Not Confident | CREAMENO

Pages

Not Confident

Hari ini, gue dapat email berisi pertanyaan cute dan gue berminat memasukkannya ke dalam mini forum VIKING label πŸ˜† Jadi, teman yang bertanya ini adalah seorang blogger, dan dia bilang, dia sangat suka baca tulisan teman-teman, especially topik personal bersama pasangan. Bahkan pada emailnya, dia menuliskan, topik personal selalu berhasil membuat mood dia bagus karena dia jadi terbawa aura positif dari tulisan yang dia baca ~ Terus one day, dia coba menulis hal itu di blog dia, namun ended up nggak dia publish karena dia takut dan kawatir dianggap bucin atau too much oleh orang-orang yang nggak sengaja datang ke blog dia πŸ™ˆ

Berhubung gue sering bucin tulis cerita personal bersama si kesayangan... dia jadi penasaran, apa yang membuat gue pede untuk publish tulisan bucin personal gue (fyi dia nggak bilang gue bucin, tapi gue cukup tau diri kalau gue bucin garis keras hahahahahaha), dan dia tanya, bagaimana cara menulis post agar bisa memberi after effect positive or mood booster ke pembaca, sebab itu yang dia rasa setelah baca tulisan gue *aduh, jadi malu* *ketawa centil minta ditimpuk sendal* πŸ˜†

🐰🐰🐰

First, apa yang membuat gue pede untuk publish tulisan bucin personal gue, jawabannya karena gue nggak mau memusingkan penilaian orang hahahaha. Gue sudah kenyang diledek bucin sama sohibul gue sampai gue kebal πŸ€ͺ Dan gue yakin, di dunia blog yang bucin bukan cuma gue doang, ayo acung jari sebelum gue tunjuk satu-satu yang bucin kuadrat πŸ˜‚ Even bapak blogger kita yang usianya setengah abad pun member bucin, perlu gue colek, nggak? 😜 *dijewer mas Anton* Wk.

Jadi, menurut gue, tulis saja apa yang ingin ditulis karena tulisan tersebut ditulis untuk diri sendiri 😁 Hehehehe. Gue selama ini tulis cerita personal tujuannya untuk simpan kenangan. Karena gue acapkali lupa apa saja yang terjadi setahun ke-belakang, dan rasanya lucuuuk ketika gue membaca cerita tersebut sekarang. Makanya, day by day, gue semakin rajin merangkum cerita di blog meski isinya hanya keseharian for the sake of my precious memories with si kesayangan πŸ˜† Karena lately gue sadar, rasanya sangat menyenangkan bisa membaca ulang semua tulisan πŸ™ˆ

Ohya, gue sebagai pembaca juga suka baca tulisan personal di blog banyak teman, dan gue setuju, membaca tulisan dengan aura positif membuat gue ikut kebawa positif ~ karena itu gue sepakat dengan komentar mas Rahul pada post gue berjudul Part Ways perihal blogpost bisa jadi mood booster, sebab itu yang gue dan mas Rahul rasa setiap kali selesai baca post teman-teman lainnya 😁 Nggak heran, mas Rahul sampai buat statement hobi baca blogpost malam-malam, and in my opinion, baca post teman-teman bisa jadi healing program setelah beraktivitas seharian πŸ˜†

🐰🐰🐰

Gue pribadi nggak punya kiat khusus bagaimana membuat tulisan yang menyenangkan pembaca, bahkan gue nggak yakin tulisan gue membuat senang atau nggak πŸ™ˆ To be honest, selama ini, gue menulis apa yang gue pikirkan, dan level tulisan gue belum sampai tahap menulis agar pembaca senang (which I think, it's kinda hard menulis untuk pembaca, gue masih amatiran pula). Mungkin karena itu, tulisan gue terkesan berantakan, kadang terlalu singkat dan nggak jelas maksudnya 🀣 Jadi, kalau ditanya bagaimana cara, gue bingung sebab gue nggak tau jawabannya apa πŸ˜…

Namun ada satu hal yang gue percaya yaitu, jika gue puas dan lega dengan apa yang gue tulis, it means tulisan gue cukup menyenangkan untuk dibaca *minimal oleh gue dan si kesayangan* πŸ˜† Hahahahaha. So, the answer is, just write what you wanna write, without thinking too much. Takutnya kalau kebanyakan berpikir, nanti nggak jadi publish tulisannya, padahal kita nggak akan tau respon pembaca apabila tulisan nggak di-publish di blog kita 😁 Dan jangan lupa main ke blog dengan personal topic, karena biasanya sesama bucin akan saling dukung satu sama lain 😜

