Make a Move | CREAMENO

Pages

Make a Move

Gue dulu takut naik pesawat, karena imajinasi gue yang liar, ditambah beberapa kali dengar berita pesawat kecelakaan ~ Tapi, karena pekerjaan yang memaksa gue untuk sering naik pesawat, gue pun berusaha melawan rasa takut dengan belajar, dan cari tau hal-hal yang berhubungan dengan pesawat πŸ˜‚✌ Seperti kenapa turbulensi terjadi, sistem keamanan bagaimana bahkan gue cari tau cara pilot mengemudikan pesawat πŸ™ˆ Pokoknya, gue berusaha 'kenal' dengan hal yang membuat gue takut, hingga akhirnya setelah gue 'kenal', rasa takut itu hilang dengan sendirinya 😁

Well, kadang ketika kita nggak tau satu hal, kita akan merasa hal itu berbahaya untuk kita, padahal ini cuma soal kita belum memahami seluk beluk dan resikonya πŸ˜† Sama seperti bisnis, yang mana akan terlihat bahaya kalau kita nggak tau apa yang kita kerjakan. Makanya, setiap ada yang tanya bagaimana awal mula bangun sebuah business, buat gue, salah satunya adalah dengan 'kenalan'. Iya, 'kenalan' --- cari tau dan pahami bisnis apa yang kita inginkan, research sebanyak-banyaknya, dan plan sebaik-baiknya 😁 Karena saat kita 'kenal' apa yang kita kerjakan, kita jadi tau resikonya, dengan begitu, kita bisa persiapkan amunisi untuk menghadapi kegagalan πŸ˜‰

Gue mungkin bukan orang sekelas para business owners handal di negara kita, hehehe, gue hanya satu dari sekian banyak warga negara biasa, yang berusaha menjalankan business atas dasar cinta pada apa yang gue kerjakan. Tingkat kesuksesan gue pun nggak bisa di-compare sama kesuksesan mereka, karena gue masih jauh di bawah, however, gue merasa puas dengan apa yang gue dapat. Gue pun nggak punya cita-cita besar sampai punya tower, atau uang triliunan, bahkan berambisi memasukkan business gue ke pasar modal. Buat gue, dari awal, tujuan gue doing business adalah agar gue bisa hidup cukup dan membahagiakan orang-orang di sekitar πŸ™ˆ Nggak muluk, kan?

🐰🐰🐰

How much our budget?

Bicara soal business, ada satu pelajaran yang gue dapat dari mentor gue dulu, saat gue baru awal melangkah, fyi, I'm lucky enough karena mentor gue adalah Ayahnya sohibul gue sendiri hahaha, dan dari sekian banyak ilmu yang gue serap, langkah pertama yang gue lakukan saat gue bangun business adalah -- KNOW MY BUDGET -- Kadang, in most case, buat pemula (seperti gue saat itu), yang ada dipikiran adalah, "Gue mau bangun business A, B, C." dengan sejuta angan dan hayalan. Tapi gue lupa untuk 'tau' budget gue berapa, padahal tau budget itu penting karena dengan begitu kita jadi berusaha untuk doing business within our limit dan nggak collapse πŸ˜†

Setelah tau budget yang dipunya, langkah ke dua gue kala itu adalah memisahkan budget tersebut dari rekening personal. Yes, gue langsung buka rekening baru, meski gue belum kebayang usaha gue akan bagaimana πŸ˜‚ However, gue anggap langkah konkret ini sebagai bukti keseriusan untuk bangun business yang gue impikan. Selain itu, untuk mempermudah gue tracking putaran uang ke depannya, jadi bisa kelihatan titik awalnya biar nggak messed up saat buat laporan 😁

What's our business plan?

Setelah tahap dua selesai, gue mulai susun business plan, dan berkenalan dengan business yang ingin gue jalankan, seperti saat gue berkenalan dengan pesawat di paragraf pertama πŸ˜† Gue cari tau market gue, mau lokal (di sekitar area rumah kita), nasional, atau internasional. Hehehe, okay mari gue beri contoh agar lebih mudah. Ini berdasarkan request salah satu teman yang ingin buka usaha rumahan. Contoh, gue ingin jual makanan, target market gue adalah lokal yang rumahnya di sekitar tempat tinggal, around 5 km maksimum, dan cara penjualan gue via Gojek plus GRAB. Setelah gue tau target market gue, langkah berikutnya research, di sekitar gue rata-rata jual apa, yang paling laku apa, mereka bisa laku karena apa, amati, pelajari kemudian kembangkan 😁

How to divide the budget?

Semisal gue sudah tau makanan apa yang ingin gue jual, langkah selanjutnya adalah budget plan. So, pada langkah dua, kita sudah pisah budget business kita. Naah, satu saran gue, budget yang kita punya jangan dihabiskan 🀣 Tapi bagi dua, 50% untuk permulaan dan 50% untuk operasional berikutnya. Contoh, budget gue IDR 5.000.000, maka IDR 2.500.000 adalah budget permulaannya, setelah gue tau berapa yang bisa gue gunakan, gue mulai trackdown material yang dibutuhkan dan list semuanya ~ Berhubung contoh gue kali ini adalah makanan, maka list gue nggak jauh dari bahan pokok, sampai perintilan seperti gas, minyak, listrik dan lain sebagainya πŸ˜‰

What kind of material is needed?

