Arrogance ≠ Confidence | CREAMENO

Pages

Arrogance ≠ Confidence

Baca komentar mas Yoga pada post Never Underestimate mengingatkan gue akan masa silam πŸ˜† Kalau dipikir-pikir, gue pernah ada diposisi tersebut, jadi orang sok paling pintar tapi langsung ditampar kenyataan kalau ada yang lebih pintar hahahaha. Makanya setelah kejadian itu, gue lebih bisa menerima fakta bahwa setiap orang punya basic ilmu pengetahuan beda --- And whenever someone told me about something --- seperti kasih info, pendapat atau fixed me, maka selama itu makesense akan gue terima dengan suka cita, penuh senyum dan hati lapang 😁

By the way, dulu tuuh, jaman sekolah dasar, gue selalu juara pertama, bahkan saat juara pertama dibagi empat orang karena nilainya berdekatan (1.1 - 1.2, dst), gue masih tetap jadi yang pertama dari yang pertama, which is itu membuat gue besar kepala. Nggak heran, ketika kelulusan sekolah dasar dan gue bisa mengantongi nilai hampir sempurna, like seriously matematika gue salah satu doang, gue jadi tambah percaya diri bahwa gue cukup pintar untuk masuk SMP unggulan πŸ˜‚

Well, gue memang lucky, gue bisa masuk sekolah yang gue incar, namun disitu~lah untuk pertama kalinya gue ditampar kenyataan hahahahaha. Jadi, saat hari pertama masuk, semacam perkenalan (orientasi), gue dan ratusan siswa lainnya berkumpul di lapangan. Satu persatu siswa dengan total nilai tertinggi dipanggil ke podium oleh kepala sekolah untuk diberikan ucapan selamat 😁 And as expected, gue salah satu yang merasa nama gue akan dipanggil dengan cepat πŸ€ͺ

I mean, nilai gue hampir sempurna, besar kemungkinan gue ada dalam urutan TOP 5 dong, yaaaa? Mana saat itu, sohibul SD gue bilang, "Wuiiih, lu akan dipanggil nih sepertinya." yang membuat gue senyam-senyum jumawa. Wk. Kalau diingat-ingat, rasanya gue mau sembunyi di kolong meja 🀣✌ Long story short, tiga anak sudah dipanggil sebagai TOP 3 dengan nilai matematika sempurnaaaa. Iyes, bukan hampir sempurna lagi melainkan 100% sempurna alias matematikanya 10 cooooyyyy. Kalau pakai istilah music show di Korea, mungkin bisa disebut PERFECT ALL KILL πŸ˜†

Kenapa matematika begitu important? ~ Karena pada masa itu, diantara semua subjects pelajaran, subject matematika dianggap sebagai hidup dan mati kami sebab tingkat kesulitannya yang parah compare to subjects lainnya πŸ˜… Alhasil, jika ada siswa yang bisa dapat nilai matematika sempurna tanpa salah, itu akan membuat seluruh siswa ter-WOW-WOOW dibuatnya πŸ™ˆ Dan TOP 3 angkatan gue itu pada dapat nilai sempurna semua. Hhhhh. Jujur, ketika nama mereka dipanggil, gue masih merasa gue bisa masuk TOP 5, kebetulan mereka bertiga datang dari sekolah berbeda πŸ˜‚

Tunggu punya tunggu, ternyata nama gue nggak dipanggil-panggil! DOWENGWENGWENG πŸ€ͺ Gue langsung amsyong lemah letih lesu, merasa harapan gue bahkan untuk masuk TOP 50 nggak ada 🀣 Ternyata, setelah gue check dengan langkah gontai di papan pengumuman, gue dapat urutan 32 hahahahahahahahaha. MAYGOD, jauh amat dari apa yang gue kira dan bayangkan πŸ˜… Dan jika pada masa itu ada kamera slow motion --- kamera itu mungkin bisa menangkap bagaimana reaksi dan ekspresi gue setelah baca pengumuman *zoom in zoom out* Wk. Gue langsung berdiri diam nggak berkutik, sampai sohibul gue colek tangan gue, "Eh, eh, bengong saja lu, yuk, ke kelas." πŸ™ˆ

Gue pun berjalan ke kelas, duduk merenung, lihat ke luar jendela dan berpikir keras πŸ˜… Semacam belum bisa menerima kenyataan bahwa ada banyak anak lain yang jauh lebih pintar *yaiyalaaaah, memangnya di dunia ini isinya lu doang?* πŸ˜† hahaha. But yeah, it was that hard, untuk bisa accept the reality genks, seharian itu gue cuma bisa diam sampai teman sebangku gue yang dari sekolah lain dan baru gue kenal mempuk-puk pundak gue, dan bilang, "Kenapa lu? Lapar?" 🀣

🐰🐰🐰

Pulang sekolah, gue langsung ke rumah - masuk kamar dan tiduran - menutup kepala gue dengan bantal. Ibu gue memanggil dari luar, menyuruh gue ganti seragam, yang gue jawab dengan, "Iyaaa, entarrr." dan gue melanjutkan fase defeat gue selama beberapa jam πŸ˜… Seingat gue, kayaknya gue sampai menangis ketiduran hahahahaha. Lebay, wak! Dan setelah itu, Ibu gue mengetuk pintu dan bertanya ada apa. Gue bilang kalau gue nggak masuk TOP 5 di SMP, bahkan nggak masuk TOP 30! πŸ˜‚ Terus gue curahkan rasa kawatir gue ke Ibu, iyaa genks, gue kawatir sama masa depan gue, mengingat banyak teman-teman yang lebih pintar dari gue di sekolah πŸ™ˆ

