Our Choices | CREAMENO

Pages

Our Choices

Pada business post Make a Move minggu lalu, gue membagikan pengalaman personal gue dalam membangun business dan step by step yang gue lewati sebagai langkah konkret diawal. Meskipun sample business yang gue berikan adalah sample kecil-kecilan (based on request teman), tapi gue pribadi secara garis besar menggunakan step yang sama, that's why gue dengan serius menyusun post tersebut untuk gue bagikan ke teman-teman, harapannya tentu agar bisa berguna 😁

Of course, gue tau, di dunia ini, ada banyak cara untuk develop business kita, dan cara gue bukan cara saklek yang harus diikuti oleh siapapun yang membaca. Just like mas Rahul said in one of his comments, gue berharap setiap post yang gue bagikan nggak dijadikan rujukan melainkan untuk komparasi agar teman-teman bisa mendapat clear idea, atau pilihan terbaik, sesuai dengan style teman-teman 😍 As long as you guys success, that's all the matters, rite? 😆

Eniweis, pada post tersebut, gue dapat komentar dan pertanyaan menarik dari mas Anton, yang jujur membuat gue berpikir keras dan ingin membahasnya 😂 First, gue setuju dengan komentar mas Anton mengutip Bob Sadino bahwa business harus dijalankan bukan hanya diteorikan. Dan mas Anton bilang judul post gue adalah bagian terpenting dari semuaaa, yaitu make a move alias bergerak. Dari situ, gue berkesimpulan iseng, o'rait, ke depannya kalau ada yang request gue bahas business, better gue jawab "Just do it! Make a move." daripada gue pusing tulis teori karena teori tanpa action, nggak akan ada hasilnya 🤣 *thank you, mas* *dijitak* Wk.

Ohya, gue sempat bahas step dimana gue bilang sebuah research (riset) dan planning diperlukan agar kita punya guide jelas mau ke mana business kita dibawa. Dan, jalan gue beda dengan jalan yang mas Anton bagikan, karena mas Anton sendiri adalah tipe yang let it flow, langsung terjun lapangan (kecebur bahasanya, bergerak dan belajar sambil berjalan) 😍 Jadi di sini, teman-teman bisa lihat dua style business berbeda, yang mana teman-teman tentu bisa menyesuaikan dengan style teman-teman -- Mau pakai persiapan dulu boleh, mau langsung terjun boleh, atau mau pakai cara lain pun boleh. Semua akan kembali pada pilihan masing-masing personal 😁

Kalau dari kacamata gue, riset nggak riset, with plan or without plan, all is our choices, so choose what it best for us not for everyone else 😍 Dan teori yang gue tulis kemarin, bisa jadi sukses di gue, belum tentu sukses di teman-teman. Sooo within this post, gue akan kasih alasan kenapa gue tipe terencana, dan kenapa gue fokus research and planning sebelum develop business yang gue punya 😁✌ Obviously, gue membuat post kemarin karena itu adalah request beberapa teman yang ingin gue bahas lebih jauh soal business (nggak sebatas di kolom komentar), so here we go, my part II related to make a move and can be my last post about business, too 😂 *joke!*

🐰🐰🐰

Fyi, berikut komentar mas Anton, "Bagi yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang riset dan planning, tentu bisa memanfaatkan teori seperti ini (maksudnya teori yang gue tuliskan pada post make a move). Bagaimana kalau nggak (punya pengetahuan dan pengalaman)? Bisakah riset pangsa pasar yang ditargetkan dengan benar? Bisakah menerjemahkan data dan memasukkannya dalam plan business-nya? Berapa besar business yang dibangunnya? Berapa modal yang tersedia? Jika business dibangun dengan modal besar, mungkin bisa sewa tenaga pro untuk analisa, namun jika nggak (punya modal besar)? Modalnya bisa sekedar habis untuk menganalisa. Pertanyaannya, bagaimana dengan orang yang nggak punya kapabilitas untuk itu semua? Haruskah mulai langkah, research and planning, padahal nggak punya kemampuan untuk melakukannya? Belajar dulu atau langsung kecebur sambil belajar? I choose the last, langsung terjun dan belajar." 😁

Nah, merespon komentar mas Anton, sekaligus berbagi pengalaman, as I mentioned before, gue tipe terencana. Can be, gue termasuk penakut yang nggak berani kecebur langsung jika nggak ada ilmunya hahahaha 🤣 Dan setelah gue tilik ke belakang, gue memang sangat jarang make a move tanpa persiapan matang. Tentu, matang sesuai standar yang gue punya 🙈 And at first, gue nggak punya pengalaman dan pengetahuan soal business, research, planning, this and that 😅 Gue buta, karena gue nggak punya privilege soal business dari orang tua gue yang pekerja kantoran.

