Lantern | CREAMENO

Pages

Lantern

Di Bali, ada resto ASEAN yang gue suka. Mereka jual menu makanan dari beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand, which surprisingly, rasanya enaaaaaak 😍 Jadi kadang, kalau gue ingin makan Laksa Singapura, atau menu lain ketika mba gue nggak masak, maka gue akan mampir ke sana. Namanya Lantern, berlokasi di Petitenget, satu area dengan Seminyak 😁

Welcome to Lantern Bali πŸ’•

Lihat menu dulu, boleeeh 😁

Ohya, dari sekian banyak menu yang mereka jual, favorit gue itu Laksa Singapura πŸ˜† Gue nggak pernah bosan untuk pesan menu ini, karena taste wise sangat mirip dengan Laksa yang biasa gue makan saat gue di negeri singa πŸ₯³ Well, berbeda dengan gue, si kesayangan prefer Pho Vietnam, while asisten gue suka bingits Char Kwetiaw Penang πŸ˜‚ Wk. Jujur gue nggak ingat yang lain suka apa, namun yang terpenting menurut gue, meski kami punya selera beda, namun kami tetap bisa makan di satu tempat yang sama 😍 No ribet-ribet. Asik, kaaan? Hahahahaha.

Char Kwetiaw, Malaysia πŸ€€

Laksa Singapura, miluuuuv 😍

Thai Tea, Thailand πŸ’•

Spring roll, Vietnam πŸ₯³

Eniweis, Lantern Bali memakai tempat semacam kios satu lantai yang memanjang ke belakang. Bisa dibilang tempatnya nggak besar, however, tetap nyaman. Though nggak ada AC-nya jadi kalau gerah, silakan duduk di bawah kipas atau di luar biar dapat AC alam 🀣 Hahaha. Too bad, from my point of view, Lantern Bali nggak cocok buat teman-teman yang datang pakai mobil karena susah cari parkiran πŸ™ˆ Jadi better gue sarankan yang mau datang, bisa naik motor atau jalan. Seru lhoo jalan di sekitar Petitenget - Seminyak, karena ada banyak pemandangan bagus untuk dilihat 😜

Matching 🀣

Sepiiiiiii 😭

Eniho, beberapa waktu lalu gue sempat mampir ke sana ditemani asisten gue karena rindu mau makan Laksa --- Setelah maju mundur maju mundur kawatir Corona, gue pun memberanikan diri datang di-jam mereka baru buka dengan niat langsung pulang setelah makan, dan sesampainya di sana, ternyata cuma gue pembelinya. Huhuhu, kata mereka, semenjak Corona, tamu yang datang anjlok seanjlok-anjloknya, sebab mereka lebih banyak bergantung pada wisatawan asing dan lokal, on top of that, staff mereka hanya bersisa tiga orang 😭 Sedih, waaak!

🐰🐰🐰

Terus parahnya, di sepanjang jalan Petitenget itu banyak cafe yang KOSONG MELOMPONG, genks. Bahkan ada beberapa bangunan sudah seperti rumah hantu ditinggal pemiliknya 🀧 Gue tambah sedih ketika gue menyusuri jalan sebentar sambil memperhatikan area sekitar, di sepanjang jalan tersebut super duper sepi, padahal dulu sebelum Corona menyerang dunia, jalanan Petitenget to Seminyak macetnya bukan maen, sampai buat kepala gue dan si kesayangan migren 😒

Ini jualan minyak, ya?

Warung kaki lima pada tutup 🀧

Gils, biasanya di sini maceeeet πŸ™

Nggak tau rumah siapa πŸ™„

Dan saat gue menyusuri jalan itu, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri for the first time (yeps, ini first time gue visit Petitenget --- Seminyak after Corona), cafe-cafe yang dulu gue suka kunjungi, hampir semua tutup dan dibiarkan begitu saja. Hiks hiks 😭 Langsung terbesit pikiran, bagaimana nasib para pekerja, mungkin ada ribuan orang yang harus kehilangan pekerjaan di sepanjang jalan itu doang, nggak kebayang jika harus ditambah para pekerja area Kuta, Ubud, Nusa Dua, Bedugul, Jimbaran, Gianyar dan kota-kota wisata lainnya. Mungkin bisa puluhan ribu orang πŸ™

Gue pernah kejebak macet hampir sejam di sini 😭

Nggak ada yang parkir sayangnya.

