Why Not? | CREAMENO

Pages

Why Not?

Kenapa pilih tetap bekerja (doing business) --- padahal pemasukan si kesayangan sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan hidup berdua? Gue lumayan sering ditanya begini, biasanya pakai embel-embel, better fokus punya anak *eaaaaaakh* πŸ™ˆ Wk. Dulu gue pernah tulis pada post lama, kalau rencana punya anak belum ada dalam waktu dekat (dan lama), karena menurut gue, nggak semua orang bisa tanggung jawab membesarkan seorang anak, salah duanya kami berdua. Iya, kami rasa kami belum bisa, though ada yang bilang coba dulu, tapi punya anak bukan untuk coba-coba πŸ˜†

Gue mungkin seorang kakak, adik, anak, saudara, teman, pasangan yang baik, tapi gue belum bisa jadi Ibu yang baik, karena menurut gue jadi Ibu bukan title yang bisa dipegang semua wanita, dan Ibu itu sosok sangat mulia 😍 Thankfully, keluarga gue dan keluarga si kesayangan nggak pernah rewel tanya soal anak. Mungkin mereka pikir percuma tanya, sebab gue dan si kesayangan kalau sudah punya keputusan akan stick dengan keputusan yang ada, hahahahaha πŸ™ˆ

🐰🐰🐰

Eniho, menjawab pertanyaan, kenapa gue pilih tetap bekerja? Karena meski gue nggak punya anak kandung yang perlu gue besarkan, gue tetap punya tanggungan 😁✌ Yang utama, ada household staff (mas-mba) gue, anak-anak asuh gue, anak-anaknya staff gue, dan keluarga besar staff gue, as you know, beberapa staff masuk sandwich generation yang menopang hidup keluarga besarnya. Seperti mba gue yang menopang.. sebentar gue hitung dulu.. hm, 9 orang kalau nggak salah (ortu, kakak, anak kakaknya, keluarga adik, dan mbah - diluar anak dan suaminya). Banyak, kan? 🀧

Jadi gue tetap bekerja, selain karena gue merasa masih muda *azik!* πŸ€ͺ dan masih punya tenaga untuk kumpulkan uang, sebenarnya alasan utama gue karena ingin bisa bermanfaat untuk orang-orang yang menggantungkan hidupnya ke gue, agar minimal, mereka bisa punya kehidupan yang layak, dan menjalani hidup di-tengah masyarakat dengan rasa percaya diri akan kualitas mereka. Dan gue ingin, siapapun yang kerja sama gue, punya rasa proud and pride akan pekerjaannya. Itu saja 😁 Kedengarannya gampang, namun faktanya susah, kalau gue nggak kerja, bagaimana nasib mereka? Itu akan merembet kebanyak aspek lainnya, that's why, gue pilih tetap bekerja πŸ™ˆ

🐰🐰🐰

Jujur genks, untuk urusan relationship dengan para household staff, sepertinya gue ini kinda lucky 🀣 Karena belum pernah ada satu orang pun staff yang resign sejak kerja sama gue, hehehe. Gue merasa disayang mereka dan dianggap keluarga --- Mungkin karena itu, mereka keep giving their best untuk gueh 😍 Dan kalau mau di-list satu-persatu, rasanya nggak cukup untuk rekap semua kebaikan mereka. Gue jadi ingat, suatu hari, gue dan si kesayangan sudah sampai bandara diantar driver, eh ternyata jam tangan si kesayangan ketinggalan, situasi saat itu sedang hujan, berhubung jam tangan sangat penting, mba gue sampai naik motor hujan-hujanan untuk antar πŸ˜‚

Terus dilain waktu, kepala gue sakit, nggak tau kenapa, capek kayaknya, sakitnya tuuuuh semacam dijitak seribu orang hahahaha. Mba gue coba telepon Ibu massage yang biasa handle gue tapi Ibu massage lagi kerja di SPA, akhirnya mba gue browsing cara pijat kepala yang baik dan benar πŸ€£πŸ‘ Seriously, efforts-nya itu yang sering membuat gue terkesan πŸ™ˆ Mantaaap bangat! Mereka bahkan hapal hal-hal kecil seperti gue suka susu A, suka juice B, suka Yakult, komposisi gue setiap makan chia pudding berapa, kalau telur dadar yang gue suka takarannya bagaimana --- dan nggak cuma gue doang, tapi mereka juga hapal hal-hal kecil related to si kesayangan 😁

🐰🐰🐰

Terus kemarin siang, mba gue iseng tanya, "Mba suka rambutan?" yang gue jawab dengan, "Sukaa, tapi malas makan." dan tau nggak, mba gue bilang apa? -- "Pasti karena nggak mau kupas, ya?" 🀣 Wk. Alhasil hari ini mba gue kasih rambutan sudah bersih tanpa kulit dan bijinya πŸ˜† hahahahahaa. Kocak! Memang deh mba-mba gue juaraaaaaaak. Kalau kata si kesayangan, NUNCHI ISSOO *yang artinya peka bingits jadi orang* πŸ˜‚ Bagaimana caranya gue nggak sayang cobaaaak huhuhu, yang ada gue tambah semangat kerja, genks. Mana anak-anak mereka menggemaskan semuaaaa πŸ™ˆ

Setiap liburan ke Bali, suka dekat gue dan si kesayangan. Kadang ketika gue abroad, mereka tanya kapan gue dan si kesayangan pulang πŸ˜‚ Oh dan ada satu yang lucuuuuk, ini pengalaman pertama gue hahahaha *sebentar ketawa dulu* πŸ€ͺ Ceritanya, waktu itu anaknya mba gue, cowok usianya 4 tahunan, lagi main dekat gue dan si kesayangan, while ibunya (mba gue) bersihkan rumah. Laluuu tiba-tiba, anaknya mba gue bilang, "Tante, aku kebelet pipis, nih." dan gue pun langsung, "Ha? Bisa pipis sendiri, nggak?" 😱 Seumur hidup gue belum pernah bantu anak kecil buang air, omaygaaad.