Sekian, teman-teman ada saran untuk pertanyaan teman kita di atas? 😍

48 comments:

  1. Mohon maaf aku juga kaum bucin, meja pendaftaran clubnya ada di sebelah mana, bu? 🀣🀣🀣🀣

    Anyway, aku juga sepemikiran dengan Kakak. Tulis aja apa yang ingin ditulis. Tulisanku berantakan karena aku menulis apa aja yang ada di benakku. Tapi dengan cara seperti itu, pikiranku jadi nggak "penuh", jadi lebih plong~ mau ada yang baca atau nggak, tapi setidaknya tulisan yang aku publish itu nyaman untuk aku baca karena blogku makin lama seperti diary online tapi untuk kalangan public wkwkw.
    So, yes, just write what you wanna write 😁. Karena kita tidak bisa membuat semua orang senang tapi kita bisa membuat diri sendiri senang dengan menulis 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo yang bucin, yang bucin, merapat ke kanan 🀣

      Nah iya, Li, kadang kita menulis untuk mengosongkan isi otak biar nggak terlalu penuh hahahaha, jadi tulis saja apa yang kita pikirkan. Mau isinya sayang-sayangan, atau bucin-bucinan, ya nggak apa-apa, asal sama pasangan sendiri, ya kan? πŸ™ˆ Dan yang terpenting, kita sebagai penulisnya sudah merasa cukup nyaman berbonus lega setelah menuliskannya 😁

      Thank you for the insight Lia, yuk fokus buat diri kita senang πŸ˜†πŸ’•

      Delete
    2. Tapi tapi, aku belum pernah lihat mba Lia membucinkan diri di tulisan blognya. Entah itu kepada pacar atau suami (?) #eh
      Eh eh. Ga. Becanda doang yaa mba Lia, wqkwwkk

      Delete
    3. Pernah beberapa kali mas Dodo, tapi memang nggak begitu kelihatan 🀣 hehehe, sering disebut Prikitiuw kalau di blog Lia 😁 *fans garis keras jadi hapal*

      Delete
    4. Wkwkwk pernah tapi dikit-dikit, Do 🀣
      Belum dibuka semua. Kalau dibuka semua mungkin levelnya hampir satu level di bawah Kak Eno? 🀣🀣

      Delete
    5. Bisa-bisa di atas kakak levelnya, sudah level akut, Lia 🀣

      Delete
    6. Sudah akut sekali Eno, makanya dia nggak berani terbuka.. bucinnya pasti dah melebihi saya juga... :-D

      Delete
    7. Tuh kaaaan, Lia pasti panglima para buciners 🀣🀣🀣🀣🀣

      Delete
  2. Hahahaha, saya juga member bucin, dulu tapi, sekarang? masih bucin tapi dengan cara yang berbeda *eh :D

    Menarik nih say.
    Salah satu writer block, menurut saya adalah, terlalu memikirkan banyak hal sebelum diposting.

    Bagus sih, banget malah.
    Tapi kalau jadinya malah bikin nggak nulis-nulis, ya jadi kebablasan juga kayaknya :D

    That's why, setiap kali nulis, saya nggak pernah banyak mikirin ini itu.
    Pokoknya satu, saya hanya fokus menulis tentang diri sendiri, dan keluarga.

    Jadi, insha Allah nggak merugikan orang, kalaupun mungkin ada yang merasa rugi, palingan keluarga sendiri, dan lebih mudah mengatasinya.

    Mengenai bucin, mungkin beda pemahaman ya, kalau saya malah sama sekali nggak menilai cerita Eno itu bucin, tapi menghangatkan hati, banget nget.

    Sering banget, setiap kali habis membaca cerita Eno tentang kesayangan, ada rasa hangat di hati, yang bikin saya tuh mau nggak mau meleburkan rasa jika sedang kesal pada pasangan, karena teringat bahwa pasangan saya yang menyebalkan itu, sebenarnya juga punya sisi baik.

