Perfectionist | CREAMENO

Pages

Perfectionist

Halo teman-teman, saya Rini (Uzegan), akhirnya saya bisa kembali bersua, daaaan..... saya merasa jadi ghost writer karena blog saya sendiri mati suri, terus tiba-tiba saya muncul di sini πŸ˜‚

🐰🐰🐰

"Ketidaksempurnaan itu menegaskan, bahwa telah sempurnalah kita menjadi Manusia." -- Kalimat ini menjadi sebuah pengingat penting untuk saya yang memiliki separuh bagian dari tipe manusia berwatak melankolis. Dengan ciri dasar dominan, perfeksionis.

Menikah dan berkeluarga, dua hal ini telah membuat prinsip dan harga diri saya yang tertanam sejak lahir, harus bergelut dengan problematika hidup. Hingga mampu mematahkan kerasnya ego yang saya punya dalam meraih kesempurnaan. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika saya tidak lagi bisa memenuhi keinginan saya sebagai seorang perfeksionis (dibatas yang masih wajar), yang dulu bisa dengan mudahnya saya raih karena ketersediaan waktu, materi dan tenaga.

Sekarang ini kita hidup dijaman, dimana seseorang yang tidak berwatak melankolis sekalipun pada akhirnya memilih bersikap perfeksionis. Sebagai akibat dari persaingan yang semakin tinggi dalam lingkungan pergaulan, atau didikan keluarga sejak kecil. Dimana semua orang berlomba untuk jadi yang terbaik akibat terpengaruh keadaan atau karena sebuah keterpaksaan.

🐰🐰🐰

Dulu Ibu beberapa kali mengeluh. Bapak selalu tidak bisa diam kalau warung sedang sepi, tangan Bapak pasti langsung sibuk merapihkan sesuatu. Dari benda paling mencolok hingga benda kecil seperti sedotan air yang susunannya terlihat miring ~ Ibu sampai sebal, karena Ibu terpaksa harus bantu memuaskan "keperfeksionisan" Bapak, padahal saat itu Ibu sedang istirahat akibat lelah.

Mungkin karena pembawaan Ibu yang beda dengan Bapak, Ibu jadi menganggap kelakuan Bapak itu buruk dan harus diubah. Dan saya langsung membatin dong (tapi tidak pakai lirikan tajam ala sinetron), karena watak Bapak telah menurun ke saya (saya baru sadar saat saya remaja). Ibu tidak ingat bahwa anaknya yang berjiwa perfeksionis ini yang sejak kecil berinisiatif membantu Ibu jaga kebersihan dan merapikan rumah dengan penuh ikhlas tanpa harus diminta.

Namun, bedanya dengan Bapak, saya tidak pernah kepikiran untuk meminta bantuan orang lain selama masih bisa saya kerjakan sendiri ~ Hingga membuat saya menjadi.. satu-satunya anak yang hampir tidak pernah dimarahi Ibu. Seingat saya, hanya dua kali Ibu marah, itu pun karena marah dengan semua anaknya. Atau mungkin Ibu malas memarahi saya, karena Ibu tau... Ibu akan kalah setiap kali adu argumen dengan anaknya yang paling teguh pendirian (baca : keras kepala).

🐰🐰🐰

Dulu, saya sempat heran dan ingin tau bagaimana caranya agar tidak stres, bisa cool dan selow saat melihat sesuatu yang berantakan. Seperti kedua adik saya, yang tidak pernah merasa punya masalah dan easy going diwaktu yang salah (bahkan saat teman-temannya pada sibuk berjuang demi masa depan). Meski kalau dilihat, jalan hidup mereka tidak susah-susah amat dibandingkan kakak-kakaknya ~ Tidak perlu kerja keras, tidak perlu ikut bantu menopang kebutuhan keluarga karena mereka selalu mengandalkan kakak-kakaknya. Iya, mereka yang saat gagal tetap ada yang bantu, punya tempat mengadu, ada yang memperhatikan dan ada yang mendukung.

Katanya, jika kita sudah terbiasa menghadapi cobaan berat, maka saat kita diterpa angin kencang, tapak kaki kita akan semakin kuat. Tidak mudah terhempas karena pernah terlatih melewati badai yang jauh lebih hebat. Lalu bagaimana dengan mereka yang hidupnya tidak terlalu berat? Dimana cobaan yang diberikan kemungkinan besar... ringan. Apakah tidak adil jadinya?

