When I Finally | CREAMENO

Pages

When I Finally

Kalau teman pernah ingat cerita gue kesal diajak naik tangga saat gue dan si kesayangan liburan di Seongsan Ichulbong, nah sejak kejadian itu, si kesayangan agak lama nggak ajak gue naik tangga, til one day gue inisiatif ajak dia ke Gunung Bromo yang mana gue tau, gue akan korbankan kaki gue di sana hahahaha πŸ˜‚ Awal mula gue kepikiran main ke Gunung Bromo gara-gara salah satu mba gue cerita, dia belum pernah ke sana (Malang, Gunung Bromo dan wisata lainnya) 😁

Dan gue dengan sotoy-nya bilang, "Ayooo mba, kita ke Malang, tunggu saya pulang ke Indonesia." tanpa tau meski kata orang naik Gunung Bromo gampang, nyatanya gue mau pengsaaan di sana πŸ€ͺ Wk. So yeaaah, sehari setelah gue mendarat di Indonesia bersama si kesayangan, kami beserta mba gue dan suami serta anaknya cus berangkat ke Surabaya. Bodohnya, gue ambil flight Bali to Surabaya tapi pilih hotel di Malang which is masih perlu naik mobil dua jam dari Surabaya 🀣

Kenapa pilih Malang? Gara-gara gue kira Gunung Bromo lebih dekat dari Malang *makanyaa, saat belajar Geografi jangan becanda di kelass!*, padahal dipikir-pikir, jarak tempuhnya sama saja, mau dari Malang atau Surabaya πŸ˜‚ Thankfully, gue nggak menyesal sebab gue bisa main ke Museum Angkut dan menginap di Djoglo Luxury Bungalow yang bagus fasilitas, konsep dan services-nya. Plus mereka sediakan airport pick up service, jadi gue tinggal duduk manis tunggu jemputan πŸ’•

🐰🐰🐰

Back to topic, pada post ini, gue sebenarnya mau curcol, kalau gue sempat ingin cancel rencana gue ke Gunung Bromo hahahahaha. Even sejam sebelum jadwal berangkat, gue mendadak lemas πŸ˜… Biasa, gue kawatir takut nanti nggak kuat naik terus jadinya justru menyusahkan mba gue yang sudah terlanjur happy mau lihat pemandangan dari atas -- Mana gue kira nggak terlalu dingin, jadi gue hanya pakai sweater, dan itu keputusan SALAH BESAR. Sebab, suhu di sana 2 derajat! πŸ˜‚ Mba gue alhasil kerepotan cari topi rajut, syal rajut serta persewaan padding dan selimut di area πŸ™ˆ

Eniho, kami semua duduk di sebuah tempat yang bentuknya seperti tangga-tangga memutar, gue nggak tau ini di mana -- gue nggak hapal dan nggak dengarkan penjelasan driver-nya πŸ€ͺ✌ Intinya, driver bilang ini salah satu puncak paling bagus untuk lihat SUNRISE, dan gue duduk di sana dari jam empat pagi kalau nggak salah. Anehnya, meski sunrise masih sejam lagi, area tersebut sudah penuh pengunjung yang bersiap-siap bawa kamera, tripod dan pernak-pernik lainnya 😍

Gigi gue gemerutuk menahan dingin, while si kesayangan berusaha membuat tangan gue hangat, dan nggak ada angin nggak ada hujan, gue justru kepikiran ide business, "Kayaknya kalau gue jual hotpack di sini akan laris, Hon." ucap gue pada si kesayangan yang dibalas anggukan, "I think so." πŸ˜‚ CUAAN MULUK OTAKNYA. Hahaha. Well, sambil mengobrol this and that, gue memperhatikan mba gue yang sesekali memastikan selimut melindungi kaki gue agar tetap hangat 😁

"Sini mba, pakai selimut, masih muat inihh." ajak gue yang dijawab mba gue dengan, "Nggak mba, saya cukup hangat pakai ini." ----- ternyata mba gue amunisinya lebih lengkap, dari kaos, sweater, jaket baru padding luaran. Wk. Gue pun tertawa melihat mba gue begitu excited-nya, padahal kaki gue masih cekat-cekot karena naik anak tangga yang lumayan banyak πŸ˜… Tapi entah kenapa, rasa sakitnya hilang walau kemudian ketika sampai hotel mendadak muncul tanpa diminta πŸ€ͺ

Long story short, langit mulai berubah warna, orang-orang di sekitar gue mulai berdiri untuk cari spot paling pas agar bisa menangkap pemandangan salah satu ciptaan Tuhan paling indah --- Mba gue tentu ikut berdiri, meski berdirinya masih nggak jauh dari gue hehehe. "Sana mba, nggak apa-apa ke depan." ucap gue ke mba gue yang sepertinya kawatir gue kenapa-napa, "Saya tunggu sini, jangan kawatir. Mba ke depan biar dapat foto bagus." lanjut gue meyakinkan πŸ˜†

🐰🐰🐰

Jujur genks, kalau bukan karena mba gue atau si kesayangan, rasa-rasanya gue nggak akan pernah injak kaki di Gunung Bromo, sebab gue membayangkan harus naik tangga yang lumayan tinggi itu langsung migreeeen kepala hahahaha. However, gue bersyukur, berani challenge diri gue dan bisa mengalahkan rasa malas gue berurusan dengan tangga, seenggaknya, gue tau, jika ada kemauan, disitu pasti ada jalan dan harapan 😍 Dan semenjak saat itu, gue sudah nggak malas naik tangga, bahkan gue dengan bangga bisa bilang kalau gue berhasil naik tangga Ngong Ping dan beberapa tempat wisata di negara lainnya πŸ˜‚ Mantap, kaaaan? *semoga nggak terkesan arogan* πŸ˜†

Korban naik anak tangga panjangnya bukan kepalang 🀣

By the way, sepulangnya dari Gunung Bromo, badan gue demam dan kaki gue kebas, apa yaaaa, semacam senat-senut sakit nggak enak rasanya πŸ˜… Alhasil, pagi itu, gue isi dengan tidur di pelukan si kesayangan, sambil tunggu mba gue bersiap sebelum kami melanjutkan perjalanan berikutnya. That day, meski gue sangat lelaah, after long flight, masih jetlag, besoknya cus ke Gunung Bromo, tapi gue nggak menyesali momen tersebut, karena gue lihat mba gue dan keluarganya tersenyum senang πŸ˜† Hehehehehehehehee. Jadi gue mau berterima kasih sama salah satu mba gue itu yang membuat gue akhirnya mau challenge diri gue dan berubah lebih cinta tangga πŸ˜‚