Sudah dapat list material yang dibutuhkan? -- Mulai cari supplier, compare harga, check kualitas, buat rute sekalian. Karena usaha rumahan, kadang kita harus jemput material ke tempat supplier, beda cerita jika business kita sudah besar, maka supplier akan menawarkan kirim ke tempat kita. Kalau semua material dijemput oleh kita, maka jangan lupa siapkan rute-nya. Semisal, dari rumah jemput bahan pokok ke pasar tradisional, sehabis itu ke toko gas, terus ke toko packaging, and so on. Jika sudah lengkap rutenya, kita jadi ada bayangan, berapa kira-kira ongkos (bensin) yang kita keluarkan setiap harinya, which is ini jangan sampai dilupakan πŸ˜‚

Selain material, budget permulaan perlu disiapkan untuk marketing (promo) -- Jadi dari budget permulaan IDR 2.500.000 jangan dihabiskan untuk material 😁 Tapi dibagi lagi 50% material dan 50% marketing (promo). Cari tau, kira-kira business kita bisa melakukan promosi tipe apa. Contoh business makanan, setau gue, Gojek dan GRAB punya banyak penawaran promo untuk partners seperti gratis ongkir, promo diskon 10% dan lain sebagainya. Siapkan uang untuk itu, semisal 50% dari IDR 2.500.000 berarti gue perlu siapkan IDR 1.250.000 untuk promosi lewat mereka πŸ’•

Calculate the right price

Lengkap semua? Next masuk tahap penentuan harga. Banyak kesalahan terjadi saat penentuan harga karena yang dihitung hanya material umum saja, padahal untuk hal-hal kecil perlu dihitung juga, seperti gas, listrik, sabun cuci piring, dan perintilan nggak kelihatan lainnya --- Bahkan tenaga kita (jika tanpa staff) untuk memasak perlu dihitung agar nggak sia-sia. Anggap untuk satu menu makanan, biaya material utamanya sebesar IDR 15.000, jangan lupa tambah 20% untuk perintilan nggak terlihat, dan another 20% untuk tenaga yang dikeluarkan, dengan begitu total yang diambil 40% jadi harga yang ke luar untuk pelanggan sama dengan IDR 21.000 ---- eniho, ini hanya contoh, teman-teman yang lebih tau berapa prosentase untuk perintilan plus tenaga teman-teman 😁

Develop the products

Selesai penentuan harga, bisa mulai develop, siapkan semua material, dan pisahkan. Ini penting, kadang karena kita doing business makanan, jadi minyak untuk business kita pakai untuk masak makanan kita πŸ˜‚πŸ˜‚ Jangan begitu, sebisa mungkin dipisah, karena ini bisa bantu kita untuk tau ke depannya apakah harga yang kita tawarkan sudah sesuai apa nggak --- Especially, usaha rumahan, yang segala sesuatunya di rumah, otomatis kecampur sama apa yang kita punya. Saran gue kalau hanya bisa beli satu botol dan ingin pakai barengan sama keperluan rumah, contoh minyak satu botol untuk rumah dan business, then langsung bagi dua dari awal, pisahkan di antara dua botol berbeda, kemudian hitung biaya yang digunakan hanya setengah πŸ˜‰

Ribet? Memang. Tapi harus komitmen, dan konsisten, biar hasilnya kelihatan. One day, nggak akan ada deh tuh yang namanya mengeluh, "Haduuuuh, capek jualan kenapa hasilnya nggak kelihatan. Uangnya lari ke mana? Bla bla bla." Padahal bisa jadi, itu karena kelalaian dan kemalasan kita πŸ™ˆ Mana usaha kecil putaran uangnya ikut kecil, jadi kadang nggak kelihatan, untung seribu dua ribu nggak dipisah, dan asal pakai, ended up capek doang yang ada. Menurut gue, bangun mental yang berat, mental untuk nggak menggampangkan, dan mental untuk teratur dalam hal keuangan 😁

🐰🐰🐰

Post gue sudah panjang sepertinya, hahahahaa, kapan-kapan gue lanjut yah. Sekarang segitu dulu basic-nya, buat teman-teman yang ingin usaha, mungkin bisa mulai 'kenalan' dan susun rencana. Karena semakin kita kenal, semakin kita yakin untuk melangkah, nggak beda dari cari jodoh genks hahahaha 🀣 For the last, gue mau kasih satu quote favorit gue dari Chauncey Depew, "The first step towards getting somewhere is to decide that you are not going to stay where you are." ---- so, let's make a move! From small step, itu akan membawa kita pada perubahan. Good luck! πŸ₯³

44 comments:

  1. berasa lagi kuliah online baca postingan mbak Eno kali ini
    untung aku bacanya sambil santai jadi nggak berasap ini kepala πŸ˜†

    memang harus di detailkan dari awal ya mbak
    karena pengeluaran yang kecil-kecil itu kadang lebih gede kalo dikumpulin daripada yang emang udah keliatan gede

    menarik mbak, semoga ada lanjutannya yaaa hihi
    makasih kuliah online 2 sks-nya mbak Eno 🌻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wk, sini mba saya tiup biar hilang asap di kepalanya 🀣 Well eniweis, terima kasih sudah baca tulisan saya yang satu ini mba, which is buat saya sendiri cukup berat πŸ˜… Maklum kebiasa tulis yang ringan, giliran mau bahas business jadi serasa keram otak hahahahahaha. Semoga maksud saya tersampaikan πŸ™ˆ

      Yep mba Dea, semua kalau bisa detail dari awal, justru yang nggak kelihatan itu yang sering kali jadi biang kerok collapse-nya sebuah usaha 😁 Makanya sebisa mungkin kenalan dan research sebanyak-banyaknya, karena itu akan sangat membantu kita ke depannya πŸ˜† hehe, once again terima kasih sudah baca, mba 😍

      Semoga bermanfaat πŸ’•

      Delete
  2. Kak Eno, bermanfaat sekali postingan kali ini 😍😍
    Benar kata Kak Dea, jadi kayak kuliah tengah malam ini 😝😝
    But ilmunya "daging" sekali~
    Thank you so much untuk sharing ilmunya 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, maaf ya Li, harusnya post siang-siang 🀣
      Sama-sama Lia, terima kasih sudah baca tulisan kakak πŸ™ˆ

      Delete
  3. Ada kelas bisnis. Nyimak ah.
    Menarik mbak Eno.πŸ˜€ sebagai fakir elmu duduk plg depan ah.

    Pertanyaan saja ttg pengalaman mbaknya..