Lantas, apa yang gue lakukan kali pertama? Tanya. Gue tanya ke ortu sohibul gue yang notabene business owner, step by step apa yang perlu gue lakukan? -- Dan jawabannya adalah investasi ilmu pengetahuan (research, planning, and more ~), which is jawaban yang sama yang diberi advisor gue, dan mungkin sudah banyak dibahas oleh para ahli finansial di sosial media 🙈 I think, if we dunno about something, we should learning about it, isn't it? Apalagi jika berhubungan dengan our money 😆 Dan gue nggak anggap apa yang mereka sarankan sekedar teori, karena gue 'bergerak' di sana, iya, gue anggap proses 'bertanya' adalah proses make a move pertama yang gue lakukan. Jadi sebetulnya, gue learning by doing sama seperti mas Anton, cuma step awalnya beda 😁

🐰🐰🐰

By the way, gue punya dua business kecil yang di-develop mba-mba gue --- salah satunya dengan modal IDR 2.500.000 --- dan business ini tetap melewati proses research and planning agar tepat sasaran. Mba gue lulusan SMP, pengetahuan dan pengalaman nggak banyak, tapi gue minta untuk make a move dari hal paling basic -- research and planning -- agar dia 'kenal' business yang dia garap. Thankfully, nggak banyak dana ke luar untuk research, karena bisnisnya kecil, jadi market yang dituju pun kecil pula. Sedangkan planning dibuat agar punya guide, dengan rentang waktu singkat (1 bulan) agar bisa adaptasi sesuai perkembangan area (bukan plan 5/10 tahunan) 😂

Makanya, pada post make a move kemarin, gue kasih sample riset apa yang bisa dilakukan jika ingin usaha kecil seperti makanan. Memang riset sederhana, tapi seenggaknya jadi tau targetnya. Mau jualan di Gofood within 5km, bagaimana riset marketnya? Buka aplikasi Gojek, search bagian NEAR ME, disitu akan ada list semua penjual makanan within your area -- check satu persatu apa yang mereka jual, resto apa yang paling tinggi rating-nya, menu apa yang paling laris di sana (bisa terlihat status bestseller), dan berapa harga yang ditawarkan. Ini hanya salah satu contoh agar kita tau siapa kompetitor kita dan market yang ingin kita tembak (dan bisa dilakukan pada ecommerce, atau tipe business jasa, sewakan properti, buka kursus, dan lain sebagainya) 😉

Buat gue, dengan kita punya data, walau kita masih perlu belajar untuk membacanya, kita jadi ada bayangan 😁 Contoh paling gampang, soal harga. Kita mau kasih harga IDR 50.000, tapi ternyata di sekitar kita, semua jual IDR 25.000. Kalau target market kita adalah orang-orang di sekitar kita, mungkin makanan kita akan susah lakunya. Begitu pula soal menu, mau jualan nasi goreng tapi di sekitar kita ada 50 orang jual nasi goreng, maka kemungkinan kita laris manis akan butuh rencana extra. But dengan belajar market research, kita bisa develop menu lain seperti ayam lalapan atau nasi kuning misalnya (?) -- And yeah, kembali lagi, ini hanya contoh sederhana 😆

🐰🐰🐰

In the end, gue anggap orang-orang yang belajar terlebih dahulu, dalam hal ini baca buku, jurnal, tanya pada yang lebih berpengalaman endeblabla, sudah melakukan 'make a move' versi mereka. Dari yang tadinya nggak tau apa-apa, sampai bisa tau, pasti ada pergerakan yang dilakukan, nggak hanya diam di tempat 😍 Dan gue rasa, itu bisa jadi a part of learning by doing process, karena setiap dari kita punya start beda. Ada yang start-nya lewat proses belajar teori, dan ada pula yang start-nya langsung terjun seperti mas Anton dan beberapa relasi gue lainnya. Yesss, I do respect mas Anton's style, karena banyak yang sukses dengan cara terjun langsung ke lapangan 😆

Nonetheless, apabila gue diminta saran berdasarkan pengalaman, sudah pasti gue akan sarankan teman-teman yang modalnya nggak banyak untuk planning and research sebelum terjun, sebab biasanya teman-teman yang modalnya nggak banyak, nggak punya budget lebih untuk antisipasi gagal. Mungkin karena itu, gue nggak berani bilang, "Just do it! Make a move." dan lebih pilih kasih teori plus step by step yang gue tau kepada teman-teman yang tanya, Karena uang mereka sangat berharga dan akan sedih rasanya jika habis nggak bersisa. And that's how this post's born, to help some friends yang style-nya seperti gue, tipe nggak berani ambil sikap tanpa rencana 😁

🐰🐰🐰

Terima kasih banyak teman-teman untuk interest-nya pada post Make a Move (sampai beberapa lanjut email, I appreciated that), plus terima kasih mas Anton sudah kasih ide untuk tulis another business post 😆 Dan mohon maaf untuk teman-teman jikalau apa yang gue bagi mungkin bukan yang terbaik, yaa. Semoga, apapun cara dan style yang teman-teman gunakan untuk kembangkan business teman-teman, semua memberi hasil maksimal ~ Karena pada akhirnya, tujuan kita sama, yaitu membuat sukses business kita 😁 And for the last, seperti kata Paulo Coelho, "Everyone has his or her own way of learning things." ----- so, mari kita lakukan apa yang menurut kita baik sesuai standar kita, untuk kesuksesan masa depan kita semua 🥳🎉 Good luck, teman-teman! 😍💕

34 comments:

  1. I take off my hat Eno *padahal jarang pake topi* ... Sambil nyengir kagum tentang bagaimana dikau menghadapi kebengalan saya.. dan menghadapi sebuah pemikiran/sudut pandang yang kontra ... hahahahaha . I respect that, a lot.

