Household | CREAMENO

Pages

Household

Hola! πŸ˜† How are you, genks? Weekend kemarin gue sibuk main Lego, leyeh-leyeh, menonton new episode Youn Stay sambil quality time sama si kesayangan yang cranky karena gue sibuk seharian πŸ€ͺ Hahahahahaa. Jadi dia request main Lego bareng, which is, bertepatan dengan gue baru dapat ENAM KOTAK Lego dari sohibul gue dihari Jumat cerah, iyaaa nggak tanggung-tanggung, dia kirim enam kotak dengan tema yang gue suka, yaitu Ancient Town Japan / China / Korea πŸ˜‚ Wk.

Mba gue sampai bengong waktu lihat tumpukan Lego di meja, karena beberapa hari sebelumnya, gue kirim Lego ke some of blogger friends untuk dimainkan bareng anak teman-teman tersebut, dan mba gue celetuk, "Memang begitu mba kekuatan memberi, kita kasih tiga, dapat balik enam." πŸ™ˆ Iya juga yaaah, gue nggak kepikiran jauh ke sana, sebab dari awal, gue pure mau beri hadiah, dan nggak sangka langsung ketiban rejeki enam kotak Lego baru yang gue suka πŸ˜πŸ’•

🐰🐰🐰

Enihoo, hari ini gue mau berbagi PoV sekaligus jawab pertanyaan teman, soal si kesayangan yang kadang gue tinggal sendirian di rumah ketika gue harus biztrip abroad. Huehehehe, mungkin ada yang berpikir gue tega meninggalkan pasangan demi karir -- atau gue nggak bisa diandalkan untuk urusan rumah karena lebih mementingkan karir gue instead of pasangan πŸ˜† Ya nggak salah kalau ada yang berpikir demikian setelah baca tulisan gue, dan gue bisa memahaminya 😁

Jadi in my case, dari awal, si kesayangan sudah tau gue berkarir - punya usaha - means, ada orang-orang yang gantungkan hidupnya ke gue, dan nggak bisa gue cut begitu saja. Plus gue nggak ada rencana cut apa yang sudah gue bangun hanya karena gue settle down dengan si kesayangan πŸ˜‰ Pun saat kami berniat lanjut jenjang berikutnyaa, kami bahas semua dengan rinci dalam dokumen jelas, tujuannya agar nggak terjadi sesuatu yang nggak kami ingin ke depannya πŸ™ˆ

🐰🐰🐰

Gue tanya dia yang intinya apa dia siap hidup bersama gue, yang nggak bisa setiap hari memasak dan akan ada masa dimana gue go abroad lantas meninggalkan dia sebentar --- Dan apa dia siap hidup bersama gue, yang punya prinsip mandiri saat dibutuhkan, even sudah berkeluarga? Disitu dia bilang, dia cari pasangan bukan untuk mengurus dia, sebab tanpa pasangan pun dia sudah bisa urus diri dia sendiri, dan dia ingin cari pasangan yang bisa jadi teman diskusi hingga tua, yang bisa saling support dalam suka duka, karena buat dia, pasangan itu partner kehidupan πŸ’•

Dia bahkan nggak bahas soal masak, bersihkan rumah, endeblablaa, so, ketika gue melakukannya, itu karena gue suka, tanpa paksaan, tuntutan, dan bukan karena kewajiban. Jujur genks, gue nggak tau kewajiban gue pada pasangan gue itu apa, huehehehehe, jadi yang gue pegang hanya~lah apa yang si kesayangan pikir itu terbaik untuk kami berdua πŸ˜† Semacam berusaha dengarkan dia. Dan selama ini, dia nggak pernah mewajibkan gue apa-apa, yang ada justru dia bahas kewajiban dia as always, kewajiban membuat gue bahagia, kewajiban menjaga gue dan lain sebagainya.