    Hanya saja saya fokus ke rasa kesal, dan tulisan Eno mampu membuat saya menyingkirkan kesal, dan menghadirkan kehangata, *eaaaakkkk :D

    Btw, jadi memikirkan gaya Eno ketawa centil, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, mba Rey masih bucin kooook kelihatan 😁

      Iya ya mba, kalau terlalu banyak yang dipikirkan dan ditakutkan, kawatir nggak jadi menulis akhirnya. Hehe, ini yang pernah saya alami dulu karena kebanyakan berpikir, which ended up membuat saya jadi nggak post apa-apa πŸ™ˆ

      Betul mba, selama yang dibahas soal diri sendiri, sebisa mungkin standar kenyamanannya juga dari diri sendiri, selama diri sendiri nyaman, dan nggak menyinggung siapa-siapa, sepertinya akan baik-baik saja 😍

      Waaah terima kasih mba Rey jika mba Rey ternyata merasa demikian. Senang rasanya, hehehe, semoga kita bisa 'melihat lebih dekat' orang-orang yang ada di sekitar kita termasuk pasangan kita ya, mba πŸ˜†πŸ’•

      Yuuuk kita saling menghangatkan hahahahahaha 🀣

      Delete
  3. Hi..hi.. 😁Nggak apa-apa mbak eno bucin karena bucin itu asyik, bikin seneng, dan seneng bikin awet muda. Kalau awet muda makin disayang suami, kalau disayang suami makin bucin deh. Indahnya hidup ini kalau kita bisa bucin. Yang penting bucinnya udah halal jadi nggak dosa malah dapat pahala😁
    Kalau postingan yang bucin-bucin malah jadi nambah bucin sama pasangan.
    Lah, udah berapa kali saya nulis bucin yaπŸ˜‚
    Semoga tetap bisa langgeng dna bucin sampai hari tua....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weleh-weleh, ternyata persoalan bucin sama seperti bola bumi, berputar ya mba Astria hahahaha. Dan setuju, yang penting bucinnya nggak ke-sembarang orang, apalagi yang nggak dikenal, nanti bukan bucin yang ada πŸ˜‚

      Hayoooo hitung sudah berapa kali tulis bucin di kolom komentar πŸ™ˆ hehehe, terima kasih mba, doa yang sama untuk mba Astria, semoga bisa keep bucin dan langgeng sampai hari tua bersama pasangan tercinta 😍

      Delete
  4. Bucinnya yang gimana dulu ini Mba, karena menurut saya bucin itu ada dua tipe, yang pertama bucinnya anak abegeh, yang udah cinta mati berkorban segalanya, begitu dia gak mendapat yang dia mau (saat itu juga) dari pasangannya, yah dia langsung menyalahkan pasangan atau malah dia main pergi aja. Karena dia menganggap seharusnya kan sih pasangan udah tau kalo dia bucin dari semua perlakuannya ke pasangan, tapi ternyata sih pasangan gak (belum atau lupa) untuk memperlakukan dengan cara yang sama. Bucinnya kumat-kumatan πŸ˜‚

    Terus Bucin satu lagi, Bucin sejati πŸ˜‚ yang punya prinsip dengan terus menerus mencoba belajar dari sudut pandang pasangan, mencoba memahami sebab dan akibat kenapa pasangannya begini dan begitu dengan segudang stok sabar sambil terus mengoreksi diri. Karena dia ingin menghadirkan yang terbaik untuk pasangan agar bisa menjalani hidup yang terbaik yang pada akhirnya pasangan akan balik melakukan hal yang sama ke kita (meskipun mungkin dengan cara berbeda, tergantung sudut pandang apa yang pasangan punya), dan karena pasangan itu sama dengan pakaian kita, hak milik yang melekat di badan kita, yang juga adalah penutup aib dengan segala keburukan di badan kita semacam panu, kudis, kurap dan sebagainya hihihi... tergantung kitanya, kalo kita merawat pakaian yang kita pakai, kita sendiri yang akan merasa nyaman, bersih, dan rapi dan bonusnya pasti enak diliat juga kan. πŸ˜‰ Dan pembaca blog itu juga pastinya akan jauh lebih tertarik dengan sesuatu yang enak dibaca ya kan?

    Seperti katanya Charles Dudley Warmer, "Adalah suatu kompensasi yang indah dari hidup ini bahwa tak seorangpun bisa dengan tulus mencoba membantu orang lain tanpa membantu dirinya sendiri." Dalam hal ini orang lain itu selain diri kita, termasuk juga dengan pasangan dan pembaca blog kita.

