Can't Buy (?) | CREAMENO

Pages

Can't Buy (?)

Beberapa waktu silam, gue baca post Awl soal Bahagia Perlu Uang. Intermezzo sebentar, Awl ini sering gue sebut di blog karena jujur saja gue sangat menikmati semua tulisan Awl yang acapkali mengajak gue berpikir panjang (otak gue disuruh kerja sama Awl. Wk) πŸ˜† Dan pada post itu, Awl mengulik quote fenomenal, "Money can't buy happiness." yang mana gue sempat komentar πŸ˜‚

Gue komen, intinya, meski uang nggak bisa membeli all the things related to happiness (yaiyalah secara banyak banget hal-hal menyangkut bahagia -- mana setiap orang definisi bahagianya beda-beda), tapi uang punya peran penting untuk gue bisa mendapatkan atau melakukan beberapa hal dengan mudah. Tho nggak semua bisa 'dibeli' pakai uang, tapi faktanya, gue bahagia punya uang. Ini pendapat gue pribadi, based on pengalaman gue, jadi bisa beda dengan teman lainnya πŸ˜†

Gue jabarkan ke Awl, kalau dengan adanya uang, gue bisa bayar semua bill dan bisa beli apa yang gue butuhkan ---- Selain itu, dengan adanya uang, gue bisa dapat rasa aman, tenang dan nyaman. Seenggaknya, saat sedih, gue bisa sedih sambil tidur di atas kasur empuk, di bawah atap rumah teduh, dan bisa sambil makan enak ---- And well, gue rasa, semua yang gue sebut di atas perlu gue perjuangkan dengan uang, nggak mungkin tiba-tiba jatuh dari langit, kaaan? Makanya, meski ada yang bilang, uang nggak bisa beli 100% kebahagiaan, gue tetap pilih punya cukup uang terlepas gue bahagia apa nggak nantinya (iya, itu urusan belakangan) 🀣 Wk.

🐰🐰🐰

Mentor usaha gue pernah menasehati gue soal uang. Kalau dipikir-pikir, mentor gue ini hidupnya sudah sangat makmur, tapi hingga usianya terbilang tua masih tetap kerja keras. Padahal nggak usah kerja pun gue rasa hidup beliau akan baik-baik saja, mengingat anaknya hedon bangat dari jaman baheula berkat kemakmuran bapaknya *dikeplak sohibul uwe* (fyi, salah satu mentor gue itu bapaknya sohibul gue yang sudah sering menasehati gue dan teman-teman anaknya) 😁✌

Kata beliau, uang bisa kasih kita power untuk meringankan beban siapapun yang membutuhkan. And yeaaah, semua yang dibahas beliau pada akhirnya menyangkut sekitar. Dan berhubung beliau muslim, beliau nggak lupa kasih contoh nasehat Nabi yang kurang lebih isinya connected to gifts dan bantu sesama. On top of that, beliau kerja keras bukan semata-mata untuk memperkaya diri, lha kalau dilihat-lihat mobilnya juga bukan baru, tapi beliau kerja keras agar bisa bermanfaat 🧑

🐰🐰🐰

Frankly speaking, gue termasuk workaholic --- kadang terlalu semangatnya kerja sampai begadang kayak sekarang demi dapat banyak uang. Thank God, waktu tidur gue cukup 6 jam jadi gue nggak cranky berkepanjangan 🀣 Wk. Gue jadi ingat, one day, ada yang tanya ke gue, kenapa gue kerja sebegitu kerasnya. Padahal si kesayangan sudah kasih kehidupan layak ----- Terus gue jawab kalau gue kerja itu karena memang passion gue di sana, dan meski si kesayangan kasih kehidupan layak, tapi si kesayangan kan nggak menghidupi staff gue, team gue, mba-mba gue, endeblabla πŸ˜…

That's why gue kerja, biar gue bisa jadi jalan untuk orang yang kerja sama gue, biar seenggaknya mereka punya tempat to lean on, bersandar dan berjuang. Dan sebetulnya, gue ingin jadi contoh untuk mereka. Kalau gue malas, nanti mereka keikut malas bisa berabe, genks. Bangkrut yang ada usaha guah πŸ˜‚πŸ˜‚ Selain itu, gue senang belajar hal baru especially dalam dunia business, karena dunia business terus berkembang jadi gue dipaksa untuk adaptasi secara berkelanjutan 😁

🐰🐰🐰

Pernah suatu hari mini cafe gue yang mba gue running sepi beberapa hari, dan penjualan nggak sampai sejuta daily. Mba gue mukanya muram durjana. Tau-tau dia minta maaf, dia bilang, "Maaf mba, hari ini sepi banget. Saya jadi nggak enak, sepertinya saya cuma jadi beban untuk mba. Kalau saya nggak ada seenggaknya mba nggak perlu keluar uang untuk gaji saya." ---- di situ pilihan gue cuma dua, mengiyakan ucapan dia, atau membalas dengan, "Namanya usaha, kadang sepi kadang lancar. Yang penting mba sudah usaha, kalau hari ini belum rejekinya, mungkin besok ada."

Yes, deep down inside, gue punya pilihan untuk memaki keadaan, karena artinya gue harus keluar uang pribadi untuk bayar gaji mba gue yang mana seharusnya bisa dibayar dari profit usaha, tapi gue memilih untuk puk-puk mba gue dan membuat mba gue yakin untuk keep going meski berat. Itu karena gue merasa aman masih punya uang untuk menggaji, seenggaknya gue nggak spaneng memikirkan besok bayar gaji bagaimana. And that's the time, gue bersyukur, gue punya uang 🧑

Gue pun tau kegelisahan staff jika sebuah usaha tempat di mana mereka bekerja sepi, itu artinya mereka bukan lagi jadi asset perusahaan melainkan beban. Yang mereka takutkan saat sepi bukan lagi soal boss mereka marah, sebab jauuuh lebih dari itu, mereka kawatir jadi orang yang terpilih untuk dipecat. Kebayang nggak bagaimana gelisahnya. Tempat kerja sepi, deg-degan kena lay off, tapi mau berusaha sekuat tenaga tetap nggak ada pemasukan. Panik pastinya. Padahal itu bukan sepenuhnya salah mereka, karena mereka sudah usaha yang terbaik sebisa mereka πŸ˜”

🐰🐰🐰

Beside that, gue terinspirasi dari orang tua yang bahkan setua ini masih kerja. Omma sudah over than 60 ke arah 70, namun badan masih bugar, dan masih dibutuhkan perusahaan untuk kerja. Omma pernah bilang, kalau gue dan si kesayangan harus menabung agar dihari tua nggak jadi beban sekitar -- Harus beli asuransi, harus ini harus itu, semata-mata karena Omma tau kita hidup nggak bisa bergantung ke orang. Dan Omma pun bilang ke gue sama si kesayangan untuk nggak jadi beban each other, karena kita nggak tau fate seseorang. Semisal pasangan meninggal duluan, jangan sampai kita bingung cara menjalani hidup kita setelahnya 🀧

