Exit Plans | CREAMENO

Pages

Exit Plans

Saat gue bilang ke mentor gue kalau gue mau serius jalankan business kala ituu, salah satu saran penting yang gue dapat (bahkan wajib untuk gue siapkan) adalah pembuatan EXIT PLANS. Sebab dengan adanya Exit Plans, gue jadi tau, business gue ending-nya mau seperti apa, especially, bila business gue mampu running lama. Apa mau gue jual? Wariskan ke anak? Tutup? Endeblabla.

Well, selama ini, ketika kita doing business, most of us fokus susun part awal dan menjalankannya, hingga kita lupa --- bahwa ada satu part yang perlu disiapkan yaitu bagaimana kita mengakhirinya. That's why, gue nggak heran waktu Anthony Robbins bilang bahwa 87% business owners nggak bisa exit dari perusahaan yang telah mereka bangun sepanjang hidup mereka ~

Dan hal itu menyebabkan penerus business mereka (para owners) -- which is anak-anak mereka -- kebingungan bagaimana harus atur business yang orang tua mereka jalankan sebelumnya. Maybe akan beda cerita jika business yang kita bangun adalah business besar dengan team di dalamnya. Nah, meski business kita bukan skala besar, kita tetap bisa prepare Exit Plans untuk business kita, karena ternyata, ada keuntungan bisa kita dapat dengan adanya Exit Plans yang terarah 😁

🐰🐰🐰

Bicara mengenai keuntungan, salah satu yang paling terasa adalah kita jadi tau kapan harus QUIT dari business yang kita jalankan. Karena dengan begitu keuangan kita aman dan nggak rugi terlalu banyak ~ by the way, gue pernah bahas soal QUIT pada post Is That Okay to Quit? ----- sebab some of us mungkin merasa, ketika berhenti dari satu hal, kita jadi loser, atau ketika kita pikir hal itu bisa diperjuangkan, namun kita pilih berhenti, kesannya kita seperti menyerah kalah.

Padahal, ini konsep berbeda. And I think, sometimes kita perlu QUIT dari hal dalam konteks post ini adalah business ketika kita sudah merasa business kita nggak bisa dilanjutkan. Jangan sampai kita terus pouring semua uang padahal kita tau bahwa business kita sudah ketemu masa expired-nya. And yes, Exit Plans dibutuhkan agar kita bisa avoid hal yang nggak kita inginkan. Gue pribadi pernah melakukan Exit Plans pada salah satu business gue yang nggak punya masa depan 😆

🐰🐰🐰

Bagaimana cara kita tau kapan kita Exit? Dengan baca data yang kita punya. Di sini~lah pentingnya data perputaraan business, sekecil apapun, data itu penting, genks --- Dari mulai data market dan target (yang pernah gue bahas di post lama --- lupa post apa. Wk), sampai keluar masuk uang, etc, jadi bisa kelihatan grafiknya. Sesuai atau nggak dengan business goals kita, berapa lama kita siap masuk dalam mode survival. Satu tahun? Dua tahun? Tiga tahun? Dan dalam rentang waktu masa itu, what if pergerakan grafik terus turun, apa yang akan kita lakukan? 😉

Setelah kita punya Exit Plans, tahap berikutnya adalah review berkala ---- Exit Plans bisa berubah tergantung apa yang kita hadapi dan jalankan. Seperti gue yang melakukan review setahun sekali, untuk lihat apakah Exit Plans gue masih relevan. Eniho, saat gue tie the knot sama si kesayangan, Exit Plans untuk business personal gue berubah, salah satunya ada statement bahwa hak anak-anak gue (bila ada) yang memilih kewarganegaraan Korea Selatan akan dapat warisan berupa cash hasil penjualan asset, means, business gue harus dijual, dialihkan atau ditutup selamanya.

Dan untuk business yang gue tutup kemarin, pada Exit Plans business tersebut, gue statement jika dalam 1 tahun, gue harus tanggung semua biaya operasional dan grafik terus menurun tanpa ada bounce back (semacam naik turun), maka dengan berat hati akan gue tutup agar uang yang ada bisa support business lainnya. While, mba-mba gue yang baru gue beri modal untuk business kecil-kecilan pun buat Exit Plans dengan statement bila terjadi penurunan grafik selama 3 bulan berturut-turut, mba gue akan ambil langkah review sebelum Exit dari business yang dijalankan.

So, dari sini kelihatan, setiap orang punya kapasitas Exit yang berbeda sesuai dengan kemampuan personal. Dengan satu question ke diri sendiri (jika business personal), yaituu, sampai kapan ingin terus support usaha? Jangan sampai karena merasa sayang dengan usaha yang sudah dijalankan, kita jadi buta, akhirnya korek tabungan sampai minus atau parahnya sampai pinjam ke kiri kanan yang ujungnya hanya dapat hutang besar. Because dalam business, better jangan ada rasa sayang. Sayang sudah berjalan setahun, sayang sudah sepuluh tahun ---- kalau memang there is no future, lebih baik step back sebelum jatuh ke jurang (apalagi kalau pakai uang banyak).