    1. Kenapa ambil angka untuk harga barang (kira2) marginnya 40% πŸ˜€ tdk genap saja 50% berdasarkan pengalamankah?πŸ˜€πŸ˜€

    2. Apa saja perbedaan perhitungan bisnis baru ini dengan core business yang selama ini mbak jalankan?πŸ˜€

    3. Kalau bisnisnya bersifat jasa menurut mbak perhitungannya bagaimana.

    Idih. Ketahuan deh bawelnya saya kalau dikelas 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Phebie 😍

      1. Iya mba, berdasarkan pengalaman, tapi usaha saya bukan usaha makanan, hehehe, that's why di atas saya kasih catatan tambahan agar teman-teman bisa hitung prosentase based on penilaian personal teman-teman pada tenaga dan teman-teman pula yang tau kira-kira perintilan yang dibutuhkan seberapa banyak. Semisal mau 50% atau 10% nggak masalah, yang bisa menilai layaknya dihargai berapa itu kita sendiri soalnya hehehehe 😁

      2. Basic step yang saya lakukan sama persis dengan di atas untuk bisnis pertama yang saya jalankan, meski produk yang dijual berbeda dan skala produksinya berbeda. Tapi pada saat saya pertama kali berproses untuk jadi pengusaha, saya mempelajari dan mengikuti 6 step awal di atas 😍

      Jadi perbedaan perhitungannya hanya dari angka budget yang saya punya dan pembagiannya, sebab untuk usaha saya, pembagiannya lebih banyak (ada cost staff, endeblabla). Kalau pada post ini saya buat sederhana hanya dibagi dua, sebab usaha yang saya kasih sample adalah usaha rumahan, jadi base-nya nggak jauh dari marketing dan material needed πŸ˜†

      Eniho, masih ada step lainnya yang perlu dipelajari, pecahan dari step di atas, hehehe, nanti saya post setelah matang tulisannya πŸ˜‚ Dan, sebetulnya ada banyak step yang bisa kita lakukan untuk prepare usaha (di internet pun kalau di-search akan muncul banyak), tapi step di atas ini adalah step paling mudah based on pengalaman saya untuk pemula yang nggak punya background usaha (saya pribadi nggak ada background usaha soalnya) πŸ˜‚

      Entah kenapa, saya bisa langsung paham dan take action setelah dapat basic step seperti di atas. However, setiap orang pasti punya cara berbeda, jadi saya di sini hanya berbagi satu sudut pandang tambahan sebagai komparasi untuk teman-teman yang ingin memulai usaha πŸ₯³ hehehehehehehe.

      Untuk nomor tiga, nanti saya bahas di-post terpisah ya, mba. Lumayan bisa jadi bahan post baru hahahahaha, terima kasih pertanyaan mba Phebie 😍

      Have a gooddddd daaaayyyy πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. Noted mba. Terima kasih sharingnya. :D
      Ditunggu kelas-kelas berikutnya !

      Delete
    3. Siap mba Phebie, have a good day, mba πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  4. WOW... 😍
    Bermanfaat banget mba.. Terimakasih sebelumnya...

    Saya mau nanya sama curcol dikit boleh yah mba?

    Pertanyaan saya.. Untuk mba Eno sendiri dalam bisnisnya, jualan online gtu juga nggk mba via marketplace..?

    Saya kan baru aja mulai rintisan awal2 usaha jualan wall decor gambar2 yg saya buat, Awalnya sih saya cuma jual2 ke rekan2 kerja yg pada baru minang rumah sendiri.

    Cuma saya pikir kok cara saya ini kurang srek, karena usahanya hanya mentok dan muter di sekitaran orang2 yg dikenal.. kepengen punya customer dri orang lain. Akhirnya mutusin buat jualan via shopee yg banyak pelanggannya.

    Shopee juga ternyata udh punya banyak penjual sejenis yg ratingnya udh bagus2. Udh gtu ada saingan berat karena ada penjual skala mall yg jual barang sejenis super murah.. wkwkwkπŸ˜†

    Hingga saya pikir toko yg saya buat ini tenggelam dengan toko lain di laman pencarian karena rating belum ada dan belum star seller juga.

    Saya nyoba buat ikut Iklan shopee dengan budget awal 100 ribu.
    Yah cara ini cukup berhasil buat produk saya dinotice sama pengguna. Tapi yah gtu... belum ada yg nyangkut. Ternyata sulit juga yah πŸ™„ jualan online. Hehehe

    Pengen punya base customer, jadi saya ikutan main tiktok dengan tujuan jualan. Tapi video yg saya posting jarang ada yg fyp.. hahaha.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Bayu sudah baca 😍

      Business yang saya jalankan nggak ada yang pakai marketplace, mas 😁 Kecuali Airbnb kalau ini mau disebut marketplace hahahaha. Tapi saya pernah punya kegelisahan yang sama dengan mas Bayu ketika awal mengiklankan salah satu usaha saya yaitu sewakan villa di Airbnb πŸ˜† Saya gelisah, takut nggak ada yang sewa πŸ˜‚ Mungkin itu yang mas Bayu rasakan, gelisah nggak ada yang beli, meski yang lihat ada banyak πŸ™ˆ

      Eniho, kegelisahan saya terpatahkan setelah ada satu group tamu dari Russia menyewa villa saya selama 8 hari 7 malam (ini tamu pertama saya). Padahal kalau di-search villa saya nggak ada di urutan atas, soalnya villa saya bukan termasuk Airbnb Plus, masih baru soalnya saat itu, jadi kenapa bisa sampai ada yang sewa? Jujur saya bertanya. And finally saya pahami cara kerjanya 🀣

      Yang paling pertama dan yang paling utama adalah apa yang kita tawarkan itu suatu produk yang bagus dari segi kualitas, dari segi foto (nggak blur, buram, etc), dan dari segi penamaan (tembak keywords) -- ini paling penting kalau mau jualan di ecommerce menurut saya. Plus harga bersaing di pasaran. Marketnya juga perlu diperjelas. Saya pribadi ada villa yang marketnya untuk group besar (up to 8 orang), namun ada pula yang marketnya untuk couple (honeymoon, etc) 😁

