Within Your Limit | CREAMENO

Pages

Within Your Limit

Pagi tadi, driver gue bilang kalau dia akhirnya bisa selesaikan dana darurat setelah sekian lamaaa. Wow! Mungkin karena anaknya ada tiga, jadi target dana darurat cukup besar (lima puluh juta). Dan gue yang dengar cerita dia hanya bisa merespon dengan. "See~? Saya tau mas pasti bisaaaa." sambil memberi dua jempol ke atas πŸ˜πŸ‘ Well, gue memang kasih rules ke mas-mba gue untuk punya dana darurat, agar bila terjadi sesuatu, semua bisa dikendalikan 😍 Lucunya, mba gue ikut cerita kalau soon anaknya masuk SD sambil berkata, "Bersyukur punya dana pendidikan." πŸ˜†

Jadi, dari awal mas-mba gue kerja, gue request bantuan financial advisor untuk susun perkiraan tabungan yang perlu mereka kumpul minimal sampai anaknya lulus kuliah -- Masing-masing orang akan di-check punya anak berapa, sekolah di kota apa (setiap kota punya biaya berbeda), dan lain sebagainya. Mba gue itu anaknya sekolah di desa tinggal dengan neneknya, karena mba gue kerja. Sama advisor dikasih saran, untuk TK - SD - SMP nggak apa-apa di desa, tapi sebisa mungkin saat SMA dan kuliah diusahakan masuk ke kota. Apalagi jika anaknya punya basic ilmu oke punya 😁

Tentu setiap orang tua berharap anak dapat pendidikan terbaik serta mau memberi kesempatan emas untuk mereka πŸ’• Advisor gue nggak menampik fakta bahwa sekolah di kota dengan fasilitas beragam, bisa memberi chance lebih besar untuk anak bersinar. Ya siapa tau bisa masuk sekolah unggulan, jadi uangnya harus dipersiapkan dari sekarang 😁 Thankfully, gue punya mas-mba yang mau dengar nasehat, bukan tipe masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Makanya, setiap kali mas-mba gue kasih kabar bahagia berupa pencapaian, gue ikut berbahagia dengan mereka πŸ₯³

🐰🐰🐰

By the way, kemarin ada yang tanya via question box, bagaimana cara atur uang gaji sebesar IDR 3.000.000 (single)? Karena teman yang tanya merasa nggak cukup. Menurut gue, ini tergantung life style dan kebutuhan hidup, plus sepertinya akan tergantung tempat tinggal pula ~ πŸ™ˆ

However, advisor gue pernah bilang, basic living cost kita in general sama, yaitu utilities (listrik, air, wifi, iuran RT, pulsa, bensin, etc.), sedekah dan makan 😁 Ini yang paling basic, kalau nggak punya hutang, nggak punya gaya hidup, pokoknya flat. Nah, berhubung kita manusia selalu punya kebutuhan extra --- jadi diluar itu, baru ada yang namanya extra cost seperti cicilan rumah, cicilan motor, this and that. Plus gaya hidup (tersier) yang sebetulnya bisa ditahan 😁

Saran gue, catat basic living cost dengan jelas, yang isinya pure kebutuhan utama πŸ˜‰ Apabila kos, berarti bayar sewa, listrik, dan air (bila ada), baru masuk ke pulsa bulanan (internet data), sedekah dan makan. Setelah itu extra cost, bagi yang kuliah mungkin butuh buku, atau yang kerja mungkin butuh baju --- Saran gue budget langsung diawal, misal listrik sebulan IDR 100.000, makan sebulan IDR 1.000.000 atau berapa, dan berusaha hidup WITHING YOUR LIMIT, so, apabila budget makan IDR 30.000/hari, jangan lewat dari budget yang ditetapkan. Berusaha disiplin itu kuncinya 😍

🐰🐰🐰

Apakah gue pakai prinsip serupa? OF COURSEEEEE. Budget makan gue sebulan IDR 3.000.000 dan mba gue selalu makesure untuk masak sesuai budget --- (ini cukup banget untuk beberapa orang. Mba-mba gue ikut makan soalnya). Terus mba gue setiap malam laporan, ada buku belanja dapur, disitu mba gue catat semua, beli cabe, ayam, daging, seledri, jahe, sampai perintilan kecil ada πŸ˜‚ Jadi mba gue belajar tanggung jawab, dan putar otak bagaimana cara, bisa cukup, enak dan sehat. Mba gue tambah pintar, guenya tambah senang dan kenyang hahahahahaha πŸ˜†

