Childfree | CREAMENO

Pages

Childfree

Hari ini baca post soal Childfree di blog Awl dan mba Phebie, terus gue baru tau ternyata topik ini cukup heboh di Indonesia *maaf, agak kudet huehehehe* ๐Ÿ˜† Sambil membaca post dua teman bloggers gue tersebut, gue sambil coba memahami berbagai macam sudut pandang yang ada ~ gue pribadi sama si kesayangan memang punya kesepakatan childfree, karena alasan tanggung jawab yang sepertinya nggak bisa gue dan si kesayangan penuhi sebagai calon orang tua ๐Ÿ˜

Tanggung jawab dalam hal apa? Pastinya dalam hal mendidik dan membesarkan ๐Ÿ˜‰ Karena kami sadar kekurangan kami yang kemungkinan besar mempengaruhi pola didik kami pada anak-anak ๐Ÿ˜… Apa kami nggak suka anak-anak? Well, ini jauh lebih deep daripada sekedar rasa suka atau nggak ~ dan kami nggak mau kami jadi orang tua yang nantinya justru membuat anak kami sedih karena sikap kami yang nggak tepat (because we know ourselves best). Tho, kami tau jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya, however, jika boleh memilih, kami pilih untuk nggak punya anak ๐Ÿ™ˆ

Dan berjalan dengan waktu, bertahun-tahun kemudian, kami masih tetap pada keputusan kami diawal. Ditambah usia gue juga semakin tua, jadilah topik itu redup dengan sendirinya. Namun beside the fact kami nggak berencana punya anak, sebetulnya kami punya banyak anak asuh yang kami biayai sekolahnya plus kami support hidupnya. And we are glad, orang-orang di sekitar kami bisa memahami serta mendukung apapun yang kami rencanakan ๐Ÿ˜

๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿฐ  

Ohya, karena keputusan kami ini, kami sudah punya rencana hari tua agar nantinya kami nggak merepotkan sekitar. Salah satunya adalah investasi dalam kesehatan personal dan tabungan. Di Korea sendiri, fasilitas untuk orang tua ada banyak, mungkin semacam panti jompo di Indonesia. Dan kalaupun nggak masuk panti jompo, ada petugas sosial pemerintah yang kerjanya memang khusus mengurus para orang tua atau kita bisa bayar caretaker untuk mengurus kita ๐Ÿ˜

Terus teruus, gue sama si kesayangan ada keinginan adopsi anak tapi yang usianya remaja (lulus SMA), karena anak panti di Korea (kurang tau kalau di Indonesia) saat sudah selesai SMA biasanya dilepas dan dikasih uang saku untuk hidup mandiri (seperti Han Ji Pyong -- siapa tau ada teman-teman ingat). Jadi semisal diberi kesempatan, one day kami ingin adopsi mereka tujuannya agar kami bisa bantu mereka sebagai 'guide' dan teman diskusi (yang sah dan melindungi mereka as 'orang tua') dalam menentukan arah hidup sebelum mereka menjalani pilihan mereka ๐Ÿ’•

My happiness ๐Ÿ˜

By the way, sebelum menulis blog ini, gue baru membalas surat-surat yang gue terima dari 'anak' gue, dan surat ini sukses membuat gue senang menjadi 'orang tua' versi gue sendiri cencunyah ๐Ÿคฃ And within this post, gue berharap, apapun keputusan teman-teman bersama pasangan itu adalah yang terbaik yang bisa teman-teman putuskan karena teman-teman sendiri yang tau diri teman-teman ๐Ÿฅณ Mau punya anak atau nggak, semua kembali pada kesiapan based on standar teman-teman, jadi jangan sampai terbebani dan akhirnya sakit akibat kepikiran ๐Ÿ’• Cheer up!

40 comments:

  1. ahaaa baru aja beberapa menit lalu kepikir mba eno lho
    ehhh ada post baru, perasaan kemarin masih off tulisannya hehe

    tau aja kalau aku kangenin hahahaha

    nahh baru aja aku juga baca post Awl, dan keinget post mba eno yang lama, yang soal komitmen sama pasangan setelah menikah itu
    ternyata jadi post juga

    baca surat dari anak anaknya mba eno auto senyum senyum ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiiiik, ada yang kangen nih ceritanya ๐Ÿ˜†

      Terima kasih mba Ainun sudah ingat post lama saya, padahal saya saja sudah nggak ingat itu post judulnya apa ahuahaha ๐Ÿ˜‚ Much loveee ~ ๐Ÿ’•

      Delete
  2. Childfree ini di twitter juga rame banget Mba Eno. Banyak orang pada saling lempar pendapat sana-sini, dan nggak sedikit pula yang jatuhnya ke arah judging.

    Aku sendiri pas awal2 malah nggak nggeh kalau ChildFree ini berkaitan sama kondisi keinginan Punya anak atau nggak..