Mungkin, kita akan anggap itu tidak adil ~ Karena kita melihat dari sudut pandang diri kita yang sudah ditempa kemelut teramat pahit. Padahal... masalah mereka yang kita anggap ringan itu bisa jadi adalah masalah terberat dalam hidup mereka. Ditambah mental yang tidak terlatih membuat mereka lebih rentan stres, tidak kuat menghadapi cobaan, merasa paling merana di dunia. Hingga menghilangkan nyawa jadi salah satu pilihan yang terlintas di benak mereka.

🐰🐰🐰

Saya pernah menganggap perfeksionis adalah sebuah kelebihan yang patut dibanggakan. Sebab obsesi mencari kesempurnaan itu mirip seperti proses menciptakan sebuah karya. Bagaimanapun berliku sebuah guratan, akan jadi sebuah kepuasan tersendiri jika berhasil disempurnakan ~ Saya ingat, sejak kecil insting saya langsung bergerak begitu melihat sesuatu yang tidak sinkron dengan sekitar atau dalam posisi berantakan. Apalagi ternyata sudah dirapikan dengan sepenuh jiwa.

Kalau masih ada waktu biasanya akan langsung saya benahi, lalu saya teliti lagi agar semua terlihat sempurna (versi saya). Anehnya, jika sesuatu itu tetap berantakan, saya bisa uring-uringan, macam singa yang dibangunkan dari tidurnya ~ Sampai akhirnya, pelan-pelan saya belajar, dari anak-anak saya yang mampu membuka mata dan merubah si wanita yang mencap dirinya sebagai seorang perfeksionis ini, untuk menjadi Ibu yang mau menerima dan memaklumi segala hal, dan berusaha bersyukur dengan semua yang ada. Alih-alih mengharapkan sesuatu yang tidak ada.

Karena jika Ibunya uring-uringan dan terus-menerus mengeluh sepanjang waktu, anak mana yang mau mendekat. Ya, kaaan? Anak sendiri pun tidak mau, apalagi anak orang πŸ˜… Kalau kata Muriel Spark, "Orangtua banyak belajar dari anak mereka tentang bagaimana mengatasi kehidupan." ---- Semakin bertambah usia saya, semakin banyak cobaan datang ke dalam hidup saya, dan tentunya semakin sulit untuk saya meraih kesempurnaan yang sebagian besar akan memudar.

Dengan bertambahnya cobaan, saya terdorong untuk bersikap realistis dalam segala hal termasuk kepada pasangan dan anak-anak. Saya coba tanggalkan label perfeksionis yang masih melekat dan sudah mendarah daging pada diri saya, demi menghindari depresi ketika kebutuhan seringkali tak bisa terpenuhi, sambil terus berusaha menjadi Ibu yang waras, jiwa maupun raga.

Saya tau itu sangat sulit, sama sulitnya ketika naluri perfeksionis itu terus bermunculan disaat saya sama sekali tak berdaya. Namun setidaknya, dengan begitu, apa yang saya lakukan dan usahakan, dapat membuat saya jauh lebih bahagia especially ketika saya bisa melihat anak-anak tersenyum ceria. Karena pada akhirnya, "Jiwa disembuhkan saat kita bersama anak-anak."

Paid Guest Post
Rini Uzegan

32 comments:

  1. Saya termasuk perfeksionis nggak yah?? hhhmmm, Kadang suka fussy kalau semisal ada barang2 yg tadinya ada ditempatnya terus tiba2 pas pulang udh ada di tempat lain... hahaha

    Pribadi sih lebih cenderung suka sama kerapihan dan mencoba menyelesaikan segala sesuatu sebagus mungkin. Apalagi kalau udh urusan kerja, karena dibayar atas pekerjaan yang saya lakukan. Rasanya aneh aja kalau hasil kerja kita kurang bagus..

    Menurut bayu, orang yang punya karakter perfeksionis adalah orang yang di anugrahi kelebihan sama yang Maha Kuasa. Soalnya mereka bermanfaat banget bagi orang sekitar karena terus berusaha buat ngebikin semuanya tetap seimbang... Yah meskipun kadang orang yg perfeksionis bisa jadi kewalahan.