Dia jawab, "Bisa Tante, tapi susah bukanya." --- gue langsung buru-buru bantu buka celananya dan antar dia ke kamar mandi, lalu dia naik tuuh ke closet, dan nggak lama kemudian dia teriak, "Tante ini bagaimana cucinya? Airnya mana?" yang membuat gue kebingungan hahahahaha. Gue panggil si kesayangan, "Hoon, come here." --- si kesayangan pun kucluk kucluk datang, "Help! I dunno what should I do." lanjut gue. Wk 🀣 Sambil berbisik gue menambahkan, "Hon, jangan disemprot, nanti kalau sakit bagaimana?" maklum, asumsi gue semprotan kamar mandi punya tekanan kencang πŸ˜†

Si kesayangan balas, "Terus? Gendong dan bawa ke wastafel?" tanya dia πŸ˜‚ hahahahahahaha. Gue mengangguk, "Iyaaa, kayaknya bawa ke wastafel, deh. Apa gue browsing dulu?" gue balik tanya πŸ™ˆ Dan si kesayangan jawab, "Nggak usah, kelamaan ~ Gendong ke wastafel, nanti bersihkan pakai air keran." yang membuat gue syoook, "Whats? Pegang-pegang?" 🀣 Dan si kesayangan mengangguk. Akhirnya kami gendong ke wastafel, sambil adu pandang kasih kode, "Lu ya yang bersihkan." πŸ˜†

Asli ini epic, for the first time in my life, bantu anak kecil bersihkan diri. What an experience~! Kelar bersihkan, mba gue datang, gue cerita, dan mba gue ketawa 🀣 Katanya gue bisa kasih beberapa guyuran air pakai gelas (gue nggak ada gayung), nanti anaknya bersihkan sendiri pakai tangan. Yaa malih meneketehe. Ngemeng dong mbaaaaa πŸ˜† Huhuhu. Gue nggak kepikiran jauh ke sana, panik duluan sis, takut salah, nanti anaknya kenapa-napa, berabe jadinya. Hahaha. Nggak lama habis itu, si kesayangan bilang, "닀행이닀 (thank God), kita nggak punya anak." Wk. Dasar koplak πŸ€ͺ

🐰🐰🐰

Gue dan si kesayangan sama-sama tau diri, kami mungkin cukup oke kalau urusan cari uang, tapi nggak cukup oke untuk urusan membesarkan anak. Karena itu kami pilih anak asuh, karena tugas kami lebih ke sisi finansial dan support edukasi mereka yang berprestasi dengan harapan mereka bisa jadi generasi penerus bangsa yang lebih baik dari generasi sebelumnya πŸ˜† Hehehe. Doakan if one day, gue punya anak, semoga gue mampu besarkan dengan baik bersama si kesayangan, but, jika pada akhirnya nggak punya, semoga kami tetap bermanfaat untuk anak-anak di luar sana 😁

74 comments:

  1. tanggal 1, hari senin, hari yang melewati hari yang melelahkan kemudian dapat cerita lucu dari mbak eno. eh, yang lucu beberapa paragraf terakhir. Yang awal cukup inspiratif, bisa dapat pandangan baru..hhehhehe

    Pengalaman mirip sih, aku punya 3 keponakan (usianya 7,6, dan 1th). Pas kecil juga sering bantu ngerawat. Pernah bantu mandiin juga. Kalau sekarang sering main dan belajar bareng..hehhehehe
    Ehm, tahun ini pengen ngajak mereka berdua piknik ke luar kota. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. I can relate mas Rivai πŸ˜‹

      Delete
    2. Hehehehe, selamat menjalani hari Senin, mas *eh hari Seninnya sudah mau habis, hahahahaha* Kalau begitu selamat menjelang hari Selasa πŸ€ͺ

      Terima kasih sudah meluangkan waktu mampir blog saya πŸ˜† By the way, keponakan mas Rivai itu anak dari kakak mas Rivai, ya? Usia segitu sedang lucuk-lucuknya pasti hihihi, semoga tahun ini terlaksana rencana pikniknya 😍

      Nanti cerita, yaaa πŸ₯³

      Delete
    3. Mas Rahul punya adik kecil juga, kan? 😁

      Delete
    4. @CREAMENO: Itungannya sudah ngga kecil itu kak Eno πŸ˜… Tapi saya punya cukup banyak tetangga yang punya anak kecil. Saya sering main sama mereka. Karena kebanyakan laki-laki, dalam kepala saya sering terbersit,"kayaknya kalo saya ajarin mereka jadi anak laki-laki yang tangguh boljug nih" πŸ˜†

      Maksudnya, saya gembleng mereka untuk main bole atau main mobil-mobilan yang didorong misalnya 😁 Itu semacam cara saya menghabiskan sore hari sebelum mandi

      Delete
    5. Yang bungsu umur berapa memang, mas? 😁

      Enaknya tinggal di area yang banyak anak kecilnya, seru bisa main dan ajarkan mereka. Hahahaha, jadi ingat jaman bocah, di komplek tempat tinggal ortu saya juga banyak anak-anak. Senang main saat pulang sekolah πŸ™ˆ

      By the way, jangan-jangan mas Rahul idola anak-anak tetangga, ya? 😍 Mana tau mereka diam-diam bilang, "Itu lho, bang Rahul yang jago main bola." πŸ˜†

      Delete
    6. Yang bungsu sudah kelas enam SD. Bentar lagi masuk SMP.