    Jadi yah, hidup Bucin! πŸ˜‚πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadaaaw mantap mba Rini, analogi yang bagus sekali soal pasangan dan pakaian hehehehe, by the way, selama ini saya nggak menyadari ternyata ada banyak jenis bucin di dunia πŸ˜‚ Well, menurut saya, teman kita nggak masalah mau tulis apapun soal pasangannya, perkara dianggap bucin atau nggak belakangan, itu tergantung dari topik apa yang dibahas, bukan? πŸ™ˆ

      Dan mungkin, teman kita, bisa membaca komentar mba Rini ini untuk tau bedanya bucin yang oke untuk dipublikasikan dan yang cocok jadi konsumsi personal. Selama yang dibagikan bersifat positif, dan bisa dijadikan pelajaran minimal untuk diri sendiri, why not untuk di-publish, again selama sang penulis sudah merasa percaya diri 😍

      Setuju sama mba Rini, bucin sejati itu yang mau sama-sama belajar, dan nggak buta sampai tutup mata dengan kesalahan yang dibuat pasangan. Justru dengan bucin, kita jadi mau belajar karena kita ingin sama-sama menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hehehehe, semoga para buciners (halah bahasa apa inih? Wk) bisa confident berbagi cerita jika memang dari awal ingin membagikannya. Akan beda cerita jika dari awal ingin stay private, that's also okay, yang penting nyaman 😁

      Thanks for the insight, mba 😍

      Delete
    2. Bener Mba Eno, sekalipun tulisan kita di blog gak di publish atau hanya di setting private, tapi dengan menuliskannya kembali bisa menjadi reminder untuk diri sendiri, terutama ketika hubungan dengan pasangan lagi down atau terbentur dengan sebuah masalah (kan kadang ada yang sampai lupa diri dan yang diinget dari pasangan hanya kejelekan dan kekurangannya aja saking emosinya). Dengan menuliskan dan membacanya kembali bisa membuat kita flash back, atau mengingat-mengingat kembali semua kebaikan yang pernah diberikan oleh pasangan. Dengan begitu bisa memicu diri kita untuk bersyukur dan belajar memaklumi bahwa manusia itu ada naik turunnya, sekali waktu kadang dia kuat tapi di lain waktu dia menjadi orang yang lemah untuk mengerti kita. Dan begitu juga sebaliknya kita juga seperti itu. Yah, namanya juga sama-sama manusia.

      Delete
    3. Iya mbaaa, ini salah satu yang paling saya rasakan manfaatnya. Semisal kesal sama si kesayangan, terus baca tulisan-tulisan saya dan ingat akan kebaikan dia, saya jadi bisa lebih laidback terus sadar bahwa dia nggak semenyebalkan yang saya kira πŸ™ˆ Kadang kalau kita emosi, tanpa pikir panjang suka menyakiti hati pasangan, makanya sekarang setiap saya jengkel sama dia, saya akan buka label CAROUSEL untuk baca-baca biar reda 🀣

      In the end, namanya manusia ya, mba. Tempatnya salah πŸ˜†

      Delete
  5. Hadir.. *nggak dicolek aja hadir apalagi dicolek..hahahaha

    Saya memang bucin Eno ... nggak salah sama sekali dan memang sering menuliskan kata si Yayang dalam berbagai tulisan dan bahkan bahas cerita tentang dia.

    She is a special person for me, Eno dan kalau bercerita tentangnya selalu menghadirkan rasa bahagia dan hangat di dalam hati. Saya mau dan ingin berbagi tentang dia ke siapapun yang mau baca tentang rasa itu.

    Kalau orang lain memandangnya "berbeda", ya rapopo. Itu hak mereka untuk merasa demikian. Bagaimanapun, saya tidak boleh merampas hak pembaca untuk menilai. Cuma seperti biasa, saya jalan di jalan sendiri. Orang mau ngomong apa, ya saya bilang EGP.. Titik. Selesai.

    Hahahahaha..

