :))

    Malah yang berapa kali saya dengar perlakuan rasis itu di lingkungan akademisi. Kayak professor yang ngerendahin mahasiswa, tapi itu ga di Korea aja, di Jepang juga banyak yang masuk kategori academic harassment.

    Saya sendiri pernah ketemu exchange student Korea di Jepang yang belagunya OMG... kalau ngomong kayak Korea itu negara paling maju sedunia. Dia literally ngomong kayak gitu, pas kelas bahasa Jepang, saat berhadapan dengan prof Jepang. Untung aja sensei-nya memaklumi dan ga malah jadi ngegas. Wkwk.

    Tapi ya lagi-lagi, itu oknum sih... mahasiswa2 Korea lain yang saya temui rata-rata bersikap sewajarnya mahasiswa asing di negara orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank God, mba Hicha ketemu ibu-ibu dan nenek-nenek baik, dan seperti yang mba Hicha alami, sebetulnya yang baik lebih banyak dari yang rese bin rasis 😁 hehehe, kalau customer service jutek sepertinya memang SOPnya begitu mba, kecuali di bank hahahaha. Mungkin lebih ke tegas, apalagi customer service di tempat seperti terminal, subway, etc πŸ™ˆ

      Nah kalau akademi, ini sering kejadian, tapi dibanyak negara sepertinya nggak cuma di Korea. Bahkan kadang ada yang tega sama mahasiswanya, mungkin sampai mahasiswanya merasa lebih baik pulang ke negaranya 🀧

      Hahaha, agree mba, semua itu ulah oknum, semoga kita bisa selalu bersikap baik di manapun kita berada, agar nggak jadi oknum yang menyebalkan πŸ˜‚

      Delete
  18. Baru bangun jam setengah 5 pagi. Terus mampir ke blog teman-teman. Ehh nemu artikel Mba Eno yang saya sendrii tergelitik buat komen.. Hahah

    Mba Eno Halyu Wave artinya apaan yah?? wkwk

    Saya sendiri nggak paham sama orang yang rasis. Mikir aja gitu knapa ada orang yang suka rasis..
    Jangankan yg di Korea, wong di negara kita sendiri aja yang satu rumpun, satu warga, rasis itu masih aja jadi budaya yang kental. miris banget yah mba.. Kadang saya disitu sedih, Kayanya susaaaaaahhh gitu buat hidup berdampingan dan saling percaya antara satu sama lain.. hahaha Seperti anjuran pelajaran PPKN kita dulu.. haha

    Tapi sepertinya semakin kesini orang-orang mulai Open Minded. Harapannya sih semoga Rasisme bisa benar2 hilang. Aminn

    Dari kecil saya tumbuh sering dibully orang2 sekitar, mereka bahagia atas ejekan mereka dan saya cenderung memilih diam dan tidak berkomentar.. Tapi Alhamdulillah ternyata bully2an itu yang ngebuat saya jadi agak masa bodoh sama orang yang sering berkomentar buruk tentang hal2 lain ..
    Buat apa coba kan yah mikirin perkataan mereka, bikin rungsing yg ada... Mending fokus ke orang-orang yg benar-benar peduli sama kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halyu Wave tuuuh ombak K-pop mas hahahaha, dalam artian, tersebarnya budaya K-pop / K-culture di dunia 😁 Nah iya mas, sebenarnya di mana-mana ada orang rasis, nggak cuma di Korea, jadi pendapat saya di atas bisa diterapkan di mana saja πŸ˜‚ Intinya, kita perlu belajar bawa diri kita dan baik, and on top of that, kita perlu respect ke diri kita sendiri πŸ˜†

      Seperti yang mas Anton bilang, jangan merendahkan diri sendiri, karena itu bisa membuat kita jadi nggak sadar kalau kita ini berharga dan nggak layak disakiti oleh orang lain πŸ™ˆ Duh kalau sudah bicara rasis memang nggak ada habisnya, jadi semoga rasis bisa segera hilang, dan kita nggak perlu merasa tertekan hanya karena minoritas. Semisal kita pergi ke negara orang, di sana kita minoritas, tapi kalau kita bisa jaga diri dan sikap, seems kita akan baik-baik saja. Begitu pula untuk persoalan minoritas lainnya 😍