      Masa kecil saya dulu seperti itu, belum ada gadget-gadgetan. Taunya main kelereng, sepak bola dengan sandal sebagai tiang gawang, atau main layangan πŸ˜†

      Iya, saya kayak jadi abang-abangannya mereka di sini. Mungkin kalo SD, ada yang gangguin, mereka lapornya ke saya πŸ˜…

      Delete
    7. Wah lagi sibuk mau ujian akhir sekolah, dong? 😁

      Sama kita, masa kecilnya tanpa gadget, setiap hari, pulang sekolah langsung ganti baju terus main ke luar sama teman-teman 🀣 hehehehehe. Mainnya nggak jauh dari aktivitas yang mengeluarkan keringat dan tenaga πŸ˜†

      Well, bisa jadi saat mereka puber nanti, curhatnya ke mas Rahul 😜

      Delete
    8. Iya, dia setiap pagi selalu stay on hape untuk kerja tugas-tugas sementara saya di kamar zoom meeting. Biasalah, kehidupan masa pandemi πŸ˜†

      Kak Eno tipe anak yang suka diajakan teman atau ngajakin? Terus kalo manggil pake template "Eno.. Main yuk.. "? πŸ˜…

      Jadi makin ngga sabar ada difase itu πŸ˜†

      Delete
    9. Nggak kebayang, akan ada masa di mana anak SD kerjakan tugas di rumah karena pandemi, thank God, sekarang ada tekhnologi, yaa. Semoga lancar ujiannya untuk adik mas Rahul dan semoga lancar tugasnya untuk mas πŸ₯³

      Saya keduanya, kadang saya yang ajak, kadang teman yang ajak 🀣 Biasanya teriak dari depan pagar, ada nadanya, seperti ini, "Eee~nooo, main yuuk~" πŸ€ͺ

      Jangan cepat besar wahai anak-anak. Berat bebannya πŸ˜†

      Delete
    10. Iya, untungnya fasilitas sudah memadai meski belum meratai.

      Pernah jadi bagian dari era itu, bikin saya bangga πŸ˜† Dan benar, ada nada-nadanya πŸ˜… Kadang yang keluar bapaknya, terus langsung diam. Pas ditanya, jawabnya pasti,"Enonya ada Om?" πŸ˜…

      Ah, iya. Baik untuk saya, belum tentu baik untuk mereka 😁

      Delete
    11. Hahahaha, kalau bapaknya yang ke luar, pertanyaannya persis kayak yang mas Rahul bilang, "Rahulnya ada Om?" Template semua anak kayaknya, yaaa. Lain cerita dengan anak sekarang, macam keponakan saya, tinggal chat langsung ke luar. Kadang orang tuanya yang di rumah nggak tau siapa yang datang. Wk 🀣

      Baiknya untuk mas apa? Jadi penasehat resmi mereka? πŸ˜† Kiw ~

      Delete
    12. Kadang abis bilang itu kepala serentak nunduk dan saling liat-liatan nunggu jawaban πŸ˜† Padahal mungkin dalam hati Bapaknya,"seru juga liat anak kecil ketakutan" πŸ˜…

      Iya, bayangan saya jadi abang-abangan mereka itu terlihat keren. Jempuat mereka ke sekolah atau tempat les. Berasa jadi sugar daddy πŸ˜‚

      Delete
    13. Aneh ya, pasti selalu takut kalau bapaknya yang ke luar. Padahal kalau Ibunya yang ke luar biasa saja, nggak semenyeramkan itu, hehehehehe 🀣 Biasanya saat teman kita muncul, nanti kita bisik-bisik bilang, "Bapak lu seram amat." πŸ˜†

      Duh mas Rahul, masa mau jadi sugar daddy *eh* πŸ€ͺ
      Kenapa jemput ke sekolah itu keren? Kayak Dilan gitu? πŸ™ˆ

      Delete
    14. Karena secara tampilan biasanya Bapaknya lebih nyeremin. Pake sarung, baju kutang, sambil bicara pake nada berat πŸ˜†

      Masa Dilan sih kak Eno πŸ˜† Dilan mah jemput cewek, saya mah paling jemputnya keponakan atau adik πŸ˜„

      Delete
    15. Itu bapaknya siapa pakai kutang, mas? 🀣
      Berarti kalau bukan Dilan, kayak babang Gojek? 😍

      Delete
  2. Bentar mba.. tak lanjut ketawa dulu.. Hahahahahahahahaha πŸ˜‚πŸ˜‚ Ya Ampun Mba lucu banget..

    Soalnya sama Mba Eno, saya juga pernah ngalamin itu dulu.. Waktu disuruh jaga keponakan. Umur 2 tahun baru bisa jalan, baru cerewet nggk jelas, masih pke pempers..
    Saya ditinggal sendirian sama keponakan saya drumah.. terus ehh si doi Poop.. ya ampun saya smpe bingung mba harus gimana.. anaknya mana udah nangis2 nggk nyaman..
    Yah akhirnya saya beraniin diri buat ngurusnya.. hahah.. tapi jadi pengalaman banget.. heheh.. skrang doi udh umur 4 tahun.. Udah punya adek satu yg tiap malam pasti begadang... 😁😁

    Mba Eno beruntung banget bisa di kelilingi sama orang2 yg sayang sama Mba Eno.. yah benar kata pepatah 'Kebaikan akan selalu kembali dengan kebaikan..' 😁

    Makasih mba buat ceritanya..😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mas, ketawa sepuasnya mumpung nggak bayar πŸ€ͺ

      Nah kaaan, panik pasti kaaan. Wk. Mana anak kecil kadang kita nggak tau ini too much atau nggak, apalagi bayi, aduuuaduuu takut kenapa-napa πŸ™ˆ hehe. Pengalaman berharga sekali untuk kita, jadi tau next time harus bagaimana 😁

      Iya mas, I'm so luckyyy, dikelilingi orang-orang baik yang tulus dari hati, hehe, jadi saya keikut berusaha lebih baik. Sama-sama, thanks sudah baca, mas 😍

      Delete
  3. Kak Eno sudah nonton "Teman Tapi Menikah? 2" atau "Ngenest". Keduanya punya tema yang mirip dengan ketakutan kak Eno masalah membesarkan anak.

    Jadi pas baca cerita dan pandangan kak Eno berasa rewatch dua film itu πŸ˜†

    Tapi memang benar, beberapa orangtua cuma tau membiayai tapi tidak tau cara mendidik. Saya mau cerita banyak tapi saya tau diri ini bukan kapasitas saya. Pamit dulu πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum mas Rahul, hehehe, kayaknya yang merasakan ketakutan ini (besarkan anak) bukan hanya saya saja, banyak teman lainnya, however ada yang keep moving forward, dan ada yang pilih stay di tempat seperti saya 😁 hehehe.