Alhasil, kewajiban yang dia sebut itu pula yang gue berusaha lakukan setiap harinyaa 🀣 Wk. Dan yang gue appreciate dari si kesayangan, dia bisa jaga kepercayaan gue dengan baik, jadi gue nggak perlu kawatir apa dia makan atau nggak, apa rumah bersih atau berantakan, hahahahaha. Omma (Ibunya si kesayangan) selalu bilang ke si kesayangan dari jaman muda, kalau si kesayangan harus jadi anak yang mandiri dan jangan menyusahkan orang lain, apalagi saat punya pasangan, jangan sampai pasangan yang bahagia sebelum kenal dia, jadi menderita setelah hidup sama dia πŸ˜…

Gara-gara itu, si kesayangan jadi sering tanya, "Hoon, are you happy with me?" karena dia kawatir, gue nggak lebih bahagia ketika sama dia hahahaa 🀣 By the way, gue berbagi sudut pandang dan pengalaman ini bukan berarti hidup gue mulus dan always fun. Not at all, sebab gue sama seperti semua orang di dunia ini, pasti punya masalah, cuma menurut gue, hal itu nggak perlu dibagikan, biar nggak pada pusing yang baca. Huehehee. Dan pada akhirnya, gue mengerti apa yang dulu Ibu bilang, bahwa kehidupan berpasangan itu adalah tentang trust, kompromi dan kerjasama πŸ’•

🐰🐰🐰

Nonetheless, gue nggak menganggap cara yang gue pilih ini adalah cara benar, karena setiap dari kita punya cara dan pilihan masing-masing dalam menjalani kehidupan berpasangan 😁✌ Anggap ini satu dari sekian ratus juta cara yang ada, however, satu yang gue yakin, kita semua pasti ingin BAHAGIA --- Tapi kadang kita lupa, bahwa bahagia kita itu dekat (sedekat pasangan dan keluarga kita). Terus gue jadi ingat satu quote dari Marjorie Hinckley yang lumayan 'menampar' gue saat pertama kali baca, "Home is where you are loved the most and act the worst." πŸ™ˆ

Seriously, ini benar. Karena rasa nyaman, kadang membuat kita lost control dan akhirnya act the worst, menganggap keluarga kita is the only one yang bisa memaklumi kita -- Makanya, gue selalu coba untuk jangan sampai gue act the worst di rumah, sebab gue ingin si kesayangan merasa he is loved the most saat hidup bersama gue hingga tua. Meski ada saat dimana gue kelepasan, tapi jika diukur, part gue as manusia menyebalkan isn't much compare to part gue yang menyenangkan 😜 Lalu sayup-sayup terdengar suara si kesayangan, "Ngeles aje lu macam bajaj!" 🀣 Wk.

🐰🐰🐰

Eniweis, back to topic, jawaban gue soal si kesayangan ditinggal sendiri tentu nggak masalah -- dia pribadi bilang dia bisa urus diri sendiri saat gue nggak di rumah. Lagipula di rumah Korea lengkap, robot bersihkan rumah ada, makanan gampang, gue pun stock banyak healthy snacks, cookies, etc untuk dia di kulkas. Berhubung di Korea dia kerja dari pagi sampai malam, jadi dia di rumah hanya tidur doang, makan siang dan malam di seputar company, balik jam 8 biasanya videocall gue, then jam 9 sudah siap-siap tidur, besok re-peat kembali pada rutinitas serupa πŸ˜‚

Dia tuh dulunya super gila kerja, gue pernah cerita kaaaan, orang Korea kerja bisa sampai tengah malam. Jam 9 pm masih pagi buat dia πŸ€ͺ Especially dia programmer, begadang sudah biasa. Mana di company-nya sampai ada kasur lipat yang untuk camping cobaaak. Biar dia bisa begadang dan tidur di sana hahahaa. Kalau ada yang lihat drama Start Up terus para programmer-nya ketiduran di company, nah persis, si kesayangan begitu adanya. Sampai gue kesal, bayangkan jam 5 pagi gue call ternyata dia masih uprek-uprek coding di company dan belum pulang ke rumah πŸ˜…