      Huhuhu mas Bayu pernah dibully? Jahat banget yang bully 🀧 Iya mas, better fokus ke orang-orang yang care dan sayang sama mas. Mereka yang jahat, hempaskan! πŸ”₯

      Delete
  19. menarik nih, kenapa yang dilihat itu ASEAN bukan ASIA? kalo kita kayaknya kalo meenyudutkan refer menyebutkan negaranya aja, karena bnyk juga yg nggak tahu negara apa aja ASEAN itu yaa. tapi memang orang2 filipina, kamboja, thailand itu tipe mukanya hampir mirip nggak sih mbak?

    meski beberapa kali liat postingan orang2 pindah kewarganegaraan katanya karena nggak betah di negara ini kok semrawut amat, tapi meski kita pindah pun dan kita tidak pride pada diri kita dengan ningkatin skill, ujung2nya bakal sama aja ngga kan yaa

    Akupun pas wisata di negara org kalo tanya kita darimana nyebut negara indo nggak tahu tapi pas nyebut bali lgsg tahu dan cerita bnyak gt. ajaib tapi nyata yaa, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kalau sebut ASIA, nanti mereka termasuk soalnya πŸ˜… Kan Korea bagian dari ASIA, dan memang dari dulu yang disebut itu pasti ASEAN (ada bahasa Korea tersendiri untuk refer ASEAN), bukan negara-negaranya. That's why semua dipukul rata, mau Vietnam, Kamboja, Thailand, Filipina, etc 🀧 Kalau orangnya, rata-rata mirip semua, even mirip dengan orang Indonesia 😁

      Iya mba, memang semua kembali pada diri kita, bukan nationality kita, atau hal-hal / status yang menempel di diri kita πŸ™ˆ Jadi yang terpenting memang fokus pada karakter dan sikap kita, seperti yang mas Anton bilang di atas.

      Hahahaha, sama mbaaaa, Bali memang terkenal bangetttt πŸ˜‚

      Delete
  20. Ngomongin soal rasis mah, menurut aku, kita orang Indonesia sangat rasis, dan kita menganggap hal itu adalah hal yang natural wkwkwk. Ini pun kuketahui karena bergaul dengan rekan kerja yang expat, yang beberapa kali kecentok karena salah nanya (padahal pertanyaan yg umum kita tanyakan hari2 lho) hahaha πŸ™ˆπŸ™ˆ untungnya mereka gak marah tp mereka bilang gak nyaman dg pertanyaan itu krn hal sensitif. Dari situ aku br menyadari, oh no, jadi selama ini aku termasuk rasis πŸ€ͺπŸ€ͺ

    Anw, aku sepakat sama mbak Eno soal gak usah terlalu khawatir soal rasisme. Dimanapun kapanpun pasti ketemu dah sama org2 macem begini. Tapi masih banyak juga orang2 yang welcome sama orang asing. Jadi santai aja lah. Yang penting kita pandai membawa diri dan tunjukkan bahwa kita beda sama yg mereka sangka. Kalau masih ngeyel juga, buang ke laut aja deh, yekan mbak Eno hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iya mba, dikasus keseharian pun banyak yang tanpa sadar rasis, dan mungkin kita salah satu daripadanya. Nggak bisa dipungkiri, jadi sekarang yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk berpikir sebelum berucap dan bertanya. Incase ternyata pertanyaan dan ucapan kita masuk kategori rasis tanpa sengaja πŸ™ˆ

      Betul mba, nggak perlu kawatir, tinggal kita fokus bagaimana jaga sikap, kalau masih ketemu sama orang rasis padahal kita nggak melakukan apa-apa, mungkin cara yang mba Kartika bilang boleh dicoba. Buang ke laut saja, hahahaha πŸ˜‚

      Delete
  21. Kalau saya liatnya ini cuma oknum konservatif saja. Bukan hanya di Korea. Di Indonesia juga ada, meski konteksnya beda. Tidak adil juga jika memukul rata semua. Tapi sulit juga untuk memberi semacam edukasi jika mereka hanya mau tau apa yang mereka ingin tahu. Setuju kata bang Morishige

