Sugohaseyo | CREAMENO

Pages

Sugohaseyo

Gue dapat pertanyaan unik dua hari lalu, pertanyaannya, "Kalau kita punya pasangan pria bergaji lebih kecil dari kita dan dia minder, apa yang harus kita lakukan?" -- jujur gue bingung jawab apa πŸ˜‚ Mungkin kita bisa bantu besarkan kembali hatinya (?) Huaaaaa, to be honest gue nggak tau apa jawaban yang tepat πŸ˜‚ Sebab gue nggak punya pengalaman soal itu, hahahahaha. Si kesayangan belum pernah merasa minder meski income-nya di bawah gue, yang ada dia justru pede beraaatz, selalu bilang, beli apapun pakai uang dia saja, kalau kurang, minta. Banyak gaya, kan? 🀣 Tapi gue appreciate rasa percaya diri dia dalam bertanggung jawab akan hidup gue ke depannya.

Ohya, satu yang gue pelajari dari culture Korea yaitu mereka acapkali berkata, "Sugohaseyo!" ke siapa pun yang berinteraksi dengan mereka. Contoh pegawai bank, si kesayangan ceritanya dapat telepon dari bank untuk urus insurance atau apa gue kurang paham, dan mereka bicara this and that hingga akhirnya sebelum tutup telepon, si kesayangan ucap, "Sugohaseyo!" ke pegawai bank itu, begitu pula ketika dia selesai cukur di salon, dia akan berkata "Sugohaseyo!" ke pekerjanya 😁

Jadi 'sugohaseyo' ini artinya, good job, you doing well, sejenis itu genks, dan setiap hari, dia nggak pernah lupa bilang sugohaseyo ke gue, which is membuat gue melakukan hal yang sama 😁 Dari sini gue belajar, kalau apresiasi perlu diucap, jangan disimpan. Semisal pasangan kita selesai kerja, nggak ada salahnya bilang, "Good job, sayang." atau, "You doing well today, Honey." sambil kasih senyum terindah πŸ˜‚ Even saat kami longdistance dan komunikasi hanya by phone, gue selalu text dia after work, "Sugohaseyo, Hon. How's today? Wish everything went well." 😍

Entah ini berguna atau nggak untuk teman-teman, tapi hal ini sangat berguna untuk gue dan dia. Dan dulu di Korea, sebelum badai Corona menerjang, setiap kali si kesayangan pulang kerja, gue selalu sambut dia di depan pintu sambil bilang, "Sugohaseyo, naesarang." biasanya habis itu dia akan jawab, "Ne, gomawoyo." dan itu masih kami lakukan sampai sekarang πŸ˜† Though nowadays WFH plus kami 24 jam di rumah, kami nggak lupa untuk bilang Sugohaseyo for today, thank you for caring me well, sebagai apresiasi 'kerja keras' pasangan 😁 hehehehe.

Gue jadi ingat, Omoni pernah bilang, "Aboji itu anak pertama saya." saat gue lihat Omoni bersikap sweet ke Aboji (suaminya) 🀣 Terus Omoni menambahkan beberapa nasehat, salah satunya, kalau kita bisa royal dalam mengapresiasi anak-anak, kenapa kita nggak bisa royal dalam mengapresiasi pasangan? Saat anak makan habis, kita bilang, "Good job." -- saat anak bersihkan mainannya, kita bilang, "You doing well." tapi saat pasangan kita lelah cari nafkah untuk kita, coba ingat apa yang biasa kita katakan? Dan coba ingat seberapa sering kita apresiasi mereka? πŸ™ˆ Tentu itu kewajiban mereka untuk kerja, kewajiban mereka pula untuk hidupi kita, but don't take it for granted, sampai lupa pasangan kita yang terlihat gagah itu butuh tempat untuk bersandar πŸ˜…

Hal ini berlaku sebaliknya, saat pasangan wanita lelah urus rumah dan anak, jangan lupa apresiasi, kalau perlu dibantu pijat hahahahaha. Intinya, begitu~lah. Makanya gue hobi baca buku atau blog parenting, meski gue belum punya anak. Sebab ilmu parenting bisa gue terapkan ke bayik besar hahaha. Seperti kita boleh tegur anak, tapi tetap apresiasi mereka saat mereka berusaha berubah. Gue pribadi sering tegur si kesayangan, entah itu lap wastafel basah, remah snack jangan jatuh, taruh kaos kaki pada tempatnya, dan biasanya setelah dia rapikan, langsung gue bilang, "Ucucuuu, sugohaseyo, Hon. My honey neomu chakkada (so kind)." -- hahahahaha πŸ€ͺ