Belum ada yang beli dari pagi kata abang penjual 😞

Gue pribadi nggak bisa lakukan banyak, namun gue nggak akan berhenti berdoa untuk siapapun yang terdampak Corona agar bisa survive dan nggak menyerah kalah -- Dan untuk kita yang masih menerima berkat dari Tuhan YME ---- punya tempat tinggal, makanan, pekerjaan, waktu luang, this and that, jangan sampai kita lupa bersyukur, ya 🀧 For the last, gue jadi ingat satu quote Nichiren, yang berisi, "If you light a lantern for another, it will also brighten your own way." -- wish, kita bisa jadi Lantern untuk diri kita dan orang-orang yang kita cinta. Take care, teman-teman πŸ’•

48 comments:

  1. Aku ingat banget waktu ke Bali sebelum corona, jalanan di Seminyak termasuk yang ramaiii dan banyak motor parkir di kiri kanan jalan sampai mobil jadi macet. Nggak sangka melihat Bali sekarang benar-benar kena dampak separah ini 🀧. Bahkan untuk para resto dan cafe bertahanpun aku rasa udah megap-megap bangettt 🀧. Aku cuma bisa bantu doa agar semua ini bisa segera berlalu, dan wisata di Bali perlahan bisa bangkit kembali. Amiiinnn πŸ™πŸ»


    Ngomong-ngomong, aku jadi kangen makan laksa singapore 🀀 duh, malam-malam jadi lapar lagi lihat foto laksanya πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Lia, biasanya macet parah, kadang kalau terjebak di sana, rasanya mau pulang jalan kaki saja dan mobilnya ditinggal hahahaha. Makanya kakak kaget waktu lihat Seminyak, sepinya jadi mirip jalanan dekat tempat tinggal kakak 😒

      And yes, mereka bilang, susah mau bertahan, satu persatu staff terpaksa diberhentikan, bahkan some of 'em ada yang akhirnya tutup usaha karena sudah nggak nggak sanggup bayar biaya operasional. Ibarat pemasukan nggak ada, namun pengeluaran jalan terus setiap bulannya. Alhasil berat sebelah 🀧

      Amiiin Lia, semoga badai Corona segera berlalu, dan pariwisata bisa kembali tumbuh, hehe. Jadi nanti Lia bisa liburan untuk makan Laksa Singapore 😍

      Delete
  2. sedih ya. yang paling berdampak memang mereka yang bekerja di industri wisata. 😒

    aku juga suka pho vietnam! *tos sama kesayangan* πŸ˜‹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih banget mas, banyak yang diberhentikan 😒

      Duh saya pun suka Pho Vietnam, hahahaha, tapi Laksa lebih dirindukan. Karena mba saya jago buat Pho Vietnam while nggak bisa sama sekali buat Laksa 🀣

      Delete
  3. Sukaa sama quote lanternya 😍 Makasi ya Mba Eno, udah selalu mengingatkan untuk lebih bersyukur dan berbagi πŸ’–πŸ’–

    Semoga pandemi ini cepat berlalu yaa. Ngeliat di berita udah makan banyak yg divaksin, lumayan bikin ngerasa titik terang sebenrnya..

    Btw, aku udah lama bgd ga makan laksa πŸ˜† Dan ngeliat foto laksanya kok kayanya enaaak. Mana aku jg lbh suka laksa dr pd pho. Wuaa, jd pengen makan laksa jadinyaa.. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba Thessa, terima kasih sudah baca 😍

      Amiiin amiiin, berharap dan akan terus berharap dibarengi dengan doa agar Corona bisa segera musnah. Dan semoga kita bisa dapat giliran vaksin segera πŸ₯³

      Saya pun setelah satu tahun lebih nggak makan, akhirnya bisa makan mba, rasanya ya ampuuuun bahagia bangetttt hahaha. Enaknya sampai ke ubun 🀣

      Delete
  4. Mengharukan memang kalau dampaknya sampai seperti itu, tapi saya yakin semua akan baik2 saja.