Eniho, menurut gue dengan gaji IDR 3.000.000, kalau basic living cost nggak banyak, sebenarnya teman-teman bisa survive dengan uang yang ada. Yang penting, tau kemampuan, it means, kalau mampunya makan sehari IDR 30.000 -- jangan makan di tempat mahal dengan harga permenunya IDR 50.000, nggak masuk dong jadinya. Atau kalau mampunya beli internet data IDR 100.000 yaaa jangan kebanyakan streaming atau Youtubing sampai habis quota sebelum waktunya 😁

On top of that, cari kos yang masuk akal sesuai dengan budget yang dipunya. Better bersakit-sakit dulu, sambil menabung, lalu bersenang kemudian 😍 Mba gue yang pernah gue tulis di Become a Host #2, awalnya tinggal di kos sepetak, yang harga perbulannya IDR 700.000 (size sedang room-nya). Berjalan dengan waktu, mba gue pindah ke kosan sepetak dengan size lebih besar dan bayar IDR 1.000.000, til one day, finally mba gue punya rumah yang cicilannya IDR 1.500.000 πŸ₯³

🐰🐰🐰

Hehee, intinya setiap dari kita berproses, jalani proses itu sesuai level kemampuan yang kita punya 😁 Fokusnya jangan lihat ke orang, tapi lihat uang yang ada di rekening kita biar kita selalu sadar kapasitas kita πŸ˜† Dan untuk teman yang baru lulus kuliah, dan baru mulai kerja, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Agar nggak menyesal nantinya 😁 Gaji yang didapat jangan dihamburkan, simpan, pakai hanya untuk yang penting-penting saja, especially jika masih tinggal sama orang tua, chance untuk menabung lebih besar. Yakin deh, jika kita pintar atur uang, hidup jadi mudah πŸ˜‰

Menurut teman-teman cukup nggak? Dan bagaimana mengaturnya? 😁

40 comments:

  1. Salut buat Mba Eno yang mau ajak Mas dan Mba yang kerja dengan Mba Eno untuk melek finansial, dan lebih salut lagi karena mereka mau ikutin πŸ‘ karena kadangkan ada tuh yang gak suka kalau harus mikirin finansial yang ribet-ribet gitu.

    Btw, aku setuju banget sama yang Mba Eno bilangin, "within yor limit", kita emang harus bisa ngerem pengeluaran kita sendiri. Sejak ngekos aku juga berusaha untuk nyatet pengeluaran apapun yang aku lakuin sehari-harinya, seenggaknya kita bisa tau berapa sih duit yang tersisa yang bisa dipake buat hidup selama sebulan. Apalagi yang udah kerja, biasanya kan kehidupan sosialnya juga makin meningkat tuh. Emang effortnya gede harus rekap tiap hari, tapi lama-lama kalo terbiasa jadi mudah sih. Apalagi aplikasinya juga udah banyak banget kan ya.

    Thanks buat sharingnya Mba, ini bagus banget buat diterapin banyak orang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya ada mba satu dua yang berpikir itu ribet, pusing bla bla, jadi memang saya yang harus bawel macam kaset rusak 🀣 hehehe. Untung mereka tetap mau coba dan dengarkan, plus nggak ignore apa yang disarankan ke mereka 😁

      Iya mba, semua kendali ada di diri kita, selama kita tau batas kemampuan kita, dan hidup within our limit, kita akan lebih dimudahkan ke depannya 😍 Hehehe, mencatat pengeluaran dan pemasukan kita menurut saya cukup membantu dalam tracking uang kita, bocornya dimana, this and that 😁 Dan budgeting sebab kalau cuma dicatat, tanpa budget (rem) akan susah, bocor terus yang ada uangnya nggak kelihatan 🀣

      Semangat untuk kita mba Tika, semoga keuangan kita aman πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  2. Setuju setuju setuju! Mau gaji sebesar apapun, lifestyle kita kunci utamanya. Kalau semenjak gaji kecil, kita udah bisa berhemat, maka saat gaji besarpun, nggak akan mempengaruhi lifestyle kita, yang ada malah tabungan yang akan bertambah banyak 😁.
    Pokoknya jangan memaksa untuk ikut trend sana sini jika pendapatan nggak mencukupi, jangan besar pasak daripada tiang πŸ˜‚
    3jt menurutku bisa cukup atau bisa dicukup-cukupin tergantung lokasi tempat tinggal dan gaya hidup πŸ˜‚
    Kalau info yang pernah aku dapat, cara mengaturnya bisa 60% ke Living, dana darurat 10%, amal 5%, tabungan/invest 10%, sisanya Playing/shopping.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuul Lia, hehehe, kalau kita sudah terbiasa dengan budget standar, maka ketika pemasukan kita meningkat, kita nggak semerta-merta kalap. Sebab kita sudah punya kebiasaan untuk hidup within our limit, dan itu memudahkan kita 😍