      Nah mungkin mas Bayu mulai bisa buat wall-art dengan tembak beberapa market. Misal mau tembak market couple / family, mulai research, kira-kira wall-art seperti apa yang disukai mereka untuk rumahnya. Atau untuk hadiah ke pasangannya. This and that. Research, bisa dengan lihat foto-foto rumah yang ada di majalah, atau sekarang mungkin di instagram banyak akun rumah ideal. Di sana bisa dilihat, tipe wall-art apa yang disuka πŸ˜†

      Setelah tau market yang ingin dituju, mulai develop design baru yang lebih sesuai dengan market tersebut. Hehehe, kita nggak akan bisa ketemu base costumer kalau kita sendiri nggak tau target market kita siapa. Biasanya yang bisa dapat base costumer itu kalau sudah terkenal dari sananya. Jadi, semisal mas Bayu sendiri belum punya massa, mas Bayu perlu usaha ekstra, untuk cari market yang mas Bayu inginkan dan develop di sana πŸ˜‰

      By the way, wall-art ini kan identik dengan kebutuhan interior rumah. Setiap orang punya kebutuhan interior berbeda. Mas Bayu di sini perlu tentukan, mau ambil market orang yang kebutuhan interiornya apa. Shabby chic? Scandinavian? Luxury? Atau apa? Dari situ, mas Bayu kembali research, kalau Scandinavian biasanya lebih suka wall-art yang seperti apa. Kalau yang Luxury sukanya bagaimana. Ada level-levelnya. Hehehe.

      Saya pribadi punya satu langganan penjual wall-art yang karyanya saya pakai untuk villa-villa saya. Dia ini spesifik wall-art khusus luxury house. Tipe designnya nggak pernah saya lihat di ecommerce, dan dia nggak jualan di ecommerce, tapi dia bisa punya banyak customers padahal harga wall-artnya bisa dibilang nggak murah. Karena dia sudah tau market dia siapa, dan dia fokus ke sana 😁 So, untuk mas Bayu, mungkin bisa start from scratch lagi ya, ditulis idenya, siapa market saya, 'genre' apa yang saya ingin jual, habis itu research research research dan develop sampai ketemu yang pas 😍

      Yakin deh kalau sudah jelas marketnya siapa, nanti akan ketemu customer dengan sendirinya though di ecommerce sudah banyak pesaingnya πŸ˜‰

      Good luck, mas πŸ’•

      Delete
    2. Wow mba.. makasih banyak, makasih banyak, makasih banyak banget.... kalau bisa nulis 1000 makasih tak tulis deh disini.. 😊

      Ya ampun mba, saya malah nggk mikir sejauh itu....

      Bayu malah jadi nyadar kalau yg saya lakuin malah seperti terburu2. Masukin produk ke marketplace juga masukin aja nggak pernah mikirin keyword.. sing penting masuk... heheh..

      Mau jualan, tapi basic ilmu jualannya aja belum punya.. Ya ampunn πŸ₯΄.. makasih mba sebelumnya... balasannya buuuaaaguuussss bangett.. πŸ˜‚ Semoga Tuhan melimpahkan segala kebaikan kepada Mba Eno dan keluarga serta teman2 blogger disini.. Amin

      Delete
    3. Sama-sama mas Bayu 😁

      Nggak ada kata terlambat jika mas Bayu ingin membenahinya, mungkin bisa mulai dari awal, susun lagi business plannya, dan dikembangkan pelan-pelan. Agar bisa masuk ke pasar yang diinginkan 😍 Menurut saya, salah satu kunci business bisa sukses kalau ada research yang jelas di dalamnya. Minimal kita tau market kita siapa, dan apa yang market tersebut inginkan πŸ˜†

      Kalau kita hanya produksi barang tapi nggak tau siapa marketnya, dan apa yang mereka suka, maka akan sulit untuk kita menjual barang kita, bahkan kita nggak tau keywords yang tepat apa 😁 hehehe. Semangat, mas πŸ₯³

      Delete
    4. Oh ilmunya jualan online begitu ya mbak. Ternyata kita harus tahu target pasar terus dikembangkan biar nanti orang tertarik dan syukur syukur jadi langganan.

      Saya juga punya kegelisahan yang sama dengan mas Bayu, mau jualan online tapi kok cuma pada lihat, tidak ada yang beli. Harganya memang sedikit diatas pasaran karena modal cuma sedikit, beda dengan yang besar dan sudah terkenal, biarpun untung sedikit tapi kan yang beli banyak.

      Di jual di sekitar rumah juga jarang yang beli.

      Delete
    5. Kalau dari yang saya pelajari dan alami melalui usaha saya, seperti itu kurang lebih mas cara yang saya lakukan agar usaha saya berkembang 🀣

      Memang jualan online agak-agak tricky especially jika sudah ada brand-brand besar menjual produk serupa 😁 Tapi, jika kita mau kembali research market, tentu kita bisa survive dengan spesifik costumers yang kita inginkan πŸ˜‰

      Ayo semangat mas Agus, semoga bisa laris manis usahanya 😍

      Delete
  5. Mba Enooo keren banget ilmunyaaaa πŸ₯° Makasih udah mau berbagi secara gratis...

    Sebenernya ga ada minat sih ke arah bisnis karena kayaknya diri ini yakin ga jago buat bisnis2an. Tapi, ngeliat temen mulai dr nol dan sekarang omset tak terkira jadi penasaran banget sih dibalik itu seperti apa, tapi sungkan mau tanya hehe takut privacy tapi akhirnya tau kalo emang bisnis itu ga ada yang mudah dan harus pinter itung2an juga supaya gak rugi. Keren banget Mbaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Tika, terima kasih sudah membaca 😍

      Hihihi iya mba, meski nggak berminat, terima kasih sudah baca siapa tau bisa tambah-tambah ilmu meski tulisan saya mungkin nggak banyak ilmunya 🀣 Because that's how we learn about something. Hehehehe.