🐰🐰🐰

Lain halnya dengan business kita yang sukses dan running lamaaa, berarti Exit Plans bisa berupa persiapan hak waris pada anak atau orang kepercayaan kita. Bagaimana nanti susunan sistem dan pembagiannya. Jangan sampai tinggalkan warisan sebuah business kepada keturunan kita tanpa ada arah jelas. Yang ada, itu sama saja seperti mewariskan beban pada mereka. Semisal kita nggak berencana wariskan ke anak, atau anak nggak ingin dapat warisan business kita ---- berarti siapkan Exit Plans berupa penjualan business (pindah tangan ke orang) atau penutupan 😁

Frankly speaking, kalau sudah bahas business, prosesnya cukup panjang. Hehehe. However, entah kenapa hari ini gue ingin membagi apa yang gue pelajari ke teman-teman yang punya rasa interest pada business, dan gue coba jelaskan versi sederhana agar teman-teman ada bayangan -- Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan tentang seberapa besar kecil business kita, namun sebagus apa persiapan kita (terlepas skala business kita) agar fondasi business kita kuat dan nggak mudah digoyahkan. Ps: jika ada kurang-kurangnya mohon dimaafkan, kita sama-sama belajar 😍

54 comments:

  1. Kak Eno, dari tulisan di atas aku kepikiran jadi bisnis itu harus fleksibel ya? Semisal udah nggak ada harapan mending exit aja? Gitu ya kak Eno? Terus menurut Kak Eno, running bisnis itu butuh partner nggak sih Kak? Atau seorang diri itu bisa-bisa aja? Kak Eno berbisnis sejak dulu kah? Atau pernah kerja 9 to 5 gitu? Duh maaf kalau banyak nanya. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya, kalau kita merasa sudah nggak ada harapan (yep, semua balik ke kita, karena kita yang tau kapasitas kita), yaaa ada baiknya ambil langkah untuk EXIT dari usaha kita, mba Syifana. Jangan karena sayang, terus dipaksakan, padahal sudah merah statusnya, bahkan hitam. Itu bisa bahaya untuk keuangan kita 🙈

      Nggak selalu butuh partner, ada business yang bisa kita jalankan seorang diri, especially business skala kecil. Kalau maksud mba Syifana partner dalam hal ini seperti buat business bersama teman. Nah, semisal vendor, itu lain lagi, karena untuk banyak business, biasanya kita butuh partnership dengan para vendor 😆

      Iya mba, saya sudah sejak dulu, dan sempat kerja 9 to 5 😁

      Delete
    2. Berbisnis itu bakat atau bukan sih sebenarnya Kak Eno? Apa bisa orang yang nggak tau apa-apa dalam hal ini belum pernah terjun ke bisnis memutuskan untuk berbisnis? Aku juga pernah dengar dari beberapa orang, menjalankan bisnis itu harus siap rugi. Benar begitu Kak Eno?

      Oh ya, Aku pernah email kak Eno menanyakan perihal buku yang mudah dibaca untuk pemula yang interest ke dunia bisnis. Mungkin emailnya ketumpuk sama email lain. Aku ingin mulai membaca buku seputar bisnis seperti itu Kak Eno, tapi masih kurang tau harus mulai darimana. Kalau Kak Eno ada rekomendasi, tolong beritahu aku ya Kak Eno. Hehe 😂 Terimakasih Kak Eno ❤️

      Apalah aku ini, pertanyaannya udah kayak wartawan aja! 🤭

      Delete
    3. Ilmu business bisa dipelajari mba Syifana, jadi meski kita nggak punya bakat, kita tetap bisa doing business asal kita mau belajar dan cari tau lebih dalam untuk mengurangi resiko kerugian 😁 So, siapapun bisa even nggak tau apa-apa. Nah, jika nggak tau apa-apa, jangan langsung terjun investasikan uang untuk business, melainkan investasikan uang untuk 'otak' kita, dengan beli buku business salah satunya 😆

      Kalau persoalan harus siap rugi itu betul, yang namanya doing business pasti ada kemungkinan rugi nggak bisa 100% untung. Jadi mental itu diperlukan, mental untuk terima kerugian, mental untuk terima kita gagal. That's why, kata mentor saya, Exit Plans punya peranan penting agar kita tau kapan kita berhenti, sebab ada some people yang sudah rugi berkali-kali tetap nekat lanjutkan business, biasanya ini terjadi karena nggak tau bagaimana cara EXIT atau nggak tau kapan harus stop 🤧

      Wah, maaf mba Syifana, mungkin email mba ketumpuk huhuhuhu. Untuk pemula dengan materi yang mudah dibaca bagi orang awam, mba bisa baca buku Take Profit, by the way kalau mba mau bisa saya kirimkan. Info alamat dan nomor kontak ya, mba 😍 Anggap saja ini hadiah dari saya hihihi ~ ditunggu infonyaaa 💕

      Ps: saya justru senang jika mba Syifana ingin tau lebih dalam 😁 Kita bisa belajar business sama-sama, karena saya pun masih belajar 🥳🎉

      Delete
    4. Berarti selain ilmu dan modal, jadi seorang pebisnis harus siap mentalnya ya Kak Eno? Mungkin sama pentingnya juga ya tentang peran support dari orang-orang terdekat? Especially ketika business sedang tidak stabil?

      Delete
    5. Iya mba Syifana, perlu mental, kalau nggak punya mental, dikawatirkan ketika terjadi sesuatu yang nggak sesuatu rencana, kita jadi seperti hilang arah *kurang lebih begitu gampangnya 😁 ehehehe. Menurut saya, peran dan supports orang terdekat penting, namun yang lebih penting lagi adalah supports kita pada diri sendiri 😍

      Ini yang kadang sulit, sebab bukan rahasia umum kalau kita justru lebih keras ke diri sendiri daripada ke orang lain 😂 Dan ini paling sering terlupakan, ketika kita berharap orang-orang supports kita, tapi kitanya justru nggak bisa terima semacam tutup telinga 🙈 hehehe, malah curcol saya, sebab saya pun melewati fase demikian 😆

      Delete
    6. Waahh seperti itu ya, Kak Eno? Supaya seimbang secara mental berarti harus dilatih sedikit demi sedikit ya Kak?

      Aku juga sepertinya untuk urusan lain pernah seperti itu Kak Eno. Suka tutup telinga padahal butuh bantuan atau saran. Kira-kira kenapa begitu ya Kak Eno?