    Kesimpulan saya, pembahasan topik bisnis Eno akan jadi "kafe" baru untuk saya mampir.. hahahaha... So fun...

    #dah ah kabur... ntar dikemplangin sama banyak orang.. wakakakakakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahahaha, menurut saya, pendapat mas Anton interesting, meski berbeda, tapi saya respect karena itu jalan yang mas Anton pilih untuk develop business yang mas punya, yang tentunya melalui proses pemikiran panjang pula 😍

      Siaaap doakan saya bisa bahas soal business lagi pankapan, mas 🤣 Tapi jangan hanya menongkrong di kafe business doang ya, tolong mampir kafe lainnya biar nggak sepi hahahahahaha 😜 Once again, thank you mas! 😍

      Delete
  2. Setuju mba. Riset dan rencana itu penting. Sangaaaat penting malah. Aku cm bisa ksh cth ttg papaku yaa. Sblm dia mulai usaha bakery, papa itu karyawan biasa di oil company. Sampe dia pensiun :D. Begitu kluar dapet uang pensiun yg lumayan besar, dan dari situ pikiran bisnisnya muncul. Mau buka bakery. Tapi papa ga mau gegabah. Dia sadar bgt dia ga bisa masak. Apalagi masak roti :p. Yg ada ga bakal laku mungkin. Di situlah riset dan plan sangat membantu. Aku hrs akuin, papa jago dalam hal itu. Mungkin Krn background kerjaannya dulu.

    Setelah tau alur bisnis kan seperti apa, Uang pensiun dia beliin ruko dan peralatan kue . Cash. Ga mau kredit bank, Krn papa takut kalo sampe collapse, ga laku, keluarga bakal keteteran. Aset pasti berantakan utk nutupin utang. Trus ada temen nya yg mau join, kasih modal tambahan. Tapi dia ga mau terlibat operational. Statusnya partner. Pokoknya trima bersih aja hahahahha. Papa trima. Baru deh cari chef pastry utk toko pertama. Juga staff toko.

    Syukurnya bakery shop pertama berjalan mulus. Dan dari situ, papa baru mau ambil kredit bank, Krn sudah jelas pondasinya. Beli 1 lagi ruko yang mana utang bank dibayar dari profit. Setelah lunas, buka lagi cabang baru, dengan cara yg sama.

    Smpe skr papa ga mau sewa ruko. Kesemua cabangnya dia beli. Alasan papa dia ga mau kalo sampe bakerynya sukses, si owner seenak nya mutusin kontrak, dan malah bikin bakery lain di situ :p.

    Aku tipe speculative kalo soal investasi, tp utk urusan bisnis, jujurnya papa LBH gila :p. Aku ga akan seberani itu. Tapi karena terbukti sampe skr dia bisa berkembang, okelaaah, aku hrs belajar banyak ttg strateginya yg lain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, biasanya kalau sudah punya background pekerjaan di company sebelumnya, apalagi jika pekerjaannya nggak jauh dari urusan riset dan perencanaan, pasti akan lebih mudah dalam mengembangkan bisnis yang dipunya, karena basic knowledgenya sudah ada. Just like mba Fanny's dad 😁

      Papanya mba Fanny skill businessnya keren bangettt lhooo, saya jadi ingin belajar dari beliau hehehe, bisa bangun satu bakery sampai akhirnya punya empat belas cabang tentu nggak mudah, dan nggak bisa depend on luck saja. Pasti ada efforts dan usaha keras bagaimana papa mba Fanny research lokasi, sampai merencanakan sistem keuangan agar nggak collapse 😍

      Ayo mba belajar dari papa, ilmunyaaa dabest, akan berguna dimasa depan 😆 Mengingatkan saya akan papa mamanya sohibul saya, yang merangkak dari bawah hingga bisa sukses, dan beliau pula yang jadi mentor pertama saya 🙈

      Delete
    2. Uwwwoooooowwwww, saya jadi pengen masukin insight baru nih Mba Fan.
      Selama ini saya pikir, orang yang hebat dalam bisnis itu, adalah orang yang pandai mengatur keuangan, tapi kayaknya sih juga jodoh rezeki juga kali ya.

      Baca pengalaman papanya Mba Fanny, saya jadi ingat mertua saya.

      Blio itu pensiun dini, dulu dia kepala keuangan di sebuah kontraktor BUMN.
      Memang pakmer itu pinter banget masalah keuangan atau akunting, sampai dia juga jadi dosen di beberapa universitas swasta di Surabaya.

      Tapi, setelah blio pensiun, dan dapat uang pensiun lumayan, dibukanyalah usaha gudang pupuk dulu itu.
      Dia bangun sendiri gudangnya, jadi distributor pupuk, kalau ga salah, dan macet di tengah jalan dong.