      Nah kalau soal itu, saya pun nggak akan berkomentar karena bukan kapasitas saya, sebab saya belum jadi orang tua, so, nggak punya pengalaman πŸ˜†

      Delete
    2. Kalo kapan-kapan punya waktu, mungkin bisa jadi tontonan yang menyenangkan untuk nambah perspektif baru kak Eno 😁

      Iya, takut euy πŸ˜† Saya cuma mau bilang jadi orangtua itu pekerjaan yang tidak akan pernah selesai sampai kita mati. Tidak bisa benar-benar dipelajari dari teori dan manual book apapun. Itu murni dari rasa kepekaan orangtua untuk ngeliat anaknya,"oh anak saya ternyata maunya begini, butuhnya yang ini" bukan "liat anaknya pak Tio, dia bisa kok kamu tidak"

      Delete
    3. Baik~lah, terima kasih rekomendasinya, mas 😍

      Agree, jadi orang tua itu nggak mudah, jadi selagi kita punya orang tua pun sebisa mungkin kita menyayangi dan menjaga mereka 😁 Well, jangan sampai donggg kita membandingkan anak kita, apalagi dengan anak orang huhu 🀧

      Delete

  4. Haaaaaa??? Lucu ??? Jujur tari malah berniat bulan September habis tari ultah tari dan heum tari pengen melangsungkan pernikahan dan 3 bulan setelahnya pengen langsung isi mbak gak pengen lama - lama . Ya??? Tari tahu punya anak itu ribet tapi itu udah kodrat wanita jadi ya tari harus syukuri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, selamat mba Tari semoga lancar sampai hari H, dan semoga segera diberi momongan sesuai dengan apa yang mba Tari harapkan πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
    2. Mohon maaf mbak Eno??? Itu secret gift ya itu apa untuk peserta yang kalah lomba . Mohon dijawab . Terima kasih. # banyak nanya πŸ€«πŸ€­πŸ€­πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

      Delete
    3. Untuk teman-teman yang kasih komentar di Happy 300 posts, mba 😁 Ada mba Tari juga, sudah saya kirimkan secret gift-nya, mungkin besok / lusa tiba πŸ˜‰

      Delete
  5. Sumpah dah selalu menarik baca cerita mba Eno dan si kesayangannya.

    Perihal mau punya anak atau engga sih ya itu pilihan setiap pasangan, toh yg ngejalanin mereka dan emang si kadang ada aj orang yg usil dan memaksakan kehendak yang berlawanan. Tapi balik lagi itu semua yg memutuskan ya pasangan tersebut dan seharusnya tidak dapat diganggu gugat.

    Ih saya tuh dari tadi greget sendiri tau mba kan dia udah 4 tahunanbiar dia aja ygbersihin atuh wkwkwkw eh malah mba Eno yg bersihin hehehehe. Mana di wastafel lagi, malah sebelumnya pengen browsing dulu hahaha.

    Nih lagi ujan ujan ngejaga dagangan jadi senyum senyum sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehe terima kasih sudah luangkan waktu untuk baca, mas 🀣

      Iya mas, betul, kalau bisa, kita jangan mempertanyakan hal itu pada orang terdekat kita hehehe. Saya pribadi nggak masalah kalau ditanya atau ada yang bahas soal anak. Karena saya suka anak-anak cuma yaituuuu saya belum bisa untuk masuk tahap mendidik dan membesarkannya πŸ™ˆ hehehehehe ~

      Saya baru sadar maksud dia airnya mana itu dia minta air diguyur ke tangan dia, soalnya kamar mandi saya nggak ada air kayak gitu, pakai semprotan sistemnya πŸ˜† Jadi saya kira dia minta saya bantu bersihkan hahahahaha. Maklum newbie, mas πŸ˜‚ Yaaa kan kalau kita ragu, ada baiknya tanya mbah Google daripada salah πŸ€ͺ

      Di sana sedang hujan, yaaa? Asiknya 😍
      Semoga laris manis dagangan mas Ilham πŸ₯³

      Delete
  6. WKWKWKWK haduuuuu, ketawain orang dosa nggak sih? 🀣🀣 Tapi aku bayangin Kak Eno dan Oppa kocak banget saat panik terus bayangin pas tatap-tatapan salting 🀣🀣 kocaknyaaaaa 🀣
    Lalu akhirnya Oppa yang cebokin kah? πŸ˜‚

    Aku doakan supaya jika saatnya tiba, Kak Eno dan Oppa udah siap lahir dan batin menjadi orangtua 😁 aku yakin Kakak-kakak akan menjadi orangtua yang terbaik kelakkk 😍. Kak Eno nggak berminat menambah anak asuh? Aku pengin daftar dong πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak dosa asal jangan keras-keras 🀣 Wk.

      Yaaa jelas panik dooong, belum pernah belajar bagaimana caranya πŸ™ˆ Nggak sempat browsing pula. Jadi betul-betul ikuti kata hati saja, gendong ke wastafel dan bersihkan pakai air keran hehehehe. Tentu si kesayangan yang bersihkan πŸ˜†

      Amiiin sayang, thank you doanya 😍 Semoga kakak dan si kesayangan bisa. Sini boleh boleh, asal jangan minta jajan keseringan. Bokek nanti mamak πŸ€ͺ

      Delete
    2. Wkwk berarti aku aman πŸ™ˆ

      Meskipun nggak sempat browsing, tapi nalurinya udah ada ya, Kak πŸ€ͺ #plakkk

      Asikkkk! Asikkk! Untung aku anaknya nggak suka sering-sering minta jajan soalnya sekalinya minta jajan, harganya muahal πŸ€ͺ #kaborrr

      Delete
    3. sekalinya minta jajan bisa-bisa barang yang branded yaa kak Li?🀣🀣 wkwkwkw inimah aji mumpung ya namanyaπŸ˜†

      Delete
    4. Bukannya Lia lebih tua ya dari Kak Eno 🀣🀣 kabuur..