      Yang pasti jika ada teman mba Tika sampai punya omset tak terkira, itu dia dapat dari hasil usaha dia pagi siang malam πŸ˜† Dan iya mba, business itu nggak mudah, jadi perlu serius jika ingin melakukannya agar meminimalisir dampak gagal dihari kemudian. Perlu punya perhitungan matang πŸ˜πŸ’•

      Delete
  6. "Kadang ketika gak tahu suatu hal, kita merasa hal itu berbahaya untuk kita..."
    Iya banget, pikiran udah berfantasi liar. Setelah dijalani, eh kok cuma gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Sekar, biasanya pikiran sudah ke mana-mana (overthinking) 😁 Jadi salah satu cara menyikapinya adalah dengan mengenal lebih jauuuh πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  7. Terimakasih ilmunya kak Eno. Pembahasannya padat sekali, untungnya gaya penulisannya santai jadi gampang dipahami.

    Berkaitan dengan topik diatas, saya pernah dapat ilmu serupa. Bedanya, ini jualan ayam goreng di pinggir jalan. Risetnya pun tidak main-main. Sampai tahap menghitung jumlah kendaraan perhari, terus membaginya ke yang 'pakai helm' dan 'tidak pakai helm'. Katanya, radius orang tidak pakai helm itu maksimal 2 KM. Jadi, kalau banyak yang tidak pakai helm, artinya potensi tempatnya strategis karena kebanyakan mereka tinggal di daerah situ.

    Masalah dalam bisnis macam mengeluh "capek kerja ngga ada hasil" juga memang kerapkali terjadi. Ternyata, solusinya begitu yah. I see. Tapi saya mau tau pandangan kak Eno soal buka bisnis dengan uang sendiri vs uang pinjaman.

    Btw, terimakasih ilmunya kak Eno. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak mas Rahul sudah membaca tulisan saya 😁 Iya untuk post yang ini lumayan padat bahasannya, hahaha, untung nggak sering-sering ya 🀣

      Yep, seperti ilmu yang sudah mas Rahul pelajari, menurut saya poin paling sederhana untuk usaha rumahan atau usaha kecil-kecilan adalah menembak market terdekat. Jadi, kita boleh bermimpi besar mau bisa skala nasional, however dimulai dari yang terdekat dulu, makanya ada radius di sana. Bisa diatur mau per2km / 5km atau berapa. Dari situ kita bisa pelajari bagaimana pola masyarakat sekitar. Sebab mostly, mereka itu yang akan jadi pelanggan kita, bukan orang-orang yang sekedar lewat 😁

      Kalau kita hidup hanya untuk mengeluh, kita nggak akan bergerak maju mas, nanti ujungnya hanya bisa blame kesuksesan orang lain dengan, "Ah dia punya privilege, endeblabla." padahal bisa jadi kitanya yang malas πŸ˜… Eniho, untuk request mas, nanti saya bahas di post terpisah πŸ˜‰

      Sama-sama mas Rahul, semoga bermanfaat πŸ’•

      Delete
  8. Aku berasa lagi ikut kelas strategic marketing hhaa. Kayanya pas kelas, breakdown seperti ini cuma formalitas berdasarkan teori aja. Padahal sebetulnya penting untuk di terapkan dengan runut. Jadi bisa keliatan jelas alurnya.

    Suatu insight yang berfaedah banget, Mba. Jadi punya bayangan jika suatu hari ini bangun usaha sendiri. Makasih sudah berbagi, Mba 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, semoga nggak buat kepala mba Devina berasap ya 🀣 Menurut saya breakdown dibuat pasti ada fungsinya, karena dengan kita ikuti secara runut, itu bisa memudahkan kita dan memberi guide pada usaha kita 😍

      Terima kasih sudah baca mba, have a good dayyyyy πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  9. Nah ini postingan yang kutunggu tunggu,
    aku udah catet poin-poin pentingnya dan karena orangnya ga bisa kalo ga sistematis seperti penampakan excel atau harus visual, setelah apa yang kak Eno jelaskan disini, langsung nulis di excel biar keliatan kira-kira apa yg mesti kutanyakan disini.

    Jadi so far belum ada pertanyaan,
    meskipun ada, udah ditanyakan oleh phebie tp kak Eno kayaknya akan dibahas di post selanjutnya (terkait itungan untuk bisnis jasa)

    Dan bener banget banget banget, target market adalah kunci. makin jelas target market, bahkan kalo bisa sespesifik mungkin agar effort untuk develop produknya lebih fokus dan ga terlalu melebar percuma.

    Kak Eno, Terimakasih untuk tulisannya.

    so far blm ada pertanyaan, tapi ada PR yg mau kukerjakan dulu, kalo ada pertanyaan, via email boleh yaaa...

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya dulu persis Ady, habis dikasih breakdown list sama mentor, langsung saya catat di excel untuk saya pelajari step by stepnya dan ambil langkah konkret dalam pelaksanaannya. Semoga one day, Ady bisa mulai business yang Ady inginkan, dengan penuh rasa yakin atas produk / skill yang Ady punya 😍

      Betuuul, target market sangat diperlukan Dy, that's why research itu penting, kalau kita doing business tanpa research, kita hanya bakar uang akhirnya πŸ˜… Sama-sama Ady, feel free to email anytime Ady mau tanya πŸ˜‰

      Delete
  10. Tulisan yang bagus Eno.. cuma judulnya itu yang paling penting sebenarnya.

    Kalau bisnis hanya berhitung terus dan nggak dijalanin, hasilnya ya cuma teori. Jadi, kalau menurut saya, berhitung wajib hukumnya kalau mau berbisnis, tetapi tekad dan niat harus lebih kuat lagi.

    Kebanyakan, mereka yang sudah hitung-hitungan angka mundur dan nggak melanjutkan bahkan sebelum mencoba. Padahal, seharusnya dia meneruskan sambil mencari solusi.

    Bisnis butuh mentalitas seperti itu.