Ibu gue cuma tersenyum, mungkin jika masa itu ada istilah lebay, Ibu akan berkata, "Lebay kamu." Wk. However, Ibu gue yang bagai malaikat itu justru berkata, "Ya bagus doong, teman-teman yang lebih pintar bisa jadi pemacu kamu agar semangat belajar. Yang sudah yaa sudah, sekarang fokus bagaimana ke depannya." 😁 hueeeeee.... sumpaaah gue sedih bangatttt! Thankfully, berkat ayam bakar buatan Ibu hari itu, gue jadi bisa terima fakta dan tobat, nggak mau lagi merasa sok pintar πŸ€ͺ *tuh genks, kalau ketemu orang sok pintar, mungkin bisa kasih ayam bakar* πŸ˜‚

Nevertheless, pengalaman gue tersebut, betul-betul membantu gue untuk jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, though sekarang masih nggak baik-baik amat 😁 Dan gue sadar bahwa gue bukan satu-satunya yang menurut gue terbaik di dunia, plus gue selalu ingatkan diri sendiri setiap kali mulai besar kepala kalau di dunia ini ada Steve Jobs, Bill Gates, this and that! 🀣 Nggak jauh beda dengan dunia blogsphere, ketika ada pujian datang, instead of jumawa, gue akan ingat, ada banyak bloggers keren di luar sana, yang bahkan menjadi panutan gue dan banyak orang 😍

Dan seperti kata Christie Hartman, "Don't confuse confidence with arrogance. Arrogance is being full of yourself, feeling you're always right --- and believing your accomplishments or abilities make you better than other people. People often believe arrogance is excessive confidence, but it's really a lack of confidence. Arrogant people are insecure, and often repel others -- Truly confident people feel good about themselves and attract others to them." 😁 hehehehe. Bagaimana dengan teman-teman? Ada yang punya pengalaman serupa? Yuk, cerita, kita tobat sama-sama πŸ˜‚

54 comments:

  1. Wah,,, aku juga punya pengalaman pahit kayak gini, tapi sayangnya nggak bisa balas dendam. Hampir sama kayak mbak eno, juara 1 terus kan, terus pas di semster akhir jelas xii wicis hasil ujian kelulusan, aku udah pede bakal juara juga donk, bakal bangga diri ini bakal dapat ranking satu mulu, eh dongdengdong ternyata aku nggak juara.

    Temanku yg juara 1 jadi bahagia banget, dia tunjukkin itu hasil rapot di depanku dengan bangga dan sedikit sombong 'akhirnya kamu ada ranking duanya yaa'. KZL banget sampai langsung berpaling waktu itu.

    Tapi dari situ emang diingatkan lagi yaa, pasti akan selalu ada yang lebih daripada kita, kita nggak boleh jumawa dan memasang ekspektasi berlebihan. Kalau nggak sesuai, sembuhnya lama itu sakit hatinya. huhu

    Tapi benar juga ibu mbak, kalau kita punya saingan, kita bakal dibikin panas dan pengen mengejar ketertinggalan juga yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya kalau baru awal merasakan kekalahan, mba Ghina akan melewati fase defeat dulu, dengan rasa KZL bahkan sampai nggak mau lihat muka teman. Hueee.. Dan memang benar mba, kita nggak boleh jumawa plus ekspektasi berlebihan pada diri kita, sampai-sampai jadi underestimate nggak ada yang lebih baik dari kita πŸ˜…

      Pelajaran yang saya dan mba Ghina alami, itu betul-betul berharga dan membuat kita bisa berubah menjadi pribadi yang menerima bahwa akan selalu ada yang lebih baik daripada kita. Jadi sudah seyogyanya, kita fokus untuk be better tanpa harus compare diri kita ke orang, merendahkan orang dan jumawa πŸ™ˆ

      Delete
  2. Anehnya nggak punya pengalaman serupa karena mohon maaf, daku masuk orang dengan prestasi biasa-biasa saja...Lol.

    Cuma pernah sekali saja momen gedubrak seperti itu. Dulu saat pertama kali terjun ke Prancis. Bawaannya sudah yakin dan siap gerilya cas cis cus dong dengan orang setempat, berkat digojlok bahasa dan lulus ujian bahasa resmi sekian bulan.

    Eh, sampai sana saat kongkow-kongkow dengan kenalan-kenalan lokal, jadi pendiam. Nggak ngerti sama sekali dong mereka ngomong apa. Cepet banget ngocehnya. Langsung down berminggu-minggu. Berasa disana sejajar sama anak SD. Huhuhu. Makin pusing lagi saat disuruh presentasi di depan mereka. Berasa bodoh banget...

    Cuma merasa rada pinteran dikit saat ada kasus yang melibatkan matematika. Semua bule shocked saat soal yang mereka anggap sulit banget, saya selesaikan dalam 5 menit saja. Dan sayanya juga bingung masa gini aja nggak bisa? #drillingmathanakasiadetected :)) :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaah, I feel you mba πŸ˜†

      Saya pun awalnya merasa PD bisa cas cis cus dengan bahasa Korea, tapi ternyata native Korean kalau bicara cepat-cepat bangettt sampai saya nggak paham mereka bicara apa. Seriously, sampai buat down, kayak mba Phebie, saya pun merasa bodoh parah, terus entah kenapa jadi agak hilang PD-nya, mau bicara pun terbata-bata 🀣

      Well, sepertinya kalau urusan matematika, memang ASIA lebih cepat ya mba 😁 Mungkin ini juga salah satu alasan, mostly pemenang olimpiade internasional untuk science datangnya dari negara-negara ASIA. Hehehehe.

      Delete
  3. ga punya pengalaman seperti itu mbak eno. SD cuma ranking 10 besar aja. Ga bernafsu untuk masuk ke ranking 3 besar. Mereka terlalu pinter untuk disenggol.