Eniho, some people mungkin ada yang berpikir kalau gue ini sangat suka kasih apresiasi baik itu melalui tulisan, atau sikap. Jujur, from deepest my heart, apresiasi adalah satu hal yang membuat gue keep going until now, mau itu dalam hal pekerjaan atau dalam hal blogging, dan gue paham betapa positifnya efek yang gue dapat dari sebuah apresiasi yang diberikan oleh orang-orang di sekitar gue, that's why, gue pun senang melakukan hal yang sama, gue senang memberi apresiasi positif ke orang-orang di sekitar gue, as simple as that, hehehehehe 😍

🐰🐰🐰

Gue rasa wajar jika ada pasangan pria yang merasa minder saat punya pasangan wanita dengan income lebih besar, dengan catatan setelah minder, tetap usaha kasih yang terbaik yang dia bisa, bukan jadi malas-malasan terus lari dari tanggung jawab. Kalau itu akan lain cerita ~ Dan, menurut gue saat mereka minder, kita sebagai pasangan bisa kasih comfort action untuk mereka agar bisa kembali punya rasa percaya pada kualitas mereka. Gue rasa mereka minder karena kawatir nggak bisa kasih yang terbaik untuk keluarga tapi cara ekspresikan perasaannya yang nggak tepat, alhasil terlihat seperti orang minderan πŸ™ˆ Jadi kalau pasangan kita minder, atau merasa nggak mampu kasih yang terbaik, just hugging and comfort him, mungkin itu bisa membantu mereka.

Kalau kata si kesayangan, pria itu lebih suka action, jadi saat pria mendadak merasa 'lemah' dan 'terbuka' tentang apa yang mereka rasa, jangan justru ceramah. Cukup kasih comfort action yang bisa kita lakukan, seperti pelukan dan satu dua kata hangat seperti Sugohaseyo atau Gomawoyo (for trying your best). Sebab bila kita ceramah, "Jangan merasa seperti itu, bla bla bla." panjang kali lebaarrr. Itu justru nggak membantu dia hahahaha, yang ada tambah drop mentalnya. Entah para teman pria lain sama apa nggak, tapi kalau dari si kesayangan begitu yang dia minta, saat dia lelah, yang dia minta cuma comfort action, bukan comfort words πŸ˜‚

Pada akhirnya, pria nggak beda dengan wanita, sama-sama manusia, punya rasa, salah satunya rasa minder, hehe, yang penting setelah minder, mau berusaha lebih keras untuk keluarga πŸ˜† So, selama pasangan kita masih tetap berdiri di atas kakinya untuk memperjuangkan kebahagiaan keluarga kita, accept their weakness, mungkin itu salah satu cara mereka masuk dalam comfort zone mereka. Sebab, comfort zone mereka bisa jadi ada di diri kita (atau dalam pelukan kita), dan saat mereka kasih signal itu, coba ditela'ah, apa yang mereka butuhkan. Wk.

Sotoy bangets ya gueeeh, well, gue hanya berbagi pengalaman dan sudut pandang serta berusaha jawab pertanyaan yang diberikan. Nevertheless, jangan jadikan tulisan gue rujukan untuk bersikap ke depan, cukup jadikan tulisan gue sebagai salah satu sudut pandang 😁 Karena gue pun nggak sempurna, kadang masih melakukan hal yang nggak si kesayangan harapkan. Hahahahaa. I'm still learning and trying my best, day by day. Bagaimana dengan teman-teman? Ada pendapat? 😍

44 comments:

  1. Sugohaseyo Mbak Eno buat postingan ini.:)
    Aku setuju banget, kadang kita sebagai manusia terlalu take it for granted sampai-sampai cuma anggap itu sebagai kewajiban.:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you sudah baca, mba Wulan 😍 hehehe, iya mba, kadang kita lupa, berterima kasih atau memberi apresiasi hanya karena kita menganggap itu sebuah kewajiban 😁

      Delete
  2. Filosofi yang menarik. Ilmu baru (lagi) dari Korea..

    Tentang bayik besar, well. Mungkin spt mbak Eno, memang senang anggap pasangannya demikian. Sebagai bagian dari sifat nurture, keibuan dsb.

    Saya sendiri lebih cenderung anggap boys will be boys. Krn anggap pasangan sbg anak laki sendiri, jujur sulit mbaa hahaha. Kebayangnya gimana gitu masa bermesraan dg anak sendiri πŸ˜…

    Berdasar pengalaman saya pakai filsafat lokal menghadapi pasangan agar tdk kena sakit minder sbg laki-laki "jangan tinggi sebenang". Bagaimanapun perempuan merasa lebih pinter dan hebat. Karena laki-laki itu punya kebutuhan untuk bisa dipercaya dan diandalkan oleh pasangan (kalo oleh org lain sih biarin). Sama besarnya dg kebutuhan perempuan akan rasa aman.