So, in conclusion, meski uang nggak bisa beli kebahagiaan seutuhnya, akan jauh lebih baik jika kita punya uang, genks. Jadi yang masih muda, energi masih banyak, belajar yuk, semisal nggak kerja, tetap bisa belajar finansial. Menurut gue, selain skill mencari uang, ada skill lain yang nggak kalah important yaitu skill mengatur uang. Bagaimana caranya itu cukup, nggak besar pasak dari pada tiang, dan bagaimana caranya kita bisa menabung untuk masa depan. Semua dimulai dari kita 😍

🐰🐰🐰

Dan buat gue, meski si kesayangan cuma punya baju beberapa lembar, dan meski kami di rumah Korea cuma punya dua piring, dua mangkok, dua gelas (maklum nggak jago masak. Wk), plus kami nggak tinggal di rumah besar, macam rumah-rumah di Cheongdam or UN Village *anyeong BTS*, tapi seenggaknya gue bahagia bisa jadi manfaat untuk orang sekitar yang gue sayang ---- Dan pada akhirnya, uang memang nggak selalu connected to 'buy happiness' such as barang mevvah, rumah besar, tas branded *meski kalau dikasih nggak menolak* 😝 this and that. Lebih dari itu, buat gue, uang punya power untuk kasih bantuan pada diri kita atau siapapun yang membutuhkan πŸ₯³

Bagaimana menurut teman-teman? 😍

52 comments:

  1. Dua-duanya setuju, ya. Quote itu benar, alasan mbak Eno benar. Tapi terlalu ingin kaya juga enggak baik, karena itu adalah salah satu contoh ketidakseimbangan, kalau dituruti akhirnya jadi greedy, hasilnya seringkali membuat bumi serta tatanan lain di sebuah negara, rusak. Menurut saya orang tidak bahagia saat menjadi kaya saat kekayaan itu tidak diambil dari cara yang benar kemudian dimanfaatkan dengan cara yang benar. Banyak contoh orang kaya yang di akhir hidupnya tidak bahagia.

    Kalau mau ambil jalan tengah, bila nggak merasa sanggup bertanggung jawab atas sebuah kekayaan, cukupkan saja apa yang ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, setuju sama mba Phebie, kalau jatuhnya greedy dan merusak bumi serta tatanan negara berarti sudah sangat jauh melenceng dari azas manfaat πŸ˜‚

      Dan seperti yang mba Phebie bilang, nggak akan bahagia rasanya jika kaya dengan cara nggak benar ~ πŸ˜† Memang paling enak hidup cukup, mau beli ini cukup uangnya, beli itu cukup uangnya, meski nggak berada di kelompok 1% terkaya dunia 🀣 Wk.

      Thank you for sharing, mbaaaa 😍🧑

      Delete
    2. Mba Phebie keren ihh.

      Delete
    3. Indeed πŸ˜†πŸ§‘

      Delete
    4. Merusak tatanan dunia dan elite global...wkwkkwwkk

      Delete
    5. Bahasanya seperti di news yang pernah saya baca, mas 😁

      Delete
    6. Akhirnya Pertamax πŸ₯³πŸ₯³

      Ehm #batuk2

      Sama2 mbak Eno. Mksh saya mah biasa2 aja πŸ˜‚itu juga buat pengingat saya yg masih suka mupengan kok.

      Elite global wkwk kyknya kita
      bisa sepemahaman nih mas Rivai. 🀣

      Delete
    7. Congraaaaaaaats mba Phebs πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete
  2. SETUJU BANGAATTTSSS KAK ENO!!!!

    Uang menurut pandanganku sendiri lebih ngasih POWER. Aku sendiri tentu saja senang ketika punya uang banyak, mwheehhe πŸ€ͺ Bisa bantu orang, beliin sesuatu untuk orang tersayang, dan tentunya beli hal yang kita pengin!!!

    Sampai pernah aku berdoa, aku pengin punya uang yang banyak, karena aku mau lebih banyak bantu orang. Enggak tau kenapa, bahagia ketika bisa bantu orang dengan apa yang kita punya itu sesuatu yang luar biasa banget Kak Eno...

    Kita nggak tahu kan, who's know kesuksesan kita sekarang, kesehatan kita, kebahagiaan kita, barangkali adalah juga hasil dari doa-doa dari orang yang pernah kita bantu hidupnya.

    Kak Eno, aku mau tanya boleh ya? Apakah jiwa business Kak Eno sudah ada sejak kecil? Atau mungkin sudah ada sejak usia sekolah? Penasaran aja dan yaah gitu lah Kak Eno, aku kan sekarang masih anak sekolah, dan niat untuk jualan kecil-kecilan. Buat beli kuota sendiri lah ibaratnya🀣

    Tapi yah kadang niat itu hilang dan timbul macam hujan di siang hari πŸ€ͺ apose πŸ€ͺ

    Within this sekalian mau tanya, bisa nggak sih jiwa berbisnis itu dipupuk ke orang yang sebelumnya nggak berminat ke bisnis??

    Heheh, kalau berkenan boleh dijawab Kak Eno, kalau tidak,, tidak apa-apa hahaha 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, menurut saya lebih ke arah power, mba. Uang punya power besar tinggal bagaimana kita kelola, agar menjadi bermanfaat dan nggak merusak πŸ˜†

      Saya mengerti maksud mba Syifana, bisa bantu orang disaat orang itu butuh dan kitanya ada, tentu akan sangat menyenangkan. Tapi ketika bantu pun sebisa mungkin jangan cuma dikasih ikannya, biar yang dibantu bisa berkembang 😍

      And setuju sama mba Syifana, kesuksesan kita, itu bisa jadi berkat doa orang-orang yang pernah kita bantu sebelumnya. Dan bantu kan nggak selalu related to uang, cuma memang dengan uang, kita jadi punya chance lebih besar 🧑

      Boleh mba, kalau ditanya apa dari kecil (SD) gitu sepertinya nggak. Dulu saya inginnya kerja kantoran, sebab lihat ortu-ortu yang kerja kantoran itu keren. Wk. Tapi saat SMP saya punya sohibuls yang ortunya pengusaha. Di situ saya baru tau ada pekerjaan bernama pengusaha 🀣 Maklum jaman saya taunya kerja kantoran, dokter, lawyer, dan sejenisnya. Pengusaha itu nggak masuk hitungan πŸ™ˆ