      Setelah itu blio ganti usaha, saya lupa sih, tapi tetep macet lagi.
      Sampai akhirnya gudangnya di Kediri sono mangkrak.

      Kalau menurut saya, pakmer itu nggak punya jodoh rezeki di bisnis, blio usaha apa aja mesti gagal, padahal ya, orangnya open minded juga, selalu cucok kalau ngobrol ama saya, karena saya suka ngasih tahu hal-hal baru, dan blio open minded mendengarkan, bahkan pengen tahu.

      Tapi entah mengapa, bisnisnya selalu gagal, untungnya pakmer bangun rumah dekat kampus Unair, anaknya banyak, jadi kamar di rumahnya lumayan banyak, sekarang dijadiin kos-kosan.

      Ah mungkin memang bukan jodoh rezekinya berbisnis kali ya.

      Padahal ya, kalau dipikir secara logika, orang yang pandai hitung-hitungan perencanaan duit, udah tahulah ya masalah muter duit kek gimana :D

      Delete
    3. Menurut saya iya mba, perlu ada faktor luck di sana, tapi memang hanya sekian persen saja 😍 Saya pribadi pun nggak jago kelola uang mba awalnya. Jadi saya pakai jasa financial profesional untuk urusan uang, sambil saya belajar ~

      Salut sama bapaknya mba Fanny, karena sangat terarah bangettt dalam membangun businessnya. Nggak heran jika cabang bakery-nya sampai belasan. Semoga ke depannya semakin berkembangggg 😆💕 hehehehe.

      Mungkin tipe business yang cocok sama pakmer mba Rey justru tipe business seperti kosan. Ada yang begitu lho mba, rejekinya datang dari business persewaan hehehehe. Terima kasih mba Rey sudah berbagi cerita 😍

      Delete
  3. Salam kenal Mbak Eno .. ini entah kunjungan yang ke berapa. Sering bolak balik kesini dan baca termasuk komentar-komentarnya. BIasanya saya cuma baca saja. Saya tahu blog ini saat berkunjung ke blog Ewa Febri dan Satria MWB

    Saya beraniin ikutan komen di sini. Soalnya topiknya menarik sekali. Saya kebetulan memang sedang cari cara untuk menambah penghasilan karena upah sebagai kuli serabutan jauh dari cukup.

    Rasanya tertarik banget pas baca kalau mbak Eno juga sedang menjalankan bisnis untuk mbaknya dengan modal kecil.

    Kalau boleh tahu, bisnisnya bisnis apa ya mbak..

    Tertarik banget soalnya.

    Juga setelah baca-baca beberapa tulisan di sini, gaya tulisannya enak banget untuk dibaca loh... luwes banget. Kayaknya bakalan betah disini.

    O ya mbak katanya blog juga bisa menghasilkan uang, apa benar yah, apa mbak bisa bantu juga mengajari cara mendapatkan uang dari blog.

    Maaf ya mbak kalau mengganggu dan kurang sopan nanya banyak banget. Mohon dimaklum, saya masih baru banget menjadi blogger dan belum ngerti banget soal tata cara ngeblog yang bener. Sedang ingin banget tahu cara punya usaha sendiri yang modalnya nggak besar.

    Terima kasih banyak sebelumnya dan maaf kalau ada kata yang salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, salam kenal. Namanya siapa, ya? Saya panggil apa? 😁

      Terima kasih sebelumnya sudah main-main ke blog saya dan meninggalkan komentar, semoga bisa betah ke depannya 😆 hehehehe. Bicara mengenai bisnis modal kecil, ada banyak yang bisa dicoba mas / mba. However, mostly kalau modalnya amat sangat kecil, akan paling mudah masuk bisnis FNB (kuliner) yang perputarannya setiap hari, atau semisal mau online, bisa bisnis dropshipper (tapi saya kurang tau kalau ini, nggak pernah research). Dan bisa pula bisnis jasa. Sebetulnya, semua tergantung dari bagaimana situasi tempat tinggal mas / mba, karena perlu dilihat marketnya seperti apa, dan permintaan masyarakat yang paling banyak apa. Baru dari situ, bisa mulai pelajari sample business yang sekiranya tepat 😉

      Eniho, untuk blog, saya bukan ahlinya mas / mba 🙈 Sebab saya nggak fokus cari uang di blog jadi nggak punya kiat-kiat yang paling jitu agar bisa dapat pemasukan dari blog, mungkin mas / mba bisa baca tulisan di blog mba www.reyneraea.com 😁 Beliau sering bahas soal cari uang di blog, pada topik Tekhno. I think, itu bisa membantu mas / mba bila ingin fokus cari uang melalui pengembangan blog 😆 Yang pasti, satu yang saya tau, jika ingin fokus cari uang dari blog, mas / mba perlu konsisten dan komitmen untuk keep update agar blog nggak mati hehehehehe 😍

      Iya mas / mba, nggak apa-apa, nggak mengganggu kok, maaf baru dibalas sekarang, ya. Semoga jawaban saya membantu mas / mba, dan semoga mas / mba bisa survive menjalani hidup ke depannya. Semangat! Terima kasih sudah ambil langkah pertama dengan bertanya, you did your first move 🥳🎉