Dia baru berubah setelah settle down sama gue, itu pun nggak gue paksa, dia jadi terbiasa pulang cepat, jam 8 sudah di rumah (ini terhitung cepat, bersyukur teman-teman yang bisa pulang tenggo jam 5/6) πŸ˜† Alasan dia pulang cepat karena ingin makan malam dan spend time berdua, yakeles sudah ada gue, masih ditinggal setiap hari sampai pagi buta (sesekali sih nggak apa), bisa-bisa gue teriak, "Hidup sendiri sanaaaah!" 🀣 Wk, jadi curhat tanpa sadar, padahal tadi ngemengnya nggak mau berbagi masalah biar nggak pada pusing yang baca πŸ€ͺ hahahahahaha.

🐰🐰🐰

All in all, versi hubungan ideal (romance) bagi setiap pasangan itu berbeda, so, just do what makes you happy. Nggak perlu ikut versi ideal orang lain, and build your own ideal version instead 😍 Yang penting kita jangan terpenjara oleh pikiran kita bahwa versi kita yang terbaik, yang membuat kita looking down pada versi ideal pasangan lain, apalagi sampai bilang, "Kasihan pasangannya di rumah sendirian." atau, "Kasihan dia setiap hari masak sampai nggak ada waktu ke luar." --- no no, nggak ada yang perlu dikasihani, I bet everyone is happy in their own way and choices πŸ₯³ Khay?

23 comments:

  1. Yes, true. Every couple has their own story and plot :) No need to compare one romance to another. However I always looooooveee it to be amused by the romance of other couple's true story, like yours. And that's okay if you share a little bit of not-the-happy-side, because life is a cycle of happiness, sadness, disappointment, anger, and so on. We live based on those phases, right?

    I also like the Marjorie Hinckley's quote. Truly I can feel that. :) That's very 100% right!

    ReplyDelete
  2. Dulu pas muda (ceileh muda), aku sempet dapet kesempatan magang 3 bulan di jepang dan ngerasain bagaimana menjadi seorang pegawai di Jepang. Keknya memang behaviour pekerja di Korea dan Jepang mirip-mirip kalo baca soal tempat tidur lipatnya ahahahaha. Tapi jaman dulu mah boro-boro bawa tempat tidur lipat, di Jepang apa-apa strict jadi menurutyku jadi pekerja di Jepang gak enak karena level stressnya sangat tinggi.

    Kalau soal pilihan hidup bersama pasangan, aku pikir semua balik ke kita semua. Objective setiap pasangan beda-beda dan orang Indonesia harus belajar melihat perbedaan itu, sesimpel kapan punya anak (atau bahkan mau punya anak) aja bisa jadi perdebatan, padahal sih menurutku itu sudah jadi hak masing-masing pasangan dan keluarga yang orang luar tidak boleh untuk ikut campur.

    Sekian komen yang lumayan serius mode on di Senin siang ini hihihihi

    ReplyDelete
  3. Tulisan kali ini bikin saya nggk bisa bilang banyak mba Eno.. πŸ˜†πŸ˜†
    Cuma "WOAAHHH EMEZZZINGG"

    Tapi sumpah ini kerenn bangettt.. tulisannya simpel tapi kompleks.. hahah. Sampe bingungπŸ˜‚πŸ˜‚ kan.

    Ya, doa saya selalu yg terbaik untuk Mba Eno dan Kesayangan...

    ReplyDelete
  4. numpang scroll dan meninggalkan jejak dulu, bacanya nanti malam aja...wkwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha eh kadang aku juga gitu lho mas Vai, baca singkat.. ohh tau kalau ada post terbaru, tapi udah sibuk berangkat kerja plus seharian dikantor nggak kepikiran nge-blog, dan baru malamnya jadi manusia kalong

      Delete
    2. Balik lagi ke sini. Kemarin bacanya ga kelar karena susah sinyal.

      Tulisan yang bagus mbak eno. Hehhehe
      Cari pasangan bukan utk mengurusi diri kita. Ini kayak menjawab ledekan orang lain.