      Dari ortu sohibuls saya itu, saya jadi belajar banyak hal. Semakin bertambah umur, semakin tertarik untuk cari tau lebih dalam dunia usaha. Dikasih pinjam buku-buku biografi pengusaha, terus tambah senang πŸ˜‚ Nah menurut saya, kalau mba Syifana mau terjun ke dunia usaha kecil-kecilan, langkah pertama dengan cari tau dulu seperti apa basic-nya. Dari hal paling gampang seperti pembukuan, pemisahan keuangan, pengelolaan stock, endeblabla. Why? Biar mba tau usaha mba ini untung atau nggak. Jangan sampai sudah mulai, terus nggak kelihatan hasilnya 😁

      Apabila mba sudah punya basic, mba bisa mulai pelajari calon usaha yang mba ingin jalankan. Dan saat sudah matang, bisa langsung terjun untuk coba. Hehehehe. On a serious note, kalau bisa siapkan niat, mba. Plus remember nggak ada yang instan, jadi perlu lewati proses dan mental baja. Minimal coba bertahan setahun kalau bisa 🧑

      Untuk pertanyaan ke dua, jawabannya bisa, namun underline bisa kalau orangnya mau belajar. Minat itu bisa diasah. Ada yang dari lahir punya minat dan bakat, namun ada pula yang diasah karena tertarik untuk belajar πŸ˜†

      Semangat mba Syifana, semoga apapun rencana mba Syifana, bisa berjalan lancar. Siapa tau nanti pemasukannya lebih dari cukup untuk beli kuota 😍

      Delete
  3. Ciyuss Mbak, jadi ketawa pas bagian : gak nolak kalau diberi tas branded :D.

    Uang memang bukan segalanya tetapi segalanya butuh uang. Bahkan tadi ada yang upload di akun FB-nya, kalau obat depresi itu uang 1M wkwkkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yadong mba, jangan ditolak, nanti kalau menolak rejeki, rejekinya nggak mau datang lagi, hahahaha πŸ˜‚ *dikeplak si kesayangan* *kode keras*

      Jiaaah, ada-ada saja, tapi bisa jadi for some people benar adanya πŸ˜† Yang penting jangan jadikan uang segalanya, karena itu akan buat kita greedy, jadi pintar-pintarnya kita berhadapan sama yang namanya uang ya, mba 🀣

      Delete
  4. Couldn't agreeee moree Mba'E.. 😊

    Ibarat kata, uang itu seperti layaknya sebuah Pisau. Haha 🀣🀣 kontrolnya harus bagus. Jika digunakan secara bijak, dan cermat. Tentu saja Ia akan berguna.. tapi kalau dipakai asal2an. Ya kita bisa tenggelam dibuatnya..

    Sebenarnya konteks "Bahagia perlu uang" itu simpel. Masing2 orang punya penilaian dan pengalamannya sendiri. Ambisius akan uang. That's okay menurutku. Sing penting seimbang 😊 I mean, nggk sampe bikin kita lupa diri πŸ˜…...

    Terimakasih buat Light Reading pagi hari ku Mba.. really boost up my mood buat berangkat kerja.. haha. Pagi ini hujan mengguyur. Mager beud buat bangun dari kasur. 🀣🀣

    Btw Mba Eno. Aku selalu terkesima sama prinsip ilmu bisnis Mba. Pengen sebenarnya. Haha πŸ˜…. Tapi ya gitu aku nggak begitu ahli. Akhirnya aku pun berasumsi kalau ilmu bisnis ini adalah bakat dari lahir.. hahahah 🀣 padahal mah nggak gitu kan ya. Butuh sepak terjang yg nggak mudah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. I couldn't agree more, makanya semua kembali pada kita, mau pakai itu untuk apa. Sudah dikasih power, kalau dipakai untuk hal yang berguna maka jadi berguna, tapi kalau mau dibuang percuma pun akan jadi percuma πŸ˜‚

      Dan seperti yang mas Bayu bilang, masing-masing personal punya standar, for us maybe some people itu ambisius, tapi ternyata, for them, itu belum sampai ke standar mereka. Namapun standar hidup, nggak akan pernah sama. Standar hidup pun disusun berdasarkan background personal dan seberapa besar tanggung jawabnya 😁

      Waduh asik banget hujan, tapi jadi mager kalau harus ke luar. Wk. Semangat mas Bayu kerjanya, semoga hari ini lancar 😍 Eniho, nggak apa-apa mas kalau memang minat mas Bayu bukan ke sana jangan dipaksakan. Kalaupun ingin belajar hanya karena ingin tau lebih dalam tanpa terjun langsung juga nggak masalah πŸ˜†

      Delete
  5. Money can't buy happiness ini sebenernya tergantung dari sudut mana kita memandang Mba, menurut saya. Kalo duitnya cuman 50 ribu perak trus dipake untuk biaya hidup satu bulan, ya jelas pastinya sengsara dan gak bikin bahagia. πŸ˜‚

    Tapi dengan memiliki uang banyak, waktu yg kita habiskan untuk mikirin gimana bisa dapat uang bisa kita pake untuk memikirkan apa aja yang bisa bikin kita bahagia. Dan kalo nantinya masih gak bahagia, yah wajar karena kebahagiaan itu memang tidak diperjualbelikan. Letaknya aja di tempat yang berbeda, bahagia itu adanya di otak dan di hati tapi kalo duit ya letaknya di dompet, di e-wallet, di bank dan sejenisnya πŸ˜‚.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudut pandang yang menarik, mba Rini πŸ˜†

      Memang pada akhirnya nggak semua kebahagiaan bisa dibeli pakai uang, makanya saya rasa quote itu benar adanya. Namun, bisa 'beli' bahagia dengan uang pun benar, karena faktanya ada yang merasa bahagia punya uang πŸ˜‚

      And yes kebahagiaan nggak diperjualbelikan, mau cari dimana? Di pasar? Wk. Itu yang buat quote juga saya rasa nggak pakai konotasi asli dari kata 'beli' yang sesungguhnya 🀣 Jadi saya setuju sama mba Rini, tempatnya beda 😁

      Delete
    2. Letak duitnya ada di teman yg lagi pnjam duit dan ga balik mbak :'(

      Delete
    3. Coba tanya baik-baik, mas 😁

      Delete
  6. ini aku sependapat sih Mba Eno, banyak kenyamanan yg diperoleh dengan uang. Walau uang bukan segalanya, tapi ttp aja nangis di mobil sendiri lebih nyaman dr pada nangis di motor abang gojek kan. hehehe..
    Sebaik-baiknya manusia adalah yg bermanfaat untuk sesama, dg ada duit jd bisa membantu banyak orang. makasi banyak buat remindernya ya mba enoo. kadang aku masih suka fokus k diri sendiri n keluarga, pdhal juga banyak orng lain yg mungkin rejekinya dititipkan lewat kita yaa. Keep inspiring mba enooo ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, uang bukan segalanya, nggak boleh juga sih jadi segalanya ya, mba 🀣 Tapi kenyataannya, banyak kenyamanan bisa diperoleh dengan kita punya uang πŸ˜†