    Malah kadang aneh aja kalau ngedenger orang bilang.. "Jadi orang kok perfeksionis sih..?" hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kalo dari segi positifnya yah bagus Mas Bayu, apalagi kalo ketemu dengan orang yang paham dengan watak perfeksionis itu gimana, tapi kadang ada juga yang sampe lupa kalo si perfeksionis itu juga kan manusia biasa, bisa capek apalagi jika selalu diandalkan dan dijadikan sandaran. Bahkan ada juga yang sampe dimanfaatin (di lingkungan kerja salah satunya) tapi dia gak nyadar karena perfeksionis itu emang udah passionnya banget πŸ˜‚


      Nah, sepertinya orang yang bilang "Jadi orang kok perfeksionis sih" itu kemungkinan bukan anak melankolis Mas Bayu, soalnya klo sejenis biasanya kan mahfum aja, saling memaklumi karena tau gimana rasa enak dan gak enaknya ditakdirkan jadi seorang perfeksionis. πŸ˜‚

      Delete
    2. Menurut saya, mas Bayu bisa jadi masuk kategori perfeksionis, hehehe, tapi dalam dunia kerja, jadi perfeksionis (especially saat menyelesaikan jobdesc) tentunya sangat bagus dan akan disukai pimpinan πŸ˜†

      Nah, cuma itu dia, kalau terlalu perfeksionis, nanti yang kewalahan bukan hanya diri sendiri namun orang-orang sekitar pun turut merasakannya. Jadi sebisa mungkin, menurut saya, kita perlu tetap balance πŸ™ˆ

      Seperti yang mba Rini tuliskan di atas, mas. Belajar untuk lebih berkompromi sama keadaan, dengan begitu, bisa menjalani hidup dengan lebih relaks 😁

      Delete
  2. Cool.... Banyak orang tua tidak mau belajar dari anaknya, Mbak Rini mau. Orangtua yang keren.. hahahahaha

    Manusia sempurna dengan ketidaksempurnaan.. hahahahah kalimat sakti saya kalau lagi males dan bikin kesalahan wakakakakak...

    Kalau saya berlawanan dengan Mba Rini, saya orangnya ceroboh beut dah.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. πŸ˜‚ Kerennya ini juga karena terpaksa Mas Anton, apa boleh buat mau gak mau ya harus dijalanin dan gak ada pilihan laen lagi soaknya πŸ˜‚πŸ˜…

      Hihihi.. sepertinya kalimat sakti itu sekarang jadi paling sering saya pake juga Mas πŸ˜…

      Cerobohnya mungkin emang pembawaan cowok aja kyaknya Mas, soalnya kalo saya ngeliat dari tulisan dan blognya Mas Anton malah orangnya ulet (bukan ulet cabe ato ulet nangka) πŸ˜‚ dan jauh banget dari kesan ceroboh 😁

      Delete
    2. Setuju, mba Rini keren karena mau belajar dari anak, dan mencoba memahami kebutuhan anak-anak serta berkompromi dengan keadaan 😍

      Waduh mas Anton bisa malas? Hahahaha, yang seperti mas Anton kalau malas bagaimana, ya. Soalnya selama ini, saya melihat mas Anton sangat rajin πŸ˜‚

      Delete
  3. Aku juga puny perfeksionis akut, sampai2 dikatain sama adikku punya OCD hahahaha nggak bisa banget liat barang berantakan, bikin pusing kepala dan jadinya uring2an karna nggak bisa fokus kerja. Padahal sifat ini juga sering bikin kecapekan sendiri lho. Jadinya sekarang berusaha menurunkan standar pribadi aja hehehe, berusaha lebih selow, kalau sempat dikerjakan, kalau belum, mari bernyanyi "let it go, let it goooo" 🎢🎢🎢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena gak bisa ngeliat barang berantakan, yang awalnya mo kerja eh ujung-ujungnya kita jadinya malah konsen ngeberesin barang ya Mba hihihi..

      Delete
    2. Hihihi, mungkin itu cara yang tepat untuk mengurangi sifat perfeksionis mba, dengan menyanyikan lagu Let It Goooo. Asal jangan jadi berubah malas total πŸ˜‚

      By the way, soal menurunkan standar pribadi, I think it's good idea 😍

      Delete
  4. Haloo mba Rini, udah lama sekali yaa tidak melihat tulisan terbaru. Kami udah lama nungguin update dari tulisannya hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga Do 😁 Apa kabar? Iya Do, ini lagi hibernasi belum tau sampe kapan, jadi kali ini update tulisannya di Blog Mba Eno dulu. πŸ˜πŸ˜‚

      Gak nungguin foto dan tanda tangan saya juga Do ?