      Delete
    5. Iya Li, meski nggak tau naluri apa itu yang muncul 🀣 Wk.
      Lha dasar, sama juga boong dooong. Hahahaha πŸ€ͺ

      Delete
    6. Barang branded itu seperti apa, Awl? *polos* πŸ˜†

      Delete
    7. Mas Jaey: iya sebenarnya 🀭 *dijitak Lia*

      Delete
  7. Mba Eno numpang ketawa yaaa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ lucu banget kebayang itu kalian berdua heboh terus si anak cuma bengong πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ya ampun aku pernah diminta tolong megangin anak temenku sementara mama-papanya makan, terus anaknya muntah terus aku reflek teriak paniiikk hahaha untung si mamanya cepat tanggap langsung ambil alih anaknya bukan nyuruh aku ngurusin πŸ˜‚πŸ˜‚ Bener-bener yaa pekerjaan orangtua itu berat, lagi makan aja masih kelingan anak 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heboh banget, while anaknya bengong lihat kami berdua 🀣

      Iya mba, seriously, jadi orang tua itu nggak mudah. Always salut dengan teman-teman yang memutuskan untuk mengemban title tersebut. Karena butuh dedikasi luar biasa untuk membesarkan dan mendidik anak-anak πŸ˜πŸ’•

      Delete
  8. Yuk kita doakan semoga Mbak Eno dan si Kesayangan selalu diberikan kesehatan, panjang umur dan rezekinya berlimpah.Semoga selalu dimudahkan segala urusannya, serta diberikan keturunan yang soleh dan sholehah. Keturunan yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Keturunan yang menyejukan hati dan menyegarkan pandangan mata kedua orang tuanya, Keturunan yang juga membawa keselamatan di dunia dan Akhirat.Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin terima kasih banyak doanya, mas Nata 😁

      Delete
  9. Kak Enoooo, tau nggaaakk? Itu aku setiap cerita yang kak Eno tuliskan di atas sambil dibayangkan adegannya gimana🀣🀣 WKWKWKWK. Dimulai dari kupas rambutan sampe soal anakπŸ˜†

    Baca tulisan kak Eno jadi berasa baca novel kali yaaπŸ˜† membayangkan sosok kak Eno dan kesayangan terus mbaknya kak Eno yang sesuai dengan imajinasi akuπŸ˜†πŸ˜† Dan itu anak kecilnyaa, wkwkwkw, dia terheran-heran dan terkejut-kejut gak ya kak Eno bawa ke wastafel🀣 asli ini lucu bangaattssss. Kayaknya kalau aku baca post ini di rumah udah abis deh dicie2in, disangka lagi chattingan sama cowok karena senyam senyum terus🀣🀣🀣

    Maklum, postingan yang sebelumnya rada serius soalnya, membahas tentang mengatur uang. *Eh iyaa lupa belum komentar🀦🏻‍♀️

    Kalau begini, aku jadi membayangkan, gimana nanti yaa seandainya kak Eno punya anak, terus masih aktif dan ngeblog seperti mbak Jane, pasti tiap hari bakal ada cerita seru di rumah kak Eno🀣 wkwkwk lucu dan gemaasshh, padahal pas awal topiknya agak serius yaa kakπŸ˜‚πŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaahaha, pakai slow motion bayangkannya, Awl 🀣

      Aduuuuuh semoga dalam imajinasi Awl, kakak terlihat cantik yaa, kalau si kesayangan jelek nggak apa-apa. Wk πŸ€ͺ Yang pasti anaknya syoook, karena tiba-tiba digendong dan dibawa ke wastafel, tapi dia nggak bisa berkata-kata karena yang gendong si kesayangan dan si anak ini nggak bisa English πŸ˜‚ Kacau bangettt pokoknya πŸ™ˆ

      Mungkin jika kakak punya anak, akan rempong banget jadi mamak-mamak πŸ˜† Apalagi jika hidupnya di Jeju, jauh dari keluarga, maygad. Semoga jikalau kakak dapat rizki punya anak, kakak bisa merawatnya dengan baik, Awl 😁

      Delete
  10. Perasaan baru berapa menit yang lalu buka reader, belum ada postingan yang baru, berapa menit kemudian udah dua postingan aja, mba eno. Yang baru dipublished langsung rame pula. emang dah jadi tempat ngariungnya para blogger nih CRLand kayaknya :)))

    Punya anak itu kayak mengikat kontrak lahir-batin seumur hidup gitu ya, mba... jadi emang better dilakukan kalau sudah siap. Apalagi dgn saat ini jumlah penduduk bumi makin banyak plus anak yang 'terlantar' secara finansial maupun pendidikan makin banyak aja. Plus ditambah Corona gini, suka kasihan sm anak2 yang akses PJJnya kurang. Khawatir punya lost generation nih Indonesia... T_T

    Tapi meskipun begitu, ga tau kenapa saya sendiri kalau dikasi rejeki pengen sih punya anak sendiri. Walaupun kalau soal yakin siap atau ngga-nya, kemungkinan besar akan selalu ada perasaan khawatir. Tapi kalau dikasih, insyaAllah diusahakan utk mendidik dan membesarkan semampunya. Because God knows best, jadi kalau dikasi berarti dianggap mampu olehNya.

    terus kata rangorang:"ketemu jodohnya dulu, hey!" :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kan yaa, Mba Hicha. Basecamp anak-anak blogger nih CRLAND. Kapan-kapan cucurag aja kita? Siapa yang mau bawa konsumsi? 🀣

      Delete
    2. Hahahahaha, ayoooo kumpul, siapa yang mau bawa sambal, mba? 🀣

      Iya mba Hicha, punya anak itu semacam kontrak jangka panjang, tanggung jawabnya sangat besar, which is nggak mudah huhuhu ~ jadi betul-betul perlu dipikirkan untuk diri saya dan si kesayangan πŸ™ˆ Dan benar, semakin ke sini, semakin banyak anak terlantar, especially sejak Corona, jadi kelihatan banyak timpangnya 🀧

      Amiiiiin, semoga mba Hicha bisa segera dipertemukan dengan jodoh yang sesuai kriteria dan kepribadian mba, dan diberi momongan yang sehat 😍

      Delete
    3. Cucurag itu apa, mba Jane? πŸ˜†

      Delete
  11. hahaha... lucu banget sih kak Eno sama hyung kesayangannya.