      Saya pun masih belajar mba, belajar dari mentor saya dan orang tua plus teman-teman yang sharing komentar. Menurut saya, yang penting kita jadi manfaat, meski hanya untuk satu orang atau sekali pun nggak bisa jadi manfaat, seenggaknya kita nggak menyusahkan orang di sekitar. Begitu katanya πŸ™ˆ

      By the way, saya sama seperti mba Thessa, juga tetap main focusnya sama diri sendiri dan keluarga, itu sudah seyogyanya jadi our top priority, kaaaan? Yang penting penuhi dulu hidup personal kita, fokus pada kebutuhan keluarga kita, kalau sudah cukup, baru menjangkau yang terdekat. Thanks for sharing, mba 😍🧑

      Delete
  7. Pagi-pagi udah bahas uang kan, hehe.

    Diusia yang harus menghidupi diriku sendiri, aku nggak bisa nggak setuju, meski konsep bahagia masih membingungkan ku wkwk, but yes uang mampu menjadi jalan meraih kebahagian itu.

    Seperti ketika galau kita bisa belanja baju baru, bisa mengobati kegalauan at least bisa menghibur diri sampai akhirnya dealing sama hal-hal yang membuat kita stress at that time.

    Di dalam agamaku pun juga dianjurkan menjadi muslim yang kaya dan memberi manfaat akan hartanya, tapi bukan berarti kita harus memaksakan diri jadi kaya juga. Setidaknya kita punya enough money untuk membiayai diri kita, being independent dan tidak bergantung pada orang lain, karena beragntung pada orang itu sungguh tidak enak.

    Berdasarkan pengalamanku belanja pakai duit sendiri lebih plong, ya walaupun kalau dibelanjain aku juga nggak nolak wkwk.

    Oh ya, saya sempat baca sebuah tulisan tentang uang dan previlease di Vice.Id dia Tyler Huang seorang miliarder usia 23 tahun, dulu saat usia menuju dewasa dia dikasih dua buah Amex Centurion card sama orangtuanya, yang mana menurut dia itu menakutkan, dia takut dengan akses yang diberikan kedua orangtuanya yang tanpa batas soal uang.

    Mungkin ini semacam pendapat mba Phebie bahwa kalau nggak cukup mental buat menanggung kekayaan itu mungkin bisa bebalik arah menjadi hal yang lain. Seperti yang Huang bilang juga bahwa dIa memang beruntung menjalani kehidupan yang mungkin banyak orang impikan, tapi katanya lagi salah sekali kalau hanya menilai segalanya dari uang semata. Karena katanya punya banyak uang juga berarti banyak sekali tanggung jawab yang harus kamu pikul. Dia merasakan sendiri ketika anak seuisianya sibuk bermain, sedangkan dia sudah terlibat dalam penawaran bisnis ayahnya untuk membeli klub sepakbola Inggris.

    Wah, mudah-mudahan komenku nggak kepanjangan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wk, konsep bahagia itu memang beda-beda definisinya ya, mba 🀣

      Makanya saya tulis di atas, yang penting punya cukup uang dulu, perkara bahagia atau nggak itu urusan belakangan. Karena meski nggak bisa beli kebahagiaan, tapi uang bisa bantu saya dapat rasa aman, tenang dan nyaman πŸ™ˆ

      Nah iya itu maksud saya, nggak harus jadi kaya raya yang super kaya sampai masuk jajaran top 1% di dunia. Saya juga nggak ke sana arahnya. Buat saya yang penting enough money agar nggak jadi beban untuk sekitar. Enough money agar bisa beli apa yang dibutuhkan. Dan enough money untuk menjadi bermanfaat 😍

      Kalau menurut saya, itu yang dialami sama Tyler memang jatuhnya beban sih, orangnya tuanya justru kasih beban tanggung jawab ke anaknya. Padahal anak diusia itu yang dibutuhkan bukan uang apalagi dalam jumlah banyak πŸ˜†

      Tapi ya kita nggak tau apa tujuan orang tuanya. Kadang tujuan orang tua A, tapi ternyata diterima anaknya B. Hehehe. And agree, semua balik lagi ke tanggung jawab, karena bagaimanapun juga, persoalan uang itu kan bagian dari sebuah keputusan dimana jika kita punya keputusan untuk punya uang banyak harus dibarengi dengan tanggung jawab mengelola uang tersebut. Nggak bisa setengah-setengah πŸ˜‚

      Eniho, thank you for sharing, mba 😍

      Delete
  8. Di paragraf yg bercerita tentang karyawan yg harap-harap cemas ketika usahanya sepi, merasa yg tadinya adalah asset perusahaan malah jadi beban, so related to me.

    Bahkan kecemasanku berujung kenyataan. Tapi apapun yg sudah terjadi, aku belajar banyak.

    Di dalam piramida kebutuhan versi Maslow, 3 tingkat paling bawah merupakan kebutuhan dasar manusia yang bisa dipenuhi dan dibantu dengan adanya uang.

    Kebutuhan fisiologis seperti makan dan pakaian,
    kebutuhan rasa aman seperti adanya rumah tinggal dan lingkungan yg aman
    bahkan kebutuhan sosial pun seringkali lebih mudah jika adanya uang seperti hang out bareng temen di kafe meski ga selalu.

    So, seperti yg kak Eno bilang, uang punya kekuatan untuk memenuhi kebutuhan di atas. makin atas piramida, makin kita merasa bahagia atau merasa 'penuh' sebagai manusia.

    Ketika uang bukan lagi masalah, kita mulai ingin memenuhi kebutuhan penghargaan seperti reputasi dan pencapaian dan akhirnya aktualisas diri (ingin berkontribusi untuk masyarat atau bumi ini)

    Aku ga tahu apakah piramida ini bisa di loncat-loncat atau akselerasi tapi tentu adanya uang memang sangat membantu.


    Kalo aku, sebetulnya ga pernah butuh sama yang namanya lembaran uang atau digit di atm, tapi karena barang-barang yang kubutuhkan memerlukan alat tukar resmi, ya mau ga mau aku butuh alat tukar itu, hehehehe...

    -----------------
    Aku juga sekarang setiap hari di masa-masa jobless blm berpenghasilan di usia 30an ini (sebut saja umurku 24 ya) selalu ngelamun soal apa yang akan terjadi di usia tuaku (kalo umurku panjang) kalo sekarang aja seperti ini.

    i'm so worried, scared, jadinya overthinking terus.