    Hmm, nafsuku jadi hilang, tadi ngiler lihat spring roll itu, hihi

    Eniho, warna tas itu matching sama apa, mbak? 🀣 (ikut2an blg Eniho) 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, semoga semua baik-baik saja, mas ~

      Warna tasnya matching sama warna kursi dan interiornya yang kuning-kuning gonjreng hahahaha. By the way, spring roll-nya enak lho, ada udang 😍

      Delete
  5. Nyammm--nyammm..... Laksanya wuaaahh.. Phonya juga.. Spring Rollnya... duhh yah ngidam pagi ini nyari dimana coba. Ke Indomaret aja deh beli Indomie Rasa Laksa Spesial... hehe 🀣

    Iyah Mba Sedih banget yahh.. Disini juga, sepiii beud.. Banyak toko yang pada tutup sementara. Malah tetangga saya ada yang di rumahkan di toko tempat dia bekerja. Yah bersyukur skrang dia udh diterima kerja ditempat kerja baru.. What a gift bisa dpet kerja baru di tengah2 pandemi di perusahaan pula yang lebih baik.

    Uhh pokoknya corona ini mukul kita di segala aspek banget.. Jadi sekrang kalau mau beli apa-apa, saya selalu ngutamain pedagang2 sekitar..

    Semoga dengan vaksinasi ini. Si Corona bisa cepat berlalu.. Amin.. Terimakasih mba buat tulisannya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha, saya baru tau ada Indomie rasa Laksa. Rebus, kah? 😍

      Nah iya mas, tetangga mas beruntung bisa dapat pekerjaan saat pandemi Corona. Sedih mas lihatnya, muka para staff yang kerja pun lesu, kayak nggak bersemangat. Jadi ingat kata mba saya, capek karena ada yang bisa dikerjakan jauh lebih menyenangkan daripada capek karena menunggu tamu yang nggak kunjung datang 🀧

      And yes, support pedagang kecil akan sangat membantu tentunya, that's why saya minta mba saya tetap belanja ke pasar. Jadi belanjaan di supermarket hanya khusus yang memang nggak dijual di pasar. While daging dan sayur mayur, semua masih dari pasar. Karena pedagang kecil itu salah satu yang paling terkena dampak 😭

      Amiiiin, semangat untuk kita, mas πŸ’•

      Delete
  6. saya suka sama foto - fotonya , bener banget dampak dari corona begitu besar termasuk pada sektor pariwisata maupun sektor perdagangan kecil maupun besar. lalu ??? di papan resto itu ada gambar berbagai menu makanan bertuliskan 50 K maksudnya apa ya mbak ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you mba Tari ~

      50K itu maksudnya IDR 50.000 mba, jadi hampir seluruh menu yang dijual harganya IDR 50.000-an, hehehe termasuk menu yang saya makan di atas 😍

      Delete
  7. Gitu ya Laksa Singapura bentuknya. Soalnya kan memang laksa di tiap wilayah berbeda-beda. Laksa Jakarta dan Laksa Bogor saja beda, belum lagi di beberapa area Nusantara lainnya. Pasti juga akan berbeda di Malaysia dan Singapura.

    Ini memang makanan khas Melayu.

    Saya sendiri suka dengan Laksa Bogor. Tapi bukan yang disajikan di kafe atau restoran. Favorit saya justru laksa yang dijual oleh penjual kaki lima di wilayah Jalan Suryakencana.

    Kental kuahnya dan ditambah dengan tahu yang direbus. Masih kental sekali rasa laksa tradisionalnya.

    Dulu di Bogor, laksa dijual oleh pedagang keliling memakai pikulan. Untuk memasak juga bukan kompor, tetapi tungku arang. Makanya bau asap, tetapi justru itu yang buatnya masih unik. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti itu.

    Kalau yang di Kafe atau Resto, justru saya tidak tertarik karena sudah terlalu modern dan kurang menggigit.

    Yah dunia memang masih gonjang ganjing dengan pageblug ini, Eno.

    Lentera tidak pernah ditujukan untuk bisa menerangi wilayah yang luas. Ia hanya bisa menerangi wilayah kecil saja.