      Delete
    2. πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

      Delete
  5. Sebagai orang yg cenderung perfeksionis dalam beberapa hal, aku bisa mengerti rasanya jadi mbak Rini. Tapi poin-poin mengenai belajar dari anak itu yg aku salut, sih. Nggak semua orangtua bisa seperti ini🀧 Terima kasih sudah mau berbagi mbak Riniii. Aku terketuk sekali sama kalimat di paling awal, "ketidaksempurnaan itu menegaskan, bahwa telah sempurnalah kita menjadi manusia". Relate banget dengan postingan terakhirku soalnya🀧

    Semangat terus mbak Rini!πŸ’ͺ🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo menurut saya semuanya belajar Mba Awl, tapi ada yang mungkin belajar di awal, ada yang dimulai dari tengah, bahkan mereka yang akhirnya baru mau belajar setelah semuanya terlambat atau belakangan (untuk beberapa hal). Termasuk juga saya, terkadang lupa dan lalai, terkadang juga musti diingatkan bahkan dikuatkan. Tapi yah karena hidup berjalan terus memang lebih baik kita belajar di awal dari para pendahulu (sekalipun pengalaman itu penting), ibaratnya untuk tau rasanya tertusuk pisau kita gak harus tertusuk dulu baru bisa tau gimana rasa sakitnya, cukup dengan mengetahui dari mereka yang sudah mengalaminya.

      Ntar saya baca-baca postingannya yah Mba Awl, maklum sekarang jarang bewe lagi soalnya πŸ˜…

      Terimakasih, semangat juga buat Mba Awl yah πŸ˜‰

      Delete
    2. Iya Awl, quote mba Rini sangat relate sama tulisan Awl soal manusia 😁 Dan memang pada akhirnya, kita perlu sadar kalau nggak ada manusia yang sempurna, sesempurna apapun kita berusaha πŸ™ˆ

      Semoga dengan begitu, kita bisa lebih calm down, ya 😍 Dan setuju sama komentar balasan mba Rini, setiap orang punya timingnya masing-masing, plus ketika ada yang berbagi pengalaman, mungkin bisa dijadikan pelajaran tanpa harus mengalaminya secara personal πŸ’•

      Delete
  6. Aku ga tahu kalo aku termasuk tipe perfeksionis atau idealis tapi kurang lebih sama seperti kak Rini.
    Buatku, semua harus terlihat menyenangkan di mata (visually eyes pleasing) dan berantakan atau tak tertata rapi termasuk tidak enak untuk dilihat (atau dipotret, hehe) dan berangkat dari situ malah jadi gatel bangett kalo lihat sesuatu ga rapi atau ada yang sesuatu yg rancu di mata (misalnya ada sesuatu yg miring).

    Tapi disisi lain juga bisa cuek kalo memang sesuatu yg berantakan itu bukanlah sesuatu milik kita (misalnya rumah orang lain)

    Juga, rumah yang rapi dan bahkan minimalis, cenderung membuatku lebih tenang dan damai, beda kalo diam di rumah atau ruangan yg berantakan, lama-lama suka gelisah ampe sesak nafas ga jelas.

    Tapi aku ga tau apakah itu perfeksionis atau idealis tapi semoga bukan OCD.

    Dan sekarang setelah menikah, si panda termasuk orang yg ga rapi, hahaha... jadi lama-lama cape jg dirapi-rapi trus berantakan lagi, heeummmm..

    Tapi apapun itu, mau perfeksionis atau idealis, semoga itu adalah sesuatu yg positif untuk kehidupan kita ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya baca-baca sekilas (ngerangkum ceritanya)πŸ˜‚
      Idealis dan perfeksionis itu sepertinya punya perbedaan meskipun gak terlalu signifikan, karena menurut saya perfeksionis itu menuntut kesempurnaan dalam semua hal sedangkan idealisme itu hanya pada hal hal tertentu saja yang sesuai dengan prinsip hidupnya, sedangkan OCD itu lebih ekstrim kayaknya, mungkin karena trauma atau rasa takut berlebihan, demi menghilangkan stress sehingga dilakukan berulang-ulang, meskipun mereka (orang dewasa) menyadari bahwa obsesi dan tekanan untuk melakukan itu tidak beralasan sama sekali (IMO) sih πŸ˜‚ dan semoga bukan OCD yah

      Sama seperti Adynura, jadi dulu waktu baru nikah juga seperti itu, lama-lama akhirnya pasrah sendiri, capeknya jadi dobel soalnya, capek pikiran karena ngomel2 belum lagi capek ngeberesinnya. πŸ˜‚πŸ˜… Apalagi karena konon katanya, kalo ingin merubah orang lain kita dulu yang harus berubah (membaca kalimat ini pun juga bikin capek sebenernya) hahaha..