    Well, kalau aku pribadi sih sependapat ya sama Mba Eno. Aku berpikir kalau Isu seperti ini masuknya sudah ke ranah pribadi. Terlepas dari keinginan punya anak atau nggak, yang lebih tahu kondisinya ya diri kita masing2. Jadi, woles aja gitu.

    Semisal ada orang yang bilang "saya belum bisa atau nggak mau punya anak" ya kita yang dengar sebaiknya kan "Oh Okee deh" tanpa perlu bertanya kenapa? Atau apapun itu. Mau punya anak juga loss.. hahah ๐Ÿ˜… keep it simple...๐Ÿ˜…

    Btw tadi aku penasaran sama isi tulisan anak asuh Mba Eno. Lihat dihape nggak kelihatan soalnya. Nggak bisa di zoom. Hehe. Maklum hape kentang. ๐Ÿ˜‚ nanti deh tak lihat lewat Laptop pas pulang kerja nanti.

    Cuma bisa baca kata "dari aku Tegar untuk Tante" .. hehe
    Doaku yang terbaik untuk Dek Tegar dan yang lainnya. Semoga hidupnya selalu diberkahi dan bahagia.. doa yang sama untuk Mba Eno dan kesayangan juga ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oalah ternyata ramai di Twitter, mas ๐Ÿ˜†

      Setuju sama mas Bayu, ini sudah masuk urusan personal, dan yang bisa tentukan mau seperti apa (punya anak atau nggak) hanya yang menjalaninya saja. Karena kita nggak akan tau kondisi di belakang layar masing-masing personal ๐Ÿ˜

      Isi suratnya ini mas:

      Assalammualaikum, apa kabar tante? Semoga sehat. Masih ingatkan sama Tegar yang dulu dikasih perlengkapan sekolah yang bagus. Terima kasih ya perlengkapannya masih dipakai. Sampai sekarang awet karena bagus.

      Semoga semua kebaikan kamu dibalas pahala yang berlimpah dari Allah. Semoga semua urusan dilancarkan sama Allah. Terima kasih nanti aku sambung kembali suratnya. Dari aku Tegar untuk Tante ๐Ÿ’•

      Delete
  3. Maaf gagal fokus ama background foto, itu lego kah? Keliatan imuuuttt.

    Childfree emang lagi rame Mbak, sejak ada selebgram yang ngaku kalau beliau begitu.

    IMHO mau childfree, mau punya anak 1, mau punya anak banyak, ya terserah.

    Sayangnya ada saja yang kepo dan jadinya seperti men-judge pasangan yang memutuskan childfree. (sorry but di circle-ku kayak gini) Padahal ya terserah mereka to? Toh kehidupan tiap orang beda2.

    Apa ini termasuk marriage-bullying ya? Karena saya hanya punya 1 anak (karena alasan kesehatan) seriing banget ditanya kapan nambah?

    Jadinya gini Mbak:
    Mutusin childfree salah, punya anak 1 katanya kurang, punya anak 2 (yang sama2 cewek/cowok) dibilang gak lengkap, punya anak 3-5 dibilang kebanyakan. Susah euuy rempong amat.

    Kalau nurutin kata orang emang gak habis2, jadi yaa cuek ajaa.

    Mau childfree silakan. Bebas aja sih menurut saya.

    Mungkin karena ini sesuatu yang baru di sini, jadi banyak yang kaget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Vina, itu beberapa koleksi mainan block saya ๐Ÿ˜†

      Memang topik seperti ini rawan kepo ya, mba. Mau itu keputusan nggak punya anak, nggak menikah, nggak mau tambah anak, this and that, pasti ada saja yang penasaran dan ingin tau latar belakang dari keputusan yang masing-masing personal buat. Padahal itu sudah masuk ranah privacy seseorang ๐Ÿ™ˆ hehe ~

      And yeah, saya pikir, mungkin karena itu hal baru di Indonesia, jadi masih banyak yang kaget dan menganggap keputusan tersebut nggak wajar ๐Ÿ˜

      Delete
    2. Betuul banget udah masuk ranah privasi.

      Delete
    3. ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete
  4. Childfree ya? jujur aja aku ga tahu kalo topik ini tengah hangat diperbincangkan di sosial media. Yang aku tahu cuma soal gitasavitri (youtuber indonesia yang lagi tinggal di Jerman) yang emang sejak nikah udah mutusin ga mau punya anak dan itu rame di kalangan followersnya.

    Menurutku, itu mah hak asasi manusia, persis seperti keputusan apakah mau menikah atau engga.