Teman-teman punya pengalaman serupa? Awalnya benci dan malas akan sesuatu, namun karena berani mencoba, akhirnya suka dan mau melakukannya hehehehe. Gue jadi ingat cerita Peri Kecil Lia dan Klepon yang awalnya benci jadi cinta 😍 Kadang, kita hanya perlu beranikan diri kita untuk melakukan sesuatu di luar comfort zone kita untuk tau bahwa ada banyak hal menyenangkan di luar sana 😁 Seperti kata Walt Disney, "We keep moving forward, opening new doors, and doing new things, because we’re curious and curiosity keeps leading us down new paths." πŸ₯³

Happy Sunday, teman-teman πŸ’•

56 comments:

  1. Lagi hujan-hujan gini, lalu baca post ini, hatiku rasanya hangaaattt sekaliii 😍. Aku sampai terharu membayangkan melihat kegembiraan Mba dan keluarga saat ada di puncak Bromo πŸ₯Ί. Kak Eno, Kakak tuh angel ya?! 🀣 Habis baik bangettt, bahkan rela out of comfort zone demi kebahagiaan orang lain 😍 which is nggak mudah karena perlu pengorbanan, tapi Kakak tetap melakukannya. Bahkan ujung-ujungnya jadi cinta 🀭. Sekarang kalau diajak naik gunung lagi, mau nggak, Kak? 🀣

    Kalau ceritaku yang benci jadi cinta selain Klepon adalah kerang!! *Makanan lagii makanan lagi* 🀣. Awalnya aku geli ngelihat kerang dan ogah untuk mencoba, tapi lama-kelamaan lihat orang makan kerang kok kayaknya enak sih dan karena penasaran tak terhingga, akhirnya aku cobain makan kerang dan jadi suka 🀣😝😝😝. Kak Eno suka kerang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerang mah enak Lia *lah sapa yang ditanya, sapa yang jawab wakakakaka

      Delete
    2. Wkwkwk Kak Rey juga sukaaa? Dimasak saos padang paling maknyusss ya πŸ˜‹

      Delete
    3. Angel dari Hong Kong, kan yang Angel itu Liaaaa, peri kecil nan angel nama lainnya bukan? 😍 hehehehe. Sebetulnya, apa yang kakak lakukan untuk mba itu nggak ada apa-apanya dibandingkan apa yang mba kakak sudah lakukan untuk kakak ~ sebab karena adanya mba kakak, hidup kakak jadi mudah πŸ™ˆ

      Well, sekarang mau-mau saja naik gunung yang bertangga, tapi kalau naik gunung betulan haduuuuh mak, jangaaan hahaha. Daripada menyusahkan siapapun yang pergi ke gunung bareng kakak, takut mereka menyesal πŸ€ͺ

      Bicara soal kerang, kakak suka kerang, tapi jarangggg banget makan kerang 😁 Jadi tipe makanan yang suka namun bukan yang addict macam ayam 🀣 Dan tipe saus padang adalah tipe yang paling enaaaaak, agree sama Lia πŸ˜†

      Delete
    4. yass sama kayak opini Lia, aku yang baca udah mesem mesem ngebayangin mbak dan keluarganya, mbak eno dan kesayangan hepi bener di Bromo, meskipun cekot cekot juga ya
      aku waktu pertama ke Bromo pas SMA dan waktu itu janji sama diri sendiri buat nggak kesana lagi wkwkwkwkw,.janji apaan itu hahaha

      dan sampe sekarang udah belasan tahun lebih nggak pernah balik ke bromo, padahal sering dapet tawaran dari temen temen buat kesana,tapi aku takut nggak kuku sama dingin dan males mau naik naik hahaha

      Delete
    5. Happy bingits mba, meski pegal sampai demam hahahaha ~ lha mba Ainun tumben janjinya nggak ke sana lagi, kenapa mba? πŸ˜† Padahal mba suka alam.

      Oalah, karena dingin dan malas mau naik, ya. Sama kita 🀣

      Delete
  2. Aaaaa... tidaaak.. kuku kaki kak Eno bedarah semuaaa!! :"((

    sungguh perjuangan sekali hanya untuk menyenangkan mba-nya. kak Eno kok baek banget sihh...

    kuku kakinya udah ga merah-merah lagi kan,, kak?

    *okay, i admit that the jokes is so lame...abaikan.

    pengalaman apa ya yg tadinya benci trus jadi suka?hmmmm...
    oh iya, aku dari dulu benci sama sales dan marketing, karena terlalu mata duitan, sedangkan aku orangnya ya lempeng aja, ga pernah kepikiran berbisnis, pokoknya pengennya jadi seniman yg fokus bikin karya aja.
    eh tapi makin kesini (kepepet sama kebutuhan sih) aku jadi paham kalo marketing pun ada seninya, ujung-ujungnya sih duit, tapi prosesnya ternyata ga begitu sering nyinggung duit, malah ternyata kok marketing tp ngomongin karakter manusia, ngomongin soal bahasa dan hal-hal lain yg gak se-strict angka-angka, ada seninya pokoknya...

    Masih belum paham sih apa itu marketing atau cara berbisnis yg bener, tapi baru mau mulai ada sparkling interest-nya. dan itu semua karena the power of kepepet. bukan karena mba mba atau quotes-nya opa walt disney.

    Dan semoga aku bisa belajar banyak dari kak Eno yg seorang business woman.