      Iya bener, ambil positifnya aja yah, toh manusia emang gak sempurna, kalo sempurna itu bukan manusia namanya 😁

      Delete
    2. Kalau Ady sepertinya masuk tipe perfeksionis, soalnya lebih banyak bersangkutan dengan mata (alias visual) hehe. Jadi ada yang miring, mata berasa sakit kayaknya πŸ˜‚

      Untung sifat perfeksionisnya nggak sampai dibawa ke rumah orang, Dy. Takutnya ada rumah teman yang berantakan, Ady jadi beres-beres di sana πŸ™ˆ By the way, lama-lama Ady dan Panda akan ketemu di tengah, semacam kompromi dengan keadaan 😁

      Ps: Thank you untuk penjelasannya mba Riniiii πŸ˜†πŸ’•

      Delete
    3. Hihihi.. masalahnya dulu waktu kecil, karena blom ngerti self controlling "mungkin", jadi dulu beneran saya suka beres-beres kalo ngeliat ada yang berantakan di rumah orang πŸ˜‚ untungnya itu masih di rumah temen atau keluarga ato kenalan, bukan di rumah orang asing (nanti dikira orang mo ngapain) hihihi.. kalo di inget-inget, aduh kok sampe segitunya saya dulu Mba πŸ˜…

      Delete
    4. Huahahaha, it's normal kayaknya mba buat para perfeksionis, jujur saya pun pernah kok bantu sohibul saya bersihkan kamarnya yang berantakan abiz 🀣

      Delete
  7. Sebagai sesama melankolis, aku paham sekali rasanya menjadi seorang perfeksionis, Mba Rin. Tapi sejak berkeluarga, aku juga perlahan belajar lebih longgar dan realistis. Aku yang nggak terbiasa meninggalkan ruangan dalam keadaan messy, sekarang pasrah aja mainan anak berserakan di mana-mana πŸ˜‚ karena melihat ketidakrapian tersebut sebetulnya membuatku belajar bersyukur, masih bisa menghabiskan waktu bersama anak, melihatnya bermain, hati ini jadi hepi.

    Terima kasih Mba Rinii sudah berbagi πŸ™πŸΌπŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai sesama melankolis (meskipun saya campuran) mari kita berpelukan 😁

      Hihihi, jadinya kita yang capek sendiri yang Mba Jane πŸ˜… meskipun kadang saya masih gemes juga sebenernya, sampe ngayal seandainya anak-anak kayak boneka yang punya batre (energizer), pengen banget rasanya nyabut batrenya ituh barang sejam dua jam, ntar kalo emaknya udah full energi dan siap baru ntuh batre di pasang lagi. hihihi...

      Tapi kalo anak sakit, malah kita juga yang jadi cemas kalo ngeliat mereka lemes, kalem dan rumah rapi karena mereka emang lagi gak punya tenaga buat berantakin ya Mba πŸ˜…

      Delete
    2. Mba Jane tipe yang akan selalu lihat sisi positif pada apapun yang terjadi di depan mata πŸ˜‚ saya banget inih, daripada stres kepikiran ~ lagi pula nggak selamanya Josh akan rajin membuat rumah berantakan 😍

      Iya ya mba Rini, kalau sakit justru jadi rindu diberantaki mungkin ya. Better rumah berantakan tapi anak-anak sehat pada akhirnya πŸ™ˆ

      Delete
  8. Bicara soal Bapak kak Rini, ini jadi melempar saya pada ingatan tentang Tante saya yang sudah almarhum. Beliau juga orangnya aktif, setiap hari pasti ada saja yang dikerjakan. Makanya, saat berdiam diri saja dia pasti gelisah dan bisa berujung lemas. Saya tidak bisa mencap ini sebagai perfeksionis itu, saya melihat ini sebagai kebiasaan hiperaktif saja.