    Cerita berbeda ketika masuk SMP, nah jaman smp ketemu dengan anak-anak yang jauh lebih pinter dari teman-teman sd ku. Sadar kalau sekolah ini isinya anak-anak pinter. Jadi aku mesti niat dan fokus. Kebetulan SMP ku termasuk yang bagus di semarang. Aku masuk dengan nilai yang mepet dan bonus karena satu rayon. Cuma sekali dapat ranking di kelas..Tapi setidaknya aku bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekolah yang mayoritas anak-anak pintar. Kelas dekat sama teman sekolah, eh malah pacarannya sama temanku...hahhahaa

    Kehidupan menyesuaikan dengan lingkungan ini berlanjut pas sma. isinya anak pintar. Lulusnya dengan nilai rata-rata 8. Mungkin ini karena lingkungan, ketularan pintar teman-temanku. Sejak sekolah emang ga pernah target juara kelas, hanya diajari untuk menikmati sekolah aja. Pas masuk sma pun ga ditemani ortu. Disuruh cari sekolah sendiri. Berhubung nilainya lumayan, jadi ga susah nyari mau sekolah di mana.... hahahhahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wedew 10 besar juga keren, masss 😍

      By the way, sempat-sempatnya curcol di komentar. Wk. Jadi bagaimana rasanya, cewek incaran justru pacaran sama teman? πŸ™ˆ Eniho, pengalaman mas Rivai itu menurut saya betul adanya, ketika kita berada pada lingkungan yang tepat, lingkungan tersebut akan attract kita untuk jadi lebih baik, dan ini pun terjadi pada saya πŸ˜†

      Salah satu contoh paling sederhana adalah lingkungan blogging, hehehe, saya merasa bertemu lingkungan yang tepat, teman-teman yang sama passionate-nya, jadi secara nggak langsung membuat saya ikut passionate dalam menjalankan blog saya 😍

      Eniho, saya nggak kaget kalau mas Rivai mudah cari sekolah, dan bisa dapat nilai lumayan. Sebab dari awal kenal, saya merasa mas Rivai sosok pintar 😁

      Delete
    2. Serius mbak, aku bukan termasuk anak yang pintar. Bahkan ibuku selalu menolak perkataan tetangga yang menyebutkan bahwa anak-anaknya pintar. beliau cuma bilang anak-anaknya biasa-biasa saja...hahhaaha

      dulu aku sempat bilang ke adiku. Kalau kamu pengen pintar, bergaulah dengan orang pintar. Nanti kalian bakal ketularan pintar. Dan teori itu masih aku pegang sampai saat ini. wkwkwkwk

      yaa begitulah, ga habis pikir...itu kelas 3..hahhahaa
      kemudian pas pendaftaran sma, cewe yang aku taksir ga bisa masuk ke sma yang sama denganku karena nilainya ga memenuhi syarat...kalau bisa subsidi nilai, mungkin nilaiku aku subsidi ke dia...hahahhaha
      kemudian lost contact sampai sekarang.

      Delete
    3. Ibu mas baik bangettt, mungkin nggak mau buat anak-anaknya besar kepala. Padahal Ibu pasti tau anaknya pintar 😍 By the way, setuju sama mas Rivai, kalau kita bergaul dengan yang pintar, secara nggak langsung kita jadi ketularan pintar πŸ˜†

      OMG mas Rivai, kayaknya seru kalau berbagi kisah cinta monyet jaman dulu hahahahaha, sedih banget pasti ya kala itu nggak bisa satu sekolah sampai berniat mau subsidi nilai *memangnya bisa?* 🀣 Wk. Ada-ada sajaaaaa ~

      Delete
  4. Kalo soal masa lalu gue sekarang percaya bahwa pengalaman apapun yang kita dapatkan di masa lalu bisa menjadi modal di masa yang akan datang termasuk pengalaman-pengalaman yang jelek sekalipun. (^^)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree mas Didut, semua bisa jadi modal untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik lagi ke depannya, terlepas apapun pengalaman jelek di belakang 😁

      Delete
    2. Anyway, salam kenal.
      Mampir sini karena rekomendasi dari agregator teman dan ternyata banyak blogger-blogger yang masih aktif menulis saat ini.
      Kinda cool to find your blog. :D

      Delete
    3. Salam kenal, mas 😁

      Wah wah, apakah dari agregator mas Zam? πŸ™ˆ Hahaha. Soalnya beberapa teman bloggers datang dari rekomendasi agregator-nya mas Zam πŸ˜‚

      Iya mas Didut, ada banyak bloggers aktif lhooo, bahkan ada yang rajin tulis setiap hari hihihi. Semoga mas Didut tetap semangat blogging, dan berbagi cerita, pengalaman, karya serta apapun yang bisa dibagikan, ya πŸ₯³

      Nice to know you, mas ~

      Delete
    4. Hahahaha iya.
      Suka makan bareng Zam karena rumah deketan sebelum dese pindah ke Berlin hihihi

      Delete
    5. I see, ternyata teman real life-nya mas Zam 😁
      Once again, salam kenal mas, jadi Adi atau Didut, ya? πŸ™ˆ

      Delete
    6. Didut aja, itu lupa ngubah :))
      Kalo sama Zam temen via blog entah sejak kapan hahaha
      We become friend because blogging.

      Delete
    7. Okay mas Didut 😁

      Mas Zam jadi blogger sudah sangat amat lamaaa, jadi mungkin karena itu mas Didut pun berteman sama mas Zam entah sejak kapan hehehe, semoga mas Didut bisa kembali semangat berbagi cerita melalui blog, yaaaa πŸ₯³

      Delete
  5. Baru aja aku komen hal yg serupa di postingan kak Ady tadi, kak EnoπŸ˜‚ what a coincidence, ternyata kak Eno membahas soal confusion of arrogance and confidence😍.