    Thank you kak Eno

    am i the first commentator? pertamax?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku gk telalu heran sama kuku merah mas, yg bikin aku heran kaki kak Eno ada 4 πŸ€£πŸƒ‍♂️πŸƒ‍♂️

      Delete
    2. Hahaha, bagaimana reaksi Panda saat Ady lempar joke, ya? 🀣

      By the way, marketing dibilang mata duitan, nanti disemprit mas Anton lho, soalnya mas Anton kerja dibagian marketing kalau nggak salah πŸ˜† Wk. Tapi kalau dari POV yang Ady bagikan, bisa dimengerti mengapa Ady berpikir demikian 😁 Dan perusahaan, butuh orang-orang 'mata duitan / marketing' agar tetap berjalan 😍

      Eniho, marketing adalah salah satu ilmu yang saya suka selain komunikasi dan beberapa ilmu lainnya. I mean, suka mempelajarinya meski belum tentu pro, karena seperti yang Ady bilang, ada seni di sana, nggak mudah untuk bisa menjual suatu produk dan membuat seseorang berminat akan produk kita. Diperlukan seni dan skill di sana. Semoga kita bisa belajar lebih dalam soal ilmu marketing ya πŸ˜†

      In the end, apapun alasannya, seperti kepepet, this and that, jika itu membawa kebaikan ke kita, why not untuk diteruskan. Mana tau Ady bisa jadi salah satu professional marketer di masa depan πŸ₯³ Ps: Ady komentator ke dua πŸ˜‚

      Delete
    3. Mas Jaey: itu ada kaki si kesayangan, mas 😁

      Delete
    4. kak Eno, percayalah.. panda ga pernah ketawa kalo aku lempar jokes, biasanya bilang "apasih kamu?" sambil ngerut dahi..
      trus aku ya biasa, yang bikin jokes sendiri, yang ketawa juga sendiri, memanglah aku terlalu menikmati diri.
      -,,-

      kecewa berat deh ga jadi yang pertama komen.

      Delete
    5. Berarti jokes-nya Ady mirip kerupuk menurut Panda 🀣 Wk. Yaa tapi bagus sih Dy, berarti Ady tipe yang bisa enjoy menjalani hari seorang diri. Yang bisa ke bioskop atau makan, atau jalan-jalan ke suatu tempat sendirian pula 😍

      It's okay, coba lagi next time πŸ€ͺ

      Delete
  3. Lihat si mbak happy, ikutan happy juga ya. Seru banget ceritanya, jadi keingat duluuu saya gak mau banget naik gunung. Sukanya eksplor sungai saja yang gak pakai nanjak-nanjak. Eh tapi pas kuliah diajakin sekali naik Gunung Merbabu, since then I love hiking. Meski tetep males yaa jalan kaki, tapi kalau naik gunung lebih menyenangkan, lebih ada sensasi apa gitu yang bikin nagih, bikin tenang, dan bikin happy.

    Btw habis dari Bromo, si mbak sekeluarga pada masuk angin gak? Kamu dan kesayangan masuk angin gak? Wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Justin, kalau orang di sekitar happy entah kenapa jadi keikut happy bawaannya πŸ™ˆ hehehe. Wah saya nggak sangka mba Justin pernah nggak mau naik gunung, soalnya selama ini baca banyak cerita mba Justin yang isinya main ke gunung, hihihi, ternyata ada proses dibalik layar yang membuat mba finally jatuh cinta 😍 That's cool!

      Habis dari Bromo, saya sendiri yang masuk angin dan demam, mba 🀣

      Delete
  4. Ah, sama nih kayak Lia, Bandung bagian Kiara Condong lagi gerimis mengundang wkwk terus baca ceritanya Mba Eno sambil ngopi dan meluk bantal rasanya hangaaat :')

    Mba Eno aaaah si Mba sekeluarga pasti happy banget deh itu impiannya untuk ke Bromo kesampaian berkat Mba Eno sang malaikat huhuhu. Walaupun udahnya capek dan sampai demam, tapi pasti Mba Eno juga senang lihat si Mba sekeluarga senang yaaa? :') Aku juga pengin suatu hari main-main ke Bromo walaupun enggak yakin kuat apa enggak hahaha..

    Hal yang dulu dibenci lalu jadi mau melakukan kayaknya ke sayur deeh. Aku tuh ga doyan sayur Mba Eno, ogah banget pokoknya makan sayur. Tapi ada suatu masa di mana temanku udah masakin sayur kangkung dan terong goreng, rasanya kok aku bakal nyakitin hatinya kalau ga ikut makan :( akhirnya aku beranikan diri nyoba dan ternyata kangkungnya enaaak dan terong goreng pun rasanya mirip-mirip ubi/singkong goreng hanya rasanya jauh lebih gurih jadi bisa untuk teman nasi hehehe. Dari situ aku mulai sedikit-sedikit makan sayur, walaupun ke beberapa sayur masih enggak doyan siih hahaha seenggaknya kalau ketemu kangkung dan terong, aku udah berteman sama mereka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana-mana sedang hujan ya mba, bawaannya mau peluk bantal 🀣

      Honestly, saya senang bisa liburan sama mba saya. Meski capek tapi puas hahahaha, soalnya saya bisa mengabulkan salah satu impian mba saya πŸ™ˆ Ditambah, selama ini mba saya sudah sangat baik hati urus semua keperluan saya, jadi apa yang saya lakukan justru bukan apa-apa dibanding kebaikannya 😍 By the way, tangganya sebetulnya nggak banyak mba Eya, tapi karena saya lemah jadi berasa panjang 🀣

      Mba Eya sama sekali nggak suka sayur even sayur sop mba? Saya pun jaman kecil nggak begitu suka sayur, alias hanya suka sayur bening seperti sop, bayam, dan sejenisnya. Baru setelah besar saya tau betapa nikmatnya sayur tumis kangkung, tumis labu, endeblabla πŸ™ˆ Oh dan terong goreng, OMG, cerita kita samaaa, saya baru makan terong goreng ketika usia dua puluhan kayaknya dan ternyata enak 🀀

      Semoga semakin banyak sayur yang mba Eya suka kedepannya 😍

      Delete
  5. Aku juga berpikiran sama kayak Lia, demi membahagiakan Mbak tercinta bersama keluarganya, Mba Eno sampai harus jetlag, kedinginan dan demam setelah naik ke atas Gunung Bromo, padahal naik gunung bukan sesuatu yang Mba Eno banget πŸ₯Ί tapi membayangkan si Mbak hepi, Mba Eno dan kesayangan juga hepi, aku yang membaca ikut bahagia ugha hahaha

    Btw, duluuuuu sekali waktu masih SMP aku pernah naik ke Bromo, Mbaa. Tapi aku nggak ada ingatan samsek pas naik tangga super tinggi itu, tau-tau udah di atas aja liat pemandangan πŸ˜‚ tapi ingatan kedinginan pas nanjak subuh-subuh dan naik jeep itu masih melekat di kepala. Saking dinginnya kepala sampai peninggg banget 🀣