    Caranya kurang lebih sama dengan yang mbak Eno uraikan ya. Sering2 hargai hal2 kecil. Paling ampuh sih kebutuhan perut dipuaskan 🀣

    Kemudian beri tanggung jawab yg lebih besar dari porsi kita misal keuangan dan yg lain. Itu privilege mereka agar punya harga diri lebih dan merasa keren. Jangan dirampas dg alasan jaman sudah modern. πŸ˜… Dari jaman batu tetap sama aja kok...

    Tapi semua poin diatas akn lebih sulit kalau jurang perbedaan terlalu besar. Spt jurang pendidikan atau latar belakang ekonomi. Makanya pertimbangkan baik2 kesanggupan berdua menjembataninya.




    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sepertinya belum ada sifat keibuan, mba 🀣

      Tapi kalau soal bayik besar, memang tingkahnya dia kayak bayik saat lagi rewel, dan banyak maunya πŸ˜‚ Wk. However, saya nggak pernah sampai membayangkan bermesraan sama anak sendiri mba, tetap saya anggap dia pria dewasa, karena sikapnya berubah ketika ingin sayang-sayangan πŸ˜…

      Betul mba, pada intinya pria itu ingin bisa merasa diandalkan, jadi kita juga perlu tau bagaimana menghadapinya. Sebetulnya, selama mereka minder namun tetap mau usaha, kita bisa kasih support mereka untuk menaikan rasa percaya diri mereka, dan seperti yang mba bilang, bisa dengan hal-hal kecil, salah satunya dengan membahagiakan perutnya 😍

      Sayangnya, ada banyak kasus dimana sudah minder, terus pergi, jadi prianya minder, nggak suka dan nggak terima, habis itu pergi entah ke mana. Nah, ini mau diapresiasi pun nggak bisa πŸ™„ Dan ada pula yang sudah diberi tanggung jawab lebih besar persoalan finansial dan yang lainnya, tapi justru nggak melakukannya which ended up membuat keluarganya menderita ~

      Eniho, thanks for the insight, mba Phebie πŸ˜πŸ’•

      Delete
    2. Jarang sih... kasus yg pergi "hanya karena minder". πŸ˜…πŸ˜…Biasanya tidak sesederhana itu mbak. Jangan percaya. Seringkali ada rentetan puanjang yg menyertai sejarahnya...kalau kita mau korek2..

      Iyah.. jurang perbedaan itu termasuk sikap mental juga..

      Sama2 mbak. Semoga berguna buat yg bertanya ya..πŸ˜…πŸ˜…




      Delete
    3. Iya juga sih ya, pasti ada alasan lainnya nggak mungkin sesederhana minder, bisa jadi minder hanya satu dari sekian ribu alasan yang ada πŸ˜‚ hehehehe.

      Sip sip mba, pastinya akan sangat berguna, bahkan untuk semua 😍

      Delete
  3. Kak Eno, thank you banget banget banget untuk tulisan ini :DD
    Benar-benar reminder dan menambah insight baru untukku.

    Aku sadar sebagai manusia, jarang mengucapkan kata-kata apresiasi padahal aku sadar betul kalau kata-kata itu penyemangat sekali :')
    Pas banget baca tulisan Kakak ini dan berhasil nyentil diriku huahahaha. Harus banget nih dibiasakan tebar kata-kata apresiasi, nggak cuma di tulisan tapi di kehidupan nyata juga.
    Thank you so much Kak Eno! What a great post! 😘😘😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liaaa, thank you sudah bacaaaa πŸ™ˆ Kakak hanya bagi pengalaman dan sudut pandang, hehehe, yang baik diambil, yang buruk jadikan pelajaran πŸ˜‚

      Meskipun love language pasangan kita bukan kata-kata apresiasi, tapi nggak ada salahnya sesekali diucapkan. Berterima kasih untuk hal-hal yang sudah dia lakukan though itu kewajibannya bisa membantu dia melewati hari-hari berat dalam hidupnya dengan lebih bersemangatttt 😁 hehehehe.

      Nah iya, Lia sering tebar kata apresiasi di tulisan, pasti bisa pula diterapkan pada kehidupan nyata, dan tentunya, itu akan membuat pasangan senang 😍 (semoga!) hahahaha, karena setiap orang beda-beda karakternya 🀣

      Delete
  4. Apresiasi emang terkadang suka di lupakan. Padahal butuh untuk di berikan. Makasih Mba Eno sudah berbagi tentang hal ini.