    Kalau di kasusku, aku dari SD - SMA pun selalu punya prestasi yang lumayan (meski nggak bagus-bagus amat🀣). Lumayan ambis juga karena selalu pingin jadi nomor satu, mengalahkan langganan peringkat 1 di kelas yang memang susah buat dipepetπŸ˜‚

    Nah mungkin aku bedanya disini, kak, setelah di perkuliahan dan ketemu sama orang-orang yg hebat pengetahuan dan skillnya, aku malah jadi ciut duluan untuk ngejar. Jadi instead berusaha, aku malah melipir gabung ke grup anak-anak gamer yg santuy dan sering terlambat kelas🀣🀦🏻‍♀️ bukan orang-orang bandel sih, hanya saja jadinya malah cuek ke pelajaran hikss. Akhirnya sekarang menyesal sebab ketinggalan jauh. By the way, aku juga belum lama nulis tentang ini, kak Eno, walaupun konteksnya sedikit berbeda. Tapi maju mundur mau dipublish atau nggak, malu bangaatsss soalnya, wkwkπŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohiya, Ady ada bahas soal feeding ego itu, ya? πŸ˜†

      Kayaknya akan ada masa seperti itu Awl, dimana kita mendadak ciut, nggak PD, dan lain sebagainya ketika melihat ada seseorang yang lebih dari kita. Sebab kakak pun pernah merasakannya, dan banyak teman lain memiliki pengalaman serupa πŸ™ˆ

      Bahkan dulu kakak sempat tertekan, semacam bodoh banget, salah satu contoh paling sederhana seperti yang kakak tulis pada komentar balasan ke mba Phebie, nggak bisa cas cis cus bicara cepat dengan native Korean πŸ˜† Payah pokoknyaaah ~

      Eniho, semoga Awl bisa kembali on track yaaa, sayang banget kalau sampai harus ketinggalan jauh, Awl. Kakak rasa meski susah, namun penting untuk kembali fokus pada tujuan awal kita, kenapa memutuskan hal itu (dalam kasus Awl, memutuskan kuliah dijurusan itu, while kakak belajar bahasa Korea) 😁 Semangat untuk kita 😍

      Ps: ayoooo publish, kakak mau bacaaa πŸ₯³ Tulisan Awl selalu keren!

      Delete
  6. Heheheheh. Kalau saya dulu ngerasain yang begitu pas masuk kuliah. Jaman SD sebenernya punya pengalaman yang mirip-mirip kayak mbak Eno alias top 5 terus, tapi pas SMP-SMA berubah haluan jadi murid bandel dan males, jadi sudah lebih nrimo, malah cuek πŸ˜…πŸ˜…

    Tapi kalau kuliah ini beda. Karena sepanjang SD-SMP-SMA, saya selalu jadi orang yang "pintar menggambar". Alhasil pas kuliah masuk fakultas seni, saya shock karena banyak banget orang yang lebih pintar, dan saya cuma orang yang biasa-biasa aja malah ngga bakat-bakat amat πŸ˜… Malah sepanjang masa kuliah kayaknya saya cuma sering merutuki diri sendiri karena merasa salah jurusan. Wkwkwkw

    Ya, masa-masa down itu masih suka berlanjut kok, tapi kalau sekarang sudah lebih paham bahwa ya, semua orang punya kehebatan masing-masing. Memang, ketika kita merasa "paling top, yang lain beng-beng" tuh kita punya kecenderungan 'menganggap orang lebih kecil' dari kita ya.... padahal, kita nggak tahu mereka punya keunggulan di mana.

    Sesungguhnya, hal ini baru saya pelajari benar-benar saat lulus kuliah dan masuk di dunia kerja. Dan rasanya, malu banget kalo mikirin pola pikir dan sikap saya dulu 😌😌 apa boleh buat, tinggal penyesalan yang ada... dan tentu saja, pengingat supaya sadar bahwa kemampuan semua orang beda-beda dan kita nggak bisa pukul rata menganggap patokan keren atau enggak itu cuma dari satu sisi.

    demikian, cerita tobat saya tutup di sini πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba Mega, terima kasih sudah berbagi pengalaman, hehehe, dan seperti yang mba bilang, ketika kita merasa top, kita jadi punya kecenderungan untuk anggap orang lain lebih kecil dari kita, which is bad. Nggak seharusnya kita berlaku demikian, sebab mungkin, mereka punya keunggulan dibidang lain yang kita nggak punya πŸ˜†

      Hehehehe, that's okay mba Mega, kita semua berproses, yang penting kita tau itu salah dan berusaha memperbaikinya meski penyesalan akan selalu ada. Semoga kita bisa terus sadar bahwa kemampuan kita bukan sesuatu yang lebih luar biasa dibanding kemampuan orang-orang di sekitar kita 😁 Semangat untuk kita, mba πŸ˜†

      Dan terima kasih sudah berbagi cerita tobat, hahahaah 🀣 Lavvv ~

      Delete
  7. Kak Eno, aku juga pernah mengalami hal yang serupa πŸ˜‚. Waktu kecil, aku pernah beberapa kali ikut lomba-lomba dan lumayan sering membawa pulang piala meskipun nggak juara 1 teruss tapi bisa sering bawa pulang piala bikin hati jadi arogan πŸ˜‚. Sekali waktu pernah kejadian nggak menang, aku langsung ambyar sedih banget hahahahahaha 🀣. Terus setelah momen itu, saat kemudian ikut lomba lagi, aku jadi lebih legowo ketika nggak bisa bawa pulang piala. Aku lupa momen yang bikin aku jadi legowo tuh apa persisnya, tapi aku ingat mamaku yang pukpuk-in saat sedang sedih πŸ˜‚.
    Mari kita taubat sama-sama, Kak 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, toss Lia *eh kok toss* πŸ˜‚