      "Sana nikah, biar ada yang ngurusi", aku cma jawab "kalau cuma ngurusi, aku bisa cari pembantu aja"..wkwkkwkwk

      Pulang cepat dan menghabiskan banyak waktu untk berdua...hehehhehe
      Makasih mbak eno untuk curhatannya 😝

      Delete
  5. Could'nt agree more!
    Sepakaaattt bgt ama Kak Eno :D

    Karena BAHAGIA versi masing2 orang tuh bedaaaa, ga bisa di-gebyah uyah. (dipukul rata)
    Masing2 rumah tangga punya versi ideal, yg ngga bisa dijadikan patokan untuk RumTang lainnya.
    Pokoke, benerrr banget, hidup sebagai pasutri itu butuh: Trust, Kompromi, Kerjasama

    Selamat hari Senin yg cerah ceria syalala, dari Surabaya :D

    ReplyDelete
  6. Kalau boleh terus terang, gaya hidup mbak Eno memang di luar keumuman di masyarakat Indonesia (bahkan untuk untuk generasi sekarang), yang masih kuat menganut budaya patriaki. Di luar sana banyak perempuan yang tidak punya bayangan apakah hidup seperti itu possible : pasangan yang bisa ditinggal terus dan nggak rame (atau orang di kiri kanan yang rame, padahal kan gak ada urusannya yaks 🀣). Itu kenyataan di lapangan. Susah menghindari itu di masyarakat kita (untuk saat ini), kecuali hidup mengisolasi diri. Mungkin pertanyaan yang diajukan penanya adalah repetisi juga dari apa yang penanya biasa terima dalam keseharian. Enggak ada yang salah sebetulnya ya dimaklumi saja walaupun pasti sebel juga ditanya begitu, yah...
    Ketawa saya baca part yang "bahas rinci dengan dokumen"...kenapa jadi inget adegan film komedi saat ada couple bahas perjanjian pra-nikah yang tebalnya segunung πŸ˜‚ Bargaining powernya mbak Eno vs Kesayangan kayaknya gede banget deh hahaha.

    Anyway kalimat yang terakhir itu menohok banget, mba buat saya. Saya suka kepikiran kalau ninggalin majikan (kucing kesayangan) sendirian di rumah. "Kasihan gimana kalau kesepian..." Padahal who knows ketika saya pergi dia malah bikin party dirumah. Makasih sudah diingatkan..tidak ada yang perlu dikasihani! #kuatkanhati

    ReplyDelete
  7. PoV = saya baca ini selama diperjalanan pulang dari tempat kerja.

    Kata terbaik yang saya punya saat ini cuma "Sepakat" mba Creameno.
    Well, saya pribadi nggak pernah masalah semisal pasangan saya 'nantinya' punya kesibukan atau tanggung jawab di luar sana. Asalkan dia senang, saya pun tak masalah. Saya pun tidak mau membebankan dia dengan tanggung jawab mengurusi saya nantinya. Sepakat dengan perkataan pasangan mba, yang bilang "dia cari pasangan bukan untuk mengurusi dia.."

    Btw, as always keren banget mba tulisannya. Selalu salut sama prinsip yang kalian pegang.

    Saya sempat kira Mba Creameno sedang sakit karena sejak hari jum'at nggak update tulisan. Tapi syukur kalau ternyata abis Qtime bareng pasangannya.

    Sehat selalu Mba Creameno.

    ReplyDelete
  8. Trust, kompromi, kerjasama. Setuju Ama ini! Makanya, kalo salah satu ga bisa diprovide lagi, buatku ga ada alasan utk nerusin hubungan. Cth kayak selingkuh. Aku mungkin bisa maafin, tp ga akan ada LG trust ke depannya. Ga ada guna nerusin hubungan tanpa ada rasa percaya. Mndingan bubar.

    Makanya 3 hal td penting. Selama aku dan pasangan bisa saling memberikan 3 poin td, kami masih oke utk ngelanjutin hubungan.