      Good luck mas / mba! 😁

      Delete
  4. Minimal punya ilmu biarpun sedikit sebelum memulai praktik. Jadi enggak kebingungan seandainya dihadapkan situasi gawat. Ya, meskipun ada sih orang-orang nekat tanpa memiliki bekal, eh dia justru lebih beruntung. Emang sulit ditebak perkara beginian. :D

    Kalau dagang buat orang-orang di sekitar emang sulit mahal, Mbak. Harga standar di pasaran aja bisa terasa mahal buat sebagian dari mereka. Kudu melihat dari mayoritas orang situ, mampu belinya di harga berapa. Contoh gampangnya, dagang nasi uduk di area kampus atau yang dijual di kantin-kantin, itu pakai bihun, gorengan, dan telur bisa 12-15 ribu, sedangkan di gang mah 9-10 ribu. Bahkan biasanya tetangga ada yang ngutang juga. Menggampangkan karena masih tetangga. Begitulah minusnya kalau bikin usaha di area gang. Sisi positifnya: enggak perlu sewa tempat, pembeli kemungkinan besar bakal jadi pelanggan tetap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Yoga, ilmu itu ada fungsinya, agar kita tau sikap apa yang bisa kita ambil ketika kita menghadapi situasi yang kurang mengenakan. Hehehe, jadi nggak 100% bergantung pada luck tapi ada strategi yang disiapkan 😁

      Betul, that's why research diperlukan agar tau apa yang paling dibutuhkan oleh target market kita. Semisal kita nggak 'kenal' market kita, akan sulit untuk kita membuat mereka mau membeli produk kita, karena kita nggak tau apa yang mereka butuhkan. Hehehehehe. Kalau usaha di gang memang susah susah gampang, untungnya sekarang ada Gojek, saya rasa aplikasi satu ini sangat mempermudah banyak pengusaha kuliner, ya 😍

      Delete
  5. Absen kelas bisnis yay 😀

    *angkat tangan*

    Menurut hemat saya..Ya.Fifty-fifty lah tapi tdk perlu saling menegasikan (misal perencanaan baru 20% bisa maju ga? Bisa)

    Bisnis itu harus siap berspekulasi. Spekulasi itu butuh keberanian. Jarang ada yg sekali merintis berhasil biasanya beberapa kali. 🙄 dan untuk beberapa jenis bisnis ada tenggang merugi dulu sebelum untung.

    Tapi perencanaan juga penting.😀..kalau dalam bisnis seperti proyeksi market..harus ada riset, kompetitor, trend dsb. Untuk hindari kegagalan yg tdk perlu.

    Bila tidak menganalisa medan pertempuran berarti menang hanya berhantung pada faktor luck..😅 pokoknya maju saja perang pakai pedang padahal lawannya ternyata pakai nuke. 😁

    Sebaliknya, kalau terlalu banyak di perencanaan, ya nggak maju2, opportunity keburu hilang disamber kompetitor lain..

    Bila kelemahan di perencanaan bisa hire orang yg mampu...😀 atau cari partner yg sahamnya dibagi rata.

    Bener nggak mbak Eno?😅😅😅#nyimak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, fifty fifty would be better mba Phebie, hehehe 😁

      Kalau dari pengalaman saya, yang penting nggak tangan kosong, biar tau arahnya mau dibawa ke mana, jadi nggak tunggu ikan datang, tapi bisa pancing dengan umpan. Dengan tau market, chance tepat sasaran akan lebih besar 😍

      Betuuuul, kalau minusnya diperencanaan, jika ada dananya bisa hire profesional, namun jika nggak ada dananya, bisa dengan belajar terlebih dahulu agar tau basic knowledge soal perencanaan 😆 Masalahnya, banyak usaha kecil-kecilan yang dilakukan tanpa rencana matang, bahkan riset pun nggak ada, alhasil, keluhan pun sering terdengar. Seperti untungnya nggak ada, uang nggak kelihatan karena nggak ada perhitungan dan guide-nya. Which ended up, business itu berjalan tapi stuck alias nggak berkembang. Mungkin some people nggak masalah dengan itu, tapi pasti ada pula yang berharap punya business bisa maju pesat, nah menurut saya, yang membedakan kemajuannya itu ada pada proses awalnya 🙈

      By the way, yang metodenya langsung terjun ada banyak yang sukses mba Phebie, tapi biasanya di tengah jalan, mereka akan ambil kelas atau sekolah business, ini dari beberapa relasi yang saya kenal. Jadi memang cuma beda di start saja dan step by stepnya, pada akhirnya kita semua sama, memilih step sesuai karakteristik kita, dan kenyamanan kita, plus tujuannya pun sama, ingin sukses semua 😁 Jadi tinggal pilih yang paling pas dengan personal 😍

      Delete
  6. Wow, makasih banyak mbak Eno. Ini sebenarnya yang kemarin aku masih bingung yaitu tentang risetnya bagaimana. Jualan cilok di musim hujan seperti ini kendalanya adalah hujan soalnya berkeliling. Mau keliling takut hujan, ngga keliling ngga dapat duit.🤣

    Nanti aku coba install aplikasi go-food, nanti aku coba makanan apa yang kira-kira banyak laku terjual tapi belum banyak saingan. Kalo banyak saingan repot juga harus sedikit menurunkan harga, kalo harganya sama seperti pasaran harus punya sesuatu nilai lebih, sementara aku masih belum paham bagaimana membuat nilai lebih itu, maklum sebelumnya hanya kuli pabrik, tidak terlalu paham bisnis.