    Eniwei, aku sama nih kayak Eya. Aku bukan pecinta sayur awalnya, Mbaa. Tapi setelah kuliah di China, mau nggak mau belajar makan berbagai sayur. Mulai dari brokoli, terong, sawi putih dll. Entah kenapa rasanya enakk, padahal di Jakarta hampir nggak pernah makan itu semua πŸ™ˆ thanks to Guangzhou, sekarang aku pemakan sayur hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy-nya menular ya, mba 🀣

      Seriously, waktu beberapa jam sebelum berangkat, saya hampir mau cancel dan meminta driver antar mba saya dan keluarganya ke gunung, biar saya tunggu di hotel saja. Sebegitu parnonya saya takut justru menyusahkan hahahahaha πŸ˜†

      Mungkin mba Jane super mengantuk makanya nggak ingat, saya pun karena agak mengantuk, saya pikir tangganya panjang, sebab saya capek banget bawaannya. Ternyata setelah tanya ke mba saya dan si kesayangan, tangganya nggak panjang-panjang amat πŸ€ͺ Dan iya, dinginnya parah, sampai sakit panggil hidung rasanya 🀧

      Di Guangzhou sepertinya ada banyak cerita turning point mba Jane, sebab dari yang saya baca-baca, beberapa hal baru mba alami ketika di sana 😍 Seru yaaa, dari yang tadinya nggak suka sayur jadi pecinta sekarang πŸ˜†

      Delete
  6. Enooo, saya antara terharu, sama ngakak nggak karuan bacanya.
    Ngakak, soalnya mengingatkan saya pertama kali ke Bromo :D

    Saya hanya 2 kali sempatin naik di anak tangganya yang ga ada ujungnya itu, meski berkali-kali ke sana, akhirnya memutuskan bahkan ogah mendekati tangga, saking capek jalan, plus ga kuat bau belerang bercampur bau kotoran dan pipis kuda hahahaha.

    Lalu membayangkan Eno yang naik di situ hahaha.

    Btw, saya pertama kali ke Bromo itu kayaknya tahun 2002an deh, apa 2001 ya?
    Masih jadul banget, masih sepi, dan gara-gara Bromo, saya sangat percaya dengan khasiat minuman apa ya dulu Kranting Daeng atau apa ya? pokoknya saya disuruh minum itu pas jam 2 atau 3 malam, trus saya bisa dong jalan, dari Hotel ke tepi lereng Bromo, dan balik juga jalan kaki.

    Sampai di Surabaya?
    Berhari-hari saya ga bisa bangun.
    Ampuunn Maaaakkk, betis saya kek ada betonnya, keras dan sakit dan bengkak wakakakak

    Mana di hotel, hampir mati sesak nafas pula saya, sungguh penuh kenangan banget mah si Bromo ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, saya bukan ke area belerang mbaaa, hahaha, kalau itu saya nggak akan kuat sepertinya, sebab baunya pasti menyengat 🀣 Kalau saya kemarin itu ke area sunrise view, jauh dari area belerang. Nah cuma saya lupa namanya apa πŸ™ˆ

      Saya penasaran bagaimana view Bromo dua puluh tahun yang lalu, pastinya sangat pretty ya, mba 😍 By the way, baca nama Krating Daeng jadi ingat ayah saya, dulu saat ayah harus setir mobil dari Jakarta ke kampung halaman, ayah sampai stock Krating Daeng agar kuat πŸ˜† hehehehehehe.

      Well, ituuuu dia yang saya rasakan, mbaaa. Kaki rasanya kebas, keras, sakit, bengkak, nyut-nyutan dari ujung ke ujung hahahaha. Ah, parah, mau jalan pun kayak sempoyongan hahaha, semacam miring-miring terus, parah sakitnya 🀣

      Thank you sudah berbagi cerita kocak, mbaaa πŸ™ˆ

      Delete
    2. Oohhh penanjakan, saya udah 2 kali kayaknya ke sana hahaha.
      Pertama sebelum punya anak, kedua setelah punya anak, si adik kayaknya 8 bulanan usianya pertama kali ke sana, astagaaaa mana kami kesiangan, jadinya jeepnya ga bisa naik ke atas, kami kudu turun dan oper ojek, di pukul 3 atau 4 pagi ya? dinginnya udah kek menusuk ke tulang-tulang, dan untunglah si adik bayi tertidur anteng, saya pakein berrrlapis-lapis baju dan jaket hahaha.

      20 tahun lalu ituuu, masih asri banget say, yang pasti nggak ada bau kotoran kuda hahaha.
      Dulu tuh kuda masih jarang, jalur ke penanjakan juga kayaknya belom ada, semua orang ke Bromo mah cuman buat liat kawahnya aja, yang mana bau belerangnya parah.

      Aahh jadi kangen ke Bromo :D

      Delete
    3. Nah iya betul mba, banyak antrian jeep di sana, kalau datang telat nanti harus jalan dari bawah atau naik motor hahahaha, lumayan jauuuuh 🀣 By the way, si adik kuat bangettt, anaknya mba saya waktu itu nggak kuat jadi tidur di mobil πŸ˜†

      Saya justru nggak lihat kuda kemarin, apa mata saya yang siwer, ya? πŸ˜‚ Oh maksud mba kuda yang di kawah? Saya sempat lihat kuda lari-larian tapi dari jeep saat mau pulang. Kayaknya jalur waktu itu ambil jalur kawah, cuma saya nggak ingat, soalnya dalam keadaan mengantuk berat hahaha 😁 Semoga nanti bisa balik Bromo, mba 😍

      Delete
  7. Enoooo, ada yang kurang dari blog ini, yaitu kolom searching wkwkwkw.
    Kadang saya kangen tulisan Eno, tapi nyariin di judulnya ga ketemu.
    Akhirnya googling, tapi kadang juga keywordnya nggak nyambung hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa mba Rey, hehehe, memang nggak ada di blog ini, kemarin sudah request tapi si kesayangan masih sibuk dan entah kapan akan dibuatkan πŸ˜‚

      Doakan semoga segera, mba πŸ˜†

      Delete
  8. Akuu ke Bromo itu dua tahun yang lalu. Menurutku, Bromo adalah salah satu tempat terbaik dan terindah yang pernah aku kunjungi. Foto sampuiku (pada tema blog yg lama) adalah foto ketika di Bromo loh mbak..
    Intinya, Aku begitu excited ke sana. Pemandangannya yg sangat indah, setelah sebelumnya hanya bisa lihat di internet atau televisi, kini bisa melihat langsung dengan mata kepala sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, menurut saya, Bromo always terlihat indah 😍 Nggak heran sampai digunakan sebagai foto sampul blog mas Dodo, dan saya baru sadar πŸ˜‚

      Semoga nanti mas Dodo bisa kembali lihat banyak tempat lain yang nggak kalah indah di Indonesia ya, seperti gunung-gunung tinggi menjulang 😁

      Delete
  9. Saya cuma pernah sekali saja naik gunung. Waktu itu gunung Batur, bersama mahasiswa-mahasiswa asal Norway yang sedang menjalani kuliah musim panasnya di Bali, kebetulan saya bekerja di kampusnya.