    Btw, mba, mau nanya dikit, tp agak oot Ama topik. Sbnrnya aku agak penasaran aja Ama sistem kerja di Korea. Ini gara2 nonton bbrp drakor yg berbau dunia kerja, dan aku bingung pas bagian resign ato berenti dr kerjaan. Semua drakor yg aku tonton, pas si karyawan resign, itu apa memang besoknya bisa lgs Ciao, ga masuk lagi? Bbrp kali aku liat di drakor, karyawannya berenti kerja, ksh surat, trus lgs pulang hahahahahaha. Itu beneran sistemnya gitu?

    Krn sistem di indo kan ada yg namanya one month notice, 2 month notice. Aku sendiri pas resign butuh 2 month notice, buat company bisa nemuin penggantiku. Kalo staff biasa 1 bulan cukup. Pak suami pas pindah malah 3 bulan notice utk cari kesempatan company cari pengganti dan suamiku bisa selesaikan dulu semua Pendingan . Kalo HR ini dia lempar surat, besok udh Babay Babay, ucapkan selamat tinggal juga Ama uang terimakasih hahahahahaha .

    Aku penasaran aja sih. Mba Eno pasti LBH tahu Krn suami mba kerja di perusahaan Korea. :)

    ReplyDelete
  9. Kak Enooo, thank you for sharing 😍
    Aku selalu suka baca hal-hal yang berbau relationship tips dari Kak Eno karena aku jadi banyak belajar untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi untuk si doi πŸ˜†. Berasa lagi sharing-sharing sama Kakak sendiri gitchu kalau baca topik ini πŸ˜†

    ReplyDelete
  10. Memiliki banyak kesamaan, ternyata riset Start Up gila juga yah. Selain mengemas cerita yang solid, ternyata aktivitas pekerja codingnya juga in real life tidak jauh berbeda.

    Meski bukan untuk bekerja, dulu saya cukup sering begadang. Sekarang juga masih sih. Tapi intensitasnya tidak separah dulu. Kalo kak Eno ngeliat saya rame diblog kak Eno pas malam, itu artinya beberapa menit sebelum saya tidur. Ha ha ha.

    Untuk kalimat terakhir, kayaknya saya pernah dengar dialog itu di The World of the Married. Atau di mana gitu yah, saya lupa

    ReplyDelete
  11. Karena Mba Eno memberinya emang tulus, jadi gak nyangka pas dibales lebih 😁
    Saya jadi ke inget jaman masih kerja dulu. Saling kirim hadiah untuk temen-temen jauh kayak begini dulu pernah terjadi sebenernya, tapi berhubung dulu blom merit jadi mayoritas yang kirim-kirim yah cowok hihihi yang paling berkesan itu pas dapet jarum rajut, karena disini kan gak ada yang jual trus belom ada yang jualan online kayak sekarang dan katanya jarak toko dari rumahnya itu dua jam naik motor. πŸ˜‚ dia ikhlas katanya karena dulu saya juga suka kirim-kirim sesuatu ke temen saya itu 😁 (dulu kantor saya kan bermitra dan punya outlet khusus gramedia dan JNE) jadi gampang banget kalo mo kirim novel atau paket ke temen-temen, dan bisa baca-baca gratis kalo kerjaan udah selesai hihihi..

    Saya pikir karena Mba Eno dan pasangan punya Bahasa Cinta yang sama makanya klop banget, dan lagi Kesayangan Mba Eno orangnya Gentlement kayaknya yah dan Mba Eno juga orangnya gak jalan di tempat, karena bisa membawa pengaruh dan kebiasaan baik ke Pasangan. Karena jaman sekarang pun masih banyak cowok2 walo udah merit, masih sibuk begadang masih sibuk menganggap penting yang lain daripada keluarga dan pasangan. Bahkan sekalipun mereka hidup sebagai pasangan Millenial tapi prinsip hidup berumah tangganya masih saja ada yang seperti pasangan Kolonial.