    Intinya, setuju dengan yang ditulis di atas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahkan kata Yayang sering muncul di kolom komentar teman-teman 🀣

      Hehehehe iya mas, that's what I feel too, my man is special person for me, rasanya hangat setiap kali menulis sesuatu tentang dia maupun kenangan receh bin lucu kami berdua hahahaha. Terlepas ada yang baca atau nggak, ya nggak apa-apa, saya menulis untuk diri saya soalnya πŸ™ˆ

      Terima kasih untuk insight-nya mas 😍

      Delete
  6. Member Bucin Club HADIRRR πŸ˜†

    Aku setujuu nih sama komentarnya Mba Rini, bucin yang dimaksud yang tipe mana dulu nih hihi kalau bucin ala Mba Eno atau Mas Anton sih masuk kategori kedua yang disebutkan Mba Rini, yaa. Cintanya tuh nggak buta, tapi saling belajar menerima satu dan lainnya. Karena definisi bucin sesungguhnya nggak merem soal kekurangan pasangan, tapi mau berusaha menerima (yaa kalau orangnya udah begitu mau gimana lagi kan 🀣) dan juga mendukung si pasangan dalam proses mengubah (jika memungkinkan) kekurangannya tersebut. Dan menurutku, tulisan yang mengandung bucin itu memberikan efek heartwarming gitu lhoo, karena yaa emang kita pengen melakukan segala sesuatu yang terbaik buat si pasangan kan. Yaa kayak Mba Eno lagi cerita-cerita soal si dia lah πŸ™ˆ

    Dan setuju sekali soal kita nggak bisa membuat senang pembaca. Susyaaaah πŸ˜‚ Yang penting buatku tulisan harus dari dalam hati dan saat membacanya cukup membuat kita hepi. Pasti perasaan positif tersebut nular dengan sendirinya kok hihi

    Buat blogger siapapun itu yang email Mba Eno, semangattt yaa kawan! Emang kadang mikirin penilaian orang nggak ada habisnya, yang penting kita senang dan nyaman aja duluu πŸ€— (ini ngomong ke diri sendiri juga ihihihi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😁 Betul banget Mba Jane, kita gak perlu malu justru kita seharusnya bangga, karena gak semua orang diberi kemampuan menjadi Bucin sejati kalo dirinya tidak punya keinginan untuk menjadi seperti itu. Gak ada yang lebih menghangatkan membaca kebahagiaan orang lain di blog, kecuali pembaca blognya emang lagi sentimen dan sedang bermasalah dengan dirinya sendiri dan bucin versi mereka itu yah bucinnya level abegeh jadi gak tau kalo ada bucin level lain yang lebih super high wkwkwk πŸ˜‚

      Delete
    2. Ayo merapat ke kanan, mba Jane 🀣🀣🀣🀣

      Iya mba, saya suka baca tulisan bucin teman-teman termasuk tulisan bucin mba Jane yang terbaru waktu ultah pasangan πŸ™ˆ Hehehehe, dan setuju sama mba, ada rasa heartwarming ketika membacanya.

      Bisa ikut deg-degan dan senyum senyum sendiri bahkan ketawa ngakak kalau ternyata kejutannya gagal. Wk. Makanya, saya hobi baca tulisan bucin teman-teman semua 😍 Pada akhirnya, dari setiap cerita bucin yang dibagikan, saya belajar satu hal, kalau dalam setiap hubungan nggak ada yang sempurna, namun hubungan itu bisa berjalan, karena ada penerimaan di dalamnya πŸ’•

      Yes, tulis sesuatu yang membuat kita happy ketika membacanya. Selama kita happy, then everything will be fine, termasuk ketika tulisan itu dibaca teman-teman yang lain, hihihi, happy bisa menular kan katanya 🀣

      Thank you for the insight, mba Jane 😍

      Delete
    3. Iya mba Rini, nggak ada yang lebih membahagiakan daripada membaca kebahagiaan orang lain, karena rasa bahagia itu menular. Ini sama seperti baca buku happy ending, bawaannya jadi senyam senyum sendiri 🀣

      Delete
  7. Poinnya memang itu, tidak mempedulikan penilaian orang karena tulisan itu untuk kita sendiri. Kalau misalnya diterima oleh orang lain, bagus. Kalau tidak, yah tidak masalah. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Fokus sama yang suka saja.

    Makanya sebelum aktif lagi tahun ini, saya rasa perlu mencantumkan disclaimer diblog saya kalau tulisan saya tidak bersandar pada keilmuan yang spesifik. Ini murni subjektivitas saya. Saya tidak ingin tulisan saya jadi rujukan utama dalam bertindak dan bersikap. Karena yang saya mau, tulisan atau gagasan saya bisa jadi komparasi untuk teman-teman agar tidak terjebak pada satu pemikiran. Itu saja. Kalau itu berhasil, senang sekali saya.