      But I know bagaimana perasaan Lia, especially bagian nggak menang terus langsung ambyarrrr pasti sedihnya sampai ke-tulang-tulang πŸ™ˆ Wk. Mungkin momen Lia mulai legowo saat Lia tau bahwa setiap dari kita punya 50:50 chance, jadi instead of worry what if kalah, better fokus giving our best, kan 😍

      Semangat untuk kita, ayo tobat 🀣

      Delete
  8. kalo aku ya pas awal nekunin hobi fotografi. awal-awal udah banyak dipuji sama kakak kalo fotoku bagus-bagus padahal baru nyoba, berbakat katanya, dan rupanya aku salah menerima pujian tersebut dan malah jadi sombong.

    apalagi waktu itu belum ada Instagram dan internet masih mentok di blogging atau flickr kyknya udah ada sih, jadi aku blm sadar kalo ternyata ada baaanyaaaakkk fotografer lainnya yang jaaauuh lebih keren dariku.

    Bahkan awal aku main instagram, aku ga mau berkomunitas karena merasa cukup dengan diri sendiri dan merasa bisa hebat dengan solois, padahal waktu awal-awal instagram, apps itu emang community based banget, jadi justru seharusnya sering kopdar dan bersosialisasi dengan sesama penyuka fotografi, bukan berkompetisi siapa yg paling jago, tapi saling menginspirasi.

    Tapi sayang, aku menyadari itu setelah Instagram sudah terlalu rame dan udah ga community based lagi dan orang-orang yang dulu tekun berkomunitas di Instagram udah bertumbuh dan menjadi fotografer pro yang keren.

    itulah salah satu penyesalan yang ga bisa kuperbaiki. dan itu semua karena aku terlalu arogan, menganggap diri paling keren dan bisa sendiri. padahal setelah lebih melek tentang dunia luar melalui internet, aku ternyata ga ada apa-apanya, dan itu karena aku yang terlalu sombong. and that's my fault.

    Tapi setelah itu, masalah baru muncul, aku jadi terlalu menarik diri ke belakang dan malah jadi sering insecure dan ga pede. ga pede karena aku selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang udah jauh di atas.

    Tapi sekarang, aku mulai berbenah, fokus terhadap diri sendiri dalam artian aku hanya akan membandingkan diri dengan diriku yang kemarin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ady, thank you as always sudah berbagi insights dan pengalaman. Menurut saya, pujian kadang bisa buat kita jumawa, dan lupa arah hehehehe. So, saya bisa mengerti kenapa pada waktu itu Ady salah menerima pujian kakaknya Ady tersebut 😁

      Nah mungkin Ady bisa kembali memulainya di blog, dengan develop komunitas fotografi versi blog, meski agak susah yaaa tapi siapa tau ada yang seiya sekata sama Ady perihal dunia pepotoan πŸ˜† Hehehehe. Dan instead of menyesal, Ady bisa pelajari dulu bagaimana sistem itu bekerja untuk kembali diterapkan pada platform baru seperti blog misalnya 😍 Apalagi Ady mau fokus di blog juga.

      Semangat untuk kita, ayo bebenah, fokus pada diri sendiri, dan berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin 😁 Semoga kita bisa jadi the best version of ourselves, yaaa. Tanpa harus compare diri kita dan merasa kecil akan diri kita πŸ₯³

      Delete
    2. Biar banyak jumlah komennya...
      eh tapi kayak spam ya?

      oke deh, udah kok... last

      Delete
    3. Apa inih? 🀣🀣🀣🀣

      Delete
  9. Aku suka banget tulisan ini deh Mba Enoo πŸ’• Mengingatkan banget betapa kita sebagai manusia itu kecil bangeeett, di atas kita masih ada orang-orang lain yang lebih hebat jadi ga boleh jumawa.

    Beberapa tahun yang lalu, aku sangat jumawa karena aku adalah orang yang paling sering berbagi informasi dan menjelaskan hal-hal yang ga diketahui teman-teman baikku. Mereka sempat julukin aku google berjalan, dan aku suka songong dengan nanggapin "makanya banyak2 baca" WKWKWKWK

    Padahal kalau dipikir-pikir yaa aku dapet banyak pengetahuan kan dari orang-orang lain juga. Karena aku hobi scrolling dan baca blog. Jadi masih banyak orang-orang yang jadi sumber pengetahuanku, bukannya aku dapet pengetahuan out of nowhere dan jadi sombong πŸ™ˆπŸ™ˆ

    Mungkin yaa dengan kita banyak berteman dengan orang-orang yang suka berbagi/bertukar pikiran, kita bakal dapat banyak insight dan menjadikan kita lebih sadar diri untuk ga jumawa. Karena kita bakal diingatkan kalau masih banyak orang yang lebih hebat kok dari kita πŸ˜†

    Thank you for writing this Mba Eno πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Eyaaa, kita ini sebagai manusia kecil banget, jumawa hanya akan membuat kita lupa diri dan lupa arah. Semoga kita bisa pelan-pelan belajar tetap injak tanah, agar nggak berubah jadi manusia-manusia arogan πŸ™ˆ

      Hahahaha, mba Eya pengalamannya kocak, tapi sarat makna πŸ˜† Bagian kata-kata, "Makanya banyak baca." ~ sebab kadang saya pernah sotoy begitu ughaa ke sohibuls or si kesayangan huhuhu jadi malu 🀣 Dan agree sama mba Eya, sebenarnya meski kita tau lebih dulu, bukan berarti kita lebih pintar, dan harus rendahkan orang πŸ˜…

      Sama-sama mba Eya, thanks for reading and sharing 😍

      Delete
  10. Aku semasa SD mirip gitu jg, mbak. Hampir selalu masuk 3 besar di kelas. Lanjut ke SMP, agak turun. Tapi tetep masuk 10 besar di kelas dong.. Lanjut ke SMA, agak parah. Rankingnya selalu peringat 30-an, rangking terbagus yg pernah aku dapat semasa SMA adalah.. Ranking 29 mbakk wowkwwkwkkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh turunnya lumayan jauh itu mas, bagaimana perasaannya? 😁 Well, yang terpenting mas Dodo sudah berusaha berikan yang terbaik untuk sekolah πŸ˜†

      Delete
  11. Haha dikasi ayam bakar.