    ReplyDelete
  12. Yess, can't agree anymore! Tiap couple punya cara kerja dan kesepakatan masing-masing. As long as they're happy, kenapa kita yang rempong mengomentari ini dan itu yak hahahaha Soal kompromi itu juga bener banget. Aku dan suami jadi sering berkompromi ketika udah punya anak, contohnya dalam soal jam kerja dan me time. Suami sepakat mematikan hape khusus kerjaan di saat udah di rumah. Jadi dia bisa fokus dengan kami. Sama halnya kalau aku minta jatah me time, otomatis anak ngikut papanya, terserah deh ngapain yang penting mamanya leha-leha sejenak πŸ˜†

    Btw, soal lego, Sembo block dari Mba Eno berhasil kukerjakan (sendirian) dalam dua hari 🀣 ternyata nggak cocok dimainkan bareng Josh, mamaknya emosi muluk karena tiap perintilan legonya terjatuh, aku teriak heboh takut hilang 🀣 alhasil anaknya juga sebel sendiri karena mamanya ngoceh terus wkwkwk sementara papanya belum mood main bareng, cuma bantuin pasang sedikit di akhir-akhir hahahaha maacih banyak lho Mba Enoo. Aku sukses ketagihan, ini mau beli yang series lain lagi πŸ™ˆ

    ReplyDelete
  13. Thanks for sharing Mba Eno 😍
    Aku suka banget nih yang sharing-sharing begini, apalagi ini berasa baca novel romance juga deh 😊
    Pembahasan yang Mba Eno share jadi kasih pencerahan sendiri tentang kehidupan bersama pasangan dan bagaimana cara kita untuk ya berbahagia sama pasangan. Karena aku juga pengennya tetep kerja setelah menikah nanti tapi kadang emang jadi dilema sendiri kalau mau jadi wanita karir itu...

    ReplyDelete
  14. Setujuuu, kompromi juga perlu untuk di lakukan. Betul juga kata Mba Eno, tiap pasangan punya kesepakatan dan caranya masing-masing. Aku pun termasuk yang tidak bisa masak dan bisa di bilang jarang masak. Suka aku tanyain si Koko, apa dia menyesal memilih aku jadi istrinya? Dan dia selalu jawab tidak pernah menyesal memilih aku sebagai istrinya. Bagi dia, istri tidak selalu harus menyiapkan dia ini dan itu. Toh aku punya hak untuk melakukan apa yang memang aku senangi. Perkara masak dan menyiapkan keperluan dia, dia selalu bilang ga harus karena dia bisa urus dirinya sendiri. Walaupun kadang aku ngerasa bersalah, karena kayanya istri-istri lain biasanya nyiapin ini dan itu buat suaminya.

    Mungkin karena dia biasa hidup sendiri sejak kuliah, namanya anak merantau. Jadi dia pun ada sisi mandiri yang merasa sudah jadi kebiasaan untuk urus ini dan itu.
    Aku pernah leyeh-leyeh saat dia baru pulang kerja. Merasa bersalah juga, dia kerja aku malah leyeh-leyeh. Dia bilang gapapa, aku harus punya me time juga. Toh kalau aku ga happy malah dia merasa berasalah. Kesannya sejak menikah sama dia masa aku jadi susah, padahal sebelumnya happy2 saja 😜 Ntar kesannya makan ati selama sama dia hhha..

    Jadi yaa tinggal bagaimana kita bersyukur atas hubungan yang dijalani. Mau banding-bandingin sama pola pasangan lain tentu tidak sama. Malah bisa bikin sedih dan sakit hati, jadi jalanin saja kesepakatan bersama pasangan.

    Btw maap jadi curcol juga di kolom komentar Mba Eno ✌ Lanjut mengenai Lego, apa semuanya sudah diselesaikan Mba? Selamat me time bersama Si Kesayangan yaaa...