    Padahal mulai naiknya tengah malam, saya pikir akan dingin sekali, tapi ternyata keringat saya bercucuran. Sialnya saya tidak bawa baju kering untuk ganti.

    Jadilah waktu tiba di puncak, saya menggigil kedinginan karena suhu di puncak dan pakaian yang basah karena keringat. Turun dari gunung, saya demam tinggi. Haha.

    Sampai sekarang saya belum pernah lagi mendaki gunung.

    Saya salut sama mbak Eno. Memperlakukan mbaknya seperti keluarga sendiri, mengajaknya liburan keluar kota. Pasti betah mbaknya menjadi asisten mbak Eno karena hubungannya cair bak keluarga.

    Saya hampir pernah mengajak pengasuhnya K liburan untuk kumpul keluarga kami di Malang, tapi pandemi keburu datang. Batal deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waww Gunung Batur lumayan tinggi kan itu mas, bisa 5 jam ya katanya? Huee.. nggak akan sanggup saya πŸ˜† By the way saya ketawa baca bagian mas Agung lupa bawa baju ganti, ini saya banget namun versi sebaliknya. Saya kira nggak akan dingin, ternyata dingin luar biasa 🀣 Etapi kalau menanjak sedingin apapun jadi terasa panas, mas πŸ™ˆ

      Dan kayaknya after effects para newbie habis naik gunung nggak jauh-jauh dari demam hahahaha. Untung nggak sampai trauma meski setelah itu vakum dulu berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya πŸ€ͺ Wk.

      Eniho, semoga pandemi hilang mas, jadi mas dan keluarga beserta pengasuh K bisa liburan kumpul keluarga di Malang. Pasti pengasuh K senang 😍

      Delete
  10. Loh kok, bisa agak sehati gini ya, barusan aku juga nge-post sesuatu dan penasaran ada nggak sih yang pernah ngerasain benci jadi cinta atau cinta jadi benci hahaha. Btw, aku jadi kangen Bromo Kak Enooo :"(

    Sejujurnya aku agak bingung, tangga mana ya Kak yang agak banyak dinaikinya? Soalnya terakhir aku ke Bromo, aku nggak terlalu makan banyak anak tangga... Tapi mungkin akunya aja yang lupa atau terlalu excited HEHE karena udah 4 tahun yang lalu mungkin.

    Benci jadi cinta... Aku mungkin hampir sama kayak Lia, dulu aku benci sama terong karena bentuknya aneh dan tidak menarik, tapi sekarang jatuh cinta pwoool karena waktu itu diperkenalkan sama temen aku. Kayaknya dia emang sengaja makannya dilebay-lebayin di depan aku deh, jadinya aku suka juga deh *loh* *apa hubungannya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOSS mbaaaa, hihihi, nanti saya baca post mba Jez, penasaran mba Jez mau bahas apa 😍 By the way, tangga yang saya tanjak itu tangga menuju area sunrise view, mba. Sebetulnya nggak banyak, sayanya saja yang lebay anggap itu banyak. Maklum newbie, tanggal 50 pun dianggap 50.000 kayaknya 🀣 hahahahahahaha *dijitak*

      Bicara soal terong, kayaknya banyak yang jatuh cinta setelah kena racun seseorang, seperti mba Jez, terus mba Eya di atas dan sayaaaa. Wk πŸ˜‚ Saya pun awalnya nggak mau makan karena bentuknya aneh dan benyek, eh ternyata enak parah aduhaduuuh apalagi terong pakai teri balado 🀀 Bahayaaa rasanya ~

      Delete
  11. Bromo ya mbak...memang harus ada motivasinya untuk melakukan suatu misi, entah itu karena orang lain atau dari diri sendiri.

    Kalau teman-teman fotografer, sih gilingan benerr motivasinya. Karena dapat sunrise itu telat dikit suasananya kayak cendol, mereka harus jadi yang pertama nyampe puncak. Jadi kalau mau dapat shot bagus dan nggak keganggu turis kudu ada di puncak jam 3 pagi. Malah diceritain sudah berasa paling pagi jam3 eh ternyata ada yang sudah nongkrong dari jam 2 dengan tripod wkwkwk. Jam 4 sudah mulai sikut-sana sini.

    Walah fokus lihat jempolnya deh...

    Soal berani mencoba...mungkin dulu saat pertama kali solo traveling kali ya di luar negeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Phebie, Bromo hehehe πŸ˜†

      Naaah seperti yang mba jabarkan, begitu pula yang saya lihat. Saya kan sampainya jam empatan, saya kira kalau naik ke area sunrise view jam empat bakal masih sepi, jadi better tunggu di bawah (area warung-warung sambil menghangatkan diri) ~ tapi ternyata, setelah sedikit dipaksa, katanya kalau telat nanti nggak dapat tempat duduk, alhasil saya naik ke atas dan kaget, ternyata areanya sudah penuh, mba 🀣

      Dan mereka tuh bawaannya niat banget, sampai ada yang bawa tripod, terus kamera lensa panjang mirip pentungan ituuu, dan macam-macam deh, hahaha. Betul-betul beda dari bayangan saya πŸ™ˆ Salut sama motivasi dan dedikasi mereka yang luar biasa, katanya ada yang sudah menyalakan kamera dari jam setengah lima buat ambil apa yaaa namanya, time laps, ya? Yang videonya gerak cepat 🀣

      Solo traveling memang challenging, mba 😍

      Delete
  12. Maksud mbak eno kaki pegal karena menaiki tangga di penanjakan yaa?
    Penanjakan itu tempat untuk menikmati sunrise gunung bromo.