    Bingung harus ngapain. aaargh... it seems that everything not working according to my plan.

    i'm stuck. clueless.

    Sejujurnya, aku ga berharap bisa jadi karyawan perusahaan lagi mengingat umurku, but i don't know what i can do to make some money. how?

    ----------------------
    i think, money can buy you happiness. karena ketika aku bisa mentraktir atau membelikan orangtua pakaian atau apapun yg mereka lagi inginkan, hatiku merasa penuh, aku merasa bangga dan bahagia.

    Uangpun bisa memperbesar kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa.

    Tapi, meskipun aku tahu akan hal itu, i'm still not that obsessed about money.

    am i that lazy?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya jangan obsessed sama uang Dy, karena kalau sampai tahap obsessed about money, berarti hidupnya, setiap detiknya yang dipikirkan hanya uang uang dan uang πŸ˜‚ Wah kalau itu jatuhnya akan jadi greedy entar. Bahaya πŸ™ˆ

      But, when we think about money, and how to get it, it doesn't mean we are obsessed with it πŸ˜† Ya karena suka nggak suka, kita masih butuh uang, jadi mau nggak mau kita harus memikirkan cara mendapatkannya dan cara mengelolanya. Kecuali sudah dapat warisan macam Tyler yang diceritakan mba Sovia dan nggak perlu pusing tujuh turunan, nah itu sih nggak usah dipikirkan pun selalu available, kan? 🀣 Wk.

      Eniweis, saya pernah baca soal piramida itu Ady, dan betul kok yang dibilang. Ketika seseorang sudah pada tahap bisa menyelesaikan kebutuhan basic-nya yang mana mostly harus dibayar pakai uang. Nanti semakin ke atas, maka rasa 'bahagianya' nggak lagi dipengaruhi uang, karena hal basic seperti rasa aman sudah didapat 😁

      Saya rasa wajar Ady merasa overthinking, karena Ady saat ini kehilangan rasa aman related to masa depan. Apalagi dalam keadaan jobless nggak ada pemasukan. Namun saran saya, kalau bisa balance, antara overthinking dan berusaha cari cara agar survive, mungkin jika belum bisa diterima perusahaan, Ady bisa coba cari job seperti cashier dan sejenisnya. Atau coba ke blog mas Anton, kalau nggak salah mas Anton kasih penawaran game atau apa itu ya yang dapat USD 150 perbulan 😁

      Semangat Adynuraaa, semoga bisa overcome the situation, ya πŸ₯³

      Delete
  9. Thanks buat sharinya, mba Eno... :)

    Kayaknya saya pernah baca, ada penelitian yang menyimpulkan bahwa sampai batasan tertentu uang adalah sumber kebahagiaan. Yah, bagi yang masih struggling dengan kebutuhan sandang, pangan, papan, uang lah yang bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka.

    Tapi memang sampai batasan tertentu, terutama saat terfokus pada diri sendiri, kemampuan uang untuk membeli kebahagiaan semakin berkurang. Mungkin karena itu ada orang yang udah foya2, menghambur2kan uang, tapi tetap merasa tidak bahagia.

    Saat seperti ini, setuju banget dengan POV penggunaan uang mba Eno. Fokus mencari uang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok diri sendiri, tapi untuk mendatangkan kebermanfaatan, paling tidak untuk orang-orang di sekitar kita kan, ya, mba... :D

    Btw, OOT nih, mba... beberapa hari yang lalu di jam istirahat, saya coba buka blog mba Eno di kantor, ternyata diblocked, dong... alasannya karena berkategori 'dating' ceunah ^^"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola mba Hichaaa 😍

      Iya mba, itu seperti yang dibahas Adynura, namanya piramida kebutuhan versi Maslow, yang mana memang sampai level tertentu, uang dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Karena bisa memenuhi kebutuhan dasar manusia 😁

      Nanti semakin ke atas, fungsi uang sudah beda, jadi harus pintar-pintarnya kita mengelola dan bertanggung jawab akan uang yang kita punya. Kalau endingnya untuk foya-foya, mungkin rasa bahagianya hanya sesaat atau not bahagia at all πŸ™ˆ

      Betul mba, fokus paling dasar adalah fokus diri sendiri dan keluarga. Saat kebutuhan sudah terpenuhi dan kita merasa cukup. Baru kita fokus pada sekitar. Dan kalaupun kita ingin tetap fokus pada diri sendiri saja, nggak masalah sebenarnya. Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah kita nggak menjadi beban sekitar dan menyusahkan mereka. Bonus lain seperti bisa bermanfaat, membantu, this and that, akan kembali pada masing-masing personal, mau diapakan uangnya πŸ˜†

      Woooah? Kenapa kategori Dating? Itu dari kantor atau dari internetnya, mba? Hahahaha. Saya jadi ngakak 🀣 Apa karena suka bahas si kesayangan? πŸ˜‚

      Delete
  10. Ngobrolin soal uang ini ngga ada habisnya selama hidup di dunia yak! :D

    Kemarin nonton YouTube Cinta Laura bareng Raditya Dika, ada tentang bahas keuangan. Radit emang dikenal punya financial planning yang bagus.

    Dia juga cerita, waktu menikah dulu malam pertamanya bahas catatan keuangan mau ditaruh di G Drive atau Excel. Wkwk

    Sampe segitu detailnya dia mengatur keuangan biar ngga boncos, meskipun udah kaya raya. Soalnya dia ingin mengantisipasi peringkat pertama perceraian yang mana itu urusan DUIT.

    Dia juga bilang, cara mengatur keuangan itu ada 2 pilihan:
    1. Mau menambah penghasilan
    2. Membatasi pengeluaran

    Paling mudah di sikon sekarang poin nomor 2, yap membatasi pengeluaran. Makanya penting mencatat pengeluaran. Jadi ingin merutinkan perihal catat mencatat keuangan lagi.

    Kalau mba Eno biasanya mencatat keuangan dimana?

    Tentang uang, memang ngga dipungkiri semua butuh uang, tapi juga perlu kontrol diri agar ngga dipekerjakan oleh uang. :p

    Diperburuk kondisi pandemi, dimana beberapa teman harus ditinggal pasangannya mendadak. Yang mana anaknya masih kecil. Suami bilang ke saya, anak-anak ada 3, sedangkan kamu ngga kerja kantoran. Selama ini hanya mengandalkan pemasukan dan sosmed dan blog. Gimana kalau suatu hari "amit-amit" kejadian teman saya ketiban ke saya? Mau ngga mau harus kerja buat membiayai anak-anak T_T

    Makanya sekarang lagi kefikiran pengen nyari kerja kantoran yang pemasukannya lumayan sampai pensiun nanti. Meski kebayang bakal berat kerja kantoran dan urus 3 anak.