    ReplyDelete
  15. pasangan = partner kehidupan = setujuuuu
    kadang ada beberapa orang juga yang mungkin berpikir kalau kewajiban pasangan setelah menikah adalah cuci piring, cuci baju, ngepel mulu. Tapi ada juga pasangan yang santui bin nyantai, karena semuanya dijalankan tanpa ada paksaan satu sama lain, yang penting sadar diri kalau udah punya pasangan aja hehehe
    kayak pasangan muda temen aku yang udah nikah, bisa dibilang si cewek ini rajin banget nge-gofood makanan, dan sesekali si suami cuman protes aja,kenapa sering -sering. Pemikirannya si istri santai aja "kalau ada yang gampang, ya dimanfaatin, itung itung bantu penjualnya":D

    ReplyDelete
  16. Mantap banget emang Kak Eno dan si kesayangan, nggak tau mau komentar apa lagi hahahahaha. Paling suka sama bagian: bisa urus diri sendiri, menikah bukan untuk diurus orang. Didikan dari Ommanya kesayangannya Kak Eno bagus banget. <3 <3 <3

    ReplyDelete
  17. yes, kompromi is a must ya mbak.

    Cerita mbak eno ini ngingetin aku waktu ldr-an beda pulau. Ibuku telpon dan menanyakan kabar suamiku, lalu ketika kubilang kita ldr-an, ibu langsung kaget, tahu nggak mbak first questionnya apa ' kok sendirian, terus makan dan segala kebutuhannya gimana?

    Aku jadi inget sih, memang ibuku melayani ayahku banget dari semua hal, terus kalau ayahku pulang kantor itu ibu sudah rapi dan teh panas sudah tersaji. Tapi kurasa memang hubungan kami udah mulai menuju setara, means bisa mandiri masing-masing. Ya, kan dulu aja sebelum nikah apa2 bisa dilakukan sendiri, masa iya abis nikah malah jadi bergantung yaa..

    Tapi kayak gini emang balik ke personal masing-masing ya mbak..

    ReplyDelete
  18. Hangatnyaaa hati baca ini say, semoga selalu bahagia dan berjodoh ya, aamiin.

    Saya tak pernah mengubah kekaguman saya tentang bagaimana ortunya mendidik kesayangan.

    Mungkin juga dipengaruhi oleh di mana dia dibesarkan ya.
    Karena di sini, rasanya jarang banget menemukan lelaki yang menikah, untuk hidup bersama, bukan untuk diurusin istri πŸ˜…

    Kalau saya mah, even dulu masih kerja, mertua selalu manyun karena saya nggak melayani suami layaknya ibu melayani bapak mertua.

    Apalagi setelah saya terlihat ga kerja kantoran ,πŸ˜…

    Ya gimana mau membentuk karakter orang yang mengerti bahwa hidup berdua itu adalah kerjasama, bukan untuk saling mengkotak-kotakkan tugas dan kewajiban.

    Semoga saya mampu mengajarkan kepada anak-anak saya untuk bisa hidup mandiri dan bisa hidup dengan bertanggung jawab ❤️

    ReplyDelete
  19. Terima kasih mbak sudah berbagi. Nggak tahu kenapa rasayang plongssss πŸ€— kek dapat asupan dan kekuatan baikssssss

    ReplyDelete
  20. Mama kamu benar. Berpasangan adalah tentang trust, kompromi, dan kerjasama.
    Ara harus siap menerima karir gue di agency digital marketing yang jam kerjanya fleksibel dan nggak tentu. Termasuk karir pribadi gue sebagai travel influencer dan hotel reviewer. Pun sebaliknya, gue harus menerima semua kondisi dan kekurangan Ara.

    Gue dan Ara juga seprinsip bahwa suami dan istri itu setara. Nggak ada yang jadi bos, semua saling melayani, meski tetap pria yang jadi imam dan pemimpin utama. Ara pun hormat sama gue. Jadi di sini kami bekerjasama.

    Anyway, kalau misalnyaaaa ya misal nih ya misalnya gue jadi pasangan kamu, gue nggak akan keberatan sering ditinggal pergi karena gue sendiri menikmati unlimited personal space bahahahaha.

    ReplyDelete