    Setuju dengan quote itu. Manusia bisa berbagi lentera, meski kecil, tetapi setidaknya, sebuah lentera bisa menerangi jalan beberapa orang. Tidak banyak, tetapi jelas lebih banyak daripada tidak ada sama sekali.

    Dalam situasi yang seperti sekarang, rasanya itu yang dibutuhkan. Mungkin kita bisa menjadi lentera bagi orang terdekat atau yang kita kenal. Seperti Creameno yang setidaknya sudah menyebarkan aura positif kemana-mana.. Semoga bisa terus begitu ya Eno..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woaaah saya baru tau ada Laksa Bogor, penasaran seperti apa bentuk dan rasanya. Huehehe, kalau Laksa Singapore, isinya noodle, timun yang berbentuk noodle (diserut panjang-panjang), ditambah udang, bakso ikan dan perintilan lainnya 😍 Untuk kuah, mirip kuah Lontong Sayur tapi lebih kental kayaknya. Enak, mas πŸ˜† Semoga one day saya bisa coba Laksa Bogor, baca penjelasan mas Anton jadi ileran 🀣

      Iya mas, kita mungkin nggak bisa menerangi dalam cakupan yang luas, namun kita masih punya chance untuk menerangi jalan beberapa orang di sekitar kita. Hehehe, dan setuju sama mas Anton, meski nggak banyak, it's better than nothing 😍 Amiiiin mas Anton, semoga kita bisa terus jadi lentera untuk orang yang kita kenal πŸ’•

      Delete
    2. kalau di Bogor sih ga ada bakso ikan. Campurannya seingat saya tahu mentah, mie, toge, dan oncom merah yang direndem air panas supaya layu.. baru kemudian diberi kuah santan kental dan berbau daun kemangi..wanginya itu.

      Saya sama si Yayang beberapa kali nongkrong di pinggir jalan Gang Aut di warung tenda Laksa Bogor ini.. Rasanya maknyuss... hahahahah.. paling enak dan paling mirip laksa Bogor masa lalu... Ueenaak.. asal mau nongkrong di pinggir jalan.

      Yah, let's do our best ya Eno...

      Delete
    3. Beda berarti ya mas, pakai oncooom, wuih saya selama ini makan oncom hanya kalau ditaruh dalam combro πŸ˜‚ Enak banget ituuuu, jadi ingin coba oncom dicampur Laksa, akan kayak apa rasanya. Barusan Googling, warnanya kuning mirip kuah Ayam gulai di warung Padang 😍 Kalau Laksa Singapore agak merah soalnya πŸ˜†

      Thank you rekomendasinya, mas πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  8. Ini sih yang ditakutkan dari sebuah pandemi. Selain masalah kesehatan, pandemi juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Mulai dari sosial, ekonomi, budaya, keamanan, hingga politik. Iyaa, masalah kesehatan tapi diselesaikan secara politik...heuheeuu

    Kedepannya bakal banyak hal yang berubah. Wajar, karena perubahan akan selalu terjadi.

    Selamat hari senin mbak eno πŸ₯³

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi merembet ya mas, semua kena 😭

      Semoga para pemangku kebijakan bisa mengambil keputusan terbaik untuk seluruh masyarakat Indonesia, dan membuat kita semua merasa aman πŸ’•

      Selamat hari Senin, mas Rivai πŸ₯³

      Delete
  9. ngelihat foto-foto makanannya auto ngiler 🀀

    aku pun setiap keluar juga sedih ngeliat beberapa toko yang tutup. apalagi pkl yang biasa rame jadi sepi pelanggan.

    semoga wabah ini segera berlalu dan kita semua tetap bisa saling menjaga 🌻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enaks mba Dea, coba yaaa pankapan 😍

      Iya mba, yang biasanya ramai, satu persatu tutup karena sudah kehilangan pelanggan. Rasanya sedih hati saya, karena nggak bisa lakukan banyak 🀧

      Amiiin mba, sehat selalu, mba Dea πŸ’•

      Delete
  10. Ada teman-teman di Bali yang menuntut supaya pariwisata di Bali dibuka bebas lagi. Saya awalnya kek ngernyit gitu Mbak, karena kenapa membuka pintu risiko? Tapi jelaslah kalau ada permintaan itu, karena hampir sebagian besar pendapatan orang Bali terikat dengan industri pariwisata ya...