    Kalau bicara masalah perfeksionis, kayaknya kita punya itu semua didalam diri kita. Hanya langkah untuk menerapkannya saja yang berbeda. Maka itulah ada yang disebut pemalas πŸ˜† Saya cenderung ingin terus membuat kamar saya bersih, tapi tempat saya kebanyakan adalah di kamar, dan itu membuat saya berpikir,"untuk apa dibersihkan kalau nanti kotor lagi" πŸ˜…

    Dulu, sebelum bisa berpikir lebih realistis, saya cenderung mengidentifikasi diri saya condong ke arah spongebob yang polos, aktif, dan riang gembira. Tapi semakin ke sini, saya merasa cenderung seperti Squidward yang realistis dan menganggap semua hal ini duniawi, dibawa santai saja 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya untuk membaca watak diri sendiri pun kadang saya juga bingung Mas Rahul, tapi karena dulu dosen saya seorang psikolog (mumpung gratis) jadi beliau yg ngebacain watak saya (tapi udah berapa belas tahun yang lalu sih) πŸ˜‚

      Watak itu bisa berubah karena keadaan, misal seorang perempuan yang dulunya lembut, kalem, cool macam melankolis (ehem), lalu karena perceraian, trauma dll, wataknya berubah karena tuntutan di tempat kerja atau tuntutan hidup, akhirnya wataknya menyesuaikan, ada yang berubah tegas, keras, bersuara lantang dan menjadi workaholic (yang terkadang kita ngeliatnya seolah mirip dengan perfeksionis) yang biasanya ada pada orang yang berwatak koleris. Banyak pertimbangannya juga sih sebenernya yang bisa membuat seseorang tidak bertindak sesuai watak yang memang sudah dibawa sejak lahir.

      Dan saya pun jadi inget, dulu ada temen yang bilang saya kayak spongebob, sebenernya saya paham kenapa dia menganggap saya begitu. πŸ˜‚ Tapi karena kita semakin lama semakin dewasa begitu pula dengan cara berpikir kita, banyak sekali faktor di sekeliling kita yang mempengaruhi. Karena emang manusia adalah mahluk pembelajar, untuk mengetahui sebab dan akibat, jika saya begini maka akan terjadi hal yang begitu, jika saya begitu makan akan berakibat seperti ini, sekalipun satu jenis watak memiliki kekurangan, tapi manusia juga memiliki kemampuan untuk bisa menonjolkan kelebihan dan meminimalisir kekurangannya. 😁

      Delete
    2. Almarhum tantenya mas Rahul mirip simbah saya, sampai setua sekarang, nggak bisa diam, katanya kalau diam justru lelah dan sakit badannya 🀧 Padahal anak cucunya selalu meminta simbah istirahat.

      By the way, saya tuuuh nggak pernah tes sifat melankolis, korelis, etc, hahaha, jadi takjub baca penjelasan mba Rini di atas πŸ˜‚ Bahkan sampai sekarang saya nggak tau saya termasuk yang mana. Wk πŸ™ˆ

      Delete
    3. Kalo menurut saya sepertinya Mba Eno juga punya watak Melankolis, kalo dulu waktu belum tau, saya mikirnya melankolis itu orang yang pendiem, tertutup, dingin, cool, kerjanya sedih aja sepanjang waktu, karena taunya melankolis itu adalah salah satu tipe musik dan lagu πŸ˜‚ dan kayaknya suram bener hidup si melankolis ini yah hahaha...

      Delete
    4. Mungkin ya mba, meski saya bukan tipe yang hobi sedih sepanjang waktu 🀣 Tapi mungkin saya punya sisi melankolis tanpa saya sadari *eakkh* πŸ˜†

      Delete
    5. Izin nyimak aja. Pembahasannya seru 😁

      Delete
    6. 🀣🀣🀣🀣

      Delete
  9. Luvvv mbak Rini
    di lingkunganku, terkadang aku mencoba memposisikan diri sebagai orang yang biasa aja, alias berada di bawah level perfeksionis, lalu aku "beradupendapat atau collab" dengan mereka yang menurut aku perfeksionis, aku justru milih nggak banyak action alias mengikuti kemauan mereka aja, karena diam diam aku suka memperhatikan se-perfect apa mereka dan seperti apa hasilnya.
    tapi dari situ ada beberapa hal juga yang bisa dijadiin masukan atau pelajaran buat diri sendiri, tapi tetep dimodifikasi sesuai gaya diri sendiri juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya kerja sama orang perfeksionis tentu ada sisi positifnya, nggak selamanya negatif, bahkan bagus, jadi ada motivasi mba 😁 Dan kita jadi bisa belajar banyak untuk hal yang nggak kita tau sebelumnya πŸ˜†

      Delete