    Aku pun tidak punya pengalaman seperti pertanyaan tsb. Mungkin kalo menurut aku, income besar ati kecil hanya di ukur berdasarkan angka. Tapi tetap beban pekerjaan akan sama2 berat satu sama lain. Selama kita bisa memaknai hasil tsb sebagai bagian dari usaha bekerja, semoga ga merasa minder dengan pasangan.

    Biasanya rasa itu timbul karena faktor dari luar juga, contoh adanya komen orang lain. Ato bahkan stigma yg ada di lingkungan kalau pria harus berpenghasilan lbh besar daripada wanita. Nah pemicu2 ini yg menyebabkan timbulnya rasa minder.

    Selama income dari hasil pekerjaan halal, tentu itu luar biasa berapa pun nominal nya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mba Devina, sudah membaca tulisan saya 😁

      Iya mba, besar kecil hanya angka, selama sang pria masih tetap merasa bertanggung jawab dan berusaha untuk memberikan yang terbaik, dan tentunya kalau dilihat dari beban pasti sama-sama berat ~ hehehe, setuju sama mba Devina, yang terpenting saling memaknai hasil kerja keras yang dipunya, kemungkinan besar rasa minder itu nggak ada, atau bahkan berubah jadi rasa semangat untuk upgrade dimasa depan 😍

      Terima kasih sudah berbagi insight mba, ini sangat bermanfaat πŸ’•

      Delete
  5. Salah satu hal yang aku sukai dari budaya asia timur seperti Korea dan Jepang adalah, mereka selalu mengapresiasi usaha siapapun dengan kosakata atau kalimat tertentu, kalau di bahasa Indonesia sendiri mungkin jarang karena kalimatnya jadi terdengar terlalu bakuπŸ˜… *atau memang pengetahuan bahasaku masih kurang/? hehehe.

    Akupun termasuk yg sering bilang "sugohaesso", kak Eno, (karena efek sering nonton drakor dari jaman SMP🀣), baik sama teman, sahabat atau racap (since belum married ehe) dan kadang-kadang diganti pake bahasa Jepang jadi "otsukaresamadeshita" atau kalau dipersingkat ke teman sebaya/adik tingkat jadi "otsukare" aja. Karena senang rasanya kalau bisa sedikit memberi apresiasi atas kerja keras mereka, mau sekecil apapun pekerjaan atau usahanya🀧
    Gladly, hal ini pun akhirnya jadi suatu kebiasaan buatku. Kalau nggak bilang kedua kata itu rasanya jadi hambar dan kosong, karena gak ada ucapan apa-apa selain selamatπŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dalam bahasa Indonesia, kita lebih sering pakai terima kasih ya, Awl. Hehehehehe, memang terdengar kaku kalau mau translate langsung dari kata good job atau you doing well, kesannya jadi formal banget πŸ˜‚ Mungkin karena itu banyak yang pakai bahasa Inggris, atau bahasa lainnya 😁

      By the way, di Korea ada banyak kata apresiasi yang digunakan, bahkan ada yang isinya semacam doa, salah satunya kalau habis makan di resto, kadang si kesayangan ada bilang 'semoga usahanya sukses / laris' hehehehe πŸ˜†

      Yep, kadang yang dibutuhkan seseorang itu nggak jauh dari apresiasi, hanya saja, ini yang paling sering terlupakan, entah karena kita sudah anggap itu kewajiban, atau sudah terbiasa, sampai lupa kalau apresiasi diperlukan 😁

      Delete
  6. Apakah Sugohaseyo berasal dari bahasa Jawa, mbak? Mengingat ada dua hurup o di sana ahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya bukan, mas 😁

      Delete
    2. Mungkin mas Dodo punya teman namanya Sugiarto makanya mengira sugohaseyo berasal dari bahasa Jawa.🀭

      Delete
    3. Bisa jadi, mas Aguuus 🀣

      Delete
  7. Sederhana tapi jika diucapkan akan berdampak cukup besar ya mba. Seperti halnya mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang mungkin telah membantu kita, entah dalam bentuk yang besar ataupun bantuan sekecil apapun itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, terlihat sederhana, tapi dampaknya ke mental seseorang bisa cukup besar, dan iya, sama seperti berkata terima kasih pada seseorang πŸ˜†

      Delete
  8. Sukaaa bangeet bahasannyaa Mbaa. Aku suka pas Mba Eno bilang memang semua orang memang sebenarnya pengen dihargai. Mau istri mau suami. Mau sekecil apapun usahanya, apalagi klo sudah sampai berusaha berat.. Dr pd diceramahi, lbh baik diapresiasi usahanya. Aku inget bgd waktu itu pas lahiran, pas rasanya udah mau putus asa pas ngeden, suami kasi semangat dan muji usaha aku udah sampai sejauh itu. Dr situ aku kaya punya tambahan kekuatan dengernya dan alhamdulillah jdnya lahirannya lancaar πŸ˜†