    Beberapa tulisan soal teman-teman main saya juga saya tulis sebagaimana adanya. Tidak ada format khusus. Saya menulis blog langsung menulis saja, paling hanya mencatat ide dan poin-poinnya agar tidak kelupaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehe ehe ehe, iya mas, fokus sama yang suka, dan yang nggak suka, nggak apa-apa, mungkin memang bukan taste-nya baca tulisan personal 😁 Kita nggak bisa paksa taste setiap orang soalnya, hehehehehe.

      Dan iya, kita menulis bukan untuk rujukan seseorang, apalagi diikuti 100%, karena pastinya akan beda πŸ˜‚ Suka sama penjelasan mas, bahwa tulisan kita itu lebih baik dijadikan komparasi untuk teman-teman, agar tau bahwa di dunia ini ada banyak sekali sudut pandang, dan sebetulnya, saya pribadi, sering mendapatkan sudut pandang baru dari tulisan mas Rahul which is good untuk saya 😍

      As usual, thanks for the insight, mas 😁

      Delete
    2. Benar kak Eno, sangat tidak mungkin juga menyenangkan semuanya. Fokus saja sama yang benar-benar suka.

      Iya, saya memang menekankan itu. Takut tulisan saya malah jadi tameng mereka untuk bersikap. Saya pengennya tulisan saya cukup jadi komparasi sudut pandang baru.

      Kalau seperti itu, terimakasih kak Eno kalau memang tulisan saya ngasih impact baik ke kak Eno πŸ˜„

      Delete
    3. Hehehehe, kawatirnya jadi diblame juga, "Saya ikuti kata mas Rahul kok." πŸ˜‚ Padahal maksud mas Rahul bukan begitu ~ sama-sama, mas. Keep it up 😍

      Delete
  8. Dear temen kak Eno yang kirim email dan curhat soal ketakutan publish tulisan di blog,
    pertama, you are not alone, akupun sering melakukannya karena takut dikomen dan menimbulkan perdebatan (yes, aku paling ga suka perdebatan, biasanya milih ngalah dan ga ngerespon terlepas benar atau salah).
    Tapi akupun memahami kalo kita ga bisa memuaskan semua orang, jangankan kita yg manusia biasa, para Nabi pun yg harusnya levelnya diatas kita, akan ada aja 'haters'nya,

    Yg penting sih niat kita aja nulis buat apa, trus jadikan apapun komen atau respon dari pembacanya sbg review buat diri kita, kan komen itu macem-macem ya, ada yg biasa, ada yg positif, ada jg yg kritik membangun, ada masukan dari sisi mereka.

    Kalo ada komen yg ga kita suka dan ga jelas, ya mending biarin aja. karena itu tadi, kita ga bisa memuaskan semua orang, fokus aja sama orang-orang yg emang suka dgn tulisan kita.

    Kalo aku, sejauh ini nulis blog, makin lama makin ngerti kalo nulis itu mending buat diri sendiri dulu aja, rasanya lebih menyenangkan aja :D

    Kalo ada yg ga setuju jgn nyahut ya, aku ga suka debat, haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak setuju dengan pendapat di atas πŸ€”πŸ€”πŸ€”

      Walau ga tau nggak setuju nya dimana..yang penting bilang ga setuju dulu 🀣🀣🀣🀣

      Kalimat terakhirnya mengundang sekali tuk dijahili 🀣🀣🀣🀣

      #kabur πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

      Delete
    2. You are not alone Dy, saya juga paling nggak suka berdebat apalagi di dunia maya. Saya pilih diam biasanya, terlepas sesuai dengan pemikiran saya atau nggak, dan cenderung komentar pada POV yang sama πŸ™ˆ

      Dan setuju sama Ady, selama komentar yang diberikan membangun, jadikan itu review untuk kita agar bisa menjadi pribadi lebih baik lagi ke depannya 😁 Kalau komentar yang datang bersebarangan, terima dengan tangan terbuka, karena setiap orang punya sudut pandang berbeda, selama ditulis dengan baik dan sopan, anggap itu sebagai masukan πŸ˜† hehehe.

      Duh Ady, baru juga bilang jangan ada yang nyahut, eh ternyata disahut sama mas Anton komentarnya hahahahahahaa 🀣 Hayolooooh ~

      Delete
    3. Wk, mas Anton jahil bangetttt, nanti Ady jadi nggak mau komen lagi lho 🀣

      Delete
    4. Seperti di awal, ga akan ikutan kalo debat mah, kalo nyimak aja bisa aja. apalagi sama pak Anton.