      Senang dooong kalau tabungannya jadi bertambah, hehehehe. Memang kata pepatah itu sederhana namun sarat makna, ya πŸ˜† Nah, mungkin teman yang bertanya bisa pelajari saran dari Lia mengenai pembagiannya. Siapa tau pas πŸ˜‰

      Delete
  3. Yang bertanya di question box ini udah berkeluarga atau masih single Mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Single, mba Rini. Baru lulus kuliah dan mulai masuk dunia kerja 😁

      Delete
    2. Mungkin masih excited karena baru bekerja ya Mba, jadi masih susah ngaturnya, masih pengen belanja ini belanja itu. Biasanya lama-lama nanti udah terbiasa. Dan segitu nanti juga lama-lama cukup kok, soalnya tahun lalu pemasukan kami hanya 2,5, berkeluarga dan juga harus bayar cicilan dan dipastikan itu gak cukup πŸ˜‚. Jadi kalo masih single dan langsung mengikuti saran Mba Eno, insyaallah bisaaa banget itu mah. πŸ˜πŸ˜…

      Delete
    3. Iya mba, jadi merasa belum cukup karena baru awal kerja, excited dapat gaji hehehehe, semoga nanti teman yang bertanya, lama-lama terbiasa untuk atur dan disiplin jadi uang nggak hanya sekedar lewat 😍 Hanya bisa mendoakan ~

      Well, kalau keluarga, memang sepertinya perlu ada pemasukan tambahan, ya mba. Hehehehe, apalagi jika sudah ada anak dan beberapa cicilan. Akan lain cerita jika masih single, especially masih tinggal sama orang tua 😁

      Delete
  4. selalu senang liat mbak Eno berbagi kebaikan, semoga menular kepada kami semua yang membacanya :)

    sistem budgeting seperti itu sebenarnya udah saya terapkan sejak SMA karena sejak SMA udah ngekos yaa.. Tapi buruknya adalah, ketika di akhir bulan ada sisa dana langsung dipake buat hura-hura, beli baju baru lah, beli hewan peliharaan lah, beli ini itu, jadi di awal bulan saldonya mulai dari 0 lagi, wkwkwkwk...

    sekarang sih inshaallah sudah mulai menyisihkan untuk tabungan juga hehe.

    btw apa kabar mbak? long time nggak bertamu ke sini. ni sekarang baru punya waktu longgar lagi wkwk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Bara, wooow, how are you? πŸ₯³ Saya sehat, mas ~

      Terima kasih sudah ikut senang mas, hehehehe, well, kalau jaman sekolah dulu mungkin mental kita belum terlatih mas, jadi semisal habis yasudah, toh nanti awal bulan dapat lagi dari orang tua. Wk 🀣 Itu yang saya sesali, nggak paham konsep menabung yang sebenarnya. Thankfully, sekarang sudah lebih bisa πŸ™ˆ

      Delete
  5. Wah asik ada konten favoritku, Mbak Eno dan mba-mas yang bekerja di sekitarnya 😍 huhu, kemarinan aku lagi ngedraft tulisan ttg dana darurat juga, sebagai reminder diri sendiri sih sebenernya. Karena aku pun masih berusaha ngumpulin dana darurat. yang kemarin jebol karena sesuatu, padahal belom kumpul πŸ˜…πŸ˜…

    Kadang ngerem tuh susah banget terutama karena faktor convenience yang bikin kita lebih milih kesenangan yang bakal ngerusak keuangan in a long run :( kalau aku kemarin susah banget ngerem keinginan ngegofood dan delivery deliverynya. Itu kan sebenernya tersier ya. Jadi tahun ini niatnya ingin mengurangi itu sebanyak mungkin πŸ˜„

    Evaluasi Januari kemarin, turunnya masih sedikit, tapi karena tabungan bisa dioptimalkan, gak sedih-sedih amat sih. Maka awal Februari ini, waktunya mulai mengerem diri lagi 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih saya nggak sabar baca tulisan mba Mega soal dana darurat, hehehe, saya suka topik finansial soalnya. Membuat saya belajar lebih banyak, apalagi kalau ditulis based on pengalaman personal. Pastinya ada banyak ilmu di sana 😍 Ayo ayoooo mba, ditunggu dengan sangat tulisannya *pembaca bucin nggak sabar* 🀣

      Iya memang, semakin mudah kita dibantu teknologi, jari jemari kita jadi gatal. Wk. Seperti kehadiran, Gojek, Tokopedia, dan teman-temannya. Bahkan mau belanja pun nggak usah ke luar rumah. Jadi harus kitanya yang extra hard kontrol diri kita kalau nggak mau 'kecolongan' hahahahaha πŸ˜‚ Semangat untuk kita ~

      Go go goooooo πŸ₯³

      Delete
  6. Saya orangnya gampang nabung tapi gampang juga keluarnya. Sekarang belum bisa ke arah sana karena pemasukan masih benar-benar hanya dari orang tua. Paling kalo mau beli barang pertimbangannya cuma dua: beli untuk lifestyle atau beli karena fungsional.