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, di mana-mana ada hehehe, tulisan di atas itu hanya contoh kasus saja 😁 Sangat nggak adil jika memukul rata, kita pun nggak akan ingin dipukul rata atas ulah rasis oknum yang nggak ada hubungannya sama kita πŸ™ˆ

      Delete
  22. Kalo pas ke Korsel dulu, aku sih ga Nemu yaa perlakuan rasis. Oke oke aja kok semuanya. Palingan sempet ketemu Ama staff Information di salah satu subway yg ga ramah. Jujur aja subway Korea buatku bingungin banget drpd Jepang :D. Jd pernah kami mau kemana gitu, agak bingung baca rutenya. Nanya dong Ama Bagian Information. Eh kok ya malah dia ngomel2 pas ngajarin nyaa.itu Krn kita ternyata ganggu nontonnya dia lwt hp. Kayaknya waktu itu ad pertandingan olahraga gitu kalo denger dr suara hp nya. Ga enak di denger aja. Lah dia kan staff informasi. Gimana ceritanye pas ada turis nyasar malah ngomel wkwkwkwkk.

    Tapi aku pernah ngalamin perlakuan rasis mba. Pas kuliah di Penang. Waktu itu belajar ttg ekonomi. Dosen yg ngajar orang Malaysia, perempuan. Trus ga tau kenapa yaaa, eh dia sewot sendiri Ama indonesia. Kebetulan wktu itu presiden kita masih ibu Megawati. Trus dia ngomong gini, 'itulah kalo pemimpin seorang wanita, hancuuur semuanya. Liat aja Indonesia, tinggal nunggu kehancuran dipimpin am presiden wanita'

    Jiaaahhhhh 1-1 nya student indo cm aku. Semua pada nengok laah hahahahhaha. Pengen aku gampar itu dosen. Tapi memang pas di Malaysia itu aku bbrp kali ngeliat sendiri kalo orang Indonesia suka disepelein. Mungkin Krn banyak yg kerja jd buruh yaa di sana. Bukan alasan sih sbrnnya.

    Aku ngalamin juga, pas mau beli makan, aku kluar. Tp Krn homestay ku Deket Ama tempat jual makan, aku males bawa pasport. Trus baju cuma kaos lusuh yg utk tidur :p. Eh sial aja ketemu polisi wkwkwkwkkw. Dia lgs nanya, identitasku. Ya aku bilang ketinggalan di rumah, aku cm beli makan. Aku lgs di kawal Ama dia. Suruh balik lagi, dan kata2nya ga enak. Seolah aku imigran gelap mungkin, apalagi rumah yg aku sewa itu daerah Chinese.

    Pas aku balik, dan ambil pasport, lgs aku tunjukkan itu visa student ke muka dia. Lgs diem, trus muji2.

    "Oh you bener student Olympia. Pasti you orang kaya bisa study kat sana. Lokal malasyiapun tak sanggub, mahal cost nya"

    Preeet laaah, najis banget aku dengernya. Aku tau dulu banyak imigran gelap dari Indonesia ke sana. Tapikan bukan berarti dia enak aja perlakuin semuanya kayak begitu. Kesel Ama orang yg pikirannya sempit gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahahaa, asli deh, petugas area publik kayak station, terminal, etc, memang pada jutek-jutek mba, entah kenapa, seperti yang mba Hicha bilang di atas. Though saya anggap mereka lebih ke tegas, tapi kalau kasusnya seperti mba Fanny, fixed itu masuk kategori jutek sih πŸ˜‚ Menyebalkan banget jika harus berurusan sama orang begitu ~

      Hmmmm, ikut elus dada baca cerita mba Fanny, masa dosen berlaku demikian, nggak etis banget. Sampai merendahkan student. Tapi orang kita pun banyak yang rasis ke orang mereka. Jadi serba salah 🀧 Intinya, ini ulah oknum, karena in general, saya percaya, baik orang kita dan orang Malaysia, pastinya banyak yang sopan dan nggak kekanak-kanakan πŸ’•