    Kangen juga ke Bali :( lihat foto2 di atas sepi rasanya aneh banget apalagi tempat-tempat makan yang tutup. Padahal biasanya rame banget sama orang jalan-jalan mondar-mandir ya. Macet sih, tapi somehow emang jadi ciri khas tersendiri πŸ™‚

    ya, meskipun pariwisata Bali juga membawa aspek negatif yang sampai sekarang masih bikin mutermuter, nggak bisa dipungkiri memang pariwisata juga yang membawa penghasilan untuk mayoritas orang Bali.

    ngiler banget liat spring rollsnya πŸ˜–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, di Bali, mayoritas pendapatan penduduk lokalnya dari pariwisata, atau terkoneksi dengan wisatawan. Jadi terasa betul dampaknya 🀧 Salah satu contoh sederhana itu driver turis, yang dulu kerjasama dengan saya untuk antar tamu villa yang mau liburan. Sejak Corona, driver ini nggak punya pemasukan, tapi setiap bulan, harus terus bayar operasional plus cicilan untuk mobil-mobilnya 😞

      Coba buat sendiri mba Mega, super gampangggg πŸ˜†

      Delete
  11. Ya ampun sepi banget jadinya😭 semoga pandemi ini segera berakhir dan dunia bisa pulih kembali🌸 makasih Kak Eno postingannya ngasih informasi apa yang terjadi di tempat-tempat yang aku nggak tau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin mba Endah, semoga yaaaa, soon, semua akan kembali normal 😞

      Delete
  12. Aku bisa bayangin gimana Bali sejak pandemi ini :(. Akupun sedih liat banyak resto yg tutup Krn pengunjungnya berkurang drastis. Di JKT, ada bbrp resto kesayanganku juga ga bisa beroperasi lagi, padahal mereka termasuk restoran gede.

    Semoga aja vaksin ini cepet merata, dan Bali bisa bangkit. Yakiiiin, Bali pasti bisa ;D.

    Referensi restorannya aku save dulu mba.

    Itu masakannya kesukaanku semuaaaaaa hahahaha. Tp td liat penampakan char kwe tiaw ala penangnya aku pengeeeeeeennnnnnnnnn. Ini favorit banget zaman kuliah :D. Pokoknya jajan di kafe kampus, pesananku pasti char kwe tiaw. Ga tau, rasa kwe tiawnya Penang itu beda aja. Ada wangi2 smokeynyaaa :D.

    Trus itu lumpia Vietnam aku juga doyaaan. Segeeer liat sayurannya Ama isian di dalam :D. Sayang di Jakarta agak susah Nemu yg beneran enak. Dulu ada yg jual, enak, di pasar Santa. Tp tutup :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin mba, semoga semoga semoga, hanya bisa mendoakan sekarang. Semoga siapapun yang terkena dampak Corona bisa bangkit ke depannya πŸ’•

      Hahahahaha, masakan ASEAN enak-enak yaaa mba 😍 Dan Char Kwetiaw Penang ini rasanya memang beda, terus porsi di Lantern pas, nggak too much πŸ˜† By the way, coba buat mbaaa spring roll-nya. Kapan hari, mba saya pernah coba, gampang ternyata πŸ™ˆ Nanti pankapan saya share resepnya. Siapa tau mba Fanny minat 😍

      Delete
  13. aku sukak sama namanya "Lantern" dannn ada tentunya si owner punya filosofi yang menarik di balik nama cafenya

    aku NOTED dulu nih tempat, semogaaa bisa kesana. Itu char kwetiaunya omaigodddddd jadi keinget Penang waktu liat potonya. Ngiler dulu aja ahh hahaha

    hiks, sepi bener ya mbak, sedih akutu
    biasanya lalu lalang kendaraan war wer ae ya, ini nyebrang jalan santuy masih bisa.
    yang dibilang mbak eno soal pekerja yang kerja di Bali ada pengurangan dan mungkin ada yang resign, memang bener adanya. Dan aku denger dari temen juga di Jember sini, sampe buka usaha sendiri disini, karena di Bali pendapatan turun juga. Temennya temen ini kerja di bidang tourism.