    Aku tertarik dengan komentar mbak Fanny yang papanya berani berbisnis bakeri padahal tidak bisa membuat roti. Aku sebenarnya punya uang dari hasil PHK kemarin tapi kusimpan buat biaya pendidikan anak nanti. Mau aku pakai buat modal bisnis masih ragu, takutnya gagal uangnya hilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mas Agus, apakah mas Agus sudah coba riset kecil-kecilan? Di wilayah mas Agus ada penggunaan ojol nggak seperti Gojek atau Grab? Kalau ada, bisa download dulu aplikasinya, nanti check di Gofood, akan kelihatan kok daftar list tempat makan yang buka, dan mana-mana saja yang ratingnya besar 😁

      Dari situ, mas Agus bisa lihat, ada yang jualan cilok atau nggak, fyi, di Bali, ada satu penjual cilok lumayan terkenal mas, ratingnya 4,5 kalau nggak salah, hahaha, cilok ini kan makanan yang spesifik, jadi kalau ada fansnya saya rasa akan mudah untuk dicoba jual di sana. Selain itu, mas bisa pelajari, makanan apa yang belum ada dan sekiranya istri mas bisa buat. Atau bahkan mas bisa kok buat akun Gofood untuk warteg ibunya mas, hehehe. Tinggal dipikirkan deh mau packagingnya bagaimana. Model nasi bungkus, atau apa. Terus bisa buat menu, misal nasi sayur ayam goreng harga berapa, nasi sayur tahu tempe berapa, ini akan membantu customers yang malas berpikir mau makan apa 🤣 Jadi tinggal klak klik saja hehehehe.

      Iya mas, kalau ada uang jangan dipakai semua semisal tujuannya untuk pendidikan anak, namun jika mas Agus tetap ingin coba business, mungkin mas Agus bisa mulai dari bisnis kecil-kecilan. Di Bali banyak snack-snack murah meriah termasuk laku mas, seperti tahu crispy, atau bakso goreng, cilok, gorengan, etc, ini dijual perset, jadi misal 10.000 isinya berapa pcs, gituuu. Hehehe, coba mas pelajari deh, semangat ya mas! Kalau ada yang mau ditanya, feel free komentar atau email saya 😁

      Delete
    2. Oke mbak Eno, makasih banyak atas sarannya, nanti saya coba riset dengan aplikasi gojek, kira kira makanan apa yang ramai di sekitar daerah sini.

      Sepertinya kalo jualan cilok juga harus punya ciri khas ya biar beda dengan yang lain. Istri saya kadang bikin kue dan menurutku enak sih. Istri sendiri ya dipuji.😂

      Cuma ya itu, bikin hari ini, kalo ngga habis besoknya sudah agak basi, maklum pakai santan.

      Sekali lagi makasih ya. Duh mbak Eno baik banget padahal cuma kenal lewat blog, jadi terharu.

      Delete
    3. Cilok original pun sebenarnya enak mas, yang membuat cilok itu bisa punya pelanggan tetap biasanya kalau sausnya mantap 😂 Hehehe, by the way, istri mas Agus biasa buat kue apaaaa niiiih? 😍 Mau beli dong saya ~

      Sama-sama mas Agus, always semangat, ya 🥳

      Delete
  7. Postingannya keren sangat. Jujur, saya setuju saja, mau cara Mas Anton atau caranya Mbak Eno sama-sama bisa dipakai. Tergantung keseriusan, kemauan, kesabaran dan tentunya modal. Biasanya kalau modal dikit, orang langsung menyelam sambil minum air. Tapi jangan diam-diam langsung terjun dan menyelamlah, paling tidak liat kiri kanan dulu baru terjun, hehehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mas Ancis, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya 😁

      Iya mas, semua cara bisa digunakan, tinggal pilih mana yang paling cocok dan nyaman untuk dilakukan 😍 Hehehehehe, semoga apapun pilihannya, bisa mengarahkan kita semua ke kesuksesan yang kita harapkan 😆

      Delete
  8. Hi mbak Eno, apa kabar? Aku baru main kesini lagi, jadi telat liat blogpost mbak Eno yang baru-baru, jadi aku kepo dan baca post yang dimaksud 🙈

    Topik tentang bisnis ini memang seru ya hehe..