    Ikut terharu bacanya mbak eno. Mbak eno menyempatkan diri utk liburan bareng si mbak dan keluarga. Ga kerja melulu, tapi liburan juga..hehehehe

    Masalahnya aku ga pernah kapok naik gunung mbak eno. Mungkin sudah jadi hobi. Tapi sudah lama vakum dri aktivitas tsb...hahaha
    Kalau challenge naik gunung masih ada mbak eno. Tapi ga ambisius banget, tapi kalau ada kesempatan ttp akan angkat ransel lagi..πŸ˜‚πŸ˜‚

    Mbak eno kapok nikmati sunrise di gunung? Kita patut bersyukur, karena indonesia pnya banyak tempat untuk menikmati sunrise. Tentu saja dengan dengan keunikannya masing-masing..hehehhee

    Oya mbak eno. Sunrise di gunung batur dan gunung agung sangat cantik lho mbak. Mbak eno ga pengen nyobain ke sana...?hiya..hiyaa..hiyaa

    Sebelum naik gunung, usahakan olahraga (joging) terlebih dahulu. Minimal selama seminggu sebelum nanjak...biar otot, pernapasan sudah siap dan terlatih dulu...hihihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin itu namanya mas, areanya ada tangga-tangga memutar, bisa dijadikan tempat duduk, jadi orang-orang duduk di sana sambil pegang kamera πŸ˜‚ Meski ujungnya banyak yang berdiri untuk dapat gambar maksimal jadi saya kehalang. Wk.

      Iya dong, hidup harus balance, kalau kerja terus nanti amsyooong 🀣 Padahal itu sekali-kalinya saya liburan di Indonesia pada tahun itu sepertinya πŸ™ˆ Well, mengingat mas Rivai tipe adventurous, saya nggak akan heran jika mas suka naik gunung, lhaaa buktinya gowes sepeda 100 km saja mas hajaarrrr πŸ˜†

      Saya nggak kapok lihat sunrise, meski saya lebih menikmati sunset soalnya ketika liburan, prefer bangun siang hahahaha. Namun sesekali nggak apa-apa demi buat mba saya atau si kesayangan senang 😜 *baik kan, saya?* *dijitak* 🀣

      Mas Rivai sudah pernah naik gunung mana saja di Indonesia? Saya nggak berani naik Gunung Batur mas, katanya bisa 5 jam hahaha. Terus kalau Gunung Batur beda sama Bromo, nggak ada tangganya πŸ™ˆ Takut jatuh saya. Wk. Mas pernah ke sana? 😍

      Delete
  13. Kalau benci kayaknya ga pernah, mba. Seringnya nggak suka aja *lah, apa bedanya? XD*

    Untuk makanan, dulu itu ga suka seafood. Sampai di Jepang, wah... bisa seminggu sekali ke conveyor sushi :)))

    Tapi, emang benci sama cinta itu bedanya tipis, sih ya... jadi emang harus hati-hati, biar jangan sampai terlalu benci pada sesuatu, nanti malah berbalik jadi cinta, terus bisa dibikin FTV, deh... *lho?*

    Btw, baca cerita mba Eno ini bikin kangen hiking, deh...

    Kebetulan emang seneng banget sama kegiatan yang berbau alam. Emang sih, pas tahap mendaki itu rasanya ya ampuuuuun, sampe bikin mikir, ini ngapain gue nyusahin diri sendiri? wkwkwk.

    Tapi, kalau udah sampai di puncak, wah... ilang rasa capeknya! meskipun besoknya kaki berasa mau rontok juga :)))

    Kalau hiking di Jepang juga banyak mbah-mbah nggak perempuan nggak laki-laki yang hiking sendirian. Speed-nya ngalahin kami-kami yang saat itu masih 20an pula. :)))

    Dan senengnya hiking itu, pasti kita sapa2an pas papasan sama pendaki lain. Pernah diajak ngobrol juga sama mbah2 Jepang yang mau turun, beliau cerita kalau usianya udah 83. Tapi masih seger banget gitu... bikin jadi merasa tertantang biar bisa sampai di puncak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bedanya mungkin nggak sampai kebawa mimpi, mba 🀣

      Dan kita sama perkara seafood, saya mulai lebih sering makan seafood saat di Korea, especially Jeju yang terkenal dengan banyak seafood enaknya πŸ˜‚ Tapi saya masih belum bisa makan raw food macam sushi atau sashimi, mba πŸ˜…

      Hihihi iya, saya rasa salah satu alasan kenapa banyak orang suka naik gunung karena pengalaman dan pemandangan yang didapat ketika di puncak sana sangat berharga dan bahkan nggak bisa tergantikan 😍 Saya akui itu meski saya hanya sebatas naik tangga dari salah satu sunrise view Bromo πŸ˜†

      Nah, salah satu yang membuat saya jadi semangat mau jalan masuk hutan, blusukan, itu karena di Korea, kakek neneknya masih pada kuat semua. Kan saya yang muda jadi malu, hahahaha, masa jalan 5 km saja ngos-ngosan πŸ€ͺ Alhasil sejak itu, saya mulai pelan-pelan belajar. Pengalamannya nggak jauh beda dengan mba Hicha di Jepang πŸ™ˆ

      Duuuh seru bangettt mba Hicha bisa sampai mengobrol dengan mereka 😍 Ayo mba kapan-kapan cerita di blog, hihihi, saya masih timid kalau ajak obrol strangers, jadi nggak punya banyak pengalaman seperti mba Hicha soalnya πŸ˜†

      Delete
  14. Aku ke Bromo tahun 2011 apa 2012 gitu , waktu masih early 20s jadi kenangan capek tuh nggak ada Kak. xD Masih muda dan berbahaya, ngejar sunrise juga ayo aja, terus lihat kawahnya juga. Seru sih bareng teman-teman satu jurusan. Iya ke sananya sambil praktikum salah satu mata kuliah haha.