      Delete
    7. Iya tentunya, harus dilatih pelan-pelan mental kitanya 😁 Karena yang namanya business apalagi single fighter, means kita yang jadi bos untuk diri kita, kan 😆

      Mungkin kita begitu karena belum siap menerima fakta kalau kita punya kekurangan, hehehe, tapi berjalan dengan waktu, pelan-pelan kita akan bisa 😍

      Delete
    8. Oh ya Kak Eno, Syifana sudah kirim email ke Kak Eno, semoga this time nggak ketumpuk sama email lain ya, hehe 😂

      Delete
    9. Siap mba Syifana, sudah saya proses, ditunggu yaaa 😍

      Delete
    10. Uwaaa Makasih Kak Eno, hehe 🤣 Semoga ilmunya nular ke aku ya Kak Eno 😂

      Delete
    11. Amiiin, semangat belajarnya, mba 😁

      Delete
  2. Apa kabar bisnis saya yah mba?? Wkwkw. Yg saya sadar kalau saya ngejalaninnya setengah2.. promosi nggk ada, malah ngikutin aliran macam hhmmm 🤔 ibarat keran saya bukanya sedikit aja.. Alias, kalau ada yg pesan yah bersyukur, kalau nggk ada yasudah...

    Tpi sebenarnya pengen gtu jualannya laku. Tapi otak tuh kaya ngajakin buat "udah sih bay nyelow, lakuin aja sambil rebahan... Pelan-pelan aja asal kelakon.."

    Sbnernya pengen gitu berhenti ngajar, jadi kerjanya di pabrik aja biar malamnya bisa yah dipakai buat usaha ngembangin bisnis.. tapi gimana yah.. udah terlanjur suka dan cocok sama anak2nya. Heheh belum mau berhenti sampe Orang Tua bilang Stop.. Kalau langsung berhenti dri kerjaan utama juga nggk siap karena ini sumber penghasilan terbesar.... heheh

    Pelan2 aja yah mba.. bukan balapan juga.. tapi terimakasih mba buat sarannya.. hehe 😄


    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabarnya baik duoooongs 😁

      Case mas Bayu beda, karena mas Bayu punya pekerjaan dan prioritas utama. Jadi business yang mas Bayu jalankan masih masuk kategori business selingan yang dilakukan saat senggang. Betul begitu, bukan? 😆 hehehe.

      Menurut saya, nggak apa-apa, you do you mas, yang paling membuat mas nyaman, selama keuangan aman, pemasukan business ada meski belum banyak, dan yang terpenting nggak menggerus tabungan plus ada untungnya then itu artinya you are doing well, meski langkah yang diambil adalah langkah pelan 😍

      Coba mas Bayu check, kira-kira penjualan bulan ini ada berapa. Bulan lalu berapa. Meningkat atau menurun. Pelajari, mana produk yang paling banyak peminatnya. Kemudian kembangkan produk tersebut. Ini bisa dilakukan jika mas Bayu ada keinginan jualan mas Bayu lebih laku, mau nggak mau perlu cari tau 😁

      Eniho, jangan berhenti mengajar apabila mas Bayu masih belum yakin untuk 100% put your heart into your business, mas ~ jadi sambil belajar, slow but sure dikembangkan. Saya pun waktu itu, kumpul ilmu dulu, nggak langsung ambil keputusan. Yang penting tau, oh begini, oh begitu, perkara nanti bagaimana, belakangan 😂

      Semangat, mas 🥳

      Delete
    2. Iyah sih Mba Selingan.. haha. 😆 Harapannya sih kalau ini sudaah besar (aminn) pngen doing bisnis aja gitu..

      Terimakasih yah mba Eno buat masukannya.. 😆 udh cocok buat jadi motivator mba... pemilihan katanya itu lohh mba.. superrrr... 🤩

      Btw, maaf mba semisal pertanyaannya agak OOT. Hehe 😅. Mba Eno, blognya ndak ada rencana didaftarin ke adsense Mba? Sepertinya kemungkinan diterima 100 persen mnurut bayu.. yah memang prosesnya agak panjang karena harus validasi alamat pke surat yg dikirim langsung dri google.. tapi itu dlu sih.. kurang tau kalau sistem yg sekarang..

      Delete
    3. Amiiiin, nanti mungkin bisa fokus membesarkan ketika mas Bayu sudah selesai kuliah, jadi ada sedikit waktu tambahan untuk urus business, mas 😍

      Sama-sama mas, saya nggak bisa jadi motivator, ilmu pun masih cetek, ini hanya berbagi pengalaman, ambil baiknya buang buruknya yaaaa 😆 Wk.

      Saya nggak ada rencana daftarkan ADS untuk blog saya, sebab saya sukanya blog saya clean mas. Kalau ada ADS nanti jadi ada warna warni lain di dalam page-nya 🙈 Ribet, yaaa. Hahahahaha ~ by the way, mas Bayu pasang ADS?

      Delete
    4. Aminnn. Semoga bisa lancar.. 😃

      Iyah juga sih mba.. ntr warna-warni apalagi kalau ada iklan shopeenya.. hehe..

      iyahh saya pasang sih mba.. udh dri kapan itu yah.. 2016 kalau nggk salah dan diterima.. awalnya ngeblog cuma buat nulis2 pelajaran sama materi2 gtu.. blum tau ada istilah blogwalking.. hehe. Tapi makin kesini tulisannya jadi agak pindah haluan...

      Masang adsense emnk kekurangannya yh disitu sih mba Eno. Jadi kaya kurang estetik gitu blognya.. hehe. Tapi kelebihannya bisa nambah pundi2 kaya kita lagi ikut RDPU gtu.. ehheh 😄 dikumpulin dikit2 smpe ambang batas terus dikirim sama googlenya. *lumayannya disitu.