    Aku setuju banget sama mbak Eno, tentang style bisnis-bisnis yang ada, terutama soal persiapan atau terjun langsung. Kalau aku kayaknya sama kaya mbak Eno, agak hati-hati ketika memulai bisnis, walaupun risetnya sedikit.. yang penting sudah bawa pengetahuan tipis-tipis, dan kemudian berjalan sambil belajar apalagi kalau modalnya besar.. Serem 🙈

    Terima kasih mbak pencerahannya di dunia entrepreneur.. doakan aku bisa berbisnis seperti mbak Eno.. capek sekali kerja kantoran haha 😂


    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Aqma, kabar baik, mba bagaimana kabarnya? 😍

      Iya mba, topik business selalu seru untuk diikuti, mungkin karena itu saya hobi baca buku dan jurnal business juga 🤣 Tapi bahasan saya masih nggak ada apa-apanya, jadi anggap saja hanya sharing pengalaman, ya 😁💕

      Ayo semangat kerjanya mba Aqma, fightingggg, chayo! 🥳🎉

      Delete
  9. Eh aku ketinggalan nih postingan yg make a move ya.. Mau baca itu dulu ah.. hehehee..

    #pindahTabDulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi selamat membaca, mba 😆💕

      Delete
  10. Aku sebetulnya bukan pebisnis, bahkan pedagangpun bukan, tapi karena situasi dan kondisi, sepertinya kerucutnya mengarah "i need to know how to sell" atau berbisnis,

    Dan sepertinya aku harus bisa seperti kak Eno dan Pak Anton juga.
    Karena akupun sebetulnya lebih cenderung seperti kak Eno, harus terencana dan riset, setidaknya tahu step-stepnya, ga ngeblank banget.

    tapi biasanya aku sering berhenti di membuat rencana aja dan ga move lagi.

    Nah dari titik itu, aku harus meminjam gayanya pak Anton yang langsung terjun dan lakukan, toh riset juga udah, mau beralasan apalagi coba ya?

    thank you kak Eno!

    ReplyDelete
    Replies
    1. So do I, Dy. Awalnya bukan pebisnis, tapi memutuskan belajar karena ingin tau ilmu untuk pegangan 😆 Thankfully, akhirnya ilmu tersebut jadi bermanfaat ~

      Yes, choose your own way, yang paling pas untuk Ady jalankan business Ady kelak jika ada 😁 Apapun itu, semoga bisa memberikan hasil maksimal, dan membawa kesuksesan besar 😍 By the way, sambal cumi Panda masih jalan, kah?

      Sama-sama Adyyyy 🥳

      Delete
  11. nice post mbak sumpah

    kalau saya lebih memilih diantara apa yang dilakukan mba eno dan mas anton
    saya engga bisa perencana banget atau malah sebaliknya malah let it flow banget
    saya masih overthingking kalau saya terlalu let it flow, bisa bisa uang saya ludes
    persis pas saya mau buka cabang bimbel di salah satu kota di Jateng
    yah meski balik dikit sih cuma ya agak nyesek
    makanya saya tetep planning dengan dua rekan yang memang udah punya jaringan bisnis bimbel cukup lumayan
    paling paling saya minta tolong buat mapping area yang bakal saya ekspansi
    apakah bisa narik banyak siswa atau bahkan engga bisa sama sekali
    karena ada daerah yang ortunya memang suka ngelesin anaknya dan ada daerah yg malah sebaliknya
    sebagai timbal baliknya, saya beli modul dari mereka buat siswa di tempat baru tersebut
    tapi planning ini engga lama dan detail banget
    yang penting saya punya gambaran dan engga blind karena jujur untuk urusan permulaan buka cabang kayak gini saya masih cupu banget hehe
    baru kalau udah mulai jalan dikit udah bisa memanej

    jadi, pada intinya saya memilih di tengah tengah mbak
    merencanakan tapi ya engga detail banget baru aksi kalau memang bagi saya rencana tersebut sudah cukup untuk diaksikan

    makasih sharingnya mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, mas Ikrom 😆

      Iya mas, menurut saya, maping area dalam hal ini mempelajari market sangat dibutuhkan untuk business jasa seperti bimbel yang mas Ikrom jalankan. Agar tau apakah ada yang bisa didapat dari area yang digunakan. Kawatirnya kalau nggak research (maping area), terus ternyata di area itu ibu-ibunya bukan tipe yang kirim anak ke bimbel, ujungnya business akan collapse 🤧

      Itu pula yang dilakukan oleh mba-mba saya, nggak apa nggak detail dan nggak lama dalam proses riset dan perencanaan, namun base-nya ada, jadi bisa tau apa yang perlu diambil dalam setiap langkah ke depan 😁 Eniho, usaha bimbel mas Ikrom masih tetap jalan? Semoga sukses, mas 😍

      Sama-sama, terima kasih sudah membaca tulisan saya 🙈

      Delete
  12. Salah satu yang saya notice dari tulisan kali ini tentang analogi nasi goreng. Benar sekali. Kalau menjual nasi goreng di kawasan tang banyak jualan nasi goreng, pasti akan kelelep sama yang duluan dan punya nama.

    Untuk teman-teman yang sudah baca Blue Ocean's Strategy pasti tidak asing dengan itu. Intinya analogi bisnis itu diistilahkan lautan. Kalau kita mau buka bisnis, setidaknya lihat lautannya dulu, apakah masih biru atau sudah merah, kuning, atau sebagainya. Mungkin kita perlu mencari lautan biru kita sendiri.