    Kalo lagi ada budget, beli untuk lfiestyle sih bisa dipertimbangkan. Kemarin beli tas yang agak mahal. Tapi karena fungsional, saya belinya yang memang bagus biar dipakenya bisa lama. Maksimal 4-5 tahun lah.

    Kalo sudah ada pekerjaan, hitung-hitungan seperti ini memang penting. Apalagi yang tau dirinya punya keterbatasan. Terimakasih sharingnya kak Eno. Bookmark dulu 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mas Rahul ~ nanti tunggu sudah kerja, baru bisa diterapkan. Hehehehe, dan menurut saya, better untuk produk prioritas seperti tas yang memang dibutuhkan, beli yang bagus sekalian, jadi awet daripada murah namun cepat rusak 😁

      You are so lucky, masih ada chance belajar, mas. Satu yang saya sesali, saya termasuk telat belajar soal finansial hahahaha. Seharusnya dari usia belasan, saya sudah coba untuk paham konsep uang, fungsi dan pengelolaannya πŸ™ˆ

      Delete
  7. Menarik, mbak punya keluarga yang bisa diajak bicara, berbeda dengan lingkungan disekitar saya, orang2 akan tersinggung bila di nasehati, hihi.

    Tapi saya tidak heran soalnya ada ungkapan "bicara kita hanya bisa didengar ketika kita berada diatas" meskipun ada ungkapan sebaliknya "jika yg keluar dari dubur ayam itu sebuah telur maka ambillah".

    Btw Cukup gk cukup dicukup2kan saja, hanya beli yg utama2 dan ptg2 saja, pemasukan ga menentu soalnya 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Jaey, para mas-mba saya itu sudah seperti keluarga, jadi enak diajak bicara, dan mereka mau mendengarkan saran dan pendapat untuk kebaikan mereka. Hehehehe. Thankfully belum sampai tahap tersinggung so far 😁

      Hahahaha, lucu juga ungkapannya, makesense, mungkin karena yang bicara atasan jadi didengarkan? πŸ˜‚ hehe. Betul, yang penting kebutuhan utama cukup ya mas, nanti kalau ada sisa, dan tabungan sudah banyak, boleh belanja πŸ˜†

      Delete
  8. Mbak Enooo.. Waaaa post ini pas banget aku perlukan 😝seriusan mbak hehe jadi terima kasih banyak sudah diberi insight seperti ini..
    Aku setuju banget dengan pendapat mbak Eno tentang lifestyle.. itu kerasa banget sih apalagi diusia 20-an.. harus paham tentang finansial dan planningnya, kalau ngga terarah bisa cepet habis..mau ini itu lah..eh di akhir bulan nanti bingung hehe

    Belajar tanggung jawab kalau sudah mengenal finansial hihi.. budgeting aku selalu siapkan selalu di awal tahun biar tau uangnya mau dikemanain hehe

    Terima kasih banyak mbak Enoo! Finansial dikit-dikit lama-lama menjadi bukit.. setelah baca artikel ini jadi semakin semangat menabung 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yayyyy, senang jika bermanfaat untuk mba Aqma πŸ™ˆ

      Semangat mba, you are still young, punya chance belajar untuk belajar lebih cepat soal keuangan daripada saya yang lumayan telat 🀣 Semoga mba Aqma bisa semakin banyak tabungannya, dan bisa lebih bertanggung jawab akan uang yang dipunya 😍 hehehehe, yuuuuk sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit πŸ₯³

      Delete
  9. Yap bener banget mba itu semua soal gaya hidup kita aja, karena terkadng ada orang yang beli sesuatu bukan untuk dirinya tapi untuk orng lain. Dia ngga terllu butuh tapi entah agar dapat dipandang "wahh" jadi dia beli lah barang itu.

    Kalo saya pribadi sih sebelum kerja dan setelah tau berapa gaji yg bisa saya terima ya langsung saya bagi bagi perkirakan berapa buat ortu, berapa buat pegangan di taruh dompet, berapa buat ditabung. Untuk tbungan sendiri pun saya nyelengin dirumah dengan dua tabungan yg satu buat disetor ke bank yg satu lagi saya kasih judul dana darurat. Jadi jika butuh duit ga ngambil lagi deh tuh duit yg buat di setor ke bank.