      Delete
    5. Kalau pasang ADS itu kita bisa pilih iklannya atau Google kasih random iklan, mas? 😂 Saya agak kudet soal ADS karena nggak sering mempelajarinya kecuali saat sesekali baca post mas Anton yang bahas ADS 🙈 Hehehehe.

      Ohiya, saya baru lihat di blog mas Bayu, ada ADS-nya tepat di bawah post, barusan saya klik hihihi iseng, kalau sekali klik dapat uang berapa, mas? 😍 Semoga semakin banyak pundi-pundi uang dari ADS-nya mas Bayu, kalau kelihatan sama saya nanti saya klik, yaaaa 😆 Eh cuma klik saja kan nggak harus daftar? Tadi ADS yang saya lihat di blog mas Bayu itu ADS pendaftara bank BRI, hehehe 🤣

      Delete
    6. Nggk dipilih sih Mba.. lebih ke random atau berhubungan antara tulisan sama kegiatan pengunjung.. semisal Mba kan liatnya ttg BRI ada kemungkinan mba pernah nelusur hal2 yg berbau BRI atau bank di google beberapa waktu yg lalu.. dan itu data yg biasanya di collect sama google.. setahu saya sih seperti itu...

      Satu klik tiap publisher punya CPC sendri2 sih Mba Eno.. CPC itu cost per click.. harganya bervariasi mulai dari 10 rupiah smpe hhmm tergantung kualitas clicknya juga kadang ada yg sekali click 2000... dan google bisa ngebedain sih klik yg disengaja atau klik yg emnk benar2 butuh.. heheh 😆

      Lumayan sih mba sehari 10-20 ribuan kalau saya.. 😉 tapi kadang dibawah itu juga... saya sih kalau adsense nggk pernah saya cekin.. tak tinggalin aja.. soalnya ngeblog skrang yah pure cuma pengen nulis sama curcol aja.. 😅😅 cuma karena udh terlanjur dftar dan diterima ADS jadi saya pasang aja karena khawatir mubazhir..

      Delete
    7. Oalah, hahahaha, apa karena saya baca-baca mengenai bank BRI ya? Soalnya saya memang sempat melakukannya untuk analisa saham 🙈 I see ~

      Berarti kalau kayak saya kemarin iseng klik iklan mas Bayu, habis loading dan terbuka langsung saya tutup, berarti itu dianggapnya sengaja, dan dikasihnya IDR 10? Hahahaha. Pintar ugha nih Google, saya kira mereka nggak sadar 🤣

      By the way, kalau sehari IDR 10.000 lumayan itu mas, sebulan saja sudah dapat IDR 300.000, buanyaaaak. Apalagi kalau ditaruh RDPU hahaha *eh* 😆

      Delete
  3. Wah...artikel yang menarik mbak 😍
    Aku malah baru tahu istilah ini.

    Tapi emang kadang sayang juga kalau bisnis yang udah dibangun mesti berhenti juga. Tapi mau gimana lagi, drpd semakin merugi dan ga progress.

    Mewariskan bisnis juga bkan hal yang mudah. Belum tentu yang diwariskan menyukai bisnis yang dijalankan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you mas Rivai sudah baca 😂

      Biasanya dalam business disebutnya Exit Plans atau Exit Strategy, mas ~ tapi memang untuk business owners skala kecil nggak banyak yang mempelajari / mengetahuinya. Saya pun baru tau saat diskusi sama mentor saya. Dulu saya hanya berpikir bagaimana memulai dan menjalankan. Yaaa namapun business kecil, nggak mau muluk 😆

      Tapi kata mentor saya, persoalan nantinya saya lakukan atau nggak, yang penting saya tau apa itu Exit Plans dan bagaimana basic-nya 😍 Hehehe. Nah iya mas, saya sempat mengalami satu fase tersebut, ketika ragu mau tutup atau terus lanjut, tapi saya ingat kalau dalam business, rasa sayang kadang perlu dikesampingkan. Dan kita dipaksa logis, mau sayang business atau masa depan kita dipertaruhkan? 😂

      Yes, mewariskan business nggak mudah, ada kasus di mana anaknya bahkan nggak tau bagaimana orang tuanya dulu jalankan business mereka 😁

      Delete
    2. oyaa mbak eno, btw dulu bisnis yang ditutup bisnis yang berkaitan dengan apa....?hehehhe, aku penasaran.
      rasanya bisnis yang mbak eno urusi ada beberapa...hehhehee

      Jadi ingat ketika bos sinarmas meninggal, beberapa anaknya memperebutkan perusahaannya. Padahal bisnis udah jalan, tapi selalu aja ada permasalahan ketika usaha diwariskan.

      Delete
    3. Business sewakan villas untuk harian mas, hehehe, business itu saya tutup tepat bulan Februari 2020 saat Corona sudah mulai menyebar di Korea 😂

      Keputusan yang tepat, meski waktu itu maju mundur berpikir virus ini hanya sementara bla bla blanya. Tapi saya tetap stick to the plans yang saya punya. Jika nanti virus hilang, business bisa dibuka kembali namun pada saat itu, menurut saya keputusan exit adalah yang terbaik jadi villas bisa diubah term-nya tepat saat banyak foreigners nggak bisa pulang ke negaranya dan butuh villas jangka panjang ~ 😁

      Kalau sekelas brand besar kayaknya sudah punya sistem dan bos-nya sudah siapkan wasiat. Meski mungkin ada yang merasa nggak fair dengan bagian yang disiapkan orang tuanya. Hehehe. Eh tapi, Exit Plans skala besar seperti ini belum terlalu penting untuk dipersiapkan ketika kita memulai dari skala kecil, yang ada pusing duluan kita hahahaha. Jadi cukup tau saja dulu, oh begini dan begitu 😂

      Paling kita siapkan Exit Plans short term incase kita fail running business kita, baru nanti berjalan dengan waktu, lihat perkembangan usaha kita, nah bisa kita review dan dinaikkan Plansnya mengikuti peningkatan income yang kita terima 😍

      Delete
    4. Bentar mbak eno..exit plans yang mbak eno lakukan pada bisnis mbak eno itu mengubah model bisnis penyewaan villa yang tadinya harian menjadi bulanan atau jangka panjang..maksudnya gitu mbak eno?
      Hehehhee

      Jadi ingat steve jobs yang dipecat oleh perusahaannya sendiri..exit plan yang tak pernah terpikirkan. Walaupun nantinya steve jobs balik lagi pimpin apple.