    Doakan moga lekas berjodoh bisa kerja kantoran ya mba.. :D



    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya begitu mba, selama masih butuh, maka akan selalu diperbincangkan 🀣 hahahaha. By the way, alasan Radit hampir sama seperti saya, mengingat saya pernah baca kalau alasan pertama cerai itu adalah ekonomi, makanya sebisa mungkin dari awal, saya sudah bahas topik ini bersama pasangan. Untuk antisipasi gagal πŸ˜†

      Saya biasa catat di aplikasi Expense Manager namanya, mba. Untungnya saya sudah jarang hampir nggak pernah transaksi pakai cash (kecuali bayar parkir kayaknya), jadi semua terdata di e-wallet dan rekening tabungan. Dan itu sangat membantu saya dalam hal tracking pengeluaran πŸ™ˆ Biasa saya ada monthly budget-nya, jadi selama nggak melebihi budget tersebut, then everything will be fine 🀣

      Betul mba, jangan sampai kita diperbudak uang, jadi harus kitanya yang pintar mengelola 😍 Dan soal ditinggal itu setuju banget, sebisa mungkin walau kita stay at home, minimal kita tau apa yang bisa kita lakukan apabila sesuatu yang nggak kita harapkan terjadi di hidup kita. Punya back up plan itu nggak ada salahnya, mba πŸ˜† Biar hidup kita juga tenang meski 'sendiri' tanpa pasangan 🧑

      Amiin mba, semoga bisa dapat pekerjaan yang cocok dari segi jobdesc dan pemasukan. Dan semoga jalannya dipermudah meski harus kerja plus urus anak πŸ₯³

      Delete
  11. kalau buat saya, yang penting selalu ingat, kalau uang itu hanya alat.

    alat untuk meraih kebahagiaan (seperti yang sudah dijelaskan mbak eno), dan ada juga bahagia yang kadang gak perlu uang. hehehehe....

    karena iya, ketika berada di situasi kepepet, nggak ada uang beneran bikin gelisah. overthinking, dan ujungnya ga bisa mikir jelas, marah-marah terus atau kepikiran terus dan nggak produktif.

    but yes, at some point in life, kadang, situasi itu terjadi. dan ketika itulah--untuk saya pribadi, kita harus terus ingat kalau ada bahagia yang memang nggak bisa digantikan dengan uang. misal masih ada keluarga yang menemani, masih sehat dan bisa menikmati matahari, atau masih diberikan kemampuan buat berpikir cara nyari uang (eh kok jadi uangception ya).

    soalnya kalau nggak berusaha mikir gitu, aku malah cenderung self-sabotage. bukannya fokus dengan upaya mencari uang, malah makin ngabis-ngabisin uang 🀣🀣

    saat ini, sepertinya saya masih fokus di diri sendiri dan keluarga. kadang suka merasa bersalah dan sedih karena nggak bisa menempatkan "orang lain", se-perhatian orang lain... saya sering kelewat, sering terlupa. namun saya selalu ingat, kalau nggak me"menuhi" diri sendiri dulu, siapa lagi πŸ˜…

    jadi, sekarang ini, fokus pada sekitar yang saya lakukan belum bisa dalam bentuk materi. belum tahu apakah bermanfaat, tapi diusahakan aja dulu kan yaa 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree, uang itu alat, untuk meraih apa yang kita inginkan, tapi jangan dijadikan poros utama. Berpikir soal cara cari uang, atau ingin punya uang, dan berpikir uang bisa kasih kita kemudahan, this and that, bukan berarti kita obsessed dengannya. Karena faktanya hampir semua hal basic yang kita butuh itu perlu dibayar dengan uang, jadi kita hanya berusaha realistis dan berusaha untuk mendapatkannya πŸ˜†

      Tapi juga jangan sampai self sabotage, hahahahaha. Harus balance memang. Pintar-pintarnya kita kendalikan pola pikir atau kelola uang yang dipunya. Dan stay true pada definisi bahagia versi kita. Biar nggak overlaps 🀣 Wk.

      And yes, fokus utama biar bagaimanapun tetap diri sendiri dan keluarga inti dulu, baru keluarga dekat, kemudian sekitar. Jangan sampai kita fokus ke orang lain terus lupa taking care diri kita. Itu bisa bahaya πŸ™ˆ Semangat untuk kita, mba 😍

      Delete
  12. Kerja adalah passion..mantaap yaa mbak eno. Ini kayaknya mbak eno berzodiak capricorn. Rangorang yang terlahir dengan ambisi dan pekerja keras. Eeh, malah bahas zodiak...hahahaha 🀣🀣

    Bener...!! duit emang ga bawa bahagia. Kalau jumlahnya sedikit...hahhahaha
    Tapi kalau banyak duit, kita bisa punya banyak kesempatan untuk bantu orang lain. Yang mungkin aja bisa bikin orang tersebut bahagia. Kemudian kita juga ikut bahagia melihat orang tsb bahagia. Yaa sederhana aja, kayak nraktir orang tua di resto, ngajak liburan orang tua/pasangan, atau membelikan mainan atau jajan untuk keponakan. Atau mungkin membungkam suara token listrik yang berisik minta dikasih makan....hhahahahhaa

    Setidaknya kalau kita banyak duit kita ga jadi beban atau merepotkan orang lain. Kita bisa mandiri sesuai dengan kemampuan kita.
    Itu sih berdasarkan pengalamanku. Jadi yaa merasa tenang kalau lagi banyak duit. Kalau ada yg butuh bisa langsung bantu.


    Orang-orang tua yang masih bekerja itu karena mereka suka, iyaa mereka suka. Kerja bagi mereka sdah seperti ibadah dan olahraga. Dibandingkan mereka ga melakukan sesuatu, badan mereka akan sakit-sakitan. Mereka senang kalau penghasilan yang didapatkan bisa dibagikan ke cucu-cucunya. Simbahku dulu sering ngasih 500perak ke aku dari untung dari jualan...hahahaha

    Jadi duit banyak itu penting. Tapi jangan sampai melupakan hal-hal sekitar. Semuanya mesti seimbang dan ga perlu berlebihan...sesuatu yg berlebih itu ga baik. Kecuali senyuman orang terkasih di pagi hari....hahahhaha 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya entah kenapa suka banget kerja, kalau nggak kerja jadi sakit badan 🀣 Macam nenek-nenek, soalnya nenek saya pun begitu mas entah kenapa. Wk.