    Oh ya untuk rekening pun juga saya harus lebih dari satu supaya ga diambilin melulu hehehe. Karena denger dari pengalaman temen katanya dia kalo gajian cuma lewat doang karena duitnya ga di sisihin gitu. Jadi saya putuskan deh buat bikin rekening lebih dari satu yg emang buat nabung doang sama yg buat nerima gaji dan diambil ambilin duitnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, sebetulnya nggak apa-apa punya gaya hidup asal dananya ada untuk back up gaya hidup tersebut, hehehehe. Jadi ya balik ke konsep within our limit. Lihat dulu limit-nya, bisa support gaya hidup yang kita inginkan atau nggak πŸ˜†

      Mas Ilham, cool! Pembagian yang sederhana dan mudah dipahami oleh pemula, pastinya akan bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan hehehe 😍 Yang penting kita tau konsep dana darurat seperti apa, dan fungsi serta sistemnya. Begitu pula dengan dana-dana lainnya. Plus stick to the plan 😁

      Soal rekening saya setuju, karena saya melakukan hal yang sama. Punya lebih satu dan dipisah sesuai tujuannya hehehe. Semangat mas Ilham, semoga tabungan mas bertambah banyak dan semoga kita bisa semakin pintar atur uang πŸ₯³

      Delete
  10. Salut banget mba saya bacanya. ngajak Mas sama Mbanya Mba Eno buat melek finansial.. emnk penting banget sih dana darurat itu..

    Dan yah saya juga setuju.. semua itu tergantung lifestyle.. mau gaji puluhan juta juga nggk bakalan cukup kalau lifstylenya dilos2in aja..

    Beruntung saya diajarkan untuk bisa ngebedain mana yg kebutuhan dan mana yg hanya kemauan... jadi jajan2 yg nggk bner2 butuh masih bisa di rem...

    Bersyukur masalah keuangan masih bisa ke kontrol dan setiap gajian selalu tak usahain dibagi2 buat ini itu... nggak usah buru2, yg penting dihitung dan konsisten.. Kadang ngeliat temen yg sibuk sama reksadana sekalinya masukin langsung jeder banyak, terus beberapa minggu langsung dicairin lagi.. kan jadinya sama aja kalau kaya gtu..

    Intinya sih berhitung, nggak usah buru2.. nikmatin aja prosesnya.. toh Usaha kan nggk pernah mengkhianati hasil.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pentinggggg sangattt, mas 😍

      Hehehe iya, semua balik lagi ke life style, kalau life style sederhana, gaji 3 juta akan tetap terasa banyak dan bisa bersisa untuk tabungan. Apalagi jika masih tinggal sama orang tua, means belum ada biaya sewa rumah 😁

      Bersyukur mas Bayu sudah paham cara membedakannya. Semoga teman kita yang bertanya bisa mulai dari awal, nggak ada kata terlambat, untuk memperbaiki finansial dan mulai menabung pundi-pundi uang 😍 hehe. Dan betul, investasi tuuuh sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan yang penting rutin, mas πŸ˜†

      Semangat untuk kita, tenang, nggak ada istilah ketinggalan kereta 🀣

      Delete
  11. aku ga akan banyak komen kalo soal ini.
    karena intinya ya itu, seberapun penghasilan kita sebagai kepala rumah tangga, intinya dari lifestyle kita.

    kalo aku ada pada posisi dimana kalo mau ada tambahan uang ya cari tambahan penghasilan, soalnya kalo dari kerjaanku sekarang, istilahnya "plus plos" banget sama pengeluarannya.

    Aku juga sedang belajar mengatur keuangan, meskipun ternyata lebih sulit lagi mengajak sang manager keuanganku untuk lebih teratur, karena kepalanya bukan kepalaku, aku cuma bisa nyaranin tapi tetep ya.. gitu deh,..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, iya Dy, semua balik lagi ke gaya hidup kita, ya 😁

      Duh Ady, semoga meski plus plos, nggak sampai besar pasak daripada tiang. Minimal banget balance keluar masuknya. No minus hehehe. Semangat πŸ₯³

      Coba secara berkala diajak mengobrol soal keuangan, pasti pasangan Ady punya goal dan Ady pun punya goal, kan?. Why not untuk dibicarakan 😍 Mungkin pasangan terkesan sulit teratur karena belum tau bagaimana cara aturnya (?)

      Delete
    2. Iyah kak, siap.

      terima kasih kak Eno untuk insight-nya tentang mengatur keuangan, semoga aku bisa seperti driver yang kak Eno sebut di atas, malah bisa punya dana darurat sebesar itu. who knows.