    Tapi mungkin itu lebih karena belum berpengalaman aja kali ya, kalo udah punya pengalaman, mungkin mengurus anak ga akan se-riweuh itu, hahaha...

    tapi aku penasaran sama satu hal, dengan betapa sayangnya semua yang kerja sama kak Eno... berarti itu kan terbantu sama leadershipnya kak Eno juga ya.

    aku pengen tahu, gimana caranya jadi leader yang baik yang disayang sama 'anak buah' nya dan pastinya nurut aja kan kalo disuruh ini itu?

    karena aku yakin kalo aku blm punya leadership seperti itu.

    Thank you kak Eno untuk tulisannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Dy, karena belum punya pengalaman jadi bingung dan panik jadi satu semua, semoga jika sudah ada pengalaman, nggak akan sepayah itu jadinya πŸ™ˆ Well, kalau soal leadership, saya nggak bisa menilai diri saya, hahahaha.

      Tapi jika ditanya apa yang saya usahakan, yang pasti berusaha untuk paham dulu bahwa setiap staff punya karakter berbeda, jadi dipelajari karakternya, agar saya tau bagaimana bawa diri saya di depan mereka. Nggak bisa pukul rata, menurut saya pukul rata bersikap sama ke semua itu bukan berarti balance, karena balance yang saya tau jika kita bisa memberi sesuai porsi masing-masing personal 😁

      Saya juga kasih contoh, saya bekerja keras di depan mereka, jadi mereka tau, untuk survive, running dalam waktu lama, butuh efforts di dalamnya. Dan roda itu perlu dijalankan sama-sama, nggak bisa saya doang πŸ˜† Karena mereka lihat saya kerja keras agar usaha terus jalan, means agar mereka bisa tetap hidup layak, jadi mereka pun sadar kalau mereka perlu melakukan hal yang sama 😍

      Semangat Ady, saya pun masih meraba-raba, semoga one day, Ady bisa menemukan apa yang paling pas dengan gaya leadership Ady, yaaa πŸ₯³

      Delete
  12. Oh my god 🀭🀭🀭🀭

    Ya paling tidak skrg sudah tau kan caranya dan saya juga bisa belajar dari pengalaman mbak itu 🀭🀭

    Ya sudah jgn ditunda2 lagi, cepat bikin anak yang banyak, hihi.. πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada rencana punya anak πŸ˜„

      Delete
  13. Menurut saya nggak sopan deh yang bilang better fokus anak. Itu kan ranah pribadi banget. Memang itu kebiasaan masyarakat kita, ya... kadang demi rasa ingin tahu berlebihan dan merasa tahu, jadi tidak peka. Tidak ada keharusan menjelaskan apapun keputusan hidup yang mbak Eno pilih. We are not in your shoes.

    Malah menurut saya negara berkembang membutuhkan lebih banyak orang tua asuh dan angkat. Banyak anak terlantar di luar sana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sebaiknya kita nggak bicara seperti itu yaa, jadi pelajaran untuk saya, karena kadang terlalu ingin tau membuat kita crossing the line yang ada πŸ™ˆ Dan akhirnya seperti mba Phebie bilang, jadi nggak peka dan membuat 'jarak' πŸ˜†

      Thank you for the comment, mbaaaaa 😍 Lavvv ~

      Delete
  14. Mbaaa komenan aku masuk nggak ya? Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya yang ini, mba Sovia πŸ˜†

      Delete
  15. Mbaa Enoo, setuju dg pembahasannya kalau bisa bermanfaat buat orang lain bukan hanya dg punya anak. Justru dg Mba Eno sekrang malah jadi bisa bantu banyak orang yaa. Aku kaguum ^^ Semoga rejeki Mba Eno semakin melimpaah yaa.. bahagia selalu buat mba eno dan kesayangan..

    Trus aku ngakaak dong ketawa2 baca pengalaman mba eno di toilet bingung sama kesayangan. Hehehe.. Klo aku, udah tau lah ya klo aku suka banget anak kecil. Bahkan anak kecil yg baru ketemu sama aku bentar paling cuma sejam, bisa nangis jejeritan pas mau pisah sama aku. Sampe ga enak kadang sama orang tuanya. Pernah waktu aku masih kelas 5 SD, ada adik sepupu masih kecil maunya sama akuuu terus. Sampe maunya mandi sama aku juga, padahal kan aku ga tau cara mandiin balita gt. Trus aku sabunin seluruh badannya termasuk mukanya, dan dia nangis jejeritan karena matanya perih. Hahha. Mana aku ngerti dulu klo anak kecil pas mandi mukanya ga perlu disabunin kaan.. >.< Eh abis itu dia ttp ga kapok dong, masih tetep mau sama aku juga. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Thessa, thank you sudah merangkum maksud tulisan saya πŸ˜†

      Iyaaa, mba Thessa kayaknya memang idola anak-anak, pasti setiap anak kecil maunya dekat mba Thessa, sebab mba Thessa luwes orangnya 😍 Jangankan anak kecil, saya yang sudah besar pun mau dekat-dekat, mba hihihihi πŸ™ˆ

      Eniho, kalau saya dihadapkan dengan adik kecil yang jejeritan, mungkin saya langsung ikut menangis di tempat mba sambil jongkok hahahaha 🀣 Mba Thessa strong banget, huehe, nggak heran jika adik sepupu nggak kapok sama mba 😍

      Delete
    2. Kok aku seneng bgd dibilang luwes yaaa πŸ˜†πŸ˜† Terlepas dr aslinya kenyataannya seperti apa, aku seneng Mba eno menganggap aku begitu 😘😘
      Nangis di tempat sambil jongkok 🀣🀣🀣 oh god you really made my day mbaaaa πŸ˜‚

      Delete
    3. Iyaaa mba Thessa, kelihatan vibe-nya kalau mba Thessa tipe penyayang anak-anak, jadi yang tua seperti saya pun bawaannya mau menempel ke mba πŸ˜†