      Apalagi kejadian yang sama polisi itu, duuuh kalau aku jadi mba Fanny, mungkin sudah dongkol bangetttt hahahaha. Paling malas memang urusan sama orang yang pikirannya sempit dan memukul rata. Semoga kejadian seperti ini bisa semakin berkurang atau kalai bisa, berhenti selamanya 😍

      Delete
  23. namanya juga nenek nenek hehehe
    kayak aku nih mbak, kadang kalau diomongin sama nenek nenek, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri :D. bukannya nggak sopan atau acuh, kadang ada yang nggak masuk akal aja perkataannya hehhe
    kayaknya sejauh ini kemanapun aku pergi belum pernah mengalami kejadian rasis dari seorang nenek-nenek atau orang yang lebih tua dari aku. Beruntungnya malah nenek nenek yang baik yang aku temuin, senengnya kalau gitu. malah berasa kayak keberadaanku diterima di tempat asing aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, kadang kitanya yang harus mengerti, ya πŸ™ˆ Meski yang diucapkan bisa menyakiti hati, tapi mau bagaimana lagi, paling kalau nggak mau dengar, baiknya ignore apalagi jika yang bicara strangers πŸ˜…

      Nah, seperti mba Ainun, saya pun belum pernah dapat pengalaman buruk, jadi saya yakin, ada banyak nenek-nenek baik di luar sana, dan in general, yang rasis compare to yang nggak rasis, pastinya banyakan yang nggak 😁

      Delete
  24. Kayaknya nenek-nenek seperti itu gak hanya di luar negeri ya Mba Eno, bahkan disini pun ada. soalnya beberapa hari ini pun saya sempet di curhatin, karena kelakuan beberapa nenek-nenek, semoga dengan bertambahnya ilmu dan wawasan, nanti setelah tua kita gak bersikap seperti itu ya Mba. Kita sebagai yang muda pun juga berusaha mengerti, bukan saja karena menghormati yang lebih tua dan karena mereka punya alasan sendiri kenapa bisa begitu tapi lebih karena untuk menghandle pikiran dan perasaan kita dari rasa-rasa (bahasa apa ini yah hahaha) yang hanya merusak pikiran kita dan bikin kita jadi kepikiran, stress, marah, rendah diri dan sejenisnya, karena kita sendiri yang rugi nantinya, Si nenek mah mana tau, apa akibatnya bagi orang lain, yang penting dirinya dulu yang dipikirin yang laen mah go the hell. πŸ˜‚

    Meskipun saya belum pernah mengalami karena belum pernah ke LN sama sekali, tapi dulu hal-hal seperti itu pernah juga saya alami di negeri sendiri. Dari dunia kerja, hingga putus dengan mantan pun salah satu alasannya karena itu, padahal teman yang berasal dari ras yang sama (negeri aladin), semua saudaranya menikah dengan orang Indo, ortunya juga gak kepikiran untuk membeda-bedakan ras menantunya.

    Sebenernya emang tergantung dari orangnya masing-masing juga, karena waktu kerja, justru dulu saya lumayan akrab dengan neneknya bos (keturunan) yang rata-rata anaknya masih racisme dgn orang lokal khususnya. Padahal kalo dipikir-pikir anak2nya itu cara berpikirnya lebih maju dan berpendidikan (kalo mau dilihat dari sudut pandang itu). πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, mungkin karena itu, penting untuk kita selalu belajar, agar kelak ketika kita jadi nenek-nenek, kita nggak masuk bagian nenek-nenek menyebalkan πŸ™ˆ I know, menjadi nenek bisa berubah childish dan lainnya, tapi saya melihat nenek saya sendiri, keduanya nggak ada yang terlalu berlebihan. Means kita bisa jika kita ada kemauan πŸ˜†

      Negeri Aladin? Mantan mba dari negeri Aladin? 😁 Wah menyebalkan sekali ya rasanya jika harus mengalami rasis apalagi dari lingkungan terdekat kita. Kadang yang dekat, justru yang paling sering menyakiti tanpa sengaja πŸ˜…

      Memang pada akhirnya, semua kembali pada personal, kita nggak bisa judge based on nationality, even based on parents or grandparentsnya ya, mba. Kadang ada ortu sangat baik seperti malaikat, tapi anaknya aduh sampai kehabisan kata-kata πŸ˜‚

      Delete