      Delete
    3. Amiiin dimulai dengan langkah pertama, Ady 😍 You can do it!

      Delete
  12. Artikel ini membuat pola pikir dan wawasan kami menjadi bertambah.Andaikan saja Ilmu - ilmu tersebut kami dapati dari orang lain mungkin kami harus bayar, mendingan kalau kami punya uang sehingga bisa bayar, kalau ngak, mungkin bakal selamanya otak kami bisa di cap " sebagai otak udang " karena misquen pengetahuan tentang mengelolah keuangan. Untung ada Mbak Eno yang baik hati.

    Sehingga kami bisa mendapatkan pengetahuan secara gratis dari orang yang sudah berpengalaman dibidang mengelolah keuangan.Terima kasih Mbak Eno, saya sangat tercerahkan sekali. :)

    Semoga Prinsip " Masa Muda Poya - Poya " bisa di geser sedikit menjadi " Muda Nabung - Nabung " Masa Tua berpoya - poya. :)

    Selamat yah Buat Mas Driver dan Mbak - Mbak yang sudah sukses menabung dana daruratnya.Percayalah...... Bahwa Mas / Mbak yang kerja diBank pada nyariin kalian loh....buat dijadikan calon Nasabah.hahahah.....bercanda ding.Wkwk....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah saya nggak melakukan apa-apa mas, belum pantas menerima kata-kata baik seperti yang mas Nata tuliskan di atas, however terima kasih untuk apresiasinya. Semoga apapun yang saya bagikan bisa bermanfaat πŸ˜† Hehe, ambil baiknya buang buruknya, jangan dijadikan rujukan, cukup jadi pertimbangan 😁

      Amiiin amiiin semangat mas Nata, semoga bisa menabung lebih banyak. Nggak apa-apa sesekali menikmati hidup, beli barang, this and that, yang penting sesuai kemampuan dan nggak berlebihan. Biar nggak menyesal πŸ™ˆ

      Hahahaha, terima kasih ucapannya untuk mas mba saya 🀣

      Delete
  13. Aku terharu sekaligus salut sekali dengan inisiatif Mba Eno hire financial advisor untuk mengelola keuangan paea staff πŸ™ŒπŸΌ pasti sekarang mereka jauh lebih sadar tentang pentingnya mengelola keuangan pribadi yaa.

    Dan setujuu. Berapa pun jumlah gaji itu pasti harusnya cukuppp kalau disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup ya. Gaya hidup emang agak tricky sih, kadang-kadang pengen hangout, pengen me time, pengen self-care (halah 🀣) jadinya pengeluaran biasa boncos di sana hahahaha. Tapi balik lagi pada prioritas sih yaa. Lebih penting makan ngenyangin perut apa untuk gengsi πŸ™ˆ

    Semangaaat untuk si teman! Semoga tips dari manteman di sini bisa membantu ya (:

    Btw Mba Enoo, ada rencana nulis tentang investasi lewat Bibit lagi nggak? Aku baru mulai nih soalnya, siapa tau ada ilmu baru yg bisa dibagikan hihi 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar di-check secara rinci kalau pakai advisor mba, dengan begitu mereka bisa lihat secara jelas bagaimana hidup mereka sebelumnya dan ingin seperti apa ke depannya. Hihihi. Pastinya jika ingin hidup tenang, nggak ada beban finansial, harus mulai dari sekarang, selagi masih ada pemasukan dan masih muda πŸ˜†

      Naaah iya mba, betul-betuuul deh itu yang namanya gaya hidup, haha. Susah susah gampang, jadi saya bisa maklum kalau mereka struggle menjalaninya. Thank God, berjalan dengan waktu, sudah tau mana prioritas, jadi perlahan bisa mulai kejar goals yang dipunya dan jalani hidup sesuai kemampuan. Memang gengsi itu 'mahal' πŸ™ˆ

      Amiiin amiiiin, semoga teman yang bertanya bisa mulai atur keuangan 😍 Saya belum ada rencana tulis Bibit lagi, mba Jane baru mulai? Saran saya kalau mba masih moderate profile risknya, ambil yang RDPU saja (Reksa Dana Pasar Uang), karena kenaikan stabil setiap tahunnya meski nggak sebanyak saham prosentasenya 😁

      Ini yang dipakai oleh staff saya, RDPU semua, sudah dua tahunan. Terus saat ceki-ceki mau beli di MI (manager investment) mana, mba browsing dulu nama MI-nya, misal BNI blabla, or this bla bla, untuk tau informasi ter-update mereka. Jika nggak ada masalah, bisa beli dengan tenang. Ohya, Boleh pakai prosentase juga, difilter mba 😍