    Makanya saya sepakat sama judul di atas karena mirip sekali dengan kata Bob Sadino, Bisnis itu untuk dijalani dan bukan diteorikan... hahaha

    Gitu menurut saya sih.. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih si bapak ini rumpiin saya deh πŸ˜’





      πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Wehehehe, terima kasih mas Anton πŸ˜‚ Memang the most important thing adalah make a move ya mas, percuma punya teori dan ilmu segudang jika nggak ada pergerakan. Yang ada stuck disitu-situ saja πŸ™ˆ However, saya rasa banyak yang belum berani bergerak karena takut gagal, dan saya anggap itu wajar, mungkin memang belum ketemu timing yang tepat 😍

      Dan setuju, business butuh mentalitas baja, perlu belajar cari solusi dari setiap permasalahan yang ada, hehehe, terima kasih untuk komennya, mas πŸ₯³

      Delete
    3. Mba Rey: 🀣🀣🀣🀣

      Delete
    4. @Rey : kok tiba-tiba ada yang tersungging yah.. padahal namanya ga dimention.. hahahaha

      @Eno : takut gagal berbisnis, akhirnya tidak berbisnis. Takut gagal berumahtangga, akhirnya nggak pernah nikah.

      Ketakutan akan masa depan selalu ada karena masa depan itu gelap, seberapapun diusahakan untuk diterangkan, tetap tidak tentu dan tidak ada kepastian. Padahal, manusia senangnya melihat kepastian dan kestabilan (saya juga.. :-D).

      Makanya, berbisnis jadi menakutkan, karena di sana tidak ada kepastian, yang ada banyak ketidakpastian.

      Tapi, kalau diikuti, ya tidak akan pernah yang namanya berbisnis. Bisnis itu ya bagian dari kehidupan juga yang sebenarnya penuh ketidakpastian dan manusia mencoba membuatnya jadi "sepasti" mungkin dengan caranya.

      Hihihi.. ga ada timing yang tepat sebenarnya kalau seseorang tidak bisa menerobos hambatan mentalnya sendiri dalam hal ini. Hahahaha... maklum kebiasaan melihat sesuatu dengan gaya seperti ini, dan tidak biasa menunggu..

      Delete
    5. Hahahaha, iya, benar banyak yang demikian, rasa takut memang sebaiknya dilawan, tapi nggak semua orang punya mental dan keberanian untuk melawan. That's why ada yang lebih suka stay di comfort zone sebab mungkin seperti yang mas Anton bilang, nggak berani menghadapi ketidakpastian 😁

      Dan bisnis for some people semenakutkan itu, just like what I said, kadang banyak hal terlihat berbahaya karena kita nggak berusaha 'mengenal' dan 'mempelajarinya' πŸ˜‚ Mungkin karena itu pula, advisor saya sampai bilang, sebelum investasi uang, perlu untuk kita investasi otak agar bisa mengenal lebih jauh dunia bisnis agar kita bisa punya basic knowledge sebelum melangkah 😁 Tujuannya, tentu untuk meminimalisir kegagalan πŸ™ˆ

      Hihihi, yah pada akhirnya, setiap orang punya caranya sendiri untuk survive. Kita hanya bisa berbagi pengalaman kita dan sudut pandang kita 😍 So, I thank you for that mas Anton, sudah mau berbagi POV yang mas punya πŸ’•

      Delete
  11. Awalnya memang kliatan ribet :D. Tapi sbnrnya setelah terjun lgs, dan sudah berjalan, jadi terlihat sudah biasa :).

    Sayang banget dulu aku ga ikutan pas papa mulai ngejalanin bisnis bakerynya di awal. Yg aku tau papa serius pas mulai bangun bakery di Medan, dan dr awal targetnya adalah menengah ke bawah.. makanya dulu aku sempet protes, kenapa roti dan kue2nya ga 'cakep' kayak bakerynya FRANCIS ARTISAN BAKERY, favoritku :D. Tapi akhirnya papa bilang, segment dia bukan kesana. Kalo papa jual begitu di Medan, lokasinya ga akan mungkin di tempat itu. Lalu hrs pikirin dana LBH besar utk cari lokasi WAH.. Dan banyak yg hrs dipikirin kalo segmentnya memang kelas menengah ke atas. Tapi Krn papa ngeliat di daerah itu bakery yg enak dan murah blm banyak, akhirnya papa masuk.

    Dan feeling bisnisnya bener, Alhamdulillah jd berkembang 14 cabang, yg mana akhirnya punya anak perusahaan percetakan . Awalnya aku ga abis pikir ngapain papa buka percetakan. :p. Ternyata prioritas utama, Krn roti itu butuh kotak saat dipesan. Dan untuk menekan biaya buat memproduksi kotak2 di 14 cabangnya, papa milih utk bikin sendiri perusahaan percetakannnya. Dan ternyata itu malah berkembang Krn banyak toko2 roti di Medan , atopun restoran2 yg membutuhkan kotak utk jualan mereka, pada mesen dr percetakan papa :D. Bahkan skr ini LG banyak RS yg ikutan pesan form2 yg mereka butuhkan utk operasional ke tempat papa :D. Thanks to adekku yg dokter THT dan awal2nya promosiin utk cetak form ke temen2nya dulu :D. Jd banyak RS yg tau akhirnya.

    Bisnis itu sebaiknya saling terkait sih yaa. Jadi bisa saling melengkapi kalo kata papa. Walopun ada baiknya jg ada diversifikasi usaha, biar kalo ada apa2, ga runtuh semua :D.

    Aku masih kurang pengalaman kalo soal bisnis mba. Krn utk belajar ini papa ngajak aku ke Medan utk pegang cabang dan belajar. Tp ga mungkin saat ini, Krn suami kerja di Jakarta toh. Aku ga mungkin ninggalin keluarga demi bisnis. Kalo memang mau pegang, ya semuanya hrs pindah. Lah aku kluar dari HSBC gara2 mau fokus Ama anak πŸ˜„. Jd sudahlah , saat ini mending aku serahin ke adikku yg bungsu utk bantu kelola bisnis papa. Aku palingan hanya bantu2 cek laporan keuangan , itupun Krn bisa dilakuin secara online :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mba, awalnya kelihatan rumit, tapi kalau kita mau pelan-pelan susun dan coba ambil langkah, rasanya jadi mudah πŸ™ˆ hehehehe, eniho, cerita papa mba Fanny sangat inspiring, terlihat jelas bagaimana papa mba Fanny tau apa yang market inginkan, dan terbukti bisa sukses seperti sekarang 😍

      Dan betul apa yang mba Fanny bilang, business itu kalau bisa saling connect satu sama lainnya, sebab bisa lebih memperingan cost, dan tentunya bisa saling menjaga kalau ada apa-apa 😁 hehehe, terima kasih sudah berbagi pengalaman dari papa mba Fanny ya, it means a lot for me and pembaca πŸ’•

      Delete
  12. Tengkiu sooo much Eno!