    Keputusan yang apapun pilihannya tidak berpengaruh ke kehidupan orang lain. jadi seharusnya orang lain (apalagi bukan keluarga, ga kenal sama sekali) ga perlu protes.

    ya ga sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu yang dimaksud sepertinya Ady, soal Gita itu kayaknya ๐Ÿ˜„

      Betul yang Ady bilang, topik ini termasuk hak asasi manusia, dan nggak ada kewajiban mutlak didalamnya. Baik itu untuk urusan mau menikah atau nggak. Mau punya anak atau nggak. Ataupun mau tambah anak dari satu jadi dua atau nggak ๐Ÿ˜

      Well, saya rasa, karena itu hal baru bagi sebagian orang, jadi ada yang belum terbiasa dan menganggap itu hal yang nggak wajar ~ jadi saya berusaha memahami sudut pandang yang diberikan meski bertentangan dengan apa yang saya pikirkan. Pada akhirnya setiap orang akan punya pendapat berbeda ๐Ÿ˜†

      Delete
    2. ini juga terjadi sama aku dan Panda,
      setelah meninggalnya anak pertama karena lahir prematur, kita belum siap lagi untuk punya anak, apalagi istri yang mengalaminya kyk antara hidup dan mati.

      so in that moment, meskipun aku sendiri ingin punya anak, tapi aku ga akan maksain panda untuk program kehamilan lagi, sesiapnya dia aja.

      Terlebih karena faktor kesehatan panda yang belum memungkinkan.

      Meskipun tetangga, kerabat jauh suka berbasa basi dengan pertanyaan "kapan punya anak lagi? jangan dilama-lama.." kita suka balas dengan senyum aja.

      After all, kita berdua cukup bahagia dengan berdua, kalo anak-anak, panda suka ngurusin keponakan-keponakan yang banyakkk kalo berkunjung ke rumah.

      Buatku, semua ada waktunya, dan jalan hidup setiap manusia ga bisa disamakan seperti misalnya setiap pasangan harus punya anak atau anaknya harus lebih dari 4.

      Delete
    3. Huhuhu, I'm sorry to hear that, semoga Panda dalam keadaan baik-baik saja dan lekas pulih dari sakitnya ๐Ÿคง By the way, kalau ada yang bertanya demikian, memang paling benar dibalas dengan senyuman. Karena nggak akan ada habisnya ๐Ÿ˜†

      Ohiya, Ady dan Panda kan punya banyak keponakan, jadi rumah akan selalu ramai bila ada kunjungan ๐Ÿ˜ Semangat selalu Ady dan Pandaaaaaa ๐Ÿ’•

      Delete
  5. Wah Mbak Eno akhirnya nongol lagi setelah sekian lama hehe
    Gimana kabarnya Mbak Eno? Semoga sehat selalu ya ...

    Topik childfree ini emang belakangan lagi rame dibahas. Saya sih nanggepinnya kenapa harus diperdebatkan? Toh itu urusannya masing-masing, setiap orang punya alasan masing-masing dan mereka sendiri juga yang ngejalanin.

    Kayak Mbak Eno yang udah memutuskan juga dan udah punya planning buat ke depannya ini, nyatanya ... Mbak Eno juga punya banyak anak-anak yang di-support. Semangat selalu buat Mbak Eno, yang penting selalu bahagia~ :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Edot apa kabar? Bagaimana bukunya? Sudah rilis kah? ๐Ÿ˜

      Kabar saya baik, mas ~ semoga mas juga, ya ๐Ÿ˜ By the way, topik seperti ini memang riskan jadi bahan perdebatan. Tapi mungkin berjalan dengan waktu, pelan-pelan akan semakin banyak yang bisa menerima karena terbiasa ๐Ÿ˜†

      Terima kasih mas, saya akan selalu semangat! ๐Ÿฅณ

      Delete
    2. Alhamdulillah udah terbit dengan lancar sejak dua bulanan lalu mbak eno ๐Ÿ˜

      Kabar saya baik juga mbak eno ๐Ÿ˜๐Ÿ‘

      Iya ya, lama2 akan terbiasa. Topik perdebatan bakalan ganti dengan topik lainnya ๐Ÿ˜†

      Delete
    3. Woooh saya telat, saya mau beli, maas ~ hahaha. Nanti saya check blog mas Edot untuk cari tau cara pembeliannya, semoga ada informasi di sana ๐Ÿ˜

      Agree, topik perdebatan pasti akan selalu ada, cuma berganti interestnya ๐Ÿ˜‚

      Delete
  6. Ini kapan hari rame banget di Twitter, Kak Eno wkwk. Ternyata ada seorang influencer yang bilang mau childfree. Wah pantesan heboh, aku sendiri pas isu itu keangkat lagi udah nggak kaget, soalnya udah sering juga dengar topik itu. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya telat mba Endah, baru tau habis baca blog mba Phebie dan Awl ๐Ÿ˜‚

      Nah iya, bagi saya ini hal lumrah, saya sudah sering dengar, mungkin salah satunya karena di Korea juga kebanyakan orang memilih childfree dengan berbagai macam alasan, jadi topik ini bukan sesuatu hal yang baru untuk saya ๐Ÿ˜