      Delete
    2. Iya, Mba Enoo aku newbie sekali 😁 akhirnya cobain reksa dana setelah tulisan Lia dan Mba Eno, plusss nonton berbagai informasi soal investasi reksa dana ini. Aku pikir tabungan reksa dana juga paling cocok buat IRT kayak aku 🀭

      Yesss aku memang pakai RDPU, Mbaa. Risiko paling minim dan passs buat kebutuhan 😁 thank you Mba Eno buat infonyaa. Doain nabungnya lancar hihi 😝

      Delete
    3. Semangat mba Jane, sedikit sedikit lama-lama jadi bukit, mba 😍 Betul, menurut saya, tabungan reksadana paling cocok apalagi jika mba Jane nggak ada waktu untuk analisa saham, baiknya ambil yang aman πŸ˜† hehehehe.

      Ayoooo kita kumpul cuan sama-sama πŸ₯³πŸŽ‰ Fighting!

      Delete
  14. mbakkk kalau di Jember, budget 3 juta cukup menurutku
    semuamua nya disini serba murah, yang mahal adalah gaya hidup hahaha
    misal nih :
    gaji 3 jeti, alokasikan untuk makan 1,5jeti, masih ada sisa separuh. 500ribu mungkin bisa buat saving. masih ada 1 jt lagi, belanja belenji kalau nggak terlalu perlu mungkin nggak sampe sejuta
    perjuangan semangat nabungnya mas mbak nya mba Eno luar biasa, nggak nyangka bisa mencapai segitu banyak juga
    ada niat semua akan berakhir dengan indah, mantulll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, menurut saya kemungkinan besar masih cukup, apalagi jika tinggal sama orang tua, means nggak perlu bayar sewa rumah 😁 hehehehe.

      Makan pun kadang masih ikut orang tua, jadi paling kasih uang tambahan untuk orang tua belanja πŸ˜† hehehe. Jadi kalaupun mau jajan, tetap bisa, apalagi untuk tabungan, bisa bangetttt seperti yang mba Ainun uraikan di atas 😍

      Iya mba, perjuangan kumpul dana darurat yang nggak mudah, namun ketika berhasil, rasanya sangat membanggakan. Hihihi, yang penting niat πŸ₯³

      Delete
  15. Aku jd inget masa2 awal kerja :D. THN 2007 . Aku udah ga disupport Ama papa lagi pas udah ditrima kerja. Jd full aku hidup dari gaji :D. Papa sbnrnya masih mau bantu, tapi aku tolak. Malu soalnya.

    Yg aku inget dengan gaji segitu, aku bisa hidup dengan kos di Setiabudi . Orang2 taunya di sana pusat kos mahal, padahal msh ada kos yg 2007, hrgnya 700rb sebulan, tp ga pake AC yaa, dan kamar mandi di luar. Aku pilih yg itu.

    Biaya terbesarku kos sbnrnya. Sisanya ga terlalu banyak. Malah aku bisa hangout tiap weekend.

    Tapi kekuranganku, aku ga bisa nabung hahahahahha. Yg ada malah, aku nabung tapi utk traveling Ama pacarku wktu itu :p.

    Jadi pak suami (wkt itu msh pacar) ngajakin aku ke Bulgaria utk ketemu Ama ortunya yg sedang jd diplomat di sana. Dia bilang aku nabung tiket pesawatnya aja (usd1200 PP), dan visa schengen Krn kami mau lanjut ke Jerman. Bisa Bulgaria dan serbia gratis dibayarin calon papa mertua:D . Sementara makan dll itu dia yg nanggung. Toh kami tinggal di apartm ortunya dia ntr. Jadi setahun itu aku nabung ketat, hanya utk ngumpulin USD 1200 utk tiket pesawat.

    Dan yg bikin aku Amazed, aku bisa dalam setahun ngumpulin segitu, dari gaji yg blm seberapa. Aku msh awal2 kerja soalnya.

    Pulang dari Eropa, yg bikin aku akhirnya sadar utk mulai nabung :D . Apalagi setahun kemudian mau nikah tuh. Baru deh aku mulai disiplin utk nabung.

    Intinya memang disiplin. Itu aja kok. Stuck Ama budget yg udah dibuat. Kalo dulu aku fokus Ama dana darurat. Aku pake LM utk dana darurat. Krn itukan ga tergerus inflasi, dan nilainya naik trus. Apalagi dana darurat baru akan dipakai kalo bener2 darurat yg ga bisa dicover Ama tabungan, aset lain dan asuransi. Jd aku butuh yg aman dr inflasi, dan gampang dicairkan. Emas buatku yg paling cocok utk dana darurat.