      Tadi mbak eno tulis minimal 3 bulan. Padahal proses promosi produk/jasa butuh waktu yang ga sebentar...hehehee

      Jadi ingat temanku yang ga pernah promosi jasanya. Tahu-tahu handle acara. Modalnya cuma dari mulut ke mulut 😂

      Delete
    5. Iyes, untuk case sewa villa itu, saat pertama buka, Exit Plans-nya kalau nggak villa dijual ya pakai sendiri, antara dua itu jika ternyata business nggak untung. Nah berjalan dengan waktu, di-review secara berkala, ini usaha tutup bukan karena rugi, I mean, pemasukan bulanan ada terus, cuma gara-gara Corona, saya dan team spekulasi 😆

      Kalau nekat harian, kayaknya nggak bisa. Jadi, kami reroute, ambil Exit Plans dengan ubah term sewa 😁 Semisal waktu itu saya nggak ada Exit Plans, saya mungkin akan tetap sewa harian dan merugi sampai sekarang. Jadi waktu itu bisa dibilang saya cukup beruntung bisa Exit dari term harian, dan pindah ke term lebih panjang 🙈

      Itu yang 3 bulan, Exit Plans-nya mba saya. Wk. Setiap dari kita bebas tentukan mau selama apa karena kan pasti punya metode business yang berbeda-beda. Mba saya pilih 3 bulan karena modalnya relatif kecil dan putaran business-nya harian, jadi kalau dalam tiga bulan pemasukan terus menurun, nggak ada bounce back, alias grafik terjun bebas, dia akan putuskan Exit 😁 Tentu beda orang akan beda jalan 😍

      Delete
  4. Banyak-banyak konten begini mbaaak, aku siap mencerna *____*

    Wah, kalau saya masih ada di tahap "memulai". Jadi boro-boro mikir exit plans-nya apa, masih mikir ini mau kapan mulainya hahahaha (mikir mulu....)

    Nggak ada komentar tambahan karena ini semua ilmu tambahan baru buatku. Jadi aku mau mencerna baik-baik 😌

    karena sekarang aku masih karyawan, punya "bisnis" sebenarnya lebih sebagai ke "pelepasan" dari apa yang membatasiku di kerjaan sehari-hari.

    Tapi ya, jadinya nggak terlalu serius mikirinnya. Blm sampai mikir pengen dapet keuntungan yang bisa menggantikan gaji soalnya... 😭😭 padahal cita-citaku juga bisa terlepas dari ketergantungan gaji. sungguh tidak sinkron.

    Lha jadi curhat,, 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha, mba Megaaa, ini konten selingan 😂

      That's okay, setiap dari kita punya baby step yang berbeda, kalau mba Mega masih dalam step memikirkan permulaan, itu nggak jadi soal 😁 Lagipula prioritas mba Mega sekarang masih pada pekerjaan utama, jadi sambil pelan-pelan belajar saja mba, kita sama-sama 😍 Semoga apapun business yang sedang atau ingin mba Mega jalankan bisa lancar, mba. Semangats! 🥳 Go go go, you can do it!

      Delete
  5. Kalau untuk aspek kehidupan yang lain, kira2 gimana ya, mba? Apakah mba eno juga pernah bikin exit plan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aspek kehidupan lain seperti apa mba contohnya? 😍

      Saya buat exit plans untuk business dan relationship saja, yang lain nggak ada mba 😂 Kalau relationship, saya buat dokumen resmi untuk pemisahan harta. However, saya ada Exit Plans yang saya simpan di hati saya. Seperti jika pasangan selingkuh, KDRT, bla bla bla, apa yang akan saya lakukan, plus langkah pertama saya apa 🙈 Wk.

      Itu bukan maksud mba Hicha? 😆

      Delete
    2. Aku tertarik nih dengan exit plans Kakak dalam hal relationship :p untuk urusan bisnis juga menarik, tapi dalam hal relationship lebih menarik untuk dikepoin hiyaaa #plakk

      Kak Eno sebelum menikah membuat perjanjian pra-nikah gitu nggak? Dokumen resmi pemisahan harta dibuat sebelum atau sesudah menikah?

      *malah bahas topik lain*

      Delete
    3. Hahaha, kalau dalam relationship kan tinggal ikut value kita maunya bagaimana, sayang 🤣 Iya kakak buat perjanjian pemisahan harta endeblablanya 😁💕

      Delete
  6. Andai aja pembahasan ini bisa diterapkan pada kegiatan menulis. Haha. Tapi kayaknya percuma juga, soalnya udah ditinggalkan berkali-kali tetap aja seseorang di dalam diri ini seolah-olah punya hasrat menulis sampai mati. Alah, sok iye. :)

    Saya kalau enggak salah baru sekali menutup bisnis. Sekali itu pula sok-sok berbisnis. Cuma kecil-kecilan, sih. Dagang jersey, jaket bola, celana chino/denim (belum ada nama olshop-nya pula) bareng dua orang teman. Hanya bertahan lima bulan. Dua bulan terakhir terjadi penurunan pembelian, kami sadar bahwa itu ramainya pas hype aja. Yang beli juga mayoritas teman sendiri. Yang mungkin rada terpaksa atau merasa enggak enakan. Bagusnya juga kami pakai sistem PO, tunggu ada yang pesan dulu baru belanja ke grosir. Kalau nekat stok barang, mungkin bakal rugi banyak. XD