      Delete
  7. jujur, aku yang masih single ini pun mulai mikirin gimana ntar perihal punya anak (am i too early?) ๐Ÿ˜ฌ
    karena kehidupan makin ke sini nggak mudah efek dari banyak hal di lingkungan tentunya, selain aku sendiri juga merasa masih belum mampu
    ikutan ngedidik adik yang masih kelas 5 sd aja aku masih suka lost control mbak En ๐Ÿ˜… hiks beneran nggak mudah emang
    apapun keputusan mbak Eno dan kesayangan semoga mbak Eno sekeluarga tetap bahagia dunia akhirat yaaa~ ✨๐Ÿ’ƒ๐Ÿผ

    btw, aku mau ngelamar jd anak angkatnya mbak Eno boleh nggakk? ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa mba Dea sudah berpikir soal anak meski masih single ๐Ÿ˜†

      Dengan begitu, mba Dea bisa semakin mengenal diri mba Dea, dan tau apa yang mba Dea inginkan kelak dan bisa mendiskusikan topik tersebut bersama calon pasangan mba Dea ๐Ÿ˜ Ehehehe. I bet, memang susah untuk bisa mendidik seorang anak dengan benar dan tetap berada di jalan yang lurus ya, mba ๐Ÿ˜… huhu.

      Waduuuh mba Dea apa masih remaja? ๐Ÿคฃ

      Delete
  8. Childfree emang sempet heboh juga di dunia medsos kmren itu mba. Dan ketika baca alasan2 orang yg childfree, masuk di akal juga sih. Aku aja yg udah punya anak juga selalu dihinggapi kekhawatiran, apakah nanti akan bisa membesarkan mereka dg baik ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
    Yg aku ga suka itu justru, bagaimana orang nge judge pilihan orang lain. Aneh aja, yg jalanin kan bukan mereka, kenapa mereka yg heboh. Maksa2 orang punya anak, tp abis itu kan jga ga berperan apa2 dlm membantu membesarkan anaknya ๐Ÿ˜† Trus ada juga yg childfree, menjudge yg udah punya anak seolah2 egois krna memaksakan kehidupan ke seorang anak. Wuaaaa lelah klo udah baca yg kaya gt.
    Lbh adem baca postingan Mba eno aja, ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜ terlepas childfree atau tidak, setidaknya sudah memberikan manfaat ke banyak orang. Dan sebaik2nya amal, kan adalah amal jariyah yg akan terus ada sampe kapan pun kan..
    ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, makanya saya salut dan kagum sama teman-teman saya dan mba Thessa juga yang menjadi seorang Ibu karena menurut saya itu bukan hal yang mudah. Tanggung jawabnya super duper besar, dan dalam waktu lama ๐Ÿ˜ But, saya yakin mba Thessa sudah menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak mba Thessa ๐Ÿ˜†

      Nah ini dia, saya berharap semoga nggak ada yang saling judge atas pilihan masing-masing personal. Saya yakin orang tua yang memutuskan punya anak itu bukan karena egois dan ingin memaksakan hidup ke seorang anak. Jadi better saling memahami keputusan satu sama lain tanpa harus berdebat ๐Ÿ˜✌

      Terima kasih sudah baca post saya, mba Thessa ๐Ÿฅณ

      Delete
  9. Hi... ๐Ÿ˜ It's been a while ya sejak terakhir komen di blog ini. Blognya berubah tampilan. So, talking about childfree yang baru baru ini sering dibicarakan. Aku banyak baca komentar di sosial media dan semakin aku baca, semakin puyeng karena kebanyakan yg aku baca kok nadanya agak ngehakimi yeh. Aku rasa tiap orang punya hak menentukan hidupnya masing-masing. Tapi dari sudut pandangku, sebenernya ya gak ada salahnya. Aku ngerasa masyarakat kita masih banyak yg kurang dewasa, kurang bisa menghargai privasi orang lain, keputusan orang lain, kepo dengan urusan orang lain dan......... terlalu cepat mengemukakan pendapat tanpa dipikir baik-baik. Menyampaikan pendapat, nasehat yg agak memaksa. Bersembunyi di balik alasan "cuma sekedar mengingatkan" tapi kok agak maksa ya menyampaikannya .__. Jadi terkesan "mengajari". Aku sendiri sempat mikirin ttg childfree. Beberapa alasan di antaranya karena aku takut melahirkan, haha. Alasan kedua karena aku pikir yg bisa "durhaka" itu bukan cuma anak, tapi orang tua juga... berdasarkan apa yg kulihat dengan mataku sendiri. Walau begitu, pemikiran manusia kan bisa berubah-ubah kapan saja. Mungkin aja hari ini aku berpikir A, lalu entah mungkin bulan depan aku berpikir B.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Ran, apa kabar? Semoga sehat, ya ๐Ÿ˜

      Memang berat kalau terlalu banyak baca perdebatan di sosial media, yang ada kitanya jadi pusing setelah baca ๐Ÿ˜‚ Makanya saya pilih untuk nggak baca dan nggak tau, hihihi, untungnya di blog kebanyakan topiknya ringan dan nggak panas ๐Ÿ˜