      Jadi ingat cerita tokennya mba saya, betapa happy-nya mba saya dulu bisa beli token 50 ribu, karena biasanya cuma bisa 20 ribuan πŸ™ˆ Memang definisi bahagia setiap orang itu beda, dan salah satu definisi bahagia yang nggak bisa kita tampik adalah saat lihat orang di sekitar kita bahagia karena kita membantunya 🧑

      Dan iya, itu yang utama, jangan sampai jadi beban sekitar. Kalaupun nggak bisa bantu nggak apa-apa, yang penting, nggak menyusahkan 😁 By the way, senyuman orang terkasih kalau berlebihan jatuhnya kayak lagi ada maunya, mas 🀣

      Delete
  13. Menurut saya, manusia itu kompleks, dan kehidupan manusia itu sebuah hal yang sangat kompleks. Mencoba mengkotak-kotakkan kehidupan adalah langkah manusia agar otaknya bisa menyerap semua realita yang ada di dunia.

    Sayangnya, terkadang hal itu membuat pola pandang manusia menjadi sempit karena ujungnya mereka pandangan mereka terkungkung oleh kotak kotak yang mereka buat sendiri. Mereka melihat dunia dalam cungkup sebatas yang mereka mengerti dan beranggapan semua manusia berada dalam cungkup yang sama.

    Tulisan Awl, bagus, rapi, teratur. Hanya saja memperlihatkan sebuah cungkup yang membatasi pandangannya.

    Tulisan Eno lebih realistis dan mungkin ini karena perbedaan kematangan antara Eno dan Awl dalam memandang sesuatu.

    #ceilee... bisa juga yah saya ngomong begini.. Padahal ga ngerti juga artinya apa..

    Dah nyelem lagi aahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes setuju mas, karena kita as human suka hidup dalam comfort zone versi kita, dan punya penilaian sendiri terhadap kotak-kotak yang kita buat. Seperti yang mas bilang, hidup ini kompleks, dan kita as human pun kompleks. Jadi kita berusaha membuat kotak versi kita untuk mempermudah hidup kita, which is okay πŸ˜†

      Nah, yang nggak okay menurut saya adalah kalau kita memaksa seseorang memiliki pandangan sama dengan kita, padahal bisa jadi kotak yang mereka punya beda 🀣 Makanya di atas saya tekankan kalau tulisan ini based on pengalaman saya. Dan sudut pandang saya, serta bagaimana hidup saya berjalan yang membentuk pola pikir saya pada akhirnya πŸ™ˆ Biar nggak ada yang merasa saya paksa. Wk.

      By the way, thank you mas Anton buat sharing pemikirannya. Been a while nggak tukar sapa via komentar. Semoga mas, mba Hes dan mas Kribo sehat, ya 😍

      Delete
    2. Dari kemarin saya tuh pengin komentar... sepertinya artikel yg di-posting mba Eno ini semacam "jawaban" atas komentar Pak Anton di postingan-nya JustAwl :D heheheh,

      ehh, ternyata pak Anton muncuuull dan komennya kok tumben teduh banget :D Ga ada hawa-hawa ala Ronin sama sekaliiii :D

      Delete
    3. Terus saya baru sadar ternyata mas Anton balas komen saya habis baca komen dari mba Nurul hahahahaha. Gubrak. Saya kemarin ngelink post Awl tanpa scroll sampai habis ke bawah soalnya 🀣 By the way, mas Anton jadi Ronin biasanya di blog mas Anton sendiri, mba. Kalau di blog teman-teman dan blog saya termasuk jarang πŸ˜†

      Delete
  14. Tulisan Awl itu memang suka bikin mikir, Mbaa. Which is good, karena otak ini memang butuh diajak kerja terus biar nggak tumpul 🀣

    Aku juga berkomentar di tulisan Awl tentang money can buy happiness ini. Menurut pandanganku sendiri, uang bisa memberikan kita pilihan. Ini yang aku rasakan waktu mau kuliah dulu. Saat itu orang tuaku lagi susah finansial, pilihanku pun bukan lagi memilih kuliah di universitas apa, melainkan harus memilih antara lanjut kuliah atau mengambil gap year. Di situ aku ngerasa banget betapa uang punya peran penting untuk memberikan pilihan bagi manusia.

    Soal skill menambah uang juga penting banget yaa, Mbaa. Beberapa waktu lalu, aku sempat ikut kulwap mengatur keuangan keluarga gitu, narasumbernya sempat mention, "kalau dirasa mengatur keuangan udah ok, tapi masih merasa nggak cukup bayar ini itu, berarti harus bisa cari pemasukan tambahan." Ini yang jadi PR aku sekarang ini, sih, Mba. Mudah-mudahan setelah anak-anak cukup besar dan mandiri, aku siap untuk menambah pemasukan pribadi lagi, jadi nggak melulu tergantung dengan pasangan πŸ™ˆ sembari menanti waktu tersebut, sekarang mengasah skill dulu, ihiyyy~

    Thanks for sharing your thoughts, Mba Eno! <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyes, biar nggak tumpul dan nggak pikun, mba πŸ˜‚

      Dan setuju sama mba Jane, uang punya power untuk kasih kita pilihan lebih banyak. Contoh paling sederhana seperti yang mba Jane jabarkan. Ketika kita punya uang, kita bisa lebih mudah pilih mau kuliah di mana. Bukan kuliah atau nggak 🀧

      Amiiin, semangat mba Jane, you can do it ~! Semoga pelan-pelan bisa dapat pemasukan tambahan jadi nggak melulu bergantung ke pasangan. Dan semangat juga dalam proses pengasahan skill-nya, slow but sure, mba 😍

      Delete
  15. Setuju sama Kak Eno dan bapaknya sohibulnya Kak Eno, uang memang nggak bisa beli semua kebahagiaan tapi punya uang yang cukup itu bisa bikin hidup lebih tenang. Tenang tentang masa depan, tenang bantu-bantu orang. Yaaa pokoknya nyari uangnya pakai jalan yang halal, nggak nilep uang orang lain, apalagi nilep uang rakyat🀭 (tolong doakan semoga nggak ada kang nasgor depan rumah habis ini)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, nggak akan bisa beli semua, tapi cukup punya power untuk bantu memudahkan hidup kita dan membuat kita tenang serta nyaman πŸ™ˆ

      Apalagi rasa tenang akan masa depan nggak bisa didapat dengan mudah akibat segala sesuatu yang nggak pasti, but seenggaknya dengan kita ada uang, kita jadi punya pegangan dan jangan lupa back up plan pun perlu sejalan 😁

      By the way, kenapa ada tukang nasgor, mba? 🀣

      Delete
    2. Muantap banget Kak Eno, udah level financial advisorπŸ‘Œ

      Wkwk itu jokesnya orang-orang, kalau habis ngritik pemerintah suka takut ada kang nasgor atau kang bakso bawa walkie talkie di depan rumahπŸ˜‚ alias intelπŸ˜‚