    Tentang anak yang belum tentu mau meneruskan bisnis ini kerap terjadi, sih. Terpaksa menjalankan justru bangkrut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dalam bidang menulis mungkin EXIT PLANS-nya masuk kategori retire alias pensiun ya, mas. By the way, punya Exit Plans dalam dunia blogging nggak ada salahnya, meski sebisa mungkin tetap keep doing sampai akhir hehehe 😆

      Thankfully waktu itu PO, kalau mas Yoga nekat stock barang, bisa rugi banyak 😆 However, saya rasa dari pengalaman itu, ada pelajaran yang mas Yoga dapat, especially karena doing business-nya sama teman-teman alias nggak sendirian. Menurut saya susah doing business sama teman, perlu kompak, satukan suara, this and that 😍

      Nah iya mas, salah satu kenalan saya ada yang begitu soalnya, sampai stres banget karena dapat limpahan business orang tua padahal minat dan basic dia bukan di sana. Akhirnya, dia hire tenaga profesional untuk urus penutupan 🙁

      Delete

  7. Artikel yang sangat menarik, saya pun sependapat dengan mbak Eno kalau menerapkan exsit plan hanya untuk bisnis dan bisnis. Jujur, kalau saya menerapkan exsit plan dalam kehidupan saya jujur kok rasanya berat dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilih yang paling pas saja mba Tari, kalau belum bisa semuanya 😁 Jangan dipaksakan, pelan-pelan cari tau mana yang paling diperlukan 😉

      Delete
  8. Bicara bisnis, aku setuju exit plan harus ada. Sbnrnya bukan cuma dibisnis, tapi juga investasi. Aku memang ga jalanin bisnis, selama ini bisnis kluarga yg bakery, restoran, dan percetakan itu msh dijalankan papa dan adekku yg cowo. Itupun sudah ada team yg masing2 pegang posisi. Jadi jujur aku ga ikutan di bisnis itu, cuma sesekali aja cek pembukuannya. Kalo ditanya gimana ntr kalo papa ga ada? Jujur akunya blm tau. Selama ini msh mempercayakan kepada team yg sudah ada dan adekku. Kalo memang hrs tutup, ya sudah, berarti ntr tinggal dijual dan dibagi ke kami berempat semuanya. Which ia aku ragu sih bakal gitu, Krn toh adekku udh bener2 serius bantuin papa skr ini.

    Nah aku sendiri, sebenernya udh lama jalanin usaha kecil2an, sejak masih awal kerja kantoran. Jual pulsa, top up elektronik wallet, bayar listrik, PLN dll, dan pelangganku ya orang2 kantor Ampe skr :p. Aku ga tertarik jualan secara luas, Krn sbnrnya ini hanya utk muterin uangku aja supaya ga diam di rekening. Lumayan profitnya. Kalo aku biarin di rekening, sebulan paling brapa interestnya. Tapi dengan diputer jd modal usaha kecil, atleast profit sebulan jauh LBH gede drpd bunga bank :p.

    Untuk usaha yg ini, aku blm niat utk exit Krn toh pelanggan setianya msh ada :).

    Naah kalo investasi saham baru deh. Aku LBH detil di situ. Krn uang yg aku taro dlm saham LBH besar jumlahnya. Jd cut loss ato exit plan hrs ada dan komit dilakuin. Apalagi kalo saham yg dipilih fundamentalnya ga terlalu baik. Aku bakal liat pergerakan charts nya, kalo memang dowtrend trus, sentimen negatif, Yo wislaah, cut loss aja. Mnding uangnya aku puter di saham lain. Kecuali saham yg fundamental bagus, hanya saja sdg merah, itu bakal aku pertahanan sih. Kalo timingnya pas, malah aku tambah lot mumpung turun :D.

    Intinya, dalam bisnis ato investasi, timing yg tepat itu penting. Tau kapan kita hrs berhenti/cutloss, dan tahu kapan kita harus tambah modal :D. Dan hrs berani. Kdg ada orang yg ga berani utk cut loss ato kluar. Terlalu mikir 'kan uang yg aku keluarin udh gede, masa hrs cutloss. Makin rugi dong' .

    Bener ruginya makin gede. Tapi akan jauh LBH rugi kalo pertahanan bisnis/invetasi yg ga ada masa depan :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, dibanyak aspek kehidupan, bisa buat exit plans, tinggal kita pilih butuh untuk yang mana. Seperti di investasi, kita sebut cut loss, pasti kita punya pertimbangan kapan kita exit, meski kita sudah cuan 10.000% pun kan nggak mungkin ditahan terus, jadi dengan kita punya plan, kita tau kapan harus take action. Ya kan, mba? 😆

      By the way jadi ingat, dulu mba saya tuh jualan pulsa juga kayak mba Fanny, seru katanya, apalagi pelanggannya banyak. Tapi semenjak kemudahan beli pulsa bisa selemparan jempol ke handphone, mba saya jadi berhenti jualan, gara-garanya teman-teman mba saya sudah beralih beli pulsa pakai e-wallet hahahaha. Terus memang untungnya lumayan, kalau mba Fanny masih dapat untung, jangan berhenti, mba 😍

      TOSS, iya kan, kadang kita sayang berhenti karena berpikir kita rugi, siapa tau jika kita tetap continue bisa untung. However deep down inside kita tau business kita nggak punya masa depan. Menurut saya better cut sekarang, daripada entar-entar, akan jauh lebih rugi takutnya, dan merembet ke mana-mana 🙈 Thanks for sharing, mba 💕

      Delete
  9. Saya juga pernah mengalami harus menutup bisnis. Jadi karena barang kurang laku dan pendapatan kecil akhirnya memang harus tutup saja daripada diteruskan penghasilan kurang bahkan boleh dibilang rugi. Modalnya dialihkan untuk lainnya.