      Delete
    5. 🀣🀣🀣🀣

      Delete
  9. Kemungkinan besar seseorang belum punya :

    1. Kesiapan mendapat efek +/- tulisan blotcin (blogpost bucin) :))
    2. Kesediaan energi/ waktu untuk melayani efek +/- tersebut.

    Mbak Eno sendiri saya yakin, sudah mengalami keduanya.

    Ada orang yang mudah share yang demikian, ada yang tidak, perlu mempertimbangkan perasaan pasangan juga saat membacanya (offkors)
    Itu pilihan. Kalau ragu-ragu ya sebaiknya jangan, trust your guts.

    Kadang-kadang hal indah jauh lebih bermakna saat dihayati dalam privasi. Bisa jadi malah berkurang kenikmatannya saat disebar luaskan.

    "The best and most beautiful things in this world cannot be seen or even heard, but must be felt with the heart." Hellen Keller said.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih ada bahasa baru rupanya, BLOTCIN, beklaaah mba Phebie 🀣

      Iya mba, benar, beberapa yang belum mau atau belum berani, mostly karena nggak siap dengan efek yang mungkin didapat, dan nggak punya energi untuk menghadapinya. Though so far, efeknya positif semua, tapi memang perlu kembali pada masing-masing personal, inginnya bagaimana. Sebab bisa saja efeknya beda untuk setiap orang. Hehehehe. Jika nggak siap, better jangan ditulis, cukup nikmati secara privat 😍

      Dan setuju, semoga teman kita bisa trust the guts yang dia punya. Pertimbangkan lagi apa yang diinginkan. Kalau saya hanya bagian menjawab dan berbagi POV saya, tapi bukan berarti itu mutlak untuk jadi rujukan seperti kata mas Rahul di komentar atas πŸ˜†

      Wehehehe, terima kasih untuk insightnya mba Phebie, semoga bisa jadi bahan pertimbangan teman kita yang bertanya πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. @Mbak Phebie: Mohon maaf mbak Phebie saya ikut takjub dengan kamus baru blotcin ini, bisa kepikiran gitu ya mbakπŸ˜‚πŸ€£

      Delete
    3. Mba Phebie jagonya buat bahasa baru, Awl πŸ˜‚
      Dari mulai Familiar Maya sampai Blotcin πŸ˜†

      Delete
    4. Wkwkk makasih..padahal asli itu pada ngasal bener deh..#syahrini minggiiiir :)) :))

      Delete
    5. 🀣🀣🀣🀣

      Delete
  10. Setujuuuuu, kalau kebanyakan mikir justru nggak akan jadi tulisan dan malah bisa menghambat potensi diri sendiri ya kak🀧 Alhamdulillahnya kalau aku pribadi karena dulu blogging gak ada teman dan bener-bener sendirian, jadi udah terbiasa nggak memikirkan penilaian orang. Justru malah sekarang yg lebih banyak rem biar gak asal jeplak tangannya buat nulis ini ituπŸ˜‚

    So, menulis lah karena memang kita ingin menulis. Jangan terlalu memusingkan apa yg belum pasti dan belum kejadian, bahkan ketika tulisannya sendiri belum dituangkan dari pemikiran kita. Sebab dalam hidup pun kita hanya harus fokus dengan apa yg harus dan mau kita kerjakan, bukan apa yg ada di depan. Soalnya gak akan selesai-selesai, hiks hikss😟 *mengingatkan diri sendiri ceritanyaπŸ˜†*

    Semangat untuk teman blogger yg kirim email ke kak Eno dan kita semuaaa! Yeay!✨✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Awl, bisa jadi justru menghambat potensi diri sendiri, hehehe, tapi ya semua kembali pada penulisnya masing-masing karena seperti yang mba Phebie bilang, semua orang punya kesiapan berbeda dalam menghadapi efeknya 😁

      Mungkin perlu dipertimbangkan matang-matang mau seperti apa ke depannya, dan kalaupun ingin tetap bahas personal, ya nggak apa-apa, semoga bisa bertemu dengan circle yang juga berbagi cerita personal 😍

      Semangat Awl, secara nggak langsung while Awl mengingatkan diri sendiri, Awl juga membantu kasih insight ke teman yang masih bingung hehehe, semoga dengan itu, teman yang bingung bisa pelan-pelan tau apa yang dimau untuk blognya ke depannya 😁 hehehe. SEMANGAT!