    Walau mbak ga juara disana tapi mbak juara dihatiku, 😳🀣🀣

    Iya aku pernah dengan pedenya gombalin teman blog di MWB dulu, lama2 baru kutahu dia punya anak seumuran sama aku πŸ™ˆπŸ™ˆ

    Aku juga pernah PD pas ikut lomba anu dan aku optimis ini pasti menang, kalau ga juara 1, 2 atau mungkin 3 dan benar saja aku mendapat juara 3 dari 3 peserta hihi.

    "Diatas langit masih ada langit (7 lapis)", tak ada alasan untuk merasa "paling" kecuali mungkin untuk tujuan becanda/komedi 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa tau bisa berhasil mas, coba kasih ayam bakar 🀣

      Makanya jangan suka gombal mas Jaey, hahahaha πŸ˜† By the way anak mas Jaey sudah usia berapa sekarang 😁 Dan itu lomba apa kok pesertanya cuma tiga hahahaha. That's okay~lah meski juara paling belakang, yang penting angkanya tiga. Not bad πŸ˜‚

      Hehehe, yep agree, di atas ke tujuh langit pun masih ada om Hotman Paris katanya. Jadi kita sebaiknya jangan merasa paling, malu nanti hihihihi πŸ™ˆ

      Delete
  12. Ckckckckckc... baca komentar kawan-kawan, semua sekolahnya hebat-hebat prestasinya yah..hikksss #minder mlipir...

    Nggak tau, tapi pastinya di masa hidup saya yang 50 tahun, pengalaman yang seperti ini sudah kerap dialami. Bukan sekali dua pastinya.

    Cuma kalau dalam urusan sekolah mah, saya SMA kelas satu ,ranking 44 dari 48 hahahaha... kelas dua cuma 23-30-an.. susah untuk merasa arrogance atau bahkan confidence... 🀣🀣🀣


    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahuahaha, mas Antooon, saya pernah baca cerita mas Anton soal kehidupan sekolah 😁 By the way, meski ranking di kelas always urutan belakang tapi mas Anton saya rasa termasuk yang hebat and I'm sure sangat pintar 😍

      Buktinya mas Anton masuk kampus kuningggg πŸ₯³

      Delete
  13. I can relate kak Eno. Ha ha ha. Dulu, pas SD, saya cukup jago Matematika dan Bahasa Inggris. Lebih tepatnya tau aja dan kebetulan teman-teman saya belum ngga tau. Jadi tiap ada tugas dari dua mata pelajaran itu, pasti larinya ke saya. Tanyanya ke saya.

    Suatu hari, ada perlombaan Bahasa Inggris dari les yang kami ikuti. Ada banyak program yang diadakan. Saya, dan beberapa teman yang cukup ahli Bahasa Inggris waktu itu kebagian program semacam jawab soal (seingat saya). Itu program yang paling sulit menurut saya. Selain karena individu, itu juga semacam lomba Cerdas Cermat. Tidak seperti program lain semacam games yang berkelompok.

    Jadi, diantara 3 atau 4 teman lain seingat saya, saya berpikir bahwa setidaknya akan mengalahkan mereka dan berjuang melawan peserta dari sekolah lain. Eh, taunya saya gugur duluan. Menyaksikan teman saya yang memang cukup jago juga Bahasa Inggris. Saya merasa hina sekali waktu itu. Soalnya terlalu sombong duluan, ekspektasi tidak sesuai, dan akhirnya tidak sesuai harapan.

    Masuk SMP, meski kemampuan Bahasa Inggris saya masih kepake untuk sombong-sombongan (Ha ha ha), Matematika saya jadi buruk karena materi SD cuma kali tambah kurang, eh tau-tau materi SMP sudah masuk huruf-huruf, terlebih pas masuk SMA ketemu Logaritma dan semacamnya. Ha ha ha.

    Semua itu jadi tidak ada gunanya. Memang betul, ketika sudah merasa hebat, kita sudah berakhir saat itu juga. Makanya, sekarang saya berusaha agar terus merasa lapar, merasa bodoh, biar tetap belajar, biar tetap tidak jumawa.

    Cerita yang menarik kak Eno, bang Yoga, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadooow thank you so much mas Rahul sudah mau berbagi cerita, saya bisa ikut membayangkan panasnya mas Rahul waktu itu, apalagi sampai merasa hina. And that's how I felt mas, huehue, semacam malu sama diri sendiri πŸ˜‚

      Thankfully, kita cepat sadar sebelum terlambat dan tambah besar kepala kita, ya 😁 hahahaha. Mungkin semenjak SMP dan SMA, bakat mas Rahul lebih ke arah bahasa sehingga nilai matematikanya terjun bebas, makanya ambil sastra sekarang 😍

      Once again, terima kasih banyak mas, sudah mau baca cerita saya dan bahkan berbagi sudut pandang dan pengalaman personal mas πŸ₯³

      Delete
    2. Ini hanya sebagian kecil dari aib masa lalu. Saya harap bisa jadi pelajaran untuk yang butuh. Bahwa kita yang berbangga diri, hanya seonggok daging di bumi ini.