    At last, sugahaseyo buat pengingatnya Mba Eno. Sugahaseyo juga udah memberikan warna yg menyenangkan di dumia blogger 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehehehe, pastinya kan mba, kita semua ingin dihargai, diapresiasi, sesederhana kata terima kasih, good job, you doing well, dan kata-kata lain 😁 Baik kita as anak-anak, as orang tua, as pasangan, as pegawai, bahkan as atasan. Menurut saya apresiasi dan penghargaan diperlukan. Seperti apa yang suami mba Thessa lakukan πŸ™ˆ

      Terima kasih sudah baca tulisan saya, mbaaa πŸ˜† Jadi malu hihi, mba Thessa too, sugohaseyo sudah sering berbagi informasi mengenai bacaan bagus 😍

      Delete
  9. Iya sih ya...
    kadang ini adalah hal-hal sederhana yang kalo dilakukan itu sedikit banyak berdampak positif. tapi ketika hal-hal ini yg biasanya ga pernah dilakukan terus mulai dilakukan, pasti reaksinya bakal "ada apa nih?tumben... hmm..."

    hehehehe....

    Tapi ini adalah sesuatu yang patut dan layak untuk dicoba.

    dan memang benar sih, kalo lagi cape atau emang lagi ada masalah, ga butuh diomongin apa-apa,, cuma butuh seseorang untuk dipeluk, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, mungkin diawal reaksinya akan begitu karena belum terbiasa Dy, tapi lama kelamaan jika dibiasakan, pasangan akan merasa grateful dan tentunya senang ~ by the way, meski pasangan berpikir, "Ada apa nih tumben?" namun deep down inside, kata positif akan memberi butterfly effect 😁

      Kalau capek, rajin rajin peluk Panda Dy, dan kalau Panda capek, jangan lupa disayang-sayang, ya. Wk 🀣 Semangat Ady, you doing great so far, keep going!

      Delete
  10. Seandainya saya keterima kerja di perusahaan korea sebelah.... tapi yah yg ini juga patut disyukuri..

    Kalau Jepang, kita selalu dibiasain setiap ketemu selalu bilang 'Go Anzen ni' yg artinya 'jaga keselamatan..'

    Karena kita gerak di bidang manufaktur yg berkolaborasi dengan alat2 berat yg bisa menimbulkan kecelakaan serius.. sebisa mungkin harus saling mengingatkan.

    Sama kalimat 'Otsukaresama Deshita" duhh saya nggk tau tulisan latinnya kaya gitu apa bukan.. jepangnya sih gini γŠη–²γ€γ‹γ‚Œζ§˜γ•γΎγ§γ™.. hasil copy dri google. Heheh

    Ini juga mengandung ungkapan "Terimakasih atas kerja kerasmu hari ini" disusul sama posisi menunduk kita kemudian pulang..

    Sebenrnya kalau di artikan secara terpisah 'otsukare' itu artinya 'kita lelah'. Tapi saya nggk terlalu paham kenapa bisa mengandung ungkapan seperti itu.. kata sensei sih kalimat itu nggak bisa diartikan per satu kata.. jadi seperti Idiom mungkin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, disyukuri apa yang ada, mas 😍

      Wah yang mas Bayu tulis, persis sama yang Awl tulis di atas, hehehe, Awl katanya sering berucap Otsukare juga hehehehe. Jadi ingat sama pelajaran Korea soal idiom, yang selalu membuat saya pusing kepala πŸ˜‚

      Tapi dari komentar mas Bayu, saya jadi belajar ilmu baru soal bahasa Jepang, karena saya sendiri selama ini nggak mempelajari banyak bahasa Jepang kecuali kata-kata basic agar survive liburan hahahahahaha πŸ™ˆ

      Thank you mas Bayu, Go Anzen ni (jaga keselamatan) kerja hari ini 😁

      Delete
  11. Maap aku mau salfok dulu, ngebayangin adegan Mba Eno menyambut si kesayangan pulang kerja itu kayak di drakor di mana istrinya pake apron, terus menyapa pasangannya yang pulang kerja, tas kerjanya dibawain, terus sang istri mengebas-ngebas debu di pakaian suaminya sambil bilang, "Sugohaseyo, naesarang" kok cocuit yaa πŸ˜†πŸ™ˆ

    Eniwei, aku sering dengar istilah "sugohaseyo" ini waktu nonton idol atau artis yang habis syuting/pemotretan mereka pasti sibuk bowing sambil mengatakan kata ini. Menurutku, ucapan "terima kasih" aja sebetulnya udah sangat cukup, tapi arti dari "sugohaseyo" ini memberikan makna yang lebih deep, yaa. Sama kayak tiap kali sebelum makan Korean always say "jal moke sumnida" (bener nggak ya? πŸ˜‚). Kesannya memang kita nggak hanya bersyukur dengan makanan yang di atas meja, tapi juga orang yang menyiapkannya.