    Setelah itu ada, baru asuransi. Aku dan suami bikin 2 proteksi, utk kami masing2. Ntr kalo gaji suami naik lagi, pgn bikin utk anak2 juga.

    Sekarang ini, kami tinggal fokus Ama investasi. Untuk hutang, aku ga punya CC, kami ga punya cicilan. Rumah dr ortu, jd ga tertarik utk nambah memang. Suami punya CC, tapi sebisa mungkin kami bayar lgs, atopun kalo ambil cicilan 0% ga prnh mau lebih dari 6 bulan. Itu juga biasanya beli tiket pesawat hahahaha. Jd anggab aja nabung sebelum berangkat.

    Aku mungkin nyesel Krn terlambat mulai. Seharusnya dari awal kerja, tapi aku baru start mendekati mau nikah. :D. Tapi ya sudahlaaah, yg ptg sudah mulai drpd ga mulai2. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang biaya kos itu menyedot paling banyak ya mba, kalau pintar atur uang dan cari kos yang pas, dijamin bisa menabung meski sedikit hehehehe πŸ™ˆ

      Eh tapi mba Fanny keren lhooo, meski nggak bisa menabung, namun mba Fanny ketika punya tujuan, masih mau melakukannya. Which is saya yakin pada tahun itu, untuk freshgraduate yang baru kerja, nggak muda bisa kumpulkan USD 1200 kaaaan 😍 Ini bisa idea untuk teman-teman yang juga baru mulai kerja, if only punya goals, pasti akan ada jalan untuk mengejarnya πŸ˜† So harus syemangaaat!

      And yes, intinya disiplin dengan budget dan goals yang dibuat πŸ™ˆ Kunci paling sederhana namun paling susah untuk dijalankan. Jadi perlu tekad kuat di dalam diri kita agar kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan 🀣

      Seriously, thank you so much sudah berbagi cerita, mba 😍 Lavvv ~

      Delete
  16. Hai, No. Puji Tuhan tahun lalu gue akhirnya berhasil ngumpulin dana darurat. A bit late for a 30-year old guy like me, but better than never.
    Gue bisa irit di beberapa hal, tapi loyal di hal lainnya.

    Sebagai contoh. Kalo mood makan lagi nggak rewel, berhari-hari makan di tempat yang sama dengan budget Rp30 ribu sehari nggak masalah. Tapi kalo udah jenuh, mulai tiap hari pesen GOFOOD.

    Bener, semua kembali ke lifestyle masing-masing. Pandemi ini bisa jadi keuntungan buat sebagian orang, yaitu orang-orang yang gajinya masih full tak terdampak pandemi. Yang biasanya buat traveling, buat nongkrong, harusnya bisa banyak dialihkan untuk nabung atau investasi.

    Satu lagi adalah, start small. Mulai nabung atau invest per bulan, misal Rp100 ribu per bulan, buat ngelatih habit dan komitmen. Lama-lama kalo udah berhasil menjaga, tingkatkan ke nominal yang lebih besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, CONGRATULATIONS MAS NUGIEEEE πŸ₯³πŸŽ‰

      Finally bisa terkumpul, nggak apa-apa terlambat, daripada nggak punya 😍 Cool! Semoga semakin ke sini, keuangan mas Nugie semakin bagus ya, mas ~

      Yang penting memang kitanya harus jaga life style agar nggak ikut naik ke atas, padahal nggak selalu hal itu yang kita butuhkan 😁 Dan ada hikmah dibalik Corona, uang yang biasa buat travelling atau kongkow justru masuk tabungan πŸ™ˆ

      And yes, setuju dengan start small, semoga semakin banyak yang mau coba ambil langkah kecil agar bisa lebih sukses ke depannya. Semangat~! 😍

      Delete
  17. Kalau mas dan mbak-nya mbak Eno pun bisa, saya pasti bisa.... Saya percaya itu.
    Yuk semangat aja, kalau punya niat baik. Ntar semesta akan merespon dan melancarkan jalannya untuk terwujudnya niatan baik kita itu πŸ™πŸ₯°πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ™πŸ₯°

    Semoga kita semua bisa meraih intensi kita yang baik didukung dan dilancarkan alurnya oleh energi baik mulai dari diri sendiri next direspon oleh sekitar, ya!

    I believe positive vibes attract positive tribes. πŸ˜šπŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. You can do it, mba Intan πŸ₯³πŸŽ‰

      Yang penting, kita berani ambil langkah pertama, dan biasakan diri untuk atur keuangan kita, sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit, hehehehehe πŸ˜πŸ’•

      Amiin amiiin mba, let's spread positivity πŸ˜†

      Delete