    Banyak warga Jember yang kerja di Bali sana, dan nggak hanya satu atau dua orang saja yang akhirnya memutuskan untuk pulang kampung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ainun, simpan dulu namanya siapa tau bisa berkunjung ke sana, dan coba menu-menu ASEAN mereka yang rasanya juarak. Enak-enaaaaaks 😍

      Nah mbaaa, salah satu mba saya itu orang Jember, dan mba saya bilang beberapa temannya yang merantau ke Bali ended up pulang kampung semua karena hilang pekerjaan. Sedih dengarnya 😭 Kalau masih ada modal untuk usaha di kampung masih okay, namun kalau nggak ada, nggak kebayang bagaimana mereka survive menghadapi Corona 😞 Semoga ini segera berakhir ya, mba πŸ’•

      Delete
  14. Kalo Bali dengan daya tarik wisatanya, pasti akan sangat keliatan dampaknya pas corona seperti ini. Semoga corona ini segera berakhir dan pariwisata kembali mengggeliat termasuk di Bali, dan mungkin akupun akan bisa berkunjung ke Bali, ke rumah kak Eno.

    tok..tok..tok... *ceritanya aku yg ketuk pintu rumah kak Eno
    "punten... punten... kak Enonya ada?" *yakali pake punten, macam di Bandung aja

    trus ga ada yg keluar karena kak Eno lagi sibuk nonton traveling, lagi maen ke Selandia baru, dan hyung kesayangannya lagi pake headset dengerin lagu sambil kerja. dan mbak asistennya pada ketiduran.

    Lalu akupun pulang lagi ke Bandung dengan kehampaan ga ketemu kak Eno di Bali.

    dan begitulah intermezzonya biar komenku keliatan panjang, kak... maaf yaaa πŸ˜…

    -----
    Btw, aku belum pernah nyobain laksa, tapi sering denger....heuheuheu... someday deh *catet dulu ah

    Iya kak Eno, semoga kita dengan apapun kapasitas dan peran kita dalam hidup ini bisa menjadi lentera yang bukan hanya menerangi diri sendiri tapi orang-orang di sekitar kita juga.
    karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sekitarnya. itu seharusnya jadi goal setiap orang kan yaa...

    Oke deh kak Eno, komenku sepertinya sudah cukup panjang, terima kasih banyak noona yang paling cantikkkk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. OPO TOOOOH IKI, hahahaha 🀣 Ngakak uwe bacanya ~

      Yakaleee nggak kedengaran ada yang ketok pintu, tenang Dy, kami nggak separah itu kok pendengarannya πŸ˜† Kecuali sedang tidur yaaa, nah, bisa tuh nggak kedengaran. Mau ada petir menyambar di luar pun nggak akan sadar kayaknya πŸ€ͺ

      Semoga Ady bisa coba Laksa, mungkin di Bali, atau negaranya langsung di Singapura sana 😍 Dan setuju sama Ady, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberi manfaat untuk sekitarnya. Eniho, terima kasih komennya πŸ˜‚

      Delete
    2. hehehehe... ya namanya juga ngayal mbak, aku memposisikan kak Eno dan orang di rumah sebagai yg pada sibuk aja gitu, biar dramanya dapet, hahahaha...

      Bayangin aja, aku jauh-jauh ke Bali, trus ngetok pintu kak Eno dan ga ada. padahal... rumah kak Eno aja aku ga tahuuuu... trus gue ngetok pintu siapa di khayalan gueee sendiri??

      Delete
    3. I knowww, hahaha, hanya becanda saya, Dy 🀣

      Mungkin pintu yang Ady bayangkan ternyata betulan mirip pintu rumah saya. Secara Ady anak visual, kayaknya pintu rumah saya jadi bagus gambarannya 😍

      Delete
  15. Di Bali yang mengandalkan wisatawan memang pengaruhnya sangat besar, jualan otomatis pada sepi ya mbak, turut sedih juga melihatnya. Cuma sisi positifnya ialah jalanan sekarang jadi tidak pada macet ya.