    Kutipan yang paling sering saya senang dalam menggambarkan hal ini adalah dari Pandji,"Sedikit lebih beda, lebih baik. Daripada sedikit lebih baik."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, kalau semua jualan nasi goreng, akan susah survive-nya. Mungkin karena itu, kita perlu lihat seperti apa target market kita dan apa yang mereka butuhkan. Semisal semua jual nasi goreng, berarti yang mereka butuh pasti menu lainnya 😁

      By the way, bagus kata-katanya Pandji 😆

      Delete
  13. Kalau aku tipe yang perencana juga Mba. Bahkan biasanya aku bikin plan A, B, dan C.
    Sering sih dibilang kurang spontan, tapi yah, well, please accept me just the way I am hahaha
    Menurut aku perencanaan itu soal teknis saja, jadi caranya bisa beragam sesuai masing2 karakter orangnya. Ada yang merencanakan dengan runut dan ditulis, tapi ada juga yang rencananya cukup di kepalanya saja, nggak perlu visualisasi lagi. Beda-beda mah caranya, tapi tetap minimal udah ada perencanaan. Yang paling penting ya itu, segera dimulai biar segera cuan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, sama kita mba, bukan tipe spontan, dan kebetulan tipe kita adalah yang teknisnya runut ditulis hehehehe. Nah biasanya yang di kepala ini masuk tipe spontan, jadi langsung terjun setelah punya gambaran 😁

      And agree, kalau sudah ready, bisa langsung make a move ya 😍

      Delete
  14. baru tadi ngopi sama sohib bahas soal bisnis juga, sohib aku ini yang selangkah di depan dari aku mbak :D
    mau buka bisnis kecil-kecilan juga, modal juga nggak butuh banyak, nggak sampe puluhan juta, yang mahal adalah idenya. nemuuu ajahhh, heran aku hahaha
    ada tawaran buat joinan juga.
    dan temen aku ini tipenya terencana juga kayak mba eno, dipikirkan juga segala "printilannya" dari awal, jadi nggak mau setengah setengah. menurutnya, untung atau rugi nomor sekian, yang penting berani dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide memang lebih mahal biasanya mba, semoga usaha teman mba Ainun bisa berjalan lancar sesuai rencana, yaaaa 😍 Terus mba Ainun join apa nggak? 😆

      Mungkin next time boleh diceritakan, mba 😁

      Delete
  15. Enooooo... bikin buku bisnis plissss... bikinnn...! hahaha

    To be honnest ya, ilmu bisnis gini buanyaak banget beredar di internet, tapi entah mengapa, kalau saya baca bawaannya pen ambil bantal lalu ngorok, ngantuukkk..

    Tapi di blog ini, entah mengapa topik bisnis jadi kayak topik yang amat saya tunggu-tunggu, soalnya apa ya?
    Entah bahasanya yang ringan, atau pengaturan katanya yang simpel, bikin saya tuh jadi lebih mudah paham apa yang dituliskannya.

    Btw jugaaa...
    Betul sekali sih, bebassss memilih.
    Kalau saya di post sebelumnya berkomentar memang atas pengalaman pribadi.

    Di mana, saya nggak punya basic bisnis, dan sedihnya, nggak punya sama sekali circle bisnis, mau nanya juga bingung ke mana, mana saya mulai melirik bisnis itu tahun 2011 atau 2012 lalu ya, waktu itu, akses saya ke internet itu belum semudah sekarang.

    Saya bahkan memutuskan bikin usaha kecil-kecilan jualan bronis itu, karena liat TV ada acara enterpreneur gitu, baru deh saya ikutan juga mau jadi enterpreneur ceritanya.

    Tapi bener-bener ilmunya nol.
    Saya hanya mikir, bagaimana saya bisa menjual sesuatu dengan laris, dan bodohnya, saya bersaing dalam harga murah, saking kagak punya ilmua kan ye, hahahaha.

    Yang terjadi, saya dapat capeknya doang eh sama pengalamannya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaah, nggak mungkin mba, saya belum punya ilmu banyak, hahaha, ini yang saya bagi masih sedikittt based on pengalaman pula. Bukan teori yang mutlak 🤣

      Duuuh jadi senang dipuji mba Rey, membuat saya bersemangat untuk tulis topik ini ke depannya hahahahaha. Terima kasih banyak mba tersayang 😍💕 I know, saya sangat respect dengan pilihan mba, dan for some people, ada yang sukses dengan style yang mba gunakan lhoooooo.

      Memang, punya circle business akan sangat membantu kita yang mau doing business, thankfully sekarang informasi di internet mudah kita dapatkan. Dan ada banyak para pakar yang membagikan ilmunya via buku dan sosial media 😆 Jadi kita bisa belajar dengan mudah. Plus saya yakin banyak pula teman-teman yang belajar dari ilmu business yang mba Rey bagikan 😁

      Eniho, terima kasih banyak mba sudah mau berbagi pengalaman 😍

      Delete