      Delete
  11. Setuju mba. Seharusnya sih ga perlulah mikirin kata2 orang ttg apa yg kita tulis. Sepanjang kita happy dengan isinya, dan itu jg maksudnya utk kenang2an dibaca suatu saat nanti, menurutku ga perlu takut apa tanggapan org lain. Anggab aja gini, mereka yg protes, bilang kalo kita too much pamernya, sebenrnya iri, pengen ngerasain seperti yg kita rasain :D.

    Aku mungkin ga nulis ttg personal life, karena blogku bukan bertema itu. Tapi aku punya blog yg memang aku privatekan untuk bacaanku pribadi, supaya kayak buku harian bener2 :p. Naah di situ sih aku nulis semuanya yg bikin aku kesel ato happy ttg apapun, termasuk ttg suami dan kluarga. Aku blm mau buka privacynya bukan Krn kuatir mikirin kata orang. Tapi Krn aku ada cerita ttg orang lain di situ, misalnya kayak ttg ortu, mertua, ipar, dan aku ga mau orang lain jadi tau rahasia kluarga yg seharusnya ga perlu tau. Kalo ttg diriku sendiri sih, bodo amatlah istilahnya :D. Ibarat kata, org lain terserah mau judge aku apapun, tapi jgn seret keluargaku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehehe, iya mba, semoga teman kita lebih pede untuk publish tulisannya, saya yakin tulisannya nggak kalah bagus dan menarik untuk dibaca 😍 Dan semoga teman kita nggak terlalu memusingkan yang lain πŸ˜†

      Well, kalau topik yang mba Fanny tulis dalam blog privat lebih banyak soal keluarga besar, mungkin memang lebih asik untuk nggak dibuka. Hehehehe. Kita ikuti saja apa yang paling nyaman πŸ™ˆ

      Delete
  12. Hhmm bingung mau komen apa.. soalnya nggk pernah ngerasain ngebucinin atau dibucinin.. wkwkwkwkπŸ˜†

    Tapi setuju banget kalau tulis aja yg mau kita tulis nggak usah pusing2 mikirin sesuatu yg belum tentu benarnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha mungkin belum waktunya, mas 🀣
      Terima kasih untuk komentarnya πŸ˜πŸ’•

      Delete
  13. Waaa haha saya suka sekali dengan konten ini mbak! kadang aku juga deg-degan mau nulis yang bucin-bucin (walaupun dari dulu single-ready-to-mingle haha). Tapi aku setuju banget dengan tips tidak memikirkan perkataan/pikiran orang lain mbak! tips jitu bingit dari Creameno haha..

    Aku suka ketawa ketiwi sendiri kalau baca artikel mbak Eno dengan kesayangan. Unyu-unyu gitu sih ceritanya dan seru apa adanya! Mbak Eno, just being mbak Eno!! Makin semangat mbak! Slalu ku tunguu hahah~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Aqmaaa, thank you sudah baca tips ala-ala saya dan teman-teman 🀣 Semoga bisa menjawab keraguan mba ya *eaaakh* hahahahaa. Saya pribadi suka banget baca tulisan perjalanan atau personal mba Aqma, dan akan selalu menanti cerita bucinnya 😜

      Hehehehehe, bisa saja mba Aqma ini, siap mba, you too ya, just being you, always fun, witty and happy 😍 Semangat berbagi cerita dan pengalaman, mba πŸ˜†

      Delete
  14. aku kalah sama pak anton :D
    kadang aku bingung mau nulis part yang mana kalau soal bucin bucinan begini hahaha, antara saking banyaknya cerita atau saking dikitnya bahan
    sebenernya kalau untuk sekedar berbagi cerita yang ringan ringan dengan pasangan, bisa harusnya ditulis ya, barangkali malah ceritanya hampir sama dengan pembaca dan mungkin mereka juga mengalami hal yang sama, jadi bisa sharing begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, saya yakin kalau mba Ainun keluarkan jurus bucinnya, Pak Anton pun bisa kalah 🀣 hehehe, iya mba, semisal merasa bisa di-share, nggak ada salahnya di-share, dengan begitu bisa saling related satu sama lain 😁

      Tapi semua akan kembali pada penulisnya, kita hanya bisa berbagi pendapat 😍

      Delete