      Have a good day, mbaaaa sayang πŸ˜πŸ’•

      Delete
  16. Mba Enooo, rasanya baru kali ini deh aku mendengar alasan orang bekerja karena untuk membantu orang lain, hatimu terbuat dari apa tohh kok mulia sekali πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

    Tapi aku jadi mikir.. selama kita diberi kesehatan dan kecukupan secara materi, why we don't use that privilege to help people ya. Dan kurasa yang membuat para staff Mba Eno betah karena your treatment to them juga lhoo. Jadi penasaran, Mba Eno pernah marah nggak sih sama mereka? Nada bicaranya naik satu dua oktaf gitu πŸ˜‚πŸ˜‚

    Dan bukan cerita Mba Eno dan kesayangan namanya kalau nggak ada yang bikin ngakak 🀣 aku lho langsung gedubrak pas Mba Eno bilang, "Apa browsing dulu?" πŸ™ˆ langsung ngebayangin muka anak kecilnya pasti datar banget liatin kalian berdua berdiskusi wkwkwwk

    Tapi iya sih, Mbaa. Sampai punya anak sendiri aku pun merasa naluri seorang ibu tuh nggak ada samsek di aku. Wong dulu aja aku paling awkward sekedar nemenin anak kecil main. Bingung aja gitu harus ngapain πŸ˜‚ tapi karena adikku yang paling kecil jaraknya 11 tahun denganku, waktu dia masih bayi aku suka bantu mama jagain dia sih. Jadi memori itu masih sedikit nempel saat ngurus Josh beneran :D

    But again I agree, mengurus dan mendidik anak bukan coba-coba, makanya itu yang komentar "coba aja dulu" kok gimana yaa, aku aja kepengen bikin kue di rumah pun nggak berani sekadar coba-coba πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    Pokoknya apa pun rencana kalian berdua nanti, kids or no kids, I pray for the best dan tentunya kalian bisa terussss menginspirasi dan membantu banyak orang yaa, Mbaa *aminnnn* πŸ€—πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya simbiosis mutualisme, mba πŸ˜† Mereka butuh kerja dan layak hidup, sayanya tentu butuh bantuan mereka hihihi, jadi mereka yang hatinya baik banget, nggak gampang kerja sama orang soalnya huhu, perlu bersabar πŸ™ˆ

      Agree sama mba Jane, kalau kita punya privilege, kenapa nggak kita gunakan untuk jadi manfaat, yang penting sesuai kemampuan 😁 Eniho, saya tentunya pernah marah, maksudnya ada satu dua hal yang buat kecewa, tapi belum pernah teriak sampai dua oktaf mbaaa 🀣 Bicaranya biasa saja, hehe.

      Misal mba saya buat salah, paling saya kasih tau baik-baik, merekanya jadi nggak enak sendiri. Untungnya mereka tipe yang mau mendengarkan, itu saja sih, hihihi. Nanti saat laporan atau apa, kadang suka minta maaf ulang πŸ˜†

      Eniho, muka anaknya flat banget, dia bingung mendadak digendong si kesayangan, terus karena dia nggak bisa bahasa Inggris, jadi dia pasrah hahahahaha πŸ˜‚ Epic mbaa kalau diingat-ingat. Bodoh banget saya πŸ™ˆ

      Nah saya persis mba Jane, betulan nggak tau harus bagaimana, adik saya cuma beda sedikit dari saya umurnya, jadi waktu adik kecil, sayapun masih kecil. Pernah bantu jaga anak kecil, tapi jaga yang duduk di sebelahnya saja πŸ€ͺ Wk.

      Macam iklan detergen mba, itu saja jangan coba-coba katanya 🀣 Well, thank you so much mba Jane doanya, hihihi semoga yang terbaik untuk kami, ya 😍

      Delete
  17. Mbak Eno, aku brb ngakak dulu ya.:D
    Untung gak pas lagi minum loh, kalo ga nyembur nih Mbak Eno.:D

    Aku dulu pernah juga kejadian begitu pas lagi sama keponakan, Mbak.
    Hanya untungnya saya cuma temenin ke WC terus bukain celananya aja dia bisa sendiri. hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai 'nyembur' mbaaaa 🀣

      Thankfully mba Wulan hanya bantu buka celana saja, mungkin kalau sampai bantu bersihkan, akan kebingungan dan panik seperti saya πŸ˜† hahahaha.

      Delete
  18. Kok konyol sekali sampai diangkat ke wastafel. Hahaha. Saya pikir mah tinggal semprot airnya ke tangan dia, lalu si bocah membersihkan sendiri. Tapi ide asistennya buat taruh gelas akua gitu boleh juga.

    Hm, niat setiap orang buat cari uang memang macam-macam sih. Enggak punya anak dan keluarga besar yang perlu dihidupi pun bukan berarti enggak ada tanggungan. Yang pertama tentu bisa buat diri sendiri dulu, dan setelahnya tergantung orang itu lagi.

    Syukurlah keluarga Mbak Eno dan suami memaklumi pilihan untuk belum punya anak dulu sementara ini. Doa saya sih semoga kehadiran buah hatinya akan datang pada waktu yang benar-benar tepat. Aamiin.

    Melihat bagaimana Mbak Eno selalu punya niat dan bertindak baik ini, saya yakin memang ada kegembiraan yang tak akan pernah bisa dibeli sehabis membantu orang lain, menyenangkan orang lain. Entah bantuan jenis apa itu, tapi energi positifnya benar-benar kembali ke diri sendiri. Diri sendiri tertular rasa bahagianya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iyaaa saya pikir air semprotannya terlalu kencang, takutnya sakit kena kulit dia, kalau dia menangis berabe jadinya. Wk. Makanya bingung 🀣

      Iya mas, setiap dari kita punya niat beda-beda, jadi nggak bisa dipukul rata hehehe. Ada yang memang fokus untuk anak, ada pula yang fokus ke hal lainnya ~ yang terpenting tau prioritas πŸ˜† Eniho, terima kasih doanya, mas Yoga 😍

      Betul yang mas Yoga bilang, ada kebahagiaan tersendiri, ketika orang di sekitar kita bahagia. Hehehe. Memang yang namanya rasa bahagia itu menular, yaaaa 🀣 Saya baca komentar mas Yoga dan teman-teman saja bisa senyam senyum dan ketawa lho ~

      Delete
  19. Bener mba, jadi seorang ibu/org tua itu gak gampang. Butuh kesiapan mental jg. Kalo financial mah, mba n kesayangan udah gak diragukan...