    Mbak Eno datang nya pagi pagi biar tidak bertemu banyak orang, oh ternyata malah sepi. Semoga saja tahun ini korona sudah hilang, semoga lebaran ini juga boleh mudik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, jualan jadi sepi, alhasil banyak yang gulung tikar 😞

      Saya datang pagi, harapannya cuma ada satu dua orang. Tapi ternyata nggak ada orang sama sekali, dan memang sepi seharian kata pekerjannya 🀧

      Amin mas, semoga yaaa ~

      Delete
  16. Sepi sekali itu mah. Di sini, setengah tahun pertama semua orang pusing. Apalagi yang mengandalkan hidup di jalan, biasanya mesti disuruh tutup dan berhenti jualan karena pada masa itu PSBB masih marak diberlakukan kak Eno.

    Memang jadi dilematis besar juga. Mau PSBB atau lockdown biar memutus penyeberan corona, tapi tidak semua orang punya privilege untuk bisa diam di rumah setidaknya tiga-lima hari untuk PSBB.

    Dulu, ada opsi yang menarik yang dilakukan negara tetangga. Setiap keluarga yang PSBB, akan diberi jatah sembako agar tidak perlu memikirkan besok mau makan apa. Saya sempat kepikiran cara ini cukup efektif. Tapi pas tau dana bansos dikorupsi juga, saya heran bukan kepalang. Bisa-bisanya.

    Tapi sekarang, semua sudah berjalan lebih baik. Tidak sesepi dulu, tapi belum seramai saat sebelum pandemi. Semua tentu punya aturan dan protokol masing-masing. Dan benar, intinya jangan berhenti berharap dan saling menguatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Rahul, dilematis karena nggak semua punya privilege untuk stay di rumah saja ketika pandemi Corona. Well, kita nggak bisa berharap pemerintah lakukan hal serupa, even ketika berbagi sembako dan bantuan dana kala itu, ternyata uangnya banyak yang dipotong kata mba saya. Huhuhu, kasian makanya 😭

      Semoga keadaan di sana terus membaik mas, begitupun di sini, ya πŸ’•

      Delete
    2. Iya kak Eno, saya juga sempat dengar begitu. Jalan satu-satunya yah cuma itu, melakukan kenormalan baru dengan prokes yang sudah ditetapkan masing-masing daerah.

      Aamiin kak Eno. Doa terbaik untuk kita semua

      Delete
    3. Amiiiin, selalu taat prokes mas Rahul, di manapun berada πŸ˜πŸ‘

      Delete
  17. Hiksss sedih banget lihat jalanan Seminyak sekosong melompong gini 😭 padahal biasa penuh parkiran motor dan orang-orang yang berjalan kaki ya, Mbaa. Apalagi dengar pegawai Lantern sendiri ngomong seperti itu, sedihh banget, entah gimana mereka berjuang selama pandemi ini. Semoga coronce cepat hilang, pariwisata di Bali juga cepat pulih kembali *aminnn* πŸ™πŸΌ

    Eniweii, aku lihat foto penampakan di atas langsung keingat mama yang suka bangetttt makan laksa! πŸ˜† Kebetulan aku nggak pernah makan asian food di daerah Seminyak, Mbaa. Kayaknya boleh deh nih sekali-kali rekomendasiin mama papa ke sini, mana itu Thai Tea nya menggoda sekali, warnanya oren pekat 😍

    Makasih Mba Enoo untuk review-nya! Semoga pankapan kalau ke Bali lagi bisa nyobain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Parah mbaaa, biasanya sampai macet, ini bahkan kita mau foto di tengah jalan pun bisa karena sebegitu sepinya. Hanya satu dua mobil dan motor lewat 🀧 Yang pasti, untuk survive nggak mudah, baik bagi owner dan pekerjanya 😭

      Wah mama mba Jane suka Laksa? Coba ajak ke Lantern mbaaa, Thai Tea-nya enak, in general semua makanan mereka enak dan rasanya pas 😍 Mereka punya banyak menu ASEAN, hihihi, kayaknya mba Jane akan suka 🀣

      Delete
  18. It's so sad... the place where it used to be so crowded and occupied with traffic jam now is quiet and empty. There are also places become abandoned. Although it's sad. I hope they will survive and manage their living. Health is number one too..