      Delete
    3. Belum sampai tahap itu ilmunya, mba 🀣
      Oalaaah maksudnya intel tho, baru paham saya πŸ˜†

      Delete
  16. nah, ini postingan yg saya senang, benar dan tak ada kesan menggurui dan justru berbagi pengalaman bijak, makasih banyak ya mb Eno...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mas, terima kasih sudah baca sharing pengalaman saya πŸ˜†

      Delete
  17. aku relate banget sama mbak nya mba eno
    kalau usaha sepi, yang ada dipikiran pasti "gimana nanti kalau dipecat, karena jualan nggak bisa untung hari ini", tapi tetep berusaha positif thinking masih ada besok
    kayaknya pemikiran "takut" akan mulai usaha ada ya takut merugi, padahal dijalanin aja belom
    itu aku hahahaha

    gimana mau maju coba ya hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sebagai staff pasti ada rasa kawatir jika usaha sepi, dan nggak ada keuntungan, otomatis keuangan menurun, dan ada kemungkinan dipecat. Makanya, kalau sudah begitu, biasa saya selalu makesure untuk nggak perlu kawatir atau berpikir jauh ke sana, yang penting keep giving our best, as best as we can 😍

      Menurut saya normal untuk merasa takut ini dan itu, dengan adanya rasa takut, kita jadi lebih hati-hati dan waspada dalam melangkah, kaaan? πŸ˜†

      Delete
  18. Jadi maluuu dimention kak Eno, hihiπŸ™ˆπŸ˜ Aku amat sangat setujuu sekali banget bingitss binggoo sama apa yang kak Eno jabarkan. Mungkin postingan kakak ini jadi versi lembut dan bijaknya dari postingan aku kemarin yg terlalu menggebu-gebuπŸ˜…, padahal maksudnya sama hihi. Agak berlebihan aja memang nih si Awl ngasih judulnyaπŸ˜‚. Beberapa bulan yang lalu udah sempet aku edit secara konten, semoga nggak blunder dan sampe maksudnya ke teman-teman yang baca😍

    Eh ngapa jadi ngomongin postinganku yaa🀣 xixixi maafkan, kak Eno. Yang pasti kerja keras lah selagi bisa dan mau yaa kak, kejar cita-cita setinggi mungkin, namun juga jangan pakai kacamata kuda dengan memetakan kebahagiaan pada uangπŸ˜πŸ€—

    *yoshhhaaa hwaiting!!*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, versi Awl pun bagus, sangat menggambarkan pribadi Awl yang berapi-api khas jiwa muda 😍 Eniho, kakak sudah baca ulang versi editingnya, dan lebih jelas informasinya, jadi semoga nggak menyebabkan blunder lagi, yaaa πŸ₯³

      And setuju, selagi masih muda, masih ada tenaga, masih bisa, yuk kerja 🀣 Semisal ada cita-cita, sebisa mungkin dikejar, yang penting tetap balance, macam bahasa jaman sekarang, Work Life Balance ceunah 😁🧑 Semangat~!

      Delete
  19. Couldn't agree more lah mba ❤️. Aku juga pasti bakal milih punya uang walo blm tentu bahagia, daripada ga punya uang samasekali :D. Maaf, tapi aku bukan tipe yg percaya cinta doang cukup untuk bahagia 😁. Mungkin di awal bisa, tapi lama kelamaan, susah sih... Pengeluaran makin gede, anak mungkin nambah, akan susah tetep berpegang teguh dengan cinta doang.

    So, aku prefer tetep punya uang. Setidaknya kalo bingung mau gunain untuk apa duitnya, banyakin aja sedekah, zakat, dan bantu sekitar. Kalo itu ga bikin bahagia, aku curiga si pemilik bukan manusia berhati. πŸ˜…. Nolongin orang dengan uang kita sendiri, itu sangat sangat bikin happy soalnya. See, mendingan punya uang jadinya ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. YOOOO TOOSSS MBAAA, hahahaha itu yang saya maksud, PERSIS! 🀣

      Better punya uang walau belum tentu bahagia, daripada nggak punya at all. Duh, sudah nggak bahagia, bokek pula, itu sangat nggak enak sepertinya 🀧 And yes, saya pun nggak bisa kalau cuma percaya cinta, mba. Karena semua hal basic harus dibayar pakai uang, jadi sebisa mungkin sama-sama harus realistis dan usaha 🧑

      Thank you sudah sharing pengalaman mba Fanny, as usual always love your thoughts hahahaha. Karena sering mirip sama apa yang saya pikirkan πŸ˜‚πŸ€

      Delete
  20. Jadi inget Squid Game mbaa. Ternyata yang punya banyak uang pun saat sudah tua malah merasa tidak bahagia dan buat permainan yang mengingatkannya akan masa kecil. Walaupun cara bermainnya ada punishment yang cukup tragis.

    Setuju sama penjelasan Mba Eno. Memang kita perlu uang semata-mata bukan cuma untuk happy-happy aja. Seperti komen Mba Fanny, kebutuhan pribadi pun terkadang perlu di bayar dengan uang.

    Si Koko pernah nanya ke aku apa hidup aku happy semenjak menikah sama dia. Jelas aja aku happy. Sejauh ini hidup aku aman dan nyaman. Mungkin kebanyakan orang bilang kenapa aku harus kerja sehabis menikah. Memang uang bulanan ga cukup. Kerja buatku bukan cuma demi mendapatkan uang, tapi lebih ke aktualisasi diri. Bonusnya tiap bulan aku punya penghasilan tetap. Tentunya ini juga demi kebaikan bersama, semisal ada hal yang tidak diinginkan, tentu salah satu pasangan harus punya penghasilan tetap kan.

    Suka tidak suka kita perlu mencari uang, sebab kebutuhan sehari-hari kan tidak bisa di skip untuk jangka waktu lama. Minimal hidup akan tenang dan tidak perlu takut tiba-tiba ada yang gedor-gedor pintu minta uang karena kita meminjamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Devina, kita kerja bukan karena nggak cukup uang bulanan ~ kadang ada alasan-alasan tertentu yang membuat kita tetap pada pilihan untuk bekerja dan itu sama kok dengan teman-teman yang memilih nggak kerja. Semua pasti punya alasan, dan kalaupun nggak punya alias memang suka, itupun nggak masalah 😁

      Dan setuju sama mba Devina, biar bagaimana pun biaya hidup, kebutuhan sehari-hari nggak bisa di-skip, jadi selagi bisa diusahakan dan disiapkan, why not, kaaan. Ini bukan berarti hidup kita hanya connected to uang πŸ₯³πŸŽ‰

      Delete