    Hehe, lucu ceritanya mbaa, begitulah kalau blm berpengalaman, jadi kaku naganin anak. Dulu aku juga begitu, seneng main dgn anak2, tapi, begitu udah pipis, pup, aku langsung kabur🀣

    Udah menikah dan baru punya anak juga bingung, duh bisa gak iya ngurusin anak? popoknya dll? Bersyukur wkt itu masih ada mamah, jadi bisa belajar banyakπŸ˜‡

    Masuk ke bagian relationship dgn para household, indah banget mba membangun hubungan baik dg mereka, yg akhirnya seperti keluarga. Memang hubungan baik dari hati yg tulus itu bisa dirasakan org lain.

    Dan, akhirnya mereka total melihat kita bagian dari hidup mereka. Duh indah ya mbaaa...

    Membaca post2 yg begini yg mba tulis di sini yg mau aku adopsi dgn para
    karyawan. Baik di rumah pun di kantor.
    Thanks mbaa, aku banyak belajar ....

    Slm sehat n bahagia sll πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Ike, kesiapan mental yang nggak gampang untuk disiapkan 🀣

      Hahaha, saya pun inginnya kabur kalau bisa, cuma daripada anaknya pipis sembarangan, jadi saya nekat ~ padahal lumayan panik, untung ada si kesayangan meski endingnya harus gendong ke wastafel. Wk πŸ˜† Payah.

      Mba Ike, saya yang berterima kasih karena mba sudah mau baca-baca tulisan saya. Semoga kita bisa saling belajar satu sama lainnya. Saya pun belajar dari komentar-komentar yang mba Ike berikan 😍 Once again, thanks mba πŸ’•

      Delete
  20. Setuju sama Kak Eno di paragraf satu dan dua tulisan ini dan ikut mendoakan apa yang ada di paragraf terakhir. Kalau udah urusan anak gini aku sampai mikir ke masalah over population juga lho Kak. xD karena kayaknya bumi ini udah kebanyakan manusia, manusia kan spesies makhluk hidup juga ya jadi perannya ke ekosistem planet Bumi juga kalau terlalu membludak akan nggak seimbang.
    Ya aku tau mengontrol populasi bukan dengan menghilangkan yang sudah ada (serem wak), tapi mengontrol yang belum ada. Dikontrol lho ya bukan nggak boleh punya sama sekali. Begitulah kalau aku disuruh mikir tentang anak (selain urusan mendidiknya yang nggak mudah). xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, some people berpikiran sama dengan mba Endah, dan memang betul, bumi ini sudah terlalu banyak populasi πŸ˜† 7 milyar orang itu bukan angka yang sedikit soalnya huhuhu ~ dan betul, caranya bukan dengan menghilangkan, mungkin karena itu, di Indonesia pun ada istilah dua anak saja cukup 😁

      Terima kasih sudah berbagi pemikiran yang keren, mba Endah 😍

      Delete
  21. Mbak Eno.. udah lama enggak baca blognya. Wah aku sependapat banget sama postingan ini. Bener! Semoga urusannya selalu dimudahkan serta menjadi perantara rizki bagi banyak orang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, mba Fathia. Apa kabar? Sehat, mba? 😍

      Terima kasih untuk doanya ya, doa yang sama untuk mba Fathia. Semoga apapun harapan dan rencana mba Fathia bisa dipermudah dan dilancarkan πŸ’•

      Delete
  22. saya juga ingin istri saya tetep kerja sih mbak, dari dulu gak pernah mau punya istri IRT. bukannya saya merendahkan IRT atau gimana yaa.. Tapi kalau misalnya umur saya pendek, istri saya tetap bisa survive dengan lebih mudah dibandingkan kalau dia IRT, apalagi udah ada anak.. hal ini saya melihat dari orang2 sekitar saya.

    Dan ngurus anak itu emang ngga mudah.. Saya pun lama punya anaknya karena emang ga mu cepat2 punya, walaupun org2 di sekitar dulu itu sering nanyain, tapi ya keputusan tetap di kami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I understand mas, hehehe, ingin pasangan bekerja, bukan berarti merendahkan kooook, karena pastinya setiap pasangan punya rencana yang berbeda-beda untuk masa depannya, yang mana mungkin, salah satu rencana mas Bara adalah mempersiapkan pasangan mas incase one day mas kenapa-napa 😁

      Saya pun belajar dari pengalaman yang nggak jauh beda dengan mas, karena sering lihat sekitar, saya jadi merasa saya perlu tetap bekerja, agar saya bisa back up ketika dibutuhkan πŸ˜† hehehe, terima kasih sudah berbagi cerita, mas 😍

      Delete
  23. Mungkin juga kamu kayak aku, No. Suka berkarya. Nggak bisa kalo cuma diem doang ngurus rumah. Setelah kerja pun tetep butuh ruang buat eksplor diri sendiri.

    Eh, berarti kalian udah nikah dong ya.

    Anw, I'm not suggesting you guys to have a baby, tapi katanya sih, biar mudanya bilang, "Untung kita belum punya anak," but once you do, kayak semua idealisme masa muda akan menguap. Kayaknya lho ya. Aku sendiri belum punya anak wkkwwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Nugie, sebenarnya di rumah saja pun nggak masalah, ini kan pandemi selalu di rumah 😁 Cuma memang kalau menyangkut anak, bukan lagi perkara di rumah atau di luar rumah, lebih complicated dari itu tanggung jawabnya πŸ˜†

      Iya banyak yang bilang kayak gitu, kalau sudah ada anak, akan punya rasa yang berbeda hihihi, eeee tapi kami berdua sudah nggak terlalu muda 🀣 Let's see nanti, apakah ada perubahan atau tetap pada plans yang sama 😍

      Delete