      Semoga dari banyaknya perdebatan yang terjadi, itu bisa kita jadikan pelajaran juga sebagai seorang citizen dan netizen untuk nggak mudah menghakimi pilihan orang lain yang bahkan kita nggak kenal ~ dan kita juga bisa belajar untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengemukakan pendapat kita ๐Ÿ’• Thanks for sharing, Ran ๐Ÿฅณ

      Delete
  10. Mba Eno membahasnya juga. Saat topik ini booming di medsos, aku pun bertanya2 kenapa jadi beragam komentar muncul dan cenderung menyudutkan orang yang punya pilihan tsb. Apa yang kini aku rasakan, kurang lebih seperti Kak Adynura. Btw untuk Kak Adynura dan istri, turut berduka cita ๐Ÿ™

    Aku merasakan tahun lalu kehilangan anak karena lahir prematur juga. Sampai saat ini aku dalam kondisi belum siap utk kembali hamil dan melahirkan. Bukan trauma karena memang aku ga mau di berikan label seperti itu, sebab nantinya akan jadi sugesti negatif buat ku. Cuma memang belum siap saja. Pembahasan seputar anak memang sering aku dan koko bahas, terlebih memang koko pada dasarnya ingin punya anak. Sebab dia suka anak-anak. Sedangkan aku dalam tahap mental yang sepertinya ga sanggup dan ga yakin akan kemampuan diri utk merawat dan mendidik anak. Ketika ditanya balik kapan aku siap, jelas aku tidak menemukan jawabannya. Karena aku pun tidak tahu. Terkadang kepikiran apa aku yang memang sudah nyaman di zona ini, lantas ga berani utk kembali mencoba. Cuma, di satu sisi rasa berasalah kepada anak pertama tetap masih ada.

    Kalau di rasa anak cuma sekedar untuk merawat ketika kita tua atau untuk generasi penerus, rasa-rasanya itu kembali ke pilihan personal tiap orang. Bukan berarti yang childfree lantas ketika tua tidak ada yg merawatnya kan. Sepertinya pembahasan seputar anak memang ga ada habisnya mba, apalagi jika sudah membawa persoalan agama. Cuma kebanyakan orang memang suka utk ikut campur, walaupun mungkin dianggap basa basi aja ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for sharing your stories, mba Devina ๐Ÿงก

      Saya tau itu berat untuk mba Devina, dan tentu saja nggak mudah untuk kembali merasa siap, mengulang proses yang sama, this and that. So, pelan-pelan saja mba, setiap dari kita punya timeline recovery berbeda jadi mba nggak perlu merasa kawatir dengan anggapan sekitar. Hope everything goes well untuk mba sekeluarga ๐Ÿ˜

      Delete
  11. Wadow topiknya berattt ๐Ÿ™ˆ Aku kudet banget nih kalo topik childfree ini lagi booming diperbincangkan. Maklum kurang main sosmed wkwkwkw Kukira childfree ini maksudnya bebasin anak-anak dari pengaruh buruk gitu. Ternyata keputusan untuk pilih punya anak ato engga ya wkwkwk Maapin aku yang salah paham ๐Ÿคฃ

    Aku sendiri saat ini masih belum dikaruniai anak dengan pasanganku. Awalnya aku seperti kak Eno. Memutuskan untuk ga cepat-cepat punya anak karena tanggung jawab jadi ortu itu kan berat. Eh tapi tapi saat hati dimantapkan untuk punya, ternyata masih belum diberi. It's ok. Mungkin Tuhan masih belum mau percayain ada jiwa diasuh sama aku dan pasangan. #mendadakmelow ๐Ÿ˜‚

    Aku cukup wow dengan keputus kak Eno dan pasangan yang sampai detik ini memilih untuk ga punya anak kandung. Jarang-jarang yang begini di budaya Indonesia sini kan. Hehe Tapi aku di sini bukan bermaksud judging kak eno dan pasangan yak hahaha Karena kan yang jalanin hidup dengan keputusan itu ya kak Eno dan pasangan kakak. Sepanjang have fun with that sih fine-fine aja toh ya eheheh Daripada punya anak karena terpaksa gitu kan yaaa. Malah nanti didik anaknya ga bener dan apalagi ibu kalo baby blues malah bisa jadi kekerasan ke anak. Lebih mengerikan lagi kaaan huhuhu Jadi memang keputusan punya anak ato engga memang harus disepakati bersama. Bukan karena paksaan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wk, nggak apa-apa salah paham, mbaaaa ๐Ÿ˜† Tapi arti yang mba maksud (membebaskan anak-anak dari pengaruh buruk) itu makesense ugha ๐Ÿ˜‚

      Ayoo ayooo mba Frisca, mungkin benar Tuhan belum beri anak karena Tuhan ingin mba Frisca enjoy the moments dengan pasangan dulu hingga nanti waktunya ๐Ÿ˜ I bet, you will be a great mom for your future le~kiddo, mba ๐Ÿงก