    Makasih banyak atas ilmu bisnisnya mbak Eno.😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, better modalnya dialihkan ke yang lain, daripada terus dipaksakan, kawatir rugi yang diderita tambah besar. Terima kasih sudah berbagi, mas 😍

      Delete
  10. wah... udah lama ga komen kesini, hehehe...

    Hmmm.. secara konsep, aku bisa memahami penjelasan kak Eno di tulisan ini tentang exit plan, tapi aku masih agak bingung ngebayangin secara teknis, data-data apa aja yg bisa menjadi indikator bahwa misalnya business kita ga ada masa depan.

    Kemudian, jika ada bisnis yang udah jalan tapi masih struggling, alias belum BEP deh misalnya setelah 6 bulan jalan, Exit plannya tuh sebetulnya dibuat ketika bikin business plan atau ketika setelah running trus pada titik tertentu ga menemui kenaikan yang signifikan?

    hmm, semoga kak Eno mengerti pertanyaanku, haha...

    itu aja dulu kak!

    makasiiih wahai Noona Enoooo... semoga jatah tema bisnis di blog ini lebih banyak dan lebih sering, hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, kah? Perasaan setiap hari interaksi sama Ady 🤣

      Yang paling mudah dilihat dari data keluar masuk keuangan, kalau business kecil, dan Exit Plans-nya adalah berhenti ketika terjadi penurunan, nah bisa dilihat dari data perputaran uangnya. Seperti usaha mba saya, Exit Plans mba saya, kalau tiga bulan berturut-turut pemasukan menurun, nggak ada bounce back alias terjun bebas, maka dia akan review dan ambil langkah exit karena modalnya nggak banyak 😁

      Semua akan kembali ke data apa yang kita punya, dan plan apa yang kita siapkan. Kalau business besar, obviously datanya ada banyak. Sampai ke market, endeblabla. Intinya, Exit Plans dibuat untuk dua tujuan, apabila kita ingin stop setelah terus merugi, atau kita ingin wariskan / memindahkan ketika business kita long running 😆 Gampangnya begitu kata mentor saya, Dy ~

      Sepengalaman saya, Exit Plans dibuat ketika susun business plan, namun dalam perjalanannya akan ada review, karena terjadinya perubahan. Kan bisa jadi rencana kita A, namun di lapangan ternyata kita ke arah B, nah Exit Plans yang kita punya bisa kita review ulang untuk disamakan dengan kondisi terkini, semisal awalnya kita berencana after 1 year defisit akan close, namun saat 6 bulan perjalanan kita optimis masih ada chance (based on data tentunya kalau bisa jangan feeling), then bisa kita ubah Exit Plans kita 😉 Flexible bingits. Silakan Ady utak-atik 😆

      Sama-sama Ady, terima kasih sudah baca 😂 Amiiin semoga nanti ada tenaga buat bahas yang berat-berat begini hahahaha. Pusyaaaang soalnya 😁

      Delete
    2. Thank you noona
      sekarang udah lebih kebayang lagi :D

      Delete
    3. My pleasure, Dongsaeng 😆

      Delete
  11. Baca soal exit plan ini kayak mirip dengan tema salah satu video yang saya tonton beberapa waktu yang lalu bahwa memecat dan dipecat adalah hal yang baik.

    Dalam pembahasan video itu, beberapa orang kadang tidak tau kinerjanya maksimal dan terpakai atau tidak sehingga orang tersebut terus bekerja karena yang ia harapkan semua akan baik-baik saja pada akhirnya.

    Tulisan kak Eno semacam penyempurna perspektif itu. Saya sebenarnya pernah dengar masalah exit plan ini di film atau series tapi lupa dan ngga terlalu ngeh. Beruntung diingatkan kembali dengan cara yang menyenangkan 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Video apa itu mas, judulnya kontroversial sekali, tapi makna yang terkandung sepertinya oke. Jadi ingin tau lebih dalam pembahasannya seperti apa 😁

      Asiiiik dibilang menyenangkan, berarti nggak terlalu rumit kan bahasanya 🤣 Thank you sudah baca, mas Rahul. Semoga ada sedikit manfaat yang didapat 💕

      Delete
  12. Videonya Pandji Pragiwaksono kak Eno, judulnya "Dipecat Adalah Kabar Baik". Saya sering dapat insight bisnis di sana. Perspektifnya menarik 😁

    Saya tau kak Eno punya standar yang baik. Tulisan rumit pembahasan yang sederhana. Jadinya lebih efisien untuk pembaca 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha, thank you rekomendasinya mas Rahul, nanti coba saya lihat 😁 By the way, thank you ugha apresiasinya, jadi membuat saya semangat berbagi tulisan 😍

      Delete
  13. Nahh ini yang nggak pernah terbersit di kepalaku, exit plans.
    Selama ini belajarnya pun bagaimana bikin konsep, budgeting, target market, untung rugi dan kawan kawannya
    Belum ada pandangan gimana nanti "mengakhiri" bisnisnya jika keuntungan yang didapat mungkin nggak sebanding dengan pengeluaran selama kurun waktu 3 bulan itu misalnya.
    Yang dikejar macam ambisi untung pokoknya, tapi ga semua juga selalu untung terus ya. Pasti ada naik turunnya juga kalau lagi bangun usaha