    Wow in Latern restaurant we can eat all various Asean cuisines for 50k? Is it including tax and services, anyway..? How about the beverages? Thai tea looks yum and fresh! Do they provide various ASEAN drinks too? How about the prices of the beverages? This restaurant is just like one stop Asean resto :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin, hopefully, semua bisa survive ya mba, minimal untuk basic needs mereka seperti makan dan tempat tinggal 🀧 Sedih seriously lihatnyaaaa ~

      Iyaaa mba, tapi harganya diluar tax and services seingat saya πŸ™ˆ Cuma lupa berapa tax and services-nya, maybe around 15% kalau ditotal huehehehe. Nah, untuk minuman mulai dari IDR 30.000 sepertinya. Lupaaa huhuhu maafkan 🀣

      Yang pasti mereka jual banyak menu makanan ASEAN, while untuk menu minumannya nggak begitu banyak pilihan. However, mba Intan should try Thai Tea mereka jika ada kesempatan 😍 Maybe mba Intan akan menyukainya πŸ’•

      Delete
  19. huhuhuhu, sedih ya Mbak Eno lihatnya. Bulan-bulan awal pandemi aku suka lihat vlog youtuber yang infoin jalanan di Bali yang jadi sepi banget, toko-toko pada tutup.:(
    Semoga pandemi ini cepat berlalu dan perlahan-lahan bisa kembali ke situasi sebelumnya ya, Mbak Eno.

    Wah tempat makannya boleh masuk list nih, kumplit tinggal pilih jadi semua kebagian seleranya ya, Mbak Eno.:D
    Kangen Bali, kangen dengar deburan ombak sama aroma pantai. Sementara dengerin dari spotify dulu buat mengobati rindu, Mbak Eno.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih mba Wulan, sampai sekarang pun sepertinya nggak banyak perubahan. Tetap sepi dan semakin banyak yang tutup karena nggak mampu bertahan 🀧

      Amiiin mba, kita bantu doa agar mereka dikuatkan πŸ’• Dan jika mba Wulan ada kesempatan mampir Bali, mungkin bisa coba makan di Lantern, especially apabila mba Wulan suka menu-menu ASEAN hohoho. Lengkaaap semua 😍

      Soon, wish bisa balik Bali, mba πŸ₯³

      Delete
  20. Citarasa makanan Korea kayaknya cocok sama citarasa Vietnam ya, sama-sama nggak terlalu berbumbu. Aku sendiri kurang cocok sama pho, meski ya bakal bisa makan juga.

    Bali terdampak banget ya, No? Di Bandung atau Jogja sini masih cukup rame tempat-tempat makan kayak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal menurut saya, Pho ini termasuk makanan yang pakai buanyak bingits rempah mas πŸ˜‚ Hehehehe, iya mas Nugie, Bali sangat terdampak oleh Corona 😞

      Delete
  21. Dari ngiler liat makanannya, sampai akhirnya sedih liat yang terjadi ya.
    Kadang kalau lagi macet, pengennya jangan macet gitu, enak kalau sepi nggak ngabisin waktu di jalan, tanpa kita sadari, macet juga sebagai pertanda kalau ekonomi berputar dengan baik.

    Sama kayak keadaan kota besar saat liburan panjang, kayak lebaran, rasanya enak aja gitu menikmati keadaan yang lebih lengang, dan udara bersih.

    Tapiiii, astaga mau cari apa-apa susah, pada tutup hahaha.
    Jadi semua memang ada plus minusnya ya.

    Dan membaca kenyataan itu, rasanya malu pengen mengeluh, karena sesusah-susahnya saya, setidaknya masih bisa makan, huhuhu.

    Semoga semua yang kehilangan pekerjaan, bisa terus bersemangat dan selalu mendapatkan rezeki dari arah mana saja, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, pada satu sisi, kadang ingin nggak macet, namun sekarang, setelah lihat betapa matinya perekonomian, jadi berharap semoga bisa segera macet 🀧

      Huahahaha, mungkin di Bali seperti libur Nyepi yaa, semua tutup, jadi kitanya harus siap sedia makanan dari satu hari sebelumnya πŸ˜† Kalau libur lebaran dan libur natal justru membludaaaak, banyak turis berdatangan untuk liburan πŸ₯³

      Amiiin mba, semoga semua bisa tetap semangat 😁 You too ya, mba πŸ’•

      Delete