    Soal yang dingin banget itu benar sekali, aku sampe pakai sarung tangan terus pelukan sama temen wkwkwk. Orang sana sendiri cuma pakai sarung selapis nggak sih Kak. :)

    Kata temenku yang cowok sih, emang kalau pakai sarung tuh lebih hangat daripada pakai jaket. Aku kayak ... o_o waktu denger.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih early 20, tenaga masih strong macam kuda, mba Endah 🀣

      Seruuuu ya bahkan sampai lihat kawah. Saya pribadi nggak lihat, tepar soalnya, jadi habis selesai lihat sunrise, langsung minta balik hotel. Jompo bangats πŸ™ˆ Wk. Dan memang sepertinya jiwa on fire akan berkobar apabila perginya sama teman-teman seangkatan πŸ˜† Nggak heran kalau mba Endah nggak merasa lelah ketika di sana 😍

      Nah iyaaa, heran banget, orang sana cuma pakai sarung tapi nggak dingin, perasaan orang Korea yang hidup di negara winter pun nggak akan berani ke luar pakai sarung saat suhu 2 derajat. Salut sama orang kita, debus semua 🀣

      Delete
  15. Kalau naik tangga, saya ngga terlalu masalah asal jangan pas lagi formal atau rapi. Soalnya kadang naik tangga bisa bikin cepat keringat dan baju jadi bau. Tapi kalo ditantang untuk naik anak tangga, saya mau-mau saja. Sama halnya dengan naik gunung, naik tangga juga semacam cara saya melatih bagian kaki agar tetap kuat. Soalnya kalo tidak seperti itu, waktu paling banyak dihabiskan untuk duduk dan berdiri. Sekalinya pergi, naik motor. Jadi sekali-kali kaki juga mesti dilatih πŸ˜„

    --

    Kalo hal yang dulu saya ngga suka terus pas coba jadi suka, mungkin itu adalah Durian. Dulu paling anti sama Durian. Pas sekali nyoba, jadi ketagihan dan jadi salah satu buah favorit. Tapi durian yang memang masih berbentuk buah, bukan olahan. Ohya, di tempatku sekarang lagi musim Durian. Kemarin baru saja makan lagi. Di tempat kak Eno sudah musim Durian juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, kalau sedang pakai baju formal, jangan sampai keringatan, nanti wajah dan rambut kita bisa lepek, bahayaaa ituuuu πŸ˜‚ Wk. Dan naik tangga paling enak pakai baju santai, sportwear dan sejenisnya. By the way, betul mas, apalagi semenjak Corona, literally lebih banyak duduk, berdiri dan rebahan doang πŸ€ͺ

      Sekarang sedang musim durian, kah? Saya nggak memperhatikan mas, saya nggak makan durian soalnya dan sudah lama nggak ke luar πŸ™ˆ Tapi di Bali agak jarang lihat warung dadakan jual durian yang biasa dibuka saat panen, macam yang sering saya lihat di jalan-jalan lintas Jawa 😍 hehehehehe.

      Delete
    2. Saya aja baru berani olahraga pas akhir tahun 2020. Terus buat serial Perjalanan Menjadi Ji Chang-wook biar ada catatan pengingat. Sekalian, catatan itu juga bikin psikologi saya jadi makin kepacu buat lebih rajin olahraga.

      Iya, sekarang udah mulai musim durian di tempat saya kak Eno. Kak Enk termasuk pecinta durian kah?

      Delete
    3. Saya suka banget serial Ji Chang Wook soalnya saya jadi belajar banyak dari mas Rahul hehehe, selama ini saya gym tapi nggak paham basic-nya 🀣

      Mau pakai trainer atau ikut kelas, mostly for fun, nggak sampai diseriuskan. Terus sudah lama nggak mampir sana, sejak 2019 kayaknya. Gara-gara baca post mas, one day jadi ingin balik gym dan serius olahraga. Sementara ini, saya belajar dari mas 😍

      Saya nggak bisa makan durian, mas 😁

      Delete
  16. belum pernah main ke Bromo jadi cuman bisa membayangkan betapa napas saya bakal ngos-ngosan ketika naik tangga. Hal itu pernah saya lakukan ketika ke Lombok, saya memaksa turun ke air terjun yang anak tangganya lumayan banyak.

    saat turun sih enjoy aja ya, pas naik, byuh rasanya dada ini sesak napas sehingga harus berhenti berkali-kali. Menyiksa banget, so far saya bisa turun ke bawah meski nggak sampai air terjunnya.

    Salam kenal dari pembaca baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Swastikha, terima kasih sudah berkunjung 😁

      Jika mba seperti saya yang nggak hobi naik tangga, pastinya akan ngos-ngosan sampai ingin pingsan mbaaa πŸ™ˆ hahaha. Wah kalau sama air terjun, pastinya lebih melelahkan tangga air terjun sebab biasanya terjal dan sangat panjang πŸ˜†

      Semoga one day, mba bisa mampir ke Bromo, ya 😍

      Delete
  17. Hahahahaha postingan ini mengingatkan gue akan keinginan ke sana yang belum terlaksana.
    Udah sampe Malang, udah pede bakal bisa naik Bromo, pas malemnya ke travel agentnya malah kena zonk, alhasil sampe sekarang belum menyentuhkan kaki ke Bromo hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kenapa bisa sampai zong mas Didut? Too bad, padahal sudah sampai Malang, tinggal selangkah lagi sebelum injakan kaki di Bromo hehehehe 🀣

      Semoga next time ada kesempatan untuk balik ke sana, mas 😁

      Delete
  18. Mbaaaa how are you? Lama nggakninggalin jejak di internet ternyata pas komen rasanya rada canggung ya? Hahaha dasar tukang bohong, canggung apaan. Mbaaaa, even aku silent reader terus, aku mau kasih tahu tulisan mba selalu ngasih aura positif ke aku, haha. Salah satunya senyum-senyum pas mau ninggalin komen.