    Suamiku membenarkan soal kata-kata apresiasi ini, Mbaa. Pernah suatu kali, suami pulang dengan keadaan super lepek dan capek πŸ˜‚ menghela nafas berkali-kali, sampai mau tidur aja kayaknya masih capek banget hahaha. Terus aku cuma bisa usep-usep punggungnya and said, "thank you udah bekerja keras ya, aku bangga lho sama kamu bisa berusaha sejauh ini." Menurutku, kata-kata itu cuma sekedar menghibur doi, tapi nggak disangka dianya malah mau nangis saking terharunya, sampai bilang, "you have no idea how much I need to hear that from you, beb" 🀣

    Ternyata yaa memang nggak cewek aja yang butuh dengar hal-hal manis, para laki-laki pun butuh apresiasi dari orang-orang sekitarnya, khususnya pasangannya sendiri yaa 😁

    Thank youu for the reminder, Mba Eno! ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wk imajinasi yang ruarrrr biasa mba 🀣 Untung saya nggak serajin itu hahaha, saya kayaknya nggak pernah sambut dia sambil pakai apron, apalagi bawakan tasnya yang berat *btw tas dia backpack mba, isinya laptop, kabel, etc* bukan seperti yang di drama-drama dengan tas tenteng kecil berisi dokumen πŸ˜‚

      Iya mba, di kita kata terima kasih sudah sangat cukup dan kebetulan kita nggak punya kata resmi dengan makna mendalam seperti sugohaseyo, jalmogeseumnida, etc 😁 Memang untuk artinya, lebih deep, jadi bukan sekedar terima kasih, namun apresiasi pada efforts yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kita 😍

      Huhuhuhu, kebayang bangetttt tuh capenya, sampai mau tidur pun masih berasa capek 🀧 Pastinya, apa yang menurut mba Jane hanya untuk menghibur, ternyata bisa jadi healing words untuk pasangan πŸ˜† Betul mba, meski bahasa cinta kita bukan kata afirmasi atau positif sekali pun, kalau kita dapat apresiasi dari pasangan atau keluarga dan lain sebagainya, hati kita jadi hangat, dan semangat kembali berkobar. Ini pula yang pernah mba bagikan di post review film, saat mama mba kasih apresiasi ke mba 😍

      Thank you sudah membaca post saya, mbaaa πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  12. Setelah dipikir-pikir, kayaknya memang kita butuh itu; sedikit apresiasi untuk orang disekitar kita. Ngga perlu hal besar macam hadiah, cukup dengan mengucapkan kata itu tadi. Dalam Bahasa Indonesia mungkin bisa 'kerja bagus' atau 'keren'.

    Terimakasih insight barunya kak Eno. Meski pertanyaannya spesifik, tapi pembahasannya universal. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, perlu kita biasakan untuk apresiasi kerja keras orang-orang di sekitar kita. Coba ingat kapan terakhir kali mas Rahul bilang terima kasih ke mama karena mama sudah masak makanan enak untuk mas πŸ˜† Hehehehe.

      Sama-sama mas, terima kasih sudah membaca tulisan saya 😍

      Delete
  13. Saya sih biasanya kalau habis makan bekal di kantor akan bilang, makasih ya Say enak banget.. atau kalau di rumah, ya meluk dia sambil bilang makasih yaaa.. Dia juga biasanya bilang begitu.

    Biar dah 20 tahun, tetep kita berdua lakukan.. Sedikit apresiasi di hari hari berat dan saling memberikan semangat.

    Cuma istilah Indonesianya ga ada kayaknya yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. cieeehhhh cieeehhhh cieeehhhh




      *Kabooorrrrr

      Delete
    2. Sooooo sweetttt, semoga saya bisa tetap melakukan hal yang sama sampai 20 tahun ke depan, biar seperti mas Anton dan mba Hes 😍 ehehehehe.