    Perlu banyak baca baca dan sharing nih aku soal beginian ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mba, awalnya saya pun nggak tau ada Exit Plans, karena fokusnya hanya ke persiapan dan pelaksanaan. Padahal dalam segala hal yang kita mulai, akan ada kemungkinan hal tersebut berhenti di tengah jalan. Jadi kalau kita nggak punya Exit Plans, dikawatirkan kita nggak bisa berhenti dengan hati tenang 😆

      Kalau persoalan berapa lamanya, itu semua kembali pada finansial kita dan perencanaan kita. Jadi nggak ada patokan harus 3 bulan, karena some people ada yang bisa bertahan meski harus menunggu 3 tahun lamanya, selain bisa jadi disebabkan dengan kepemilikan modal yang cukup besar 😁 Semangat ya kita belajarnya, mba 😍

      Delete
  14. Mbak Eno, wajar nggak ya kalau saya takut melulu tiap kali kepikiran buat buka bisnis? (e.g.: bukannya antisipasi bisnis sukses lalu kekurangan sumber daya dsb tetapi yang dirasakan malah was-was kalau-kalau bisnisnya sepi pelanggan kemudian gulung tikar). Entah kenapa rasanya Ila selalu ada pikiran jelek kaya' gini, tetapi Ila nggak tau harus gimana biar nggak kepikiran terus. Ada sarankah, Mbak Eno?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya wajar mba Ila jika kita berpikir the worst pada business kita, seperti takut sepi terus gulung tikar, endeblablanya. Pasti setiap dari kita yang mau memulai usaha, akan terbersit pikiran demikian 😆 hehehehehe.

      Itu bukan berpikiran jelek, memang basic manusia, punya pikiran worst case, namun seperti yang mba Ila bilang, baiknya kita jangan hanya berpikiran jelek tanpa diimbangi pikiran baik, especially saat kita ada niatan buka usaha 😁

      Nah pikiran baik itu bisa muncul kalau kita punya persiapan yang cukup untuk membuat kita yakin dalam melangkah. Mungkin salah satu yang bisa mba Ila lakukan diawal adalah cari tau dulu sebanyak-banyaknya 😍 Dari baca buku atau ikuti akun sosial media orang-orang yang hobi share business dan sejenisnya, agar mba Ila bisa dapat insight lebih lengkap 😆 Ohya saya pernah bahas ini di post lama ~

      Ketika kita takut, biasanya itu karena kita nggak mengenali medan kita. Seperti saya yang dulu takut naik pesawat, tapi pekerjaan saya memaksa saya terus naik pesawat. Alhasil, agar meminimalisir rasa takut, saya berusaha 'kenal' seperti apa sistem pesawat bekerja. Oh begini yaa turbulensi, oh begitu cara pilot terbangkan pesawat, this and that. Setelah tau, setelah kenal, rasa takut saya berkurang 😍

      Semoga sedikit jawaban saya bisa membantu, mba Ila 😉💕

      Delete
  15. Di post mbak sebelumnya "Is That Okay to Quit?" saya suka banget pembahasan kapan kita tau timing, saat yang pas untuk berhenti dan kapan tau saat harus gigih dan terus mencoba. Sama seperti dalam hubungan pertemanan atau asmara, kan? Kalau kamu tau temen kamu bawa pengaruh yang baik kamu perlu pertahankan hubungan dengan teman kamu itu. Saat kamu tau teman kamu bawa pengaruh yang nggak benar, kamu harus mulai mencoba berhenti deh dekat-dekat atau terus berhubungan dengan dia. Sama dengan bisnis, kalau kita tau bisnis yang telah kita coba berulang kali itu tidak membawa kebaikan secara signifikan, ya mungkin kita perlu quit dengan rombak usaha kita itu. Siapa tau dengan perbedaan cara pandang atau inovasi kita bisa bangun bisnis yang lebih baik perkembangannya.

    Kemarin-kemarin waktu saya pelajari investasi di app Bibit ternyata ada juga isian untuk ahli waris. Saya isilah dengan data diri suami saya. Saya juga udah cerita tentang investasi Reksa Dana yang saya lakukan di Bibit ke suami, siapa tau ada apa-apa dengan saya, kan biar suami bisa ambil uang yang udah saya tanam.

    Suami setuju juga itu kalau ada warisan jangan ditinggalkan gitu aja tidak memberi kejelasan. Soalnya suami pernah bilang gitu ke bapaknya. Maklum kalau udah urusan warisan baik berupa aset, uang, tanah, dan semacamnya... orang itu suka bisa ribut, apalagi dengan sesama saudara (ya namanya juga manusia punya intensi dan pendapatnya masing-masing). Iya yang mbak bilang itu betul banget, warisan yang tidak jelas itu bisa malah jadi beban bagi yang ditinggalkan warisan/ahli warisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Intan, nggak beda jauh dengan asmara, atau business, dan lain sebagainya. Kita diharap mampu dan paham kapan kita harus berhenti dari 'pertandingan' sebelum kita 'babak belur' karena keadaan hehehehe. But I know, itu nggak mudah, jadi kitanya yang memang perlu banyak belajar dan mengenal diri kita 😆

      Yayyy, mba Intan semangat belajar Bibitnya ~ betul mba, informasi mengenai ahli waris perlu diisi especially jika kita berniat menabung reksadana dalam kurun waktu lama, karena itu akan mempermudah pihak Bibit serta keluarga yang kita tinggalkan jika terjadi apa-apa sama kita. Nanti pihak Bibit akan email pewaris kita 😁

      Memang yang namanya warisan sebisa mungkin diatur sedemikan rupa, jangan sampai niat kita memberi warisan untuk mempermudah keturunan kita, justru ended up membuat mereka kesulitan bahkan jadi beban hidup mereka 🙈 hehehe. Jadi nggak ada salahnya banget buat Exit Plans semisal dibutuhkan 💕

      Delete