      Frankly speaking, saya suka anak kecil, makanya saya dekat dengan banyak anak di sekitar saya. Bahkan saya dulu bercita-cita mau keliling dunia sama anak, mba. Wk ๐Ÿ˜‚ Tapi memang berjalan dengan umur dan perbincangan demi perbincangan, plus semakin ke sini melihat berbagai macam fenomena. Akhirnya saya dan si kesayangan sepakat untuk lebih baik pada kasus kami adalah hidup berdua ๐Ÿ˜†

      And yes, setuju sama mba Frisca, yang penting yang menjalani keputusan tersebut merasa fun, dan nggak ada tekanan. Dan semoga mba Frisca bisa diberi kepercayaan segera oleh Tuhan sesuai harapan mba dan pasangan ๐Ÿ˜

      Thank you for sharing, mba ๐Ÿงก

      Delete
  12. Senang banget deh ternyata udah banyak tulisan baru, sungguh ku kudet, hahaha.

    Btw, saya udah nulis tentang childfree ini sejak sebelum si Gitasav *sebut namah, hahaha. trending oleh pernyataannya.

    Sebelumnya juga memang trending sih, tapi karena dicetuskan oleh seseorang yang nggak setenar Gitasav, jadinya trendingnya ga bertahan lama.

    Menurut saya sih, itu hak mereka ya, suka-suka mereka, wkwkwkw.
    Lagian loh yang memilih hal itu nggak merugikan orang lain, nggak menghasut orang lain juga buat ngikutin.

    Kalaupun ada yang mau heboh, ya sebenarnya keluarga si Gitasav ama suaminya kan ye, kan mereka yang terkena dampaknya langsung, nggak bisa punya keturunan dari darah mereka (jika rencana Gita dan suaminya berjalan dikabulkan Tuhan sih).

    Karena sejatinya, anak itu kuasa Tuhan, mau ditolak, mau ditunggu, kalau Tuhan berkata lain ya bisa dengan mudah membolak balikan hati manusia.

    Kalau saya mendukung banget sih ya, karena sejujurnya kalau saya terlalu lelah, selalu ada di hati saya.
    Coba dulu ya saya nggak usah punya anak, saya fokus cari duit aja, buat punya anak asuh aja.

    Karena memang saya lebih suka urus cari duit, ketimbang urus anak, wakakakak.
    Tapi ya ujungnya kembali sadar, apa yang Tuhan kasih ke kita semua itu, adalah yang terbaik, yang perlu saya lakukan hanyalah menjalaninya dengan penuh semangat.

    Masalah orang lain memilih childfree atau enggak, sebenarnya bukan hal yang harus diperdebatkan, karena ini bukan urusan negara wkwkwkw.
    Urusan pribadi orang, pilihan hidup orang lain, yangsama sekali nggak merugikan orang lain.

    Saya sempat baca beberapa tulisan sih, yang intinya khawatir jika seorang influencer berpendapat di medsos hal seperti itu, akan mempengaruhi generasi muda termasuk anak-anak kita.

    Lah, nggak bisa juga nyalahin medsosnya sih menurut saya, karena udah bukan rahasia umum, sekarang tuh hal-hal yang dulu tabu, udah tampil berani di medsos, misal lagibeteh yang terang-terangan ada di TikTok.

    Lucunya banyak juga mamak-mamak main TikTok, wkwkwkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Rey, I miss you ๐Ÿ˜

      Iya, kayaknya saya pernah baca tulisan mba Rey soal childfree, dan saat itu pun suka dengan apa yang mba sampaikan. Plus setuju mengenai dampak dari keputusan seseorang yang mana sebenarnya nggak mempengaruhi kehidupan kita as penonton di belakang layar. Jadi sebenarnya sah-sah saja mereka mau ambil keputusan apa ๐Ÿ˜‚

      And saya juga pernah baca soal keinginan mba Rey untuk terus kerja bila nggak punya anak. However, saya pun tau kehadiran anak-anak mba Rey adalah salah satu berkat kebahagiaan yang Tuhan berikan untuk mba ๐Ÿ˜

      Dan saya rasa, generasi muda sekarang cukup terbuka dengan segala macam pendapat, dan nggak sekonyong-konyong mengikuti atau terpengaruh apa yang influencer katakan. Jadi, let's trust the new generation untuk pilih bagaimana hidup mereka ingin berjalan. Hehehehe ๐Ÿงก Thanks for sharing as always, mba Rey sayang ๐Ÿฅณ

      Delete
  13. Halo Kak Eno, apa kabar? Semoga kakak dan suami sehat-sehat ya..

    Kalau aku baca komentar dari teman-teman, semuanya menghargai keputusan tiap individu, nggak ada penilaian buruk soal pilihan menjadi childfree.

    Di aku sendiri sama, childfree itu pilihan bukan gaya hidup. Pastinya orang-orang yang memilih pilihan tersebut g semberono, sudah dipikirkan matang-matang.