    Saya jadi kek mengulang ilmu google ads kemaren hahaha.

    di mana, cari di google sekitar 5 km, keyword apa yang lebih banyak, lalu diturunkan lagi anak keywordnya, sehingga kita ada di keyword yang persaingannya masih masuk akal, dan unik.

    Kalau diimplementasikan ke bisnis, kurang lebih seperti itu.

    Cuman bener kata pak Anton, untuk para pemula banget nget nget, mending terjun aja langsung, karena kadang ilmu bisnis itu lebih bisa kita pelajari by doing.

    Kalau cuman dipelajari dan disusun plan, apalagi sama sekali nggak punya pengalaman, yang ada shock ketika jalan, semua tak seperti rencana hahaha.

    Kalau udah terjun, pastinya menemukan kendala, langsung praktik deh teorinya coba yang ini, coba yang itu, konsisten dan kasih waktu, lama-lama bakal tahu, bisnis yang bisa kita kembangkan itu di mana.

    Berkaca dari pengalaman saya, 2 kali daftar MLM, keduanya sama saya kerjakan sepenuh hati, pakai plan, baik yang sangat dasar, sampai kasih ilmu pengembangan diri.

    Nyatanya, sampai setahun, nggak ada sama sekali perkembangan yang signifikan, dan itu terjadi bukan kepada saya doang, banyak teman-teman yang udah bener-bener serius, dan konsisten. ujung-ujungnya jodoh bisnis juga yang menentukan hahaha.

    Jadi, bahkan konsisten pun kudu dikasih waktu, biar kita bisa move on nerapin ilmu kita ke bisnis lain yang memang jodoh rezeki kita.

    Over all, tengkiuuu so much Eno udah membahas tentang topik yang sangat saya tunggu-tunggu.

    Meskipun kalau liat dari tulisan dan blog ini, saya yakin banget, kalau Eno itu memulai bisnis dengan penuh perhitungan dan ilmu.
    Makanya udah lebih mudah terjunnya ke bisnis.

    Kalau saya dulu nol se enolnya, hahaha.
    Sama sekali nggak punya ilmu, pokoknya dibenak saya cuman ada, gimana caranya saya bisa menjual sesuatu yang saya bikin sendiri dan nggak ada saingannya, saking saya nggak punya ilmu marketing, jadi udah keder duluan kalau disuruh bersaing hahahaha.

    Ebentar..
    Si Rey mah, teori doaaangg...
    Bisnisnya ngeblog aja deh wakakakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, selalu seru baca komentar mba Rey dan banyak dagingnya 🀣 Terima kasih mba Rey sudah berbagi pengalaman. Memang kalau business hanya berhenti di-plan tanpa ada pergerakan, itu akan jadi sia-sia πŸ˜† hehe.

      However, menurut saya tetap harus diperhitungkan sebelum melangkah, seenggaknya tau berapa budget yang tersedia biar ada alarmnya. Kalau nggak begitu, takut nanti kebanyakan bakar uang, tanpa arah yang jelas πŸ™ˆ

      Dan iya, konsisten sangat diperlukan dalam menjalankan business, plus keep research, dari research bisa masuk ke marketing, sebab marketing tanpa research nggak akan ketemu market yang tepat, mungkin karena itu jadi susah berkembang 😁

      By the way, menurut saya, mba Rey sukses di bisnis blog mba πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. Pesaing gue nih.. #musuhan.. hahahahahahaha

      @Eno : hemm.. bagi yang punya pengetahuan dan pengalaman tentang riset dan planning, tentunya bisa memanfaatkan teori seperti ini.

      Bagaimana kalau yang tidak? Bisakah dia meriset tentang pangsa pasar yang ditargetkan dengan benar? Alih-alih mendapat data yang benar, ia bisa mendapat data yang salah dan menipu.

      Bisakah dia menerjemahkan data dengan benar dan memasukkannya dalam plan bisnisnya? Kalau tidak, data tersebut cenderung akan salah.

      Berapa besar bisnis yang dibangunnya? Berapa modal yang tersedia? Kalau bisnisnya dibangun dengan modal cukup besar, mungkin ia bisa menyewa tenaga pro untuk menganalisa, tetapi kalau tidak? Modalnya bisa habis sekedar menganalisa.

      Saya setuju pada garis besarnya dengan penjelasan Eno soal target pasar, dan segala macam planning. Hal itu karena saya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup selama ini. Beberapa kali coba mendirikan usaha sendiri (meski gagal) juga memberikan pengalaman lumayan banyak.

      Tapi, saya butuh lumayan lama untuk belajar dan menemukan jenis bisnis yang sesuai dengan karakter diri sendiri. Bidang dimana saya bisa menemukan kompromi dan bergerak maju.

      Pertanyaannya, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kapabilitas untuk semua itu? Haruskah memulai dalam langkah dan tahap riset, planning, padahal mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Pengetahuannya juga belum tentu cukup untuk itu..

      Kira-kira situasinya mirip dengan SEO dan Teorinya.. Apa yang harus dilakukan pemula? Belajar SEO dulu atau langsung nyebur sambil belajar..?

      I chose the last.. Langsung terjun dan belajar. Pasti akan banyak jatuh bangun, tetapi setidaknya saya sudah bergerak maju dan pengetahuan saya bertambah setiap waktu.

      Kira-kira gitu sih.. sebenarnya nyambung dari komentar yang satu lagi, cuma pindah lokasi sajah

      Delete
    3. Wuaaah noted mas, hehehe, komentar yang menarik dan memberi sudut pandang baru untuk saya 😁 Mungkin next time akan saya kembangkan jadi post lainnya related to business jika ada kesempatan 😍 hehehehehe.