      Iya mas, istilah di Indonesia nggak ada πŸ˜†

      Delete
    3. Mba Rey: 🀣🀣🀣🀣

      Delete
  14. Ga bisa kasih insight lebih bagus lagi :D. Yg mba tulis udh mencakup semua.. aku jg belum pernah dpt pengalaman ini. Tapi aku yakin, tindakan tidak merendahkan suami jika gajinya lebih kecil dari kita, itu udh cukup kok. Tindakan tidak merendahkan itu bisa dr sikap ato kata2. Jgn pernah sekalipun terucap , trutama ketika berantem, 'akukan ga minta dr gajimu mau beli ini, kok ngatur sih' ato pake ngomong "aku tuh capek, kerja keras supaya bisa bayar semuanya, Krn ngandelin kamu ga akan cukup"....

    Bahaya.... Suami yg denger pasti lgs jleb dan ga PD. Ujung2nya dia bisa makin down, ato dia cari pelarian di luar yg bisa menyemangati dia. Ato takutnya dia jd LBH kasar utk menutupi kekurangannya mencari nafkah.

    Aku slalu diajarin kalo suami, seperti apapun kondisinya, dia tetep kepala keluarga. Hargai, nth dengan kata2 istri yg LBH lembut ato tindakan kita ke dia. Setuju banget kalo kata2 apresiasi itu bisa membantu. Bukan hanya utk suami, apresiasi itu berguna kok utk maintain loyalitas dari siapapun . Pas masih ngantor, aku ga prnh lupa mention ucapan memuji utk staff2 ku yg udah ngelakuin tugasnya , ato nyebut nama mereka saat sedang meeting bulanan di depan branch manager. Jadi bos ataspun tau apa yg mereka sudah lakuin. Itu bikin semnagat mereka numbuh Krn tau mereka dihargai.

    Gitu juga utk pasangan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Fanny, yang penting kita tetap respect pasangan as leader kita, dan nggak merendahkan hanya karena pemasukannya yang berbeda. Apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang mba sebutkan di atas πŸ™ˆ Kawatir itu akan merusak ego, dan tentu saja mental pasangan. Karena mungkin, bisa jadi, mereka di luar sana sudah bekerja keras sekuat tenaga untuk keluarga πŸ’•

      Thank you for the insight mba, suka sama kata-kata mba Fanny, bahwasanya apresiasi berguna untuk maintain loyalitas dan itu pula yang saya rasakan. Betul-betul berguna dalam berbagai hubungan yang saya punya, entah itu pada pasangan, keluarga, sohibul dan staff. Apresiasi yang sifatnya kecil dan sederhana, jika dikatakan dari lubuk hati terdalam, tentu bisa menyentuh orang-orang yang kita sayang 😍

      Delete
  15. Ahhhh menghangat hati rasanya baca ini say.
    Thanks yaaaa :*

    Btw, kalau paksu sepertinya merasa tersaingi kalau saya yang menonjol, khususnya kalau masalah penghasilan.

    Ini saya simpulkan, dari setiap kali marah, dia selalu menuduh saya seolah nggak rela dia lebih maju.
    *lah? maksudnya kepriben kan ye...? hahaha

    Gimana saya nggak mau dia lebih maju cobak?
    Orang dia kepala keluarga, saya juga ogah banget kerja buat biayain semua kebutuhan, off course saya berharap dia lebih hebat dari saya, bahkan itulah mengapa dari dulu saya udah bertekad, saya cuman mau dekat dengan kakak kelas, maksudnya biar pasangan yang lebih hebat duluan.

    Dan saya pengen banget banggain pasangan akan hal itu.
    Tapi, bisa-bisanya dia nuduh saya nggak suka dia berkembang.

    Dulu bete dengarnya, sekarang saya jadi ngeh, mungkin kalimat itu, karena paksu merasa minder, dengan keberadaan saya di bidang kerja yang sama, tapi saya selalu bisa lebih terkenal dari dia (ye kaaann, saya cewek, saingannya dikit, hahaha).

    Makanya itu pula yang bikin saya mantap jadi IRT aja, biar paksu merasa punya kuasa aja.
    Nggak merasa tersaingi.

    Tapi memang manusia itu beda-beda, ada juga suami yang biasa aja saat istrinya punya penghasilan lebih, balik lagi ke personal ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Istri saya jualan kuenya kadang lebih banyak dari hasil saya jualan cilok, tapi saya ngga minder. Eh tapi entah kalo istri saya jadi manager pabrik dan saya cuma jualan cilok, mungkin minder juga 🀣

      Delete
    2. Mungkin paksu mba Rey merasa minder and deep down inside mengakui kalau mba memang lebih maju darinya, though cara paksu mba Rey mengekspresikan rasa mindernya kurang tepat. Jatuhnya jadi ajak ribut dan buat mba kesal πŸ™ˆ