      Terimakasih kembali kak Eno. Saya ngga bisa harap banyak tapi kata saya cukup disayang sama guru Bahasa Indonesia saat SMA πŸ˜† Sekali lagi sama-sama tentu saja. Saling sharing cerita itu hal yang menyenangkan

      Delete
    3. Terima kasih sudah berbagi pelajaran berharga yang mas Rahul rasakan 😁 Dan saya tau kenapa guru Bahasa Indonesia sayang sama mas Rahul, sebab tata bahasa mas Rahul memang bagus, dan mas punya keahlian dalam membagi cerita 😍

      Semangat mas, keep it up! πŸ₯³

      Delete
  14. Mba Enoo, kebetulan aku yang termasuk biasa-biasa soal prestasi di sekolah, jadi aku nggak punya cerita serupa seperti manteman lainnya πŸ˜‚

    Akutu kayaknya kebalikan dari arogan deh, lebih ke minder sepertinya πŸ™ˆ nggak percaya diri dengan potensi yang ada dan ujung-ujungnya malas untuk mengambil kesempatan. Sampai pernah ada seseorang yang bilang ke aku, "Elu minder sama aja kayak orang sombong. Ada potensi malah nggak mau diasah. Itu namanya egois." Oppps πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

    Butuh proses panjang juga, Mbaa, sampai akhirnya aku bisa meyakinkan diri untuk menggali dan mengasah potensi diri. Alasanku minder karena takut dikomentari orang lah, dinyinyirin dan sebagainya. Padahal melangkah aja juga belum πŸ˜‚

    Belajar dari pengalaman, sekarang aku memberanikan diri untuk belajar hal-hal baru. Kalau dulu suka malu bertanya kepada yang lebih ahli, sekarang bodo amat deh SKSD ajaa, yang penting bisa belajar sesuatu 😝

    Thank you so much, Mba Enoo sudah berbagi pengalaman berharganya ✨

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ugha kata-kata temannya mba Jane, wuiiih, saya nggak kepikiran, tapi habis baca cerita mba Jane langsung merasa, ah iya, makesense πŸ˜† Kalau kita punya potensi namun nggak mau diasah, kesannya kita arrogance dan egois, ya πŸ˜… Atau bisa dianggap nggak bersyukur dengan karunia yang Tuhan berikan (?)

      Sebetulnya, alasan mba itu kadang saya rasakan, dan menurut saya banyak yang relate plus punya perasaan serupa hahahaha. However, saya ikut senang karena secara perlahan, mba Jane mau belajar. Pepatah lebih baik bertanya daripada sesat di jalan itu masih berlaku lho, dan setipe dengan that's okay SKSD yang penting bisa belajar 😁

      Thank you sudah berbagi cerita, mba 😍

      Delete
  15. Kisah yang menarik saay, hehehe.
    Saya yang ditampar kenyataan gini, mulai SMP, pertama kalinya dari juara 1 turun ke juara 4, udahlah sedih, takut kena pukul bapak pula hahahaha.

    Etapi, kalau yang suka ngeremehin pertama kali kayaknya pas SD deh.
    Kelas 1, saya masih usia 5 tahunan dulu, tapi membekas sampai sekarang.
    Saking saya kan cepat banget nangkap pelajaran, padahal nggak pernah masuk TK, tapi pas masuk SD langsung pintar baca, sementara anak-anak lain, yang usianya di atas saya, lamaaaaa sekali belajar membacanya.
    Alhasil, saya bosan nunggunya, trus yang lain belajar membaca, eh saya malah bobok di meja, hahaha.

    Lalu gurunya datang dan menjewer kuping saya, huhuhu.
    Saya nangis dong, kan merasa nggak salah, orang saya bingung mau ngapain, mending kan tidur di meja wakakakak. *sombooonggg :D

    Tapi mungkin karena saya selalu tidak terlihat dalam pergaulan, saya jadi tumbuh jadi anak yang minder, jadi dipuji pun, di sisi lain senang, di sisi lainnya lagi bertanya-tanya, apa benar saya seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, bapak mba Rey tega πŸ™ˆ

      Wk, sebenarnya mba Rey nggak salah, kan bingung mau apa, daripada mengobrol dan ganggu teman, better tidur di meja 🀣 Tapi mungkin gurunya mba Rey kesal, "Saya capek capek mengajar, kamu enak-enak tiduran." begitu kali ya, ucap guru mba πŸ˜†

      Well, menurut saya, minder membuat kita jadi nggak percaya sama kualitas diri kita ya, mba. Alhasil ketika pujian datang, kita semacam nggak yakin apakah kita seberkualitas itu, mungkin kita hanya kurang menelisik lebih dalam perihal kemampuan kita 😁

      Delete
  16. Yaampunn aku merasa diingatkan lg pas baca inii, krna aku juga pernah di kondisi itu. Huhu.. krna aku jg sempet ngalamin kaya Mba Eno.