    Sebelum menikah, aku sempat ada dititik bimbang masalah anak, kayak nggak yakin diri ini mampu untuk jadi orang tua. Kek ada tekanan batin karena aku ngerasa lingkungan ikut memberikan tekanan ekspektasi bahwa aku sebagai perempuan ya kodratnya jadi ibu, padahal di dalam diriku keinginan menjadi ibu nggak muncul.

    Aku dititik pasrah kalau pada akhirnya Hyung tidak bisa mentoleransi dan memilih berpisah karena perbedaan value masalah anak. Akhirnya kami diskusi dan aku mengakui keadaanku, bagaimana aku memandang anak dalam diriku. Singkatnya Hyung menerima, dia bilang kalau tujuannya menikah bukan untuk punya anak, ada atau tanpa anak tidak akan mempengaruhi niatannya menikah. Dia juga bilang, pengalaman hamil, melahirkan, dan menyusui yang bakal ngerasainnya aku, jadi aku berhak menentukan keputusan atas tubuhku sendiri.

    Wkakaka ๐Ÿคฃ
    Maaf ya kak, aku jadi curcol..
    Rasanya happy kayak ketemu temen yang bisa ngungkapin perasaanku tanpa di jugde.
    And thank you for sharing your story..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Pipit, kabar baik, mba apa kabar? ๐Ÿ˜

      Iya mba, teman-teman bloggers sangat terbuka dan menghargai keputusan setiap individu untuk menjalani hidup sesuai apa yang diinginkan ๐Ÿ˜

      By the way, nggak apa-apa banget curcol, agar pembaca lain dapat melihat perspektif dari mba Pipit, dan menurut saya, topik soal Childfree ini memang baiknya didiskusikan terlebih dulu dengan pasangan sebelum lanjut jenjang berikutnya. Dalam artian menyamakan persepsi, visi dan misi agar bisa sejalan ๐Ÿงก

      Glad pasangan mba Pipit menerima apa yang mba sampaikan, dan mendukung mba Pipit sepenuhnya, karena betul yang pasangan bilang bahwa pengalaman hamil, melahirkan dan menyusui itu sepenuhnya akan mba Pipit yang rasakan, jadi mba Pipit punya hak untuk menentukan keputusan akan tubuh yang mba punya ๐Ÿ˜„

      Thanks for sharing, mba ๐Ÿฅณ

      Delete
  14. Wah topik ini jadi ruameeee banget tempo hari, Mbak Eno.
    Masing-masing orang punya pandangan yang berbeda-beda tentunya dan saling kekeh sama pendapat masing-masing.
    Kalau menurut ku sih ya bebas aja orang mau punya pendapat seperti apa, kita kan gak bisa memaksakan apa yang kita yakini ke semua orang.
    Lagipula kan situasi hidup orang itu berbeda-beda jadi gak bisa dipaksakan menjalani pandangan yang sama.
    Cuma ya seharusnya bertanggung jawab atas keputusan yang sudah diambil buat diri masing-masing tanpa merugikan pihak manapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu sebaiknya jangan sampai kekeuh memaksakan pendapat, karena setiap orang punya background stories berbeda-beda ๐Ÿ˜ And yes, seperti yang mba Wulan bilang, situasi dan kondisi kita semua nggak sama, jadi nggak bisa dipukul rata ๐Ÿ™ˆ

      Thanks for sharing, mba ๐Ÿฅณ

      Delete
  15. Childfree dan marriage-free menurut gue adalah sebuah pilihan, bukan kewajiban.

    Jaman sudah berubah, pola pikir telah berkembang, manusia juga menjadi lebih cerdas dengan semakin mudahnya akses untuk memperoleh informasi dan melakukan perjalanan. Sekarang, manusia semakin tahu apa yang diinginkan, yang disukai dan tidak disukai, yang dia mampu dan nggak mampu dalam hidupnya.

    Yang penting sehat-sehat dan berbahagia, mbak Menooo. Gue sebenernya pengen lanjut nanya satu hal lagi tapi kayaknya too early, too personal ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes indeed, itu pilihan bukan kewajiban, karena bahagia setiap orang itu beda. Ada yang didapat dari pernikahan atau memiliki anak, dan adapula yang nggak ๐Ÿ˜

      Setuju sama mas Nugie, karena pengaruh perkembangan jaman, kita jadi harus belajar untuk adaptasi dan ikut berkembang. Hehehe. Terima kasih mas Nugie doanya, doa yang sama untuk mas Nugie, semoga sehat dan bahagia ๐Ÿ˜

      Delete
  16. Pas topik ini heboh, jujurnya aku ga mau ikutan komen, Krn yg setuju utk menentang childfree banyak bangetttttt wkwkwkwkwk. Kasian si Gita sampe Nerima hujatannya :(.

    Dan karena aku males ribut, Yo wislaaah, ga usah masuk ke topik itu apalagi kalo yg nulis pendukung garis keras utk punya anak :D. Malah ada yg hubungin Ama agama segala.. duuuuh....