    Ngomongin naik gunung, aku belum pernah mbaa, mau sih tapi mau doang hahahaha. Berhadap one day aku juga bisa challenge diri sendiri. Thank you mba udah berbagi. Mau copika-cipiki tapi Corona yaudah, hug virtual aja hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Sovia, I'm good, how are you, mba? 😍

      Hahaha canggung dari Hong Kong, ada-ada saja mba Sovia, by the way bagaimana cerita setelah atasan resign, mba? Sudah mulai bisa recover? 😁 Hehehehe. Terima kasih sudah luangkan waktu baca tulisan saya, yaaa ~ Mba semangat, di sana πŸ₯³

      Well, naik gunung memang bukan untuk semua orang termasuk saya dan mungkin juga mba πŸ™ˆ Susah soalnya, saya pun sampai sekarang belum pernah. Kalau Gunung Bromo jangan dihitung, soalnya itu naik tangga, nggak ada 5 menit bahkan πŸ€ͺ

      Stay safe and healthy ya, mba 😍 *hugs*

      Delete
  19. Baca cerita mbak Eno naik Gunung Bromo jadi ingat setahun pertama tinggal di Taiwan.. Kami tinggal di rooftop lantai 6 apartemen, karena cuma 6 lantai gedung ini dibikin no elevator. Maklum mahasiswa, cari tempat tinggal dengan harga yang pas buat kantong hehe. Iyak alhasil tiap kami kalau keluar harus mikir betapa beratnya beban yang dibawa pulang nanti, sudah bawa bayi bawa stroller dan barang belanjaan pula...haha. Koq ya alhamdulillah tahun berikutnya kami dapat rejeki tempat tinggal di lantai satu tanpa bayar.
    Semangattt terus mbak Eno :D, semangat naik tangaaa yeaiiyyy xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG mbaaaa, lantai 6? 😱😱😱😱

      Nggak kebayang capeknya πŸ˜† Saya pernah menginap di Airbnb salah satu negara, dan kamar saya ada di lantai 5. Tanpa elevator jadi harus naik tangga. Wew. Kala itu, saya usaha banget hanya naik turun tangga sekali setiap harinya hahaha. Alhasil yang biasanya saya break sore balik penginapan biar malam bisa ke luar, jadi berubah arah, dari siang sampai malam di luar, nggak mau pulang πŸ˜‚

      Thankfully, mba Lisa dapat rejeki tempat tinggal lantai satu, ya 😍

      Delete
  20. Aku malu mengakui, aku belum pernah ke Bromo hahahha. Sebenernya 2013 aku road trip keliling Jawa, dan Bromo itu udah masuk dlm list mba.

    Tapi masalahnya, aku salah bikin itin, dan memasukkan Bromo 1 hari setelah aku naik ke puncak sikunir Dieng :p. dari Dieng kami ke malang , planningnya ke Bromo ya berangkat dr malang . Kenyataannya, aku dan suami tepar, kami ketiduran sampe pagi di villa Malang. Bataaaal pergi ke Bromo hahahah . Masih pengen sih kapan2, tapi blm tau aja kapan bisa kesana. Cuma jujurnya aku LBH tertarik ke kawah Ijen drpd Bromo.

    Sesuatu yg aku ga suka, tapi lama2 jd suka yaaa.

    Hmmmm, kalo kegiatan kok rasanya ga ada yaaa. Tapi makanan banyaaak hahahaha. Dasar tukang makan aku :p

    Dulu aku benciii Ama Pete, jengkol dan sayur. Tapi skr, malah cinta mati, walopun hanya bikinan orang2 tertentu yg aku udh rasain memang enak mengolahnya :D.

    Kalo sayur, sampe aku gadoin mentah juga doyan, asal pake sambel yaaa. Pare mentah aja enak bangettt buatku :D.

    Kalo utk kegiatan, rasanya aku konsisten, ga suka di awal, ttp ga suka Ampe skr wkwkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaah jangan malu mba, hahaha, saya lho hanya tau Bromo doang malah, kalau compare to mba Fanny yang sudah melanglang buana Indonesia, well, saya masih apalah, nggak ada apa-apanya pengalaman saya hahahaha 🀣

      By the way, Dieng katanya sebelas dua belas sama Bromo ya, mba? 😍 Dulu pernah tertarik mau ke Dieng apalagi saat ada festival apa itu, yang potong rambut gimbal kalau nggak salah *CMIIW* hihihi. Tapi belum kesampaian πŸ™ˆ

      Waduuuh kawah Ijen kaaan susah bangettt jalannya terjal katanya. Wk. Saya pernah baca di blog siapa gitu (lupa), ya ampun nggak kebayang. However saya yakin mba Fanny bisa turun sampai bawah 😁 Semoga nanti after Corona bisa main ke sana dan berbagi cerita serta pengalaman di blog ya, mba. Saya bagian baca πŸ₯³πŸŽ‰

      Kayaknya banyak nih anggota club kita, yang awalnya nggak suka sayur jadi suka, saya pun awalnya biasa saja sama sayur, tapi sekarang doyan, setiap hari harus ada menu sayurnya πŸ€ͺ Kalau Jengkol dan Pete belum pernah πŸ™ˆ

      Delete
  21. Peralatan tempur Mbaknya Mbak Eno kumplit ya, Mbak.:D

    Wah gunung bromo, sebelum covid19 menyerang ada rencana mau ajak mama papa kesana, Mbak Eno. Karena kepingin katanya, tapi mah ga memungkinkan kalau bawa yang lihat sunrise karena terlalu dingin dan terlalu melelahkan buat nanjaknya kalau dari yang aku baca-baca di blog-blog.
    Semoga covid19 ini segera berakhir ya, Mbak Eno. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, hahaha, mba saya sudah tau akan dingin parah 🀣

      By the way, semoga mama papa mba Wulan bisa ke Gunung Bromo, yaa 😍 Mba bisa request driver-nya mau lihat sunrise di area yang nggak begitu banyak tangga, seingat saya ada beberapa pilihan sunrise points soalnya ~ dan semisal jadi ke sana, pakai padding mba plus heattech Uniqlo itu sudah cukup menurut saya 😁

      Amin mba Wulaaaan πŸ˜†

      Delete
    2. Amin, Mbak Eno. :D

      Nah itu yang kemarin sempat bikin galau, Mbak. Karena adik ku suka sekali foto-foto tapi gak memungkinkan kalau buat ajak orangtua pagi-pagi gitu dingin banget kasian juga. Mungkin bisa buat 2 opsi, perginya siangan aja nanti buat sunrise adik ku pergi sendiri. hahahaha
      Iya Mbak Eno, harus siap peralatan tempur nih kayak Mbaknya Mbak Eno soalnya Papa ku nggak kuat dingin. Jadi kudu masukin padding ke list nih. Terima kasih loh infonya, Mbak Eno. :)

      Delete
    3. Iyaaa mba Wulan, begitu seru ugha, hihihi, jadi sama-sama puas 😍 Memang Bromo parah dinginnya mba, apalagi jika pergi tengah tahun, haduh haduh bisa dua derajat seperti saya waktu ituuuu, brrrr, nggak sangka hahahahahah 🀣

      Sama-sama mba Wulan, my pleasure πŸ™ˆ

      Delete