    Waktu SMA aku di luar kota, setelah SD SMP juara terus. SMA kelas aksel yg isinya pd pinter2 semua. Rangking bener muter tergantung siapa yg lg rajin belajar, ga ada juara bertahanπŸ˜… kaya jaman SMP dulu. Pertama kali seumur2 keluar dr t besar yg bikin aku nangis2 juga πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Tp dr situ kita belajar, di atas langit selalu ada langit..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehehe, terima kasih sudah berbagi mba Thessa πŸ˜†

      Dan itu benar adanya, ranking berputar tergantung siapa yang rajin belajar, namun kadang kala, yang juara bertahan akan tetap bertahan pada posisinya 🀣 Hahaha. Thankfully, kita dapat pelajaran berharga lebih cepat meski menyakitkan, mba πŸ˜…

      Delete
  17. Kak Eno sama kita waktu SD langganan peringkat 1 xD terus waktu SMP kelas 3 aku terlempar dari 3 besar karena teman-teman yang lain pada menanjak banget pinternya. Dan yes pada waktu itu kalau seseorang pandai matematika itu kayak udah dewa banget wkwkwkw. Apalah diriku yang masuk IPA hanya karena suka Biologi. xD

    Waktu SMA udah nggak peduli ranking aku soalnya udah capek, yang penting nilai di atas rata-rata kelas hahaha. Udah sadar banyak yang lebih pinter soalnya. :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daebak, mba Endah suka dan jago Biologi? Hahaha, buat saya, teman-teman saya yang jago Biologi itu para dewa. Seriously, sebab saya paling lemah pada pelajaran tersebut, makanya saya masuk kelas science daripada social sebab saya nggak jago hapalan πŸ˜† Eh ternyata, di kelas science ada Biologi *jiakh* amsyooong sayaaa πŸ€ͺ

      Terima kasih sudah berbagi cerita, mba Endah 😍

      Delete
  18. aku jadi inget waktu SD kelas 1,, 2 an kalau rajin banget nangkring di peringkat 1, turun turun paling dapet peringkat 2
    itu aja seneng bukan main :D, makin gede nggak ngoyo lagi buat "kompetisi" sama anak lain, karena "sepintar-pintar" nya aku,, ada orang lain yang kepintarannya mungkin belum aku ketahui.
    tapi dari SMP aku sudah seneng "saingan", kayak lomba karya ilmiah, yakin bingit waktu ikutan kompetisi ini pasti bagus, dan memang kok kebetulan waktu itu saingannya memang sama sama pintar, yaelahh hahahaha
    dan beruntung masih diberi kesempatan juara 1
    kayaknya jiwa kompetisi aku paling besar waktu di SMP, ikutan lomba cerdas cermat juga meskipun gagal. Dari ikutan lomba gini jadi tau kalau yang ikutan siswa se kabupaten yang semuanya isinya orang cerdas bin pintar semua.
    dari situ belajar nerima kekalahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ainuuun, sesama anak kompetitif, tos dulu hahaha πŸ˜‚ Iya mba, saya pun akhirnya sadar bahwa akan selalu ada yang lebih pintar dan hebat 😍 hehe. Jadi harus bersyukur apapun yang didapat, yang penting sudah usaha keras πŸ˜†

      Semangat untuk kita, keep doing and giving our best πŸ₯³

      Delete
  19. Kayaknya masa2 sekolah memang seriiiing deh ngerasa arogan ini :p. Kalo diinget2, akupun pernah kayaknya ngalamin juga mba.

    Ga terlalu inget sih dulu ttg apa, yg pasti bukan matematika, aku termasuk benci luar biasa Ama math dan segala pelajaran IPA dulu. Aku cuma suka itung2an angka dalam akuntansi hahahahhaa

    Dulu di sekolahku dibedain kelas2nya. Ada kelas inti, kelas bayangan inti, dan kelas regular. Nama halusnya regular, tapi semua orang di sekolah tau itu kelas buangan semua anak2 yg nakal dan nilainya di bawah rata2 :D.

    Jadi aku sempet ngerasa PD bakal dapet 3 besar setidaknya. Krn kebetulan ujianku termasuk bagus. Tapi ternyata aku hanya 5 besar , yg mana shock juga kayak mba pas tau ga dipanggil :D.

    Yg bikin aku emosi, temen Deket ku, yg dari kelas regular, ternyata juara 1. Wajar sih kalo dia happy dan bangga nunjukin nilainya. Tapi aku yg sdg emosi, malah nyindir dia, " yaelaaah rangkin 1 di kelas mu sama aja rangking trakhir di kelas ku kaliii"

    Hufft.... Aku nyeseeel kenapa bisa2nya ngucapin kata2 sombong begitu -_- . Harusnya aku ikutan seneng, walo mungkin hati ku sakit, tapi bukan alasan utk nyakitin temenku dgn kata2 begitu :(

    Dan orang sombong memang slalu kena batunya.. bbrp CAWU (udh kliatan bgt aku generasi keberapa yaa, masih pake Cawu hahahhaa) kedepan, nilaiku anjlok langsung.

    Intinya, di atas langit masih ada langit :D .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti mba Fanny dulu ambil kelas social, kah? 😍

      Hahaha, kita sama-sama generasi cawu mba, eh tapi saya sempat rasakan semesteran ugha *ahem* *salfok* 🀣 By the way, pasti teman mba kala itu shock dengarnya, tapi mungkin teman mba bisa mengerti mba, huhu, kalau pun nggak bisa, semoga teman mba sudah memaafkan kata-kata mba 😁

      Benar, meski kadang kita kalah dan sakit hati, jangan sampai kita sakiti orang lain yang pencapaiannya lebih πŸ˜† Terima kasih sudah berbagi, mba Fanny πŸ₯³

      Delete
  20. ngga heran sih kalo mbak Eno pas sekolah rangking satu mulu.. πŸ˜†

    aku dulu juga punya pengalaman serupa. dulu paling ngga paham ama pelajaran fisika pas SMA dan merasa bahwa ngga ngerti fisika bisa tetep hidup juga..

    eeh, pas kuliah malah masuk ke jurusan Fisika, fakultas MIPA pulak.. sepertinya aku dulu lebih ke kualat daripada arogan, sih.. πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, kualat ya mas, dikira nggak akan ketemu Fisika, eh justru masuk jurusan yang nggak jauh-jauh dari Fisika. Apakah habis itu langsung cinta? 🀣

      Delete