      Saya yakin, setiap dari kita ingin punya pasangan yang maju, sukses dan bisa dibanggakan. Dan mba Rey pastinya berharap hal yang sama dari pasangan 😍 Semoga one day Paksu mba Rey menyadari fakta bahwa mba Rey selalu ingin yang terbaik untuk pasangan, dan mendoakan kesuksesannya πŸ’•

      Thanks sudah berbagi pengalaman, mbaaa πŸ˜†

      Delete
    3. Mas Aguuuus, jangan minder yaaa, keep spirit! Semangat 😍 Kalaupun istri mas jadi manager pabrik kelak, tetap di-support, dan disayang, while mas Agus selalu semangat jualan cilok, hehehe. Semoga akur dan bahagia selamanya, mas πŸ’•

      Delete
  16. Memang apresiasi perlu dilakukan, berapa pun hasil yang didapatkan. Misalnya istri saya kalo saya baru pulang jualan cilok maka akan mengucapkan terima kasih sambil ngasih teh manis.

    Tapi kadang ada orang yang lupa memberikan apresiasi, soalnya menganggap nya sudah kewajibannya. Memang betul sih itu kewajiban suami sebagai kepala rumah tangga tapi kalo diberikan apresiasi tentu suaminya lebih bersemangat cari nafkah.πŸ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uuu mba Sarilah sweetttt banget, pantas mas Agus cinta mati sama mba Sarilah 😍

      Iya mas, banyak yang merasa nggak perlu kasih apresiasi karena menganggap itu adalah kewajiban. Padahal terlepas itu kewajiban atau bukan, apresiasi diperlukan dalam keseharian kita, karena bisa membuat kita terus bersyukur, dan tentunya membuat penerima kata tersebut senang plus semangat πŸ˜†πŸ’•

      Delete
  17. tindakan sederhana tapi penuh makna, just say thanks
    karena sekarang saja, aku juga jarang lihat tindakan seperti ini, terutama di lingkungan keluarga
    noted, besok kalau sudah nikah, jangan sampe aku melupakan hal hal "kecil" kayak gini, ucapan terima kasih, ucapan kasih semangat atau tindakan manis lainnya yang bisa nyenengin pasangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, iya mba, karena keluarga, jadi merasa nggak perlu say thanks. Padahal menurut saya, justru kita diminta untuk lebih care ke orang terdekat. Kita bisa ucap terima kasih di resto, saat makanan kita diantar ke meja kita. Tapi kenapa kita nggak bisa ucap terima kasih pada ibu yang memasak untuk kita setiap harinya. Atau untuk pasangan yang bekerja keras (?) 😍

      Terima kasih sudah baca post saya, mba Ainuuuun πŸ™ˆ

      Delete
  18. thanks for your insight kak Eno! Aku sering liat drama-drama saat kondisi finansial suami lebih buruk daripada kondisi finansial perempuannya. Biasanya entah si suami jadi selingkuh karena merasa ga dihargain di rumah atau parahnya berujung cerai. Kebanyakan drama sih begitu... Meski ada juga satu drama yang kutemukan berbuah manis (Baca: The Greatest Show) Si cowonya kan dari keluarga miskin tapi cinta dengan anak dari keluarga kaya. Dia ga minder dan berusaha untuk bisa memiliki kondisi finansial yang cukup mumpuni untuk akhirnya dapat meminang sang gadis. Setelah menikah, istrinya pun support suaminya saat kondisi suaminya jatuh (karena di-PHK). Menurutku itu salah satu contoh yang bagus juga sih hehe

    Dan aku pun setuju dengan kesayangan kak Eno, cowo biasanya memang lebih suka comfort action daripada comfort words hehe

    Lalu aku pun sedikit banyak sama seperti kak Eno, tak lupa mengucapkan "Arigatou gozaimasu" ke suami kalau dia ngelakuin permintaanku macam "beresin maenan ini dooong! Jangan gw teroooss" dan dibalas dengan senyum malu-malu suami yang gemesin hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba Frisca, thank you sudah membaca πŸ™ˆ

      Semua memang kembali pada personalnya ya, kalau hal itu dijadikan cambukan untuk semangat pastinya nggak akan merasa minder, dan berusaha lebih ekstra agar minimal levelnya meningkat. Tapi memang benar, nggak bisa hanya berharap dari satu pihak, karena tentunya butuh support dari pasangan 😁

      Dan meskipun kita sudah berstatus pasangan, kata tolong, terima kasih dan maaf, saya rasa tetap diperlukan dalam keseharian seperti yang mba Frisca contohkan ketika berkata, "Arigatou Gozaimasu." πŸ˜† hehehehehe.

      Delete