    Naaah baca tulisan mba Eno, baru aku seneng. Krn sepakat.. aku sangat mendukung utk childfree. Sejujurnya sampe skr pun aku ga suka anak. Aku ga punya kesabaran utk ngasuh seorang anak. Dulu sebelum nikah Ama suami, Ama mantanku kami sepakat utk ga punya anak. Krn memang ga suka. Aku sering migren kalo udah denger tangisan anak kecil. Daripada maksa punya hanya Krn utk nyenengin keluarga, ato hanya utk nerusin keturunan, tapi anaknya ga aku asuh dgn semestinya, buat apa toh. Lagian gen2 ku ga segitu istimewanya buat diterusin :D.

    Tapi namanya ga jodoh Ama si mantan, malah ketemu pak suami yg penyabar dan penyayang anak hahahah. Kami sempet putus pas tau aku ga mau punya anak. Cuma Krn aku bucin aja Ama suami, akhirnya ngalah , balikan, dan mau utk punya, dengaaaaan banyak syarat :D. Salah duanya, aku hrs diksh babysitter full utk jagain anak, dan pak suami hrs spare waktu utk bisa liburan berdua aja setiap tahun TANPA ANAK, maksimal 10 hari liburan. Dan dia agree. So, here I'm ๐Ÿ˜. Punya dua anak, yg jujur aja sampe skr ga terlalu Deket Ama aku, kecuali si bungsu yg bisa ngambil hati, Krn mirip papinya hahahahah. Tapi tetep dlm hal kesabaran, aku blm bisa mba. Makanya mrk LBH Deket Ama pengasuhnya. Biarlah, terlebih Krn menurutku sendiri, anak2 tumbuh LBH baik berkat babysitter nya :). Ini kalo dibaca fans garis keras penentang childfree, aku udah diganyang mungkin ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriously sampai banyak yang hujat, mba? ๐Ÿ˜ฒ

      Saya tau cerita mba soalnya dulu mba pernah bahas soal anak. And I can totally understand that ๐Ÿ˜ Wk. Jadi ingat salah satu alasan relasi Korea saya dan si kesayangan yang mirip sama alasan mba Fanny soal genetik dan nggak mau punya anak, dia bilang, "Gen gue biasa-biasa saja, nggak segitu bagus untuk diteruskan." ๐Ÿคฃ

      By the way, yang namanya hidup memang perlu kompromi ya, mba. Apalagi dengan pasangan, sebisa mungkin apapun itu dibicarakan. Mana topik soal anak salah satu topik penting, and thank God, mba Fanny sama pasangan bisa temukan titik tengah yang terbaik untuk kedua belah pihak. Jadi win-win solution akhirnya ๐Ÿ˜

      Delete
  17. Sebenernya waktu topik ini ramai diperbincangkan, ngga ingin ikut mengomentari karena mau punya anak atau ngga punya anak itu urusan masing-masing orang.

    Kalau keluarganya aja mau menerima keputusan anak-anaknya yang ingin childfree, kenapa orang lain harus ribut sendiri?

    Bisa dibilang, aku baru nyadar setelah punya anak banyak itu ternyata riweuhhh.
    Mana anak keduaku lahir dua langsung, diluar ekspektasi.

    Kalau orang lain mungkin senang denger punya anak kembar, pas hamil dulu cuma bisa senyum kecut. Jarak umur dengan kakaknya juga berdekatan.
    Dalam hati, "cobaan apa lagi yang akan kuterima Ya Tuhan T_T

    Karena ngga siap, kami jadi sering uring-uringan sendiri.
    Tapi semua ini udah jadi nasib, sekarang sedang berusaha menjadi ibu yang baik buat anak-anak.
    Supaya memori mereka semasa anak-anak banyak nyenenginnya, ketimbang tragisnya.

    Maaf ya mba, jadi numpang curhat di mari. Huhu

    Salut sama mba Eno yang punya banyak anak asuh.

    Kalau pun suatu saat harus adopsi, tolong dilihat betul riwayatnya ya mba.
    Kalau ada kerabat dekat lebih baik, karena jelas asal usulnya.
    Soalnya masih terbayang film Orphan yang serem ituu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, kalau keluarga saja nggak masalah, kenapa kita jadi merasa itu sebuah masalah, padahal itu keputusan masing-masing personal ๐Ÿ˜ Hehehe. By the way, saya setiap lihat Twins selalu merasa they are cute, tapi nggak tau kalau ternyata itu bisa jadi riweuh untuk orang tuanya. Memang kita terbiasa lihat lapisan luarnya saja tanpa tau bagaimana perasaan orang yang menjalaninya ๐Ÿคง

      Well, semoga mba Syarifani bisa terus berusaha menjadi ibu yang baik dan kuat untuk anak-anak mba tercinta ๐Ÿ˜ Dan saya rasa, anak-anak akan punya memori indah dimasa kecil, all thanks to efforts yang mba berikan ๐Ÿฅณ๐ŸŽ‰

      Siap, mba. Will do, akan dicek secara menyeluruh pastinya ๐Ÿ˜๐Ÿงก

      Delete