      Thanks for the insight mas, as usual! πŸ˜†πŸŽ‰

      Delete
  13. dari langkah kecil akan menjadi langkah besar, setujuuu
    hal seperti ini yang aku pelajari dan amati dari temen aku yang punya bisnis cafe, hal kecil seperti beli gula, beli mie instan satu dus saja, atau bahan pokok ada perhitungannya.
    cuan is cuan :D

    dan dari bahan bahan itu tadi, lalu ditentukan harga jualnya juga, masuk akal apa enggak harganya,worth it apa enggak sama duit yang dikeluarkan buat beli bahan bakunya

    temen aku ini juga ga punya basic bisnis, tapi ada kemauan dan niat..... aku ketinggalan hahahaha

    aku bisa aku bisa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang kecil-kecil biasanya sering di-ignore padahal itu sama pentingnya, hehehe, sama seperti teman mba Ainun yang menghitung setiap pengeluaran πŸ˜†

      Karena semua butuh perhitungan, kalau nggak begitu, uang akan cepat habis tanpa tau jelas ke mana larinya 🀣 hehehe. Eniho, mba Ainun nggak ketinggalan koook, karena mba mungkin punya prioritas dan timing berbeda 😍

      So, semangat, mba! πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  14. Tulisan ini beserta komen-komennya, plus tulisan2 Mba Eno (our choices) dan tulisan selanjutnya yang berkaitan (yang akan Mba Eno tulis nantinya). Bagus banget kalo dijadikan buku, unik campur kocak dan bikin orang membaca sampe selesai. Gak seperti beberapa buku bisnis lainnya yang bikin ngantuk πŸ˜‚πŸ˜

    Terima kasih banyak Ilmunya Mbaaa, ntar halaman ini saya screenshoot (biar bisa dibaca baca lagi kalo pas gak ada kuota) πŸ˜…

    Untuk urusan yang satu ini, ternyata saya hanya bisa jadi pengamat. Karena mental saya low kalo urusannya sudah menuju ke arah bisnis kayak begini (padahal butuh) hihihi...

    Saya juga menantikan jawaban dari pertanyaannya Mas Rahul, buka bisnis dengan uang sendiri vs pinjaman, sama satu lagi, bagaimana kalo yang dijual itu jasa, gimana perhitungannya? Jawabnya pas diwaktu luang aja Mba, pas deadline akhir tahunnya udah lungsur gak berbentuk gunung lagi. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadoooow kalau jadi buku belum mba kayaknya, level saya masih jauh dari sana 🀣 Ilmunya pun masih di bawah, jadi better kita baca buku Steve Jobs atau Mark Facebook saja yang sudah jelas achievementnya hahahaha πŸ˜‚ However, saya senang jika tulisan saya enak dibaca sampai akhir dan nggak membuat mba Rini mengantuk (because this is what I worry the most) πŸ˜†

      Sama-sama mba, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca 😍 hehehehe. Dan nggak apa-apa banget jadi pengamat, saya pun sering jadi pengamat untuk hal-hal yang nggak saya bisa. Saya anggap itu proses belajar πŸ˜πŸ’•

      Siap mba, saya tampung dulu topik-topiknya, nanti saya publish ya. Doakan tumpukan pekerjaan yang setinggi gunung ini bisa cepat kelar 🀣 Though malam ini agak mereda makanya bisa balas komentar teman-teman 😍

      Delete
  15. karena kuliahku nyangkut hal beginian, jadi semasa kuliah dulu aku (bersama teman sekelompok) pernah buat business plan berupa bikin snack meksiko yang pakai guacamole gituu Bahkan sampai bikin prototipe produknya hahaha
    Asli ini seru tapi memang ribet bingiiiit hehehe
    Cuma dari situ kan bisa kelihatan tuh, produk yang dibuat ini harga jualnya sudah dapat untung berapa nihhh. Soalnya kan kaya tempat jualan, perintilan yang kak Eno sebut tadi, itu harus dimasukkan dalam perhitungan biaya supaya bisa hitung HPP (harga pokok produk). Dari situ baru deh bisa nambahin mau ambil keuntungan berapa hehehe
    Cuma memang, teori dengan praktik kadang berlainan. At least dari teori yang ada, kita bisa tau seberapa besar risiko yang akan kita alami hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya kalau tugas kuliah, pasti sampai ada prototipe segala πŸ˜† Seru ya mba jadi belajar langsung sedari mudaaaa, meski ribet saat pelaksanaannya 🀣

      And yes, setuju, meski saat praktik akan jauh beda dari teori yang kita pelajari, at least dengan kita paham teorinya, kita jadi bisa menakar resiko yang mungkin ada, dan bagaimana cara kita menghadapinya kelak 😁

      Delete
    2. sebenarnya ga diminta untuk bikin prototipenya gitu sih kak. Cuma tim kami iseng saja pengen cobain wujud aslinya gimana hahaha 🀣

      Seruu tapi risetnya lumayaan laah soalnya kan bikin itu semacam tugas akhir matkul tersebut jadi pengerjaannya pun panjang dan musti riset sana sini
      padahal ini baru dummy gituu
      kalau dijadiin riilnya sih, lebih ribet lagi pastiii karena sedikit banyak juga pas kuliah data-datanya pakai data dummy 🀣🀣 (biar tugas cepet kelar #eh)
      kalo bisnis beneran kan, musti pakai data-data seaktual mungkin dan tentu prakteknya ga sama kaya di teori hahahaha

      Delete
    3. Mba Frisca isengnya super rajin hahahaha 🀣 Tipe mahasiswa idaman ~

      Nah iya, baru dummy saja risetnya sudah panjang lebar ya, mba. Apalagi jika bangun business betulan, perlu data lebih aktual, minimal kita tau siapa yang ingin kita 'tembak' as market kita ke depannya, plus data-data lain yang dibutuhkan 😍

      Seenggaknya, ilmu yang mba pelajari dulu bisa jadi bekal ke depan πŸ˜†

      Delete